0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan25 halaman

Goals Afektif: Keyakinan Diri dan Soft Skills

Makalah ini membahas tentang goals afektif khususnya keyakinan diri, kepercayaan diri, dan keterampilan halus beserta penerapannya dalam pembelajaran matematika."

Diunggah oleh

Kahfi Ramadhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan25 halaman

Goals Afektif: Keyakinan Diri dan Soft Skills

Makalah ini membahas tentang goals afektif khususnya keyakinan diri, kepercayaan diri, dan keterampilan halus beserta penerapannya dalam pembelajaran matematika."

Diunggah oleh

Kahfi Ramadhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

GOALS AFEKTIF: KEYAKINAN DIRI (SELF EFFICACY),

KEPERCAYAAN DIRI, DAN KETERAMPILAN HALUS (SOFT SKILLS)

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi salahsatu tugas matakuliah Model-model Pembelajaran


Matematika pada semester genap tahun akademik 2018/2019 dengan dosen
pengampu Dr. Maulana, [Link].

Kelompok 8
Paket 1

1. Sulika Andraeni 1602487 19


2. Ikah Sabariah 1603547 20
3. Nining Yuningsih 1603680 29
4. A’am Amalia 1607754 34

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


KAMPUS SUMEDANG
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT atas segala petunjuk
dan bimbingan-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“GOALS AFEKTIF: KEYAKINAN DIRI (SELF EFFICACY),
KEPERCAYAAN DIRI, DAN KETERAMPILAN HALUS (SOFT SKILLS)”.
Adapun makalah ini disusun untuk memenuhi salahsatu tugas matakuliah Model-
model Pembelajaran Matematika.

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Maulana, [Link].


selaku dosen pengampu matakuliah Model-model Pembelajaran Matematika,
teman-teman, dan semua pihak yang telah ikut serta dalam membantu penyusunan
makalah ini. Karena dengan bantuan tersebut, penyusun dapat menyelesaikan
tugas ini dnegan tepat waktu.

Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, penyusun menyadari makalah


ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penyusun mengaharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun demi sempurnanya makalah ini.
Dengan terselesaikannya makalah ini, penyusun mengharapkan pembaca dapat
mengambil manfaat dan dapat mengaplikasikannya dalam kegiatan pembelajaran.

Sumedang, Mei 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................................ii
BAB I................................................................................................................................4
PENDAHULUAN.............................................................................................................4
A. Latar Belakang.....................................................................................................4
B. Rumusan Masalah................................................................................................4
C. Tujuan...................................................................................................................5
BAB II...............................................................................................................................6
PEMBAHASAN...............................................................................................................6
A. Keyakinan Diri (Belief)........................................................................................6
B. Kepercayaan Diri (Self Efficacy).........................................................................9
C. Kemampuan Halus (Soft Skill)..........................................................................13
BAB III...........................................................................................................................20
PENUTUP.......................................................................................................................20
A. Kesimpulan.........................................................................................................20
B. Saran...................................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................22

iii
iv
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ranah kognitif, afektif, dan psikomotor sudah tidak asing lagi di dalam
dunia pendidikan terutama di telinga seorang guru. Dimana dalam kegiatan
pembelajaran ketiga ranah tersebut sangat perlu untuk dikembangkan. Dalam
Kurikulum 2013, tidak semua ranah dinilai. Hanya pada mata pelajaran PAI
dan PKN saja ketiga ranah tersebut dinilai, sedangkan pada mata pelajaran
lainnya hanya ranah kognitif dan psikomotor saja yang ditekankan.
Padahal, ranah afektif sangat penting dalam setiap proses pembelajaran,
salah satunya matematika. Ada beberapa goals afektif yang harus
dikembangkan dan ditumbuhkan dalam diri siswa, contohnya seperti keyakinan
diri, kepercayaan diri, serta salah satu ranah psikomotor yaitu keterampilan
halus. Namun nyatanya, tidak semua guru mengembangkan kemampuan-
kemampuan tersebut. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas
mengenai keyakinan diri, kepercayaan diri, serta keterampilan halus dalam
pembelajaran matematika.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini,
yaitu membahas:
1. Keyakinan Diri (Beliefs)
a. Apa pengertian dari keyakinan diri?
b. Apa saja aspek-aspek keyakinan diri?
c. Apa saja indikator keyakinan diri?
d. Bagaimana keyakinan diri dalam pembelajaran matematika?
2. Kepercayaan Diri (Self-Efficacy)
a. Apa pengertian dari kepercayaan diri?
b. Apa saja aspek-aspek kepercayaan diri?
c. Apa saja indikator kepercayaan diri?
d. Bagaimana kepercayaan diri dalam pembelajaran matematika?
3. Keterampilan Halus (Soft Skill)
a. Apa pengertian dari keterampilan halus?

5
b. Apa saja aspek-aspek keterampilan halus?

