1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Secara global, ada hampir 1,7 miliar kasus penyakit diare pada anak
setiap tahun. Penyakit diare merupakan penyebab utama kematian anak dan
morbiditas di dunia, dan sebagian besar disebabkan oleh makanan dan
sumber air yang terkontaminasi. Di seluruh dunia, 780 juta orang kekurangan
akses terhadap air minum yang lebih baik dan 2,5 miliar kekurangan sanitasi
yang membaik. Diare akibat infeksi tersebar luas di seluruh negara
berkembang (WHO, 2017). Hasil laporan prevalensi diare anak usia di bawah
lima tahun di beberapa negara berkembang pada tahun 2015 yaitu di Filipina
14,6 %, Timor Leste 15,2%, Kamboja 14,6%, Peru 16 %, dan Kolombia 14,6
% ( Pinzón-Rondón, 2015)
Penyakit diare sampai kini masih menjadi masalah kesehatan
masyarakat, walaupun secara umum angka kesakitan masih berfluktuasi, dan
kematian diare yang dilaporkan oleh sarana pelayanan dan kader kesehatan
mengalami penurunan namun penyakit diare ini masih sering menimbulkan
KLB yang cukup banyak bahkan menimbulkan kematian. Jumlah penderita
KLB Diare pada tahun 2017 dari 12 Provinsi di Indonesia terdapat 21
kejadian serta jumlah kasus sebanyak 1.725 kasus dan kematian mencapai 34
kasus, CFR kejadian tahun 2017 sebesar 1,97 %. Insiden diare semua umur
secara nasional adalah 270/1.000 penduduk (Rapid Survey Diare tahun 2015)
(Kemenkes, 2018).
1
2
Target cakupan pelayanan penderita Diare semua umur (SU) yang
datang ke sarana kesehatan adalah 10% dari perkiraan jumlah penderita Diare
SU (Insidens Diare SU dikali jumlah penduduk di satu wilayah kerja dalam
waktu satu tahun). Tahun 2016 jumlah penderita diare SU yang dilayani di
sarana kesehatan sebanyak 3.176.079 penderita dan terjadi peningkatan pada
tahun 2017 yaitu menjadi 4.274.790 penderita atau 60,4% dari perkiraan
diare di sarana kesehatan (Kemenkes, 2018).
Penyakit diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga
merupakan potensial KLB yang sering mengakibatkan kematian, tidak
terkecuali di Provinsi Sulawesi tenggara. Jumlah kasus diare yang ditangani
pada tahun 2017 sebanyak 39.913 kasus atau sebanyak 53,72% dari perkiraan
kasus, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2016 sebanyak 35.864 kasus.
Pada tahun 2017 Insiden diare yang di diagnosis untuk balita di Provinsi
Sulawesi Tenggara cukup besar adalah 5,9 % (Dinkes Sultra, 2017).
Pada tahun 2017 Dinas Kesehatan Kabupaten Muna, Puskesmas
berjumlah 27, jumlah penduduk berjumlah 215.443 terdiri dari 103.663 laki-
laki dan 111.780 perempuan. Jumlah target penemuan kasus penyakit diare
sebesar 5.817 terdiri dari 2.799 laki-laki dan 3.018 perempuan. Jumlah kasus
diare yang ditangani 4.260 (73,23%) melebihi angka kasus penemuan
Provinsi yang terdiri dari 2.059 (73,56%) laki-laki dan 2.201 (72,93%)
perempuan (Dinas Kesehatan Kabupaten Muna, 2017). Jumlah kasus Diare
pada balita di wilayah kerja Puskesmas Lohia cenderung mengalami
penurunan dan peningkatan setiap bulannya. Jumlah kasus selama tahun 2018
3
sebanyak 179 kasus di wilayah kerja Puskesmas Lohia (Puskesmas Lohia,
2018).
Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya diare
pada balita yaitu : 1). kesadaran dan pengetahuan ibu, 2). ketersedian sumber
air bersih dan ketersediaan jamban keluarga, 3). Faktor hygine, lingkungan,
kesadaran orang tua balita untuk berperilaku hidup bersih dan sehat serta
pemberian ASI menjadi faktor yang penting dalam menurunkan angka
kesakitan diare pada balita (Kemenkes RI, 2011). Hal ini juga dikemukanan
oleh Suharyono (2008) bahwa kejadian diare dipengaruhi oleh Faktor gizi,
faktor makanan, faktor sosial ekonomi, dan faktor lingkungan. Kebersihan
makanan ditentukan dari kemampuan (perilaku) ibu dalam menerapkan
(PHBS) terhadap makanan dari proses persiapan, memasak hingga
menghidangkan makanan tersebut artinya bahwa PHBS disini adalah
bagaimana perilaku ibu mampu menerapkan hygine menyiapkan makanan.
Sanitasi berhubungan dengan kesehatan lingkungan yang
mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Buruknya kondisi sanitasi akan
berdampak negatif di banyak aspek kehidupan, mulai dari turunnya kualitas
lingkungan hidup masyarakat, tercemarnya sumber air minum bagi
masyarakat, meningkatnya jumlah kejadian diare dan munculnya beberapa
penyakit (Kemenkes, 2018). Berdasarkan profil puskesmas Lohia dan survei
awal yang telah dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Lohia, untuk sumber
Akses Air Minum yang diperiksa adalah sebanyak 1.630 KK, Ledeng
sebanyak 754 KK dan PAH sebanyak 770 KK.
4
Untuk faktor penyebab dilakukan berbagai upaya agar
mikroorganisme penyebab diare dihilangkan. Peningkatan air bersih dan
sanitasi lingkungan, perbaikan lingkungan biologis dilakukan untuk
memodifikasi pejamu maka dapat dilakukan peningkatan status gizi dan
pemberian imunisasi (Lestari, 2016).
Untuk kasus diare pada balita, perilaku orang dewasa yang menangani
makanan merupakan salah satu faktor penting. Beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi terjadinya diare terutama pada bayi adalah faktor infeksi
(enteral, parenteral), faktor malabsorbsi, faktor makanan, faktor sosial
ekonomi, dan faktor lingkungan, jika hal ini terjadi di masyarakat maka akan
meningkatkan terjadinya diare pada balita (Purdiyanto, 2016).
Ibu merupakan orang yang paling dekat dengan anak dan mempunyai
peran penting dalam menjaga dan memelihara kesehatan anak. Kemampuan
ibu sangat menentukan keselamatan anak yang mengalami diare mulai dari
mengenali apa itu diare, tanda gejala diare, penyebab, dampak / komplikasi
yang muncul akibat diare, serta upaya melakukan pertolongan pertama untuk
mencegah terjadinya dehidrasi serta perawatan sebelum mendapat
pengobatan lanjutan dari tenaga kesehatan. Kemampuan ibu dinilai pada
aspek pengetahuan dan perilaku ibu dalam penanganan terhadap penyakit
diare (Maidartati, 2017).
Status gizi pada anak sangat berpengaruh terhadap kejadian diare.
Pada anak yang menderita kurang gizi dan gizi buruk mengakibatkan episode
diare akutnya menjadi lebih berat dan 3 mengakibatkan diare yang lebih lama
5
dan sering. Hubungan diare dan malnutrisi, adalah dua arah. Infeksi
mengubah status nutrisi melalui penurunan asupan makanan dan absorpsi
usus, peningkatan katabolisme, dan sekuestrasi nutrisi yang diperlukan untuk
sintesa jaringan dan pertumbuhan. Status gizi anak yang baik dapat
menghindarkan anak dari penyakit infeksi seperti diare (Yunadi, F, D. Tri,
2016).
Status Imunisasi dapat menurunkan kejadian penyakit diare. Tujuan
diberikan imunisasi adalah untuk membentuk kekebalan tubuh anak agar
mampu melawan berbagai gangguan bakteri dan virus yang ada di sekeliling
tempat hidupnya. Jadi dengan imunisasi, tubuh anak akan bereaksi dan anti
bodinya meningkat untuk melawan antigen yang masuk termasuk kuman
penyebab diare (Kurniawati & Martini, 2016).
Di Puskesmas Lohia selama periode 2018 yang mendapatkan
imunisasi dasar lengkap belum mencapai target sebesar 100% dengan
cakupan imunisasi sebagai berikut: Cakupan Imunisasi dari sasaran 132 balita
yang mendapat cakupan imunisasi BCG sebanyak 121 (95%), DPT/HB-Hib
(3) sebanyak 103 (82%), Polio IV sebanyak 98 (76%), dan Imunisasi Campak
sebanyak 93 (76%) (Puskesmas Lohia, 2018).
