MKU Transformasi Digital
Bab 13. Blockchain
Tujuan Pembelajaran:
● Menjelaskan pengertian dan sejarah Blockchain;
● Menyebutkan jenis-jenis Blockchain;
● Menjelaskan cara kerja Blockchain;
● Mengidentifikasi struktur atau pilar utama Blockchain;
● Menjelaskan contoh pemanfaatan Blockchain di berbagai bidang.
● Menjelaskan keunggulan dan kekurangan Blockchain.
A. Pengertian dan Sejarah Blockchain
Blockchain pada dasarnya adalah basis data terdistribusi dari catatan atau buku
besar umum dari semua transaksi atau peristiwa digital yang telah dieksekusi dan
dibagikan di antara pihak-pihak yang berpartisipasi. Setiap transaksi dalam buku
besar diverifikasi oleh konsensus mayoritas peserta dalam sistem. Dan, sekali masuk,
informasi tidak akan pernah bisa dihapus atau dirubah. Blockchain berisi catatan
tertentu dan dapat diverifikasi dari setiap transaksi yang pernah dilakukan. Bitcoin,
mata uang digital peer-to-peer terdesentralisasi, adalah contoh paling populer yang
menggunakan teknologi blockchain. Bitcoin mata uang digital itu sendiri sangat
kontroversial tetapi teknologi blockchain yang mendasarinya telah bekerja dengan
sempurna dan menemukan berbagai aplikasi baik di dunia finansial maupun
nonfinansial.
Sejarah awal mula penemuan Bitcoin (uang digital) pada akhir tahun 2008, yang
ditemukan oleh seorang yang bernama Satoshi Nakamato, serta dalam paper yang
berjudul “Bitcoin: A Peer-to-PeerElectronic Cash System”. Di mana dirinya menuliskan
gagasan terkait pemanfaatan teknologi jaringan Peer-to-Peer. Menurut Schollmeier
(2001) definisi Peer-toPeer atau yang dikenal dengan P2P adalah jaringan
terdistribusi yang dapat berbagi berkas media dan juga bertukar data antara dua
komputer (peer) atau jenis jaringan tanpa adanya perantara. Untuk menangani
transaksi elektronik yang telah dibahas dalam paper tersebut terkait konsep cara
bertransaksi dengan uang digital (Bitcoin) secara daring tanpa menggunakan pihak
ketiga dan tanpa penyimpanan secara terpusat atau terdistribusi, penerapan konsep
Peer-to-Peer tentu dapat dikatakan sudah sesuai untuk memberikan solusi terkait
metode transaksi dengan menggunakan Bitcoin (Nakamoto, 2008).
Melalui temuan cara bertransaksi Bitcoin tersebut, secara bersamaan konsep
Blockchain pun pada awalnya yang hanya digunakan untuk mengamankan transaksi
uang digital tersebut, hingga sekarang telah mengalami perkembangan pesat yang
dapat diterapkan dalam berbagai hal, terutama pada bidang digital yang
mengutamakan kepercayaan, keamanan, dan kevaliditasan sebuah transaksi data.
Menurut Yaga et al. (2018), Blockchain merupakan ledger atau buku besar digital yang
terdistribusi dari transaksi yang ditandatangani secara kriptografis dan
dikelompokkan ke dalam blok. Setiap blok dihubungkan secara kriptografis dengan
hash blok sebelumnya setelah dilakukan validasi dan menjalani keputusan konsensus.
Materi Pembelajaran – MKU Transformasi Digital 1
Ketika blok baru berhasil dibuat dari proses mining, data pada blok sebelumnya akan
hampir mustahil untuk diubah atau dimanipulasi. Namun demikian, masih saja
ditemukan pemikiran terkait definisi Blockchain dan cryptocurrency seperti Bitcoin
merupakan hal yang sama pada masyarakat awam. Sebenarnya pemikiran tersebut
tentu saja merupakan sebuah kekeliruan yang harus diluruskan. Pada dasarnya
Blockchain tentu saja tidak sama dengan cryptocurrency seperti Bitcoin atau mata
uang digital lainnya. Berikut terdapat uraian perbedaan antara Blockchain dan
cryptocurrency:
Crytocurrency Blockchain
Cryptocurrency adalah mata uang Blockchain merupakan teknologi seperti
digital yang juga merupakan salah ledger atau basis data karena
satu implementasi teknologi menyimpan segala informasi
Blockchain, karena proses pertukaran data, seperti mata uang
transaksinya disimpan pada digital hingga surat sertifikat
Blockchain. kepemilikan tanah.
Tujuan dari adanya cryptocurrency Tujuan dari teknologi Blockchain adalah
adalah untuk menyederhanakan dan untuk membuat biaya pertukaran nilai
meningkatkan kecepatan transaksi menjadi rendah dan memiliki
keuangan tanpa adanya batasan dari lingkungan yang aman dalam transaksi
pihak tertentu peer-to-peer dengan siapa-pun.