6
c. Apa saja indikator keterampilan halus?
d. Bagaimana keterampilan dalam pembelajaran matematika?
C. Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan makalah ini, yaitu untuk
mengetahui dan memahami:
1. Keyakinan Diri (Beliefs)
a. Pengertian dari keyakinan diri
b. Aspek-aspek keyakinan diri
c. Indikator keyakinan diri
d. Keyakinan diri dalam pembelajaran matematika
2. Kepercayaan Diri (Self-Efficacy)
a. Pengertian dari kepercayaan diri
b. Aspek-aspek kepercayaan diri
c. Indikator kepercayaan diri
d. Kepercayaan diri dalam pembelajaran matematika
3. Keterampilan Halus (Soft Skill)
a. Pengertian dari keterampilan halus
b. Aspek-aspek keterampilan halus
c. Indikator keterampilan halus
d. Keterampilan halus dalam pembelajaran matematika

7
BAB II

PEMBAHASAN
A. Keyakinan Diri (Belief)
1. Pengertian keyakinan Diri

Menurut Subaidi (2016, hlm. 65), keyakinan diri adalah keyakinan


seseorang terhadap keamampuan dan keterampilan dirinya dalam
mengorganisasi dan menyelesaikan permasalahan untuk hasil yang terbaik
dalam suatu tugas tertentu. Keyakina diri menjadi salah satu faktor yang
mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan.
Keyakinan diri sangat penting dimiliki oleh setiap siswa. Adanya
keyakinan diri mendorong siswa lebih semangat dan tumbuhnya rasa percaya
diri dalam dirinya serta keyakinan yang besar terhadap diri sendiri untuk bisa
menyelesaikan suatu permasalahan. Sejalan dengan pendapat Sunaryo (2017,
hlm. 41) yang mengungkapkan bahwa, “keyakinan diri matematika memiliki
kontribusi positif serta peranan yang sangat penting terhadap prestasi belajar
siswa. Keyakinan diri matematika yang tinggi akan mendorong pencapaian
prestasi belajar siswa yang lebih baik”.
Menurut Maryati (2008, hlm. 38), keyakinan diri adalah sebuh representasi
mental dan kognitif individu yang dibentuk oleh pengalaman-pengalaman
masa lalu dan msa kini yang disimpan dalam memori jangka panjang dan
mempengaruhi cara sosialisasi yang akan dilakukan serta cara pandang
seseorng terhadap kualitas dirinya sendiri, baik atau buruk, dan keyakinan
tersebut dibangung sesuai karakteristik seseorang dan bersifat khusus.
Berdasarkan pemaparan di atas, keyakinan diri adalah keyakinan individu
terhadap kemampuan diri dalam menyelesaikan sutau permasalahan yang
sedang dihadapinya. Individu yang memilili keyakinan diri akan memiliki
sikap percaya diri dan motivasi diri yang tinggi dalam menghadapi sutau
keadaan.

8
2. Aspek-aspek Keyakinan Diri (Belief)

Menurut Bandura (dalam Subaidi, 2016, hlm. 66), dimensi-dimensi


keyakinan diri yang digunakan sebagai dasar bagi pengukuran terhadap
keyakinan diri seseorang adalah sebagai berikut:
a. Magnitude. Dimensi ini berkaitan dnegan tingkat kesulitan tugas yang
diyakini oleh seseorang untuk dapat diselesaikan.
b. Strenght. Dimensi ini berkaitan dnegan tingkat kekuatan atau
kelemahan individu tentang kemampuan yang dimilikinya.
c. Generality. Dimensi ini merupakan dimensi yang berkaitan dnegan
keluasan bidang tugas yang dilakukan.
Menurut Abdullah (dalam Maryati, 2008, hlm. 41), aspek-aspek dalam
afeksi diri ada empat, yaitu:
a. Keyakinan terhadap kemampuan menghadapi situasi yang tidak
menentu yang mengandung unsur kekaburan, tidak dapat diprediksi,
dan penuh tekanan. Individu dengan afeksi diri yang tinggi akan
mempunyai keyakinan serta mampu dalam menghadapi tantangan dan
akan selalu berusaha lebih keras untuk mencapai keberhasilan.
b. Keyakinan terhadap kemampuan menggerakkan motivasi, kemampuan
kognitif dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai suatu
hasil. Efikasi yang ada pada diri individu mampu mempengaruhi
aktivitas serta usaha yang dilakukan dalam menghadapi kesulitan untuk
mencapai dan menyelesaikan tugas.
c. Keyakinan mencapai target yang telah ditetapkan. Individu menetapkan
target untuk keberhasilannya dalam melakukan setiap tugas. Individu
dengan efikasi diri yang tinggi akan berusaha lebih giat lagi untuk
meraih target dan cara belajarnya ketika ia gagal.
d. Keyakinan terhadap kemampuan mengatasi suatu masalah yang
muncul. Individu dengan efikasi diri yang tinggi memiliki keyakinan
mampu mengatasi masalah atau kesulitan dalam bidang tugas yang
ditekuninya.
Dari pemaparan di atas, indikator dari keyakinan diri mencakup 3 aspek,
yaitu magnitude, strenght, dan generality.

