0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan45 halaman

Karakteristik Ayam Gaga di Sidrap

Skripsi ini mengkaji karakteristik sifat kualitatif ayam Gaga di dua kecamatan di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Sifat-sifat seperti warna bulu, pola bulu, kerlip bulu, warna shank, bentuk jengger, warna cuping dan warna mata diamati pada 170 ekor ayam Gaga. Hasilnya menunjukkan sifat-sifat tertentu seperti warna bulu berwarna dan pola bulu liar pada jantan, serta

Diunggah oleh

Arif Nugrogo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan45 halaman

Karakteristik Ayam Gaga di Sidrap

Skripsi ini mengkaji karakteristik sifat kualitatif ayam Gaga di dua kecamatan di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Sifat-sifat seperti warna bulu, pola bulu, kerlip bulu, warna shank, bentuk jengger, warna cuping dan warna mata diamati pada 170 ekor ayam Gaga. Hasilnya menunjukkan sifat-sifat tertentu seperti warna bulu berwarna dan pola bulu liar pada jantan, serta

Diunggah oleh

Arif Nugrogo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK SIFAT KUALITATIF AYAM GAGA

DI KABUPATEN SIDRAP SULAWESI SELATAN

SKRIPSI

OLEH

AHMAD SYAKIR
I 111 13 072

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018

i
IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK SIFAT KUALITATIF AYAM GAGA
DI KABUPATEN SIDRAP SULAWESI SELATAN

SKRIPSI

OLEH

AHMAD SYAKIR
I 111 13 072

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana


Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018

ii
iii
iv
ABSTRAK

Ahmad Syakir. I111 13 072. Identifikasi Karakteristik Sifat Kualitatif Ayam Gaga
di Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan. Dibimbing oleh Rr. Sri Rachma A.B dan
Wempie Pakiding

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sifat kualitatif ayam


Gaga di Kecamatan Baranti dan Pancarijang Kabupaten Sidrap. Sebanyak 170 ekor
ayam Gaga dewasa (115 ekor jantan dan 55 ekor betina) digunakan sebagai sampel,
yang diambil secara purposive sampling. Sifat kualitatif yang diamati adalah warna
bulu, pola bulu, kerlip bulu, corak bulu, warna shank, bentuk jengger,warna cuping
dan warna mata, data kemudian ditabulasi berdasarkan jenis kelamin dan dianalisis
secara statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenotip sifat
kualitatif pada jantan maupun betina didominasi oleh warna bulu kategori berwarna
(ii) dan resesif pada kategori warna putih (I_). Sifat-sifat kualitatif pola bulu ayam
Gaga jantan yang dominan adalah pola bulu liar (e+), sedangkan pada betina
didominasi oleh pola bulu hitam (E_). Bentuk jengger tunggal dan warna cuping
merah bersifat dominan pada ayam Gaga yang terdapat di Baranti maupun
Pancarijang. Sementara warna mata, dan warna shank meiliki frekuensi fenotip
yang masih sangat beragam.

Kata kunci : Sifat kualitatif, Ayam Gaga, Warna bulu

v
ABSTRACT

Ahmad Syakir. I111 13 072. Identification Characteristic Qualitative of Gaga


Chicken in Sidrap District of South Sulawesi. Supervised by Rr. Sri Rachma A.B
dan Wempie Pakiding

The purpose of this research was to determine the characteristics of qualitative of


Gaga chicken in Baranti and Pancarijang Distric of Sidrap Regency. 170 birds of
adult chickens Gaga (115 males and 55 females) used as a sample, taken by
purposive sampling. The qualitative characteristic observed were feathers color,
feathers pattern, flickering feathers, shank colour, comb shape, cuping color and
eye color. The data were tabulated by sex and analyzed descriptive statistically. The
results showed that the qualitative characteristics of males and females were
dominated by colored category feather (ii) and recessive in white feather (I_). The
qualitative qualities of the dominant male gaga pattern were the wild feather pattern
(e +), whereas in females were dominated by black feather pattern (E_). Single
comb shape and the red cuping colour is dominant in Baranti and Pancarijang
District. The heterogenenity of eye colour and shank colour at both District still
high.
Key words: Qualitative characteristic, Gaga chicken, Feathers color.

vi
KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirahim

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas berkat

rahmat dan taufik-Nya sehingga dapat menyelesaikan tugas akhir (Skripsi) sebagai

salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Peternakan

Universitas Hasanuddin. Melalui kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih

kepada semua pihak yang telah membantu dan membimbing penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini utamanya kepada Ibu Prof. Rr. Sri Rachma A. B.,

[Link]., Ph.D. dan Bapak Dr. Ir. Wempie Pakiding, M. Sc selaku pembimbing

yang telah mencurahkan perhatian untuk membimbing dan mengarahkan penulis

dalam penyusunan skripsi ini.

Penulis dengan rendah hati mengucapakan terima kasih pula kepada semua

dosen Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin yang telah menuangkan

ilmunya kepada penulis. Juga penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada

kedua orang tua tercinta Samaila dan Sumiaty yang memberikan cinta kasih

dukungan mental dan moril. Saudaraku Nur Alim dan Nur Hikmah yang telah

memberikan doa dan semangat. Sahabatku Gede Suamba, Dwi Suprapto,

Aprianto Mandala Putra, Muhammad Nurhidayat, Fulki Alen, Insan Putra

Pratama dan Wahyu dan teman-teman Forum Studi Ilmiah (FOSIL),

Himpunan Mahasiswa Produksi Ternak (HIMAPROTEK), Kelas Peternakan

B, LARFA 13, Solandeven 11, Flock Mentality 12, Ant 14, Rantai 15, Boss 16,

dan Taring 17 terima kasih yang setinggi-tingginya serta penghargaan yang

sebesar-besarnya atas segala cinta, pengorbanan, bantuan, pengertian, candatawa

vii
serta kebersamaan selama berproses di Fakultas Peternakan, waktu yang dilalui

sungguh merupakan pengalaman hidup yang berharga dan tak mungkin untuk

terlupakan dan terima kasih telah memberi penulis sedikit tempat dihati teman-

teman untuk menjadikan penulis sahabat dan teriring dengan doa semoga rekan dan

sahabatku sukses selalu.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan untuk

itu saya memohon maaf atas kekurangan tersebut. Semoga skripsi ini bisa

bermanfaat.

