0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
156 tayangan32 halaman

Penerapan Water Tepid Sponge untuk Hipertermia

Karya tulis ilmiah ini membahas penerapan water tepid sponge pada anak dalam menurunkan demam dengan hipertermi. Tujuannya adalah menggambarkan asuhan keperawatan pada anak tentang penerapan water tepid sponge untuk menurunkan suhu tubuh. Diharapkan manfaatnya adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penanganan demam pada anak dan menambah pengetahuan ilmu keperawatan.

Diunggah oleh

Rijal Hambali
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
156 tayangan32 halaman

Penerapan Water Tepid Sponge untuk Hipertermia

Karya tulis ilmiah ini membahas penerapan water tepid sponge pada anak dalam menurunkan demam dengan hipertermi. Tujuannya adalah menggambarkan asuhan keperawatan pada anak tentang penerapan water tepid sponge untuk menurunkan suhu tubuh. Diharapkan manfaatnya adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penanganan demam pada anak dan menambah pengetahuan ilmu keperawatan.

Diunggah oleh

Rijal Hambali
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KARYA TULIS ILMIAH

PENERAPAN WATER TEPID SPONGE PADA ANAK DALAM


MENURUNKAN DEMAM DENGAN ANAK HIPERTERMI.

ROBI HABIBI
023SYE17

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PRODI STUDI KEPERAWATAN JENJANG D. III
MATARAM
2020
DAFTAR ISI

BAB I...................................................................................................................1
PENDAHULUAN...............................................................................................1
1.1 LatarBelakang..........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................5
1.3 Tujuan Studi Kasus..................................................................................5
1.4 Manfaat Studi Kasus................................................................................5
1.4.1 Masyarakat.......................................................................................5
1.4.2 Bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan..6
BAB II.................................................................................................................7
TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................................7
BAB III..............................................................................................................24
METODE PENYUSUNAN KTI.....................................................................24
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................66

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang

Anak adalah individu yang berusia 0-18 tahun dipandang

sebagai individu yang unik, yang punya potensi untuk tumbuh dan

berkembang. Anak bukanlah miniatur orang dewasa, melainkan

individu yang sedang berada dalam proses tumbuh kembang dan

mempunyai kebutuhan yang spesifik. Sepanjang rentan sehat sakit

anak membutuhkan bantuan perawat baik secara langsung maupun

tidak langsung sehingga tumbuh kembangnya dapat terus berjalan.

Orang tua diyakini sebagai orang yang paling tepat dan paling baik

dalam memberikan Perawatan pada anak, baik dalam keadaan sehat

maupun sakit, sedangkan perawat memberikan bantuan apabila

keluarga tidak mampu melakukannya (supartini, 2014).

Menurut hockenberry (2009), anak dapat dikelompokkan

menurut Fase perkembangannya perkembangannya. fase

perkembangan anak menurut hockenberry dan Wilson (2009) terdiri

dari fase prenatal, fase neonatal, fase infant, fase toddler, fase

prasekolah, fase sekolah dan fase remaja. Fase prenatal mencakup

masa kehamilan sampai anak dilahirkan. Fase neonatal merupakan

masa saat bayi sampai usia 28 hari. Fase infant adalah fase saat bayi

1
berusia 1 sampai 12 bulan. Fase toddler merupakan saat anak berusia 1

sampai 3 tabun. Setelah difase ini akan memasuki pra sekolah yaitu

saat anak memasuki usia 3-6 tahun. Fase sekolah merupakan fase anak

berusia 6-12 tahun, dan terakhir fase remaja yaitu saat anak memasuki

usia 12-18 tahun.

Suhu tubuh adalah perbedaan jumlah panas yang dihasilkan

tubuh dengan jumlah panas yang hilang ke lingkungan [Link] yang

dihasilkan dikurangi panas yang hilang merupakan apa yang disebut

dengan suhu tubuh (Potter & Perry, 2010). Suhu tubuh merupakan

tanda ukuran penting yang dapat memberi petunjuk mengenai keadaan

tubuh seseorang. Suhu normal tubuh adalah 36,5-37,5 0C (Huda, 2013).

Pada keadaan tertentu suhu tubuh dapat meningkat yang disebut

dengan hipertermia.

Hipertermia adalah keadaan dimana terjadinyameningkatnya

suhu tubuh diatas kisaran normal (Herdman,2012).Hipertermia dapat

disebabkan oleh virus dan mikroba. Mikroba serta produknya berasal

dari luar tubuh adalah bersifat pirogen eksogen yang merangsang sel

makrofag, lekosit dan sel lain untuk membentuk pirogen endogen.

Pirogen seperti bakteri dan virus menyebabkan peningkatan suhu tubuh

(Widagdo, 2012).

