Prinsip-prinsip Internal Control
Prosedur Pengendalian internal berbeda-beda antar organisasi yang satu dengan lainnya, dan
bergantung pada beberapa faktor seperti sifat operasi dan besarnya organisasi. Namun demikian
prinsip-prinsip pengendalian internal yang pokok dapat diterapkan pada semua organisasi. Untuk dapat
mencapai tujuan pengendalian akuntansi, suatu sistem harus memenuhi enam prinsip dasar
pengendalian intern yang meliputi:
Pemisahan fungsi. Tujuan utama pemisahan fungsi untuk menghindari dan pengawasan segera atas
kesalahan atau ketidakberesan. Adanya pemisahan fungsi untuk dapat mencapai suatu efisiensi
pelaksanaan tugas.
Prosedur pemberian wewenang Tujuan prinsip ini adalah untuk menjamin bahwa transaksi telah
diotorisir oleh orang yang berwenang
Prosedur dokumentasi. Dokumentasi yang layak penting untuk menciptakan sistempengendalian
akuntansi yang efektif. Dokumentasi memberi dasarpenetapan tanggungjawab untuk pelaksanaan dan
pencatatan akuntansi.
Prosedur dan catatan akuntansi Tujuan pengendalian ini adalah agar dapat disiapkannya catatan-catatan
akuntansi yang yang teliti secara cepat dan data akuntansi dapat dilaporkan kepada pihak yang
menggunakan secara tepat waktu.
Pengawasan fisik Berhubungan dengan penggunaan alat-alat mekanis dan elektronis dalam pelaksanaan
dan pencatatan transaksi.
Pemeriksaan intern secara bebas Menyangkut pembandingan antara catatan asset dengan assetyang
betul-betul ada, menyelenggarakan rekening-rekening kontrol dan mengadakan perhitungan kembali
gaji karyawan. Ini bertujuan untuk mengadakan pengawasan kebenaran data.
Menurut Al Haryono Jusup ( 2005:4) ada .tujuh buah prinsip pengendalian internal yang pokok meliputi:
1) Penetapan Tanggung jawab secara Jelas.
Untuk menciptakan pengendalian internal yang baik, manajemen harus menetapkan tanggung jawab
secara jelas dan tiap orang memiliki tanggung jawab untuk tugas yang diberikan kepadanya. Jika
perumusan tanggung jawab tidak jelas dan terjadi suatu kesalahan, maka akan sulit untuk mencari siapa
yang bertanggung jawab atas kesalahan tersebut.
2) Penyelenggaraan Pencatatan yang Memadai.
Untuk melindungi aktiva dan menjamin bahwa semua karyawan melaksanakan prosedur yang
ditetapkan, diperlukan pencatatan yang baik. Catatan yang bisa dipercaya akan menjadi sumber
informasi yang dpat digunakan manajemen untuk memonitor operasi organisasi. Salah satunya adalah
merancang formulir-formulir secara cermat dan sesuai dengan kebutuhan dan menggunakan dengan
benar.
3) Pengasuransian Kekayaan dan Karyawan Organisasi.
Kekayaan organisasi harus diasuransikan dengan jumlah pertanggungan yang memadai, demikian pulah
karyawan yang menangani kas dan surat-surat berharga harus dipertanggungkan. Salah satu cara
mempertanggungkan karyawan adalah dengan membeli polis asuransi atas kerugian akibat pencurian
oleh karyawan.
4) Pemisahan Pencatatan dan Penyimpanan Aktiva
Prinsip pokok pengendalian internal mensyaratkan bahwa pegawai yang menyimpan /
bertanggungjawab atas aktiva tertentu, tidak diperkenankan mengurusi catatan akuntansi aktiva yang
bersangkutan.
5) Pemisahan Tangung Jawab atas Transaksi yang Berkaitan.
Pertanggunjawaban atas transaksi yang berkaitan harus ditetapkan pada orang-orang atau bagian-
bagian dalam organisasi sehingga pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang akan diperiksa oleh orang
lain.
