VMAT untuk Kanker Paru: Protokol Penelitian
VMAT untuk Kanker Paru: Protokol Penelitian
PROTOKOL PENELITIAN
DISUSUN OLEH:
TAUFIQURRAHMAN
NPM: P2.[Link].053
Jakarta, 2020
Mengetahui :
Ketua Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi
Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta II
ii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL........................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN..........................................................................ii
DAFTAR ISI....................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR........................................................................................v
DAFTAR TABEL............................................................................................vi
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................1
A. Latar Belakang......................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................3
C. Batasan Masalah...................................................................................3
D. Tujuan Penelitian..................................................................................4
E. Manfaat Penelitian................................................................................4
F. Keaslian Penelitian...............................................................................4
iii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
iv
DAFTAR TABEL
Halaman
v
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Radioterapi adalah pengobatan kanker menggunakan sinar radiasi
berenergi tinggi yang difokuskan pada jaringan kanker untuk membunuh atau
menghentikan pembelahan sel kanker [1]. Radioterapi dapat digunakan sebagai
terapi kuratif maupun paliatif [2]. Jenis jenis radioterapi secara garis besar
dibedakan menjadi tiga yaitu external beam radiation therapy (EBRT),
brakiterapi, dan internal radiation therapy (IRT) [3].
Prinsip Radioterapi yaitu memberikan radiasi semaksimal mungkin pada
sel kanker dan seminimal mungkin pada sel sehat. Dalam perkembangannya
untuk meminimalkan radiasi yang mengenai sel sehat, telah dikembangkan
teknik-teknik radiasi. Beberapa teknik yang saat ini telah digunakan yaitu,
Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT), Volumetric Modulated Arc
Therapy (VMAT), Conformal Radiotherapy (CRT) [4].
Upaya pengobatan konvensional untuk kanker biasanya meliputi
radioterapi dan operasi, serta kemoterapi [5]. Radioterapi merupakan salah satu
pilihan pengobatan utama dalam manajemen kanker [6].Teknik radioterapi
modern memungkinkan pengiriman dosis tinggi dengan volume target tanpa
eskalasi dosis ke organ beresiko, menawarkan kemungkinan kontrol lokal yang
lebih baik sambil menjaga kualitas hidup yang baik [7].
VMAT merupakan pengembangan dari teknik IMRT, VMAT
menggunakan gantry dinamik [8]. Pada VMAT, terdiri dari dari 3 komponen,
yaitu modulasi intensitas berkas sinar, modulasi laju dosis dan modulasi dari
kecepatan putaran gantry. VMAT dapat diberikan dengan beberapa putaran
dalam 1 lengkung, baik searah jarum jam, maupun berlawanan jarum jam.
Keuntungan dari VMAT dibandingkan dengan IMRT adalah distribusi dosis
dan homogenitas sebaik IMRT, namun waktu terapi dan jumlah Monitor Unit
(MU) yang lebih sedikit [9].Waktu treatment kanker menggunakan teknik
VMAT lebih singkat dibandingkan dengan IMRT dan 3D CRT. Selain itu,
teknik VMAT memberikan
1
2
radiasi yang lebih sedikit pada sel/ jaringan sehat sehingga resiko
munculnya tumor akibat radioterapi dikemudian hari lebih rendah [4].
Kanker merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kematian yang
tinggi di dunia [2]. Kanker merupakan salah satu bentuk neoplasma
(pertumbuhan sel yang tidak terkendali) yang berfsifat ganas atau dapat
menyebar ke organ tubuh lainnya [10]. Salah satu jenis kanker yang paling
mematikan adalah kanker paru-paru. Kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel
kanker yang tidak terkendali dalam jaringan paru [11]. Kanker paru secara
histopatologi dibedakan atas dua kelompok besar, yaitu kanker paru karsinoma
bukan sel kecil (Non Small Cell Lung Cancer /NSCLC) dan kanker paru
karsinoma sel kecil (Small Cell Lung Cancer/SCLC); sebanyak 80-85%
termasuk kelompok NSCLC dan sisanya jenis SCLC [12].
