ANALISIS KAPASITAS STRUKTUR JEMBATAN RANGKA TIPE WARREN DENGAN
MUTU BAJA TIDAK SERAGAM DALAM MENAHAN BEBAN GEMPA DUA ARAH
DAN TIGA ARAH
(Structural Capacity Analysis of Warren Truss Bridge with Non-Uniform Steel Grade in
Carrying Bi-Directional and Tri-Directional Earthquake Loads)
Muhammad Iqbal, Lilya Susanti, Desy Setyowulan
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jalan Mayjen Haryono 167, Malang 65145, Indonesia
Email : iqbalbalmuh@[Link]
ABSTRAK
Dalam merencanakan struktur jembatan harus memperhitungkan secara detail dan akurat
total beban yang akan dipikul oleh struktur jembatan, salah satunya adalah beban gempa. Beban
gempa merupakan pembebanan pada struktur jembatan yang sifatnya tak terduga dan dapat terjadi
di segala arah. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan analisis jembatan rangka tipe
warrenakibat beban gempa secara dua arah dan tiga arah. Analisis dilakukan dengan menggunakan
software ABAQUS Student Edition. Selain itu, dalam penelitian ini digunakan mutuyang tidak
seragam pada material baja. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil pengaruh diantara
keduanya terhadap kapasitas struktur jembatan. Output yang dihasilkan dalam analisis ini berupa
besarnya nilai tegangan dan regangan tiap batang pada struktur [Link] analisis
menunjukkan bahwa akibat beban gempa dua arah dan tiga arah tegangan maksimum berada pada
batang segmen tengah bagian bawah. Nilai tegangan maksimum pada batang segmen tengah bagian
bawah akibat beban gempa dua arah sebesar 332.39312 MPa, sedangkan akibat beban gempa tiga
arah tegangan maksimum pada batang segmen tengah bagian bawah sebesar 312.705536 MPa.
Penggunaan beban gempa dua arah dan tiga arah pada struktur jembatan rangka tipe warren dengan
mutu baja tidak seragam mengakibatkan terjadinya penurunan kekakuan pada tiap-tiap batang yang
berkisar antara 5%-10%. Selain itu, penggunaan mutu material baja yang tidak seragam pada
struktur jembatan rangka tipe warren menyebabkan terjadinya penurunan kekakuan yang cukup
signifikan dibandingkan dengan mutu material yang seragam. Sehingga dapat mempengaruhi
kekuatan yang mampu ditampung oleh struktur jembatan tersebut.
Kata kunci: jembatan rangka, tipe warren, metode riwayat waktu, beban gempa, dua arah, tiga
arah, tegangan, regangan, kapasitas struktur, ABAQUS Student Edition.
ABSTRACT
In planning the structure of the bridge, detailed and accurate calculation of the total
load that the bridge is going to withstand is importantly needed, including an earthquake loads. An
earthquake loads is a load the bridge may withstand that could not be predicted and might happen
in anyways. Therefore, this research deals with an analysis of warren truss bridge structure
regarding bi-directional and tri-directional earthquake loads. The analysis was done by using
ABAQUS Student Edition software. In addition, this research also focuses on the application of
non-uniform steel grade. The purpose of this is that to get the effect of both actions toward the
structural capacity of the bridge. The output of this research analysis is in form of the stress and
strain value in every member of the bridge [Link] results show that due to the bi-directional
and tri-directional earthquake loads, the maximum stress is in the bottom of the middle segment of
the bridge. The maximum stress in the bottom of the middle segment due to the bi-directional
earthquake load is 332.39312 MPa, whereas due to the tri-directional earthquake load, the
maximum stress is 312.705536 MPa. The use of bi-directional and tri-directional earthquake loads
on warren truss structure with non-uniform steel grade, causing a decrease in stiffness in each
member of the bridge structure that ranges from 5% -10%. In addition, the use of non-uniform steel
material grade in the warren truss structure bridge, causing a significant decrease in stiffness,
compared with the uniform steel material grade, which may affect the ability of the bridge to
withstand earthquake loads.
Keywords: structural bridge, warren type, time history method, earthquake loads, bi-directional,
tri-directional, stress, strain, structure capacity, ABAQUS Student Edition.
[Link] diperhitungkan dalam merencanakan struktur
Secara umum, jembatan merupakan suatu jembatan. Hal ini dikarenakan, beban gempa
konstruksi yang dibangun sebagai jalur merupakan pembebanan pada struktur
transportasi untuk melintasi rintangan berupa jembatan yang sifatnya tak terduga atau sukar
sungai, danau, saluran irigasi, rawa, jurang, diprediksi. Tidak hanya itu, Indonesia
lembah serta raya yang melintang tidak merupakan daerah yang mempunyai tingkat
sebidang (Struyk, 1995). Tidak hanya sebagai resiko gempa yang cukup tinggi.
alat penghubung saja, jembatan juga Penelitian ini merupakan analisis
mempunyai tujuan dan fungsi yang luas, baik mengenai dampak gempa terhadap kekuatan
dalam segi ekonomi, sosial budaya, politik struktur jembatan rangka tipe warren. Analisis
dan pertahanan nasional. yang dilakukan adalah analisis dinamis,
Keberadaan jembatan di Indonesia terus karena merupakan analisa yang paling
mengalami perkembangan dari tahun ke mendekati kenyataan sebenarnya di lapangan.
