BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Musculoskeletal Disorders
a. Definisi Musculoskeletal Disorders
Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan
sekumpulan gejala atau gangguan yang berkaitan dengan jaringa
otot, tendon, ligamen, kartilago, sistem syaraf, struktur tulang,
dan pembuluh darah. MSDs pada awalnya menyebabkan sakit,
nyeri, mati rasa, kesemutan, bengkak, kekakuan, gemetar,
gangguan tidur, dan rasa terbakar (OSHA, 2000).
Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan gangguan
yang disebabkan ketika seseorang melakukan aktivitas kerja dan
pekerjaan yang signifikan sehingga mempengaruhi adanya
fungsi normal jaringan halus pada sistem Musculoskeletal yang
mencakup saraf, tendon, otot (WHO, 2003).
Secara garis besar keluhan otot dapat dikelompokkan
menjadi dua (Tarwaka, 2004) yaitu:
1) Keluhan sementara (reversible), yaitu keluhan otot yang
terjadi pada saat otot menerima beban statis, namun
demikian keluhan tersebut akan segera hilang apabila
pembebanan dihentikan, dan
15
2) Keluhan menetap (persistent), yaitu keluhan otot yang
bersifat menetap, walaupun pembebanan kerja telah
dihentikan, namun rasa sakit pada otot masih terus
berlanjut.
b. Fungsi Sistem Musculoskeletal
Fungsi utama dari sistem musculoskeletal adalah untuk
mendukung dan melindungi tubuh dan organ-organnya serta
untuk melakukan gerak. Agar seluruh tubuh dapat berfungsi
dengan normal, masing-masing substruktur harus berfungsi
dengan normal. Enam sub struktur utama pembentuk sistem
musculoskeletal antara lain: tendon, ligamen, fascia
(pembungkus), cartilago, tulang sendi dan otot. Tendon,
ligamen, fascia dan otot sering disebut sebagai jaringan lunak,
sedangkan tulang sendi diperlukan untuk pergerakan antara
segmen tubuh. Peran mereka dalam sistem musculoskeletal
keseluruhan sangatlah penting sehingga tulang dan sendi sering
disebut sebagai unit fungsional sistem musculoskeletal
(Humantech, 1995 dalam Hasrianti, 2016).
c. Gejala Musculoskeletal Disorders
MSDs ditandai dengn adanya gejala sebagai berikut yaitu :
nyeri, bengkak, kemerah-merahan, panas, mati, rasa, retak, atau
patah pada tulang dan sendi dan kekakuan, rasa lemas atau
kehilangan daya koordinasi tangan, susah untuk digerakkan
(Suma’mur, 2003). MSDs diatas dapat menurunkan
16
produktivitas kerja, kehilangan waktu kerja, menimbulkan
ketidakmampuan secara temporer atau cacat tetap (Lukman,
2012).
Untuk memperoleh gambaran tentang gejala MSDs bisa
menggunakan Nordic Body Map (NBM) dengan cara melihat
dan menganalisa peta tubuh (NBM) sehingga dapat diestimasi
tingkat dan jenis keluhan otot skeletal yang dirasakan oleh para
pekerja (Kroemer, 2002).
d. Faktor yang Mempengaruhi Musculoskeletal Disorders
1) Faktor Lingkungan
a) Mikroklimat
Mikroklimat yang tidak dikendalikan dengan
baik maka akan berpengaruh terhadap tingkat
kenyamanan dan gangguan kesehatan pada pekerja.
Hal ini dapat mempercepat kemunculan kelelahan
kerja dan keluhan subjektif serta dapat menurunkan
produktivitas kerja[ CITATION Tar15 \l 1033 ].
b) Kebisingan
Kebisingan dapat menyebabkan gangguan
komunikasi dengan pembicaraan, bahkan mungkin
dapat mengakibatkan kesalahan atau kecelakaan,
teruutama pada penggunaan tenaga kerja oleh karena
timbulnya salah paham dan salah pengertian
[ CITATION Sum13 \l 1033 ].
17
c) Penerangan
Jika tingkat iluminasi pada suatu tempat kerja
tidak dapat memenuhi persyaratan, maka dapat
menyebabkan postur leher untuk fleksi ke depan
(menunduk) dan postur tubuh untuk fleksi
(membungkuk) yang berisiko mengalami
musculoskeletal disorders[ CITATION Tar15 \l
1033 ].
2) Faktor Individu
a) Umur
Pada umumnya keluhan musculoskeletal
disorders mulai dirasakan pada usia kerja 25-26
tahun. Keluhan pertama biasanya dirasakan pada
umur 35 tahun dan tingkat keluhan akan terus
meningkat sejalan dengan bertambahnya umur. Hal
ini karena pada umur setengah baya, kekuatan dan
ketahanan otot mulai menurun sehingga risiko
terjadinya keluhan otot meningkat (Chaffin dan Guo
dalam Tarwaka, 2015).
b) Jenis Kelamin
Secara fisiologis kemampuan otot wanita
memang lebih rendah daripada pria. Menurut
Astrand & Rodahl (1996), kekuatan otot wanita
18
hanya sekitar dua pertiga dari kekuatan otot pria,
sehingga daya tahan otot pria pun lebih tinggi
dibandingkan dengan wanita. Sedangkan hasil
penelitian Johanson (1994), menyatakan bahwa
keluhan otot pria dan wanita yaitu 3:1 (Tarwaka,
2015).
c) Kebiasaan Merokok
Meningkatnya keluhan otot sangat erat
hubungannya dengan lama dan tingkat kebiasaan
merokok. Semakin lama dan semakin tinggi
frekuensi merokok, semakin tinggi pula tingkat
keluhan otot yang dirasakan (Tarwaka, 2015).
