Karakteristik Ayam Gaga di Sidrap
Karakteristik Ayam Gaga di Sidrap
SKRIPSI
OLEH
AHMAD SYAKIR
I 111 13 072
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
i
IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK SIFAT KUALITATIF AYAM GAGA
DI KABUPATEN SIDRAP SULAWESI SELATAN
SKRIPSI
OLEH
AHMAD SYAKIR
I 111 13 072
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
ii
iii
iv
ABSTRAK
Ahmad Syakir. I111 13 072. Identifikasi Karakteristik Sifat Kualitatif Ayam Gaga
di Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan. Dibimbing oleh Rr. Sri Rachma A.B dan
Wempie Pakiding
v
ABSTRACT
vi
KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirahim
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas berkat
rahmat dan taufik-Nya sehingga dapat menyelesaikan tugas akhir (Skripsi) sebagai
salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Peternakan
kepada semua pihak yang telah membantu dan membimbing penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini utamanya kepada Ibu Prof. Rr. Sri Rachma A. B.,
[Link]., Ph.D. dan Bapak Dr. Ir. Wempie Pakiding, M. Sc selaku pembimbing
Penulis dengan rendah hati mengucapakan terima kasih pula kepada semua
ilmunya kepada penulis. Juga penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada
kedua orang tua tercinta Samaila dan Sumiaty yang memberikan cinta kasih
dukungan mental dan moril. Saudaraku Nur Alim dan Nur Hikmah yang telah
B, LARFA 13, Solandeven 11, Flock Mentality 12, Ant 14, Rantai 15, Boss 16,
vii
serta kebersamaan selama berproses di Fakultas Peternakan, waktu yang dilalui
sungguh merupakan pengalaman hidup yang berharga dan tak mungkin untuk
terlupakan dan terima kasih telah memberi penulis sedikit tempat dihati teman-
teman untuk menjadikan penulis sahabat dan teriring dengan doa semoga rekan dan
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan untuk
itu saya memohon maaf atas kekurangan tersebut. Semoga skripsi ini bisa
bermanfaat.
Penulis
viii
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK .................................................................................................... v
PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
TINJAUAN PUSTAKA
METODE PENELITIAN
ix
Kerlip Bulu .............................................................................................. 21
Warna Shank ........................................................................................... 22
Bentuk Jengger ........................................................................................ 23
Warna Cuping ......................................................................................... 24
Warna Mata ............................................................................................. 24
LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
x
DAFTAR TABEL
No. Halaman
Text
xi
DAFTAR GAMBAR
No. Halaman
Text
xii
DAFTAR LAMPIRAN
No. Halaman
Text
1. Peubah yang diamati (warna bulu, pola bulu dan kerlip bulu)… ................ 27
xiii
PENDAHULUAN
Provinsi Sulawesi Selatan terdapat ayam lokal yang memiliki karakter kokok yang
khas, yaitu suara penghujung kokoknya seperti suara tertawa manusia yang dikenal
dengan nama Manu’ Gaga. Ayam Gaga termasuk dalam kategori unggas yang
merupakan salah satu ayam buras yang sangat berpotensi dalam bisnis ayam hias di
Indonesia karena memiliki karakter kokok yang khas serta termasuk dalam kategori
dipelihara oleh masyarakat secara turun temurun. Secara fisik, bentuk tubuh ayam
Gaga enak dipandang mata dan warna bulunya juga menarik. Meskipun secara
kasat mata hampir sama dengan ayam Kampung namun keunikan suara kokok
ayam inilah yang menarik perhatian penggemar ayam hias untuk memeliharanya.
Berbagai kontes suara kokok ayam Gaga mulai marak di berbagai daerah dengan
hadiah mencapai puluhan juta rupiah. Hal tersebut menyebabkan ayam Gaga
memiliki harga jual yang tinggi bahkan mencapai jutaan rupiah per ekor.