Cryptocurrency hanya terbatas pada Ranah pembahasan Blockchain sangat
pertukaran mata uang digital saja. luas dan akan terus berkembang.
Berdasarkan perbedaan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa sebenarnya
cryptocurrency seperti Bitcoin, Ether, Litecoin dan berbagai jenis cryptocurenncy
lainnya merupakan salah satu contoh hasil penerapan atau implementasi dari
teknologi Blockchain, dan dapat dikatakan bahwa Blockcain tentu saja dapat berfungsi
atau digunakan tanpa menggunakan cryptocurrency. Namun, cryptocurrency tentu
tidak akan dapat digunakan tanpa teknologi Blockchain.
Materi Pembelajaran – MKU Transformasi Digital 2
B. Jenis-jenis Blockchain
Berdasarkan jenis Blockchain terdapat tiga jenis Blockchain yang umum
diketahui beserta perbedaan dan tujuannya, yaitu:
a. Public Blockchain
Seperti namanya, Blockchain ini merupakan jaringan terdistribusi yang besar
karena memiliki sifat publik yang berarti terbuka kepada semua orang yang
berpartisipasi dan memiliki kode yang bersifat open-source, sehingga para
komunitas dapat berdistribusi. Tujuan dari jenis Blockchain ini banyak digunakan
untuk melakukan transaksi mata uang digital atau cryptocurenncy, di mana semua
orang dapat melihat daftar transaksi yang pernah dilakukan dan memvalidasi
transaksi.
b. Private Blockchain
Private Blockchain adalah salah satu jenis Blockchain yang bersifat tertutup dan
bertujuan untuk melakukan pertukaran informasi secara internal saja. Tentu hal
tersebut dapat membuat pihak-pihak yang tidak bergabung, tidak dapat melihat
proses-proses apa saja yang dilakukan pada Blockchain tersebut. Menurut
Mukhopadhyay (2018), terdapat batasan akses pada private Blockchain. Apabila
terdapat organisasi atau perusahaan yang menerapkan teknologi Blockchain secara
umum. Namun, tidak terlalu nyaman dengan akses kontrol yang 10 diberikan oleh
jaringan publik (public Blockchain), tentu saja tujuan tersebut dapat dicapai dengan
memanfaatkan Blockchain yang bersifat private ini.
c. Semi-Private Blockchain
Semi-private Blockchain atau sering disebut sebagai consortium Blockchain,
merupakan jenis Blockchain yang memberikan hak akses kepada siapa saja yang
berhak menggunakannya dan memiliki source code yang tertutup. Mirip seperti
dengan private Blockchain. Namun, untuk penyimpanan data yang dikirimkan
melalui transaksi tetap akan tersimpan pada jaringan Blockchain publik.
C. Cara Kerja Blockchain
Tujuan dari blockchain adalah untuk memungkinkan informasi digital direkam
dan didistribusikan, tetapi tidak diedit. Dengan cara ini, blockchain adalah fondasi
untuk buku besar yang tidak dapat diubah (immutable ledgers), atau catatan transaksi
Materi Pembelajaran – MKU Transformasi Digital 3
yang tidak dapat diubah, dihapus, atau dihancurkan. Inilah sebabnya mengapa
blockchain juga dikenal sebagai distributed ledger technology (DLT).
Blockchain terdiri dari tiga konsep penting: bloks, nodes, dan miners.
1. Bloks
Setiap rantai terdiri dari beberapa blok dan setiap blok memiliki tiga elemen dasar:
(1) Data dalam blok. (2) Selanjutnya, bilangan bulat 32-bit disebut Nonce. Nonce
dihasilkan secara acak ketika sebuah blok dibuat, yang kemudian menghasilkan
hash header blok. (3) Hash adalah angka 256-bit yang digabungkan dengan nonce.
Ketika blok pertama dari sebuah rantai dibuat, sebuah nonce menghasilkan hash
kriptografi. Data di blok dianggap ditandai dan selamanya terikat dengan nonce dan
hash kecuali jika ditambang (mining).
2. Nodes
Salah satu konsep terpenting dalam teknologi blockchain adalah desentralisasi.
Tidak ada satu komputer atau organisasi yang dapat memiliki rantai tersebut.
Sebaliknya, ini adalah buku besar yang didistribusikan melalui node yang
terhubung ke rantai. Node dapat berupa perangkat elektronik apa pun yang
menyimpan salinan blockchain dan menjaga jaringan tetap berfungsi.
Setiap node memiliki salinan blockchainnya sendiri dan jaringan harus secara
algoritme menyetujui setiap blok yang baru ditambang agar rantai dapat
diperbarui, dipercaya, dan diverifikasi. Karena blockchain transparan, setiap
tindakan dalam buku besar dapat dengan mudah diperiksa dan dilihat. Setiap
peserta diberikan nomor identifikasi alfanumerik unik yang menunjukkan
transaksi mereka.
