0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
122 tayangan12 halaman

Pelaksanaan Anchor Handling AHTS

Dokumen tersebut membahas tentang pelaksanaan pekerjaan anchor handling di kapal AHTS Transko Andalas. Ia menjelaskan prosedur standar operasi dan masalah yang sering dihadapi dalam pekerjaan tersebut. Penelitian dilakukan selama 7 bulan untuk memahami keterampilan dan pengalaman yang dibutuhkan dalam anchor handling.

Diunggah oleh

Saya Bisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
122 tayangan12 halaman

Pelaksanaan Anchor Handling AHTS

Dokumen tersebut membahas tentang pelaksanaan pekerjaan anchor handling di kapal AHTS Transko Andalas. Ia menjelaskan prosedur standar operasi dan masalah yang sering dihadapi dalam pekerjaan tersebut. Penelitian dilakukan selama 7 bulan untuk memahami keterampilan dan pengalaman yang dibutuhkan dalam anchor handling.

Diunggah oleh

Saya Bisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019.

ISSN: 2086-1419

PELAKSANAAN ANCHOR HANDLING


DI KAPAL AHTS TRANSKO ANDALAS
FX. Arif Wahyudianto 1) Rusman2) Puji Astuti Amalia 3) Juliandri Sarira Tanduk 4)
1)
Staf Pengajar Jurusan Kemaritiman
2)
Staf Pengajar Jurusan Kemaritiman
3)
Staf Pengajar Jurusan Kemaritiman
4)
Mahasiswa Jurusan Kemaritiman
E-mail: wahyudie_fx@[Link]

ABSTRAK

Penulisan ini bertujuan untuk membantu pembaca dalam memahami apa dan bagaimana
prosedur standar operasi dalam pekerjaan anchor handling dikapal AHTS serta
mengetahui hambatan apa saja yang dapat terjadi didalamnya. Penelitian ini dilaksanakan
pada kapal AHTS Transko Andalas selama 7 (tujuh) bulan yaitu pada tanggal 14 Februari
2018 sampai dengan tanggal 16 September 2018. Metode pengambilan data yang
digunakan dilakukan dengan cara mengadakan peninjauan langsung dan informasi
dikumpulkan melalui observasi, mengadakan pengamatan secara langsung terhadap objek
yang akan yang dibahas dalam tugas akhir ini yaitu pada saat melaksanakan praktek laut
disalah satu kapal. Hasil yang diperoleh setelah pengamatan menunjukkan bahwa
dibutuhkan pengalaman dan keterampilan serta pemahaman prosedur dalam pekerjaan
anchor handling.

Kata Kunci: Anchor Handling, Prosedur, Kapal

PENDAHULUAN
Latar belakang Kegiatan ini semakin berkembang
Negara Republik Indonesia terkenal pesat seiring dengan kemajuan ilmu
dengan kesuburan dan kekayaan alamnya, pengetahuan dan teknologi, dengan
disamping itu juga dikenal dengan negara perkembangan tersebut juga berdampak
Kepulauan atau negara Maritim. Salah satu pada pembangunan kapal – kapal jenis
kekayaan Indonesia yang menjadi devisa supply dan anchor handling atau sering
andalan adalah gas alam dan minyak bumi. disebut AHTS (Anchor Handling Tug and
Sehubungan dengan kekayaan alam dan Supply Vessel) yang notabene merupakan
potensi yang dimiliki khususnya cadangan sarana transportasi vital dalam menunjang
minyak bumi dan gas alam, maka sudah kelancaran pengeboran minyak lepas
sepantasnya kita didukung Sumber Daya pantai. Hal ini juga berdampak pada
Manusia (SDM) yang memadai dalam banyaknya pertumbuhan perusahaan
upaya untuk mengelola dan menggali pelayaran yang khusus bergerak
potensi kekayaan alam tersebut. mengoprasikan kapal – kapal jenis AHTS
Dalam pengelolaannya kegiatan guna melayani mobilitas arus barang dan
eksplorasi minyak dan gas bumi dapat kebutuhan lainnya demi meningkatkan
dilakukan didarat dan juga di lepas pantai produktivitas serta kelancaran
tergantung dari titik dimana sumber minyak pengebeboran minyak dan gas. Untuk
dan gas bumi ditemukan, tetapi menimbang memenuhi kebutuhan transportasi tersebut,
terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan perusahaan pelayaran tidak hanya cukup
maka kegiatan eksplorasi ini lebih banyak menyediakan kapal – kapal dalam jumlah
dilakukan dilaut lepas pantai (offshore) yang banyak saja. Tetapi kapal – kapal juga
ataupun di perairan dalam (deepwater). harus merupakan armada yang tangguh dan