ayam Gaga saat ini sangat terbatas sehingga masih berdasarkan referensi dari ciri
sifat kualitatif ayam kampung pada umumnya. Padahal informasi genetik, ciri-ciri
sifat kualitatif serta kuantitatif sangat diperlukan sebagai acuan untuk melakukan
1
peningkatan mutu genetik ayam Gaga dan membantu dalam proses pelestarian
ayam Gaga menjadikan ayam Gaga menjadi salah satu jenis ayam lokal langka yang
kelestarian ayam Gaga agar tidak punah. Upaya pelestarian ayam Gaga
memerlukan studi tentang karakteristik sifat kualitatif dari ayam tersebut untuk
Salah satu kendala bagi usaha pelestarian tipe ayam penyanyi seperti ayam
Gaga yaitu kurangnya informasi mengenai sifat kualitatif dari ayam tersebut
sehingga masih sulit untuk membandingkan ayam Gaga dengan ayam buras
lainnya. Studi ini diharapkan dapat menjadi tambahan informasi bagi usaha
pelestarian ayam Gaga sebagai salah satu plasma nutfah ternak Indonesia.
Kegunaan penelitian ini yaitu hasil yang diperoleh dapat dijadikan sebagai
sumber informasi ilmiah mengenai karakteristik sifat kualitatif ayam Gaga yang
dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam usaha pelestarian dan pemuliaan
ayam Gaga.
2
TINJAUAN PUSTAKA
Vertebrata, kelas Aves, super order Carinatae, ordo Galliformes dan spesies Gallus
gallus (Scanes et al., 2004). Williamson dan Payne (1993) menyatakan bahwa
nenek moyang ayam yang menyebar di seluruh dunia berasal dari empat jenis ayam
liar yaitu ayam Hutan Merah (Gallus gallus), ayam Hutan Sri Lanka (Gallus
lafayetti), ayam Hutan Abu-abu atau ayam Sonnerat (Gallus sonnerati) dan ayam
Hutan Jawa (Gallus varius). Nenek moyang ayam yang utama adalah ayam Hutan
Merah (Gallus gallus). Ayam lokal Indonesia termasuk ke dalam filum Chordata,
memiliki beberapa rumpun dengan karakteristik morfologis yang berbeda dan khas.
Sejauh ini telah diidentifikasi sebanyak 31 rumpun ayam lokal yaitu Kampung,
Kedu Hitam, Kedu Putih, Cemani, Sedayu, Olagan, Nusa Penida, Merawang atau
(Nataamijaya, 2000)
Ayam lokal Indonesia selain dipelihara sebagai ayam pedaging dan petelur
aduan, keperluan ritual atau sebagai pemberi kepuasan melalui suara kokok yang
merdu. Informasi dasar yang meliputi ciri spesifik, asal usul, performa dan
3
produktivitas diperlukan sebagai sumber daya genetik ternak ayam lokal lebih
Ayam Buras
Ayam bukan ras (ayam Buras) merupakan salah satu sumber plasma nutfah
nama daerah atau ciri khas yang dimilikinya. Potensi ayam bukan hanya pada
produksi daging dan telurnya namun ada beberapa bangsa pada unggas yang
bulu atau bentuk tubuhnya, kemerduan suaranya, keunikan bentuk tubuhnya, untuk
Ayam buras merupakan hasil domestikasi dari jenis ayam hutan merah.
Martojo (1992) menyatakan bahwa nenek moyang ayam buras yang ada di
Indonesia berasal dari ayam hutan merah (Gallus gallus). Pendapat tersebut
diperkuat oleh Crawford (1990) yang menyatakan bahwa ayam hutan merah (Red
jungle Fowl) merupakan nenek moyang dari ayam domestikasi (Gallus gallus
domestikus) saat ini. Pendapat tersebut didasarkan pada hasil penelusuran bahwa
ayam buras Indonesia memiliki jarak genetik yang lebih dekat dengan ayam hutan
merah (Gallus gallus) dibandingkan dengan ayam hutan hijau (Gallus varius).
Namun demikian, adanya impor berbagai jenis bangsa ayam ke Indonesia, sejak
sehingga diperkirakan ayam Buras yang ada sekarang hanya memiliki gen asli
sebanyak 50%. Ayam hutan merah di Indonesia ada dua macam yaitu ayam hutan
4
merah Sumatera (Gallus gallus gallus) dan ayam hutan merah Jawa (Gallus gallus
Ayam Gaga
Ayam Gaga berasal dari Kabupaten Sidrap, propinsi Sulawesi Selatan dan
dikenal oleh masyarakat Sulawesi Selatan dengan sebutan Ma’nu Ga’ga yang
berarti gagap. Ayam Gaga memiliki suara kokok seperti suara tertawa manusia.
dan penyebaran ayam Gaga atau yang dikenal dengan ayam Gaga dimulai dari
(Anonim, 2015).
