BAB III
LANDASAN TEORI
3.1 Pemilihan Moda
Menurut Tamin (2000), pemilihan moda sangat sulit dimodelkan
walaupun hanya dua buah moda yang akan digunakan (taksi dan bus). Hal
tersebut disebabkan karena banyak faktor yang sulit dikuantifikasi misalnya
kenyamanan, keamanan, keandalan, atau ketersediaan mobil pada saat
diperlukan. Faktor yang dapat mempengaruhi pemilihan moda ini dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
1. Ciri pergerakan; pemilihan moda juga sangat dipengaruhi oleh :
a. Tujuan pergerakan
b. Waktu terjadinya pergerakan
c. Jarak perjalanan
2. Ciri fasilitas moda transportasi; hal tersebut dapat dikelompokkan
menjadi dua kategori, yaitu :
Faktor kuantitatif seperti :
a. Waktu perjalanan
b. Biaya transportasi (tarif, biaya bahan bakar, dan lain-lain)
c. Ketersediaan ruang dan tarif parkir
11
12
Faktor kedua bersifat kualitatif yang relatif lebih sulit menghitungnya
meliputi:
a. Kenyamanan dan keamanan
b. Keandalan dan keteraturan dan lain-lain
c. Ciri kota atau zona; beberapa ciri yang dapat mempengaruhi
pemilihan moda adalah jarak dari pusat kota dan kepadatan
penduduk.
3.1.1 Model pemilihan moda ujung-perjalanan
Penggunaan model pemilihan moda akan menghasilkan besarnya
pergerakan setiap moda. Pada waktu lalu, khususnya di Amerika Serikat, ciri
pribadi dianggap sebagai hal terpenting dalam pemilihan moda sehingga
penggunaan model pemilihan moda dilakukan segera setelah tahapan bangkitan
pergerakan. Dalam hal ini, ciri pribadinya yang berbeda-beda digunakan
untukmemperkirakan pemilihan moda; contohnya, kelompok yang berbeda
dalam model analisis kategori. Karena pada tahap ini tidak terdapat indikasi
tujuan pergerakan mereka, ciri pergerakan dan moda diabaikan dalam model
ini.
Hal tersebut sesuai dengan arah perencanaan umum; jika pendapatan
meningkat, banyak orang menggunakan mobil pribadi. Salah satu tujuan
perencanaan transportasi adalah memperkirakan pertumbuhan kebutuhan akan
pergerakan mobil pribadi sehingga investasi di bidang jalan raya dapat
direcanakan dengan lebih baik. Model pemilihan moda jenis seperti ini hanya
berkaitan dengan beberapa hal seperti pendapatan, kepadatan pemukiman, dan
13
pemilikan kendaraan. Dalam beberapa kasus, ketersediaan angkutan umum
dipertimbangkan dalam bentuk indeks aksesibilitas.
Dalam jangka pendek, model ini dapat sangat tepat, khususnya jika
angkutan umum tersedia di seluruh daerah kajian yang tingkat kemacetannya
rendah. Akan tetapi, model ini sangat tidak peka terhadap keputusan kebijakan
– pengambil keputusan tidak dapat berbuat banyak dalam mempengaruhi
pemilihan moda. Memperbaiki fasilitas angkutan umum, membatasi ruang
parkir, dan membangun jalan tol tidak berpengaruh pada jenis model pemilihan
moda seperti ini.
3.1.2 Model pemilihan moda pertukaran-perjalanan
Bentuk model pemilihan moda di negara Eropa didominasi oleh model
sebaran pergerakan sehingga model pemilihan moda harus digunakan setelah
dilakukannya tahapan permodelan sebaran pergerakan. Model jenis ini
mempunyai keuntungan karena ciri mempertimbangkan ciri pengguna jalan
karena pergerakan tersebut telah diagregasikan dalam bentuk matrik asal-
tujuan.
Model pertama dikembangkan hanya mempertimbangkan satu atau dua
ciri pergerakan, biasanya waktu tempuh perjalanan. Dapat dilihat bahwa kurva
S dirasakan paling cocok untuk mencerminkan perilaku pergerakan ini secara
lebih baik. Gambar 3.1 memperlihatkan proporsi pergerakan yang akan
menggunakan moda sebagai fungsi dari selisih waktu atau selisih
biaya perjalanan antara moda satu dengan moda lainnya.