9
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419

dilengkapi dengan tenaga pelaut yang Batasan Masalah


potensial, terampil, bertanggung jawab dan Guna menghindari terjadinya
memiliki pengetahuan serta pengalaman perbedaan pendapat-pendapat yang tidak
yang cukup untuk bekerja di kapal supplay terkendali serta pembahasan penelitian
dalam upaya mencegah terjadinya ini tidak keluar dari batasan masalah-
kecelakaan. masalah dan juga keterbatasan penulis
Kapal AHTS memiliki beberapa dalam hal pengalaman dan waktu, maka
pekerjaan khusus seperti rig move, ranning penulis membatasi masalah dan
cargo dan anchor handling yang tidak menjelaskan prosedur standar operasi
dilakukan oleh kapal pada umumnya. dan masalah yang kerap menjadi
Pekerjaan ini memiliki resiko yang sangat penghambat proses anchor handling di
tinggi karena itu keterampilan dan kapal AHTS Transko Andalas.
pengalaman seorang crew sangat
dibutuhkan untuk untuk bekerja dikapal ini. TINJAUAN PUSTAKA
Untuk mengurangi kecelakaan di kapal Eksplorasi Lepas Pantai (Offshore)
AHTS maka dalam setiap kegiatan atau Eksplorasi lepas pantai (offshore)
pekerjaan dibutuhkan standard operational adalah suatu kegiatan yang dilakukan di
procedure (SOP) yang harus dipahami dan laut dengan tujuan untuk mengeksplorasi
dijalankan oleh setiap awak kapal. Setiap gas dan minyak bumi atau pun deposit
pekerjaan dikapal AHTS selalu diawali mineral bawah tanah lainnya. Dalam hal
dengan safety meeting dan tool box meeting ini, tentu kegiatan tersebut sangat
terlebih dahulu. Kegiatan seperti ini akan membutuhkan armada pelayaran yang
diambil alih dan dipimpin langsung oleh khusus dan mumpuni dalam rangka
Nakoda serta didampingi oleh perwira menunjang kegiatan tersebut. Berikut ini
lainnya. Tujuannya adalah untuk adalah beberapa jenis kapal menurut
meningkatkan kedisiplinan kerja dan Mamondole (1998) yang digunakan
kewaspadaan terhadap kecelakan kerja untuk menunjang kegiatan eksplorasi
serta untuk membangun kekompakan crew offshore:
di atas kapal. 1) Jenis kapal AHT (Anchor
Berdasarkan uraian – uraian diatas Handling Tug) merupakan jenis kapal
dan mengingat pentingnya prosedur standar yang bertugas untuk menarik rig atau
operasi salama setiap pekerjaan maka barge dan melakuakan pekerjaan anchor
penulis tertarik untuk mengangkat judul handling.
“Pelaksanaan Anchor Handling Di Kapal 2) Jenis kapal AHTS (Anchor
Ahts Transko Andalas”. Handling Tug and Suplly) merupakan
jenis kapal sebagai hasil penyempurnaan
Rumusan Masalah dari kapal AHT yang mana mempunyai
Berdasarkan latar belakang diatas beberapa perbedaan yaitu ukuran yang
maka rumusan masalah yang penulis ambil lebih besar dan biasanya dilengkapi
adalah sebagai berikut: dengan 2 mesin bantu Bow Thruster
1) Bagaimana pelaksanaan pekerjaan serta Dinamic Position Sistem (DPS).
anchor handling? 3) Crew Boat atau Accomodation
2) Apa masalah yang menghambat proses Boat merupakan jenis kapal yang
anchor handling? bertugas untuk melayani mobilitas
perkerja di rig, barge maupun crew
Tujuan Penelitian kapal.
1) Untuk mengetahui pelaksanaan 4) Kapal DSV (Diving Supply Vessel)
pekerjaan anchor handling. merupakan kapal yang dipakai untuk
2) Untuk mengetahui masalah yang exsplorasi penyelaman.
menghambat proses anchor handling. 5) Jenis kapal PVS (Platform Supply
Vessel) merupakan kapal yang didesain

10
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419

khusus untuk transportasi barang dan dengan mengisi “ballast tank”


personil dari pelabuhan ke platform. menggunakan air agar tenggelam dan
6) Jenis kapal RV (Research Vessel) duduk diatas laut
merupakan kapal survey yang 3) Tender Barge Rig
mempunyai fungsi untuk melakukan Jenis rig ini sama dengan jenis
survey dan penelitian dibawah laut. Swamp Barge Rig perbedaannya adalah
Biasanya kapal ini juga difungsikan posisi penggunaannya yang yang
sebagai diving vessel. biasanya di daerah pesisir dengan
kedalaman 10 hingga 30 meter. Karena
Instalasi Penunjang Eksplorasi Lepas ukurannya yang relative kecil maka
Pantai (Offshore) untuk mobilisasi rig ini biasanya
ditowing dua kapal tunda.
Dalam aktivitasnya, eksplorasi 4) Jack Up Rig
lepas pantai (offshore) selain didukung Rig jenis ini banyak digunakan pada
oleh adanya kapal juga harus didukung pengeboran lepas pantai dengan
oleh instalasi lainnya yaitu rig. Rig kedalaman 30 hingga 200 meter. Rig ini
secara garis besar merupakan suatu memiliki badan yang berdiri diatas
komponen peralatan yang telah permukaan air yang ditopang oleh kaki –
dirancang sedemikian rupa untuk kaki baja (biasanya terdiri dari 3 kaki)
melakukan pengeboran kedalam Kaki dari rig ini dapat dinaikkan atau
reservoir bawah tanah untuk diturunkan, sehingga ketika akan
memperoleh air, minyak, gas bumi digunakan semua kaki akan diturunkan
ataupun deposit mineral bawah tanah hingga kedasar laut kemudian badan dari
lainnya. Rig pengeboran bisa berada rig akan dinaikkan sesuai keinginan.
didarat (onshore) maupun dilepas pantai Untuk mobilisasi dari rig ini biasanya
(offshore) tergantung dari kebutuhan akan menggunakan 2 atau 3 kapal
pemakainya. Rig pengeboran dapat AHTS.
digunakan tidak hanya untuk 5) Submersible Rig
mengidentifikasi sifat geologis maupun Submersible rig merupakan jenis rig
kandungan dari reservoir tetapi juga yang mengapung yang menggunakan
untuk membuat lubang yang Hull atau semacam kaki. Untuk menjaga
memungkinkan pengambilan minyak dan kestabilan posisi, rig ini menggunakan
gas bumi dari reservoir tersebut. Jenis – Thruster (semacam baling – baling) yang
jenis rig ini dibagi berdasarkan lokasi berada disekelilingnya serta ballast
atau kedalaman dimana rig akan control system yang dikendalikan dengan
digunakan, pembagiannya yaitu sebagai sistem komputer selain itu juga ditopang
berikut: oleh 8 atau 12 jangkar sehingga
1) Rig Darat (Onshore Rig) posisinya sangat stabil. Karena itu jenis
Rig ini pada umumnya dioperasikan rig ini cocok digunakan pada lokasi yang
didarat dan biasanya telah didesain berombak besar dan memiliki cuaca
portable untuk memudahkan dalam buruk ataupun pada perairan dengan
pemasangan dan pembongkaran dan kedalaman 90 hingga 750 meter.
untuk wilayah yang sulit dijangkau yang 6) Drill Ship
tidak dapat dijangkau jalur darat bisanya Drill Ship merupakan jenis rig
menggunakan heliportable. mobile yang diletakkan diatas kapal laut,
2) Swamp Barge Rig sehingga sangat cocok pengeboran dilaut
Rig ini merupakan jenis rig yang dalam (dengan kedalaman lebih dari
dioperasikan untuk kedalam antara 7 – 2800 meter). Pada kapal ini didirikan
15 ft (laut dangkal) dan pada umumnya menara dan bagian bawahnya terbuka
dipakai untuk daerah rawa ataupun kelaut (moon pool) dan dikendalikan
sungai. Pengoprasian jenis rig ini yakni