Menggabungkan informasi publik dengan sistem checks-and-balances membantu
blockchain menjaga integritas dan menciptakan kepercayaan di antara pengguna.
Pada dasarnya, blockchain dapat dianggap sebagai skalabilitas kepercayaan melalui
teknologi.
3. Miners
Miners membuat blok baru pada rantai melalui proses yang disebut ‘Mining’. Dalam
blockchain, setiap blok memiliki nonce dan hash uniknya sendiri, tetapi juga
merujuk pada hash dari blok sebelumnya dalam rantai, jadi menambang (mining)
satu blok tidaklah mudah, terutama pada rantai besar. Miners menggunakan
perangkat lunak khusus untuk memecahkan masalah matematika yang sangat
Materi Pembelajaran – MKU Transformasi Digital 4
kompleks dalam menemukan nonce yang menghasilkan hash yang diterima. Karena
nonce hanya 32 bit dan hash 256, ada sekitar empat miliar kemungkinan kombinasi
nonce-hash yang harus ditambang sebelum kombinasi yang tepat ditemukan.
Ketika itu terjadi miners dikatakan telah menemukan "golden nonce" dan blok
mereka ditambahkan ke rantai.
Membuat perubahan ke blok mana pun di awal rantai membutuhkan penambangan
ulang tidak hanya blok dengan perubahan, tetapi semua blok yang datang
setelahnya. Inilah mengapa sangat sulit untuk memanipulasi teknologi blockchain.
Anggap saja sebagai "safety in math" karena menemukan "golden nonce"
membutuhkan banyak waktu dan daya komputasi. Ketika sebuah blok berhasil
ditambang, perubahan tersebut diterima oleh semua node di jaringan dan
penambang dihargai secara finansial.
Gambar 1. Ilustrasi Proses Transaksi
([Link] )
Selain melakukan transaksi keuangan, Blockchain juga dapat menyimpan detail
transaksi properti, kendaraan, dll. Berikut adalah contoh kasus penggunaan yang
menggambarkan cara kerja Blockchain:
Materi Pembelajaran – MKU Transformasi Digital 5
Hash Encryptions
Teknologi Blockchain menggunakan enkripsi hash untuk mengamankan data,
terutama mengandalkan algoritma SHA256 untuk mengamankan informasi. Alamat
pengirim (kunci publik), alamat penerima, transaksi, dan detail kunci pribadinya
ditransmisikan melalui algoritma SHA256. Informasi terenkripsi, yang disebut
enkripsi hash, ditransmisikan ke seluruh dunia dan ditambahkan ke Blockchain
setelah verifikasi. Algoritme SHA256 membuatnya hampir tidak mungkin untuk
meretas enkripsi hash, yang pada gilirannya menyederhanakan otentikasi pengirim
dan penerima.
Proof of Work (bukti kerja)
Dalam Blockchain, setiap blok terdiri dari 4 header utama.
• Hash Sebelumnya: Alamat hash ini menempatkan blok sebelumnya.
• Detail Transaksi: Rincian semua transaksi yang perlu terjadi.
• Nonce: Angka arbitrer yang diberikan dalam kriptografi untuk membedakan
alamat hash blok.
• Alamat Hash dari Blok: Semua di atas (yaitu, hash sebelumnya, rincian transaksi,
dan nonce) ditransmisikan melalui algoritma hashing. Ini memberikan output
yang berisi 256-bit, nilai panjang 64 karakter, yang disebut 'alamat hash' unik.
Akibatnya, ini disebut sebagai hash blok.
Banyak orang di seluruh dunia mencoba mencari tahu nilai hash yang tepat
untuk memenuhi kondisi yang telah ditentukan sebelumnya menggunakan algoritma
komputasi. Transaksi selesai ketika kondisi yang telah ditentukan terpenuhi. Lebih
jelasnya, penambang Blockchain berusaha memecahkan teka-teki matematika, yang
disebut sebagai masalah pembuktian kerja. Siapa yang menyelesaikannya terlebih
dahulu mendapat hadiah.
Mining
Dalam teknologi Blockchain, proses menambahkan detail transaksi ke buku
besar digital/publik saat ini disebut ‘Mining'. Meskipun istilah ini dikaitkan dengan
Bitcoin, istilah ini juga digunakan untuk merujuk pada teknologi Blockchain lainnya.
Mining berkaitan dengan menghasilkan hash dari transaksi blok, yang sulit untuk
dipalsukan, sehingga memastikan keamanan seluruh Blockchain tanpa memerlukan
sistem pusat.
Materi Pembelajaran – MKU Transformasi Digital 6
D. Struktur Blockchain
Pada dasarnya ada tiga struktur atau pilar utama dari teknologi blockchain yang
membuatnya bisa mendapatkan pengakuan yang luas. Ketiga sifat tersebut adalah
desentralisasi, transparansi, dan juga Immutability (tidak bisa dirubah).