Jumlah penderita hipertermi di Indonesia dilaporkan lebih

tinggi angka kejadiannya dibandingkan dengan negara-negara lain

yaitu sekitar 80%-90%, dari seluruh hipertemia yang dilaporkan adalah

2
hipertermia atau demam sederhana. Angka kejadian tahun 2017 Di

Kota Mataram 1.605 kasus, kasus terbanyak dilaporkan terjadi di

Kabupaten Sumbawa, Lombok Timurdan Kota Mataram sama dengan

kasus terbanyak pada tahun 2016 (Profil Kesehatan Provinsi NTB

Tahun, 2017).

Penatalaksanaan yang digunakan untuk menurunkan suhu tubuh

yang mengalami hipertermi diantaranya adalah dengan tindakan

farmakologis maupun non farmakologis. Tindakan farmakologis untuk

menurunkan suhu tubuh adalah dengan cara pemberian antipiretik.

Pemberian antipiretik ini berfungsi menghambat produksi

prostaglandin, menyebabkan anak berkeringat dan vasodilatasi

(Totapally, 2005). Selain pemberian antipiretik, dapat juga dilakukan

tindakan non farmakologis yaitu seperti memberikan baju yang tipis

pada anak, menyuruh anak untuk banyak minum air putih, istirahat,

dan memberikan water tepid sponge (Budi, 2006 dalam Hartini, 2012).

Hipertermia sering menjadi alasan mengapa orang tua

membawa anak mereka mengujungi pemberi layanan

[Link] keluhan hipertermia pada anak membingungkan

dan menimbulkan satu kecemasan orang [Link] orang tua

tersebut diakibatkan oleh kurangnya pengetahuan tentang hipertermia

dan akhirnya memicu mereka untuk melakukan tindakan yang

cenderung berlebihan dalam mengatasi hipertermia pada anak, salah

satunya berupa pemberian obat penurun panas (antipiretik) dengan

3
tidak memperhatikan indikasi pemberian obat yang seharusnya

(Sodikin, 2012).Banyak Ditemukan di lapangan pelaksanaan water

tepid sponge jarang dilakukan oleh [Link] cenderung

lebihseringlangsung memberikan antipiretik ketika anak mengalami

hipertermi (Hartini,2012).

Water tepid sponge adalah sebuah teknik kompres blok pada

pembuluh darah supervisial dengan teknik seka (Setiawati, 2009).

Water tepid sponge merupakan alternatif teknik kompres hangat yang

marak diteliti di negara maju maupun berkembang lainnya (Alves,

2008). Teknik ini menggunakan kompres blok tidak hanya di satu

tempat saja, melainkan langsung di beberapa tempat yang memiliki

pembuluh darah besar (Hartini, 2010). Menurut Suprapti (2008),

water tepid sponge efektif dalam mengurangi suhu tubuh pada anak

dengan hipertermia dan juga membantu dalam mengurangi rasa sakit

dan ketidaknyamanan. Hal ini juga diungkapkan Bartlomeus (2012),

bahwa ada pengaruh penurunan suhu tubuh anak yang mengalami

hipertermia yang setelah dilakukan water tepidsponge.

Dampak yang ditimbulkan apabila hipertermia tidak segera

ditangani adalah dehidrasi, terjadi karena peningkatan pengeluaran

cairan tubuh sehingga dapat menyebabkan tubuh kekurangan

[Link] juga dapat menyebabkan peningkatan frekuensi

denyut jantung (1-12 menit/10 C) dan metabolisme [Link] ini

menimbulkan rasa lemah, nyeri sendi dan sakit kepala, gelombang

4
tidur yang lambat (berperan dalam perbaikan fungsi otak), dan pada

keadaan tertentu dapat menimbulkan gangguan kesadaran dan persepsi

(delirium karena demam) serta kejang. Keadaan yang lebih berbahaya

lagiketikasuhuintitubuhmencapai400C,pusatpengatursuhuotaktengahak

an gagal dan pengeluaran keringat akan berhenti. Akibatnya akan

terjadi disorientasi, sikap apatis dan kehilangan kesadaran (Hartini,

2012).

Hasil penelitian Haryati (2012), Dapat disimpulkan pada

tingkat signifikan 5% terbukti ada pengaruh kompres tepid sponge

terhadap penurunan suhu tubuh pasien hipertermi. Hal ini

membuktikan bahwa water tepid sponge efektif dalam membantu

menurunkan suhu tubuh pada anak yang mengami hipertemi. Sejalan

dengan penelitian yang dilakukan Setiawati, (2009) menyatakan

terdapat perebedaan suhu seblum dan setelah intervensi pemebrian

water tepid sponge pada pengukuran pertama 10 menit setelah selesai

tepid sponge dan pengukuran kedua (30 menit setelah pengukuran

pertama) terdapat berbedaan suhu setelah 10 menit selesai dilakukan

tepid sponge dan 30 menit setelah pengukuran.

Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk

menyusun Karya Tulis Ilmiah berupa aplikasi riset yang berjudul

pemberianwater tepid sponge terhadap penurunan suhu tubuh anak

dengan hipertermi.

5
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis merumuskan

masalah “Bagaimana melakukan asuhan keperawatan pada anak

tentang penerapan water tepid sponge dalam menurunkan demam pada

anak dengan hipertermi.

1.3 Tujuan Studi Kasus

Tujuan umum studi kasus ini adalah menggambarkan

penerapan water tepid sponge pada anak dalam menurunkan demam

dengan anak hipertermi.

1.4 Manfaat Studi Kasus

Proposal Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan memberikan manfaat bagi:

1.4.1 Masyarakat

Meningkatkan pengetahuan masyarakat terutama keluarga

dalam mengurangi demam pada anak dengan hipertermi

melalui penerapan water tepid sponge.

1.4.2 Bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

keperawatan

Menambah keluasan ilmu dan teknologi terapan bidang

dalam mengurangi demam pada anak dengan hipertermi

melalui penerapan water tepid sponge.

6
1.4.3 Penulis

Studi kasus ini diharapkan dapat menambah pengetahuan

penulis dan dapat secara langsung menerapkan asuhan

keperawatan pada pasien dengan menerapkan teori yang ada.

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 TinjauanTeori

1. KonsepHipertermi

a. DefinisiHipertermia

Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh diatas

rentang normal yang tidak teratur, disebabkan

ketidakseimbangan antara produksi dan pembatasan panas

(Sodikin, 2012).

Hipertermia adalah kondisi kegagalan pengaturan suhu

tubuh (termoregulasi) akibat ketidakmampuan tubuh

melepaskan atau mengeluarkan panas atau produksi panas yang

berlebihan oleh tubuh dengan pelepasan panas dalam laju

yang normal (El Radhi,2009).

b. EtiologiHipertermia

Hipertermia dapat disebabkan oleh virus dan mikroba.

Mikroba serta produknya berasal dari luar tubuh adalah bersifat

pirogen eksogen yang merangsang sel makrofag, lekosit dan sel

lain untuk membentuk pirogen endogen. Pirogen seperti bakteri

dan virus menyebabkan peningkatan suhu tubuh (Widagdo,

2012).

8
Menurut El-Radhi, (2009), Penyebab hipertermia dapat

dibagi menjadi 2:

1) Hipertermia yang disebabkan karena produksipanas

a) Hipertermiamaligna

Hipertermia maligna biasanya dipicu oleh obat-

obatan anesthesia. Hipertermia ini merupakan miopati

akibat mutasi gen yang diturunkan secara autosomal

dominan (Nybo, 2008). Pada episode akut terjadi

peningkatan kalsium intraselular dalam otot rangka

sehingga terjadi kekakuan otot dan hipertermia (Curran,

2005).

b) Exercise-Induced hyperthermia (Exertional heatstroke)

Hipertermia jenis ini dapat terjadi pada anak

besar/remaja yang melakukan aktivitas fisik intensif dan

lama pada suhu cuaca yang panas (Dalal, 2006).

c) Endocrine Hyperthermia(EH)

Kondisi metabolic atau endokrin yang

menyebabkan hipertermia lebih jarang dijumpai pada

anak dibandingkan dengan pada dewasa. Kelainan

endokrin yang sering dihubungkan dengan hipertermia

antara lain hipertiroidisme, diabetes mellitus,

phaeochromocytoma, insufisiensi adrenal dan

ethiocolanolone suatu steroid yang diketahui sering

9
berhubungan dengan demam (merangsang pembentukan

pirogenleukosit).

2) Hipertermia yang disebabkan oleh


penurunanpelepasanpanas

a) Hipertermianeonatal

Peningkatan suhu tubuh secara cepat pada hari kedua dan

ketiga kehidupan bisa disebabkan oleh:

(1) Dehidrasi

Dehidrasi pada masa ini sering disebabkan

oleh kehilangan cairan atau paparan oleh suhu

kamar yang [Link] jenis ini merupakan

penyebab kenaikan suhu ketiga setelah infeksi dan

trauma [Link] dibedakan antara kenaikan

suhu karena hipertermia dengan infeksi. Pada

demam karena infeksi biasanya didapatkan tanda

lain dari infeksi seperti leukositosis atau leucopenia,

CRP yang tinggi, tidak berespon baik dengan

pemberian cairan, dan riwayat persalinan premature

atau resiko infeksi.

