Apartemen Mall di Pusat Makassar
Apartemen Mall di Pusat Makassar
SKRIPSI PERANCANGAN
Oleh:
D511 08 882
JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
1
APARTEMEN DENGAN FASILITAS MALL
DI PUSAT KOTA MAKASSAR
SKRIPSI PERANCANGAN
Periode I
Tahun 2013/2014
Sarjana Arsitektur
Oleh :
D511 08 882
JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2013
2
LEMBAR PENGESAHAN
SKRIPSI PERANCANGAN
Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing II
Mengetahui,
3
ABSTRAK
Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 4%
setiap tahun, dan kebutuhan tempat tinggal yang terus bertambah, sementara itu
ketersediaan lahan perkotaan sangat terbatas dan Oleh karena itu diperlukan
tempat tinggal yang disusun secara vertikal sebagai solusinya. Semakin tingginya
tingkat pertumbuhan penduduk di kota besar di Indonesia, telah memacu
perkembangan kota menjadi semakin padat dan kurang terkendali.
4
KATA PENGANTAR
Pertama – tama kami ingin mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha
Esa yang telah memberkati sehingga Acuan Perancangan ini dapat diselesaikan
dengan baik. Kami juga ini mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang telah
membantu dalam pembuatan Acuan Perancangan ini.
Rasa hormat dan terima kasih yang mendalam, penulis ucapkan kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Victor Sampebulu’, [Link] selaku dosen pembimbing
I dan Bapak Ir. Samsuddin Amin, MT selaku dosen pembimbing II
2. Ibu Rahmi Amin Ishak, ST.,MT sebagai Penasehat Akademik
3. Bapak Dr. Abdul Mufti Radja, ST., MT, Phd selaku kepala Laboratorium
Tugas Akhir.
4. Bapak Baharuddin Hamzah , ST., M. Arch., PhD selaku Ketua Jurusan
Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
5. Segenap Bapak dan Ibu Dosen serta staf di Jurusan Teknik Arsitektur
Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin yang telah memberi arahan dan
masukan.
6. Ayahanda dan ibunda serta segenap anggota keluarga yang terkasih atas
doa dan dukungannya selama ini.
7. Teman – teman di studio akhir, oma-oma seperjuangan, Cece, sheddy,
Ria, Icha, mavie dan delilah atas dukungan dan aksi gilanya. Serta ucapan
terima kasih yang mendalam kepada segenap angkatan 2008.
5
Makassar, Desember 2013
LISA YOLANDA
6
HALAMAN JUDUL .............................................................................. i
7
4. Faktor – Faktor yang mempengaruhi Perencanaan Perbelanjaan
Tertutup ..................................................................... 22
5. Skala Pelayanan Fasilitas Perbelanjaan/Mall. .......... 23
6. Karakteristik Konsumen ............................................ 25
7. Unsur – Unsur Pembentuk Layout Pusat
Perbelanjaan .................................................................. 25
8. Struktur Organisasi Pengelolahan Mall ..................... 26
C. Tinjauan Terhadap Apartemen dengan Fasilitas Mall .... 27
1. bentuk Massa Bangunan ................................................. 27
2. Jenis Sirkulasi .................................................................. 28
3. Entrance Bangunan ......................................................... 30
4. Analisis Massa Bangunan ............................................... 32
5. Struktur Organisasi dan pengelolaan Apartemen dengan Fasilitas mall
........................................................................................ 33
D. Studi Banding .................................................................. 34
........................................................................................
8
1. Acuan Penentuan Lokasi .......................................... 66
2. Acuan Penentuan Tapak ........................................... 70
3. Tinjauan Tapak .......................................................... 75
4. Pengolahan Tapak .................................................... 76
5. Penempatan Enttance ............................................... 78
6. Sirkulasi dalam Tapak ............................................... 79
7. Penzoningan ............................................................ 79
8. Bentuk Bangunan ...................................................... 80
B. Acuan Perancangan Mikro ............................................. 84
1. Konsep Penentuan Kebutuhan Ruang ...................... 84
2. Aktivitas dan Kebutuhan Ruang ................................ 85
3. Pengelompokkan Ruang ........................................... 88
4. Konsep Penentuan Besaran Ruang .......................... 89
5. Konsep Penentuan Pola Hubungan Ruang............... 105
6. Pola Sirkulasi Dalam Ruang ...................................... 107
7. Pola Sirkulasi Luar Ruang ......................................... 108
8. Pola Tata Massa Unit Hunian .................................... 109
9. Penampilan Bangunan .............................................. 110
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 125
LAMPIRAN ........................................................................................... 126
9
DAFTAR TABEL
10
DAFTAR SKEMA
11
DAFTAR GAMBAR
vertical.................................................................... 28
horizont ................................................................. 28
12
Gambar 15 Denah Apartemen Mega Kuningan Town Park.......... 37
Makassar..................................................................... 57
13
Gambar 37 Sistem Sangkar Faraday............................................. 119
14
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 14 Foodcourt
Lampiran 15 Restoran
15
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara kepulauan yang
disatukan oleh wilayah perairan yang sangat luas, dengan jumlah penduduk
259.940.857 jiwa dan kepadatan penduduk 123 jiwa per km2. Seiring dengan
pertambahan jumlah penduduk yang mencapai 4% setiap tahun, dan
kebutuhan tempat tinggal yang terus bertambah, sementara itu ketersediaan
lahan perkotaan sangat terbatas dan kebutuhan akan perumahan sebagai
kebutuhan dasar sangat besar. Oleh karena itu diperlukan tempat tinggal
yang disusun secara vertikal sebagai solusinya. Gagasan untuk membuat
tempat tinggal ini bukan hal baru, namun untuk di Indonesia, kebutuhan akan
perumahan vertikal baru dirasakan belakangan ini dan sekarang telah
dibangun cukup banyak terutama di kota besar.
Sejalan dengan perkembangandan perekonomian Kota Makassar yang
saat ini sudah menjadi kota metropolitan khususnya diwilayah timur
Indonesia, diharapkan mampu menyiapkan sarana atau fasilitas yang
dibutuhkan bagi masyarakat baik yang dari dalam Makassar maupun yang
dari luar karena dengan kemajuan kotanya saat ini akan terjadi banyak
pergerakan/perpindahan orang dari satu tempat ketempat yang lain sehingga
kebutuhan lahan semakin sulit dan sarana akomodasi dan tempat tinggal
dengan fasilitas-fasilitas penunjang kegiatan masyarakat akan lebih
dibutuhkan
Perkembangan dan laju pertumbuhan penduduk mencapai 1,56%
setipa tahunnya, dengan jumlah penduduk pada tahun 2009 adalah
1.272.349 jiwa (sesuai data BPS, Makassar Dalam Angka, 2010). Dengan
jumlah penduduk yang cukup tinggi dan arus pendatang akan berpengaruh
terhadap peningkatan kebutuhan ruang, struktur dan pemanfaatan ruang
kota.
Semakin tingginya tingkat pertumbuhan penduduk di kota besar di
Indonesia, telah memacu perkembangan kota menjadi semakin padat dan
16
kurang terkendali. Kota-kota besar di Indonesia mengalami perkembangan
yang cukup pesat, terutama Makassar. Hal ini karena berbagai bidang yang
terlibat dari perkotaan mengalami perkembangan yang cukup pesat seperti
bidang kependudukkan, ekonomi, perdagangan dan jasa.
Dengan adanya fenomena-fenomena tersebut diatas maka dapat
memunculkan suatu peluang yang semakin sempit, solusi yang paling baik
adalah dengan membangun jenis hunian secara vertikal yang berada pada
pusat kota dengan efisiensi lahan yang tinggi serta akses ketempat kerja
yang lebih singkat. Dan untuk memudahkan para penghuni dalam memenuhi
kebutuhan sehari-hari maka apartemen tersebut dilengkapi dengan fasilitas
one stop shopping berupa mall/tempat perbelanjaan yang dapat menyediakan
kebutuhan harian sekaligus kebutuhan akan rekreasi. Fasilitas ini juga
termaksud restaurant, bar and cofeeshop, fitness center dan lain-lain.
Apartemen dengan fasilitas mall kemudian menjadi pilihan bagi warga
kota karena bisa menjawab masalah jarak dan kemacetan lalu lintas. Mereka
tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu dijalan untuk bepergian ke area
pusat perbelanjaan karena pusat perbelanjaan itu sendiri sudah menjadi
fasilitas penghuni apartemen. Yang dimana mall itu sendiri bukan hanya
sekedar tempat perbelanjaan melainkan dapat menjadi sarana rekreasi
keluarga.
Adanya Apartemen Dengan Fasilitas Mall Di Pusat Kota Makassar ini
menjadi suatu bangunan mixed used building yang terdiri dari dua fungsi yaitu
hunian dan mall yang dapat saling mendukung dan menguntungkan,
sehingga dapat menciptakan sinergi. Penghuni apartemen merupakan
potensial pelanggan bagi pedagang di mall, sebaliknya mall menjadi suatu
fasilitas yang memudahkan penghuni apartemen. Tidak menutup
kemungkinan juga bahwa tenaga kerja atau karyawan serta pemilik toko di
mall akan menjadi penghuni apartemen.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana mendesain Apartemen Dengan Fasilitas Mall Di Pusat Kota
Makassar yang dapat memberikan kenyamanan bagi pengunjung dan
penghuni.
17
2. Bagaimana mewujudkan suatu hunian atau tempat tinggal dimana
penghuni dapat tinggal dengan nyaman dan sesuai kebutuhan, baik
secara privasi, keamanan, prestige, praktis dan fasilitas yang dibutuhkan
oleh penghuni apartemen untuk dapat beraktivitas dengan penghuni
apartemen lainnya.
3. Bagaimana mendesain fasilitas utama yaitu hunian dan fasilitas
penunjang yaitu mall/pusat perbelanjaan yang dapat mewadahi kegiatan
pengunjung dan penghuni.
4. Bagaimana mengatur sirkulasi antar ruang dan antar fungsi yang baik dan
nyaman serta memperhatikan ke-privasi-an bagi semua penghuni
apartemen dan pelaku aktivitas yang lain sehingga meningkatkan
kenyamanan beraktivitas di dalam bangunan.
D. LINGKUP PEMBAHASAN
Lingkup pembahasan dibatasi pada masalah yang dapat menjadi acuan
perancanaan fisik, dalam hal ini yang berhubungan dengan disiplin ilmu
arsitektur mengenai Apartemen Dengan Fasilitas Mall Di Pusat Kota
Makassar yaitu penyatuan kedua fungsi yang diwadahi, antara kegiatan
utama apartemen dan kegiatan penunjang lainnya.
18
E. METODE DAN SISTEMATIKA PEMBAHASAN
1. Metode Pembahasan
Metode pembahasan yang digunakan dalam penulisan ini adalah dengan
menggunakan sistem deskriptif dan sistem analisis yang didukung data
pustaka dan data-data yang didapat dari lapangan.
2. Sistematika Pembahasan
Secara garis besar sistematika pembahasan dari penulisan diuraikan
sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN.
Membahas tentang latar belakang, rumusan masalah,
tujuan dan sasaran pembahasan, lingkup pembahasan,
metode dan sistematika pembahasan.
19
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
b. Pengertian mall
1) Merupakan perkembangan dari pusat perbelanjaan yang dipadukan
sarana rekreasi dan hiburan dan pada umumnya berbentuk selasar
yang panjang. Barang yang diperdagangkan adalah barang
kebutuhan harian sampai pada kebutuhan khusus.
2) Mall adalah jenis dari pusat perbelanjaan yang secara arsitektur
berupa bangunan tertutup dengan suhu yang diatur dan memiliki
jalur untuk berjalan jalan yang teratur sehingga berada di antara
20
antar toko-toko kecil yang saling berhadapan (Wikipedia Bahasa
Indonesia)
3) Pembentukan dagang yang terdiri dari kompleks dengan indah dan
toko mewakili merchandiser terkemuka; biasanya termasuk
restoran dan area parkir yang nyaman, sebuah versi modern dari
pasar tradisional.
c. Apartemen dengan fasilitas mall
Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka pengertian
Apartemen dengan Fasilitas Mall adalah bangunan yang terdiri dari
beberapa unit hunian (tiga atau lebih) yang di gunakan secara terpisah
dalam kehidupan bersama, pada suatu lingkungan terbatas, yang
dapat dimiliki/dihuni yang dilengkapi dan dipadukan dengan fasilitas
mall/perbelanjaan dan rekreasi sebagai fasilitas utama.
