0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
162 tayangan16 halaman

Mekanisme Koping Isolasi Sosial

Ringkasan dokumen tersebut adalah: (1) Dokumen tersebut membahas tentang isolasi sosial dan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya isolasi sosial, meliputi faktor predisposisi seperti biologis dan perkembangan, (2) Juga membahas proses terjadinya isolasi sosial menggunakan pendekatan model stres adaptasi, dan (3) Faktor-faktor perkembangan sepanjang siklus hidup yang berkontribusi ter

Diunggah oleh

made novitasari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
162 tayangan16 halaman

Mekanisme Koping Isolasi Sosial

Ringkasan dokumen tersebut adalah: (1) Dokumen tersebut membahas tentang isolasi sosial dan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya isolasi sosial, meliputi faktor predisposisi seperti biologis dan perkembangan, (2) Juga membahas proses terjadinya isolasi sosial menggunakan pendekatan model stres adaptasi, dan (3) Faktor-faktor perkembangan sepanjang siklus hidup yang berkontribusi ter

Diunggah oleh

made novitasari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ISOLASI SOSIAL

A. KASUS/ MASALAH UTAMA: ISOLASI SOSIAL


1. Definisi isolasi sosial
Isolasi sosial adalah suatu pengalaman menyendiri dari sseorang dan perasaan
segan terhadap orang lain sebagai suatu yang negatif atau keadaan yang
mengancam ( SAK, FIK-UI, 2014 ).
Isolasi sosial adalah kesendirian yang dialami oleh individu dan dianggap
timbul karena orang lain sebagai suatu pernyataan negatif atau mengancam
(Herdman, 2018)
Isolasi sosial adalah ketidakmampuan untuk membina hubungan yang erat,
hangat, terbuka dan interindependen dengan orang lain ( SDKI, 2017 ).

2. Rentang respon sosial


Dalam membina hubungan sosial, individu berada dalam rentang respon yang
adaptif sampai dengan maladaptif. Respon adaptif merupakan respon yang dapat
diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan yang secara umum berlaku.
Sedangkan respon maladaptif merupakan respon yang dilakukan individu untuk
menyelesaikan masalah yang kurang dapat diterima oleh norma sosial dalam
budaya setempat.

Bagan 2.1
Rentang respon sosial

Respon adaptif responmaladaptif

Menyendiri kesendirian Manipulasi


Otonomi Menarik diri Impulsif
bekerjasama Ketergantungan Narcisissm
Saling tergantung

