KARYA TULIS ILMIAH
PENERAPAN WATER TEPID SPONGE PADA ANAK DALAM
MENURUNKAN DEMAM DENGAN ANAK HIPERTERMI.
ROBI HABIBI
023SYE17
YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PRODI STUDI KEPERAWATAN JENJANG D. III
MATARAM
2020
DAFTAR ISI
BAB I...................................................................................................................1
PENDAHULUAN...............................................................................................1
1.1 LatarBelakang..........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................5
1.3 Tujuan Studi Kasus..................................................................................5
1.4 Manfaat Studi Kasus................................................................................5
1.4.1 Masyarakat.......................................................................................5
1.4.2 Bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan..6
BAB II.................................................................................................................7
TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................................7
BAB III..............................................................................................................24
METODE PENYUSUNAN KTI.....................................................................24
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................66
2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang
Anak adalah individu yang berusia 0-18 tahun dipandang
sebagai individu yang unik, yang punya potensi untuk tumbuh dan
berkembang. Anak bukanlah miniatur orang dewasa, melainkan
individu yang sedang berada dalam proses tumbuh kembang dan
mempunyai kebutuhan yang spesifik. Sepanjang rentan sehat sakit
anak membutuhkan bantuan perawat baik secara langsung maupun
tidak langsung sehingga tumbuh kembangnya dapat terus berjalan.
Orang tua diyakini sebagai orang yang paling tepat dan paling baik
dalam memberikan Perawatan pada anak, baik dalam keadaan sehat
maupun sakit, sedangkan perawat memberikan bantuan apabila
keluarga tidak mampu melakukannya (supartini, 2014).
Menurut hockenberry (2009), anak dapat dikelompokkan
menurut Fase perkembangannya perkembangannya. fase
perkembangan anak menurut hockenberry dan Wilson (2009) terdiri
dari fase prenatal, fase neonatal, fase infant, fase toddler, fase
prasekolah, fase sekolah dan fase remaja. Fase prenatal mencakup
masa kehamilan sampai anak dilahirkan. Fase neonatal merupakan
masa saat bayi sampai usia 28 hari. Fase infant adalah fase saat bayi
1
berusia 1 sampai 12 bulan. Fase toddler merupakan saat anak berusia 1
sampai 3 tabun. Setelah difase ini akan memasuki pra sekolah yaitu
saat anak memasuki usia 3-6 tahun. Fase sekolah merupakan fase anak
berusia 6-12 tahun, dan terakhir fase remaja yaitu saat anak memasuki
usia 12-18 tahun.
Suhu tubuh adalah perbedaan jumlah panas yang dihasilkan
tubuh dengan jumlah panas yang hilang ke lingkungan [Link] yang
dihasilkan dikurangi panas yang hilang merupakan apa yang disebut
dengan suhu tubuh (Potter & Perry, 2010). Suhu tubuh merupakan
tanda ukuran penting yang dapat memberi petunjuk mengenai keadaan
tubuh seseorang. Suhu normal tubuh adalah 36,5-37,5 0C (Huda, 2013).
Pada keadaan tertentu suhu tubuh dapat meningkat yang disebut
dengan hipertermia.
Hipertermia adalah keadaan dimana terjadinyameningkatnya
suhu tubuh diatas kisaran normal (Herdman,2012).Hipertermia dapat
disebabkan oleh virus dan mikroba. Mikroba serta produknya berasal
dari luar tubuh adalah bersifat pirogen eksogen yang merangsang sel
makrofag, lekosit dan sel lain untuk membentuk pirogen endogen.
Pirogen seperti bakteri dan virus menyebabkan peningkatan suhu tubuh
(Widagdo, 2012).
Jumlah penderita hipertermi di Indonesia dilaporkan lebih
tinggi angka kejadiannya dibandingkan dengan negara-negara lain
yaitu sekitar 80%-90%, dari seluruh hipertemia yang dilaporkan adalah
2
hipertermia atau demam sederhana. Angka kejadian tahun 2017 Di
Kota Mataram 1.605 kasus, kasus terbanyak dilaporkan terjadi di
Kabupaten Sumbawa, Lombok Timurdan Kota Mataram sama dengan
kasus terbanyak pada tahun 2016 (Profil Kesehatan Provinsi NTB
Tahun, 2017).
Penatalaksanaan yang digunakan untuk menurunkan suhu tubuh
yang mengalami hipertermi diantaranya adalah dengan tindakan
farmakologis maupun non farmakologis. Tindakan farmakologis untuk
menurunkan suhu tubuh adalah dengan cara pemberian antipiretik.