Pola warna bulu ayam Gaga memiliki berbagai macam varian seperti ayam
lokal lain. Pola warna ayam Gaga meliputi korro (berwarna dasar warna hitam
kekuningan pada tubuhnya) dan bakka (dominasi warna putih pada seluruh bagian
Ayam Gaga merupakan ayam lokal yang mempunyai ciri khas suara ayam
bahkan kecil, tetapi lebih besar dari ayam Kate, warna bulu tidak spesifik bervariasi
seperti ayam Kampung, bentuk jengger pada ayam Gaga jantan adalah besar
5
karakteristik penampilan luar dan potensi produktifitas ayam Gaga masih sangat
minim.
buras sebagai ayam Kampung, namun istilah buras dalam makna harfiahnya berarti
ayam yang berada diluar kategori ayam Ras (Suharno, 2002). Penampilan fisik
Gambar 1. Penampilan fisik ayam Gaga, ukuran tubuh sedang dan warna bulu
tidak spesifik. (Sumber: Sartika dan Iskandar 2008)
Secara umum, penampilan fisik yaitu warna bulu dan ukuran tubuhnya dari
ayam Gaga hampir sama dengan ayam Kampung (Bugiwati, dkk., 2103), sehingga
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Subkelas : Neornithers
Ordo : Galliformers
Famili : Phasianidae
Genus : Gallus
6
Spesies : Gallus gallus
mempunyai sebaran asli geografis di Provinsi Sulawesi Selatan secara hukum oleh
Rumpun Ayam Gaga, tetapi informasi ilmiah mengenai deskripsi fenotip, ciri-ciri
Sifat Kualitatif
Sifat kualitatif merupakan sifat yang dikontrol oleh beberapa gen yang
memiliki perbedaan yang jelas antar fenotipnya, biasanya bersifat tidak aditif, dan
variasinya tidak kontinyu (Noor, 2008). Menurut Warwick, et al., (1995), sifat
dalam satu dari dua kelompok atau lebih dan pengelompokan itu berbeda jelas
karena secara tidak langsung sifat ini berpengaruh terhadap sifat produksi. Sifat
kualitatif dikendalikan oleh satu atau beberapa gen dan sedikit atau tidak sama
variasi sifat kualitatif. Karakteristik genetik eksternal dapat netral, bermanfaat atau
kualitatif yang penting yang merupakan ciri khas yang dipakai sebagai patokan
untuk penentuan suatu bangsa ayam diantaranya adalah warna bulu, warna
kerabang, warna cakar (shank) dan bentuk jengger yang tidak dipengaruhi oleh
7
Karakteristik Warna Bulu dan Pola Bulu
Hutt (1994) menyatakan bahwa gen warna bulu bersifat dominan (I)
ditentukan pada bangsa ayam White Leghorn, Pile Games dan La-Baesse yang
Mendel. Karakteristik ini menurut Hadley (1913) yang dikemukakan oleh Hutt
(1949) dikenal dengan simbol I (inhibitor untuk warna bulu). Sifat inhibitor
merupakan sifat dominan tidak lengkap pada keadaan heterozigot (Ii) (Hutt, 1949).
Hutt (1949) menyatakan bahwa warna hitam polos dengan simbol gen E
diekspresikan pada penampilan bulu hitam diseluruh bagian bulu dan biasa terlihat
pada permukaan bulu yang dibatasi pada bulu leher, bulu besar sayap dan bulu ekor.
Ayam mempunyai warna bulu (hitam, pola warna bulu tipe liar, pola warna tipe
columbian, bulu putih (I atau cc) serta corak bulu lurik), warna shank (putih/kuning,
hitam, atau kehijauan) dan bentuk jengger tunggal/single comb, ros atau bentuk
Jengger merupakan bentuk modifikasi dari kulit yang terdapat pada bagian
puncak kepala, biasanya berwarna merah dan mempunyai bentuk yang beragam
(tunggal, ros, kapri, cushion, buttercup, bentuk arbei atau bentuk V) (Ensminger,
1992). Menurut Jull (1951), jengger, pial (wattle) dan cuping (earlobe) merupakan
perkembangan dari dermis yang tertutup oleh lapisan epidermis. Jengger juga
merupakan bagian tubuh unggas yang membedakannya dengan bangsa burung yang
lain.
