0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan12 halaman

Perencanaan Struktur Rumah Sakit 5 Lantai

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Laporan ini membahas perencanaan struktur beton untuk rumah sakit 5 lantai dengan luas 210 m2 di Palangkaraya 2. Struktur utama terdiri dari balok, kolom, dan pelat yang dirancang menggunakan beton bertulang 3. Perhitungan dimensi unsur struktur dan analisis gempa dilakukan berdasarkan standar dan peraturan yang berlaku

Diunggah oleh

dennisprasetya 123
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan12 halaman

Perencanaan Struktur Rumah Sakit 5 Lantai

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Laporan ini membahas perencanaan struktur beton untuk rumah sakit 5 lantai dengan luas 210 m2 di Palangkaraya 2. Struktur utama terdiri dari balok, kolom, dan pelat yang dirancang menggunakan beton bertulang 3. Perhitungan dimensi unsur struktur dan analisis gempa dilakukan berdasarkan standar dan peraturan yang berlaku

Diunggah oleh

dennisprasetya 123
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS BESAR

STRUKTUR BETON 1

Disusun oleh :

Ferdiand Dennis Prasetya. 1431900003


Much Reza Kurnia R 1431900020
Bayu Dwi Ariyanto 1431900005
Priya jatmika 1431900167

FAKULTAS TEKNIK
PRODI SIPIL
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 945
Jl. Semolowaru No.45, MenurPumpungan, Kec. Sukolilo, Kota SBY,
Jawa Timur 60118
BAB I
KONSEP DASAR PERENCANAAN STRUKTUR

3.5 m

3.5 m

3.5 m

4m 4m 4m 4m 4m

1.1 Pendahuluan

Nama Bangunan : Rumah Sakit


Penggunaan Bangunan : Tempat Umum
Panjang Bangunan : 20 m1
Lebar Bangunan : 10,5 m1.
Luas Bangunan : 210 m2
Jumlah Lantai Bangunan : 5 Lantai
Tinggi Antar Plat : 4 m.
Letak Bangunan : Palangkaraya
Kelas Tanah : Sedang
Mutu Baja : F’c 350 Mpa
Mutu Beton : F’c 35 Mpa
1.2 Latar Belakang
Perencanaan struktur gedung Pembangunan Rumah Sakit yang berada Kota
Palangkaraya, Kalimantan
Tengah Timur memiliki luas keseluruhan 210 m2 untuk struktur utama. Gedung ini
direncanakan memiliki 5 lantai.
Laporan ini terutama menyajikan hasil perhitungan struktur atas elemen pelat, balok,
kolom. Tangga Untuk perhitungan struktur atas tersebut maka perencanaan sistem
struktur atas telah dilakukan menggunakan analisa struktur 3 dimensi dengan bantuan
program SAP2000 versi 7.4

1.2.1. Tujuan

Tujuan dari perencanaan struktur gedung ini adalah untuk memberikan hasil
desain yang optimal sesuai dengan tata cara perencanaan yang berlaku. Selain itu juga
laporan perencanaan struktur ini sebagai dasar perencanaan desain yang
dipergunakan dalam dokumen teknis nantinya.

1.2.1 Lingkup Pekerjaan


Ruang lingkup pekerjaan ini disesuaikan dengan kaidah‐yang
berlaku, yaitu :
a. Penentuan material‐material struktur Beton Atau Bja
yang akan digunakan.
b. Pengklasifikasian beban‐beban yang bekerja pada
struktur
c. Perhitungan kekuatan struktur utama.

1.3 Penjelasan System Struktur dan Cara Analisis yang Digunakan


1.3.1 Analisa Struktur
- Struktur Balok, Kolom dan Pelat
Untuk struktur balok dan kolom akan digunakan adalah beton bertulang.
Begitu juga untuk pelat pada lantai 1 dan tangga yang menghubungkan lantai 1
dan lantai 5 akan menggunakan beton bertulang. Dimana tangga yang digunakan
pada struktur ini menggunakan tangga balik arah. Untuk sisi bangunan akan
ditutup dengan menggunakan pasangan dinding setengah bata.
1.3.2 Dasar Perancangan
Perancangan dilakukan dengan menggunakan 2 metode yaitu manual dan
dengan menggunakan komputer. Dalam analisis perhitungan secara manualnya
berpedoman pada SNI Beton 2004 dan untuk perancangan baja dilakukan
menggunakan metode analisis LRFD (Load Resistance Factor Design) dengan
berpedoman pada SNI Baja 2002, sedangkan analis secara komputer menggunakan
software SAP 2000 versi 14 (Structure Analysis Program)