1. Desentralisasi
Sebelum kehadiran bitcoin, kita lebih terbiasa dengan layanan terpusat.
Idenya sangat sederhana, yaitu ketika kita memiliki entitas terpusat yang
menyimpan semua data dan kita harus berinteraksi hanya dengan entitas ini untuk
mendapatkan informasi apa pun yang kita butuhkan. Contoh dari sistem ini adalah
bank. Bank bisa menyimpan seluruh uang Anda, dan satu-satunya cara untuk bisa
membayar atau bertransaksi dengan pihak lain adalah dengan melalui bank itu
sendiri. Contoh sederhana dari hal tersebut adalah model client-server tradisional.
Saat Anda sedang mencari sesuatu yang sederhana di google, maka Anda bisa
mengirim permintaan ke server yang selanjutnya akan dibalas dengan
mengirimkan suatu data berbentuk informasi yang relevan.
Sistem atau layanan terpusat yang ada saat ini sudah memperlakukan kita
dengan baik selama bertahun-tahun. Namun, di dalamnya tetap terdapat beberapa
kelemahan. Kelemahan pertama dan yang paling krusial adalah karena
tersentralisasi, seluruh data akan disimpan di dalam satu tempat. Hal tersebut
menjadikannya sebagai sasaran yang ampuh untuk para peretas. Bila sistem
terpusat itu melakukan perbaikan ataupun pembaruan, maka kita juga harus
melakukan pembaruan perangkat lunak, dan hal tersebut akan menghentikan
seluruh sistem ketika proses sedang berlangsung. Selain itu, dalam sistem yang
terpusat ini, seluruh informasi tidak disimpan oleh satu entitas tunggal, karena
faktanya seluruh orang di jaringan mempunyai informasi.
Sedangkan dalam jaringan desentralisasi yang dimiliki blockchain ini, bila
Anda ingin melakukan interaksi dengan teman, maka Anda bisa melakukannya
secara langsung tanpa melalui pihak ketiga. Hal inilah yang menjadi ideologi utama
di balik bitcoin. Hanya Anda sendiri yang bertanggung jawab atas kepemilikan uang
Anda. Anda juga bisa mengirim uang Anda pada siapapun yang Anda pilih tanpa
menggunakan jasa bank.
Materi Pembelajaran – MKU Transformasi Digital 7
2. Transparansi
Salah satu konsep yang paling menarik namun juga sering disalah pahami di
dalam teknologi blockchain adalah transparansi. Beberapa orang mengklaim
bahwa blockchain mampu memberikan privasi, sementara yang lainnya
mengatakan bahwa blockchain memberikan transparansi. Kenapa hal tersebut bisa
terjadi? Karena identitas seseorang akan disembunyikan melalui adanya kriptografi
yang kompleks dan hanya diwakili dengan alamat publik mereka. Jadi, saat Anda
ingin mencari riwayat transaksi seseorang, maka Anda tidak bisa melihatnya
sebagai “Andi Mengirim 1 BTC”, melainkan akan diganti dengan
“MF1bhsFLkBzzz9vpFYEmvwT2TbyCt7NZJ mengirim 1 BTC”.
Jadi, walaupun memang identitas asli dari orang tersebut aman, namun Anda
masih bisa melihat seluruh transaksi yang dilakukan oleh alamat publik mereka.
Tingkat transparansi seperti ini sebenarnya sebelumnya belum pernah ada di
dalam sistem keuangan. Hal tersebut menambahkan tingkat akuntabilitas yang
ekstra yang sebenarnya sangat diperlukan untuk beberapa lembaga keuangan,
seperti bank.
3. Immutability
Immutability dalam konteks blockchain adalah bahwa sekali sesuatu sudah
diinput ke dalam blockchain, maka sesuatu tersebut sudah tidak bisa dirusak. Hal
ini tentu sangat penting untuk lembaga keuangan seperti perbankan. Hal ini
dikarenakan banyak sekali kasus penggelapan dana yang bisa dihilangkan bila
banyak orang yang tahu bahwa mereka tidak bisa mengotak-atik buku keuangan
dan bermain-main dengan akun perusahaan.
Fungsi ini disebut dengan fungsi hash kriptografis. Secara sederhana, hashing
adalah mengambil string input dengan panjang berapapun dan memberikan output
dengan panjang yang tetap. Di dalam konteks cryptocurrency seperti bitcoin,
transaksi bisa diambil sebagai input dan dijalankan dengan melalui hashing yang
akan memberikan output dengan panjang yang tetap.
Jadi, fungsi hash kriptografi adalah untuk kelas khusus fungsi hash yang
mempunyai berbagai properti, sehingga akan sangat ideal untuk kriptografi.
