0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan61 halaman

Pemetaan Geologi Kabupaten Merangin

Ringkasan laporan kuliah lapangan 1 ini adalah sebagai berikut: 1. Laporan ini membahas hasil pemetaan dasar geologi dan geologi struktur di tiga lokasi yaitu Desa Bedeng Rejo, Muara Siau dan Air Batu, Merangin, Jambi. 2. Metode yang digunakan meliputi studi pustaka, pemetaan geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi serta penentuan sejarah geologi wilayah tersebut. 3

Diunggah oleh

Monica Irfal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan61 halaman

Pemetaan Geologi Kabupaten Merangin

Ringkasan laporan kuliah lapangan 1 ini adalah sebagai berikut: 1. Laporan ini membahas hasil pemetaan dasar geologi dan geologi struktur di tiga lokasi yaitu Desa Bedeng Rejo, Muara Siau dan Air Batu, Merangin, Jambi. 2. Metode yang digunakan meliputi studi pustaka, pemetaan geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi serta penentuan sejarah geologi wilayah tersebut. 3

Diunggah oleh

Monica Irfal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KULIAH LAPANGAN 1

DESA AIR BATU, BEDENG REJO DAN MUARA SIAU, KECAMATAN


RENAH PEMBARAP, BANGKO BARAT DAN MUARA SIAU,
KABUPATEN MERANGIN, PROVINSI JAMBI

Oleh :

KELOMPOK

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


JURUSAN TEKNIK KEBUMIAN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS JAMBI
2021
LAPORAN KULIAH LAPANGAN 1
DESA AIR BATU, BEDENG REJO DAN MUARA SIAU, KECAMATAN
RENAH PEMBARAP, BANGKO BARAT DAN MUARA SIAU,
KABUPATEN MERANGIN, PROVINSI JAMBI

Oleh:

1. ALIF RAHMAN NURRAHIM F1D219003


2. AGUSTINUS SITANGGANG F1D219008
3. AZIZAH AULIA ANSORI F1D219016
4. EKA GUNIARTI F1D219017
5. YOLANDA ERNA SITUMEANG F1D219019
6. FARHAN ASYROWI F1D219020
7. ANDINI MULYANI PUTRI F1D219025
8. YUSMANSYAH SIREGAR F1D219040
9. MABELA HIKMATUN NAZILAH F1D219044
10. M. FAZRI ADITAMA F1D219048
11. MONICA IRFAL PARADILA F1D219051
12. IGNATIA TRI ASTUTI F1D219052
13. DIRGA WANDA F1D219058

Dinyatakan dapat Digunakan

Disahkan pada 7 Juni 2021


Disetujui :
Dosen Pembimbing

Anggi Deliana S, S.T., M.T


NIP. 198912172019032014

ii
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT. Tuhan yang
maha esa, karena atas rahmat dan berkah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan yang berjudul ”Pemetaan Dasar Geologi Dan Geologi
Struktur Kabupaten Merangin Provinsi Jambi”.
Laporan Kuliah lapangan 1 ini diselesaikan dengan bantuan, bimbingan
arahan dan petunjuk dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini
penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Tuhan Yang Maha Esa karena telah diberikan kekuatan dan keselamatan
untuk menjalankan semua kegiatan kuliah lapangan 2.
2. Bapak Prif. Drs. Damris [Link]., Ph.D. Selaku Dekan Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Jambi.
3. Ibu Anggi Deliana Siregar S. S.T, M.T Selaku dosen Pembimbing
4. Bapak dan Ibu dosen yang telah memberikan dukungan kepada penyusun.
5. Tim bimbingan ibu Anggi Deliana Siregar S. S.T, M.T
6. Rekan rekan Teknik Geologi 2019 yang sudah memberikan dukungan dan
juga sebagai teman untuk bertukar pikiran dari penulis.
7. Keluarga Besar Teknik Geologi Universitas Jambi.
8. Kedua Orang tua dan Saudara/i penulis yang telah memberi dukungan
materil, motivasi, doa dan semangat kepada penulis dalam melakukan
kegiatan pemetaan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu saran dan kritik pembaca sangat diharapkan yang bersifat membangun
sangat penulis agar laporan ini menjadi lebih baik. Semoga Laporan ini
bermanfaat nantinya bagi ilmu pengetahuan dan buat semua pihak.
Jambi, 7 Juni 2021
Penulis

Kelompok ANGGI

iii
DAFTAR ISI

COVER LAPORAN...............................................................................................i
KATA PENGANTAR............................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................iv
DAFTAR TABEL..................................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
I.1 Latar Belakang 1
1.2 Maksud dan Tujuan 2
1.3 Lokasi dan Kesampaian 3
BAB II TINJAUAN PUSTTAKA.........................................................................4
II.1 Fisiografi 4
II.2 Stratigrafi 5
II.3 Struktur Geologi 7
BAB III METODE PENELITIAN.....................................................................11
III.1. Lokasi dan Tempat Penelitian 11
III.2. Bahan dan Alat Penelitian 13
III.3. Metode Penelitian 18
BAB IV METODE PENELITIAN ....................................................................23
IV.1. Geomorfologi 23
IV.2. Stratigrafi 24
IV.3. Struktur Geologi 37
IV.4. Sejarah Geologi 37
IV.5. Potensi Geologi 38
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ..............................................................39
V.1. Kesimpulan 39
V.2. Saran........ 40
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................41
LAMPIRAN

iv
Daftar Gambar
Gambar 1. Distribusi Blok-blok Benua................................................................13
Gambar 2. Struktur Sumatera dan Pergerakan Lempeng Tektonik......................14
Gambar 3. Pola Aliran Daerah Bedeng Rejo........................................................26
Gambar 4. Pola Aliran Daerah Muara Siau..........................................................27
Gambar 5. Pola Aliran Daerah Air Batu...............................................................28
Gambar 6. Geomorfologi daerah Bedeng Rejo....................................................29
Gambar 7. Bentang Lahan Perbukitan Stuktural..................................................29
Gambar 8. Bentang Lahan Lembah Stuktural......................................................30
Gambar 9. Bentang Lahan Tubuh Sungai.............................................................31
Gambar 10. Geomorfologi daerah Muara
Siau.....................................................32
Gambar 11. Bentang Lahan Perbukitan Stuktural................................................32
Gambar 12. Bentang Lahan Lembah Stuktural....................................................33
Gambar 13. Bentang Lahan Tubuh
Sungai...........................................................33
Gambar 14. Geomorfologi daerah Air Batu.........................................................34
Gambar 15. Bentang Lahan Perbukitan Stuktural................................................35
Gambar 16. Bentang Lahan Lembah Stuktural....................................................35
Gambar 17. Bentang Lahan Tubuh
Sungai...........................................................36
Gambar 18. Sesar di Air Terjun Neng-nong.........................................................38
Gambar 19 . Peta Geologi Daerah Bedeng Rejo..................................................38
Gambar 20 . Peta Geologi Daerah Muara
Siau.....................................................39
Gambar 21 . Peta Geologi Daerah Air Batu.........................................................40
Gambar 22. Foto Singkapan formasi Permian......................................................41
Gambar 23. Singkapan Granit..............................................................................41
Gambar 24. Foto Singkapan endapan piroklastik.................................................42
Gambar 25. Foto Singkapan pada dinding tepi....................................................43
Gambar 26. Foto Singkapan Formasi Ja...............................................................44
Gambar 27. Foto Singkapan Intrusi Andesit........................................................44

v
Gambar 28. Foto Singkapan Formasi Permian
Mengkarang................................46
Gambar 29. Foto singkapan di Jeram Ladeh........................................................46
Gambar 30. Foto Singkapan di Air Terjun Neng-nong........................................47
Gambar 31. Foto Singkapan di Air Terjun Neng-nong........................................48
Gambar 32. Sesar di Air Terjun Neng-nong.........................................................55
Gambar 33 Model Sejarah Bedeng Rejo..............................................................56
Gambar 34. Model Sejarah Muara Siau...............................................................57
Gambar 35. Model Sejarah Air Batu....................................................................58

vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Tabel tahap Penelitian
Tabel 2. Tabel Alat dan Bahan Penelitian
Tabel 3. Tabel Geomorfologi Bedeng Rejo
Tabel 5. Peta Geologi Daerah Muara Siau
Tabel 6 . Kolom stratigrafi Air batu
Tabel 7. Tabel Analisis sesar Bedeng Rejo
Tabel 8. Analisis Stuktur Muara Siau

vii
DAFTAR LAMPIRAN
1. Peta Lintasan dan Titik Pengamatan...........................................
2. Peta Pola Pengaliran..................................................................
3. Peta Geomorfologi dan Sayatan.................................................
4. Peta Geologi dan Sayatan..........................................................
5. Tabulasi Data di Lapangan........................................................

viii
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Secara geologi, wilayah Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng
tektonik aktif yaitu Lempeng Indo-Australia di bagian selatan, Lempeng Eurasia
di bagian utara dan Lempeng Pasifik di bagian Timur. Ketiga lempengan tersebut
bergerak dan saling bertumbukan sehingga Lempeng Indo-Australia menunjam ke
bawah lempeng Eurasia dan menimbulkan gempa bumi, jalur gunungapi, dan
sesar atau patahan. Penunjaman (subduction) Lempeng Indo-Australia yang
bergerak relatif ke utara dengan Lempeng Eurasia yang bergerak ke selatan
rangkaian gunungapi aktif sepanjang Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Bali dan Nusa
Tenggara sejajar dengan jalur penunjaman kedua lempeng sehingga akan
menghasilkan keadaan geologi yang kompleks.
Pulau Sumatra merupakan bagian dari kepulauan Indonesia yang memiliki
kondisi geologis yang cukup rumit. Pulau ini membujur dari barat laut ke arah
tenggara dan terletak pada zona subduksi antara dua lempeng besar di dunia, yaitu
lempeng Indo-Australia di selatan dan lempeng Eurasia di sebelah utara. Subduksi
dari kedua lempeng besar ini menyebabkan pulau Sumatra menjadi salah satu
tempat di dunia yang memiliki aktivitas seismik paling aktif. Akibatnya, hal ini
menjadikan pulau Sumatra dianggap sebagai salah satu tempat yang paling ideal
untuk mempelajari dinamika subduksi menggunakan teknik pencitraan seismik
Pulau Sumatera terletak di barat daya dari Sundaland dan merupakan jalur
tektonik antar lempeng, dimana peristiwa tektonik lempeng telah terjadi sejak
Mesozoi dan benua sehingga terbentuk variasi jenis batuan (Hamilton,1979).
Zona subduksi Sumatra merupakan bentuk pertemuan lempeng secara
konvergen, yaitu lempeng Indo-Australia yang menujam ke bawah lempeng
Eurasia dengan kecepatan relatif sekitar 7 cm per tahun (Wilson, dkk., 1998).
Zona subduksi ini memiliki pola penujaman oblique dengan sudut penujaman
yang landai di sepanjang pantai barat Sumatra dan memanjang membentang
sampai ke selat Sunda dan berlanjut hingga selatan pulau Jawa. Gerakan subduksi
ini mempengaruhi aktivitas tektonik yang terjadi di Sumatra dan beberapa pulau-
pulau kecil di sekitarnya.