11
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419

dengan sistem dinamic position yang Dalam pengoprasiannya kapal


memungkinkan kapal mempertahankan AHTS melakukan rutinitas atau pekerjaan
posisinya. Selain itu, daya muatnya juga seperti kapal pada umumnya seperti
lebih besar dari jenis rig lainnya berlayar melakukan bongkar muat dan
sehinnga memungkinkan untuk dipakai lainnya tetapi kapal ini memiliki beberapa
pada daerah yang terpencil dan jauh dari pekerjaan khusus yang tidak dikerjakan
daratan oleh jenis kapal lainnya seperti running
cargo, rig move, survey dan anchor
Anchor Handling Tug and Supply handling.
Vessel
Kapal Anchor Handling Tug and Running cargo
Supply (AHTS) adalah jenis kapal yang Running cargo adalah suatu
dirancang secara khusus untuk melayani kegiatan atau pekerjaan yang dilakukan
kegiatan atau pekerjaan – pekerjaan dengan memuat barang – barang
eksplorasi dilepas pantai (offshore). Jenis kebutuhan dari pelabuhan atau jetty
kapal ini mempunyai ciri khusus seperti khusus ke rig atau barge yang melayani
badan yang kecil dengan daya mesin kegiatan offshore. Barang – barang
induk yang besar serta didukung oleh tersebut berupa material padat, curah dan
mesin bantu yang besar pula dengan cair seperti pipa besi, bahan bakar, air,
sistem propeller ganda dan dlengkapi semen dan makanan yang diangkut sesuai
dengan alat bantu manuver untuk dengan permintaan pihak rig. Proses
mempertahankan posisi yaitu Bow bongkar muat cargo antara kapal dan rig
Thruster, Stern Thruster dan Azimuth disebut dengan Lifting yang menggunakan
Thruster serta Dinamic Position System crane untuk proses transfer barang dari
untuk kapal AHTS yang lebih modern. kapal ke rig maupun sebaliknya.
Perlengkapan kerja lainnya berupa mesin
– mesin hidrolik yang mampu menahan Rig move
beban sampai 300 T seperti Towing Rig move adalah suatu pekerjaan
Winch, Tugger Winch, crane dan pemindahan rig dari platform atau
perlengkapan tanki – tanki untuk muatan pelabuhan menuju dimana sumber gas dan
curah (bulk material tank) maupun minyak bumi yang akan di bor berada.
muatan cairan seperti: cement, barite, Kegiatan seperti ini biasanya
fuel dan brine KCL. menggunakan 3 kapal AHTS dalam
Badan usaha yang biasanya membatu pergerakan rig agar tidak jauh
menggunakan jasa dari kapal – kapal dari posisi dan juga agar rig tidak hanyut
supply adalah perusahaan pengeboran oleh arus. Biasanya satu kapal didepan
minyak, baik dari luar negeri maupun sebagai main towing dan 2 lainnya di
dari dalam negeri sendiri. Sejalan dengan masing – masing sisi sebagai Assist Tug.
eksplorasi dilokasi pengeboran minyak
dan bumi yang secara terus – menerus, Anchor handling
maka aktivitas kerja di kapal – kapal Anchor handling atau biasa juga
supply adalah 24 jam. Oleh karena itu, disebut dengan anchor job adalah suatu
disini betul – betul dibutuhkan pekerjaan pengangkatan ataupun
disamping kondisi kapal yang baik dan pemasangan jangkar rig atau barge.
peralatan lengkap juga harus dilengkapi Pekerjaan ini dilakukan sebelum rig
dengan awak kapal yang cukup disiplin berada pada posisi yang sudah ditentukan.
dan memiliki keterampilan serta Maksud dari pekerjaan ini agar rig dapat
pengalaman yang cukup untuk bekerja di mempertahankan posisi dari kekuatan
kapal ini. arus, ombak, angin dan gangguan lainnya
sebelum kaki pada rig diturunkan.
Jenis – jenis Pekerjaan Kapal AHTS