Insiden kanker paru meningkat di seluruh dunia, angka kematian akibat
kanker paru meningkat dengan cepat [13], terutama di Indonesia yang sebagian
besar penduduknya merupakan perokok. Pada umumnya, kanker paru
ditemukan pada stadium lanjut, yaitu stadium III B dan IV, sehingga tujuan
utama pengobatannya adalah untuk meningkatkan harapan hidup dan kualitas
hidup [14].
Pada tahun 2015, American Cancer Society mengungkapkan bahwa kanker
paru merupakan kejadian nomor dua terbanyak untuk penyakit keganasan
setelah kanker prostat pada pria dan kanker payudara pada wanita. Untuk
kejadian kematian akibat keganasan, kanker paru menduduki peringkat pertama
baik pada pria maupun wanita [14].Hasil studi didapatkan karakteristik pasien
kanker paru terbanyak adalah umur >40 tahun (90,9%), jenis kelamin laki-laki
(84,8%), status rokok adalah sebagai perokok (74,2%) [15]. WHO
memperkirakan 9,6 juta orang di seluruh dunia meninggal akibat kanker.
Menurut GLOBOCAN (2012), sekitar 1,8 juta kasus baru kanker paru
didiagnosis [16].
Angka kejadian tertinggi di Indonesia untuk laki -laki adalah kanker paru
yaitu sebesar 19,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 10,9 per
100.000 penduduk, yang diikuti dengan kanker hati sebesar 12,4 per 100.000
penduduk dengan rata-rata kematian 7,6 per 100.000 penduduk, sedangkan
3
angka kejadian untuk perempuan yang tertinggi adalah kanker payudara yaitu
sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000
penduduk yang diikuti kanker Ieher rahim sebesar 23,4 per 100.000 penduduk
dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk. Penggunaan tembakau
merupakan faktor risiko utama yang menyebabkan kanker dengan insidensi
sekitar 20% kematian akibat kanker secara global dan sekitar 70% dari
kematian di dunia akibat kanker paru [17].
Pada penyinaran kanker paru, dimana organ paru termasuk organ yang
mudah bergerak dan dikelilingi banyak organ sehat yang beresiko fatal bila
terkena radiasi, serta teknik radioterapi Volumetric Modulated Arc Therapy
(VMAT) merupakan teknik dengan tingkat akurasi penyinaran yang tinggi,
maka menarik untuk dikaji lebih lanjut mengenai penyinaran radioterapi pada
kanker paru dengan teknik radioterapi Volumetric Modulated Arc Therapy
(VMAT).
Dari latar belakang diatas maka penulis melakukan penelitian dengan judul
“Teknik Radioterapi Volumetric Modulated Arc Therapy Pada Kasus Kanker
Paru di Departemen Radioterapi MRCCC Siloam Semanggi“
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas penulis dapat merumuskan masalah
sebagai berikut “Bagaimanakah teknik radioterapi Volumetric Modulated Arc
Therapy pada kasus kanker paru?”
C. Batasan Masalah
Batasan masalah penelitian yang diteliti adalah penyinaran radiasi pada
kasus kanker Paru pasien koperatif dengan meneliti prosedur radioterapi
menggunakan teknik Volumetric Modulated Arc Therapy.
4
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mendeskripsikan penyinaran kasus kanker paru pada teknik
radioterapi Volumetric Modulated Arc Therapy di Departemen Radioterapi
MRCCC Siloam Semanggi.
2. Tujuan khusus
a. Mendeskripsikan prosedur persiapan pasien kanker paru di poliklinik yang
menggunakan teknik Volumetric Modulated Arc Therapy.
b. Mendeskripsikan prosedur simulasi di ruang CT Simulator, Planning radiasi di
ruang TPS, dan verifikasi di ruang linac.
c. Mendeskripsikan prosedur treatment delivery di ruang Linac.
