BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Osilator
Osilator adalah suatu rangkaian elektronika yang menghasilkan sejumlah
getaran atau sinyal listrik secara periodik dengan amplitudo yang konstan.
Gelombang sinyal yang dihasilkan ada yang berbentuk gelombang sinus
(Sinusoide Wave), gelombang kotak (Square Wave) dan gelombang gigi gergaji
(Saw Tooth Wave). Pada dasarnya sinyal arus searah atau DC dari pencatu daya
(power supply) dikonversikan oleh rangkaian osilator menjadi sinyal arus bolak-
balik atau AC sehingga menghasilkan sinyal listrik yang periodik dengan
amplitudo konstan. Dengan perkataan lain, sebuah osilator adalah sebuah penguat
yang telah diubah dengan umpan balik positif sehingga dapat dimanfaatkan untuk
sinyal masuk [7].
Untuk membuat sebuah osilator sinusoidal, kita membutuhkan penguat
dengan umpan balik positif. Gaasannya ialah menggunakan sinyal umpan balik
sebagai sinyal masuk, bila bati simpal dan fasa sudah tepat, akan muncul sinyal
keluar meskipun tak ada sinyal masuk dari luar [6].
Gambar 2.1 Blok Diagram Dasar Osilator[4]
6
7
2.1.1 Osilator Colpitts
Osilator colpitts adalah osilator LC yang paling banyak digunakan.
Pembagi tegangan kapasitif pada rangkaian resonansi merupakan cara yang amat
mudah untuk mengembangkan tegangan umpan balik [13].
1
fo = (2.1)
2𝜋√𝐿(C1C2/C1+C2)
Dimana:
fo : Frekuensi osilasi (Hz)
L : Induktor (H)
C : Kapasitor (F)
Gambar 2.2 Osilator Colpitts[2]
2.1.2 Osilator Hartley
Osilator hartley termasuk jenis osilator LC. Osilator hartley tersusun dari
dua buah induktor yang disusun seri dan sebuah kapasitor tunggal. Kelebihan
osilator hartley adalah mudahnya mengatur nilai frekuensi . Osilator hartley sering
digunakan pada tegangan umpan balik oleh pembagi tegangan induktif L1 dan L2.
8
Karena tegangan keluar muncul melintas L1 dan tegangan umpan balik melintas
di L2 [3]. Nilai frekuensi osilasi (fo) adalah :
1
fo = (2.2)
2𝜋√𝐿𝐶
Sedangkan nilai L adalah L = L1 + L2
Dimana:
fo : Frekuensi osilasi
C : Kapasitor (F)
L : Induktor (H)
Gambar 2.3 Osilator Hartley[2]
2.1.3 Osilator Kristal
Apabila ketelitian dan kemantapan frekuensi osilasi menjadi hal yang
utama, digunakan osilator kristal kuarsa. Pada gambar 2.4 a, sinyal umpan balik
berasal dari sambungan kapasitif. Sebagaimana akan ditinjau pada pasal
9
selanjutnya, kristal (XTAL) bekerja sebagai induktor besar yang terpasang seri
dengan kapasitor kecil (sama dengan Clapp). Oleh karenanya, frekuensi resonansi
hampir sama sekali tak dipengaruhi oleh kapasitansi transistor dan kapasitansi
tercecer [12].
Osilator kristal digunakan untuk menghasilkan isyarat dengan tingkat
kestabilan frekuensi yang sangat tinggi. Kristal pada osilator ini terbuat dari
quartz atau Rochelle salt dengan kualitas yang baik. Material ini memiliki
kemampuan mengubah energi listrik menjadi energi mekanik berupa getaran atau
sebaliknya. Kemampuan ini lebih dikenal dengan piezoelectric effect. Kristal
untuk osilator ini diletakan diantara dua pelat logam. Kontak dibuat pada masing-
masing permukaan kristal oleh pelat logam ini kemudian diletakan pada suatu
wadah. Kedua pelat dihubungkan kerangkaian melalui soket [3].
Pada osilator ini, kristal berperilaku sebagai rangkaian resonansi seri.
Kristal seolah-olah memiliki induktansi (L), kapasitansi (C), dan resistansi (R).