12
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419

Pekerjaan anchor handling harus dengan anchor wire, kemudian kapal akan
dikerjakan dengan sangat hati – hati membawa jangkar tersebut keposisi yang
karena pekerjaan ini memiliki resiko sudah ditentukan oleh surveyor. Setelah
kecelakaan yang lebih tinggi dibandingkan kapal pada posisi kemudian jangkar akan
dengan pekerjaan lainnya. Hal ini diturunkan bersamaan dengan mengarea
disebabkan oleh beberapa hal yaitu anchor wire dari rig atau barge.
sebagai berikut:
1) Pengaruh internal, yaitu pengaruh dari Recovery/Retrieving Anchor
alat – alat pendukung anchor handling Recovery anchor adalah pekerjaan
seperti tugger winch, work wire, capstan, anchor handling yang dilakukan sama
drum towing atau alat – alat lainnya yang halnya dengan running anchor namun
sering kali mengalami masalah. Selain itu pada pekerjaan ini kita mengambil jangkar
kondisi crew juga sangat berpengaruh bukan pada rig atau barge melainkan
karena seperti yang penulis alami pada kapal mengambil jangkar yang sudah
beberapa kasus pekerjaan ini dilakukan dijatuhkan diposisi kemudian kapal
lebih dari 24 jam sehingga sangat membawa jangkar ke posisi lain yang
menguras tenaga dari crew kapal. telah ditentukan oleh surveyor kemudian
2) Pengaruh eksternal, yaitu pengaruh dari jangkar diturunkan pada posisi tersebut.
pihak pencharter yang memiliki hubungan Yang membedakan pada jenis jangkar ini
kontrak kerja dengan pihak pengusaha ditambahkan jangkar belakang (piggy
kapal, rig dan barge yang menyebabkan anchor), biasanya berjarak 2 segel dari
sering kali pencharter memberikan batas main anchor dan memiliki bouy yang lebih
waktu dalam pekerjaan tersebut. Hal ini besar. Fungsi dari jangkar ini adalah
yang menyebabkan crew kapal sering sebagai tempat tambat haluan kapal ketika
bekerja terus menerus yang berdampak akan melakuakan bongkar muat dari kapal
pada berkurangnya tenaga crew dan alat – ke rig ataupun ketika kapal belum
alat pendukung tidak bekerja secara mendapat ijin untuk mengikat di rig.
optimal
3) Pengaruh alam, yaitu pengaruh karena Chasing/graphing Anchor
seringnya terjadi perubahan cuaca yang Chasing/graphing anchor adalah
mengakibatkan olengan yang besar di suatu pekerjaan anchor handling untuk
deck kapal sehingga mengakibatkan mencari jangkar apabila pennant wire (tali
kinerja dari crew terbatas dan keadaan ini kawat baja) untuk menghubungkan
juga sangat berbahaya ketika melakukan jangkar dan bouy putus. Pekerjaan ini
pekerjaan anchor handling. merupakan pekerjaan anchor handling
yang paling sulit dan membutuhkan
Kategori Pekerjaan Anchor Handling keterampilan dari Nahkoda kapal karena
Pada jenis pekerjaannya anchor posisi jangkar yang dicari sering tidak
handling dibagi menjadi tiga kategori sesuai dengan posisi penurunan jangkar
yaitu recovery/retrieving anchor, sebelumnya. Alat yang biasa digunakan
running/deployed anchor dan pada pekerjaan ini adalah J-hook dan
graphing/cashing anchor. Pada dasarnya Grapnel.
prosedur pekerjaan ini sama, tetapi yang
membedakan adalah tujuan dari Alat – alat Pendukung Kegiatan Anchor
dilakukannya pekerjaan tersebut. Handling
Pada saat melakukan kegiatan
Running/Deployed Anchor anchor handling sebelumnya harus
Running anchor atau deployed anchor dipastikan bahwa semua alat – alat
adalah pekerjaan anchor handling yang penunjang harus dalam kondisi baik dan
dilakukan dengan mengambil jangkar siap digunakan baik dari peralatan ringan
pada rig atau barge kemudian dihubungan smpai mesin - mesin hydrolick. Menurut

13
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419

Istopo (2010) alat – alat tersebut adalah Pada pekerjaan anchor handling
sebagai berikut: baik itu running anchor, recovery anchor
1) Drum Towing maupun graphing anchor pada dasarnya
2) Tungger Winch memiliki standar operasi prosedur yang
3) Work Wire sama dan yang membedakan hanya dari
4) Towing Wire fungsi pemasangan jangkar tersebut yaitu
5) Towing Pin sebagai berikut.
6) Carm Fork
7) Shackle Prosedur Standar Operasi Running
8) Bouy Catcher Anchor
9) Serta beberapa peralatan bantu di Pada pekerjaan running anchor
deck seperti linggis, palu, kunci, atau deployed anchor terdapat beberapa
pin split dll. tahapan yaitu:
1) Kapal mendekati rig atau barge
Persiapan di Deck Sebelum dengan posisi mundur untuk menerima
Pelaksanaan Anchor Handling jangkar, bouy, dan pennant wire serta
Sebelum melakukan pekerjaan peralatan lainnya.
anchor handling ada beberpa persiapan 2) Setelah semua alat – alat berada
yang harus dilakukan yaitu sebagai dideck kemudian jangkar dihubungkan
berikud: dengan anchor wire dari rig/barge dan
1) Melakukan tool box meeting dan jangkar ditahan dengan karm fork lalu
job safety analysis kepada seluruh crew kapal bergerak maju perlahan menuju
yang akan terlibat dimana didalamnya posisi yang sudah ditentukan sbelumnya
dibahas tugas dan tanggung jawab masing oleh surveyor.
– masing serta memastikan seluruh crew 3) Ketika kapal bergerak maju
dalam kondisi yang prima. nahkoda harus selalu menjaga komunikasi
2) Melakukan pemerikasaan dan dengan pihak rig/barge agar ketegangan
memastikan semua alat – alat hidrolik anchor wire tidak terlalu tegang.
dalam keadaan siap pakai misalnya: 4) Setelah sampai pada posisi yang
towing winch dapat menarik dan mengulur ditentukan jangkar dihubungkan dengan
wire, towing pin dapat terbuka dan pennant wire yang disesuaikan dengan
tertutup dengan lancar serta tungger winch kedalaman laut yang sebelumnya telah
dapat menarik dan mengulur dengan baik. digulung didalam drum towing kemudian
3) Persiapan peralatan di deck seperti jangkar diturunkan perlahan sambil
shackle dengan beberapa ukuran yaitu mengarea anchor wire dari rig/barge
(17T, 25T, 35T dll), tugger wire dan work 5) Setelah jangkar telah sampai pada
wire di area dan standby di deck serta dasar maka ujung pennant wire akan
peralatan bantu seperti linggis, palu, pin dihubungkan dengan bouy, setelah itu
split dan kunci – kunci juga harus bouy di-release
disiapkan.
4) Memastikan semua alat – alat Prosedur Standar Operasi Prosedur
komunikasi terhubung dengan baik dan Retrieving Anchor
lancar baik antara anjungan dengan deck Tahapan – tahapan dalam proses
maupun anjungan dengan rig/barge untuk recovery anchor merupakan kebalikan
menghindari adanya kesalahan dari running anchor yaitu mengangkat
komunikasi yang dapat terjadi. kembali jangkar yang telah diturunkan,
tahapannya yaitu sebagai berikut:
Prosedur Standar Operasi Pekerjaan 1) Crew melakukan persiapan di deck
Anchor Handling yaitu mengarea work wire dan tugger
winch kemudian menyiapkan alat bantu
lainnya seperti bouy catcher, palu, linggis,

