0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan26 halaman

Indikasi CPR pada Henti Jantung

Dokumen tersebut membahas tentang pedoman pelaksanaan Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) dan terapi listrik melalui simulasi klinis. Termasuk penjelasan tentang tujuan belajar, rencana pembelajaran, dasar-dasar teori CPR, komponen penting dalam melakukan resusitasi jantung paru, serta petunjuk teknis pelaksanaan skills lab CPR secara mandiri menggunakan manekin.

Diunggah oleh

Yuda Danang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan26 halaman

Indikasi CPR pada Henti Jantung

Dokumen tersebut membahas tentang pedoman pelaksanaan Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) dan terapi listrik melalui simulasi klinis. Termasuk penjelasan tentang tujuan belajar, rencana pembelajaran, dasar-dasar teori CPR, komponen penting dalam melakukan resusitasi jantung paru, serta petunjuk teknis pelaksanaan skills lab CPR secara mandiri menggunakan manekin.

Diunggah oleh

Yuda Danang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

CPR AHA 2020 & ELECTRICAL THERAPIES

PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN SKILLS LAB


 Mahasiswa WAJIB membaca, memahami dan menghafalkan materi yang ada di buku petunjuk
skills serta aktif berdiskusi dalam kelas
 Waktu skills lab adalah 100 menit online melalui zoom
 Instruktur menjelaskan materi dan berdiskusi dengan mahasiswa
 Mahasiswa mencoba memperagakan teknik CPR (cardiopulmonary resuscitation) melalui manekin
yang telah disediakan secara mandiri
 Instruktur memberikan penilaian dan feedback sesuai performa mahasiswa
 Penilaian dikirim setelah skills selesai melalui WA kepada dr. Osa Endiputra, [Link]
(081901214455)

A. SASARAN BELAJAR
1. Mampu menilai respon penderita
2. Mampu melakukan pengaktifan sistem layanan gawat darurat (call for help)
3. Mampu menilai sirkulasi dan memberikan kompresi dada
4. Mampu melakukan pembukaan jalan napas dengan triple airway manuever atau salah satunya
dan memberikan rescue breath dengan berbagai metode
5. Mampu melakukan cek irama EKG penderita dan mengidentifikasi apakah shockable / non
shockable
6. Mampu memberikan electrical therapies dengan AED dan manual defibrilator
7. Mengetahui indikasi penghentian CPR
8. Mengetahui jenis obat - obatan emergensi yang digunakan pada kasus cardiorespiratory arrest

B. RENCANA PEMBELAJARAN
Waktu praktikum 2 x 50 menit
Panduan tutor 1. Menjelaskan teori (30 menit)
2. Memandu dan menilai mahasiswa berlatih dengan
simulasi kasus cardiorespiratory arrest (60 menit)
3. Evaluasi (10 menit)
Tugas mahasiswa Mempelajari Petunjuk skill lab secara mandiri

C. DASAR TEORI
Henti jantung (cardiac arrest) adalah suatu keadaan dimana sirkulasi darah berhenti akibat
kegagalan jantung untuk berkontraksi secara efektif. Secara klinis, keadaan henti jantung ditandai
dengan tidak adanya nadi dan tanda – tanda sirkulasi lainnya. Henti jantung dapat disebabkan oleh
4 irama :
1. Fibrilasi ventrikel / ventricular fibrillation (VF)

1
2. Takikardi ventrikel tanpa nadi / pulseless ventricular tachycardia (VT)
3. Pulseless Electrical Activity (PEA)
4. Asistol
PENYEBAB HENTI JANTUNG
Penyebab henti jantung dapat primer atau sekunder. Kondisi primer penyebab henti jantung :
1. Gagal jantung
2. Tamponade jantung
3. Miokarditis
4. Kardiomiopati hipertrofi
5. Fibrilasi ventrikel yang mungkin disebabkan oleh iskemia miokard, infark miokard, tersengat
listrik, gangguan elektrolit atau konsumsi obat – obatan.

