0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
374 tayangan28 halaman

Metode QCC untuk Pengendalian Kualitas

Dokumen tersebut membahas tentang Quality Control Circle (QCC) sebagai sistem pengendalian kualitas berkelanjutan melalui 8 langkah perbaikan berdasarkan prinsip Kaizen. QCC melibatkan berbagai anggota tim dengan peran tertentu untuk mengidentifikasi masalah, menganalisis penyebab, merencanakan dan melaksanakan perbaikan, serta mengevaluasi hasilnya."

Diunggah oleh

fatim1987
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
374 tayangan28 halaman

Metode QCC untuk Pengendalian Kualitas

Dokumen tersebut membahas tentang Quality Control Circle (QCC) sebagai sistem pengendalian kualitas berkelanjutan melalui 8 langkah perbaikan berdasarkan prinsip Kaizen. QCC melibatkan berbagai anggota tim dengan peran tertentu untuk mengidentifikasi masalah, menganalisis penyebab, merencanakan dan melaksanakan perbaikan, serta mengevaluasi hasilnya."

Diunggah oleh

fatim1987
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

QCC – Quality Control Circle

Pengertian QCC
QCC adalah sebuah sistem pengendalian kualitas melalui metode 8 langkah
dengan sistem perbaikan berkesinambungan atau kaizen.

Apakah mudah dimengerti? jika belum, mari kita bahas satu per satu :
Pengertian pengendalian kualitas di perusahaan

Sistem adalah suatu kumpulan dari beberapa aktifitas yang memiliki tujuan
khusus yang dijalankan dengan sistematis.

Jadi misalkan di sebuah perusahaan manufaktur elektronik, dibutuhkan


sistem untuk menghasilkan produk elektronik yang berkualitas.

Produk yang berkualitas adalah produk yang sesuai dengan persyaratan


pelanggan dan aturan yang berlaku, jadi produk yang kondisinya tidak
sempurna atau mengalami cacat produksi adalah barang yang tidak
berkualitas.

Didalam perusahaan, terdapat banyak sekali permasalahan mengenai kualitas


ini, untuk itu diperlukan suatu solusi agar dapat mencapai kualitas yang
sesuai dengan harapan perusahaan.

Salah satu solusinya adalah dengan menerapkan Metode QCC yang akan kita
bahas di artikel dari [Link] ini.
Istilah QCC atau GKM

Istilah QCC merupakan kependekan dari Quality Control Circle, diserap ke


dalam bahasa indonesia menjadi istilah Gugus Kendali Mutu (GKM).

Pada perusahaan seperti manufaktur, QCC atau GKM ini adalah sebuah tim
yang dibentuk dari perwakilan beberapa bagian atau departemen yang
ditugaskan untuk melakukan tindakan perbaikan terhadap kualitas produk
yang dihasilkan.
Tim QCC ini akan melakukan pertemuan secara berkala untuk mencari solusi
dan mengupayakan pengendalian mutu atau kualitas dengan cara identifikasi,
analisis dan melakukan tindakan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi
dalam pekerjaan dengan menggunakan alat-alat pengendalian mutu atau QC
Tools.

QC Tools didalam QCC

Alat kendali mutu atau QC Tools ini biasa disebut dengan 7 QC Tools atau 7
perangkat kendali kualitas, yang terdiri dari :

1. Pareto Chart
2. Cause & Effect Diagram (Fishbone Diagram)
3. Scatter Diagram (Diagram Tebar)
4. Control Chart (Peta Kendali)
5. Check sheet (Lembar Periksa)
6. Histogram
7. Flow Chart

Sejarah QCC

Quality Control Circle (QCC) atau Gugus Kendali Mutu (GKM) ini pertama
kali diperkenalkan oleh seorang ahli pengendalian mutu yaitu Prof. Kaoru
Ishikawa pada tahun 1962 bersama dengan Japanese Union of Scientists and
Engineers (JUSE).

Perusahaan pertama yang menjalankan konsep Gugus Kendali Mutu (GKM)


adalah Nippon Wireless and Telegraph Company pada tahun 1962.
Hubungan Kaizen dengan QCC

Metode QCC dijalankan dengan prinsip dasar perbaikan berkesinambungan,


konsep ini didasarkan pada konsep yang diterapkan oleh perusahaan Jepang
yaitu Kaizen.

Kaizen adalah sebuah sistem perbaikan berkesinambungan atau terus


menerus yang dilakukan pada ruang lingkup seperti : kualitas, teknologi,
proses, budaya perusahaan, produktivitas, keselamatan dan kepemimpinan.
Penerapan Kaizen inilah yang dijalankan dengan menggunakan suatu metode
pengendalian mutu yaitu QCC.
8 Langkah dalam QCC

Metode yang digunakan dalam QCC adalah 8 langkah atau 8 step, yang
terdiri dari :

1. Penentuan Tema
2. Penetapan Target
3. Analisa Kondisi Yang Ada (ANAKONDA)
4. Analisa Sebab Akibat
5. Rencana Penanggulangan
6. Penanggulangan
7. Evaluasi Hasil
8. Standarisasi dan Tindak Lanjut

PDCA dalam QCC

Sebenarnya delapan langkah untuk menyelesaikan masalah yang sedang


dihadapi oleh QCC dapat dirangkum kedalam sebuah siklus yang dinamakan
dengan PDCA.

PDCA merupakan singkatan dari nama-nama 4 siklus yang terdiri dari :

1. Plan (perencanaan)
2. Do (pengerjaan)
3. Check (pemeriksaan)
4. Action (tindakan)
Pengertian PDCA

PDCA adalah konsep yang digunakan untuk melakukan perbaikan


berkesinambungan atau continuous improvement yang diterapkan didalam
konsep QCC.

Istilah PDCA merupakan kependekan dari “Plan, Do, Check, Act” atau
diterjemahkan sebagai : “Rencanakan, Kerjakan, Cek, Tindak lanjuti”.
Arti lain dari PDCA adalah suatu metode untuk membantu proses pemecahan
masalah dengan empat langkah iterative yang umum digunakan didalam
pengendalian kualitas.