Menurut Boshuizen [Link] dalam Tarwaka
(2015), terdapat hubungan yang signifikan antara
kebiasaan merokok dengan keluhan otot, khususnya
untuk pekerjaan yang memerlukan pengerahan otot.
Kebiasaan merokok akan dapat menurunkan
kapasitas paru-paru, sehingga kemampuan untuk
mengonsumsi oksigen menurun dan sebagai
akibatnya tingkat kesegaran tubuh menurun. Apabila
yang bersangkutan harus melakukan tugas yang
menuntut pengerahan tenaga, maka akan mudah
lelah karena kandungan oksigen dalam darah rendah,
pembakaran karbohidrat terhambat, terjadi
19
tumpukan asam laktat dan akhirnya timbul rasa nyeri
otot.
d) Kesegaran Jasmani
Menurut Hairy dan Hopkins menyatakan
bahwa kesegaran jasmani adalah suatu kesanggupan
atau kemampuan dari tubuh manusia untuk
melakukan penyesuaian atau adaptasi terhadap
beban fisik yang dihadapi tanpa menimbulkan
kelelahan yang berarti dan masih memiliki kapasitas
cadangan untuk melakukan aktivitas berikutnya.
Dalam setiap aktivitas pekerjaan, maka setiap tenaga
kerja dituntut untuk memiliki kesegaran jasmani
yang baik sehingga tidak merasa cepat lelah dan
performansi kerja tetap stabil untuk waktu yang
cukup lama (Tarwaka, 2015).
e) Indeks Massa Tubuh
Indeks massa tubuh adalah hasil pengukuran
antara berat badan dan tinggi badan, dimana
pengukuran ini merupakan suatu parameter untuk
pemantauan status gizi orang dewasa yang berkaitan
dengan kekurangan dan kelebihan berat badan.
Laporan FAO dan WHO tahun 1985 bahwa batasan
berat badan normal orang dewasa ditentukan
berdasarkan Body Mass Index (BMI). Di Indonesia
20
istilah ini diterjemahkan menjadi Indeks Massa
Tubuh (IMT). Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body
Mass Index (BMI) merupakan alat atau cara yang
sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa,
khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan
kelebihan berat badan (Depkes RI,n.d)
Tabel 1. Kategori Batas Indeks Massa Tubuh untuk
Indonesia
Kategori IMT
Kurus Kekurangan berat badan < 17,0
tingkat berat
Normal 17,0 – 18,4
Gemuk Kelebihan berat badan 25,1 – 27,0
tingkat ringan
Kelebihan berat badan > 27,0
tingkat berat
f) Masa Kerja
Keluhan nyeri berkurang pada tenaga kerja
setelah bekerja selama 1-5 tahun. Namun, akan
meningkat pada tenaga kerja setelah bekerja pada
masa lebih dari 5 tahun (Tarwaka dkk, 2004 dalam
Sakinah, 2012:22).
Semakin lama masa kerja seseorang, semakin
lama terkena paparan ditempat kerja sehingga
semakin tinggi resiko terjadinya penyakit akibat
kerja. Seorang tenaga kerja bekerja lebih dari 5
tahun maka dapat dikategorikan sebagai tenaga kerja
dengan masa kerja yang relative lama, sementara
21
dikatakan tenaga kerja baru jika masa kerjanya
dibawah atau sama dengan 5 tahun (Saputra, 2012).
3) Faktor Pekerjaan
a) Sikap Kerja
Pada saat bekerja perlu diperhatikan postur
tubuh dalam keadaan seimbang agar dapat bekerja
nyaman dan tahan lama. Sikap kerja alamiah atau
postur normal yaitu sikap atau postur dalam proses
kerja yang sesuai dengan anatomi tubuh, sehingga
tidak terjadi pergeseran atau penekanan pada bagian
penting tubuh seperti organ tubuh, saraf, tendon, dan
tulang sehingga keadaan menjadi rileks dan tidak
menyebabkan keluhan musculoskeletal dan sistem
tubuh yang lain. Sikap dan posisi kerja yang tidak
ergonomis bisa menimbulkan beberapa gangguan
kesehatan, diantaranya yaitu kelelahan otot, nyeri,
dan gangguan vaskularisasi (Baird dalam Hasrianti,
2016).
Sikap kerja tidak alamiah adalah sikap kerja
yang menyebabkan posisi bagian-bagian tubuh
bergerak menjauhi posisi alamiah, misalnya
pergerakan tangan terangkat, punggung terlalu
membungkuk, kepala terangkat, dan lainnya.