Kondisi sekunder penyebab henti jantung :


1. Asfiksia akibat sumbatan jalan nafas atau apneu
2. Kehilangan darah yang cepat
3. Anoksia alveolar (akibat edema paru akut)
4. Hipoksemia berat (akibat pneumonia atau edema dan konsolidasi paru/ shock lung)
5. Syok septik
6. Acut brain insult (yang mengakibatkan kegagalan pusat nafas, hipotensi berat dan apneu).

Apabila tidak terdapatnya aliran darah berlangsung lebih dari 5 menit, kemungkinan terjadi
kerusakan otak yang irreversible. Sehingga, apapun penyebab dari henti jantung, CPR harus
dimulai sesegera mungkin. Apabila re-oksigenasi oleh CPR pada henti jantung primer tertunda
lebih dari 5 menit, kemungkinan untuk pulih kembali tanpa kerusakan otak sangat kecil.

DIAGNOSIS HENTI JANTUNG


Henti jantung yang reversible didefinisikan sebagai “gambaran klinis dari berhentinya sirkulasi
secara menyeluruh”. Berhentinya sirkulasi dapat didiagnosis apabila terdapat semua kondisi
berikut : hilangnya kesadaran; apneu atau gasping; death like appreance (penampilan seperti mati
/ sianosis atau pucat) dan tidak terabanya nadi pada arteri besar (di arteri carotis dan femoralis).
Tidak terabanya nadi karotis adalah tanda klinis yang paling penting dan lebih berarti secara klinis
dibandingkan tidak terdengarnya suara jantung yang merupakan tanda klinis yang kurang dapat
dipercaya. Pada bayi dan anak kecil, penentuan ada atau tidaknya nadi direkomendasikan dengan

2
meraba arteri brachialis atau femoralis. Pada anak yang sudah cukup besar, tetap dianjurkan
meraba arteri carotis.
Berdasarkan pedoman terbaru yang direkomendasikan oleh AHA, Rantai Kelangsungan Hidup
memiliki lima komponen utama. Penelitian secara klinis dan epidemiologis membuktikan bahwa
ketika Rantai Kelangsungan Hidup dilaksanakan secara efektif, maka peluang penderita fibrilasi
ventrikel yang disaksikan di luar rumah sakit dapat diselamatkan hingga 50%. Bila salah satu
komponen tidak dilakukan secara benar, maka peluang keberhasilan menyelamatkan penderita
mengalami penurunan.

In Hospital Cardiac Arrest (IHCA) :


1. Pengenalan awal dan pencegahan
2. Aktivasi respon darurat
3. CPR kualitas tinggi
4. Defibrilasi
5. Perawatan pasca-henti jantung
6. Pemulihan

Out Hospital Cardiac Arrest (OHCA) :


1. Aktivasi respon darurat
2. CPR kualitas tinggi

3
3. Defibrilasi
4. Resusitasi lanjutan
5. Perawatan pasca-henti jantung
6. Pemulihan
KOMPONEN PENTING DALAM MELAKUKAN TAHAPAN RESUSITASI JANTUNG PARU :
1. Penilaian respons
Penilaian respons dilakukan setelah penolong yakin bahwa dirinya sudah aman untuk melakukan
pertolongan. Penilaian respons dilakukan dengan cara menepuk – nepuk dan menggoyangkan
penderita sambil berteriak memanggil penderita.

2. Pengaktifan sistem layanan gawat darurat


Setelah melakukan pemeriksaan kesadaran penderita dan tidak didapatkan respons dari
penderita, hendaknya penolong meminta bantuan orang terdekat untuk menelepon sistem
layanan gawat darurat (atau sistem kode biru bila di rumah sakit). Bila tidak ada orang lain di dekat
penolong untuk membantu, maka sebaiknya penolong menelepon sistem layanan gawat darurat.
Apabila penolong seorang diri, saat menelepon sistem layanan gawat darurat dapat melalui
ponsel pribadi tanpa harus meninggalkan korban seorang diri. Saat melaksanakan percakapan
dengan petugas pelayanan gawat darurat, hendaknya dijelaskan lokasi penderita, kondisi
penderita, serta bantuan yang sudah diberikan kepada penderita.