Makassar, April 2018

Penulis

viii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .................................................................................... ii

PERNYATAAN KEASLIAN ...................................................................... iii

HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................... iv

ABSTRAK .................................................................................................... v

KATA PENGANTAR .................................................................................. vii

DAFTAR ISI ................................................................................................. ix

DAFTAR TABEL ........................................................................................ xi

DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xii

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xiii

PENDAHULUAN ......................................................................................... 1

TINJAUAN PUSTAKA

Ayam Lokal Indonesia ............................................................................ 4


Ayam Buras ............................................................................................ 5
Ayam Gaga ............................................................................................. 6
Sifat Kaualitatif ....................................................................................... 8
Keragaman Fenotip Ayam ...................................................................... 14

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat .................................................................................. 14


Materi Penelitian ..................................................................................... 14
Metode Penelitian ................................................................................... 14
Prosedur Penelitian ................................................................................. 15
Peubah yang diamati ............................................................................... 15
Analisis Data ........................................................................................... 15

HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................... 16

Karakteristik Sifat Kualitatif Ayam Gaga ............................................... 18


Warna Bulu ............................................................................................. 19
Pola Bulu ................................................................................................. 20

ix
Kerlip Bulu .............................................................................................. 21
Warna Shank ........................................................................................... 22
Bentuk Jengger ........................................................................................ 23
Warna Cuping ......................................................................................... 24
Warna Mata ............................................................................................. 24

KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 18

LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

x
DAFTAR TABEL

No. Halaman
Text

1. Proporsi Fenotip Ayam Gaga di Baranti dan Pancarijang… ........................ 16

xi
DAFTAR GAMBAR

No. Halaman
Text

1. Penampilan fisik ayam Gaga… ................................................................... 6

xii
DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman
Text

1. Peubah yang diamati (warna bulu, pola bulu dan kerlip bulu)… ................ 27

2. Peubah yang diamati (warna shank dan bentuk jengger)............................. 28

3. Peubah yang diamati (warna cuping, dan warna mata) ............................... 29

4. Dokumentasi kegiatan penelitian ................................................................. 30

xiii
PENDAHULUAN

Ayam lokal di Indonesia secara turun temurun telah dipelihara oleh

masyarakat, umumnya yang terdapat di pedesaan baik sebagai hewan piaraan,

penghias halaman, hewan aduan, keperluan ritual, maupun tabungan keluarga. Di

Provinsi Sulawesi Selatan terdapat ayam lokal yang memiliki karakter kokok yang

khas, yaitu suara penghujung kokoknya seperti suara tertawa manusia yang dikenal

dengan nama Manu’ Gaga. Ayam Gaga termasuk dalam kategori unggas yang

dilindungi (Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 2920/Kpts/OT.140/6/2011) dan

merupakan salah satu ayam buras yang sangat berpotensi dalam bisnis ayam hias di

Indonesia karena memiliki karakter kokok yang khas serta termasuk dalam kategori

plasma nutfah Sulawesi Selatan Indonesia.

Ayam Gaga atau Manu “Gaga” di habitat aslinya, terutama di Kecamatan

Baranti, Kabupaten Sidenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan dan sekitarnya,

dipelihara oleh masyarakat secara turun temurun. Secara fisik, bentuk tubuh ayam

Gaga enak dipandang mata dan warna bulunya juga menarik. Meskipun secara

kasat mata hampir sama dengan ayam Kampung namun keunikan suara kokok

ayam inilah yang menarik perhatian penggemar ayam hias untuk memeliharanya.

Berbagai kontes suara kokok ayam Gaga mulai marak di berbagai daerah dengan

hadiah mencapai puluhan juta rupiah. Hal tersebut menyebabkan ayam Gaga

memiliki harga jual yang tinggi bahkan mencapai jutaan rupiah per ekor.

Ketersediaan informasi ilmiah tentang patokan ciri-ciri sifat kualitatif dari

ayam Gaga saat ini sangat terbatas sehingga masih berdasarkan referensi dari ciri

sifat kualitatif ayam kampung pada umumnya. Padahal informasi genetik, ciri-ciri

sifat kualitatif serta kuantitatif sangat diperlukan sebagai acuan untuk melakukan

1
peningkatan mutu genetik ayam Gaga dan membantu dalam proses pelestarian

untuk pemanfaatannya yang berkelanjutan. Keterbatasan informasi ilmiah tentang

ayam Gaga menjadikan ayam Gaga menjadi salah satu jenis ayam lokal langka yang

perlu dieksplorasi. Peningkatan produktivitas tidak hanya dengan perbaikan

manajemen pemeliharaan, tetapi perlu pula dilakukan peningkatan mutu genetik

dengan mempertahankan sifat-sifat khas ayam Gaga tersebut.

Berdasarkan kondisi diatas, perlu dilakukan upaya-upaya untuk menjaga

kelestarian ayam Gaga agar tidak punah. Upaya pelestarian ayam Gaga

memerlukan studi tentang karakteristik sifat kualitatif dari ayam tersebut untuk

membantu program pemuliaannya karena identifikasi sifat kualitatif sangat penting

untuk membedakan ayam Gaga dengan ayam lokal lainnya.

Salah satu kendala bagi usaha pelestarian tipe ayam penyanyi seperti ayam

Gaga yaitu kurangnya informasi mengenai sifat kualitatif dari ayam tersebut

sehingga masih sulit untuk membandingkan ayam Gaga dengan ayam buras

lainnya. Studi ini diharapkan dapat menjadi tambahan informasi bagi usaha

pelestarian ayam Gaga sebagai salah satu plasma nutfah ternak Indonesia.

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi mengenai

karakteristik sifat kualitatif ayam Gaga.

Kegunaan penelitian ini yaitu hasil yang diperoleh dapat dijadikan sebagai

sumber informasi ilmiah mengenai karakteristik sifat kualitatif ayam Gaga yang

dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam usaha pelestarian dan pemuliaan

ayam Gaga.

2
TINJAUAN PUSTAKA

Ayam Lokal Indonesia

Ayam digolongkan ke dalam kingdom Animalia, filum Chordata, subfilum

Vertebrata, kelas Aves, super order Carinatae, ordo Galliformes dan spesies Gallus

gallus (Scanes et al., 2004). Williamson dan Payne (1993) menyatakan bahwa

nenek moyang ayam yang menyebar di seluruh dunia berasal dari empat jenis ayam

liar yaitu ayam Hutan Merah (Gallus gallus), ayam Hutan Sri Lanka (Gallus

lafayetti), ayam Hutan Abu-abu atau ayam Sonnerat (Gallus sonnerati) dan ayam

Hutan Jawa (Gallus varius). Nenek moyang ayam yang utama adalah ayam Hutan

Merah (Gallus gallus). Ayam lokal Indonesia termasuk ke dalam filum Chordata,

subfilum Vertebrata, kelas Aves, subkelas Neornithes, ordo Galliformes, genus

Gallus, spesies Gallus domesticus (Suprijatna dkk ., 2005).

Ayam lokal Indonesia yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia ternyata

memiliki beberapa rumpun dengan karakteristik morfologis yang berbeda dan khas.

Sejauh ini telah diidentifikasi sebanyak 31 rumpun ayam lokal yaitu Kampung,

Pelung, Sentul, Wareng, Lamba, Ciparage, Banten, Nagrak, Rintit/Walik, Sien,

Kedu Hitam, Kedu Putih, Cemani, Sedayu, Olagan, Nusa Penida, Merawang atau

Merawas, Sumatra, Belenggek, Melayu, Nunukan, Tolaki, Maleo, Jepun, Ayunai,

Tukung, Bangkok, Burgo, Bekisar, Cangehgar/Cukir/Alas dan Kasintu

(Nataamijaya, 2000)

Ayam lokal Indonesia selain dipelihara sebagai ayam pedaging dan petelur

juga merupakan hewan kesayangan yang bermanfaat sebagai penghias halaman,

aduan, keperluan ritual atau sebagai pemberi kepuasan melalui suara kokok yang

merdu. Informasi dasar yang meliputi ciri spesifik, asal usul, performa dan

3
produktivitas diperlukan sebagai sumber daya genetik ternak ayam lokal lebih

dikenal dan lebih dikembangkan secara berkelanjutan (Sulandari, dkk., 2007).

