100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
284 tayangan54 halaman

Asuhan Anestesi Apendisitis Akut

Laporan ini membahas asuhan kepenataan anestesi pada pasien dengan appendisitis akut berusia 32 tahun yang akan menjalani operasi appendektomi dengan teknik anestesi spinal di rumah sakit. Laporan ini menjelaskan latar belakang epidemiologi dan patofisiologi penyakit appendisitis, tujuan pelaksanaan asuhan kepenataan anestesi secara pre, intra, dan pasca operasi, serta manfaat laporan ini bagi perawat

Diunggah oleh

Azuyddin AzRa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
284 tayangan54 halaman

Asuhan Anestesi Apendisitis Akut

Laporan ini membahas asuhan kepenataan anestesi pada pasien dengan appendisitis akut berusia 32 tahun yang akan menjalani operasi appendektomi dengan teknik anestesi spinal di rumah sakit. Laporan ini menjelaskan latar belakang epidemiologi dan patofisiologi penyakit appendisitis, tujuan pelaksanaan asuhan kepenataan anestesi secara pre, intra, dan pasca operasi, serta manfaat laporan ini bagi perawat

Diunggah oleh

Azuyddin AzRa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPENATAN ANESTESI

PADA PASIEN TN. A 32 TAHUN DENGAN APPENDISITIS AKUT YANG AKAN


DILAKUKAN TINDAKAN OPERASI APPENDECTOMY DENGAN TEKNIK
ANESTESI SPINAL
DI RUANG OK IBS RSU NEGARA
PADA TANGGAL 21 SEPTEMBER 2021

DISUSUN OLEH :

AMILDA MILAYATNI RIZKI MUHAMMAD YUNUS


ANYTHA AGGELS MUATAN MUSLIHADI
I NYOMAN SUWENTEN RASDIN
IKHLAS RULIANA
MUHAMAD IDRUS

FAKULTAS KESEHATAN

PROGRAM STUDI ALIHJENJANG DIVKEPERAWATAN ANESTESIOLOGI

INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI

TAHUN AJARAN 2021/2022


BAB I
PENDAHULUAN

A. FORMAT LAPORAN PENDAHULUAN


1. LATAR BELAKANG
Apendisitis adalah inflamasi saluran usus yang tersembunyi dan kecil yang
berukuran 4 inci (10 cm) yang buntu pada ujung sekum. Apendiks dapat terobstruksi oleh
massa feses yang keras, yang akibatnya akan terjadi inflamasi, infeksi, ganggren, dan
mungkin perforasi. Apendiks yang ruptur merupakan gejala yang serius karena isi usus
dapat masuk ke dalam abdomen dan menyebabkan peritonitis atau abses (Rosdahl & Mary,
2017).
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat
mempengaruhi terjadinya konstipasi yang mengakibatkan timbulnya apendisitis. Konstipasi
akan menaikan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks
dan meningkatkan pertumbuhan kuman flora kolon biasa (Adhar, Lusia, & Andi, 2017).
World Health Organization (WHO) menyatakan angka kematian akibat apendisitis
di dunia adalah 0,2-0,8%. Disarankan kepada masyarakat untuk menjaga pola makan serat
mengingat apendisitis lebih beresiko pada usia produktif sebagai pencegahan yang sangat
efektif untuk mengurangi kasus apendisitis (Andika, et al., 2019).
Kejadian apendisitis di Indonesia menurut data yang dirilis oleh Kementerian
Kesehatan RI pada tahun 2009 sebesar 596.132 orang dengan persentase 3,36% dan
meningkat pada 2010 menjadi 621.435 orang dengan persentase 3,53%. Apendisitis
merupakan penyakit tidak menular tertinggi kedua di Indonesia (Adhar, Lusia, & Andi,
2017).
Menurut penelitian yang dilakukan (Julian,, 2013) yang dikutip oleh (Ranti, 2016)
Insiden apendisitis di Bandar Lampung cukup tinggi. Berdasarkan data yang diperoleh
didapatkan bahwa pasien apendisitis tercatat sebanyak 495 orang. Pasien tersebut terdiri dari
pasien rawat jalan sebanyak 306 orang dan yang di rawat inap sebanyak 189 orang pada
tahun 2010.
Apendisitis bisa terjadi pada semua usia namun jarang terjadi pada usia dewasa
akhir dan anak dibawah lima tahun, kejadian apendisitis ini meningkat pada usia remaja
dan dewasa. Usia 20-30 tahun bisa dikategorikan sebagai usia produktif, dimana orang
yang berada pada usia tersebut melakukan banyak sekali kegiatan. Hal ini menyebabkan
orang tersebut mengabaikan nutrisi makanan yang dikonsumsinya. Akibatnya terjadi
kesulitan buang air besar yang akan menyebabkan peningkatan tekanan pada rongga
usus dan pada akhirnya menyebabkan sumbatan pada saluran apendiks (Adhar, Lusia,
& Andi, 2017).
Apendisitis atau infeksi apendiks adalah penyekit yang jarang mereda dengan
cepat, tetapi penyakit ini tidak dapat diramalkan dan mempunyai kecenderungan
menjadi progresif dan mengalami perforasi. Karena perforasi jarang terjadi dalam 8 jam
pertama. Observasi aman untuk dilakukan dalam masa tersebut. Tanda-tanda terjadinya
perforasi meliputi meningkatnya nyeri, spasme otot dinding perut kuadran kanan bawah
dengan tanda peritonitis umum atau abses yang terlokalisasi, ileus, demam, malaise, dan
leukositosis semakin jelas. Bila perforasi dengan peritonitis umum atau pembentukan
abses telah terjadi sejak pasien pertama kali datang, diagnosis dapat ditegakkan dengan
pasti (Mansjoer, 2012) dalam (Irsan, 2018).
Apendisitis merupakan suatu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat
Indonesia saat ini. Apendisitis adalah salah satu penyebab nyeri abdomen akut yang
paling sering ditemukan dan membutuhkan pembedahan dengan segera. Apabila
apendisitis tidak ditangani dengan baik, maka akan menyebabkan pecahnya usus buntu
(Andika, et al., 2019).
Penanganan standar apendisitis di dunia adalah operasi pengangkatan apendiks
yang disebut apendektomi dan dilakukan laparatomi jika sudah terjadi perforasi. Angka
mortalitas pada pasien yang dilakukan apendektomi mencapai 0,07-0,7% dan 0,5-2,4%
pada pasien dengan atau tanpa perforasi. Walaupun mortalitas apendisitis akut rendah
tetapi angka morbiditasnya cukup tinggi (Windy & Sabir, 2016).
Berdasarkan data diatas maka kami tertarik untukmelakukan telaah lebih dalam
tentang ASUHAN KEPENATAAN ANESTESI PADA PASIEN TN. A 32 TAHUN
DENGAN APPENDISITIS AKUT YANG AKAN DILAKUKAN TINDAKAN
OPERASI APPEDECTOMY DENGAN TEKNIK SPINAL ANESTESI.

2. RUMUSAN MASALAH
Bagaimanakah asuhan kepenataan anestesi pada pasien appendicitis dengan tindakan
operasi appendectomy dengan teknik anestesi regional (spinal) ?
3. TUJUAN
PENULISAN
a. Tujuan Umum

Melaksanakan asuhan kepenataan anestesi pada pasien appendicitis


dengan tindakan operasi appendectomy dengan teknik anestesi regional

b. Tujuan Khusus:

a) Gambaran asuhan kepenataan pre operatif terhadap apendicitis


dengan tindakan appendetomy di Ruang operasi
b) Gambaran asuhan kepenataan intra operatif terhadap apendicitis
dengan tindakan appendetomy di Ruang operasi
c) Gambaran asuhan kepenataan post operatif terhadap apendicitis
dengan tindakan appendetomy di Ruang operasi

4. MANFAAT
a. Manfaat Teoritis
Hasil penulisan asuhan kepenataan yang dilakukan, diharapkan dapat
memberikan manfaat bagi Pengembangan Ilmu Keperawatan

b. Manfaat Praktis

a) Bagi Perawat
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, wawasan
dan sebagai bahan untuk menerapkan Ilmu Kepenataan
b) Bagi Rumah Sakit
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan edukasi
dalam mengatasi Pasien Appendicitis dengan Tindakan Operasi
Appendetomy di rumah sakit umum negara.
c) Bagi institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan dan bermanfaat
sebagai acuan untuk dapat meningkatkan keilmuan mahasiswa
alihjenjang keperawatan anestesiologi dan riset kepenataan tentang
Asuhan kepenataan anestesi Pada Pasien Appendicitis akut dengan
Tindakan Operasi appendetomy di Rumah Sakit Negara.

6. RUANG LINGKUP
Laporan ini tentang asuhan kepenataan anestesi pada pasien
appendicitis akut dengan tindakan operasi appendetomy di Rumah Sakit
Negara. Pada kasus apendisitis apabila apendisitis tidak ditangani dengan
baik, maka akan menyebabkan pecahnya usus buntu. Lokasi dilakukan
diruang operasi Rumah Sakit Negara pada tanggal 21 September 2021,
subjek pada penulisan asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami
masalah apendisitis akut, dengan melakukan asuhan kepenataan pada
pasien pre operasi, inta operasi, post operasi yang akan dilakukan tindakan
operasi appendetomy.

B. Konsep Teori Penyakit


1. Definisi
Apendisitis adalah radang pada usus buntu atau dalam bahasa latinnya

appendiks vermivormis, yaitu suatu organ yang berbentuk memanjang dengan

panjang 6-9 cm dengan pangkal terletak pada bagian pangkal usus besar

bernama sekum yang terletak pada perut kanan bawah (Handaya, 2017).

Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai

cacing (apendiks) (Wim de jong, 2005 dalam Nurarif, 2015). Apendisitis

merupakan keadaan inflamasi dan obstruksi pada vermiforis. Apendisitis

adalah inflamasi saluran usus yang tersembunyi dan kecil yang berukuran

sekitar 4 inci yang buntu pada ujung sekum (Rosdahl dan Mary T. Kowalski,
2015).

Apendisitis merupakan keadaan inflamasi dan obstruksi pada apendiks

vermiformis. Apendiks vermiformis yang disebut dengan umbai cacing atau

lebih dikenal dengan nama usus buntu, merupakan kantung kecil yang buntu

dan melekat pada sekum (Nurfaridah, 2015).

2. Etiologi
Menurut Haryono (2012) apendiksitis akut dapat disebabkan oleh
beberapa sebab terjadinya proses radang bakteria yang dicetuskan oleh
beberapa faktor pencetus diantaranya hiperplasia jaringan limfe, fekalith,
tumor apendiks, dan cacing askaris yang menyumbat. Menurut
Sjamsuhidajat & Jong (2004) apendisitis disebabkan oleh infeksi bakteria.
Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai faktor
pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor apendiks, dan
cacing askaris yang dapat menyebabkan sumbatan . terdapat pula penyebab
yang dapat menimbulkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena
parasit seperti [Link]. penelitian epidemiologi menyatakan peran
kebiasaan makan-makanan rendah serat dan mempengaruhi konstipasi
dapat menimbulkan apendisitis karena konstipasi akan menaikkan tekanan
intrasekal yang dapat mengakibatkan timbulnya sumbatan pada fungsional
apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman.

3. Tanda dan Gejala


Beberapa manifestasi klinis yang sering muncul pada apendisitis

antara lain sebagai berikut :

a. Nyeri samar (nyeri tumpul) di daerah epigastrium disekitar umbilikus

atau periumbilikus. Kemudian dalam beberapa jam, nyeri beralih ke

kuadaran kanan bawah ke titik Mc Burney (terletak diantara

pertengahan umbilikus dan spina anterior ileum) nyeri terasa lebih

tajam.
b. Bisa disertai nyeri seluruh perut apabila sudah terjadi perionitis karena

kebocoran apendiks dan meluasnya pernanahan dalam rongga

abdomen

c. Mual

d. Muntah

e. Nafsu makan menurun

f. Konstipasi

g. Demam

(Mardalena 2017 ; Handaya, 2017)

4. Pemeriksaan Diagnostik / Pemeriksaan penunjang terkait


a. Pemeriksaan Laboratorium

Kenaikan sel darah putih (Leukosit) hingga 10.000 – 18.000/mm3. Jika

terjadi peningkatan yang lebih, maka kemungkinan apendiks sudah

mengalami perforasi
b. Pemeriksaan Radiologi

1) Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit (jarang membantu)

2) Ultrasonografi (USG)

Pemeriksaan USG dilakukan untuk menilai inflamasi dari apendiks

3) CT – Scan

Pemeriksaan CT – Scan pada abdomen untuk mendeteksi apendisitis dan

adanya kemungkinan perforasi.

4) C – Reactive Protein (CRP)

C – Reactive Protein (CRP) adalah sintesis dari reaksi fase akut oleh hati

sebagai respon dari infeksi atau inflamasi. Pada apendisitis didapatkan

peningkatan kadar CRP

(Mutaqqin, Arif & Kumala Sari 2011)

5. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan pada penderita apendisitis yaitu dengan tindakan
pembedahan/Apendiktomi. Apendiktomi adalah intervensi bedah untuk melakukan
pengangkatan bagian tubuh yang mengalami masalah atau mempunyai penyakit.
Apendiktomi dapat dilakukan dengan dua metode pembedahan yaitu pembedahan
secara terbuka/ pembedahan konveksional (laparotomi) atau dengan menggunakan
teknik laparoskopi yang merupakan teknik pembedahan minimal infasif dengan
metode terbaru yang sangat efektif (Berman& kozier, 2012 dalam Manurung, Melva
dkk, 2019). Laparoskopi apendiktomi adalah tindakan bedah invasive minimal yang
paling banyak digunakan pada apendisitis akut. Tindakan ini cukup dengan
memasukkan laparoskopi pada pipa kecil (trokar) yang dipasang melalui umbilikus
dan dipantau melalui layar monitor. Sedangkan Apendiktomi terbuka adalah tindakan
dengan cara membuat sayatan pada perut sisi kanan bawah atau pada daerah Mc
Burney sampai menembus peritoneum.

C. PERTIMBANGAN ANESTESI
1. Definisi Anestesi
Anestesi dan reanimasi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari
tatalaksana untuk mematikan rasa. Rasa nyeri, rasa tidak nyaman pasien, dan rasa lain
yang tidak diharapkan. Anestesiologi adalah ilmu yang mempelajari tatalaksana untuk
menjaga atau mempertahankan hidup pasien selama mengalami “kematian” akibat
obat anestesia (Mangku, 2010).
Anestesi berarti “hilangnya rasa atau sensasi”. Istilah yang digunakan para ahli
saraf dengan maksud untuk menyatakan bahwa terjadi kehilangan rasa secara
patologis pada bagian tubuh tertentu, atau bagian tubuh yang dikehendaki (Boulton,
2012).

2. Jenis Anestesi
a. Anestesi Umum
Anestesi umum (General Anesthesia) disebut pula dengan nama Narkose
Umum (NU). Anastesi Umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara
sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat reversible. Anestesi umum
yang sempurna menghasilkan ketidak sadaran, analgesia, relaxasi otot tanpa
menimbulkan resiko yang tidak diinginkan dari pasien.
1. Anestesi umum dengan Face mask

Menggunakan teknik TIVA(Total Intra Venous Anaesthesia) atau induksi


intravena dan maintenance inhalasi. Anestesi umum dengan face mask biasa
dikena dengan sungkup muka . penggunaan teknik ini pada pasien yang tidak
memiliki gangguan atau kelainan jalan nafas karena teknik ini menggunakan
inhalasi sehingga harus menguasai jalan nafas pasien. Penggunaan face mask
dapat memfasilitasi oksigen dan gas anestesi dari sistm breathing ke pasien.
Face mask bisa digunakan retaining hook untuk mengaitkan head scrap
sehingga face mask tidak perlu terus dipegang.
Hal-hal yang harus diperhatikan adalah :
a. Jalan nafas

Harus selalu mengontrol jalan napas karena kemungkinan ada


obstruksi akibat saliva atau terjadi aspirasi
b. Resiko aspirasi

Kemungkinan terjadi aspirasi akibat hiperventilasi . pemberian


ventilasi harus sesuai dengan volume tidal pasien . aspirasi dapat
menyebabkan pnemonisa dan hipoksia.
c. Penekanaan pada daerah mata

Penggunaan face mask dapat menyebabkan penekanan pada daerah


mata sehingga kemungkinan cedera mata dapat terjadi. hal ini perlu
diperhatikan dengan pemberian kasa basah pada daerah mata untuk
mengurangi resiko cedera mata.
d. Pemeliharaan anestesi yang adekuat untuk mencegah pasien bangun
intra operasi

Untuk kasus ruptur tendon bisa menggunakan anetesi umum dengan


face mask jika lokasi ruftur tendon kurang daro 30%.

2. Anestesi Umum dengan LMA (Laringeal Mask Airway )

LMA bisa menggantikan ETT dan face mask. Pemilihan ukuran LMA
sesuai dengan berat badan pasien.
Ukuran LMA
Ukuran LMA Pasien Berat Badan
(Kg)
1 Infant <6,5
2 Child 6,5-20
21/2 Child 20-30
3 Small adult 30
4 Normal adult <70
5 Large adult >70
Dikutip dari edward morgan,2007

Adapun kontra indikasi penggunaan LMA adalah :


a. Kelainan faring (abses)

b. Sumbatan faring

c. Lambung penuh (pasien puasa kurang)

d. Complinance paru-paru kurang

Komplikasi penggunaan LMA adalah :


a. Distensi lambung

Hal ini dapat terjadi akibat hiperventilasi karena penempatan LMA tepat
diatas trachea dan esofagus kemungkinan besar udara lebih banyak masuk
ke lambung.
b. Regurgitasi

Kemungkinan terjadi reguritasi akibat hiperventilasi, sehingga pemberian


ventilasi harus sesuai dengan tidal volume pasien. Untuk kasus ruftur tendon
penggunaan teknik anestesi semacam ini sering digunakan.

3. Anestesi umum dengan intubasi

Anestesi umum dengan intubasi yaitu dengan memasukan ETT atau pipa
jalan nafas langsung ke trachea tepat diatas karina (percabangan bronkus).
Intubasi digunakan dengan TIVA dan maintanance inhalasi. Ukuran ETT
dipilih sesuai dengan umur dan berat badan [Link] menetukan

ukuran ETT (n adalah umur dalam tahun).


