Asuhan Anestesi Apendisitis Akut
Asuhan Anestesi Apendisitis Akut
DISUSUN OLEH :
FAKULTAS KESEHATAN
2. RUMUSAN MASALAH
Bagaimanakah asuhan kepenataan anestesi pada pasien appendicitis dengan tindakan
operasi appendectomy dengan teknik anestesi regional (spinal) ?
3. TUJUAN
PENULISAN
a. Tujuan Umum
b. Tujuan Khusus:
4. MANFAAT
a. Manfaat Teoritis
Hasil penulisan asuhan kepenataan yang dilakukan, diharapkan dapat
memberikan manfaat bagi Pengembangan Ilmu Keperawatan
b. Manfaat Praktis
a) Bagi Perawat
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, wawasan
dan sebagai bahan untuk menerapkan Ilmu Kepenataan
b) Bagi Rumah Sakit
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan edukasi
dalam mengatasi Pasien Appendicitis dengan Tindakan Operasi
Appendetomy di rumah sakit umum negara.
c) Bagi institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan dan bermanfaat
sebagai acuan untuk dapat meningkatkan keilmuan mahasiswa
alihjenjang keperawatan anestesiologi dan riset kepenataan tentang
Asuhan kepenataan anestesi Pada Pasien Appendicitis akut dengan
Tindakan Operasi appendetomy di Rumah Sakit Negara.
6. RUANG LINGKUP
Laporan ini tentang asuhan kepenataan anestesi pada pasien
appendicitis akut dengan tindakan operasi appendetomy di Rumah Sakit
Negara. Pada kasus apendisitis apabila apendisitis tidak ditangani dengan
baik, maka akan menyebabkan pecahnya usus buntu. Lokasi dilakukan
diruang operasi Rumah Sakit Negara pada tanggal 21 September 2021,
subjek pada penulisan asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami
masalah apendisitis akut, dengan melakukan asuhan kepenataan pada
pasien pre operasi, inta operasi, post operasi yang akan dilakukan tindakan
operasi appendetomy.
panjang 6-9 cm dengan pangkal terletak pada bagian pangkal usus besar
bernama sekum yang terletak pada perut kanan bawah (Handaya, 2017).
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai
adalah inflamasi saluran usus yang tersembunyi dan kecil yang berukuran
sekitar 4 inci yang buntu pada ujung sekum (Rosdahl dan Mary T. Kowalski,
2015).
lebih dikenal dengan nama usus buntu, merupakan kantung kecil yang buntu
2. Etiologi
Menurut Haryono (2012) apendiksitis akut dapat disebabkan oleh
beberapa sebab terjadinya proses radang bakteria yang dicetuskan oleh
beberapa faktor pencetus diantaranya hiperplasia jaringan limfe, fekalith,
tumor apendiks, dan cacing askaris yang menyumbat. Menurut
Sjamsuhidajat & Jong (2004) apendisitis disebabkan oleh infeksi bakteria.
Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai faktor
pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor apendiks, dan
cacing askaris yang dapat menyebabkan sumbatan . terdapat pula penyebab
yang dapat menimbulkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena
parasit seperti [Link]. penelitian epidemiologi menyatakan peran
kebiasaan makan-makanan rendah serat dan mempengaruhi konstipasi
dapat menimbulkan apendisitis karena konstipasi akan menaikkan tekanan
intrasekal yang dapat mengakibatkan timbulnya sumbatan pada fungsional
apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman.
tajam.
b. Bisa disertai nyeri seluruh perut apabila sudah terjadi perionitis karena
abdomen
c. Mual
d. Muntah
f. Konstipasi
g. Demam
mengalami perforasi
b. Pemeriksaan Radiologi
2) Ultrasonografi (USG)
3) CT – Scan
C – Reactive Protein (CRP) adalah sintesis dari reaksi fase akut oleh hati
5. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan pada penderita apendisitis yaitu dengan tindakan
pembedahan/Apendiktomi. Apendiktomi adalah intervensi bedah untuk melakukan
pengangkatan bagian tubuh yang mengalami masalah atau mempunyai penyakit.