21
(2) Tower Form.
DENAH Potongan
22
2. Koridor di tengah bangunan (Double Loaded Corridor)
pada
Keuntungan : ekonomis, mudah menambah jumlah unit
perlantai, core dan elevator/tangga
Kerugian :
(a) Tidak menyediakan ventilasi silang kecuali pada
empat sudut
(b) Satu arah bukaan, kecuali pada bagian sudutnya.
Denah Potongan
Denah Potongan
23
Denah Potongan
(3) Cross Plan
Karakteristik denahnya memiliki empat sayap utama yang
merupakan perkembangan keluar dari suatu core.
Keuntungan :
1. cross ventilasi terjadi.
2. setiap ruang mendapat pencahayaan alami
24
2. Yang di sewa
Berlaku Undang-undang pemerintah tahun 1963 yang mengatur
batasan waktu bagi orang-orang asing untuk tinggal dan hal untuk
memiliki rumah di Indonesia. Maka untuk mengatasi masalah
tersebut dilakukan usaha-usaha :
(a) Sistem beli/sewa kontrak bagi masyarakat Indonesia atau
badan usaha yang berhak.
(b) Untuk orang asing mereka hanya dapat menyewa,
mengontrak dari pemiliknya/developer atau sebagai rumah
dinas dari perusahaan tempat mereka bekerja.
25
Yaitu dimana pada bangunan apartemen terdapat tiga kamar tidur
dalam satu unit atau tipe.
4. Apartemen dengan empat ruang tidur (Penthouse).
Yaitu dimana pada bangunan apartemen terdapat empat ruang tidur
dalam satu unit atau tipe.
g. Berdasarkan penyusunan lantai
a) Simpleks.
Berdasarkan sistem simpleks yaitu dalam satu lantai pada
bangunan hunian terdapat satu tipe unit hunian.
b) Dupleks.
Berdasarkan sistem dupleks yaitu dalam dua lantai pada bangunan
hunian terdapat satu tipe hunian yang sama.
c) Tripleks.
Berdasarkan sistem tripleks yaitu dalam tiga lantai bangunan
hunian terdapat satu tipe unit hunian yang sama.
26
h. Berdasarkan Peruntukannya.
d) Apartemen untuk buruh.
Apartemen ini diperuntukkan para buruh-buruh industri swasta
dengan standar perencanaan ekonomi dan privasi yang sangat
minim.
e) Apartemen untuk instansi pemerintah
Apartemen ini diperuntukkan untuk para pegawai pemerintah
dengan standar perencanaan tergantung pada sosial ekonomi
pegawai tersebut.
f) Apartemen untuk disewakan atau dijual.
Apartemen ini dibangunan oleh pemerintah atau swasta (real
estate) dengan tujuan membantu pemerintah dalam pengadaan
perumahan bagi penduduk juga untuk tujuan komersial
i. Berdasarkan tipe pengelolaan
1. Serviced apartement.
Apartemen yang dikelolah secara menyeluruh oleh manajemen
tertentu. Biasanya menyerupai cara pengelolaan sebuah hotel, yaitu
penghuni mendapatkan pelayanan ala hotel bintang lima, misalnya unit
perabotan lengkap, house keeping, layanan kamar, loundry dan
bussines centre.
2. Apartemen milik sendiri. Apartemen yang dapat dibeli oleh individu dan
tetap memiliki pengelolah untuk mengurus fasilitas umum
3. Apartemen sewa. Apartemen yang disewa tanpa pelayanan khusus.
Namun tetap ada menejemen apartemen yang mengatur segala
sesuatu berdasarkan kebutuhan bersama seperti sampah,
pemeliharaan bangunan, lift, koridor dan fasilitas umum.
3. Karakterisrik Apartemen
Secara umum masyarakat Indonesia lebih menyukai tempat tinggal
yang berhubungan langsung dengan tanah atau dalam bentuk perumahan.
Sedangkan apartemen muncul lebih karena adanya keterbatasan akan lahan
utama pada daerah perkotaan yang padat. Dengan bentuk bangunan vertikal
serta kelengkapan fasilitas yang dimiliki, apartemen menjadi suatu investasi
yang cukup mahal sehingga kebanyakan hanya terjangkau oleh kalangan
27
ekonomi menegah keatas dan bersifat hunian sementara. Hal ini juga
menjadikan apartemen sebagai suatu symbo18.l gaya hidup kalangan high
class yang menjamin tersedianya keamanan, ketenangan, keamanan serta
tingkat privacy yang cukup tinggi. Namun pada kawasan perkotaan yang
padat, apartemen tetap memiliki prospek yang baik dimana terdapat banyak
para investor atau tenaga kerja asing yang membutuhkan jenis hunian yang
bersifat sementara dan dekat dengan tempat kerja.
Adapun faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam perencanaan
apartemen adalah :
a. Efisiensi peruntukan lahan, sehingga dapat memberikan keuntungan
bagi pihak investor (pemilik) maupun bagi kepentingan penghuni.
b. Penyediaan fasilitas yang dapat memberikan kemudahan dan
kenyamanan bagi penghuni dan juga kemungkinan dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat disekitar sehingga tetap tercipta
interaksi sosial dalam masyarakat yang baik.
c. Perencanaan bentuk serta tata ruang bangunan yang menarik dan
estetis sehingga dapat memberikan nilai komersial yang tinggi.
4. Pengelolahan Apartemen
Pengelolaan apartemen dilakukan oleh Manajemen Properti yang
meliputi pemasaran, persyaratan sewa kontrak, penagihan harga sewa,
perawatan gedung dan pelayanan kepada penghuni serta kegiatan
administrasi. Untuk mendapatkan pemeliharaan dan pelayanan yang optimal,
maka dibentuk satu pengelola yang terdiri dari:
§ Pimpinan pengurus dan administrasinya
§ Bagian mekanikal dan elektrikal
§ Bagian kebersihan dan keamanan
28
3. Bagian mekanikal dan elektrikan bertanggung jawab memelihara dan
memperbaiki segala masalah bangunan dan utilitasnya.
4. Pelayanan (Cleaning and Service) membantu dalam bidang kerumah
tanggan.
5. Keamanan, menjaga keamanan baik terhadap lingkungan dan tapak ruang
dan ruang dalam dan antarunit. .
5. Persyaratan Apartemen
Perencanaan harus memperhatikan kehidupan individual dan kolektif,
yang merupakan macam-macam aktivitas baik yang bersifat rutin maupun
yang insidentil. Apartemen membutuhkan ruang-ruang dengan skala yang
manusiawi kenyamanan dan keamanan.
a. Keamanan
29
Merupakan suatu keadaan yang bebas dari rasa takut dan bebas dari
bahaya yang akan menyebabkan kecelakaan atau penyakit.
Keamanan tinggal pada bangunan bertingkat tinggi dimana banyak
kegiatan bagi berbagi perilaku dan terletak jauh diatas tanah, perlu
sebagai kelancaran kegiatan sehari-hari maupun pada saat terjadinya
bencana.
Kenyamanan
Sehari-Hari Tinggal
Pengamanan
Keselamatan
Saat Bencana
Pemakai
30
3) Pintu Masuk / Enterance
Pembatasan pintu masuk manusia (enterance) bertujuan agar setiap
manusia yang masuk dan keluar dikontrol oleh petugas keamanan,
perlu diperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan enterance, seperti
:
(a) Mencegah siapa yang tidak boleh memasuki daerah privasi
penghuni.
(b) Kontrol terhadap pencuri.
(c) Fleksibilitas dari pintu masuk/enterance.
4) Faktor keamanan lain
Dalam perencanaan keamanan bangunan, perlu pertimbangan-
pertimbangan sebagai berikut :
(a) Komunikasi pos-pos keamanan dengan keamanan pusat.
(b) Pengawasan dan penerimaan barang.
(c) Pemakaian sarana fasilitas bersama.
(d) Perbaikan kerusakan utilitas bangunan.
(e) Kualitas bangunan :
- Pengawasan bahan bangunan
- Pekerja dan lain-lain
Pengamanan saat bencana dianggap membahayakan
pemakaian bangunan bertingkat tinggi :
5) Bahaya Kebakaran
(a) Tercekik asap
(b) Terbakar api
6) Keruntuhan akibat gempa
(c)Tertimpa keruntuhan
(d) Terlempar, terjatuh
Karena sumber bahaya adalah dari bangunan itu sendiri, maka
tujuan pengamanan adalah mengeluarkan pemakai dari bangunan
atau bagian bangunan. Daya kecelakaan masing-masing bencana
berbeda, maka pertimbangan pengamanannya berbeda pula.
b. Privasi
Suatu kondisi kehidupan yang memberikan kebebasan bagi seseorang
tanpa terganggu atau tanpa campur tangan pihak lain, baik berupa
31
pandangan maupun suara. Gangguan terhadap privasi dapat berasal
dari luar bangunan dan dapat membentuk pandangan visual yang
langsung, suara kebisingan, polusi getaran.
c. Kenyamanan
Segala sesuatu yang memperlihatkan dirinya sesuai dengan harmonis
dengan penggunaan suatu ruang, baik dengan ruang itu sendiri maupun
dengan berbagai bentuk, tekstur, warna simbol maupun tanda, suara,
bunyi atau apapun juga.
1. Fungsi Mall
32
§ Pusat komunikasi, yaitu sebagai tempat berkumpul dan berekreasi
33
Gambar 2. Mall terbuka dan tertutup (The composit mall center)
34
Gambar 3. Mall tertutup (The closed mall center)
3. Elemen-elemen Mall
a. Entrance
Entrance sebuah mall merupakan bagian yang paling penting untuk
menarik minat pengunjung. Bila mata di ibaratkan jendela dunia, maka
entrance sebuah mall adalah energinya. Seluruh isi mall tercermin
dalam entrance-nya, yang bukan saja mereprentasikan kualitas
bangunannya, melainkan juga barang-barang yang dijual didalam mall
tersebut.
b. Sirkulasi Horisontal
Koridor, jembatan dan atrium adalah sirkulasi horizontal yang
umumnya diterapkan dalam sebuah shopping center. Fungsinya
adalah memnampung dan menyebarkan para pengunjung ke berbagai
bagian shopping center menuju keberbagai toko yang ada di dalam
shopping center tersebut.
Jenis koridor yang biasanya diterapkan di mall adalah koridor
tunggal (single-corridor) dengan lebar mencapai tiga meter atau
bahkan lebih. Fungsinya adalah untuk memudahkan sirkulasi para
pengunjung agar mereka dapat menikmati etalase toko tanpa
terganggu para pengunjung lainnya yang melintas. Selain itu, single-
corridor juga membuka kemungkinan untuk memasukkan cahaya alami
ke dalam bangunan mall melalui skylight yang diletakkan tepat di
atasnya atau pada atrium yang terbentuk diantara dua koridor tunggal.
35
Sarana lain yang dipakai adalah jembatan. Fungsinya adalah
untuk memperpendek jarak pencapaian dari toko ke toko, sehingga
para pengunjung dapat memotong jalur menuju ke toko-toko
diseberang apabila tidak ada lagi yang diperlukannya dideretan toko
semula. Jembatan biasanya ditempatkan melintang di atrium pada
jarak antara 5-10 meter satu sama lainya, sebagai salah satu daya
tarik didalam mall karena didesain dengan berbagai variasi dan
teknologi mutakhir.
Atrium pada hakekatnya adalah sebuah rongga besar di dalam
bangunan yang fungsi utamanya adalah sebagai tempat bertemunya
para pengunjung mall. Posisi atrium biasanya terletak ditengah
bangunan karena diperlukan sebagai tempat promosi produk terbaru
atau untuk menyelenggarakan acara-acara khusus yang digelar
pengelolah mall sebagai kiat menarik pengunjung untuk datang.
c. Sirkulasi Vertikal
Eskalator merupakan salah satu alat transportasi vertikal
didalam bangunan yang terdiri dari 2-5 lantai. Lebih dari enam lantai,
pencapaian akan lebih lebih efektif jika menggunakan elevator (lift).