tahun. Jembatan yang umumnya digunakan di Oleh karena itu, dilakukan penelitian ini untuk
Indonesia hingga saat ini adalah jembatan mengetahui pengaruh penggunaan material
rangka baja. Jembatan rangka baja sendiri baja tidak terstandar terhadap kekuatan
memiliki tipe yang beragam, salah satunya jembatan secara keseluruhan untuk
adalah tipe warren. Jembatan tipe ini memastikan keamanan jembatan rangka
memiliki bentuk rangka segitiga sama kaki tersebut.
atau sama sisi. Struktur rangka yang
digunakan terdiri dari batang horizontal atas, [Link] TEORI
batang horizontal bawah dan batang diagonal. 2.1 Material Baja
Mutu pada material baja berkaitan dengan Penggunaan material baja sebagai
kapasitas struktur yang mampu diterima oleh struktur jembatan akan memberikan
suatu jembatan. Mutu dan ukuran material keuntungan yang berlebih terhadap
baja sudah ditetapkan karena merupakan hasil perkembangan serta kelancaran sarana
dari proses fabrikasi. Di Indonesia, standar transportasi di Indonesia. Keunggulan dari
spesifikasi mutu dan ukuran material baja material baja itu sendiri sebagai berikut (Agus
mengacu pada SNI (Standar Nasional Setiawan, 2013), antara lain baja memiliki
Indonesia) yang telah diterbitkan oleh kekuatan yang tinggi, keseragaman dan
lembaga pemerintah. Namun, pada keawetan yang tinggi, baja bersifat elastis dan
kenyataannya masih terdapat jenis baja yang baja mempunyai daktilitas yang cukup tinggi.
tidak sesuai dengan standar yang telahh
ditetapkan, jenis baja ini biasanya dinamakan Tegangan
baja tidak teridentifikasi. Tegangan adalah besaran pengukuran
Sebuah jembatan sesungguhnya dirancang intensitas gaya (F) atau reaksi dalam yang
untuk mampu menahan beban gempa. Beban timbul per satuan luas (A). Apabila terjadi
gempa merupakan faktor penting yang harus tegangan secara merata pada luasan (A) dan
tegangan (σ) bernilai konstan, maka awal).Sehinggauntuk
persamaan yang digunakan menurut Singer mengetahuibesarnyareganganyangterjadi
(1995), adalah: adalahdengan
σ= membagiperpanjangandenganpanjangsemula.
Dimana: εeng = x 100% = x 100%
σ = Tegangan (kN/mm2). Dimana
Fn = Gaya yang bekerja (kN). εeng =Engineeringstrain.
A = Luas penampang (mm2). Δl =Perubahanpanjang.
Tegangan menurut Marciniak dkk. Lo =Panjangmula-mula.
(2002) dibedakan menjadi dua yaitu, L =Panjangsetelahdiberi gaya.
engineering stress dan true stress. Truestrainreganganyangdihitung
Engineering stress dapat dirumuskan sebagai secarabertahap (increment
berikut: strain),dimanaregangandihitung padakondisi
σ = dimensibendasaatitu(sebenarnya)
Dimana: danbukandihitung
σeng = Engineering stress (MPa). [Link]
F = Gaya (N). persamaan
A0 = Luas permukaan awal (mm2). reganganuntuktruestrain(ε)adalah:
Sedangkan true stress adalah ε= = ln
tegangan hasil pengukuran intensitas gaya
reaksi yang dibagi dengan luas permukaan
Sifat Mekanik Baja
sebenarnya. True stress dapat dihitung
Dalam merencanakan sebuah struktur
dengan: sebaiknya harus memenuhi beberapa syarat,
σ= yaitu kekuatan, kekakuan dan daktilitas.
Dimana: Kekuatan dikaitkan dengan besarnya tegangan
σ = True stress (MPa). yang mampu dipikul tanpa rusak. Kekakuan
F = Gaya (N). adalah besarnya gaya untuk menghasilkan
A = Luas permukaan sebenarnya (mm2). satu unit deformasi, parameternya berupa
modulus elastisitas. Daktilitas terkait dengan
Regangan besarnya deformasi sebelum keruntuhan
Untuk memperoleh satuan deformasi (failure) terjadi. Properti mekanik beberapa
atau regangan (ε) yaitu dengan membagi bahan material konstruksi adalah sebagai
perpanjangan (L- L0) dengan panjang material berikut:
mula-mula (L0). Hal ini sesuai dengan
pernyataan Singer (1995) yaitu: Tabel 2.1
( ) Properti Mekanik Beberapa Bahan Material
ε=
Konstruksi
Dimana:
ε = Regangan.
(L- L0) = Perubahan panjang (m).
L0 = Panjang awal (m).
Menurut
Marciniakdkk.(2002)regangandibedakan
menjadidua,yaitu:
engineeringstraindantruestrain. Engineering
strainadalahreganganyangdihitungmenurut
*
dimensibendaaslinya(panjang Rittironk dan Elnieiri (2008).
3. Rasio Poisson :
Model pengujian yang paling tepat 0,30
untuk mendapatkan sifat-sifat mekanik dari 4. Koefisien Muai Panjang, :
material baja adalah dengan melakukan uji 12 x 10-6/oC
tarik terhadap suatu benda uji baja. Hal ini Sedangkan berdasarkan tegangan
dikarenakan, uji tekan tidak dapat leleh dan tegangan putus, SNI 03-1729-2002
memberikan data yang akurat terhadap sifat- mengklasifikasikan mutu dari material baja
sifat mekanik material baja. menjadi lima kelas mutu sebagai berikut:
Tabel 2.2
Sifat Mekanik Baja Struktural
Gambar 2.1 Benda uji material baja.
