Pelaksanaan Anchor Handling AHTS
Pelaksanaan Anchor Handling AHTS
ISSN: 2086-1419
ABSTRAK
Penulisan ini bertujuan untuk membantu pembaca dalam memahami apa dan bagaimana
prosedur standar operasi dalam pekerjaan anchor handling dikapal AHTS serta
mengetahui hambatan apa saja yang dapat terjadi didalamnya. Penelitian ini dilaksanakan
pada kapal AHTS Transko Andalas selama 7 (tujuh) bulan yaitu pada tanggal 14 Februari
2018 sampai dengan tanggal 16 September 2018. Metode pengambilan data yang
digunakan dilakukan dengan cara mengadakan peninjauan langsung dan informasi
dikumpulkan melalui observasi, mengadakan pengamatan secara langsung terhadap objek
yang akan yang dibahas dalam tugas akhir ini yaitu pada saat melaksanakan praktek laut
disalah satu kapal. Hasil yang diperoleh setelah pengamatan menunjukkan bahwa
dibutuhkan pengalaman dan keterampilan serta pemahaman prosedur dalam pekerjaan
anchor handling.
PENDAHULUAN
Latar belakang Kegiatan ini semakin berkembang
Negara Republik Indonesia terkenal pesat seiring dengan kemajuan ilmu
dengan kesuburan dan kekayaan alamnya, pengetahuan dan teknologi, dengan
disamping itu juga dikenal dengan negara perkembangan tersebut juga berdampak
Kepulauan atau negara Maritim. Salah satu pada pembangunan kapal – kapal jenis
kekayaan Indonesia yang menjadi devisa supply dan anchor handling atau sering
andalan adalah gas alam dan minyak bumi. disebut AHTS (Anchor Handling Tug and
Sehubungan dengan kekayaan alam dan Supply Vessel) yang notabene merupakan
potensi yang dimiliki khususnya cadangan sarana transportasi vital dalam menunjang
minyak bumi dan gas alam, maka sudah kelancaran pengeboran minyak lepas
sepantasnya kita didukung Sumber Daya pantai. Hal ini juga berdampak pada
Manusia (SDM) yang memadai dalam banyaknya pertumbuhan perusahaan
upaya untuk mengelola dan menggali pelayaran yang khusus bergerak
potensi kekayaan alam tersebut. mengoprasikan kapal – kapal jenis AHTS
Dalam pengelolaannya kegiatan guna melayani mobilitas arus barang dan
eksplorasi minyak dan gas bumi dapat kebutuhan lainnya demi meningkatkan
dilakukan didarat dan juga di lepas pantai produktivitas serta kelancaran
tergantung dari titik dimana sumber minyak pengebeboran minyak dan gas. Untuk
dan gas bumi ditemukan, tetapi menimbang memenuhi kebutuhan transportasi tersebut,
terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan perusahaan pelayaran tidak hanya cukup
maka kegiatan eksplorasi ini lebih banyak menyediakan kapal – kapal dalam jumlah
dilakukan dilaut lepas pantai (offshore) yang banyak saja. Tetapi kapal – kapal juga
ataupun di perairan dalam (deepwater). harus merupakan armada yang tangguh dan
9
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
10
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
11
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
12
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
Pekerjaan anchor handling harus dengan anchor wire, kemudian kapal akan
dikerjakan dengan sangat hati – hati membawa jangkar tersebut keposisi yang
karena pekerjaan ini memiliki resiko sudah ditentukan oleh surveyor. Setelah
kecelakaan yang lebih tinggi dibandingkan kapal pada posisi kemudian jangkar akan
dengan pekerjaan lainnya. Hal ini diturunkan bersamaan dengan mengarea
disebabkan oleh beberapa hal yaitu anchor wire dari rig atau barge.
sebagai berikut:
1) Pengaruh internal, yaitu pengaruh dari Recovery/Retrieving Anchor
alat – alat pendukung anchor handling Recovery anchor adalah pekerjaan
seperti tugger winch, work wire, capstan, anchor handling yang dilakukan sama
drum towing atau alat – alat lainnya yang halnya dengan running anchor namun
sering kali mengalami masalah. Selain itu pada pekerjaan ini kita mengambil jangkar
kondisi crew juga sangat berpengaruh bukan pada rig atau barge melainkan
karena seperti yang penulis alami pada kapal mengambil jangkar yang sudah
beberapa kasus pekerjaan ini dilakukan dijatuhkan diposisi kemudian kapal
lebih dari 24 jam sehingga sangat membawa jangkar ke posisi lain yang
menguras tenaga dari crew kapal. telah ditentukan oleh surveyor kemudian
2) Pengaruh eksternal, yaitu pengaruh dari jangkar diturunkan pada posisi tersebut.
