Nama : Nabilla Tita Azalia Putri
Institusi : UPNVJ
Kelompok :9
KAPASITAS KADER LOKAL
M. Shafriedho Darmaputra, [Link]
Materi pertama di hari kedua LKMM Wilayah 2 adalah materi terkait
kaderisasi yang dibawakan oleh bang M. Shafriedho Darmaputra, [Link]. Di awal
materi, Bang Edho menjelaskan mengenai tiga hal dasar terlebih dahulu, yaitu kader,
regenerasi, dan kaderisasi. Definisi kader adalah orang atau kumpulan orang yang di
bina oleh suatu lembaga kepengurusan dalam sebuah organisasi. Kemudian, definisi
regenerasi adalah sebuah proses pasti dalam suatu organisasi dimana kepengurusan
sebelumnya akan di gantikan oleh kepengurusan yang baru. Terakhir, definisi
kaderisasi adalah sebuah proses sistematis yang dipersiapkan oleh organisasi untuk
mempersiapkan regenerasi.
Fungsi seorang kader adalah untuk mempersiapkan kader yang akan
melanjutkan tongkat estafet perjuangan dan tujuan dalam sebuah organisasi.
Diibaratkan, apabila tidak ada maka tongkat estafet tersebut tidak akan bisa berjalan.
Sehingga kaderisasi sangat penting untuk keberlanjutan suatu organisasi. Lebih
lanjut, tujuan kaderisasi adalah membuat orang yang tidak bisa menjadi bisa, orang
yang tidak tau menjadi tahu, dan orang yang tidak siap menjadi siap.
Kaderisasi diharapkan dapat membentuk kader yang berkualitas. Syarat kader
yang berkualitas, antara lain adalah :
1. Mampu menganalisa dengan tiga cara, yaitu bertanya, melihat, dan merasakan.
2. Memiliki niat baik dalam berorganisasi. Maksud niat baik dalam berorganisasi di
sini adalah, bila hanya berniat untuk eksistensi diri maka tujuan akan menjadi
temporer, bila tidak ada yang diinginkan lagi bisa saja hilang. Sedangkan bila
niatnya untuk belajar, sampai kapanpun akan panjang dalam pengabdiannya
terhadap organisasi tersebut.
3. Mampu membagi waktu anatara perkuliah dengan organisasi .
4. Sense of belonging, yaitu memiliki loyalitas dan profesionalitas sehingga
nantinya tetap berkontribusi walaupun sudah menjadi alumni dari organisasi
tersebut.
Selama proses kaderisasi, diharpkan potensi para kader lokal dapat
berkembang. Layaknya kertas putih, kader lokal biasanya adalah mahasiswa baru
yang belum mengenal institusi tersebut sehingga dapat dikenalkan dengan baik
culture yang diinginkan dan diterapkan di institusi tersebut. Diharapkan, para kader
lokal mau dan mampu untuk belajar dari apa yang sudah ada dan mau
mengembangkan dari sebelumnya. Apabila para kader lokal sudah sampai di titik
tersebut, maka dapat dikatakan bahwa proses kaderisasi yang dijalani terlah berhasil
karena menghasilkan output yang diharapkan. Proses kaderisasi yang kuat akan
menciptakan hasil yang maksimal. Apabila output yang dikaderisasikan menurun,
maka hal tersebut merupakan kesalahan dari pengadernya dan harus dievaluasi untuk
perbaikan proses kaderisasi selanjutnya.
Sistem kaderisasi lokal yang sering dijumpai adalah sistem berjenjang yang
dimulai dari Pengenalan Kampus, Masa Bimbingan, LKMM Lokal, Open
Recruitment, Magang Organisasi, dan Pelantikan. Dalam melaksanakan alur
kaderisasi, pengkader dilarang keras bermental kepiting atau crab mentality. Yang
dimaksud mental kepiting adalah “If I can’t have it, neither can you” dimana hal ini
menandakan bahwa pengkader tidak ingin kadernya memiliki nilai yang lebih dan
dapat menjadi calon organisator yang lebih baik. Padahal, salah satu indikator alur
kaderisasi dapat dikatakan berhasil adalah apabila kader yang dihasilkan lebih baik
dari sebelumnya.