(b dan c) bersifat liat (ductile), (d)
bersifat rapuh/getas (brittle). Sumber: SNI 03-1729-2002 (2002)
Tegangan merupakan perbandingan 2.2 Jembatan
antara gaya dengan luas penampang ( / ) Menurut Struyck dan Van Der Veen
yang terjadi dalam benda uji akan diplot pada (1984), jembatan merupakan sebuah struktur
sumbu vertikal, sedangkan regangan ( ) yang yang dibangun melewati suatu rintangan yang
merupakan perbandingan antara pertambahan berada lebih rendah. Rintangan-rintangan
panjang dengan panjang mula-mula ( ∆ / ) tersebut dapat berupa sungai, danau, saluran
akan diplot pada sumbu horizontal. irigasi, rawa, jurang, lembah serta raya yang
melintang tidak sebidang.
Jembatan Rangka (Truss Bridge)
Jembatan rangka (truss bridge)
merupakan jembatan yang mempunyai bentuk
struktur rangka pada sistem konstruksinya.
Jembatan rangka menggunakan material baja
sebagai penyusun utama strukturnya. Jadi,
jembatan rangka tersusun atas member-
member baja, dimana antar member-member
baja tersebut dihubungkan untuk membentuk
suatu ikatan yang [Link]-member
Gambar 2.2 Kurva hubungan tegangan ( ) adalah komponen yang menahan beban
dan regangan ( ) sebuah struktur.
Berdasarkan SNI 03-1729-2002, sifat-
sifat mekanik dari material baja dalam
merencanakan struktur baja yaitu:
1. Modulus Elastisitas, E :
200.000 MPa
2. Modulus Geser, G :
80.000 MPa
Gambar 2.3 Komponen-komponen jembatan Sumber: Chen dan Duan (2000).
rangka.
Sumber: Ressler (2001). Bangunan atas (super structure)
merupakan struktur yang berhubungan
Jembatan Rangka tipe “K-Truss” langsung dengan beban-beban lalu lintas yang
Keunggulan dari jembatan rangka tipe bekerja. Sedangkan, bangunan bawah (sub
ini adalah mampu mengurangi tekanan pada structure) merupakan struktur yang menerima
member atau batang vertikal serta beban-beban dari bangunan atas dan
memungkinkan dapat mengurangi meneruskannya ke lapisan pendukung (tanah
penggunaan material baja dan biaya keras) di bawahnya.
konstruksi jika didesain dengan efisien.
Sedangkan, kelemahan dari jembatan rangka Pembebanan Struktur Jembatan
tipe ini adalah sedikit rumit dalam merangkai Pembangunan jembatan pada
struktur jembatannya. Selain itu, dasarnya direncanakan untuk mampu
meningkatkan volume konstruksi karena ada menahan berbagai macam beban. Oleh karena
member rangka tambahan dan juga jembatan itu, diperlukan perhitungan dan perkiraan
ini mempunyai berat struktur yang cukup yang sangat detail dan akurat. Salah satunya
berat. adalah beban gempa. Beban gempa
merupakan faktor penting yang harus
Jembatan Rangka tipe Warren diperhitungkan dalam merencanakan struktur
Keunggulan dari jembatan rangka tipe jembatan. Hal ini dikarenakan, beban gempa
ini adalah mampu digunakan untuk struktur merupakan pembebanan pada struktur
dengan bentang panjang serta desain yang jembatan yang sifatnya tak terduga atau sukar
cukup sederhana pada struktur rangkanya diprediksi.
menjadikan jembatan tipe ini memiliki berat
yang relatif ringan. Selain itu, penyaluran 2.3Gempa Bumi
beban-beban yang merata antar member- Gempa bumi adalah getaran atau
member rangka bajanya. Sedangkan, guncangan yang terjadi di permukaan bumi
kelemahan dari jembatan rangka tipe ini (Schodek, 1999). Gempa bumi dapat terjadi
adalah tidak bisa bekerja dengan baik jika akibat adanya pelepasan energi yang secara
beban yang diberikan terpusat. Selain itu, tiba-tiba dari pusat gempa. Energi yang
biaya konstruksi yang cukup banyak dilepaskan tersebut kemudian merambat
dikarenakan penambahan rangka. melalui tanah dalam bentuk gelombang.
Dikarenakan gelombang tersebut mempunyai
Bagian-Bagian Struktur Jembatan Rangka suatu energi, maka dapat menyebabkan
Struktur jembatan secara umum permukaan bumi dan bangunan diatasnya
dibedakan menjadi dua bagian, yaitu menjadi bergetar. Getaran ini nantinya akan
bangunan atas (super structure)dan bangunan menimbulkan gaya-gaya pada struktur
bawah (sub structure). bangunan karena struktur cenderung
mempunyai gaya untuk mempertahankan
dirinya dari gerakan.
2.4 Analisis Dinamis
Analisis dinamis merupakan suatu metode
analisis struktur dengan getaran gempa yang
dimodelkan sebagai beban dinamis, yaitu
Gambar 2.4 Bagian-bagian konstruksi beban yang arah dan besarnya berubah setiap
jembatan rangka. waktu. Salah satu analisis dinamis yang biasa
dilakukan adalah time history analysis dapat dimasukkan dari data-data material yang
(analisis riwayat waktu). Time history analysis ada. Seperti berbagai program komputer yang
sangat cocok digunakan untuk menganalisis ada di pasaran, software ABAQUS memiliki
struktur yang tidak beraturan terhadap CAD/CAM/CAE yang berfungsi sebagai
pengaruh gempa rencana. Pada analisis ini program untuk analisis elastis dan plastis.
struktur yang di desain diberi percepatan pada Keunggulan ABAQUS dibandingkan dengan
permukaan tanah sesuai rekaman percepatan program lainnya yang sejenis adalah menu
terhadap waktu dari data time history. yang ada pada ABAQUS lengkap pada part
Kemudian percepatan ini dapat diamati respon modulenya.
strukturnya.