Dibawah ini adalah nomer ETT king king dan non king king
King-king Non king-
king
2,5 12
3 14
3,5 16
4 18
4,5 20
5 22
5,5 24
6 26
6,5 28
7 30
7,5 32
8 34

Indikasi penggunaan ETT adalah


a. Operasi lama

b. Operasi yg memerlukan relaksasi

c. Operasi pada pasien yg puasanya kurang

d. Operasi pada daerah wajah, mulut, leher

e. Operasi dengan posisi miring, telungkup dll ETT Non King-king

f. Pasien dengan resiko aspirasi

g. Gagal nafas

b. Regional Anestesi
Anestesi regional merupakan suatu metode yang

lebih bersifat sebagai analgesik. Anestesi regional hanya

menghilangkan nyeri tetapi pasien tetap dalam keadaan

sadar. Oleh sebab itu, teknik ini tidak memenuhi trias

anestesi karena hanya menghilangkan persepsi nyeri saja

(Pramono, 2017).

Jenis Anestesi Regional menurut Pramono (2017)

digolongkan sebagai berikut :


1) Anestesi Spinal

Penyuntikan anestesi lokal ke dalam ruang

subaraknoid disegmen lumbal 3-4 atau lumbal 4-5.

Untuk mencapai ruang subaraknoid, jarum spinal

menembus kulit subkutan lalu menembus ligamentum

supraspinosum, ligamen interspinosum, ligamentum

flavum, ruang epidural, durameter, dan ruang

subaraknoid. Tanda dicapainya ruang subaraknoid

adalah dengan keluarnya liquor cerebrospinalis (LCS).

Menurut Latief (2010) anestesi spinal menjadi pilihan

untuk operasi abdomen bawah dan ekstermitas bawah.

Teknik anestesi ini popular karena sederhana,

efektif, aman terhadap sistem saraf, konsentrasi obat

dalam plasma yang tidak berbahaya serta mempunyai

analgesi yang kuat namun pasien masih tetap sadar,

relaksasi otot cukup, perdarahan luka operasi lebih

sedikit, aspirasi dengan lambung penuh lebih kecil,

pemulihan saluran cerna lebih cepat (Longdong, 2011).

Anestesi spinal memiliki komplikasi. Beberapa

komplikasi yaitu hipotensi terjadi 20-70% pasien,

nyeri punggung 25% pasien, kegagalan tindakan spinal

3-17% pasien dan post dural punture headache di

Indonesia insidensinya sekitar 10% pada pasien paska

spinal anestesi (Tato, 2017). Kekurangan dari anestesi

spinal dibahas dalam sub bab komplikasi anestesi

spinal.

2) Anestesi Epidural
Anestesi yang menempatkan obat di ruang epidural (peridural,
ekstradural). Ruang ini berada di antara ligamentum flavum dan
durameter. Bagian atas berbatasan dengan foramen magnum di
dasar tengkorak dan bagian bawah dengan selaput sakrokoksigeal.
Kedalaman ruang rata-rata 5 mm dan di bagian posterior
kedalaman maksimal terletak pada daerah lumbal. Anestetik lokal
di ruang epidural bekerja langsung pada saraf spinal yang terletak
di bagian lateral. Onset kerja anestesi epidural lebih lambat
dibanding anestesi spinal. Kualitas blokade sensoris dan
motoriknya lebih lemah.
3) Anestesi Kaudal

Anestesi kaudal sebenarnya sama dengan

anestesi epidural, karena kanalis kaudalis adalah

kepanjangan dari ruang epidural dan obat ditempatkan

di ruang kaudal melalui hiatus sakralis. Hiatus sakralis

ditutup oleh ligamentum sakrokoksigeal. Ruang kaudal

berisi saraf sakral, pleksus venosus, felum terminale,

dan kantong dura. Teknik ini biasanya dilakukan pada

pasien anak- anak karena bentuk anatominya yang

lebih mudah ditemukan dibandingkan daerah sekitar

perineum dan anorektal, misalnya hemoroid dan fistula

perianal.

3. Penilaian dan Persiapan Pra Anestesi

Persiapan pra bedah yang kurang memadai merupakan factor

penyumbang sebab-sebab terjadinya kecelakaan anestesi. Dokter spesialis

anestesiologi seyogyanya mengunjungi pasien sebelum pasien dibedah, agar

ia dapat menyiapkan pasien, sehingga pada waktu pasien dibedah dalam

keadaan bugar.

Kadang-kadang dokter spesialis anestesiologi mempunyai waktu


terbatas untuk menyiapkan pasien, sehingga persiapan kurang sempurna.

Penundaan jadwal operasi akan merugikan semua pihak, terutama pasien dan

keluarganya.

Tujuan utama kunjungan pra anestesi ialah untuk mengurangi angka

kesakitan operasi, mengurangi biaya operasi dan meningkatkan kualitas

pelayanan kesehatan.

1. Penilaian Pra Anestesi

Terjadinya kasus salah identitas dan salah operasi bukan cerita untuk

menakut-nakuti atau dibuat-buat, karena memang pernah terjadi di

Indonesia. Identitas setiap pasien harus lengkap dan harus dicocokkan

dengan gelang identitas yang dikenakan pasien. Pasien ditanya lagi

mengenai hari dan jenis bagian tubuh yang akan dioeprasi.


12

a. Anamnesis

Riwayat tentang apakah pasien pernah mendapat anestesia

sebelumnya sangatlah penting untuk mengetahui apakah ada hal-hal

yang perlu mendapatkan perhatian khusus, misalnya alergi, mual

muntah, nyeri otot, gatal-gatal atau sesak nafas pasca bedah, sehingga

kita dapat merancang anestesi berikutnya dengan lebih baik. Kita harus

pandai-pandai memilah apakah cerita pasien termasuk alergi atau efek

samping.

Beberapa peneliti menganjurkan obat yang kiranya menimbulkan

masalah di masa lampau sebaiknya jangan digunakan ulang, misalnya

halotan jangan digunakan ulang dalam waktu tiga bulan, suksinilkolin

uyang menimbulkan apnoe berkepanjangan juga jangan diulang.

Kebiasaan merokok sebaiknya dihentikan 1-2 hari sebelumnya

untuk eliminasi nikotin yang mempengaruhi system kardiosirkulasi,

dihentikan beberapa hari untuk mengaktifkan kerja silia jalan

pernapasan dan 1-2 minggu untuk mengurangi produksi sputum.

Kebiasaan minum alcohol juga harus dicurigai akan adanya penyakit

hepar.

b. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan keadaan gigi-geligi, tindakan buka mulut, lidah

relative besar sangat penting untuk diketahui apakah akan menyulitkan

tindakan laringoskop intubasi. Leher pendek dan kaku juga akan

menyulitkan laringoskop intubasi.


Pemeriksaan rutin lain secara sistematik tentang keadaan umum

tertentu tidak boleh dilewatkan seperti inspeksi, palpasi, perkusi dan

auskultasi semua system organ tubuh pasien.

c. Pemeriksaan laboratorium

Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan

dugaan penyakit yang sedang dicurigai. Banyak fasilitas kesehatan

yang mengharuskan uji laboratorium secara rutin walaupun pada

pasien sehat untuk bedah minor, misalnya pemeriksaan darah kecil

(Hb, leukosit, masa perdarahan dan masa pembekuan darah) dan

urinalisis. Pada usia pasien di atas 50 tahun ada anjuran pemeriksaan

EKG dan foto toraks. Praktek-praktek semacam ini harus dikaji ulang

mengingat biaya yang harus dikeluarkan dan manfaat minimal uji-uji

semacam ini.

d. Kebugaran untuk anestesia

Pembedahan elektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk

menyiapkan agar pasien dalam keadaan bugar, sebaliknya pada operasi

cito penundaan yang tidak perlu harus dihindari.

e. Klasifikasi status fisik

Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik

seseorang ialah yang berasal dari The American Society of

Anesthesiologist (ASA). Kalsifikasi fisik ini bukanlah alat prakiraan

resiko anestesia, karena dampak samping anestesia tidak dapat

dipisahkan dari dampak samping pembedahan.


Kelas I : Pasien sehat organic, fisiologik, psikiatrik, biokimia.

Kelas II : Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang.

Kelas III : Pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga aktifitas

rutin terbatas

Kelas IV : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat

melakukan aktifitas rutin dan penyakitnya merupakan ancaman

kehidupannya setiap saat.

Kelas V : pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa

pembedahan hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam.

Pada bedah cito atau emergency biasanya dicantumkan huruf E (Latief,

Suryadi & Dachlan, 2002)

B. Spinal Anestesi

Spinal anestesi atau Subarachniod Blok (SAB) adalah salah satu

Teknik anestesi regional yang dilakukan dengan cara menyuntikkan obat

anestesi local ke dalam ruang subarachnoid untuk mendapatkan analgesi

setinggi dermatom tertentu dan relaksasi otot rangka. Untuk dapat

memahami spinal anestesi yang menghasilkan blok simpatis, blok sensoris


dan blok motoris maka perlu diketahui neurofisiologi saraf, mekanisme

kerja obat anestesi lokal pada SAB dan komplikasi yang dapat

ditimbulkannya. Derajat anestesi yang dicapai tergantung dari tinggi

rendah lokasi penyuntikan, untuk mendapatkan blockade sensoris yang

luas, obat harus berdifusi ke atas, dan hal ini tergantung banyak faktor

antara lain posisi pasien selama dan setelah penyuntikan, barisitas dan

berat jenis obat. Berat jenis obat lokal anesthesia dapat diubah–ubah

dengan mengganti komposisinya, hiperbarik diartikan bahwa obat lokal

anestesi mempunyai berat jenis yang lebih besar dari berat jenis cairan

serebrospinal, yaitu dengan menambahkan larutan glukosa, namun apabila

ditambahkan NaCl atau aqua destilata akan menjadi hipobarik (Gwinnutt,

2011).