9
3. Faktor yang Mempengaruhi Keyakinan diri

Menurut bandura (dalam Subaidi. 2016, hlm. 65), ada empat faktor yang
dapat mempengaruhi keyakinan diri, yaitu sebagi berikut:
a. Pengalaman keberhasilan seseorang dalam mengahdapi tugas tertentu
pada waktu sebelumnya. Apabila seseorang pernah mengalami
keberhasilan dimasa lalu, maka semakin tinggi pula keyakinan diri.
Sebaliknya, apabila seseorang mengalami kegagalan dimas lalu maka
semakin rendah pula keyakinan dirinya.
b. Pengalaman orang lain. Individu yang melihat orang lian berhasil dalam
melakukan aktivitas yang sama dan memiliki kemampuan yang
sebanding dapat menigkatkan keyakinan diri, begitupun sebaliknya.
c. Persuasi verbal, yaitu informasi tentang kemampuan seseorang yang
disampaikan secara verbal oleh orang yang berpengaruh sehingga dapat
meningktakan keyakinan bahwa kemampuan-kemampuan yang dimiliki
dapat membantu utuk mencapai apa yang diinginkan.
d. Kondisi fisiologis yaitu keadaan fisik dan kondisi emosional. Keadaan
yang menekan tersebut dapat mempengaruhi keyakinan akan
kemampuan diri dalam menghadapi tugas. Jika ada hal negatif, seperti
lelah, kurang sehat, cemas, atau tertekan, akan mengurangi tingkat
keyakinan diri seseorang. Sebliknya, jika seseorang dalam kondisi
prima, hal in akan berkontribusi positif bagi perkembangan keyakinan
diri.

4. Keyakinan Diri dalam Pembelajaran Matematika


Keyakinan diri dalam matematikadapat dilakukan melalui kegiatan
pembelajaran di kelas. Menurut Greer, dkk. (dalam Sugiman, 2009)
keyakinan diri dalam pembelajaran matematika dapat dilakukan dengan
pemilihan strategi pembelajaran, guru, buku teks, dan tentunya permasalahan
matematika yang ada di lingkungan siswa. Guru harus menciptakan kegiatan
pembelajaran yang tidak hanya menekankan pada konsep matematika saja
tetapi berusaha untuk menciptakan proses sosial siswa seperti berinteraksi
dengan berkomunikasi dan bekerjasama dengan baik.

10
NCTM (dalam Sugiman, 2009) menyatakan pentingnya keyakinan diri
dalam matematika, yaitu siswa akan memiliki kemampuan mengevaluasi
kemampuan diri sendiri, keinginan untuk mengerjakan tugas-tugas
matematika, dan disposisi matematika.

B. Kepercayaan Diri (Self Efficacy)


1. Pengertian Kepercayaan Diri
Bandura (dalam Fajri dkk, 2016, hlm. 182) mengartikan kepercayaan diri
sebagai keyakinan seseorang terhadap kemampuan yang dimilikinya untuk
mengatur dan melaksanakan segala tindakan untuk mencapai tujuan, dan
berusaha untuk menilai pencapaiannya diseluruh kegiatan. Bandura dan
Locke (dalam Fajri dkk, 2016, hlm. 182) menambahkan bahwa kepercayaan
diri menunjukkan tingkat keyakinan diri siswa terhadap kemampuan dirinya
dalam menyelesaikan permasalahan serta mampu mempengaruhi proses serta
peningkatan hasil belajarnya.
Alsa (dalam Rifai, 2014, hlm. 6) berpendapat bahwa kepercayaan diri
merupakan suatu keyakinan seseorang untuk mampu berperilaku sesuai
dengan yang diharapkan. Sedangkan Wulandari (2019, hlm. 631) berpendapat
bahwa, “suatu keyakinan seseorang terhadap segala sesuatu yang menjadi
aspek kelebihan dan keyakinan tersebut agar merasa mampu mencapai
berbagai tujuan hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya”.
Sehingga dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa
kepercayaan diri (self efficacy) merupakan keyakinan seseorang terhadap
kemampuan dan kelebihan yang dimiliki untuk mengatur dan melaksanakan
segala tindakan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Walgio (dalam Wulandari, 2019, hlm. 629) mengatakan bahwa salah satu
cara untuk menumbuhkan rasa percaya diri yaitu guru dapat menciptakan
suasana yang demokratis. Dimana siswa dilatih untuk mengemukakan
pendapat, berpikir secara mandiri, dan menciptakan suasana yang nyaman
agar siswa tidak merasa takut apabila melakukan kesalahan.