ix
Mata kuliah Kuliah Lapangan I (PTG346) adalah mata kuliah wajib untuk
mahasiswa program sarjana strata satu (S1) di Program Studi Teknik Geologi,
Jurusan Teknik Kebumian, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jambi.
Mata kuliah ini bersifat teori dan kegiatan lapangan. Manajemen kredit semester
untuk teori 1 sks yang bersifat pembekalan materi mengenai geologi regional
(fisiografi, tektonik, stratigrafi, struktur geologi), konsep orientasi medan atau
lapangan geologi, serta pemahaman kesehatan dan keselamatan selama kegiatan
kuliah lapangan. Untuk mendukung teori, maka lebih lanjut mata kuliah ini fokus
pada kegiatan lapangan dengan kredit 2 sks, dengan tujuan untuk mengenal
orientasi medan atau lapangan geologi, pengukuran profil penampang stratigrafi
terukur, pengukuran struktur geologi, pembuatan peta geologi, peta geomorfologi,
dan laporan lapangan. Kuliah Lapangan I (KL I) Geologi tahun ajaran 2020/2021
pada semester genap (semester 4) dilaksanakan di Kecamatan Muara Siau,
Kecamatan Renah pembarap dan Bangko Barat, Kabupaten Merangin, Provinsi
Jambi pada tanggal 28 Mei – 04 Juni 2021.
Kuliah lapangan 1 merupakan mata kuliah wajib yang dilakukan oleh
mahasiswa geologi. Yang mana Kuliah Lapangan 1 ini merupakan Pemetaan
Dasar Geologi Dan Geologi Struktur di daerah Desa Bedeng Rejo, Air Batu dan
Muara Siau. Secara Stratigrafi daerah penelitian ini masuk kedalam formasi
Permian Mengkarang (Pm), Jura Asai (Ja) dan Trjgdt (batuan intrusi), Tman
(andesit-basaltik), Kasai (QTk) dan Qhv (batuan vulkanik). Dari keenam Formasi
ini memiliki karakteristik geologi yang berbeda terutama dari sisi litologi dan
umur batuannya. Formasi Permian Mengkarang memiliki litologi disusun oleh
batupasir, batulempung, konglomerat, serpih, tuf, batulanau dengan sisipan
batubara dan batugamping. Formasi Jura Asai (Ja) memiliki litologi Slate, Filit,
Sekis dan Serpih dan umur nya yaitu Jura. Formasi Trjgdt Batuan ini disusun oleh
granodiorit, granit, dan adamelit yang mengintrusi lava andesit-basal yang
diinterpretasi sebagai bagian dari produk Formasi Palepat. Formasi Ptab disusun
oleh batuan andesit-basalt. Formasi Kasai (Qtk) disusun oleh tuf, batuapung
sisipan batupasir tufan, batulempung tufan setempat konglomeratan, dan kayu
terkersikkan (silicified wood/charcoal). Dan Formasi Qhv disusun oleh batuan
vulkanik dari kompleks Masurai muda.

x
I.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana kondisi geologi pada daerah penelitian ?
2. Bagaimana Satuan Batuan Formasi di daerah Penelitian?
3. Bagaimana penyebaran litologi di daerah penelitian?
I.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1 Maksud
1. Melakukan observasi lapangan dengan mengumpulkan data geologi di
lapangan yang meliputi kondisi geologi, geomorfologi, persebaran
litologi, kondisi statigrafi dan sejarah geologi.
2. Melaksanakan tugas mata kuliah pemetaan geologi semester 4 baik
secara analisis, deskripsi, dan pengukuran terhadap data geologi
lapangan.
1.3.2 Tujuan
1. Mengaplikasikan metode penelitian geologi melalui orientasi medan
lapangan geologi, pembuatan profil pengukuran stratigrafi terukur,
dan pengukuran struktur geologi.
2. Memahami perbedaan batuan pada singkapan di lapangan melalui
orientasi medan.
3. Memahami cara melakukan pengukuran penampang stratigrafi terukur
dan penarikan lintasan.
4. Mengetahui cara pengukuran struktur geologi dan analisis struktur di
lapangan.
5. Menyusun urutan sejarah geologi wilayah pemetaan, dengan
pembuatan kolom stratigrafi kemudian mengintegrasinya terhadap
tatanan tektonik dalam perspektif geologi [Link] KL I
2020/2021 TGL UNJA 3
6. Menilai serta menggali potensi sumber daya geologi dan potensi
bencana geologi.
1.4 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup batas penelitian yaitu secara lokasi, materi, dan analisis. Secara
administratif kegiatan KL I meliputi beberapa wilayah kecamatan di Kabupaten

xi
Merangin, Provinsi Jambi, yang berada di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Renah
Pembarap, Bangko Barat dan Muara Siau. Materi penelitian terdiri dari kondisi
geologi daerah penelitian, meliputi geomorfologi, struktur geologi, dan stratigrafi.
Batasan ruang lingkup penelitian ini adalah melakukan penelitian geologi di
lokasi penelitian yang berada di Desa Bedeng Rejo, Air Batu dan Muara Siau.
1.5 Lokasi dan Kesampaian Daerah
Kabupaten Merangin merupakan salah satu kabupaten yang ada di provinsi
jambi. Wilayah Kabupaten Merangin berada di bagian barat secara geografis
terletak antara 101,32,11 – 102, 50, 00 bujur timur dan 1, 28, 23 – 1, 52, 00 bujur
selatan. Dengan batas kabupaten yaitu :
1. Sebelah utara : Kabupaten Sarolangun
2. Sebelah barat : Kabupaten Kerinci
3. Sebelah utara : Kabupaten Bungo dan Kabupaten Tebo
4. Sebelah Selatan : Kabupaten Rejang Lebong (Provinsi Bengkulu).
Untuk Sampai ke daerah penelitian memerlukan waktu ± 6 jam perjalanan
menggunakan kendaraan roda roda 4 dari kota jambi hingga Desa Bedeng Rejo,
dan desa Airbatu.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui kondisi geologi
Penelitian Terdahulu di daerah penelitian dan secara khusus adalah untuk
menberikan manfaat bagi :
1. Akademisis, yaitu berupa informasi mengenai geologi daerah penelitian
yang daat digunakan kemudian hari untuk lapangan gelogi bagi mahasiswa
dan data penelitian primer.
2. Instansi, yaitu berupa informasi keadaan geologi daerah penelitian.
3. Masyarakat, yaitu untuk memberikan informasi mengenai daerah
penelitian dan pengaruh dalam kehidupan masyarakat agar mereka dapar
menjaga aset geologi daerah tersebut.

xii
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Fisiografi
Pulau sumatera yang secara fisiografi berarah baratlaut merupakan
perpanjangan ke selatan dari Lempeng Benua Eurasia, tepatnya berada pada batas
barat dari Sundaland. Posisi Pulau Sumatera bersebelahan dengan batas antara
Lempeng Samudra India-Australia dan Sundaland. Subduksi kedua lempeng
ditandai oleh sistem pegunungan Sunda (Sunda Arc System) yang aktif dan
memanjang dari Burma di utara hingga ke selatan, dimana lempeng Australia
mengalami tabrakan (collision) dengan bagian timur Indonesia
Berdasarkan klasifikasi Van Bemmelen (1949), fisiografi Pulau sumatera
dibagi menjadi 6 zona, diantaranya merupakan zona Bukit Tiga Puluh, Zona
Paparan Sunda, Zona Perbukitan Barisan, Zona Sesar Sumatera, Zona Dataran
Rendah dan Berbukit dan Zona Busur Luar.
Zona Bukit Tiga Puluh merupakan suatu zona yang terisolasi dengan bentuk
morfologi yang telah mengalami rendahan kearah timur, morfologi berbentuk
kubah ataupun tinggian dari bagian sesar turun atau disebut dengan Horst dengan
panjang zona 90 km dengan lebar 40 km dengan puncak tertinggi mencapai 722 m
di Cengembung.
Zona Bukit Barisan merupakan suatu zona perbukitan yang memanjang
dengan arah orientasi Tenggara – Barat Laut dengan panjang ± 1.650 km dengan
lebar 100 km. Puncak tinggian dari zona ini adalah puncak Inderapura yang
berada di Gunung Kerinci dengan ketinggian ± 3.800 mdpl. Umumnya zona ini
berasosiasi degan Gunung Api aktif yang berada di jalur Bukit Barisan. Pola ini
diinterpretasikan sebagai zona yang terbentuk akibat geotektonik sistem
pegunungan sunda yang awalnya memiliki arah Tenggara- BaratLaut menjadi
Barat- Timur yang berada di Pulau Jawa.
Zona Sesar Sumatera atau Zona Sesar Semangko adalah Zona yang memiliki
pola memanjang dimana pola zona ini mengikuti Fisiografi dari Bukit Barisan.
Pada zona ini yang dominan adalah patahan geser yang arah gerakannya mendatar
ke kanan, zona ini merupakan Geoantiklin yang memanjang dengan bentuk
depresi. Zona Sesar Semangko ini memanjang dimulai dari Semangko (Sumatera

13
Selatan- Lampung) hingga ke bagian Barat Laut di Kotaradja Aceh yang
merupakan suatu lembah dan batas akhir dari zona ini (Van Bemmelen.1949).
Zona Dataran Rendah dan Bergelombang dicirikan oleh morfologi perbukitan
homoklin dengan elevasi 500 - 200 meter diatas permukaan laut dan tersebar luas
di pantai timur pulau Sumatera. Fisiografi daerah penelitian berupa daratan
lembah dan terdiri dari cekungan sedimen.
Zona Kepulauan Busur Luar, merupakan kepulauan yang terangkat akibat
adanya interaksi lempeng India- Australia dan lempeng Eurasia. Memanjang
mulai dari Pulau Nias, Simelue, Pagai, Mentawai danTanibar.
Zona Paparan Sunda, merupakan lempeng mikro dan bagian dari lempeng
Eurasia. Zona ini mencakup Laut Cina Selatan, Laut Andaman, Semenanjung
Malaysia, Kalimantan, Sumatera, Jawa dan Sulawesi.
Menurut pembagian zona fisiografi Van Bemmelen (1949), daerah penelitian
termasuk di Zona Dataran Rendah dan Perbukitan Bergelombang. Berbatasan
dengan Zona Pegunungan Barisan di barat daya, di timurlaut berbatasan dengan
Zona Pegunungan Tiga puluh.
2.2 Tektonik Dan Struktur Geologi
Sumatera terletak di baratdaya dari Kontinen Sundaland dan merupakan jalur
konvergensi antara Lempeng Hindia-Australia yang menyusup di sebelah barat
Lempeng Eurasia (Hamilton, 1979 Curray, 1971 dalam Kusnama, 1993).
Sundaland terdiri dari kumpulan blok kontinental heterogen yang berasal dari
India-Australia pecahan Gondwana, yang terdiri dari blok Sibumasu dan blok
Indocina-East Malaya Timur dengan terrane busur pulau.