Sejarah PDCA

Siklus PDCA tersebut dicetuskan oleh seorang ahli yang bernama W


Edwards Deming, beliau dianggap sebagai bapak pengendalian kualitas
modern, sehingga siklus ini juga sering disebut dengan siklus Deming.

Menurut Deming, jika suatu organisasi ingin menghasilkan produk atau jasa
yang bermutu, maka roda dari siklus PDCA harus berputar.

Hubungan Siklus PDCA dengan 8 langkah QCC


1. Plan

Siklus yang pertama ini terdiri dari 4 langkah QCC yaitu :

1. Menentukan Tema dan Analisa Situasi


2. Menetapkan target
3. Analisa faktor penyebab dan menemukan sumber penyebab
4. Mencari ide-ide dan rencana perbaikan
2. Do

Siklus yang kedua ini terdiri dari 1 step QCC yaitu :

1. Implementasi rencana perbaikan


3. Check

Siklus yang ketiga ini terdiri dari 1 step QCC :

1. Evaluasi hasil perbaikan


4. Action

Siklus keempat ini terdiri dari 2 step QCC :

1. Standardisasi dan rencana pencegahan


2. Penetapan rencana berikut

 
Manfaat PDCA

Penerapan PDCA ini memiliki berbagai manfaat antara lain sebagai berikut :

 Mempermudah pembagian wewenang dan tanggung jawab didalam


organisasi.
 Bisa menjadi pola kerja dalam perbaikan proses atau sistem di dalam
organisasi.
 Tata cara penyelesaian masalah dan pengendaliannya dengan pola yang
runtun dan sistematis.
 Sebagai kegiatan continuous improvement, agar dapat memperpendek
alur kerja
 Mengurangi dan menghapuskan pemborosan di tempat kerja, serta
meningkatkan produktivitas.

Pembentukan Tim QCC


Tugas Dan Peran anggota QCC

Berikut ini penjelasan mengenai tugas dan peran yang spesifik dari anggota
QCC untuk mempermudah pemahaman.
Facilitator QCC

Pengertian Facilitator adalah orang yang bertanggung jawab untuk


mengkoordinir dan mengarahkan kegiatan QCC atau Project di dalam suatu
Divisi atau Departemen atau Bagian.

Peran atau tanggung jawab dari fasilitator adalah menjadi seorang :

 Koordinator (Coordinator )
 Katalisator (Catalyst)
 Pelatih ( Coach )
 Pembaharu ( Innovator )
 Promotor ( Promotor )
 Seorang Fasilitator kita harus bertanggung jawab mengarahkan
kegiatan QCC/P di
 tempat kerja kita
 Penghubung ( Communicator )

Ada berbagai syarat untuk menjadi seorang Fasilitator, diantaranya adalah :

 Fasilitator yang mampu berbicara baik dengan manajemen maupun


anggota tim QCC.
 Berpengalaman di area kerjanya: proses dan produk.
 Menguasai metodolgi yang dipakai (misalnya: 8 Langkah Perbaikan,
Six Sigma-DMAIV/DMADV), penggunaan Quality Tools (misalnya:
7QC Tools dan 7 Management Tools) dan mampu mengajarkannya.

Tugas-tugas dari Facilitator antara lain adalah :

 Mengkoordinir kegiatan QCC/P yang ada di bagiannya


 Melatih Circle Leader dan Thema Leader QCC/P
 Menghadiri pertemuan-pertemuan QCC/P
 Membimbing dan mengarahkan kegiatan QCC/P
 Mempromosikan program-program QCC/P
 Mengatur pertemuan QCC/P dengan pihak luar
 Mengatur kunjungan QCC/P ke bagian lain (benchmarking)
 Mempersiapkan tim untuk konvensi QCC/P
 Menghadiri konvensi QCC/P
 Meminta dan menyimpan laporan QCC/P
 Mengirim laporan kegiatan QCC/P ke komite/PIC/HRD
 Mempublikasikan hasil-hasil QCC/P ke seluruh karyawan .

 
Circle Leader

Pengertian dari Circle Leader adalah seorang penggerak aktivitas, dimana ia


akan bertanggung jawab terhadap keberlangsungan dan keberhasilan aktivitas
QCC.

Syarat untuk menjadi seorang QCC Leader atau Ketua Circle adalah :
 Sebaiknya dipilih oleh anggota Tim QCC atau oleh Fasilitator
 Memahami mekanisme, metodologi dan tools QCC
 Sudah pernah ikut pelatihan tentang QCC atau sejenisnya.

Tugas dari seorang Circle Leader :

 Berusaha meningkatkan pengetahuan dan “skill” (baik yang


menyangkut pekerjaan maupun QCC/P).
 Mengatur pertemuan-pertemuan Circle
 Memastikan agar orientasi pertemuan circle selalu pada rencana
aktivitas
 Mendorong keterlibatan semua anggota
 Membangkitkan semangat & menciptakan suasana kerja yang harmonis
 Memberikan bimbingan kepada “ Thema Leader” dan semua anggota
tentang hal-
 hal berhubungan dengan aktivitas QCC
 Menjaga agar aktivitas berjalan kontiniu dan berkembang
 Memeriksa apakah dokumen-dokumen lengkap, tersusun dan tersimpan
dengan rapi
 Menjaga hubungan baik dengan “Facilitator” , Pimpinan unit kerja dan
Circle- circle yang lain
 Meminta bantuan dan nasehat bila aktivitas QCC mengalami
hambatan-Hambatan

 
Thema Leader

Pengertian dari Thema Leader adalah seseorang yang bertanggungjawab


terhadap keberhasilan thema .