keadaan

(Stuart, 2016).
a. Respons adaptif
1) Solitude (menyendiri)
Respon yang dibutuhkan untuk menentukan apa yan telah dilakukan dan
merupakan suatu cara mengawasi diri (Dalami, 2009). Respon yang
dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah dilakukan di
lingkungan sosialnya dan juga suatu cara mengevaluasi diri untuk
menentukan langkah-langkah selanjutnya (Muhith, 2015). Solitude
umumnya dilakukan setelah melakukan kegiatan (Damaiyanti, 2012).
2) Otonomi
kemampuan individu dalam menentukan dan menyampaikan ide,pikiran,
perasaan dalam berhubungan sosial (Muhith, 2015).
3) Mutualisme atau bekerja sama
suatu kondisi dalam hubungan interpersonal di mana individu mampu untuk
saling memberi dan menerima(Muhith, 2015). Kemampuan individu yang
saling membutuhkan satu sama lain (Yosep, 2013).
4) Interdependen atau saling ketergantungan
suatu hubungan saling tergantung antar individu dengan orang lain dalam
rangka membina hubungan interpersonal(Muhith, 2015).
b. Respons maladaptif
1) Merasa sendiri ( kesepian )
Merupakan kondisi dimana individu merasa sendiri dan terasingkan dari
lingkungannya (Yosep, 2013). Merasa tidak tahan atau yang lain
menganggap bahwa dirinya sendirian dalam menghadapi masalah,
cenderung pemalu, sering merasa tidak percaya diri dan minder (Muhith,
2015).
2) Menarik diri
Individu mengalami kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka
dengan orang lain(Muhith, 2015). Gangguan yang terjadi apabila seseorang
memutuskan untuk tidak berhubungan dengan orang lain untuk mencari
ketenangan sementara waktu (Dalami, 2009).
3) Tergantungan
Seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri sehingga tergantung pada
orang lain (Yosep, 2013). Gagal mengembangkan kemampuan yang dimiliki
(Dalami, 2009). Gagal mengembangkan kemampuannya untuk berfungsi
secara sukses, merasa kesulitan yang beresiko menjadi gangguan depresi dan
gangguan cemas sehingga berkecenderungan berpikiran untuk bunuh diri
(Muhith, 2015).
4) Manipulasi
Perilaku dimana orang memperlakukan orang lain sebagai objek dan bentuk
hubungan yang berpusat di sekitar isu-isu kontrol dan perilaku mereka sulit
dipahami(Stuart, 2016). Berorientasi pada diri sendiri atau pada tujuan,
bukan berorientasi pada orang lain (Dalami, 2009).
5) Impulsif
Suatu keadaan marah ketika orang lain tidak mendukung ketidak mampuan
untuk merencanakan sesuatu, ketidak mampuan belajar dari pengalaman dan
tidak dapat diandalkan (Stuart, 2016). Mempunyai penilaian yang buruk dan
cenderung memaksakan kehendak (Dalami, 2009).
6) Narcisme
Orang dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki harga diri yang
rapuh, mendorong mereka untuk mencari pujian dan kekaguman secara
terus-menerus, penghargaan, sikap yang egosentrik, iri hati dan marah ketika
orang lain tidak mendukungnya (Stuart, 2016).