14
Gambar 3.1 Kurva Pemilihan Moda
Kurva itu adalah kurva empiris yang didapatkan langsung dari data dan
dapat dignakan untuk menghitung proporsi pengguna jalan yang akan
berpindah menggunakan moda transportasi lain yang lebih cepat – dinamakan
kurva diversi. Salah satu kendala model tersebut adalah hanya digunakan
untuk matriks pergerakan yang sudah mempunyai alternatif moda yang akan
digunakan.
Model ini mempunyai dasar teori yang lemah sehingga kemampuan
peramalannya diragukan. Model ini juga mengabaikan beberapa peubah
kepekaan kebijakan misalnya tarif dan biaya parkir. Juga, karena bersifat
agregat, model ini tidak dapat digunakan untuk memodel secara tepat batasan
dan ciri moda yang tersedia bagi setiap individu atau rumah tangga.
3.1.3 Model pemilihan moda dan kaitannya dengan model lain
Analisis pemilihan moda dapat dilakukan pada tahap yang berbeda-beda
dalam proses perncanaan dan permodelan transportasi. Hal ini diilustrasikan
dalam Gambar 3.2 pendekatan model pemilihan moda sangat bervariasi,
tergantung pada tujuan tujuan perencanaan transportasi. Salah satu pendekatan
15
mengatakan bahwa proses pemilihan moda dilakukan pada tahapan
menghitung bangkitan pergerakan; di sini pergerakan angkutan umum
langsung dipisahkan dengan angkutan pribadi. Kemudian, setiap moda
dianalisis secara terpisah selama tahapan proses permodelan. Pendekatan ini
mengasumsikan bahwa peubah sosioekonomi sangat mempengaruhi proses
pemilihan moda.
Gambar 3.2 Alternatif Posisi untuk Analisis Pemilihan Moda
Pendekatan kedua mempertimbangkan proses pemilihan moda yang
terjadi sebelum proses pemilihan rute yang dilakukan. Dalam hal ini, setiap
moda dianggap bersaing dalam merebut pengsa penumpang sehingga atribut
penentu dari jenis pergerakan menjadi faktor utama yang mempengaruhi
pemilihan moda. Pendekatan ketiga mempertimbangkan bahwa tahapan
bangkitan pergerakan dan pemilihan rute ikut menentukan dalam pemilihan
moda. Ini berarti pemilihan moda dapat diletakkan di mana saja antara tahapan
bangkitan pergerakan dan pemilihan rute seperti terlihat pada Gambar 3.2.
16
[Link]. Model jenis I
Dalam model jenis ini, pergerakan yang menggunakan angkutan umum
dan pribadi dihitung secara terpisah dengan model bangkitan pergerakan,
biasanya dengan menggunakan model analisis regresi atau ketegori. Peubah
dan parameter yang digunakan berbeda untuk (a) tarikan, dan (b) untuk setiap
moda transportasi.
[Link]. Model jenis II
Model jenis II sering digunakan oleh banyak kajian belakangan ini untuk
perencanaan angkutan jalan raya, bukan untuk angkutan umum. Oleh karena
itu, hal yang terbaik yang harus dilakukan adalah mengabaikan pergerakan
angkutan umum dalam permodelan sehingga proses sebaran pergerakan
langsung terkonsentrasi dalam pergerakan agkutan pribadi. Komentar ini
dapat juga ditunjukan untuk model jenis I. Teknik utama yang digunakan
pada model jenis II adalah penggunaan dengan kurva diversi.
[Link]. Model jenis III
Model jenis III mengkombinasikan model pemilihan moda dengan model
gravity, di sini proses sebaran pergerakaan dan pemilihan moda dilakukan
secara bersamaan. Model ini dapat dibadingkan dengan model gravity yang
menggunakan fungsi hambatan eksponsial. Persamaan sebaran pergerakan
pemilihan moda mengansumsikan hanya dua buah moda (umum dan pribadi).
17
[Link]. Model jenis IV
Model jenis IV sangat sering digunakan (walaupun model jenis II
lebih popular di negara Barat). Model tersebut mengunakan kurva diversi,
persamaan regresi atau variasi model III. Model ini selalu mengguanakan
nisbah atau selisih hambatan antara dua moda yang bersaing.