6) Penggunaan Peralatan Mekanis (Jika Memungkinkan)
Apabila keadaan memungkinkan, sebaiknya organisasi menggunakan peralatan-peralatan mekanis
seperti kas register, check protector, mesin pencatat waktu dan peralatan mekanis lainnya.
7) Pelaksanaan Pemeriksaan secara Independen
Apabila suatu sistem pengendalian internal telah dirancang dengan baik, penyimpangan tetap mungkin
terjadi sepanjang waktu. Oleh karena itu perlu pengkajian ulang secara teratur untuk memastikan
bahwa prosedur-prosedur telah diikuti dengan benar. Pengkajian ulang ini harus dilakukan oleh
pemeriksa internal yang tidak terlibat langsung dalam operasi suatu organsasi. Apabila pemeriksa
internal berkedudukan independen,maka dapat melakukan evaluasi mengenai efisiensi operasi secara
menyeluruh dan efektif tidaknya sistem pengendalian internal.
2.5. Komponen Pengendalian Internal
Committee of Sponsoring Organizations of the Treatway Commission (COSO) memperkenalkan adanya
lima komponen pengendalian intern yang meliputi :
1) Lingkungan Pengendalian (Control Environment)
Lingkungan pengendalian perusahaan mencakup sikap para manajemen dan karyawan terhadap
pentingnya pengendalian yang ada di organisasi tersebut. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap
lingkungan pengendalian adalah filosofi manajemen (manajemen tunggal dalam persekutuan atau
manajemen bersama dalam perseroan) dan gaya operasi manajemen (manajemen yang progresif atau
yang konservatif), struktur organisasi (terpusat atau ter desentralisasi) serta praktik kepersonaliaan.
Lingkungan pengendalian ini amat penting karena menjadi dasar keefektifan unsur-unsur pengendalian
intern yang lain.
Lingkungan pengendalian menciptakan suasana pengendalian dalam suatu organisasi dan
mempengaruhi kesadaran personel organisasi tentang pengendalian. Lingkungan pengendalian
merupakan landasan untuk semua unsur pengendalian intern, yang membentuk dan terstruktur.
Berbagai faktor yang membentuk lingkungan pengendalian dalam suatu entitas antara lain:
a. Integritas dan nilai etika
Efektivitas pengendalian intern bersumber dari dalam diri orang yang mendesain dan melaksanakannya.
Pengendalian intern yang memadai desainnya, namun dijalankan oleh orang-orang yang tidak
menjungjung tinggi integritas dan tidak memiliki etika, akan mengakibatkan tidak terwujudnya tujuan
pengendalian intern. Oleh karena itu, tanggung jawab manajemen adalah menjungjung tinggi nilai
integritas .
b. Komitmen terhadap kompetensi
Untuk mencapai tujuan entitas, personel di setiap tingkat organisasi harus memiliki pengetahuan dan
keterampilan yang diperlakukan untuk melaksanakan tugasnya secara efektif. Komitmen terhadap
kompetensi mencakup pertimbangan manajemen atas pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan,
dan paduan antara kecerdasan, pelatihan dan pengalaman yang dituntut dalam pengembangan
kompetensi.
c. Dewan komisaris dan komite audit
Dalam perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas, jika penunjukan auditor dilakukan oleh
manajemen puncak, kebebasan auditor akan dapat berkurang dipandang dari sudut pemegang saham.
Hal ini karena manajemen puncak adalah pihak yang seharusnya dinilai kejujuran pertanggungjawaban
keuangannya oleh auditor, padahal manajemen puncak menentukan pemilihan auditor yang ditugasi
dalam audit atas laporan keuangan yang dipakai untuk pertanggungjawaban keuangan oleh manajemen
puncak.