E. Manfaat Penelitian
1. Dapat diaplikasikan dan menjadi bahan referensi keilmuan untuk
mengembangkan prosedur teknik radioterapi tersebut di tempat-tempat lain.
2. Dapat menambah pengetahuan tentang prosedur penyinaran teknik radioterapi
Volumetric Modulated Arc Therapy pada kasus kanker Paru.
3. Dapat memberikan pelayanan yang optimal di departemen radioterapi sehingga
penyinaran dapat tepat dan akurat.
F. Keaslian Penelitian
Penulisan ini merupakan hasil penelitian lapangan yang dilakukan penulis,
menggunakan berbagai referensi, yang berkaitan dengan penulisan penelitian
ini. Namun, untuk menjamin keaslian penelitian ini, penulis akan uraikan
penelitian terdahulu.
Penelitian yang dilakukan oleh Mukhlisin (2015) menyatakan bahwa dosis
rata-rata yang diterima oleh volume target menjadi semakin kecil seiring
dengan peningkatan amplitudo gerak target pada teknik penyinaran VMAT dan
IMRT.
Penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai teknik radioterapi
Volumetric Modulated Arc Therapy pada kanker Paru pada aspek prosedur
penyinaran radioterapi yang digunakan.
5
6
BAB II
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA KONSEP
A. KAJIAN TEORI
1. Anatomi Paru
Paru - paru adalah organ tubuh yang berperan dalam sistem
pernapasan (respirasi).[18] Paru-paru merupakan organ dalam yang memiliki
peranan penting pada sistem pernafasan dan peredaran darah pada manusia.
Paru-paru terletak di rongga dada dan diliputi pleura atau dinding yang
berjumlah dua. Paru-paru memiliki peranan penting, yaitu menukarkan
oksigen dari udara bebas dan karbondioksida dari darah merah. Jika udara
yang kita hirup tercemar dan terdapat berbagai bibit penyakit yang
berkeliaran di udara akan menimbulkan berbagai penyakit paru-paru. [19]
Gambar 2.1 Sistem Respirasi Manusia: (A) Tampak Anterior dari sistem
respirasi atas dan bawah; (B) Tampak mikroskopik dari alveoli dan kapiler
pulmonaris [20]
7
2. Kanker Paru
Kanker paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalam
jaringan paru. [18] Kanker paru secara sederhana dapat didefinisikan sebagai
penyakit ganas di paru, mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri
(primer) dan metastasis tumor di paru. Metastasis tumor di paru adalah tumor
yang tumbuh sebagai akibat penyebaran (metastasis) dari tumor primer organ
lain. Definisi khusus untuk kanker paru primer yakni tumor ganas yang berasal
dari epitel bronkus [22].
Kanker paru-paru merupakan salah satu penyebab kematian dalam
kelompok kanker. Secara umum, kanker paru memiliki sejumlah gejala, antara
lain: batuk terus-menerus, nyeri dada, batuk darah, napas tersengal-sengal,
serak, berat badan menurun, dan selalu merasa letih. Pada stadium awal, gejala-
gejala ini sering tidak dirasakan oleh penderita, akibatnya ketika penderita
pergi ke rumah sakit dan kemudian penyakit terdiagnosis, penyakit kanker paru
itu sudah berada dalam stadium menengah atau akhir [22].