Gambar 1. Distribusi Blok-blok Benua (Metcalfe, 2011)

14
Konvergensi lempeng menghasilkan subduksi sepanjang Palung Sunda dan
pergerakan lateral menganan dari Sistem Sesar Sumatera (Fitch, 1973 dalam
Kusnama, 1993) menyebabkan terjadinya busur magma yang luas di Pegunungan
Bukit Barisan. yang membujur sepanjang pulau dan merentas busur magma
barisan. Sehubung dengan busur magma tersebut, dari barat ke timur, Sumatera
dapat dibagi menjadi empat mandala geologi, yaitu Zona Akrasi, Zona Busur
Depan, Zona Busur Magmatik dan Zona Busur Belakang. Dalam hal ini daerah
penelitian terletak di zona busur Magmatik. Geologi lembar ini meliputi batuan
alas Pratersier, sejumlah pluton Neogen dan urutan lapisan batuan gunungapi dan
sedimen Tersier dan Kuarter yang menutupinya (Kusnama, 1993).

Gambar 2. Struktur Sumatera dan Pergerakan Lempeng Tektonik (Barber, 2005)


2.3 Stratigrafi Regional
Stratigrafi membahas tentang aturan, hubungan, dan pembentukan batuan di
alam dalam ruang dan waktu. Aturan tatanama stratigrafi diatur dalam Sandi
Stratigrafi. Sandi Stratigrafi adalah aturan penamaan satuan-satuan stratigrafi,

15
baik resmi maupun tidak resmi, sehingga terdapat keseragaman dalam tatanama
satuan-satuan stratigrafi. Sandi Stratigrafi Indonesia mengakui adanya satuan
litostratigrafi, satuan litodemik, satuan stratigrafi gunungapi, satuan biostratigrafi,
satuan sikuenstratigrafi, satuan kronostratigrafi dan satuan geokronologi. Sandi ini
dapat digunakan untuk semua macam batuan yang kedudukannya dapat
dijelaskan dalam ruang dan waktu (IAGI, 1996).
Formasi Permian Mengkarang (Pm)
Formasi ini diyakini sebagai batuan alas dari Cekungan Bangko dengan
komponen stratigrafi disusun oleh batupasir, batulempung, konglomerat, serpih,
tuf, batulanau dengan sisipan batubara dan batugamping. Di Sungai Muara Karing
disusun oleh komponen batuan metapelite dengan kandungan fosil pakis, fosil
pandan. Batuan ini tersesarkan oleh sesar mendatar dengan relatif bergerak turun
dan sesar turun yang membentuk jenjang atau tangga pada sungai mengarah ke
Sungai Batang Merangin di bagian timur Muara Karing, van Waveren (2019) dan
Utama dkk. (2018). Singkapan Formasi Mengkarang di Sungai Mengkarang Desa
Bedeng Rejo, memperlihatkan susunan stratigrafi batupasir, batulempung,
konglomerat yang diterobos oleh Granit Tantan dan secara tidak selaras ditutupi
oleh tuf dari Formasi Kasai. Pada batulempung di Sungai Mengkarang terdapat
kandungan fosil Araucarioxylon, Calamites, Gigantopteris, Pecopteris, dan
Fusulina dalam laporan Suwarna dkk. (1992). Berdasarkan susunan stratigrafinya,
formasi ini diendapkan pada fasies fluviatil dari fasies batupasir dan konglomerat,
fasies lakustrin dari fasies batulempung, serpih, dan batubara, kemudian
batugamping diinterpretasikan terbentuk pada fasies pro delta. Keberadaan fosil
ini merupakan asal mula dari Terrane Sumatra Barat dengan iklim hangat,
sehingga sangat memungkinkan flora dan fauna hidup. Berdasarkan analisis
stratigrfi dari formasi ini, diyakini berumur Permian.
Formasi Tantan (Trjgdt)
Formasi batuan intrusi ini tersingkap di Jeram Ladeh Desa Air Batu,
Kecamatan Renah Pembarap. Batuan ini disusun oleh granodiorit, granit, dan
adamelit yang mengintrusi lava andesit-basal yang diinterpretasi sebagai bagian
dari produk Formasi Palepat. Tubuh intrusi ini membentuk Menara yang
diakibatkan oleh pengkekaran yang juga dikontrol oleh keberadaan Sesar Jeram

16
Ladeh yang merupakan pergerakan sesar naik. Batuan ini mengintrusi
batulempung dari Formasi Mengkarang, sehingga secara setempat ditemukan
hornfels. Batuan ini memiliki tubuh intrusi batholit yang mengintrusi batuan alas
dari Cekungan Bangko dan diinterpretasi sebagai sumber sedimentasi dari batuan
sedimen penyusun stratigrafi cekungan sedimen Tersier ini. Berdasarkan
keterdapatannya yang mengintrusi Formasi Mengkarang, sehingga dapat
disimpulkan formasi ini berumur Trias-Jura Tengah.
Formasi Asai (Ja)
Formasi Asai terdiri atas perselingan antara batusabak, filit, batulempung,
batulanau dan tuf, terdapat juga banyak urat kuarsa dengan tebal 80 cm, yang
diendapkan di lingkungan flysch lautan, yang kemudian diterobos dan
termalihkan oleh Granodiorit Nagan. Formasi Asai ini juga mengalami pemalihan
kadar rendah, berupa penghabluran ulang mineral lempung yang berjajar di dalam
belahan-belahannya sehingga menghasilkan sekis dan sedimen-meta filitan, dan
berdasarkan bukti fosil yang ditemukan Fontaine & Beauvais (1984) disimpulkan
berumur Jura Tengah.
Formasi Ptab
Intrusi Andesit-Basal menerobos batuan Formasi mengkarang yang terdapat
di Batang Tabir dan Air Maliki, Kecamatan Tabir Ulu. Intrusi ini menerobos
kompleks batuan setelah terjadinya obduksi dari Busur Woyla terhadap Daratan
Sunda pada Kapur Awal-Kapur Tengah. Intrusi ini memiliki kesamaan umur
dengan Intrusi Diabas.
Formasi QTv
Batuan gunung api rio-andesit diyakini sebagai produk dari Gunung Api
Masurai Tua yang mengalami erupsi Plio-Plistosen, sehingga membentuk kaldera
yang dikenal sebagai Kaldera Masurai Tua (Utama dkk., 2021). Produk
vulkanik/gunung api ini juga disusun oleh lava andesit, ignimbrit dengan
komposisi batuapung dan tuf, breksi vulkanik. Produk vulkanik ini sebagai hasil
dari subduksi tepian barat Daratan Sunda oleh Lempeng Hindia.
Formasi QTk
Formasi ini disusun oleh produk vulkanik Plio-Plistosen meliputi tuf,
batuapung sisipan batupasir tufan, batulempung tufan setempat konglomeratan,

17
dan kayu terkersikkan (silicified wood/charcoal). Produk vulkanik ini menutupi
secara tidakselaras sedimen Tersier di Cekungan Bangko, tertuama pada zona
lipatan sinklin atau lembah antiklin, dan pada aliran sungai yang tersesarkan,
seperti di Sungai Telukwang, Biukutanjang, Kecamatan Renah Pembarap.
Formasi Qhv
Kompleks Masurai Muda ini disusun oleh tiga kerucut vulkanik, meliputi
Gunung Masurai, Gunung Hulunilo, dan Gunung Sumbing dengan orientasi pusat
erupsi searah dengan Sesar Dikit di bagian barat kompleks vulkanik ini.
Kompleks vulkanik ini merupakan gunung api Tipe B, dalam artian sejarah
erupsinya tercatat sebelum tahun 1.600 Masehi. Gunung Masurai memiliki pusat
erupsi yang lebih luas dibandingkan yang lainnya dengan diameter erupsi 7-10
km, sehingga dikategorikan sebagai kaldera yang di dalamnya mempunyai dua
kawah erupsi.
2.4 Struktur Geologi
Tumbukan antar lempeng Benua Asia dan lempeng Samudera Hindia telah
menyebabkan penujaman yang secara berkala dilepaskan melalui sesar mendatar
dan terpusat di sepanjang sesar Sumatera (Hamilton, 1979). Sejarah struktur
Lembar Sungaipenuh dan Ketaun dikuasai oleh peristiwa tektonika Jura sampai
Resen. Struktur utama dalam batuan di Lembar ini ialah sesar.
Jalur Sesar Bukit Barisan meliputi tiga bagian yang berarah baratlaut-
tenggara: Sesar-sesar Seblat, Dikit, dan Siulak, (Tjia, 1977 dalam Kusnama,
1993). Sesar Seblat tersusun oleh enam buah sesar sejajar yang terletak di hulu
Sungai Seblat. Sesar Dikit terdiri dari dua sesar yang hampir sejajar yang
membentang dari Gunung Pandan di sepanjang Sungai Langkup sampai Gunung
Kunyit. Umur kedua sesar tersebut diduga Plio-Plistosen, tetapi keduanya masih
aktif, bukti-bukti neotektonika di Sungai Nyabu dan Sungai Langkup
memastikan adanya gerakan menganan di daerah ini.
Sesar Siulak meliputi dua pasang sesar sejajar yang membatasi dataran Danau
Kerinci. Bukti adanya gerakan mendatar menganan diperlihatkan oleh
perpindahan batas di dalam Formasi Pengasih yang berumur Plio-Plistosen. Tiga
buah sesar yang berarah baratlaut-tenggara ditafsirkan sebagai bagian dari Sistem

18
Sesar Sumatera berumur Kenozoikum yang ada diseluruh Pegunungan Barisan di
Sumatera bagian barat (Kusnama, 1993).
Jalur Sesar Bukit Barisan Timur terdapat dibagian timurlaut Lembar dan
terdiri dari tujuh buah sesar kecil yang berarah baratlaut-tenggara, dengan jejak-
jejak sesar yang melengkung lemah. Sesar-sesar tersebut terutama terbentuk di
dalam Formasi Asai dan dipotong oleh Granodiorit Nagan. Umur pensesaran
tersebut diperkirakan pasca-Eosen dan mungkin Plio-Plistosen. Namun ada
penjelasan lain bahwa sesar tersebut merupakan struktur yang jauh lebih tua, yang
aktif kembali selama Plio-Plistosen sebagai akibat gerakan menganan Sistem
Sesar Sumatera. Sesar sungkup setempat disepanjang timur Formasi Peneta juga
diperkirakan sebagai sesar Tersier yang berarah baratlaut-tenggara yang lebih
awal (cf. Holder, 1990 dalam Kusnama, 1993).
Jalur Sesar Bukit Barisan Barat terletak sejajar dengan jalur Bukit Barisan
utama dan memperlihatkan sejarah yang sama, yaitu pensesaran menganan yang
berumur Plio-Plistosen. Secara regional struktur geologi pada daerah penelitian
menunjukkan beberapa struktur yaitu sesar-sesar kecil yang berarah baratlaut-
tenggara dengan jejak-jejak yang melengkung lemah dan sesar yang relatif
berarah barat-timur. Sesar-sesar ini terbentuk di dalam Formasi Asai dan dipotong
oleh Granodiorit Nagan. Umur pensesaran tersebut Plio-Plistosen sebagai akibat
gerakan menganan Sistem Sesar Sumatera.
Struktur yang hadir berupa sesar, perlipatan, kelurusan, perdaunan, dan kekar,
yang secara regional berarah barat laut – tenggara dan barat barat laut – timur
tenggara. Jenis sesar berupa sesar mendatar menganan dan sesar naik, yang
menempati batuan sedimen malihan Formasi Mengkarang dan Peneta, serta
terobosan berumur Pratersier. Perlipatan setempat terdeteksi di dalam Formasi
Telukwang dengan arah kemiringan yang rendah. Kelurusan hanya terdeteksi
pada batuan sedimen Formasi Kasai yang berumur Plio-Plistosen. Sementara itu,
perdaunan umumnya dijumpai pada batuan sedimen malih Formasi Mengkarang
dan Peneta, sedangkan kekar terdapat baik pada batuan sedimen malih maupun
terobosan yang semuanya berumur Pratersier.
Perem Awal ditandai oleh pengendapan sedimen klastika dan batugamping
terumbu Formasi Mengkarang dengan sisipan-sisipan batuan klastika gunungapi,