Jull (1951) mengemukakan bahwa jengger ros dan kapri bersifat dominan
terhadap jengger tunggal. Jika gen ros dan kapri bertemu maka akan terbentuk
8
jengger walnut yang dominan terhadap jengger ros, kapri, dan tunggal. Somes
(1988) menjelaskan bahwa gen bentuk jengger kapri merupakan gen tidak terkait
kelamin yang bersifat dominan tidak lengkap, yang pada keadaan heterosigot
terlihat lebih jelas yaitu bilah bagian tengah mencuat ke atas dengan dua bilah di
beberapa pigmen tertentu pada epidermis dan dermis. Warna kuning pada shank
ayam bangsa Amerika dan bangsa-bangsa yang lain adalah karena adanya lemak
atau pigmen lipokrom (lypocrome) pada lapisan epidermis sedangkan pigmen hitam
atau melanin tidak terdapat pada epidermis dan dermis. Shank yang berwarna hitam
disebabkan oleh adanya pigmen melanin pada epidermis. Shank warna putih pada
beberapa ayam bangsa Inggris muncul karena tidak adanya kedua pigmen
(lipokrom dan melanin) pada epidermis maupun pada dermis. Shank (cerah dan
gelap) pada bangsa ayam kulit putih disebabkan karena adanya pigmen melanin
pada dermis, tetapi pigmen melanin dan lipokrom tidak terdapat pada epidermis:
sedangkan adanya pigmen lipokrom pada epidermis dan pigmen melanin pada
dermis menyebabkan shank warna hijau (Jull, 1951). Adanya corak lurik (gen B)
pada ayam dapat mengurangi jumlah pigmen melanin pada shank (Hutt, 1949).
Perubahan warna pada shank yang berwarna kuning pada ayam betina dapat
digunakan untuk memperkirakan tingkat produksi telur yang dihasilkan dan pada
proses pengafkiran ayam petelur (Jull, 1951). Pigmen lipokrom yang terdapat pada
shank sama dengan pigmen kuning yang terdapat pada telur, sehingga warna shank
9
Karakteristik Warna Cuping
berwarna merah, meskipun breed dari kelas Mediteranian (Leghorn, Minorca dan
Spanish) mempunyai cuping berwarna putih. Pada ayam Hutan Merah ditemukan
campuran antara cuping merah dan putih dengan warna merah lebih dominan.
warna mata gelap pada saat menetas. Warna mata sesungguhnya belum dapat
dilihat sampai dewasa kelamin (ketika pigmen melanin dan karoten diekspresikan
secara penuh). Hasil penyilangan antara breed ayam bermata coklat berbulu hitam
dengan breed ayam mata bay dengan pembatas warna bulu hitam ternyata dapat
mengetahui hubungan antara warna mata yang mengandung melanin dengan warna
bulu gelap.
keragaman genetik (σG), keragaman lingkungan (σE), serta keragaman yang timbul
akibat adanya interaksi antara faktor genetik dengan faktor lingkungan (σGE).
Keragaman genetik bisa disebabkan oleh gen-gen aditif (σA) dan juga oleh gen yang
tidak aditif (σNA). Aksi gen yang tidak aditif ini bisa disebabkan oleh aksi gen
dominan (σD) dan aksi gen epitasis (σI). Jadi secara lengkap keragaman fenotip
Keragaman lingkungan (σE) dapat disebabkan oleh faktor iklim, cuaca, makanan,
10
penyakit, dan sistem manajemen (Noor, 2008). Menurut Mansjoer (1985)
keragaman fenotip pada suatu sifat pada suatu kelompok ternak merupakan
petunjuk keragaman genotip ternak serta merupakan ekpresi adanya interaksi antara
genotip dan lingkungan dalam kelompok ternak tersebut. Mansjoer, dkk, (1989)
akan mudah dilakukan bila simpangan baku dinyatakan sebagai persentase dari
rata-rata. Simpangan baku yang dinyatakan sebagai persentase dari rata-rata disebut
tentang hal ini sangat berharga untuk merencanakan atau mengevaluasi percobaan.