1. Anatomi

Tulang punggung (columna vertebralis) terdiri dari 7 vertebra

servikal, 12 vertebra thorakal, 5 vertebra lumbal, 5 vertebra sacral

(menyatu pada dewasa ) dan 4 vertebra kogsigeal ( menyatu pada

dewasa)

Medula spinalis diperadarahi oleh spinalis anterior dan spinalis

posteror. Tulang belakang biasanya bentuk-bentuk ganda C, yang

cembung anterior di daerah leher dan lumbal. Unsur ligamen

memberikan dukungan struktural dan bersama-sama dengan otot

pendukung membantu menjaga bentuk yang unik. Secara ventral,

corpus vertebra dan disk intervertebralis terhubung dan didukung oleh


ligamen longitudinal anterior dan posterior. Dorsal, ligamentum

flavum, ligamen interspinous, dan ligamentum supraspinata

memberikan tambahan stabilitas. Dengan menggunakan teknik

median, jarum melewati ketiga dorsal ligamen dan melalui ruang oval

antara tulang lamina dan prosesus spinosus vertebra yang berdekatan

(Morgan [Link] 2006)

Untuk mencapai cairan cerebro spinal, maka jarum suntik akan

menembus : kulit, subkutis, ligament supraspinosum, ligament

interspinosum, ligament flavum, ruang epidural, durameter, ruang

subarahnoid (Morgan [Link] 2006)

2. Indikasi Spinal Anestesi (Yuswana, 2005)

a. Operasi ektrimitas bawah, meliputi jaringan lemak, pembuluh

darah dan tulang.

b. Operasi daerah perineum termasuk anal, rectum bawah dan

dindingnya atau pembedahan saluran kemih.

c. Operasi abdomen bagian bawah dan dindingnya atau operasi

peritoneal.

d. Operasi obstetrik vaginal deliveri dan section caesaria.

e. Diagnosa dan terapi

3. Kontra indikasi Spinal Anestesi (Latief, 2001)

a. Absolut

1) Pasien menolak

2) Infeksi tempat suntikan


3) Hipovolemik berat, syok

4) Gangguan pembekuan darah, mendapat terapi antikoagulan

5) Tekanan intracranial yang meninggi

6) Hipotensi, blok simpatik menghilangkan mekanisme

kompensasi

7) Fasilitas resusitasi minimal atau tidak memadai

b. Relatif (latief, 2001)

1) Infeksi sistemik (sepsis atau bakterimia)

2) Kelainan neurologis

3) Kelainan psikis

4) Pembedahan dengan waktu lama

5) Penyakit jantung

6) Nyeri punggung

7) Anak-anak karena kurang kooperatif dan takut rasa baal

4. Persiapan spinal Anestesi

Pada dasarnya persiapan anestesi spinal seperti persiapan

anestesi umum, daerah sekitar tusukan diteliti apakah akan

menimbulkan kesulitan,misalnya kelainan anatomis tulang punggung

atau pasien gemuk sehingga tidak teraba tonjolan prosesus spinosus. (

Latief, 2001) Selain itu perlu di perhatikan hal-hal dibawah ini :

a. Izin dari pasien (Informed consent)

b. Pemeriksaan fisik
Tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan tulang

punggung

c. Pemeriksaan Laboratorium anjuran HB, HT, PT (Protombin

Time) dan PTT (Partial Thromboplastine Time).

d. Obat-obat Lokal Anesthesi.

Salah satu faktor yang mempengaruhi spinal anestesi blok

adalah barisitas (Barik Grafity) yaitu rasio densitas obat spinal anestesi

yang dibandingkan dengan densitas cairan spinal pada suhu 370C.

Barisitas penting diketahui karena menentukan penyebaran obat

anestesi lokal dan ketinggian blok karena grafitasi bumi akan

menyebabkan cairan hiperbarik akan cendrung ke bawah. Densitas

dapat diartikan sebagai berat dalam gram dari 1ml cairan (gr/ml) pada

suhu tertentu. Densitas berbanding terbalik dengan suhu (Gwinnutt,

2011).

5. Persiapan alat anestesi spinal ( Latief, 2001)

a. Peralatan monitor

b. Tekanan darah, nadi, oksimetri denyut (pulse oximeter) dan EKG.

c. Peralatan resusitasi / anestesi umum.

d. Jarum spinal

6. Prosudur spinal anestesi

Anestesi spinal dan epidural dapat dilakukan jika peralatan

monitor yang sesuai dan pada tempat dimana peralatan untuk

manajemen jalan nafas dan resusitasi telah tersedia. Sebelum


memosisikan pasien, seluruh peralatan untuk blok spinal harus siap

untuk digunakan, sebagai contoh, anestesi lokal telah dicampur dan

siap digunakan, jarum dalam keadaan terbuka, cairan preloading sudah

disiapkan. Persiapan alat akan meminimalisir waktu yang dibutuhkan

untuk anestesi blok dan kemudian meningkatkan kenyamanan pasien

(Bernards, 2006).

Adapun prosedur dari anestesi spinal adalah sebagai berikut

(Morgan, 2006):

1) Inspeksi dan palpasi daerah lumbal yang akan ditusuk

(dilakukan ketika kita visite pre-operatif), sebab bila ada

infeksi atau terdapat tanda kemungkinan adanya kesulitan

dalam penusukan, maka pasien tidak perlu dipersiapkan untuk

spinal anestesi.

2) Posisi pasien :

a) Posisi Lateral. Pada umumnya kepala diberi bantal setebal

7,5-10cm, lutut dan paha fleksi mendekati perut, kepala ke

arah dada.

b) Posisi duduk. Dengan posisi ini lebih mudah melihat

columna vertebralis, tetapi pada pasien-pasien yang telah

mendapat premedikasi mungkin akan pusing dan

diperlukan seorang asisten untuk memegang pasien supaya

tidak jatuh. Posisi ini digunakan terutama bila diinginkan

sadle block.
c) Posisi Prone. Jarang dilakukan, hanya digunakan bila

dokter bedah menginginkan posisi Jack Knife atau prone.

3) Kulit dipersiapkan dengan larutan antiseptik seperti betadine,

alkohol, kemudian kulit ditutupi dengan “doek” bolong steril.

4) Cara penusukan.

Pakailah jarum yang kecil (no. 25, 27 atau 29). Makin besar

nomor jarum, semakin kecil diameter jarum tersebut, sehingga

untuk mengurangi komplikasi sakit kepala (PDPH=post duran

puncture headache), dianjurkan dipakai jarum kecil. Penarikan

stylet dari jarum spinal akan menyebabkan keluarnya likuor

bila ujung jarum ada di ruangan subarachnoid. Bila likuor

keruh, likuor harus diperiksa dan spinal analgesi dibatalkan.

Bila keluar darah, tarik jarum beberapa mili meter sampai yang

keluar adalah likuor yang jernih. Bila masih merah, masukkan

lagi stylet-nya, lalu ditunggu 1 menit, bila jernih, masukkan

obat anestesi lokal, tetapi bila masih merah, pindahkan tempat

tusukan. Darah yang mewarnai likuor harus dikeluarkan

sebelum menyuntik obat anestesi lokal karena dapat

menimbulkan reaksi benda asing (Meningismus).

7. Keuntungan dan kerugian spinal anestesi

Keuntungan penggunaan anestesi regional adalah murah,

sederhana, dan penggunaan alat minim, non eksplosif karena tidak

menggunakan obat-obatan yang mudah terbakar, pasien sadar saat


pembedahan, reaksi stres pada daerah pembedahan kurang bahkan tidak

ada, perdarahan relatif sedikit, setelah pembedahan pasien lebih segar atau

tenang dibandingkan anestesi umum. Kerugian dari penggunaan teknik ini

adalah waktu yang dibutuhkan untuk induksi dan waktu pemulihan lebih

lama, adanya resiko kurang efektif block saraf sehingga pasien mungkin

membutuhkan suntikan ulang atau anestesi umum, selalu ada

kemungkinan komplikasi neurologi dan sirkulasi sehingga menimbulkan

ketidakstabilan hemodinamik, dan pasien mendengar berbagai bunyi

kegiatan operasi dalam ruangan operasi (Morgan [Link] 2006)

8. Komplikasi spinal anestesi

Komplikasi anestesi spinal adalah hipotensi, hipoksia, kesulitan

bicara, batuk kering yang persisten, mual muntah, nyeri kepala setelah

operasi, retansi urine dan kerusakan saraf permanen (Bunner dan Suddart,

2002)
C. FORMAT ASKAN RUANG OK

A. Pengkajian
1. Pengumpulan Data
1. Anamnesis
a. Identitas
1) Identitas Pasien
Nama : Tn. A
Umur : 32 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Hindu
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Suku Bangsa : Indonesia
Status perkawinan` : Kawin
Golongan darah :B
BB : 60 kg
TB : 160 cm
Alamat : jl. Kaliakah no. 3
No. CM : 217654
Diagnosa medis : Apendisitis
Tindakan Operasi : Apendektomi
Tanggal MRS : 20 September 2021
Tanggal pengkajian : 20 September 2021 Jam Pengkajian: 8.25
WITA

2) Identitas Penanggung Jawab


Nama : Ny. I
Umur : 29
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Hindu
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Suku Bangsa : Indonesia
Hubungan dg Klien : Istri
Alamat : jl. Kaliakah no. 3

b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama
a. Saat Masuk Rumah Sakit
Pasien mengeluh nyeri pada perut kanan bagian bawah
b. Saat Pengkajian
Pasien mengatakan takut dilakukan operasi
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluh nyeri pada bagian perut kanan bawah sejak 4 hari yang lalu
Rasa nyeri berawal pada bagian umbilicus kemudian menjalar sampai ke
perut bagian bawah. pasien megatakan mengalami demam sejak 2 hari yang
lalu . pasien mengatakan bahwa nyeri akan semakin terasa jika pasien
bergerak . pasien terlihat tegang dan mengatakan belum pernah dioperasi
sebelumnya.

3) Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien tidak memiliki Riwayat penyakit terdahulu
4) Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien tidak memiliki Riwayat penyakit keluarga
5) Riwayat Kesehatan
- Sebelumnya pernah masuk Rumah Sakit? tidak
- Apakah pasien pernah didiagnosis penyakit menular? tidak
6) Riwayat pengobatan/konsumsi obat:
a) Obat yang pernah dikonsumsi: tidak ada
b) Obat yang sedang dikonsumsi: tidak ada
7) Riwayat Alergi : tidak ada, jika ya, sebutkan :
8) Kebiasaan :
a) Merokok : tidak
b) Alkohol : tidak
c) Kopi/teh/soda : pasien mengonsumsi teh. Jumlah : 1 gelas sehari

c. Pola Kebutuhan Dasar


1) Udara atau oksigenasi
Sebelum Sakit
a) Gangguan pernafasan : tidak ada
b) Alat bantu pernafasan : tidak ada
c) Sirkulasi udara : baik
d) Keluhan : tidak ada
Saat Ini
e) Gangguan pernafasan : tidak ada
f) Alat bantu pernafasan : tidak ada
g) Sirkulasi udara : baik
h) Keluhan : tidak ada

2) Air / Minum
Sebelum Sakit
(1) Frekuensi : 7- 8 gelas sehari
(2) Jenis : air mineral
(3) Cara : mandiri
(4) Minum Terakhir : teh
(5) Keluhan : tidak ada
Saat Ini
(6) Frekuensi : 4-5 gelas sehari
(7) Jenis : air mineral
(8) Cara : mandiri ( oral )
(9) Minum Terakhir : puasa jam 22.00 wita
(10) Keluhan : tidak ada

3) Nutrisi/ makanan
Sebelum Sakit
- Frekuensi : 2-3 x/ hari
- Jenis : Padat
- Porsi : 1 piring penuh
- Diet khusus : tidak ada
- Makanan yang disukai : nasi goreng pedas
- Napsu makan : baik
- Puasa terakhir : tidak ada
- Keluhan : tidak ada

Saat ini
- Frekuensi : 1-2 x/ hari
- Jenis : cair
- Porsi : ½ porsi
- Diet khusus : tidak ada
- Makanan yang disukai : tidak ada
- Napsu makan : berkurang
- Keluhan : penurunan nafsu
- Makan terakhir : puasa dari jam 22.00 wita
4) Eliminasi
a) BAB
Sebelum sakit
- Frekuensi : 1 x / hari
- Konsistensi : padat
- Warna : normal feses
- Bau : bau khas feses
- Cara (spontan/dg alat) : spontan
- Keluhan : tidak ada

Saat ini
- Frekuensi : 1x/ hari
- Konsistensi : encer
- Warna : coklat
- Bau : khas feses
- Cara (spontan/dg alat) : spontan
- Keluhan : tidak ada

b) BAK
Sebelum sakit
- Frekuensi : 5-6 x/hari
- Konsistensi : cair
- Warna : bening kekuningan
- Bau : khas urin ( amoniak )
- Cara (spontan/dg alat) : spontan
- Keluhan : tidak ada
Saat ini
- Frekuensi : 2-3 x/ hari
- Konsistensi : cair
- Warna : kuning pekat
- Bau : amoniak
- Cara (spontan/dg alat) : spontan
- Keluhan : tidak ada

5) Pola aktivitas dan istirahat


a)   Aktivitas

Kemampuan Perawatan Diri 0 1 2 3 4


Makan dan minum 
Mandi 

Toileting 

Berpakaian 

Berpindah 

0: mandiri, 1: Alat bantu, 2: dibantu orang lain, 3: dibantu orang lain


dan alat, 4: tergantung total

b)  Istirahat Dan Tidur


Sebelum sakit
- Apakah anda pernah mengalami insomnia? Tidak
- Berapa jam anda tidur: malam 7 jam siang 2 jam
Saat ini
- Apakah anda pernah mengalami insomnia? Iya
- Berapa jam anda tidur: malam 5 jam siang 1 jam
6) Psikososial
- Rasa aman dan nyaman : kurang nyaman
- Interaksi Sosial : berkurang
7) Pemeliharaan kesehatan
- Konsumsi vitamin : vitamin c
- Imunisasi : lengkap
- Olahraga : futsal
- Upaya keharmonisan keluarga : baik
- Stres dan adaptasi : baik
8) Peningkatan kesehatan dan peningkatan fungsi manusia
- Hubungan dengan lingkungan masyarakat, keluarga, kelompok, teman:
baik
- Pemanfaatan pelayanan kesehatan : sebelum sakit tidak pernah

2. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum
Kesadaran : komposmetis / apatis / delirium/ somnolen / sopor/ koma
GCS : Mata 4, Verbal 5, Motorik 6
Penampilan : tampak sakit ringan/sedang/berat
Tanda-tanda Vital : Nadi = 90 x/menit, Suhu =380 C, TD =130/ 90 mmHg,
RR =20 x/menit, Skala Nyeri: 6
BB: 60 Kg, TB:160 Cm, BMI: 23,4 ( berat badan normal )
Pengkajian PQRST
P = agen cidera fisik menyebabkan infeksi
Q = nyeri kolik abdomen
R = nyeri terasa disekitar daerah umbilicus dan titik mcBurney
S = skala nyeri 6
T = nyeri hilang timbul, muncul saat bergerak ( batuk dan berjalan

2) Pemeriksaan Kepala
 Inspeksi :
Bentuk kepala (dolicephalus/ lonjong, brakhiocephalus/ bulat ), kesimetrisan
(+ ), hidrochepalus ( - ), Luka ( - ), darah (-), trepanasi ( - ).

 Palpasi :
Nyeri tekan (- ),

3) Pemeriksaan Wajah :
 Inspeksi :
Ekspresi wajah (tegang/meringis / rileks), dagu kecil (-), Edema (-),
kelumpuhan otot-otot fasialis (-), sikatrik (-), micrognathia (-), rambut wajah (-)

4) Pemeriksaan Mata
 Inspeksi :
Kelengkapan dan kesimetrisan mata ( +)
Ekssoftalmus ( - ), Endofthalmus ( - )
Kelopak mata / palpebra : oedem ( - ), ptosis ( - ), peradangan ( - ) luka ( - ),
benjolan ( - )
Bulu mata (tidak rontok)
Konjunctiva dan sclera : perubahan warna tidak ada
Reaksi pupil terhadap cahaya : (miosis ) isokor ( + )
Kornea : warna hitam
Nistagmus( - ), Strabismus (- )
Ketajaman Penglihatan ( Baik )
Penggunaan kontak lensa: tidak
Penggunaan kaca mata: tidak
 Palpasi
Pemeriksaan tekanan bola mata : tidak diukur
5) Pemeriksaan Telinga
 Inspeksi dan palpasi
- Amati bagian telinga luar : bentuk simetris
Lesi (- ), nyeri tekan (- ),peradangan (- ), penumpukan serumen (-).
- perdarahan (- ), perforasi (- ).
- Tes kepekaan telinga : baik

6) Pemeriksaan Hidung
 Inspeksi dan palpasi
(a) Amati bentuk tulang hidung dan posisi septum nasi (adakah
pembengkakan atau tidak ) tidak
(b)Amati meatus : perdarahan (- ), Kotoran (- ), Pembengkakan (- ),
pembesaran/polip (- )
(c)pernafasan cuping hidung (- ).

7) Pemeriksaan Mulut dan Faring


 Inspeksi dan Palpasi
- Amati bibir : Kelainan konginetal (tidak ada), warna bibir sedikit pucat,
lesi (- ), bibir pecah (- ).
- Amati gigi ,gusi, dan lidah : Caries (- ), Kotoran ( - ), Gingivitis (- ), gigi
palsu (- ), gigi goyang (- ), gigi maju (- ).
- Kemampuan membuka mulut < 3 cm : (tidak )
- Lidah : Warna lidah : merah muda, Perdarahan (- ), Abses (- )
- Orofaring atau rongga mulut : Bau mulut : tidak ada, uvula ( simetris),
Benda asing : (tidak )
- Tonsil : T 0 / T 1 / T 2 / T 3 / T 4
- Mallampati : I, II, III, IV
- Perhatikan suara klien : ( Tidak berubah )

8) Pemeriksaan Leher
 Inspeksi dan amati dan rasakan :
- Bentuk leher (simetris), peradangan (- ), jaringan parut (-), perubahan warna
(-), massa (- )
- Kelenjar tiroid, pembesaran ( - )
- Vena jugularis : pembesaran (- )
- Pembesaran kelenjar limfe (- ), posisi trakea (simetris)
- Mobilitas leher : menggerakan rahang kedepan : (baik ), ekstensi : (baik),
fleksi : (baik ), menggunakan collar : (tidak)
- Leher pendek: tidak

 Palpasi
- Kelenjar tiroid: pembesaran
- Vena jugularis : tekanan : (tidak)
-
- Jarak thyro mentalis < 6 cm : ( tidak)
- Mobilitas leher : menggerakan rahang kedepan : ( baik), ekstensi : (baik ),
fleksi : (baik), menggunakan collar : (tidak )
9) Pemeriksaan Payudara dan Ketiak
 Inspeksi
(1)Bentuk (simetris), pembengkakan (- ).
(2)Kulit payudara : warna kulit lesi (- )
(3)Areola : perubahan warna (- )
(4)Putting : cairan yang keluar (- ), ulkus (- ), pembengkakan (- )

 Palpasi
(5)Nyri tekan (- ), dan kekenyalan (kenyal), benjolan massa (-), mobile (-)
(6)Lainnya:………………

10) Pemeriksaan Torak


a) Pemeriksaan Thorak dan Paru
 Inspeksi
(a)Bentuk torak (Normal chest / Pigeon chest / Funnel chest / Barrel chest/
Simetris/ Asimetris), keadaan kulit Baik
(b) Retrasksi otot bantu pernafasan : Retraksi intercosta ( - ), retraksi
suprasternal ( - ), Sternomastoid ( - )
(c)Pola nafas : (Eupnea / Takipneu / Bradipnea / Apnea / Chene Stokes /
Biot’s / Kusmaul)
(d) Batuk (- )
 Palpasi
Pemeriksaan taktil / vocal fremitus : getaran antara kanan dan kiri teraba
(sama / tidak sama).