Pemberian antipiretik ini berfungsi menghambat produksi
prostaglandin, menyebabkan anak berkeringat dan vasodilatasi
(Totapally, 2005). Selain pemberian antipiretik, dapat juga dilakukan
tindakan non farmakologis yaitu seperti memberikan baju yang tipis
pada anak, menyuruh anak untuk banyak minum air putih, istirahat,
dan memberikan water tepid sponge (Budi, 2006 dalam Hartini, 2012).
Hipertermia sering menjadi alasan mengapa orang tua
membawa anak mereka mengujungi pemberi layanan
[Link] keluhan hipertermia pada anak membingungkan
dan menimbulkan satu kecemasan orang [Link] orang tua
tersebut diakibatkan oleh kurangnya pengetahuan tentang hipertermia
dan akhirnya memicu mereka untuk melakukan tindakan yang
cenderung berlebihan dalam mengatasi hipertermia pada anak, salah
satunya berupa pemberian obat penurun panas (antipiretik) dengan
3
tidak memperhatikan indikasi pemberian obat yang seharusnya
(Sodikin, 2012).Banyak Ditemukan di lapangan pelaksanaan water
tepid sponge jarang dilakukan oleh [Link] cenderung
lebihseringlangsung memberikan antipiretik ketika anak mengalami
hipertermi (Hartini,2012).
Water tepid sponge adalah sebuah teknik kompres blok pada
pembuluh darah supervisial dengan teknik seka (Setiawati, 2009).
Water tepid sponge merupakan alternatif teknik kompres hangat yang
marak diteliti di negara maju maupun berkembang lainnya (Alves,
2008). Teknik ini menggunakan kompres blok tidak hanya di satu
tempat saja, melainkan langsung di beberapa tempat yang memiliki
pembuluh darah besar (Hartini, 2010). Menurut Suprapti (2008),
water tepid sponge efektif dalam mengurangi suhu tubuh pada anak
dengan hipertermia dan juga membantu dalam mengurangi rasa sakit
dan ketidaknyamanan. Hal ini juga diungkapkan Bartlomeus (2012),
bahwa ada pengaruh penurunan suhu tubuh anak yang mengalami
hipertermia yang setelah dilakukan water tepidsponge.
Dampak yang ditimbulkan apabila hipertermia tidak segera
ditangani adalah dehidrasi, terjadi karena peningkatan pengeluaran
cairan tubuh sehingga dapat menyebabkan tubuh kekurangan
[Link] juga dapat menyebabkan peningkatan frekuensi
denyut jantung (1-12 menit/10 C) dan metabolisme [Link] ini
menimbulkan rasa lemah, nyeri sendi dan sakit kepala, gelombang
4
tidur yang lambat (berperan dalam perbaikan fungsi otak), dan pada
keadaan tertentu dapat menimbulkan gangguan kesadaran dan persepsi
(delirium karena demam) serta kejang. Keadaan yang lebih berbahaya
lagiketikasuhuintitubuhmencapai400C,pusatpengatursuhuotaktengahak
an gagal dan pengeluaran keringat akan berhenti. Akibatnya akan
terjadi disorientasi, sikap apatis dan kehilangan kesadaran (Hartini,
2012).
Hasil penelitian Haryati (2012), Dapat disimpulkan pada
tingkat signifikan 5% terbukti ada pengaruh kompres tepid sponge
terhadap penurunan suhu tubuh pasien hipertermi. Hal ini
membuktikan bahwa water tepid sponge efektif dalam membantu
menurunkan suhu tubuh pada anak yang mengami hipertemi. Sejalan
dengan penelitian yang dilakukan Setiawati, (2009) menyatakan
terdapat perebedaan suhu seblum dan setelah intervensi pemebrian
water tepid sponge pada pengukuran pertama 10 menit setelah selesai
tepid sponge dan pengukuran kedua (30 menit setelah pengukuran
pertama) terdapat berbedaan suhu setelah 10 menit selesai dilakukan
tepid sponge dan 30 menit setelah pengukuran.
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk
menyusun Karya Tulis Ilmiah berupa aplikasi riset yang berjudul
pemberianwater tepid sponge terhadap penurunan suhu tubuh anak
dengan hipertermi.
5
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis merumuskan
masalah “Bagaimana melakukan asuhan keperawatan pada anak
tentang penerapan water tepid sponge dalam menurunkan demam pada
anak dengan hipertermi.
1.3 Tujuan Studi Kasus
Tujuan umum studi kasus ini adalah menggambarkan
penerapan water tepid sponge pada anak dalam menurunkan demam
dengan anak hipertermi.