Diare sering timbul menyertai campak sehingga pemberian imunisasi
juga dapat mencegah diare. Untuk itu anak harus segera diberi imunisasi
lengkap ketika berumur 9 bulan sampai anak berusia 1 tahun. Berdasarkan
penelitian Azizah (2015) bahwa Anak yang mendapatkan imunisasi lengkap
beresiko lebih kecil terkena diare dibandingkan dengan anak yang tidak
6
mendapatkan imunisasi lengkap (OR=0,732) yang artinya bayi yang tidak
mendapatkan imunisasi lengkap berpeluang menderita diare 4 kali lebih besar
dibandingkan yang mendapatkan imunisasi tidak lengkap (Azizah, 2015).
Berdasarkan survey pendahuluan di puskesmas Lohia bahwa kondisi
pelayanan kesehatan di wilayah kerja puskesmas lohia masih mengandalkan
pengalaman orang tua terdahulu dalam menangani kondisi kesehatan yang
terjadi pada balita. Masih banyak ibu balita yang tidak melengkapi status
imunisasi pada balita karena adanya kecemasan dari efek samping setelah
diimunisasi, maka dari itu ibu dari balita khawatir apabila dilanjutkan
imunisasi. Pengetahuan dan perilaku ibu balita masih mengandalkan dengan
konsultasi dukun beranak dan pengalaman orang tua yang telah lampau (adat
istiadat) sehingga ketika balita mengalami penyakit atau diare
penanganannya masih mendapatkan pelayanan secara tradisional tanpa
mengandalkan pelayanan kesehatan dari pihak puskesmas setempat.
Sehingga ibu balita masih sangat awam dengan kondisi penyakit yang terjadi
pada balita, karena kurangnya pendidikan dan pelayanan promosi kesehatan
masyarakat.
Di wilayah kerja puskesmas lohia masih banyak yang menggunakan
air hujan sebagai pemenuhan kebutuhan air bersih sehari harinya, sehingga
tidak memenuhi syarat standar air bersih. Penggunaan Air PDAM di wilayah
kecamatan Lohia tidak memadai sehingga penyaluran air bersih dari PDAM
tidak lancar bahkan sering macet alirannya dalam seminggu, ini yang
menyebabkan maysarakat wilayah kecamatan Lohia masih banyak
7
menggunakan Penampungan Air Hujan untuk pemenuhan kebutuhan air
bersih
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk melihat
Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare Pada Balita Umur 12 – 59
Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia Kabupaten Muna Tahun 2019.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah penelitian ini
“Faktor Apa Saja Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare Pada Balita
Umur 12 – 59 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia Kabupaten Muna
Tahun 2019 ?”
1.3 TujuanPenelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare
Pada Balita Umur 12 – 59 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia
Kabupaten Muna Tahun 2019
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :
a. Untuk mengetahui hubungan sumber air bersih dengan kejadian diare
pada balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia
Kabupaten Muna Tahun 2019
b. Untuk mengetahui hubungan perilaku ibu dengan kejadian diare pada
balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia
Kabupaten Muna Tahun 2019
8
c. Untuk mengetahui hubungan status gizi balita dengan kejadian diare pada
balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia
Kabupaten Muna Tahun 2019
d. Untuk mengetahui hubungan status imunisasi pada balita dengan
kejadian diare pada balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja
Puskesmas Lohia Kabupaten Muna Tahun 2019
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
a. Sebagai tambahan pengalaman, wawasan serta pengetahuan penulis
tentang Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare Pada Balita
Umur 12 – 59 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia Kabupaten
Muna Tahun 2019
b. Penelitian ini bermanfaat sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh
gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Halu Oleo
2. Bagi Mahasiswa
Manambahakan informasi sehingga meningkatkan pengetahuan serta
pemahaman kepada masyarakat khususnya ibu-ibu balita agar lebih
mengerti dan memperhatikan kecukupan gizi balita agar selalu dalam
kondisi gizi baik dan terjaga kesehatannya.