Harga L ditentukan oleh massa kristal, harga C ditentukan oleh kemampuannya
berubah secara mekanik dan R berhubungan dengan gesekan mekanik.
Rangkaian setara dengan resonansi seri akan berubah jika kristal ditempatkan
pada suatu wadah atau pemegang. Kapasitansi akibat adanya keping logam akan
terhubung pararel dengan rangkaian setara kristal. Jadi pada hal ini kristal
memiliki kemampuan untuk memberikan resonansi pararel dan resonansi seri.
Kristal ini dapat dioperasikan pada rangkaian tangki dengan fungsi sebagai
penghasil frekuensi resonansi pararel. Kristal sendiri dapat dioperasikan sebagai
rangkaian tangki. Jika kristal diletakan sebagai balikan, ia akan merespon sebagai
piranti penghasil resonansi seri. Kristal sebenarnya merespon sebagai tapis yang
tajam. Ia dapat difungsikan sebagai balikan pada suatu frekuensi tertent saja.
Osilator hartley dan osilator colpitts dapat dimodifikasikan dengan memasang
kristal ini. Stabilitas osilator akan meningkat dengan pemasangan kristal [3].
10
(a) (b) (c)
Gambar 2.4 Osilator dengan Kristal Pengontrol: a) Kristal b) Hartley
dan c) Colpitts [3]
2.1.4 Osilator Amstrong
Osilator amstrong menggunakan gandengan transformator unt uk sinyal
umpan baliknya. Dari treansformator inilah dapat mengenali rangkaian dasar
osilator amstrong dari bentuknya yang bermacam-macam. Osilator amstrong ini
jarang digunakan karena sebagian besar perancang akan menghindari penggunaan
transformator [3]. Nilai frekuensi resonansi (fr) adalah :
1
𝑓𝑟 = √𝐿𝐶 (2.3)
2𝜋𝐿𝐶
Dimana:
𝑓𝑟 : Frekuensi Resonansi
L : Induktor (H)
C : Kapasitor (F)
11
Gambar 2.5 Osilator Amstrong[3]
2.1.5 Osilator Jembatan Wien
Osilator Jembatan Wien adalah rangkaian osilator yang lazim untuk
frekuensi rendah sampai menengah, yaitu dalam daerah 5 Hz sampai sekitar 1
MHz. Rangkaian ini hampir selalu digunakan pada pembangkit audio komersial
dan biasanya lebih disukai untuk pemakaian frekuensi rendah lainnya [5].
Pada gambar 2.6 (b) digambar ulang dalam bentuk jembatan wien yang
terdiri dari empat lengan yaitu R1, R2, Z1 dan Z2. Masukan jembatan Vo
merupakan keluaran dari Op Amp dan keluaran jembatan di titik-titik 1 dan 2
merupakan masukan diferensial ke penguat Op Amp. Ada dua jalur umpan
balik,yaitu umpan balik positif lewat Z1 dan Z2, dan umpan balik negatif menurut
R1 dan R2. Komponen-komponen umpan balik positif menentukan frekuensi
osilasi, sedangkan komponen-komponen umpan balik negatif menentukan
amplitudo osilasi.[7] Jembatan Wien merupakan salah satu contoh penapis takik
(Notch Filter), yaitu rangkaian dengan keluaran nol pada harga frekuensi tertentu.
Pada jembatan wien, frekuensi takik (Notch Filter) sama dengan
1
fo = (2.4)
2𝜋𝑅𝐶
Dimana :
fr : Frekuensi resonansi (H)
12
C : Kapasitor (F)
R : Resistor (Ω)
Karena tegangan kesalahan pada penguat amat kecil, jembatan wien hampir
mencapai keseimbangan dan frekuensi osilasi hampir sama dengan fr [3].