Apendiktomi dapat dilakukan dengan dua metode pembedahan yaitu pembedahan
secara terbuka/ pembedahan konveksional (laparotomi) atau dengan menggunakan
teknik laparoskopi yang merupakan teknik pembedahan minimal infasif dengan
metode terbaru yang sangat efektif (Berman& kozier, 2012 dalam Manurung, Melva
dkk, 2019). Laparoskopi apendiktomi adalah tindakan bedah invasive minimal yang
paling banyak digunakan pada apendisitis akut. Tindakan ini cukup dengan
memasukkan laparoskopi pada pipa kecil (trokar) yang dipasang melalui umbilikus
dan dipantau melalui layar monitor. Sedangkan Apendiktomi terbuka adalah tindakan
dengan cara membuat sayatan pada perut sisi kanan bawah atau pada daerah Mc
Burney sampai menembus peritoneum.
C. PERTIMBANGAN ANESTESI
1. Definisi Anestesi
Anestesi dan reanimasi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari
tatalaksana untuk mematikan rasa. Rasa nyeri, rasa tidak nyaman pasien, dan rasa lain
yang tidak diharapkan. Anestesiologi adalah ilmu yang mempelajari tatalaksana untuk
menjaga atau mempertahankan hidup pasien selama mengalami “kematian” akibat
obat anestesia (Mangku, 2010).
Anestesi berarti “hilangnya rasa atau sensasi”. Istilah yang digunakan para ahli
saraf dengan maksud untuk menyatakan bahwa terjadi kehilangan rasa secara
patologis pada bagian tubuh tertentu, atau bagian tubuh yang dikehendaki (Boulton,
2012).
2. Jenis Anestesi
a. Anestesi Umum
Anestesi umum (General Anesthesia) disebut pula dengan nama Narkose
Umum (NU). Anastesi Umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara
sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat reversible. Anestesi umum
yang sempurna menghasilkan ketidak sadaran, analgesia, relaxasi otot tanpa
menimbulkan resiko yang tidak diinginkan dari pasien.
1. Anestesi umum dengan Face mask
LMA bisa menggantikan ETT dan face mask. Pemilihan ukuran LMA
sesuai dengan berat badan pasien.
Ukuran LMA
Ukuran LMA Pasien Berat Badan
(Kg)
1 Infant <6,5
2 Child 6,5-20
21/2 Child 20-30
3 Small adult 30
4 Normal adult <70
5 Large adult >70
Dikutip dari edward morgan,2007
b. Sumbatan faring
Hal ini dapat terjadi akibat hiperventilasi karena penempatan LMA tepat
diatas trachea dan esofagus kemungkinan besar udara lebih banyak masuk
ke lambung.
b. Regurgitasi
Anestesi umum dengan intubasi yaitu dengan memasukan ETT atau pipa
jalan nafas langsung ke trachea tepat diatas karina (percabangan bronkus).
Intubasi digunakan dengan TIVA dan maintanance inhalasi. Ukuran ETT
dipilih sesuai dengan umur dan berat badan [Link] menetukan
g. Gagal nafas
b. Regional Anestesi
Anestesi regional merupakan suatu metode yang
(Pramono, 2017).
spinal.
2) Anestesi Epidural
Anestesi yang menempatkan obat di ruang epidural (peridural,
ekstradural). Ruang ini berada di antara ligamentum flavum dan
durameter. Bagian atas berbatasan dengan foramen magnum di
dasar tengkorak dan bagian bawah dengan selaput sakrokoksigeal.
Kedalaman ruang rata-rata 5 mm dan di bagian posterior
kedalaman maksimal terletak pada daerah lumbal. Anestetik lokal
di ruang epidural bekerja langsung pada saraf spinal yang terletak
di bagian lateral. Onset kerja anestesi epidural lebih lambat
dibanding anestesi spinal. Kualitas blokade sensoris dan
motoriknya lebih lemah.