Dewan komisaris adalah wakil pemegang saham dalam perusahaan berbadan hukum perseroan
terbatas. Dewan ini berfungsi mengawasi pengelolaan perusahaan yang dilaksanakan oleh manajemen
(direksi). Dengan demikian, dewan komisaris yang aktif menjalankan fungsinya dapat mencegah
konsentrasi pengendalian yang terlalu banyak di tangan manajemen (direksi).
Perusahaan-perusahaan Indonesia yang go public ada yang membentuk komite audit (audit commitee)
yang anggotanya seluruh atau terutama terdiri dari pihak luar perusahaan. Pembentukan komite audit
ini ditujukan untuk memperkuat independensi auditor yang oleh masyarakat dipercaya untuk menilai
kewajaran pertanggungjawaban keuangan yang dilakukan oleh manajemen.
d. Filosofi dan gaya operasi manajemen
Filosofi adalah seperangkat keyakinan dasar (basic beliefs) yang menjadi parameter bagi perusahaan dan
karyawannya. Filosofi merupakan memeberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan:
Apa yang menjadi alasan perusahaan dalam bisnis?
Bagaimana perusahaan melaksanakan bisnis?
Apa yang dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan sebagai bisnis perusahaan?
Dalam berbisnis, manajemen yang memiliki filosofi akan meletakkan kejujuran sebagai dasr bisnisnya.
Laporan keuangan perusahaan ini akan digunakan sebagai alat manajemen untuk mencerminkan
kejujuran pertanggungjawaban keuangan perusahaan kepada siapa saja yang berhubungan bisnis
dengan mereka. Dengan demikian, filosofi ini menjadi warna unik perusahaan dalam melaksanakan
bisnis mereka.
Gaya operasi mencerminkan ide manajer tentang bagaimana operasi entitas harus dilaksanakan. Ada
manajer yang memilih gaya operasi yang sangat menekankan pentingnya pelaporan keuangan,
penyusunan, dan penggunaan anggaran sebagai alat pengukuran kinerja manajer, dan pencapaian
tujuan yang telah dicanangkan dalam anggaran; ada manajer yang tidak demikian. Ada manajemen
puncak perusahaan yang memilih gaya operasi yang lebih condong pada pemusatan kekuasaan di
tangan beberapa gelintir manajer puncak; ada manajer yang memilih gaya operasi yang condong pada
desenteralisasi kekuasaan ke tangan manajemen menengah dan bawah. Manajemen dengan gaya
operasi sentralisasi memerlukan alat kontrol yang cendurung berbiaya tinggi.
e. Struktur organisasi
Organisasi dibentuk oleh manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Orang bergabung dalam suatu
organisasi dengan maksud utama untuk mencapai tujuan-tujuan yang tidak dapat dicapainya dengan
kemampuan yang dimilikinya sendiri. Struktur memberikan kerangka untuk perencanaan, pelaksanaan,
pengendalian, dan pemantauan aktivitas entitas. Pengembangan struktur organisasi suatu entitas
mencakup pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab di dalam suatu organisasi dalam
tujuan organisasi.
f. Pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab
Pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab merupakan perluasan lebih lanjut
pengembangan struktur organisasi. Dengan pembagian wewenang yang jelas, organisasi akan dapat
mengalokasikan berbagai sumber daya yang dimilikinya untuk mencapai tujuan organisasi. Di samping
itu, pembagian wewenang yang jelas akan memudahkan pertanggungjawaban konsumsi sumber daya
organisasi dalam pencapaian tujuan organisasi. Jika kepada seorang manajer dibebankan wewenang
yang terlalu banyak, hal ini akan berakibat timbulnya iklim yang mendorong ketidakberesan dalam
pelaksanaan wewenang tersebut.
g. Kebijakan dan praktik sumber daya manusia
Karyawan merupakan unsur penting dalam setiap pengendalian intern. Jika perusahaan memiliki
karyawan yang kompeten dan jujur, unsur pengendalian intern yang lain dapat dikurangi sampai batas
minimum, dan perusahaan tetap mampu menghasilkan pertanggungjawaban keuangan yang dapat
diandalkan. Pengendalian intern yang baik tidak akan dapat menghasilkan informasi keuangan yang
andal jika dilaksanakan oleh karyawan yang tidak kompeten dan tidak jujur.