11
2. Aspek-aspek Kepercayaan Diri
Lauster (dalam Rifai, 2014, hlm. 7) menyatakan bahwa kepercayaan diri
meliputi berbagai aspek. Aspek-aspek tersebut, yaitu:
a. Optimis
Optimis merupakan sikap seseorang yang selalu berpandangan baik
atau berpikir positif dalam menghadapi segala hal tentang diri, harapan,
dan kemampuan yang dimilikinya. Seseorang yang memiliki sikap
optimis akan cenderung percaya bahwa ia bisa dengan segala
kemampuannya serta tidak mudah putus asa ketika dihadapkan suatu
permasalahan.
b. Yakin pada kemampuan diri sendiri
Sikap seseorang yang mengerti dengan sungguh-sungguh tentang apa
yang akan ia lakukan. Sama halnya dengan sikap optimis, yakin pada
kemampuan diri sendiri akan membuat seseorang semangat dalam
menyelesaikan masalah meskipun ia sudah gagal berkali-kali tapi ia
yakin bahwa dengan kemampuan yang dimilikinya ia yakin ia pasti
bisa.
c. Toleransi
Sikap menghargai, menerima, dan tidak ikut campur tangan serta
membiarkan tindakan, sikap, dan pendapat orang lain. Bukan karena ia
tidak peduli, tetapi ia mencoba untuk menghormati oranglain selama itu
tidak menyimpang.
d. Ambisi normal
Merupakan sikap seseorang yang memiliki keinginan yang sangat besar
dan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai keinginan-
keinginan tersebut tanpa keluar dari norma yang berlaku.
e. Tanggung jawab
Tanggung jawab merupakan salah satu sikap seseorang yang siap sedia
untuk menanggung segala sesuatu yang telah ia pilih atau lakukan yang
telah ia ketahui bahwa hal tersebut merupakan konsekuensi dari apa
yang telah ia lakukan.

12
f. Rasa aman
Keadaan seseorang yang tidak takut maupun khawatir mengenai adanya
pemuasan kebutuhan dia di kemudian hari dan sikap mampu
menghadapi segala sesuatu dengan tenang.
g. Mandiri
Sikap seseorang untuk tidak selalu bergantung pada orang lain. Ia tahu
kapan ia membutuhkan pertolongan seseorang dan ia tahu kapan ia
harus menyelesaikan suatu hal sendiri.
h. Mudah menyesuaikan diri atau beradaptasi
Sikap yang dimiliki seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungan
sekitarnya sehingga merasa sesuai,cocok, dan nyaman berada dalam
lingkungan tersebut.

3. Indikator kepercayaan diri


Menurut Afiatin dan Martaniah (dalam Rosdiana, 2017) merumuskan
beberapa aspek dari Lauster dan Guilford yang menjadi ciri maupun indikator
dari kepercayaan diri yaitu :
a. Individu merasa kuat terhadap tindakan yang dilakukan. Hal ini didasari
oleh adanya keyakinan tehadap kekuatan, kemampuan, dan
keterampilan yang dimiliki. Ia merasa optimis, cukup ambisius, tidak
selalu memerlukan bantuan orang lain, sanggup bekerja keras, mampu
menghadapi tugas dengan baik dan bekerja secara efektif serta
bertanggung jawab atas keputusan dan perbuatannya.
b. Individu merasa diterima oleh kelompoknya. Hal ini dilandasi oleh
adanya keyakinan terhadap kemampuannya dalam berhubungan sosial.
Ia merasa bahwa kelompoknya atau orang lain menyukainya, aktif
menghadapi keadaan lingkungan, berani mengemukakan kehendak atau
ide-idenya secara bertanggung jawab dan tidak mementingkan diri
sendiri.
c. Individu memiliki ketenangan sikap. Hal ini didasari oleh adanya
keyakinan terhadap kekuatan dan kemampuannya. Ia bersikap tenang,
tidak mudah gugup, cukup toleran terhadap berbagai macam situasi.

13
4. Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa dalam Pembelajaran
Matematika
Kepercayaan diri adalah modal dasar yang di butuhkan untuk sukses di
segala bidang termasuk dalam pembelajaran Matematika. Kepercayaan diri
siswa memberi kekuatan yang dapat mempengaruhi pada penilaian
kemampuan siswa dan kesediaan untuk mengerjakan tugas. Jadi
kepercayaan diri memiliki peranan penting dalam kesuksesan
pembelajaran Matematika. Karena dengan kepercayaan diri siswa dapat
mengeluarkan seluruh potensi yang dimilikinya.
Siswa diharapkan memiliki kecenderungan memandang matematika
sebagai sesuatu yang dapat dipahami, merasakan matematika sesuatu yang
berguna, meyakini usaha yng tekun dan ulet dalam mempelajari
matematika akan membuahkan hasil dan melakukan perbuatan sebagai
pelajar yang efektif. Menurut Rosdiana untuk meningkatkan kepercayaan
diri siswa dalam pembelajaran matematika adalah sebagai berikut:
a. Konsep diri. Mengarahkan cara berpikir siswa agar selalu berada dalam
alur yang positif. Dan membiasakan kebiasaan-kebiasaan positif.
Misalnya dengan selalu menerapkan sikap disiplin pada siswa.
b. Idola. Selalu mengingatkan siswa tentang idola atau tujuan yang ingin
dicapainya. Agar siswa dapat termotivasai dan selalu berusaha untuk
menggapai tujuannya itu.
c. Citra diri. Memberikan gambaran positif tentang diri siswa dan selalu
berkata santun dan tidak memarahinya apabila dia salah mengerjakan
soal, sebaliknya justru memberi semangat padanya agar terus belajar
lebih giat lagi. Agar siswa memiliki citra yang positif tentang dirinya
sendiri.
d. Harga diri. Dengan memuji setiap usaha yang dilakukan siswa. Agar
siswa memandang dirinya dan seluruh potensi yang dimilikinya secara
positif. Dan menghargai dirinya sendiri serta tidak merasa rendah diri.
e. Prestasi. Selalu memberikan motivasi-motivasi kepada siswa agar terus
berusaha menjadi siswa yang berprestasi. Sehingga apabila berprestasi
maka tingkat kepercayaan dirinya akan lebih tinggi.