1.4 Manfaat Studi Kasus
Proposal Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan memberikan manfaat bagi:
1.4.1 Masyarakat
Meningkatkan pengetahuan masyarakat terutama keluarga
dalam mengurangi demam pada anak dengan hipertermi
melalui penerapan water tepid sponge.
1.4.2 Bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
keperawatan
Menambah keluasan ilmu dan teknologi terapan bidang
dalam mengurangi demam pada anak dengan hipertermi
melalui penerapan water tepid sponge.
6
1.4.3 Penulis
Studi kasus ini diharapkan dapat menambah pengetahuan
penulis dan dapat secara langsung menerapkan asuhan
keperawatan pada pasien dengan menerapkan teori yang ada.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 TinjauanTeori
1. KonsepHipertermi
a. DefinisiHipertermia
Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh diatas
rentang normal yang tidak teratur, disebabkan
ketidakseimbangan antara produksi dan pembatasan panas
(Sodikin, 2012).
Hipertermia adalah kondisi kegagalan pengaturan suhu
tubuh (termoregulasi) akibat ketidakmampuan tubuh
melepaskan atau mengeluarkan panas atau produksi panas yang
berlebihan oleh tubuh dengan pelepasan panas dalam laju
yang normal (El Radhi,2009).
b. EtiologiHipertermia
Hipertermia dapat disebabkan oleh virus dan mikroba.
Mikroba serta produknya berasal dari luar tubuh adalah bersifat
pirogen eksogen yang merangsang sel makrofag, lekosit dan sel
lain untuk membentuk pirogen endogen. Pirogen seperti bakteri
dan virus menyebabkan peningkatan suhu tubuh (Widagdo,
2012).
8
Menurut El-Radhi, (2009), Penyebab hipertermia dapat
dibagi menjadi 2:
1) Hipertermia yang disebabkan karena produksipanas
a) Hipertermiamaligna
Hipertermia maligna biasanya dipicu oleh obat-
obatan anesthesia. Hipertermia ini merupakan miopati
akibat mutasi gen yang diturunkan secara autosomal
dominan (Nybo, 2008). Pada episode akut terjadi
peningkatan kalsium intraselular dalam otot rangka
sehingga terjadi kekakuan otot dan hipertermia (Curran,
2005).
b) Exercise-Induced hyperthermia (Exertional heatstroke)
Hipertermia jenis ini dapat terjadi pada anak
besar/remaja yang melakukan aktivitas fisik intensif dan
lama pada suhu cuaca yang panas (Dalal, 2006).
c) Endocrine Hyperthermia(EH)
Kondisi metabolic atau endokrin yang
menyebabkan hipertermia lebih jarang dijumpai pada
anak dibandingkan dengan pada dewasa. Kelainan
endokrin yang sering dihubungkan dengan hipertermia
antara lain hipertiroidisme, diabetes mellitus,
phaeochromocytoma, insufisiensi adrenal dan
ethiocolanolone suatu steroid yang diketahui sering
9
berhubungan dengan demam (merangsang pembentukan
pirogenleukosit).
2) Hipertermia yang disebabkan oleh
penurunanpelepasanpanas
a) Hipertermianeonatal
Peningkatan suhu tubuh secara cepat pada hari kedua dan
ketiga kehidupan bisa disebabkan oleh:
(1) Dehidrasi
Dehidrasi pada masa ini sering disebabkan
oleh kehilangan cairan atau paparan oleh suhu
kamar yang [Link] jenis ini merupakan
penyebab kenaikan suhu ketiga setelah infeksi dan
trauma [Link] dibedakan antara kenaikan
suhu karena hipertermia dengan infeksi. Pada
demam karena infeksi biasanya didapatkan tanda
lain dari infeksi seperti leukositosis atau leucopenia,
CRP yang tinggi, tidak berespon baik dengan
pemberian cairan, dan riwayat persalinan premature
atau resiko infeksi.
(2) Overheating
Overheating adalah pemakaian alat-alat
penghangat yang terlalu panas, atau bayi atau anak
terpapar sinar matahari langsung dalam waktu yang
10
lama (Curran,2005).
c. Manifestasi KlinisHipertermia
Beberapa tanda dan gejala pada hipertermi menurut Huda (2013)
1) Kenaikan suhu tubuh diatas rentangnormal
2) Konvulsi(kejang)
3) Kulitkemerahan
4) PertambahanRR
5) Takikardi
6) Saat disentuh tangan terasahangat
7) Fase – fase terjadinyahipertermia
i. Fase I :awal
(1) Peningkatan denyutjantung.
(2) Peningkatan laju dan kedalamanpernapasan.