3.2 Kriteria Kinerja
Menurut Hendarto (2001), untuk mengukur tingkat kebersihan atau
kinerja dari sistem operasi transportasi, maka diperlukan beberapa indicator
yang dapat dilihat. Indikator tersebut yang pertama menyangkut ukuran
kuantitatif yang dinyatakan dengan tingkat pelayanan, dan yang kedua lebih
bersifat kualitatif dan dinyatakan dengan mutu pelayanan.
3.2.1 Faktor tingkat pelayanan
Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pelayanan :
1. Kapasitas
Kapasitas dinyatakan sebagai jumlah penumpang yang biasa
dipindahkan dalam satu waktu tertentu. Peningkatan kapasitas biasanya
dilakukan dengan memperbesar ukuran, mempercepat perpindahan,
merapatkan penumpang, namun ada batasan-batasan yang harus
diperhatikan yaitu keterbatasan ruang gerak yang ada, keselamatan,
kenyamanan, dan lain-lain.
2. Aksesbilitas
Aksesbilitas menyatakan tentang kemudahan orang dalam
menggunakan suatu sarana transportasi tertentu dan biasa berupa fungsi
18
dari jarak maupun waktu. Suatu sistem transportasi sebaiknya bias diakses
secara muda dari berbagai tempat dna pada setiap saat untuk mendorong
orang menggunakannya dengan mudah.
3.2.2 Faktor kualitas pelayanan
Faktor aksesbilitas di wilayah perkotaan selalu diikuti dengan rendahnya
faktor pelayanan angkutan yang sangat diperlukan bagai pergerakan orang
maupun barang. Faktor tingkat pelayanan kendaraan umum darat belum
sepenuhnya mampu memenuhi pertimbangan pengguna jasa kendaraan umum
tersebut.
1. Keselamatan
Keselamatan ini erat kaitannya dengan masalah kemungkinan kecelakaan
dan terutama berkaitan erat dengan sistem pengendalian yang ketat,
biasanya mempunyai tingkat keselamatan dana keamanan yang tinggi
pula.
2. Keandalan
Keandalan ini berhubungan dengan faktor-faktor seperti ketetapan waktu
dan jaminan sampai ditempat tujuan. Keandalan/reabilitas didefinisakan
sebagai seberapa jauh pengukuran bebas dari varian kesalahan acak (free
random-eror variance). Kesalahan acak menurunkan tingkat keandalan
hasil pengukuran kalai kita menginginkan agar merasa yakin bahwa
skor/nilai dari kuesioner dapat mencerminakan dimensi pertimbangan
secara andal (reability), kita menghendaki kuesioner harus menunjukan
keandalan yang tinggi (high reability).
19
3. Fleksibilitas
Fleksibilitas ini adalah kemudahan yang ada dalam mengubah segala
sesuatu sebagai akibat adanya kejadian yang berubah tidak sesuai dengan
skenario yang direncanakan.
4. Kenyamanan
Kenyamanan erat kaitannya dengan tata letak tempat duduk, sistem
pengaturan udara, ketersediaan fasilitas khusus, waktu operasi, dan lain-
lain.
5. Kecepatan
Kecepatan merupakan faktor yang sangat penting dan erat kaitannya
dengan efisiensi sistem transportasi. Pada prinsipnya pengguna
transportasi menginginkan kecepatan yang tinggi, sehingga diperoleh
efisiensi yang tinggi pula, namun hal tersebut dibatasi oleh masalah
keselamatan.
6. Dampak ini sangat beragam jenisnya, mulai dari dampak lingkungan
sampai dengan dampak sosial yang ditimbulkan dengan adanya suatu
operasi lalu lintas serta konsusmsi energi yang dibutuhkan.
3.3 Aspek yang Mempengaruhi Kebutuhan Transportasi
Penggunaan kendaraan pribadi sebagi suatu moda transportasi
merupakan suatu efek dari pemenuhan kebutuhan. Pemenuhan kebutuhan
disini merupakan kegiatan yang harus dilakukan setiap hari, misal pemenuhan
kebutuhan akan pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Sehingga
20
penggunaan kendaraan pribadi merupakan sarana atau akses untuk melakukan
kebutuhan tersebut.
