PERAN PEMERINTAH DESA DALAM
PERENCANAAN PEMBANGUNAN
Dosen Pembimbing :
Dr. Ahmad Fitra Yuza, [Link], M.A.
DISUSUN OLEH :
NAMA : BAYU ARSIADI
NPM : 207322117
PROGRAM PASCASARJANA
ILMU PEMERINTAHAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
KOTA PEKANBARU
TAHUN 2021
1
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Berdasarkan Undang-undang Nomor 4 tahun 2014 tentang Desa
Pembangunan Desa bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa dan
kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan melalui pemenuhan
kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana Desa, pengembangan
potensi ekonomi lokal, serta pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan
secara berkelanjutan.
Pembangunan Desa meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan
pengawasan. Pembangunan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
mengedepankan kebersamaan, kekeluargaan, dan kegotongroyongan guna
mewujudkan pengarusutamaan perdamaian dan keadilan sosial.
Kenyataan selama ini menunjukan bahwa suatu pembangunan secara
besarbesaran dari masyarakat desa masih menemui kesulitan dan kendala yang
disebabkan oleh keterbatasan dana dan sumber daya manusia yang terbatas untuk
menjangkau daerah pedesaan secara keseluruhan, sehingga pembangunan desa
sedapat mungkin harus direalisasikan dengan bantuan minimal dari pemerintah.
Dengan kondisi seperti itu maka partisipasi masyarakat desa itu sendiri menjadi
sangat penting dan menentukan keberhasilan pembangunan desa.
Dari kekurangan itulah yang menyebabkan kurangnya peranan pemerintah
Desa selaku aparatur pemerintah desa dalam pelaksanaan tugasnya terutama untuk
2
menyiapkan bahan dan informasi yang dibutuhkan dalam perencanaan
pembangunan yang hasilnya masih minim atau belum terlaksana secara optimal.
Masih lemahnya peranan pemerintah desa untuk mengajak atau menghimbau
masyarakat agar ikut berpartisipsi menyampaikan pendapat dalam pengambilan
keputusan menyangkut kepentingan masyarakat terkait dalam pelaksanaan
pembangunan di Desa.
2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana peranan pemerintah desa dalam pembangunan ?
b. Bagaimana menciptakan konsep pembangunan bagi pemerintah desa ?
3. Tujuan
a. Mengetahui peranan pemerintah desa dalam pembangunan
b. Mengetahui konsep pembangunan pemerintah desa
3
BAB II
PEMBAHASAN
1. Peranan
Peran diartikan sebagai perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh
orang yang berkedudukan dimasyarakat. Kedudukan dalam hal ini diharapkan
sebagai posisi tertentu di dalam masyarakat yang mungkin tinggi. Sedang-sedang
saja atau rendah. Kedudukan adalah suatu wadah yang isinya adalah hak dan
kewajiban [Link] hak dan kewajiban tersebut dapat dikatakan sebagai
[Link] karena itu, maka seseorang yang mempunyai kedudukan tertentu dapat
dikatakan sebagai pemegang peran (role accupant). Suatu hak sebenarnya
merupakan wewenang untuk berbuat atau tidak berbuat, sedangkan kewajiban
adalah beban atau tugas.
Secara sosiologis peranan adalah aspek dinamis yang berupa tindakan atau
perilaku yang dilaksanakan oleh seseorang yang menempati atau memangku suatu
posisi dan melaksanakan hak-hak dan kewajiban sesuaian dengan kedudukannya.
Jika seseorang menjalankan peran tersebut dengan baik, dengan sendirinya akan
berharap bahwa apa yang dijalankan sesuai dengan keinginan diri lingkugannya.