(3) Menggigil akibat tegangan dan kontraksiobat.
(4) Kulit pucat dan dingin karenavasokonstriksi.
(5) Merasakan sensasidingin.
(6) Dasar kuku mengalami sianosis
karenavasokonstriksi.
(7) Rambut kulitberdiri.
(8) Pengeluaran keringatberlebih.
(9) Peningkatan suhutubuh.
ii. Fase II : prosesdemam
(1) Proses menggigil lenyap.
11
(2) Kulit terasa hangat / panas.
(3) Merasa tidak panas / dingin.
(4) Peningkatan nadi & laju pernapasan.
(5) Peningkatan rasa haus.
(6) Dehidrasi ringan sampai berat.
(7) Mengantuk , delirium / kejang akibat iritasi sel
saraf.
(8) Lesi mulut herpetik.
(9) Kehilangan nafsu makan.
(10) Kelemahan, keletihan dan nyeri ringan pada
otot akibat katabolisme protein.
iii. Fase III :pemulihan
(1) Kulit tampak merah danhangat.
(2) Berkeringat.
(3) Menggigilringan.
(4) Kemungkinan mengalamidehidrasi.
d. PatofisiologiHipertermia
Perubahan pengaturan homeostatis suhu normal oleh
hipotalamus dapat diakibatkan dari infeksi bakteri, virus, tumor,
trauma, dan sindrom malignan dan lain-lain bersifat pirogen
eksogen yang merangsang sel makrofag, lekosit dan sel lain
untuk membentuk pirogen endogen. Pirogen seperti bakteri dan
virus menyebabkan peningkatan suhu tubuh. Saat bakteri dan
virus tersebut masuk ke dalam tubuh, pirogen bekerja sebagai
antigen akan mempengaruhi sistem imun (Widagdo, 2012).
Saat substansi ini masuk ke sirkulasi dan mengadakan
12
interaksi dengan reseptor dari neuron preoptik di hipotalamus
anterior, dan menyebabkan terbentuknya prostaglandin E2. IL-2
yang bertindak sebagai mediator dari respon demam, dan
berefek pada neuron di hipotalamus dalam pengaturan kembali
(penyesuaian) dari thermostatic set point. Akibat demam oleh
sebab apapun maka tubuh membentuk respon berupa pirogen
endogen termasuk IL- 1, IL-6, tumor necrotizing factor (TNF)
(Widagdo, 2012).
Oleh karena itu, sel darah putih diproduksi lebih
banyak lagi untuk meningkatkan pertahanan tubuh melawan
[Link] itu, substansi sejenis hormon dilepaskan untuk
selanjutnya mempertahankan melawan infeksi. Substansi ini
juga mencetuskan hipotalamus untuk mencapai set point. Untuk
mencapai set point baru yang lebih tinggi tubuh memproduksi
dan menghemat panas. Dibutuhkan beberapa jam untuk
mencapai set point baru dari suhu tubuh. Selama periode ini,
orang tersebut menggigil, gemetar dan merasa kedinginan,
meskipun suhu tubuh meningkat (Potter & Perry,2010).
Fase menggigil berakhir ketika set point baru yaitu
suhu yang lebih tinggi tercapai. Selama fase berikutnya, masa
stabil, menggigil hilang dan pasien merasa hangat dan kering.
Jika set point baru telah “melampaui batas”, atau pirogen telah
dihilangkan, terjadi fase ketiga episode febris. Set point
13
hipotalamus turun, menimbulkan respons pengeluaran panas.
Kulit menjadi hangat dan kemerahan karena
[Link] membantu evaporasi pengeluaran panas
(Potter & Perry, 2010).
e. KomplikasiHipertermia
Kerugian yang bisa terjadi pada bayi yang mengalami
demam dan hipertermia adalah dehidrasi, karena pada keadaan
demam terjadi pula peningkatan pengeluaran cairan tubuh
sehingga dapat menyebabkan tubuh kekurangan cairan. Pada
kejang demam, juga bisa terjadi tetapi kemungkinannya sangat
kecil (Hartini,2012)
Silbernagl, (2007) dalam patofisiologinya menjelaskan
akibat yang ditimbulkan oleh demam adalah peningkatan
frekuensi denyut jantung (1-12 menit/1oC) dan metabolisme
[Link] ini menimbulkan rasa lemah, nyeri sendi dan sakit
kepala, gelombang tidur yang lambat (berperan dalam perbaikan
fungsi otak), dan pada keadaan tertentu dapat menimbulkan
gangguan kesadaran dan persepsi (delirium karena demam) serta
kejang.