Semakin jauh posisi bagian tubuh dari pusat
22
gravitasi tubuh, maka semakin tinggi risiko
terjadinya keluhan sistem musculoskeletal. Sikap
kerja tidak alamiah ini pada umumnya karena
karakteristik tuntutan tugas, alat kerja, dan stasiun
kerja tidak sesuai dengan kemampuan dan
keterbatasan pekerja [ CITATION Tar15 \l 1033 ].
b) Beban Kerja
Beban merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi terjadinya gangguan otot rangka.
Berat beban yang direkomendasikan adalah 23- 25
kg, sedangkan menurut Departemen Kesehatan
(2009) mengangkat beban sebaiknya tidak melebihi
dari aturan yaitu laki – laki dewasa sebesar 15 – 20
kg dan wanita (16-18 tahun) sebesar 12-15 kg.
Pembebanan fisik pada pekerjaan dapat
mempengaruhi terjadinyna kesakitan pada
musculoskeletal. Pembebanan fisik yang dibenarkan
adalah pembebanan yang tidak melebihi 30-40%
dari kemampuan kerja maksimum tenaga kerja
dalam 8 jam sehari dengan memperhatikan peraturan
jam kerja yang berlaku. Semakin berat beban maka
semakin singkat waktu pekerjaan (Suma’mur, 2009).
c) Aktivitas Berulang
23
Aktivitas berulang adalah pekerjaan yang
dilakukan terus menerus seperti pekerjaan
mencangkul, membelah kayu besar, angkat – angkut
dan sebagainya. Apabila otot menerima beban statis
secara berulang dan dalam waktu yang lama, akan
dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada
sendi, ligament dan tendon [ CITATION Tar15 \l
1033 ].
d) Force/ load
Force adalah jumlah usaha fisik yang
digunakan untuk melakukan pekerjaan seperti
mengangkat benda berat. Jumlah tenaga kerja
bergantung pada tipe pegangan yang digunakan,
berat objek, durasi aktivitas, sikap kerja dan jenis
dari aktivitasnya. Massa beban adalah salah satu
faktor yang mempengaruhi terjadinya otot rangka
[ CITATION Sit09 \l 1033 ].
e) Lama Kerja
Sebaiknya lamanya seseorang bekerja dalam
sehari yaitu 6-8 jam. Sisanya (16-18 jam)
dipergunakan untuk kehidupan dalam keluarga atau
masyrakat, istirahat, tidur, dan lain – lain.
Memperpanjang waktu kerja lebih dari kemampuan
tersebut biasanya tidak disertai efisiensi yang tinggi,
24
bahkan biasanya terlihat penurunan produktivitas
serta kecenderungan untuk timbulnya kelelahan,
penyakit, dan kecelakaan (Suma’mur dalam
Septiawan 2012).
Maksimum waktu kerja tambahan yang masih
efisien adalah 30 menit. Sedangkan diantara waktu
kerja harus disediakan istirahat yang jumlahnya 15-
30% dari seluruh waktu kerja. Apabila jam kerja
melebihi dari ketentuan tersebut akan ditemukan hal
– hal seperti penurunan kecepatan kerja, gangguan
kesehatan, angka absensi karena sakit meningkat,
yang dapat mengakibatkan rendahnya tingkat
produktivitas kerja (Tarwaka, 2015).
Memperpanjang waktu kerja lebih dari
kemampuan lama kerja tidak disertai efisiensi,
efektivitas dan produktifitas kerja yang optimal,
bahkan dalam waktu yang berkepanjangan timbul
kecenderungan untuk terjadinya kelelahan,
gangguan kesehatan, penyakit dari kecelakaan.
Maka dari itu, istirahat setengaj jam setelah 4 jam
bekerja terus menerus sangat penting artinya, baik
untuk pemulihan kemampuan fisik dan mental
maupun pengisian energy yang sumbernya berasal
dari makanan (Suma’mur PK, 2009:363).
25
f) Ergonomi
Istilah “ergonomi” berasal dari bahasa Latin
yaitu Ergonn (kerja) dan Nomos (hukum alam).
Ergonomi merupakan suatu studi tentang aspek-
aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang
ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi,
engineering, manajemen dan desain atau
perancangan. Di dalam ergonomi dibutuhkan studi
tentang sistem dimana manusia, fasilitas kerja dan
lingkungannya saling berinteraksi dengan tujuan
utama yaitu menyesuaikan suasana kerja dengan
manusianya. Ergonomi disebut juga dengan “Human
Factors” [ CITATION Nur04 \l 1033 ].
e. Pengukuran Keluhan Musculoskeletal Disorders
Keluhan otot yang terjadi pada organ tubuh tertentu dapat
ditelusuri dengan menggunakan beberapa alat ukur ergonomi
mulai dari alat yang sederhana hingga menggunakan peralatan
komputer. Pengukuran subjektif merupakan cara pengumpulan
data menggunakan catatan harian, wawancara dan kuesioner
(David, 2005).
Metode Nordic Body Map merupakan metode penilaian
yang sangat subjektif artinya keberhasilan aplikasi metode ini
sangat tergantung dari kondisi dan situasi yang dialami pekerja
26
pada saat dilakukannya penelitian dan juga tergantung dari
keahlian dan pengalaman observer yang bersangkutan.
