Indikasi CPR pada Henti Jantung
Indikasi CPR pada Henti Jantung
A. SASARAN BELAJAR
1. Mampu menilai respon penderita
2. Mampu melakukan pengaktifan sistem layanan gawat darurat (call for help)
3. Mampu menilai sirkulasi dan memberikan kompresi dada
4. Mampu melakukan pembukaan jalan napas dengan triple airway manuever atau salah satunya
dan memberikan rescue breath dengan berbagai metode
5. Mampu melakukan cek irama EKG penderita dan mengidentifikasi apakah shockable / non
shockable
6. Mampu memberikan electrical therapies dengan AED dan manual defibrilator
7. Mengetahui indikasi penghentian CPR
8. Mengetahui jenis obat - obatan emergensi yang digunakan pada kasus cardiorespiratory arrest
B. RENCANA PEMBELAJARAN
Waktu praktikum 2 x 50 menit
Panduan tutor 1. Menjelaskan teori (30 menit)
2. Memandu dan menilai mahasiswa berlatih dengan
simulasi kasus cardiorespiratory arrest (60 menit)
3. Evaluasi (10 menit)
Tugas mahasiswa Mempelajari Petunjuk skill lab secara mandiri
C. DASAR TEORI
Henti jantung (cardiac arrest) adalah suatu keadaan dimana sirkulasi darah berhenti akibat
kegagalan jantung untuk berkontraksi secara efektif. Secara klinis, keadaan henti jantung ditandai
dengan tidak adanya nadi dan tanda – tanda sirkulasi lainnya. Henti jantung dapat disebabkan oleh
4 irama :
1. Fibrilasi ventrikel / ventricular fibrillation (VF)
1
2. Takikardi ventrikel tanpa nadi / pulseless ventricular tachycardia (VT)
3. Pulseless Electrical Activity (PEA)
4. Asistol
PENYEBAB HENTI JANTUNG
Penyebab henti jantung dapat primer atau sekunder. Kondisi primer penyebab henti jantung :
1. Gagal jantung
2. Tamponade jantung
3. Miokarditis
4. Kardiomiopati hipertrofi
5. Fibrilasi ventrikel yang mungkin disebabkan oleh iskemia miokard, infark miokard, tersengat
listrik, gangguan elektrolit atau konsumsi obat – obatan.
Apabila tidak terdapatnya aliran darah berlangsung lebih dari 5 menit, kemungkinan terjadi
kerusakan otak yang irreversible. Sehingga, apapun penyebab dari henti jantung, CPR harus
dimulai sesegera mungkin. Apabila re-oksigenasi oleh CPR pada henti jantung primer tertunda
lebih dari 5 menit, kemungkinan untuk pulih kembali tanpa kerusakan otak sangat kecil.
2
meraba arteri brachialis atau femoralis. Pada anak yang sudah cukup besar, tetap dianjurkan
meraba arteri carotis.
Berdasarkan pedoman terbaru yang direkomendasikan oleh AHA, Rantai Kelangsungan Hidup
memiliki lima komponen utama. Penelitian secara klinis dan epidemiologis membuktikan bahwa
ketika Rantai Kelangsungan Hidup dilaksanakan secara efektif, maka peluang penderita fibrilasi
ventrikel yang disaksikan di luar rumah sakit dapat diselamatkan hingga 50%. Bila salah satu
komponen tidak dilakukan secara benar, maka peluang keberhasilan menyelamatkan penderita
mengalami penurunan.
3
3. Defibrilasi
4. Resusitasi lanjutan
5. Perawatan pasca-henti jantung
6. Pemulihan
KOMPONEN PENTING DALAM MELAKUKAN TAHAPAN RESUSITASI JANTUNG PARU :
1. Penilaian respons
Penilaian respons dilakukan setelah penolong yakin bahwa dirinya sudah aman untuk melakukan
pertolongan. Penilaian respons dilakukan dengan cara menepuk – nepuk dan menggoyangkan
penderita sambil berteriak memanggil penderita.