Keadaan yang lebih berbahaya lagi ketika suhu inti
tubuh mencapai 40oC karena pada suhu tersebut otak sudah tidak
dapat lagi mentoleransi. Bila mengalami peningkatan suhu inti
14
dalam waktu yang lama antara 40oC-43oC, pusat pengatur suhu
otak tengah akan gagal dan pengeluaran keringat akan berhenti.
Akibatnya akan terjadi disorientasi, sikap apatis dan kehilangan
kesadaran (Hartini, 2012).
f. DiagnosisHipertermia
Setelah melakukan pengumpulan data secara lengkap
dan terarah berupa masalah-masalah yang terungkap dari
anamnesis serta temuan-temuan yang didapatkan dari
pemeriksaan fisik dan laboratorium atau penunjang, misalnya
leukosit, CRP, prokalsitonin dan pemeriksaan penunjang yang
lain. Tahap berikutnya adalah menetapkan diagnosis (Hartini,
2012).
Salah satu tindakan yang perawat atau dokter lakukan
adalah pengukuran suhu tubuh yang benar pada area yang tepat
dan menggunakan termometer yang [Link] menentukan
apakah klien terjadi hipertermia atau tidak, perawat harus
mengetahui terlebih dahulu standart normal suhu tubuh baik
melalui aksila, rektal, oral dan [Link] itu perawat juga
harus mengetahui penyebab dari hipertermia klien, apakah
karena terpapar oleh kuman dan virus penyebab infeksi
sebelumnya, apakah klien selesai melakukan aktivitas olah raga
jantung atau mengalami kekurangan cairan atau bahkan karena
cuaca bahkan penyakit yang menyertainya (Hartini,2012).
15
g. PenatalaksanaanHipertermia
1) Tindakanfarmakologis
Tindakan menurunkan suhu mencakup
intervensi farmakologik yaitu dengan
[Link] umum digunakan untuk
menurunkan demamdenganberbagai
penyebab(infeksi,inflamasidanneoplasama)adalahobat
antipiretik. Antipiretik ini bekerja dengan
mempengaruhi
termoregulatorpadasistemsarafpusat(SSP)dandengan
menghambat kerja prost aglandin secara perifer
(Hartini,2012).
Obat antipiretik antara lain asetaminofen, aspirin,
kolin dan magnesium salisilat, kolin salisilat, ibuprofen,
salsalat dan obat-obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID).
Asetaminofen merupakan obat pilihan, aspirin dan salisilat
lain tidak boleh diberikan pada anak-anak dan remaja.
Ibuprofen, penggunaannya disetujui untuk menurunkan
demam pada anak-anak yang berusia minimal 6
[Link] pemakaian aspirin atau ibuprofen pada pasien-
pasien dengan gangguan perdarahan (Hartini, 2012).
Beberapa ibuprofen yang tidak disetujui penggunaannya
16
untuk anak-anak adalah nuprin, motrin IB, [Link]
antipiretik yang berlebihan perlu diperhatikan, karena dapat
menyebabkan keracunan (Totapally,2005).
2) Tindakan nonfarmakologis
Tindakan non farmakologis tersebut seperti menyuruh
anak untuk banyak minum air putih, istirahat, serta pemberian
water tepid sponge. Penatalaksanaan lainnya anak dengan
demam adalah dengan menempatkan anak dalam ruangan
bersuhu normal dan mengusahakan agar pakaian anak tidak
tebal (Budi (2006)dalam Setiawati (2009).
2. KonsepSuhu
a. Pengertian
Suhu tubuh adalah perbedaan antara jumlah panas yang
dihasilkan tubuh dengan jumlah panas yang hilang ke
lingkungan [Link] yang dihasilkan dikurangi panas yang
hilang adalah suhu tubuh (Potter & Perry, 2010). Suhu normal
tubuh adalah 36,5-37,50C (Huda, 2013).
b. Pengaturansuhu
Suhu tubuh manusia diatur oleh suatu mekanisme umpan
balik yang berada dipusat pengaturan suhu yaitu hipotalamus.
Pengaturan suhu suatu mekanisme, pada saat pusat temperatur di
hipotalamus mendeteksi adanya suhu adanya suhu tubuh yang
17
terlalu panas, maka tubuh akan melakukan umpan balik.
Mekanisme umpan balik iniakan terjadibila suhu intitubuh sudah
melewatiambang batas toleransi tubuh untuk mempertahankan
suhu, atau yang disebut titik tetap (Sodikin, 2012).
