Indikasi dan Dosis Obat Gastrointestinal
Indikasi dan Dosis Obat Gastrointestinal
Ranitidine
IO :
- Penggunaan bersamaan dengan antasida dapat mengurangi
bioavailabilitas ranitidine sehingga berikan ranitidine berselang 2
jam setelah penggunaan antasida.
- Pemberian bersama warfarin dapat meningkatkan atau menurunkan
waktu protrombin.
D :
Oral
⁃ Ulkus peptikum & Ulkus duodenum: 150 mg 2 kali sehari (pagi dan
malam) atau 300 mg sekali sehari sesudah makan malam atau
sebelum tidur, selama 4 - 8 minggu.
⁃ Terapi pemeliharaan pada penyembuhan ulkus peptikum & ulkus
duodenum: 150 mg, malam hari sebelum tidur.
⁃ Refluks gastroesofagitis: 150 mg, 2 kali sehari.
Injeksi
⁃ Injeksi intramuskuler : 50 mg (2 ml) tiap 6-8 jam.
⁃ Injeksi intravena lambat: 50 mg diencerkan sampai 20 mL dan
diberikan selama tidak kurang dari 2 menit; dapat diulang setiap 6-8
jam.
S :
⁃ Tablet / kaplet 150 mg: Acran, Chopintac, Conranin, Fordin,
Gastridin, Graseric, Hexer, Radin, Rancus, Ranilex-150, Rain,
Ranitidin Soho, Ranivell, Rantin, Ratinal, Renata, Scanarin-150,
Titan, Tricker-150, Tyran, Ulceranin, Wiacid, Zeradin, Zantac,
Zantadin, Zantifar, Zenti-150
⁃ Tablet / kaplet 300 mg: Acran, Chopintac Forte, Ranilex-300,
Rantin, Scanarin-300, Zantac
⁃ Sediaan injeksi Ampul 25 mg / mi: Aran, Anitid, Fardin, Gastridin,
Hexer, Radin, Rain, Ranitidin Soho, Ranivell, Rantin, Ratan,
Ratinal, Renatac, Ulceranin, Wiacid, Zantac, Zantadin
Omeprazole
I :
Tukak lambung, tukak duodenum, GERD, hipersekresi patologis
KI :
Penderita yang hipersensitif terhadap Omeprazole
P :
Pasien dengan penyakit hati, kehamilan, menyusui. Singkirkan terlebih dahulu
kemungkinan kanker lambung sebelum pemberian omeprazole.
ES :
Urtikaria, mual dan muntah, konstipasi, kembung, nyeri abdomen, lesu,
paraestesia, nyeri tot dan sendi, pandangan kabur, edema perifer,
perubahan hematologik (termasuk eosinofilia, trombositopenia, leukopenia),
perubahan enzim hati dan gangguan fungsi hati, depresi mulut kering.
IO :
Menghambat absorbsi ketoconazole dan itraconazole.
Meningkatkan kadar warfarin, diazepam, cyclosporin, dan phenytoin.
Menurunkan kadar imipramin, beberapa antipsikotik, teofilin.
D :
⁃ Tukak lambung dan duodenum: Dosis awal 1×20 mg/hari selama 4-8 minggu
dapat ditingkatkan menjadi 40 mg/ hari pada kasus berat atau kambuh. Dosis
pemeliharaan 1×20 mg /hari.
⁃ Eradikasi H. Pylori: sesuai regimen terapi eradikasi
⁃ Refluks gastroesofageal: 1 × 20 mg sehari selama 4-8 minggu.
⁃ Sindroma Zollinger - Ellison: 1 × 60 mg sehari.
S :
⁃ Kapsul 20 mg: Contral, Dudencer, Inhipump, Lancer, Locev, Meisec, Omed,
Omeprazole OGB Soho, Omevell, OMZ, Onic, Ozid, Prilos, Prohibit,
Promezol, Pumpitor, Redusec, Rindopump, Rocer, Socid, Stomacer, Ulzol,
Zepral, Zeprazol, Zolacap, Zollocid
⁃ Sediaan Injeksi (Vial) 40 mg: Inhipump, OMZ, Ozid, Pumpitor, Rocer,
Stomacer-40
Lansoprazole
I :
Tukak lambung, tukak duodenum, GERD, hipersekresi patologis
KI :
⁃ Penderita yang hipersensitif terhadap Lansoprazole
⁃ Pasien dengan penyakit hati, kehamilan, menyusui. Singkirkan terlebih dahulu
kemungkinan kanker lambung sebelum pemberian lansoprazole.