3. Bagi Institusi Kesehatan
Sebagai informasi dan masukan bagi institusi kesehatan yang terkait
dengan pengambilan keputusan, penetapan kebijakan dan perencanaan
9
program kesehatan serta penanggulangan gizi kurang dan meningkatkan
status gizi baik pada balita.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian / Batasan Penelitian
Ruang Lingkup dalam penelitian ini adalah Faktor Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Diare Pada Balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja
Puskesmas Lohia Kabupaten Muna Tahun 2019. Penelitian ini dilakukan di
Wilayah Kerja Puskesmas Lohia Kabupaten Muna. Variabel Bebas adalah
sumber air bersih, perilaku ibu, status gizi balita, status imunisasi Campak
dan variabel terikat adalah Kejadian Penyakit Diare Pada Balita. Ruang
lingkup lokasi penelitian hanya terbatas pada balita yang berumur 12-59
bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia Kabupaten Muna Tahun 2019 yang
memenuhi kriteria sebagai sampel penelitian.
1.6 Daftar Istilah / Glosarium
1. Mortalitas Ukuran jumlah kematian (umumnya, atau
karena akibat yang spesifik) pada suatu
populasi, skala besar suatu populasi, per dikali
satuan.
2. Morbiditas Angka kesakitan dari penyakit
3. SKD-KLB Sistem Kewaspadaan Dini-Kejadian Luar Biasa
4. STBM Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
5 PAH Penampungan Air Hujan
6. KMS Kartu Menuju Sehat
1.7 Organisasi/Sistematika
10
Penelitian ini berjudul Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare
Pada Balita Umur 12 – 59 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia
Kabupaten Muna Tahun 2019 yang dibimbing oleh pembimbing I Ibu Dr.
Asnia Zainuddin, [Link] dan pembimbing II Hilda Harum, [Link]., [Link].
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Umum Tentang Diare
1. Pengertian Diare
Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang
terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk
tinja yang encer atau cair. Diare dikatakan sebagai keluarnya tinja berbentuk
cair sebanyak tiga kali atau lebih dalam dua puluh jam pertama, dengan
temperatur rectal diatas 38o C dan muntah. Sedangkan menurut Widoyono
(2008), diare adalah berak-berak yang lebih sering dari biasanya (3 x atau
lebih dalam sehari) dan berbentuk encer, bahkan dapat berupa seperti air saja,
kadang-kadang juga disertai dengan muntah, panas dan lain-lain (Suriadi,dan
Rita Yuliani,2010).
2. Klasifikasi Diare
Jenis diare dibagi menjadi empat yaitu : (Depkes RI,2010).
a. Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya
kurang dari 7 hari). Akibat diare akut adalah dehidrasi, sedangkan
dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare.
b. Disentri, yatu diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat disentri
adalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat, kemungkinan
terjadinya komplikasi pada mukosa.
11
12
c. Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara
terus menerus. Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan
gangguan metabolisme.
d. Diare dengan masalah lain, yaitu anak yang menderta diare (diare akut dan
diare persisten), mungkin juga disertai dengan penyakit lain, seperti
emam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.
Menurut Ellis dan Mitchell dalam Suharyono (2008), membagi diare
berdasarkan lamanya diare atas:
a. Diare akut atau diare karena infeksi usus yang bersifat mendadak. Diare
karena infeksi usus dapat terjadi pada setiap umur.
b. Diare kronik yang umumnya bersifat menahun; diantara diare akut dan
kronik disebut diare subakut.
3. Penyebab Diare
Penyebab diare diantaranya adalah:
a. Faktor infeksi
1. Infeksi eksternal adalah infeksi saluran pencernaan makanan yaitu :
infeksi bakteri ([Link], Vibrio, Salmonella), infeksi virus (Rotavirus,
Adenovirus, Norwalk) dan infeksi parasit (protozoa, cacing, jamur).
2. Infeksi parenteral adalah infeksi di luar alat pencernaan makanan yaitu :
Bronkopnemonia, Tonsilitis, dan Ensefalitis.
b. Faktor malabsorpsi
1. Malabsorpsi karbohidrat yaitu terganggunya sistem pencernaan yang
berpengaruh pada penyerapan karbohidrat dalam tubuh.