4
3. Circulation
 Penilaian Denyut Nadi :
- Penilaian pulsasi sebaiknya dilakukan kurang dari 10 detik.
- Pemeriksaan arteri karotis dilakukan dengan memegang leher penderita dan mencari
trakea dengan 2 – 3 jari.
- Selanjutnya dilakukan perabaan bergeser ke lateral (ke arah penolong) sampai
menemukan batas trakea dengan otot samping leher (tempat lokasi arteri karotis berada).

- Jika dalam 10 detik penolong belum bisa meraba pulsasi arteri, maka segera lakukan
kompresi dada.
 Kompresi Dada :
- Penderita dibaringkan di tempat yang datar dan keras.
- Pastikan area dada terbuka dan terbebas dari bahan yang melekat (baju).
- Segera lakukan kompresi dada sebelum memberikan bantuan napas (C-A-B) untuk
mengurangi penundaan dalam memberikan kompresi dada.
- Tentukan lokasi kompresi di dada dengan cara meletakkan telapak tangan yang telah saling
berkaitan di bagian setengah bawah sternum.
- Kompresi dada dilakukan dengan pemberian tekanan secara kuat dan berirama pada
setengah bawah sternum. Hal ini menciptakan aliran darah melalui peningkatan tekanan
intratorakal dan penekanan langsung pada dinding jantung.
- Kedalaman kompresi : untuk dewasa minimal 5 cm (2 inch) tetapi tidak melebihi 6 cm (2,4
inch). Pada bayi kedalaman minimal 4 cm (1,4 inch) dan pada anak sekitar 5 cm (2 inch).
- Berikan kesempatan untuk dada mengembang kembali secara sempurna setelah setiap
kompresi (dengan teknik kompresi yang baru).
- Frekuensi antara 100 – 120 kali per menit.

5
- Seminimal mungkin melakukan interupsi (minimal Interupsi). Interupsi maksimal selama
10 detik (saat cek nadi carotis, cek irama, dll).
- Untuk penolong tunggal segera melakukan kompresi dada 30 kali yang diikuti dengan
pemberian 2 napas bantuan (30 : 2).
- Apabila terdapat 2 penolong, ganti kompresor (penolong yang melakukan kompresi dada)
tiap 2 menit atau lebih awal apabila kompresor kelelahan.

2 inch

4. Airway (pembukaan jalan napas)


Teknik yang digunakan adalah angkat kepala – angkat dagu (head tilt – chin lift) pada penderita
yang diketahui tidak mengalami cedera leher. Pada penderita yang dicurigai menderita trauma
servikal, teknik head tilt – chin lift tidak bisa dilakukan. Teknik yang digunakan pada keadaan
tersebut adalah menarik rahang tanpa melakukan ekstensi kepala (jaw thrust).
5. Breathing (pemberian bantuan napas)
Tujuan primer pemberian bantuan napas adalah mempertahankan oksigenasi yang adekuat
dengan tujuan sekunder untuk membuang CO2. Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam
melakukan bantuan napas :
- Berikan napas bantuan dalam waktu 1 detik.
- Sesuai volume tidal yang cukup 6 – 8 ml/kgBB untuk mengangkat dinding dada.
- Diberikan 2 kali napas bantuan setelah 30 kali kompresi.
- Pada kondisi terdapat dua orang penolong atau lebih, dan telah berhasil memasukkan alat
untuk mempertahankan jalan napas seperti pipa endotrakeal, combitube atau sungkup laring

6
(LMA), maka napas bantuan diberikan setiap 6 – 8 detik, sehingga menghasilkan pernapasan
dengan frekuensi 8 – 10 kali per menit.
- Penderita dengan hambatan jalan napas atau komplians paru yang buruk memerlukan
bantuan napas dengan tekanan lebih tinggi sampai memperlihatkan dinding dada terangkat.
- Pemberian bantuan napas yang berlebihan tidak diperlukan dan dapat menimbulkan distensi
lambung serta komplikasinya, seperti regurgitasi dan aspirasi.
Pemberian bantuan napas bisa dilakukan dengan metode :
a. Mulut ke Mulut

1.

b. Mulut ke Hidung
c. Mulut ke Sungkup

d. Dengan Kantung Pernapasan (bag valve mask)

7
e. Ventilasi dengan bag valve mask melalui pipa ET
Siklus kompresi dada – ventilasi : kompresi dada dengan kecepatan 100 – 120 kali per menit
tanpa diselingi pemberian ventilasi (tidak ada sinkronisasi antara kompresi dada dan
pemberian ventilasi) selama 2 menit. Pemberian ventilasi dengan bag valve mask melalui ETT
1 kali ventilasi tiap 6 detik (10 kali napas per menit) dengan pemberian kompresi dada terus-
menerus.