 Perkusi
Area paru : ( sonor / hipersonor / dullnes )
 Auskultasi
(a) Suara nafas
 Area Vesikuler : ( bersih / halus / kasar ) ,
 Area Bronchial : ( bersih / halus / kasar )
 Area Bronkovesikuler : ( bersih / halus / kasar )
(b) Suara Ucapan
 Terdengar : Bronkophoni (/-), Egophoni (-), Pectoriloqy (-)
(c) Suara tambahan
 Terdengar : Rales ( - ), Ronchi ( - ), Wheezing ( - ), Pleural
fricion rub ( - )

b) Pemeriksaan Jantung
 Inspeksi
Ictus cordis ( - ), pelebaran tidak
Lainnya: tidak
 Palpasi
Pulsasi pada dinding torak teraba : ( Lemah / Kuat / Tidak teraba )
Lainnya: tidak

 Perkusi
Batas-batas jantung normal adalah :
Batas atas : ICS II ( N = ICS II )
Batas bawah : ICS V. ( N = ICS V)
Batas Kiri : ICS V ( N = ICS V Mid Clavikula Sinistra)
Batas Kanan : ICS IV ( N = ICS IV Mid Sternalis Dextra)

 Auskultasi
BJ I terdengar (tunggal / ganda, ( keras / lemah ), ( reguler / irreguler )
BJ II terdengar (tunggal / ganda ), (keras / lemah), ( reguler / irreguler )
Bunyi jantung tambahan : BJ III ( - ), Gallop Rhythm (-), Murmur (-)

11) Pemeriksaan Abdomen


 Inspeksi
- Bentuk abdomen : (cembung)
- Massa/Benjolan ( - ), Kesimetrisan ( + ),
- Bayangan pembuluh darah vena (-)
 Auskultasi
Frekuensi peristaltic usus 4 x/menit ( N = 5 – 35 x/menit, Borborygmi ( - )

 Perkusi : Tympani ( +), dullness (- )


 Palpasi
- Distensi ( +), Difans muskular ( -)
- Palpasi Hepar :
Nyeri tekan (- ), pembesaran (- ), perabaan (lunak), permukaan (), tepi hepar
= hepar tidak teraba.
- Palpasi Lien : Pembesaran lien : (- )
- Palpasi Appendik :
 Titik Mc. Burney . nyeri tekan ( +), nyeri lepas ( +), nyeri menjalar
kontralateral ( +).
 Acites atau tidak : Shiffing Dullnes (- ) Undulasi (- )
- Palpasi Ginjal :Nyeri tekan(- ), pembesaran (- ). (N = ginjal tidak teraba).

12) Pemeriksaan Tulang Belakang :


 Inspeksi:
- Kelainan tulang belakang: Kyposis (-), Scoliosis (-), Lordosis (-)
Perlukaan (-), infeksi (-), mobilitas (leluasa) Palpasi:
Fibrosis (-), HNP (-)
13) Pemeriksaan Genetalia
a) Genetalia Pria
Inspeksi :
Rambut pubis (bersih), lesi ( - ), benjolan (- )
Lubang uretra : penyumbatan (- ), Hipospadia (- ), Epispadia (- )
Terpasang kateter (-)
Palpasi
Penis : nyeri tekan (- ), benjolan (- ), cairan
Scrotum dan testis : beniolan (- ), nyeri tekan (- ),
Kelainan-kelainan yang tampak pada scrotum :
Hidrochele ( - ), Scrotal Hernia (- ), Spermatochele (- ) Epididimal
Mass/Nodularyti ( - ) Epididimitis ( - ), Torsi pada saluran sperma ( -),
Tumor testiscular (- )
Inspeksi dan palpasi Hernia :

Inguinal hernia ( - ), femoral hernia ( - ), pembengkakan ( - )
Lainnya: tidak
b) Pada Wanita
 Inspeksi :
Kebersihan rambut pubis (bersih / kotor), lesi ( + / - ),eritema ( + / - ),
keputihan ( + / - ), peradangan ( + / - ).
Lubang uretra : stenosis /sumbatan ( + / - )
Terpasang kateter (+/-)
Lainnya…………………

14) Pemeriksaan Anus


 Inspeksi
Atresia ani (- ), tumor (- ), haemorroid (- ), perdarahan (- )
Perineum : jahitan (- ), benjolan (- )
 Palpasi
Nyeri tekan pada daerah anus ( +) pemeriksaan Rectal Toucher

15) Pemeriksaan Ekstremitas


a) Ekstremitas Atas
 Inspeksi
Otot antar sisi kanan dan kiri (simetris), deformitas (-)
Fraktur (-), lokasi fraktur ………………….., jenis fraktur
…………………… kebersihan luka…………………….., terpasang gips
(+/-), Traksi ( + / - ), atropi otot ( + / -)
IV line: terpasang di tangan kiri, ukuran abocatch 20G, tetesan: 20tts/mnt
ROM: aktif

 Palpasi
Perfusi: hangat, kering
CRT: < 2
Edema : tidak ada
Lakukan uji kekuatan otat : ( 1 – 5 )
Lainnya:………………
b) Ekstremitas Bawah :
 Inspeksi
Otot antar sisi kanan dan kiri (simetris), deformitas (-)
Fraktur (-), lokasi fraktur ………………….., jenis fraktur
…………………… kebersihan luka…………………….., terpasang gips
(+/-), Traksi ( + / - ), atropi otot ( + / -)
IV line: terpasang di...................., ukuran abocatch.............,
tetesan:..................
ROM: baik
Lainnya: tidak
 Palpasi
Perfusi: hangat, kering
CRT: < 3
Edema : (0 )
Lakukan uji kekuatan otot : ( 5 )
Lainnya:tidak

Kesimpulan palpasi ekstermitas :

- Edema : 0 0
0 0

- uji kekuatan otot : 555 555


555 555
PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
1. Memeriksa tanda-tanda rangsangan otak
Penigkatan suhu tubuh ( -), nyeri kepala (-), kaku kuduk (-), mual –muntah (-)
riwayat kejang (-), penurunan tingkat kesadaran (-), riwayat pingsan (-), tanda-
tanda TIK tidak ada
2. Memeriksa nervus cranialis
Nervus I , Olfaktorius : dapat membedakan bau alkohol dan minyak telon
Nervus II, Opticus : dapat melihat dengan jelas
Nervus III, Ocumulatorius : dapat menggerakkan bola mata keatas
Nervus IV, Throclearis : dapat menggerakkan atau memutar bola mata
Nervus V, Thrigeminus :
(1) Cabang optalmicus : dapat merasakan rangsangan halus pada kornea
(2) Cabang maxilaris : dapat mengatupkan gigi dan menutup mulut
(3) Cabang Mandibularis : dapat mengunyah dan menutup mulut
Nervus VI, Abdusen : dapat menggerakkan mata ke sisi kiri dan kanan
Nervus VII, Facialis : dapat menggerakkan dan menjulurkan lidah
Nervus VIII, Auditorius : dapat mendengar dengan jelas
Nervus IX, Glosopharingeal : dapat membedakan rasa
Nervus X, Vagus : tidak kesulitan dalam menelan
Nervus XI, Accessorius : dapat mengangkat bahu dan melawan tahanan
Nervus XII, Hypoglosal : dapat menggerakkan lidah
3. Memeriksa fungsi sensorik
Kepekaan saraf perifer : benda tumpul ( + ) benda tajam ( + ) Menguji sensasi
panas / dingin normal ( + ) kapas halus ( + )
4. Memeriksa reflek kedalaman tendon
- Reflek fisiologis
a) Reflek bisep ( + )
b) Reflek trisep ( + )
c) Reflek brachiradialis ( +)
d) Reflek patella ( + )
e) Reflek achiles ( + )
- Reflek Pathologis
Bila dijumpai adanya kelumpuhan ekstremitas pada kasus-kasus
tertentu.
a. Reflek babinski ( - )
b. Reflek chaddok ( - )
c. Reflek schaeffer ( - )
d. Reflek oppenheim ( - )
e. Reflek gordon ( - )

3. Data Penunjang Diagnostik


a. Pemeriksaan Laboratorium
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Satuan
HB 11 11,0 -17,0 gr / dl
Leukosit 18,0 4.0 – 10,0 103ul
HCT 35 33 – 35 %
Trombosit 240 150-400 103/ul
Pemeriksaan rapid Non reaktif
tes