Peran secara umum adalah kehadiran di dalam menentukan suatu proses
keberlangsungan. Peranan merupakan dinamisasi dari statis ataupun penggunaan
dari pihak dan kewajiban atau disebut subyektif. Peran dimaknai sebagai tugas
atau pemberian tugas kepada seseorang atau sekumpulan [Link] memiliki
aspek-aspek sebagai berikut:
4
1) Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau
seseorang dalam [Link] dalam arti ini merupakan rangkaian
peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan masyarakat.
2) Peranan adalah suatu konsep perihal yang dapat dilakukan oleh individu
dalam masyarakat sebagai organisasi.
3) Peranan juga dapat diartikan sebagai perilaku individu yang penting bagi
struktur sosial masyarakat.
Jenis-jenis peran adalah sebagai berikut :
1) Peranan normatif adalah peran yang dilakukan seseorang atau lembaga
yang didasarkan pada seperangkat norma yang dilakukan berlaku dalam
kehidupan masyarakat.
2) Peran ideal adalah peranan yang dilakukan oleh seseorang atau lembaga
yang didasarkan pada nilai-nilai ideal atau yang seharusnya dilakukan
sesuai dengan kedudukannya didalam suatu sistem.
3) Peran faktual adalah peranan yang dilakukan seseorang atau lembaga
yang didasarkan pada kenyataan secara kongkrit dilapangan atau
kehidupan sosial yang terjadi secara nyata.
2. Pemerintah Desa
Pemerintahan diartikan sebagai sekumpulan orang yang mengelola
kewenangan, melaksanakan kepemimpinan, dan koordinasi pemerintahan serta
pembangunan masyarakat dari lembaga-lembaga tempat mereka bekerja.
5
Menurut Syafi’ie secara etimologi, pemerintahan dapat diartikan sebagai
berikut:
a. Perintah berarti melakukan pekerjaan menyuruh, yang berarti didalamnya
terdapat dua pihak, yaitu yang memerintah memiliki wewenang dan yang
diperintah memiliki kepatuhan akan keharusan.
b. Setelah ditambah awalan “pe” menjadi pemerintah, yang berarti badan
yang melakukan kekuasaan memerintah.
c. Setelah ditambah lagi akhiran “an” menjadi pemerintahan, berarti
perbuatan, cara, hal atau urusan dari badan yang memerintah tersebut.
Pemerintahan dalam arti luas adalah segala urusan yang dilakukan oleh
Negara dalam menyelenggarakan kesejahteraan rakyatnya dan kepentingan
Negara sendiri, jadi tidak diartikan sebagai Pemerintah yang hanya menjalankan
tugas eksekutif saja, melainkan juga meliputi tugas-tugas lainnya termasuk
legislatif dan yudikatif. Pemerintahan Desa adalah suatu proses pemaduan usaha-
usaha masyarakat desa yang bersangkutan dengan usaha-usaha pemerintah untuk
meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Dalam undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa Pasal 23,
ditegaskan bahwa Pemerintahan Desa diselenggarakan oleh Pemerintahan Desa.
Pada Pasal 1 ayat 3 dirumuskan bahwa: Pemerintahan Desa adalah Kepala Desa
atau yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat Desa sebagai unsur
penyelenggara Pemerintahan Desa. Jadi pemerintahan Desa merupakan organisasi
penyelenggara pemerintahan Desa yang terdiri atas:
6
a. Unsur Pimpinan, yaitu kepala Desa,
b. Unsur Pembantu Kepala Desa (Perangkat Desa), yang terdiri atas:
1) Sekretariat desa, yaitu unsur staf atau pelayanan yang diketuai oleh
sekretaris desa,
2) Unsur pelaksana teknis, yaitu unsur pembantu kepala desa yang
melaksanakan urusan teknis di lapangan seperti urusan pengairan,
keagamaan, dan lain-lain
3) Unsur kewilayahan, yaitu pembantu kepala desa di wilayah kerjanya
seperti kepala dusun.