3) Anestesi Kaudal
perianal.
keadaan bugar.
Penundaan jadwal operasi akan merugikan semua pihak, terutama pasien dan
keluarganya.
pelayanan kesehatan.
Terjadinya kasus salah identitas dan salah operasi bukan cerita untuk
a. Anamnesis
muntah, nyeri otot, gatal-gatal atau sesak nafas pasca bedah, sehingga
kita dapat merancang anestesi berikutnya dengan lebih baik. Kita harus
samping.
hepar.
b. Pemeriksaan fisik
c. Pemeriksaan laboratorium
EKG dan foto toraks. Praktek-praktek semacam ini harus dikaji ulang
semacam ini.
rutin terbatas
B. Spinal Anestesi
kerja obat anestesi lokal pada SAB dan komplikasi yang dapat
luas, obat harus berdifusi ke atas, dan hal ini tergantung banyak faktor
antara lain posisi pasien selama dan setelah penyuntikan, barisitas dan
berat jenis obat. Berat jenis obat lokal anesthesia dapat diubah–ubah
anestesi mempunyai berat jenis yang lebih besar dari berat jenis cairan
2011).
1. Anatomi
dewasa)
median, jarum melewati ketiga dorsal ligamen dan melalui ruang oval
peritoneal.
a. Absolut
1) Pasien menolak
kompensasi
2) Kelainan neurologis
3) Kelainan psikis
5) Penyakit jantung
6) Nyeri punggung
b. Pemeriksaan fisik
Tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan tulang
punggung
adalah barisitas (Barik Grafity) yaitu rasio densitas obat spinal anestesi
dapat diartikan sebagai berat dalam gram dari 1ml cairan (gr/ml) pada
2011).
a. Peralatan monitor
d. Jarum spinal
(Bernards, 2006).
(Morgan, 2006):
spinal anestesi.
2) Posisi pasien :
arah dada.
sadle block.
c) Posisi Prone. Jarang dilakukan, hanya digunakan bila
4) Cara penusukan.
Pakailah jarum yang kecil (no. 25, 27 atau 29). Makin besar
Bila keluar darah, tarik jarum beberapa mili meter sampai yang
ada, perdarahan relatif sedikit, setelah pembedahan pasien lebih segar atau
adalah waktu yang dibutuhkan untuk induksi dan waktu pemulihan lebih
lama, adanya resiko kurang efektif block saraf sehingga pasien mungkin
bicara, batuk kering yang persisten, mual muntah, nyeri kepala setelah
operasi, retansi urine dan kerusakan saraf permanen (Bunner dan Suddart,
2002)
C. FORMAT ASKAN RUANG OK
A. Pengkajian
1. Pengumpulan Data
1. Anamnesis
a. Identitas
1) Identitas Pasien
Nama : Tn. A
Umur : 32 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Hindu
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Suku Bangsa : Indonesia
Status perkawinan` : Kawin
Golongan darah :B
BB : 60 kg
TB : 160 cm
Alamat : jl. Kaliakah no. 3
No. CM : 217654
Diagnosa medis : Apendisitis
Tindakan Operasi : Apendektomi
Tanggal MRS : 20 September 2021
Tanggal pengkajian : 20 September 2021 Jam Pengkajian: 8.25
WITA
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama
a. Saat Masuk Rumah Sakit
Pasien mengeluh nyeri pada perut kanan bagian bawah
b. Saat Pengkajian
Pasien mengatakan takut dilakukan operasi
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluh nyeri pada bagian perut kanan bawah sejak 4 hari yang lalu
Rasa nyeri berawal pada bagian umbilicus kemudian menjalar sampai ke
perut bagian bawah. pasien megatakan mengalami demam sejak 2 hari yang
lalu . pasien mengatakan bahwa nyeri akan semakin terasa jika pasien
bergerak . pasien terlihat tegang dan mengatakan belum pernah dioperasi
sebelumnya.