14
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419

sackle dalam berbagai ukuran, split pin beban atau adanya kerusakan pada
dan sebagainya. peralatan bantu yang mengakibatkan
2) Setelah semua peralatan dipastikan jangkar jatuh sebelum dihubungkan
siap kapal bergerak mundur mendekati dengan rantai jangkar ataupun dari jangkar
bouy, setelah posisi bouy tepat berada ke bouy. Dalam kondisi jangkar jatuh
sejajar dengan stern roller maka ABK sebelum dihubungkan dengan rantai dan
melempar atau mengalungkan bouy bouy maka satu – satunya cara untuk
catcher pada bouy. mengangkat jangkar kembali adalah
3) Ketika posisi bouy catcher sudah dengan menggunakan grapnel. Prosedur
pada bouy, maka ujung bouy catcher penggunaan grapnel adalah sebagai
dihubungkan dengan work wire yang berikut:
sebelumnya telah diarea dengan a) Grapnel dihubungkan dengan
menggunakan sackle yang disesuaikan work wire dan digantung pada bagian
dengan berat jangkar yang akan diangkat buritan kapal (stern roller) kemudian
biasanya menggunakan sackle SWL 25 T. kapal menuju posisi jatuhnya jangkar.
4) Kemudian work wire digulung dan b) Setelah sampai pada posisi maka
bouy perlahan akan naik di deck, setelah grapnel diturunkan perlahan sampai
bouy berada diatas deck maka karm fork kedasar kemudian kapal bergerak maju.
dinaikkan untuk menahan socket antara Area pencarian juga harus dibatasi dan
rantai jangkar dan bouy. betul – betul diperlukan ketelitian agar
5) Lepaskan bouy dan pindahkan kapal tidak terlalu jauh dari posisi
kesisi yang sekiranya aman dan tidak jatuhnya jangkar.
mengganggu kegiatan di deck. Setelah itu c) Kapal akan melakukan olah gerak
hubungkan kembali rantai jangkar dan dengan menyilang ataupun zig – zag pada
work wire kemudian gulung perlahan area yang diduga terdapat jangkar
sampai jangkar naik di stern roller. tersebut. Kapal akan terus bergerak
6) Setelah jangkar berada di deck didaerah ini sambil sesekali menggulung
lepaskan penghubung antara jangkar dan work wire untuk melihat apakah jangkar
rantai jangkar kemudian jangkar dipindah telah ditemukan atau belum.
posisi ataupun dikembalikan ke rig/barge. d) Setelah jangkar ditemukan maka
work wire digulung perlahan sampai
Prosedur Standar Operasi Graphing jangkar berada di deck.
Anchor
Tujuan dari pekerjaan anchor 2) Metode penggunaan J-Hook
handling ini adalah untuk mengangkat Penggunaan J-Hook pada
jangkar yang putus dari rantai jangkar pekerjaan anchor handling dilakukan
maupun dari jangkar ke bouy. Tahapan – ketika akan mengangkat jangkar yang
tahapan dalam pekerjaan anchor handling putus dari bouy. Tahapan – tahapan
ini yaitu menyiapkan peralatan di deck penggunaan J-Hook adalah sebagai
sama halnya ketika melakukan pekerjaan berikut:
recovery anchor maupun running anchor a) Menghubungkan J-Hook dengan
hanya yang membedakan penggunaan alat work wire kemudian kapal bergerak
tambahan seperti Grapnel dan J-Hook. mundur ke arah rig/barge disisi dimana
Grapnel kita gunakan ketika jangkar putus terdapat wire jangkar yang akan diangkat.
dari rantai jangkar dan bouy sedangkan J- b) Kemudian wire jangkar
Hook kita gunakan ketika rantai bouy diposisikan di bagian dalam dari J-Hook
putus dari jangkar. setelah itu kapal maju perlahan sambil
1) Metode pengunaan Grapnel mengarea work wire untuk menjaga
Pada pekerjaan anchor handling ketegangan wire yang menghubungkan rig
sering terjadi kejadian yang tidak dan jangkar.
diprediksi mungkin karena kelebihan