4
3. Circulation
Penilaian Denyut Nadi :
- Penilaian pulsasi sebaiknya dilakukan kurang dari 10 detik.
- Pemeriksaan arteri karotis dilakukan dengan memegang leher penderita dan mencari
trakea dengan 2 – 3 jari.
- Selanjutnya dilakukan perabaan bergeser ke lateral (ke arah penolong) sampai
menemukan batas trakea dengan otot samping leher (tempat lokasi arteri karotis berada).
- Jika dalam 10 detik penolong belum bisa meraba pulsasi arteri, maka segera lakukan
kompresi dada.
Kompresi Dada :
- Penderita dibaringkan di tempat yang datar dan keras.
- Pastikan area dada terbuka dan terbebas dari bahan yang melekat (baju).
- Segera lakukan kompresi dada sebelum memberikan bantuan napas (C-A-B) untuk
mengurangi penundaan dalam memberikan kompresi dada.
- Tentukan lokasi kompresi di dada dengan cara meletakkan telapak tangan yang telah saling
berkaitan di bagian setengah bawah sternum.
- Kompresi dada dilakukan dengan pemberian tekanan secara kuat dan berirama pada
setengah bawah sternum. Hal ini menciptakan aliran darah melalui peningkatan tekanan
intratorakal dan penekanan langsung pada dinding jantung.
- Kedalaman kompresi : untuk dewasa minimal 5 cm (2 inch) tetapi tidak melebihi 6 cm (2,4
inch). Pada bayi kedalaman minimal 4 cm (1,4 inch) dan pada anak sekitar 5 cm (2 inch).
- Berikan kesempatan untuk dada mengembang kembali secara sempurna setelah setiap
kompresi (dengan teknik kompresi yang baru).
- Frekuensi antara 100 – 120 kali per menit.
5
- Seminimal mungkin melakukan interupsi (minimal Interupsi). Interupsi maksimal selama
10 detik (saat cek nadi carotis, cek irama, dll).
- Untuk penolong tunggal segera melakukan kompresi dada 30 kali yang diikuti dengan
pemberian 2 napas bantuan (30 : 2).
- Apabila terdapat 2 penolong, ganti kompresor (penolong yang melakukan kompresi dada)
tiap 2 menit atau lebih awal apabila kompresor kelelahan.
2 inch
6
(LMA), maka napas bantuan diberikan setiap 6 – 8 detik, sehingga menghasilkan pernapasan
dengan frekuensi 8 – 10 kali per menit.
- Penderita dengan hambatan jalan napas atau komplians paru yang buruk memerlukan
bantuan napas dengan tekanan lebih tinggi sampai memperlihatkan dinding dada terangkat.
- Pemberian bantuan napas yang berlebihan tidak diperlukan dan dapat menimbulkan distensi
lambung serta komplikasinya, seperti regurgitasi dan aspirasi.
Pemberian bantuan napas bisa dilakukan dengan metode :
a. Mulut ke Mulut
1.
b. Mulut ke Hidung
c. Mulut ke Sungkup
7
e. Ventilasi dengan bag valve mask melalui pipa ET
Siklus kompresi dada – ventilasi : kompresi dada dengan kecepatan 100 – 120 kali per menit
tanpa diselingi pemberian ventilasi (tidak ada sinkronisasi antara kompresi dada dan
pemberian ventilasi) selama 2 menit. Pemberian ventilasi dengan bag valve mask melalui ETT
1 kali ventilasi tiap 6 detik (10 kali napas per menit) dengan pemberian kompresi dada terus-
menerus.
8
6. Defibrilasi
Tindakan defibrilasi sesegera mungkin memegang peranan penting untuk keberhasilan
pertolongan penderita henti jantung mendadak berdasarkan alasan sbb :
- Irama dasar jantung yang paling sering didapat pada kasus henti jantung mendadak yang
disaksikan di luar rumah sakit adalah fibrilasi ventrikel.
- Terapi untuk fibrilasi ventrikel adalah defibrilasi.
- Kemungkinan keberhasilan tindakan defibrilasi berkurang seiring dengan bertambahnya
waktu.