Dalam pemerintah daerah Kabupaten/Kota di bentuk pemerintahan desa yang
terdiri dari kepala desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan perangkat desa
sebagai unsur penyelenggaraan pemerintah desa. Perangkat desa terdiri dari
Sekretaris Desa (SEKDES) dan perangkat desa lainnya. Sekretaris desa diisi dari
pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan, pembentukan, penghapusan,
dan penggabungan desa dengan memperhatikan asal usul dan prakarsa masyarakat
pemerintah desa bersama BPD yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah
(PERDA).
Pemerintah desa adalah unsur penyelenggaraan pemerintah desa, menurut
Nurcholis (2005 : 138) pemerintah mempunyai tugas pokok:
a. Melaksanakan urusan rumah tangga desa, urusan pemerintahan umum,
membangun dan membina masyarakat
7
b. Menjalankan tugas pembantuan dari pemerintah, pemerintah provinsi dan
pemerintah kabupaten.
Dari tugas pokok tersebut lahirlah fungsi pemerintah desa yang berhubungan
langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Fungsi
pemerintah desa merupakan gejala sosial, karena harus diwujudkan dalam
interaksi antar individu didalam situasi sosial suatu kelompok masyarakat (Rivai,
2004 : 53).
3. Konsep Pembangunan Desa
Menurut S P. Siagian (1987:2) pembangunan adalah suatu usaha atau
rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan terencana yang dilakukan secara
sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka
pembangunan bangsa/ nation building. Sementara Riyono Pratikno (1979:119)
mendefenisikan pembangunan sebagai suatu jenis perubahan sosial dimana
diperkenalkan berbagai gagasan baru ke dalam sistem sosial untuk meningkatkan
penghasilan perkapita serta standar hidup.
Definisi pembangunan desa atau pembangunan masyarakat desa yang telah
diterima secara luas dan dijadikan landasan dalam pembangunan desa dibanyak
negaranegara sedang berkembang, adalah yang ditetapkan oleh perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1956, yang berbunyi sebagai berikut:
pembangunan masyarakat desa adalah suatu proses, baik usaha-usaha masyarakat
yang bersangkutan yang diambil berdasarkan prakarsa sendiri, maupun kegiatan
pemerintah, dalam rangka memperbaiki kondisi ekonomi, sosial dan kebudayaan
8
masyarakat dan mengintegrasikan kehidupan masyarakatmasyarakat itu kedalam
kehidupan bangsa, dan memampukan mereka untuk memberi sumbangan
sepenuhnya demi kemajuan nasional.
Dalam definisi tersebut kemudian dijelaskan bahwa, proses pembangunan
desa tersebut meliputi dua elemen dasar, yaitu pertama partisipasi masyarakat itu
sendiri dalam rangka usaha mereka memperbaiki taraf hidup mereka sedapat-
dapatnya berdasarkan kekuatan atau prakarsa sendiri, dan keduabantuan dan
pelayanan teknis yang bermaksud membangkitkan prakarsa, tekad untuk
menolong diri sendiri dan kesediaan membantu orang lain, dari pemerintah.
Program tersebut biasanya menyangkut kepentingan umum masyarakat setempat (
PBB, dalam, Taliziduhu, 1997).
Konsepsi pembangunan desa yang di laksanakan di Indonesia sejak awal
pembangunan berencana tidak jauh berbeda dengan pengertian yang dikemukakan
oleh PBB tersebut di atas. Dalam Undang-Undang Nomor 85 Tahun 1958 tentang
Repelita 1956-1960 disebutkan bahwa tujuan pembangunan masyarakat desa
adalah meningkatkan taraf penghidupan masyarakat desa dengan jalan
melaksanakan pembangunan yang integral dari pada masyarakat desa,
berdasarkan asas kekuatan sendiri dari pada masyarakat desa serta atas
pemufakatan bersama antara anggotaanggota masyarakat desa dengan bimbingan
serta bantuan pemerintah yang bertindak sebagai suatu keseluruhan dalam rangka
kebijaksanaan umum yang sama.