19
kemudian batuan sedimen klastika Formasi Telukwang dan Anggota Batuimpi
Formasi Telukwang. Lingkungan pengendapan satuan-satuan batuan tersebut
berada di tepi benua sampai laut dangkal, bersamaan dengan kegiatan gunung api
andesit – basal Formasi Palepat, yang selain menghasilkan lava juga batuan
klastika gunung api. Kegiatan ini ditafsirkan terjadi di busur kepulauan
bergunungapi dengan rangkaian terumbu, yang erat kaitannya dengan lajur
penunjaman. Berdasarkan analisis kemagnetan purba, Formasi Mengkarang
terendapkan pada posisi 30o LU (Wahyono drr., 1996), dan telah mengalami rotasi
searah jarum jam sejak Perem.
Pada akhir Trias - awal Jura, terjadi penerobosan Granit Tantan terhadap
batuan berumur Perem, yang disertai dengan pencenanggaan pemalihan regional
berderajat rendah. Kegiatan penurunan yang berlangsung dari Jura Tengah
sampai Kapur Awal, pada kala Jura Akhir-awal Kapur ditandai dengan
terendapkannya batuan sedimen klastika halus Formasi Peneta.
Penerobosan oleh Granit Arai, pada Kapur Tengah, terhadap Formasi Peneta,
diikuti oleh pencenanggaan, pengangkatan, dan pemalihan berderajat rendah pada
batuan formasi tersebut. Kegiatan tektonika ini, diikuti oleh penggabungan
(amalgamasi) antara Blok Mengkarang-Palepat dan Blok Peneta dalam bentuk
kontak tektonik/sesar naik, yang diduga berlangsung pada Kapur Akhir.
Tektonika Miosen Tengah – awal Pliosen ditandai oleh pengangkatan Lajur
Barisan. Di kawasan busur-belakang terendapkan batuan sedimen klastika
Formasi Muaraenim dalam kondisi susutlaut, lingkungan peralihan. Pada kegiatan
tektonika selanjutnya, yakni Plio-Plistosen, seluruh daerah terangkat, diikuti oleh
proses pengerosian, dan terbentuknya sesar mendatar menganan berarah barat laut
– tenggara, dan pelipatan. Pada saat kegiatan tektonika ini, pengendapan batuan
sedimen klastika gunung api Formasi Kasai berlangsung.

20
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Tempat Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan kurang lebih 1 bulan, dengan proses persiapan
dan bimbingan pembelanjaran kurang lebih 2 minggu untuk memperoleh data
sekunder dan pembuatan peta. Sebelum melakukan Observasi lapangan terlebih
dahulu dilakukan studi pustaka yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbang
sebelum melakukan observasi lapangan . Selama 6 hari pengambilan data
langsung ke lapangan untuk memperoleh data primer pada lokasi penelitian Desa
Air Batu, Bedeng Rejo Dan Muara Siau, Kecamatan Renah Pembarap, Bangko
Barat Dan Muara Siau, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi.
Tabel 1. Tahapan Penelitian

Tahun 2021
Tahap Penelitian April Mei Juni
4 1 2 3 4 1 2

Survey Lapangan

Diskusi Pra Lapangan

Pengambilan Data Lapangan

Pengolahan dan Analisis


Data

Penyusunan Laporan

21
3.2 Alat dan Bahan Penelitian
Adapun alat dan bahan selama penelitian berlangsung ialah:
Tabel 2. Daftar Alat dan bahan Penelitian
No Alat/bahan Spesifikasi Kegunaan

1 Kompas Brunton • Mengetahui posisi di


lapangan
• Mengukur strike dan dip
2 GPS Garmin Mengetahui letak titik
pengamatan singkapan
3 Palu Geologi Palu batuan beku dan Pengambilan sampel
palu batuan sedimen

4 Peta Topografi Skala 1 : 11500 Pengeplotan posisi daerah


pada peta

5 Alat Tulis dan Clipboard, buku Menulis data dan mencatat data
buku lapangan lapangan, pensil warna
dan busur

6 Kamera Digital Canon Dokumentasi

7 Komparator Beku dan Sedimen Menentukan tekstur batuan

8 Kantong sampel Ukuran 24 x 17 cm Menyimpan sampel

9 Lup Perbesaran 40X Pengamatan mikroskopis


komposisi batuan

10 HCl 0,01 M Mengetahui sifat karbonatan


pada suatu batuan

3.3 Metode Penelitian


3.3.1 Metode Survei Tidak Langsung
Metode ini digunakan pada saat pra–lapangan dengan tujuan untuk
menginterpretasi kondisi daerah penelitian seperti arah kelurusan struktur

22
maupun tingkat elevasi, dengan melakukan pengamatan pada data RBI yang
kemudian diolah sedemikian rupa sehingga diperoleh informasi data awal
untuk perencanaan pekerjaan lapangan.
3.3.2 Metode survei Lapangan
Metode ini adalah pemetaan lapangan secara langsung dengan
melakukan observasi singkapan batuan, pengamatan morfologi, pengukuran
struktur geologi serta pengambilan data–data yang diperlukan untuk
mendukung berhasilnya penelitian.
3.4 Tahapan Penelitian
Adapun tahapan dalam penelitian ini ialah:
3.4.1 Tahap Pendahuluan
Tahap pendahuluan merupakan tahapan awal sebelum melakukan
kegiatan penelitian. Tahap ini meliputi :
1. Studi pustaka
Tahapan dilakukan untuk mendapatkan informasi dan
memperlajari kondisi geologi regional daerah penelitian dengan
mencari buku-buku literatur, jurnal, paper, prosiding dan laporan
akhir kegiatan yang berkaitan erat dengan informasi geologi daerah
penelitian. Tujuan dari kegiantan ini adalah untuk meningkatan
efisiensi dan efektivitas sebelum melakukan pengambilan data
dilapangan dengan membuat rencana lintasan, dan penentuan data
yang akan diambil di lapangan.
3.4.2 Tahap Persiapan
Tahap persiapan dimulai dengan pengamatan Morfologi, Litologi,
Struktur Geologi, dan pola aliran sungai terhadap singkapan dan objek
lainnya yang berkaitan dengan pemetaan. Pengambilan data di lapangan
dilakukan dengan cara orientasi menelusuri jalan raya, jalan setapak dan
sungai. Pada setiap lintasan pengamatan atau pada setiap ditemukannya
singkapan dilakukan pengukuran, pendeskripsian, pengambilan foto, sketsa
singkapan dan kemudian lokasi pengamatan diplotkan ke dalam peta. Data
yang diambil tersebut direkam dalam buku catatan lapangan dengan ringkas,
sistematik, informatif dan selengkap mungkin.

23
- Pengamatan Morfologi
Pengamatan morfologi yaitu mengamati bentuk-bentuk bentang alam,
mengamati proses erosi sungai danpengambilan foto yang diperlukan dalam
analisa morfologi.
- Pengamatan Litologi
Pengamatan litologi yaitu pengamatan singkapan batuan yang kita dapati dan
melakukan diskripsi singkapan baik dari segi warna, tekstur, struktur dan
komposisi mineral dengan menggunakan alat bantu kaca pembesar (loupe)
dan larutan HCl (bila diperlukan) tujuannya untuk menentukan nama batuan
dilapangan. Melakukan pengukuran arah kedudukan batuan, untuk
mengetahui penyebaran dan hubungan dengan batuan lain, dan foto
singkapan.
- Pengamatan Struktur Geologi
Pengambilan data struktur yaitu dengan mengamati ciri-ciri struktur pada
singkapan dan kemudian melakukan pengukuran kedudukan struktur geologi
dengan menggunakan alat bantu kompas geologi, dan selanjutnya
pengambilan foto yang diperlukan dalam analisa struktur geologi.
3.4.4 Tahap Pengolahan dan Analisa Data
Pada tahapan ini dilakukan dengan menganalisa dan menginterpretasikan
data-data yang diperoleh dari lapangan untuk dianalisa dan di interpretasikan
berdasarkan refrensi yang ada. Tahapan ini digunakan untuk mengetahui tatanan
geologi daerah pemetaan yang disajikan dalam bentuk peta. Adapun peta yang
disajikan yaitu peta pengamatan, peta geologi, peta pola aliran dan peta morfologi.
- Analisis bentuk lahan
Menurut Verstappen (1985) terdapat beberapa aspek utama dalam analisis
pemetaan geomorfologi, yaitu:
1. Morfologi
 Morfografi
 Morfometri
2. Morfogenesa
 Morfostruktur
 Morfodinamik

24
- Analisa Litologi
Untuk mengetahui jenis dan nama dilakukan dengan interpretasi
dilapangan serta untuk umur dari batuan perlu dilakukan dengan melihat
studi pustaka regional
- Analisis Stratigrafi
Penentuan stratigrafi dibagi menjadi 2, yaitu:
- Sebaran batuan
Dapat ditentukan dengan manganalisis data nama-nama batuan di
lapangan secara megaskopis dengan memperhatikan lokasi pengamatan
singkapan dan kedudukan batuan.
- Umur dan Hubungan antar batuan
Data umur batuan dan hubungan antar batuan diperoleh dari studi pustaka
regional yang ada
- Analisa Struktur
Analisa ini yakni dilakukan untuk mengetahui arah umum dari kekar dan
mengetahui jenis struktur berdasarkan data berupa ciri-ciri struktur dan
kedudukan struktur. Seperti analisis data kekar dan data sesar - Analisis
data kekar. Data kekar didapat dari pengukuran pasangan kekar di lapangan,
yang kemudian dianalisis dengan menggunakan diagram kipas dan
stereonet. - Analisis data sesar. Data sesar didapat dari pengukuran data
kekar di lapangan, kemudian dianalisis menggunakan stereonet atau
dianalisis langsung di lapangan dengan mengamati arah bidang sesar yang
terjadi.
- Pengukuran Profil
Profil didapat dengan melakukan pengukuran di lapangan, yang akan
diolah menjadi Kolom Stratigrafi dengan menggunakan CorelDRAW.
3.4.5 Tahap Penyusunan Laporan
Tahap ini adalah tahap akhir dari penelitian, yang merupakan kegiatan
menuangkan hasil dari penelitian yang dilakukan ke dalam sebuah tulisan
ilmiah dimana pembahasannya meliputi, pendahuluan, geomorfologi,
stratigrafi, struktur geologi, lingkungan pengendapan, lampiran data