[Link] PENELITIAN
3.1 Data Jembatan
Data umum jembatan yang menjadi
objek dalam analisis adalah sebagai berikut:
Jembatan: Jembatan Rangka Jalan Soekarno-
Hatta.
Gambar 2.5Contoh rekaman gempa El Centro
Lokasi : Kota Malang, Provinsi Jawa
di California
Timur.
Sumber: El Centro (1979)
Kelas : Kelas I.
Fungsi : Jalan Raya.
Analisa Nilai Eigen
Analisa nilai eigenmenghasilkan
bentuk ragam getaran bebas tanpa redaman
dan frekuensi dari sistem. Dari ragam getaran
tersebut bisa dilihat perilaku suatu struktur
ketika mengalami gaya gempa.
Prinsip Riwayat Waktu
Cara yang digunakan untuk analisis
dinamis adalah cara respon spektra Gambar 3.1 Jembatan rangka Soekarno-Hatta,
berdasarkananalisis riwayat waktu dan Malang
analisis moda, serta cara integral langsung Sumber: [Link]
yang menggunakanrumus pergerakan
equation of [Link] analisis riwayat Data Teknis Jembatan
waktu diperlukan data gempa besar tipikal Jembatan rangka yang menjadi fokus
yang umumnya terjadi diluar lokasi jembatan. penelitian ini adalah bentang 60 meter,
Gerakan gempa masukan berupa gelombang dengan data sebagai berikut:
akselerasi denganamplitudo yang dimodifikasi Bentang: 60 m.
berdasarkan wilayah frekuensi (frequency Lebar : 9 m.
zone) sehinggasesuai akselerasi standar respon Tinggi : 6.35 m.
spektra. Material : Baja.
Tumpuan : Sendi-rol.
2.5 Software ABAQUS
Software ABAQUS merupakan Detail gambar perencanaan struktur
penyedia program yang dapat memodelkan jembatan dilakukan melalui proses pendekatan
benda yang akan dianalisis dalam bentuk yang disesuaikan dengan kondisi sebenarnya
CAE. Program tersebut berfungsi sebagai di lapangan.
desain model yang kekuatan dari materialnya
(a) Gambar 3.3 Bagian jembatan dengan mutu
baja BJ-37
6.35 m
(b)
Gambar 3.4 Bagian jembatan dengan mutu
baja BJ-41
Pada lima bentang-bentang dari ujung
sisi kanan dan kiri rangka utama jembatan
menggunakan mutu dan modulus elastisitas
baja [Link] itu, dua bentang tengah
rangka utama jembatan menggunakan mutu
dan modulus elastisitas baja BJ-41.
(c) Berikut ini adalah spesifikasi material
Gambar 3.2 (a), (b) dan (c) Layout jembatan pada model jembatan rangka tipe warren.
tipe warren pada software ABAQUS Student
Edition Tabel 3.2
Spesifikasi Material pada Model Jembatan
Tabel 3.1 Rangka Tipe Warren
Dimensi Profil Baja Model Jembatan Rangka
Tipe Warren
Dimensi dan profil baja yang 3.2 Analisis Nilai Eigen
digunakan mengadopsi dari desain jembatan Dalam analisis ini, jembatan terlebih
rangka eksisting yang ada di Malang, yaitu dahulu dibagi menjadi 10 bagian. Kemudian
Jembatan Soekarno-Hatta. Namun beberapa dilakukan analisis nilai eigen sehingga
dimensi profil yang tidak diketahui dilakukan mendapatkan dua nilai mode shape terbesar.
asumsi pendekatan. Analisis dilakukan dengan Kemudian melakukan perhitungan koefisien α
menggunakan desain mutu material struktur dan β dengan menggunakan rumus sebagai
baja yang tidak seragam. berikut ini:
1 2
.2
1 2
2 2. Studi lapangan dan literatur.
Penulis melakukan studi lapangan dan
1 2
literatur sebagai dasar teori untuk
Dimana untuk frame baja digunakan 2% menganalisis permasalahan. Selain
itu, studi lapangan juga digunakan
3.3 Analisis Dinamis sebagai pemodelan struktur jembatan
Analisis dinamis yang dilakukan yang kemudian akan dianalisis lebih
dalam penelitian ini adalah analisis riwayat lanjut pada software ABAQUS
waktu (time history analysis).Pada analisis Student Edition.
ini, digunakan data gempa yang berupa 3. Melakukan pembuatan model
percepatan dan waktu. Data gempa jembatan rangka ke dalam software
didapatkan dari data gempa El Centro pada ABAQUS Student Edition.
tahun 1979 di California. Beban gempa yang 4. Memasukkan input data property
digunakan akan diperbesar hingga jembatan berupa material, profil dan section
mengalami keruntuhan untuk mengetahui assignment ke dalam software
tegangan dan regangan maksimum jembatan. ABAQUS Student Edition.
5. Melakukan analisis nilai eigen.
6. Melakukan analisis dinamis jembatan
sehingga didapatkan nilai tegangan
dan regangan maksimum.
7. Melakukan analisa penelitian.
8. Menyimpulkan hasil analisa
(a) penelitian.
9. Selesai.
Diagram alir penelitian yang menjelaskan
tentang prosedur dan tahapan penelitian
disajikan pada Gambar 3.6.