- Perubahan irama dari fibrilasi ventrikel menjadi asistol seiring dengan berjalannya waktu.
Pelaksanaan defibrilasi bisa dilakukan dengan menggunakan defibrilator manual atau
menggunakan Automated External Defibrillator (AED). Pada defibrilator manual, penderita
dewasa yang mengalami fibrilasi ventrikel atau takikardi ventrikel tanpa nadi, diberikan energi
kejutan 360 J pada defibrilator monofasik atau 200 J pada defibrilator bifasik. Pada anak,
walaupun kejadian henti jantung mendadak sangat jarang, energi kejut listrik diberikan dengan
dosis awal 2J/kgBB, dosis ulangan kedua dan selanjutnya 4J/kgBB dengan dosis maksimal 10J/kgBB
atau tidak melebihi energi yang diberikan kepada penderita dewasa. Pada neonatus, penggunaan
defibrilator manual lebih dianjurkan. Penggunaan defibrilator untuk tindakan kejut listrik tidak
diindikasikan pada penderita dengan asistol atau pulseless electrical activity (PEA).
A. Automated External Defibrilator (AED)
AED (Automated External Defibrillator) adalah defibrilator yang beroperasi secara otomatis.
9
AED bisa mendeteksi apakah gelombang jantung merupakan gelombang yang shockable (VF
atau VT pulseless) dan secara otomatis memberikan shock dengan dosis yang telah
disesuaikan.
Langkah – langkah pemakaian AED :
1) Nyalakan AED dengan menekan tombol hijau (ON) atau beberapa alat dengan membuka
tutup AED.
3) Aplikasikan / lekatkan bantalan elektroda pada dada pasien di apex dan parasternal kanan.
Jangan melakukan kontak langsung dengan penderita saat sedang dilakukan analisis irama
penderita oleh alat AED.
10
4) Apabila tombol shock berkedip – kedip, tekan tombol oranye (SHOCK) untuk memberikan
tindakan kejut listrik dengan memastikan sebelumnya bahwa semua penolong telah bebas.
Apabila tidak berkedip maka lanjutkan kompresi dada selama 5 siklus.
11
5) Segera berikan kompresi dada setelah pemberian shock (bantalan / pad elektroda pada
dada pasien di apex dan parasternal kanan tetap dilekatkan)
12
2. Bila saat itu korban sedang dilakukan kompresi dada, maka stop kompresi. Tempelkan pacing
elektroda atau gunakan pedal defibrilator untuk melakukan analisis EKG secara cepat (quick
look analysis). Lihat irama monitor.
3. Bila irama yang terlihat adalah shockable, sementara penolong pertama melakukan persiapan
defibrilasi, penolong kedua tetap melanjutkan kompresi dada.
13
4. Berikan gel di pedal defibrilator atau dada penderita untuk mencegah luka bakar yang berat
serta memperbaiki hantaran listrik dari pedal ke tubuh penderita.
5. Atur dosis pemberian kejut listrik dengan energi 360 J pada alat defibrilator monofasik atau
200 J pada alat defibrilator bifasik.
6. Lakukan pengisian (charge) sampai ke energi yang diinginkan. Apabila energi sudah terisi
penuh akan muncul bunyi alarm. Segera hentikan kompresi dada.
7. Letakkan pedal di apeks jantung dan yang lain diletakkan di parasternal kanan dengan
pemberian tekanan sebesar 12,5 kg saat ditempelkan ke dinding dada.
14
8. Memastikan diri sendiri dan penolong lain bebas “I’m clear, you’re clear, everybody are clear”.
9. Tekan tombol ischarge (tombol bergambar listrik) yang berada di kedua gagang.
15
10. Setelah melakukan defibrilasi, segera lakukan RJP selama 2 menit atau 1 siklus. Setelah 2
menit lakukan evaluasi ulang.