25
petrografi, peta lintasan, peta geomorfologi, peta pola pengaliran dan peta
geologi. Analisa data yang dilakukan adalah :
 Melakukan analisis struktur geologi yang didapat dari lapangan berupa
data arah jurus dan kemiringan perlapisan batuan dan struktur kekar
batuan untuk mengetahui arah umum dari kekar dan mengetahui jenis
struktur.
 Melakukan analisis stratigrafi dengan menggunakan prinsip-prinsip
stratigrafi untuk mengetahui umur dan mengelompokkan satuan batuan
serta kesebandingan dengan formasi yang ada pada literatur, yang mana
akan diperoleh hubungan kontak antar satuan batuan sehingga dapat
diketahui nama formasi batuan dengan cara kesebandingan terhadap hasil
penelitian peneliti terdahulu.
Hasil dari penelitian adalah :
 Peta lintasan diperoleh dari data-data pengamatan singkapan batuan yang
ada di lapangan yang kemudian disajikan dalam bentuk peta. Data-data
yang terdapat dalam peta lintasan ini adalah data litologi setiap lokasi
pengamatan, data struktur geologi, dan data aspek geologi lainnya.
 Peta geomorfologi daerah penelitian diperoleh dari data – data
pengamatan geomorfologi di lapangan dan kemudian dilakukan penentuan
satuan bentuk lahan berdasarkan referensi Verstappen (1985) yang di
modifikasi. Data yang terdapat pada peta ini berupa aspek-aspek
geomorfologi seperti morfografi, morfometri yang terdiri dari relief,
elevasi, kemiringan, pola pengaliran dan bentuk lembah, morfogenesa
terdiri dari morfostruktur aktif dan morfostruktur pasif dan
morfokonservasi.
 Peta geologi daerah telitian merupakan peta yang menyajikan informasi
geologi pada daerah penelitian. Informasi geologi tersebut berupa satuan
batuan, stratigrafi dan struktur. Data- data tersebut diperoleh dari survei
deskriptif yang dilakukan di lapangan.
 Peta pola pengaliran daerah penelitian. Pada peta pola pengaliran dapat di
dapatkan informasi mengenai beda ketinggian, morfologi daerah,
resistensi batuan dan struktur geologi di daerah penelitian.

26
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gomorfologi
4.1.1 Pola Pengaliran
Morfologi di daerah penelitian sudah banyak dipengaruhi oleh aktivitas
tektonik sehingga membentuk struktur geologi serta telah mengalami pelapukan
dan erosi. Berdasarkan analisis peta topografi dan pengamatan didaerah
penelitian, sungai memiliki bentuk dan arah aliran sungai yang tersusun atas
litologi batuan dari resistensi kuat sampai lemah menunjukkan daerah yang
dikontrol oleh struktur dan juga erosi. Pola pengaliran adalah kumpulan dari suatu
jaringan pengaliran di suatu daerah yang dipengaruhi atau tidak dipengaruhi oleh
curah hujan, alur pengaliran tetap mengalir.
a) Bedeng Rejo
Berdasarkan klasifikasi Howard (1976), sungai di daerah Bedeng Rejo
memiliki jenis pola pengaliran yaitu Rectangular seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar 3. Pola Aliran Daerah Bedeng Rejo


Pola Aliran Rectangular. Daerah Bedeng Rejo secara umum tersusun atas
litologi sedimen dan batuan beku dengan resistensi batuan sedang hingga kuat
yang mengakibatkan pola pengaliran dapat berkembang dengan acak dengan
aktifnya struktur. Menurut Howard (1967) pola pengaliran ini dibentuk oleh
percabangan sungai-sungai yang membentuk sudut siku-siku, lebih banyak
dikontrol oleh faktor kekar dan sesar. Hal tersebut ditemukan dilapangan dan
dimana daerah penelitian memiliki lembah berbentuk “V” yang berarti sungai

27
mengalir pada stadia muda, dimana sungai mengalir diatas batuan dasar dengan
resistensi kuat-sedang dan faktor pengontrolnya berupa struktur dan erosi
sehingga menyebabkan aliran sungai mengalir mengikuti arah lereng.

b) Muara Siau
Berdasarkan klasifikasi Howard (1976), sungai di daerah Muara Siau
memiliki jenis pola pengaliran yaitu Paralel.

Gambar 4. Pola Aliran Daerah Muara Siau


Pola Aliran Paralel. Daerah Muara Siau secara umum tersusun atas litologi
endapan piroklastik, metasedimen dan batuan beku dengan resistensi batuan
sedang-kuat yang mengakibatkan pola pengaliran dapat berkembang dengan acak
dengan aktifnya struktur. Menurut Howard (1967) pola pengaliran ini dibentuk
oleh terbentuk dari aliran cabang-cabang sungai yang sejajar atau paralel pada
bentang alam yang memanjang. Dan mencerminkan kelerengan yang cukup besar
dan hampir seragam. Paralel merupakan pola aliran sungai yang terdapat pada
suatu daerah yang luas dan sangat miring. Akibat kemiringan ini, gradien sungai
menjadi besar sehingga dapat mengalirkan air ke tempat terendah dengan arah
yang hampir lurus. Di daerah penelitian memiliki lembah berbentuk “V” yang
berarti sungai mengalir pada stadia muda, dimana sungai mengalir diatas batuan
dasar dengan resistensi sedang- kuat dan faktor pengontrolnya berupa struktur dan
erosi sehingga menyebabkan aliran sungai mengalir mengikuti arah lereng.

28
c) Air Batu
Berdasarkan klasifikasi Howard (1976), sungai di daerah Air Batu memiliki
jenis pola pengaliran yaitu Rectangular yang dapat dilihat pada (Gambar 5).

Gambar 5. Pola Aliran Daerah Air Batu


Pola Aliran Rectangular. Daerah Air Batu secara umum tersusun atas
litologi metasedimen dan batuan beku dengan resistensi batuan kuat yang
mengakibatkan pola pengaliran dapat berkembang dengan acak dengan aktifnya
struktur. Menurut Howard (1967) pola pengaliran ini dibentuk oleh percabangan
sungai-sungai yang membentuk sudut siku-siku, lebih banyak dikontrol oleh
faktor kekar dan sesar. Hal tersebut ditemukan dilapangan dan dimana daerah
penelitian memiliki lembah berbentuk “V” yang berarti sungai mengalir pada
stadia muda, dimana sungai mengalir diatas batuan dasar dengan resistensi kuat-
sedang dan faktor pengontrolnya berupa struktur dan erosi sehingga menyebabkan
aliran sungai mengalir mengikuti arah lereng.
4.1.2 Geomorfologi
Morfologi. Pada daerah penelitian telah mengalami banyak sekali proses
geomorfologi baik secara endogen maupun eksogen. Proses tersebut
mengakibatkan banyak sekali perubahan bentuk morfologi. Secara endogen yaitu
proses tektonik yang ditandai dengan lereng terjal akibat pengaruh struktur gologi.
Sedangkan secara eksogen berupa proses sedimentasi dan erosi.

29
a) Bedeng Rejo
Geomorfologi daerah Bedeng Rejo digolongkan kedalam dua satuan
geomorfologi yaitu satuan geomorfologi struktural dan fluvial. Dari satuan
gomorfologi tersebut dibagilah menjadi 3 bentukan lahan, yaitu perbukitan
struktural, lembah struktural dan tubuh sungai.

Gambar 6. Geomorfologi daerah Bedeng Rejo, Modifikasi klasifikasi


Verstappen (1983)
Satuan Geomorfologi Bentuk Asal Struktural
Satuan geomorfologi bentuk asal struktural pada daerah Bedeng Rejo terbagi
menjadi 2 bentukan lahan yaitu berupa Perbukitan Struktural (S1) dan Lembah
Struktural (S2).

S1

Gambar 7. Bentang Lahan Perbukitan Stuktural


Bentuk Lahan Perbukitan Struktural (S1). Bentuk lahan perbukitan
struktural adalah bentuk lahan yang memiliki kenampakan lereng yang curam

30
dengan beda tinggi yang cukup besar. Bentuk lahan ini memiliki batuan dengan
dengan resistensi yang sedang hingga kuat. Bentuk lahan perbukitan struktural
secara morfologi membentuk punggungan yang membentuk pola kelurusan. Pola
aliran yang berkembang adalah rectangular yang dipengaruhi oleh sifat fisik
batuan dan sedikit struktur geologi. Bentuk lembah V dan kerapatan kontur rapat
dengan elevasi 150-175 mdpl. Bentuk lahan ini dipengaruhi oleh proses tektonik
dan metamorfisme serta erosi dan pelapukan yang sampai saat ini aktif sehingga
mempengaruhi morfologi darah penelitian.

S2

Gambar 8. Bentang Lahan Lembah Stuktural


Bentuk Lahan Lembah Struktural (S2). Bentuk lahan lembah struktural
adalah bentuk lahan yang memiliki kenampakan lereng yang agak curam. Bentuk
lahan ini memiliki batuan dengan dengan resistensi yang lemah hingga sedang.
Bentuk lahan lembah struktural secara morfologi membentuk punggungan landai.
Pola aliran yang berkembang adalah rectangular yang dipengaruhi oleh sifat fisik
batuan dan sedikit struktur geologi. Bentuk lembah V dan kerapatan kontur rapat
-renggang dengan elevasi 100-125 mdpl. Bentuk lahan ini dipengaruhi oleh proses
tektonik dan metamorfisme serta erosi dan pelapukan yang sampai saat ini aktif
sehingga mempengaruhi morfologi darah penelitian.

31
F1

Gambar 9. Bentang Lahan Tubuh Sungai


Satuan Geomorfologi Bentuk Asal Fluvial
Satuan geomorfologi bentuk asal fluvial pada daerah Bedeng Rejo terbagi
menjadi bentukan lahan berupa tubuh sungai (F1).
Bentuk Lahan Tubuh Sungai (F1). Tubuh sungai berada pada dataran
sedang berhubungan dengan erosi dengan relief yang landai yaitu 100 mdpl. Pola
pengaliran rectangular dengan bentuk lembah V-U dan dipengaruhi oleh erosi
kemudian tersedimentasi.

Tabel 3. Kenampakan geomorfologi Satuan Batuan Bentukan Lahan


Lembah Struktural (S2) Dilapangan Bedeng Rejo
b) Muara Siau
Geomorfologi daerah Muara Siau digolongkan kedalam dua satuan
geomorfologi yaitu satuan geomorfologi struktural dan fluvial. Dari satuan

32
gomorfologi tersebut dibagilah menjadi 3 bentukan lahan, yaitu perbukitan
struktural, lembah struktural dan tubuh sungai.

Gambar 10. Geomorfologi daerah Muara Siau, Modifikasi klasifikasi


Verstappen (1983)
Satuan Geomorfologi Bentuk Asal Struktural
Satuan geomorfologi bentuk asal struktural pada daerah Muara Siau terbagi
menjadi 2 bentukan lahan yaitu berupa Perbukitan Struktural (S1) dan Lembah
Struktural (S2).

S1

Gambar 11. Bentang Lahan Perbukitan Stuktural


Bentuk Lahan Perbukitan Struktural (S1). Bentuk lahan perbukitan
struktural adalah bentuk lahan yang memiliki kenampakan lereng yang curam
dengan beda tinggi yang cukup besar. Bentuk lahan ini memiliki batuan dengan
dengan resistensi yang rendah hingga sedang. Bentuk lahan perbukitan struktural

33
secara morfologi membentuk punggungan yang membentuk pola kelurusan. Pola
aliran yang berkembang adalah parallel. Bentuk lembah V dan kerapatan kontur
rapat dengan elevasi 225-375 mdpl. Bentuk lahan ini dipengaruhi oleh proses
tektonik dan metamorfisme serta erosi dan pelapukan yang sampai saat ini aktif
sehingga mempengaruhi morfologi darah penelitian.