(b)
(c)
Gambar 3.5 Rekaman gempa El Centro
(1979) di California (a) Gempa arah East-
West, (b) Gempa arah Up-Down, (c) Gempa
arah North-South
3.4 Metode Penelitian
Langkah-langkah dalam penelitian
kali ini dilakukan dengan tahapan sebagai
berikut:
1. Menentukan topik yang akan
digunakan untuk penelitian.
Gambar 3.6 Diagram alirpenelitian
Setelah menentukan output yang
3.5 Pemodelan dengan Software ABAQUS ingin ditampilkan, langkah
1. Pemodelan Benda Uji (Create Part). selanjutnya adalah menjalankan atau
Langkah pertama adalah menentukan memproses hingga output yang
sistem satuan yang akan digunakan, sikeluarkan sudah sesuai.
karena dalam memasukkan data pada 10. Menganalisa Output.
ABAQUS Student Edition diperlukan
satuan yang konsisten dan spesifik. 3.6 Analisis Hasil Penelitian
Kemudian memodelkan benda uji Output yang didapatkan yaitu
dengan membuat koordinat-koordinat. tegangan, regangan, reaksi tumpuan dan
Setelah itu, digabungkan hingga perpindahan. Sehingga dapat diketahui kinerja
terbentuk jembatan rangka yang akan model struktur jembatan rangka yang diuji.
digunakan (tipe warren).
2. Memasukkan Data Property. [Link] DAN PEMBAHASAN
Jembatan rangka yang telah terbentuk 4.1 Simulasi Numerik Jembatan Rangka
dimasukkan data berupa material, Tipe Warren
profil dan section assignment. Terlebih dahulu harus dilakukan
3. Input Tumpuan. analisis nilai eigen. Hal ini bertujuan untuk
Tumpuan yang digunakan untuk mengetahui nilai damping ratio sebagai input
menganalisis benda uji berjumlah 4, analisis dinamis struktur. Analisis nilai eigen
yaitu 2 sendi dan 2 roll. juga menghasilkan data periode alami dan
4. Assembly. rasio massa efektif. Hasil tersebut didapatkan
Langkah assembly merupakan modul dari setiap mode yang dominan, kemudian
untuk menggabungkan part-part dianalisis untuk mengetahui karakteristik
menjadi satu bentuk atau model. dinamis yang utama pada struktur jembatan.
5. Meshing. Rasio massa efektif yang maksimum pada
Jembatan rangka yang telah dibuat sumbu X, Y, dan Z akan berpengaruh
kemudian dibagi menjadi beberapa terhadap posisi dari periode alami struktur.
node dan elemen. Jumlah mesh yang Tabel 4.1di bawah merupakan hasil
diberikan pada benda uji ditentukan perhitungan analisis nilai eigen. Berdasarkan
sesuai dengan hasil yan ingin tabel dibawah ini menggambarkan frekuensi
didapatkan. alami, periode alami dan rasio massa efektif
6. Analisis Nilai Eigen. pada setiap mode yang dominan.
Analisis eigen akan didapatkan
frekuensi natural (f) yang merupakan Tabel 4.1
bahan untuk mencari nilai alpha(α) Hasil Analisis Eigen pada Struktur Jembatan
dan beta (β). Kemudian dianalisis Rangka
dengan data time history.
7. Memasukkan Beban Berat
Struktur dan Beban Gempa pada
ABAQUS Student Edition.
8. Menentukan Output.
Dalam penelitian ini output yang
ingin ditampilkan berupa tegangan,
regangan, reaksi tumpuan dan
perpindahan.
9. Running.
Dari hasil mode yang dominan, maka
didapatkan koefisien α dan β sebagai berikut:
0.694 x 8.921
0.02 x 2 x 0.0258
0.694 8.921
2
0.02 x 0.0042
0.694 8.921
Dimana untuk frame baja digunakan 2% Gambar 4.4Pembagian tiap batang pada
struktur jembatan rangka
4.2 Respon Struktur Akibat Beban Gempa
Dua Arah
Keadaan arah gempa utara-selatan
(north-south) merupakan beban gempa pada
arah jembatan sumbu X dan arah gempa
timur-barat (east-west) merupakan beban
gempa pada arah jembatan sumbu Z. Dimana
Gambar 4.1Bentuk mode 1 jembatan rangka keadaan tersebut merupakan keadaan saat
jembatan mengalami efek terbesar akibat
adanya beban gempa. Keadaan tersebut
diterapkan pada tumpuan sendi, sedangkan
pada tumpuan rol keadaan arah gempa timur-
barat (east-west) saja yang diberikan pada
arah jembatan sumbu Z.
Gambar 4.2Bentuk mode 9 jembatan rangka
Untuk mengetahui riwayat kurva
tegangan dan regangan dari awal pembebanan
hingga akhir pada tiap bagian struktur
jembatan, peneliti membagi jembatan menjadi
Gambar 4.5Distribusi tegangan aksial akibat
dua sisi yaitu sisi kanan dan sisi kiri yang
beban gempa dua arah
secara jelas dapat dilihat pada Gambar 4.3.
Gambar 4.3Sisi kanan dan sisi kiri jembatan Gambar 4.6Distribusi regangan aksial akibat
beban gempa dua arah
Setiap sisi jembatan dibagi menjadi
lima bagian, antara lain batang dekat tumpuan Displacement akan dilihat baik dari
sendi, batang dekat tumpuan rol, batang arah X, Y, maupun Z. U1 menunjukkan nilai
tengah bawah, batang tengah atas dan batang displacement pada arah X, U2 menunjukkan
pembanding dapat dilihat pada Gambar 4.4. nilai displacement pada arah Y, serta U3
menunjukkan nilai displacement pada arah Z.