ES :
Urtikaria, mual dan muntah, konstipasi, kembung, nyeri abdomen, lesu,
paraestesia, nyeri tot dan sendi, pandangan kabur, edema perifer,
perubahan hematologik (termasuk eosinofilia, trombositopenia, leukopenia),
perubahan enzim hati dan gangguan fungsi hati, depresi mulut kering.
IO :
Menghambat absorbsi ketoconazole dan itraconazole.
Meningkatkan kadar warfarin, diazepam, cyclosporin, dan phenytoin.
Menurunkan kadar imipramin, beberapa antipsikotik, teofilin.
D :
⁃ Tukak lambung dan duodenum : 1x15-30 mg/hari selama 4-8 minggu. Dosis
pemeliharaan 1x15 mg/hari.
⁃ Eradikasi H. Pylori: sesuai regimen terapi eradikasi H. pylori
⁃ GERD: 1 ×30 mg/hari selama 4-8 minggu.
⁃ Sindroma Zollinger-Ellison (dan kondisi hipersekresi lainnya), dosis awal 60
mg sekali sehari.
S :
⁃ Tablet / Kapsul 15 mg : Inhipraz, Prosogan, Protica
⁃ Tablet / Kapsul 30 mg : Betalans, Caprazol, Digest, Erphalanz, Gastrolan,
Inhipraz, Lagas 30, Lancid, Lanpracid, Lansoprazole Soho, Lanvell, Lapraz,
Laproton, Lasgan, Laz, Lazol, Lexid,Loprezol, Nufaprazol, Prazotec,
Prosogan, Protica, Pysolan, Solans, Sopralan, Ulceran
Pantoprazole
I :
Tukak lambung, tukak duodenum, GERD, hipersekresi patologis
KI :
Hipersensitif terhadap pantoprazole atau PPI lainnya.
P :
Gangguan ginjal, gangguan hati, lanjut usia.
ES :
Urtikaria, mual dan muntah, konstipasi, kembung, nyeri abdomen, lesu,
paraestesia, nyeri tot dan sendi, pandangan kabur, edema perifer,
perubahan hematologik (termasuk eosinofilia, trombositopenia, leukopenia),
perubahan enzim hati dan gangguan fungsi hati, depresi mulut kering.
IO :
Menghambat absorbsI ketoconazole dan itraconazole.
Meningkatkan kadar warfarin, diazepam, cyclosporin, dan phenytoin.
Menurunkan kadar imipramin, beberapa antipsikotik, teofilin.
D :
⁃ Tukak lambung: Tablet 40 mg/hari selama 4-8 minggu. IV Injeksi 40 mg/hari.
⁃ Eradikasi H. Pylori: sesuai regimen terapi eradikasi H. pylori
S :
⁃ Tablet / kaplet : 20 mg; 40 mg: Pantozol
⁃ Sediaan injeksi (vial) 40 mg: Caprol, Panloc. Panso, Pantoprazole Sono.
Pantotis, Pantozol, Pepsol, Topazol
Esomerazole
I : Tukak lambung, tukak duodenum, GERD, hipersekresi patologis (misal:
sindroma Zollinger Ellison).
KI : Hipersensitif terhadap esomeprazole.
P : Insufisiensi ginjal berat, singkirkan kemungkinan adanya keganasan lambung
sebelum terapi
ES : Urtikaria, mual dan muntah, konstipasi, kembung, nyeri abdomen, lesu,
paraestesia, nyeri tot dan sendi, pandangan kabur, edema perifer,
perubahan hematologik (termasuk eosinofilia, trombositopenia, leukopenia),
perubahan enzim hati dan gangguan fungsi hati, depresi mulut kering.
IO : Menghambat absorbsI ketoconazole dan itraconazole.
Meningkatkan kadar warfarin, diazepam, cyclosporin, dan phenytoin.
Menurunkan kadar imipramin, beberapa antipsikotik, teofilin.
P :
⁃ Refluks esofagitis erosif: 1 x 40 mg/hari selama 4-8 minggu
⁃ Terapi simptomatik GERD: 1 x 20 mg/hari selama 4 minggu.
