Fitri Wianda Fauziah
51919029
Tipografi 3 ide
A. Rumah Gadang (Sumatera Barat)
Rumah Gadang adalah nama untuk rumah adat Minangkabau yang merupakan rumah
tradisional dan banyak jumpai di Sumatra Barat, Indonesia. Rumah ini juga disebut
dengan nama lain oleh masyarakat setempat dengan nama Rumah Bagonjong atau ada
juga yang menyebut dengan nama Rumah Baanjuang.
Rumah dengan model ini juga banyak dijumpai di Sumatra Barat, Namun tidak semua
kawasan di Minangkabau (darek) yang boleh didirikan rumah adat ini, hanya pada
kawasan yang sudah memiliki status sebagai nagari saja Rumah Gadang ini boleh
didirikan. Begitu juga pada kawasan yang disebut dengan rantau, rumah adat ini juga
dahulunya tidak ada yang didirikan oleh para perantau Minangkabau.
Fungsi
Rumah Gadang sebagai tempat tinggal bersama, mempunyai ketentuan-ketentuan
tersendiri. Jumlah kamar bergantung kepada jumlah perempuan yang tinggal di
dalamnya. Setiap perempuan dalam kaum tersebut yang telah bersuami memperoleh
sebuah kamar. Sementara perempuan tua dan anak-anak memperoleh tempat di kamar
dekat dapur. Gadis remaja memperoleh kamar bersama di ujung yang lain.
Seluruh bagian dalam Rumah Gadang merupakan ruangan lepas kecuali kamar tidur.
Bagian dalam terbagi atas lanjar dan ruang yang ditandai oleh tiang. Tiang itu berbanjar
dari muka ke belakang dan dari kiri ke kanan. Tiang yang berbanjar dari depan ke
belakang menandai lanjar, sedangkan tiang dari kiri ke kanan menandai ruang. Jumlah
lanjar bergantung pada besar rumah, bisa dua, tiga dan empat. Ruangnya terdiri dari
jumlah yang ganjil antara tiga dan sebelas.
Rumah Gadang biasanya dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk dalam
suku/kaum tersebut secara turun temurun[2] dan hanya dimiliki dan diwarisi dari dan
kepada perempuan pada kaum tersebut.[3] Dihalaman depan Rumah Gadang biasanya
selalu terdapat dua buah bangunan Rangkiang, digunakan untuk menyimpan padi.
Rumah Gadang pada sayap bangunan sebelah kanan dan kirinya terdapat ruang anjung
(Bahasa Minang: anjuang) sebagai tempat pengantin bersanding atau tempat penobatan
kepala adat, karena itu rumah Gadang dinamakan pula sebagai rumah Baanjuang.
Anjung pada kelarasan Koto-Piliang memakai tongkat penyangga, sedangkan pada
kelarasan Bodi-Chaniago tidak memakai tongkat penyangga di bawahnya. Hal ini sesuai
filosofi yang dianut kedua golongan ini yang berbeda, golongan pertama menganut
prinsip pemerintahan yang hierarki menggunakan anjung yang memakai tongkat
penyangga, pada golongan kedua anjuang seolah-olah mengapung di udara. Tidak jauh
dari komplek Rumah Gadang tersebut biasanya juga dibangun sebuah surau kaum yang
berfungsi sebagai tempat ibadah, tempat pendidikan dan juga sekaligus menjadi tempat
tinggal lelaki dewasa kaum tersebut yang belum menikah.
Arsitektur
Rumah adat ini memiliki keunikan bentuk arsitektur dengan bentuk puncak atapnya
runcing yang menyerupai tanduk kerbau dan dahulunya dibuat dari bahan ijuk yang
dapat tahan sampai puluhan tahun,[3] namun belakangan atap rumah ini banyak
berganti dengan atap seng. Rumah Gadang ini dibuat berbentuk empat persegi panjang
dan dibagi atas dua bahagian, muka dan belakang. Bagian depan dari Rumah Gadang
biasanya penuh dengan ukiran ornamen dan umumnya bermotif akar, bunga, daun serta
bidang persegi empat dan genjang.[1] Sedangkan bagian luar belakang dilapisi dengan
belahan bambu. Rumah tradisional ini dibina dari tiang-tiang panjang, bangunan rumah
dibuat besar ke atas, tetapi tidak mudah rebah oleh goncangan,[1] dan setiap elemen
dari Rumah Gadang mempunyai makna tersendiri yang dilatari oleh tambo yang ada
dalam adat dan budaya masyarakat setempat.