S2

Gambar 12. Bentang Lahan Lembah Stuktural


Bentuk Lahan Lembah Struktural (S2). Bentuk lahan lembah struktural
adalah bentuk lahan yang memiliki kenampakan lereng yang agak curam dan
bergelombang. Bentuk lahan ini memiliki batuan dengan dengan resistensi yang
rendah hingga sedang. Bentuk lahan lembah struktural secara morfologi
membentuk punggungan landai dan ditandai adanya sungai. Pola aliran yang
berkembang adalah parallel. Bentuk lembah V dan kerapatan kontur lemah-
sedang dengan elevasi 175-200 mdpl. Bentuk lahan ini dipengaruhi oleh proses
tektonik dan metamorfisme serta erosi dan pelapukan yang sampai saat ini aktif
sehingga mempengaruhi morfologi daerah penelitian.

F1

Gambar 13. Bentang Lahan Tubuh Sungai

34
Satuan Geomorfologi Bentuk Asal Fluvial
Satuan geomorfologi bentuk asal fluvial pada daerah Muara Siau terbagi
menjadi bentukan lahan berupa tubuh sungai (F1).
Bentuk Lahan Tubuh Sungai (F1). Tubuh sungai berada pada dataran
sedang berhubungan dengan erosi dengan relief yang landai yaitu 100 mdpl. Pola
pengaliran parallel dengan bentuk lembah V-U dan dipengaruhi oleh erosi
kemudian tersedimentasi.

Tabel 4. Tabel Geomorologi muara siau


c) Air Batu
Geomorfologi daerah Air Batu digolongkan kedalam dua satuan
geomorfologi yaitu satuan geomorfologi struktural dan fluvial. Dari satuan
gomorfologi tersebut dibagilah menjadi 3 bentukan lahan, yaitu perbukitan
struktural, lembah struktural dan tubuh sungai.

Gambar 14. Geomorfologi daerah Air Batu, Modifikasi klasifikasi


Verstappen (1983)

35
Satuan Geomorfologi Bentuk Asal Struktural
Satuan geomorfologi bentuk asal struktural pada daerah Air Batu terbagi
menjadi 2 bentukan lahan yaitu berupa Perbukitan Struktural (S1) dan Lembah
Struktural (S2).

S1

Gambar 15. Bentang Lahan Perbukitan Stuktural


Bentuk Lahan Perbukitan Struktural (S1). Bentuk lahan perbukitan
struktural adalah bentuk lahan yang memiliki kenampakan lereng yang curam
dengan beda tinggi yang cukup besar. Bentuk lahan ini memiliki batuan dengan
dengan resistensi yang rendah hingga sedang. Bentuk lahan perbukitan struktural
secara morfologi membentuk punggungan yang membentuk pola kelurusan. Pola
aliran yang berkembang adalah rectangular yang dipengaruhi oleh sifat fisik
batuan dan sedikit struktur geologi. Bentuk lembah V dan kerapatan kontur
sedang-kuat dengan elevasi 125-225 mdpl. Bentuk lahan ini dipengaruhi oleh
proses tektonik dan metamorfisme serta erosi dan pelapukan yang sampai saat ini
aktif sehingga mempengaruhi morfologi darah penelitian.

S2

Gambar 16. Bentang Lahan Lembah Stuktural

36
Bentuk Lahan Lembah Struktural (S2). Bentuk lahan lembah struktural
adalah bentuk lahan yang memiliki kenampakan lereng yang agak curam dan
bergelombang. Bentuk lahan ini memiliki batuan dengan dengan resistensi yang
rendah hingga sedang. Bentuk lahan lembah struktural secara morfologi
membentuk punggungan landai. Pola aliran yang berkembang adalah rectangular
yang dipengaruhi oleh sifat fisik batuan dan sedikit struktur geologi. Bentuk
lembah V dan kerapatan kontur lemah-sedang dengan elevasi 100-125 mdpl.
Bentuk lahan ini dipengaruhi oleh proses tektonik dan metamorfisme serta erosi
dan pelapukan yang sampai saat ini aktif sehingga mempengaruhi morfologi darah
penelitian.

F1

Gambar 17. Bentang Lahan Tubuh Sungai


Satuan Geomorfologi Bentuk Asal Fluvial
Satuan geomorfologi bentuk asal fluvial pada daerah Air Batu terbagi
menjadi bentukan lahan berupa tubuh sungai (F1).
Bentuk Lahan Tubuh Sungai (F1). Tubuh sungai berada pada dataran
sedang berhubungan dengan erosi dengan relief yang landai yaitu 100 mdpl. Pola
pengaliran rectangular dengan bentuk lembah V-U dan dipengaruhi oleh erosi
kemudian tersedimentasi.

37
TABEL GEOMORFOLOGI

Tabel 5. Tabel Geomorfologi Air Batu

38
4.2 Stratigrafi Daerah Penelitian

Gambar 18 . Peta Geologi Daerah Bedeng Rejo


Pada peta geologi daerah air batu terdapat 2 formasi yaitu formasi Permian
mengkarang dan (Pm) dan Granodiorit Tantan (TRJgdt). Pada Singkapan Formasi
Mengkarang di Sungai Mengkarang Desa Bedeng Rejo, memperlihatkan susunan
stratigrafi batupasir, batulempung, konglomerat yang diterobos oleh Granit Tantan
dan secara tidak selaras ditutupi oleh tuf dari Formasi Kasai.

39
Gambar 19. Peta Geologi Daerah Muara Siau
Pada peta geologi daerah desa Muara Siau ada 3 Formasi, yaitu pertama
Jura Asai (Ja), Intrusi Andesit – Basaltik ( pTab) dan Kompleks Masurai Muda
(QHv). Dimana hubungan statigrafi antara Formasi Jura Asai dengan pTab adalah
Intrusi dan hubungan antara Formasi Ja dengan QHv adalah tidak selaras
(Unconformity) disebabkan kekosongan waktu yang cukup panjang /Hiatus.

Gambar 20. Peta Geologi Daerah Air Batu


Pada peta geologi Desa Air Batu, terdiri atas 3 Formasi yaitu formasi
Permian Mengkarang, Formasi Granodiorite Tantan dan Formasi Kasai.
Penentuan batas penyebaran satuan batuan didasarkan pada kontak antara
dua satuan yang berlainan ciri litologinya. Penentuan umur dan lingkungan
pengendapan satuan batuan didasarkan atas kedudukan stratigrafi dan mengacu
kepada hukum superposisi, dimana satuan batuan yang lebih tua terletak dibawah
satuan batuan yang lebih muda, pada keadaan posisi normal atau belum terjadi
pembalikan dan karakteristik litologi (Sandi Stratigrafi Indonesia,1996).
Berdasarkan hal tersebut, satuan batuan yang terdapat pada daerah
penelitian dapat dibedakan menjadi tiga satuan batuan, dimulai dari satuan yang
paling tua hingga satuan paling muda yaitu slet asai, Intrusi Andesit dan satuan
endapan alluvial. Perbedaan skala pada peta geologi regional dan daerah

40
penelitian menghasilkan kondisi geologi daerah penelitian lebih detail .
4.2.1 Stratigrafi Bedeng Rejo

Tabel 5. Kolom Stratigrafi Daerah Bedeng Rejo


Pada lokasi pengamatan daerah Bedeng Rejo terdapat 2 formasi yaitu Trjgdt
dan Pm. Dimana hubungan stratigrafi kedua formasi ini adalah tidak selaras karena
intrusi batuan kristlian terhadap batuan sedimen yang termetakan.
Formasi Tantan (Trjgdt)

Gambar 21. Singkapan Granit azimuth N 165° E diambil oleh Igna


Penyebaran. Satuan batuan yang menyusun pada lokasi pengamatan 1 dan
2 adalah batuan beku. Batuan ini disusun oleh, granit yang mengintrusi Formasi
Permian Mengkarang
Litologi. Batuan yang kami temukan pada lokasi pengamatan 1 dan 2 pada
daerah Bedeng Rejo dimana pada lokasi pengamatan 1 terdapat hasil ubahan dari
granit. Granit tersebut teralterasi yang banyak mengangdung klorit. Ciri
batuanyanya lapuk dan berwarna hijau. Pada lokasi pengamatan kedua dimana
granit di intrusi oleh diorit. Granit yang terbentuk granit yang kaya akan K-

41
feldspar dan granit yang kaya oligoklas. Batuan ini merupakan batuan plutonik
dengan ukuran butir fanerik kasar. Akibat pergerakan struktur terdapat granit yang
teralterasi dengan kandungan mineral ubahan yaitu klorit.

Gambar 22. Singkapan Granit azimuth N 129° E diambil oleh Fazri


Penyebaran : Satuan batuan yang menyusun pada lokasi pengamatan
adalah batuan beku. Batuan ini disusun oleh granit, diorite dan andesite yang
mengintrusi Formasi Permian Mengkarang (Pm).
Litologi. Batuan yang kami temukan pada lokasi pengamatan 2 pada
daerah Bedeng Rejo dimana pada lokasi pengamatan 2 terdapat adalah granit,
diorite dan andesite. Yang dimana stuktur sesar dengan arah barat laut dan barat
daya yang saling berpapasan membuat jalur bukaan sehingga mengalami proses
intrusi. Sehingga batuan yang pertama terbentuk adalah granit yang diikuti oleh
diorite. Singkapan Andesite adalah jalur rekahan stuktur yang dilewati.
Permian Mengkarang (Pm)

Gambar 23. Foto Singkapan formasi Permian Mengkarang Azimuth N 85◦ E


diambil oleh Mabela

42
Penyebaran. Satuan batuan tertua yang mengisi pada daerah penelitian
adalah batuan metasedimen. Satuan ini berumur Permian. Satuan ini terdiri
disusun oleh batupasir, batulempung, konglomerat, serpih, tuf, batulanau dengan
sisipan batubara dan batugamping.
Litologi. Ciri batuan yang terdapat pada lokasi pengamatan pada lokasi
pengamatan 3 dan 4 merupakan batuan sedimen yang termetakan. Dengan warna
abu-abu kehitaman lapuknya kecoklatan. Struktur batuannya nonfoliasi dan
teksturnya kristaloblastik. Pada lokasi pengamatan 4 terdapat fosil pandan, pakis,
amonit dan kerang.

Gambar 24. Foto Singkapan formasi Permian Mengkarang Azimuth N 75◦ E diambil
oleh Mabela

Penyebaran. Satuan batuan tertua yang mengisi pada daerah penelitian adalah
batuan metasedimen. Satuan ini berumur Permian. Satuan ini terdiri disusun oleh
batupasir, batulempung dan metapillit.
Litologi. Ciri batuan yang terdaapat pada lokasi pengamatan pada lokasi
pengamatan 4 tepatnya di sungai mengkarang Merupakan batuan sedimen yang
termetakan. Penyusun satuan batuan metasedimen pada daerah tersebut ialah
metapillit yang tersusun atas fosil amonit atau senit kerang kerangan, fosil pakis
dan pandan. Yang dulunya daerah tersebut bagian dari lingkungan lakustrin.