2) Penilaian Resiko (Risk Assesment)
Semua organisasi memiliki risiko, dalam kondisi apapun yang namanya risiko pasti ada dalam suatu
aktivitas, baik aktivitas yang berkaitan dengan bisnis (profit dan non profit) maupun non bisnis. Suatu
risiko yang telah di identifikasi dapat di analisis dan evaluasi sehingga dapat di perkirakan intensitas dan
tindakan yang dapat meminimalkannya.
3) Prosedur Pengendalian (Control Procedure)
Prosedur pengendalian ditetapkan untuk menstandarisasi proses kerja sehingga menjamin tercapainya
tujuan perusahaan dan mencegah atau mendeteksi terjadinya ketidakberesan dan kesalahan. Prosedur
pengendalian meliputi hal-hal sebagai berikut:
Personil yang kompeten, mutasi tugas dan cuti wajib.
Pelimpahan tanggung jawab.
Pemisahan tanggung jawab untuk kegiatan terkait.
Pemisahan fungsi akuntansi, penyimpanan aset dan operasional.
4) Pemantauan (Monitoring)
Pemantauan terhadap sistem pengendalian intern akan menemukan kekurangan serta meningkatkan
efektivitas pengendalian. Pengendalian intern dapat di monitor dengan baik dengan cara penilaian
khusus atau sejalan dengan usaha manajemen. Usaha pemantauan yang terakhir dapat dilakukan
dengan cara mengamati perilaku karyawan atau tanda-tanda peringatan yang diberikan oleh sistem
akuntansi.
Penilaian secara khusus biasanya dilakukan secara berkala saat terjadi perubahan pokok dalam strategi
manajemen senior, struktur korporasi atau kegiatan usaha. Pada perusahaan besar, auditor internal
adalah pihak yang bertanggung jawab atas pemantauan sistem pengendalian intern. Auditor
independen juga sering melakukan penilaian atas pengendalian intern sebagai bagian dari audit atas
laporan keuangan. Adapun tahapan-tahapan dari proses monitoring adalah sebagai berikut :
Identifikasi masalah
Perencanaan
Pelaksanaan
Monitoring
Evaluasi
Evaluasi kembali
5) Informasi dan Komunikasi (Information and Communication)
Informasi dan komunikasi merupakan elemen-elemen yang penting dari pengendalian intern
perusahaan. Informasi tentang lingkungan pengendalian, penilaian risiko, prosedur pengendalian dan
monitoring diperlukan oleh manajemen Winnebago pedoman operasional dan menjamin ketaatan
dengan pelaporan hukum dan peraturan-peraturan yang berlaku pada perusahaan.
Informasi juga diperlukan dari pihak luar perusahaan. Manajemen dapat menggunakan informasi jenis
ini untuk menilai standar eksternal. Hukum, peristiwa dan kondisi yang berpengaruh pada pengambilan
keputusan dan pelaporan eksternal.
2.6. Hubungan Antara Pengendalian Internal dan Sistem Informasi Akuntansi
Salah satu fungsi utama Internal control dalam suatu perusahaan adalah melakukan control
(pengendalian). Pengendalian efektif yang terhadap pada suatu entitas bisnis akan menghasilkan
efisiensi penggunaan sumberdaya perusahaan, berjalannya mekanisme pertanggungjawaban, dan
menghasilkan informasi yang berguna serta dapat dipercaya. Untuk menciptakan pengendalian yang
efektif perusahaan seringkali melibatkan akuntan dan auditor sebagai internal controller.