9
4. Peranan Pemerintah Desa Dalam Pembangunan Desa
Menurut Inu Kencana (2006:201), Desa adalah suatu wilayah yang ditempati
oleh sejumlah penduduk sebagai suatu kesatuan masyarakat termasuk didalamnya
kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah
langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri
dalam ikatan Negara kesatuan Republik Indonesia.
Aparatur pemerintah desa sebagai pemimpin juga sebagai penyelenggara
pembangunan harus memiliki tanggung jawab atas perubahan yang akan terjadi,
baik perubahan yang terjadi didalam masyarakat maupun perubahan sosial
kemasyarakatan. Untuk itu pemerintah desa selaku kepala pemerintahan dalam
usaha mengantisipasi perubahan-perubahan tersebut harus memiliki kemampuan
untuk berfikir dan berbuat secara rasional dalam mengambil keputusan yang akan
terjadi ditengah-tengah masyarakat.
Disamping itu keputusan yang nantinya kan diambil tanpa memberatkan
rakyat banyak. Kemudian Secara lebih jelas dan detail, peran pemerintah dalam
pembangunan nasional dikemukakan oleh Siagian (2000: 142-150) yaitu
pemerintah memainkan peranan yang dominan dalam proses pembangunan. Peran
yang disoroti adalah sebagai stabilisator, innovator, modernisator, pelopor dan
pelaksana sendiri kegiatan pembangunan tertentu. Secara lebih rinci peran
tersebut diuraikan sebagai berikut:
a. Stabilisator, peran pemerintah adalah mewujudkan perubahan tidak
berubah menjadi suatu gejolak sosial, apalagi yang dapat menjadi
10
ancaman bagi keutuhan nasional serta kesatuan dan persatuan bangsa.
Peran tersebut dapat terwujud dengan menggunakan berbagai cara antara
lain: kemampuan selektif yang tinggi, proses sosialisasi yang elegan tetapi
efektif., melalui pendidikan, pendekatan yang persuasive dan pendekatan
yang bertahap tetapi berkesinambungan.
b. Inovator, dalam memainkan peran selaku innovator pemerintah sebagai
keseluruhan harus menjadi sumber dari hal-hal baru. Jadi prakondisi yang
harus terpenuhi agar efektif memainkan peranannya pemerintah perlu
memiliki tingkat keabsahan (legitimacy) yang tinggi. Suatu pemerintahan
yang tingkat keabsahannya rendah, misalnya karena “menang” dalam
perebutan kekuasaan atau karena melalui pemilihan umum yang tidak
jujur dan tidak adil, akan sulit menyodorkan inovasinya kepada
masyarakat. Tiga hal yang mutlak mendapatkan perhatian serius adalah,
penerapan inovasi dilakukan dilingkungan birokrasi terlebih dahulu,
inovasi yang sifatnya konsepsional, inovasi sistem, prosedur dan metode
kerja.
c. Modernisator, melalui pembangunan, setiap negara ingin menjadi negara
yang kuat, mandiri, diperlakukan sederajat oleh negara-negara lain. Untuk
mewujudkan hal tersebut, diperlukan antara lain: penguasan ilmu
pengetahuan, kemampuan dan kemahiran manajerial, kemampuan
mengolah kekayaan alam yang dimiliki sehingga memiliki nilai tambah
yang tinggi, sistem pendidikan nasional yang andal yang menghasilkan
sumber daya manusia yang produktif, landasan kehidupan politik yang
11
kukuh dan demokratis, memiliki visi yang jelas tentang masa depan yang
diinginkan sehingga berorientasi pada masa depan.
d. Pelopor, selaku pelopor pemerintah harus menjadi panutan (role model)
bagi seluruh masyarakat. Pelopor dalam bentuk hal-hal, positif seperti
kepeloporan dalam bekerja seproduktif mungkin, kepeloporan dalam
menegakkan keadilan dan kedisiplinan, kepeloporan dalam kepedulian
terhadap lingkungan, budaya dan sosial, dan kepeloporan dalam
berkorban demi kepentingan negara.