Gambar 4.7 Displacement akibat beban
gempa dua arah Gambar 4.8Grafik hubungan tegangan-
Hasil analisis numerik menujukkan regangan antar batang yang ditinjau pada
nilai tegangan dan regangan maksimum pada seperempat siklus pertama akibat beban
tiapa batang dapat dilihat pada Tabel 4.2. gempa dua arah
Tabel 4.2 Berdasarkan gambar di atas, dapat
Rekapitulasi Nilai Tegangan dan Regangan dilihat batang segmen tengah bagian atas dan
Maksimum Akibat Beban Gempa Dua Arah batang segmen tengah bagian bawah
mempunyai kecondongan garis yang saling
berimpit satu sama lain. Sehingga tidak
terlihat secara jelas. Hal ini menunjukkan
bahwa kedua batang tersebut mempunyai
kekakuan yang sama.
Berbeda dengan ketiga batang
lainnya, yaitu batang dekat tumpuan sendi,
batang dekat tumpuan rol dan batang
pembanding. Dimana ketiga batang tersebut
Berdasarkan tabel di atas, diperoleh merupakan batang yang paling condong. Hal
hasil analisis dari model jembatan rangka tipe ini menunjukkan bahwa ketiga batang tersebut
warren akibat beban gempa dua arah tidak lebih kaku jika dibandingkan dengan
menggunakan software ABAQUS Student batang segmen tengah bagian atas dan bawah.
Edition berupa tegangan maksimum terdapat
pada batang segmen tengah bagian bawah, Tabel 4.3
yaitu sebesar 332.39312 MPa, yang Rekpitulasi Nilai Tegangan, Regangan dan
merupakan tegangan tarik. Sedangkan, Modulus Elastisitas Tiap Batang
regangan maksimum terdapat pada batang
pembanding. Dimana nilai regangan
maksimum pada batang pembandingsebesar
0.478yang merupakan regangan tarik.
Perbandingan Tegangan dan Regangan
antar Batang yang Ditinjau
Dapat dilihat pada Tabel 4.3 diatas,
bahwa pengaruh terbesar adanya beban gempa
dua arah terhadap elastisitas atau kekakuan
terdapat pada batang pembanding dengan
nilai sebesar 14983.33 MPa. Apabila
dipresentasikan besarnya penurunan modulus
elastisitas pada batang pembanding akibat
adanya beban gempa dua arah adalah sebesar
92.4926%.Tabel 4.4 dibawah ini
menunjukkan, besarnya penurunan modulus
elastisitas (kekakuan) pada tiap-tiap batang
akibat adanya beban gempa dua arah.
Tabel 4.4 4.3 Respon Struktur Akibat Beban Gempa
Presentase Penurunan Modulus Elastisitas Tiga Arah
Tiap Batang Keadaan arah gempa utara-selatan
(north-south) merupakan beban gempa pada
arah jembatan sumbu X dan arah gempa atas-
bawah (up-down) merupakan beban gempa
pada arah jembatan sumbu Y. Kemudian
untuk arah gempa timur-barat (east-west)
merupakan beban gempa pada arah jembatan
sumbu [Link] keadaan tersebut merupakan
keadaan saat jembatan mengalami efek
terbesar akibat adanya beban gempa. Keadaan
tersebut diterapkan pada tumpuan sendi.
Sedangkan pada tumpuan rol keadaan arah
gempa atas-bawah (up-down) diberikan pada
arah jembatan sumbu Y dan arah gempa
timur-barat (east-west) diberikan pada arah
jembatan sumbu Z.
Gambar 4.9Perbandingan grafik hubungan
tegangan-regangan antar batang yang ditinjau
akibat beban gempa dua arah
Gambar 4.10Distribusi tegangan aksial akibat
Daktilitas merupakan kemampuan beban gempa tiga arah
material mengalami deformasi (meregang)
yang besar akibat dari pengaruh tegangan
tarik tanpa hancur atau putus. Hasil
perhitungan didapatkan, selisih regangan
paling besar terdapat pada batang pembanding
sebesar 0.47207436. Hal ini menunjukkan
bahwa batang pembanding mempunyai
tingkat daktilitas material yang tinggi
Gambar 4.11Distribusi regangan aksial akibat
dibandingkan dengan batang yang lain.
beban gempa tiga arah
Tabel 4.5
Displacement akan dilihat baik dari
Rekapitulasi Selisih Nilai Regangan Tiap
arah X, Y, maupun Z. U1 menunjukkan nilai
Batang
displacement pada arah X, U2 menunjukkan
nilai displacement pada arah Y, serta U3
menunjukkan nilai displacement pada arah Z.