Bang Edho juga menjelasakan bagaimana cara membuat kader tertarik dengan
organisasi, yaitu :
1. Selalu tunjukan sisi positif
2. Tujukan output perdepartemen, yaitu bangun kerjasama dengan univ lain dan
membuat design yang bagus
3. Tutup kekurangan/masalah organisasi sampai masa rekruitment selesai
4. Datangkan testimoni dari orang berpengaruh di sekitar
Berbicara soal kaderisasi, institusi saya yaitu Universitas Pembangunan
Nasional Veteran Jakarta memiliki alur kaderisasi yang berjenjang. Dimulai dari
masa bimbingan, LKMM Lokal, magang, dan open recruitment organisasi. Dalam
grand design kaderisasi juga terdapat nilai proses dan nilai wajib yang diharapkan
dapat dicapai oleh para kader. Alur kaderisasi tersebut tentu tidak terhindar dari
masalah, seperti kesulitan dalam menanamkan esensi dari setiap kegiatan kaderisasi.
Hal ini mungkin disebabkan karena faktor pandemi yang menyebabkan nilai dari alur
kaderisasi tersebut tidak dapat dirasakan langsung oleh peserta.
Apabila dianalisis dengan menggunakan analisis SWOT, masalah yang ada
pada institusi saya sebagai berikut:
Strength: alur kaderisasi berjenjang, memiliki nilai wajib dan nilai proses,
menjadi wadah utama bagi mahasiswa baru untuk mengembangkan diri,
esensi jelas.
Weakness: masa kaderisasi sangat panjang, nilai-nilai yang didapat tidak
instan terlihat manfaatnya
Opportunity: didukung oleh pihak fakultas, disetujui dan diatur dalam
ADKMFK UPN Veteran Jakarta
Threat: stigma buruk tentang kaderisasi
Berdasarkan analisis masalah di atas, salah satu solusi yang saya dapatkan dari
pemberian materi 1 ini adalah memberikan lebih banyak metode aplikatif supaya para
kader dapat melaksanakan kaderisasi dengan lebih enjoy dan merasakan esensinya
secara langsung.
RENCANA PENGEMBANGAN ORGANISASI
Tiara Namora Tarigan, [Link]
Materi kedua pada hari kedua dibawakan oleh Kak Tiara Namora Tarigan,
[Link] atau biasa dipanggil Kak Ara yang membawakan materi terkait pengembangan
organisasi. Di awal materi, Kak Ara menjelaskan pengertian dari grand design Secara
definisi, grand berarti besar sedangkan design berarti rancangan. Oleh karena itu
secara definisi, grand design berarti ide dalam bentuk tulisan yang tujuannya seperti
peta yang menuntun perjalanan selama berorganisasi. Grand design vital karena akan
menjadi patokan bagi orang yang berorganisasi.
Dari yang Kak Ara sampaikan, ketika kita berbicara tentang grand design
maka erat kaitannya dengan manajemen. Ilmu manajemen sudah ada sejak
pembangunan piramida, dibutuhkan untuk tahu bagaimana mengelola organisasi
dengan output yang baik. Ilmu manajemen akan selalu ada di dalam organisasi
sebagai bagian dari perencanaan agar nantinya efektif untuk menjalankan kegiatan.
Dalam pemaparan materi, Kak Ara juga menunjukkan cuplikan penggantian
ban pada F1. Dari video tersebut, dapat disimpulkan bahwa kita dapat mengerjakan
suatu hal dengan teamwork yang baik meskipun risiko dari hal tersebut besar.
