Penalaan PID Kontrol dan Metode Tuning
Penalaan PID Kontrol dan Metode Tuning
PERCOBAAN 2
DESAIN DAN PENALAAN PID KONTROL
A. TUJUAN
1. Memahami pengaruh perubahan parameter PID pada proses tunning PID
kontrol.
2. Menggunakan berbagai metode empirik dalam proses penalaan PID.
3. Menggunakan bantuan software/program komputer dalam memodelkan dan
penalaan PID kontrol.
C. DASAR TEORI
C.1 PENGERTIAN KONTROLER
Kontroler (alat pengendali/pengontrol) merupakan “otak” dari sistem. Ia
menerima error sebagai input dan menghasilkan sinyal kontrol yang
menyebabkan controlled variable menjadi sama dengan set point. Dengan kata
lain, kontroler membandingkan harga yang sebenarnya dari keluaran “plant”
dengan harga yang diinginkan, menentukan deviasi, dan menghasilkan suatu
sinyal kontrol yang akan memperkecil deviasi sampai nol atau sampai harga yang
kecil. Cara kontroler menghasilkan sinyal kontrol disebut aksi pengontrolan
(control action) (Ogata, 1996).
Kontroler adalah komponen penting dalam system dengan umpan balik yang
berfungsi untuk mengatur proses dinamik secara berkelanjutan yang mana
bertujuan untuk menjaga agar proses berjalan sedekat mungkin dengan set point
yang diinginkan. Pada saat ini maupun di masa yang akan datang, kontroler dapat
sepenuhnya menggantikan peran manusia dalam mengendalikan suatu proses
(Sembiring, 2014).
Fungsi kontroler:
1. Membandingkan nilai masukan dan keluaran sistem secara keseluruhan.
2. Menentukan penyimpangan.
3. Menghasilkan sinyal kontrol untuk mengurangi penyimpangan
4. Menjadi nilai nol/ nilai yang kecil.
𝑈(𝑠) 1
= Kp [1+𝜏 ]
𝐸(𝑠) 𝑖𝑠
𝐾𝑝 (1+𝜏𝑖𝑠 )
= 𝜏𝑖𝑠
bersinggungan dengan garis kurva. Garis singgung itu akan memotong dengan
sumbu absis dan garis maksimum. Perpotongan garis singgung dengan sumbu
absis merupakan ukuran waktu mati, dan perpotongan dengan garis maksimum
merupakan waktu tunda yang diukur dari titik waktu L.
Sedangkan untuk mencari nilai Kp, Ki dan Kd dapat menggunakan rumus
berikut:
𝑇
𝐾𝑝 = 1,2 × ( )
𝐿
𝐾𝑝
𝐾𝑖 = 2 × ( )
𝑇𝑖
Dimana, 𝑇𝑖 = 2 × 𝐿
𝐾𝑑 = 𝐾𝑝 × 𝑇𝑑
Dimana, 𝑇𝑑 = 0,5 × 𝐿
Buatlah suatu sistem loop tertutup dengan kontroler P dan plant di dalamnya.