Ayam Buras

Ayam bukan ras (ayam Buras) merupakan salah satu sumber plasma nutfah

hewan Indonesia. Ayam Buras yang dikembangkan masyarakat Indonesia memiliki

karakteristik yang relatif homogen. Ayam-ayam tersebut diberi nama berdasarkan

nama daerah atau ciri khas yang dimilikinya. Potensi ayam bukan hanya pada

produksi daging dan telurnya namun ada beberapa bangsa pada unggas yang

dipelihara untuk tujuan kesenangan. Sesuai dengan fungsinya sebagai hewan

kesayangan, beberapa kelompok ternak ayam dipelihara untuk dinikmati keindahan

bulu atau bentuk tubuhnya, kemerduan suaranya, keunikan bentuk tubuhnya, untuk

menghilangkan kejenuhan, dan menghilangkan stres (Martojo, 1992).

Ayam buras merupakan hasil domestikasi dari jenis ayam hutan merah.

Martojo (1992) menyatakan bahwa nenek moyang ayam buras yang ada di

Indonesia berasal dari ayam hutan merah (Gallus gallus). Pendapat tersebut

diperkuat oleh Crawford (1990) yang menyatakan bahwa ayam hutan merah (Red

jungle Fowl) merupakan nenek moyang dari ayam domestikasi (Gallus gallus

domestikus) saat ini. Pendapat tersebut didasarkan pada hasil penelusuran bahwa

ayam buras Indonesia memiliki jarak genetik yang lebih dekat dengan ayam hutan

merah (Gallus gallus) dibandingkan dengan ayam hutan hijau (Gallus varius).

Namun demikian, adanya impor berbagai jenis bangsa ayam ke Indonesia, sejak

zaman Hindia Belanda mengakibatkan keaslian genetik ayam lokal tercemar

sehingga diperkirakan ayam Buras yang ada sekarang hanya memiliki gen asli

sebanyak 50%. Ayam hutan merah di Indonesia ada dua macam yaitu ayam hutan

4
merah Sumatera (Gallus gallus gallus) dan ayam hutan merah Jawa (Gallus gallus

javanicus) (Mansjoer, 1981).

Ayam Gaga

Ayam Gaga berasal dari Kabupaten Sidrap, propinsi Sulawesi Selatan dan

dikenal oleh masyarakat Sulawesi Selatan dengan sebutan Ma’nu Ga’ga yang

berarti gagap. Ayam Gaga memiliki suara kokok seperti suara tertawa manusia.

Ayam Gaga pada awal domestikasinya hanya dipelihara dan berkembangbiak di

lingkungan Keraton Bugis (Roiz, 2011 dalam Kuswardani, 2012). Perkembangan

dan penyebaran ayam Gaga atau yang dikenal dengan ayam Gaga dimulai dari

daerah Kabupaten Sidrap di kecamatan seperti Beranti, Pancarijang dan daerah

sekitarnya, diantaranya kampung Arasi’e, Simpo, Rapang, Paseno, Benteng dan

Tonronge. Kampung-kampung tua tersebut merupakan wilayah kerajaan Bugis

(Anonim, 2015).

Pola warna bulu ayam Gaga memiliki berbagai macam varian seperti ayam

lokal lain. Pola warna ayam Gaga meliputi korro (berwarna dasar warna hitam

dengan punggung kuning keemasan), ceppaga (adanya warna putih yang

bertaburan di dada hingga perut ayam), lappung (warna didominasi wmerah

kekuningan pada tubuhnya) dan bakka (dominasi warna putih pada seluruh bagian

tubuhnya) (Roiz, 2011 dalam Kuswardani, 2012).

Ayam Gaga merupakan ayam lokal yang mempunyai ciri khas suara ayam

jantannya seperti ketawa manusia dengan postur tubuh berpenampilan sedang

bahkan kecil, tetapi lebih besar dari ayam Kate, warna bulu tidak spesifik bervariasi

seperti ayam Kampung, bentuk jengger pada ayam Gaga jantan adalah besar

bergerigi dan berwarna merah (Suharno, 2002). Informasi tentang identifikasi

5
karakteristik penampilan luar dan potensi produktifitas ayam Gaga masih sangat

minim.

Ayam Gaga merupakan ayam Buras. Umumnya orang menyebut ayam

buras sebagai ayam Kampung, namun istilah buras dalam makna harfiahnya berarti

ayam yang berada diluar kategori ayam Ras (Suharno, 2002). Penampilan fisik

ayam Gaga dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Penampilan fisik ayam Gaga, ukuran tubuh sedang dan warna bulu
tidak spesifik. (Sumber: Sartika dan Iskandar 2008)

Secara umum, penampilan fisik yaitu warna bulu dan ukuran tubuhnya dari

ayam Gaga hampir sama dengan ayam Kampung (Bugiwati, dkk., 2103), sehingga

taksonomi ayam Gaga mengikuti ayam Kampung (Gallus gallus domesticus).

Taksonomi ayam Kampung menurut Crawford (1990) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Aves

Subkelas : Neornithers

Ordo : Galliformers

Famili : Phasianidae

Genus : Gallus

6
Spesies : Gallus gallus

Subspesies : Gallus gallus domesticus

Ayam Gaga sudah ditetapkan sebagai ayam lokal Indonesia yang

mempunyai sebaran asli geografis di Provinsi Sulawesi Selatan secara hukum oleh

Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 2920/Kpts/OT.140/6/2011 tentang Penetapan

Rumpun Ayam Gaga, tetapi informasi ilmiah mengenai deskripsi fenotip, ciri-ciri

morfologi, ciri-ciri reproduksi, sifat-sifat reproduksi, dan gambaran profil darah

ayam Gaga belum dilaporkan (Bugiwati dan Fachri, 2013).

Sifat Kualitatif

Sifat kualitatif merupakan sifat yang dikontrol oleh beberapa gen yang

memiliki perbedaan yang jelas antar fenotipnya, biasanya bersifat tidak aditif, dan

variasinya tidak kontinyu (Noor, 2008). Menurut Warwick, et al., (1995), sifat

kualitatif adalah suatu sifat yang dapat mengklasifikasikan individu-individu ke

dalam satu dari dua kelompok atau lebih dan pengelompokan itu berbeda jelas

satusama lain. Sifat kualitatif sering dipertimbangkan dalam program pemuliaan

karena secara tidak langsung sifat ini berpengaruh terhadap sifat produksi. Sifat

kualitatif dikendalikan oleh satu atau beberapa gen dan sedikit atau tidak sama

sekali dipengaruhi oleh lingkungan, sehingga variasi genetik juga menunjukkan

variasi sifat kualitatif. Karakteristik genetik eksternal dapat netral, bermanfaat atau

merugikan, tergantung pada lingkungan ternak itu dipelihara. Beberapa sifat

kualitatif yang penting yang merupakan ciri khas yang dipakai sebagai patokan

untuk penentuan suatu bangsa ayam diantaranya adalah warna bulu, warna

kerabang, warna cakar (shank) dan bentuk jengger yang tidak dipengaruhi oleh

lingkungan (Mansjoer, 1985).