Peran atau tanggung jawab dari Thema Leader adalah:

 Thema Leader sebagai pusat aktivitas thema


 Menunjukkan sikap kepemimpinan
 Menguasai hal-hal yang berkaitan dengan thema yang dipilih
 Membuat rencana aktivitas, rencana meeting dengan Circle Leader
 Mengadakan komunikasi dengan Circle Leader , Fasilitator dan
pimpinan

 
Notulis QCC

Tugas dari seorang Notulis adalah :

 Membuat ringkasan hasil pertemuan


 Membagikan ringkasan hasil pertemuan kepada anggota
 Menyimpan dokumen yang ada hubungannya dengan aktivitas QCC
dengan rapi

 
Anggota QCC

Peran dari anggota atau QCC Member adalah :

 Mengikuti rapat-rapat yang diadakan oleh Tim QCC


 Berpartisipasi dalam rapat
 Mengidentifikasi, menganalisa, dan mengatasi masalah yang
berhubungan dengan pekerjaan dan mengimplementasikan solusinya.
 Mengevaluasi hasil perbaikan
 Menstandarisasi hasil perbaikan,
 Mensosialisasi hasil perbaikan

Syarat untuk menjadi QCC Member atau Anggota Circle adalah harus :

 Mempunyai kemauan yang keras untuk maju dan selalu belajar.


 Menghadapi atau berhubungan masalah atau tema yang diangkat.
 Sukarela untuk memberikan yang terbaik kepada organisasi.
 Mau dan mampu bekerja sama dalam Tim.

Langkah-langkah penerapan QCC


Langkah pertama yang dilakukan adalah pembentukan tim dan menentukan
rencana aktivitas, sebagaimana berikut :

 Memilih pimpinan circle, untuk tahap pertama disarankan pimpinan


circle dipilih dari pimpinan formal di perusahaan, misalkan Group
Leader atau Section Head.
 Menentukan keanggotaan circle, biasanya terdiri dari : fasilitator,
notulen, member.
 Menentukan jadwal pertemuan tim untuk membahas circle.
 Menentukan rencana aktivitas perbaikan atau improvement untuk QCC.
 Memastikan hal-hal lain yang mendukung kelancaran circle, misalnya :
komitmen dari anggota, persiapan pertemuan, nama circle, dan lainnya.

1. Penentuan Tema QCC


Tema adalah masalah yang diangkat untuk dianalisa, kemudian dicari
penyebabnya dan ditanggulangi. Masalah ini bisa berupa penyimpangan dari
keinginan, target, ataupun standard.

Langkah dalam menentukan thema dibagi menjadi tiga bagian berikut :

1. Mencari data, rencanakan pengumpulan data (data apa, siapa yang


mengumpulkan data, dimana dan kapan data dikumpulkan)
2. Analisa data
3. Menentukan tema dan mengidentifikasi dampak atau kerugian apabila
tema atau masalah tidak ditindaklanjuti

Kemudian, pelajari isu-isu yang bisa dijadikan tema QCC seperti :

 Produktivitas
 Kualitas
 Biaya (Cost)
 Pengiriman (Delivery)
 Proses Produksi
 Keselamatan
 Semangat Kerja (Morale)
 Lingkungan
 Dan lain-lain

Teknik mencari tema

Dalam mencari tema kita bisa menggunakan beberapa metode seperti :


4M1E, Muda-Mura-Muri, VoC, Risk Management.

Berikut penjelasan detail dari berbagai teknik tersebut :


4M1E

4M1E adalah penggolongan lima faktor produksi untuk mempermudah


analisa masalah di proses produksi, artinya :

 Material : bahan baku atau input proses


 Machine : mesin atau alat atau instrumen
 Man : manusia atau pekerja
 Method : metode kerja
 Environment : lingkungan sekitar tempat kerja atau proses

Dari kelima faktor tersebut, adakah ditemukan masalah yang bisa diangkat
sebagai tema?

 
Muda-Mura-Muri

Muda-Mura-Muri adalah konsep pengelompokan masalah yang sering


digunakan di industri terutama otomotif, artinya :

 MUDA : pemborosan
 MURA : ketidakseimbangan
 MURI : beban berlebihan

Dengan adanya ketiga pengelompokan tersebut, maka akan memudahkan


mencari ide untuk tema QCC yang ingin dilakukan.

 
VoC

VoC merupakan kepanjangan dari Voice of Customer, pengertiannya :

Voice of Customer adalah kebutuhan dari pelanggan (Customer) yang


merupakan keinginan yang harus dipenuhi dalam rangka untuk memuaskan
kebutuhan mereka.

Dalam metode VoC, selain berdasarkan atas kebutuhan dari pelanggan


(Customer) juga perlu analisa mengenai aktifitas pesaing atau kompetitor dan
perubahan pasar.

Siapakah customer? Customer adalah penerima langsung atau tidak langsung


dari produk atau jasa yang dihasilkan. Customer dapat dibedakan menjadi
dua kategori yaitu External dan Internal.

Customer merupakan penilai di bagian paling akhir mengenai keberhasilan


produk atau jasa yang dihasilkan.

Ciri-ciri dari Voice of Customer :

1. Tidak spesifik, Customer sering sekali tidak spesifik dalam


menggambarkan keinginan mereka yang sebenarnya.
2. Tidak terukur, kita harus mampu untuk menterjemahkan kebutuhan
spesifik mereka kedalam persyaratan yang dapat diukur, sehingga kita
dapat mendefinisikan Performance Standard atau Standard Kinerja
yang harus dicapai.

Tema QCC yang didapat dari VoC ini biasanya memiliki nilai yang paling
prestisius, karena dampaknya langsung dirasakan oleh customer.

 
Risk Management (manajemen resiko)

Risk Management adalah sebuah metode terstruktur untuk menemukan,


mengelola dan meminimalisir resiko yang sering muncul di proses produksi.

Sedangkan resiko adalah sesuatu yang mengancam atau peluang untuk


kehilangan suatu kesempatan.
Risk Management akan mengendalikan segala hal atau kejadian  terdapat
potensi atau konsekuensi yang dapat menimbulkan kesempatan (opportunity)
untuk meraih keuntungan (benefits) dan  ancaman untuk meraihnya.

Dengan menggunakan metode ini, Tema yang dapat mengubah resiko


menjadi peluang akan dapat ditemukan.

 
2. Analisa Tema

Kemudian, tahapan berikutnya adalah merangkum hasil analisa dan


penentuan tema tersebut ke dalam 3 metode : Business case, Problem
statement, Project scope. Berikut penjelasan detil ketiganya :

 
Business Case

Business Case adalah metode yang digunakan untuk memperkuat atau


memperjelas pentingnya tema atau judul yang diambil untuk dijadikan
project improvement.