Kuesioner Nordic Body Map ini telah secara luas digunakan oleh
para ahli ergonomi untuk menilai tingkat keparahan gangguan
pada sistem musculoskeletal dan mempunyai validitas dan
reabilitas yang cukup (Tarwaka, 2011).
Kuesioner Nordic Body Map meliputi 28 bagian otot pada
sistem musculoskeletal pada kedua sisi tubuh kanan dan kiri,
mulai dari anggota tubuh bagian atas yaitu otot leher sampai
dengan bagian paling bawah yaitu otot kaki. Melalui kuesioner
Nordic Body Map maka akan dapat diketahui bagian-bagian otot
mana saja yang mengalami gangguan kenyerian atau keluhan
dari tingkat rendah (tidak ada keluhan atau cedera) sampai
dengan keluhan tingkat tinggi (keluhan sangat sakit) (Tarwaka,
2015).
Pengisian kuesioner Nordic Body Map ini bertujuan untuk
mengetahui bagian tubuh dari pekerja yang terasa sakit sebelum
dan sesudah melakukan pekerjaan pada stasiun kerja. Kuesioner
ini menggunakan gambar tubuh manusia yang sudah dibagi
menjadi 9 bagian utama, yaitu ;
1) Leher
2) Bahu
3) Punggung bagian atas
27
4) Siku
5) Punggung bagian bawah
6) Pergelangan tangan kanan/kiri
7) Pinggang atau pantat
8) Lutut
9) Tumit atau kaki
Pembagian bagian-bagian tubuh serta keterangan dari bagian-
bagian tubuh dapat dilihat pada gambar berikut;
Kuesioner Nordic Body Map menggunakan desain penelitian
dengan skoring. Apabila digunakan skoring dengan skala likert, maka
28
setiap skor mempunyai definisi operasional yang jelas dan mudah
dipahami oleh responden yaitu sebagai berikut:
Tabel 2. Kategori Penilaian Tingkat Keluhan Musculoskeletal Disorders
Skor Keterangan Kategori
0 Tidak ada keluhan/kenyerian pada otot-otot Tidak sakit
atau tidak ada rasa sakit sama sekali yang
dirasakan oleh pekerja selama melakukan
pekerjaan (tidak sakit)
1 Dirasakan sedikit adanya keluhan atau Agak sakit
kenyerian pada bagian otot, tetapi belum
mengganggu pekerjaan (agak sakit)
2 Responden merasakan adanya Sakit
keluhan/kenyerian atau sakit pada bagian
otot dan sudah mengganggu pekerjaa,
tetapi rasa kenyerian segera hilang setelah
dilakukan istirahat dari pekerjaan (sakit)
3 Responden merasakan keluhan sangat sakit Sangat sakit
atau sangat nyeri pada bagian otot dan
kenyerian tidak segera hilang meskipun
telah beristirahat yang lama atau bahkan
diperlukan obat pereda nyeri otot
Sumber: Tarwaka (2015)
Selanjutnya, setelah selesai melakukan wawancara dan
pengisian koesioner, maka langkah berikutnya adalah
menghitung total skor individu dari seluruh sistem
musculoskeletal (28 bagian otot). Pada desain skala 4 likert ini,
maka akan diperoleh skor individu terendah sebesar 0 dan skor
tertinggi sebesar 84.
29
Berikut klasifikasi tingkat risiko gangguan
musculoskeletal disorders:
Tabel 3. Klasifikasi Subjectivitas Tingkat Risiko Keluhan Musculoskeletal
Disorders Berdasarkan Total Skor Individu
Total Skor Tingkat Risiko Kategori Tindakan Perbaikan
Keluhan Individu Risiko
0-20 0 Rendah Belum diperlukan adanya
tindakan perbaikan
21-41 1 Sedang Mungkin diperlukan
tindakan dikemudian hari
42-62 2 Tinggi Diperlukan tindakan segera
63-84 3 Sangat tinggi Diperlukan tindkaan
menyeluruh sesegera
mungkin
Sumber: Tarwaka (2015)
2. Sikap Kerja
a. Definisi Sikap Kerja
Sikap kerja adalah posisi kerja secara alamiah dibentuk
oleh tubuh pekerja akibat berinteraksi dengan fasilitas yang
digunakan ataupun kebiasaan kerja. Sikap kerja yang kurang
sesuai dapat menyebabkan keluhan fisik berupa nyeri pada otot
rangka (musculoskeletal disorders). Hal ini disebabkan akibat
dari postur kerja yang tidak alamiah disebabkan oleh
karakteristik tuntutan tugas, alat kerja dan stasiun kerja yang
tidak sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan pekerja.