Fungsi dan penempatan eskalator bergantung pada spesifikasi dan
kebutuhan bangunan. Desainnya pun harus mempertimbangkan segi
keamanan dan ketahanan secara teknis dengan standar teknologi
tertentu karena escalator berperan penting untuk menciptakan efisiensi
fungsi bangunan
Elevator atau lift merupakan elemen sirkulasi vertikal yang
[Link] umum, elevator dapat dibagi menurut spesifikasi bangunan
yaitu elevator untuk low-rise building, high-rise building dan service
building, rumah tinggal, dan lift barang. Setiap jenisnya harus
memenuhi persyaratan utama sebuah elevator yang baik dan aman,
yaitu :
(1) Fleksibel
(2) Space-saving configuration
(3) Rapid installation
(4) Ramah lingkungan
(5) Smooth, quite performance
36
(6) Proven reliability (lolos uji ketahanan)
d. Penyewa Utama (Anchor Tenant)
Anchor Tenant berarti penyewa utama pada sebuah pusat
perbelanjaan. Sistem pengelolaan anchor tenant adalah sistem sewa
penuh dengan waktu yang panjang.
e. Tenant Mix
Anchor Tenant menjadi kurang maksimal posisinya sebagai penyewa
utama tanpa adanya retail tenant yang beraneka ragam di sekitarnya.
Keduanya mempunyaisifat saling ketergantungan atau dikenal dengan
istilah multifarious symbolic relationship.
37
c. Desain Kriteria
Adanya kriteria-kriteria tertentu bagi penyewa dalam mengatur toko
yang disewanya sehingga rnembentuk satu kesatuan dengan toko-toko
yang lainnya. Mall berorientasi ke dalam dan tidak banyak bukaan.
Perencanaan suatu mall harus rekreatif, rileks, dan mudah dilalui serta
pemandangan berderetan (shopping window) dapat dinikmati dengan
baik karena bebas dari sirkulasi kendaraan bermotor. Pintu masuk dan
pintu keluar dari unit utama juga harus diperhatikan. Layout dari mall
harus sederhana, mudah didefenisikan, serta tidak membosankan.
38
e) Mewadahi 15 - 50 toko yang terdiri dari junior department sfore,
supermarket, convience store, kantor, dan bank.
39
2) Pengunjung
6. Karakteristik Konsumen
Jumlah dan jenis konsumen yang datang akan sangat berpengaruh terhadap
kegiatan yang berlangsung dalam mall / pusat perbelanjaan, di mana
konsumen yang datang terdiri dari berbagai golongan/kelas sosial dengan
berbagai perilaku , yaitu :
a. Kelas sosial masyarakat golongan bawah
Kelas sosial masyarakat ini cenderung membeli barang atau jasa
dengan mementingkan kuantitas (jumlah). Untuk keperluan sehari-hari,
umumnya memanfaatkan penjualan barang yang diobral atau
penjualan dengan promosi.
b. Kelas sosial masyarakat golongan menengah
Kelas sosial masyarakat ini cenderung membeli barang dengan harga
yang mahal dengan lebih mementingkan kualitasnya. Pada umumnya
berkeinginan membeli barang mewah dengan sistem kredit.
c. Kelas sosial masyarakat golongan atas
Kelas sosial masyarakat ini cenderung membeli barang dengan harga
yang mahal dengan kualitas yang tinggi serta merek yang terkenal dari
toko yang terkenal dan lengkap, memiliki animo berbelanja yang tinggi
karena uang bukan menjadi permasalahan utama.
a) Paths
40
b) Nodes
41
C. TINJAUAN TERHADAP APARTEMEN DENGAN FASILITAS MALL
Berdasarkan tinjauan terhadap bangunan apartemen dan bangunan
perbelanjaan. maka dapat diberi suatu batasan terhadap apartemen dengan
fasilitas mall/perbelanjaan, yaitu merupakan suatu kelompok ruang sebagai
tempat tinggal yang terdapat di dalarn suatu lingkungan bersama, yang
dilengkapi dan dipadukan dengan fasilitas perbelanjaan dan rekreasi sebagai
fasilitas utama yang dapat berupa deretan toko-toko retail yang menghubungkan
beberapa magnet seperti supermaket, department store, restoran food court,
coffe shop, bioskop, dan lain-lain Dari batasan di atas terlihat bahwa pada
bangunan apartemen dengan fasilitas mall terdapat dua fungsi utama yang
berada dalam satu bangunan yaitu fungsi hunian dengan ruang yang mempunyai
sifat privasi yang tinggi dan fungsi perbelanjaan dengan ruang yang bersifat
publik. Dengan adanya perbedaan sifat pada kedua fungsi tersebut maka perlu
adanya suatu sistem yang dapat menyatukan kedua fungsi tersebut berada
dalam satu bangunan namun tidak terjadi kekacauan sirkulasi yang dapat
mempengaruhi keadaan sifat ruang dari kedua fungsi tersebut. Pengertian di
atas juga menjelaskan adanya dua fungsi yang berada dalam satu bangunan
namun tidak mempunyai kedudukan yang setara. Yang menjadi fungsi utama
adalah apartemen sedangkan perbelanjaan menjadi suatu fasilitas yang
disediakan untuk memberikan kemudahan terutama kepada penghuni
apartemen, namun dalam konteks ini fasilitas perbelanjaan yang disediakan juga
melayani masyarakat di luar penghuni apartemen.
42
Tower
sebagai
apartemen
Podium
sebagai
mall
Tower
sebagai
apartemen
Podium
sebagai
mall
2. Jenis Sirkulasi
Untuk sirkulasi pada bangunan apartemen dengan fasilitas mall dapat
dilakukan berdasarkan fungsi kegiatan dalam bangunan dan juga dengan
pemisahan perletakan entrance masing-masing fungsi.
a. Sirkulasi dalam bangunan.
Untuk sirkulasi dalam bangunan apartemen dengan fasilitas mall, masing-
masing fungsi dapat mempunyai sistem sirkulasi sendiri-sendiri. Pada
43
fungsi apartemen dapat digunakan sistem sistem sirkulasi vertikal berupa
lift atau tangga (khusus untuk law rise building), sedangkan sirkulasi
horizontalnya dapat digunakan beberapa sistem koridor (koridor tunggal
koridor ganda, koridor pada kedua sisi, koridor terpusat) seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya. Pada fungsi mall/perbelanjaan, sistem sirkulasi
vertikal dapat menggunakan tangga, eskalator, atau lift panorama.
Sedangkan sirkulasi horizontalnya digunakan sistem koridor (koridor
tunggal, koridor ganda, koridor pada kedua sisi) yang menghubungkan
retailretail (fenanf) dan anchor.
Untuk menghubungkan sirkulasi pada kedua fungsi tersebut harus
terdapat suatu ruang yang membatasi keduanya sehingga tidak terjadi
suatu kekacauan sirkulasi yang mengaburkan sifat ruang dari kedua
fungsi tersebut. Ruang ini berfungsi membatasi pergerakan publik menuju
apartemen sehingga yang dapat mengaksesnya adalah yang mempunyai
kepentingan pada apartemen seperti penghuni dan pengelola. Ruang
perantara tersebut berfungsi sebagai ruang semi publik yang memisahkan
sirkulasi ruang apartemen yang bersifat privasi dengan sirkulasi mall yang
bersifat publik
b. Sirkulasi ruang luar bangunan dan parkir
1) Sirkulasi kendaraan, yang terdiri dari:
(a) Kendaraan penghuni apartemen
(b) Kendaraan tamu apartemen
(c) Kendaraan pengunjung mall
(d) Kendaraan pengelolah gedung/karyawan
(e) Kendaraan barang
44
Sedangkan parkir pengunjung mall, tamu apartemen dan barang
terletak diluar bangunan.
3. Entrance Bangunan
Pemisahan entrance bangunan dilakukan untuk menghindari
kekacauan sirkulasi pada bangunan. Entrance mall yang sifatnya publik
dipisahkan dengan entrance apartemen yang sifatnya privat. Entrance mall
diletakkan didepan bangunan untuk mempermudah pengunjung mall.
Sedangkan entrance apartemen diletakkan langsung di masing-masing tower.
Pemisahan ini bertujuan agar pengunjung mall tidak mempunyai akses ke
apartemen kecuali karyawan servis dan pengelolah. Namun penghuni
apartemen bebas akses ke mall.
KANTOR
UNIT
HUNIAN
PENGELOALH
UNIT
HUNIAN
LOBBY
LOBBY
MALL
APARTEMEN
APARTEMEN
TOWER
1
TOWER
2
ENTRANCE
MALL
HUBUNGAN
KHUSUS/EXCLUSIVE
ACCESS
HUBUNGAN UMUM
45
ENTRANCE APARTEMEN
ENTRANCE MALL
APARTEMEN APARTEMEN
MALL
(Alternatif 01)
ENTRANCE APARTEMEN
APARTEMEN APARTEMEN
ENTRANCE MALL
MALL
46
APARTEMEN
MALL
(Alternatif 02)
APARTEMEN
MALL
APARTEMEN
APARTEMEN APARTEMEN
MALL
47
Tabel 1. Analisa kelebihan dan kekurangan massa tunggal dan majemuk
KESIMPULAN : Massa yang cocok untuk site ini adalah massa tunggal
karena memerlukan lahan yang lebih sedikit dan pemeliharaan yang lebih
mudah, sehingga tapak dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien.
48
BOARD OF DIREKTUR
MANAGING DIREKTUR
APARTEMEN MALL
Bangunan ini terletak di Jl. Dr. Satriyo Jakarta yang dibangun di atas
areal seluas ±3ha. Massa bangunan utama terdiri dari bangunan mall setinggi
6 lantai, shop office 4 lantai, dan apartemen 26 lantai yang berdiri di atas
bangunan mall, serta memiliki 3 lapis lantai basement. Luas total bangunan
adalah ± 93.000 m2.
49
Pada bangunan mall didesain terdiri dari 350 ritel, dengan ukuran yang
bervariasi, yaitu 4m x 6m, 4m x 7m, dan 4m x 8m. Sedangkan pada anchor
tenant luasnya berkisar 1.000m2 hingga 2.000m2. Pada shop office yang
didesain menyatu dengan bangunan mall, seluruhnya terdiri dari 17 unit,
terdiri dalam dua ukuran yaitu 464,8m2 dan 519,6m2. Sementara pada
apartemen terdapat 114 unii hunian dengan tipeiluas yang bervariasi, yaitu 2
kamar tidur / 1A7m2,3 kamar tidur A t 118 m2, 3 kamar tidur B / 135m2, dan
penthouse 1300m2.
50
2). Mega Kuningan Town Park
Apartemen 63 lantai ini secara bentuk terdiri atas dua massa utama
yang mengapit sebuah massa peralihan. Massa peralihan ini difungsikan
sebagai lobby, sky garden dan juga bagian dari ruang unit apartemen yang
luas dari kedua massa. Pembagian massa apartemen menjadi dua
rnerupakan upaya untuk mengurangi kesan masif bangunan, sedangkan
korelasi susunan massa ini dengan faktor angin masih harus dicek lebih
dengan lanjut lagi dalam percobaan wind-tunnel.
51
Gambar 15. Denah Apartemen Mega Kuningan Town Park
(Sumber: lndonesia Design)
52
serviced Apartment diharapkan menjadi pilihan bagi mereka yang berusaha,
bekerja, dan memanfaatkan rekreasi air
Serviced Apartment ini dioperasikan oleh Holiday lnn. Terdiri dari 204
unit dengan fasilitas kolam renang, lapangan tennis, gym, barbeque area,
area bermain anak, dan fasilitas penunjang lainnya, berdiri 17 lantai di atas
podium parkir. Apartemen ini didukung oleh pusat perbelanjaan seluas kurang
lebih 85.000 m2, convention hal!, rekreasi air, water theme park. Luas site
yang digunakan bangunan ini adalah sekitar 7,68 ha.
Konsep resort dengan lansekap yang unik menunjang apartemen yang
pada setiap lantainya terdiri dari 12 unit dengan orientasi view ke arah kolam
renang dan water theme park. Pusat perbelanjaannya, Blue Jall sendiri
diharapkan dapat menampung brand image yang mencitrakan kehidupan
pusat kota.
53
4). Apartemen Plaza Senayan
Gambar 17. Apartemen Plaza Senayan
Sumber : [Link]
54
2) Kolam renang bernuansa bali yang ditata dalam sebuah lansekap
taman dengan sebuah kolam renang anak, 2 buah lapangan tennis,
area jogging, taman bermain anak, dan fitness center.
Sumber : [Link]
55
Gambar 19. Denah Type Kamar Apartemen Plaza Senayan
Sumber : [Link]
Sumber : [Link]
56
Gambar 21. Fasilitas Outdoor Apartemen Plaza Apartemen
Sumber : [Link]
57
d) Tipe D dengan 1 kamar tidur
5). FX Plaza
FX merupakan gedung multi fungsi yang terletak di kawasan sentra
bisnis, tepatnya di Jl. Jend Sudirman, Pintu Satu Senayan, Jakarta Pusat
terdiri dari FX Plaza dan FX Residence.