Beberapa pertanyaan berikut ini dapat digunakan untuk membantu


perumusan Business Case :

 Mengapa project penting untuk dilakukan?


 Mengapa perlu dilakukan saat ini?
 Apa konsekuensinya jika project ini tidak dilakukan?

 
Problem Statement

Problem statement adalah metode untuk memperjelas masalah yang dipilih,


dan mencakup deskripsi permasalahan yang ada.

Didalam metode ini, digunakan beberapa pertanyaan seperti :

 Apa yang tidak sesuai dengan keinginan customer ?


 Kapan dan dimana problem terjadi ?
 Seberapa besar dan apa akibat problem tersebut ?

Namun, hindari untuk membuat pertanyaan seperti berikut :

 Penggunaan pernyataan negatif dan asumsi belaka.


 Pernyataan yang mengarah pada penemuan sumber penyebab.

 
Project Scope

Project Scope adalah metode untuk membatasi ruang lingkup project


perbaikan yang dilaksanakan.

Beberapa hal yang dapat dimunculkan di dalam project scope antara lain
seperti : batasan proses, lokasi dan kendala yang dihadapi.

Untuk memudahkannya, dapat menggunakan tool tambahan seperti peta


SIPOC (supplier-input-process-output-customer)

2. Menetapkan target
Setelah tema diputuskan atau dipilih, maka langkah berikutnya adalah
menentukan target. Karena target yang terukur akan lebih mudah dipahami.

Gunakan pertimbangan dari hal-hal berikut untuk menetapkan target


perbaikan :

 Apa item atau karakteristik yang akan dievaluasi


 Berapa nilai target yang akan dicapai (terukur)
 Kapan pengiriman atau target tersebut selesai

Target Perbaikan atau Pernyataan Sasaran (Goal Statement) merupakan


tujuan akhir dari penyelesaian masalah, untuk itu perlu diperhatikan hal-hal
berikut :
 Tuliskan definisi tentang peningkatan yang ingin dicapai dan batasan
waktunya, biasanya mengandung kata kerja “MENGURANGI,
MENINGKATKAN, MENGHILANGKAN”.
 Didalam menyatakan masalah dan tujuan peningkatan haruslah
SMART, yaitu : Spesifik, Measurable, Attainable, Realistic, dan Time
Bound).
 Namun jangan sampai penulisan target terlihat berlebih-lebihan, atau
tidak menjelaskan solusinya atau tidak menyebutkan sumber
permasalahannya.

Berikut penjelasan mengenai istilah SMART diatas :

S : adalah specific, yaitu Judulnya jelas

M : adalah measurable, artinya Nilai dan satuannya jelas

A : adalah achievable, yaitu dapat dicapai

R : adalah reasonable atau Realistic, maksudnya memiliki alasan yang masuk


akal atau Realistis

T : adalah time base, berarti pengaturan waktunya jelas

Ada beberapa dasar dalam penetapan target tersebut, seperti dari :

1. Target yang ditetapkan oleh perusahaan.


2. Target dari customer.
3. Kondisi terbaik yang pernah dicapai atau merefer kondisi sebelumnya.
4. Hasil dari analisa untuk menentukan target.
5. Veto atau hasil kesepakatan bersama yang tidak didukung dengan data
akurat , namun dasar penetapan dari target point ke 5 ini merupakan
yang paling lemah.

Perlu diperhatikan bahwa : meskipun QCC Leader sudah mempertimbangkan


targetnya, namun tetap perlu didiskusikan, dikomunikasikan atau
diberitahukan kepada anggota QCC yang lain dan atasan yang bersangkutan.
 

3. Analisa Penyebab Masalah


Tahap ini adalah melakukan investigasi, yaitu penyelidikan terhadap faktor
atau akar permasalahan dan akar penyebab. Berikut ada beberapa teknik
analisa yang dapat diterapkan pada tahap ini :
1. Anakonda

Istilah Anakonda adalah kependekan dari : Analisa Kondisi yang Ada,


metode ini dilakukan dengan cara penyelidikan dan analisa secara lebih teliti.
Tujuannya adalah :

 Menemukan akar permasalahan atau penyebab langsung yang


sebenarnya.
 Mendapatkan fakta dan data tentang adanya penyimpangan atau
kondisi yang tidak baik, yang berhubungan dengan akar permasalahan.

Aktivitas yang biasa dilakukan dengan metode anakonda :

 Lakukan observasi, kemudian persempit lingkup masalah dengan


metode Stratifikasi data atau data grouping.
 Metode Genba, yaitu pengecekan langsung ke proses atau mesin di
lokasi terjadinya masalah.
 Selidiki diproses mana masalah itu terjadi, bisa dengan teknik Audit
atau assessment.
 Selidiki kronologis terjadinya masalah, sehingga kapan dan bagaimana
terjadinya masalah tersebut dapat dipahami dengan baik.
 Kumpulkan fakta berupa data tentang kondisi kurang baik dan
penyimpangan yang terjadi.
 Dilakukan dengan cara membandingkan standar dengan kondisi aktual,
serta mengidentifikasi produk yang defect atau cacat.

 
2. Why-Why Analysis
Why-Why Analysis adalah teknik analisa masalah dengan cara memunculkan
semua kemungkinan penyebab masalah untuk kemudian dipersempit dengan
tujuan menemukan sumber masalah.

Teknik ini dapat dikombinasikan dengan 2 tool yaitu :

 diagram tulang-ikan atau Fishbone Diagram


 diagram hubungan sebab-akibat atau Relationship Diagram

Berikut urutan penerapan Why-Why Analisis tersebut :

1. Pertama-tama gunakan Fishbone Diagram untuk menjelaskan faktor


apa saja yang kemungkinan berpengaruh terhadap ketidaktercapaian
suatu parameter sesuai dengan tema yang dipilih.
2. Gunakan metode 5 Why untuk mendapatkan kemungkinan sumber
penyebab, dengan cara tanyakan “Why”sebanyak 5 kali sampai akar
permasalahan teridentifikasi.

Analisa “Why-Why” ini bisa digunakan untuk menentukan akar


permasalahan, dan bisa juga untuk mengidentifikasi solusi untuk
menghilangkan atau mengurangi masalah atau problem tersebut.