B. PROSES TERJADINYA ISOLASI SOSIAL


Dengan menggunakan pendekatan model stress adaptasi yang berhubungan dengan
respons sosial (Stuart, 2009 dalam Satrio, dkk, 2015) dimana pada model ini masalah
keperawatan dimulai dengan menganalisa faktor predisposisi, presipitasi, penilaian
terhadap stresor, sumber koping dan mekanisme koping yang digunakan oleh seorang
partisipan sehingga menghasikan respon baik yang bersifat konstruktif maupun destruktif
dalam rentang adaptif sampai maladaftif. Masalah isolasi sosial dapat dijelaskan dengan
menggunakan psikodinamika masalah keperawatan jiwa seperti skema dibawah ini :
1. Faktor predisposisi
faktor predisposisi adalah faktor kepribadian terdiri dari temperamen, yang di
wariskan, dan karakter yang di pelajari (Stuart, 2016). Faktor predisposisi
adalah faktor resiko timbulnya stress yang akan mempengaruhi tipe dan
sumber-sumber yang dimiliki klien untuk menghadapi stress (Stuart, 2009
dalam Satrio, dkk, 2015).
1) Faktor biologis
Hubungan genetik gangguan kepribadian antisosial, biologis perilaku
impulsif dan kekerasan yang dapat disebabkan oleh disfungsi otak, ambang
rendah ransangan pada sistem limbik, rendahnya tingkat serotonin, atau zat
kimia beracun. Gangguan kepribadian antisosial khususnya berhubungan
dengan berbagai gangguan penggunaan zat, dan gabungan yang akan
menghasilkan kerusakan parah (Stuart, 2016). Faktor biologis yang
berhubungan dengan kondisi fisiologis juga dapat menimbulkan gangguan
jiwa. Isolasi sosial merupakan gejala negatif dari skizofrenia menurut
berbagai penelitian, kejadian skizofrenia disebabkan beberapa faktor seperti
kerusakan pada area otak, peningkatan neurotransmiter dan faktor genetika
(Satrio, dkk, 2015).
2) Faktor perkembangan
Riwayat masa kecil orang dengan antisosial sering mengungkapkan
pelecehan, pengabaian, dan tidak adanya keterikatan emosional sejak awal,
kehilangan kepedulian orang tua dan individu menjadi tidak mampu
menjalin ikatan dengan orang lain, sehingganya orang dengan isolasi sosial
tidak mengembangkan rasa percaya atau kapasitas bersalah atau penyesalan.
Masa anak-anak yang mendahului diagnosis gangguan kepribadian pada
masa remaja, 4 kondisi yang ditemukan pada masa anak-anak: melakukan
masalah, gejala depresi, kecemasan atau ketakutan dan ketidakdewasaan
(Stuart, 2016). Perceraian atau kehilangan orang tua adalah yang paling
merusak lingkungan, penelitian menunjukan bahwa individu dengan
gangguan kepribadian antisosial sering mengalami penyiksaan fisik yang
parah pada masa kanak-kanak. Pelecehan tersebut berkontribusi pada
pengembangan perilaku antisosial pelecehan yang dialami pada masa anak-
anak menyebabkan cedera pada sistem saraf pusat anak, sehungga
mengganggu kemampuan anak untuk berfungsi dengan tepat, akhirnya
menimbulkan kemarahan pada anak yang menjadi korban, yang kemudian
dilampiaskan dan diteruskan pada orang lain di lingkungan (Townsend,
2014).
Perkembangan sepanjang siklus hidup :
a) Masa bayi (dari lahir hingga usia 3 bulan
Bayi tidak merasakan pemisahan fisik antara diri dan ibu. Meskipun
perbedaan fisik dimulai sekitar 3 bulan, pembedaan psikologis tidak
