JSK (Jurnal Sistem Informasi dan Komputerisasi Akuntansi) Vol 02 No 01 ISSN : 2579-4477
Sistem Pakar Hama dan Penyakit Pada Tanaman Kentang Menggunakan Metode
Dampster-Shafer
Nur Aini Hutagalung
Sistem Informasi, STMIK Prabumulih
Jalan Patra No 50, Sukaraja, Prabumulih Utara, Prabumulih
ainihutagalung@[Link]
Abstrak
Indonesia merupakan Negara Agraris yang memiliki potensi yang baik dalam bidang
pertanian dan perkebunan. Sebagian besar penduduk Indonesia bekerja sebagai petani , komoditas
pertanian utama yang dihasilkan petani Indonesia adalah [Link] tingkat kebutuhan
penduduk indonesia akan kentang membuat para petani antusias untuk menghasilkan kentang yang
berkualitas baik dengan panen maksimal. Salah satu permasalahan umum yang dihadapi para petani
adalah adanya serangan hama dan penyakit, jika petani tidak peka terhadap serangan hama dan
penyakit bisa mengakibatkan kegagalan panen. Untuk mengatasi permasalahan diatas dibutuhkan
sebuah sistem yang dapat membantu dalam menyelesaikan masalah yaitu sistem pakar dengan
menggunakan metode Dampster-Shafer, yang dapat digunakan dalam mendiaknosa hama dan
penyakit pada tanaman kentang, sehingga dengan adanya sistem pakar ini dapat membantu
khususnya petani dalam menghadapi hama dan peyakit pada tanaman kentang.
Kata Kunci : Sistem Paka, Hama, Tanaman Kentang, Dampster-Sharfer
Abstract
Indonesia is an agricultural country that has good potential in agriculture and plantation.
Most Indonesians work as farmers, the main agricultural commodities produced by Indonesian
farmers are potatoes. The high level of Indonesian population demand for potatoes makes the farmers
enthusiastic to produce good quality potatoes with maximum harvest. One of the common problems
faced by farmers is the presence of pests and diseases, if farmers are not sensitive to pests and
diseases can result in crop failure. To overcome the above problems required a system that can help
in solving the problem of expert systems using Dampster-Shafer method, which can be used in
mendiaknosa pests and diseases in potato plants, so that with this expert system can help, especially
farmers in the face of pests and diseases on potato crops.
Keywords: Expert System, Pest, Potato Plant, Dampster-Sharfer
I. PENDAHULUAN petani Indonesia adalah kentang. Bahan
makanan ini merupakan makanan pokok bagi
Indonesia merupakan negara agraris sebagian besar penduduk Indonesia, meskipun
yang menghasilkan beraneka ragam hasil kentang dapat digantikan oleh makanan
produksi pertanian dan perkebunan, salah lainnya. Kentang (Solanum tuberosum L.)
satunya yaitu hasil produksi pertanian adalah merupakan salah satu komoditas potensial
tanaman dan buah-buahan [1]. Sebagian besar sebagai sumber karbohidrat dan mempunyai
penduduk Indonesia bekerja sebagai petani. arti penting pada perekonomianIndonesia.
Komoditas pertanian utama yang dihasilkan
33 [Link]
JSK (Jurnal Sistem Informasi dan Komputerisasi Akuntansi) Vol 02 No 01 ISSN : 2579-4477
Salah satu kendala produksi kentang adalah kecerdasan buatan ada 2 bagian utama yang
serangan penyakit dan hama[2]. sangat dibutuhkan yaitu[1] :
Tingginya tingkat kebutuhan a. Basis Pengetahuan (Knowledge
penduduk indonesia akan kentang membuat Base), berisi fakta-fakta, teori
para petani antusias untuk menghasilkan pemikiran dan hubungan antara
kentang yang berkualitas baik dengan satu dengan yang lainnya.
panen maksimal. Salah satu permasalahan b. Motor Inferensi (Inference
umum yang dihadapi para petani adalah Engine) yaitu kemampuan
adanya serangan hama dan penyakit, jika menarik kesimpulan berdasarkan
petani tidak peka terhadap serangan hama pengalaman. Konsep kecerdasan
dan penyakit bisa mengakibatkan kegagalan dapat dilihat pada Gambar 1di
panen[3]. Penanganan dini menjadi solusi bawah ini.