8
6. Defibrilasi
Tindakan defibrilasi sesegera mungkin memegang peranan penting untuk keberhasilan
pertolongan penderita henti jantung mendadak berdasarkan alasan sbb :
- Irama dasar jantung yang paling sering didapat pada kasus henti jantung mendadak yang
disaksikan di luar rumah sakit adalah fibrilasi ventrikel.
- Terapi untuk fibrilasi ventrikel adalah defibrilasi.
- Kemungkinan keberhasilan tindakan defibrilasi berkurang seiring dengan bertambahnya
waktu.
- Perubahan irama dari fibrilasi ventrikel menjadi asistol seiring dengan berjalannya waktu.
Pelaksanaan defibrilasi bisa dilakukan dengan menggunakan defibrilator manual atau
menggunakan Automated External Defibrillator (AED). Pada defibrilator manual, penderita
dewasa yang mengalami fibrilasi ventrikel atau takikardi ventrikel tanpa nadi, diberikan energi
kejutan 360 J pada defibrilator monofasik atau 200 J pada defibrilator bifasik. Pada anak,
walaupun kejadian henti jantung mendadak sangat jarang, energi kejut listrik diberikan dengan
dosis awal 2J/kgBB, dosis ulangan kedua dan selanjutnya 4J/kgBB dengan dosis maksimal 10J/kgBB
atau tidak melebihi energi yang diberikan kepada penderita dewasa. Pada neonatus, penggunaan
defibrilator manual lebih dianjurkan. Penggunaan defibrilator untuk tindakan kejut listrik tidak
diindikasikan pada penderita dengan asistol atau pulseless electrical activity (PEA).
A. Automated External Defibrilator (AED)
AED (Automated External Defibrillator) adalah defibrilator yang beroperasi secara otomatis.

9
AED bisa mendeteksi apakah gelombang jantung merupakan gelombang yang shockable (VF
atau VT pulseless) dan secara otomatis memberikan shock dengan dosis yang telah
disesuaikan.
Langkah – langkah pemakaian AED :
1) Nyalakan AED dengan menekan tombol hijau (ON) atau beberapa alat dengan membuka
tutup AED.

2) Sambungkan konektor bantalan ke AED.

3) Aplikasikan / lekatkan bantalan elektroda pada dada pasien di apex dan parasternal kanan.
Jangan melakukan kontak langsung dengan penderita saat sedang dilakukan analisis irama
penderita oleh alat AED.

10
4) Apabila tombol shock berkedip – kedip, tekan tombol oranye (SHOCK) untuk memberikan
tindakan kejut listrik dengan memastikan sebelumnya bahwa semua penolong telah bebas.
Apabila tidak berkedip maka lanjutkan kompresi dada selama 5 siklus.

Press the Orange “SHOCK” Button

11
5) Segera berikan kompresi dada setelah pemberian shock (bantalan / pad elektroda pada
dada pasien di apex dan parasternal kanan tetap dilekatkan)

Gambar AED untuk anak- anak.

B. Manual Defibrillator / Defibrillator Konvensional


Pada kasus henti jantung, RJP adalah tindakan yang mutlak dilakukan dan interupsi terhadap
kompresi harus minimal. Prinsip ini tetap berlaku pada penggunaan defibrilator. Selama persiapan
alat dan pengisian tenaga, korban tetap dilakukan kompresi dada. Cara pemakaian defibrilator
manual :
1. Menyalakan alat defibrillator dengan menekan tombol ON atau putar saklar ke arah gambar
EKG.

12
2. Bila saat itu korban sedang dilakukan kompresi dada, maka stop kompresi. Tempelkan pacing
elektroda atau gunakan pedal defibrilator untuk melakukan analisis EKG secara cepat (quick
look analysis). Lihat irama monitor.