11
MATERI DAN METODE PENELITIAN
karena daerah Sidrap merupakan pusat populasi terbanyak ayam Gaga dan
Materi Penelitian
Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah 115 ekor ayam Gaga
Alat yang digunakan adalah alat tulis, tabel pengamatan dan kamera digital.
Metode Penelitian
yang merupakan teknik pengambilan data non random sampling dimana peneliti
menentukan pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri khusus yang sesuai
Prosedur Penelitian
Penentuan Lokasi
survei dan informasi dari masyarakat yang menunjukkan bahwa ayam Gaga
12
Pengumpulan Data
Ayam Gaga yang digunakan adalah milik peternakan rakyat yang terdapat di
dua kecamatan tersebut. Pengambilan data dilakukan dengan cara mengamati dan
mencatat berbagai sifat kualitatif ayam Gaga jantan dan betina, mengambil gambar
dari bagian tubuh (kepala, punggung, kaki, dan keseluruhan tubuh) dan hasil yang
Penentuan warna bulu, pola warna bulu, kerlip warna bulu, dan warna shank,
bentuk jengger menggunakan pedoman Somes (1988) dan untuk warna mata dan
warna cuping sebagai peubah yang diamati dalam penelitian ini menggunakan
sebagai berikut:
a. Warna bulu putih (bila pada seluruh permukaan pada bulu ayam berwarna
putih)
b. Pola warna liar (bila ditemukan warna hitam pada bagian dada dan
13
a. Kerlip bulu keperakan (warna putih mengkilap pada bulu leher dan kepala,
terdapat pada ayam yang memiliki warna bulu putih, lurik hitam dan putih)
a. Kerlip warna bulu keemasan (warna kuning keemasan pada bulu leher dan
kepala, terdapat pada ayam yang memiliki warna bulu hitam, coklat, lurik
a. Bentuk jengger kapri (bila ditemukan bentuk jengger berpilah tiga pada
ayam)
b. Bentuk jengger tunggal (bila ditemukan bentuk jengger berpilah satu atau
Warna cuping merah, putih, dan perpaduan antara merah dan putih dengan
Analisis Data
dihitung berdasarkan jumlah fenotip yang muncul dibagi dengan jumlah seluruh
ΣA
Frel = 𝑥 100%
𝑛
14
Keterangan:
15
HASIL DAN PEMBAHASAN
sama, terdapat variasi pada warna shank dan warna mata. Ayam Gaga di Kecamatan
Baranti dan Pancarijang memiliki fenotip di luar kriteria dari Somes (1988) yaitu
pada pola bulu (Hitam) dan bentuk jengger (mawar). Karakteristik dan persentase
16
Warna Bulu
Warna bulu kategori berwarna mendominasi warna bulu ayam Gaga jantan
maupun betina di Kecamatan Baranti dan pancarijang, dan hanya sedikit saja ayam
Gaga dengan warna bulu putih. Pada kedua Kecamatan, proporsi warna bulu
kategori berwarna ayam Gaga jantan lebih tinggi dibandingkan ayam Gaga betina.
Dalam penelitian ini ditemukan kombinasi warna bulu kategori berwarna pada
ayam Gaga jantan maupun betina yaitu hitam, putih-hitam, coklat dan hitam-coklat
dengan beberapa kombinasi warna bulu lainnya yang banyak di temukan pada galur
ayam lain khususnya pada ayam jantan. Kombinasi warna bulu tersebut juga
terdapat pada ayam-ayam lokal lainnya, sehingga hal tersebut belum dapat
Warna bulu yang beragam pada ayam Gaga dipengaruhi oleh kerja gen i
yang memicu produksi pigmen melanin. Pigmen melanin terbagi menjadi dua tipe
yaitu eumelanin yang membentuk warna hitam dan biru pada bulu dan pheomelanin
yang membentuk warna merah-coklat, salmon, dan kuning tua (Brumbaugh dan
Moore, 1968).