yang sangat penting guna mengatasi
permasalahan tersebut, untuk itu petani juga
harus mempunyai pengetahuan mengenai
serangan hama dan penyakit agar serangan
hama dan penyakit dapat diatasi. Berbeda
halnya jika petani tidak mempunyai
pengetahuan akan serangan hama dan
penyakit maka mereka membutuhkan
seorang pakar atau ahli di bidang pertanian, Gambar 1. Konsep Kecerdasan Buatan
akan tetapi terbatasnya jumlah pakar
mengakibatkan permasalahn ini kurang 2.2 Sistem Pakar (Expert System)
bisa diatasi. Untuk mengatasi permasalahan sistem pakar mengkombinasikan
diatas dibutuhkan sebuah sistem yang dapat kaidah-kaidah penarikan kesimpulan
membantu dalam menyelesaikan masalah (inference rules) dengan basis pengetahuan
yaitu sistem pakar. tertentu yang diberikan oleh satu atau lebih
Sistem pakar adalah sistem yang pakar dalam bidang tertentu. Kombinasi
berusaha mengadopsi pengetahuan manusia dari kedua hal tersebut disimpan dalam
ke komputer, agar komputer dapat komputer, yang selanjutnya digunakan
menyelesaikan masalah seperti yang biasa dalam pengambilan keputusan untuk
dilakukan oleh para ahli. Sistem pakar yang penyelesaian masalah tertentu [4].
baik dirancang agar dapat menyelesaikan 2.3 Hama
suatu permasalahan tertentu dengan meniru Hama pada tanaman mungkin
kerja dari para ahli . Dengan bantuan sudah tidak asing lagi ditelinga. Akan
sistempakar, diharapkan bahwa orang tetapi, sebenarnya jenis hama pada semua
awam pun dapatmenyelesaikan masalah tanaman tidaklah sama. Hama pada suatu
yang cukup rumit yang sebenarnyahanya tanaman tertentu biasanya akan berbeda
dapat diselesaikan dengan bantuan para dengan tanaman lainnya. Pada tanaman
ahli. kentang terdiri dari [5].
1. Penggerek umbi/daun Phthorimaea
operculella
II. KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kecerdasan Buatan
Kecerdasan buatan berasal dari kata
Artificial Intelligence yang mengandung
arti tiruan atau kecerdasan. Secara harfiah
Artificial Intelligenceadalah kecerdasan
buatan. Kecerdasan buatan adalah salah
satu bidang dalam ilmu komputer yang
membuat komputer agar dapat bertindak
dan sebaik seperti manusia (menirukan
Gambar 2. Hama Penggerek Umbi
kerja otak manusia). Pada aplikasi
34 [Link]
JSK (Jurnal Sistem Informasi dan Komputerisasi Akuntansi) Vol 02 No 01 ISSN : 2579-4477
2. Pengorok daun Liriomyza 2.4 Penyakit Kentang
huidobrensis Tanaman kentang juga perlu dijaga
dari serangan hama dan penyakit . Penyakit
yang menyerang kentang, antara lain [5] :
1. Penyakit layu bakteri Ralstonia
solanacearum
Gejala serangan dapat muncul sejak
umur tanaman lebih dari satu bulan.
Daun-daun menjadi layu yang
dimulai dari daun muda atau pucuk.
Berkas pembuluh pada pangkal
Gambar 3. Hama Pengorok Daun batang berwarna coklat, dan bila
ditekan keluar lendir yang berwarna
3. Ulat tanah Agrotis ipsilon
abu-abu keruh.
2. Penyakit busuk daun cendawan
Phytophthora infestans
Gejala awal berupa bercak basah
pada bagian tepi daun atau tengah
daun. Bercak melebar sehingga
membentuk daerah berwarna
coklat. Bercak aktif diliputi oleh
masa sporangium seperti tepung
putih dengan latar belakang hijau
Gambar 4. Hama Ulat Tanah kelabu. Serangan dapat menyebar
ke tangkai, batang dan umbi.
4. Kutu daun Myzus persicae
Serangan berat dapat
menghancurkan pertanaman.
3. Penyakit bercak kering cendawan
Gejala serangan awal adalah
bercak-bercak kecil agak
membulat, berbatas jelas, dengan
lingkaran-lingkaran konsentrik.
Bercak dilatarbelakangi warna
daun yang agak menguning.
Bercak yang membesar jarang
membentuk bulatan karena
dibatasi oleh urat-urat daun yang
Gambar 5. Hama Kutu Daun
besar.
5. Hama pemakan daun ulat grayak 4. Penyakit daun menggulung virus
Spodoptera PLRVGejala serangannya adalah
anak daun dari tanaman yang
terserang menggulung ke atas
atau cekung ke arah tulang daun
utama dan kedudukan tangkai daun
lebih tegak. Jika diraba daun terasa
lebih kaku daripada daun
tanaman sehat.