Beban fisik akan semakin berat apabila saat postur tubuh pekerja
tidak alamiah seperti gerakan punggung yang terlalu
membungkuk, posisi jongkok, jangkauan tangan yang selalu di
sebelah kanan atau kiri dan lainnya. Dengan demikian perlu
30
dirancang postur kerja dan fasilitas kerja yang ergonomis untuk
memberikan kenyamanan kerja untuk mencegah keluhan
penyakit akibat kerja serta dapat meningkatkan produktivitasnya
[ CITATION Sum17 \l 1033 ].
b. Faktor Risiko Sikap Kerja terhadap Keluhan Musculoskeletal
Disorders
Sikap kerja alamiah atau postur normal yaitu sikap atau
postur dalam proses kerja yang sesuai dengan anatomi tubuh,
sehingga tidak terjadi pergeseran atau penekanan pada bagian
penting tubuh seperti organ tubuh, saraf, tendon, dan tulang.
Sikap dan posisi kerja yang tidak ergonomis bisa menimbulkan
beberapa gangguan kesehatan, diantaranya yaitu kelelahan otot,
nyeri, dan gangguan vaskularisasi.
Postur janggal adalah posisi tubuh yang menyimpang
secara signifikan terhadap posisi normal saat melakukan
pekerjaan. Bekerja dengan posisi janggal meningkatkan jumlah
energi yang dibutuhkan untuk bekerja. Posisi janggal
menyebabkan kondisi dimana transfer tenaga dari otot ke
jaringan rangka tidak efisien sehigga mudah menimbulkan lelah
(Straker, 2000 dalam Hasrianti, 2016).
Posisi tubuh yang menyimpang secara signifikan terhadap
posisi normal saat melakukan pekerjaan dapat menyebabkan
stress mekanik lokal pada otot, ligamen, dan persendian. Hal ini
31
mengakibatkan cidera pada leher, tulang belakang, bahu,
pergelangan tangan, dan lain – lain. (Grandjen,1993 dalam
Hasrianti, 2016).
Namun di lain hal, meskipun postur terlihat nyaman dalam
bekerja, dapat berisiko juga jika mereka bekerja dalam jangka
waktu yang lama. Diantara postur janggal tersebut dapat dilihat
dari gambar–gambar berikut;
1) Postur janggal pada punggung
Gambar 1. Postur janggal pada punggung
a) Membungkuk, postur punggung yang merupakan
faktor risiko adalah membungkukkan badan
sehingga membentuk sudut fleksi > 200 terhadap
vertikal dan berputar.
b) Rotasi badan atau berputar adalah adanya rotasi atau
torsi pada tulang punggung (gerakan, postur, posisi
badan yang berputar baik ke arah kiri maupun
kanan) dimana garis vertikal menjadi sumbu tanpa
32
memperhitungkan beberapa derajat besarnya sudut
yang dibentuk, biasanya dalam arah ke depan atau
ke samping.
c) Memiringkan badan (beding) dapat didefenisikan
sebagai fleksi dari tulang punggung, deviasi bidang
median badan dari garis vertikal tanpa
memperhitungkan besarnya sudut yang dibentuk,
biasanya dalam arah ke depan atau ke samping
(Fuad, 2013 dalam Hasrianti, 2016).
2) Postur janggal pada leher
a) Menunduk, menunduk ke arah depan sehingga sudut
yang dibentuk oleh garis vertikal dengan sumbu ruas
Gambar 2. Postur janggal pada leher
tulang leher > 150 (Fuady, 2013 dalam Hasrianti,
2016).
b) Tengadah, setiap postur dari leher yang mendongak
ke atas atau ekstensi.
c) Miring, setiap gerakan dari leher yang miring, baik
ke kanan maupun ke kiri, tanpa melihat besarnya
33
sudut yang dibentuk oleh garis vertikal dengan
sumbu dari ruas tulang leher.
d) Rotasi leher, setiap postur leher yang memutar, baik
ke kanan dan atau ke kiri, tanpa melihat berapa
derajat besarnya rotasi yang dilakukan.
c. Pengukuran Sikap Kerja
1) Rapid Body Entire Assesment (REBA)
REBA dikembangkan untuk mengkaji postur bekerja
yang ditemukan pada industri pelayanan kesehatan dan
industri pelayanan lainnya. Data yang dikumpulkan
termasuk postur badan, kekuatan yang digunakan, tipe dari
pergerakan, gerakan berulang, dan gerakan berangkai.
Skor akhir REBA diberikan untuk memberi sebuah
indikasi pada tingkat risiko mana dan pada bagian mana
yang harus dilakukan tindakan penaggulangan. Metode
REBA digunakan untuk menilai postur pekerjaan berisiko
yang berhubungan dengan musculoskeletal disorders/work
relatedmusculoskeletal disorders (WRMSDs) (Highnett
and Mc Atamney, 2000 dalam Hasrianti, 2016).
Rapid Entire Body Assesment (REBA) bukan
merupakan desain spesifik untuk memenuhi standar
khusus. Meskipun demikian, ini telah digunakan di Inggris
untuk pengkajian yang berhubungan dengan Manual
Handling Operation Regulation (HSE, 1998). REBA ini
34
juga digunakan secara luas di dunia internasional termasuk
dalam US Ergonomi Program Standar (OSHA, 2000
dalam Hasrianti, 2016).