⁃ Terapi tukak lambung & duodenum yang berhubungan dengan penggunaan
AINS: 1 x20 mg/hari selama 4-8 minggu
⁃ Eradikasi H. Pylori: sesuai regimen terapi era dikasi H. pylori.
S :
⁃ Tablet salut selaput 20 mg; 40 mg: Nexium
⁃ Injeksi vial 40 mg: Nexium
Metoclopramide
Merupakan antagonis dopamin (D2) yang terutama berguna untuk mengurangi mual
yang diinduksi kemoterapi. Juga digunakan secara klinis sebagai stimulan saluran
cerna untuk membantu pengosongan lambung.
I : Dewasa: mual dan muntah pada gangguan saluran cerna dan pada
pengobatan dengan sitotoksik atau radioterapi; untuk kontrol muntah
karena operasi abdominal dan prosedur diagnostik.
KI : Obstruksi gastrointestinal, perforasi atau perdarahan; 3-4 hari setelah operasi
gastrointestinal; feokromositoma; epileptik, gejala ekstrapiramidal dari tipe
parkinson, menyusui.
P : Gangguan hati, gangguan ginjal; lansia, dewasa muda, dan anak (hitung dosis
secara akurat); dapat menutupi penyakit utama seperti iritasi serebral; epilepsi;
kehamilan; porfiria.
ES : Efek ekstrapiramidal (terutama pada anak & dewasa muda),
hiperprolaktinemia, tardive dyskinesia pada pemakaian lama,
mengantuk, gelisah, diare, depresi, sindrom neuroleptik maligna, ruam kulit,
pruritus, udem; gangguan konduksi jantung (pemberian IV)
IO :
⁃ Bersifat antagonis terhadap kerja obat-obat golongan antikolinergik dan
analgetik narkotik.
⁃ Menambah efek sedasi bila diberikan bersama-sama dengan alkohol, sedatif,
hipnotik, narkotik, atau tranquilizers.
⁃ Meningkatkan absorbsi dari paracetamol, tetracycline, levodopa, ethanol,
cyclosporin, dan menurunkan absorbsi digoksin.
⁃ Penggunaan bersama MAO Inhibitor.
O :
Pemberian secara oral / injeksi intramuskular / intravena lebih dari 1-2
menit:
⁃ Dosis Dewasa: 3x10 mg sehari (3x 5 mg pada dewasa muda berusia 15-19
tahun dengan berat di bawah 60 kg);
⁃ Anak <1 tahun (berat sampai 10 kg) 2x1 mg sehari
⁃ Anak 1-3 tahun (10-14 kg) 2-3 x1 mg sehari
⁃ Anak 3-5 tahun (15-19 kg) 2-3 × 2 mg sehari
⁃ Anak 5-9 tahun (20-29 kg) 3x 2,5 mg sehari
⁃ Anak 9-14 tahun (30 kg dan lebih) 3x5 mg sehari.
S :
⁃ Tablet / Kaplet 10 mg: Clopramel, Damaben, Ethiferan, Lexapram,
Metoclopramide GB Dexa, Nilatika, Primperan, Vomitrol.
⁃ Suspensi 5 mg/5 ml: Damaben, Ethiferan, Lexapram
⁃ Sediaan Injeksi (Ampul) 5 mg/ml: Clopramel, Damaben, Ethiferan,
Metoclopramide GB Dexa.
Domperidone
Domperidone bekerja pada chemoreseptor trigger zone, obat ini digunakan untuk
menghilangkan mual dan muntah, terutama yang disebabkan terapi
sitotoksik. Kelebihan obat ini dibandingkan metoclopramide dan fenotiazin adalah
sedikit menyebabkan efek sedasi karena tidak menembus sawar darah-otak. Pada
penyakit Parkinson obat ini digunakan untuk mencegah mual dan muntah selama
terapi menggunakan apomorfin dan juga untuk mengatasi mual akibat obat
dopaminergik lainnya. Domperidone juga digunakan untuk mengobati muntah akibat
kontrasepsi hormonal darurat.
Ondansentron
I : Mual dan muntah akibat kemoterapi dan radioterapi, pencegahan mual dan
muntah pasca operasi.
KI : Hipersensitivitas, sindroma perpanjangan interval QT bawaan.