Menurut Wahab (2005) beberapa hal yang mempengaruhi kebutuhan
transportasi adalah sebagai berikut:
1. Jumlah penduduk
Jumlah penduduk mempunyai hubungan langsung secara kuantitas
dengan kebutuhan pergerakan. Semakin banyak kebutuhan
pergerakan manusia maupun barang maka akan semakin banyak pula
pengguna kendaraan pribadi sebagai moda transportasi darat.
2. Strata penduduk (usia dan jenis kelamin)
Dilihat dari sisi usia, maka bayi, anak-anak, remaja, pekerja,
pengangguran, orang tua dan orang cacat mempunyai tingkat
permintaan pergerakan yang tidak sama. Demikian juga dengan
perbedaan jenis kelamin akan menyebabkan kebutuhan terhadap
pergerakan berbeda pula.
3. Jumlah keluarga
Jumlah keluarga dala satu rumah juga akan berpengaruh secara
langsung akan kebutuhan pergerakan. Semakin banyak jumlah
anggota keluarga maka akan semakin banyak pula penggunaan
kendaraan pribadi sebagai alternatif transportasi darat.
21
4. Pendapatan
Jumlah pendapatan kadang juga terkait secara linier dengan jumlah
permintaan pergerakan. Semakin besar pendapatan maka permintaan
pergerakan juga akan cenderung meningkat.
5. Status sosial dan ekonomi kepala keluarga
Status sosial dan ekonomi keluarga juga dapat dianggap berkaitan
dengan permintaan pergerakan. Semakin tinggi status ekonomi
kepala keluarga secara tidak langsung akan semakin besar keinginan
untuk pemenuhan kebutuhan akan pergerakan.
3.4 Pengukuran Instrumen
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu
dengan cara memberi beberapa pertanyaan kepada responden. Kuesioner ini
juga merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti telah
mengetahui dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang
diharapkan dari responden. Selain itu kuisioner juga cocok digunakan bila
jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas.
Berdasarkan bentuk pertanyaannya, kuesioner dapat dikategorikan
menjadi dua jenis yaitu kuisioner terbuka dan kuesioner tertutup. Kuesioner
terbuka adalah kuesioner yang memberikan kebebasan kepada responden
untuk menjawab sedangkan kuesioner tertutup merupakan kuesioner yang
telah menyediakan jawaban untuk dipilih oleh responden.
22
3.5 Populasi dan Sampel
3.5.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi adalah seluruh
penduduk yang dimaksudkan untuk diselidiki yang dibatasi sebagai individu
yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama. Pada penelitian ini yang
dimaksud dengan populasi adalah penumpang taksi dan bus AKDP dengan
trayek Ngabang-Pontianak.
3.5.2 Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang ingin diteliti. Tujuan
penentuan sampel ialah untuk memperoleh keterangan mengenai objek
penelitian dengan cara mengamati hanya sebagian dari populasi, suatu
reduksi terhadap jumlah objek penelitian. Sampel penelitian meliputi
sejumlah elemen (responden) yang lebih besar dari persyaratan minimal
sebanyak 30 elemen/responden. Menurut Guilford (1987) dalam Supranto
(1997), dimana semakin besar sampel (makin besar nilai n = banyaknya
elemen sampel) akan memberikan hasil yang akurat. Karena itu, dalam
penelitian ini akan diambil 153 sampel yang terdiri dari 100 sampel untuk
angkutan bus dan 53 sampel untuk angkutan taksi. Salah satu metode yang
juga digunakan untuk menentukan jumlah sampel adalah menggunakan
rumus Slovin (Sevilla et. Al.,1960) dalam Wijaya (2013) sebagai berikut :
23
𝑁 (3.1)
𝑛=
1 + 𝑁𝑒 2
Keterangan :
n = jumlah sampel
N = jumlah populasi
e = batas toleransi kesalahan (error tolerance)
3.6 Metode Analisis Data
Setelah seluruh data dari seluruh responden diperoleh, maka langkah
selanjutnya adalah melakukan analisis data. Adapun penulis menggunakan
beberapa rumus untuk menganalisis data tersebut.
3.6.1 Analisis korelasi
Analisis korelasi adalah alat statistik yang dapat digunakan untuk
mengetahui derajat hubungan antara suatu variabel dengan variabel yang
lainnya. dengan menggunakan teknik analisis korelasi Bivariate Correlation
(korelasi bivariate) atau biasa disebut prosedur Correlation untuk
menghasilkan matrik korelasi product-moment Pearson dari pasangan dua
variabel.