3. Bila irama yang terlihat adalah shockable, sementara penolong pertama melakukan persiapan
defibrilasi, penolong kedua tetap melanjutkan kompresi dada.

13
4. Berikan gel di pedal defibrilator atau dada penderita untuk mencegah luka bakar yang berat
serta memperbaiki hantaran listrik dari pedal ke tubuh penderita.

5. Atur dosis pemberian kejut listrik dengan energi 360 J pada alat defibrilator monofasik atau
200 J pada alat defibrilator bifasik.
6. Lakukan pengisian (charge) sampai ke energi yang diinginkan. Apabila energi sudah terisi
penuh akan muncul bunyi alarm. Segera hentikan kompresi dada.

7. Letakkan pedal di apeks jantung dan yang lain diletakkan di parasternal kanan dengan
pemberian tekanan sebesar 12,5 kg saat ditempelkan ke dinding dada.

14
8. Memastikan diri sendiri dan penolong lain bebas “I’m clear, you’re clear, everybody are clear”.
9. Tekan tombol ischarge (tombol bergambar listrik) yang berada di kedua gagang.

15
10. Setelah melakukan defibrilasi, segera lakukan RJP selama 2 menit atau 1 siklus. Setelah 2
menit lakukan evaluasi ulang.

GAMBARAN ELECTROCARDIOGRAPHY PADA PASIEN HENTI JANTUNG


1. SHOCKBLE RHYTM
Yang termasuk dalam shockable rhytm (irama jantung yang bisa direverse dengan memberikan
shock memakai defibrilator) adalah ventrikel fibrilasi dan ventrikel takikardi pulseless.
VENTRICULAR FIBRILLATION (VF)
Ventricular Fibrillation dikenali dengan bentuk gambaran gelombang yang naik – turun dalam
berbagai bentuk dan amplitudo gelombang yang berbeda – beda. Tidak tampak kompleks QRS
atau segmen ST atau gelombang T. Fibrilasi harus ditandai dengan amplitudo gelombang kurang
dari 0,2 mv yang sering ditemukan pada kasus VF yang sudah lama dan gambaran ini mirip atau
menyerupai gambaran asistol. Gambaran klinik VF adalah gambaran henti jantung dan henti
napas. Pada kondisi ini jantung hanya bergetar saja, tidak mampu bekerja sebagai pompa, terjadi
kematian klinis yang dapat berlanjut menjadi kematian biologis.

Gb. ventrikel fibrilasi coarse

16
Gb. ventrikel fibrilasi fine

PULSELESS VENTRIKEL TAKIKARDI


Ventrikel takikardi adalah prekursor yang paling berbahaya bagi timbulnya VF. Ventrikel takikardi
adalah ulangan yang terus menerus dari komplek ventrikular yang prematur (komplek EKG aneh
yang dicetuskan oleh fokus ektopik). Pulseless VT adalah salah satu penyebab dari henti jantung
mendadak. Terapi yang diberikan adalah dengan countershock electric dan CPR C – A – B.

Gb. ventrikel takikardi

2. UNSHOCKBLE RHYTM
Yang termasuk dalam unshockable rhytm (irama jantung yang tidak bisa direverse dengan
defibrilasi) adalah :
ASYSTOLE
Tidak ada ritme EKG, hanya garis lurus. Rate < 5 denyut ektopik/menit. Komplek QRS tidak ada
atau sangat jarang atau terlihat aneh. Terapi untuk asystole adalah CPR, irama jantung ini bukan
merupakan indikasi dilakukan defibrilasi. Asistol merupakan keadaan pada saat jantung berjenti
berkontraksi. Keadaan ini merupakan puncak dari perjalanan henti jantung. Pada VT, VF dan PEA
jantung masih dapat bergerak walaupun tidak dapat memompa darah, tetapi pada asistol jantung
benar – benar berhenti total. Pada saat asistol, kita melihat monitor akan terlihat gambaran garis
lurus. Beberapa tindakan yang harus dilakukan adalah melakukan pemeriksaan alat / monitor,
misalnya :
- Apakah sadapan elektrodanya terpasang baik, tidak ada yang terlepas?