Set point (titik tetap) tubuh aan dipertahankan supaya
suhu inti tubuh tetap konstan pada kisaran 37oC. Pada saat suhu
meningkat melebihi titik tetap, maka keadaan ini akan
merangsang hipotalamus untuk melakukan berbagai mekanisme
agar suhu mampu dipertahankan dengan cara menurunkan
produksi panas dan meningkatkan pengeluaran panas sehingga
suhu kembali pada titik tetap. Sedangkan bila suhu inti dibawah
titik tetap, tubuh akan menjalankan suatu mekanisme untuk
meningkatkan produksi panas dan menurunkan laju penurunan
panas tubuh dari lingkungan (Sodikin,2012).
c. Produksi panas
Aliran darah yang diatur oleh susunan saraf memiliki
peran penting dalam mendistribusikan panas dalam tubuh. Suhu
lingkungan yang panas atau adanya peningkatan suhu tubuh,
pusat pengaturan suhu di hipotalamus akan mempengaruhi
serabut eferen pada sistem saraf autonom untuk melebarkan
pembuluh darah. Peningkatan aliran darah dikulit menyebabkan
pelepasan panas dari pusat tubuh melalui permukaan tubuh
18
melalui permukaan kulit ke sekitarnya dalam bentuk keringat
(Sodikin, 2012).
Pengeluaran keringat melalui kulit terjadi sebagai efek
peningkatan suhu tubuh yang melewati [Link]
keringat menyebabkan peningkatan pengeluaran panas melalui
evaporasi. Peningkatan suhu tubuh sebesar 10 C akan
menyebabkan pengeluaran keringat yang cukup banyak
sehingga mampu membuang panas tubuh yang dihasilkan dari
metabolisme basal 10 kali lebih besar (Sodikin,2012).
d. Kehilanganpanas
Menurut Sodikin (2012), proses kehilangan panas melalui 4 cara
yaitu:
1) Radiasi adalah perpindahan panas dari permukaan suatu
objek ke permukaan objek lain tanpa keduanyabersentuhan.
2) Konveksi adalah perpindahan panas karena gerakan udara
atau cairan yang melindungi permukaankulit.
3) Konduksi adalah perpindahan panas antara 2 objek secara
langsung pada suhu yangberbeda.
4) Evaporasi atau penguapan adalah penguapan air dari kulit
yang dapat memfasilitasi perpindahan panas tubuh,
misalnya berkeringat.
19
3. Water TepidSponge
a. Pengertian
Water tepid sponge adalah sebuah teknik kompres hangat
yang menggabungkan teknik kompres blok pada pembuluh
darah besar superfisial dengan teknik seka (Alves, 2008).
b. Tujuan Water Tepid Sponge
Water Tepid Sponge bertujuan untuk membuat pembuluh
darah tepi melebar dan mengalami vasodilatasi sehingga pori-
pori akan membuka dan mempermudah pengeluaran panas
(Hartini, 2012).
c. Manfaat Water Tepid Sponge
Menurunkan suhu tubuh, memberikan rasa nyaman,
mengurangi nyeri dan ansietas (Sodikin, 2012).
d. Teknik Water Tepid Sponge
Tahap-tahap pelaksanaan tepid water sponge (Rosdahl &
Kowalski, 2008)
1) Tahappersiapan
a) Jelaskan prosedur dan demonstrasikan kepada keluarga
caratepid watersponge.
b) Persiapan alat meliputi ember atau baskom untuk
tempat air hangat (35°C), lap mandi/ wash lap 6 buah,
20
selimut mandi 1buah, handuk mandi 1 buah, perlak
besar 1 buah, termometer, selimuthipotermi.
2) Pelaksanaan
a) Beri kesempatan klien untuk buang air sebelum
dilakukan water tepid sponge.
b) Ukur suhu tubuh klien dan catat. Catat jenis dan waktu
pemberian antipiretik pada klien.
c) Buka seluruh pakaian klien dan alas klien dengan
perlak.
d) Tutup tubuh klien dengan handuk mandi. Kemudian
basahkan wash lap atau lap mandi letakkan lap mandi di
dahi, aksila, dan pangkal paha. Lap ekstermitas selama
5 menit, punggung dan bokong selama 10-15 menit.
Lakukam melap tubuh klien selama 20 menit.
e) Pertahankan suhu air (35°C).
f) Apabila wash lap mulai mengering maka rendam
kembali dengan air hangat lalu ulangi tindakan seperti
diatas.
g) Hentikan prosedur jika klien kedinginan atau menggigil
atau segera setelah suhu tubuh klien mendekati normal.
Selimuti klien dengan selimut mandi dan keringkan.