14
C. Kemampuan Halus (Soft Skill)
1. Pengertian Soft Skill
Menurut Purwoastuti (dalam Wahyuningsih, 2017) mengemukakan
bahwa soft skill adalah perilaku personal dan interpersonal yang dapat
mengembangkan dan memaksimalkan kinerja seseorang, berupa
kemampuan nonteknis yang tidak terlihat wujudnya namun sangat
diperlukan. Neila (dalam Wahyuningsih, 2017) mengatakan bahwa soft
skill bisa juga dikatakan sebagai keterampilan interpersonal sebagai
kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama dalam sebuah kelompok.
Sementara menurut Diknas (dalam Wahyuningsih, 2017) soft skill
merupakan tingkah laku personal dan interpersonal yang dapat
mengembangkan dan memaksimalkan kinerja manusia melalui pelatihan,
pengembangan kerja sama tim, insiatif, pengambilan keputusan lainnya.
Menurut Endang dan Elisabeth (dalam Wahyuningsih, 2017) soft skill
merupakan perilaku personal dan interpersonal yang mengembangkan dan
memaksimalkan kinerja humanis. Soft skill adalah istilah sosiologis antara
lain pada sekumpulan karakteristik kepribadian, daya tarik sosial,
kemampuan berbahasa, kebiasaan pribadi, kepekaan atau kepedulian dan
serta optimisme. Secara garis besar softskills digolongkan menjadi dua
kategori yaitu personal artinya kemampuan yang dimanfaatkan untuk diri
sendiri dan interpersonal artinya kemampuan yang dimanfaatkan untuk diri
sendiri serta oranglain. Menurut Widyaningsih (dalam Nugraha, 2018)
menyatakan, bahwa terdapat aspek-aspek dalam kemampuan intrapersonal,
yaitu sebagai berikut:
a. Kesadaran diri (self awareness), yang di dalamnya meliputi:
kepercayaan diri, kemampuan untuk melakukan penilaian dirinya,
pembawaan, serta kemampuan mengendalikan emosional.
b. Kemampuan diri (self skill), yang di dalamnya meliputi: upaya
peningkatan diri, kontrol diri, dapat dipercaya, dapat mengelola waktu
dan kekuatan, proaktif, dan konsisten.

15
Selain itu, kemampuan interpersonal juga mencakup dalam beberapa
aspek, diantaranya.
a. Aspek kesadaran sosial (social awareness), yang meliputi: kemampuan
kesadaran politik, pengembangan aspek-aspek yang lain, berorientasi
untuk melayani dan empati.
b. Aspek kemampuan sosial (social skill), yang meliputi: kemampuan
memimpin, mempunyai pengaruh, dapat berkomunikasi, mampu
mengelola konflik, kooperatif dengan siapapun, dapat bekerjasama
dengan tim, dan bersinergi.
Sedangkan menurut Endang dan Elisabeth (dalam Wahyuningsih, 2017)
Soft skill merupakan bagian dari keterampilan individu yang lebih bersifat
pada kehalusan atau sensitifitas perasaan individu terhadap lingkungan di
sekitarnya.
Sementara Menurut Elfindri (dalam Setiani, F dan Rasto, 2016)
menyatakan soft skill sebagai suatu keterampilan dan kecakapan hidup,
baik untuk diri sendiri, berkelompok, atau bermasyarakat, serta dengan
pencipta. Soft skill ini menyebabkan keberadaan seseorang akan terasa
ditengah-tengah masyarakat, soft skill tersebut meliputi keterampilan
berkomunikasi, keterampilan emosional, keterampilan berbahasa,
keterampilan berkelompok, etika, moral, santun, dan keterampilan
spiritual. Ismail (dalam Wahyuningsih, 2017) menjelaskan bahwa soft skill
mempunyai peranan yang besar dalam mendukung kesuksesan seseorang,
karena jika hanya mempunyai hardskill yang baik tanpa didukung dengan
kepribadian atau softskill yang baik maka semua akan sia-sia.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahawa soft skill
sebagai suatu keterampilan yang dimiliki oleh setiap individu yang tidak
dapat dilihat dengan kasat mata, dapat dilihat ketika menerapkannya dalam
kehidupan. Keterampilan tersebut berhubungan dengan orang lain dan
mengatur dirinya sendiri untuk meningkatkan kemampuan dirinya sendiri,
berkelompok, atau bermasyarakat, serta dengan pencipta sehingga
mendukung kesuksesan seseorang.