dimulai sampai 18 bulan, priode antara 3 dan 18 bulan adalah tahap
simbiosis perkembangan. Bayi benar-benar tergantung pada orang lain.
Kepercayaan berkembang sebagai kebutuhan yang harus terpenuhi
secara konsisten dan terduga. Hal ini menciptakan kapasitas untuk
pemahaman empatik dalam hubungan masa depan.
b) Usia prasekolah (priode antara 18 bulan sampai 3 tahun)
Tahap perkembangan pemisahan-individualisasi. Pada tahap ini anak-
anak berusaha jauh dari ibu untuk mengeksplorasi lingkungan dan
mengembangkan rasa keteguhan objek. Tahap ini berarti anak
mengetahui bahwa seseorang atau objek yang berharga terus ada bahkan
ketika tidak dapat dilihat. Jika respon positif dan memperkuat, maka
akan membantu membangun rasa keutuhan diri dan kapasitas untuk
pertumbuhan interpersonal.

c) Usia anak (6-10 tahun)


Perkembangan moral dan perasaan empati terjadi pada masa ini. Selama
masa ini lingkungan yang mendukung akan mendorong pertumbuhan
rasa perkembangan positif dan konsep diri yang adaptif. Konflik terjadi
saat orang dewasa menetapkan batas perilaku yang sering
mengecewakan, upaya anak menuju kemandirian. Namun kasih sayang,
konsisten mengatur batas, mengkomunikasikan kepedulian dan
membantu anak mengembangkan saling tergantung
d) Pra remaja
Pada usia ini biasanya anak terlibat hubungan intim dengan seorang
teman dengan jenis kelamin yang sama sebagai seorang sahabat.
Hubungan ini melibatkan berbagi. Kesempatan lain memberi
kesempatan untuk memperjelas nilai-nilai dan mengenali perbedaan
seseorang.
e) Masa remaja
Sebagai remaja yang berkembang, ketergantungan pada teman dekat
dari jenis kelamin yang sama sering disertai dengan ketergantungan
hubungan [Link] tua dapat membantu remaja tumbuh
dengan menyediakan batas yang konsisten. Langkah ini menuju
kematangan dalam saling ketergantungan didapatkan saat seseorang
belajar untuk menyeimbangkan tuntutan orang tua dan tekanan
kelompok sebaya.
f) Masa dewasa muda
Masa remaja berakhir ketika seseorang mandiri dan memelihara
hubungan saling tergantung dengan orang tua dan teman sebaya,
keputusan dilakukan secara mandiri, sementara saran dan pendapat
orang lain dapat di ambil dan diperhitungkan. Sesorang dewaa yang
matang menunjukan kesadaran diri dengan menyeimbangkan perilaku
dependen dan indepanden. Hubungan interpersonal ditandai dengan
kerjasama
g) Masa dewasa tengah
Menjadi orang tua dan persahabatan dewasa menguji kemampuan
seseorang untuk mendorong kemandirian diri dari orang lain. Seorang
dewasa yang matang harus mandiri dan mencari dukungan baru.
h) Akhir masa dewasa
Perubahan terus terjadi selama akhir dewasa, seperti kehilangan,
perubahan fisik, penuaan, kematian orang tua, krhilangan pekerjaan
melalui pensiun, kematian teman-teman dan pasangan. Hal ini dapat
menyebabkan kesepian atau perilaku eksentrik. Kebutuhan hubungan
masih harus dipuaskan, orang dewasa merasa berduka atas kehilangan
tersebut dan mengakui bahwa dukungan dari orang lain dapat membantu
mengatasi kesedihan. Orang tua yang matang dapat menerima
peningkatan ketergantungan yang diperlukan tetapi juga berusaha untuk
mempertahankan sebanyak mungkin kemandirian.
(Stuart, 2016).