P : Hipersensitivitas terhadap antagonis 5HT3 lainnya, obstruksi intestinal
subakut, operasi adenotonsillar, kehamilan, menyusui, gangguan hati sedang
dan berat (maksimal 8 mg/hari).
ES : Sangat umum: sakit kepala
Umum: sensasi hangat atau kemerahan,konstipasi, reaksi lokasi injeksi
Tidak umum: kejang. gangguan gerakan (termasuk reaksi ekstrap iramidal
seperti reaksi distoni, oculogyric crisis, diskinesia). aritmia, nyeri dada dengan
atau tanpa ES depresi segmen ST, bradikardi, cegukan, peningkatan uj fungsi
hati tanpa gejala
Jarang: reaksi hipersensitivitas yang terjadi segera dan kadang beat termasuk
anafilaksis, pusing sat pemberian intravena secara cepat, gangguan
penglihatan sepintas (pandangan kabur)
setelah mendapat bat intravena.
IO :
⁃ Phenytoin, carbamazepin dan ritampicin meningkatkan metabolisme
ondansetron.
⁃ Ondansetron menurunkan efek tramadol.
D :
Dosis Dewasa
⁃ Kemoterapi dan radioterapi yang menyebabkan muntah tingkat sedang: oral; 8
mg, 1-2 jam sebelum terapi atau injeksi intravena lambat, 8 mg sesaat
sebelum terapi, dilanjutkan dengan 8 mg oral tiap 12 jam sampai dengan 5
hari,
⁃ Muntah berat karena kemoterapl: oral: 24 mg, 1-2 jam sebelum terapi atau
injeksi intravena lambat, 8 mg sebelum terapi, diikuti dengan 8 mg dengan
interval 4 jam untuk 2 dosis berikutnya (atau dikuti dengan infus intravena 1
mg/jam sampai 24 jam) kemudian dikuti & mg oral tap 12 jam sampai 5 hari.
Betahistine Mesylate
Betahistine adalah suatu analog histamin dan di klaim mengurangi tekanan
endolimfatik dengan cara memperbaiki mikrosirkulasi.
Flunarizine
Flunarizine termasuk dalam golongan bat calcium channel blocker dan
memiliki aktivitas memblok histamin H1. Flunarizine efektif untuk profilaksis
migrain, penyakit oklusi vaskular perifer, vertigo sentral dan perifer, dan
dapat digunakan sebag ai adjuvan pada terapi epilepsi.
Sibital (Fenobarbital)
I : Epilepsi (semua jenis kecuali tipe petit mal), status konvulsi.
KI : Depresi pernapasan berat, porfiria.
P : Lansia, anak, debil, gangguan fungsi hati dan ginjal, depresi pernapasan,
hamil, menyusui, hindari pemutusan obat mendadak.
ES : Mengantuk, letargi, depresi mental, ataksia, nistagmus, iritabel dan hiperaktif
pada anak; agitasi, resah & bingung pada lansia; reaksi alergi kulit,
hipoprotrombinemia, anemia megaloblastik, hepatotoksik, SSJ.
IO :
⁃ Kadar phenobarbital meningkat bila diberikan bersama: metsuksimid,
phenytoin, asam valproat, furosemide.
⁃ Kadar fenobarbital menurun bila diberikan bersama chloramphenicol,
dikumarol, folat.
D :
Dosis Dewasa:
⁃ Epilepsi; Dosis awal 50-100 mg/hari, diberikan dalam dosis tunggal. Dosis
rumatan: 50 - 200 mg/hari.
Dosis Anak:
⁃ Antikonvulsi : 4-6 mg/kgBB/hari. Dosis rumatan ; 3-5 mg/kgBB/hari.
diberikan sekali sehari atau terbagi dalam2 dosis. Status Epileptikus pada
anak: 10 - 20 mg/kgBB bolus perlahan I.V. (kecepatan 100 mg/menit).
S :
⁃ Tablet 30 mg: Sibital, Phenobarbital
⁃ Ampul 100mg/ml: Phental, Sibital
Fenitoin
I : Status konvulsi, epilepsi, neuralgia trigeminal, aritmia jantung.
KI : Hipersensitif terhadap fenitoin dan hidantoin lain, bradikardia.
P : Hati - hati pada angguan hati, gangguan kardiovaskular, hamil, menyusui,
lansia. Dapat meningkatkan kadar gula darah pada pasien DM, diskrasia darah.