7
Karakteristik Warna Bulu dan Pola Bulu

Hutt (1994) menyatakan bahwa gen warna bulu bersifat dominan (I)

ditentukan pada bangsa ayam White Leghorn, Pile Games dan La-Baesse yang

secara genetik merupakan karakteristik yang diwariskan menyimpang dari hukum

Mendel. Karakteristik ini menurut Hadley (1913) yang dikemukakan oleh Hutt

(1949) dikenal dengan simbol I (inhibitor untuk warna bulu). Sifat inhibitor

merupakan sifat dominan tidak lengkap pada keadaan heterozigot (Ii) (Hutt, 1949).

Hutt (1949) menyatakan bahwa warna hitam polos dengan simbol gen E

diekspresikan pada penampilan bulu hitam diseluruh bagian bulu dan biasa terlihat

pada permukaan bulu yang dibatasi pada bulu leher, bulu besar sayap dan bulu ekor.

Ayam mempunyai warna bulu (hitam, pola warna bulu tipe liar, pola warna tipe

columbian, bulu putih (I atau cc) serta corak bulu lurik), warna shank (putih/kuning,

hitam, atau kehijauan) dan bentuk jengger tunggal/single comb, ros atau bentuk

kapri yang bervariasi (Mansjoer, 1989).

Karakteristik Bentuk Jengger

Jengger merupakan bentuk modifikasi dari kulit yang terdapat pada bagian

puncak kepala, biasanya berwarna merah dan mempunyai bentuk yang beragam

(tunggal, ros, kapri, cushion, buttercup, bentuk arbei atau bentuk V) (Ensminger,

1992). Menurut Jull (1951), jengger, pial (wattle) dan cuping (earlobe) merupakan

perkembangan dari dermis yang tertutup oleh lapisan epidermis. Jengger juga

merupakan bagian tubuh unggas yang membedakannya dengan bangsa burung yang

lain.

Jull (1951) mengemukakan bahwa jengger ros dan kapri bersifat dominan

terhadap jengger tunggal. Jika gen ros dan kapri bertemu maka akan terbentuk

8
jengger walnut yang dominan terhadap jengger ros, kapri, dan tunggal. Somes

(1988) menjelaskan bahwa gen bentuk jengger kapri merupakan gen tidak terkait

kelamin yang bersifat dominan tidak lengkap, yang pada keadaan heterosigot

terlihat lebih jelas yaitu bilah bagian tengah mencuat ke atas dengan dua bilah di

sampingnya yang lebih pendek dan kecil.

Karakteristik Warna Shank

Menurut Jull (1951), warna shank merupakan penampakan dari adanya

beberapa pigmen tertentu pada epidermis dan dermis. Warna kuning pada shank

ayam bangsa Amerika dan bangsa-bangsa yang lain adalah karena adanya lemak

atau pigmen lipokrom (lypocrome) pada lapisan epidermis sedangkan pigmen hitam

atau melanin tidak terdapat pada epidermis dan dermis. Shank yang berwarna hitam

disebabkan oleh adanya pigmen melanin pada epidermis. Shank warna putih pada

beberapa ayam bangsa Inggris muncul karena tidak adanya kedua pigmen

(lipokrom dan melanin) pada epidermis maupun pada dermis. Shank (cerah dan

gelap) pada bangsa ayam kulit putih disebabkan karena adanya pigmen melanin

pada dermis, tetapi pigmen melanin dan lipokrom tidak terdapat pada epidermis:

sedangkan adanya pigmen lipokrom pada epidermis dan pigmen melanin pada

dermis menyebabkan shank warna hijau (Jull, 1951). Adanya corak lurik (gen B)

pada ayam dapat mengurangi jumlah pigmen melanin pada shank (Hutt, 1949).

Perubahan warna pada shank yang berwarna kuning pada ayam betina dapat

digunakan untuk memperkirakan tingkat produksi telur yang dihasilkan dan pada

proses pengafkiran ayam petelur (Jull, 1951). Pigmen lipokrom yang terdapat pada

shank sama dengan pigmen kuning yang terdapat pada telur, sehingga warna shank

dapat dijadikan indikasi tingkat produksi telur seekor ayam.

9
Karakteristik Warna Cuping

Menurut Crawford (1990) sebagian besar breed ayam mempunyai cuping

berwarna merah, meskipun breed dari kelas Mediteranian (Leghorn, Minorca dan

Spanish) mempunyai cuping berwarna putih. Pada ayam Hutan Merah ditemukan

campuran antara cuping merah dan putih dengan warna merah lebih dominan.

Karakteristik Warna Mata

Menurut Crawford (1990) semua ayam, kecuali golongan albino, mempunyai

warna mata gelap pada saat menetas. Warna mata sesungguhnya belum dapat

dilihat sampai dewasa kelamin (ketika pigmen melanin dan karoten diekspresikan

secara penuh). Hasil penyilangan antara breed ayam bermata coklat berbulu hitam

dengan breed ayam mata bay dengan pembatas warna bulu hitam ternyata dapat

mengetahui hubungan antara warna mata yang mengandung melanin dengan warna

bulu gelap.

Keragaman Fenotip Ayam

Keragaman fenotip (σP) merupakan keragaman yang disebabkan oleh adanya

keragaman genetik (σG), keragaman lingkungan (σE), serta keragaman yang timbul

akibat adanya interaksi antara faktor genetik dengan faktor lingkungan (σGE).

Keragaman genetik bisa disebabkan oleh gen-gen aditif (σA) dan juga oleh gen yang

tidak aditif (σNA). Aksi gen yang tidak aditif ini bisa disebabkan oleh aksi gen

dominan (σD) dan aksi gen epitasis (σI). Jadi secara lengkap keragaman fenotip

dipengaruhi oleh keragaman aditif, keragaman gen dominan, keragaman interaksi

genetik dan lingkungan, keragaman lingkungan dan keragaman gen epistasis.

Keragaman lingkungan (σE) dapat disebabkan oleh faktor iklim, cuaca, makanan,

10
penyakit, dan sistem manajemen (Noor, 2008). Menurut Mansjoer (1985)

keragaman fenotip pada suatu sifat pada suatu kelompok ternak merupakan

petunjuk keragaman genotip ternak serta merupakan ekpresi adanya interaksi antara

genotip dan lingkungan dalam kelompok ternak tersebut. Mansjoer, dkk, (1989)

menekankan bahwa keragaman sifat kualitatif dapat dijadikan gambaran

keragaman genetik. Menurut Warwick, et al., (1995) perbandingan keragaman sifat

akan mudah dilakukan bila simpangan baku dinyatakan sebagai persentase dari

rata-rata. Simpangan baku yang dinyatakan sebagai persentase dari rata-rata disebut

koefisien keragaman (coefficient of variation). Sifat-sifat tertentu untuk suatu

bangsa ternak mempunyai koefisien keragaman khusus, sehingga pengetahuan

tentang hal ini sangat berharga untuk merencanakan atau mengevaluasi percobaan.