Sifat bulu putih dikontrol oleh gen I (inhibitor) yang dalam keadaan
heterozigot (Ii) bereaksi secara dominan lengkap yang ditujukkan dengan adanya
spot dan garis hitam pada bagian bulu ayam saat dewasa. Sedangkan dalam keadaan
pada bulu (Somes, 1988). Warna bulu putih dominan (I_) juga ditemukan pada
galur ayam lokal seperti ayam Pelung dan Tolaki dengan persentase kecil (Rusdin,
2007; Rizkiana, 2011). Kondisi tersebut menggambarkan bahwa sifat warna bulu
putih pada ayam Gaga adalah resesif dibandingkan dengan ayam lokal lainnya.
17
Pola Bulu
Pola bulu ayam Gaga jantan dan betina yang ditemukan di Kecamatan
Baranti dan Pancarijang adalah pola hitam (E_), dan pola liar (e+). Sedangkan pola
bulu Kolombian tidak ditemukan. Hal tersebut kemungkinan karena belum adanya
upaya peternak lokal yang melakukan persilangan antar ayam Gaga dengan ayam
lokal lainnya yang memiliki galur pola bulu kolombian, sehingga potensi
munculnya pola bulu tersebut belum terlihat. Dalam penelitian ini proporsi
kemunculan pola bulu liar (e+) pada ayam Gaga jantan di Kecamatan Baranti dan
Pancarijang lebih dominan dibandingkan pola bulu hitam, sebaliknya pada ayam
Gaga betina didominasi oleh pola bulu hitam (E_). Tingginya frekuensi pola bulu
liar pada ayam Gaga jantan dan pola bulu hitam pada betina diduga karena ayam
Gaga masih mempunyai jarak genetik yang dekat dengan ayam hutan merah
Sumatera (Gallus gallus gallus), dimana ciri-ciri warna bulunya yang khas untuk
jantan adalah tipe liar dan untuk betina coklat bergaris hitam. Hal ini sesuai dengan
pendapat Nishida et al. (1980) dan Mansjoer (1985) yaitu ayam Kampung di
Indonesia mempunyai jarak genetik yang lebih dekat terhadap ayam hutan merah
Sumatera (Gallus gallus gallus) dan ayam hutan merah Jawa (Gallus gallus
Hasil serupa dilaporkan oleh Subekti dan Arlina (2011) yang menggunakan
ayam Kampung yaitu fenotip pola bulu liar adalah dominan untuk ayam jantan (38
%) dan pola bulu hitam adalah dominan pada ayam betina (50 %). Hasil yang
berbeda dilaporkan oleh Rizkiana, (2011) yaitu fenotip pola bulu ayam lokal jantan
dan betina Tolaki dan Pelung, memiliki pola bulu hitam (E_), liar (e+e+) dan
18
diantara ayam lokal pun memiliki galur yang berbeda-beda secara genetik.
memberikan pengaruh yang kecil bahkan tidak ada, sehingga variasi sifat kualitatif
Kerlip Bulu
Proporsi fenotip pada kerlip bulu ayam Gaga jantan dan betina yang terdapat
di Baranti dan Pancarjang adalah didominasi oleh kerlip bulu keemasan. Namun
berbeda pada ayam Gaga betina di Kecamatan Pancarijang yang relative seimbang
antara proporsi kerlip bulu keemasan dan keperakan. Gen kerlip bulu keperakan (S)
dan keemasan (s) merupakan gen terpaut kelamin (sex linked) (Stutervan, 1912
Kerlip bulu perak biasanya ditemukan pada warna bulu merah, hijau, coklat,
hitam dan putih, sedangkan kerlip bulu emas ditemukan pada bulu yang mempunyai
warna bulu kuning keemasan (Rusdin, 2007). Kerlip bulu serupa sifat terpaut
heterozigot, sedangkan pada betina dalam kondisi hemizigot (Hutt, 1949). Namun
kerlip bulu tidak begitu tampak jelas pada warna bulu dengan kombinasi warna
Indikasi tingginya homozigositas (SS) sifat kerlip bulu dalam populasi ayam
19
Warna Shank
Hasil penelitian menunjukkan warna shank ayam Gaga jantan dan betina di
Kecamatan Baranti dan Pancarijang adalah putih, kuning dan hitam/abu-abu namun
dengan frekuensi fenotip yang beragam. Frekuensi warna shank kuning pada ayam
jantan Baranti adalah paling tinggi putih (Id) dan rendah pada warna hitam/abu (id),
sedangkan pada betina didominasi oleh warna shank putih (Id) dan resesif pada
warna shank kuning dan hitam/abu (id). Berbeda pada ayam Gaga jantan di
Pancarijang, yang didominasi oleh warna shank hitam (id), sedangkan pada ayam
pada epidermis dan tidak adanya pigmen melanin pada epidermis dan dermis (Jull,
1951). Namun bila pigmen karotenoid dan melanin tidak ada maka shank akan
kombinasi pigmen yang berbeda dilapisan atas dan bawah kulit. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Somes (1978) yang menyatakan bahwa warna kuning pada
shank dikarenakan adanya lemak atau pigmen lipokrom pada lapisan epidermis.