Pakaikan klien baju yang tipis dan mudah menyerap
21
keringat.
h) Catat suhu tubuh klien sebelum dan sesudah tindakan
4. Asuhan KeperawatanHipertermia
a. Pengkajian
Observasi manisfestasi klinis dari hipertermia
1) Peningkatan suhu tubuh diatas rentangnormal
2) Kulit kemerahan
3) Kulit hangat bila disentuh
4) Tampakmengkilat
5) Peningkatan frekuensipernafasan
6) Takikardi
7) Kejang
b. DiagnosaKeperawatan
Hipertermia berhubungan dengan peningkatan produksi panas
c. Intervensi
Kriteria hasil: mempertahankan suhu dalam batas normal, suhu
tubuh dapat dikurangi sampai batas yang dapat diterima.
Intervensi
1) Observasi tanda-tanda vital secara berkala
Rasional : memantau tanda-tandavital
2) Observasi warna kulit
Rasional: mengamati tanda-tanda hipertermi
3) Berikan water tepid sponge
22
Rasional: pembuluh darah akan terbuka dan mengeluarkan
panas.
4) Berikan air minum yang banyak
Rasional: mempertahankan cairan tubuh.
5) Kolaborasi dengan dokter pemberian antipiretik
Rasional : mengatasi hipertermi dengan cara farmakologis,
menghindari pasien mengigil.
d. Implementasi
1) Mengobservasi tanda-tanda vital secara berkala
2) Mengobservasi warna kulit
3) Memberikan water tepid sponge
4) Memberikan air minum yang banyak
5) Mengkolaborasi dengan dokter pemberian antipiretik
e. Evaluasi
1) Evaluasi menggunakan SOAP
Sumber: Potter & Perry, 2006
23
2.2 KerangkaTeori
Etiologi :
- Virus, bakteri,trauma
- Obat-obatananesthesia
- Aktifitas fisik intensif pada cuacapanas
- Metabolik
- Dehidrasi
- Overheating
Hipertermia
Farmakologi Pemberian antipiretik Non farmakologi
Water Tepid Sponge
Penurunan suhu
tubuh
(Alves, 2008; El Radhi, 2009; Hartini, 2012; Sodikin, 2012;
Widagdo, 2012).
24
BAB III
METODE PENYUSUNAN KTI
A. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah pasien anak berumur 4 sampai 6
tahun yang mengalami hipertermia.
B. Tempat dan WaktuPenelitian
Pelaksanaan aplikasi riset ini dilakukan Di Rumah Sakit Umum Daerah
Provinsi NTB.
C. Media dan Alat yangDigunakan
1. Media
Air hangat (35°C),
2. Alat
a. Baskom untuk tempat air hangat(35°C),
b. Lap mandi/ wash lap 6buah
c. Selimut mandi1buah
d. Handuk mandi 1buah
e. Perlak besar 1buah
f. Termometer
g. Selimuthipotermi.
25
D. Prosedur Tindakan Berdasarkan AplikasiRiset
Tahap-tahap pelaksanaan tepid water sponge (Rosdahl & Kowalski,
2008)
1. Tahappersiapan
a. Jelaskan prosedur dan demonstrasikan kepada keluarga
caratepid watersponge.
b. Persiapan alat meliputi ember atau baskom untuk tempat air
hangat (35°C), lap mandi/ wash lap 6 buah, selimut mandi
1buah, handuk mandi 1 buah, perlak besar 1 buah,
termometer, selimuthipotermi.
2. Pelaksanaan
a. Beri kesempatan klien untuk buang air sebelum dilakukan
water tepidsponge.
b. Ukur suhu tubuh klien dan catat. Catat jenis dan waktu
pemberian antipiretik padaklien.
c. Buka seluruh pakaian klien dan alas klien denganperlak.
d. Tutup tubuh klien dengan handuk mandi. Kemudian basahkan
wash lap atau lap mandi letakkan lap mandi di dahi, aksila,
dan pangkal paha. Lap ekstermitas selama 5 menit, punggung
dan bokong selama 10-15 menit. Lakukam melap tubuh klien
selama 20menit.
e. Pertahankan suhu air(35°C).
f. Apabila wash lap mulai mengering maka rendam kembali
26
dengan air hangat lalu ulangi tindakan sepertidiatas.
g. Hentikan prosedur jika klien kedinginan atau menggigil atau
segera setelah suhu tubuh klien mendekati normal. Selimuti
klien dengan selimut mandi dan keringkan. Pakaikan klien
baju yang tipis dan mudah menyerapkeringat.
h. Catat suhu tubuh klien sebelum dan sesudahtindakan.
E. Alat UkurEvaluasi
Alat ukur evaluasi dilakukan dengan cara mengukur suhu dengan
menggunakan thermometerdigital.