pihak pencharter yang memiliki hubungan Yang membedakan pada jenis jangkar ini
kontrak kerja dengan pihak pengusaha ditambahkan jangkar belakang (piggy
kapal, rig dan barge yang menyebabkan anchor), biasanya berjarak 2 segel dari
sering kali pencharter memberikan batas main anchor dan memiliki bouy yang lebih
waktu dalam pekerjaan tersebut. Hal ini besar. Fungsi dari jangkar ini adalah
yang menyebabkan crew kapal sering sebagai tempat tambat haluan kapal ketika
bekerja terus menerus yang berdampak akan melakuakan bongkar muat dari kapal
pada berkurangnya tenaga crew dan alat – ke rig ataupun ketika kapal belum
alat pendukung tidak bekerja secara mendapat ijin untuk mengikat di rig.
optimal
3) Pengaruh alam, yaitu pengaruh karena Chasing/graphing Anchor
seringnya terjadi perubahan cuaca yang Chasing/graphing anchor adalah
mengakibatkan olengan yang besar di suatu pekerjaan anchor handling untuk
deck kapal sehingga mengakibatkan mencari jangkar apabila pennant wire (tali
kinerja dari crew terbatas dan keadaan ini kawat baja) untuk menghubungkan
juga sangat berbahaya ketika melakukan jangkar dan bouy putus. Pekerjaan ini
pekerjaan anchor handling. merupakan pekerjaan anchor handling
yang paling sulit dan membutuhkan
Kategori Pekerjaan Anchor Handling keterampilan dari Nahkoda kapal karena
Pada jenis pekerjaannya anchor posisi jangkar yang dicari sering tidak
handling dibagi menjadi tiga kategori sesuai dengan posisi penurunan jangkar
yaitu recovery/retrieving anchor, sebelumnya. Alat yang biasa digunakan
running/deployed anchor dan pada pekerjaan ini adalah J-hook dan
graphing/cashing anchor. Pada dasarnya Grapnel.
prosedur pekerjaan ini sama, tetapi yang
membedakan adalah tujuan dari Alat – alat Pendukung Kegiatan Anchor
dilakukannya pekerjaan tersebut. Handling
Pada saat melakukan kegiatan
Running/Deployed Anchor anchor handling sebelumnya harus
Running anchor atau deployed anchor dipastikan bahwa semua alat – alat
adalah pekerjaan anchor handling yang penunjang harus dalam kondisi baik dan
dilakukan dengan mengambil jangkar siap digunakan baik dari peralatan ringan
pada rig atau barge kemudian dihubungan smpai mesin - mesin hydrolick. Menurut
13
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
Istopo (2010) alat – alat tersebut adalah Pada pekerjaan anchor handling
sebagai berikut: baik itu running anchor, recovery anchor
1) Drum Towing maupun graphing anchor pada dasarnya
2) Tungger Winch memiliki standar operasi prosedur yang
3) Work Wire sama dan yang membedakan hanya dari
4) Towing Wire fungsi pemasangan jangkar tersebut yaitu
5) Towing Pin sebagai berikut.
6) Carm Fork
7) Shackle Prosedur Standar Operasi Running
8) Bouy Catcher Anchor
9) Serta beberapa peralatan bantu di Pada pekerjaan running anchor
deck seperti linggis, palu, kunci, atau deployed anchor terdapat beberapa
pin split dll. tahapan yaitu:
1) Kapal mendekati rig atau barge
Persiapan di Deck Sebelum dengan posisi mundur untuk menerima
Pelaksanaan Anchor Handling jangkar, bouy, dan pennant wire serta
Sebelum melakukan pekerjaan peralatan lainnya.
anchor handling ada beberpa persiapan 2) Setelah semua alat – alat berada
yang harus dilakukan yaitu sebagai dideck kemudian jangkar dihubungkan
berikud: dengan anchor wire dari rig/barge dan
1) Melakukan tool box meeting dan jangkar ditahan dengan karm fork lalu
job safety analysis kepada seluruh crew kapal bergerak maju perlahan menuju
yang akan terlibat dimana didalamnya posisi yang sudah ditentukan sbelumnya
dibahas tugas dan tanggung jawab masing oleh surveyor.