Kesalahan dalam proses analisa penyebab bisa saja terjadi, berikut beberapa
kasus yang bisa dijadikan pelajaran :

 Dalam melakukan analisa, member tidak sepenuhnya paham proses


atau mesin.
 Member seringkali tidak berurutan dalam menganalisa masalah.
 Member sering terfokus pada ada atau tidak adanya alat bantu atau
tools atau equipment tertentu, tetapi tidak fokus ke fungsi dari
keberadaan alat bantu tersebut.

Metode 4M1E Lima faktor Produksi

4M1E adalah metode analisa masalah yang dihubungkan dengan faktor :


Material, Machine, Man, Method, Environment.

Kelima faktor tersebut sering digunakan sebagai pertanyaan untuk analisa


didalam metode Fishbone Diagram.
 
3. Root cause validation

Root cause validation adalah validasi terhadap akar penyebab masalah yang
sudah disepakati, fungsinya untuk :

 Membuktikan apakah akar penyebab benar-benar terjadi.


 Membuktikan bahwa akar penyebab benar-benar berpengaruh terhadap
permasalahan.
 Mencari seberapa besar pengaruh dari masing-masing akar penyebab
tersebut terhadap permasalahan.

Metode dan tool yang dapat digunakan dalam tahap Root cause validation
adalah :

 Observasi terhadap Data


 Observasi atau Audit assessment atau Gemba terhadap proses atau
mesin
 Scatter diagram

Berikutnya adalah menentukan root cause yang berpengaruh paling besar


terhadap permasalahan.

Setelah verifikasi untuk semua sumber penyebab masalah dilakukan,


kemudian ditentukan sumber penyebab yang sesungguhnya (Root Cause).
Metode dan tool yang dapat digunakan pada tahap ini adalah :

 Observasi terhadap Data


 Observasi atau Audit assessment atau Gemba terhadap proses atau
mesin
 Scatter diagram
 Pareto diagram

4. Mencari Ide-ide dan rencana perbaikan


Pada tahap ini dilakukan perencanakan penanggulangan yang efektif untuk
menghilangkan penyebab utama, caranya adalah dengan membandingkan
beberapa alternatif penanggulangan berdasarkan beberapa kriteria berikut :

 Dampak, artinya adalah seberapa besar masalah itu bisa dieliminir,


mampukah hal ini menuntaskan masalah?
 Teknis, artinya adalah apakah rencana perbaikan dapat dilakukan,
diterapkan dan mudah untuk dioperasikan?
 Ekonomis, artinya adalah perencanaan seberapa besarkah keuntungan
yang akan didapatkan.

Sebagai tambahan masukan adalah bahwa untuk setiap masalah yang ada,
sebaiknya dimunculkan beberapa ide perbaikannya.

Prioritas dan pemilihan ide-ide Solusi

Bila ide-ide solusi ada lebih dari satu, maka pilihlah solusi yang dianggap
terbaik.

Kriteria solusi terbaik tersebut adalah yang memberikan dampak paling


maksimal dalam arti biaya solusi rendah dan memberikan manfaat paling
besar.

Biaya (cost) solusi adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan
solusi termasuk pengembangan & implementasi biaya pengoperasiannya.

Manfaat (benefit) solusi adalah kemungkinan dampak positif yang timbul


karena solusi yang diberikan, misalnya : pengurangan biaya operasi,
pengurangan cycle time, penghematan pemakaian material, peningkatan
produktivitas, dan lainnya.

Baik biaya maupun benefit yang dinyatakan berkaitan pemilihan solusi


adalah bersifat perkiraan (estimation), ini disebabkan belum ada
implementasi solusi.

Tool atau alat untuk memilih solusi ‘terbaik’ ada 2 macam yaitu : “Solution
Selection Matrix” dan “One on One Pairwase comparison”.
Pada saat mengambil keputusan hal yang sering dipakai adalah analisa biaya-
manfaat (cost-benefit) dan prediksi perubahan kinerja.

Keputusan yang diambil adalah solusi yang memberikan peningkatan kinerja


paling besar dan memerlukan biaya yang paling kecil serta memperoleh
manfaat yang besar.

Beberapa tips untuk mencari ide yang baik :

 Jelaskan kembali apa tujuan dan target perbaikannya.


 Cari ide-ide baru, biarkan semua anggota mengeluarkan ide-idenya
yang bagus, jadikan ini sebagai kekuatan. KREATIVITAS sangat
penting artinya.
 Berpikirlah secara jernih.
 Berusahalah memperluas pengetahuan dan pengalaman.
 Sudah bukan saatnya mengulang pada solusi “favorit” atau rutin untuk
mengatasi masalah, contohnya : Melakukan pelatihan atau sosialisasi
ulang, standarisasi proses yang sudah ada.
 Gunakan tool untuk pendekatan berpikir kreatif, seperti : process
Benchmarking, Best Practice Tool Scampe

Untuk lebih jelasnya mengenai tool Scamper, maka akan dibahas sebagai
berikut :

Tools SCAMPER
SCAMPER adalah salah satu tools pemacu kreatifitas yang membantu untuk
memikirkan perubahan apa yang dapat dilakukan terhadap produk, proses
atau jasa layanan yang sudah ada sehingga muncul sebagai produk, proses,
atau jasa layanan baru.

Menurut sejarah, Tool ini diperkenalkan pertama kali oleh Alex Osborne,
seorang guru pelopor kreatifitas pada tahun 1953.

Strategi pemikiran ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Bob Eberle
1971 dalam bukunya SCAMPER: Games for Imagination Development.
Istilah SCAMPER ini merupakan kependekan dari aplikasinya, dan setiap
huruf darinya memiliki makna tersendiri. Berikut penjelasan detail per huruf :

S (Substitute) atau mengganti


Substitusi atau mengganti sebagian produk, proses atau jasa layanan yang ada
sehingga tercipta produk, proses atau jasa layanan baru, bertujuan untuk
mengembangkan ide alternatif untuk mengganti gagasan yang memang sudah
buntu.