Bentuk Jengger
Pancarijang adalah kapri, tunggal, dan mawar. Ayam Gaga jantan dan betina di
kecuali ayam Gaga betina di Kecamatan Pancarijang lebih didominasi oleh bentuk
jengger kapri. Ayam lokal Indonesia yang sudah memiliki keseragaman sifat bentuk
jengger diantaranya adalah ayam Pelung, Kedu Hitam dan Kedu putih. Rusdin
20
(2007) melaporkan bahwa bentuk jengger ayam Pelung 100% adalah jengger
tunggal (single) dan sudah menjadi salah satu standarisasi sifat kemuniannya.
Sementara Johari et al., (2009) menyatakan ayam Kedu hitam dan kedu putih
memiliki bentuk jengger yang sama yaitu tunggal dengan frekuensi 100%.
kemungkinan ayam Gaga adalah berada dalam satu rumpun dengan ayam lokal
tersebut.
Bentuk jengger kapri lebih dominan muncul pada ayam Gaga betina di
Kecamatan Baranti dan Pancarijang, sedangkan bentuk jengger tunggal dan mawar
lebih sering ditemukan pada ayam Gaga jantan di Kecamatan Baranti dan
Pancarijang.
Proporsi bentuk jengger ayam Gaga pada penelitian ini agak berbeda
dibandingkan ayam kampung, seperti yang dilaporkan Samra (2002) dalam Afriani,
et al., (2003) bahwa bentuk jengger ayam kampung terdiri atas bentuk pea 29%,
single 21%, walnut 12% dan rose 38%. Mansjoer (2003) menyatakan bahwa ayam
kampung memiliki tingkat keragaman yang lebih tinggi dibandingkan ayam lokal
lainnya.
Warna Cuping
telinga . Menurut Suprijatna, et al. (2005) warna cuping bervariasi sesuai dengan
Kecamatan Baranti dan Pancarijang adalah warna cuping merah, merah-putih dan
putih. Proporsi kemunculan warna merah pada cuping lebih tinggi ditemukan pada
ayam Gaga jantan dan betina di Kecamatan Baranti maupun Pancarijang. Pada
21
kedua Kecamatan, terlihat bahwa warna cuping putih dan merah-putih memiliki
proporsi lebih rendah ditemukan pada kedua jenis kelamin.. Crawford (1990)
[Link] ayam Hutan Merah ditemukan campuran antara cuping merah dan
Warna Mata
Warna mata ayam Gaga jantan dan betina yang terdapat di Kecamatan
Baranti dan Pancarijang adalah warna orange, coklat, dan kuning. Pada penelitian
ini frekuensi fenotip warna mata ayam Gaga yang ditemukan sangat beragam.
Ayam Gaga jantan di Kecamatan Baranti didominasi oleh warna mata kuning
sedangkan ayam betina didominasi warna mata orange. Sementara ayam Gaga
kelamin yaitu ketika pigmen melanin dan karoten diekspresikan secara penuh. Hasil
penyilangan antara breed ayam bermata coklat berbulu hitam dengan breed ayam
mata bay dengan pembatas warna bulu hitam ternyata dapat mengetahui hubungan
antara warna mata yang mengandung melanin dengan warna bulu gelap (Crawford,
1990).
22
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Beberapa hal yang dapat di simpulkan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Heterogenitas sifat kualitatif ayam Gaga jantan dan betina masih relatife tinggi.