17
- Apakah sambungan sadapan elektroda dengan konektor alat kejut listrik terpasang baik?
- Apakah batere DC terpasang?
- Apakah kabel listrik alat DC tersambung baik?
- Apakah aliran listrik ada atau tidak?
- Apakah sudah dicoba memindahkan lead I, II, II secara bergantian?
- Apakah sudah berusaha menaikkan amplitudo pada alat DC agar gelombang lebih terlihat?

Gb. asistol

PULSELESS ELECTRICAL ACTIVITY (PEA)


Aktivitas listrik tanpa denyut (pulseless electrical activity, PEA) adalah suatu keadaan klinis yang
ditandai dengan adanya gambaran elektrik pada monitor EKG, tetapi tidak ditemukan denyut nadi
pada perabaan arteri karotis. PEA merupakan suatu keadaan henti jantung dan henti napas.
Sebenarnya pada keadaan ini ventrikel masih berkontraksi tetapi tidak cukup kuat menimbulkan
pulsasi sampai ke pembuluh darah.

Gb. pulseless electrical activity (PEA)

Pertolongan pada pasien henti jantung di dalam sarana atau fasilitas kesehatan tidak dapat dilakukan
apabila :
1. Ada permintaan dari penderita atau keluarga inti yang berhak secara sah dan ditandatangani oleh
penderita atau keluarga penderita.
2. Henti jantung terjadi pada penyakit dengan stadium akhir yang telah mendapat pengobatan
secara optimal.
3. Pada neonatus atau bayi dengan kelainan yang memiliki angka mortalitas tinggi, misalnya bayi
sangat prematur, anensefali, atau kelainan kromosom seperti trisomi 13.

18
Pertolongan pada pasien henti jantung di luar sarana atau fasilitas kesehatan tidak dapat dilakukan
apabila :
1. Tanda – tanda klinis kematian yang irreversibel, seperti kaku mayat, lebam mayat, dekapitasi,
atau pembusukan.
2. Upaya RJP dengan resiko membahayakan penolong.
3. Penderita dengan trauma yang tidak bisa diselamatkan, seperti hangus terbakar, dekapitasi atau
hemikorporektomi.

Alasan – alasan untuk menghentikan RJP antara lain :


1. Penolong sudah melakukan Bantuan Hidup Dasar dan Lanjut secara optimal, antara lain : RJP,
defibrilasi pada penderita VF / VT tanpa nadi, pemberian vasopresin atau epinefrin intravena,
membuka jalan napas, ventilasi dan oksigenasi menggunakan bantuan jalan napas tingkat lanjut
serta sudah melakukan semua pengobatan sesuai dengan pedoman yang ada.
2. Penolong sudah mempertimbangkan apakah penderita terpapar bahan beracun atau mengalami
overdosis obat yang akan menghambat susunan sistem saraf pusat.
3. Kejadian henti jantung tidak disaksikan oleh penolong.
4. Penolong sudah merekan melalui monitor adanya asistol yang menetap selama 10 menit atau
lebih.

Implementasi penghentian usaha resusitasi :


1. Asistol yang menetap atau tidak terdapat denyut nadi pada neonatus lebih dari 10 menit.
2. Penderita yang tidak merespon setelah dilakukan Bantuan Hidup Jantung Lanjut minimal 20 detik.
3. Secara etik, penolong RJP selalu menerima keputusan klinik yang layak untuk memperpanjang
usaha pertolongan (misalnya oleh karena konsekuensi psikologis dan emosional). Juga menerima
alasan klinis untuk mengakhiri resusitasi dengan segera (karena kemungkinan hidup yang kecil).
4. Menurunnya kemungkinan keberhasilan resusitasi sebanding dengan makin lamanya waktu
melaksanakan bantuan hidup. Perkiraan kemungkinan keberhasilan resusitasi dan pulang ke
rumah, mulai dari 60 – 90% dan menurun secara jelas 3 – 10% per menit.