Gambar 4.12 Displacement akibat beban
Gambar 4.13Grafik hubungan tegangan-
gempa tiga arah
regangan antar batang yang ditinjau pada
seperempat siklus pertama akibat beban
Hasil analisis numerik menujukkan
gempa tiga arah
nilai tegangan dan regangan maksimum pada
tiapa batang dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Terlihat pada Gambar 4.13diatas,
bahwa tiap-tiap bagian jembatan memiliki
kemiringan atau kecondongan garis yang
hampir sama pada seperempat siklus pertama
Tabel 4.6
grafik hubungan tegangan-regangan. Dapat
Rekapitulasi Nilai Tegangan dan Regangan
dilihat bahwa grafik tiap batang saling
Maksimum Akibat Beban Gempa Tiga Arah
berhimpit satu dengan yang lainnya. Hanya
terdapat sedikit perbedaan kemiringan yang
tidak seberapa signifikan. Hal ini
menunjukkan bahwa tidak terjadi penurunan
kekakuan yang signifikan. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.7di bawah
ini:
Berdasarkan tabel di atas, diperoleh Tabel 4.7
hasil analisis dari model jembatan rangka tipe Rekpitulasi Nilai Tegangan, Regangan dan
warren akibat beban gempa tiga arah Modulus Elastisitas Tiap Batang
menggunakan software ABAQUS Student
Edition berupa tegangan maksimum terdapat
pada batang segmen tengah bagian bawah,
yaitu sebesar 312.705536 MPa, yang
merupakan tegangan tarik. Sedangkan,
regangan maksimum terdapat pada batang
pembanding. Dimana nilai regangan
maksimum pada batang pembanding sebesar
Penurunan modulus elastisitas
0.5328211yang merupakan regangan tarik.
(kekakuan) paling besar akibat adanya beban
gempa tiga arah terdapat pada batang
Perbandingan Tegangan dan Regangan
pembanding dengan nilai sebesar 29794.6604
antar Batang yang Ditinjau
[Link] dipresentasikan besarnya
penurunan modulus elastisitas pada batang
pembanding akibat adanya beban gempa tiga
arah adalah sebesar 85.0715%. Hal ini
menunjukkan bahwa batang mengalami
penurunan kekakuan akibat adanya beban
gempa tiga arah. Tabel 4.8 dibawah ini
menunjukkan, besarnya penurunan modulus
elastisitas pada tiap-tiap batang akibat adanya
beban gempa tiga arah.
Berdasarkan data diatas, didapatkan
Tabel 4.8
tegangan maksimum akibat beban gempa dua
Presentase Penurunan Modulus Elastisitas
arah terdapatpada batang segmen tengah
Tiap Batang
bagian bawahsebesar 332.39312 MPa dan
tegangan maksimum akibat beban gempa tiga
arah sebesar 312.705536 [Link] karena itu,
dapat dihitung nilai presentase selisih modulus
elastisitas pada batang segmen tengah bagian
bawah struktur jembatan rangka tipe warren
dengan mutu tidak seragam akibat beban
gempa dua arah dan tiga arah terhadap
modulus elastisitas struktur jembatan akibat
beban gempa dua arah sebagai berikut:
(156420.29 − 146761.88)
× 100%
156420.29
= 6.1747%
Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa
peningkatan beban gempa dua arah menjadi
beban gempa tiga arah mengakibatkan
terjadinya penurunan terhadap modulus
elastisitas struktur jembatan rangka tipe
warren sebesar 6.1747% dari modulus
Gambar 4.14Perbandingan grafik hubungan elastisitas jembatan akibat beban gempa dua
tegangan-regangan antar batang yang ditinjau arah.
akibat beban gempa tiga arah
4.4 Perbandingan Respon Struktur
Daktilitas merupakan kemampuan Jembatan dengan Mutu Seragam dan
material mengalami deformasi (meregang) Tidak Seragam Akibat Beban Gempa Dua
yang besar akibat dari pengaruh tegangan Arah
tarik tanpa hancur atau putus. Hasil Hasil tegangan dan regangan
perhitungan didapatkan, selisih regangan maksimum pada tiap-tiap batang dengan
paling besar terdapat pada batang pembanding menggunakan mutu seragam dan tidak
sebesar 0.5283. Hal ini menunjukkan bahwa seragam, maka dapat diketahui nilai modulus
batang pembanding mempunyai tingkat elastisitas tiap-tiap batang. Selanjutnya dapat
daktilitas material yang tinggi dibandingkan dipresentasikan penurunan modulus elastisitas
dengan batang yang lain. tersebut terhadap modulus elastisitas awal
batang.
Tabel 4.9 Oleh karena itu, dapat dihitung nilai
Rekapitulasi Selisih Nilai Regangan Tiap presentase selisih modulus elastisitas pada
Batang batang segmen tengah bagian bawah struktur
jembatan rangka tipe warren dengan mutu
seragam dan tidak seragam akibat beban seragam mengakibatkan terjadinya
gempa dua arah terhadap modulus elastisitas penurunan kekakuan pada tiap-tiap
pada batang segmen tengah bagian bawah batang yang berkisar antara 5%-10%.
dengan mutu seragam sebagai berikut: Berdasarkan nilai tegangan maksimum,
(199990.3132 − 156420.29) peningkatan beban gempa dua arah
× 100%
199990.3132 menjadi beban gempa tiga arah
= 21.79% mengakibatkan terjadinya penurunan
Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa terhadap modulus elastisitas struktur
dari penggunaan mutu material baja seragam jembatan rangka tipe warren sebesar
menjadi tidak seragam pada batang segmen 6.1747% dari modulus elastisitas
tengah bagian bawah akibat beban gempa dua jembatan akibat beban gempa dua arah.
arah menyebabkan penurunan modulus Penggunaan mutu material baja seragam
elastisitas sebesar 21.79% dari modulus menjadi tidak seragam pada batang
elastisitas pada batang segmen tengah bagian segmen tengah bagian bawah akibat
bawah dengan mutu baja seragam. beban gempa dua arah menyebabkan
Berdasarkan hasil perhitungan presentase penurunan modulus elastisitas sebesar
diatas, menunjukkan bahwa penggunaan mutu 21.79% dari modulus elastisitas pada
tidak seragam mempengaruhi kekuatan yang batang segmen tengah bagian bawah
mampu ditampung oleh struktur jembatan dengan mutu baja seragam. Presentase
tersebut. tersebut menunjukkan bahwa,
penggunaan mutu material baja yang
tidak seragam pada struktur jembatan
rangka tipe warren mempengaruhi
5. PENUTUP kekuatan yang mampu ditampung oleh
5.1 Kesimpulan struktur jembatan tersebut. Penggunaaan
Setelah dilakukan analisis dari model mutu material baja yang tidak seragam
jembatan rangka tipe warren akibat beban menyebabkan terjadinya penurunan
gempa dua arah dan tiga arah dengan mutu kekakuan yang cukup signifikan
baja yang tidak seragam menggunakan dibandingkan dengan mutu material yang
software ABAQUS Student Edition, maka seragam.