(2) Overheating

Overheating adalah pemakaian alat-alat

penghangat yang terlalu panas, atau bayi atau anak

terpapar sinar matahari langsung dalam waktu yang

10
lama (Curran,2005).

c. Manifestasi KlinisHipertermia

Beberapa tanda dan gejala pada hipertermi menurut Huda (2013)

1) Kenaikan suhu tubuh diatas rentangnormal

2) Konvulsi(kejang)

3) Kulitkemerahan

4) PertambahanRR

5) Takikardi

6) Saat disentuh tangan terasahangat

7) Fase – fase terjadinyahipertermia

i. Fase I :awal

(1) Peningkatan denyutjantung.


(2) Peningkatan laju dan kedalamanpernapasan.
(3) Menggigil akibat tegangan dan kontraksiobat.
(4) Kulit pucat dan dingin karenavasokonstriksi.
(5) Merasakan sensasidingin.
(6) Dasar kuku mengalami sianosis
karenavasokonstriksi.
(7) Rambut kulitberdiri.
(8) Pengeluaran keringatberlebih.
(9) Peningkatan suhutubuh.

ii. Fase II : prosesdemam

(1) Proses menggigil lenyap.

11
(2) Kulit terasa hangat / panas.
(3) Merasa tidak panas / dingin.
(4) Peningkatan nadi & laju pernapasan.
(5) Peningkatan rasa haus.
(6) Dehidrasi ringan sampai berat.
(7) Mengantuk , delirium / kejang akibat iritasi sel
saraf.
(8) Lesi mulut herpetik.
(9) Kehilangan nafsu makan.
(10) Kelemahan, keletihan dan nyeri ringan pada
otot akibat katabolisme protein.
iii. Fase III :pemulihan

(1) Kulit tampak merah danhangat.


(2) Berkeringat.
(3) Menggigilringan.
(4) Kemungkinan mengalamidehidrasi.

d. PatofisiologiHipertermia

Perubahan pengaturan homeostatis suhu normal oleh

hipotalamus dapat diakibatkan dari infeksi bakteri, virus, tumor,

trauma, dan sindrom malignan dan lain-lain bersifat pirogen

eksogen yang merangsang sel makrofag, lekosit dan sel lain

untuk membentuk pirogen endogen. Pirogen seperti bakteri dan

virus menyebabkan peningkatan suhu tubuh. Saat bakteri dan

virus tersebut masuk ke dalam tubuh, pirogen bekerja sebagai

antigen akan mempengaruhi sistem imun (Widagdo, 2012).

Saat substansi ini masuk ke sirkulasi dan mengadakan

12
interaksi dengan reseptor dari neuron preoptik di hipotalamus

anterior, dan menyebabkan terbentuknya prostaglandin E2. IL-2

yang bertindak sebagai mediator dari respon demam, dan

berefek pada neuron di hipotalamus dalam pengaturan kembali

(penyesuaian) dari thermostatic set point. Akibat demam oleh

sebab apapun maka tubuh membentuk respon berupa pirogen

endogen termasuk IL- 1, IL-6, tumor necrotizing factor (TNF)

(Widagdo, 2012).

Oleh karena itu, sel darah putih diproduksi lebih

banyak lagi untuk meningkatkan pertahanan tubuh melawan

[Link] itu, substansi sejenis hormon dilepaskan untuk

selanjutnya mempertahankan melawan infeksi. Substansi ini

juga mencetuskan hipotalamus untuk mencapai set point. Untuk

mencapai set point baru yang lebih tinggi tubuh memproduksi

dan menghemat panas. Dibutuhkan beberapa jam untuk

mencapai set point baru dari suhu tubuh. Selama periode ini,

orang tersebut menggigil, gemetar dan merasa kedinginan,

meskipun suhu tubuh meningkat (Potter & Perry,2010).

Fase menggigil berakhir ketika set point baru yaitu

suhu yang lebih tinggi tercapai. Selama fase berikutnya, masa

stabil, menggigil hilang dan pasien merasa hangat dan kering.

Jika set point baru telah “melampaui batas”, atau pirogen telah

dihilangkan, terjadi fase ketiga episode febris. Set point

13
hipotalamus turun, menimbulkan respons pengeluaran panas.

Kulit menjadi hangat dan kemerahan karena

[Link] membantu evaporasi pengeluaran panas

(Potter & Perry, 2010).

e. KomplikasiHipertermia

Kerugian yang bisa terjadi pada bayi yang mengalami

demam dan hipertermia adalah dehidrasi, karena pada keadaan

demam terjadi pula peningkatan pengeluaran cairan tubuh

sehingga dapat menyebabkan tubuh kekurangan cairan. Pada

kejang demam, juga bisa terjadi tetapi kemungkinannya sangat

kecil (Hartini,2012)

Silbernagl, (2007) dalam patofisiologinya menjelaskan

akibat yang ditimbulkan oleh demam adalah peningkatan

frekuensi denyut jantung (1-12 menit/1oC) dan metabolisme

[Link] ini menimbulkan rasa lemah, nyeri sendi dan sakit

kepala, gelombang tidur yang lambat (berperan dalam perbaikan

fungsi otak), dan pada keadaan tertentu dapat menimbulkan

gangguan kesadaran dan persepsi (delirium karena demam) serta

kejang.