1.3.3 Analisis Gempa


Untuk analisa gempa Analisa Gempa Menggunakan Metode Ekivalen

1.4 Dasar –Dasar Perancangan


1.4.1 Peraturan-peraturan yang digunakan:
1. SNI 1726-2019, Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan Gedung
2. SNI – 03 – 1726 – 2019, Analisa Gempa Menggunakan Metode Ekivalen
3. SKBI-1.3.53.1987, Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan
Gedung.

1.4.2 Spesifikasi Bahan


a. Beton
 Kekuatan tekan ( fc' ) : 35 MPa

 Modulus Elastisitas ( E c ) : 4700 fc' = 20487 MPa

 Berat Jenis beton (  beton ) : 2400 kg/m3

c. Besi Tulangan

 Kekuatan tarik ( fy ) : 300 MPa

 Modulus Elastisitas ( Es ) : 2 x 105 MPa


1.4.3 Pembebanan Yang Digunakan
I.3.3.1. Bentuk Pembebanan Yang Terjadi
a. Beban Mati
b. Beban Hidup

I.3.3.2. Tipe Pembebanan


a. beban mati / dead load (D)
Beban mati adalah berat seluruh bagian dari struktur gedung yang bersifat tetap,
termasuk tambahan, penyelesaian (finishing), mesin-mesin, serta peralatan tetap
yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung tersebut.

b. beban hidup / live load (L)


Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan
suatu gedung dan termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barang-
barang yang dapat berpindah, peralatan dan mesin-mesin yang bukan merupakan
bagian tak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa penggunaan dari
gedung tersebut, sehingga mengakibatkan perubahaan dalam pembebanan lantai
dan atap tersebut. Khusus untuk atap yang termasuk beban hidup dapat berasal dari
air hujan yang baik akibat genangan maupun akibat tekanan jatuh (energi kinetik)
butiran air. Beban angin, dan beban khusus tidak termasuk ke dalam beban hidup.

I.4.1. Analisa Struktur Akibat Beban Vertikal


Analisa struktur akibat beban vertikal dapat dilihat pada tiap-tiap elemen struktur.

I.1. PENDIMENSIAN ELEMEN-ELEMEN STRUKTUR DAN SAMBUNGAN


I.5.1. Kombinasi Pembebanan Yang Digunakan
Tipe-tipe kombinasi pembebanan menurut SNI-03-1729-2002:
a. 1.4 D
b. 1.2 D + 1.6 L + 0.5 (La atau H)
c. 1.2 D + 1.6 (La atau H) + (L. L atau 0.8 W)
d. 1.2 D + 1.3 W + 0.5 (La atau H) + L. L
e. 1.2 D  1 E + L. L
f. 0.9 D  (1.3 W atau 1.0 E)
Keterangan:
D = beban mati
L = beban hidup
La = beban hidup di atap
H = beban hujan, tidak termasuk genangan air
W = beban angin
E = beban gempa
BAB 2
PLELIMINARY DESIGN
2.1 Preliminari Desain Balok
2.1.1 Balok Induk
Penentuan tinggi balok minimum (h min) dihitung berdasarkan SNI 2847-2019; ps 9.3.1; tabel 9.3.1 (a).

a. Dimensi Balok Induk B1 Dengan Bentang Horizontal L : 4 m / 4000 mm

ℎmin = L × ( 0,4 + )

= × ( 0,4 + )

= 225 mm ÷ 23 cm
= 45 cm
𝑏min = ×h

= × 23

= 15 , 33 cm × 16 cm
= 35 cm

Jadi dimensi Balok induk Memanjang ( B1 ) 35 / 45 cm

b. Dimensi Balok Induk B1 Dengan Bentang Vertikal L : 3.5 m / 3500 mm

ℎmin = L × ( 0,4 + )

ℎmin = × ( 0,4 + )

= 19,69 mm ÷ 20 cm
= 40 cm

𝑏min = ×h

= × 20

= 13 , 33 cm × 15 cm
= 30 cm
Jadi dimensi Balok induk Memanjang ( B2 ) 30 / 40 cm
Tabel Rekapitulasi dimensi balok
Tipe Bentang h min h pakai b min b pakai Dimensi
balok m cm cm cm cm cm
BI-1 4 23 45 16 35 35/45
BI-2 3,5 20 40 15 30 30/40