Kanker paru dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain yaitu asap
rokok, perubahan genetik, zat karsinogen seperti asbes, dan diet. Dari beberapa
faktor tersebut, rokok memegang peranan terpenting dalam menimbulkan
kanker paru. Orang dengan risiko tinggi adalah semua orang yang merokok
lebih dari 20 tahun dan berumur di atas 50 tahun. Jika sudah ada tanda atau
gejala dari penyakit ini, maka 75% sudah tidak dapat sembuh lagi dan dari
penderita yang sudah didiagnosis, ketahanan hidup satu tahun mencapai 20%
dan ketahanan hidup lima tahun kurang dari 10%.
kanker paru dibagi menjadi dua tipe yaitu kanker paru karsinoma bukan sel
kecil (Non Small Cell Lung Cancer /NSCLC) dan kanker paru karsinoma sel
kecil (Small Cell Lung Cancer/SCLC). Kanker paru karsinoma bukan sel kecil
lebih sering ditemukan dan merupakan 85% dari semua kasus kanker paru.
8
Kanker paru karsinoma bukan sel kecil lebih lambat bermetastasis ke organ
lain dibandingkan dengan kanker paru sel kecil. Selain dibagi berdasarkan tipe
selnya, kanker paru juga dibagi berdasakan stadium klinis yang mengacu pada
sistem TNM (tumor, nodul, metastasis). Pembagian tipe dan stadium klinis
kanker paru tersebut memudahkan dalam penatalaksanaan kanker paru.
Ada dua tipe utama kanker paru:
a. Small Cell Lung Cancer (SCLC)
Karsinoma sel kecil umumnya tampak sebagai massa abu-abu pucat yang
terletak di sentral dengan perluasan ke dalam parenkim paru dan keterlibatan
dini kelenjar getah bening hilus dan mediastinum. Kanker ini terdiri atas sel
tumor dengan bentuk bulat hingga lonjong, sedikit sitoplasma, dan kromatin
granular. Gambaran mitotik sering ditemukan. Biasanya ditemukan nekrosis
dan mungkin luas. Sel tumor sangat rapuh dan sering memperlihatkan
fragmentasi dan “crush artifact” pada sediaan biopsi. Gambaran lain pada
karsinoma sel kecil, yang paling jelas pada pemeriksaan sitologik, adalah
berlipatnya nukleus akibat letak sel tumor dengan sedikit sitoplasma yang
saling berdekatan [17].
b. Non Small Cell Lung Cancer (NSCLC) yang terdiri dari :
1) Adenokarsinoma memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan
dapat mengandung mukus. Kebanyakan jenis tumor ini timbul di bagian perifer
segmen bronkus dan kadang-kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut
lokal pada paru dan fibrosis interstisial kronik. Lesi sering kali meluas ke
pembuluh darah dan limfe pada stadium dini dan sering bermetastasis jauh
sebelum lesi primer menyebabkan gejala-gejala. Adenokarsinoma biasanya
mencakup 40% kanker paru, lebih banyak muncul pada wanita [17].
2) Skuamous sel karsinoma : berasal dari permukaan epitel bronkus. Perubahan
epitel termasuk metaplasia, atau displasia akibat merokok jangka panjang,
secara khas mendahului timbulnya tumor. Karsinoma sel skuamosa biasanya
terletak sentral di sekitar hilus, dan menonjol ke dalam bronki besar. Diameter
tumor jarang melampaui beberapa sentimeter dan cenderung menyebar secara
langsung ke kelenjar getah bening hilus, dinding dada, dan mediastinum.
Karsinoma sel skuamosa seringkali disertai batuk dan hemoptisis akibat iritasi
9
atau ulserasi, pneumonia, dan pembentukan abses akibat obstruksi dan infeksi
sekunder. Karena tumor ini cenderung agak lamban dalam bermetastasis, maka
pengobatan dini dapat memperbaiki prognosis. Skuamous sel karsinoma lebih
jarang dijumpai, dan mencakup 25% dari kasus kanker paru serta paling
banyak terjadi pada pria dan orang tua [17].
3) Large cell carcinoma adalah sel-sel ganas yang besar dan berdiferensiasi
sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam-macam.
Sel-sel ini cenderung timbul pada jaringan paru perifer, tumbuh cepat dengan
penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat-tempat yang jauh [17].