Terdapat beberapa sifat tertentu yang harus dimiliki oleh fungsi hash kriptografi
agar bisa tetap aman..
Materi Pembelajaran – MKU Transformasi Digital 8
Blockchain adalah deretan daftar tertaut yang di dalamnya berisi data dan
pointer hash yang menunjuk pada blok sebelumnya, sehingga bisa menciptakan rantai.
Lalu, apa itu hash pointer? Pada dasarnya, hash pointer ini mirip dengan sebuah
pointer, namun di dalamnya berisi alamat dari blok sebelumnya dan hash dari data di
dalam blok yang ada sebelumnya.
Jadi, bila nantinya ada seorang hacker yang menyerang blok 3 dan mencoba
mengubah data di dalamnya, karena ada fungsi hash, maka sedikit perubahan yang ada
akan mengubah seluruh data di dalamnya secara drastis.
Itu artinya, setiap perubahan kecil yang terjadi pada blok 3, akan turut mengubah
hash yang tersimpan pada blok 2, dan perubahan yang ada pada blok 2 pun akan
menghasilkan perubahan pada blok 1, dan seterusnya. Sepenuhnya hal tersebut akan
mengubah rantai blok.
E. Pemanfaatan Blockchain
Saat ini, ada lebih dari 10.000 sistem cryptocurrency lain yang berjalan di
blockchain. Namun demikian blockchain juga sebenarnya adalah cara yang andal
untuk menyimpan data tentang jenis transaksi lainnya. Beberapa perusahaan yang
telah memasukkan blockchain termasuk Walmart, Pfizer, AIG, Siemens, Unilever, dan
sejumlah lainnya. Misalnya, IBM telah membuat blockchain Food Trust untuk melacak
perjalanan yang dilakukan produk makanan untuk sampai ke lokasi mereka.
Alasan blockchain juga diterapkan pada industri makanan, karena industri
makanan telah menyaksikan wabah e. Coli, salmonella, listeria, serta bahan berbahaya
yang secara tidak sengaja masuk ke makanan. Di masa lalu, perlu waktu berminggu-
minggu untuk menemukan sumber wabah ini atau penyebab penyakit dari apa yang
orang makan. Menggunakan blockchain memberi merek kemampuan untuk melacak
rute produk makanan dari asalnya, melalui setiap pemberhentian yang dilakukan, dan
akhirnya pengirimannya. Jika suatu makanan ditemukan terkontaminasi, maka
makanan tersebut dapat dilacak kembali melalui setiap perhentian ke asalnya. Tidak
hanya itu, tetapi perusahaan-perusahaan ini sekarang juga dapat melihat segala
sesuatu yang mungkin telah bersentuhan dengannya, memungkinkan identifikasi
masalah terjadi jauh lebih cepat, yang berpotensi menyelamatkan nyawa. Ini adalah
salah satu contoh blockchain dalam praktiknya, tetapi ada banyak bentuk
implementasi blockchain lain diantaranya:
Materi Pembelajaran – MKU Transformasi Digital 9
1. Perbankan dan Keuangan
Mungkin tidak ada industri yang mendapat manfaat dari mengintegrasikan
blockchain ke dalam operasi bisnisnya lebih dari perbankan. Lembaga keuangan
hanya beroperasi selama jam kerja, lima hari seminggu. Itu berarti jika Anda mencoba
menyetorkan cek pada hari Jumat pukul 6 sore, kemungkinan besar Anda harus
menunggu hingga Senin pagi untuk melihat uang itu masuk ke rekening Anda. Bahkan
jika Anda melakukan setoran selama jam kerja, transaksi masih memerlukan waktu
satu hingga tiga hari untuk diverifikasi karena banyaknya transaksi yang harus
diselesaikan oleh bank. Blockchain, di sisi lain, tidak pernah tidur.
Dengan mengintegrasikan blockchain ke bank, konsumen dapat melihat
transaksi mereka diproses hanya dalam 10 menit, pada dasarnya waktu yang
diperlukan untuk menambahkan blok ke blockchain, terlepas dari hari libur atau
waktu hari atau minggu. Dengan blockchain, bank juga memiliki kesempatan untuk
bertukar dana antar institusi dengan lebih cepat dan aman. Dalam bisnis perdagangan
saham, misalnya, proses penyelesaian dan kliring bisa memakan waktu hingga tiga
hari (atau lebih lama, jika diperdagangkan secara internasional), artinya uang dan
saham dibekukan untuk jangka waktu tersebut.
Mengingat besarnya jumlah uang yang terlibat, bahkan beberapa hari saat uang
dalam perjalanan dapat membawa biaya dan risiko yang signifikan bagi bank. Bank
Eropa Santander dan mitra penelitiannya menempatkan potensi penghematan
sebesar $15 miliar hingga $20 miliar per tahun.4 Capgemini, sebuah konsultan
Prancis, memperkirakan bahwa konsumen dapat menghemat hingga $16 miliar dalam
biaya perbankan dan asuransi setiap tahun melalui aplikasi berbasis blockchain.