Pada umumnya Rumah Gadang mempunyai satu tangga yang terletak pada bagian
depan. Sementara dapur dibangun terpisah pada bagian belakang rumah yang didempet
pada dinding.
Karena wilayah Minangkabau rawan gempa sejak dulunya karena berada di pegunungan
Bukit Barisan, maka arsitektur Rumah Gadang juga memperhitungkan desain yang tahan
gempa. Seluruh tiang Rumah Gadang tidak ditanamkan ke dalam tanah, tetapi bertumpu
ke atas batu datar yang kuat dan lebar. Seluruh sambungan setiap pertemuan tiang dan
kasau (kaso) besar tidak memakai paku, tetapi memakai pasak yang juga terbuat dari
kayu. Ketika gempa terjadi Rumah Gadang akan bergeser secara fleksibel seperti menari
di atas batu datar tempat tonggak atau tiang berdiri. Begitu pula setiap sambungan yang
dihubungkan oleh pasak kayu juga bergerak secara fleksibel, sehingga Rumah Gadang
yang dibangun secara benar akan tahan terhadap gempa.
Ukiran
Pada bagian dinding Rumah Gadang di buat dari bahan papan, sedangkan bagian
belakang dari bahan bambu. Papan dinding dipasang vertikal, sementara semua papan
yang menjadi dinding dan menjadi bingkai diberi ukiran, sehingga seluruh dinding
menjadi penuh ukiran. Penempatan motif ukiran tergantung pada susunan dan letak
papan pada dinding Rumah Gadang.
Pada dasarnya ukiran pada Rumah Gadang merupakan ragam hias pengisi bidang dalam
bentuk garis melingkar atau persegi. Motifnya umumnya tumbuhan merambat, akar
yang berdaun, berbunga dan berbuah. Pola akar biasanya berbentuk lingkaran, akar
berjajaran, berhimpitan, berjalinan dan juga sambung menyambung. Cabang atau
ranting akar berkeluk ke luar, ke dalam, ke atas dan ke bawah.
Disamping motif akar, motif lain yang dijumpai adalah motif geometri bersegi tiga,
empat dan genjang. Motif daun, bunga atau buah dapat juga diukir tersendiri atau
secara berjajaran.
Proses Pembuatan
Menurut tradisinya, tiang utama Rumah Gadang yang disebut tonggak tuo yang
berjumlah empat buah/batang diambil dari hutan secara gotong royong oleh anak
nagari, terutama kaum kerabat, dan melibatkan puluhan orang. Batang pohon yang
ditebang biasanya adalah pohon juha yang sudah tua dan lurus dengan diameter antara
40 cm hingga 60 cm. Pohon juha terkenal keras dan kuat. Setelah di bawa ke dalam
nagari pohon tersebut tidak langsung di pakai, tetapi direndam dulu di kolam milik kaum
atau keluarga besar selama bertahun-tahun.
Setelah cukup waktu batang pohon tersebut diangkat atau dibangkit untuk dipakai
sebagai tonggak tuo. Prosesi mengangkat/membangkit pohon tersebut disebut juga
sebagai mambangkik batang tarandam (membangkitkan pohon yang direndam), lalu
proses pembangunan Rumah Gadang berlanjut ke prosesi berikutnya, mendirikan
tonggak tuo atau tiang utama sebanyak empat buah, yang dipandang sebagai
menegakkan kebesaran.
Batang pohon yang sudah direndam selama bertahun-tahun tersebut kemudian menjadi
sangat keras dan tak bisa dimakan rayap, sehingga bisa bertahan sebagai tonggak tuo
atau tiang utama selama ratusan tahun. Perendaman batang pohon yang akan dijadikan
tonggak tuo selama bertahun-tahun tersebut merupakan salah satu kunci yang
membuat Rumah Gadang tradisional mampu bertahan hingga ratusan tahun melintasi
zaman.