15
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419

c) Setelah kapal berada pada posisi  Bertanggung jawab untuk


jangkar maka kapal akan mempertahan memberikan komando baik dari
kan posisi dan mulai menggulung work anjungan ke deck maupun ke
wire perlahan sampai jangkar berada di rig/barge.
deck.
d) Setelah jangkar berada di deck 2) Chief Officer dan Second Officer
maka jangkar ditahan atau dijepit dengan Tugas dan tanggung jawab Chieff
carm fork kemudian dilepaskan dari wire Officer dan Second Officer yaitu
jangkar. Setelah itu kapal bergerak memonitor setiap kegiatan selama
mundur perlahan untuk mengembalikan pekerjaan anchor handling berlangsung
jangkar ke rig. dan menjadi radio komunikator antara
anjungan dengan deck maupun dengan
Job Description rig/barge.
Saat Melakukan Pekerjaan Anchor 3) Chieff Engineer atau Kepala
Handling Pada saat pekerjaan anchor Kamar Mesin
handling crew akan dibagi dalam tugasnya Chieff Engineer ketika pekerjaan
masing – masing tergantung dari anchor handling berlangsung memiliki
kebijaksanaan Nakhoda tetapi secara tugas dan tanggung jawab sebagain towing
umum tugas dan tanggung jawab crew operator dan bertanggung jawab atas
pada saat melakukan pekerjaan anchor semua kelancaran peralatan mechinery.
handling adalah sebagai berikut: 4) Second Engineer dan Third
1) Nakhoda Engineer
Nakhoda secara umum menjadi Ketika pekerjaan anchor handling
penanggung jawab atas semua kejadian berlangsung Second Engineer dan
atau pekerjaan yang dilakukan diatas kapal Third Engineer memiliki tugas dan
dalam peraturan dan perundang – tanggung jawab untuk memonitor setiap
undangan diatur sebagai berikut: peralatan mechinery agar tetap dalam
a) Pasal 384 dan 385 KUHD yaitu kondisi yang baik selain itu juga
sebagai pemegang kewibawaan membantu Chieff Engineer sebagai towing
umum diatas kapal. operator.
b) Pasal 341 KUHD, 1/1 (c) STCW 5) Bosun
1978 yaitu sebagai pemimpin Bosun selain menjadi kepala kerja
kapal. juga bertanggung jawab ketika pekerjaan
c) Pasal 387, 388, 390,394 (a) KUHD anchor handling dan menjadi leader bagi
yaitu sebagai penegak hukum. A/B untuk mengatur segala persiapan
d) Pasal 55 UU. No. 21. Th. 1992 peralatan di deck maupun mengatur
yaitu sebagai pegawai pencatatan penempatan bouy dan jangkar serta
sipil jika ada kematian atau sebagai radio komunikator antara deck dan
kelahiran. anjungan.
e) Pasal 947 dan 952 KUHP yaitu 6) Able Body (A/B)
sebagai notaris. Ketika pekerjaan anchor handling
sedang berlangsung maka A/B akan
Menurut Soebakti (2000) dalam berperan sebagai assist bosun dan
hubungannya dengan anchor handling mengikuti arahan dari bosun.
nakhoda mempunyai tugas dan tanggung 7) Oiler
jawab sebagai berikut: Oiler ketika pekerjaan anchor
 Sebagai penanggung jawab penuh handling berlangsung mempunyai tugas
dalam kegiatan anchor handling. untuk memonitoring di Engine Control
 Bertanggung jawab penuh dalam Room dan main engine.
olah gerak kapal dan manuver. 8) Deck Cadet

16
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419

Pada saat dilakukan pekerjaan Merupakan suatu cara studi untuk


anchor handling maka cadet deck biasanya melakukan pengamatan dengan
stanby dideck untuk membantu sesuai menggunakan referensi dan membaca
arahan bosun ataupun di anjungan dan buku yang ada hubungannya dengan
memperhatikan proses pekerjaan. proses anchor handling. Disamping itu
9) Engine Cadet penulis mempelajari permasalahan
Engine cadet memiliki tugas untuk kerusakan pada kompenen-komponen
berjaga dan memonitor bersama oiler di mesin pendukung pekerjaan anchor
kamar mesin. handling.

METODE PENELITIAN Metode Analisis Data


Waktu dan tempat penelitian Penyajian penulisan tugas akhir ini
Waktu dan tempat menggunakan metode deskriptif yaitu
dilaksanakannya penelitian tentang penulisan yang berisikan paparan dan
pelaksanaan anchor handling pada kapal uraian mengenai suatu objek
Anchor Handling Tug and Supply permasalahan yang timbul pada saat
(AHTS), tepatnya pada saat penulis tertentu. Metode ini digunakan untuk
melaksanakan praktek laut (prala) selama memaparkan secara rinci dengan tujuan
kurang lebih 7 (tujuh) bulan, yaitu mulai untuk memberikan informasi mengenai
tanggal 14 februari 2018 sampai dengan perencanaan terhadap masalah yang
16 september 2018 dimana penulis timbul berhubungan dengan materi
berperan sebagai cadet deck di kapal pembahasan tugas akhir ini. Dalam
AHTS. Transko Andalas. penelitian ini, penulis mendeskripsikan
yaitu tentang “PELAKSANAAN
Objek Pengamatan ANCHOR HANDLING DI KAPAL
Dalam Penelitian ini yang menjadi AHTS TRANSKO ANDALAS”.
objek penelitian adalah perlunya
mengetahui standar operasi pekerjaan HASIL DAN PEMBAHASAN
anchor handling pada kapal AHTS. Dari hasil pengamatan yang
Transko Andalas sebagai upaya dalam dilakukan pada objek yang diamati oleh
meminimalisir kecelakan kerja dan untuk penulis pada kapal milik perusahaan PT
mencapai hasil pekerjaan yang maksimal. Pertamina Trans Kontinental yang mana
Berikut adalah salah satu contoh pekerjaan kapal tersebut merupakan kapal jenis
anchor handling yang pernah penulis supplay dengan nama kapal AHTS
lakukan di kapal AHTS. Transko Andalas. Transko Andalas dan juga merupakan
tempat penulis menjalani praktek laut.
Teknik Pengumpulan Data Pada tanggal 5 April 2018 kapal menjalani
Adapun beberapa teknik serangkaian inspection untuk melihat
pengumpulan data dalam penulisan tugas kesiapan kapal dan crew guna melayani
akhir ini adalah sebagai berikut: eksplorasi lepas pantai (offshore) yang
1. Observasi Langsung dikelola oleh PT Pertamina Hulu
Dilakukan dengan cara mengamati Mahakam. Tepat seminggu setelahnya
secara langsung terhadap objek penelitian yaitu pada tanggal 12 April 2018 kapal
yang berhubungan dengan prosedur dinyatakann on hire dan sebagai proyek
anchor handling. Dengan melakukan pertama kapal melakukan operasi
praktek berlayar selama kurang lebih 7 pemindahan rig Tasha (rig move) dari
bulan, penulis mengamati dan mencatat teluk Balikpapan ke area South Mahakam
semua hal – hal yang berhubungan tepatnya di East Mandu Platform untuk
pekerjaan anchor handling. melakukan drilling atau pengeboran gas
2. Studi Pustaka alam. Dalam pemindahannya, rig Tasha di
assist oleh 3 kapal AHTS yaitu Transko