2. Mata uang (currency)
Blockchain membentuk landasan untuk cryptocurrency seperti Bitcoin. Dolar AS
dikendalikan oleh Federal Reserve. Di bawah sistem otoritas pusat ini, data dan mata
uang pengguna secara teknis sesuai keinginan bank atau pemerintah mereka. Jika
bank pengguna diretas, informasi pribadi klien berisiko. Jika bank klien ambruk atau
mereka tinggal di negara dengan pemerintahan yang tidak stabil, nilai mata uang
mereka mungkin berisiko. Pada tahun 2008, beberapa bank gagal ditebus sebagian
menggunakan uang pembayar pajak. Ini adalah kekhawatiran dari mana Bitcoin
pertama kali disusun dan dikembangkan.
Materi Pembelajaran – MKU Transformasi Digital 10
Dengan menyebarkan operasinya di seluruh jaringan komputer, blockchain
memungkinkan Bitcoin dan cryptocurrency lainnya beroperasi tanpa memerlukan
otoritas pusat. Ini tidak hanya mengurangi risiko tetapi juga menghilangkan banyak
biaya pemrosesan dan transaksi. Ini juga dapat memberikan mata uang yang lebih
stabil kepada negara-negara dengan mata uang atau infrastruktur keuangan yang
tidak stabil dengan lebih banyak aplikasi dan jaringan individu dan institusi yang lebih
luas yang dapat mereka ajak berbisnis, baik di dalam negeri maupun internasional.
Menggunakan dompet cryptocurrency untuk rekening tabungan atau sebagai
alat pembayaran sangat penting bagi mereka yang tidak memiliki identifikasi negara.
Beberapa negara mungkin dilanda perang atau memiliki pemerintah yang tidak
memiliki infrastruktur nyata untuk memberikan identifikasi. Warga negara tersebut
mungkin tidak memiliki akses ke tabungan atau rekening perantara dan oleh karena
itu, tidak ada cara untuk menyimpan kekayaan dengan aman.
3. Kesehatan
Penyedia layanan kesehatan dapat memanfaatkan blockchain untuk menyimpan
catatan medis pasien mereka dengan aman. Ketika catatan medis dibuat dan
ditandatangani, catatan tersebut dapat ditulis ke dalam blockchain, yang memberikan
bukti dan keyakinan kepada pasien bahwa catatan tersebut tidak dapat diubah.
Catatan kesehatan pribadi ini dapat dikodekan dan disimpan di blockchain dengan
kunci pribadi, sehingga hanya dapat diakses oleh individu tertentu, sehingga
memastikan privasi.
4. Catatan Properti
Jika Anda pernah menghabiskan waktu di BPN lokal Anda, Anda akan tahu bahwa
proses pencatatan hak milik itu memberatkan dan tidak efisien. Hari ini, akta fisik
harus diserahkan kepada pegawai pemerintah di kantor pencatatan setempat, di mana
secara manual dimasukkan ke dalam database pusat dan indeks publik kabupaten.
Dalam kasus sengketa properti, klaim properti harus direkonsiliasi dengan indeks
publik.
Proses ini tidak hanya mahal dan memakan waktu—tetapi juga penuh dengan
kesalahan manusia, di mana setiap ketidakakuratan membuat pelacakan kepemilikan
properti menjadi kurang efisien. Blockchain memiliki potensi untuk menghilangkan
kebutuhan untuk memindai dokumen dan melacak file fisik di kantor. Jika kepemilikan
Materi Pembelajaran – MKU Transformasi Digital 11
properti disimpan dan diverifikasi di blockchain, pemilik dapat percaya bahwa akta
mereka akurat dan dicatat secara permanen.
Di negara atau wilayah yang dilanda perang yang tidak memiliki infrastruktur
pemerintah atau keuangan, dan tentu saja tidak ada "Kantor Perekam", hampir tidak
mungkin untuk membuktikan kepemilikan properti. Jika sekelompok orang yang
tinggal di area seperti itu dapat memanfaatkan blockchain, garis waktu kepemilikan
properti yang transparan dan jelas dapat dibuat.
5. Kontrak Cerdas
Kontrak pintar adalah kode komputer yang dapat dibangun ke dalam blockchain
untuk memfasilitasi, memverifikasi, atau menegosiasikan perjanjian kontrak. Kontrak
pintar beroperasi di bawah serangkaian kondisi yang disetujui pengguna. Apabila
syarat-syarat tersebut terpenuhi, maka syarat-syarat perjanjian itu secara otomatis
dilaksanakan.