Keyword:
- Lancip
- Warna warni
- Dominan merah karena menggambarkan masakan rumahnya yang pedas
- Ada seperti tanduk
B. Rumah Nuwo Sesat (Lampung)
Nuwo Sesat adalah salah satu rumah tradisional[1][2] yang ada di Provinsi Lampung.
Nuwo Sesat berfungsi sebagai tempat pertemuan adat bagi para purwatin (Penyimbang)
pada saat mengadakan pepung adat (Musyawarah).[3] Karena itu rumah tradisional ini
juga disebut Balai Agung. Bagian-bagian dari rumah tradisional ini adalah Anjungan yang
merupakan serambi yang digunakan untuk pertemuan kecil, Pusiban adalah ruang dalam
yang digunakan sebagai tempat musyawarah resmi, ruang Tetabuhan adalah ruangan
tempat menyimpan alat musik tradisional, ruang gajah merem yang digunakan untuk
tempat istirahat bagi para penyimbang, dan ijan geladak adalah tangga masuk yang
dilengkapi dengan atap. Atap rumah adat ini disebut rurung agung.[4]
Pada sisi depan rumah tradisional ini terdapat ukiran ornamen bermotif perahu yang
menjadi ciri khas. Hal lain yang khas di rumah tradisional ini adalah hiasan payung-
payung besar berwarna putih, kuning, dan merah pada bagian atapnya, payung-payung
tersebut merupakan lambang dari tingkat tetuha komunitas bagi masyarakat tradisional
Lampung. Secara fisik Nuwo Sesat berbentuk rumah panggung bertiang. Sebagian besar
material dari rumah adat ini terbuat dari papan kayu. Dahulu rumah adat Nuwo Sesat
beratap anyaman ilalang, tetapi seiring perkembangan zaman penggunaan ayaman
ilalang tergantikan dengan genting. Perubahan rumah adat Lampung dapat dilihat
antara lain pada ruang di bawah rumah yang disebut Bah Nuwo. Sekarang rumah
tradisional Nuwo Sesat tidak lagi menjadi ruang pertemuan tetuha (tetua) Penyimbang
komunitas budaya Pepadun, tetapi sebagai tempat tinggal biasa.[5]
Pada masa sekarang, rumah adat Nowou Sesat sudah banyak digantikan oleh rumah
yang lebih modern. Namun di beberapa daerah di Lampung masih bisa ditemukan
rumah adat Nowou Sesat ini, beberapa di antaranya adalah daerah berikut ini: Kampung
Wana, Olokgading, Balambangan Pager, Menggala, Talang Padang, dan kampung-
kampung tua lainnya di Lampung masih dipertahankan oleh masyarakat setempat.
Rumah adat Nowou Sesat diyakini sebagai bentuk semangat keterbukaan, kekuatan,
kenyamanan, dan keindahan yang dianut oleh masyarakat setempat.[6] Pembagian
bangunan dari rumah adat Nowou Sesat bersesuaian dengan fungsi hierarki dalam
masyarakat adat Lampung. Rumah adat ini dibangun dengan menggunakan prinsip
struktur sosial yang menyatu dengan kedaerahan yang ada.
Rumah tradisional Nowou Sesat banyak dibangun dengan mengikuti aliran jalur utama
perkampungan. Rumah Adat Nowou Sesat terdiri dari bangunan musyawarah yang
disebut Sesat atau bantaian. Bangunan yang digunakan sebagai tempat tinggal disebut
dengan Lamban, Lambahana atau Nuwo. Tak ketinggalan bangunan tempat
penyimpanan bahan makanan dan benda pusaka yang disebut Lamban Pamanohan. Dan
bangunan ibadah yang disebut Mesjid, Mesigit, Surau, Rang Ngaji, Pok Ngajei.[7]
Perkembangan rumah ada di Lampung banyak dipengaruhi dengan adanya
perkembangan zaman. Utamanya dikarenakan adanya pengaruh dari tanah Jawa dari
banyaknya pendatang yang datang dari Jawa ke Lampung.