Keadaan yang lebih berbahaya lagi ketika suhu inti

tubuh mencapai 40oC karena pada suhu tersebut otak sudah tidak

dapat lagi mentoleransi. Bila mengalami peningkatan suhu inti

14
dalam waktu yang lama antara 40oC-43oC, pusat pengatur suhu

otak tengah akan gagal dan pengeluaran keringat akan berhenti.

Akibatnya akan terjadi disorientasi, sikap apatis dan kehilangan

kesadaran (Hartini, 2012).

f. DiagnosisHipertermia

Setelah melakukan pengumpulan data secara lengkap

dan terarah berupa masalah-masalah yang terungkap dari

anamnesis serta temuan-temuan yang didapatkan dari

pemeriksaan fisik dan laboratorium atau penunjang, misalnya

leukosit, CRP, prokalsitonin dan pemeriksaan penunjang yang

lain. Tahap berikutnya adalah menetapkan diagnosis (Hartini,

2012).

Salah satu tindakan yang perawat atau dokter lakukan

adalah pengukuran suhu tubuh yang benar pada area yang tepat

dan menggunakan termometer yang [Link] menentukan

apakah klien terjadi hipertermia atau tidak, perawat harus

mengetahui terlebih dahulu standart normal suhu tubuh baik

melalui aksila, rektal, oral dan [Link] itu perawat juga

harus mengetahui penyebab dari hipertermia klien, apakah

karena terpapar oleh kuman dan virus penyebab infeksi

sebelumnya, apakah klien selesai melakukan aktivitas olah raga

jantung atau mengalami kekurangan cairan atau bahkan karena

cuaca bahkan penyakit yang menyertainya (Hartini,2012).

15
g. PenatalaksanaanHipertermia

1) Tindakanfarmakologis

Tindakan menurunkan suhu mencakup

intervensi farmakologik yaitu dengan

[Link] umum digunakan untuk

menurunkan demamdenganberbagai

penyebab(infeksi,inflamasidanneoplasama)adalahobat

antipiretik. Antipiretik ini bekerja dengan

mempengaruhi

termoregulatorpadasistemsarafpusat(SSP)dandengan

menghambat kerja prost aglandin secara perifer

(Hartini,2012).

Obat antipiretik antara lain asetaminofen, aspirin,

kolin dan magnesium salisilat, kolin salisilat, ibuprofen,

salsalat dan obat-obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID).

Asetaminofen merupakan obat pilihan, aspirin dan salisilat

lain tidak boleh diberikan pada anak-anak dan remaja.

Ibuprofen, penggunaannya disetujui untuk menurunkan

demam pada anak-anak yang berusia minimal 6

[Link] pemakaian aspirin atau ibuprofen pada pasien-

pasien dengan gangguan perdarahan (Hartini, 2012).

Beberapa ibuprofen yang tidak disetujui penggunaannya

16
untuk anak-anak adalah nuprin, motrin IB, [Link]

antipiretik yang berlebihan perlu diperhatikan, karena dapat

menyebabkan keracunan (Totapally,2005).

2) Tindakan nonfarmakologis

Tindakan non farmakologis tersebut seperti menyuruh

anak untuk banyak minum air putih, istirahat, serta pemberian

water tepid sponge. Penatalaksanaan lainnya anak dengan

demam adalah dengan menempatkan anak dalam ruangan

bersuhu normal dan mengusahakan agar pakaian anak tidak

tebal (Budi (2006)dalam Setiawati (2009).

2. KonsepSuhu

a. Pengertian

Suhu tubuh adalah perbedaan antara jumlah panas yang

dihasilkan tubuh dengan jumlah panas yang hilang ke

lingkungan [Link] yang dihasilkan dikurangi panas yang

hilang adalah suhu tubuh (Potter & Perry, 2010). Suhu normal

tubuh adalah 36,5-37,50C (Huda, 2013).

b. Pengaturansuhu

Suhu tubuh manusia diatur oleh suatu mekanisme umpan

balik yang berada dipusat pengaturan suhu yaitu hipotalamus.

Pengaturan suhu suatu mekanisme, pada saat pusat temperatur di

hipotalamus mendeteksi adanya suhu adanya suhu tubuh yang

17
terlalu panas, maka tubuh akan melakukan umpan balik.