13
2. Malabsorpsi lemak yaitu terganggunya penyerapan lemak dalam tubuh.
3. Malabsorpsi protein yaitu terganggunya penyerapan protein dalam
tubuh.
c. Faktor makanan
1. Makanan basi, misalnya sisa makanan yang telah menjamur.
2. Makanan beracun yaitu terkontaminasi dengan makanan lain.
3. Alergi terhadap makanan, misalnya tidak tahan dengan jenis makanan
tertentu.
d. Faktor psikologis
Rasa takut dan cemas (jarang terjadi pada anak yang lebih besar).
(Suharyono,2008).
4. Gejala Diare
Gejala diare pada balita yaitu: Frekuensi buang air besar 4x atau lebih
dalam sehari ; Tinja encer, berlendir ata berdarah; Tinja berawana kehijau-
hijauan; Muntah; Lesu; Suhu badan meninggi atau demam; Tidak nafsu
makan; Sakit dan kejang perut; Dehidrasi (Indriasari,2009).
5. Epidemiologi Diare
Penyakit diare lebih banyak menyerang balita dan anak pada daerah
endemis, sedangkan pada waktu terjadinya kejadian luar biasa (KLB) dapat
menyerang semua golongan umur. Dari keseluruhan kejadian diare di
Kabupaten Karanganyar sebagian besar penderitanya adalah anak usia 5-15
tahun sebesar 43,64 % (Winanti, 2016).
14
Penyebaran diare di suatu tempat dangan tempat lainnya berbeda.
Perbedaan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi kejadian diare seperti keadaan geografis, aktifitas penduduk,
kepadatan penduduk, dan pelayanan kesehatan. Frekuensi kejadian dan
penyebaran diare memiliki pola waktu tertentu, variasi kejadian diare
tersebut berbeda antara daerah satu dengan yang lainnya tergantung kondisi
cuaca. Menurut Kementrian Kesehatan RI (2011) Peningkatan kunjungan ke
rumah sakit dan puskesmas karena kasus diare di Indonesia terjadi pada
musim hujan, yaitu September- Januari.
6. Penularan Penyakit Diare
Penyakit diare sebagian besar disebabkan oleh kuman seperti virus dan
bakteri. Penularan penyakit diare melalui fecal oral terjadi sebagai berikut:
1. Melalui air yang merupakan media penularan utama Diare dapat terjadi
apabila seseorang menggunakan air minum yang sudah tercemar, baik
tercemar dari sumbernya, tercemar selama perjalanan sampai kerumah-
rumah atau tercemar pada saat tersimpan dirumah. Pencemaran di rumah
terjadi apabila tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan yang
tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat
penyimpanan.
Tinja yang sudah terinfeksi mengandung virus atau bakteri dalam
jumlah besar. Bila tinja tersebut dihinggapi oleh binatang dan kemudian
binatang tersebut hinggap ke makanan, maka makanan itu dapat
menularkan diare ke orang yang memakannya. (Widoyono, 2008).
15
7. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Diare
1. Status Gizi
Keberadaan status gizi sangat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh
manusia. Orang yang menderita gizi buruk atau gizi kurang akan lebih
muda terjangkit penyakit menular atau penyakit infeksi. Apabila gizi
kurang, zat gizi yang dibutuhkan tidak akan mencukupi, sehingga tubuh
akan mudah sakit. Selain itu, kurang gizi berpengaruh terhadap diare.
Semakin buruk gizi seseorang, semakin banyak episode diare yang
dialami.
2. Kondisi Lingkungan
Kondisi lingkungan yag buruk berpengaruh terhadap kejadian diare.
Peranan lingkungan, enterobakteri, parasit usus, virus, jamur dan beberapa
zat kimia telah secara klasik dibuktikan pada berbagai penyelidikan
epidemiologis sebagai penyebab penyakit diare.
3. Perilaku
Pada kasus penyakit diare biasanya selalu dihubungkan dengan aspek
personal hygiene. Karena penyakit diare merupakan penyakit saluran
pencernaan, yang penyebarannya lebih sering akibat konsumsi makanan
maupun minuman yang terkontaminasi, sehingga masyarakat dengan
kondisi personal hygiene yang buruk akan berpotensi terkena penyakit
diare.
16
4. Sosial Ekonomi
Faktor sosial ekonomi juga berpengaruh terhadap faktor-faktor penyebab
diare. Kebanyakan penderita diare berasal dari keluarga yang besar dengan
daya beli yang rendah, kondisi rumah yang buruk, tidak punya penyediaan
air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan, pendidikan orang tuanya
yang rendah dan sikap serta kebiasaan yang tidak menguntungkan. Karena
itu, edukasi dan perbaikan ekonomi sangat berperanan dalam pencegahan
dan penanggulangan diare.