2) Hal – hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan
penilaian sikap kerja dengan menggunakan metode
penilaian REBA
a) Menentukan periode waktu observasi dengan
mempertimbangan sikap tubuh pekerja. Apabila
memungkinkan, tentukan siklus waktu kerjanya.
b) Apabila diperoleh pekerjaan yang menggunakan
waktu berlebihan, maka penilaian harus dilakukan
dengan detail.
c) Catat sikap kerja yang berbeda yang dilakukan oleh
pekerja selama bekerja, baik dengan video ataupun
foto kamera.
d) Lakukan identifikasi sikap untuk semua jenis
pekerjaan yang dianggap paling penting dan
berbahaya untuk penilaian lebih lanjut dengan
metode REBA.
3) Hal – hal yang harus diperhatikan terkait dengan informasi
penting yang diperlukan di dalam aplikasi dengan mtode
REBA
35
a) Sudut antara bagian-bagian tubuh yang berbeda
(badan, leher, kaki, lengan atas, lengan bawah,
pergelangan tangan) terhadap sikap tertentu.
b) Beban yang dikerjakan oleh pekerja (satuan
kilogram).
c) Karakteristik aktivitas otot yang digunakan oleh
pekerja (pergerakan otot statism dinamis atau
mendadak).
4) Langkah – langkah aplikasi metode REBA
a) Grup A (penilaian anggota tubuh bagian badan, leher
dan kaki)
(1) Skoring pada leher
Langkah pertama yang harus dilakukan
adalah scoring pada leher.
Gambar 3. Ilustrasi posisi leher
Tabel 4. Skoring Posisi Leher
Posisi Skor Skor Perubahan
Leher fleksi 00 - 200 1 +1
Leher fleksi atau ekstensi 20 0
2 Posisi leher membungkuk
dan atau memutar secara
lateral
36
(2) Skoring pada badan (trunk)
Langkah kedua yaitu menilai posisi badan
(trunk).
Gambar 4. Ilustrasi posisi badan
Tabel 5. Skoring posisi badan
Posisi Skor Skor Perubahan
Tegak lurus 1
Fleksi : antara 00 - 200 2
0 0 +1
Ekstensi : antara 0 - 20
Jika batang tubuh
Fleksi : antara 00 - 600 3
berputar/bengkok/bungkuk
Ekstensi >200
Membungkuk fleksi >600 4
(3) Skoring pada kaki
Langkah yang ketiga yaitu mengevaluasi
posisi kaki.
Gambar 5. Ilustrasi posisi kaki
Tabel 6. Skoring posisi kaki
Posisi Skor Skor Perubahan
Posisi kedua kaki 1 +1
37
tertopang dengan baik di Posisi kedua kaki
lantai dalam keadaan tertopang dengan baik di
beridiri atau berjalan lantai dalam keadaan
berdiri atau berjalan
Salah satu kaki tidak 2 +2
tertopang di lantai dengan Salah satu kaki tidak
baik atau terangkat tertopang di laintai
dengan baik atau
terangkat
b) Grup B (penilaian anggota tubuh bagian atas
(lengan, lengan bawah dan pergelangan tangan))
(1) Skoring pada lengan atas
Gambar 6. Ilustrasi lengan atas
Tabel 7. Skoring posisi lengan atas
Posisi Skor Skor Perubahan
Fleksi atau ekstensi 1 +1 jika bahu naik
antara 0o-20o +1 jika lengan
o o
Fleksi antara 21 -45 atau 2 berputar/bengkok
ekstensi >20o -1 miring, menyangga
o
Fleksi antara 46 -90 o
3 berat lengan
o
Fleksi >90 4
(2) Skoring pada lengan bawah
38
Gambar 7. Ilustrasi lengan bawah
Tabel 8. Skoring lengan bawah
Skor Posisi
1 Posisi lengan bawah fleksi antara 60o-100o
2 Posisi lengan bawah fleksi antara <600 atau >1000
(3) Skoring pada pergelangan tangan
Gambar 8. Ilustrasi pergelangan tangan
Tabel 9. Skoring pergelangan tangan
Posisi Skor Skor Perubahan
Posisi pergelangan 1 +1
tangan fleksi atau Pergelangan tangan pada
0 0
ekstensi antara 0 -15 saat bekerja mengalami
Posisi pergelangan 2 torsi atau deviasi baik
tangan fleksi atau ulnar maupun radial.
0
ekstensi >15
c) Skoring Grup A dan Grup B
39
Skor yang diperoleh dari posisi bdan, leher dan kaki
(group A), akan memberikan skor pertama
berdasarkan table A.
Tabel 10. Skor awal untuk Grup A
TABEL A
LEHER
BADA 1 2 3
N Kaki Kaki Kaki
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 1 2 3 4 1 2 3 4 3 3 5 6
2 2 3 4 5 3 4 5 6 4 5 6 7
3 2 4 5 6 4 5 6 7 5 6 7 8
4 3 5 6 7 5 6 7 8 6 7 8 9
5 4 6 7 8 6 7 8 9 7 8 9 9
Tabel 11. Skor awal untuk Grup B
TABEL B
LEHER
1 2
LENGAN Pergelangan Pergelangan
Tangan Tangan
1 2 3 1 2 3
1 1 2 2 1 2 3
2 1 2 3 2 3 4
3 3 4 5 4 5 5
4 4 5 5 5 6 7
5 6 7 8 7 8 8
d) Skoring untuk beban atau force
Besar kecilnya untuk pembebanan atau force
akan sangat tergantung dari besar ringannya beban
yang dikerjakan oleh pekerja, penentuan skor
didasarkan pada tabel di bawah ini yang selanjutnya
disebut dengan “skor A”.