Mekanisme umpan balik iniakan terjadibila suhu intitubuh sudah

melewatiambang batas toleransi tubuh untuk mempertahankan

suhu, atau yang disebut titik tetap (Sodikin, 2012).

Set point (titik tetap) tubuh aan dipertahankan supaya

suhu inti tubuh tetap konstan pada kisaran 37oC. Pada saat suhu

meningkat melebihi titik tetap, maka keadaan ini akan

merangsang hipotalamus untuk melakukan berbagai mekanisme

agar suhu mampu dipertahankan dengan cara menurunkan

produksi panas dan meningkatkan pengeluaran panas sehingga

suhu kembali pada titik tetap. Sedangkan bila suhu inti dibawah

titik tetap, tubuh akan menjalankan suatu mekanisme untuk

meningkatkan produksi panas dan menurunkan laju penurunan

panas tubuh dari lingkungan (Sodikin,2012).

c. Produksi panas

Aliran darah yang diatur oleh susunan saraf memiliki

peran penting dalam mendistribusikan panas dalam tubuh. Suhu

lingkungan yang panas atau adanya peningkatan suhu tubuh,

pusat pengaturan suhu di hipotalamus akan mempengaruhi

serabut eferen pada sistem saraf autonom untuk melebarkan

pembuluh darah. Peningkatan aliran darah dikulit menyebabkan

pelepasan panas dari pusat tubuh melalui permukaan tubuh

18
melalui permukaan kulit ke sekitarnya dalam bentuk keringat

(Sodikin, 2012).

Pengeluaran keringat melalui kulit terjadi sebagai efek

peningkatan suhu tubuh yang melewati [Link]

keringat menyebabkan peningkatan pengeluaran panas melalui

evaporasi. Peningkatan suhu tubuh sebesar 10 C akan

menyebabkan pengeluaran keringat yang cukup banyak

sehingga mampu membuang panas tubuh yang dihasilkan dari

metabolisme basal 10 kali lebih besar (Sodikin,2012).

d. Kehilanganpanas

Menurut Sodikin (2012), proses kehilangan panas melalui 4 cara

yaitu:

1) Radiasi adalah perpindahan panas dari permukaan suatu

objek ke permukaan objek lain tanpa keduanyabersentuhan.

2) Konveksi adalah perpindahan panas karena gerakan udara

atau cairan yang melindungi permukaankulit.

3) Konduksi adalah perpindahan panas antara 2 objek secara

langsung pada suhu yangberbeda.

4) Evaporasi atau penguapan adalah penguapan air dari kulit

yang dapat memfasilitasi perpindahan panas tubuh,

misalnya berkeringat.

19
3. Water TepidSponge

a. Pengertian

Water tepid sponge adalah sebuah teknik kompres hangat

yang menggabungkan teknik kompres blok pada pembuluh

darah besar superfisial dengan teknik seka (Alves, 2008).

b. Tujuan Water Tepid Sponge

Water Tepid Sponge bertujuan untuk membuat pembuluh

darah tepi melebar dan mengalami vasodilatasi sehingga pori-

pori akan membuka dan mempermudah pengeluaran panas

(Hartini, 2012).

c. Manfaat Water Tepid Sponge

Menurunkan suhu tubuh, memberikan rasa nyaman,

mengurangi nyeri dan ansietas (Sodikin, 2012).

d. Teknik Water Tepid Sponge

Tahap-tahap pelaksanaan tepid water sponge (Rosdahl &

Kowalski, 2008)

1) Tahappersiapan

a) Jelaskan prosedur dan demonstrasikan kepada keluarga

caratepid watersponge.

b) Persiapan alat meliputi ember atau baskom untuk

tempat air hangat (35°C), lap mandi/ wash lap 6 buah,

20
selimut mandi 1buah, handuk mandi 1 buah, perlak

besar 1 buah, termometer, selimuthipotermi.

2) Pelaksanaan

a) Beri kesempatan klien untuk buang air sebelum

dilakukan water tepid sponge.

b) Ukur suhu tubuh klien dan catat. Catat jenis dan waktu

pemberian antipiretik pada klien.

c) Buka seluruh pakaian klien dan alas klien dengan

perlak.

d) Tutup tubuh klien dengan handuk mandi. Kemudian

basahkan wash lap atau lap mandi letakkan lap mandi di

dahi, aksila, dan pangkal paha. Lap ekstermitas selama

5 menit, punggung dan bokong selama 10-15 menit.

Lakukam melap tubuh klien selama 20 menit.

e) Pertahankan suhu air (35°C).

f) Apabila wash lap mulai mengering maka rendam

kembali dengan air hangat lalu ulangi tindakan seperti

diatas.

g) Hentikan prosedur jika klien kedinginan atau menggigil

atau segera setelah suhu tubuh klien mendekati normal.