8. Pencegahan Diare
Pencegahan diare yang benar dan efektif, antara lain:
a. Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai 2 tahun.
b. Memberikan makanan pendamping ASI sesuai umur.
c. Penggunaan air bersih yang cukup.
d. Kebiasaan cuci tangan dengan air sabun sebelum makan dan sesudah
buang air besar.
e. Penggunaan jamban yang benar.
f. Pembuangan kotoran yang tepat termasuk tinja anak-anak dan bayi yang
benar.
Memberikan imunisasi campak (Kemenkes RI, 2011).
9. Penyebaran kuman penyebab diare
Kuman penyebab diare menyebar melalui mulut (orofekal),
diantaranya melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh feses
dan/atau kontak langsung dengan feses penderita. Beberapa perilaku khusus
17
menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya
diare, yaitu:
1) Tidak memberi ASI eksklusif selama 4-6 bulan pertama kehidupan. Risiko
menderita diare berat beberapa kali lebih besar pada bayi yang tidak
mendapat ASI dibandingkan bayi yang mendapat ASI eksklusif. Risiko
kematian karena diare juga lebih besar.
2) Menggunakan botol susu yang tidak bersih Sewaktu susu dimasukan
kedalam botol yang tidak bersih, terjadi kontaminasi kuman dan bila tidak
segera diminum, kuman dapat berkembang baik di dalamnya.
3) Menyimpan makanan matang pada suhu kamar. Jika makanan disimpan
beberapa jam pada suhu kamar, kuman dapat berkembang biak di
dalamnya.
4) Menggunakan air minum tercemar bakteri yang berasal dari feses. Air
mungkin terpajan pada sumbernya atau pada saat disimpan dirumah.
5) Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar, sesudah membuang feses,
atau sebelum memasak makanan.
Membuang feses (termasuk feses bayi) dengan tidak benar (Sodikin,
2012).
2.2 Tinjauan Umum Tentang Balita
1. Definisi Balita
Balita merupakan anak yang berusia diatas satu tahun atau biasa juga
disebut dengan bayi di bawah lima tahun. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia (2014) seorang anak dikatakan balita apabila anak berusia
18
12 bulan sampai dengan 59 bulan. Price dan Gwin (2014) mengatakan bahwa
seorang anak dari usia 1 sampai 3 tahun disebut batita atau toddler dan anak
usia 3 sampai 5 tahun disebut dengan usia pra sekolah atau preschool child.
Usia balita merupakan sebuah periode penting dalam proses pertumbuhan dan
perkembangan seorang anak.
Balita merupakan usia dimana anak mengalami pertumbuhan dan
perkembangan yang pesat. Proses pertumbuhan dan perkembangan setiap
individu berbeda-beda, bisa cepat maupun lambat tergantung dari beberapa
faktor diantaranya herediter, lingkungan, budaya dalam lingkungan, sosial
ekonomi, iklim atau cuaca, nutrisi dan lain-lain (Kemenkes RI,2011).
2. Karakteristik Balita
Karakteristik balita dibagi menjadi dua yaitu:
1) Anak usia 1-3 tahun
Usia 1-3 tahun merupakan konsumen pasif artinya anak menerima
makanan yang disediakan orang tuanya. Laju pertumbuhan usia balita
lebih besar dari usia prasekolah, sehingga diperlukan jumlah makanan
yang relatif besar. Perut yang lebih kecil menyebabkan jumlah makanan
yang mampu diterimanya dalam sekali makan lebih kecil bila
dibandingkan dengan anak yang usianya lebih besar oleh sebab itu, pola
makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan frekuensi sering.
2) Anak usia prasekolah (3-5 tahun)
Usia 3-5 tahun anak menjadi konsumen aktif. Anak sudah mulai
memilih makanan yang disukainya. Pada usia ini berat badan anak cenderung
19
mengalami penurunan, disebabkan karena anak beraktivitas lebih banyak dan
mulai memilih maupun menolak makanan yang disediakan orang tuanya
(Septiari, 2012).