Tabel 12. Skor untuk pembebanan atau force
Skor Posisi
40
+0 Beban atau force <5 kg
+1 Beban atau force 5-10 kg
+2 Beban atau force >10 kg
Skor Posisi
+3 Pembebanan atau force secara tiba – tiba
atau mendadak
e) Skoring untuk jenis pegangan
Jenis pegangan dapat meningkatkan skor pada
grup B (lengan bawah dan pergelangan tangan),
kecuali dipertimbangkan bahwa jenis pegangan pada
container adalah baik. Tabel dibawah menunjukkan
kenaikan untuk penerapan pada jenis pegangan.
Setelah itu, skor grup B dapat dimodifikasi
berdasarkan jenis pegangan yang selanjutnya disebut
“skor B”.
Tabel 13. Skoring untuk jenis pegangan kontainer
Skor Posisi
+0 Pegangan bagus
Pegangan container baik dan kekuatan
pegangan berasa pada posisi tengah
+1 Pegangan sedang
Pegangan tangan dapat diterima, tetapi
tidak ideal atau pegangan optimum yang
dapat diterima untuk menggunakan bagian
tubuh lainnya
+2 Pegangan kurang baik
Pegangan ini mungkin dapat digunakan
tetapi tidak diterima
+3 Pegangan jelek
Pegangan ini terlalu dipaksakan, atau tidak
ada pegangan atau genggaman tangan,
pegangan bahkan tidak dapat siterima
untuk menggunakan bagian tubuh lainnya
f) Penentuan dan perhitungan skor C
41
Tabel dibawah ini menunjukkan nilai untuk
“skor c” yang didasarkan pada hasil perhitungan dari
skor A dan skor B.
Tabel 14. Skor C terhadap skor A dan skor B
TABEL C
SKOR B
SKOR A 1 1
1 2 3 4 5 6 7 8 9 11
0 2
1 1 1 1 2 3 3 4 5 6 7 7 7
2 1 2 2 3 4 4 5 6 6 7 7 8
3 2 3 3 3 4 4 5 6 6 7 7 8
4 3 4 4 4 5 6 7 8 8 9 9 9
5 4 4 4 5 6 7 8 8 9 9 9 9
6 6 6 7 8 8 9 9 1 1 1 1
6
0 0 0 0
7 7 7 8 9 9 9 1 1 11 11 11
7
0 0
8 8 8 9 1 1 1 1 1 11 11 11
8
0 0 0 0 0
9 9 9 1 1 11 11 11 11 1 1 1
9
0 0 2 2 2
1 1 1 1 11 11 11 11 1 1 1 1
10
0 0 0 0 2 2 2 2
11 11 11 11 11 1 1 1 1 1 1 1
11
2 2 2 2 2 2 2
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
12
2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
g) Penentuan dan Perhitungan Final Skor REBA
Penilaian skor metode REBA ini adalah
merupakan hasil penambahanantara “skor tabel c”
dengan peningkatan jenis aktivitas otot.
Tabel 15. Skoring jenis aktivitas otot
Skor Posisi
+1 Satu atau lebih bagian tubuh dalam
keadaan statis, misalnya ditopang untuk
lebih dari 1 menit
+1 Gerakan berulang – ulang terjadi,
misalnya repetisi lebih dari 4 kali per
menit (tidak termasuk berjalan)
42
+1 Terjadi perubahan yang signifikan pada
postur tubuh atau postur tubuh tidak
stabil selama kerja
Selanjutnya metode REBA ini
mengklasifikasikan skor akhir ke dalam 5 (lima)
tingkatan. Setiap tingkat aksi menentukan tingkat
risiko dan tindakan korektif yang disarankan pada
sikap yang dievaluasi. Semakin besar nilai dari hasil
yang diperoleh, maka akan lebih besar risiko yang
dihadapi untuk posisi yang bersangkutan. Nilai 1
menunjukkan risiko yang dapat diabaikan,
sedangkan nilai maksimum adalah 15 yang
menyatakan bahwa posisi tersebut berisiko tinggi
dan harus segera diambil tindakan secepatnya.
Tabel 16. Standar sikap kerja berdasarkan skor akhir
Skor Tingkat Kategori Tindakan
Akhir Risiko Risiko
1 0 Sangat rendah Tidak ada tindakan yang
diperlukan
2-3 1 Rendah Mungkin diperlukan tindakan
4-7 2 Sedang Diperlukan tindakan
8-10 3 Tinggi Diperlukan tindakan segera
11-15 4 Sangat Tinggi Diperlukan tindakan sesegera
mungkin
43
B. Landasan Teori
Beberapa penelitian terdahulu yang menjadi acuan dalam penelitian
ini antara lain Ngafiati (2019), Setiorini (2017), Fahmi (2015) dan Rinawati
(2016).