Sedangkan untuk mencari nilai Kcr, Pcr, Kp, Ki dan Kd dapat menggunakan
rumus berikut:
𝑖𝑛𝑝𝑢𝑡
𝐾𝑐𝑟 =
𝑜𝑢𝑡𝑝𝑢𝑡
𝑃𝑐𝑟 = (𝑋2 − 𝑋1 ) × 𝐾𝑐𝑟
𝐾𝑝 = 0,6 × 𝐾𝑐𝑟
𝐾𝑝
𝐾𝑖 = 2 × ( )
𝑇𝑖
Dimana, 𝑇𝑖 = 2 × 𝑃𝑐𝑟
𝐾𝑑 = 𝐾𝑝 × 𝑇𝑑
Dimana, 𝑇𝑑 = 0,125 × 𝑃𝑐𝑟
D. PROSEDUR PERCOBAAN
D.1 OPEN LOOP
1. Membuat fungsi transfer sesuai dengan format yang diberikan
(𝑎)(𝑏)
𝐺 (𝑠 ) =
(𝑠 + 𝑎)(𝑠 + 𝑏)
a = tanggal lahir ; b = bulan lahir
2. Membuat model diagram bloknya pada simulink
E. Data Hasil
3
1 𝐺 (𝑠 ) =
(s + 3)(s + 1)
21
2 𝐺 (𝑠 ) =
(s + 3)(s + 8)
324
3 𝐺 (𝑠 ) =
(s + 27)(s + 12)
38
4 𝐺 (𝑠 ) =
(s + 19)(s + 2)
36
5 𝐺 (𝑠 ) =
(s + 18)(s + 2)
80
6 𝐺 (𝑠 ) =
(s + 8)(s + 10)
Table 2.5. Perbandingan spesifikasi performasi system dengan perhitungan, tanpa kontroler dan dengan kontroler menggunakan metode
ZN 1 berdasarkan percobaan open loop
3
1 𝐺 (𝑠 ) =
(s + 3)(s + 1)
2 21
𝐺 (𝑠 ) =
(s + 3)(s + 8)
324
3 𝐺 (𝑠 ) =
(s + 27)(s + 12)
38
4 𝐺 (𝑠 ) =
(s + 19)(s + 2)
36
5 𝐺 (𝑠 ) =
(s + 18)(s + 2)
80
6 𝐺 (𝑠 ) =
(s + 8)(s + 10)
Table 2.7. Perbandingan spesifikasi performasi system dengan perhitungan, tanpa kontroler dan dengan kontroler menggunakan metode
ZN 2 berdasarkan percobaan close loop
3
1 𝐺 (𝑠 ) = 4.72 382.99 530 % 491.56 709.65 788.4 % 3.887 422.8 14.074 %
(s + 3)(s + 1)
21
𝐺 (𝑠 ) =
2 (s + 3)(s + 8) 7.66 913.79 62.07 % 366.16 209.45 162.86 % 366.16 209.45 162.86 %
324
𝐺 (𝑠 ) =
3 (s + 27)(s + 12) 23.94 2.10 9.35 % 271.62 386.82 17.43 % 10.85 1.71 11.65 %
38
4 𝐺 (𝑠 ) = 1.78 717.26 171.12 % 526.90 789.97 90.3 % 4.47 386.8 11.64 %
(s + 19)(s + 2)
36
5 𝐺 (𝑠 ) = 25.80 4.87 115.18 % 491.56 709.65 788.4 % 17.39 119.67 14.85 %
(s + 18)(s + 2)
80
6 𝐺 (𝑠 ) = 24.54 2.28 29.45 % 260.19 2.228 390.58 % 8.96 117.10 12.52 %
(s + 8)(s + 10)
F. Analisa
1. Open Loop
1.1 Analisa Perhitungan
Diketahui pada data 1:
a = 3 dan b = 1
(𝑎)(𝑏)
G(s) =
(𝑠+𝑎)(𝑠+𝑏)
(3)(1)
G(s) =
(𝑠+3)(𝑠+1)
3
G(s) =
𝑠 2 +4𝑠+3
𝐶(𝑠) 𝜔𝑛2
= 𝑠2 +2𝜍𝜔𝑛𝑠+𝜔𝑛2
𝑅(𝑠)
Ditanya: ς, Tr, Ts dan %OS?