(a) (b) (c)
Gambar 2.6 a) Rangkaian Osilator RC b) Osilator Jembatan Wien c) Dalam Bentuk
Jembatan Wien [8]
Berdasarkan gambar 2.6 a), b), dan c) maka dapat diketahui dimana letak
ᵦ
penguat 𝛂 dan feedback dengan penguatan . Gain tegangan dari rangkaian penguat
harus sama dengan tiga agar rangkaian dapat mengosilasi. Nilai ini ditentukan
oleh jaringan resistor umpan balik yakni resistor feedback (Rf) dan resistor gain
(Rg). Resistor feedback (Rf) harus sama dengan 2 kali resistor gain (Rg).
2.1.6 Osilator Pergeseran Fase
Osilator Pergeseran Fasa merupakan osilator yang berdasarkan pada
pergeseran fasa sebesar 360o. Pergeseran fasa sebesar 180o diberikan oleh susunan
bertingkat tiga R dan C. Pada frekuensi tertentu pergeseran fasa tambahan sebesar
180o diberikan oleh rangkaian RC lainnya. Sehingga jumlah pergeseran total 360o
[12].
13
Dengan kata lain osilator pergeseran fasa adalah sebuah osilator
gelombang sinus sederhana. Osilator ini memiliki sebuah penguat pembalik, dan
sebuah tapis umpan balik yang menggeser 180° fase dari frekuensi osilasi. Filter
elektronik harus didesain sedemikian rupa sehingga isyarat di atas dan dibawah
frekuensi osilasi yang diinginkan digeser kurang ataupun lebih dari 180°. Ini
menghasilkan superposisi membangun bagi isyarat pada frekuensi osilasi dan
superposisi merusak pada frekuensi lainnya. Jalan paling umum untuk
mendapatkan tapis jenis ini adalah dengan menyambungkan deret tiga tapis
resistor kondensator, yang memberikan geseran fase sebesar 270°. Pada frekuensi
osilasi, setiap tapis memproduksi geseran fase sebesar 60° sehingga keseluruhan
tapis forsoduksi pergeseran fasa 180°.
1
fr = (2.5)
2𝜋𝑅𝐶√10
Dimana :
fr : Frekuensi resonansi (Hz)
R : Reisistor (Ω)
C :Kapasitor (F)
Gambar 2.7 Osilator Pergeseran Fasa[3]
14
2.2 Power Supply
Catu daya (Power Supply) disebut juga sebagai adaptor adalah sumber
tegangan DC yang digunakan untuk memberikan tegangan atau daya ke berbagai
rangkaian elektronika yang membutuhkan DC agar dapat beroperasi. Rangkaian
pokok dari catu daya tidak lain adalah suatu penyearah yakni suatu rangkaian
yang mengubah sinyal bolak-balik (AC) menjadi sinyal searah (DC) [12]. Catu
daya linear simetris (polaritas ganda) merupakan rangkaian catu daya yang
menghasilkan keluaran berupa polaritas ganda, yaitu: tegangan positif terhadap
ground dan tegangan negatif terhadap ground [12].
Rangkaian catu daya linear simetris secara umum dibangun dari komponen
trafo step down CT sebagai penurun tegangan dan mempunyai bagian sekunder
simetris, rangkaian dioda penyearah berupa sistem jembatan (bridge system), filter
dan rangkaian regulator menggunakan IC dengan seri 7812 sebagai regulator
tegangan positif dan 7912 sebagai regulator tegangan negatif. Regulator tegangan
dengan menggunakan komponen utama IC (integrated circuit) mempunyai
keuntungan karena lebih praktis dan umumnya menghasilkan penyetabilan
tegangan yang lebih baik. Fungsi-fungsi seperti pengontrol, sampling,
komparator, referensi, dan proteksi yang tadinya dikerjakan oleh komponen
diskrit, sekarang semuanya dirangkai dan dikemas dalam IC. Ada beberapa jenis
IC yang menghasilkan tegangan kelu aran tetap baik positif maupun negatif, ada
pula yang menghasilkan tegangan keluaran yang dapat diatur. IC regulator
tegangan tipe LM78xx (series) menghasilkan tegangan tetap positip, sedangkan
tipe LM79xx (series) menghasilkan tegangan tetap negatif [8].