5. Nematoda bengkak akar
Gejala pada umbi tampak seperti
jerawat atau puru. Jika umbi
dibelah, pada bagian puru akan
tampak nematoda betina seperti
Gambar 6. Hama Pemakan Daun buah pir (0,3-0,6mm x 0,5-1,2
35 [Link]
JSK (Jurnal Sistem Informasi dan Komputerisasi Akuntansi) Vol 02 No 01 ISSN : 2579-4477
mm), berwarna putih transparan, fungsi kombinasi m1dan m2 sebagai m3,
dan mudah dilepaskan dari daging dengan rumus seperti berikut [6] :
umbi.
2.5 Metode Dempster Shafer
Ada berbagai macam penalaran
dengan model yang lengkap dan sangat
konsisten, tetapi pada kenyataannya banyak
permasalahan yang tidak dapat
terselesaikan secara lengkap dan konsisten.
Ketidakkonsistenan tersebut adalah akibat Dengan :
adanya penambahan fakta baru. Penalaran m1 (X) adalah massfunction dari evidence
yang seperti itu disebut dengan X
penalaran non monotonis. Untuk mengatasi m2 (Y) adalah massfunction dari evidence
ketidakkonsistenan tersebut maka dapat Y
menggunakan penalaran dengan teori m3 (Z) adalah massfunction dari evidence Z
Dempster-Shafer. Secara umum teori κadalah jumlah conflict evidence
Dempster-Shafer ditulis dalam suatu
interval [6] : [Belief,Plausibility]Belief
(Bel) adalah ukuran kekuatan evidence III. METODELOGI PENELITIAN
dalam mendukung suatu hipotesa, jika Subjek yang akan dibahas pada
bernilai 0 makamengindikasikan bahwa penelitian ini adalah sistem pakar hama dan
tidak ada evidence, dan jika bernilai 1 penyakit tanaman kentang menggunakan
menunjukkan adanya kepastian atau metode Dempster-Shafer. Adapun metode
Plausibility (Pl), yang dinotasikan sebagai pendekatan yang dipakai adalah ESDLC
[6] : (Expert System Development Life Cycle)
Pl(H) = 1 –Bel dari Durkin dan Work Breakdown Structure
(⌐H)....................................(1) (Dawson, 2005) berikut untuk
Plausibility juga bernilai 0 sampai menggambarkan rincian tahapan-
1. Jika yakin akan ⌐H, maka dapat tahapannya [7].
dikatakan bahwa Bel (⌐H)=1, dan Pl
(⌐H)=0. Pada teori Dempster-Shafer
dikenal adanya frame of discrement yang
dinotasikan denganθ. Frame ini merupakan
semesta pembicaraan dari sekumpulan
hipotesis. Tujuannya adalah mengaitkan
ukuran kepercayaan elemen-elemen θ.
Tidak semua evidence secara langsung
mendukung tiap-tiap elemen. Untuk itu
perlu adanya probabilitas fungsi densitas
(m). Nilai m tidak hanya mendefinisikan
elemen-elemen θ saja, namun juga semua
subsetnya. Sehingga jika θ berisi n elemen,
maka subset θ adalah 2n. Jumlah semua m
dalam subset θ sama dengan 1. Apabila
tidak ada informasi apapun untuk memilih
hipotesis, maka nilai : m{θ} = 1,0 .Apabila
diketahui X adalah subset dari θ, dengan
m1sebagai fungsi densitasnya, dan Y juga
merupakan subset dari θ dengan m2 sebagai
fungsi densitasnya, maka dapat dibentuk
36 [Link]
JSK (Jurnal Sistem Informasi dan Komputerisasi Akuntansi) Vol 02 No 01 ISSN : 2579-4477
[Link] (Assessment) Tahap dokumentasi diperlukan
Merupakan proses untuk untuk mengkompilasi semua informasi
menentukan kelayakan dan justifikasi atas proyek sistempakar ke dalam bentuk
permasalahan yang akan diambil. Setelah dokumen yang dapat memenuhi persyaratan
proyek pengembangan dianggap layak dan yang dibutuhkan pengguna dan
sesuai dengan tujuan, maka selanjutnya pengembang sistem. Dokumentasi tersebut
ditentukan fitur-fitur penting dan ruang menjelaskan tentang bagaimana
lingkup proyek serta sumber daya yang mengoperasikan sistem, instalasi,
[Link] pengetahuan yang kebutuhan minimum sistem maupun
diperlukan diidentifikasi dan ditentukan bantuan yang mungkin diperlukan oleh
persyaratan-persyaratan proyek. pengguna maupun pengembang sistem
[Link] Pengetahuan pakar. Selain hal tersebut, maka secara
Merupakan proses untuk khusus harus juga mendokumentasikan
mendapatkan pengetahuan tentang kamus data pengetahuan maupun prosedur
permasalahan yang akan dibahas dan penelusuran masalah dalam mesin
digunakan sebagai panduan dalam inferensinya.