ωn = √3
= 1,73
2.ς.ωn = 4
2
ς =
1,73
= 1,156
𝜋−0
Tr =
ω𝑑
𝜋−0
=
ω𝑛 √1−(ς2)
𝜋
=
1,73√1−(1,1562)
=∞
4
Ts =
ς 𝑥 ω𝑛
4
=
1,156 𝑥 1,73
=2
ς𝑥π
−( )
%OS = e √1−ς 𝑥 100%
1,156𝑥 π
−( )
=e √1−1,1562 𝑥 100%
= 97.30 %
𝐺 (𝑠 )
324 24.2
3 = 1,123 4,90 ∞ 0,73 80,52% 104.92 0.068 0% 204.14 1.688 192.36 1.997 8.32 %
(s + 27)(s + 12) %
38 51.8
4 𝐺 (𝑠 ) = 1,667 6,00 ∞ 0,40 99,16% 554.305 1.506 0% 222.225 4.2580 189.44 0.083 9.66 %
(s + 19)(s + 2) %
36 48.36
5 𝐺 (𝑠 ) = 1,083 18,00 ∞ 0,21 72,71% 554.9 1.508 0% 245.13 4.043 195.10 1.22 9.57 %
(s + 18)(s + 2) %
80 43.32
6 𝐺 (𝑠 ) = 1,006 8,94 ∞ 0,44 99.92% 189.44 0.083 0% 194.16 2.909 163.26 0.089 8.44 %
(s + 8)(s + 10) %
Dari tabel 2.8 dapat dianalisa bahwa dengan menggunakan hukum Ziegler
Nichols 1 diperoleh nilai untuk perhitungan manual dari persamaan – persamaan yang
digunakan pada analisa perhitungan 1.1. Diperoleh nilai redaman (ς), Ts, ωn dan %OS
yang fluktuatif untuk seluruh sistem, sedangkan Tr bernilai tak hingga (∞). Nilai
redaman ditentukan menggunakan persamaan 2.ς.ωn = a+b, Tr didapatkan
4
menggunakan persamaan Ts = , overshoot (%OS) ditentukan denga rumus
ς 𝑥 ω𝑛
ς𝑥π
−( )
%OS = e √1−ς 𝑥 100% , dan ωn tentukan menggunakan rumus ωn = √𝜔 2 .
𝜋−0
sedangkan nilai Tr ditentukan menggunakan rumus Tr = .
ω𝑑
dibandingkan percobaan dengan menggunakan kontroler PID hal ini dikarenakan respon
akan lebih cepat di proses karena langsung di proses secara otomatis, sedangkan pada
kontroler PID respon akan di proses secara manual, sedangkan untuk nilai %OS pada
autotunning didapatkan nilai yang lebih kecil dibandingkan nilai %OS pada sistem dengan
kontroler PID dikarenakan nilai parameter PID ditentukan secara otomatis dan disesuaikan
dengan nilai treansfer fungsi yang digunakan.
[Link] Perbandingan
Dari gambar percobaan 2.13 dapat dianalisa bahwa respon dari sistem pada
ketiga percobaan tersebut dikategorikan dalam respon sistem dengan redaman lebih
(Overdamped) dimana respon transiennya tidak berosilasi dan tanpa overshoot tetapi
pada autotunning sendiri terdapat overshoot, hal ini disebabkan oleh proses dari
autotuning itu dalam perbaikan sistem respon tersebut sehingga untuk mencapai
kestabilan membutuhkan waktu yang cukup singkat. Hal ini dikarenakanoleh redaman
yang berlebihan dengan faktor redaman lebih dari 1 (ς > 1), dari ketiga respon, juga
dapat dilihat pula perbedaan dari ketiga respon tersebut baik tanpa menggunakan
kontroler, menggunkan kontroler PID maupun dengan menggunakan autotuning,
dimana respon yang paling cepat untuk mencapai keadaan steady state adalah saat
percobaan dengan autotuning dimana hal ini di sebabkan karena dilakukannya proses
tunning pada respon, sedangkan untuk percobaan dengan menggunakan kontroler PID
sedikit lebih lama karena nilai Kp, Ti, dan Td di tentukan secara manual dengan
metode ZN 1, dan untuk respon tanpa menggunakan kontroler sangat lama karena
untuk mencapai keadaan stady state respon tidak di kontrol.