Selimuti klien dengan selimut mandi dan keringkan.

Pakaikan klien baju yang tipis dan mudah menyerap

21
keringat.

h) Catat suhu tubuh klien sebelum dan sesudah tindakan

4. Asuhan KeperawatanHipertermia

a. Pengkajian

Observasi manisfestasi klinis dari hipertermia

1) Peningkatan suhu tubuh diatas rentangnormal

2) Kulit kemerahan

3) Kulit hangat bila disentuh

4) Tampakmengkilat

5) Peningkatan frekuensipernafasan

6) Takikardi

7) Kejang

b. DiagnosaKeperawatan

Hipertermia berhubungan dengan peningkatan produksi panas

c. Intervensi

Kriteria hasil: mempertahankan suhu dalam batas normal, suhu

tubuh dapat dikurangi sampai batas yang dapat diterima.

Intervensi

1) Observasi tanda-tanda vital secara berkala

Rasional : memantau tanda-tandavital

2) Observasi warna kulit

Rasional: mengamati tanda-tanda hipertermi

3) Berikan water tepid sponge

22
Rasional: pembuluh darah akan terbuka dan mengeluarkan

panas.

4) Berikan air minum yang banyak

Rasional: mempertahankan cairan tubuh.

5) Kolaborasi dengan dokter pemberian antipiretik

Rasional : mengatasi hipertermi dengan cara farmakologis,

menghindari pasien mengigil.

d. Implementasi

1) Mengobservasi tanda-tanda vital secara berkala

2) Mengobservasi warna kulit

3) Memberikan water tepid sponge

4) Memberikan air minum yang banyak

5) Mengkolaborasi dengan dokter pemberian antipiretik

e. Evaluasi

1) Evaluasi menggunakan SOAP

Sumber: Potter & Perry, 2006

23
2.2 KerangkaTeori

Etiologi :
- Virus, bakteri,trauma
- Obat-obatananesthesia
- Aktifitas fisik intensif pada cuacapanas
- Metabolik
- Dehidrasi
- Overheating

Hipertermia

Farmakologi Pemberian antipiretik Non farmakologi


Water Tepid Sponge

Penurunan suhu
tubuh

(Alves, 2008; El Radhi, 2009; Hartini, 2012; Sodikin, 2012;


Widagdo, 2012).

24
BAB III

METODE PENYUSUNAN KTI

A. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah pasien anak berumur 4 sampai 6

tahun yang mengalami hipertermia.

B. Tempat dan WaktuPenelitian

Pelaksanaan aplikasi riset ini dilakukan Di Rumah Sakit Umum Daerah

Provinsi NTB.

C. Media dan Alat yangDigunakan

1. Media

Air hangat (35°C),

2. Alat

a. Baskom untuk tempat air hangat(35°C),

b. Lap mandi/ wash lap 6buah

c. Selimut mandi1buah

d. Handuk mandi 1buah

e. Perlak besar 1buah

f. Termometer

g. Selimuthipotermi.

25
D. Prosedur Tindakan Berdasarkan AplikasiRiset

Tahap-tahap pelaksanaan tepid water sponge (Rosdahl & Kowalski,


2008)

1. Tahappersiapan

a. Jelaskan prosedur dan demonstrasikan kepada keluarga

caratepid watersponge.

b. Persiapan alat meliputi ember atau baskom untuk tempat air

hangat (35°C), lap mandi/ wash lap 6 buah, selimut mandi

1buah, handuk mandi 1 buah, perlak besar 1 buah,

termometer, selimuthipotermi.

2. Pelaksanaan

a. Beri kesempatan klien untuk buang air sebelum dilakukan

water tepidsponge.

b. Ukur suhu tubuh klien dan catat. Catat jenis dan waktu

pemberian antipiretik padaklien.

c. Buka seluruh pakaian klien dan alas klien denganperlak.

d. Tutup tubuh klien dengan handuk mandi. Kemudian basahkan

wash lap atau lap mandi letakkan lap mandi di dahi, aksila,

dan pangkal paha. Lap ekstermitas selama 5 menit, punggung

dan bokong selama 10-15 menit. Lakukam melap tubuh klien

selama 20menit.

e. Pertahankan suhu air(35°C).

f. Apabila wash lap mulai mengering maka rendam kembali

26
dengan air hangat lalu ulangi tindakan sepertidiatas.

g. Hentikan prosedur jika klien kedinginan atau menggigil atau

segera setelah suhu tubuh klien mendekati normal. Selimuti

klien dengan selimut mandi dan keringkan. Pakaikan klien

baju yang tipis dan mudah menyerapkeringat.

h. Catat suhu tubuh klien sebelum dan sesudahtindakan.