17
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419

Andalas, Transko Balihe dan Transko Pelakasaan Anchor Handling


Celebes yang mana ketiganya adalah kapal Ketika penulis menjalani praktek
milik PT Pertamina Transkonintal. Setelah laut, penulis telah melihat dan melakukan
melakukan proses Towing selama kurang dua jenis anchor handling yaitu
lebih 24 jam dengan jarak 25 mil dan Recovery/Retrieving Anchor dan
kecepatan 1 – 2 knot kapal tiba ditempat Running/Deployed Anchor. Prosedur
tujuan. Setelah rig mendekati platform pekerjaannya adalah sebagai berikut:
maka rig menurunkan kaki untuk 1) Deployed Anchor
persiapan melakukan anchor handling Deployed anchor atau biasa juga
yaitu deployed anchor atau running disebut dengan running anchor salah satu
anchor. Ketika melihat pekerjaan tersebut pekerjaan anchor handling dimana kapal
yang agak berbeda dari aktivitas kapal mengambil jangkar dan bouy di rig
pada umumnya maka penulis tertarik kemudian di deploy atau di let go diposisi
mengangkat judul “Pelaksanaan Anchor yang telah ditentukan. Prosedur
Handling di Kapal Ahts Transko Andalas” pekerjaanya adalah sebagai berikut:
untuk mengetahui langkah – langkah yang a) Crew deck melakukan persiapan di
harus dilakukan ketika melakukan main deck seperti mengarea work wire dan
pekerjaan anchor handling. tugger wire, kemudian kapal bergerak
Ketika penulis menjalani praktek mundur pelan mendekati rig.
laut selama kurang lebih 7 bulan, penulis b) Setelah itu dilakukan transfer
telah beberapa kali melihat dan ikut barang dengan crane seperti jangkar,
berpartisipasi dalam pekerjaan anchor bouy, pennant wire, shackle dan yang
handling yang dilakukan dikapal. Dalam terakhir adalah wire jangkar kemudian
pelaksanaannya ada beberapa proses atau langsung dihubungkan dengan jangkar dan
persiapan yang harus dilakukan yaitu dikunci dengan karm fork.
sebagai berikut: c) Apabila jangkar dan wire jangkar
1) Persiapan di Anjungan telah dirasa aman maka kapal akan
Pada persiapan ini Nahkoda selaku bergerak maju menuju posisi yang telah
penanggung jawab atas pekerjaan tersebut ditentukan dengan kecepatan perlahan dan
melakukan safety meeting dan toolbox pihak rig akan mengarea wire jangkar
meeting serta melakukan pengarahan yang untuk menjaga ketegangan wire agar tidak
singkat untuk memastikan crew dan putus.
peralatan semua dalam kondisi siap d) Setelah kapal sampai pada posisi
digunakan, khususnya bagi crew yang yang telah ditentukan maka Nahkoda akan
baru pertama kali melakukan pekerjaan menahan pergerakan kapal biasanya
tersebut diberikan gambaran guna dengan menggunakan bantuan bow
menghindari hal – hal yang tidak thruster atau juga dengan mengaktifkan
diinginkan. dinamic position jika lokasinya berombak
2) Persiapan di Deck besar disertai arus kuat.
Selain di anjungan persiapan juga e) Kemudian jangkar dihubungkan
dilakukan di deck, pada persiapan ini dengan pennant wire dan diturunkan
bosun selaku penanggung jawab di deck perlahan sampai kedasar laut. ketika
memastikan semua peralatan telah pada jangkar telah sampai kedasar ujung
posisi masing – masing dan dalam jarak pennant wire kemudian di hubungkan lagi
yang mudah dijangkau serta melakukan dengan bouy dan direlease perlahan
pengetesan alat – alat hidrolik seperti sampai bouy turun dari deck. Fungsi dari
tugger wich dan work wire. Familiarisasi bouy ini adalah sebagai penanda adanya
peralatan juga penting dilakukan agar jangkar dan juga agar memudahkan
tidak terjadi kesalahan komunikasi ketika pengangkatan jangkar.
pekerjaan telah dimulai.