Pada awalnya, perancangan bangunan ini memiliki konsep Shopping
Center dengan nama Sudirman Place, tetapi dalam pembangunannya ada
perpindahan management dan diganti dengan FX serta berganti konsep
58
menjadi Life Style Center. FX Plaza memiliki slider terpanjang di dunia dan
menjadi daya tarik tersendiri bagi mall ini.
FX Plaza terdiri dari 7 lantai, yaitu lower ground floor, ground floor,
upper ground floor, mezzanine, 1st floor, 3rd floor, dan 4th floor. Sasaran mall
dan apatemen ini yaitu masyarakat urban Jakarta kalangan menengah ke
atas yang kental dengan urban life style, sesuai dengan konsep mallnya dan
juga lokasinya yang berada di jantung kota Jakarta.
59
Gambar 24. Denah Ground Floor FX Plaza
st
Gambar 26. Denah 1 Floor FX Plaza
60
rd
Gambar 27. Denah 3 floor FX Plaza
rd
Gambar 28. Denah 4 Floor FX Plaza
Dari beberapa studi banding yang dilakukan di atas, dapat ditarik
kesimpulan:
1. Lokasi bangunan apartemen dengan fasilitas mall umumnya berada
pada wilayah pusat kota dengan tingkat kepadatan penduduk yang
cukup tinggi serta telah menjadi atau akan menjadi suatu kawasan
perdagangan
2. Perencanaan apartemen yang dilengkapi dengan fasilitas mall
ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan hunian di daerah
perkotaan dengan tingkat ketersediaan lahan yang sudah terbatas,
serta untuk memenuhi kebutuhan dari penghuni apartemen
ataupun masyarakat luas akan tempat perbelanjaan dan rekreasi
3. Penggabungan dua fungsi dalam satu bangunan yaitu hunian dan
komersil yang berbeda sifat umumnya dipisahkan dalam
pembagian massa bangunan secara vertikal dalam bentuk
bangunan yang menggunakan sistem tower dan podium, di mana
61
pada massa tower digunakan sebagai apartemen sedangkan
podium digunakan sebagai mall.
4. Untuk memperjelas dan memisahkan akses dari kedua fungsi
apartemen dan mall/perbelanjaan, dapat dilakukan dengan
pemisahan entrance keduanya, dimana mall yang bersifat publik
mempunyai entrance di depan jalan utama, sedangkan apartemen
yang lebih bersifat privat mempunyai entrance pada bagian
belakang.
5. Umumnya penampilan bangunan apartemen dengan fasilitas mall
menggunakan gaya bangunan modern yang mengungkapkan citra
dari penghuni apartemen yang sebagian besar merupakan
masyarakat golongan atas ataupun orang asing. sedangkan gaya
modern pada mall sudah merupakan konsep dari tempat
perbelanjaan modern yang terpusat, seda dilengkapi dengan
fasilitas hiburan yang membedakan dari konsep perbelanjaan
tradisional.
62
BAB III
STUDI PENGADAAN APARTEMEN
DENGAN FASILITAS MALL DI PUSAT KOTA MAKASSAR
63
Selain itu Kota Makassar yang strategis, juga merupakan Pusat
Pengembangan Wilayah D, yang meliputi Indonesia Bagian Timur dan
sebagai Pusat Satuan Wilayah bagi Provinsi Sulawesi Selatan.
b. Tinjauan Iklim
Iklim Kota Makassar adalah iklim tropis panas, dengan
presentase panas lebih dominan, hal ini bisa dilihat berdasarkan data-
data iklim Kota Makassar pada tahun 2012 dibawah ini:
1) Temperatur udara rata-rata 26,2⁰-28,0⁰ C
2) Penyinaran matahari rata-rata 61%
3) Kecepatan udara berkisar antara 3,5 – 5,7 knot/jam.
4) Jumlah hari hujan berkisar 199 hari per tahun.
5) Curah hujan rata-rata 2000 mm-3000 mm.
6) Kelembaban udara berkisar antara 71 %-88 %
7) Arah angin 210⁰15’ bujur timur kearah selatan barat daya.
c. Arah Perkembangan Kota Makassar
Pada mulanya, Kota Makassar terdiri dari 8 buah kecamatan,
yaitu Kecamatan Makassar, Mariso, Ujung Tanah, Ujung Pandang,
Mamajang, Bontoala, Wajo, dan Tallo, dengan jumlah penduduk yang
tersebar sebanyak 438.809 jiwa , yang menempati wilayah seluas
2.499,8 Ha.
Peraturan Pemerintah No.5 Tahun 1971, yang ditetapkan pada
tanggal 1 september 1971, telah mengubah dan memekarkan Kota
Makassar menjadi 11 kecamatan yatu Kecamatan Makassar, Mariso,
Ujung Tanah, Ujung Pandang, Mamajang, Bontoala, Wajo, Tallo,
Panakukang, Biringkanaya dan Tamalate, dengan luas 17.577 Ha.
Perkembangan Kota Makassar terjadi kemudian pada tahun
1997, dengan penambahan 3 kecamatan, sehingga menjadi 14
wilayah kecamatan dan terdiri dari 142 kelurahan, termasuk 3
kelurahan diantaranya terdapat di pulau-pulau. Kemudian penambahan
wilayah Kota Makassar selanjunya didasarkan pada diberlakukannya
Undang-undang Otonomi Daerah No.22 tahun 1999, dengan
penambahan 10.000 Ha ke arah laut.
64
Perkembangan –perkembangan Kota Makassar yang terjadi
dari tahun ke tahun ini telah menjadikan Kota Makassar pada saat ini
memiliki luas wilayah ±27.577 Ha, dengan komposisi wilayah darat
seluas 17.437 Ha, wilayah laur seluas 10.000 Ha dan pulau-pulau
seluas 140 Ha.
65
Tabel 2. Jumlah Penduduk Dirinci Menurut Kecamatan Di Kota
Makassar
KODE LAJU
KECAMATAN PENDUDUK PERTUMBUHAN
WIL Population
Area Subdistricts PENDUDUK
Code
2008 2009 2000-2009
(1) (2) (3) (4) (5)
010 MARISO 53.687 56.408 0,50
9020 MAMAJANG 61.984 59.560 (0,39)
66
berdampak pada golongan ekonomi masyarakat Makassar yang
berkapasitas menengah ke atas jumlahnya semakin meningkat.
Akibat dari pertumbuhan ekonomi kota yang semakin
meningkat, maka kebutuhan akan fasilitas, sarana dan prasarana
semakin meningkat pula, sehingga pembangunan berbagai sarana fisik
di Kota Makassar dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan
baik kuantitasnya maupun kualitasnya.
b. Kondisi Sosial Penduduk
Seiring dengan pertumbuhan Kota Makassar di bidang ekonomi,
diikuti pula dengan peningkatan jumlah penduduk yang dipengaruhi
oleh beberapa faktor, baik faktor fertilitas maupun faktor migrasi
penduduk. Pertumbuhan penduduk yang cukup besar ini antara lain
disebabkan oleh banyaknya urbanisasi penduduk dari daerah lain
termasuk dari Kawasan Timur Indonesia sendiri, mengingat aktifitas
ekonomi di daerah ini paling besar dibanding daerah lain, di samping
itu juga Kota Makassar sendiri merupakan pusat pemerintahan
Sulawesi Selatan sekaligus sebagai pusat pendidikan, hiburan serta
pelayanan jasa di kawasannya. (Kantor Statistik Sulsel, Sulawesi
Selatan dalam Angka 2011).
Sebagai patokan dalam perencanaan Apartemen dengan
Fasilitas mall digunakan standar laju pertambahan penduduk hingga
tahun proyeksi perencanaan, dimana sebagai patokan laju
pertambahan penduduk digunakan data pertumbuhan kota Makassar
selama lima tahun terakhir ini. Untuk menghitung pertambahan
penduduk kota Makassar hingga tahun peroyeksi dapat diketahui
dengan menggunakan rumus:
Pn =Po(1+r)’’
Dimana:
Pn = Jumlah penduduk pada tahun proyeksi
Po = Jumlah penduduk pada tahun awal
67
r = Persentase pertambahan penduduk
n = tahun proyeksi
Makassar,
Mariso dan
Mamajang
perdagangan Pendidikan tinggi
dan jasa
Ruang terbuka hijau
sosial
Transportasi darat
68
No RUTRK Kecamatan Luas Fungsi Fungsi
(Ha) Utama Penunjang
Pendidikan tinggi
Pariwisata
Perdagangan
Jasa pelayanan
sosial/umu
Militer
Ruang terbuka
hijau/perkebunan
Sumber: Revisi RUTRK Kota Makassar
69
3. Rencana Umum Tata Ruang Kota Makassar
Sebagai suatu sistem wilayah, maka kota terbentuk oleh adanya
interaksi antara Bagian Wilayah Kota (BWK) yang mempunyai fungsi-
fungsi tertentu. Rencana tata guna lahan kota Makassar melalui
pendekatan fungsi (primer dan sekunder) dari tiap-tiap BWK, yang
nantinya akan merupakan kerangka dari pola tata guna lahan kota.
Kota Makassar yang sudah mempunyai Rencana Umum Tata
Ruang Kota terbagi kedalam 9 wilayah kota pada tahun 1999. Dari
hasil penentuan tata guna lahan, sudah selayaknya pengembangan
kota tersebut bertujuan untuk menghidupkan kembali fungsi-fungsi
kota dan struktur perencanaan kota sehingga dapat berjalan dengan
efektif, efisien dan terencana.
70
Gambar 29. Rencana Umum Tata Ruang Kota Makassar
Permukiman
Rekreasi
Pantai
&
Jasa
Pariwisata
Perdagangan,
permukiman,
Ruang
terbuka
hijau,
pemerintahan/perkantoran
Keterangan:
71
Gambar 30. Peta Rencana Struktur Ruang Wilayah Kota Makassar
Sumber : [Link]
72
hunian dengan konsep pembangunan vertikal serta sarana
perbelanjaan yang dapat dijangkau dengan mudah dan cepat.
b. Potensi pengembangan fungsi hunian
Salah satu fungsi utama dalam lahan campuran adalah fungsi
hunian yang merupakan bagian yang cukup berat untuk dilaksanakan,
namun bentuk ekonomi dan kesempatan kerja umumnya menjadi
indikasi bagi bentuk dan nilai dari perumahan-perumahan penduduk.
Sebagai contoh, pengembangan hunian pusat kota harus meliputi:
1) Mempunyai tenaga professional dan tenaga kantoran (white
collar).
2) Memiliki nilai sejarah pembaharuan atau pengembangan baru
yang sukses, khususnya retail pada wilayah yang akan
dibangun.
3) Memiliki ciri-ciri budaya dan aktivitas hiburan yang banyak
secara geografis dan terpusat.
4) Terpadu dan memiliki sistem transit umum yang efisien
c. Potensi Pengembangan fungsi perbelanjaan
Pada potensi pengembangan fungsi perbelanjaan, umumnya
tidak secara langsung ditentukan dalam satu lahan, tetapi setelah
fungsi lainnya telah ditentukan. Hampir semua lahan campuran
memiliki ruang perbelanjaan, dengan memilik sejumlah ruang hiburan,
atau ruang perbelanjaan khusus untuk pelayanan, merupakan
komponen tambahan bagi komponen utama proyek, sampai pada
pusat perbelanjaan regional dan super regional yang meliputi barang-
barang dan pelayanan dalam satu kesatuan.
Keputusan dalam menentukan macam, ukuran, dan waktu pada
ruang perbelanjaan harus berdasarkan temuan dari studi pasar yang
menyeluruh yang dipimpin oleh aliansi-aliansi pasar retail.
Dukungan bagi komponen perbelanjaan dalam lahan campuran dapat
berasal dari tiga pasar:
1) On site market
Pengunjung dan penduduk setempat
2) Nearby/local market
73
Penduduk dan pekerja pada daerah sekitarnya, umumnya
dengan waktu/lama perjalanan sekitar 5 - 7 menit), demikian
pula dari pengunjung.
3) The regional market resident, pekerja dan pengunjung dengan
waktu tempuh 30 menit.