Hindari penghentian bat secara mendadak.
ES : Hipertrofi gusi, hirsutisme, ataksia, nistagmus, diplopia, ram, anoreksia
mual, neuropati perifer, agranulositosis, trombositopenia, disfungsi seksual,
disfungsi serebellar, penurunan absorbsi kalsium pada usus, anemia aplastik,
gangquan fungi hati, Sindrom Steven Johnson, Lupus Like Syndrome,
Pseudolymphoma.
IO : Kadar phenytoin meningkat bila diberikan bersama: chloramphenicol,
dikumarol, cimetidine, sulfonamid, isoniazid, fenilbutazon, asam valproat.
Kadar phenytoin menurun bila diberikan bersama carbamazepine dan
phenobarbital.
D :
Dosis Dewasa:
⁃ Epilepsi: Dosis awal 200-300 mg/hari, diberikan dalam dosis tunggal atau 2
dosis terbagi. Dosis rumatan: 200-400 mg/hari.
⁃ Status epileptikus: intravena lambat atau infus, 15 mg/kgBB, kecepatan
maksimal 50 mg/menit (loading dose). Pemeliharaan: sekitar 100 mg
diberikan sesudahnya, interval 6-8 jam. Monitor kadar plasma. Pengurangan
dosis berdasarkan berat badan.
Dosis Anak:
⁃ Kejang umum tonik-klonik, kejang parsial: Oral: dosis awal : 5 mg/kgBB/hari
dalam 2 dosis terbagi, dosis umum 4-8 mg/kgBB/hari (maksimum 300 mg).
Kadar plasma untuk respons optimum: 10 - 20 mg/1 (40 - 80 mikromol/L).
Sebaiknya bat diminum ketika makan atau setelah makan.
⁃ Status Epileptikus pada anak: 15 - 20 mg/kgBB I.V (diencerkan dengan NaCI
0,9% & diberikan dengan kecepatan maks 50 mg/menit) Maksimal 1 g
(diberikan di PICU, lihat bagan hal 131). Tablet 50 mg: Movileps
S :
Kapsul 100 mg: Dilantin, Ikaphen, Kutoin, Movileps.
Sediaan Injeksi Ampul 50 mg/ml: Dilantin, Ikaphen, Kutoin
Codein
Codein phospate merupakan antitusif golongan opioid yang bekerja sentral
(meningkatkan ambang rangsang refleks batuk. Obat ini dapat menimbulkan adiksi.
I :
Terapi simptomatik untuk batuk kering atau batuk dengan nyeri.
KI :
Batuk berdahak, penyakit hepar, gangguan ventilasi. Hipersensitivitas, depresi
napas, riwayat penggunaan MAO Inhibitor dalam 14 hari terakhir, menderita
atau dicurigai terdapat obstruksi gastrointestinal, ileus paralitik.
P :
Hati-hati pada pasien anak, asma, gangguan tungsi hati dan ginjal, riwayat
penyalahgunaan obat, menyusui, Konstipasi, depresi pernapasan pada pasien
yang sensitif atau pada dosis besar.
D :
Dosis Codein Sebagai Antitusif:
⁃ Dewasa: 10-20 mg tiap 4-6 jam maksimal 120 mg/hari; jarang diberikan
sebagai obat batuk pada anak-anak.
⁃ Anak: 6-12 tahun: 5-10 mg atau 0,5-1,5 mg/kgBB tiap 4-6 jam. Maks. 60
mg/hari; 2-6 tahun: 0,5-1 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi tiap 4-6 jam.
Maks. 30 mg/hari.
S :
Tablet 10 mg, Tablet 15 mg, Tablet 20 mg : Codein
Ambroxol
I :
Sebagai sekretolitik pada gangguan saluran napas akut dan kronis
KI :
Hipersensitif terhadap ambroxol.
P :
Hati-hati pada kehamilan dan menyusui, gangguan ginjal. Metabolit ambroxol
mungkin dapat terakumulasi di hati.
ES :
Reaksi intoleran setelah pemberian ambroxol pernah dilaporkan tetapi jarang;
efek samping yang ringan pada saluran saluran cerna; reaksi alergi (jarang);
reaksi alergi yang ditemukan: reaksi pada kulit (seperti eritema multiforme,
Sindrom Steven Johnson, dan acute generalized exanthematous pustulosis),
pembengkakan wajah, dispnea, demam; tidak diketahui efeknya terhadap
kemampuan mengendarai atau menjalankan mesin.