Gambar 2.8 Rangkaian Power Supply[12]
15
2.3 Komponen dalam Perancangan Osilator dan Power Supply
2.3.1 Resistor
Resistor berfungsi sebagai peredam tegangan DC (direct current, arus
searah) atau AC (alternating current, arus bolak balik). Resistor adalah komponen
yang sering ditemui pada rangkaian elektronika yang bahan dasarnya adalah
karbon film atau metal film, dengan besaran satuan ohm (Ω) berkisar antara 0,1 Ω
dan M Ω (1 Mega = 1.106 Ω) [8].
Resistor mempunyai nilai resistansi (tahanan) tertentu yang dapat
memproduksi tegangan listrik di antara kedua pin dimana nilai tegangan terhadap
resistansi tersebut berbanding lurus dengan arus yang mengalir, berdasarkan
persamaan hukum Ohm:
Gambar 2.9 Resistor[9]
V=IR (2.5)
Keterangan : I = Arus (Amphere), V = Tegangan (Volt), R = Hambatan (Ohm)
Resistor digunakan sebagai bagian dari rangkaian elektronik dan sirkuit
elektronik, dan merupakan salah satu komponen yang paling sering digunakan.
Resistor dapat dibuat dari bermacam-macam komponen dan film, bahkan kawat
resistansi (kawat yang dibuat dari paduan resistivitas tinggi seperti nikel-
kromium). Karakteristik utama dari resistor adalah resistansinya dan daya listrik
yang dapat dihantarkan. Karakteristik lain termasuk koefisien suhu, derau listrik
(noise), dan induktansi. Resistor dapat diintegrasikan kedalam sirkuit hibrida dan
papan sirkuit cetak, bahkan sirkuit terpadu. Ukuran dan letak kaki bergantung
16
pada desain sirkuit, kebutuhan daya resistor harus cukup dan disesuaikan dengan
kebutuhan arus rangkaian agar tidak terbakar.
2.3.2 Kapasitor
Kapasitor atau disebut juga dengan kondensator adalah komponen
elektronika pasif yang dapat menyimpan muatan listrik dalam waktu sementara
dengan satuan kapasitansinya adalah Farad. Kapasitor memiliki memiliki banyak
fungsi diantaranya sebagai penstabil tegangan DC untuk rangkaian catu daya atau
tapis gelombang AC. Selain itu bisa diaplikasikan sebagai generator pembangkit
gelombang kotak maupun sinusoida. Kapasitor menggunakan satuan Farad (F),
jangkauannya antara 1pF (pico-Farad) atau 1 x 10-12 F hingga 1 F. Beberapa jenis
kapasitor ada yang berjenis polar dan ada yang non-polar.[1] Jazi (2014: 24-26)
didalam bukunya menyebutkan bahwa ada empat jenis kapasitor yang sering
digunakan yang umumnya beredar di pasaran:
1. Kapasitor keramik, kapasitor ini bersifat non-polar dan berbentuk seperti
keramik, berwarna cokelat. Ukurannya sekitar 1pF sampai 1µF.
2. Kapasitor Polyster (Mylar), kapasitor ini biasanya berwarna hijau atau
cokelat, termasuk dalam kapasitor kelas II. Cara membaca kapasitor
polyester serupa dengan kapasitor keramik dan memiliki toleransi antar
±5% dan ±10% (lebih baik dari kapasitor keramik). Selain itu bisa bekerja
di suhu operai lebih tinggi dibanding kapasitor keramik, tantalum, dan
elektrolit. Kapasitor ini biasanya digunakan pada rangkaian analog atau
digital berfrekuensi tinggi.
3. Kapasitor Elektrolit, kapasitor jenis ini terdiri atas dua lembar pelat metal
aluminium yang dipisahkan oleh bahan cairan dielektrik. Kapasitor
elektrolit bersifat polar dan memiliki simbol “-“ (minus) di sisi kapasitor
untuk menandakan kaki berpolaritas negatif. Pada badan kapasitor juga
tertera besaran kapasitansi dan suhu kerja minimum dan maksimum,
umumnya antar -40 C dan +85 C.
17
4. Kapasitor Tantalum, jenis kapasitor ini memiliki elektroda yang terbuat
dari material tantalum, serta memiliki polaritas ditandai berupa simbol “+”
pada kaki kapasitor. Kapasitor tantalum termasuk dalam kapasitor kelas I
dan II, dan memiliki karakteristik suhu dan frekuensi yang lebih baik dari
kapasitor elektrolit.