11
MATERI DAN METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2017, di

Kecamatan Baranti dan Pancarijang Kabupaten Sidrap. Lokasi tersebut dipilih

karena daerah Sidrap merupakan pusat populasi terbanyak ayam Gaga dan

merupakan daerah asal-usul ayam Gaga.

Materi Penelitian

Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah 115 ekor ayam Gaga

jantan dan 55 ekor ayam Gaga betina berumur minimal 1 tahun.

Alat yang digunakan adalah alat tulis, tabel pengamatan dan kamera digital.

Metode Penelitian

Metode pengumpulan data menggunakan metode survei dengan melakukan

observasi dan pengamatan langsung pada peternakan ayam Gaga di Kecamatan

Baranti dan Pancarijang Kabupaten Sidrap, Provinsi Sulawesi Selatan.

Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling

yang merupakan teknik pengambilan data non random sampling dimana peneliti

menentukan pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri khusus yang sesuai

dengan tujuan penelitian sehingga mampu menjawab permasalahan penelitian.

Prosedur Penelitian

Penentuan Lokasi

Lokasi penelitian ditentukan secara purposive method berdasarkan hasil

survei dan informasi dari masyarakat yang menunjukkan bahwa ayam Gaga

terdapat di Kabupaten Sidrap.

12
Pengumpulan Data

Ayam Gaga yang digunakan adalah milik peternakan rakyat yang terdapat di

dua kecamatan tersebut. Pengambilan data dilakukan dengan cara mengamati dan

mencatat berbagai sifat kualitatif ayam Gaga jantan dan betina, mengambil gambar

dari bagian tubuh (kepala, punggung, kaki, dan keseluruhan tubuh) dan hasil yang

diperoleh disajikan dalam bentuk tabel.

Peubah yang diamati

Penentuan warna bulu, pola warna bulu, kerlip warna bulu, dan warna shank,

bentuk jengger menggunakan pedoman Somes (1988) dan untuk warna mata dan

warna cuping sebagai peubah yang diamati dalam penelitian ini menggunakan

pedoman FAO (1986). Dasar penentuan karakteristik kualitatif peubah adalah

sebagai berikut:

1. Warna Bulu dibedakan menjadi :

a. Warna bulu putih (bila pada seluruh permukaan pada bulu ayam berwarna

putih)

b. Berwarna (bila ditemukan warna selain putih pada permukaan bulu di

sekujur tubuh ayam) (Lampiran 1).

2. Pola warna bulu dibedakan menjadi :

a. Pola warna kolumbian (umumnya berwarna coklat dan dibatasi warna

hitam pada bagian leher, sayap dan ekor)

b. Pola warna liar (bila ditemukan warna hitam pada bagian dada dan

ventral) (Lampiran 1).

3. Kerlip warna bulu dibedakan menjadi :

13
a. Kerlip bulu keperakan (warna putih mengkilap pada bulu leher dan kepala,

terdapat pada ayam yang memiliki warna bulu putih, lurik hitam dan putih)

a. Kerlip warna bulu keemasan (warna kuning keemasan pada bulu leher dan

kepala, terdapat pada ayam yang memiliki warna bulu hitam, coklat, lurik

hitam dan coklat) (Lampiran 1).

4. Warna shank dibedakan menjadi :

Warna shank hitam/abu-abu, putih, dan kuning (Lampiran 2).

5. Bentuk jengger dibedakan menjadi :

a. Bentuk jengger kapri (bila ditemukan bentuk jengger berpilah tiga pada

ayam)

b. Bentuk jengger tunggal (bila ditemukan bentuk jengger berpilah satu atau

tunggal pada ayam) (Lampiran 2).

6. Warna cuping dibedakan menjadi :

Warna cuping merah, putih, dan perpaduan antara merah dan putih dengan

warna dominan merah (Lampiran 3).

7. Warna mata dibedakan menjadi :

Warna mata orange, coklat dan kuning (Lampiran 3).

Analisis Data

Data hasil penelitian ditabulasi berdasarkan jenis kelamin. Seluruh peubah

yang diamati (sifat-sifat kualitatif) dihitung menjadi nilai frekuensi relatif

(persentase) dan disajikan secara deskriptif. Frekuensi relatif sifat-sifat kualitatif

dihitung berdasarkan jumlah fenotip yang muncul dibagi dengan jumlah seluruh

individu ayam dikali 100% (Rasyad, 2003).

ΣA
Frel = 𝑥 100%
𝑛

14
Keterangan:

Frel = Frekuensi relatif

A = Jumlah sifat yang diamati

N = Jumlah sampel yang diamati

15
HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Sifat Kualitatif Ayam Gaga

Fenotip ayam Gaga jantan maupun betina di Kecamatan Baranti dan

Pancarijang, Kabupaten Sidrap, Provinsi Sulawesi Selatan secara umum adalah

sama, terdapat variasi pada warna shank dan warna mata. Ayam Gaga di Kecamatan

Baranti dan Pancarijang memiliki fenotip di luar kriteria dari Somes (1988) yaitu

pada pola bulu (Hitam) dan bentuk jengger (mawar). Karakteristik dan persentase

fenotip ayam Gaga di Kecamatan Baranti dan Pancarijang, Kabupaten Sidrap

disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Fenotip Ayam Gaga di Kecamatan Baranti dan Pancarijang


Fenotip (%)
Karakteristik Baranti Pancarijang
(Fenotip; Simbol gen) Jantan Betina Jantan Betina
(n=65) (n=30) (n=50) (n=25)
Warna Bulu Putih (I_) 6.15 23.33 6.00 16.00
Berwarna (ii) 93.84 76.66 94.00 84.00
Pola Bulu Hitam (E_)* 32,30 83,33 32,00 80,00
+
Liar (e ) 67,69 16,66 68,00 20,00
Columbian (ee) - - - -
Kerlip Bulu Perak (S_) 36.92 20,00 22,00 40,00
Emas (ss) 63.07 80,00 78.00 60,00
Warna Shank Putih (Id) 29.23 40,00 30,00 28,00
Kuning 53.84 33,33 28,00 36,00
Hitam/Abu (id) 16.92 26,66 42,00 36,00
Bentuk Jengger Kapri 6.15 23.33 6.00 72,00
Tunggal 86.15 60,00 86.00 28,00
Mawar* 7.69 3.33 8.00 -
Warna Cuping Merah 90.76 70,00 82,00 92.00
Putih 4.61 3.33 8.00 4,00
Merah-Putih 4.61 6.66 10.00 4,00
Warna Mata Orange 23.07 43.33 38.00 36,00
Coklat 23.07 23.33 30.00 32,00
Kuning 53.84 33.33 32.00 32,00
Ket : n = ekor, (*) Hasil penelitian di luar kriteria yang ditentukan oleh Somes
..........(1988)

16
Warna Bulu

Warna bulu kategori berwarna mendominasi warna bulu ayam Gaga jantan

maupun betina di Kecamatan Baranti dan pancarijang, dan hanya sedikit saja ayam

Gaga dengan warna bulu putih. Pada kedua Kecamatan, proporsi warna bulu

kategori berwarna ayam Gaga jantan lebih tinggi dibandingkan ayam Gaga betina.