3) Faktor sosial
Faktor sosial mempengaruhi kemampuan individu membangun dan
mempertahankan hubungan dengan orang lain. Isolasi sosial akan terjadi
pada orang yang cacat dan mengalami penyakit kronis. Seseorang yang
mengalami penyakit kronis sering di jauhi orang lain, isolasi yang disengaja
ini mungkin mengakibatkan berbagai respons maladaptif saat individu
berusaha mengatasinya (Stuart, 2016). Pengalaman seseorang yang
mengalami kesulitan beradaptasi terhadap tuntutan sosial budaya karena
klien memiliki harga diri rendah dan mekanisme koping mal adaptif.
Stressor ini merupakan salah satu ancaman yang dapat mempengaruhi
berkembangnya gangguan dalam interaksi sosial terutama dalam menjalin
hubungan interpersonal (Satrio, dkk, 2015).
2. Faktor prespitasi (pencetus)
Faktor prespitasi adalah stimulus internal atau eksternal yang mengancam
klien antara lain dikarena adanya ketegangan peran, konflik peran, peran yang
tidak jelas, peran berlebihan, perkembangan transisi, situasi transisi peran dan
transisi peran sehat-sakit (Stuart, 2009 dalam Satrio, dkk, 2015). Stress yang
berlebihan dapat menyebabkan kepuasan hidup interpersonal menjadi tidak
memuaskan. Respons terhadap stres sangat individual dan perawat harus ingat
bahwa orang tersebut mengalami peningkatan ansietas akibat stressor dan ini
sering menjadi penyebab perilaku maladaptif. Pencetus stres dipengaruhi oleh
sosiokultural maupun psikologis (Stuart, 2016)
1) Stressor sosial budaya
Sosial budaya merupakan ancaman terhadap sistem diri. Ancaman terhadap
sistem diri merupakan ancaman terhadap identitas diri, harga diri, dan fungsi
integritas sosial. Ancaman terhadap sistem diri berasal dari dua sumber yaitu
ekternal dan internal, sumber ekternal dapat disebabkan karena kehilangan,
perceraian, perubahan status pekerjaan, dilema etik, ataupun tekanan sosial
budaya. Sumber internal dikarenakan kesulitan membangun hubungan
interpersonal, ketidak mampuan menajalankan peran (Satrio, dkk, 2015).
Ketidakstabilan dalam keluarga seperti perceraian adalah penyebab yang
umum terjadi. Mobilitas dapat memecahkan keluarga besar, merampas orang
yang menjadi sistem pendukung yang penting pada semua usia (Stuart, 2016).
2) Stressor psikologis
Tingkat ansietas yang tinggi mengakibatkan gangguan kemampuan
untuk berhubungan dengan orang lain. Ansietas yang berkepanjangan atau
terus-menerus dengan kemampuan koping yang terbatas dapat menyebapkan
masalah hubungan yang berat (Stuart, 2016). Faktor psikologis disebabkan
juga karena adanya faktor presipitasi yang berasal dari luar maupun dalam
diri sendiri. Pengalaman dari luar terdiri dari pengalaman yang tidak
menyenangkan, perasaan ditolak dan kehilangan orang yang berarti, stressor
yang berasal dari dalam adalah kegagalan dan perasaan bersalah yang dialami
klien. Pengalaman dari dalam diri sendiri disebabkan karena kurangnya
dukungan dari lingkungan serta penolakan dari lingkungan atau keluarga,
stressor dari luar klien tersebut dapat berupa ketegangan peran, konflik peran,
peran tidak jelas, peran berlebihan, perkembangan transisi, situasi transisi
peran dan transisi peran sehat sakit (Satrio, dkk, 2015).
3. Penilaian terhadap stressor
Penilaian stressor dari seseorang sangat penting, serangkaian kehilangan
dapat menyebabkan masalah dalam menjalin hubungan yang mendalam dimasa
depan, rasa sakit akibat kehilangan dapat begitu besar ketika orang tersebut
menghindari terlibat dalam hubunngan masa depan dan resikonya akan lebih
menyakitkan. Respon tersebut mungkin terjadi pada orang yang kesulitan
dengan mencapai tugas perkembangan yang berkaitan dengan hubungan. Hal
tersebut dapat menyebabkan masalah isolasi sosial dan emosional di masa depan
kecuali orang tersebut memiliki sistem pendukung yang mapan (Stuart, 2016).
Penilaian terhadap sterssor berada dalam suatu rentang dari adaptif sampai ke
maladaptif. Bila penilaian stressor klien maladaptif maka penilaian tersebut akan
menjadi dasar penggunaan terapi keperawatan dalam melatih disfungsi
keterampilan yang dialami klien (Satrio, dkk, 2015).
a. Respon kognitif
Faktor kognitif mencatat kejadian stresfull dan reaksi yang ditimbulkan
secara emosional, fisiologis, serta perilaku atau reaksi sosial. Kemampuan
klien melakukan penilaian kognitif yang dipengaruhi oleh persepsi klien,
sikap terbuka individu terhadap adanya perbubahan, kemampuan untuk
melakukan kontrol diri terhadap pengaruh lingkungan dan kemampuan
menilai suatu masalah. Pada klien isolasi sosial kemampuan kognitif klien
sangat terbatas klien lebih berfokus pada masalah bukan bagaimana mencari
alternative pemecahan masalah yang dihadapi (Stuart, dalam Satrio, dkk,
2015).
b. Respon afektif
Responafektif terkait dengan ekspresi emosi, mood, dan [Link]
afektif yang ditampilkan dipengaruhi olehketidakmampuan jangka panjang