Pendekatan pengendalian pada accounting information system (AIS) dimaksudkan untuk mengurangi
risiko operasi yang ada dalam perusahaan. Oleh karena itu sebagai bagian integral suatu perusahaan,
AIS adalah merupakan rerangka dari pengendalian itu sendiri. Tujuan umum dari rerangka pengendalian
ini adalah untuk menjamin agar tujuan perusahaan dapat tercapai.
Pengendalian berlangsung secara simultan di dalam perusahaan, oleh karena itu pengendalian ini sering
disebut sebagai internal control structure (ICS). Jika internal control structure (struktur pengendalian
intern) berjalan dengan baik maka seluruh operasi, sumber-sumber daya fisik, dan data dapat dimonitor
dan diawasi sehingga informasi sebagai output-nya dapat dipercaya.
Akuntan sangat berkepentingan dengan struktur pengendalian intern karena, sebagai pengguna dan
pengolah informasi, akuntan harus yakin bahwa informasi yang digunakan adalah benar dan dihasilkan
dalam suatu lingkungan struktur pengendalian yang baik dan dapat diperiksa (auditable). Proses
pengendalian meliputi monitoring dan regulasi. Lebih lanjut pengendalian mencakup proses :
a) Pengukuran hasil aktual yang dicapai dengan rencana yang telah dibuat.
b) Melakukan tindakan korektif
Bentuk level of control processes (tingkatan proses pengendalian) tergantung kepada kompleksitas
perusahaan. Semakin kompleks kegiatan dan transaksi perusahaan maka akan semaking kompleks pula
levels of control processes-nya, demikian sebaliknya. Terdapat tiga level of control processes yaitu :
First-order feedback control process or system :Yaitu merupakan hasil akhir yang diinginkan dari suatu
pengendalian.
Second-order feedback control system :Yaitu penyesuaian yang dibutuhkan karena adanya perubahan-
perubahan lingkungan pengendalian.
Third-order feedback control system :Yaitu prediksi atas kondisi yang akan terjadi dimasa yang akan
datang.
Committee of Sponsoring Organization of the Treadway Commission (COSO) membuat suatu konsensus
tentang struktur pengendalian intern yang meliputi :
a) Internal control objectives
b) Financial-oriented view of the internal control structure
c) Nonfinancial-oriented view of the internal control structure
Internal Control Objectives
COSO mendefinisikan internal control sebagai suatu proses, yang dipengaruhi oleh dewan direktur,
manajemen, dan personil lainnya, yang didesain untuk menghasilkan penilaian rasional sebagai upaya
untuk mencapai tujuan pengendalian dengan kategori sebagai berikut :
Efektifitas dan efisiensi operasional
Kehandalan laporan keuangan
Kesesuaian dengan hukum dan peraturan-peraturan
Kategori yang langsung berhubungan dengan sistem informasi akuntansi adalah kategori kedua,
sedangkan kategori pertama dan ketiga berhubungan secara langsung dengan sistem operasional
perusahaan.
Menurut Krismiaji, Sistem nformasi akuntansi adalah ”sebuah sistem yang memproses data dan
transaksi guna menghasilkan informasi yang bermanfaat untuk merencanakan, mengendalikan dan
mengoperasikan bisnis”.Kemudian enurut Willkinson,dkk, yaitu:
“an accounting information systems is a unified structures within an entity such as an business firm that
empolys physical resources and other components to transform economic data into accounting
information with the purpose of satisfying the information needs of variation of user’s.”
Pengertian diatas menjelaskan bahwa sistem informasi akuntansi adalah kesatuan struktur-struktur
dalam suatu entitas, seperti perusahaan bisnis yang mempekerjakan sumber-sumber daya fisik dan
komponen-komponen lain untuk mentransformasi data ekonomi menjadi informasi akuntansi, dengan
tujuan untuk memuaskan kebutuhan para pemakai informasi yang bervariasi.
Penjelasan dari unsur-unsur sistem informasi di atas, yaitu:
Orang-orang yang mengoperasikan sistem dan melaksanakan bervagai fungsi.