2) Air / Minum
Sebelum Sakit
(1) Frekuensi : 7- 8 gelas sehari
(2) Jenis : air mineral
(3) Cara : mandiri
(4) Minum Terakhir : teh
(5) Keluhan : tidak ada
Saat Ini
(6) Frekuensi : 4-5 gelas sehari
(7) Jenis : air mineral
(8) Cara : mandiri ( oral )
(9) Minum Terakhir : puasa jam 22.00 wita
(10) Keluhan : tidak ada
3) Nutrisi/ makanan
Sebelum Sakit
- Frekuensi : 2-3 x/ hari
- Jenis : Padat
- Porsi : 1 piring penuh
- Diet khusus : tidak ada
- Makanan yang disukai : nasi goreng pedas
- Napsu makan : baik
- Puasa terakhir : tidak ada
- Keluhan : tidak ada
Saat ini
- Frekuensi : 1-2 x/ hari
- Jenis : cair
- Porsi : ½ porsi
- Diet khusus : tidak ada
- Makanan yang disukai : tidak ada
- Napsu makan : berkurang
- Keluhan : penurunan nafsu
- Makan terakhir : puasa dari jam 22.00 wita
4) Eliminasi
a) BAB
Sebelum sakit
- Frekuensi : 1 x / hari
- Konsistensi : padat
- Warna : normal feses
- Bau : bau khas feses
- Cara (spontan/dg alat) : spontan
- Keluhan : tidak ada
Saat ini
- Frekuensi : 1x/ hari
- Konsistensi : encer
- Warna : coklat
- Bau : khas feses
- Cara (spontan/dg alat) : spontan
- Keluhan : tidak ada
b) BAK
Sebelum sakit
- Frekuensi : 5-6 x/hari
- Konsistensi : cair
- Warna : bening kekuningan
- Bau : khas urin ( amoniak )
- Cara (spontan/dg alat) : spontan
- Keluhan : tidak ada
Saat ini
- Frekuensi : 2-3 x/ hari
- Konsistensi : cair
- Warna : kuning pekat
- Bau : amoniak
- Cara (spontan/dg alat) : spontan
- Keluhan : tidak ada
Toileting
Berpakaian
Berpindah
2. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum
Kesadaran : komposmetis / apatis / delirium/ somnolen / sopor/ koma
GCS : Mata 4, Verbal 5, Motorik 6
Penampilan : tampak sakit ringan/sedang/berat
Tanda-tanda Vital : Nadi = 90 x/menit, Suhu =380 C, TD =130/ 90 mmHg,
RR =20 x/menit, Skala Nyeri: 6
BB: 60 Kg, TB:160 Cm, BMI: 23,4 ( berat badan normal )
Pengkajian PQRST
P = agen cidera fisik menyebabkan infeksi
Q = nyeri kolik abdomen
R = nyeri terasa disekitar daerah umbilicus dan titik mcBurney
S = skala nyeri 6
T = nyeri hilang timbul, muncul saat bergerak ( batuk dan berjalan
2) Pemeriksaan Kepala
Inspeksi :
Bentuk kepala (dolicephalus/ lonjong, brakhiocephalus/ bulat ), kesimetrisan
(+ ), hidrochepalus ( - ), Luka ( - ), darah (-), trepanasi ( - ).
Palpasi :
Nyeri tekan (- ),
3) Pemeriksaan Wajah :
Inspeksi :
Ekspresi wajah (tegang/meringis / rileks), dagu kecil (-), Edema (-),
kelumpuhan otot-otot fasialis (-), sikatrik (-), micrognathia (-), rambut wajah (-)
4) Pemeriksaan Mata
Inspeksi :
Kelengkapan dan kesimetrisan mata ( +)
Ekssoftalmus ( - ), Endofthalmus ( - )
Kelopak mata / palpebra : oedem ( - ), ptosis ( - ), peradangan ( - ) luka ( - ),
benjolan ( - )
Bulu mata (tidak rontok)
Konjunctiva dan sclera : perubahan warna tidak ada
Reaksi pupil terhadap cahaya : (miosis ) isokor ( + )
Kornea : warna hitam
Nistagmus( - ), Strabismus (- )
Ketajaman Penglihatan ( Baik )
Penggunaan kontak lensa: tidak
Penggunaan kaca mata: tidak
Palpasi
Pemeriksaan tekanan bola mata : tidak diukur
5) Pemeriksaan Telinga
Inspeksi dan palpasi
- Amati bagian telinga luar : bentuk simetris
Lesi (- ), nyeri tekan (- ),peradangan (- ), penumpukan serumen (-).