3. Risiko Masalah Kesehatan Pada Balita
Kesehatan anak sangat penting untuk masa pertumbuhan, sehingga
orang tua harus memperhatikan makanan, lingkungan dan kesehatan anak
dari lahir hingga anak dapat mengontrol dirinya sendiri. Balita sangat rentan
terhadap berbagai penyakit mulai dari lahir hingga usia 4 tahun, penyakit
yang sering terjadi pada anak yaitu Hyperbilirubinemia, Tetanus
Neonatorum, Asma, Anemia, Kejang Demam, Konjungtivitis, MEP
(Malnutrisi Energi Protein), Diare, Hirschsprung, Anus Imperforate,
Hepatitis, Leukemia, Tuberkulosis, Bronkopnemonia, Bronkitis, Meningitis,
HIV/AIDS, Sindrom Nefrotik, Morbili, Dhf, Typhus Abdominalis Dan
Penyakit Alergi (Hidayat, 2008).
2.3 Tinjauan Umum Tentang Variabel Penelitian
1. Sumber Air Bersih
Air merupakan hal yang pentinga bagi manusia. Kebutuhan manusia
akan air sangat komplek antara lain untuk minum, masak, mencuci, mandi
dan sebagainya. Diantara kegunaan-kegunaan air tersebut, yang sangat
penting adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan
minum (termasuk untuk memasak) selalu tersedia dalam jumlah yang
cukup dan memenuhi syarat kesehatan, baik syarat fisik, kimiawi, dan
20
bakteriologi agar tidak menimbulkan penyakit bagi manusia termasuk
diare.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyediaan air bersih adalah:
1) Mengambil air dari sumber air yang bersih.
2) Mengambil dan menyimpan air dalam tempat yang bersih dan
tertutup, serta menggunakan gayung khusus untuk mengambil air.
3) Memelihara atau menjaga sumber air dari pencemaran oleh binatang,
anak anak, dan sumber pengotoran. Jarak antara sumber air minum
dengan sumber pengotoran (tangki septik), tempat pembuangan
sampah dan air limbah harus lebih dari 10 meter.
4) Menggunakan air yang direbus.
Mencuci semua peralatan masak dan makan dengan air yang bersih
dan cukup (Depkes RI, 2010).
Masyarakat membutuhkan air untuk keperluan sehari-hari,
maka masyarakat menggunakan berbagai macam sumber air bersih
menjadi air [Link] air antara lain: (Notoatmodjo, 2010).
Air hujan
Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum. Tetapi air
hujan ini tidak mengandung kalsium. Oleh karena itu, agar dapat
dijadikan air minum yang sehat perlu ditambahkan kalsium didalamnya.
a. Air permukaaan tanah
Yang termasuk air permukaan tanah adalah air sungai dan danau.
Menurut asalnya sebagian dari air sungai dan air danau ini juga dari air
21
hujan yang megalir melaui saluran-saluran ke dalam sungai atau danau
ini. Oleh karena air sungai dan danau ini sudah terkontaminasi atau
tercemar oleh berbagai macam kotoran, maka bila akan dijadikan air
minum harus diolah terlebih dahulu.
b. Air tanah
Yang termasuk air tanah adalah mata air, air sumur dangkal dan air
sumur dalam. Air yang keluar dari mata air ini biasanya berasal dari air
tanah yang muncul secara alamiah. Oleh karena itu, air dari mata air ini,
bila belum tercemar oleh kotoran sudah dapat dijadikan air minum
langsung. Tetapi alangkah baiknya air tersebut direbus dahulu sebelum
diminum. Air sumur dangkal berasal dari lapisan air didalam tanah
yang dangkal. Biasanya berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter dari
permukaan tanah.
Air sumur pompa dangkal ini belum begitu sehat, karena
kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih ada. Sehingga perlu
direbus dahulu sebelum diminum. Air sumur dalam berasal dari lapisan
air kedua di dalam tanah. Dalamnya dari permukaan tanah biasanya di
atas 15 meter. Oleh karena itu, sebagian air sumur dalam ini sudah
cukup sehat untuk dijadikan air minum langsung (tanpa melalui proses
pengolahan). Air bersih terutama yang digunakan sebagai air minum
harus memenuhi syarat-syarat tertentu sebagai berikut: (Sri Wnarsih,
2009).