Kak Ara juga menyampaikan bahwa pembuatan grand design, contohnya
dalam ISMKI memiliki beberapa landasan berpikir, antara lain :
1. GBHO yang berisi aturan operasional organisasi
2. Analisis SWOT yang menjadi landasan berpikir
3. AD/ART yang merupakan kiblat dalam pembuatan grand design.
Selanjutnya, Kak Ara menjelaskan lebih detail mengenai analisis SWOT yang
merupakan landasan untuk lebih mengenal organisasi kita. Secara lebih dalam, ada
yang disebut matrix swot.
Internal terdiri dari strengths dan weakness
Eksternal terdari dari opportunity dan threats
Helpful yang membantu kita mencapai tujuan, yaitu strengths dan opportunity
Harmful yang menghambat kita mencapai tujuan, yaitu weakness dan threats
Secara detail, matrix gabungan SWOT adalah :
SO : strategi memanfaatkan strength untuk membuka opportunity
WO : strategi meminimalkan wakness dengan memanfaatkan opportunity
ST : strategi menggunakan strength untuk menyiasati threats
WT : strategi meminimalisir weakness untuk menghindari threats
Selanjutnya, Kak Ara menjelaskan tentang komponen grand desain secara umum,
yaitu :
1. Visi misi
2. Nilai organisasi
3. Arahan strategis merupakan turunan visi yang akan dikembangkan bagi bidang-
bidangnya, harus menyamakan persepsi terlebih dahulu dan tidak boleh keluar
dari koridor visi misi
4. Struktur organisasi
5. Program unggulan
6. Indikator keberhasilan
Indikator yang biasa digunakan untuk melihat kemajuan dari organisasi dengan
menggunakan KPI dengan skala kuantitatif. Kita gunakan key performance
inidicator yang di mana merupakan target yang harus dicapai, yang dinilai adalah
SMART:
Specific artinya mendefinisikan goals secara spesifik
Measureable : harus dapat diukur dan jelas standarnya
Attainable : harus dapat tercapai dan bisa dilakuka semua pihak
Relevant : harus sesuai dengan visi misi
Timely : terukur dan ditetapka waktunya
Berbicara soal pengembangan organisasi, keadaan pengembangan organisasi di
institusi saya, khususnya BEM, sudah baik. Pembuatan grand design di organisasi
saya pun sudah diwadahi dengan diberikan upgrading mengenai pembuatan grand
design oleh pemateri yang kompeten, sehingga pembuatannya tidak main-main dan
tidak asal-asalan. Tidak hanya itu, sebelum dibuka pencalonan, terdapat Sekolah
Kepemimpinan yang dapat membantu calon ketua untuk membuat grand design
dengan lebih matang. Jika dianalisis menggunakan SWOT, keadaan pengembangan
organisasi di institusi saya sebagai berikut:
Strength: grand design yang dibuat berdasarkan assesstment, pengembangan
sudah berjalan cukup baik karena didukung oleh anggota
Weakness: hanya orang-orang yang ingin mengajukan menjadi calon ketua
organisasi yang sangat memahami terkait grand design dan manajemen
organisasi
Opportunity: dapat menjadi panduan yang jelas bagi organisasi di periode
selanjutnya.
Threat: dinamika organisasi yang terus berganti
Berdasarkan analisis di atas, mungkin dapat dilakukan assessment setiap
beberapa waktu tertentu di tiap periode untuk mengetahui apakah pengembangan
organisasi di setiap periode sudah baik atau belum, mengingat dinamika organisasi
yang terus berganti.
GRAND DESIGN
Syafarrani Arma Bahirah
Materi ketiga di hari kedua LKMM Wilayah 2 adalah materi terkait grand
desain yang dibawakan oleh Kak Syafarrani Arma. Pada materi ini dijelaskan
mengenai bagaimana cara membuat grand desain yang baik. Kak Rani menjelaskan
bahwa grand desain merupakan manajemen strategis yang terdiri dari planning,
organizing, actuating, dan controlling. Planing adalah menuangkan ide dalam bentuk
visi misi sedangkan organizing dalam bentuk arahan umum dan khusus. Dalam
materi ini, Kak Rani lebih banyak menjelaskan mengenai planning dan organizing.