43
4.2.2. Stratigrafi Muara Siau

Tabel 6. Kolom Stratigrafi Muara Siau

Hubungan stratigrafi pada lokasi pengamatan di daerah Muara Siau antara


Formasi Asai dan pTab ialah penerobosan atau intrusi. Dan dari kedua formasi (Ja
dan QTk) hubungannya dengan Qhv ialah terdapat kekosongan dalam waktu yang
cukup lama (hiatus).

Formasi Qhv (Komplek Masurai muda)

Gambar 25. Foto Singkapan endapan piroklastik Azimuth N 174°E diambil oleh
Yolanda

44
Penyebaran. Pada Lokasi pengamatan Muara Siau stopsite 1 tepatnya berada
pada dinding tebing jalan. Formasi Qhv terdiri dari batuan vulkanik endapan
gunung api Masurai muda.

Litologi. Batuan yang terdapat pada lokasi pengamatan 1 berupa endapan


piroklastik, pada dinding sebelah kiri fragmennya lebih besar di banding sebelah
kiri. Endapan ini disusun oleh tuff kasar. Warna endapan putih kecoklatan dengan
kemas terbuka. Komposisi mineral sialisnya kuarsa dan feromagnesiannya
hornblend dan biotit. Fragmen berwarna putih susu, strukturnya skorea dengan
komposisi mineral sialis kuarsa dan mineral feromagnesiannya hornblend dan
biotit. Fragmennya berupa pumice yang terbentuk akibat lontaran hasil erupsi
gunung Masurai Muda.

Formasi Asai (Ja)

Gambar 26. Foto Singkapan pada dinding tepi jalan Azimuth N 345°E Diambil
oleh Mabela

45
Gambar 27. Foto Singkapan Formasi Ja Azimuth N 260° E di ambil oleh Eka
Penyebaran. Batuan berumur Ja ditemukan pada lokasi pengamatan 2 dan 4.
Formasi ini disusun oleh batuan metamorf seperti slet, filit, sekis, dan beberapa
tempat gneis, kuarsit, dan hornfels. Selain itu, stratigrafi ini juga disusun oleh
batuan metapalimpsest atau metasedimen seperti metapelite, metapsamit dengan
sisipan metabatugamping, dan produk vulkanik berupa tuf yang termetamorfisme.
Litologi. Pada lokasi pengamatan kedua, terdapat 2 jenis batuan yaitu slet dan
filit. Pada dinding kanan bagian ujung atas dari pengambilan foto, batuannya
berupa filit dengan resistensi yang lumayan tinggi dengan warna kuning
kecoklatan. Jenis batuan ini juga terdapat pada dinding bagian tengah dan bagian
bawah. Juga ditemukan slet pada dinding bagian kanan atas. Warna slet yang
ditemukan abu-abu kehitaman. Komposisi mineral stresnya mika dan hornblend
dan mineral anti stresnya yaitu kuarsa.
Formasi pTab

Gambar 28. Foto Singkapan Intrusi Andesit Azimuth N 145°E diambil oleh
Yolanda
Persebaran. Formasi ini pada lokasi pengamatan tersingkap pada sungai. Intrusi
Andesit-Basal menerobos batuan Formasi mengkarang yang terdapat di Batang
Tabir dan Air Maliki, Kecamatan Tabir Ulu. Intrusi ini menerobos kompleks
batuan setelah terjadinya obduksi dari Busur Woyla terhadap Daratan Sunda pada
Kapur Awal-Kapur Tengah. Intrusi ini memiliki kesamaan umur dengan Intrusi
Diabas.

46
Litologi. Batuandesit ditemukan pada tubuh sungai dengan adanya breksiasi pada
tubuh batuan. Struktur batuan ini xenolith, xenolithnya berupa filit yang berwarna
abu-abu kehitaman. Tekstur batuan afanitik dengan komposisi mineral plagioklas,
kuarsa, hornblend dan biotit.
4.2.3 Lokasi Pengamatan Daerah Air Batu

Tabel 7 . Kolom stratigrafi Air Batu


Hubungan stratigrafi dari ketiga formasi yang ditemukan pada daerah batu yaitu
antara Granit Tantan dan Permian ialah ketidak selarasan akibat intrusi. Formasih
QTk merupakan produk dari komplek Masurai tua. Dari ketiga formasi maka
hubungan stratigrafinya ada selang waktu pengendapan yang cukup lama antara
granit tantan dan Kasai.
Permian Mengkarang (Pm)

47
Gambar 29. Foto Singkapan Formasi Permian Mengkarang Azimuth N 355° E di
ambil oleh Azizah
Penyebaran. Satuan batuan tertua yang mengisi pada daerah penelitian adalah
batuan metasedimen. Satuan ini berumur Permian. Satuan ini terdiri disusun oleh
batupasir, batulempung, konglomerat, serpih, tuf, batulanau dengan sisipan
batubara dan batugamping.
Litologi. Ciri batuan yang terdaapat pada lokasi pengamatan pada lokasi
pengamatan 1 tepatnya di air terjun Muara Karing. Merupakan batuan sedimen
yang termetakan. Dengan warna abu-abu kehitaman lapuknya kecoklatan.
Struktur batuannya nonfoliasi dan teksturnya kristaloblastik. Pada lokasi
pengamatan 4 terdapat fosil pandan, pakis, amonit, kerang dan terdapat pohon
yang terbatukan secara insitu.

Formasi Granit Tantan (Trjgdt)


Penyebaran. Satuan batuan yang menyusun pada lokasi pengamatan 2 dan 3
adalah batuan beku. Batuan ini disusun oleh granodiorit, granit, dioritdan adamelit
yang mengintrusi lava andesit-basal yang diinterpretasi sebagai bagian dari
produk Formasi Palepat.
Litologi. Pada lokasi Pengaamatan kedua yaitu di jeram ladeh terdapat beberapa
jenis batuan intrusi yaitu granit dengan warna putih kemerahan, granodiorit putih
keabuan, diorit abu-abu – kehitaman. Pada Jeram Ladeh juga terdapat intrusi
andesit dengan warna abu-abu gelap. Dengan komposisi mineral plagioklas,
kuarsa, hornblend dan biotit. Pada lokasi pengamatan ketiga tepatnya di Air
Terjun Neng-Nong juga terdapat batuandesit dan diorit. Intrusi ini masih ada
kaitannya dengan yang ada di Jeram Ladeh.

48
Gambar 30. Foto singkapan di Jeram Ladeh Azimuth N 95° E di ambil oleh
Mabela

Gambar 31. Foto Singkapan di Air Terjun Neng-Nong Azimuth N 95° E diambil
oleh Yolanda

49
4.3 Geologi Struktur

4.3.1 Struktur Sesar


Lokasi Pengamatan Daerah Bedeng Rejo
Lokasi
No Pengukuran Hasi analisis Keterangan
pengamatan

Bidang sesar :
Sesar
1 LP 1 N 250O E / 80O
Mendatar kiri
Trend : N 252O E

Sesar
Bidang sesar :
2 LP 2 mendatar
N 168O E / 69O
kanan
Trend : N 200O E

Tabel 8. Analisis Sesar di Bedeng Rejo

1. Pada lokasi pengamatan stopsite ke 2, pada formasi Trjgdt didapati kekar-


kekar pada lantai batuan, dari data kekar tersebut dapat di analisis sesar yang
bekerja pada lokasi tersebut dengan arah sesar N 198E/ 69 merupakan sesar
mendatar kiri.
2. Lokasi pengamatan ke empat pada sungai Mengkarang juga terdapat kekar-
kekar yang dianalisis dengan arah sesar N250E/80. Dengan trend N153E,
sehingga nama sesarnya ialah mendatar kiri.
Lokasi Pengamatan Daerah Muara Siau
No Lokasi Pengukuran Hasi analisis Keterangan
pengamatan

1. Bidang sesar : N Sesar Mendatar


184O E / 33O Kiri
LP 2.1
Trend : N 179O E

50
2. LP 2.2
Bidang sesar :

N 183O E / 32O Sesar mendatar


kiri
Trend : N 175O E

3. LP 2.3 Bidang sesar : Sesar mendatar


kiri
N 185O E / 42O

Trend:

N 178OE

4. LP 2.4 Bidang sesar : N Sesar mendatar


40O E / 35O turun kiri

Trend: N 65O E

5. LP 2.5 Bidang sesar : N Sesar mendatar


40O E / 35O kanan

Trend: N 65O E

6. LP 2.6 Bidang sesar : N Sesar mendatar


151O E / 58O kanan

Trend:N 330O E

7. LP 2.7 Bidang sesar : Sesar mendatar


kanan
N 131O E / 52O

Trend: N 312O E

8. LP 2.8 Bidang sesar : N Sesar mendatar


275O E / 54O kiri

Trend: N 280O E

51
Didaerah Muara Siau, secara regional terdapat sesar mendatar kiri. Ketika
dilapangan didapatkan arah yang sama dengan sesar regional.
1. 330E. Merupakan sesar mendatar kanan (Barat laut-Tenggara).
2. Sesar bagian atas kanan sesar 3 dengan kedudukan N 131E/ 52, dengan
trend N 312E merupakan sesar mendatar kanan (Barat laut-Tenggara).
3. Pada lokasi pengamatan ketiga tepatnya berada pada bawah jembatan didapati
kekar-kekar dan arah breksiasi didapati sesar dengan kedudukan N 293E/
60, dengan trend N 299E merupakan sesar mendatar kiri searah dengan
sesar regionalnya. (Barat laut- Tenggara).
4. Pada lokasi pengamatan keempat didapati kedudukan sesar N 170E/ 32
Trend merupakan sesar mendatar kiri (Barat lut- Tenggara).
5. Pada dinding bagian bawah kiri sesar 1 dengan kedudukan N184E/ 33.
Trend N179E dengan sesar mendatar kiri (Barat laut-Tenggara)
6. Masih pada dinding bagian bawah kiri sesar 2 dengan kedudukan N 170E/
32 dengan trend N175E merupakan sesar mendatar kiri (Barat laut-
Tenggara)
7. Sesar bawah kiri 3 dengan kedudukan N 185E/ 42, Dengan trend N 178E
merupakan sesar mendatar kiri (Barat daya-Timur laut).
8. Sesar pada bagian tengah dinding dengan kedudukan N 40E/ 35, trend N
45E merupakan sesar mendatar turun kiri (Barat daya-Timur laut).
9. Sesar bagian atas kanan sesar 1 dengan kedudukan sesar N 143E/ 56, trend
N 316E merupakan sesar mendatar kanan (Barat laut-Tenggara).
Sesar bagian atas kanan sesar 2 dengan kedudukan N 151E/ 58, dengan
Trend