Katakanlah, misalnya, calon penyewa ingin menyewa apartemen menggunakan
kontrak pintar. Pemilik setuju untuk memberikan penyewa kode pintu ke apartemen
segera setelah penyewa membayar uang jaminan. Baik penyewa maupun pemilik akan
mengirimkan bagian kesepakatan masing-masing ke kontrak pintar, yang akan
memegang dan secara otomatis menukar kode pintu dengan uang jaminan pada
tanggal sewa dimulai. Jika pemilik tidak memberikan kode pintu pada tanggal sewa,
kontrak pintar mengembalikan uang jaminan. Ini akan menghilangkan biaya dan
proses yang biasanya terkait dengan penggunaan notaris, mediator pihak ketiga, atau
pengacara.
6. Supply Chains
Seperti dalam contoh IBM Food Trust, pemasok dapat menggunakan blockchain
untuk mencatat asal bahan yang telah mereka beli. Ini akan memungkinkan
perusahaan untuk memverifikasi keaslian produk mereka, bersama dengan label
umum seperti “Organik,” “Lokal,” dan “Perdagangan Adil.” Seperti dilansir Forbes,
industri makanan semakin mengadopsi penggunaan blockchain untuk melacak jalur
dan keamanan makanan sepanjang perjalanan petani ke pengguna.
7. Pemungutan suara
Seperti disebutkan, blockchain dapat digunakan untuk memfasilitasi sistem
pemungutan suara modern. Pemungutan suara dengan blockchain membawa potensi
Materi Pembelajaran – MKU Transformasi Digital 12
untuk menghilangkan kecurangan pemilu dan meningkatkan jumlah pemilih, seperti
yang diuji dalam pemilihan paruh waktu November 2018 di West Virginia.
Menggunakan blockchain dengan cara ini akan membuat suara hampir tidak mungkin
diutak-atik. Protokol blockchain juga akan menjaga transparansi dalam proses
pemilihan, mengurangi personel yang dibutuhkan untuk melakukan pemilihan dan
memberikan hasil yang hampir instan kepada pejabat. Ini akan menghilangkan
kebutuhan untuk penghitungan ulang atau kekhawatiran nyata bahwa penipuan dapat
mengancam pemilihan.
F. Keunggulan Blockchain
Beberapa manfaat yang diperoleh dari penerapan blockchain meliputi:
1. Akurasi Rantai
Transaksi di jaringan blockchain disetujui oleh jaringan ribuan komputer. Ini
menghilangkan hampir semua keterlibatan manusia dalam proses verifikasi,
menghasilkan lebih sedikit kesalahan manusia dan catatan informasi yang akurat.
Bahkan jika komputer di jaringan membuat kesalahan komputasi, kesalahan hanya
akan terjadi pada satu salinan blockchain. Agar kesalahan itu menyebar ke seluruh
blockchain, itu perlu dilakukan oleh setidaknya 51% dari komputer jaringan —
hampir mustahil untuk jaringan yang besar dan berkembang seukuran Bitcoin.
2. Pengurangan Biaya
Biasanya, konsumen membayar bank untuk memverifikasi transaksi, notaris
untuk menandatangani dokumen, atau menteri untuk melakukan pernikahan.
Blockchain menghilangkan kebutuhan untuk verifikasi pihak ketiga dan, dengan itu,
biaya terkait. Pemilik bisnis dikenakan biaya kecil setiap kali mereka menerima
pembayaran menggunakan kartu kredit, misalnya, karena bank dan perusahaan
pemrosesan pembayaran harus memproses transaksi tersebut. Bitcoin, di sisi lain,
tidak memiliki otoritas pusat dan memiliki biaya transaksi yang terbatas.
3. Desentralisasi
Blockchain tidak menyimpan informasi apa pun di lokasi pusat. Sebaliknya,
blockchain disalin dan tersebar di jaringan komputer. Setiap kali blok baru
ditambahkan ke blockchain, setiap komputer di jaringan memperbarui
blockchainnya untuk mencerminkan perubahan. Dengan menyebarkan informasi
itu ke seluruh jaringan, daripada menyimpannya di satu database pusat, blockchain
Materi Pembelajaran – MKU Transformasi Digital 13
menjadi lebih sulit untuk diubah. Jika salinan blockchain jatuh ke tangan peretas,
hanya satu salinan informasi, bukan seluruh jaringan, yang akan dikompromikan.
4. Transaksi yang Efisien
Transaksi yang dilakukan melalui otoritas pusat dapat memakan waktu
hingga beberapa hari untuk diselesaikan. Jika Anda mencoba menyetorkan cek pada
Jumat malam, misalnya, Anda mungkin tidak benar-benar melihat dana di akun
Anda hingga Senin pagi. Sedangkan lembaga keuangan beroperasi selama jam kerja,
lima hari seminggu, blockchain bekerja 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, dan 365
hari setahun. Transaksi dapat diselesaikan hanya dalam sepuluh menit dan dapat
dianggap aman hanya dalam beberapa jam. Ini sangat berguna untuk perdagangan
lintas batas, yang biasanya memakan waktu lebih lama karena masalah zona waktu
dan fakta bahwa semua pihak harus mengonfirmasi pemrosesan pembayaran.