E. Alat UkurEvaluasi

Alat ukur evaluasi dilakukan dengan cara mengukur suhu dengan

menggunakan thermometerdigital.

27
DAFTAR PUSTAKA

Alves, J. G. B., & Almeida, C. D. C. M. [Link] Sponge Plus


Dipyrone versus dipyrone alone for reducing body temperature
in febrile children. Sao Paulo: Medical Journal.
Http://[Link] diunduh tanggal l5 Januari 2020

Bartolomeus, dkk.2012. Pengaruh Kompres Tepid Sponge Hangat


Terhadap Penurunan Suhu Tubuh Pada Anak Umur 1-10 Tahun
Yang Mengalami [Link]://[Link]/ diunduh
tanggal l5 Januari 2020

Bulechek [Link]. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC) Sixth


Edition. Elsevier: The United State of America

Carpenito, Lynda Juall. 2010. Nursing Diagnosis Aplication to Clinical


Practice. J.B. Lippicott Company: Philadelpia

Curran AK, Xia L, Leiter CJ, Bartlett D Jr. 2005. Elevated body
temperature enhances the laryngeal chemoreflex in decerebrate
piglets. J Appl Physiol. Http://[Link]
tanggall5 Januari 2020

Dalal, S., Zhukovsky, D.S. [Link] and Management of


[Link] [Link]://[Link] diunduh tanggal l5
Januari 2020

Dermawan, Deden. 2012. Proses Keperawatan Penerapan Konsep dan


Kerangka Kerja.
Gosyen Publising: Yogyakarta

El-Radhi AS, Carroll J, Klein N, Abbas A. 2009. Clinical manual of fever


in [Link]
9. Berlin: Springer-Verlag; [Link]://[Link]
diunduh tanggal l5 Januari 2020

Profil Kesehatan Indonesia. 2019. Jumlah kasus demam yang disembabkan


[Link]://[Link]/folder/view/01/structure-publikasi-
[Link]. Di unduh 06 januari 2020.

Hartini. 2012. Aplikasi Model Konservasi Myra E. Levine Dalam Asuhan


Keperawata n Pada Anak Dengan Demam Di Ruang Rawat
Infeksi Anak RSUP Dr. Cipto Mangunkusuma.
[Link]://[Link] diunduh tanggal l5 Januari 2020

28
Herdman, T. H. 2012. NANDA Internasional: Diagnosis keperawatan:
Definisi dan klasifikasi 2012-2014. Jakarta:EGC

Huda Amin. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


Medis dan NANDA. Yogyakarta: MediactionPublishing

Moorhead [Link]. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC) Sixth


Edition. Elsevier: The United State of America

Nybo, L. 2008. Hyperthermia and fatigue.J Appl Physiol,


104, 871–878.
Http://[Link] tanggal l5 Januari 2020

Potter, P. A. & Perry, A. G. (2005).Buku Ajar Fundamental Keperawatan


[Link] :
EGC
Potter, P. A. & Perry, A. G. (2006).Buku Ajar Fundamental Keperawatan
[Link] :
EGC

Potter, P. A., & Perry, A. G. (2010).Fundamentals of nursing:


fundamental keperawatan;
buku 2 edisi 7. Jakarta: Salemba Medika.

Rosdahl, C b., & Kowalski, M.T. [Link] Of Basic Nursing Edisi 9.


Philadelphia: Wolters Kluwer Health- Lippincoth William &
Wilkins

Setiadi. 2012. Konsep dan Penulisan DokumentasiAsuhan Keperawatan


Teoridan Praktik.
Yogyakarta: Graha Ilmu

Setiawati, T. (2009).Pengaruh tepid sponge terhadap penurunan suhu


tubuh dan kenyamanan pada anak usia pra sekolah dan sekolah
yang mengalai demam di ruang perawatan anak Rumah Sakit
Muhammadiyah. Bandung: Universitas Indonesia Fakultas Ilmu
Keperawatan. . Http://[Link] diunduh tanggal l5 Januari 2020

Silbernagl, S., & Lang, F. [Link] dan atlas berwarna patofisiologi.

Jakarta:EGC. Sodikin. 2012. Prinsip Perawatan Demam Pada Anak.

Yogyakarta: PustakaPelajar

Suprapti.2008. Perbedaan Pengaruh Kompres hangat dengan Kompres


Dingin terhadap penurunan suhu tubuh pada pasien anak karena
infeksi di BP RSUD Djojonegoro

29
[Link]://[Link]/diunduhtanggal l5
Januari 2020

Widyastuti.2013. Asuhan Kebidanan pada balita dengan febris di BPM


Siti Nuraini Ngunut Tohkuning KarangPandan
[Link]://[Link] diunduh
tanggal l5 Januari 2020

30

Anda mungkin juga menyukai