Dalam penelitian ini ditemukan kombinasi warna bulu kategori berwarna pada

ayam Gaga jantan maupun betina yaitu hitam, putih-hitam, coklat dan hitam-coklat

dengan beberapa kombinasi warna bulu lainnya yang banyak di temukan pada galur

ayam lain khususnya pada ayam jantan. Kombinasi warna bulu tersebut juga

terdapat pada ayam-ayam lokal lainnya, sehingga hal tersebut belum dapat

dijadikan ciri khas atau identitas ayam Gaga.

Warna bulu yang beragam pada ayam Gaga dipengaruhi oleh kerja gen i

yang memicu produksi pigmen melanin. Pigmen melanin terbagi menjadi dua tipe

yaitu eumelanin yang membentuk warna hitam dan biru pada bulu dan pheomelanin

yang membentuk warna merah-coklat, salmon, dan kuning tua (Brumbaugh dan

Moore, 1968).

Sifat bulu putih dikontrol oleh gen I (inhibitor) yang dalam keadaan

heterozigot (Ii) bereaksi secara dominan lengkap yang ditujukkan dengan adanya

spot dan garis hitam pada bagian bulu ayam saat dewasa. Sedangkan dalam keadaan

homozigot menghalangi produksi pigmen hitam dan mengurangi pigmen merah

pada bulu (Somes, 1988). Warna bulu putih dominan (I_) juga ditemukan pada

galur ayam lokal seperti ayam Pelung dan Tolaki dengan persentase kecil (Rusdin,

2007; Rizkiana, 2011). Kondisi tersebut menggambarkan bahwa sifat warna bulu

putih pada ayam Gaga adalah resesif dibandingkan dengan ayam lokal lainnya.

17
Pola Bulu

Pola bulu ayam Gaga jantan dan betina yang ditemukan di Kecamatan

Baranti dan Pancarijang adalah pola hitam (E_), dan pola liar (e+). Sedangkan pola

bulu Kolombian tidak ditemukan. Hal tersebut kemungkinan karena belum adanya

upaya peternak lokal yang melakukan persilangan antar ayam Gaga dengan ayam

lokal lainnya yang memiliki galur pola bulu kolombian, sehingga potensi

munculnya pola bulu tersebut belum terlihat. Dalam penelitian ini proporsi

kemunculan pola bulu liar (e+) pada ayam Gaga jantan di Kecamatan Baranti dan

Pancarijang lebih dominan dibandingkan pola bulu hitam, sebaliknya pada ayam

Gaga betina didominasi oleh pola bulu hitam (E_). Tingginya frekuensi pola bulu

liar pada ayam Gaga jantan dan pola bulu hitam pada betina diduga karena ayam

Gaga masih mempunyai jarak genetik yang dekat dengan ayam hutan merah

Sumatera (Gallus gallus gallus), dimana ciri-ciri warna bulunya yang khas untuk

jantan adalah tipe liar dan untuk betina coklat bergaris hitam. Hal ini sesuai dengan

pendapat Nishida et al. (1980) dan Mansjoer (1985) yaitu ayam Kampung di

Indonesia mempunyai jarak genetik yang lebih dekat terhadap ayam hutan merah

Sumatera (Gallus gallus gallus) dan ayam hutan merah Jawa (Gallus gallus

javanicus) dibandingkan dengan ayam hutan hijau (Gallus varius).

Hasil serupa dilaporkan oleh Subekti dan Arlina (2011) yang menggunakan

ayam Kampung yaitu fenotip pola bulu liar adalah dominan untuk ayam jantan (38

%) dan pola bulu hitam adalah dominan pada ayam betina (50 %). Hasil yang

berbeda dilaporkan oleh Rizkiana, (2011) yaitu fenotip pola bulu ayam lokal jantan

dan betina Tolaki dan Pelung, memiliki pola bulu hitam (E_), liar (e+e+) dan

kolombian (ee) (Rizkiana, 2011). Perbedaan fenotip ini mengindikasikan bahwa

18
diantara ayam lokal pun memiliki galur yang berbeda-beda secara genetik.

Warwick, et al., (1995), menyatakan bahwa perbedaan sifat-sifat kualitatif hampir

seluruhnya ditentukan oleh perbedaan genetik, sedangkan perbedaan lingkungan

memberikan pengaruh yang kecil bahkan tidak ada, sehingga variasi sifat kualitatif

juga merupakan variasi genetik.

Kerlip Bulu

Proporsi fenotip pada kerlip bulu ayam Gaga jantan dan betina yang terdapat

di Baranti dan Pancarjang adalah didominasi oleh kerlip bulu keemasan. Namun

berbeda pada ayam Gaga betina di Kecamatan Pancarijang yang relative seimbang

antara proporsi kerlip bulu keemasan dan keperakan. Gen kerlip bulu keperakan (S)

dan keemasan (s) merupakan gen terpaut kelamin (sex linked) (Stutervan, 1912

dalam Hutt, 1994).

Kerlip bulu perak biasanya ditemukan pada warna bulu merah, hijau, coklat,

hitam dan putih, sedangkan kerlip bulu emas ditemukan pada bulu yang mempunyai

warna bulu kuning keemasan (Rusdin, 2007). Kerlip bulu serupa sifat terpaut

kelamin sehingga pada jantan ditemukan dalam kondisi homozigot atau

heterozigot, sedangkan pada betina dalam kondisi hemizigot (Hutt, 1949). Namun

kerlip bulu tidak begitu tampak jelas pada warna bulu dengan kombinasi warna

yang lebih beragam.

Indikasi tingginya homozigositas (SS) sifat kerlip bulu dalam populasi ayam

Gaga sangat dipengaruhi sistem perkawinannya. Warwick, et. al., (1995)

menyatakan bahwa silang dalam (inbrreding) dapat mengakibatkan peningkatan

homozigositas dan `menurunkan heterozigositas.

19
Warna Shank

Hasil penelitian menunjukkan warna shank ayam Gaga jantan dan betina di

Kecamatan Baranti dan Pancarijang adalah putih, kuning dan hitam/abu-abu namun

dengan frekuensi fenotip yang beragam. Frekuensi warna shank kuning pada ayam

jantan Baranti adalah paling tinggi putih (Id) dan rendah pada warna hitam/abu (id),

sedangkan pada betina didominasi oleh warna shank putih (Id) dan resesif pada

warna shank kuning dan hitam/abu (id). Berbeda pada ayam Gaga jantan di

Pancarijang, yang didominasi oleh warna shank hitam (id), sedangkan pada ayam

Gaga betina cenderung berwarna shank kuning atau hitam/abu (id).

Perbedaan warna shank disebabkan oleh keberadaan pigmen karotenoid

pada epidermis dan tidak adanya pigmen melanin pada epidermis dan dermis (Jull,

1951). Namun bila pigmen karotenoid dan melanin tidak ada maka shank akan

berwarna putih (Ensminger, 1992)

Warna shank kuning pada ayam Gaga kemungkinan disebabkan oleh

kombinasi pigmen yang berbeda dilapisan atas dan bawah kulit. Hal ini sesuai

dengan pernyataan Somes (1978) yang menyatakan bahwa warna kuning pada

shank dikarenakan adanya lemak atau pigmen lipokrom pada lapisan epidermis.