2.3 Preliminary Desain Pelat

350m

400m

Tipe pelat dengan dimensi 400 cm x 350 cm


Bentang memanjang (ly) = 400 cm
Bentang melintang (lx) = 350 cm

Ln = Ly – ( + )

Ln = 400 – ( + )
Ln = 370 cm

Sn = Lx – ( + )

Sn = 350 – ( + )
Sn = 315 cm

𝛽=

=
= 1, 175 < 2 (𝑝𝑒𝑙𝑎𝑡 𝑑𝑢𝑎 𝑎𝑟𝑎ℎ)
Direncanakan menggunakan ketebalan pelat 12 cm.

 Pelat yang dijepit balok 35/45 (BI-1) dengan panjang 400 cm


𝑏𝑒1 = 𝑏𝑤 + 2(ℎ − 𝑡)
= 35 + 2(50 − 12)
= 101 𝑐𝑚

𝑏𝑒2 = 𝑏𝑤 + 8𝑡
= 35 + (8 × 12)
= 131 𝑐𝑚

be1< be2, sehingga be = be1 = 101 cm

[
k=

[
=
= 2 , 37

Moment inersia penampang balok :

𝐼𝑏 = × bw × h3 × k

𝐼𝑏 = × 35 × 453× 2.37
𝐼𝑏 = 629901,6 m4

𝛼1 =

629901,6
𝛼1 =

𝛼1 = 10,96

 Pelat yang dijepit balok 30/40 (BI-2) dengan panjang 350 cm


𝑏𝑒1 = 𝑏𝑤 + 2(ℎ − 𝑡)
= 30 + 2(40 − 12)
= 86 𝑐𝑚

𝑏𝑒2 = 𝑏𝑤 + 8𝑡
= 30 + (8 × 12)
= 126 𝑐𝑚

be1< be2, sehingga be = be1 = 86 cm


[
k=

[
=
= 2,46

Moment inersia penampang balok :

𝐼𝑏 = × bw × h3 × k

𝐼𝑏 = × 30 × 403 × 2.46
𝐼𝑏 = 393600 cm4

Moment inersia lajur pelat :

𝐼𝑏 = × bp × t3

𝐼𝑏 = × 350 × 123
𝐼𝑏 = 50400 cm4

𝛼2 =

𝛼2 =
𝛼2 = 7,81

, , , ,
𝛼m =
𝛼m = 9,375 ≈ 9,38

Karena α m > 2 maka perletakan pelat adalah jepit penuh

,
k=

,
k=
( , )

k = 84,13 𝑚𝑚 ≥ 90 𝑚𝑚

Jadi untuk tebal pelat lantai dan pelat atap yang dipakai adalah 100 cm.
2.1 Preliminary Desain Kolom
Direncanakan :
Tebal pelat = 10 cm
Tinggi lantai antar tingkat = 400 cm
Dimensi pelat = 400 x 350 cm
Luas tributari (AT) = 140.000 cm2
Berat jenis beton = 24 kN/m2
Beban hidup Ruang Pasien (L0) = 1,92 kN/m2 (SNI 1727-2020; tabel 4.3-1; hal 27 )
Beban hidup pelat atap (L0) = 0,96 kN/m2 (SNI 1727-2020; tabel 4.3-1; hal 27 )
KLL =4 (SNI 1727-2020; tabel 4.7-1; hal )

Beban Mati
Pelat lantai = 4 x 3,5 x 0,10 x 24 x 5 = 168 kN
Balok B1 = 0,35 x 0,45 x 4 x 24 x 5 = 67275,6 kN
Balok B2 = 0,3 x 0,40 x 5 x 24 x 5 = 72 kN
Dinding = 4 x 3.5 x 0,07 x 4 = 140 kN
Penggantung = 4 x 3,5 x 0,07 x 4 = 3,92 kN
Plafond = 4 x 3,5 x 0,11 x 4 = 6,16 kN
Spesi (2cm) = 4 x 3,5 x 0,42 x 4 = 23,52 kN
Tegel = 4 x 3,5 x 0,24 x 4 = 13,44 kN
Plumbing = 4 x 3,5 x 0,10 x 4 = 5,6 kN
Instalasi ME = 4 x 3,5 x 0,20 x 4 = 11,2 kN
Aspal = 4 x 3,5 x 0,14 x 1 = 2,8 kN
Total 521,4 KN

Beban Hidup
 Reduksi beban hidup pelat lantai 1-4
Menurut SNI 1727-2013; ps 4.7.2 komponen struktur yang memiliki nilai [Link] ≥37,16 m2 diijinkan untuk
dirancang dengan beban hidup tereduksi.
𝐴T = 14 𝑚2
𝐾LL𝐴T = 14 × 4 = 56 𝑚2
Dikarenakan [Link] = 80 m2 ≥ 37,16 m2 maka beban hidup boleh tereduksi.