pengembangan. Pengetahuan ini digunakan [Link]
untuk memberikan informasi tentang Setelah sistem digunakan dalam
permasalahan yang menjadi bahan acuan lingkungan kerja, maka selanjutnya
dalam mendesain sistem pakar. Tahap ini diperlukan pemeliharaan secara
meliputi studi dengan diadakannya [Link] itu sifatnya tidak statis
pertemuan dengan pakar untuk membahas melainkan terus tumbuh dan
aspek dari permasalahan. [Link] dari sistem perlu
[Link] diperbaharui atau disempurnakan untuk
Berdasarkan pengetahuan yang memenuhi kebutuhan saat ini.
telah didapatkan dalam proses Akuisisisi
pengetahuan, maka desain antarmuka
IV. PEMBAHASAN
maupun teknik penyelesaian masalah dapat
4.1 Perhitungan Dempster-Shafer
diimplementasikan kedalam sistem pakar.
Perhitungan Manual menggunakan
Dalam tahap desain ini, seluruh struktur dan
metode Dempster-Shafer berfungsi untuk
organisasi dari pengetahuan harus
memberikan gambaran umum tentang
ditetapkan dan dapat direpresentasikan
sistem yang akan dibangun. Proses
kedalam sistem. Pada tahap desain, sebuah
perhitungan manualisasi metode Dempster-
sistem prototype di bangun. Tujuan dari
Shafer terdapat beberapa langkah [8].
pembangunan prototype tersebut adalah
untuk memberikan pemahaman yang lebih
Contoh Kasus 1
baik atas masalah.
Pada kasus ini akan diberikan
[Link]
contoh dengan memasukan 1 gejala.
Tahap ini dimaksudkan untuk
Perhitungan ini dimisalkan user
menguji apakah sistem pakar yang
memasukkan gejala daun menjadi layu
dibangun telah sesuai dengan tujuan
yang dimulai dari daun muda.
pengembangan maupun kesesuaian kinerja
Gejala 1 : daun menjadi layu yang dimulai
sistem dengan metode penyelesaian
dari daun muda
masalah yang bersumber dari pengetahuan
Dilakukan observasi daun menjadi
yang sudah didapkan. Apabila dalam tahap
layu yang dimulai dari daun [Link]
ini terdapat bagian yang harus dievaluasi
gejala dari penyakit dengan nilai m{P3} =
maupun dimodifikasi maka hal tersebut
0.7 ,m{P4} = 0.4 untuk m1 nilai densitas
harus segera dilakukan agar sistem pakar
yang terpilih adalah yang tertinggi, maka :
dapat berfungsi sebagaimana tujuan
pengembangannya.
[Link]
Dari perhitungan diatas dikarenakan gejala
yang diambil hanya satu. Jadi hasil
37 [Link]
JSK (Jurnal Sistem Informasi dan Komputerisasi Akuntansi) Vol 02 No 01 ISSN : 2579-4477
diagnosa dapat disimpulkan bahwa tanaman
kentang mengalami penyakit layu bakteri
(Ralstonia solanacearum).
Contoh Kasus 2
Pada kasus ini akan diberikan
contoh dengan memasukan 2 gejala. Dari hasil perhitungan dengan metode.
Perhitungan ini dimisalkan user Dempster-Shafer, nilai densitas paling
memasukkan gejala bercak basah pada tinggi adalah 0.54 dapat disimpulkan
bagian tepi daun atau tengah daun, dan penyakit yang menyerang tanaman kentang
bercak basah pada bagian tepi daun atau kemungkinan adalah Penyakit busuk
tengah daun. daun cendawan (Phytophthora
Gejala 1 :daun menjadi layu yang dimulai infestans).