terhadap situasi yangmembahayakan sehingga mempengaruhi kecendrungan
respon terhadap ancaman untuk harga diri klien. Respon afektifpada klien
isolasi sosial adalah adanya perasaan putus asa,sedih, kecewa, merasa tidak
berhargadan merasa tidakdiperhatikan (Stuart, dalam Satrio, dkk. 2015).
c. Respon fisiologis
Responfisiologis terkait dengan bagaimana sistem fisiologis tubuhberespon
terhadap stessor, yang mengakibatkan perubahanterhadap stressor, sistem
neuroendokrin, dan hormonal. Respon fisiologismerupakan respon
neurobiologis yang bertujuan untukmenyiapkan klien mengatasi bahaya.
Perubahan yang dialamioleh klien akan mempengaruhi neurobiologis untuk
mencegahstimulus yang mengancam (Stuart, 2009 dalamSatrio, dkk, 2015).
d. Respon perilaku
Hasil dari respon emosional dan fisiologis. Respon perilaku isolasi sosial
teridentifikasi tiga pelaku yang maladaptif yaitu sering melamun, tidak mau
bergaul dengan klien lain atau tidak mau mengemukakan pendapat, mudah
menyerah dan ragu-ragu dalam mengambil keputusan atau dalam
melakukan tindakan (Satrio, dkk, 2015)
e. Respon sosial
Merupakan hasil dari perpaduan dari respon kognitif, afektif, fisiologis dan
perilaku yang akan mempengaruhi hubungan atau interaksi dengan orang
lain. Respon ini memperlihatkan bahwa klien dengan isolasi sosial lebih
banyak memberikan respon menghindar terhadap stressor yang dialaminya
(Satrio, 2015).
4. Mekanisme koping
Mekanisme koping yang biasa digunakan adalah pertahanan koping dalam
jangka panjang serta penggunaan mekanisme pertahanan ego (Stuart, 2009
dalam Satrio, dkk, 2015), mengatakan perthanan jangka pendek yang biasa
dilakukan klien isolasi sosial adalah lari sementara dari krisis, misalnya dengan
bekerja keras, nonton telvisi secara terus menerus, melakukan kegiatan untuk
mengganti identitas sementara, misalnya ikut kelompok sosial, keagamaan dan
politik, kegiatan yang memberikan dukungan sementara, seperti mengikuti suatu
kompetisi atau kontes popularitas, kegiatan mencoba menghiolangkan anti
identitas sementara, seperti penyalahgunaan obat-obatan. Jika mekanisme
koping jangka pendek tidak memberikan hasil yang diharapkan, individu akan
mengembangkan mekanisme jangka panjang antara lain menutup identitas,
dimana klien terlalu cepat mengadopsi identitas yang disenangi dari orang-orang
yang berarti tanpa mengindahkan hasrat, aspirasi atau potensi diri sendiri.
Mekanisme pertahan ego yang sering digunakan adalah proyeksi, merendahkan
orang lain, menghindar dari interaksi sosial dan reaksi formasi (Stuart, 2009
dalam Satrio, dkk, 2015).
5. Sumber koping
Sumber koping merupakan pilihan atau strategi bantuan untuk
memutuskan mengenai apa yang dapat dilakukan dalam menghadapi suatu
masalah. Dalam menghadapi stressor klien dapat menggunakan koping yang
dimilikinya baik internal ataupun eksternal (Satrio, dkk, 2015).
a. Kemampuan Personal
Pada klien dengan isolasi sosial sosial kemampuan personal yang harus
dimiliki meliputi kemampuan secara fisik dan mental. Kemampuan secara
fisik teridentifikasi dari kondisi fisik yang sehat. Kemampuan mental
meliputi kemampuan kognitif, afektif, perilaku sosial. Kemampuan kognitif
meliputi kemampuan yang sudah atau pun yang belum dimiliki klien
didalam mengidentifikasi masalah, menilai dan menyelesaikan masalah,
sedangkan kemempuan afektif meliputi kemampuan untuk meningkatkan
konsep diri klien dan kemampuan perilaku terkait dengan kemampuan
melakukan tindakan yang adekuat dalam menyelesaikan stressor yang
dialami (Satrio, dkk, 2015).
b. Dukungan Sosial
Dukungan sosial akan membantu klien untuk meningkatkan pemahaman
terhadap stressor dalam mencapai keterampilan koping yang efektif.
Pendapat lain yang mendukung pernyataan diatas mengenai pentingnya
dukungan sosial didalam proses penyembuhan klien (Sarafino, 2002 dalam
Satrio, dkk. 2015), Dukungan sosial merupakan perasaan caring,
penghargaan yang akan membantu klien untuk menerima orang lain yang
berasal dari keyakinan yang berbeda (Satrio, dkk, 2015).
c. Aset material
Aset material yang dapat diperoleh meliputi dukunganfinancial, sistem
pembiayaan layanan kesehatan seperti asuransi kesehatan ataupun program
layanan kesehatan bagi masyarakat miskin, kemudahan mendapatkan
fasilitas dan layanan kesehatan serta keterjangkauan pembiayaan pelayanan
kesehatan dan ketersediaan sarana transportasi untuk mencapai layanan
kesehatan selama dirumah sakit maupun setelah pulang (Satrio, dkk, 2015).
d. Keyakinan positif
Keyakinan positif adalah keyakinan diri yang menimbulkan motivasi dalam
menyelesaikan segala stressor yang dihadapi. Keyakinan positif diperoleh
dari keyakinan terhadap kemampuan diri dalam mengatasi ketidakmampuan
klien dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar (Satrio, dkk. 2015).