– masing serta memastikan seluruh crew 3) Ketika kapal bergerak maju
dalam kondisi yang prima. nahkoda harus selalu menjaga komunikasi
2) Melakukan pemerikasaan dan dengan pihak rig/barge agar ketegangan
memastikan semua alat – alat hidrolik anchor wire tidak terlalu tegang.
dalam keadaan siap pakai misalnya: 4) Setelah sampai pada posisi yang
towing winch dapat menarik dan mengulur ditentukan jangkar dihubungkan dengan
wire, towing pin dapat terbuka dan pennant wire yang disesuaikan dengan
tertutup dengan lancar serta tungger winch kedalaman laut yang sebelumnya telah
dapat menarik dan mengulur dengan baik. digulung didalam drum towing kemudian
3) Persiapan peralatan di deck seperti jangkar diturunkan perlahan sambil
shackle dengan beberapa ukuran yaitu mengarea anchor wire dari rig/barge
(17T, 25T, 35T dll), tugger wire dan work 5) Setelah jangkar telah sampai pada
wire di area dan standby di deck serta dasar maka ujung pennant wire akan
peralatan bantu seperti linggis, palu, pin dihubungkan dengan bouy, setelah itu
split dan kunci – kunci juga harus bouy di-release
disiapkan.
4) Memastikan semua alat – alat Prosedur Standar Operasi Prosedur
komunikasi terhubung dengan baik dan Retrieving Anchor
lancar baik antara anjungan dengan deck Tahapan – tahapan dalam proses
maupun anjungan dengan rig/barge untuk recovery anchor merupakan kebalikan
menghindari adanya kesalahan dari running anchor yaitu mengangkat
komunikasi yang dapat terjadi. kembali jangkar yang telah diturunkan,
tahapannya yaitu sebagai berikut:
Prosedur Standar Operasi Pekerjaan 1) Crew melakukan persiapan di deck
Anchor Handling yaitu mengarea work wire dan tugger
winch kemudian menyiapkan alat bantu
lainnya seperti bouy catcher, palu, linggis,
14
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
sackle dalam berbagai ukuran, split pin beban atau adanya kerusakan pada
dan sebagainya. peralatan bantu yang mengakibatkan
2) Setelah semua peralatan dipastikan jangkar jatuh sebelum dihubungkan
siap kapal bergerak mundur mendekati dengan rantai jangkar ataupun dari jangkar
bouy, setelah posisi bouy tepat berada ke bouy. Dalam kondisi jangkar jatuh
sejajar dengan stern roller maka ABK sebelum dihubungkan dengan rantai dan
melempar atau mengalungkan bouy bouy maka satu – satunya cara untuk
catcher pada bouy. mengangkat jangkar kembali adalah
3) Ketika posisi bouy catcher sudah dengan menggunakan grapnel. Prosedur
pada bouy, maka ujung bouy catcher penggunaan grapnel adalah sebagai
dihubungkan dengan work wire yang berikut:
sebelumnya telah diarea dengan a) Grapnel dihubungkan dengan
menggunakan sackle yang disesuaikan work wire dan digantung pada bagian
dengan berat jangkar yang akan diangkat buritan kapal (stern roller) kemudian
biasanya menggunakan sackle SWL 25 T. kapal menuju posisi jatuhnya jangkar.
4) Kemudian work wire digulung dan b) Setelah sampai pada posisi maka
bouy perlahan akan naik di deck, setelah grapnel diturunkan perlahan sampai
bouy berada diatas deck maka karm fork kedasar kemudian kapal bergerak maju.
dinaikkan untuk menahan socket antara Area pencarian juga harus dibatasi dan
rantai jangkar dan bouy. betul – betul diperlukan ketelitian agar
5) Lepaskan bouy dan pindahkan kapal tidak terlalu jauh dari posisi
kesisi yang sekiranya aman dan tidak jatuhnya jangkar.
mengganggu kegiatan di deck. Setelah itu c) Kapal akan melakukan olah gerak
hubungkan kembali rantai jangkar dan dengan menyilang ataupun zig – zag pada
work wire kemudian gulung perlahan area yang diduga terdapat jangkar
sampai jangkar naik di stern roller. tersebut. Kapal akan terus bergerak
6) Setelah jangkar berada di deck didaerah ini sambil sesekali menggulung
lepaskan penghubung antara jangkar dan work wire untuk melihat apakah jangkar
rantai jangkar kemudian jangkar dipindah telah ditemukan atau belum.
posisi ataupun dikembalikan ke rig/barge. d) Setelah jangkar ditemukan maka
work wire digulung perlahan sampai
Prosedur Standar Operasi Graphing jangkar berada di deck.