16
2. Aspek-Aspek Keterampilan Halus
Di dalam dunia pendidikan, soft skills merupakan salah satu aspek
keterampilan yang juga membutuhkan perhatian secara mendalam. Soft
skills dianggap sebagai aspek keterampilan yang menentukan sukses
tidaknya proses pendidikan seseorang. Kajian mengenai soft skills ini
dibuat oleh Yahya Buntat (2004) dari Malaysia yang kemudian
menghasilkan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam
mengembangkan soft skills, yaitu sebagai berikut:
a. Aspek Akademik, antara lain:
1) Keterampilan menyelesaikan masalah
2) Keterampilan berpikir secara kritis
3) Keterampilan berkomunikasi
4) Keterampilan berpikir matematik
5) Dan lain-lain
b. Aspek pribadi, antara lain:
1) Keterampilan bertanggung jawab
2) Keterampilan bersikap positif
3) Keterampilan beradaptasi
4) Dan lain-lain
c. Aspek sosial, antara lain:
1) Keterampilan bekerja sama dengan orang lain
2) Keterampilan melibatkan diri dalam suatu proyek
3) Dan lain-lain

3. Indikator Pengembangan Soft Skills


Berdasarkan beberapa aspek di atas, akan diuraikan secara rinci
indikator soft skillsyang dapat dikembangkan oleh siswa, antara lain:
a. Keterampilan berkomunikasi, seperti:
1) Membuat pernyataan singkat, jelas, dan tidak berbelit-belit
2) Bertanya dengan mencari tahu terlebih dulu
3) Bahasa tubuh dapat dipahami
4) Menyampaikan ide baru sesuai dengan konteks permasalahan

17
b. Bekerja sama dalam tim, seperti:
1) Tidak memilih-milih teman dalam mengerjakan tugas
2) Memiliki tanggungjawab bersama dalam tim
3) Saling membantu
4) Memiliki tenggang rasa
5) Kemampuan bekerja sama tim
6) Mudah beradaptasi dan bekerja sama
7) Mudah bersosialisasi dalam anggota kelompok
8) Memiliki keterbukaan terhadap kritik dan saran
c. Kreativitas, seperti:
1) Memiliki gagasan dengan perspektif baru
2) Memiliki rasa ingin tahu yang besar
3) Senang mencoba hal-hal baru
4) Memberikan banyak gagasan dan usul terhadap masalah
d. Kepercayaan Diri, seperti:
1) Percaya diri sendiri
2) Percaya pada kemampuan sendiri
3) Memiliki sikap mental yang dapat dipercaya
4) Bergantung pada kemampuan sendiri
e. Berpikir kritis, seperti:
1) Kemamuan untuk menganalisis, mengklasifikasikan, menafsirkan,
menilai suatu masalah
2) Memiliki kemampuan bertanya/menjawab ke arah penyelesaian
masalah
f. Pemecahan masalah, seperti:
1) Kemampuan untuk mengidentifikasi berbagai masalah
2) Menghasilkan gagasan baru dalam menyelesaikan masalah
3) Kemampuan mengenali masalah

4. Pengembangan Soft skillspada Pembelajaran Matematika


Ada beberapa hal penting yang terkait dengan pengembangan soft
skills, yaitu:

18
a. Kerja keras (hard work)
Untuk memaksimalkan suatu kerja tentu butuh upaya kerja dari diri
sendiri maupun lingkungan. Hanya dengan kerja keras, orang akan mampu
mengubah garis hidupnya sendiri. Melalui pendidikan yang terencana,
terarah dan didukung pengalaman belajar, peserta didik akan memiliki
daya tahan dan semangat hidup bekerja keras.
b. Kemandirian
Ciri peserta didik mandiri adalah responsive, percaya diri dan
berinisiatif. Responsif berarti peserta didik tanggap terhadap persoalan diri
dan lingkungan.
c. Kerja sama tim
Keberhasilan adalah buah dari kebersamaan. Keberhasilan tugas
kelompok adalah pola klasik yang masih relevan untuk menampilkan
karakter ini. Pola pelatihan outboard yang sekarang merupakan pola
peniruan dari karakter ini (Wati, 2010).
Dari pendapat di atas, jelas bahwa untuk mengembangkan soft skills
siswa dalam pembelajaran matematika diperlukan kerja keras, kemandirian
diri para siswa dalam kegiatan proses pembelajaran, dan perlu adanya
keseimbangan dalam situasi tertentu, baik pengembangan diri, maupun
dalam mengatasi stres dalam mengerjakan tugas-tugas dan ini guru harus
mampu memilih alternatif model pembelajaran apa yang cocok untuk
mengembangkan kemampuan soft skills siswa, misalnya untuk
menumbuhkan berkomunikasi efektif, kerja sama dalam tim, kepercayaan
diri, integritas diri, kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah dalam
pembelajaran matematika.
Pada hakekatnya soft skillsjuga bisa ditumbuhkan melalui berbagai
bentuk kegiatan yang dilaksanakan di sekolah, di lingkungan pendidikan,
seperti kampus, dan atau dengan pendidikan formal. Pendidikan yang
berfokus hanya pada isi sudah seharusnya bergeser pada proses. Saat ini
proses pembelajaran bukan lagi berpusat pada guru melainkan siswa yang
mana mereka lebih aktif mengkonstruksi ilmu pengetahuanya sendiri,