Ada beberapa tanda dan gejala utama kanker paru yaitu : Batuk-batuk
dengan/tanpa dahak (dahak putih, dapat juga purulen) lebih dari 3 minggu,
batuk darah, sesak napas, suara serak, nyeri dada yang persisten, sulit/sakit
menelan, benjolan di pangkal leher, Sembab muka dan leher, kadang-kadang
disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat.
Ada pula gejala dan keluhan tidak khas seperti : berat badan berkurang,
nafsu makan hilang, demam hilang timbul, sindrom paraneoplastik, seperti
hypertrophic pulmonary osteoartheopathy, trombosis vena perifer dan
neuropatia [22].
10
Tabel. 2.1. Stadium kanker paru menurut The Internasional System for
Staging Lung Cancer
Stadium Klarifikasi TNM
1A T1 N0 M0
1B T2 N0 M0
2A T1 N1 M0
2B T2 N1 M0
T3 N0 M0
3A T3 N1 M0
T1 N2 M0
T2 N2 M0
T3 N2 M0
3B T4 N0 M0
T4 N1 M0
T4 N2 M0
T1 N3 M0
T2 N3 M0
T3 N3 M0
T4 N3 M0
4 Ada T Ada N M1
[23]
Keterangan:
4. Radioterapi
Radioterapi merupakan suatu metode pengobatan penyakit kanker atau
tumor yang menggunakan teknik penyinaran dari zat radioaktif maupun radiasi
pengion lainnya. Tujuan radioterapi adalah untuk mendapatkan tingkatan
sitotoksik radiasi terhadap planning target volume pasien, dengan seminimal
mungkin pajanan (exposure) radiasi terhadap jaringan sehat dan di sekitarnya.
Pesawat radioterapi adalah pesawat yang digunakan untuk melakukan terapi
yang didalamnya terdapat sumber radiasi baik sumber 60Co maupun 137Cs
[25].
Jenis- jenis radioterapi secara garis besar dibedakan menjadi tiga yaitu
external beam radiation therapy (EBRT), brakiterapi, dan internal radiation
therapy (IRT). Khusus mengenai EBRT sumber radiasinya berasal dari
pesawat radioterapi yang ditempatkan pada jarak tertentu terhadap organ target,
yang dihasilkan baik dalam bentuk foton/ gelombang elektromagnetik atau
radiasi partikel. External beam radiation therapy yang banyak digunakan dalam
pengobatan kanker paru dapat digunakan secara tunggal atau sebagai bagian
dari regimen yang meliputi kemoterapi, pembedahan, atau keduanya. [3]
a. Teknik Pemberian Radiasi
Ada dua teknik pemberian radiasi, pertama dengan menggunakan sumber
atau alat yang memancarkan radiasi dari luar tubuh pasien seperti Linear
Accelerator (Linac) sumber, yang dikenal dengan radiasi eksterna (External
Beam Radiation Therapy – EBRT) dan yang kedua dengan menempatkan dan
mendekatkan sumber radiasi ke dalam tubuh pasien (Brachytherapy). Namun,
brachytherapy hanya berfungsi sebagai booster yaitu tambahan radiasi setelah
melakukan radiasi eksterna pada ukuran kanker yang sangat kecil. Apabila
pada teknik radiasi eksterna sudah memberikan dosis yang efektif untuk
kanker, maka pemberian brachytherapy tidak dilakukan [26].
Pada radiasi eksterna, terdapat beberapa teknik radiasi, yaitu : 2DRT (2
Dimensions Radiation Therapy), 3DCRT (3 Dimensions Conformal
Radiation Therapy), IMRT (Intensity Modulated Radiation Therapy), dan
VMAT (Volumetric Modulated Arc Therapy).
13
b. Tahapan Radioterapi
Tahapan dalam radioterapi sangat kompleks dan melibatkan peran dokter
onkologi, perawat, fisikawan medis, dan radioterapis. Masing-masing displin
ilmu ini bekerja dalam proses terpadu untu memberikan pelayanan radioterapi.