Anchor
Tujuan dari pekerjaan anchor 2) Metode penggunaan J-Hook
handling ini adalah untuk mengangkat Penggunaan J-Hook pada
jangkar yang putus dari rantai jangkar pekerjaan anchor handling dilakukan
maupun dari jangkar ke bouy. Tahapan – ketika akan mengangkat jangkar yang
tahapan dalam pekerjaan anchor handling putus dari bouy. Tahapan – tahapan
ini yaitu menyiapkan peralatan di deck penggunaan J-Hook adalah sebagai
sama halnya ketika melakukan pekerjaan berikut:
recovery anchor maupun running anchor a) Menghubungkan J-Hook dengan
hanya yang membedakan penggunaan alat work wire kemudian kapal bergerak
tambahan seperti Grapnel dan J-Hook. mundur ke arah rig/barge disisi dimana
Grapnel kita gunakan ketika jangkar putus terdapat wire jangkar yang akan diangkat.
dari rantai jangkar dan bouy sedangkan J- b) Kemudian wire jangkar
Hook kita gunakan ketika rantai bouy diposisikan di bagian dalam dari J-Hook
putus dari jangkar. setelah itu kapal maju perlahan sambil
1) Metode pengunaan Grapnel mengarea work wire untuk menjaga
Pada pekerjaan anchor handling ketegangan wire yang menghubungkan rig
sering terjadi kejadian yang tidak dan jangkar.
diprediksi mungkin karena kelebihan
15
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
16
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
17
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
18
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
2) Recovery/Retrieving Anchor
Recovery anchor salah satu Setelah melakukan prosedur
pekerjaan anchor handling dimana kita anchor handling dan pekerjaan telah
mengangkat jangkar yang sebelumnya selesai penulis mengevaluasi beberapa
telah diturunkan (depploy) untuk permasalahan yang sering menghambat
dikembalikan ke rig maupun dipindah dalam pekerjaan tersebut. Adapun
posisikan ke lokasi yang lain, dan untuk hambatan tersebut dapat muncul dari luar
prosedur kerjanya adalah sebagai berikut: kapal maupun dari dalam kapal itu sendiri
a) Kapal bergerak pelan mendekati yang disebabkan oleh faktor kesalahan
bouy sementara itu bouy catcher teknis maupun faktor alam.
dihubungkan dengan work wire dan
standby untuk menarik. A. Faktor dari Dalam Kapal
b) Setelah kapal mendekati bouy 1) Faktor kemampuan kapal
kapal diputar agar buritan kapal tepat Dalam beberapa kasus yang
mengarah sejajar dengan bouy. penulis alami, faktor kemampuan kapal
c) Kemudian crew deck bersiap untuk sering kali menjadi penghambat
mengalungkan/mengayunkan bouy pelaksanaan pekerjaan anchor handling
catcher ke bouy. Diusahakan hal tersebut seperti seringnya terjadi kebocoran pipa
dilakukan hanya satu kali untuk mencegah pada peralatan hirolik, black out pada
resiko jatuh kelaut. mesin bantu bow thruster maupun
d) Setelah bouy catcher telah mengait peralatan pendukung yang kurang
dan dirasa aman kemudian buoy ditarik lengkap. Hal ini juga dipengaruhi oleh
perlahan dengan work wire yang kurangnya kepedulian crew dalam
sebelumnya telah dihubungkan setelah perawatan peralatan tersebut.
buoy berada diatas deck maka carm fork 2) Faktor kemampuan manusia
dinaikkan untuk menahan bouy kemudian Selain faktor kemampuan kapal
bouy dan bouy catcher dilepas. faktor kemampuan atau keterampilan
e) Setelah itu wire jangkar kemudian crew kapal juga sering menjadi
dihubungkan kembali dengan work wire penghambat. Seperti yang pernah penulis
dan dinaikkan perlahan sampai jangkar alami di AHTS Transko Andalas beberapa
naik diatas deck, setelah jangkar naik crew kurang paham dalam pekerjaan
jangkar kemudian dilepas dari wire anchor handling selain itu pengetahuan
jangkar yang terhubung ke rig. tentang peralatan pendukung juga masih
f) Setelah itu wire jangkar yang kurang sehingga sering terjadi kesalahan
terhubung ke rig di tahan menggunakan komunikasi antar crew yang bekerja di
karm fork kemudian kapal bergerak deck. Hal ini yang menyebabkan
mundur perlahan sementara itu pihak rig pengalaman dan skill kerja selalu
menggulung wire jangkar secara perlahan diutamakan untuk bekerja dikapal AHTS.