dari daun muda
Dilakukan observasi daun menjadi
layu yang dimulai dari daun [Link] KESIMPULAN
gejala dari penyakit dengan nilai m{P3} = Dari pembahasan bab-bab sebelumnya,
0.7 ,m{P4} = 0.4 untuk m1 nilai densitas maka dapat disimpulkan :
yang terpilih adalah yang tertinggi, maka : 1. sistem pakar dengan menggunakan
metode Dampster-Sharfer untuk
mendiagnosa hama dan penyakit
tanaman kentang adalah suatu sistem
Gejala 2 :bercak basah pada bagian tepi untuk mendiagnosa hama dan penyakit
daun atau tengah daun pada tanaman kentang dengan cara
Kemudian dilakukan penambahan mengkombinasikan potongan
gejala bercak basah pada bagian tepi daun informasi yang terpisah yang
atau tengah daun, setelah diobservasi gejala selanjutnya mengkalkulasi
tersebut sebagai gejala dari penyakit dengan kemungkinan terhadap tanaman
nilai densitas m{P5} = 0.7, m{P7} = 0.8 kentang.
untuk m2 nilai densitas yang terpilih adalah 2. Sistem Pakar ini dapat menjdi referensi
yang tertinggi, maka : bagi para petani atau individu yang
membutuhkan informasi mengenai
hama dan penyakit pada tanaman
kentang yang dapat mendiagnosa
gejala yang dialami oleh tanaman
Maka dihitung nilai densitas baru untuk kentang mereka.
beberapa kombinasi dengan fungsi densitas
m3dapat dilihat pada Tabel 1.
SARAN
Penulis menyadari masih banyak
Tabel 1. Aturan Kombinasi Untuk m3
kekurangan dan kelemahan, dalam sistem
Kasus 2
pakar ini , maka saran yang penulis
m2
m1 diberikan sebagai berikut :
1. Perlu adanya perbandingan metode
dalam implementasi sistem pakar
pada kasus yang sama.
Perbandingan metode digunakan
untuk mendapatkan validasi hasil
Sehingga dapat dihitung dengan Persamaan yang lebih maksimal.
2. Sistem ini hanya dapat digunakan
berikut : untuk mendiagnosa 5 jenis hama
dan 5 jenis penyakit tanaman
kentang. Untuk penelitian
selanjutnya dapat dikembangkan
38 [Link]
JSK (Jurnal Sistem Informasi dan Komputerisasi Akuntansi) Vol 02 No 01 ISSN : 2579-4477
sistem yang dapat mendiagnosa Garut, vol. 14, no. 1, pp. 311–318,
lebih dari 5 jenis hama dan 5 jenis 2017.
penyakit tanaman kentang.
[8] S. Orthega, N. Hidayat, and E.
Santoso, “Implementasi Metode
Dempster-Shafer untuk Mendiagnosa
REFRENSI Penyakit Tanaman Padi,” vol. 1, no.
10, pp. 1–8, 2017.
[1] F. Susanti and S. Winiarti, “Sistem
Pakar Penentuan Kesesuaian Lahan
Pertanian Untuk Pembudidayaan
Tanaman Buah-,” Yogyakarta, vol. 1,
pp. 317–326, 2013.
[2] C. Javandira, “ Pengendalian Penyakit
BusukLunak Umbi Kentang (Erwinia
carotovora) Dengan Memanfaatkan
Agens Hayati Bacillus subtilis dan
Pseudomonas fluorescens,” J. HPT,
vol. 1 (1), no. April, pp. 90–97, 2013.
[3] C. Oktaviana, D. Destiani, and S.
Fatimah, “Rancang Bangun Sistem
Pakar Penanganan Penyakit dan Hama
Tanaman Kentang,” Garut, vol. 14,
pp. 51–60, 2017.
[4] Samsudin, Usman, and Selviana,
“Aplikasi Ssistem Pakar Diagnosa
Penyakit Pernapasan Menggunakan
Metode Case-based Reasoning,” J.
Ipteks Terap., vol. 11, no. 4, pp. 272–
281, 2017.
[5] A. S. Duriat, O. S. Gunawan, and N.
Gunaeni, Penerapan Teknologi PHT
Pada Tanaman Kentang. Lembang-
Bandung: BALAI PENELITIAN
TANAMAN SAYURAN, 2006.
[6] E. D. Rikhiana and A. Fadlil,
“Implementasi Sistem Pakar Untuk
Mendiagnosa Penyakit Dalam Pada
Manusia Menggunakan Metode
Dempster Shafer,” Yogyakarta, vol. 1,
pp. 1–10, 2013.
[7] D. Destiani, S. Fatimah, and I.
Maulana, “Perancangan Sistem Pakar
Permasalahan Siswa di Sekolah,”
39 [Link]