Menurut buku Technical Manual Radiotherapy Risk Profile yang digunakan
untuk rujukan keselamatan radiasi pasien dalam radioterapi [27]. Tahapan
radioterapi yaitu :
1) Assessment Of Patient
Tahap dimana pasien berkonsultasi dengan onkologi radiasi mengenai
penyakitnya, dengan merujuk pada hasil patologi anatomi, hasil lab, hasil
diagnostik CT Scan, Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau Positron
Emission Tomography (PET) dan mengenai kebijakan-kebijakan dalam tindak
lanjut dari diagnosa tersebut [27].
2) Decision to Treat
Tahap ketika pasien menyetujui keputusan dilakukannya tindakan
radioterapi. Persetujuan ini adalah langkah awal memasuki masa pengobatan
yang akan dilakukan oleh pasien [27].
3) Prescribing Treatment Protocol
Tahap penentuan lokasi, dosis total dan langkah tambahan yang diperlukan
seperti perlu tidaknya tindakan kemoterapi [27]. Tahap penentuan ini dilakukan
oleh dokter onkologi radiasi. Dalam radioterapi, dengan memperhatikan aspek
radiobiology, pemberian dosis radiasi dibagi menjadi jumlah kecil secara
berkala yang disebut fraksinasi.
4) Immobilization and Positioning
Tahap menyiapkan keperluan pasien sesuai dengan diagnosa,
memposisikan pasien dengan alat bantunya, untuk memberikan kenyamanan
kepada pasien dan mengurangi pergerakan yang mungkin ditimbulkan [27].
Immobilisasi saat treatment berguna untuk memberikan kenyamanan kepada
pasien, dan mengurangi pergerakan saat treatment sehingga meminimalisir
kesalahan set up saat treatment delivery. Alat immobilisasi pada pasien
tergantung pada kebutuhan pasien saat proses penyinaran dan ditentukan saat
proses simulasi. Pada kasus kanker lidah, alat immobilisasi yang digunakan
14
5. CT SIMULATOR
perencanaan, dosis pada OAR tidak boleh melewati batas toleransi yang telah
ditetapkan [27].
Tabel. 2.2. Batasan dosis OAR maksimal pada radioterapi kanker paru
NO ORGAN BATASAN DOSIS (Cgy)
1 Jantung 6000
2 Medula Spinalis 4500
3 Paru yang sehat 4500
[32]
3) Kurva Isodosis
Kurva isodosis adalah garis yang menghubungkan titik dengan dosis yang
sama. Kurva isodosis menggambarkan bagaimana dosis yang diterima oleh
target volume yang ditampilkan dalam bentuk presentase dosis yang
berhubungan dengan titik referensi. International Commission on Radiation
Units and Measurements (ICRU) merekomendasikan bahwa cakupan distribusi
dosis planning target volume (PTV) harus berada antara 95% sampai 107%
dari dosis yang ditentukan [9].
Keterangan gambar :
1. Produksi dan percepatan 2. Pembelok elektron 270o
electron
3. Target dan Filter Utama 4. Kolimator utama
5. Filter utama 6. Ionizing Chamber
7. Multi Leaf Collimator 8. Aplikator electron
OBI terdiri dari dua lengan robot, yang disebut Exact Arms, satu
memegang peranan sebagai sumber tegangan sinar-X, yaitu kilo Voltage
Source (kVS), dan yang lainnya memegang silikon amorf (aSi) panel detektor
datar, yaitu kilo Voltage Detector (kVD). Posisi Exact Arms dapat diubah
dengan menggunakan hand pendant di dalam ruang penyinaran atau
dioperasikan pada ruang operator dengan menggunakan OBI console. kVS
terdiri dari tabung sinar-X dan collimator. kVD terdiri dari sebuah flat panel
imager dengan grid untuk menggurangi hambur. Aplikasi 2D/2D match pada
monitor OBI menggunakan dua image, image pertama yang diperoleh saat
pasien di dalam ruang penyinaran dan kedua reference image yang merupakan
digital reconstructed radiograph (DRR) atau gambaran simulator. DRR
diperoleh dari image CT Planning. Untuk menyamakan, ke dua set gambar
tersebut harus tegak lurus satu sama lain, biasanya image yang digunakan
adalah proyeksi Antero Posterior (AP) dan Lateral. Gambaran AP digunakan
untuk mengetahui pergeseran meja lateral dan longitudinal, sedangkan
gambaran lateral untuk mengetahui pergeseran meja vertikal dan longitudinal
[35].