- perdarahan (- ), perforasi (- ).
- Tes kepekaan telinga : baik
6) Pemeriksaan Hidung
Inspeksi dan palpasi
(a) Amati bentuk tulang hidung dan posisi septum nasi (adakah
pembengkakan atau tidak ) tidak
(b)Amati meatus : perdarahan (- ), Kotoran (- ), Pembengkakan (- ),
pembesaran/polip (- )
(c)pernafasan cuping hidung (- ).
8) Pemeriksaan Leher
Inspeksi dan amati dan rasakan :
- Bentuk leher (simetris), peradangan (- ), jaringan parut (-), perubahan warna
(-), massa (- )
- Kelenjar tiroid, pembesaran ( - )
- Vena jugularis : pembesaran (- )
- Pembesaran kelenjar limfe (- ), posisi trakea (simetris)
- Mobilitas leher : menggerakan rahang kedepan : (baik ), ekstensi : (baik),
fleksi : (baik ), menggunakan collar : (tidak)
- Leher pendek: tidak
Palpasi
- Kelenjar tiroid: pembesaran
- Vena jugularis : tekanan : (tidak)
-
- Jarak thyro mentalis < 6 cm : ( tidak)
- Mobilitas leher : menggerakan rahang kedepan : ( baik), ekstensi : (baik ),
fleksi : (baik), menggunakan collar : (tidak )
9) Pemeriksaan Payudara dan Ketiak
Inspeksi
(1)Bentuk (simetris), pembengkakan (- ).
(2)Kulit payudara : warna kulit lesi (- )
(3)Areola : perubahan warna (- )
(4)Putting : cairan yang keluar (- ), ulkus (- ), pembengkakan (- )
Palpasi
(5)Nyri tekan (- ), dan kekenyalan (kenyal), benjolan massa (-), mobile (-)
(6)Lainnya:………………
Perkusi
Area paru : ( sonor / hipersonor / dullnes )
Auskultasi
(a) Suara nafas
Area Vesikuler : ( bersih / halus / kasar ) ,
Area Bronchial : ( bersih / halus / kasar )
Area Bronkovesikuler : ( bersih / halus / kasar )
(b) Suara Ucapan
Terdengar : Bronkophoni (/-), Egophoni (-), Pectoriloqy (-)
(c) Suara tambahan
Terdengar : Rales ( - ), Ronchi ( - ), Wheezing ( - ), Pleural
fricion rub ( - )
b) Pemeriksaan Jantung
Inspeksi
Ictus cordis ( - ), pelebaran tidak
Lainnya: tidak
Palpasi
Pulsasi pada dinding torak teraba : ( Lemah / Kuat / Tidak teraba )
Lainnya: tidak
Perkusi
Batas-batas jantung normal adalah :
Batas atas : ICS II ( N = ICS II )
Batas bawah : ICS V. ( N = ICS V)
Batas Kiri : ICS V ( N = ICS V Mid Clavikula Sinistra)
Batas Kanan : ICS IV ( N = ICS IV Mid Sternalis Dextra)
Auskultasi
BJ I terdengar (tunggal / ganda, ( keras / lemah ), ( reguler / irreguler )
BJ II terdengar (tunggal / ganda ), (keras / lemah), ( reguler / irreguler )
Bunyi jantung tambahan : BJ III ( - ), Gallop Rhythm (-), Murmur (-)
Palpasi
Perfusi: hangat, kering
CRT: < 2
Edema : tidak ada
Lakukan uji kekuatan otat : ( 1 – 5 )
Lainnya:………………
b) Ekstremitas Bawah :
Inspeksi
Otot antar sisi kanan dan kiri (simetris), deformitas (-)
Fraktur (-), lokasi fraktur ………………….., jenis fraktur
…………………… kebersihan luka…………………….., terpasang gips
(+/-), Traksi ( + / - ), atropi otot ( + / -)
IV line: terpasang di...................., ukuran abocatch.............,
tetesan:..................