2. MOTIVASI PENGADAAN
a. Bagi pihak pengusaha, pedagang, dan penghuni, apartemen dengan
fasilitas mall dapat mewujudkan kebutuhan esensial dari para
pedagang/pengusaha dengan terpenuhinya kebutuhan akan tempat
usaha yang memenuhi persyaratan ideal untuk tercapainya aktivitas
perniagaan serta tersedianya sarana perbelanjaan yang mudah
dijangkau bagi penghuni apartemen dan sebaliknya bagi para
pengusaha/pedagang adalah adanya konsumen tetap dengan
kemampuan beli yang cukup tinggi sehingga terjadi subsidi silang yang
saling menguntungkan.
b. Bagi para investor apartemen dengan fasilitas mall merupakan bentuk
usaha pengembangan investasi modal yang selain dapat memberikan
keuntungan yang lebih besar juga merupakan salah satu
memanfaatkan lapangan kerja baru.
3. TUJUAN PENGADAAN
a. Untuk mengantisipasi masalah kebutuhan akan hunian di Kota
Maksassar terutama bagi para pelaku ekonomi (tenaga kera) baik
asing maupun lokal yang membutuhan akses yang cepat dan mudah
ke tempat kerja mereka.
b. Mengembangkan konsep perencanaan bangunan dengan
pemanfaatan lahan secara efektif dan maksimal untuk mengantisipasi
semakin kurangnya lahan-lahan kosong di pusat kota.
c. Dalam bidang ekonomi, apartemen dapat memberi andil dalam
dinamika pertumbuhan ekonomi khusunya di Kota Maksassar.
74
4. DASAR PERTIMBANGAN
a. Potensi Kota Makassar dengan jumlah penduduk yang besar,
kepadatan penduduk yang tinggi serta pertumbuhan ekonomi yang
tinggi.
b. Tingkat pendapatan penduduk perkapita yang cukup besar sebagai
dasar pertimbangan untuk kelayakan pembangunan apartemen di
mana masyarakat dapat menjangkau pembelian sewa apartemen
tersebut.
c. Bagi pihak pengusaha perdagangan, pemilik serta penghuni
apartemen dapat terjadi hubungan timbal balik yang saling
menguntungkan.
75
Tabel 4. Gaji tenaga Kerja Asing menurut jabatannya
Gaji rata-rata
No Jabatan Jumlah
(US$/bulan)
1. Pimpinan/manager 5.000 55
2. Professional 3.500 12
3. Supervise 1.500 11
4. Teknisi/operator 1.000 16
Total 11.000 94
Sumber : Kantor wilayah Departemen Tenaga Kerja Sulsel 2011
Struktur Keluarga
Struktur keluarga dari masyarakat golongan menengah ke atas secara
umum merupakan keluarga kecil dengan jumlah anak maksimal 4 orang.
Komposisi keluarga yang dapat diterapkan pada unit hunian berdasarkan
jumlah anggota keluarga adalah :
1) 1 orang (bujangan), membutuhkan 1 kamar tidur
2) 2 orang (suami-istri), membutuhkan 1 kamar tidur
3) 3 orang (suami-istri + 1 anak), membutuhkan 2 kamar tidur
4) 4 orang (suami-istri + 2 anak), membutuhkan [Link] tidur
5) 5 - 6 orang (suami-istri + 3 - 4 anak), membutuhkan 3 – 4 kamar
tidur atau type khusus (penthouse).
2. Sosial Budaya Penghuni Apartemen
Apartemen diciptakan dari suatu struktur dan kebudayaan yang sudah
kompleks dan maju. Dengan demikian, penghuni apartemen harus memiliki
struktur dan kebudayaan tersebut sebagai konsekunsinya. Apartemen
termaksud hasil kebudayaan yang dapat memaksa orang untuk tinggal
didalamnya karena terdesak oleh berbagai macam masalah, dimana tidak
ada pilihan lain kecuali tinggal di dalam apartemen.
76
Ada berbagai pertimbangan dari mereka yang memilih tinggal d
apartemen, antara lain :
(a). Menilai adanya kepraktisan
(1) Tidak melakukan perawatan gedung
(2) Mengadakn perlengkapan fasilitas furniture dan peralatan lainnya
(b) Menilai adanya kenyamanan
(1) Hunian yang aman, sehat dan teratur
(2) Kelengkapan fasilitas dasar hunian
(3) Suasanan yang tenang dan privasi yang cukup.
(c) Menilai adanya kelayakan ekonomi
Dibandingkan dengan tinggal dirumah biasa (horizontal) di
daerah tertentu, biaya yang dikeluarkan untuk penghuni relative akan
lebih murah jika dilihat pada beberapa hal seperti prasarana, sarana
hunian dan fasilitas yang dipakai bersama. Selain peninjauan dari segi
komersial, faktor kenikmatan atau kelayakan penghuni untuk tinggal
dalam apartemen penting untuk diperhatikan, sebab menyangkut
kehidupan keluarga yang layak dipandang dari berbagai segi
kehidupan masyarakat seperti sosial ekonomi, kesehatan dan
keserasian bertempat tinggal.
77
pemerintah
dan swasta
A + [(2020 – 2010) x B + A ]
Dimana :
Sehingga diperoleh :
= 601,42 ˜ 602 kk
= 220,18 ˜ 220 kk
= 150,35 ˜ 150 kk
Jumlah apartemen yang dibutuhkan tahun 2020 di Makassar adalah 972 unit.
Namun untuk perencanaan tahap awal direncanakan terbangun 20 % dari
jumlah tersebut
Tipe unit hunian bergantung pada jumlah ruang tidur dalam unit hunian
apartemen. Untuk menentukan jumlah tIpe unit perlu diadakan perbandingan
dengan komposisi jumlah anggota tiap rumah tangga yang ada di Makassar,
seperti yang ditunjukkan pada tabel dibawah ini.
KODE RATA-RATA
WIL KECAMATAN RUMAHTANGGA ANGGOTA
Area Subdistricts House Hold
RUMAH TANGGA
Code
79
090 TALLO 35.618 3,86
100 PANAKKUKANG 26.929 5,07
101 MANGGALA 24.658 4,08
110 BIRINGKANAYA 35.684 3,66
111 TAMALANREA 22.498 4,02
Dengan melihat tabel di atas, maka perkiraan jumlah unit hunian untuk
masing-masing tipe adalah :
80
BAB IV
ACUAN PERANCANGAN
81
d) Aksebilitas mudah dan dilalui jalur transportasi kota.
e) Keadaan lingkungan sekitar yang memenuhi luas yang mendukung
serta memiliki kondisi lahan yang menunjang fungsi bangunan
b. Penentuan Lokasi
Untuk menentukan lokasi sesuai dengan dasar pertimbangan da
beberapa kriteria di atas, maka dipilih beberapa alternative lokasi,
yaitu:
1) Alternatif I
Lokasi terletak di Kawasan CBD (Central Bussiness District)
yang merupakan area fungsi bisnis dan perdagangan ditunjang
dengan pelayanan sosial dan permukiman.
(1) Potensi lokasi
a) Sesuai dengan RUTRK Kota Makassar, yaitu
mempunyai fungsi bisnis dan perdagangan ditunjang
dengan pelayanan sosial dan permukiman.
b) Akses ke lokasi mudah dan lancar.
c) Tersedia jaringan utilitas kota yang memadai.
d) Lokasi berdekatan dengan beberapa fasilitas pusat
perbelanjaan seperti Makassar Mall, GTC Karebosi,
dan Karebosi Link serta beberapa pusat perbelanjaan
yang lain.
e) Masih mempunyai lahan kosong
(2) Kekurangan Lokasi
a) Tingkat kebisingan cukup tinggi
b) Tingkat keamanan yang masih rendah dibeberapa
wilayah.
2) Alternatif II
Lokasi terletak di Kawasan Permukiman Terpadu (Kec.
Panakkukang & Rappocini) kawasan pengembangan kota yang
merupakan area permukiman yang ditunjang oleh jasa pelayanan
sosial, perdagangan dan bisnis, perkantoran, dan pendidikan.
Activity support : Panakkukang Square.
(1) Potensi Lokasi
82
a) Sesuai RUTRK Kota Makassar, yaitu mempunyai
fungsi utama sebagai Kawasan Permukiman Terpadu
dan sebagai area jasa perdangangan dan bisnis.
b) Akses ke lokasi mudah dan lancar
c) Tersedia jaringan utilitas kota
d) Lokasi juga memilki salah satu wilayah sebagai area
terbuka hijau sehingga memungkinkan lokasi ini untuk
mendapatkan udara yang bersih yang dapta
menunjang kegiatan yang berlangsung pada
Apartemen dengan Fasilitas Mall.
(2) Kekurangan lokasi
a) Mempunyai tingkat kebisingan yang tinggi karena
banyak dilalui oleh jalur transportasi.
b) Kurangnya lahan kosong.
3) Alternatif III
Lokasi terletak di Kawasan Bisnis Global Terpadu Tanjung
Bunga (Kec. Tamalate) merupakan fungsi utama sebagai Bisnis
Global Terpadu dengan area perencanaan jasa pelayanan sosial
yang ditunjang oleh fungsi pemukiman dan pengembangan
kawasan rekreasi Tanjung Bunga. Activity support : Mall Graha
Tata Cemerlang (GTC) Tanjung Bunga, dan lain-lain.
(1) Potensi Lokasi
a) Akses kelokasi lancar yang ditunjang oleh jalur
transportasi baik jalur transportasi pribadi maupun
umum.
b) Tersedia utilitas kota yang mewadai
c) Tersedia jaringan aksesbilitas yang memadai
(2) Kekurangan
a) Jauh dari pusat Kota Makassar.
b) Tingkat kebisingan cukup tinggi.
c) Tingkat Keamanan yang masih rendah dibeberapa
wilayah
83
Berdasarkan beberapa kriteria lokasi di atas maka akan
diperoleh hasil penilaian alternatif lokasi sebagai berikut:
Ket. Penilaian :
3 = sangat mendukung
2 = mendukung
1 = kurang mendukung
Berdasarkan hasil analisis di atas, maka lokasi yang mendukung
keberadaan Apartemen dengan fasilitas mall, yaitu Alternatif II
Kawasan Permukiman Terpadu (Kec. Panakkukang &
Rappocini)
84
menarik investor yang akan menanamkan modal dan pemakai
yang akan memanfaatkan bangunan.
2) Berada pada kawasan yang memiliki potensi dan fungsi
dominan sebagai kawasan jasa, perdagangan, dan perkantoran
serta memungkinkan prospek yang cerah untuk pengembangan
di masa yang akan datang.
3) Kondisi fisik lingkungan yang sangat baik. Yang dilengkapi
dengan fasilitas pelayanan jasa kegiatan perekonomian kota
dan fasililitas utilitas kota
4) View yang sangat baik bagi sebuah bangunan apartemen
dengan fasilitas mall.
2) Penentuan tapak
Berdasarkan beberapa kriteria tapak di atas, maka akan diperoleh
beberapa alternatif tapak sebagai berikut:
1) Alternatif I
Rencana site berada pada persimpangan antara Jalan A. Pettarani
dengan Jalan Hertasning Raya.
Potensi site :
(1) Luas site yang mampu mewadahi segala kegiatan yang
berlangsung pada apartemen dengan fasilitas hunian.
(2) View dari site dan ke site cukup bagus.
(3) Potensi sekitar site yang mampu menunjang keberadaan
dan fungsi dari apartemen dengan fasilitas mall.
(4) Site berdekatan dengan perumahan dan fasilitas – fasilitas
perbelanjaan lainnya.
Kekurangan site :
86
(1) Memiliki tingkat kebisingan yang cukup tinggi
(2) Tingkat keamanan lingkungan sekitar yang masih rendah.
2) Alternatif II
Rencana site berada disepanjang Jalan [Link], yaitu antara
gedung kantor DPRD Kota Makassar dan Gedung BPN Kota
Makassar.
Potensi site :
(1) Akses ke lokasi lancar karena tidak dilalui jalur transportasi
umum
(2) Sarana dan prasarana yang memadai.
Kekurangan site :
3) Alternatif III
Rencana site berada pada ujung Jalan A. Pettarani. Site berada
disamping gedung Telkom Kandatel X.
87
Gambar 33. Alternatif site 03
Potensi site :
(1) Luas site yang mampu mewadahi segala kegiatan yang
berlangsung pada apartemen dengan fasilitas hunian.
(2) Akses ke lokasi lancar karena tidak dilalui jalur transportasi
umum
(3) Sarana dan prasarana yang memadai.