e. Pelaksana sendiri, meskipun benar bahwa pelaksanaan berbagai kegiatan
pembangunan merupakan tanggung jawab nasional dan bukan menjadi
beban pemerintah semata, karena berbagai pertimbangan seperti
keselamatan negara, modal terbatas, kemampuan yang belum memadai,
karena tidak diminati oleh masyarakat dan karena secara konstitusional
merupakan tugas pemerintah, sangat mungkin terdapat berbagai kegiatan
yang tidak bisa diserahkan kepada pihak swasta melainkan harus
dilaksanakan sendiri oleh pemerintah.
12
BAB III
KESIMPULAN
Pembangunan merupakan kata kunci dalam memecahkan dan menilai
masalah-masalah yang berhubungan dengan kemajuan atau keterbelakang
masyarakat. Menurut Korten (2002) Pembangunan adalah proses dimana anggota-
anggota suatu masyarakat meningkatkan kapasitas perorangan dan institusional
mereka untuk memobilisasi dan mengelola sumberdaya untuk menghasilkan
perbaikan-perbaikan yang berkelanjutan dan merata dalam kualitas hidup sesuai
dengan aspirasi mereka sendiri.
Dalam pembangunan nasional, desa memegang peranan yang sangat penting,
sebab desa merupakan struktur pemerintahan terendah dari sistem pemerintahan
Indonesia. Setiap jenis kebijakan pembangunan nasional pasti bermuara pada
pembangunan desa sebab pembangunan Indonesia tidak akan ada artinya tanpa
membangun desa, dan bisa dikatakan bahwa hari depan Indosesia terletak dan
tergantung dari berhasilnya kita membangun desa.
Konsep peranan yang mengacu pada arti dan makna rangkaian
karakteristikkinerja pemerintah digunakan oleh akademisi ilmu politik dan politisi
dalam menganalisa nilai keberhasilan atau kegagalan fungsi dan tujuan
penyelenggaraan pemerintahan. Kata peran dalam Kamus Umum Bahasa
Indonesia berarti tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa.
Sehingga dengan semangat desentralisasi dalam otonomi daerah ini
masyarakat haruslah dilibatkan atau diberdayakan dalam pembangunan desanya.
13
Sebab disadari atau tidak bahwa pembangunan desa telah banyak dilakukan sejak
dari dahulu hingga sekarang, tetapi secara umum hasilnya belum memuaskan
terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Sebagai wujud demokrasi, dalam penyelenggaraan pemerintahan desa
dibentuk badan permusyawaratan desa atau sebutan lain sesuai dengan budaya
yang berkembang di desa yang bersangkutan, yang berfungsi sebagai lembaga
pengaturan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa, seperti dalam pembuatan
dan pelaksanaan peraturan desa, anggaran dan pendapatan dan belanja desa, dan
keputusan kepala desa. Di desa dibentuk lembaga kemasyarakatan yang
berkedudukan sebagai mitra kerja pemerintah desa dalam memberdayakan
masyarakat desa.
14
DAFTAR PUSTAKA
Inu Kencana. 2009. Pengantar Ilmu Pemerintahan. Jakarta : Rafika
Hanif Nurcholis. [Link] dan Penyelenggara Pemerintah Desa.
Jakarta:Erlangga.
Sumber lain :
Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
15
DAFTAR PUSTAKA
Dwiyanto, Agus. 2003. Reformasi Pelayanan Publik: Apa yang harus dilakukan?,
Policy Brief. Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM.
Atep Adya Brata. 2003. Dasar-dasar Pelayanan Prima. Jakarta: Gramedia.
Lembaga Administrasi Negara. 2003. Jakarta: Penyusunan Standar Pelayanan
Publik. LAN.
16