2.3.3 Induktor
Induktor adalah sebuah komponen elektronika yang dapat menyimpan
energi pada medan magnet yang ditimbulkan oleh arus listrik yang melewatinya.
Kemampuan induktor untuk menyimpan energi magnet ditentukan oleh besar
induktansinya. Pada umunya, sebuah induktor adalah sebuah kawat penghantar
yang dibentuk menjadi kumparan. Lilitan-lilitan tersebut membantu membuat
medan magnet yang kuat di dalam kumparan. Induktor merupakan salah satu
komponen elektronik dasar yang digunakan dalam rangkaian dengan arus dan
tegangan yang berubah-ubah. Aplikasi induktor pada rangkaian DC adalah
menghasilkan tegangan DC yang konstan terhadap fluktuasi beban arus [13].
Gambar 2.10 Induktor[13]
Pengertian induktor ideal, yaitu induktor yang memiliki induktansi,
tetapi tanpa resistansi dan tidak memboroskan daya. Akan tetapi, pada
kenyataanya sebuah induktor akan memiliki resistansi yang berasal dari kawat
lilitan. Selain memboroskan daya pada resistansi kawat, induktor berinti magnet
juga memboroskan daya di dalam inti karena efek histeresis, dan pada arus
tinggi mungkin mengalami non-linearitas karena mengalami penjenuhan [13].
18
Umarella (2012: 9-10) menyatakan jenis-jenis induktor berdasarkan bahan
pembuat intinya terbagi menjadi 4 yaitu:
1. Induktor dengan inti udara ditunjukkan pada gambar a
2. Induktor dengan inti besi ditunjukkan pada gambar b
3. Induktor dengan inti ferrit ditunjukkan pada gambar c
4. Induktor dengan inti perubahan inti ditunjukkan pada gambar d
a) b) c) d)
Gambar 2.11 Jenis-Jenis Induktor[13]
2.3.4 Transistor
Transistor merupakan komponen semikonduktor yang berfungsi sebagai
penguat arus, pemutus dan penyambung (switching) sirkuit, sebagai regulator
tegangan, atau sebagai pemodulasi sinyal, pada transistor terdapat 3 terminal,
yaitu: Basis (B), Emitor (E), dan Kolektor (C). Cara kerja transistor bisa
dianalogikan sebagai keran arus listrik. Misalnya untuk transistor BJT , arus yang
diberikan pada pin Basis (B) sebagai pengatur aliran arus antara pin Emitor dan
Kolektor. Perbandingan arus yang diberikan ke basis dengan arus yang dialirkan
Emitor ke Kolektor diantaranya memiliki perbandingan 1:100 dan bahkan lebih
besar lagi [10].
Transistor terbagi dalam banyak tipe dan dibedakan berdasarkan
kemampuan arus yang dapat dialirkan, faktor penguatan, maupun ukuran fisiknya
(package) berupa TO-9, TO-220, hingga TO-3. Selain itu, pin kaki transistor
dengan nomor seri yang berbeda bisa memiliki urutan yang berbeda tergantung
pada spesifikasinya. Transistor berperan sangat penting dalam perkembangan
19
teknologi elektronika. Pada rangkaian analog, transistor digunakan sebagai
penguat arus (Amplifier) seperti rangkaian pengeras suara, penstabil tegangan
listrik (stabilizer) dan penguat gelombang radio (Radio Amplifier). Pada aplikasi
digital sebagai saklar berkecepatan tinggi, sebagai gerbang logika (Logic Gate),
atau sebagai penyimpan data bit.[12]
Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, di mana berdasarkan arus
inputnya (BJT) atau tegangan inputnya (FET), memungkinkan pengaliran listrik
yang sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya.