didapatkan kesimpulan sebagai berikut: 2. Batang pembanding merupakan batang
1. Kapasistas yang mampu dipikul oleh yang memiliki tingkat daktilitas yang
struktur jembatan rangka tipe warren paling tinggi dibandingkan dengan
dengan mutu baja yang tidak seragam batang lainnya, baik akibat beban gempa
dalam menahan beban gempa dua arah dua arah maupun tiga arah. Terlihat
dan tiga arah didasarkan pada nilai akibat beban gempa dua arah, jarak
tegangan maksimum. Dimana akibat regangan leleh hingga regangan putus
beban gempa dua arah diperoleh besarnya melebihi batang jembatan yang
tegangan maksimum terdapat pada lain sebesar 0.4721. Begitu juga, akibat
batang segmen tengah bagian bawah beban gempa tiga arah, jarak regangan
sebesar 332.39312 MPa. Sedangkan, leleh hingga regangan putus besarnya
akibat beban gempa tiga arah diperoleh melebihi batang jembatan yang lain
tegangan maksimum terdapat pada sebesar 0.5283.
batang segmen tengah bagian bawah
sebesar 312.705536 MPa. 5.2 Saran
Penggunaan beban gempa dua arah dan 1. Dapat menggunakan konfigurasi
tiga arah pada struktur jembatan rangka jembatan rangka maupun jenis jembatan
tipe warren dengan mutu baja tidak yang berbeda pada analisis selanjutnya.
2. Pada analisis selanjutnya, dalam Satyarno, I. (2003). Analisis Struktur
pemodelan benda uji (create part) pada Jembatan, Jurusan Teknik Sipil
ABAQUS Student Edition dapat dipilih Fakultas Teknik UGM. Yogyakarta.
bentuk dasar (base feature) berupa shell Setiawan, Agus. (2013). Perencanaan
untuk mendapatkan hasil yang lebih Struktur Baja dengan Metode
detail. LRFD. Jakarta: Erlangga
3. Time history dapat diambil dari gempa Struyk, H.J. & Van der Veen, K.H.C.W.
yang terjadi di Indonesia, mengingat (1984). Jembatan-Konstruksi.
Indonesia merupakan negara yang rawan Terjemahan Soemargono. Jakarta: PT.
mengalami gempa. Pradnya Paramita.
Supriadi, Bambang., Agus Setyo Muntohar.
DAFTAR PUSTAKA (2007). Jembatan. Cetakan Ke-4.
Abaqus Analysis User’s Manual 6.9. Yogyakarta: Beta Offset.
Dassault Systems Simulia Corp., Supriatna, Lucky. Budiono, Bambang. (2011).
Providence. RI. USA. Studi Komparasi Desain Bangunan
Badan Standardisasi Nasional. (2005). RSNI Tahan Gempa dengan Menggunakan
T-02-2005 Standar Pembebanan SNI 03-1726-2002 dan RSNI 03-1726-
untuk Jembatan. Jakarta: Badan 201x. Bandung: Penerbit ITB.
Standardisasi Nasional. Widodo. (2012). Seismologi Teknik &
Badan Standardisasi Nasional. (2005). RSNI Rekayasa Kegempaan. Universitas
T-03-2005 Perencanaan Struktur Islam Indonesia Press.
Baja untuk Jembatan. Jakarta:
Badan Standardisasi Nasional. Wijaya, M.N., Susanti, L., Setyowulan, D. &
Badan Standardisasi Nasional. (2002). SNI Salim, A.A. (2017). Effects of Using
03-1726-2002 Tata Cara Lower Steel Grade on the Critical
Perencanaan Ketahanan Gempa Members to the Seismic
untuk Bangunan Gedung. Jakarta: performance of Steel Truss Bridge
Badan Standardisasi Nasional. Structures. IJCIET. Vol. 8,
Badan Standardisasi Nasional. (2002). SNI No.10:948-955.
03-1729-2002 Tata Cara Wijaya, M.N., Susanti, L. & Setyowulan, D.
Perencanaan Struktur Baja untuk (2017). Pengaruh Keseragaman
Bangunan. Jakarta: Badan Mutu dan Modulus Elastisitas Baja
Standardisasi Nasional. Terhadap Kapasitas Struktur
Chen, W. & Duan, L. (2000). Bridge Jembatan Rangka Dalam Menahan
Engineering Handbook. Boca Raton: Beban Gempa. Hibah Peneliti
CRC Press, 2000. Pemula.
Dewobroto, Wiryanto. (2016). Struktur
Baja-Perilaku, Analisis dan Desain,
Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit Jurusan
Teknik Sipil UPH.
Gere, J.M., Timoshenko. (1997). Mekanika
Bahan-Terjemahan Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Salim, A.A. (2018). Studi Numerik dan
Eksperimental Distribusi
Tegangan-Regangan Baja. Skripsi.
Tidak dipublikasikan. Malang:
Universitas Brawijaya.