C (Combine) atau Mengkombinasi

Mengkombinasikan atau menggabungkan satu atau dua produk, proses atau


jasa layanan menjadi produk, proses atau jasa layanan baru.

A (Adapt) atau Mengadaptasi


Mengadaptasi produk, proses atau jasa layanan dari perusahaan lain ke dalam
produk, proses atau jasa layanan perusahaan sendiri sehingga tercipta produk,
proses atau jasa layanan yang baru.

M (Modify) atau Memodifikasi
Memodifikasi produk, proses atau jasa layanan menjadi lebih komplek atau
lebih sederhana dan menjadi lebih baik sehingga terbentuk produk, proses
atau jasa layanan baru.

P (Put to another use) atau Kegunaannya


Memodifikasi produk, proses atau jasa layanan menjadi lebih komplek atau
lebih sederhana dan menjadi lebih baik sehingga terbentuk produk, proses
atau jasa layanan baru.

E (Eliminate) atau Elaborate

Eliminate adalah proses menghilangkan atau menghapus sebagian komponen


produk, proses atau jasa layanan yang ada untuk menghasilkan produk,
proses atau jasa layanan baru.

Elaborate adalah menambahkan detail pada produk, proses atau jasa layanan
yang ada sehingga tercipta produk, proses atau jasa layanan baru.
R (Reverse / Rearrage) atau Menyusun Kembali
Reverse adalah upaya membalik produk, proses atau jasa layanan sehingga
tercipta produk, proses atau jasa layanan baru.

Rearrange adalah upaya mengubah atau mengatur ulang susunan produk,


proses atau jasa layanan menjadi produk, proses atau jasa layanan baru.

5. Implementasi Rencana Perbaikan


Aktifitas yang dilakukan pada tahap ini adalah menerapkan ide-ide Perbaikan
dan menyampaikan deskripsi perbaikan, dengan cara berikut :

 Buat pengertian bersama dan konsensus sebelum implementasi.


 Perhitungkan faktor resiko agar perbaikan yang sesungguhnya tidak
terganggu.
 Gunakan data untuk meyakinkan hasilnya nanti.
 Waspada terhadap hal-hal yang tidak diinginkan.
 Melaksanakan penanggulangan sesuai dengan rencana yang telah
dibuat.
 Semua orang yang terlibat ikut berperan aktif sesuai dengan pembagian
tugas yang telah disepakati.
 Kumpulkan data dan catat semua hal-hal yang menyimpang selama
pelaksanaannya.
 Pengecekan hasil dilakukan dengan membandingkan kondisi sebelum
dan sesudah perbaikan atau penanggulangan.
 Yang penting adalah semangat, antusiasme, dan bukti. bukan rencana
besar tetapi tidak ada yang terlaksana.
 Selalu ingat bahwa ini adalah perbaikan secara

Teknik penanggulangan yang disebutkan diatas biasanya dilakukan dengan


metoda ECRS, berikut arti dari metode tersebut :

 Eliminate : Penghilangan
 Combine : Penggabungan
 Re-Arrange : Penataan/penyusunan ulang
 Simplify : Penyederhanaan

Hal-hal yang perlu dijelaskan didalam tahap Penanggulangan ini adalah :

 Hasil atau aktivitas pelaksanaan “ HOW “


 Liku – liku aktivitas yang telah dilaksanakan
 Kesulitan yang telah dilalui
 Hasil yang telah dicapai dan bagaimana cara mendapatkannya
 Melakukan PDCA, sampai semaksimal mungkin

6. Evaluasi Hasil Perbaikan


Hasil perbaikan harus dievaluasi, metode evaluasi Keberhasilan dan
Keuntungan disini dibagi menjadi 3 :

1. Menjawab target, pastikan evaluasi hasil sebagaimana target pada


Langkah 2, sebelum melihat dampak yang lain.
2. Penghitungan Cost – Benefit, diukur perbandingan antara benefit yang
didapat dengan biaya (cost) yang dikeluarkan.
3. Tinjauan keberhasilan dengan tolak ukur QCDSM, melakukan analisis
perubahan dan manfaat pelaksanaan project perbaikan secara
keseluruhan dan kemudian bandingkan hasil dengan target yang telah
ditetapkan agar hasil yang diperoleh lebih jelas terlihat .

 
Benefit – Cost

Perhitungan benefit yang diperoleh perlu dilakukan untuk mengetahui


dampak implementasi solusi yang dilakukan. Benefit yang diperoleh bisa
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
1. Tangible Benefit (Real Benefit), adalah manfaat yang langsung
kelihatan atau “manfaat riil”. Tangible Benefit biasanya digunakan
untuk menghitung manfaat bersih (net benefit).
2. Intangible Benefit (Potential Benefit), adalah manfaat yang tidak
langsung kelihatan atau “manfaat potensial”. Intangible Benefit ini
tidak digunakan untuk menghitung Quality Income.

Perhitungan Cost man power, material, energi

Cost man power adalah :

 Cost yang digunakan untuk hire man power dari perusahaan lain yang
berkaitan dengan improvement.
 Cost yang keluar untuk overtime man power yang berkaitan dengan
improvement yang sedang dilakukan.
 Cost tambahan yang dikeluarkan yang berkaitan dengan improvement
(diluar pendapatan rutin bulanan).

Cost Material adalah :

 Kebutuhan material yang diperlukan dalam improvement, seperti :


membuat alat dan modifikasi alat.

Cost Energy adalah :

 Energy yang diperlukan dalam proses improvement seperti : kebutuhan


listrik, Air, Gas, Angin, Steam, dan lainnya.

Untuk memahami Perhitungan Manfaat tersebut bisa kita lihat contoh nyata
berikut  :
 Penghematan sparepart yang digunakan termasuk real benefit atau
tangible benefit.
 Penghematan jam, yang berdampak terhadap penghematan man power
termasuk manfaat potensial.
 Penghematan jam, yang berdampak terhadap peningkatan produksi
department lain termasuk manfaat potensial.

 
Tinjauan keberhasilan dengan tolak ukur QCDSM

Periksa hasil dilakukan dengan menggunakan tolok ukur atau “control point”,
dan cara yang dilakukan adalah sama seperti langkah analisis.