Kekurangan site :
Alternatif III
Kriteria Tapak Alternatif I Alternatif II
Luas lahan 3 3 3
Sarana dan prasarana 3 3 3
bangunan
Alur sirkulasi pengguna 3 2 3
Akses pencapaian bangunan 3 1 2
View dari dan ke bangunan 3 3 2
Tautan dengan lingkungan 2 3 3
88
Kebisisngan 3 1 2
Kondisi masyarakat 2 2 2
Score 22 16 20
Tabel 9. Scoring tapak
Ket. Penilaian :
3 = sangat mendukung
2 = mendukung
1 = kurang mendukung
1) Situasi lingkungan
2) Iklim, cuaca dan polusi tapak
3) Sirkulasi dan pencapaian
4) Utilitas kota
5) Topografi dan batasan lahan
6) View dan penempatan bangunan
89
3. Tinjauan Tapak
a. Konsidisi fisik tapak
Merupakan lahan yang berupa tanah kosong dengan tanah
yang relatif datar dan berbatasan dengan permukiman yang
berkepadatan rendah. Frekuensi kendaraan sedang.
90
juga terdapat sarana perdangan berupa yang dapat menunjang
aktivitas apartemen nantinya
f. Luasan tapak
Luasan tapak adalah 4.2 ha dengan building coverage ratio 60: 40
4. Pengolahan Tapak
a. Orientasi matahari dan angin
1) Orientasi Sinar Matahari
(a) Dalam hal ini mempengaruhi tata letak unsur bangunan
yang memiliki area lansekap yang luas serta
pertimbangan terhadap pemanfaatan sinar matahari yang
masuk kedalam bangunan.
(b) Daerah yang paling banyak menerima sinar matahari
dapat dilindungi dengan pananaman pohon pelindung
dan penggunaan overstek.
2) Orientasi terhadap angin
(a) Dalam hal ini mempangaruhi kenyamanan terhadap unit-
unit ruang dalam bangunan.
(b) Pemanfaatan arah angin sebagai penghawaan alami
digunakan pada ruang melalui bukaan-bukaan jendela.
b. View
1) View dari luar tapak kedalam tapak.
View atau sudut pandang terbaik dari luar ke bangunan adalah
dari segala arah, hal ini dapat di wujudkan dengan menjauhi
bentuk bangunan yang simetris karena bentuk simetris
mempunyai kesan selesai dan tidak dapat mengalami
pengembangan dan perkembangan.
2) View dari dalam tapak ke luar.
View terbaik adalah view ke arah barat dan barat laut dengan
pemandangan pepohonan yang masih asri.
c. Orientasi massa dan ruang
Suatu karakteristik sebagai wadah tempat tinggal hunian
komersil dan objek wisata dan rekreasi yang terbuka, dan tapak
berada pada view yang baik, maka orientasi bangunan
91
mempertimbangkan ruang yang memiliki nilai tambah yaitu
berorientasi kesegala arah. Namun arah orientasi bangunan juga
mengacu pada pencapaian dari arah kota maka bangunan
berorientasi ke arah selatan barat daya
d. Kebisingan
Kebisingan yang besar dari jalan utama A. Pettarani.
kebisingan yang rendah pada jalan masuk perumahan cukup
mengganggu kondisi lingkungan dalam tapak. Oleh karena itu, hal-
hal yang dapat dilakukan untuk meredam kebisingan ini adalah:
1) Peningkatan lantai dasar bangunan
2) Pemanfaatan unsur lansekap disekeliling banguanan.
3) Membuat jarak lebih kedalam dari muka jalan ke
bangunan.
4) Penataan ruang luar. Penataan ruang luar memperhatikan
penampilan bangunan.
a) adapun elemen-elemen ruang luar tersebut antara lain:
Lansekap
Perencanaan lansekap pada apartemen ini didasarkan
pada fungsi ekologisnya, yaitu:
(1) Sebagai penyegar udara.
(2) Menyerap air hujan
(3) Pengendali banjir
(4) memelihara ekosistem lingkungan
(5) Pelembut arsitektur bangunan
Pemilihan tanaman dalam perencanaan lansekap
ini, merupakan faktor penting sehingga pemilihan
tanaman diusahakan dapat memenuhi fungsinya
baik sebagai fungsi ekologis, maupun sebagai
pembatas ruang, pengarah sirkulasi baik untuk
pedestrian maupun sirkulasi kendaraan, pelindung
dan akustik.
Elemen-elemen penunjang lansekap yang akan
digunakan adalah unsur-unsur pertamanan yang
ada (pohon kelapa, camar laut, semak
92
rendah/sedang) kemudian disesuaikan dengan
fungsinya:
(a) kecil (2,5 cm – 25 cm) misalnya rumput-
rumputan, sebagai penutup tanah ditanam
pada tepi jalan setapak dan disekeliling
bangunan.
(b) Semak rendah/sedang (45 cm – 200 cm)
misalnya Howarita Puring, sebagai
pembatas/pemisah pagar ditanam pada
tepi jalan setapak sebagai penghias, sisi
bangunan, dan sekitar bangunan untuk
meredam bising dan sebagai penghias,
tempat parkir, dan tepi jalan
[Link] taman adalah:
- Bebas dan informal
- Pemilihan jenis sesuai dengan
kondisi setempat
Unsur-unsur penunjang pertamanan:
(1) batu-batuan alam sebagai pembentuk irama pada
taman dan bangunan. Penataan berdasarkan bentuk
atau tekstur, warna dan ukuran untuk memberikan
kesan stabil dan tenang dan diimabngi dnegan
ketinggian untuk merubah kesan yang terlalu
rata/tegang.
(2) lampu penerang ruang luar, yaitu:
(a) Lampu taman, tinggi maksimum 1,50 m.
(b) Lampu jalan setapak tinggi 2,50 – 3,50 m
(c) Lampu parkir, jalanan dengan tinggi 7,50 – 12 m.
(d) Penunjuk jalan untuk memberi kejelasan
(e) Shelter/gazebo sebagai tempat istirahat, terutama
dekat pantai untuk menikmati view laut.
5. Penempatan entrance
1) Main Entrance
93
Main entrance terletak disebelah barat site. Jalan ini akan
diperlebar untuk sirkulasi masuk permukiman dan apartemen
sehingga tidak mengganggu kelancaran lalu lintas jalan utama
hertasning Raya
2) Side entrance
Side entrance terletak di jalan utama hertasning di sebelah selatan
tapak. Hal ini disebabkan karena pencapaian ke dalam bangunan
lebih besar dan fleksibilitas ruang lebih baik.
6. Sirkulasi dalam tapak
1) Sirkulasi kendaraan, yang terdiri dari:
(f) Kendaraan penghuni apartemen
(g) Kendaraan tamu apartemen
(h) Kendaraan pengunjung mall
(i) Kendaraan pengelolah gedung/karyawan
(j) Kendaraan barang
2) Sirkulasi pedestrian
Sirkulasi pedestrian diusahakan agar manusiawi, tearah dan jelas
serta sedapat mungkin tidak terjadi “crossing” dengan sirkulasi
kendaraan. Maka disekitar tapak diperlukan tempat perhentian
kendaraan umum untuk mencegah terjadinya kemacetan di jalan
yang bersangkutan.
3) Sirkulasi ruang luar dan parkir
Secara merata mendistribusikan beban lalu lintas pada sebuah jalur
jalan raya yang telah memiliki hirarki. Untuk kelancaran masuk
keluarnya kendaraan ke dan dari area parkir maka gerak
kendaraan masuk dan keluar dijadikan satu arah
7. Penzoningan
Penzoningan yang dilakukan untuk skala mikro bermanfaat
memberikan control territorial yang merupakan aspek privasi penghuni
94
apartemen terhadap orang luar. Penzoningan tapak dibedakan menjadi
publik, semi publik dan privat.
Hirarki ruang berdasarkan penzoningan adalah:
a. Secara horizontal
1) zona publik ditempatkan pada daerah bising.
2) Zona semi publik ditempatkan pada daerah tengah.
3) Zona privat di tempatkan di daerah belakang.
b. Secara vertikal
1) Zona publik ditempatkan pada lapisan bawah ‘
2) zona semi publik ditempatkan pada lapisan tengah
3) Zona privat ditempatkan pada lapisan atas.
8. Bentuk bangunan
1) Bentuk Dasar
Faktor utama dalam penentuan bentuk dasar suatu bangunan
adalah fungsi serta sifat kegiatan yang ditampungnya. Dalam hal
ini, bangunan yang direncanakan adalah bersifat komersial
sehingga pendekatan terhadap bentuk dasarnya diperoleh dengan
pertimbangan terhadap kepentingan pemakaian yang dalam hal ini
adalah penghuni apartemen dan pengunjung mall.
Bentuk dasar dapat dikelompokkan dalam bentuk bulat, segitiga
dan persegi empat atau bujur sangkar. Pemilihan bentuk dasar
bagunan didasarkan pada pertimbangan :
a) Optimasi pemanfaatan luas lantai sehingga tiap area yang ada
dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
b) Kemudahan dalam pelaksanaan konstruksi serta efisiensi waktu
pelaksanaan.
c) Kemudahan perawatan bangunan
95
Pendekatan bentuk dasar bangunan terhadap bentuk tapak
yang ada. Dari pertimbangan tersebut bentuk dasar bangunan
cenderung akan mengikuti bentuk tapak yang ada. Sehingga dalam
perencanaan bangunan ini perubahan atau modifikasi dari bentuk
dasarnya akan dikembangkan untuk memberi nilai estetika dan
akses pada bangunan secara keseluruhan.
Alternatif I
Alternatif II
96
(2) Menenangkan yang menjurus pada kepasifan
(3) Menarik.
(4) Patokan arah tidak jelas karena tidak ada patokan pelaksanaan
pola kegiatan cukup rawan.
(5) Fleksibilitas ruang cukup baik.
Alternatif III
97
Tabel 10. Analisis Bentuk Dasar Bangunan
2) Penampilan bangunan
Penampilan bangunan mencerminkan fungsi sebagai bangunan
komersil dengan mempertimbangkan :
(1) Filosofi bentuk yang ingin ditampilkan
(2) Pencerminan karakter fungsi pelayanan umum yaitu;
keterbukaan, kesan menarik dan mengundang serta sebagai
fasilitas hunian.
(3) Keserasian proporsional terhadap tapak dan kondisi lingkungan.
(4) Nilai estetis (keseimbangan, proporsi, skala, irama, klimaks, dan
sebagainya)
(5) Kejelasan orientasi pencapaian.
(6) Pencerminan pola fisik yang ada didalamnya.
(7) Pengaturan dan pemakaian ruang yang maksimal
(8) Menampilkan arsitektur yang khas sesuai dengan kondisi
lingkungan.
98
publik (mall) dan semi publik sampai pada yang bersifat prifat dan
sangat prifat (apartemen). Pada bangunan ini, pengelompokkan
kegiatan harus dipisahkan agar terlihat jelas menurut fungsinya.
Dari tampilan fasade sudah dapat dibedakan pengelompokkan
fungsi serta menampilkan arsitektur yang mencerminkan fungsi
sebagai bangunan komersil.
a. Kegiatan Penghuni
1) Bekerja mempersiapkan pekerjaan
2) Makan/minum
3) Istirahat
4) Olahraga
5) Bersih-bersih
6) Berbelanja/rekreasi
b. Kegiatan pengunjung mall
1). Berbelanja
2) rekreasi
3) olahraga
c. Kegiatan Pengelola
1) Mengelola administrasi apartemen
2) Cleaning service
3) Building Maintenance
4) ME repair dan maintenance
99
5) Security Service
6) Memberikan informasi kepada tamu
d. Kegiatan pengunjung/tamu
1) Berhubungan dengan unit hunian
2) Berhubungan dengan pengelola
3) Berhubungan dengan fasilitas bersama
2. Aktivitas dan Kebutuhan Ruang
Kepuasan penghuni dalam melakukan kegiatan dapat dipenuhi bila
disediakan ruang-ruang yang sesuai dengan kegiatan yang sedang
berlangsung. Berdasarkan pelaku, maka kegiatan dalam apartemen
dapat diuraikan. Berikut kebutuhan akan ruang dimana kegiatan/aktivitas
itu berlangsung.