yang disesuaikan dengan komunikasi 3) Faktor lingkungan kerja
dengan pihak kapal untuk menjaga Faktor lingkungan kerja juga dapat
tension. menjadi salah satu penghambat dalam
g) Setelah kapal sampai ke sisi rig pekerjaan ini. Dalam kasus ini Nahkoda
dan dapat dijangkau dengan crane sebagai seorang pemimpin diatas kapal
kemudian wire anchor dinaikkan terlebih harus mampu menjaga suasana selalu
dahulu disusul dengan jangkar, bouy, kondusif, aman dan nyaman agar tidak
pennant wire dan peralatan pendukung terjadi ketegangan ketika sedang
lainnya seperti shackle dan middle line melakukan suatu pekerjaan.
jika ada.
B. Faktor dari Luar Kapal
Hambatan Dalam Pekerjaan Anchor Selain faktor dari dalam kapal faktor dari
Handling luar kapal juga sangat mempengaruhi
19
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
pekerjaan ini misalnya cuaca buruk. benar dipahami dan dimengerti oleh setiap
Seperti yang pernah penulis alami, pada crew kapal. Sesuai dengan pengamatan
saat itu kapal AHTS Transko Andalas yang telah dilakukan maka penulis
akan melakukan pekerjaan anchor memberikan saran sebagai berikut:
handling di daerah Sisi Nubi Oil and Gas 1) Sebelum melakukan pekerjaan
Field tepanya di platform WPS2. Ketika anchor handling agar crew selalu
proses transfer material dari rig ke kapal melakukan safety dan toolbox meeting
telah selesai tiba – tiba cuaca menjadi terlebih dahulu, selain untuk untuk
mendung dan tak lama kemudian hujan memberikan gambaran tentang pekerjaan
disertai angin kencang yang mencapai 35 juga bertujuan untuk membangun
knot sehingga kejadian ini menyebabkan kekompakan antar crew.
pekerjaan tertunda selama kurang lebih 12 2) Mualim dan masinis serta dibantu
jam. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh crew lainnya harus bertanggung
ketika cuaca sedang kurang baik karena jawab dalam perawatan peralatan anchor
dapat mempengaruhi hal – hal sebagai handling.
berikut: 3) Nahkoda harus mengawasi setiap
a) Posisi penurunan jangkar dapat proses pekerjaan anchor handling dan
berpindah. memastikan setiap tindakan yang diambil
b) Olah gerak kapal akan susah tidak membahayakan.
dikendalikan. 4) Perusahaan sebagai pemilik kapal
c) Resiko putusnya wire jangkar jauh harus memenuhi kelengkapan peralatan
lebih besar. anchor handling yang disesuaikan dengan
d) Bertambahnya beban pada mesin kebutuhan dan permintaan dari kapal
kapal. termasuk juga didalamnya yaitu mengirim
crew yang memiliki pengalaman dan
KESIMPULAN DAN SARAN keterampilan untuk bekerja dikapal
AHTS.
Berdasarkan uraian pada bab-bab
sebelumnya, maka penulis menarik DAFTAR RUJUKAN
kesimpulan bahwa:
1) Proses dalam anchor handling Capt. Krets Mamondole, [Link] (1998),
dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap Anchor Handling.
persiapan dan tahap pelaksanaan. Tahap Capt. H. R. Soebakti, [Link] (2000),
persiapan akan diawali dengan safety Hukum Perkapalan dan
meeting dan tollbox meeting serta Pengangkutan Laut.
pembagian tugas dan tanggung jawab Istopo (2010), Kamus Istilah Pelayaran
masing – masing crew. Tahap pelaksanaan dan Perkapalan.
yaitu dimana proses anchor handling Sumber Internet : [Link]
sedang berlangsung yang dipimpin oleh [Link]
Nahkoda dan bosun sebagai pelaksana di
deck.
2) Hambatan – hambatan lebih
banyak disebabkan karena kurangnya
perawatan terhadap peralatan anchor
handling yang berdampak pada
kurangnya kinerja dari alat - alat tersebut.
Saran
Mengingat resiko dalam pekerjaan anchor
handling begitu besar maka prosedur
pekerjaan anchor handling harus benar –
20