6. Tanda dan gejala


Kesendirian yang disebabkan oleh orang lain, ingin sendirian, kondisi difabel,
perasaan beda dari orang lain, afek datar, riwayat ditolak, permusuhan, penyakit,
menunjukan permusuhan, ketidak mampuan untuk memenuhi harapan orang
lain, merasa tidak aman di tempat umum, tindakan tidak berarti, tidak ada kontak
mata, tidak mempunyai tujuan, tindakan berulang, afek sedih, menarik diri
(Herdman, 2018).
a. Gejala subjektif
1) Gejala dan tanda mayor: Merasa ingin sendirian, merasa tidak aman di
tempat umum
2) Gejala dan tanda minor: Merasa berbeda dengan orang lain, merasa asyik
dengan pikiran sendiri, merasa tidak mempunyai tujuan yang jelas
b. Gejala objektif
1) Gejala dan tanda mayor: Menarik diri, tidak berminat/ menolak
berinteraksi dengan orang lain atau lingkungan.
2) Gejala dan tanda minor: Afek datar, afek sedih, riwayat ditolak,
menunjukan permusuhan, tidak mampu memenuhi harapan orang lain,
kondisi difabel, tindakan tidak berarti, tidak ada kontak mata,
perkembangan terhambat, tidak bergairah/ lesu.(SDKI, 2017).
C. a. POHON MASALAH
Menurut Satrio, dkk, 2015.
Bagan 2.2
Pohon masalah

Resiko gangguan persepsi sensori: halusinasi

Isolasi sosial

Gangguan konsep diri : harga diri rendah

b. Daftar Masalah Keperawatan Dan Data Yang Dapat Dikaji

a. Masalah Keperawatan
1. Resiko perubahan persepsi - sensori : halusinasi
2. Isolasi Sosial : menarik diri
3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
b. Data yang perlu dikaji
1. Resiko perubahan persepsi - sensori : halusinasi
1). Data Subjektif
a. Klien mengatakan mendengar bunyi tanpa ada yang stimulus
nyata.
b. Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang
nyata.
c. Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus.
d. Klien merasa makan sesuatu.
e. Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya.
f. Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan
didengar.
g. Klien ingin memukul/melempar barang-barang.
2). Data Objektif
a. Klien berbicara dan tertawa sendiri.
b. Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu.
c. Klien berhebti bicara ditengah kalimat untuk
mendengarkan sesuatu.
d. Disorientasi.
2. Isolasi Sosial : menarik diri
1). Data Subyektif
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa,
bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu
terhadap diri sendiri.
2). Data Obyektif
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih
alternatif tindakan, ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup.
3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
1). Data subyektif:
Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa,
bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu
terhadap diri sendiri.
2). Data obyektif:
Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih
alternatif tindakan, ingin mencederai diri / ingin mengakhiri hidup.

D. DIAGNOSIS
a. Diagnosis keperawatan: isolasi sosial
b. Diagnosis medis: skizofrenia
c. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
(Satrio, dkk. 2015)

E. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


Rencana asuhan keperawatan adalah panduan untuk pemberian tindakan,
mempromosikan konsistensi perawatan antara anggota staf yang memberikan
perawatan pada klien, memenuhi kebutuhan pendidikan klien (Stuart, 2016).
Tabel 2.1
Rencana asuhan keperawatan