1) Penghuni
100
2) Pengelolah
7. Mempertimbangkan Harga
Sewa Dan Ruang Sales Manager
Pemasaran/Promosi
101
No Kegiatan /Aktifitas Kebutuhan Ruang
Tabel 12. jenis kegiatan / aktivitas dan kebutuhan ruang bagi pengelolah
3) Pengunjung/tamu
Apartemen
102
3. Pengelompokan Ruang
Ruang-ruang dalam apartemen ini dapat dikelompokkan berdasarkan
letaknya:
a. Ruang dalam
Berdasarkan sifat kegiatan, penzoningan ruang-ruang terbagi atas:
1) Daerah Publik
a) Entrance
b) Lobby/hall
c) Reception
d) Information desk
e) Security
f) Meeting Room
g) Fitness Centre, Sauna dan aerobik
h) Rg. Serbaguna Mushallah
i) Rg. Pengelola
j) Mall/fasilitas perbelanjaan
2) Daerah Privat
Daerah privat yang terdiri dari ruang-ruang yang terdapat dalam
unit-unit hunian dimana penghuni melakukan segala aktivitasnya.
a) Rg. Tidur utama
b) Rg. Tidur anak
c) Rg. Keluarga
d) Rg. Makan
e) Rg. Belajar/Kerja
f) KM/WC
g) Pantry
h) Balkon
i) Gudang
a) Rg. Pimpinan
b) Rg. Manager keuangan
c) Rg. Manager promosi dan Pemasaran
d) Rg. Manager Personalia
103
e) Rg. Manager Penyewaan Fasilitas Penunjang
3) Daerah Servis
a) Maintenance bangunan
b) Workshop
c) Rg. Mesin/Rg. Engineering
d) Laundry
e) Rg. Cleaning Servis
f) Public toilet
g) Parkir
4) Ruang Luar
Ruang luar terbentuk karena susunan dari pola bangunan daerah
publik
a) Daerah parkir
b) Teras dan entrance foyer
104
a. Fasilitas Hunian
KEGI KEB. RUANG STANDART SUMB KAPASI LUAS
ATAN RUANG ER TAS RUANG
Hunia Type 1 RT 48 m2/unit A 35 1.680
n Type 2 RT 105 m2/unit A 58 6.090
Type 3 RT 126 m2/unit A 97 12.222
Type 165 m2/unit A 4 660
Penthhouse
Total
Luas 20.652 m2
b. Fasilitas Penerimaan
105
c. Fasilitas Mall/Pusat Perbelanjaan
1) Retail store
KEGI KEB. RUANG STANDART SUMB KAPASI LUAS
ATAN RUANG ER TAS RUANG
Mall RS besar (A) 103 m2/unit A 6 618
RS sedang (B) 77 m2/unit A 8 616
RS kecil (C) 25 m2/unit A 12 300
Total 1.534
Luas
Sirkulasi 460,2
30 %
TOTAL 1.994,2 m2
2) Anchor tenant
KEGI KEB. RUANG STANDART SUMB KAPASI LUAS
ATAN RUANG ER TAS RUANG
Depart Rg. pamer 2,4-2,8 m2/unit A 200 560
emen penjualan
store Rg. Penunjang Asumsi 30% rg. A - 168
Pamer
Super Rg. Penjualan 2,4-2,8 m2/unit B 500 1350
market Rg. Penunjang Asumsi 40% rg. A - 540
Penjualan
Travel biro 0.19 m2/unit B 160 30.4
Souvenir 0.19 m2/unit B 160 30.4
Rg. Penitipan 0.19 m2/unit B 160 60
anak
Boutique 0.19 m2/unit B 160 30.4
Book Rg. Penjualan 1,8 m2/org B 200 org 360
store Rg. Penunjang Asumsi 40% rg. A - 144
Penjualan
106
KEGI KEB. RUANG STANDART SUMB KAPASI LUAS
ATAN RUANG ER TAS RUANG
Mini Hall 26,32 m2 B 30 org 18
ban ATM center 3,6 x 7,2 m2/unit B 3 unit 77,76
k/A Costumer 1,2-1,5 m2/unit B 3 org 4,5
TM service
cent Rg. Tunggu 2 x 1,8 m2/unit B 15 54
er Informasi dan Asumsi 9 m2/unit A 9
jaga
Teller 4,5 – 6 m2/org B 5 25
Total 3.461,3
Luas
Sirkulasi 1.038,3
30 %
TOTAL 4.499,6 m2
3) Penunjang mall
KEGIA KEB. RUANG STANDART SUMB KAPASI LUAS
TAN RUANG ER TAS RUANG
a. Food Rg. Makan 1.5 m2/org C 400 600
court Dapur dan 25% rg. Makan C - 150
gudang
Rg. Karyawan 2.4 m2/org C 30 72
Administrasi 5 m2/org B 10 50
2
Fast Rg. Makan 1.9 m /org C 180 org 684 (2 unit
food x 342)
Penjualan dan Asumsi 20 % rg A - 136,8
kasir makan
Dapur dan Asumsi 35 % rg A - 239
gudang makan
107
KEGIA KEB. RUANG STANDART SUMB KAPASI LUAS
TAN RUANG ER TAS RUANG
Coffe Rg. Minum 1.4 – 1.9 m2/org B 100 175
spot
Dapur dan 25 % rg. Minum A - 43,80
gudang
Rg. Adm dan Asumsi 20 % rg. A - 35
kasir Minum
Salon Rg. Salon 1.5 m2/org B 30 662,3
2
dan Adm. Dan 5 m /org B 10 50
bridal karyawan
Cinepl Audience (2 1.5 m2/org B 250 750
ex studio) org/unit
Sirkulasi 30 % rg. Audience A - 225
audience
Rg. Proyektor 20 % audience A - 67.5
Pengelolah Asumsi A - 64
Foyer Asumsi A 25 % 187.5
audienc
e
Toilet 0.5 m2/org B 25 12,5
108
30 %
TOTAL 6.024,5 m2
4) Pengelolah mall
Ruang 12 m2/org C 1 12
sekretaris
Ruang tunggu 3,75 m2/org D 15 56,25
Ruang rapat 4.8 - 6.5 m2/org D 11 52.8
Ruang 5 m2/org D 3 15
informasi
Ruang makan 7.5- 9.5m2/org E 4 30
Pantry 9 m2 A - 9
Ruang istirahat 7.5- 9.5m2/org E 4 30
Loker room 8.4 m2/org F 2 16.8
Lavatory pria 1.8 m2/org D 5 9
Lavatory wanita 1.8 m2/org D 5 9
Total 501.85
Luas
109
Sirkulasi 150.55
30 %
TOTAL 652.4 m2
e. Fasilitas pengelolah
KEGI KEB. RUANG STANDART SUMB KAPASI LUAS
ATAN RUANG ER TAS RUANG
pengel Ruang GM 18m2/org A 1 25
olah
Rg Manager 20 m2/org A 1 48
110
Ruang. House 7.5- 9.5m2/org E 4 30
keeping Dept.
Ruang front 7.5- 9.5m2/org E 6 45
office
Pantry 9 m2 A 9
Ruang F&B 7.5- 9.5m2/org E 4 30
Ruang fuction 7.5- 9.5m2/org E 4 30
room Dept.
Gudang 9m2 A 9
Ruang sales 7.5- 9.5m2/org E 4 30
Dept.
Ruang 7.5- 9.5m2/org E 4 30
Recretion Dept.
Ruang Publik 7.5- 9.5m2/org E 4 30
Relation
Ruang personal 7.5- 9.5m2/org E 4 30
Dept.
f. Fuction room
KEGI KEB. RUANG STANDART SUMB KAPASI LUAS
ATAN RUANG ER TAS RUANG
Fuctio Lobby 0.75 m2/org B 100 75
111
n room Fuction room 1.1-1.3 m2/org D 500 650
Prefuction room 1.1-1.3 m2/org D 200 260
Total 986
Luas
Sirkulasi 295.5
30 %
1281.5 m2
TOTAL
g. Food preparation
KEGI KEB. RUANG STANDART SUMB KAPASI LUAS
ATAN RUANG ER TAS RUANG
Food Main Kitchen 30 % rest. Utama C 96
prepar Ruang cheft 7.5-9.5 m2/org E 1 7.5
ation cook
112
makanan
Total 332.9
Luas
Sirkulasi 99.8
30 %
TOTAL 432,8 m2
113
30 %
TOTAL 393.4 m2
j. Employee facilities
KEGIAT KEB. RUANG STANDART SUMB KAPASI LUAS
AN RUANG ER TAS RUANG
employe Ruang 9 m2 A - 9
e interview
facilities Ruang training 20 m2 A - 20
114
Ruang time 6 m2 A - 6
keeper
Ruang makan 1.5m2/org C 50 75
karyawan
Ruang 60 m2 A - 60
ganti/locker
Ruang staff 20 m2 A - 20
Ruang security 9 m2 A 1 9
Ruang P3K 9 m2 A - 9
Mushollah 1.5 m2/org C 50 75
Tempat wudhu 12 m2 A - 12
Toilet 24 m2 A - 24
Gudang 12 m2 A - 12
Total 331
Luas
Sirkulasi 99.3
30 %
TOTAL 430.3 m2
Ruang 15-25 m2 E 2 30
message
Total 592.6
115
Luas
Sirkulasi 177,7
30 %
TOTAL 770.38 m2
116
Lap. Tennis 16 m x 35 m C 2 1.1
Jogging track 100-150 m E 1 150
Total 1869.8
Luas
Sirkulasi 560.9
30 %
TOTAL 2430.7 m2
Keterangan :
117
D = Building design standart
E = Human dimension
a. Parkir
a) Parkir mobil
1 mobil berbanding dengan 100 m2 dari luas lantai bangunan
Jumlah mobil = 40.668,63 m2 x 1 mobil / 100 (neufert)
= 406
Standart luas parker 1 mobil adalah 20 m2 – 25 m2
Luas parkir = 406 x 20 m2
= 8.120 m2
b) Parkir motor
2 motor berbanding dengan 100 m2 dari luas lantai bangunan
Jumlah motor = 40.668,63 m2 x 2 motor / 100 (neufert)
= 814 motor
Standart luas parkir 1 motor adalah 2 m2 – 2,5 m2
Luas parkir = 814 x 2 m2
= 1.628 m2
Total Luas Parkir :
= (parkir mobil + parkir motor) + 30 %
= 8.120 m2 + 1.628 m2
= 9.748 m2
118
JENIS KELOMPOK RUANG LUAS (M2)
b. Kelompok pengelolah 643.8
Kelompok fuction room 1281.5
Kelompok food preparation 432,8
Kelompok Loundry & house keeping 393.4
Kelompok mekanikal & elektrikal 516.10
Kelompok employee facilities 430.3
Kelompok olahraga Indoor 770.38
Kelompok olahraga outdoor 2430.7
Parkir 9.748
= 11.831 m2
= 17.747
= 29.578 m2 ~ 3 ha
119
5. Konsep penentuan pola hubungan ruang
1) Fasilitas hunian
Tipe 1 RT
Tipe 2 RT
Tipe 3 RT
Tipe penthouse
2) Fasilitas penerimaan
Entrance hall
Lobby
Front desk
Lounge
Lift hall
Security
Lavatory
Retail store
Anchor tenant
Fasilitas penunjang mall
Kantor pengelolah mall
120
5) Servis
food preparation
Loundry & house keeping
mekanikal & elektrikal
Parkir
6) Fasilitas pengelola
Ruang GM
Rg Manager
Ruang sekretaris
Ruang tunggu
Ruang rapat
Ruang arsip
Ruang tamu
Ruang. Dept.
Pantry
Ruang F&B
Gudang
Ruang accounting
Ruang Fotokopi
Lavatory
121
6. Pola sirkulasi dalam ruang
(1) Sirkulasi pengunjung mall
FASILITAS
PERBELANJA
AN
DATANG
MAIN
ENTRANCE
ENTRANCE
PUBLIK
AREA
PERTOKOAN
FASILITAS
HIBURAN
PARKIR
FAS. PENGELOLAH
PARKIR
PENGHUNI
KANTOR PENGELOLAH
INFORMASI
&
POS
JAGA
FAS.
PENUNJANG
KEAMANAN
PARKIR
VISUAL
MENTOR
FAS.
PENGHUNI
REKREASI
&
INTERKOM
122
(4) Sirkulasi pengelolah/karyawan
PARKIR
UNIFORM
LOCKERS
STAFF/KARY
ROOM
PERBELANJA
AN
(5) Sirkulasi barang
DIOLAH
REFUSE
Koridor luar
ii. Alternatif layout 2
124
Koridor dalam
iii. Alternatif layout 3
9. Penampilan bangunan
Apartemen berperan sebagai sarana akomodasi, maka dalam penataan
penampilan memerlukan dasar-dasar sebagi berikut:
1) Menampilakan image dan citra diri sebagia bangunan komersial
2) Sebagai bagian dari lingkungan binaan dan penampilan karakter yang
diinginkan
3) Kontekstual sebagai sarana akomodasi hunian, sistem pelayanan yang
baik, sesuai dengan perkembangan jaman namun tetap memiliki citra
khas sebagai identitas diri.