Bentuk Jengger

Fenotip bentuk jengger yang ditemukan di Kecamatan Baranti dan

Pancarijang adalah kapri, tunggal, dan mawar. Ayam Gaga jantan dan betina di

Kecamatan Baranti maupun Pancarijang didominasi oleh bentuk jengger tunggal,

kecuali ayam Gaga betina di Kecamatan Pancarijang lebih didominasi oleh bentuk

jengger kapri. Ayam lokal Indonesia yang sudah memiliki keseragaman sifat bentuk

jengger diantaranya adalah ayam Pelung, Kedu Hitam dan Kedu putih. Rusdin

20
(2007) melaporkan bahwa bentuk jengger ayam Pelung 100% adalah jengger

tunggal (single) dan sudah menjadi salah satu standarisasi sifat kemuniannya.

Sementara Johari et al., (2009) menyatakan ayam Kedu hitam dan kedu putih

memiliki bentuk jengger yang sama yaitu tunggal dengan frekuensi 100%.

Kemiripan proporsi keseragaman bentuk jengger ayam Gaga mengindikasikan

kemungkinan ayam Gaga adalah berada dalam satu rumpun dengan ayam lokal

tersebut.

Bentuk jengger kapri lebih dominan muncul pada ayam Gaga betina di

Kecamatan Baranti dan Pancarijang, sedangkan bentuk jengger tunggal dan mawar

lebih sering ditemukan pada ayam Gaga jantan di Kecamatan Baranti dan

Pancarijang.

Proporsi bentuk jengger ayam Gaga pada penelitian ini agak berbeda

dibandingkan ayam kampung, seperti yang dilaporkan Samra (2002) dalam Afriani,

et al., (2003) bahwa bentuk jengger ayam kampung terdiri atas bentuk pea 29%,

single 21%, walnut 12% dan rose 38%. Mansjoer (2003) menyatakan bahwa ayam

kampung memiliki tingkat keragaman yang lebih tinggi dibandingkan ayam lokal

lainnya.

Warna Cuping

Cuping telinga merupakan daging tebal yang terletak di bagian bawah

telinga . Menurut Suprijatna, et al. (2005) warna cuping bervariasi sesuai dengan

masing-masing bangsa ayam. Warna cuping ayam Gaga yang terdapat di

Kecamatan Baranti dan Pancarijang adalah warna cuping merah, merah-putih dan

putih. Proporsi kemunculan warna merah pada cuping lebih tinggi ditemukan pada

ayam Gaga jantan dan betina di Kecamatan Baranti maupun Pancarijang. Pada

21
kedua Kecamatan, terlihat bahwa warna cuping putih dan merah-putih memiliki

proporsi lebih rendah ditemukan pada kedua jenis kelamin.. Crawford (1990)

menyatakan bahwa sebagian besar breed ayam mempunyai cuping berwarna

[Link] ayam Hutan Merah ditemukan campuran antara cuping merah dan

putih dengan warna merah lebih domin.

Warna Mata

Warna mata ayam Gaga jantan dan betina yang terdapat di Kecamatan

Baranti dan Pancarijang adalah warna orange, coklat, dan kuning. Pada penelitian

ini frekuensi fenotip warna mata ayam Gaga yang ditemukan sangat beragam.

Ayam Gaga jantan di Kecamatan Baranti didominasi oleh warna mata kuning

sedangkan ayam betina didominasi warna mata orange. Sementara ayam Gaga

jantan dan betina di Pancarijang relatif seragam.

Warna mata sesungguhnya belum dapat dipastikan hingga saat dewasa

kelamin yaitu ketika pigmen melanin dan karoten diekspresikan secara penuh. Hasil

penyilangan antara breed ayam bermata coklat berbulu hitam dengan breed ayam

mata bay dengan pembatas warna bulu hitam ternyata dapat mengetahui hubungan

antara warna mata yang mengandung melanin dengan warna bulu gelap (Crawford,

1990).

22
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Beberapa hal yang dapat di simpulkan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Heterogenitas sifat kualitatif ayam Gaga jantan dan betina masih relatife tinggi.

2. Warna bulu ayam Gaga jantan maupun betina didominasi oleh kategori bulu

berwarna (ii) dan resesif pada kategori putih (I_).

3. Pola warna bulu ayam Gaga jantan yaitu didominasi oleh pola bulu liar

dedangkan pada betina adalah hitam.

4. Bentuk jengger tunggal dan warna cuping adalah proporsi fenotip paling tinggi

pada ayam Gaga.

5. Proporsi fenotip warna shank dan warna mata pada ayam Gaga masih beragam.

Saran

Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa sifat-sifat kualitatif dan ayam

Gaga di Kecamatan Baranti dan Pancarijang masih beragam, disarankan agar dalam

program pemuliaan ayam Kampung dilakukan dengan program seleksi.

23
DAFTAR PUSTAKA

Afriani T., D Ahmat, & Afrianto. 2003. Karakteristik Genetik Eksternal Ayam
Bangkok. Laporan Penelitian Fakultas Peternakan Universitas
Andalas, Padang.

Brumbaugh, J. A. & J. W. Moore. 1968. The Effects of E Allels Upon


Melanocytes Differentiation. In: Crawford. R. D. (Ed). Poultry
Breeding and Genetics. Departement of Animal and Poultry Science.
University of Saskatchewen, Saskatoon.

Bugiwati, S.R.A., A. Fachri. 2013. Crowing sound analysis of Gaga chicken:


local chicken from South Sulawesi Indonesia. International Journal
of Plant, Animal and Environmental Sciences. 3(2):163-168.

Bugiwati, S.R.A., Harada, H., Dagong, M.I.A., Rahim, L. & Prahesti, K.I. 2013.
Study of Body Dimension of Gaga Chicken, Germ Plasm of Local
Chicken from South Sulawesi˗Indonesia. International Journal of
Plant, Animal and Environmental Sciences. 3(4):204-209.

Crawford, R. D. 1990. Poultry Breeding and Genetics. Animal and Veterinary


Sciences. Vol: 22. Amsterdam: Elsevier.

Crawford, R. D. 1990. Poultry Genetic Resources: Evolution, Diversity, and


Conservation. In: Poultry Breeding and Genetics. R. D. Crawford
(Ed). Elsevier Science Publishers, Amsterdam.

Ensminger, M. E. 1992. Poultry Science. 3rd Ed. Interstate Publishers, Inc. USA.

FAO. 1986. Animal genetic resources data banks: descriptor lists for poultry.
Animal production and health paper 59/3. 13-27. Rome.

Hutt, T. B. 1949. Genetics of The Fowl. Hill Book Company, Inc., New York.

Johari, S., Sutopo & A. Santi. 2009. Frekuensi fenotipik sifat-sifat kualitatif ayam
Kedu dewasa. Makalah seminar nasional kebangkitan peternakan,
Semarang.

Jull, M. A. 1951. Poultry Husbandry. 3rd Ed. Mc Graww-Hill Book Company,


Inc., New York.