Gambar 2.12 Transistor Through-Hole (Dibandingkan dengan Pita Ukur
Sentimeter) [12]
Gambar 2.13 Simbol Transistor dari Berbagai Tipe[12]
Pada umumnya, transistor memiliki 3 terminal, yaitu Basis (B), Emitor (E)
dan Kolektor (C). Tegangan yang di satu terminalnya misalnya emitor dapat
dipakai untuk mengatur arus dan tegangan yang lebih besar daripada arus input
basis, yaitu pada keluaran tegangan dan arus output kolektor. Transistor
merupakan komponen yang sangat penting dalam dunia elektronik modern.
Dalam rangkaian analog, transistor digunakan dalam amplifier (penguat).
Rangkaian analog melingkupi pengeras suara, sumber listrik stabil (stabilisator)
20
dan penguat sinyal radio. Dalam rangkaian-rangkaian digital, transistor digunakan
sebagai saklar berkecepatan tinggi. Beberapa transistor juga dapat dirangkai
sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai logic gate, memori dan fungsi
rangkaian-rangkaian lainnya. Secara umum, transistor dapat dibeda-bedakan
berdasarkan banyak kategori:
1. Materi semikonduktor: Germanium, Silikon, Gallium Arsenide.
2. Kemasan fisik: Through Hole Metal, Through Hole Plastic, Surface
Mount, IC, dan lain-lain.
3. Tipe: UJT, BJT, JFET, IGFET (MOSFET), IGBT, HBT, MISFET,
VMOSFET, MESFET, HEMT, SCR serta pengembangan dari transistor
yaitu IC (Integrated Circuit) dan lain-lain.
4. Polaritas: NPN atau N-channel, PNP atau P-channel.
5. Maksimum kapasitas daya: Low Power, Medium Power, High Power
6. Maksimum frekuensi kerja: Low, Medium, atau High Frequency, RF
transistor, Microwave, dan lain-lain
7. Aplikasi: Amplifier, Saklar, General Purpose, Audio, Tegangan Tinggi,
dan lain-lain.
2.3.5 Transformator
Transformator (trafo) adalah komponen pendukung peralatan elektronik
yang dapat mengubah arus bolak-balik (AC) menuju arus aliran tunggal (DC)
yang dapat digunakan untuk menaikkan atau menurunkan tegangan listrik pada
perangkat elektronik. Transformator ini tersusun dari beberapa komponen inti,
yakni kumparan sekunder, primer dan inti besi. Dari ketiga benda penyusun trafo
ini, fungsi dari trafo akan optimal. Karena kumparan primer yang berguna sebagai
input dari sumber tegangan, melalui inti besi yang berfungsi sebagai penguat
medan magnet pada trafo akan menhantarkan tegangan menuju kumparan
sekunder. Jenis dari trafo ini dibagi menjadi dua jenis menurut fungsinya, yakni
trafo jenis step down dengan guna untuk menurunkan tegangan listrik dan trafo
jenis step up untuk menaikkan tegangan pada perangkat elektronik. Dengan
adanya trafo ini, tidak akan terjadi lonjakan terlalu tinggi atau terlalu rendah [10].
21
Gambar 2.14 Simbol Trafo[12]
Prinsip kerja transformator ini bermula dari terhubungnya kumparan
primer dengan sumber tegangan dengan arus bolak-balik. Karena adanya tegangan
yang masuk, menyebabkan medan magnet pada inti besi berubah. Perubahan pada
inti besi ini akan menghantarkan tegangan arus bolak balik dari kumparan primer
menuju kumparan sekunder. Adanya tegangan yang sampai pada kumparan
sekunder ini menimbulkan efek GGL induksi. Adanya tegangan (V) dan jumlah
lilitan (N) pada kumparan sekunder atau primer ini akan mempengaruhi GGL
induksi yang dihasilkan. Menurut perhitungan fisika, terdapat hubungan antara
tegangan primer (Vp), tegangan sekunder (Vs), jumlah lilitan primer (Np), dan
jumlah lilitan sekunder (Ns) dengan persamaan, perbandingan tegangan primer
(Vp) dibagi dengan tegangan sekunder (Vs) sama dengan perbandingan jumlah
lilitan primer (Np) dibagi dengan jumlah lilitan sekunder (Ns).