19
sehingga penekanan bukan lagi hanya pada teori, melainkan juga pada
bagaimana suatu pekerjaan dikerjakan.
Oleh karenanya, perubahan pada kurikulum menjadi penting adanya
dari kurikulum berbasis isi menjadi KTSP. Dalam proses pembelajaran
dengan menggunakan pendekatan SCL (Student- Centered Learning)
menjadi salah satu pilihan dalam KTSP. Soft skills dikembangkan tidak
seharusnya melalui satu mata pelajaran tersendiri, melainkan
diintegrasikan pada setiap mata pelajaran. Apabila ciri soft skills yang
akan dikembangkan adalah komunikasi lisan, maka proses pembelajaran
yang digunakan presentasi, perlu dilakukandiskusi kelompok. Namun,
apabila kerjasama tim yang akan difokuskan, maka perlu dilakukan
penugasan berkelompok.
Saat ini guru seringkali memberi penugasan berkelompok. Tetapi
hasilnya kurang memuaskan, karena guru menyerahkan sepenuhnya
kepada siswa untuk berkelompok tanpa pendampingan dari guru.
Andaikan tugas yang diberikan adalah membuat tugas kelompok, maka
guru seharusnya berada di tengah kelompok memperhatikan dan
mengarahkan bagaimana mereka menentukan ketuanya, bagaimana
mereka memutuskan topik yang akan ditulis, bagaimana mereka membagi
tugas dan menulis bersama. Adakah sinkronisasi dilakukan setelah semua
tulisan terkumpul. Tidak heran jika tulisan yang disusun tidak runtut dari
satu bab ke bab lain, karena siswa tidak benar-benar bekerjasama, tetapi
sama-sama bekerja (Tarmidi, 2009).
Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa untuk mengembangkan soft
skills siswa dalam pembelajaran matematika dapat dilakukan dengan
mengacu pada langkah-langkah dari model pembelajaran generatif
sehingga atribut-atribut softskills yang akan dikembangkan dalam
pembelajaran matematika dapat memicu munculnya aktivitas-aktivitas
siswa dalam pembelajaran, meliputi: pemecahan masalah, kritis,
kreativitas, kerjasama tim, komunikasi yang efektif, kepercayaan diri,
motivasi, inisiatif, dan integritas diri.

20
Adapun langkah-langkah persiapan yang harus dilakukan oleh guru
mata pelajaran sebagai berikut.
a. Susun tujuan instruksional umum, dan tujuan instruksional khusus.
Dalam kaitan ini yang menjadi kebutuhan adalah kemampuan untuk
merumuskan kompetensi. Guru seharusnya mampu merumuskan apa
saja yang akan dicapai, sesuai dengan ranah pendidikan.
b. Masukan pada setiap tahap pelajaran soft skills apa yang dihasilkan.
Setelah kompetensi setiap tahap dirumuskan, kemudian dapat pula
dengan memasukkan bagaimana strategi pembelajaran yang
menumbuhkan masing-masing atribut soft skills yang diharapkan.
Misalnya ingin anak-anak berlatih dalam berkomunikasi efektif, maka
tugas yang diberikan oleh guru kemudian direpsentasikan pada hari
berikutnya.
c. Rencanakan bagaimana metode operasional melaksanakannya, baik
masing-masing tahap ajar, maupun pada beberapa pertemuan.
d. Lakukan uji coba pada kelompok siswa atau suatu kelas.
e. Review hasil ujicoba untuk perbaikan. Review adalah suatu proses
pemahaman yang terus menerus, dengan menerapkan small
improvement method.
f. Finalisasi metode pembelajaran. Setelah dilakukan cara berulang,
kemudian dapat dituliskan dalam bentuk teaching manual sebuah
pembelajaran yang berisikan secara lengkap isi bahan ajar, atibut-
atribut softskills dan metode pembelajarannya.