Mansjoer, S.S. 1985. Pengkajian Sifat-Sifat Produksi Ayam Kampung beserta


Persilangannya dengan Rhode Island Red. Disertasi. Fakultas
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Mansjoer, S.S. 2003. Potensi ayam buras di Indonesia. Makalah semiloka


pengkajian pengembangan produksi bibit ayarn Buras dan Itik, Cisarua-
Bogor.

24
Mansjoer, I., S.S. Mansjoer & D. Sayuti. 1989. Studi banding sifaf-sifat biologis
ayam Kampung, ayam Pelung dan ayam Bangkok. Laporan
Penelitian. Lembaga Penelitian. Institut Pertanian Bogor.

Martojo H. 1992. Peningkatan Mutu Genetik Ternak. Departemen Pendidikan


dan Kebudayaan. Direktorat Pendidikan Tinggi. Pusat Antar
Universitas.

Nataamijaya, A. G. 2000. The Native Chicken of Indonesia. Bulletin Plasma


Nutfah VI (1):1-6.

Nishida, T., K. Nozawa, K. Kondo, S. S. Mansjoer & H. Martojo. 1980.


Morphological and genetical studies in the Indonesian native fowl.
The Origin and Phylogeny of Indonesian Native Livestock. I:4770

Noor, R. R. 2008. Genetika Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta.

Rasyad 2003. Metode Statistik Deskriptif untuk Umum. Grasindo. Jakarta.

Sartika, T. & Sofyan Iskandar. 2007. Mengenal Plasma Nutfah Ayam Indonesia
dan Pemanfaatannya. Balai Penelitian Ternak, Bogor.

Rizkiana, W., 2011. Karakteristik genetic eksternal ayam tolaki di Kabupaten


Konawe. [Skripsi]. Fakultas Peternakan. Universitas Haluoleo.
Kendari.

Roiz. 2011. Ayam Ketawa. Kompas Gramedia. Jakarta.

Rusdin, M., 2007. Analisis fenotipe, genotipe dan suara ayam pelung di
Kabupaten Cianjur. [Tesis]. Program Pascasarjana. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.

Scanes, C. G., G. Brant. & M. E. Ensminger. 2004. Poultry Science. Pearson


Education Inc., New Jersey.

Soedirdjoatmojo, M. D. S. 1984. Beternak Ayam Kampung. Badan Penerbit


Karya Bani, Jakarta.

Suharno B. 2002. Agribisnis Ayam Buras. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.

Somes, R. G. 1988. International Registry of Poultry Genetics Stock. Bulletin


Documen no 476. Storrs Agricultural Experiment Station, The
University of Connecticut, Storss.

Sudaryanti, T. & H. Santosa. 1994. Pembibitan Ayam Ras. Penebar Swadaya,


Jakarta

25
Sulandari, S., M. S. A. Zein., S. Paryanti., T. Sartika., M. Astuti., T. Widjastuti,
E. Sudjana., S. Darana., I. Setiawan & D. Garnida. 2007. Sumberdaya
Genetik Ayam Lokal. Keanekaragaman Sumber Daya Hayati Ayam
Lokal Indonesia: Manfaat dan Potensi. Pusat Penelitian Biologi
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta: hlm 45-67.

Suprijatna, E., U. Atmomarsono & R. Kartosudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak


Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Warwick, E. J., J. M. Astuti & W. Hardjosubroto. 1995. Pemuliaan Ternak. Edisi


Kelima. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Wati, D. K. 2007. Karakteristik Genetik Eksternal pada Ayam Wareng


Tanggerang dan Ayam Kampung. Skripsi. Program Studi Teknologi
Produksi Peternakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor,
Bogor.

Williamson, G. & W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis.


Terjemahan: SGN Djiwa Darmadja. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta

26
Lampiran 1. Peubah yang diamati (warna bulu, pola bulu dan kerlip bulu)

Warna Bulu :

(a) (b)
(a)Warna Putih dan (b) Berwarna

Pola Warna Bulu :

(a) (b)
(a) Pola Warna Bulu Liar dan (b) Pola Warna Bulu Kolombian

Kerlip Warna Bulu :

(a) (b)
(a) Kerlip Bulu Keemasan dan (b) Kerlip Bulu Keperakan

27
Lampiran 2. Peubah yang diamati (warna shank dan bentuk jengger)

Warna shank:

(a) (b) (c)


(a) Shank putih, (b) Shank hitam/abu, (d) Shank Kuning (FAO, 1986)

Bentuk Jengger :

(a) (b) (c)

(a) Variasi bentuk jengger ayam : (a) Tunggal, (b) Kapri/Pea, (d) Mawar/Rose.
(FAO, 1986)

28
Lampiran 3. Peubah yang diamati (warna cuping, dan warna mata)

Warna cuping :

(a) (b) (a)

(a) Merah,(b) Putih, (c) Merah-Puith (FAO, 1986)

Warna mata:

(a) (b) (a)


(a) Mata Oranye, (b) Mata Coklat, (c) Warna Mata Kuning (FAO, 1986)

29
Lampiran 4. Dokumentasi kegiatan penelitian

30
RIWAYAT HIDUP

Ahmad Syakir, Penulis merupakan anak pertama dari 3

bersaudara oleh Pasangan Samaila dan Sumiaty yang di

lahirkan di Kota Makassar Kecamatan Mariso pada

tanggal 31 Mei 1995. Penulis memulai pendidikan pada

tahun 2001 di Sekolah Dasar Negeri 1 Bontorannu

Makassar dan telah lulus pada tahun 2008 di SD 6

Muhammadiah, kemudian melanjutkan pendidikan di

SMP Negeri 1 Bola Kabupaten Wajo pada tahun yang sama dan tamat pada tahun

2010. Penulis kemudian memasuki jenjang pendidikan menengah atas di SMA

Negeri 1 Bola Kabupaten Wajo. Tahun 2013 penulis diterima sebagai mahasiswa

Universitas Hasanuddin Makassar, penulis aktif diberbagai kegiatan seperti

organisasi intra maupun ekstra kampus. Di dalam kampus penulis mulai

mengembangkan diri dalam beberapa lembaga seperti Himpunan Mahasiswa

Produksi Ternak (HIMAPROTEK), Forum Studi Ilmiah (FOSIL), dan Himpunan

Pelajar Mahasiswa Wajo (HIPERMAWA) Koperti UNHAS serta beberapa kali

mengikuti kegiatan kepenulisan diantaranya Program Kreativitas Mahasiswa

(PKM) dan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW), penulis juga pernah mewakili

Universitas Hasanuddin pada program pendampingan perguruan tinggi dalam

“Penguatan Pakan Tambahan Untuk Ternak Gangguan Reproduksi” selama tiga

bulan oleh Direktorat Pakan, Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan,

Kementrian Pertanian Indonesia. Diluar kampus penulis mengikuti banyak

pelatihan keprofesian oleh berbagai instansi seperti Dinas Peternakan dan

Kesehatan Hewan Provinsi SULSEL, Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB)

31
Singosari, dan Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang. Penulis banyak mengais

ilmu diluar banggku kuliah karena penulis beranggapan “merugilah jika belajar

disempitkan semata perkuliahan”.

32

Anda mungkin juga menyukai