Bagian bagian rumah
Rumah adat Nowou Sesat memiliki bentuk sebagai rumah panggung bertiang dengan
sebagian besar materialnya terbuat dari papan kayu. Bagian dinding dari bangunan
rumah adat ini menggunakan susunan papan kayu sebagai bahannya. Hal ini berlaku
sama juga untuk bagian lantainya. Jadi ada kesamaan antara dinding dan lantainya. Hal
inilah yang mampu meminimalisir kerusakan jika terjadi gempa. Terlebih dikarenakan
posisi provinsi Lampung yang berada pada pertemuan lempeng Asia dan Australia.
Bagian dalam dari bangunan ini memiliki perabotan yang biasanya berasal dari masa
kuno di masa lalu. Biasanya di bagian depan dan samping terdapat anak tangga untuk
bisa masuk ke arah bangunan utama. Banyak ukiran-ukiran juga pada bagian bangunan
ini.[7] Selain itu, tiang-tiang penyangga dari bangunan ini juga memiliki ukiran-ukiran ini.
Seiring dengan perkembangan zaman dan situasi tiang kayu penyangga pada rumah adat
Nowou Sesat ini sering kali diganti dengan batubara atau beton cor.[8] Bahkan di
beberapa bagian rumah lainnya digunakan semen, cat, dan kaca. Dahulu rumah sesat
beratap anyaman ilalang, tetapi sekarang sudah menggunakan [Link] demikian
perubahan ini diharapkan tetap mempertahankan sistem tata ruang hirearki yang telah
ada sebelumnya dan diwariskan secara turun temurun. Hal ini dikarenakan tata
bangunan dan ruangan mengandung makna simbolis dan filosofis patut dilesatrikan oleh
generasi selanjutnya.
Tata ruangan pada rumah adat Nowou Sesat didasarkan pada pola sosial yang ada di
dalam masyarakat setempat. Beberapa pembagian ruangan yang ada di dalam bangunan
rumah adat Nowou Sesat adalah tepas, agung, kebik temen, kebik tengah, gaghang,
dapur, dan ganyang besi.[8]
Ruangan tepas adalah bagian serambi yang terbuka di bagian depan rumah yang
berhubungan dengan ijan ke rumah panggung. Bagian ruangan ini berfungsi sebagai
tempat menerima tamu dan juga sering kali digunakan untuk ruangan berdiskusi dalam
mencapai permufakatan. Namun di siang hari, ruangan ini juga bisa digunakan oleh
anggota keluarga untuk beristirahat.
Ruang agung merupakan sebuah ruangan yang berada lebih tinggi daripada tepas.
Ruangan ini berfungsi sebagai ruangan merwatin(generasi muda mufakat). Posisi
ketinggian dari ruangan ini menunjukkan posisi hirearki yang lebih tinggi karena ruangan
ini cerminan Sakai Sambayan atau mufakat.
Ruangan gaghang adalah ruangan yang biasa digunakan untuk fungsi kebersihan karena
disinilah tempat untuk mencuci peralatan rumah tangga. Sedangkan di ruang dapur
digunakan sebagai tempat untuk memasak makanan.
Ruang ganyang besi merupakan ruangan yang digunakan untuk sanak saudara yang
belum memiliki suami ataupun istri
Keyword:
- Trapesium
- Ada mahkota
- tradisional
C. Rumah badui
Rumah Adat Badui adalah rumah adat dari provinsi Banten.[1] Hal ini didasarkan pada
rumah adat yang dimiliki oleh suku Badui. Suku Baduy/Badui merupakan kelompok etnis
masyarakat adat suku Banten di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Bentuk rumah adat
Badui sering di sebut dengan istilah Julang Ngapak.
Secara umum rumah adat Badui memilki gaya bangunan seperti rumah panggung. Bahan
yang bisa digunakan untuk bangunan rumah adat Badui adalah bambu. Rumah adat Badui
merupakan simbol kesederhanaan dari masyarakatnya. Adapun keutamaan yang ingin
didapat dari bangunan rumah ini adalah fungsi perlindungan dan kenyamanan. Selain itu
semangat kekeluargaan di suku Badui masih sangat kental, sehingga dalam proses
pembangunan rumah adat Badui melibatkan warga sekitar dengan cara gotong royong.