IO :
Pemberian bersama antibiotik (amoxicillin, cefuroxime, erythromycin
doxycycline) dapat meningkatkan kadar antibiotik dalam jaringan baru.
D :
Dewasa dan anak di atas 12 tahun:2-3 x 30 mg / hari.
Dosis yang dianjurkan untuk anak-anak 1,2 - 1,6 mg/kgBB/hari.
S :
⁃ Tablet/kaplet 30 mg: Ambril, Berea, Brommer 30, Cystelis, Epexol,
Interpec, Lapimuc, Limoxin, Molapect, Mucera, Mucopect, Mucos,
Mucoxol, Nufanibrox, Promuxol, Roverton, Silopect, Transbroncho,
Transmucho
⁃ Syrup 15 mg/5 ml: Ambril, Berea, Epexol, Interpec, Molapect, Mucera,
Mucopect, Mucos, Nufanibro×, Promuxol, Roverton, Silopect,
Transbroncho
⁃ Syrup 30 mg/5 ml : Interpec, Limoxin, Molapect, Mucera, Mucopect,
Mucoxol, Silopect, Transbroncho
⁃ Tetes 15 mg/ml : Mucera, Mucopect, Mucos, Mucoxol, Promuxol
Mucohexin (Bromhexine)
I :
Mukolitik untuk meredakan batuk berdahak.
KI :
Hipersensitivitas.
P :
Tukak lambung, kehamilan, menyusui, penghentian pengobatan jika terjadi lesi
kulit atau mukosa.
ES :
Hipersensitivitas, syok dan reaksi anafilaktik, bronkospasme, mual, muntah,
diare, nyeri pert bagian atas, ruam, angioedema, urtikaria, pruritus.
IO :
Pemberian bersama antibiotik dapat meningkatkan kadar antibiotik dalam
jaringan paru.
D :
⁃ Dewasa dan anak-anak>10 tahun: 1 tablet atau 10 mL sirup 3 kali sehari
⁃ Anak 5-10 tahun: 1/2 tablet atau 5 mL sirup 3 kali sehari
⁃ Anak 2-5 tahun: 1/2 tablet atau 5 mL sirup 2 kali sehari.
S :
⁃ Tablet 8 mg : Bisolvon, Bronkris, Dexolut, Ethisolvan, Farmavon, Hexon,
Hustab P, Lexavon, Mucobron, Mucohexin, Yavon
⁃ Syrup 4 mg/5 ml : Bisolvon, Bronkris, Dexolut, Ethisolvan, Farmavon,
Hexon, Hustab P, Lexavon, Mucobron, Mucohexin, Yavon
⁃ Lar2mg/ml: Bisolvon
⁃ Amp 4mg/2 ml : Bisolvon
Cetirizine
I :
Rinitis menahun, rinitis alergi seasonal, konjungtivitis, pruritus, urtikaria
idiopatikronis.
KI :
Hipersensitif, laktasi.
P :
Menyebabkan kantuk, mengganggu keterampilan mengemudi dan menjalankan
mesin. Hati-hati pada hipertrofi prostat, retensi urin, risiko glaukoma sudut
sempit, obstruksi piloroduodenal, penyakit hati dan epilepsi, anak < 2 tahun,
hamil.
ES :
Sakit kepala, pusing, mengantuk, agitasi, mulut kering, rasa tidak nyaman di
perut, reaksi hipersensitif seperti reaksi kulit dan angioedema.
D :
⁃ Dosis Dewasa: 1x10 mg/hari.
⁃ Dosis anak > 2tahun: 0,25 mg/kgBB/x diberikan tiap 12-24jam.
S :
⁃ Tablet 5 mg: Histrine
⁃ Tab/Kap 10 mg: Betarhin, Cerini, Cetinal, Cetrixal, Cetrol, Estin, Falergi,
Histrine, Incidal-OD, Intrizin, Lerzin, Ozen, Risina, Ryvel, Ryzicor, Ryzo,
Tiriz, Zenriz Tetes 10 mg/ml: Falergi, Histrine, Intrizin, Ozen, Ryvel, Tiriz
⁃ Syrup 5mg / 5 ml: Histrine, Incidal OD, Intrizin, Lerzin, Ozen, Rinocet,
Risina, Ryvel
Dexamethasone
I :
Inflamasi dan alergi, syok, diagnosis sindroma Cushing, hiperplasia adrenal
kongenital, edema serebral.