Setiap melakukan verifikasi pasien, set up pasien harus diperhatikan. Pada
set up pasien ini terdapat koordinat x, y, dan z yang berfungsi sebagai petunjuk
arah pergeseran couch dari pesawat Linac. Setiap titik koordinat tersebut
mempunyai nilai positif (+) dan negatif (-).Titik koordinat x sebagai
23
pergerakan meja kearah lateral kiri dan kanan. Apabila nilainya negatif (-)
maka pergerakannya kearah kanan dari gantry pesawat, sedangkan jika
nilainya (+) maka pergerakannya kearah kiri dari gantry pesawat. Titik
koordinat z sebagai pergerakan meja kearah longitudinal cranial atau caudal.
Apabila nilainya negatif (-) maka pergerakannya kearah cranial dari gantry
pesawat, sedangkan nilainya positif (+) maka pergerakannya kearah caudal dari
gantry pesawat. Titik koordinat y sebagai pergerakan meja ke arah vertikal.
Apabila nilainya (-) maka pergerakannya kearah anterior dari posisi pasien,
sedangkan nilainya (+) maka pergerakannya kearah posterior dari posisi pasien
[36].
Dalam penentuan koordinat x, y, dan z ini terdapat batasan atau toleransi
ketika melakukan verifikasi penyinaran. Peningkatan dosis yang signifikan
memungkinkan jika batas toleransi bisa dikurangi dari 5-10 mm menjadi 3 mm
[37]
8. Teknik Volumetric Modulated Arc Therapy (VMAT)
Teknik radioterapi Volumetric Modulated Arc Therapy yaitu teknik
radioterapi terbaru dimana Multi Leaf Collimator (MLC) dan gantry
melakukan pergerakan selama pendistribusian dosis saat mengelilingi pasien.
Gantry yang berputar dan perubahan lapangan penyinaran mengikuti
bentuk tumor, bermanfaat dalam mengurangi dosis yang diterima oleh organ
berisiko sekitar tanpa mengurangi radiasi yang sampai ke organ target.
Perencanaan terapi radiasi Volumetric Modulated Arc Therapy atau pada Linac
dengan merk varian dikenal dengan nama RapidArc ini dilakukan melalui
proses di ruang Treatment Planning Sytem (TPS) dengan penggambaran bentuk
target tumor dan pemberian dosis yang diterima jaringan sehat ditentukan
terlebih dahulu, yang dikenal dengan konsep inverse planning. Dalam proses
terapi radiasi dengan teknik Volumetric Modulated Arc Therapy diperlukan
ketepatan pemberian dosis radiasi secara geometri yang harus didukung dengan
teknik set-up pasien dan verifikasi yang baik [38].