Koefisien korelasi yang dihasilkan biasanya dilambangkan dengan huruf
r, yang dapat digunakan untuk :
1. Mengetahui keeratan hubungan antara dua variabel,
2. Mengetahui arah hubungan antara dua variabel.
Koefisien korelasi (r) dapat pula ditentukan dengan formulasi sebagai
berikut :
24
𝒏∑𝒙𝒚 − ∑𝒙∑𝒚
𝒓= (3.2)
√{𝒏∑𝒙𝟐 −(∑𝒙)𝟐 } − {𝒏∑𝒚𝟐 − (∑𝒚)𝟐 }
Dimana : r = koefisien korelasi antara x dan y
x = variabel bebas
y = variabel terikat
n = jumlah sampel
Untuk mengetahui keeratan hubungan antara dua variabel dengan
menggunakan koefisien korelasi adalah dengan menggunakan nilai absolut
dari koefisien korelasi tersebut. Besarnya koefisien korelasi ( r ) antara dua
variabel adalah nol sampai ±1. Apabila dua buah variabel mempunyai nilai r
= 0, berarti antara dua variabel tersebut tidak ada hubungannya. Sedangkan
apabila variabel mempunyai r = ±1, maka dua buah variabel terebut
mempunyai hubungan yang sempurna.
Semakin tinggi nilai koefisien korelasi antara dua variabel (semakin
mendekati 1), maka tingkat keeratan hubungan antara dua variabel tersebut
semakin tinggi. Dan sebaliknya semakin rendah koefisien korelasi antara dua
macam variabel (semakin mendekati), maka tingkat hubungan antara dua
variabel tersebut semakin lemah.
Koefisien korelasi dapat juga digunakan untuk mengetahui arah
hubungan antara dua variabel. Tanda + dan – yang terdapat pada koefisien
korelasi menunjukkan arah hubungan antara dua variabel. Tanda plus (+)
menunjukkan hubungan yang searah. Tanda minus (-) pada nilai koefisien
korelasi (r) menunjukkan hubungan yang berlawanan arah.
25
Nilai r digunakan untuk menguji ada tidaknya signifikansi hubungan
antara variable X dan Y. Taraf signifikansi ditentukan lebih dahulu ahar
penelitian tetap obyektif. Selanjutnya membuat hipotesa nihil (Ho) dan
hipotesa alternatif (H1). Mencari nilai r tabel sesuai dengan hasil analisis data
dan taraf signifikansi.
Membuat keputusan sebagai berikut :
Berdasarkan perbandingan nilai r Hitung (output) dengan r Tabel.
Jika r Hitung < r Tabel, maka Ho ditolak
Jika r Hitung > r Tabel, maka Ho diterima
Dalam melakukan pengujian hipotesis, ada dua macam kekeliruan yang
dapat terjadi, dikenal dengan nama-nama :
1. Kekeliruan tipe I : ialah menolak hipotesa yang diterima,
2. Kekeliruan tipe II : ialah menerima hipotesa yang seharusnya ditolak.
Peluang membuat kekeliruan biasa dinyatakan dengan α (alfa). Dalam
penggunaannya, α disebut pula taraf signifikan atau sering disebut pula taraf
nyata. Taraf signifikan adalah komplemen dari taraf kepercayaan.
Menggunakan taraf signifikan 5% sama artinya dengan menggunakan taraf
kepercayaan 95% Dengan nilai r yang kita peroleh, dapat secara langsung
melihat tabel korelasi untuk mengetes apakah nilai r yang kita dapatkan
signifikan atau non signifikan.
26
4.6.1 Crosstabs methods
Prosedur Crosstabs digunakan untuk menampilkan tabulasi silang yang
menunjukkan distribusi bersama. Deskripsi stastistik bivariatnya dan
berbagai pengujian dari dua variabel atau lebih. Hasil yang diperoleh
dengan menggunakan crosstabs methods adalah total responden dan
presentasenya baik secara horisontal maupun vertikal antar variabel dapat
diketahui. Semua analisis datanya menggunakan bantuan komputer
dengan software Microsoft Excel dan SPSS 24 for Windows.