5. Transaksi Pribadi
Banyak jaringan blockchain beroperasi sebagai basis data publik, artinya
siapa pun yang memiliki koneksi internet dapat melihat daftar riwayat transaksi
jaringan. Meskipun pengguna dapat mengakses detail tentang transaksi, mereka
tidak dapat mengakses informasi identitas tentang pengguna yang melakukan
transaksi tersebut. Ini adalah kesalahpahaman umum bahwa jaringan blockchain
seperti bitcoin adalah anonim, padahal sebenarnya mereka hanya rahasia. Artinya,
ketika pengguna melakukan transaksi publik, kode unik mereka yang disebut kunci
publik, dicatat di blockchain, bukan informasi pribadi mereka. Jika seseorang telah
melakukan pembelian Bitcoin di bursa yang memerlukan identifikasi maka
identitas orang tersebut masih terkait dengan alamat blockchain mereka, tetapi
sebuah transaksi, bahkan ketika dikaitkan dengan nama seseorang, tidak
mengungkapkan informasi pribadi apa pun.
6. Transaksi Aman
Setelah transaksi dicatat, keasliannya harus diverifikasi oleh jaringan
blockchain. Ribuan komputer di blockchain bergegas untuk mengonfirmasi bahwa
detail pembelian sudah benar. Setelah komputer memvalidasi transaksi, itu
ditambahkan ke blok blockchain. Setiap blok di blockchain berisi hash uniknya
sendiri, bersama dengan hash unik dari blok sebelumnya. Ketika informasi di blok
diedit dengan cara apa pun, kode hash blok itu berubah—namun, kode hash di blok
Materi Pembelajaran – MKU Transformasi Digital 14
setelahnya tidak. Perbedaan ini membuat sangat sulit untuk mengubah informasi
di blockchain tanpa pemberitahuan.
7. Transparansi
Sebagian besar blockchain sepenuhnya merupakan perangkat lunak sumber
terbuka. Ini berarti bahwa siapa saja dan semua orang dapat melihat kodenya. Ini
memberi auditor kemampuan untuk meninjau cryptocurrency seperti Bitcoin
untuk keamanan. Ini juga berarti bahwa tidak ada otoritas nyata tentang siapa yang
mengontrol kode Bitcoin atau bagaimana kode itu diedit. Karena itu, siapa pun
dapat menyarankan perubahan atau peningkatan sistem. Jika sebagian besar
pengguna jaringan setuju bahwa versi baru kode dengan peningkatan itu baik dan
bermanfaat, maka Bitcoin dapat diperbarui.
Potensi blockchain sebagai bentuk pencatatan yang terdesentralisasi hampir
tanpa batas. Dari privasi pengguna yang lebih besar dan keamanan yang ditingkatkan,
hingga biaya pemrosesan yang lebih rendah dan kesalahan yang lebih sedikit,
teknologi blockchain mungkin sangat baik melihat aplikasi di luar yang diuraikan di
atas. Tetapi ada juga beberapa kelemahan, berikut perbandingannya:
Keunggulan Kekurangan
• Peningkatan akurasi dengan • Biaya teknologi yang signifikan
menghilangkan keterlibatan manusia terkait dengan menambang bitcoin
dalam verifikasi • Transaksi rendah per detik
• Pengurangan biaya dengan • Sejarah penggunaan dalam
menghilangkan verifikasi pihak ketiga kegiatan terlarang seperti di Dark
• Desentralisasi membuat lebih sulit Web
untuk dirusak • Peraturan bervariasi menurut
• Transaksi aman, pribadi, dan efisien yurisdiksi dan tetap tidak pasti
• Teknologi transparan • Batasan penyimpanan data
• Menyediakan alternatif perbankan dan
cara untuk mengamankan informasi
pribadi bagi warga negara dengan
pemerintahan yang tidak stabil atau
terbelakang
Materi Pembelajaran – MKU Transformasi Digital 15
G. Rangkuman
Blockchains dapat diatur untuk beroperasi dalam berbagai cara, menggunakan
mekanisme yang berbeda untuk mengamankan konsensus transaksi, hanya dapat
dilihat oleh pengguna yang berwenang, dan ditolak oleh orang lain. Bitcoin adalah
contoh paling terkenal yang menunjukkan betapa besar Teknologi Blockchain telah
menjadi. Pendiri Blockchain juga mencoba banyak aplikasi lain untuk memperluas
tingkat teknologi dan pengaruh Blockchain. Dilihat dari keberhasilannya dan
peningkatan penggunaannya, tampaknya Blockchain siap untuk menguasai dunia
digital dalam waktu dekat.
Materi Pembelajaran – MKU Transformasi Digital 16