Gambar 2.15 Bagian-Bagian Transformator[12]
22
2.3.6 Dioda
Dioda adalah komponen semikonduktor yang hanya mengalirkan arus
searah (Jazi Eko Istiyanto, 2014: 28). Bahan dasar suatu bahan semikonduktor
yang terbuat dari bahan yang disebut PN Junction yaitu suatu bahan campuran
yang tediri dari bahan positif (P type) dan bahan negative (N type).
1. Bahan positif (P type) adalah bahan campuran yang terdiri dari germanium
atau silikon dengan alumunium yang mempunyai sifat kekurangan
elektron dan bersifat positif.
2. Bahan negatif (N type) adalah bahan campuran yang terdiri dari
germanium atau silikon dengan fosfor yang mempunyai kelebihan elektron
dan bersifat negatif.
Apabila kedua bahan tersebut ditemukan maka akan menjadi komponen aktif
yang disebut dioda. Pada dioda, arus listrik hanya dapat mengalir dari kutub anoda
ke kutub katoda sedangkan arus yang mengalir dari katoda ke anoda ditahan oleh
bahan katoda. Dengan adanya prinsip seperti ini dioda dapat dipergunakan
sebagai penyearah arus dan tegangan listrik, pengaman arus dan tegangan listrik
dan pemblokir arus dan tegangan listrik.
Gambar 2.16 Simbol Dioda[4]
Gambar 2.17 Contoh Dioda Bridge[4]
23
2.3.7 IC Regulator
IC (Integrated Circuit) adalah komponen elektronika aktif yang terdiri dari
gabungan ratusan bahkan jutaan transistor, resistor dan komponen lainnya yang
diintegrasi menjadi sebuah rangkaian elektronika dalam sebuah kemasan kecil.
Bentuk IC (Integrated Circuit) juga bermacam-macam, mulai dari yang berkaki 3
(tiga) hingga ratusan kaki (terminal). Fungsi IC juga beraneka ragam, mulai dari
penguat, switching, pengontrol hingga media penyimpanan [9].
Pada umumnya, IC adalah komponen elektronika dipergunakan sebagai
otak dalam sebuah peralatan elektronika. IC merupakan komponen semi
konduktor yang sangat sensitif terhadap ESD (Electro Static Discharge). Sebagai
Contoh, IC yang berfungsi sebagai otak pada sebuah komputer yang disebut
sebagai microprocessor terdiri dari 16 juta transistor dan jumlah tersebut belum
lagi termasuk komponen-komponen Elektronika lainnya [12].
Gambar 2.18 Susunan Kaki IC Regulator[11]
2.4 Instrustar Oscilloscope
Instrustar Oscilloscope berbasis PC merupakan salah satu jenis alat ukur
digital yang terdapat pada instrustar. Instrustar merupakan USB berbasis PC yang
telah menjadi osiloskop digital ISDS205A 20 MHz. Alat ini berfungsi sebagai
digital oscilloscope (20MHz), spectrum analyzer, dan data recorder. Alat ini
digunakan sebagai alternatif alat ukur yang lebih efisien dalam penggunannya jika
dibandingkan dengan osiloskop digital yang ada pada laboratorium. Namun
24
Instrustar Oscilloscope ini memiliki kemampuan pengukuran dakam rentang
bandwidth maksimal 20 MHz.
Gambar 2.19 Perangkat Oscilloscope Instrustar
Gambar 2.20 Tampilan Awal Software Instrustar Oscilloscope
25
2.5 Kabel BNC
Konektor BNC (Bayonet Neill Concelman) adalah jenis umum RF yang
digunakan untuk konektor kabel coaxial. Konektor ini biasa digunakan dalam
kabel coaxial untuk televisi, radio, komputer pada topologi tertentu. Konektor
BNC ini juga biasanya disebut dengan konektor audio/video [10].
Konektor yang sangat umum adalah jenis RF konektor digunakan untuk
terminating coaxial cable penggunaan konektor BNC yang digunakan untuk
koneksi sinyal RF, untuk analog dan serial digital interface sinyal video, antena
sambungan radio amatir, elektronik penerbangan dan berbagai jenis peralatan
elektronik ujian.
Gambar 2.21 Kabel Coaxial dan Konektor BNC[10]