Intranasal: alergi atau inflamasi nasal dan polip.
Inhalasi oral : pengontrol asma bronkial persisten.
Dapat digunakan untuk menangani edema serebral & syok septik.
KI :
⁃ Kontraindikasi absolut: tidak ada
⁃ Kontraindikasi relatif: Diabetes melitus, tukak peptik/duodenum, infeksi
berat, hipertensi, atau gangguan sistem kardiovaskular lainnya.
Nb: Pemberian dosis tunggal bear bila diperlukan selalu dapat dibenarkan,
keadaan yang mungkin dapat merupakan kontraindikasi relatif dapat
diabaikan, terutama pada keadaan yang mengancam jiwa pasien.
ES :
Efek samping dapat timbul akibat penghentian pemberian obat secara
tiba-tiba atau pemberian obat secara terus menerus terutama dengan dosis besar.
⁃ Penghentian obat secara tiba-tiba setelah penggunaan yang lama dapat
menyebabkan insufisiensi adrenal akut dengan gejala demam, mialgia, atralgia,
dan malaise.
⁃ Komplikasi yang timbul akibat penggunaan lama adalah: Gangguan cairan dan
elektrolit, hiperglikemia, glikosuria, mudah mendapat infeksi, pasien tukak
petik mungkin dapat mengalami perdarahan atau perforasi, osteoporosis,
miopati, psikosis, hiperkoagulabilitas darah (memudahkan terjadinya trombosis
intravaskular), habits pasien cushing (moon face, buffalo hump, timbunan
lemak supraklavikular, obesitas sentral, ekstremitas kurus, striae ekimosis,
akne, dan hirsutisme).
D :
Dosis Umum Pada Dewasa:
⁃ Oral: 0,5 - 10 mg/hari. Dalam dosis terbagi.
⁃ Injeksi: 0,5 - 24 mg/hari dalam dosis terbagi. Dosis disesuaikan dengan
beratnya penyakit
Dosis Anak:
⁃ Anti inflamasi : Oral, IM, IV : 0,08-0,3 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi
setiap 6-12 jam
S :
Catatan: Dexamethasone 1 mg sebanding dengan dexamethasone fosfat 1,2 mg
setara dexamethasone atrium fosfat 1,3 mg.
Sediaan Dexamethasone Natrium Phosphate:
⁃ Ampul 4 mg/ml: Dexa-M, Kalmethasone
⁃ Ampul 5 mg/ mi: Camidexon, Corsona, Cortidex, Etason, Indexon
⁃ Tablet 0,5 mg: Corsona, Cortidex, Dexa-M, Etason, Indexon,
Kalmethasone, Molacort, Scandexon
Prednisone
I :
Terapi insufisiensi adrenokortikal; digunakan untuk memperoleh efek
antiinflamasi atau imunosupresan.
KI :
⁃ Kontraindikasi absolut: tidak ada
⁃ Kontraindikasi relatif: Diabetes melitus, tukak peptik/duodenum, infeksi
berat, hipertensi, atau gangguan sistem kardiovaskular lainnya.
Nb: Pemberian dosis tunggal bear bila diperlukan selalu dapat dibenarkan,
keadaan yang mungkin dapat merupakan kontraindikasi relatif dapat
diabaikan, terutama pada keadaan yang mengancam jiwa pasien.
ES :
Efek samping dapat timbul akibat penghentian pemberian obat secara
tiba-tiba atau pemberian obat secara terus menerus terutama dengan dosis besar.
⁃ Penghentian obat secara tiba-tiba setelah penggunaan yang lama dapat
menyebabkan insufisiensi adrenal akut dengan gejala demam, mialgia, atralgia,
dan malaise.
⁃ Komplikasi yang timbul akibat penggunaan lama adalah: Gangguan cairan dan
elektrolit, hiperglikemia, glikosuria, mudah mendapat infeksi, pasien tukak
petik mungkin dapat mengalami perdarahan atau perforasi, osteoporosis,
miopati, psikosis, hiperkoagulabilitas darah (memudahkan terjadinya trombosis
intravaskular), habits pasien cushing (moon face, buffalo hump, timbunan
lemak supraklavikular, obesitas sentral, ekstremitas kurus, striae ekimosis,
akne, dan hirsutisme).