21
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Keyakinan diri adalah suatu sikap yang menunjukkan keyakinan
terhadap kemampuan pribadi seorang individu. Keyakinan diri dalam
pembelajaran matematika dapat diciptakan dengan pemilihan strategi
pembelajaran, guru, buku teks, dan permasalahan yang dipilih yang ada
disekitar lingkungan siswa. Pembelajaran matematika bukan hanya
menekankan pemahaman konsep, tetapi juga proses sosial seperti
berinteraksi dan bekerjasama.
Kepercayaan diri (self efficacy) merupakan keyakinan seseorang
terhadap kemampuan dan kelebihan yang dimiliki untuk mengatur dan
melaksanakan segala tindakan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Ada beberapa aspek yang termasuk ke dalam kepercayaan diri, yaitu
optimis, yakin pada kemampuan diri sendiri, toleransi, ambisi normal,
tanggung jawab, rasa aman, mandiri,dan mudah beradaptasi. Ciri maupun
indikator dari kepercayaan diri yaitu: Individu merasa kuat terhadap
tindakan yang dilakukan, individu merasa diterima oleh kelompoknya, dan
individu memiliki ketenangan sikap. Untuk meningkatkan kepercayaan
diri siswa dalam pembelajaran matematika adalah sebagai berikut: Konsep
diri, idola citra diri, harga diri, dan prestasi.
Soft skill sebagai suatu keterampilan yang dimiliki oleh setiap
individu yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata, dapat dilihat ketika
menerapkannya dalam kehidupan. Keterampilan tersebut berhubungan
dengan orang lain dan mengatur dirinya sendiri untuk meningkatkan
kemampuan dirinya sendiri, berkelompok, atau bermasyarakat, serta
dengan pencipta sehingga mendukung kesuksesan seseorang.

B. Saran
Guna menumbuhkan sikap keyakinan diri, kepercayaan diri, dan
keterampilan halus, guru harus lebih memperhatikan hal-hal yang sangat
berpengaruh dalam terciptanya sikap dan keterampilan tersebut, seperti

22
pemilihan strategi yang tepat sekaligus pemilihan permasalahan yang ada
di lingkungan sekitar siswa.

23
DAFTAR PUSTAKA
Fajri, H.N., Johar, R., & Ikhsan, M. (2016). Peningkatan Kemampuan Spasial dan
Self-Efficacy Siswa Melalui Model Discovery Learning Berbasis
Multimedia. Beta, 9(2), 180-196.

Maryati, I. (2008). Hubungan Antara Kecerdasan Emosi dan Keyakinan Diri (Self
Efficscy) Dengan Kreativitas pada Siswa Akselerasi. (Skripsi). Fakultas
Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.

Moma, L. (2013). Menumbuhkan Soft Skills Siswa dalam Pembelajaran


Matematika melalui Pembelajaran Generatif. Dalam Prosiding Seminar
Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika dengan tema
“Penguatan Peran Matematika dan Pendidikan Matematika untuk
Indonesia yang Lebih Baik” (hlm. 387-396). Yogyakarta: Universitas
Negeri Yogyakarta

Nugraha, T. (2018). Keyakinan Diri (Belief) Kepercayaan Diri. [Online]. Diakses


dari:[Link]
beliefs
[Link]?m=1.

Rifai, M.E. (2014). Hubungan Kepercayaan Diri dan Dukungan Keluarga


dengan
Kecemasan Matematika. (Tesis). Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah
Surakarta, Surakarta.

Rosdiana, N. (2017). Kepercayaan Diri terhadap Pembelajaran Matematika.


[Online]. Diakses dari: [Link]
[Link]/nendenrosdiana
/5994173c1ce eef4 2e73bd80 2 /kepercayaan-diri-terhadap-
pembelajaran-
[Link].

Setiani, F dan Rasto. (2016). Mengembangkan Soft Skill Siswa melalui Proses
Pembelajaran (Developing Students’ Soft Skill Through Teaching
and
Learning Process). Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran,
1(1),
160-166.

Subaidi, A. (2016). Self Efficacy Siswa dalam Pemecahan Masalah Matematika.


Sigma, 1(2), 64-68.

Sugiman. (2009). Aspek Keyakinan Matematik Siswa dalam Pendidikan


Matematika. [Online]. Diakses dari:
[Link]
matematik-siswa-dalam-pendidikan-matematika/2009b_KYM_0.pdf.

24
Sumaryanta. (t.t). Pengembangan Soft Skill dalam Pembelajaran Matematika.
[Online]. Diakses dari

[Link]
%20Matematika/Pengembangan%20Soft%20SKill%20dalam%20Pembelajaran%2
[Link].

Sunaryo, Y. (2017). Pengukuran Self Efficacy Siswa dalam Pembelajaran


Matematika di MTs N 2 Ciamis. Jurnal Teori dan Riset
Matematika
(TEOREMA), 1(2), 39-44.

Wahyuningsih, E. (2017). Soft Skill. [Online]. Diakses dari: [Link]


[Link]

Wulandari, I.P. (2019). “Berpikir Kritis Matematis dan Kepercayaan Diri Siswa
Ditinjau dari Adversity Quotient”. PRISMA, Prosiding Seminar Nasional
Matematika (hlm. 629-636). Semarang: Jurusan Matematika.

25

Anda mungkin juga menyukai