Bagian bagian rumah
Rumah adat Badui pada umumnya memiliki struktur bangunan yang tinggi menyerupai
rumah panggung. Hal ini dikarenakan kontur tanah yang biasa dihuni oleh suku Badui yang
tidak rata. Untuk menyesuaikan dengan keadaan ini, maka pada bagian yang miring ataupun
tidak rata dan bergelombang maka biasanya masyarakat Badui meletakkan batu kali yang
ditumpuk.[2] Fungsi utama dari batu ini adalah sebagai penyangga bangunan yang
dikhawatirkan tanahnya bergerak ataupun longsor. Rumah adat Badui dibangun dengan
mengikuti kontur tanah tempat didirikannya bangunan. Hal inilah mengapa orang Badui
sering kali disebut sangat menjaga kelestarian lingkungan.
Bagian atap dari rumah adat Badui ini terdiri atas daun yang disebut dengan sulah nyanda.
Nyanda memiliki makna bersandar dalam posisi tidak lurus namun agak merebah ke arah
belakang.[3] Hal ini terlihat dari posisi sulah nyanda yang dibuat panjang dan memiliki
derajat kemiringan yang lebih rendah di bagian kerangka di bawah atap. Bagian bilik rumah
dan pintu dibuat dari anyaman bambu. Anyaman ini disusun dan dianyam secara vertikal
yang dikenal dengan nama sarigsig. Teknik ini dibuat berdasarkan perkiraan saja dengan
tidak diukur terlebih dahulu. Adapun untuk keamanan rumah, maka pemilik rumah biasanya
membuat dua buah kayu yang disusun menjadi palang sehingga bisa ditarik dan didorong
dari bagian luar rumah.
Sebagian besar dan bahkan seluruh bagian dari rumah adat ini menggunakan material yang
seluruhnya berasal dari alam. Tentu saja dengan tetap mempertimbangkan kelestarian alam
dengan menggunakan seperlunya saja. Seluruh bangunan rumah tinggal suku Badui
menghadap ke utara-selatan dan saling berhadapan.[4] Menghadap ke arah barat dan timur
tidak diperkenankan berdasarkan adat yang berlaku di perkampungan suku Badui.[1]
Rumah adat Badui dibagi dalam 3 bagian yaitu bagian sosoro (depan), tepas (tengah) dan
imah (belakang).[4] Bagian rumah sosoro biasanya dipergunakan tuan rumah untuk
menerima kunjungan tamu. Bagian ini letaknya memanjang ke arah bagian lebar rumah.
Bagian rumah selanjutnya adalah ruang tepas yang membujur ke arah bagian panjang atau
ke belakang digunakan untuk acara makan atau ruangan tidur anak-anak. Tidak ada
pembatas antara ruangan sosoro dan tepas sehingga kedua ruangan ini menyatu dalam
bentuk huruf L yang siku. Hal ini akan dilaksanakan bersesuaian dengan rencana yang telah
dirancang sebelumnya. Bagian inti dari rumah adat Badui adalah pada bagian imah. Ruangan
ini memiliki fungsi yang khusus dan penting. Biasanya orang Badui menggunakannya sebagai
dapur dan juga kamar tidur bagi pemilik rumah dan istri.
Beberapa ciri utama dari rumah adat Badui adalah sebagai berikut
Bangunan dari rumah adat Badui ini tidak boleh menyentuh tanah
Setiap bagian dari tiang ruang selalu disangga dengan sebuah batu
Dindingnya terbuat dari anyaman bambu
Atap rumah adat Badui terdiri atas atap kiri dan atap kanan. Bagian kiri dari atap ini
biasanya memiliki ukuran yang sedikit lebih panjang.
Bahan ijuk ataupun daun kelapa banyak digunakan sebagai bahan atap rumah adat Badui
Tidak memiliki jendela
Lantai rumahnya terbuat dari bambu
Keyword:
- bersabut
- badan kuruskebawah
- atap agak lancip
- agak tertutup daun