Prosedur-prosedur, baik manual maupun yang terotomatisasi yang dilibatkan dalam mengumpulkan,
memproses dan menyimpan data tentang aktivitas-aktivitas organisasi
Data tentang proses-proses bisnis organisasi
Software yang dipakai untuk memproses data organisasi
Infrastuktur teknologi informasi, termasuk komputer, peralatan pendukung dan peralatan untuk
komunikasi jaringan.
Dalam memenuhi kebutruhan informasi, baik untuk kebutuhan internal dan eksternal, sistem informasi
akuntansi harus di disain sedemikian rupa sehingga memenuhi fungsinya. Demikian pula suatu sistem
informasi akuntansi dalam memenuhi fungsinya harus mempunyai tujuan-tujuan yang dapat
memeberikan pedoman kepada manajemen dalam melakukan tugasnya sehingga dapat menghasilakn
inmformasi-informasi yang berguna, terutama dalam menunjang perencanaan dan pengendalian.
Sistem Informasi Akuntansi berfungsi untuk melakukan pengawasan yang memadai untuk menjamin
bahwa informasi yang dihasilkan dapat dipercaya, aktivitas bisnis yang dilaksanakan secara efesien dan
sesuai dengan tujuan manajemen, serta sejalan dengan peraturan yang telah digariskan, me;lindungi
dan menjaga aktiva organisasi termasuk data yang diberikan perusahaan.
Sistem informasi akuntansi ini dirancang sedemikian rupa oleh suatu perusahaan sehingga dapat
memenuhi fungsinya yaitu menghasilkan informasi akuntansi yang tepat waktu, relevan dan dapat
dipercaya. Dalam suatu sistem informasi akuntansi terkandung unsur-unsur pengendalian, maka baik
buruknya sistem informasi akuntansi sangat mempengaruhi fungsi manajemen dalam melakukan
pengendalian internal, karena informasi yang dihasilkannya akan dijadikan salah satu dasar dalam
pengambilan keputusan yang berkaitan dengan aktivitas perusahaan. Mengingat begitu pentingnya
penerapan sistem informasi akuntansi dalam suatu perusahaan, maka tidak dapat dibayangkan
bagaimana jadinya kalau suatu perusahaan tidak memiliki sistem informasi akuntansi yang memadai.
Perusahaan tersebut mungkin tidak dapat memproses transaksinya secara jelas, terinci dan terstruktur.
Kemudian perusahaan tersebut mungkin tidak akan memperoleh informasi yang relevan dan dapat
dipercaya yang diperlukannya untuk dijadikan dasar dalam mengambil keputusan yang menyangkut
aktivitas dan kelangsungan hidup perusahaan.
Sistem informasi akuntansi didalamnya mengandung unsur-unsur pengendalian, maka perusahaan
mungkin tidak dapat menjalankan pengendalian-pengendalian yang diterapkannya dengan baik. Karena
pengendalian tidak dijalankan dengan baik, tidak menutup kemungkinan terjadinya penyimpangan-
penyimpangan dan kecurangan-kecurangan yang dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja. Jika
penyimpangan dan kecurangan sudah terjadi otomatis aktiva yang dimiliki perusahaan terancam
keselamatannya dan aktivitas yang dilakukan menjadi tidak efektif dan efisien.
BAB III
KESIMPULAN
3.1. Kesimpulan
Pengendalian intern merupakan alat untuk meletakkan kepercayaan auditor mengenai bebasnya
laporan keuangan dari kemungkinan kesalahan dan kecurangan. Pemerintah berusaha untuk membuat
struktur pengendalian intern dengan baik, melaksanakan, dan mengawasinya agar efektivitas
perusahaan bisa tercapai, pengendalian intern yang baik akan menjamin ketelitian data akuntansi yang
dihasilkan sehingga data tersebut dapat dipercaya.