Hasil: didapatkan leukosit meningkat lebih dari nilai normal

b. Pemeriksaan Radiologi :
Hasil Pemeriksaan radiologi :thorax foto normal
c. USG : appendix tervisualisasikan

4. Therapi Saat ini :


a. Ketorolak 30 mg
b. Paracetamol 1 gram (iv)
c. Ceftriaxone 2 gram
d. IVFD RL 20tts/mnt

5. Kesimpulan status fisik (ASA): II

6. Pertimbangan Anestesi
a. Faktor penyulit:
b. Jenis Anestesi: Regional Anestesi
Indikasi: Pembedahan pada tubuh bagian bawah
c. Teknik Anestesi: SAB
Indikasi: Pembedahan pada tubuh bagian bawah
d. Persiapan Alat:
1) Aparatus Anestesi (set block : spinal needle no 27 G, spuit 5cc,
deppers, duk lubang steril, alcohol, betadin)
2) STATICS (Scope: Stetoscope, laryngoscope. Tubes : endotracheal
tube, Airway : guedel, nasotracheal airway, Tape : plester, Introducer :
stilet, conector, suction)
e. Obat2an Anestesi :
1) Pre-medikasi Ondansentron 4 mg

2) Obat antiemetik Ondansetron 4 mg( premedikasi)

3) Obat Analgetik tidak

4) Induksi Bupivacain 0,5 % Dosis 12,5 mg

5) Pelumpuh otot tidak

6) Obat maintenance Midazolam 1,5 mg / iv


Petidine 25 mg / iv

7) Obat life saving : Efedrin 10 mg

Penjelasan obat-obatan anestesi yang digunakan:


1. Ondansetron 4 mg : pencegahan dan pengobatan mual,muntah
2. Efedrin 10 mg : merupakan simpatomimmetik non katekolamin,
mencegah terjadinya vasodiltasi pembuluh darah, menaikkan tekanan
darah
3. Bupivacain 12,5mg : anestesi local golongan amida untuk memblok
rangsangan nyeri dari saraf menuju ke otak
4. Midazolam 1,5 mg : sebagai sedasi
5. Petidin 25 mg : mengobati shivering

f. Cairan
1) Kristaloid:
Jenis: NaCl 0,9% 100 ml, RL 500 ml

2) Koloid:
Jenis:
Jumlah:
3) Produk Darah:
Jenis:
Jumlah:
2. Analisa Data

No Symptom Etiologi Problem


I. PRE ANESTESI
1 DS : Prosedur operasi yang akan Ansietas
- Klien mengatakan dilakukan
cemas
- Klien mengatakan Kurang pengetahuan tentang
baru pertama operasi
menjalani operasi
- Klien menanyakan
tentang prosedur
anestesi
DO :
TTV
TD : 130/90mmHg
Nadi = 90 x/menit,:

2 DS : - Pembedahan

DO : Problem kolaboratif RK
1. Pasien akan dilakukan Pembiusan cedera anestesi
tindakan regional
anestesi
Obat anestesi
2. Penggunaan needle
spinal no 27 G
3. Posisi pasien yang
akan dilakukan spinal
block setting position

II. INTRA ANESTESI

1
DS :
DO :
1. pasien terpasang tali
pengaman,
2. Pemindahan pasien ke meja Risiko trauma fisik
lengan pembedahan
operasi
3. pasien terpasang bed side
monitor
4. pasien dilakukan tindakan
Tindakan SAB
SAB
5. tidak ada aktifitas
fungsional motorik
2 DS : - Agen anestesi
↓ Problem kolaboratif RK
DO : Depresi miokard disfungsi
- Diberikan anestesi ↓ kardiovaskuler
regional SAB disfungsi jantung/vaskular
- TTV
TD : 89/70 mmHg
MAP : 76,3 mmHg
Nadi = 59 x/menit,:

3 DS : mengantuk Problem kolaboratif RK


disfungsi respirasi
DO :
- Klien dalam pengaruh
regional anestesi dan
sedasi
- Obat – obat
Bupivacain 0,5 %
Dosis 12,5 mg
Miloz : 1,5 mg

4 - Klien dalam pengaruh Obat anestesi regional Problem kolaboratif RK


regional anestesi memblok sensorik dan motorik disfungsi
- Obat – obat neuromuskuler
Bupivacain 0,5 %
Dosis 12,5 mg

5. DS : pasien mengeluh Regional anestesi Problem kolaboratif


kedinginan menyebabkan vasodilatasi disfungsi termoregulasi
perifer
DO :
- Klien dalam pengaruh
regional anestesi dan
sedasi
Suhu kamar operasi
20oC
B. PASCA ANESTESI

6. DS : mengantuk Problem kolaboratif


disfungi respirasi
DO :
- Klien sedang
dimonitoring
Post regional anestesi
dan sedasi

7 DS : - Potensial kolaboratif
disfungsi termoregulasi
DO :
- Klien sedang
dimonitoring
- Suhu ruang RR 24oC
- Post regional anestesi
II. Problem ( Masalah )
a. PRE ANESTESI
1. Ansietas
2. Problem kolaboratif cedera anestesi
b. INTRA ANESTESI
3. Resiko trauma fisik pembedahan
4. PK disfungsi kardiovaskuler
5. PK disfungsi respirasi
6. PK disfungsi termoregulasi
c. PASCA ANESTESI
7. PK disfugsi respirasi
8. PK disfungsi termoregulasi

[Link] Intervensi
Nama : Tn. E
No. CM : 217654
Umur :30 tahun
Dx : appendiksitis akut
Jenis kelamin :laki-laki
Ruang : Dahlia
No Problem(Masalah) Rencana Intervensi
Tujuan Intervensi
PRE ANESTESI
Ansietas Setelah dilakukan implementasi 1. Observasi vital sign
diharapkan kecemasan pasien
1 berkurang,dengan kriteria hasil ; 2. Kaji tingkat kecemasan
1) Tanda-tanda vital dalam batas
3. Jelaskan jenis prosedur
normal.
2) Pasien tidak gelisah dan tidak takut dilakukan serta anestesi yang
3) Pasien mengerti tentang prosedur
4. Beri kesempatan pa
operasi dan anestesi
4) Pasien siap dan setuju untuk mengungkapkan perasaan
dilakukan operasi
untuk mengurangi kecemasa
2 Risiko cedera Setelah dilakukan Implementasi 1) Kaji adanya penyulit yang dicur
anestesi diharapkan pasien tidak terjadi cidera - Penyakit kardiovaskular
selama anestesi, dengan kriteri hasil; - Penyakit pernapasan
1) Tidak terjadi aspirasi - Diabetes mellitus
2) Tidak terjadi hipotensi akibat - Penyakit Hati
vasodilatasi pembuluh darah - Penyakit ginjal
3) TTV dalam batas normal: - Suhu tubuh
TD: 110/70 mmHg 2) Lakukan pengkajian 6B
Nadi: 60-100 x/menit - Breathing
RR: 16-20 x/menit - Blood
Suhu: 36,5oC-37,5oC - Brain
SpO2: 95-100 % - Bowel
4) Pasien tidak mengalami cedera - Blader : terpasang DC
yang serius - Bone
3) Tanggalkan segala aksesoris pas
4) Lakukan pengkajian ABCDE
- A (Alergi)
- B (Bleeding tendencies)
- C (Cortison or steroid use)
- D (Diabetes melitus)
- E (Emboli)
5) Lakukan pengkajian AMPLE
- A (Alergi)
- M (Medikasi)
- P (Past illness/penyakit p
- L (Last meal/Makan terak
- E (event/lingkungan)
6) Lakukan persiapan pasien sebelu
- Puasakan pasien (8jam)
- Pengosongan kandung kem
DC
- Status nutrisi pasien/timbang
- Keseimbangan cairan dan el
- Informed consent (perset
anestesi)
7) Tetapkan kriteria mallampati d
jarak tiromentalis
8) Tentukan status fisik pasien
9) Delegatif pemberian premedikas
INTRA ANESTESI

Setelah dilakukan implementasi,


1 Risiko trauma 1. Pindahkan pasien ke meja opr
trauma fisik pembedahan tidak terjadi ,
fisik pembedahan 2. Pasang bed side monitor
dengan kriteria hasil :
3. Pasang penyangga lengan
1. pasien tidak mengalami trauma
4. Beri oksigen nasal canul 3lpm
pembedahan
5. Monitoring intra anestei
2. pasien terjaga dan aktivitas
6. Lakukan terminasi anestesi
fungsional motorik tidak terjadi

2 Potensi Setelah melakukan implementasi, 1. Persiapkan alat monitoring tand


komplikasi diharapkan pasien tidak terjadi 2. Persiapkan alat dan obat aneste
disfungsi disfungsi jantung/kardiovaskular perencanaan teknik anestesi
kardiovaskular dengan kriteria hasil; 3. Kaji akral pasien
1. Pasien tenang terjaga 4. Hindari penggunaan agen
2. EKG irama sinus normal/tidak ada meningkatkan respon saraf simp
distritmia yang mengancam nyawa 5. Lakukan monitoring intra aneste
3. TTV dalam batas normal
- Tekanan darah, irama dan
- TD >90/60 - 140/90 mmHg, MAP
>70 MAP), monitoring lead EKG
- Nadi teratur frekuensi 60-100 - monitoring balance cairan
kali/menit 6. delegatif :
- Palpasi nadi teraba kuat
4. Tidak ada distritmia yang - delegatif pemberian cairan
mengancam nyawa/gambaran delegatif pemberian obat vasso
EKG normal