ROM: baik
Lainnya: tidak
Palpasi
Perfusi: hangat, kering
CRT: < 3
Edema : (0 )
Lakukan uji kekuatan otot : ( 5 )
Lainnya:tidak
- Edema : 0 0
0 0
b. Pemeriksaan Radiologi :
Hasil Pemeriksaan radiologi :thorax foto normal
c. USG : appendix tervisualisasikan
6. Pertimbangan Anestesi
a. Faktor penyulit:
b. Jenis Anestesi: Regional Anestesi
Indikasi: Pembedahan pada tubuh bagian bawah
c. Teknik Anestesi: SAB
Indikasi: Pembedahan pada tubuh bagian bawah
d. Persiapan Alat:
1) Aparatus Anestesi (set block : spinal needle no 27 G, spuit 5cc,
deppers, duk lubang steril, alcohol, betadin)
2) STATICS (Scope: Stetoscope, laryngoscope. Tubes : endotracheal
tube, Airway : guedel, nasotracheal airway, Tape : plester, Introducer :
stilet, conector, suction)
e. Obat2an Anestesi :
1) Pre-medikasi Ondansentron 4 mg
f. Cairan
1) Kristaloid:
Jenis: NaCl 0,9% 100 ml, RL 500 ml
2) Koloid:
Jenis:
Jumlah:
3) Produk Darah:
Jenis:
Jumlah:
2. Analisa Data
2 DS : - Pembedahan
DO : Problem kolaboratif RK
1. Pasien akan dilakukan Pembiusan cedera anestesi
tindakan regional
anestesi
Obat anestesi
2. Penggunaan needle
spinal no 27 G
3. Posisi pasien yang
akan dilakukan spinal
block setting position
1
DS :
DO :
1. pasien terpasang tali
pengaman,
2. Pemindahan pasien ke meja Risiko trauma fisik
lengan pembedahan
operasi
3. pasien terpasang bed side
monitor
4. pasien dilakukan tindakan
Tindakan SAB
SAB
5. tidak ada aktifitas
fungsional motorik
2 DS : - Agen anestesi
↓ Problem kolaboratif RK
DO : Depresi miokard disfungsi
- Diberikan anestesi ↓ kardiovaskuler
regional SAB disfungsi jantung/vaskular
- TTV
TD : 89/70 mmHg
MAP : 76,3 mmHg
Nadi = 59 x/menit,:
7 DS : - Potensial kolaboratif
disfungsi termoregulasi
DO :
- Klien sedang
dimonitoring
- Suhu ruang RR 24oC
- Post regional anestesi
II. Problem ( Masalah )
a. PRE ANESTESI
1. Ansietas
2. Problem kolaboratif cedera anestesi
b. INTRA ANESTESI
3. Resiko trauma fisik pembedahan
4. PK disfungsi kardiovaskuler
5. PK disfungsi respirasi
6. PK disfungsi termoregulasi
c. PASCA ANESTESI
7. PK disfugsi respirasi
8. PK disfungsi termoregulasi
[Link] Intervensi
Nama : Tn. E
No. CM : 217654
Umur :30 tahun
Dx : appendiksitis akut
Jenis kelamin :laki-laki
Ruang : Dahlia
No Problem(Masalah) Rencana Intervensi
Tujuan Intervensi
PRE ANESTESI
Ansietas Setelah dilakukan implementasi 1. Observasi vital sign
diharapkan kecemasan pasien
1 berkurang,dengan kriteria hasil ; 2. Kaji tingkat kecemasan
1) Tanda-tanda vital dalam batas
3. Jelaskan jenis prosedur
normal.