18
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419

2) Recovery/Retrieving Anchor
Recovery anchor salah satu Setelah melakukan prosedur
pekerjaan anchor handling dimana kita anchor handling dan pekerjaan telah
mengangkat jangkar yang sebelumnya selesai penulis mengevaluasi beberapa
telah diturunkan (depploy) untuk permasalahan yang sering menghambat
dikembalikan ke rig maupun dipindah dalam pekerjaan tersebut. Adapun
posisikan ke lokasi yang lain, dan untuk hambatan tersebut dapat muncul dari luar
prosedur kerjanya adalah sebagai berikut: kapal maupun dari dalam kapal itu sendiri
a) Kapal bergerak pelan mendekati yang disebabkan oleh faktor kesalahan
bouy sementara itu bouy catcher teknis maupun faktor alam.
dihubungkan dengan work wire dan
standby untuk menarik. A. Faktor dari Dalam Kapal
b) Setelah kapal mendekati bouy 1) Faktor kemampuan kapal
kapal diputar agar buritan kapal tepat Dalam beberapa kasus yang
mengarah sejajar dengan bouy. penulis alami, faktor kemampuan kapal
c) Kemudian crew deck bersiap untuk sering kali menjadi penghambat
mengalungkan/mengayunkan bouy pelaksanaan pekerjaan anchor handling
catcher ke bouy. Diusahakan hal tersebut seperti seringnya terjadi kebocoran pipa
dilakukan hanya satu kali untuk mencegah pada peralatan hirolik, black out pada
resiko jatuh kelaut. mesin bantu bow thruster maupun
d) Setelah bouy catcher telah mengait peralatan pendukung yang kurang
dan dirasa aman kemudian buoy ditarik lengkap. Hal ini juga dipengaruhi oleh
perlahan dengan work wire yang kurangnya kepedulian crew dalam
sebelumnya telah dihubungkan setelah perawatan peralatan tersebut.
buoy berada diatas deck maka carm fork 2) Faktor kemampuan manusia
dinaikkan untuk menahan bouy kemudian Selain faktor kemampuan kapal
bouy dan bouy catcher dilepas. faktor kemampuan atau keterampilan
e) Setelah itu wire jangkar kemudian crew kapal juga sering menjadi
dihubungkan kembali dengan work wire penghambat. Seperti yang pernah penulis
dan dinaikkan perlahan sampai jangkar alami di AHTS Transko Andalas beberapa
naik diatas deck, setelah jangkar naik crew kurang paham dalam pekerjaan
jangkar kemudian dilepas dari wire anchor handling selain itu pengetahuan
jangkar yang terhubung ke rig. tentang peralatan pendukung juga masih
f) Setelah itu wire jangkar yang kurang sehingga sering terjadi kesalahan
terhubung ke rig di tahan menggunakan komunikasi antar crew yang bekerja di
karm fork kemudian kapal bergerak deck. Hal ini yang menyebabkan
mundur perlahan sementara itu pihak rig pengalaman dan skill kerja selalu
menggulung wire jangkar secara perlahan diutamakan untuk bekerja dikapal AHTS.
yang disesuaikan dengan komunikasi 3) Faktor lingkungan kerja
dengan pihak kapal untuk menjaga Faktor lingkungan kerja juga dapat
tension. menjadi salah satu penghambat dalam
g) Setelah kapal sampai ke sisi rig pekerjaan ini. Dalam kasus ini Nahkoda
dan dapat dijangkau dengan crane sebagai seorang pemimpin diatas kapal
kemudian wire anchor dinaikkan terlebih harus mampu menjaga suasana selalu
dahulu disusul dengan jangkar, bouy, kondusif, aman dan nyaman agar tidak
pennant wire dan peralatan pendukung terjadi ketegangan ketika sedang
lainnya seperti shackle dan middle line melakukan suatu pekerjaan.
jika ada.
B. Faktor dari Luar Kapal
Hambatan Dalam Pekerjaan Anchor Selain faktor dari dalam kapal faktor dari
Handling luar kapal juga sangat mempengaruhi

19
FX. Arif Wahyudianto, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419

pekerjaan ini misalnya cuaca buruk. benar dipahami dan dimengerti oleh setiap
Seperti yang pernah penulis alami, pada crew kapal. Sesuai dengan pengamatan
saat itu kapal AHTS Transko Andalas yang telah dilakukan maka penulis
akan melakukan pekerjaan anchor memberikan saran sebagai berikut:
handling di daerah Sisi Nubi Oil and Gas 1) Sebelum melakukan pekerjaan
Field tepanya di platform WPS2. Ketika anchor handling agar crew selalu
proses transfer material dari rig ke kapal melakukan safety dan toolbox meeting
telah selesai tiba – tiba cuaca menjadi terlebih dahulu, selain untuk untuk
mendung dan tak lama kemudian hujan memberikan gambaran tentang pekerjaan
disertai angin kencang yang mencapai 35 juga bertujuan untuk membangun
knot sehingga kejadian ini menyebabkan kekompakan antar crew.
pekerjaan tertunda selama kurang lebih 12 2) Mualim dan masinis serta dibantu
jam. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh crew lainnya harus bertanggung
ketika cuaca sedang kurang baik karena jawab dalam perawatan peralatan anchor
dapat mempengaruhi hal – hal sebagai handling.
berikut: 3) Nahkoda harus mengawasi setiap
a) Posisi penurunan jangkar dapat proses pekerjaan anchor handling dan
berpindah. memastikan setiap tindakan yang diambil
b) Olah gerak kapal akan susah tidak membahayakan.
dikendalikan. 4) Perusahaan sebagai pemilik kapal
c) Resiko putusnya wire jangkar jauh harus memenuhi kelengkapan peralatan
lebih besar. anchor handling yang disesuaikan dengan
d) Bertambahnya beban pada mesin kebutuhan dan permintaan dari kapal
kapal. termasuk juga didalamnya yaitu mengirim
crew yang memiliki pengalaman dan
KESIMPULAN DAN SARAN keterampilan untuk bekerja dikapal
AHTS.
Berdasarkan uraian pada bab-bab
sebelumnya, maka penulis menarik DAFTAR RUJUKAN
kesimpulan bahwa:
1) Proses dalam anchor handling Capt. Krets Mamondole, [Link] (1998),
dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap Anchor Handling.
persiapan dan tahap pelaksanaan. Tahap Capt. H. R. Soebakti, [Link] (2000),
persiapan akan diawali dengan safety Hukum Perkapalan dan
meeting dan tollbox meeting serta Pengangkutan Laut.
pembagian tugas dan tanggung jawab Istopo (2010), Kamus Istilah Pelayaran
masing – masing crew. Tahap pelaksanaan dan Perkapalan.
yaitu dimana proses anchor handling Sumber Internet : [Link]
sedang berlangsung yang dipimpin oleh [Link]
Nahkoda dan bosun sebagai pelaksana di
deck.
2) Hambatan – hambatan lebih
banyak disebabkan karena kurangnya
perawatan terhadap peralatan anchor
handling yang berdampak pada
kurangnya kinerja dari alat - alat tersebut.

Saran
Mengingat resiko dalam pekerjaan anchor
handling begitu besar maka prosedur
pekerjaan anchor handling harus benar –

20

Anda mungkin juga menyukai