D :
⁃ Dosis Umum Dewasa: 5 - 20 mg/hari. Dosis harus diturunkan secara
bertahap hingga dosis efektif terendah.
⁃ Dosis Anak: Sebagai Anti inflamasi atau imunosupresit: 0,05-2
mg/kgBB/hari dibagi 1-4 kali perhari.
S :
Tablet 5 mg: Lexacort, Nufapredsone, Prednisone Nufarindo
Metil Predisolon
I :
Sebagai anti inflamasi atau imunosupresi pada beberapa penyakit hematologi,
alergi, inflamasi, neoplasma maupun autoimun.
KI :
⁃ Kontraindikasi absolut: tidak ada
⁃ Kontraindikasi relatif: Diabetes melitus, tukak peptik/duodenum, infeksi
berat, hipertensi, atau gangguan sistem kardiovaskular lainnya.
Nb: Pemberian dosis tunggal bear bila diperlukan selalu dapat dibenarkan,
keadaan yang mungkin dapat merupakan kontraindikasi relatif dapat
diabaikan, terutama pada keadaan yang mengancam jiwa pasien.
ES :
Efek samping dapat timbul akibat penghentian pemberian obat secara
tiba-tiba atau pemberian obat secara terus menerus terutama dengan dosis besar.
⁃ Penghentian obat secara tiba-tiba setelah penggunaan yang lama dapat
menyebabkan insufisiensi adrenal akut dengan gejala demam, mialgia, atralgia,
dan malaise.
⁃ Komplikasi yang timbul akibat penggunaan lama adalah: Gangguan cairan dan
elektrolit, hiperglikemia, glikosuria, mudah mendapat infeksi, pasien tukak
petik mungkin dapat mengalami perdarahan atau perforasi, osteoporosis,
miopati, psikosis, hiperkoagulabilitas darah (memudahkan terjadinya trombosis
intravaskular), habits pasien cushing (moon face, buffalo hump, timbunan
lemak supraklavikular, obesitas sentral, ekstremitas kurus, striae ekimosis,
akne, dan hirsutisme).
D :
⁃ Dosis Umum Dewasa: 4-48 mg/hari dalam dosis terbagi (dosis disesuaikan
dengan jenis penyakit dan respon pasien)
⁃ Dosis Umum Anak: Anti inflamasi: peroral, IV dan IM: 0,5-1,7
mg/kgBB/hari diberikan dalam dosis terbagi.
⁃ Cedera Spinal Akut: dalam bentuk sodium suksinat diberikan 30
mg/kgBB/dosis selama 1 5 menit dikuti 45 menit kemudian dengan dosis
rumatan lewat infus kontinyu 5.4 mg/kgBB/jam selama 23 jam.
S :
Sediaan methyl prednisolone:
⁃ Tablet 4 mg; Ersolon, FLameson, Flason, Glomeson, Iflaz, Intidrol,
Lexcomet, Medixon, Medrol, Mesol, Methylon, Methylprednisolone OGB
Dexa, Metrison, Nichomedson, Phadilon, Prednox, Sonicor 4, Thimelon,
Tisolon 4, Toras, Tropidrol, Yalone
⁃ Tablet 8 mg: Flameson, Flason, Medixon, Mesol, Metcor,
Methylprednisolone OGB Dexa, Nichomedson, Prednox, Prolon 8,
Thimelon, Toras, Tropidrol
⁃ Tablet 16 mg: Iflaz, Intidrol, Lexcomet-16, Medixon, Medrol, Mesol,
Metcor, Methylprednisolone OGB Dexa, Nichomedson, Prednox, Sonicor
16, Thimelon, Tropidrol
⁃ Vial 125 mg: Medixon, Methylon, Methylprednisolone OGB Dexa,
Phadilon, Thimelon, Toras
Sediaan6-alpha methylprednisolone:
⁃ Tablet 4 mg: Metisol, Rhemafar, Somerol, Tison, Urbason, Xilon
⁃ Tablet 4 mg; Tablet 8 mg; Tablet 16 mg: Hexilon, Lameson, Sanexon,
⁃ Vial 125 mg: Hexilon, Somerol, Xilon