Lokasi
No Pengukuran Hasi analisis Keterangan
pengamatan

52
Bidang sesar :
Sesar
1 LP 2.1 N 30O E / 73O
Mendatar kiri
Trend : N 179O E

Bidang sesar :
Sesar
2 LP 2.2 N 52O E / 85O
mendatar kiri
Trend : N 221O E

Bidang sesar :
Sesar
3 LP 2.3 N 55O E / 82O
mendatar kiri
Trend: N 220OE

Bidang sesar : Sesar


4 N 35O E / 74O mendatar
LP 2.4
Trend: N 213O E turun kiri

Bidang sesar : N Sesar


5 230O E / 85O Mendatar
LP 2.5
Trend:N 40OE kanan

Bidang sesar : N Sesar


6 LP 2.6 150O E / 89O Mendatar
Trend:N 165O E kanan

53
Bidang sesar : Sesar
7
LP 2.7 N 110O E / 11O Mendatar
Trend: N 210O E kanan

Bidang sesar : N
Sesar
8 LP 2.8 160O E / 55O
Mendatar kiri
Trend: N 140O E

Lokasi Pengamatan Air Batu


1. Pada lokasi pengamatan 1 terdapat kedudukan sesar N 30E/ 72 dengan
trend N199E merupakan sesar mendatar turun kanan ( Timur laut- Barat
daya).
2. Masih pada lokasi pengamatan 1 sesar 2 dengan kedudukan N 52E/ 85,
dengan trend N 221E merupakan sesar mendatar turun kanan (Timur
laut- barat daya).
3. Lokasi pengamatan 1 sesar 3 dengan kedudukan N 55E/ 82, dengan
trend N 220E merupakan sesar mendatar turun kanan (Timur laut- barat
daya).
4. Lokasi pengamatan 1 sesar 4 dengan kedudukan N 35E/ 74, dengan
trend N 213E merupakan sesar mendatar kanan (Timur laut- barat daya).
5. Lokasi Pengamatan 2 sesar 1 dengan kedudukan N 230E/ 85, dengan
trend N 40E merupakan sesar mendatar kanan (Timur laut- barat daya).
6. Lokasi pengamatan 2 sesar 2 dengan kedudukan N 150E/ 89, dengan
trend N 165E merupakan sesar mendatar turun kiri (Tenggara- barat laut).
7. Lokasi pengamatan 3 sesar 1 dengan kedudukan N 110E/ 11, dengan
trend N 310E merupakan sesar mendatar turun kiri (Tenggara- barat laut).
8. Lokasi pengamatan 2 sesar 2 dengan kedudukan N 160E/ 55, dengan
trend N 140E merupakan sesar mendatar turun kiri (Tenggara- barat laut).

54
4.3.2 Struktur kekar
Lokasi pengamatan Bedeng Rejo
1. Pada lokasi pengamatan kedua , 2.0 terdapat data kekar dengan arah
umum s1= N 83E/ 64, s2= N 338E/ 76. Setelah di analisis didapati
arah 1 N 299E, 2 N 134E dan 3 N 25E.
2. Pada lokasi pengamatan kedua , 2.1 terdapat data kekar dengan arah
umum s1= N 285E/ 74, s2= N 210E/ 76. Setelah di analisis didapati
arah 1 N 246E, 2 N 337E dan 3 N 158E.
3. Pada lokasi pengamatan kedua , 2.2 terdapat data kekar dengan arah
umum s1= N 168E/ 77, s2= N 243E/ 70. Setelah di analisis didapati
arah 1 N 299E, 2 N 134E dan 3 N 25E.
4. Pada lokasi pengamatan kedua , 2.3 terdapat data kekar dengan arah
umum s1= N 248E/ 80, s2= N 212E/ 77. Setelah di analisis didapati
arah 1 N 230E, 2 N 298E dan 3 N 142E.
5. Pada lokasi pengamatan kedua , 2.4 terdapat data kekar dengan arah
umum s1= N 241E/ 53, s2= N 170E/ 72. Setelah di analisis didapati
arah 1 N 203E, 2 N 321E dan 3 N 101E.
6. Pada lokasi pengamatan keempat , terdapat data kekar dengan arah
umum s1= N 98E/ 66, s2= N 292E/ 68. Setelah di analisis didapati
arah 1 N 255E, 2 N 199E dan 3 N 9E.

Lokasi pengamatan Muara Siau


1. Pada lokasi pengamatan ketiga , terdapat data kekar dengan arah umum
s1= N 263E/ 70, s2= N 343E/ 60. Setelah di analisis didapati arah 1
N 246E, 2 N 337E dan 3 N 158E.
Lokasi pengamatan Air batu
1. Pada lokasi pengamatan 1 atas terdapat data kekar dengan arah umum s1=
N 123E/ 71, s2= N 34E/ 70. Setelah di analisis didapati arah 1 N
82E, 2 N 128E dan 3 N 354E.

55
2. Pada lokasi pengamatan 1 tengah terdapat data kekar dengan arah umum
s1= N 42E/ 62, s2=.163E/ 64. Setelah di analisis didapati arah 1 N
10E, 2 N 189E dan 3 N 9 8E.
3. Pada lokasi pengamatan 1 bawah terdapat data kekar dengan arah umum
s1= N 275E/ 78, s2=.355E/ 61. Setelah di analisis didapati arah 1 N
316E, 2 N 47E dan 3 N 227E
4. Pada lokasi pengamatan 3 atas terdapat data kekar dengan arah umum s1=
N 110E/70, s2=.346E/ 63. Setelah di analisis didapati arah 1 N
320E, 2 N 135E dan 3 N 46E.
5. Pada lokasi pengamatan 3 bawah kiri terdapat data kekar dengan arah
umum s1= N 178E/76, s2=.346E/ 63. Setelah di analisis didapati arah
1 N 206E, 2 N 296E dan 3 N 118E.
6. Pada lokasi pengamatan 3 bawah bawah pinggir sungai terdapat data
kekar dengan arah umum s1= N 47E/77, s2=.170E/ 72. Setelah di
analisis didapati arah 1 N 201E, 2 N 273E dan 3 N 110E.

Gambar 32. Sesar di Air Terjun Neng-nong

56
4.4 Geologi Sejarah
Bedeng Rejo

Gambar 33. Model Sejarah Bedeng Rejo


Pada Permian terjadi 2 kejadian, yang pertama ialah subduksi antara
paleopasifik dengan west sumatera membentuk suatu gunung api subaquos. Dan
kejadian kedua terjadinya sirklus udara hangat sehingga west sumatera ditumbuhi
oleh flora yang disebabkan udara yang tropis. Dan pada Trias – Jura Tengah
lempeng mesotetis mensubduksi lempeng west sumatera sehingga membentuk
jalur busur magmatic sepanjang garis subduksi. Proses subduksi tersebut
menimbulkan suatu rekahan disekitar jalur subduksi sehinga membuat magma
muncul kepermukaan (Intrusi Magmatik) yang disebut dengan intrusi granodiorit
tantan (TRJgdt).

57
Air Batu

Gambar 34 . Model Sejarah Air Batu

Permian terjadi sirklus udara hangat sehingga west sumatera ditumbuhi oleh
flora yang disebabkan udara yang tropis. Dan pada Trias – Jura Tengah lempeng
mesotetis mensubduksi lempeng west sumatera sehingga membentuk jalur busur
magmatic sepanjang garis subduksi. Proses subduksi tersebut menimbulkan suatu
rekahan disekitar jalur subduksi sehinga membuat magma muncul kepermukaan
(Intrusi Magmatik) yang disebut dengan intrusi granodiorit tantan (TRJgdt).
Pengaruh dari busur vulkanik akibat dari subduksi mesotetis terhadap west
sumatera membentuk jalur pegunungan (ring of fire) sehingga terbentuklah
gunung masurai, hasil dari produk masurai ialah Formasi Kasai dengan satuan
batuan tuff, batupasit tuffan, batulempung tuffan dll yang disebebkan pengaruh
sedimentasi gunung api.

58
Muara Siau

Gambar 35. Sejarah Geologi

Dan pada trias awal terjadi subdupsi antara lempeng mesotetis terhadap
lempeng west sumatera sehingga membentuk busur magmatik, akibat dari proses
tersebut terjadinya rekahan sepanjang garis subdupsi. Sehingga, terjadi intrusi
granitoid dari formasi TRJgdt, disisi lain hasil obduksi lempeng woyla ke west
sumatera yang membentuk zona prisma akresi yang dimana batuan yang telah
tersedimentasi termetakan dizona akresi termasuk bagian formasi Jura Asai (JA)
dan proses rekahan yang berlanjut akibat struktur geologi membuat zona bukaan
di Muara Asai sehingga mengintrusi batuan andesit (pTab). Dan pada zaman
kuarter gunung masurai meletus mengeluarkan produk piroklastik yang disebut
dengan kompleks masurai muda (QHv).

59
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Adapun kesimpulan pada hasil lapangan ialah :
1. Daerah penelitian tediri dari morfologi perbukitan, yang didominasi oleh
batuan intrusi dan metamorf. Terdiri atas tiga satuan batuan yaitu, satuan slet
asai, satuan Intrusi andesit. Terdapat struktur geologi yang mempengaruhi
daerah penelitian yaitu sesar mendatar menganan dan sesar naik
menganan.
2. Satuan batuan pada daerah penelitian ini terdiri atas 3 satuan batuan yaitu
Slet, batuan Intrusi Andesit dan metapsamit.
3. Batas-batas penyebaran geologi pada daerah penelitian ini dapat dilihat dari
batas formasi dimana terdapat 2 formasi yaitu formasi Ja (Jura Asai) dan
Intrusi Andesit Pra-Tersier. Dan dapat dilihat dari bentuk perbedaan kontur
yaitu rapat atau renggang.
Saran
Pada Kuliah Lapangan 1, mendidik mahasiswa untuk lebih memahami
orientasi lapangan sebenarnya baik itu dalam segi stuktur geologi, geomorfologi,
petrologi dan statigrafi yang dimana menjadi acuan dalam persoalan pada seorang
geologist ketika menentukan sikap dan keputusan ketika dilapangan.

60
DAFTAR PUSTAKA
Barber A J and Crow. 2005. Structure and Structural History. Sumatera: Geology,
Resources, and Tectonic Evolution: Geological Society Memoir No 31. 300
halaman
Hamilton, W. 1979 Tectonic of The Indonesian Region. United Stated Geological
Survey. In Paper 1078
Ikatan Ahli Geologi Indonesia. 1996. Sandi Stratigrafi Indonesia. Ikatan Ahli
Geologi Indonesia : Jakarta. 34 halaman
Kusnama R, Pardede, S Andi Mangga. 1993. Geologi Lembar Sungai Penuh dan
Ketaun, Sumatera. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi : Bandung
Maliku S, Maulana H, Sirajuddin. 2015. Petrokimia Batuan Granitoid Daerah
Sabbang Kecamatan Sabbang Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi
Selatan. Universitas Hasanuddin. Vol 11. No 2. Halaman 1- 13
Pitcher. W. S. 1997. The Nature and Origin Of Granite Second Edition.
University of Liverpool. Springer Science dan Business Media Dordrecht
Van Bemmelen, R.W. 1949. The Geology of Indonesia Vol 1 A: Government
Printing Office, The Hauge, Netherlands. 732 halaman
Wilson, M. 1989. Igneous Petrogenesis: Harper Collins Academic,
Hammersmith, London. 466 halaman
Winter, J.D. 2001. Introduction to Igneous and Metamorphic Petrology: Prentice-
Hall Inc. Upper Saddle river, New Jersey. 697 halaman
Van Zuidam R. A., (1985), Guide To Geomorfhic Areal Petrographic
Interpretation and Mapping. ITC, Enschede, Netherlands, 110-128

61

Anda mungkin juga menyukai