Pertama, dimulai dengan analisis situasi dan planning. Pada tahap ini,
diharapkan kita dapat lebih mengenal organisasi kita. Proses pada tahap ini antara lain
audit internal yang dilakukan dengan bottom up approach, audit eksternal, dan
SWOT analysis. Setelah melakukan tiga proses tersebut, kita dapat dianggap telah
mengenal organisasi kita dan mengetahui masalah apa saja yang ada. Kemudian, kita
dapat mengelompokkan masalah tersebut dan menentukan prioritas masalah yang
akan diselesaikan. Penentuan prioritas masalah dapat dilakukan dengan USG method
dan ITR.
USG method terdiri dari urgency yang dilihat dari segi waktu, seriousness
yang dilihat dari seberapa serius dan seberapa luas dampak masalah, serta growth
yang dilihat dari dampak jangka masalah tersebut. Sedangkan ITR mirip dengan USG
tetapi lebih rumit dan akurat.
Setelah kita menentukan prioritas masalah, kita dapat menentukan akar dari
masalah yang akan diselesaikan. Hal ini dapat dilakukan dengan fishbone method dan
tree diagram. Fishbone terdiri dari input (5M) dan proses (POACE), setiap masalah
kita gali sampai tidak tahu lagi jawabannya. Kak Rani menyampaikan bahwa
kesalahan yang sering terjadi adalah setiap permasalahan tidak bercabang, sebab
dapat menyebabkan setiap permasalahan kurang tergali sehingga kita sulit
menentukan solusinya. Sedangkan tree diagram mirip dengan fishbone, hanya saja
terdapat daun yang menunjukkan dampak dari masalah tersebut.
Selanjutnya, kita dapat menentukan solusi dari masalah yang ditentukan.
Solusi yang ideal adalah satu solusi yang dapat menyelesaikan beberapa masalah.
Kemudian, kita dapat mulai membuat visi misi. Visi adalah apa yang akan kita capai,
sedangkan misi adalah bagaimana kita mencapat visi. Kriteria visi yang baik adalah
tidak terlalu panjang, tidak ambigu, sesuai dengan hasil audit, dan telah didiskusikan
dengan stakeholder. Sedangkan kriteria misi yang baik adalah tidak ada angka, tidak
terlalu panjang, menjadi identitas organisasi, dan cukup spesifik.
Terakhir, Kak Rani menjelaskan mengenai organizing di mana alur organizing
adalah ketua → PI → ketua bidang. Organizing juga dapat dibuat dalam bentuk visi
misi → arahan umum → arahan khusus yang selanjutnya dinilai dengan sasaran
strategis.
Berbicara soal grand desain, di institusi saya yaitu UPN Veteran Jakarta,
setiap calon ketua ormawa perlu untuk membuat grand desain yang harus dipaparkan
pada hari pemilihan. Dalam prosesnya, tentu masih terdapat beberapa kekurangan,
salah satunya adalah terkadang beberapa calon hanya mengikuti grand desain dari
ketua di periode sebelumnya. Hal ini kemungkinan disebabkan karena singkatnya
waktu dari pencalonan sampai pemaparan. Selain itu, terkadang assessment yang
dilakukan kurang mendalam dikarenakan luasnya jangkauan KMFK di FK UPN
Veteran Jakarta.
Jika dianalisis dengan SWOT, maka masalah yang ada di institusi saya adalah
sebagai berikut :
Strengths : setiap calon ketua ormawa diwajibkan membuat grand desain,
setiap grand desain yang dibuat harus berdasarkan assesstment.
Weakness : singkatnya waktu dan luasnya jangkauan KMFK
Opportunity : dapat menjadi panduan yang jelas bagi organisasi di periode
selanjutnya.
Threats : dinamika organisasi yang terus berganti.
Berdasarkan analisis tersebut, solusi yang dapat saya berikan adalah
mengarahkan calon ketua organisasi untuk melakukan assesstment jauh sebelum
dibukanya pencalonan dan memberikan upgrading mengenai grand desain untuk
anggota organisasi yang lain.