27
DAFTAR PUSTAKA
Alves, J. G. B., & Almeida, C. D. C. M. [Link] Sponge Plus
Dipyrone versus dipyrone alone for reducing body temperature
in febrile children. Sao Paulo: Medical Journal.
Http://[Link] diunduh tanggal l5 Januari 2020
Bartolomeus, dkk.2012. Pengaruh Kompres Tepid Sponge Hangat
Terhadap Penurunan Suhu Tubuh Pada Anak Umur 1-10 Tahun
Yang Mengalami [Link]://[Link]/ diunduh
tanggal l5 Januari 2020
Bulechek [Link]. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC) Sixth
Edition. Elsevier: The United State of America
Carpenito, Lynda Juall. 2010. Nursing Diagnosis Aplication to Clinical
Practice. J.B. Lippicott Company: Philadelpia
Curran AK, Xia L, Leiter CJ, Bartlett D Jr. 2005. Elevated body
temperature enhances the laryngeal chemoreflex in decerebrate
piglets. J Appl Physiol. Http://[Link]
tanggall5 Januari 2020
Dalal, S., Zhukovsky, D.S. [Link] and Management of
[Link] [Link]://[Link] diunduh tanggal l5
Januari 2020
Dermawan, Deden. 2012. Proses Keperawatan Penerapan Konsep dan
Kerangka Kerja.
Gosyen Publising: Yogyakarta
El-Radhi AS, Carroll J, Klein N, Abbas A. 2009. Clinical manual of fever
in [Link]
9. Berlin: Springer-Verlag; [Link]://[Link]
diunduh tanggal l5 Januari 2020
Profil Kesehatan Indonesia. 2019. Jumlah kasus demam yang disembabkan
[Link]://[Link]/folder/view/01/structure-publikasi-
[Link]. Di unduh 06 januari 2020.
Hartini. 2012. Aplikasi Model Konservasi Myra E. Levine Dalam Asuhan
Keperawata n Pada Anak Dengan Demam Di Ruang Rawat
Infeksi Anak RSUP Dr. Cipto Mangunkusuma.
[Link]://[Link] diunduh tanggal l5 Januari 2020
28
Herdman, T. H. 2012. NANDA Internasional: Diagnosis keperawatan:
Definisi dan klasifikasi 2012-2014. Jakarta:EGC
Huda Amin. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis dan NANDA. Yogyakarta: MediactionPublishing
Moorhead [Link]. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC) Sixth
Edition. Elsevier: The United State of America
Nybo, L. 2008. Hyperthermia and fatigue.J Appl Physiol,
104, 871–878.
Http://[Link] tanggal l5 Januari 2020
Potter, P. A. & Perry, A. G. (2005).Buku Ajar Fundamental Keperawatan
[Link] :
EGC
Potter, P. A. & Perry, A. G. (2006).Buku Ajar Fundamental Keperawatan
[Link] :
EGC
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2010).Fundamentals of nursing:
fundamental keperawatan;
buku 2 edisi 7. Jakarta: Salemba Medika.
Rosdahl, C b., & Kowalski, M.T. [Link] Of Basic Nursing Edisi 9.
Philadelphia: Wolters Kluwer Health- Lippincoth William &
Wilkins
Setiadi. 2012. Konsep dan Penulisan DokumentasiAsuhan Keperawatan
Teoridan Praktik.
Yogyakarta: Graha Ilmu
Setiawati, T. (2009).Pengaruh tepid sponge terhadap penurunan suhu
tubuh dan kenyamanan pada anak usia pra sekolah dan sekolah
yang mengalai demam di ruang perawatan anak Rumah Sakit
Muhammadiyah. Bandung: Universitas Indonesia Fakultas Ilmu
Keperawatan. . Http://[Link] diunduh tanggal l5 Januari 2020
Silbernagl, S., & Lang, F. [Link] dan atlas berwarna patofisiologi.
Jakarta:EGC. Sodikin. 2012. Prinsip Perawatan Demam Pada Anak.
Yogyakarta: PustakaPelajar
Suprapti.2008. Perbedaan Pengaruh Kompres hangat dengan Kompres
Dingin terhadap penurunan suhu tubuh pada pasien anak karena
infeksi di BP RSUD Djojonegoro
29
[Link]://[Link]/diunduhtanggal l5
Januari 2020
Widyastuti.2013. Asuhan Kebidanan pada balita dengan febris di BPM
Siti Nuraini Ngunut Tohkuning KarangPandan
[Link]://[Link] diunduh
tanggal l5 Januari 2020
30