2. Close Loop
= 1,81
4
Ts =
ς 𝑥 ω𝑛
4
=
0 𝑥 1,73
=∞
ς𝑥π
−( )
%OS = e √1−ς 𝑥 100%
0𝑥π
−( )
=e √1−0 𝑥 100%
= 100 %
Dari tabel 2.9 dapat dianalisa bahwa dengan menggunakan hukum Ziegler
Nichols 2 diperoleh nilai untuk perhitungan manual dari persamaan – persamaan yang
digunakan pada analisa perhitungan 2.1. Nilai redaman sama dengan nol (ς = 0) untuk
4
seluruh sistem, sehingga Ts bernilai tak hingga (∞) sesuai dengan rumus Ts = ς 𝑥 ω𝑛
ς𝑥π
−( )
dan overshoot (%OS) bernilai 100% sesuai dengan rumus %OS = e √1−ς 𝑥 100% ,
sedangkan untuk ωn dan Tr bernilai fluktuatif untuk seluruh sistem, nilai ωn
didapatkan menggunakan rumus ωn = √𝜔 2 dan nilai Tr didapatkan menggunakan
𝜋−0
rumus Tr = .
ω𝑑
karena langsung di proses secara otomatis, sedangkan pada kontroler PID respon akan
di proses secara manual, sedangkan untuk nilai %OS pada autotunning didapatkan nilai
yang lebih kecil dibandingkan nilai %OS pada sistem dengan kontroler PID dikarenakan
nilai parameter PID ditentukan secara otomatis dan disesuaikan dengan nilai transfer fungsi
yang digunakan.
[Link] Perbandingan
Gambar 2.14 kombinasi antara sistem tanpa kontroler (ungu), sistem dengan
kontroler PID (merah) dan sistem dengan autotuning (biru tua) pada close loop
Dari gambar percobaan 2.14 dapat dianalisa bahwa respon dari sistem pada
ketiga percobaan tersebut dikategorikan dalam respon sistem tanpa redaman
(undamped) dimana respon transiennya berosilasi secara terus menerus dan tidak
mengalami keadaan stabil (steady state). Sistem tanpa radaman adalah sistem dengan
faktor redaman sama dengan 0 (ς = 0). Dapat dilihat bahwa perbedaan dari ketiga
respon tersebut adalah pada autotunning respon hanya mengalami sedikit osilasi
dimana hal ini disebabkan karena respon dioperasikan secara otomatis, sedangkan
untuk percobaan dengan menggunakan kontroler PID sedikit lebih lama karena nilai
Kp, Ti, dan Td di tentukan secara manual dengan metode ZN 2, dan untuk respon tanpa
menggunakan kontroler sangat lama karena untuk mencapai keadaan stady state
respon tidak di kontrol.
G. KESIMPULAN
1. Pada percobaan PID kontrol menggunakan 2 rangkaian yaitu dengan open loop
dan close loop. Perubahan parameter PID sangat berpengaruh keluaran respon
tersebut. Pada percobaan menggunakan PID pemerosesan keluaran untuk
mencapai keadaan steady state akan semakin cepat dibandingkan percobaan
tanpa menggunakan kontroler, hal ini dikarenakan proses akan lebih terkontrol
dalam mencapai keadaan steady state baik menggunakan rangkaian open loop
maupun close loop.
2. Pada percobaan desain dan penalaan PID kontrol, digunakan 2 metode untuk
melakukan proses yakni hukum zieger nicholes 1 dan 2. Hukum zieger nicholes
1 memberikan input step pada sistem dan dihasilkan osilasi yang di alami oleh
respon cukup lama sebelum menuju keadaan stabil karena parameter PID
diatur secara manual. Untuk Hukum zieger nicholes 2 tidak jauh berbeda yaitu
sistem yang mempunyai step response berosilasi terus menerus dengan teratur.
DAFTAR PUSTAKA
Ogata, Katsuhiko. 1996. “Teknik Kontrol Automatik (Sistem Pengaturan) Jilid I”.
Jakarta: Erlangga.
Sembiring, Venti. 2014. “Sistem Kendali LED Melalui Beluetooth Sebagai Media
Untuk Membantu Mengetahui Keadaan dosen Dalam Ruangan Dosen”.
Politeknik Negeri Sriwijaya