2. Warna bulu ayam Gaga jantan maupun betina didominasi oleh kategori bulu
3. Pola warna bulu ayam Gaga jantan yaitu didominasi oleh pola bulu liar
4. Bentuk jengger tunggal dan warna cuping adalah proporsi fenotip paling tinggi
5. Proporsi fenotip warna shank dan warna mata pada ayam Gaga masih beragam.
Saran
Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa sifat-sifat kualitatif dan ayam
Gaga di Kecamatan Baranti dan Pancarijang masih beragam, disarankan agar dalam
23
DAFTAR PUSTAKA
Afriani T., D Ahmat, & Afrianto. 2003. Karakteristik Genetik Eksternal Ayam
Bangkok. Laporan Penelitian Fakultas Peternakan Universitas
Andalas, Padang.
Bugiwati, S.R.A., Harada, H., Dagong, M.I.A., Rahim, L. & Prahesti, K.I. 2013.
Study of Body Dimension of Gaga Chicken, Germ Plasm of Local
Chicken from South Sulawesi˗Indonesia. International Journal of
Plant, Animal and Environmental Sciences. 3(4):204-209.
Ensminger, M. E. 1992. Poultry Science. 3rd Ed. Interstate Publishers, Inc. USA.
FAO. 1986. Animal genetic resources data banks: descriptor lists for poultry.
Animal production and health paper 59/3. 13-27. Rome.
Hutt, T. B. 1949. Genetics of The Fowl. Hill Book Company, Inc., New York.
Johari, S., Sutopo & A. Santi. 2009. Frekuensi fenotipik sifat-sifat kualitatif ayam
Kedu dewasa. Makalah seminar nasional kebangkitan peternakan,
Semarang.
24
Mansjoer, I., S.S. Mansjoer & D. Sayuti. 1989. Studi banding sifaf-sifat biologis
ayam Kampung, ayam Pelung dan ayam Bangkok. Laporan
Penelitian. Lembaga Penelitian. Institut Pertanian Bogor.
Sartika, T. & Sofyan Iskandar. 2007. Mengenal Plasma Nutfah Ayam Indonesia
dan Pemanfaatannya. Balai Penelitian Ternak, Bogor.
Rusdin, M., 2007. Analisis fenotipe, genotipe dan suara ayam pelung di
Kabupaten Cianjur. [Tesis]. Program Pascasarjana. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
25
Sulandari, S., M. S. A. Zein., S. Paryanti., T. Sartika., M. Astuti., T. Widjastuti,
E. Sudjana., S. Darana., I. Setiawan & D. Garnida. 2007. Sumberdaya
Genetik Ayam Lokal. Keanekaragaman Sumber Daya Hayati Ayam
Lokal Indonesia: Manfaat dan Potensi. Pusat Penelitian Biologi
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta: hlm 45-67.
26
Lampiran 1. Peubah yang diamati (warna bulu, pola bulu dan kerlip bulu)
Warna Bulu :
(a) (b)
(a)Warna Putih dan (b) Berwarna
(a) (b)
(a) Pola Warna Bulu Liar dan (b) Pola Warna Bulu Kolombian
(a) (b)
(a) Kerlip Bulu Keemasan dan (b) Kerlip Bulu Keperakan
27
Lampiran 2. Peubah yang diamati (warna shank dan bentuk jengger)
Warna shank:
Bentuk Jengger :
(a) Variasi bentuk jengger ayam : (a) Tunggal, (b) Kapri/Pea, (d) Mawar/Rose.
(FAO, 1986)
28
Lampiran 3. Peubah yang diamati (warna cuping, dan warna mata)
Warna cuping :
Warna mata:
29
Lampiran 4. Dokumentasi kegiatan penelitian
30
RIWAYAT HIDUP
SMP Negeri 1 Bola Kabupaten Wajo pada tahun yang sama dan tamat pada tahun
Negeri 1 Bola Kabupaten Wajo. Tahun 2013 penulis diterima sebagai mahasiswa
(PKM) dan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW), penulis juga pernah mewakili
bulan oleh Direktorat Pakan, Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan,
31
Singosari, dan Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang. Penulis banyak mengais
ilmu diluar banggku kuliah karena penulis beranggapan “merugilah jika belajar
32