Dengan demikian hasil sebelum dan sesudah bisa dibandingkan seperti pada
Langkah 5. Pengukuran ini bisa dilakukan berdasarkan tolak ukur metode
QCDSM (Quality-Cost-Delivery-Safety-Morale).

Selalu diingat bahwa setiap penjelasan sedapat mungkin bisa diukur atau
measurable, dan juga berdasarkan data (bukan berdasarkan atas perkiraan
belaka).

7. Standardisasi Hasil Perbaikan


Wujud dari pelaksanaan standardisasi pada tahap ini bisa dalam bentuk
seperti berikut :

 Standar
 Perubahan Kebijakan
 Prosedur Tertulis
 Uraian Pekerjaan
 Pelatihan atau Sosialisasi

Standardisasi tersebut diperlukan untuk  mencegah masalah yang terulang


kembali, alasan utama untuk melakukannya adalah :
Tanpa adanya standar, maka karyawan yang sudah lama bekerja bisa jadi
lupa sehingga perlu ada panduan dari standar.

Sedangkan orang baru akan tidak dapat memahaminya pula tanpa ada standar
yang jelas, jadi standar juga berfungsi agar masalah yang sama tidak dapat
muncul kembali.

Perjelas Standard dengan metode 5W1H, metode ini digunakan untuk


melakukan standardisasi atas dasar penyelidikan dengan menggunakan
pertanyaan 5W1H.

5W1H adalah metode analisis dengan menggunakan kata tanya yaitu :


“What-Where-When-Why-Who” atau artinya “Apa-Dimana-Kapan-Kenapa-
Siapa”.

Untuk kontrol dan memastikan agar standardisasi dilaksanakan dengan benar,


bisa menggunakan Check Sheet atau dengan cara didata.

Contoh-contoh dokumen Standardisasi :

Standar Operational Procedure (SOP)

Standar Operational Procedure adalah panduan yang berisi serangkaian


kegiatan dalam suatu perusahaan yang diatur secara sistematis untuk
mencapai suatu tujuan.

Format SOP umumnya berisikan beberapa hal sebagaimana berikut ini :

1. Tujuan : adalah tujuan ditetapkannya prosedur yang terdapat dalam


suatu SOP yang dibuat.
2. Ruang Lingkup : adalah batasan, fungsi, area, personnel, produk atau
proses dimana SOP yang dibuat dapat diterapkan atau dioperasikan.
3. Referensi : adalah acuan yang digunakan, termasuk undang-undang,
peraturan pemerintah, peraturan perusahaan, standar ISO, dan SOP-
SOP yang lain yang dapat memperjelas tujuan SOP yang dibuat.
4. Definisi : adalah penjelasan atau arti dari istilah-istilah yang dibahas
(Terminologi) yang ada dalam SOP yang dibuat. Bila perlu, diuraikan
secara singkat pemahaman mengenai fungsi, formula, metode, ataupun
konsepsi aktivitas tertentu.
5. Kebijakan : adalah kebijakan (policy)   operasional   yang   merupakan
batasan-batasan yang menetapkan suatu kegiatan bisa atau   tidak  bisa
dilaksanakan dalam  situasi dan kondisi tertentu.
6. Alur Proses : adalah uraian mengenai tahapan kegiatan antar
departemen secara sistematis, untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
7. Daftar Dokumen Pendukung : adalah daftar instruksi kerja, standar
parameter, formulir atau catatan pendukung (record) yang digunakan
dalam menjalankan SOP yang dibuat, termasuk petunjuk pengisiannya.

Instruksi Kerja (IK)

Instruksi Kerja adalah dokumen panduan mengenai rangkaian aktivitas yang


menggambarkan mengenai “bagaimana” aktivitas  atau fungsi di suatu bagian
atau unit kerja dilaksanakan.

Ruang lingkupnya hanya satu departemen, ini yang membedakannya dengan


SOP karena SOP bisa berlaku untuk banyak departemen. IK juga dapat
merupakan dokumen pendukung dari SOP.

Standard Parameter

Standard Parameter adalah petunjuk kerja standar atau tabel standar yang
dijadikan acuan dalam menjalankan suatu aktivitas.

Ruang lingkupnya mirip seperti IK yaitu hanya untuk satu departemen,


dokumen ini dapat merupakan dokumen pendukung dari SOP atau IK.

Dokumen ini biasanya berisi penjelasan mengenai :

 Besaran atau spesifikasi teknis yang menjadi prasyarat dari pekerjaan di


lapangan.
 Kontruksi atau cara penggunaan dari suatu tools.
 Peraturan mengenai pengaturan penamaan atau penomoran barang atau
dokumen.
 Nilai atau penilaian.
 

8. Penetapan Rencana Berikut


Tahap ini berisi mengenai kegiatan :

 Kontrol dan memantau agar masalah yang sudah diatasi tidak terulang
kembali, dengan cara menjamin Standardisasi dilaksanakan dengan
benar.
 Mempelajari data-data kondisi saat ini dan menentukan tema
berikutnya.

Saran untuk aktifitas dapat dilakukan :

1. Kemukakan masalah atau program perbaikan yang masih ada

Masalah atau program perbaikan umumnya tidak dapat ditanggulangi dengan


sempurna dan kondisi ideal sulit untuk dicapai.

Maka sebaiknya kita tidak hanya menekuni satu masalah/program perbaikan


saja untuk jangka waktu yang tak terbatas agar bisa dicapai hasil yang sangat
optimal.

Meskipun target tak tercapai, sebaiknya dibuat daftar apa yang sudah
dilakukan dan apa yang belum dilakukan.

2. Buat rencana yang akan dilakukan terhadap masalah yang masih ada.

Masalah-masalah yang penting dipilih sebagai tema untuk kegiatan yang


akan datang, demikian pula jika hal tersebut berupa program-program
perbaikan.

3. Pikirkan dan ulas apa yang sudah berjalan dengan baik dan apa yang
belum

Mengulas kembali apa yang telah dilakukan akan membantu perbaikan atau
peningkatan kualitas dan kegiatan perbaikan di waktu mendatang.
Di samping itu juga berguna untuk memahami perbedaan yang ada antara
teori dan praktek pada saat pelaksanaan. Juga bisa untuk membandingkan
antara rencana dan pelaksanaannya.