16
Gb. ventrikel fibrilasi fine
2. UNSHOCKBLE RHYTM
Yang termasuk dalam unshockable rhytm (irama jantung yang tidak bisa direverse dengan
defibrilasi) adalah :
ASYSTOLE
Tidak ada ritme EKG, hanya garis lurus. Rate < 5 denyut ektopik/menit. Komplek QRS tidak ada
atau sangat jarang atau terlihat aneh. Terapi untuk asystole adalah CPR, irama jantung ini bukan
merupakan indikasi dilakukan defibrilasi. Asistol merupakan keadaan pada saat jantung berjenti
berkontraksi. Keadaan ini merupakan puncak dari perjalanan henti jantung. Pada VT, VF dan PEA
jantung masih dapat bergerak walaupun tidak dapat memompa darah, tetapi pada asistol jantung
benar – benar berhenti total. Pada saat asistol, kita melihat monitor akan terlihat gambaran garis
lurus. Beberapa tindakan yang harus dilakukan adalah melakukan pemeriksaan alat / monitor,
misalnya :
- Apakah sadapan elektrodanya terpasang baik, tidak ada yang terlepas?
17
- Apakah sambungan sadapan elektroda dengan konektor alat kejut listrik terpasang baik?
- Apakah batere DC terpasang?
- Apakah kabel listrik alat DC tersambung baik?
- Apakah aliran listrik ada atau tidak?
- Apakah sudah dicoba memindahkan lead I, II, II secara bergantian?
- Apakah sudah berusaha menaikkan amplitudo pada alat DC agar gelombang lebih terlihat?
Gb. asistol
Pertolongan pada pasien henti jantung di dalam sarana atau fasilitas kesehatan tidak dapat dilakukan
apabila :
1. Ada permintaan dari penderita atau keluarga inti yang berhak secara sah dan ditandatangani oleh
penderita atau keluarga penderita.
2. Henti jantung terjadi pada penyakit dengan stadium akhir yang telah mendapat pengobatan
secara optimal.
3. Pada neonatus atau bayi dengan kelainan yang memiliki angka mortalitas tinggi, misalnya bayi
sangat prematur, anensefali, atau kelainan kromosom seperti trisomi 13.
18
Pertolongan pada pasien henti jantung di luar sarana atau fasilitas kesehatan tidak dapat dilakukan
apabila :
1. Tanda – tanda klinis kematian yang irreversibel, seperti kaku mayat, lebam mayat, dekapitasi,
atau pembusukan.
2. Upaya RJP dengan resiko membahayakan penolong.
3. Penderita dengan trauma yang tidak bisa diselamatkan, seperti hangus terbakar, dekapitasi atau
hemikorporektomi.
Tindakan RJP pada asistol, bisa lebih lama dilakukan pada penderita dengan kondisi sbb :
1. Usia muda
2. Asistol menetap karena toksin atau gangguan elektrolit
3. Hipotermia
4. Overdosis obat
19
5. Usaha bunuh diri
6. Permintaan keluarga
7. Korban tenggelam di air dingin
20
RECOVERY POSITION :
Apabila pasien sudah kembali ke sirkulasi spontan dan tidak ada gangguan napas, dimana pemulihan
kesadaran belum sempurna dan bantuan dari tim medis belum sampai di lokasi kejadian.
• Diberlakukan bagi korban dewasa yang awalnya tidak responsif, dan telah mendapat bantuan
resusitasi dimana penderita menjadi bernapas normal dan sudah terdapat sirkulasi yang efektif.
• Lokasi kejadian out of hospital.
• Tujuannya adalah untuk menjaga patensi jalan napas dan mengurangi resiko adanya obstruksi
jalan napas dan aspirasi.
21
Gb. Algoritma Henti Jantung Dewasa
22
23
D. CHECK LIST
24
CARDIORESPIRATORY ARREST IN HOSPITAL (IHCA)
25
E. DAFTAR PUSTAKA
1. Buku Panduan Kursus Bantuan Hidup Dasar edisi 2016, BCLS Indonesia, Perhimpunan Dokter
Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP-PERKI) 2016.
2. Buku Panduan Kursus Bantuan Hidup Jantung Lanjut edisi 2013, ACLS Indonesia, Perhimpunan
Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP-PERKI) 2016.
3. Highlights of the 2020 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary
Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care.
26