Hasil penelitian Ngafiati (2019), dengan judul Analisis Postur Kerja
dan Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada Pekerja Pembuatan
Batu Bata di Dusun Plandi, Pasuruhan, Mertoyudan, Magelang diperoleh
gambaran risiko postur kerja, yaitu sebanyak 7 responden (18,42%)
menunjukkan postur kerja berisiko rendah, 28 responden (73,69%) berisiko
sedang, dan sebanyak 3 responden (7,89%) berisiko tinggi. Sedangkan,
gambaran keluhan musculoskeletal disorders, yaitu sebanyak 17 responden
(44,74%) berisiko rendah, 19 responden (50%) berisiko sedang, dan 2
responden (5,26%) berisiko tinggi.
Hasil penelitian Setiorini (2017) yang berjudul Analisis Postur Kerja
dengan Metode REBA dan Gambaran Keluhan Subjektif Musculoskeletal
Disorders (MSDs) pada Pekerja Sentra Industri Tas Kendal. Jenis penelitian
ini ialah cross sectional. Hasil dari penelitian ini menunjukkan skor REBA
akhir yaitu 10 pada aktifitas gudang 1 pekerja (25%) dan skor pada 10 pada
aktifitas gudang 1 pekerja (33%). Keluhan subjektif MSDs terbanyak
dirasakan pekerja pada bagian pinggang 6 dari 7 pekerja (86%). Gambaran
keluhan MSDs berdasarkan masa kerja pada kategori <5 tahun di bagian
pinggang sebesar 100% dan kategori masa kerja 5 – 10 tahun keluhan pada
leher bagian atas sebesar 80%. Sehingga diperlukan tindakan segera dalam
44
melakukan proses kerja, perubahan alat kerja dan desain area kerja untuk
mengurangi risiko ergonomi dan keluhan subjektif MSDs.
Hasil penelitian Rinawati (2016), yang berjudul Analisis Risiko Postur
Kerja pada Pekerja di Bagian Pemilahan dan Penimbangan Linen Kotor RS
X. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji tentang
penilaian metode REBA postur tubuh pekerja dalam pencegahan
musculoskeletal. Metode penelitian observasional analitik yang
menggunakan dekriptif kualitatif pada total sampling pekerja di laundry
RS.X. Hasil penelitian antara lain aktivitas petugas laundry dalam
penimbangan linen kotor dalam kategori tingkat risiko rendah dengan skor
akhir REBA yaitu 3. Sedangkan aktivitas petugas laundry dalam pemilahan
linen kotor dalam kategori tingkat risiko tinggi dengan skor akhir REBA
yaitu 9. Sehingga diperlukan tindakan segera.
Hasil penelitian Fahmi (2015) yang berjudul Gambaran Kelelahan dan
Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Pengemudi Bus Malam Jarak Jauh
PO. Restu Mulya menunjukkan 58,33% pengemudi bus malam jarak jauh
mengalami kelelahan sedang dan 41,67% pengemudi bus malam jarak jauh
mengalami kelelahan berat. Sebagian besar pengemudi bus malam jarak
jauh yaitu sebanyak 75% mengalami keluhan musculoskeletal agak sakit
dengan titik keluhan yaitu pantat, punggung, leher dan betis kaki. Kelelahan
yang dialami oleh pengemudi bus malam jarak jauh PO. Restu Mulya
merupakan kelelahan dengan tingkat sedang dan berat, dengan gejala
pelemahan kegiatan dan kelelahan fisik. Penyebab kelelahan yang sangat
45
memungkinkan adalah beban kerja fisik yang sangat tinggi dan beban kerja
mental yang besar terhadap keselamatan penumpangnya.
C. Kerangka Konsep
Proses Produksi Pembuatan Genteng
Faktor risiko keluhan Musculoskeletal Disorders
Faktor Pekerjaan: Faktor individu:
1. Sikap Kerja 1. Umur
2. Beban Kerja 2. Jenis
3. Aktivitas Berulang kelamin
4. Force/ Load 3. Kebiasaan
5. Durasi Kerja merokok
6. Ergonomi 4. Kesegaran
jasmani
Keluhan Musculoskeletal Disorders
Gambar 9. Kerangka konsep
46
D. Hipotesis Penelitian
1. Gambaran tingkat risiko sikap kerja pada pekerja pembuatan genteng di Dusun
Klaci, Margoluwih, Seyegan, Sleman memiliki resiko sangat tinggi.
2. Gambaran keluhan musculoskeletal disorders pada pekerja pembuatan genteng
di Dusun Klaci, Margoluwih, Seyegan, Sleman termasuk dalam kategori sangat
tinggi.
3. Ada hubungan antara sikap kerja dengan keluhan musculoskeletal disorders
pada pekerja pembuatan genteng di Dusun Klaci, Margoluwih, Seyegan,
Sleman.
4. Ada hubungan antara faktor individu dengan keluhan musculoskeletal disorders
pada pekerja pembuatan genteng di Dusun Klaci, Margoluwih, Seyegan,
Sleman.
5. Ada hubungan antara faktor pekerjaan dengan keluhan musculoskeletal
disorders pada pekerja pembuatan genteng di Dusun Klaci, Margoluwih,
Seyegan, Sleman.
46