24
B. Kerangka Konsep
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif
kualitatif yaitu untuk mendeskripsikan dan analisa prosedur “Teknik
Radioterapi Volumetric Modulated Arc Therapy Pada Kasus Kanker Paru di
Departemen Radioterapi MRCCC Siloam Semanggi”.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Departemen Radioterapi MRCCC Siloam
Semanggi. Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari 2020 sampai
dengan bulan Mei 2020.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh pasien kanker Paru yang datang
untuk melakukan penyinaran radioterapi di Departemen Radioterapi MRCCC
Siloam Semanggi pada bulan januari 2019 sampai dengan januari 2020.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini diambil dari data sekunder hasil dari pasien
kanker paru di Departemen Radioterapi Rumah Sakit MRCCC Siloam
Semanggi tahun 2019 sampai dengan tahun 2020. Data sampel merupakan data
sekunder dengan jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 10 orang. Data
sampel dipilih secara purposive sample dengan beberapa kriteria sebagai
berikut.
Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah :
a) Pasien yang melakukan pengobatan radioterapi di Departemen Radioterapi
MRCCC Siloam Semanggi.
b) Pasien yang menggunakan teknik penyinaran Volumetric Modulated Arc
Therapy dengan kasus kanker paru pada bulan januari 2019 sampai dengan
januari 2020.
26
E. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah:
1. Lembar pedoman wawancara, yaitu untuk mencatat data verbal berupa
wawancara yang di dapat dari dokter onkologi radiasi, fisikawan medis dan
radioterapis.
2. Hasil dokumentasi berupa dokumentasi alat dan bahan yang digunakan selama
pasien menjalani prosedur radioterapi, yaitu data proses CT Simulasi, hasil
print out data Treatment Planning System, dan proses penyinaran radiasi di
ruang Linac.
28
DAFTAR PUSTAKA
[1] S. N. dan Y. Lusiyanti, “Apoptosis dan respon biologik sel sebagai,” vol. 7,
no. 3, pp. 57–66, 2006.
[2] N. Fitriatuzzakiyyah, R. K. Sinuraya, and I. M. Puspitasari, “Cancer
Therapy with Radiation: The Basic Concept of Radiotherapy and Its
Development in Indonesia,” Indones. J. Clin. Pharm., vol. 6, no. 4, pp.
311–320, 2017.
[3] P. Crossan, “External beam radiation therapy,” in Breast disease:
Comprehensive management, no. April, 2015, pp. 377–397.
[4] L. B. Penelitian, “Bab I ْ" Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Bandung " distribusi dosis antara algoritma Monte Carlo dan AAA,” pp. 1–
120, 2008.
[5] D. R. Sari, “Tanda lahir pada bayi bantu temukan terapi kanker baru,”
[Link] (Online), vol. 4, no. 2, pp. 35–40, 2019.
[6] E. Hiswara, “Status Terkini dan Perspektif Masa Depan Radioterapi di
Indonesia,” Pertem. dan Present. Ilm. Penelit. Dasar Ilmu Pengetah. dan
Teknol. Nukl., no. November, pp. 47–52, 2017.
[7] B. Segedin and P. Petric, “Artikel penelitian ketidakpastian dalam target
volume yang delineasi di radioterapi.,” vol. 50, no. 3, pp. 254–262, 2016.
[8] H. Kodrat, R. Novirianthy, and R. Artikel, “TEKNIK RADIOSURGERY
Abstrak / Abstract Informasi Artikel,” vol. 7, no. 2, pp. 1–5, 2016.
[9] R. S. Nugroho et al., “Penelitian ilmiah hasil kosmetik pasca breast
conserving treatment pada wanita indonesia dengan kanker payudara
stadium T1-2N0 TINJAUAN PUSTAKA Peran radioterapi pada primary
optic nerve sheath meningioma,” Radioter Onkol Indones, vol. 7, no. 2, pp.
43–67, 2016.
[10] K. Dan, A. Pada, and P. Kanker, “Gambaran Penggunaan Pengobatan
Tradisional, Komplementer Dan Alternatif Pada Pasien Kanker Yang
Menjalani Radioterapi,” J. Kedokt. Diponegoro, vol. 7, no. 2, pp. 1568–
1584, 2018.
[11] U. S. Utara, U. S. Utara, and U. S. Utara, “Identifikasi Penyakit Kanker
30