2) Pasien tidak gelisah dan tidak takut dilakukan serta anestesi yang
3) Pasien mengerti tentang prosedur
4. Beri kesempatan pa
operasi dan anestesi
4) Pasien siap dan setuju untuk mengungkapkan perasaan
dilakukan operasi
untuk mengurangi kecemasa
2 Risiko cedera Setelah dilakukan Implementasi 1) Kaji adanya penyulit yang dicur
anestesi diharapkan pasien tidak terjadi cidera - Penyakit kardiovaskular
selama anestesi, dengan kriteri hasil; - Penyakit pernapasan
1) Tidak terjadi aspirasi - Diabetes mellitus
2) Tidak terjadi hipotensi akibat - Penyakit Hati
vasodilatasi pembuluh darah - Penyakit ginjal
3) TTV dalam batas normal: - Suhu tubuh
TD: 110/70 mmHg 2) Lakukan pengkajian 6B
Nadi: 60-100 x/menit - Breathing
RR: 16-20 x/menit - Blood
Suhu: 36,5oC-37,5oC - Brain
SpO2: 95-100 % - Bowel
4) Pasien tidak mengalami cedera - Blader : terpasang DC
yang serius - Bone
3) Tanggalkan segala aksesoris pas
4) Lakukan pengkajian ABCDE
- A (Alergi)
- B (Bleeding tendencies)
- C (Cortison or steroid use)
- D (Diabetes melitus)
- E (Emboli)
5) Lakukan pengkajian AMPLE
- A (Alergi)
- M (Medikasi)
- P (Past illness/penyakit p
- L (Last meal/Makan terak
- E (event/lingkungan)
6) Lakukan persiapan pasien sebelu
- Puasakan pasien (8jam)
- Pengosongan kandung kem
DC
- Status nutrisi pasien/timbang
- Keseimbangan cairan dan el
- Informed consent (perset
anestesi)
7) Tetapkan kriteria mallampati d
jarak tiromentalis
8) Tentukan status fisik pasien
9) Delegatif pemberian premedikas
INTRA ANESTESI
POST ANESTESI
5 Potensi Setelah dilakukan implementasi,- 1. Observasi TTV klien, khususnya
komplikasi diharapkan tidak terjadi disfungsi- 2. Observasi ada tidaknya sianosis
disfungsi respirasi, dengan kriteria hasil;- 3. Pantau ekspansi dada klien selam
respirasi 3. SpO2 pasien dalam rentang- 4. Pantau keluhan klien khusu
normal respirasi selama post anestesi
4. Tidak ada tanda obtruksi jalan- 5. Jaga airway klien agar tetap be
napas anestesi
- 6. Pantau kebutuhan O2 klien selam
- 7. Berikan O2 kanul 2-3 lpm
6 Potensi Setelah dilakukan implementasi, 1) Monitoring suhu tubuh secara
komplikasi diharapkan tidak terjadi disfungsi pasien di pindahkan ke kamar pe
disfungsi termoregulasi, dengan kriteria hasil; 2) Tutupi seluas mungkin permuka
termoregulasi 1) Suhu tubuh dalam batas normal dengan selimut
36,5oC-37,5 oC 3) Kolaborasi dalam pemberian
2) Pasien tidak menggigil mencegah kejadian shivering
IV. Implementasi
Nama : Tn. E
No. CM : 217654
Umur :30 tahun
Dx : appendiksitis akut
Jenis kelamin :laki-laki
Ruang : Dahlia
No Hari/Tanggal Problem (Masalah Jam Implementasi Evaluasi
Kesehatan Anestesi)
PRE ANESTESI
1 Jumat , Ansietas 9.00 1. Mengobservasi vital sign DS : Pasien meng
2. Mengkaji tingkat kecemasan takutnya mulai berk
18/12/2020
3. Menjelaskan jenis prosedur
yang akan dilakukan serta DO :
anestesi yang dilakukan TD : 120/80 mmhg
N : 90x/menit
4. Memberikan kesempatan RR : 20 x/menit
pasien untuk
Suhu : 36,6ºC
mengungkapkan perasaan
kekhawatiran untuk
mengurangi kecemasan.