10. Sistem Struktur dan Material
a. Sistem Struktur
Dapat disesuaikan dengan berbagai tuntutan, maka diperlukan sistem
struktur bangunan untuk hunian. Pemilihan sistem struktur didasarkan
pada pertimbangan:
1) Kuat mendukung beban, beban angin dan gempa
2) Ekonomis dalam biaya dan waktu
3) Penyesuaian terhadap unit fungsi yang diwadahi, seperti :
(a) Aktifitas dan sirkulasi kegiatan
(b) Tuntutan dimensi ruang
(c) Fleksibilitas pengaturan ruangan
(d) Persyaratan dan perlengkapan bangunan
(e) Disesuaikan dengan keadaan geografis dan topografi setempat
125
Jenis Kriteria Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3
struktur
Upper Rangka baja Plat Beton Shell
Structure Kekuatan 4 4 4
Penampilan 3 3 3
Efektifitas 3 4 2
Ekonomis 4 3 2
Jumlah 14 14 11
Jenis Kriteria Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3
struktur
Super Bearing wall Shear Wall Sistem
Structure rangka
Kekuatan 4 4 4
fleksibilitas 2 3 2
Efektifitas 2 4 3
Ekonomis 2 3 4
Jumlah 10 14 13
Sub Tiang Bored Pile Rakit
Structure Pancang
Kondisi 4 4 4
tanah
Pelaksanaan 3 1 3
Ekonomis 2 2 2
Kekuatan 4 3 4
Jumlah 13 13 12
Keterangan :
4 = sangat baik ; 3 = baik ; 2= cukup baik
Sumber : Analisa
126
Super structure : Shear wall
Sub structure : Tiang pancang
b. Sistem material
Bahan bangunan yang dimaksud adalah penggunaan material bangunan
baik struktur maupun non struktur.
Untuk elemen non struktur :
a) Lantai
Syarat dari lantai ;
1) Dapat menahan beban yang dating dari perlengkapan ruang
dan manusia yang ada didalamnya
2) Tidak terlalu licin
3) Tidak menghantarkan panas
4) Berfungsi sebagai akustik ruang dengan beberapa system
modifikasi akustik disesuaikan dengan fungsi ruang
b) Dinding
Syarat fungsi dinding :
(1) Sebagai pelindung dari pengaruh alam, misalnya radiasi
matahari, pelindung terhadap pengaruh bahan kimia dan
mudah dibersihkan
(2) Tahan terhadap pengaruh bahan kimia dan mudah
dibersihkan
(3) Berfungsi sebagai akustik ruang dengan beberapa
system modifikasi akustik disesuaikan dengan fungsi
ruang
c) Plafond
Syarat plafond :
(1) Tidak menimbulkan radiasi panas
(2) Kuat dan awet
(3) Sebagai akustik ruang (acoustical celling board)
(4) Ketinggian plafond disesuaikan dengan tuntutan masing-
masing ruang.
127
11. Sistem perlengkapan Bangunan
a. Sistem sirkulasi
Sistem sirkulasi merupakan fasilitas penghubung antara unit-unit kegiatan
dalam bangunannya, sistem sirkulasi yang digunakan ada 2 macam, yaitu:
1) Sistem sirkulasi vertikal
(a) Setiap ruang ruang diperuntukkan oleh 50 orang per lantai harus
dilengkapi 2 tangga dengan jarak antara tangga maksimal 30 meter
(b) Lebar tangga harus menampung kapasitas pemakai dengan lebar
minimum 110 cm
(c) Kemiringan tangga 30 – 40 derajat dan disesuaikan dengan
fungsinya
(d) Lebar anak tangga (antrede) 25 – 30 cm kenaikan anak tangga
(optrede) 17 – 19 cm
b. Sistem sirkulasi horizontal
Jalur sirkulasi horizontal dengan menggunakan selasar yang buat agak
lebar sekitar 240 – 400 cm (standar persyaratan teknis rumah susun).
Pola sirkulasi yang diterapkan adalah pola selasar 2 arah dengan
pertimbangan sebagai berikut:
1) Dapat digunakan pada sistem peruangan terbuka dan tertutup
2) Sirkulasi udara dan sinar matahari yang cukup baik
3) Jarak antara pencapaian ke masing-masing unit hunian tidak sama
4) Dari segi pemanfaatan ruang lebih efesien berfungsi pada kedua
sisinya
c. Sistem jaringan
1) Jaringan air bersih
Pengadaan jaringan air bersih dengan pertimbangan
(a) Suplay air bersih kontinyu
(b) Efesiensi biaya
(c) Pemeliharaan atau control
Berdasarkan pertimbangan di atas maka pengadaan air bersih
yang digunakan pada bangunan ini berdasar pada 2 sumber, yaitu:
(1) Air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota
Makassar
128
(2) Air bersih dari sumur dalam (deep weel) sebagai penyediaan air
bersih cadangan, bila air bersih dari PDAM mengalami
gangguan
(3) Sistem air bersih yang digunakan adalah system distribusi
kebawah (Down Feed system)
(4) Operasional system ini dalam jangka panjang membutuhkan
asupan energi listrik yang relatif lebih kecil, energi yang
diperlukan hanya pada saat pengisian tangki air atas saja.
PA Bak
POMPA
Penampungan
Unit
Sumur POM Reservoir
arteis Unit
R. atas
Unit
Skema 6. Sistem Jaringan Air Bersih
2) Jaringan telepon
Pegadaan sistem jaringa telepon untuk dipertimbangkan pada:
a. Kebutuhan pemakai
(1) Biaya pengadaan
(2) Sistem jaringan
(3) Control terhadap operasional pemakai
(4) Control terhadap operasional pemakai
129
Unit
Massa
bangunan Unit
TELKOM
Unit
Telepon
umum
3) Jaringan listrik
Suplai listrik pada bangunan ini dapat berasal dari dua sumber
yaitu sebagai berikut :
a. Perusahaan listrik negara (PLN).
Digunakan untuk melayani seluruh kegiatan, baik di dalam
bangunan maupun di luar bangunan yang diterima dan
disalurkan melalui sebuah gardu listrik serta melalui
bawah tanah untuk menghindari gangguan visual serta
kegiatan yang ada di sekitar bangunan.
b. Generator (Genzet)
Digunakan sebagai cadangan apabila terjadi gangguan
aliran dari PLN yang dipakai sebagai penyuplai pada
bagian penting bangunan seperti cadangan penerangan,
exhaust fan, lift/escalator dan lain-lain. Pertimbangan
utama yang harus diperhatikan adalah dalam hal
penempatan serta kemudahan dalam hal perawatan.
Pengadaan jaringan listrik dengan mempertimbangkan
sebagai berikut :
1) Kebutuhan pemakaian gedung.
2) Keamanan pemakai
3) Pengaturan sistem pengkabelan yang fleksibel.
4) Penyediaan listrik cadangan untuk keadaan darurat
seperti kebakaran.
130
Unit
Diesel Diesel Unit
Unit
Generator Diesel
PLN
d. Sistem pembuangan
1. Jaringan pembuangan air kotor
Dasar pertimbangan pembuangan/ pengaliran air kotor sebagai
berikut:
1) Sistem penjaringan
2) Kecepatan pengaliran
3) Kondisi topografi dan site
4) Sistem pengolah limbah
Jenis air kotor terdiri dari air hujan, air buangan disposal cair, disposal
padat kloset. Dari pertimbangan tersebut diterapkan sistem secara
natural.
Bak kontrol
Riol kota
Unit bangunan
2. Sistem pembuangan
Sampah rumat pada rumah tangga dari pada rumah susun
terdiri dari sampah kering dan sampah basah. Sistem pembuangan
sampah pada rumah susun dipergunakan shaft sampah pada tiap
lantai bangunan dan shaft tersebut diletakkan pada tempat yang
mudah dicapai oleh setiap unit hunian. Adapun sampah-sampah
sebelum dibuang haruslah terlebih dahulu dibungkus dengan
plastic agar memudahkan waktu pengangkutan dan tidak
131
meninggalkan bau. Prinsip pembuangan sampah harus memenuhi
kriteria sebagai berikut:
a) Memenuhi persyaratan dari segi kesehatan
b) Sistem penanggulangan dan penjaringannya tidak menganggu
sistem struktur utama
c) Mudah dikontrol bila mengalami kemacetan saluran
d) Kapasitas pembuangan mencukupi volume sampah yang
dihasilkan
e) Efektif dan ekonomi dalam pengoperasian
132
1) Sistem tongkat Franklin
Sistem ini menggunakan Oreventor Head (25-90 cm) yang
diletakkan pada puncak bangunan. Sudut perlindungan yang
diberikan berkisar 45º
Antena 25-90
cm
Elektroda
pentanahan
Daerah
Perlindungan
45 o
Terminal Tanah
Gambar 36. Sistem Tongkat Franklin
133
bangunan 9 m dan jarak maksimum 2 pasang di parallel 12
m
d) Tinggi antenna 25 – 90 cm
e) Jarak masing-masing maksimum 7,5 m
f) Sistem ini umumnya dipakai pada bangunan pada bangunan
sedang yang beratap datar
BANGUNAN
3) Sistem prepentor
Penanganan pencegahan tindakan kriminal pada gedung ini
dapat diusahakan dengan kelengkapan sistem pengamanan
berupa :
• Kamera pengawas (Surveilance camera) pada ruang
kontrol keamanan yang diletakkan pada area yang ramai.
• Petugas satpam yang selalu siap.
• Alarm pintu (door alarm).
• Kemampuan pendeteksi terhadap kejahatan yang sedang
terjadi.
• Penanganan yang cepat dan tepat terhadap peristiwa
kejahatan yang terjadi.
• Pengamanan fasilitas gedung terutama pada ruang parkir.
Mempergunakan radio aktif pada terminal udaranya (antena)
dengan persyaratan intalasinya adalah:
134
• Sudut perlindungan 45º
• Sistem ini umumnya dipakai pada bangunan berlantai
banyak
135
1) Pemisahan yang jelas jaringan komunikasi.
2) Kelancaran arus informasi terutama dalam keadaan darurat.
3) Keamanan arus informasi terutama dalam keadaan darurat.
4) Keamanan dan kemudahan bagi pengunjung yang akan
menggunakan alat komunikasi.
136
2) Pencahayaan
Sistem pencahayaan yang digunakan adalah :
a) Penerangan alami
Sistem pencahayaan alami diperoleh dari bukaan – bukaan cahaya,
jendela atau atrium dengan memanfaatkan cahaya matahari di
siang hari.
b) Pencahayaan buatan
Sistem peneraangan buatan bersumber dari :
(a) PLN sebagai sumber utama.
(b) Genset sebagai sumber cadangan yang akan bekerja
secara otomatis saat pasokan listrik dari PLN padam
dengan menggunakan Automatic Transfer Switch (ATS).
Penerangan
Air Conditioner
Building Automation
System
Ruang Kontrol
137
i. Ruang luar
Pembentukan ruang luar sedapat mungkin digunakan sebagai:
• Ruang penerima dan ruang pengikat
• Ruang terbuka aktif berupa taman, terutama digunakan sebagai
ruang santai (rekreatif) dengan penataan menarik.
138
o Unsur penunjang, jenis tanaman, batu-batuan dan lampu
taman
o Jalan setapa/ jalur penghubung
o Fungsi, penghubung antara massa bangunan dan
aktifitas lainnya
o Unsur penunjang, tanaman dan paving blok
(5) Parkir
o Fungsi, menyimpan kendaraan, baik kendaraan penghuni
maupun kendaraan tamu
o Unsur penunjang, tanaman dan lampu taman
139
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link]
Josept De Chiara & John Hancock Callender, Time Saver Standart for
building type, New York, Mc Grow Hill, 1996
Ruters, Walter A. FAIA and Richard H. Panner, 1985, Hotel Planning and
Design, London : The Architekture Press Ltd.
140
LAMPIRAN
Ukuran
dan
kebutuhan
ruang
gerak
manusia
141
Ukuran
dan
kebutuhan
ruang
gerak
manusia
142
Ukuran
dan
kebutuhan
ruang
gerak
kendaraan
143
Ukuran
dan
kebutuhan
ruang
gerak
kendaraan
144
145
146