,
L = 𝐿0 (0,25 + ) ≥ 0,4𝐿0
√ LL T

,
L = 2,4 ( 0,25 + ) ≥ 0,4 × 1,92

L = 1,653 𝑘𝑁/𝑚2 ≥ 0,76 𝑘𝑁/𝑚2

Jadi total beban hidup pelat lantai 1-4

L = 1,653 x 4 x 3,5 x 4

L = 92,658 KN
 Reduksi beban hidup pelat lantai atap
Menurut SNI 1727-2013; ps 4.8.2 beban hidup pelat atap tereduksi memiliki nilai Lr
= L0R1R2 dimana 0,58 kN/m2 ≤ Lr ≤ 0,96 kN/m2L0 = 0,96 kN/m2
R1 = 1,2 – 0,011 AT
= 1,2 – 0,011 x 14
= 1,046
R2 =1 (F ≤ 4 )
𝐿r = 𝐿0𝑅1𝑅2
𝐿r = 0,96 × 1,046 × 1
𝐿r = 1 𝑘𝑁/𝑚2

Jadi total beban hidup pelat lantai 5 (atap)


L = 1 × 4 × 3,5 × 1
= 14 𝑘𝑁

Kombinasi beban
Qu = 1,4 D
= 1,4 x 521,4 kN
= 729,96
kNQu = 1,2 D + 1,6 L + 0,5 Lr
= 1,2 x 521,4 + 1,6 x 92,568 + 0,5 x 1
= 774,29 kN
= 774,290 N
Dari kedua nilai Qu diatas diambil nilai terbesar yaitu sebesar Qu = 1127,288 kN,maka perhitungan dimensi
kolom sebagai berikut :

A=
,
,
A=
, ×35

A= 73741,905 mm2

B = √𝐴
B = √73741,905
B = 271,5546 ≈ 400 mm

Jadi untuk kolom direncanakan menggunakan dimensi 40 x 40 cm


2.5 Preliminary Desain Tangga
Tangga direncanakan memiliki desain berbentuk U dengan detail sebagai berikut :
Tinggi lantai = 400 cm
Tinggi bordes = 200 cm
Lebar tangga = 200 cm
Panjang bordes = 150 cm 150cm
Lebar bordes = 400 cm
Tebal pelat anak tangga = 10 cm
Tebal pelat bordes = 10 cm

350cm
 Menentukan kemiringan tangga
Panjang kemiringan tangga = 350 cm
Tinggi bordes = 200 cm

tan(𝛼) =

tan(𝛼) =

tan(𝛼) = 30°

 Menentukan ukuran anak tangga

 𝑇𝑎𝑛 (30) = 0,5773


𝑇𝑎𝑛 (𝛼) =
Dimana :
T : Tinggi bidang tanjakan/ tinggi anak tangga (cm)
I : Lebar bidang injakan / lebar anak tangga (cm)

Jadi, 0,5773 = T/I


atau T = 0,533 x I
2𝑇 + 𝐼 = 60 𝑠/𝑑 65
2 × (0,5773 × 𝐼) + 𝐼 = 60
1,1546 𝐼 + 𝐼 = 60
2,1546 𝐼 = 60

𝐼=
,
𝐼 = 27,84 ≈ 28 𝑐𝑚

𝑇 = 0,5733 × 27,84
= 16,07 ≈ 16 𝑐𝑚

Cek persyaratan
 60 ≤ (2𝑇 + 𝐼) ≤ 65
60 ≤ (2(16) + 28) ≤ 65
60 ≤ 60 ≤ 65 (memenuhi syarat)

 25° ≤ 𝛼 ≤ 40°
25° ≤ 30° ≤ 40° (memenuhi syarat)

0.

Anda mungkin juga menyukai