Diagnosa
No. Tujuan Intervensi
keperawatan
1. Membina hubungan saling Pertemuan 1
percaya 1. Identifikasi penyebab
2. Dapat mengidentifikasi sosial: siapa yang serumah,
penyebab isolasi sosial: siapa siapa yang dekat dan apa
yang serumah, siapa yang dekat sebabnya
dan apa sebabnya 2. Jelaskan keuntungan punya
3. Dapat memberitahukan kepada teman dan bercakap-cakap
klien keuntungan punya teman 3. Jelaskan kerugian tidak
1. Isolasi sosial
dan bercakap-cakap punya teman dan tidak
4. Dapat memberi tahukan kepada bercakap-cakap
klien kerugian tidak punya 4. Latih cara berkenalan
teman dan bercakap-cakap dengan pasien, perawat, dan
5. Klien dapat berkenalan dengan tamu
pasien, perawat dan tamu 5. Masukan pada jadwal
kegiatan untuk latihan
berkenalan.
1. Klien dapat berbicara saat Pertemuan 2
melakukan kegiatan harian 1. Evaluasi kegiatan dan
2. Klien dapat berkenalan dengan berkenalan dengan
2-3 pasien, perawat, dan tamu beberapa orang. Beri pujian
2. Latih cara berbicara saat
melakukan kegiatan harian (
latih 2 kegiatan)
3. Masukan pada jadwal
kegiatan untuk latihan
berkenalan dengan 2-3
orang pasien, perawat dan
tamu, berbicara saat
melakukan kegiatan harian.
1. Klien dapat berbicara saat Pertemuan 3
melakukan kegiatan harian 1. Evaluasi kegiatan, latihan
2. Klien dapat berkenalan dengan berkenalan (beberapa
4-5 orang, berbicara saat orang) dan berbicara saat
melakukan 2 kegiatan harian melakukan dua kegiatan
harian. Berikan pujian
2. Latih cara berbicara saat
melakukan kegiatan harian
(2 kegiatan baru)
3. Masukan dalam jadwal
kegiatan harian untuk
latihan berkenalan, bicara
saat ,melakukan empat
kegiatan harian. Berikan
pujian.
1. Klien dapat berbicara sosial: Pertemuan 4
meminta sesuatu, menjawab 1. Evaluasi kegiatan latihan
pertanyaan berkenalan, bicara saat
2. Klien dapat berkenalan dengan melakukan empat kegiatan
>5 orang, orang baru, berbicara harian. Berikan pujian
saat melakukan kegiatan harian 2. Latih cara berbicara sosial:
dan sosialisasi meminta sesuatu, menjawab
pertanyaaan
3. Masukan pada jadwal
kegiatan untuk latihan
berkenalan >5 orang, orang
baru, berbicara saat
melakukan kegiatan harian
dan sosialisasi
1. Klien dapat mandiri dalam Pertemuan 5-12
berkenalan, berbicara saat 1. Evaluasi kegiatan latihan
melakukan kegiatan harian dan berkenalan, berbicara saat
sosialisasi melakukan kegiatan harian
dan sosialisai . berikan
pujian.
2. Latih kegiatan harian
3. Nilai kemampuan yang telah
mandiri
4. Nilai apakah isolasi sosial
teratasi

(Satrio, dkk, 2015).


DAFTAR PUSTAKA

Damaiyanti, M. (2012): Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Andika

Dalami E, dkk. (2014): Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Jiwa.

Herdman.T.H,.(2018): nanda-i diagnosis keperawatan definisi dan klasifikasi 2018-


[Link]:EGC

Hidayat, A.A,. (2014): Metode penelitian keperawatan dan teknik analisis data. Jakarta:
Salemba Medika

Keliat, B.A. dan Akemat. (2015): Model praktik keperawatan profesional jiwa. Jakarta:
EGC

Muhtith, A. (2015): Pendidikan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: ANDI

Satrio,K.L. (2015): Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Bandar Lampung: LP2M Institusi
Agama Islam

Stuart, G.W. (2016): Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 4. Jakarta: EGC

Tim pokja SDKI.,DPP.,PPNI.(2017): standar diagnosis keperawatan Indonesia: jakarta


selatan

Townsend. (2013) : essentials of psychiatric mental health nursing. Philadelphia: davis


company

Yosep, I. (2010): Keperawatan Jiwa (Edisi Revisi). PT Refika Aditama. Bandung

Anda mungkin juga menyukai