Pengendalian intern mempunyai tujuan untuk mendapatkan data tepat dan dapat dipercaya, melindungi
harta atau aktiva perusahaan atau lembaga, dan meningkatkan efektivitas dari seluruh anggota
perusahaan atau lembaga sehingga perusahaan dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Suatu informasi akuntansi memberikan informasi kepada orang-orang yang ada di dalam maupun di luar
perusahaan. Para pemakai informasi sangat memeprhatikan kualitas informasi yang dilaporkan melalui
kertas maupun yang ditayangkan melalui layar komputer (monitor). Suatu organisasi menerapkan
kebijakan dan prosedur pengendalian (pengendalian intern) dengan maksud untuk memelihara kualitas
informasi dan operasi (rangkaian aktivitas) dalam rangka pencapaian tujuan. Pengendalian intern
memiliki lima komponen yang membentuk struktur pengendalian intern. Dari lima komponen tersebut,
pengendalian lingkungan menjadi dasar yang memayungi ke-empat pengendalian lainnya.
Apabila suatu sistem pengendalian internal telah dirancang dengan baik, penyimpangan tetap mungkin
terjadi sepanjang waktu. Oleh karena itu perlu pengkajian ulang secara teratur untuk memastikan
bahwa prosedur-prosedur telah diikuti dengan benar. Pengkajian ulang ini harus dilakukan oleh
pemeriksa internal yang tidak terlibat langsung dalam operasi suatu organsasi. Apabila pemeriksa
internal berkedudukan independen,maka dapat melakukan evaluasi mengenai efisiensi operasi secara
menyeluruh dan efektif tidaknya sistem pengendalian internal.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyadi, 2001, Sistem Akuntansi, Yogyakarta : Penerbit Salemba Empat.
Bambang Hartadi. (1997). Sistem Pengendalian Intern (dalam hubungannya dengan manajemen dan
audit). Yogyakarta : BPFE.
The Committee of Sponsoring Organization of the treadway Commission, COSO (1992 ) : COSO – Internal
Control Integrated Framework, The Committee of Sponsoring Organization of the treadway Commission.
The Committee of Sponsoring Organization of the treadway Commission , COSO ( 2006 ) : Executive
Summary: Internal Control over Financia l Reporting – Guidance for Smaller Public Companies, The
Committee of Sponsoring Organization of the treadway Commission.
Bagikan ini:
TwitterFacebook
Memuat...
Navigasi pos
← Previous post
Next post →
TINGGALKAN BALASAN
Ketikkan komentar di sini...
ARSIP
April 2017
Maret 2017
Desember 2016
KATEGORI
Akuntansi Keperilakuan (2)
Akuntansi Pemerintahan (5)
Akuntansi Sektor Publik (6)
Akuntansi Sosial dan Lingkungan (1)
Etika Bisnis dan Profesi (11)
Government Governance (4)
Seminar Akuntansi Sektor Publik (6)
Sistem Informasi Akuntansi (5)
Teori Akuntansi (3)
TOP POSTS & HALAMAN
Karakteristik Organisasi dan Akuntansi Sektor Publik
Pendekatan Regulasi Dalam Perumusan Teori Akuntansi
Teknik Akuntansi Sektor Publik
TEORI KONTINJENSI DI SEKTOR PUBLIK
Pengungkapan dan Transparansi Laporan Keuangan
Sejarah dan Perkembangan Akuntansi
PSAP 07 - Akuntansi Aset Tetap
Peranan Etika Dalam Bisnis
Etika Dalam Perpajakan
Etika Dalam Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen
KOMENTAR TERBARU
HOURS & INFO
kota palu, sulawesi tengah
+6282 338 0999 90
SENARAI BLOG
Discover New Voices 0
Discuss 0
Get Inspired 0
Get Mobile 0
Get Polling 0
Get Support 0
Great Reads 0
Learn [Link] 0
Theme Showcase 0
[Link] Blog 0
META
Daftar
Masuk
Feed entri
Feed Komentar
[Link]
Buat situs web atau blog gratis di [Link].
Privasi & Cookie: Situs ini menggunakan cookie. Dengan