Demikian uraian dasar-dasar pelaksanaan QCC di perusahaan, silahkan untuk


memberikan masukan perbaikan kepada kami di kolom komentar.

Common questions

Didukung oleh AI

Langkah 'Analisa Penyebab Masalah' penting dalam proses QCC karena dengan memahami akar penyebab masalah, organisasi dapat menentukan solusi yang paling tepat untuk masalah tersebut. Teknik analisa yang sering digunakan termasuk 'Why-Why Analysis' dan 'Anakonda', yang mengidentifikasi akar penyebab dan kondisi melalui investigasi detail. Metode lain seperti Fishbone Diagram dan Analisa 4M1E (Material, Machine, Man, Method, Environment) juga sering digunakan untuk mengeksplorasi faktor yang mempengaruhi masalah .

Fasilitator dalam tim QCC bertanggung jawab mengkoordinir dan mengarahkan kegiatan QCC atau project di divisi atau departemen. Peran fasilitator mencakup sebagai koordinator, katalisator, pelatih, pembaharu, promotor, dan penghubung komunikasi antara tim QCC dengan manajemen. Fasilitator harus berperan dalam melatih Circle Leader dan Thema Leader, menghadiri dan membimbing pertemuan, serta mempromosikan dan mengatur pertemuan dengan pihak luar. Mereka harus juga menguasai metodologi QCC dan dapat mengajarkannya kepada anggota tim .

Circle Leader bertanggung jawab terhadap kelangsungan dan keberhasilan aktivitas QCC secara keseluruhan dengan mengatur pertemuan circle, memastikan rencana aktivitas, serta meningkatkan keterlibatan anggota. Dia harus dipilih oleh tim atau fasilitator dan memahami metodologi QCC. Thema Leader, sebaliknya, fokus pada keberhasilan suatu tema tertentu, menunjukkan kepemimpinan dalam tema tersebut dan berkomunikasi dengan Circle Leader serta fasilitator. Thema Leader berfokus pada rencana aktivitas dan eksekusi ide terkait tema yang dipilih .

Proses validasi root cause dalam QCC dilakukan untuk memastikan bahwa akar penyebab yang telah diidentifikasi benar-benar berpengaruh terhadap permasalahan. Alat yang biasa digunakan termasuk observasi proses atau data, audit atau assessment Genba, dan Scatter Diagram. Tujuannya adalah membuktikan keberadaan dan dampak dari akar penyebab tersebut terhadap masalah dan menentukan prioritas berdasarkan pengaruh terbesar dari akar penyebab yang telah diverifikasi .

Metode PDCA diterapkan dalam 8 langkah QCC sebagai siklus iteratif yang memandu proses perbaikan berkualitas. Langkah 'Plan' mencakup penentuan tema, penetapan target, analisa situasi, dan perencanaan perbaikan. 'Do' melibatkan implementasi rencana ini. 'Check' dilakukan melalui evaluasi hasil, sedangkan 'Action' diterapkan dengan standarisasi dan rencana pencegahan. Manfaat utama PDCA bagi organisasi adalah mempermudah pembagian wewenang, meningkatkan efisiensi alur kerja, dan membawa pola perbaikan yang sistematis untuk mengurangi pemborosan dan meningkatkan produktivitas .

SCAMPER adalah tools yang digunakan untuk memacu kreativitas dengan cara mempertimbangkan perubahan yang dapat dilakukan pada produk, proses, atau layanan yang sudah ada agar muncul sebagai inovasi baru. Dalam konteks QCC, SCAMPER dapat membantu anggota tim untuk berpikir kreatif dalam merancang solusi perbaikan dengan mengutak-atik elemen yang ada, dan dengan demikian dapat mengidentifikasi ide-ide solusi baru yang lebih efektif untuk mencapai perbaikan kualitas .

Langkah 'Penanggulangan dan Rencana Penanggulangan' dalam QCC dilakukan setelah akar penyebab masalah diidentifikasi. Pada tahap ini, tim menyusun rencana tindakan untuk mengatasi akar permasalahan dengan membandingkan berbagai alternatif solusi dan menilai dampak, teknis, serta ekonomis dari setiap alternatif. Ini termasuk perencanaan tindakan konkret yang akan dilakukan untuk mengeliminasi penyebab utama masalah dan memastikan perbaikan yang dilakukan bersifat berkelanjutan dan efektif .

Analisa 'Why-Why' merupakan teknik analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi akar penyebab dari suatu masalah dengan cara terus-menerus menanyakan 'mengapa' hingga akar permasalahan terungkap. Teknik ini membantu dalam proses pengendalian kualitas dengan memastikan bahwa tim tidak hanya mengatasi gejala masalah tetapi juga mengidentifikasi dan memperbaiki akar penyebab masalah secara substansial. Teknik ini sering digunakan bersama dengan Fishbone Diagram untuk memetakan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah .

Penggunaan 7 QC Tools dalam pendekatan QCC membantu tim untuk mengidentifikasi dan menganalisis berbagai masalah kualitas secara efektif. Keberadaan Pareto Chart, salah satu dari 7 QC Tools, sangat bermanfaat dalam menetapkan prioritas masalah dengan memvisualisasikan penyebab masalah berdasarkan frekuensi atau dampaknya, sehingga sumber terbesar dari masalah bisa diidentifikasi dan diatasi terlebih dahulu. Pareto Chart membantu memfokuskan upaya perbaikan pada area yang paling signifikan terhadap kesalahan atau masalah kualitas .

Metode QCC dijalankan dengan prinsip dasar perbaikan berkesinambungan yang didasarkan pada konsep Kaizen. Kaizen merupakan sistem perbaikan berkesinambungan dalam berbagai aspek seperti kualitas, proses, dan produktivitas. Penerapan Kaizen inilah yang dijalankan dengan menggunakan metode pengendalian mutu yaitu QCC. Dengan demikian, metode QCC mengimplementasikan konsep Kaizen melalui delapan langkah pengendalian kualitas yang terstruktur, dalam upaya perbaikan proses internal secara kontinual .

Anda mungkin juga menyukai