2 Risiko cedera 9.20 1. Mengkaji adanya penyulit DO :
anestesi yang dicurigai akan terjadi AMPLE
2. Melakukan pengkajian 6B
- Alergi : Tidak
3. Menanggalkan segala
- Medikasi :
aksesoris pasien
penggunaan o
4. Melakukan pengkajian
kortikosteroid
ABCDE
- Past illness
5. Melakukan pengkajian
penyakit penye
AMPLE
- Last meal : 22
6. Menetapkan kriteria
- Exposure: tida
mallampati dan pemeriksaan
- Mallampati 1
tiromentalis
7. Menetapkan status fisik pasien - Tyromentalis >
RR: 20 x/menit
SpO2: 99 %
INTRA ANESTESI
1 Risiko trauma fisik 10.00 1)Memindahkan pasien ke meja DS : -
pembedahan oprasi DO :
2)Memasang penyangga lengan
- Pasien terpasang
dan tali pengaman
- Pasien terpasa
3)Memasang bed side monitor lengan
4)Memberikan oksigen nasal - pasien terpasa
monitor
kanul 2lpm
TD: 120/70 m
Nadi:85 x/men
RR: 19 x/meni
SpO2: 100 %
2 Potensi komplikasi 10.20 1) Melakukan monitoring intra DS : -
disfungsi anestesi DO :
kardiovaskular - Tekanan darah, irama dan 1) EKG sinus ritm
- TD 87/50mmH
frekuensi nadi, MAP), - MAP 62
monitoring lead EKG - Nadi 56 x/men
Nama : Tn. E
No. CM : 217654
Umur :30 tahun
Dx : appendiksitis
Jenis kelamin :laki-laki
Ruang : Dahlia
No Hari/Tanggal/Ja Masalah Evaluasi
m Kesehatan
Anestesi
Pre anestesi
1 Ansietas S : Klien mengatakan cemas dapat ditoleransi
O : Klien tampak tenang
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan kondisi klien
2 Problem S:-
kolaboratif
O:
cedera anestesi
- Tidak terjadi cedera anestesi
- Hemodinamik dalam batas normal
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 90x/mnt
A : Masalah tidak terjadi
P : Hentikan intervensi
Intra anestesi
3 Problem S:-
kolaboratif
O : Terpenuhinya tanda – tanda anestesi
trauma
regional ( analgesia, arefleksia )
pembedahan
A : Masalah tidak terjadi
P : Hentikan intervensi
4 Problem S:-
kolaboratif
O:
disfungsi
kardiovaskuler - TTV
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 80x/menit
MAP : 93 mmHg
EKG : Sinus rhythm
A : Masalah tidak terjadi
P : Hentikan intervensi
5 Problem S:-
kolaboratif
O : TTV
disfungsi
respirasi - SpO2 : 100%
- RR : 20x/mnt
- Tidak ada sianosis
- Ekspansi dada baik dan adekuat
A : Masalah tidak terjadi
P : Hentikan intervensi
6 Problem S:-
kolaboratif
O:
disfungsi
termoregulasi - Suhu tubuh dapat dikontrol
- Klien terpasang selimut
- Suhu tubuh teraba hangat
A : Masalah tidak terjadi
P : Hentikan intervensi
Post anestesi
7 Problem S:-
kolaboratif
O : TTV
disfungsi
respirasi - SpO2 : 100%
- RR : 20x/mnt
- Tidak ada sianosis
- Ekspansi dada baik dan adekuat
A : Masalah tidak terjadi
P : Hentikan intervensi
8 Problem S:
kolaboratif
- Klien mengatakan tidak kedinginan
disfungsi
termoregulasi O:
- Klien tampak nyaman
A : Masalah tidak terjadi
P : Hentikan Intervensi