Tindakan RJP pada asistol, bisa lebih lama dilakukan pada penderita dengan kondisi sbb :
1. Usia muda
2. Asistol menetap karena toksin atau gangguan elektrolit
3. Hipotermia
4. Overdosis obat

19
5. Usaha bunuh diri
6. Permintaan keluarga
7. Korban tenggelam di air dingin

PEMBERIAN OBAT – OBAT EMERGENCY PADA KASUS CARDIAC ARREST


1. Epinefrin
Dosis epinefrin IV/IO adalah 0,01 mg/kgBB (dosis maksimal 1 mg). Dosis diulangi tiap 3-5 menit.
Apabila tidak ada akses IV/IO maka epinefrin dapat diberikan melalui pipa endotrakeal dengan
dosis 0,1 mg/kgBB.
2. Amiodarone dan Lidocaine
Untuk VF / VT yang refrakter (irama EKG masih VF / VT sesudah pemberian 3x shock / defibrilasi),
perlu dipertimbangkan penggunaan amiodaron 5 mg/kgBB (300 mg) bolus intra vena, dapat
diulang dosis kedua 150 mg. Jika amiodaron tidak tersedia, sebagai penggantinya dapat diberikan
lidocaine dengan dosis 1-1,5 mg/kgBB bolus intra vena dan dosis kedua 0,5-0,75 mg/kgBB.
3. Nalokson
Untuk pasien dengan dugaan ketergantungan opioid atau yang telah diketahui dan tidak
menunjukkan reaksi dengan napas tidak normal, namun ada denyut, selain menyediakan
perawatan BLS standar, penolong terlatih yang tepat dan penyedia BLS perlu memberikan
nalokson IM (intramuskular) atau IN (intranasal). Pendidikan terkait tanggapan terhadap kasus
overdosis opioid dengan atau tanpa pemberian nalokson kepada korban yang berisiko mengalami
overdosis opioid dalam kondisi apapun dapat dipertimbangkan.

RETURN OF SPONTANEOUS CIRCULATION (ROSC)


Return of spontaneous circulation (ROSC) atau kembalinya tanda – tanda sirkulasi secara spontan
antara lain :
 Terabanya nadi
 Tekanan darah yang terukur
 Terdapat gerakan pada salah satu / lebih dari anggota gerak. Apabila terjadi hal demikian, maka
kompresi dada harus dihentikan, dan penolong memeriksa pulsasi A. carotis communis apakah
ada denyutan apa tidak.

20
RECOVERY POSITION :
Apabila pasien sudah kembali ke sirkulasi spontan dan tidak ada gangguan napas, dimana pemulihan
kesadaran belum sempurna dan bantuan dari tim medis belum sampai di lokasi kejadian.
• Diberlakukan bagi korban dewasa yang awalnya tidak responsif, dan telah mendapat bantuan
resusitasi dimana penderita menjadi bernapas normal dan sudah terdapat sirkulasi yang efektif.
• Lokasi kejadian out of hospital.
• Tujuannya adalah untuk menjaga patensi jalan napas dan mengurangi resiko adanya obstruksi
jalan napas dan aspirasi.

21
Gb. Algoritma Henti Jantung Dewasa

22
23
D. CHECK LIST

OUT OF HOSPITAL CARDIORESPIRATORY ARREST (OHCA)