2 Potensi Setelah dilakukan implementasi,- 1. Observasi TTV klien, khususnya


komplikasi diharapkan tidak terjadi disfungsi- 2. Observasi ada tidaknya sianosis
disfungsi respirasi, dengan kriteria hasil; - 3. Pantau ekspansi dada klien
respirasi 1. SpO2 pasien dalam rentang anestesi
normal - 4. Pantau keluhan klien khusu
2. Tidak ada tanda obtruksi jalan respirasi selama durante anestesi
napas - 5. Jaga airway klien agar tetap beba
anestesi
- 6. Pantau kebutuhan O2 klien
anestesi
7. Berikan O2 kanul 2-3 lpm

3 Potensi Setelah dilakukan implementasi, 1) Monitoring suhu tubuh secara


komplikasi diharapkan suhu tubuh pasien tetap pasien di pindahkan ke kamar op
Disfungsi dalam batas normal, dengan kriteria 2) Selama proses persiapan pem
termoregulasi hasil; seluas mungkin permukaan tubu
(Hipotermia) 1) Suhu tubuh dalam batas normal 3) Delegatif dalam pemberian ob
36,5oC-37,5 oC mencegah shivering.
2) Pasien tidak menggigil

POST ANESTESI
5 Potensi Setelah dilakukan implementasi,- 1. Observasi TTV klien, khususnya
komplikasi diharapkan tidak terjadi disfungsi- 2. Observasi ada tidaknya sianosis
disfungsi respirasi, dengan kriteria hasil;- 3. Pantau ekspansi dada klien selam
respirasi 3. SpO2 pasien dalam rentang- 4. Pantau keluhan klien khusu
normal respirasi selama post anestesi
4. Tidak ada tanda obtruksi jalan- 5. Jaga airway klien agar tetap be
napas anestesi
- 6. Pantau kebutuhan O2 klien selam
- 7. Berikan O2 kanul 2-3 lpm
6 Potensi Setelah dilakukan implementasi, 1) Monitoring suhu tubuh secara
komplikasi diharapkan tidak terjadi disfungsi pasien di pindahkan ke kamar pe
disfungsi termoregulasi, dengan kriteria hasil; 2) Tutupi seluas mungkin permuka
termoregulasi 1) Suhu tubuh dalam batas normal dengan selimut
36,5oC-37,5 oC 3) Kolaborasi dalam pemberian
2) Pasien tidak menggigil mencegah kejadian shivering

IV. Implementasi
Nama : Tn. E
No. CM : 217654
Umur :30 tahun
Dx : appendiksitis akut
Jenis kelamin :laki-laki
Ruang : Dahlia
No Hari/Tanggal Problem (Masalah Jam Implementasi Evaluasi
Kesehatan Anestesi)

PRE ANESTESI
1 Jumat , Ansietas 9.00 1. Mengobservasi vital sign DS : Pasien meng
2. Mengkaji tingkat kecemasan takutnya mulai berk
18/12/2020
3. Menjelaskan jenis prosedur
yang akan dilakukan serta DO :
anestesi yang dilakukan TD : 120/80 mmhg
N : 90x/menit
4. Memberikan kesempatan RR : 20 x/menit
pasien untuk
Suhu : 36,6ºC
mengungkapkan perasaan
kekhawatiran untuk
mengurangi kecemasan.
2 Risiko cedera 9.20 1. Mengkaji adanya penyulit DO :
anestesi yang dicurigai akan terjadi AMPLE
2. Melakukan pengkajian 6B
- Alergi : Tidak
3. Menanggalkan segala
- Medikasi :
aksesoris pasien
penggunaan o
4. Melakukan pengkajian
kortikosteroid
ABCDE
- Past illness
5. Melakukan pengkajian
penyakit penye
AMPLE
- Last meal : 22
6. Menetapkan kriteria
- Exposure: tida
mallampati dan pemeriksaan
- Mallampati 1
tiromentalis
7. Menetapkan status fisik pasien - Tyromentalis >

8. melakukan tindakan delegatif - Status fisik asa

pemberian obat premedikasi TD: 120/80 mmHg


Ondansentron 4 mg/IV Nadi:90 x/menit

RR: 20 x/menit

SpO2: 99 %

INTRA ANESTESI
1 Risiko trauma fisik 10.00 1)Memindahkan pasien ke meja DS : -
pembedahan oprasi DO :
2)Memasang penyangga lengan
- Pasien terpasang
dan tali pengaman
- Pasien terpasa
3)Memasang bed side monitor lengan
4)Memberikan oksigen nasal - pasien terpasa
monitor
kanul 2lpm
TD: 120/70 m
Nadi:85 x/men
RR: 19 x/meni
SpO2: 100 %
2 Potensi komplikasi 10.20 1) Melakukan monitoring intra DS : -
disfungsi anestesi DO :
kardiovaskular - Tekanan darah, irama dan 1) EKG sinus ritm
- TD 87/50mmH
frekuensi nadi, MAP), - MAP 62
monitoring lead EKG - Nadi 56 x/men

2) Delegatif dalam pemberian


cairan
3) Delegatif dalam pemberian
obat vassopresor efedrin10
mg/iv
3 Potensi komplikasi 10.25 1. Mengobservasi TTV klien, DS : -
disfungsi respirasi khususnya SpO2 DO :- pasien bernaf
2. Mengobservasi ada tidaknya - SpO2 : 100%
sianosis
- RR : 20x/mnt
3. Memantau ekspansi dada klien - Tidak ada sian
selama durante anestesi
- Ekspansi da
4. Memantau keluhan klien adekuat
khususnya mengenai respirasi
selama durante anestesi

5. Menjaga airway klien agar


tetap bebas selama durante
anestesi

6. Memantau kebutuhan O2 klien


selama durante anestesi

7. Memberikan O2 kanul 2-3 lpm

4 Potensi komplikasi 6. Monitoring suhu tubuh secara DS : pasien mengat


Disfungsi rutin selama pasien di kamar DO :
termoregulasi operasi
1. Pasien tampak m
(Hipotermia) 7. Delegatif dalam pemberian 2. Suhu : 35,4ºC
obat petidin 25 mg untuk 3. Seluruh tubuh te
mencegah shivering.
POST ANESTESI
5 Potensi komplikasi 21.10 1. Mengobservasi TTV klien, DS : -
disfungsi respirasi khususnya SpO2 DO :- pasien bernaf
2. Mengobservasi ada
- SpO2 : 100%
tidaknya sianosis
- RR : 20x/mnt
3. Memantau ekspansi dada
- Tidak ada sianos
klien selama di RR
4. Memantau keluhan klien - Ekspansi dada b
khususnya mengenai respirasi
selama di RR
5. Menjaga airway klien agar
tetap bebas selama di RR
6. Memantau kebutuhan O2
klien selama di RR
7. Memberikan O2 kanul 3
lpm
6 Potensi komplikasi 21.10 1) Monitoring suhu tubuh secara DS : pasien mengat
disfungsi rutin selama di RR DO :
termoregulasi 2) Menutupi permukaan tubuh
1. Suhu : 35,3ºC
pasien dengan selimut 2. Seluruh tubuh
3) Memberikan blanket warmer 3. Pasien tampak
V. Evaluasi

Nama : Tn. E
No. CM : 217654
Umur :30 tahun
Dx : appendiksitis
Jenis kelamin :laki-laki
Ruang : Dahlia
No Hari/Tanggal/Ja Masalah Evaluasi
m Kesehatan
Anestesi
Pre anestesi
1 Ansietas S : Klien mengatakan cemas dapat ditoleransi
O : Klien tampak tenang
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan kondisi klien
2 Problem S:-
kolaboratif
O:
cedera anestesi
- Tidak terjadi cedera anestesi
- Hemodinamik dalam batas normal
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 90x/mnt
A : Masalah tidak terjadi
P : Hentikan intervensi
Intra anestesi
3 Problem S:-
kolaboratif
O : Terpenuhinya tanda – tanda anestesi
trauma
regional ( analgesia, arefleksia )
pembedahan
A : Masalah tidak terjadi
P : Hentikan intervensi
4 Problem S:-
kolaboratif
O:
disfungsi
kardiovaskuler - TTV
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 80x/menit
MAP : 93 mmHg
EKG : Sinus rhythm
A : Masalah tidak terjadi
P : Hentikan intervensi
5 Problem S:-
kolaboratif
O : TTV
disfungsi
respirasi - SpO2 : 100%
- RR : 20x/mnt
- Tidak ada sianosis
- Ekspansi dada baik dan adekuat
A : Masalah tidak terjadi
P : Hentikan intervensi
6 Problem S:-
kolaboratif
O:
disfungsi
termoregulasi - Suhu tubuh dapat dikontrol
- Klien terpasang selimut
- Suhu tubuh teraba hangat
A : Masalah tidak terjadi
P : Hentikan intervensi
Post anestesi
7 Problem S:-
kolaboratif
O : TTV
disfungsi
respirasi - SpO2 : 100%
- RR : 20x/mnt
- Tidak ada sianosis
- Ekspansi dada baik dan adekuat
A : Masalah tidak terjadi
P : Hentikan intervensi
8 Problem S:
kolaboratif
- Klien mengatakan tidak kedinginan
disfungsi
termoregulasi O:
- Klien tampak nyaman
A : Masalah tidak terjadi
P : Hentikan Intervensi

Anda mungkin juga menyukai