Aspek Aspek yang dinilai 0 1 2


ketrampilan
yang dilakukan
Cek respon 1. Membangkitkan respon verbal dengan rangsang
suara/panggil  rangsang raba / ditepuk.
Call for help 2. Meminta bantuan orang lain untuk
mengambilkan AED dan menelepon ambulan.
Circulation 3. Cek nadi A. Carotis Communis.
4. Pastikan area dada terbuka dan terbebas dari
bahan yang melekat (baju)
5. Melakukan kompresi dada 30 kali dengan
kedalaman minimal 5 cm.
Airway 6. Melakukan pembukaan jalan napas dengan cara
head tilt – chin lift atau jaw thrust apabila
penderita ada riwayat cedera leher.
Breathing 7. Berikan napas bantuan dengan mouth to mouth.
8. Melakukan RJP 30 : 2 sampai 5 siklus atau
sampai bantuan datang membawa AED / tim
medis RS datang.
Cek irama 9. Apabila AED sudah tersedia  nyalakan AED.
10. Memasang perekat / bantalan elektroda di apeks
jantung dan di parasternal kanan.
11. Menghentikan kompresi  AED menganalisa
irama jantung secara otomatis (tergantung
algoritma shockable / unshockable).
- Apabila tombol shock tidak berkedip – kedip =
unshockable  lanjutkan kompresi dada 30 : 2
selama 5 siklus.
- Apabila tombol shock berkedip – kedip =
shockable  beri shock.
Defibrilasi 12. Memastikan diri sendiri dan penolong lain bebas
“I’m clear, you’re clear, everybody are clear”.
13. Berikan shock dengan menekan tombol shock.
Ulangi RJP 14. Langsung berikan kompresi 30 : 2 selama 5 siklus.
Cek irama 15. Hentikan kompresi.
16. Evaluasi irama jantung  AED menganalisa irama
jantung secara otomatis.
Jika pasien ROSC 17. Cek nadi karotis, hitung frekuensi nadi.
18. Periksa pernapasan pasien dengan melihat
pengembangan dada, hitung RR.
19. Jaga patensi airway dan nilai apakah napas cukup
adekuat.
20. Pertimbangkan bisa dilakukan recovery position /
tidak.

24
CARDIORESPIRATORY ARREST IN HOSPITAL (IHCA)

Aspek Aspek Yang Dinilai 0 1 2


ketrampilan
yang dilakukan
Proteksi diri 1. Memakai handgloves.
Cek respon 2. Membangkitkan respon verbal dengan rangsang
suara/panggil  rangsang raba/ditepuk.
Call for help 3. Meminta bantuan perawat / tim medis untuk
mengambilkan defibrilator dan alat resusitasi.
Circulation 4. Cek nadi A. Carotis Communis.
5. Pastikan area dada terbuka dan terbebas dari
bahan yang melekat (baju)
6. Melakukan kompresi dada 30 kali.
Airway 7. Melakukan pembukaan jalan napas dengan cara
head tilt – chin lift atau jaw thrust apabila
penderita ada riwayat cedera leher.
Breathing 8. Berikan napas bantuan dengan bag valve mask.
9. Melakukan RJP 30 : 2 sampai 5 siklus atau
sampai bantuan datang membawa defibrilator.
Cek irama 10. Menyalakan dan memasang defibrilator.
11. Letakkan pedal di apeks jantung dan di
parasternal kanan.
12. Menghentikan kompresi  cek irama jantung.
- Apabila unshockable lanjutkan kompresi dada
- Apabila shockable lakukan defibrilasi.
Defibrilasi 13. Tetap melanjutkan kompresi dada sambil
mempersiapkan defibrilator.
14. Berikan jelly pada kedua pedal, letakkan pedal di
apeks jantung dan di parasternal kanan.
15. Setel defibrilasi 360 J utk alat monofasik atau 200
J utk alat bifasik.
16. Mencharging defibrilator.
17. Memastikan diri sendiri dan penolong lain bebas
“I’m clear, you’re clear, everybody are clear”.
18. Berikan shock dengan menekan tombol charge di
kedua gagang.
Ulangi RJP 19. Langsung berikan kompresi 30 : 2 selama 5 siklus.
Cek irama 20. Hentikan kompresi.
21. Evaluasi irama jantung yang terlihat di monitor
(tergantung algoritma shockable / unshockable).
Jika pasien ROSC 22. Cek nadi karotis, hitung frekuensi nadi.
23. Periksa pernapasan pasien dengan melihat
pengembangan dada, hitung RR.
24. Jaga patensi airway dan nilai apakah napas cukup
adekuat
25. Rujuk ke ICU / ICCU.

25
E. DAFTAR PUSTAKA
1. Buku Panduan Kursus Bantuan Hidup Dasar edisi 2016, BCLS Indonesia, Perhimpunan Dokter
Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP-PERKI) 2016.
2. Buku Panduan Kursus Bantuan Hidup Jantung Lanjut edisi 2013, ACLS Indonesia, Perhimpunan
Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP-PERKI) 2016.
3. Highlights of the 2020 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary
Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care.

26

Anda mungkin juga menyukai