22
a. Syarat fisik, yaitu tidak berwarna, tidak mempunyai rasa, tidak
berbau, jernih, dengan suhu dibawah suhu udara sehingga terasa
nyaman.
b. Syarat kimia, yaitu memiliki PH netral, kandungan mineral-
mineralnya terbatas, dan tidak mengandung zat kimia atau mineral
berbahaya misalnya CO2, H2S, NH4, dan sebagainya.
c. Syarat bakteriologis, yaitu tidak mengandung bakteri penyebab
penyakit (patogen) yang melampaui batas yang diijinkan. Bakteri
patogen misalnya bakteri [Link] yang dapat menyebabkan diare dan
Salmonella sp. Yang mengakibatkan tifus. Kedua bakteri tersebut
biasanya terdapat dalam kotoran manusia. Dalam kondisi normal, air
tidak mengandung kedua bakteri tersebut. Jika ternyata mengandung
bakteri tersebut, berarti air telah tercemar kotoran manusia.
2. Perilaku Ibu
a. Pengertian
Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk
hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis
semua makhluk hidup mulai tumbuh-tumbuhan, binatang sampai dengan
manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktifitas masing-
masing (Notoatmodjo, 2010).
Perilaku kesehatan merupakan respon seseorang terhadap stimulus
yang berhubungan dengan sistem pelayanan kesehatan, sakit, penyakit,
makanan, minuman, serta lingkungan. Hasil dari beberapa pengalaman
23
dan hasil observasi yang terjadi di lapangan (masyarakat) bahwa perilaku
seseorang termasuk terjadinya perilaku kesehatan, diawali dengan
pengalaman- pengalaman seseorang serta adanya faktor eksternal
(lingkungan fisik dan non fisik). Pengalaman dan lingkungan tersebut
kemudian diketahui, dipersepsikan atau diyakini seseorang sehingga
menimbulkan motivasi untuk bertindak yang akhirnya diwujudkan
dengan perilaku, termasuk perilaku sehat. (Notoatmodjo, 2010).
b. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Manusia
Perilaku dipengaruhi oleh tiga faktor utama,yaitu;
1) Faktor-faktor predisposisi (Predisposing factors)
Faktor-faktor ini mencangkup : pengetahuan dan sikap masyarakat
terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal
yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat,
tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan sebagainya.
2) Faktor-faktor pemungkin (Enabling factors)
Faktor-faktor ini mencangkup ketersedian sarana dan prasarana atau
fasilitas kesehatan bagi masyarakat, misalnya: air bersih, tempat
pembuangan sampah, tempat pembuangan tinja, ketersediaan makanan
yang bergizi, dan sebagainya. Termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan
seperti puskesmas, rumah sakit, poliklinik, Posyandu,polindes, pos obat
desa, dokter atau bidan praktek swasta, dan sebagainya.
3) Faktor-faktor penguat (Reinforcing factors)
24
Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat
(toma), tokoh agama (toga), sikap dan perilaku para petugas termasuk
petugas kesehatan. Selain ketiga faktor tersebut yang mempengaruhi
terbentuknya perilaku terdapat juga faktor lain, yakni faktor inter dan
[Link] intern, mencangkup: pengetahuan, kecerdasan, persepsi,
emosi, motivasi dan sebagainya yang berfungsi untuk mengolah
rangsangan dari [Link] faktor ekstern meliputi lingkungan
sekitar,baik fisik maupun non fisik seperti: iklim, manusia, sosial-
ekonomi, kebudayaan dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010).
c. Pengukuran Perilaku
Pengukuran atau cara mengamati perilaku dapat dilakukan melalui
dua cara yaitu:
a. Secara langsung (observasi)
Yaitu mengamati tindakan dari subyek dalam rangka memelihara
kesehatannya.
b. Secara tidak langsung
Yaitu menggunakan metode mengingat kembali (recall), metode ini
dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan terhadap subyek tentang apa
yang telah dilakukan berhubungan dengan obyek tertentu
(Notoatmodjo, 2010).
25
3. Status Gizi Anak
1. Pengertian status gizi
Gizi merupakan suatu proses organisme dalam menggunakan
bahan makanan yang dikonsumsi melalui proses digesti, absorbsi,
transportasi, penyimpanan metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak
digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi
dari organ-organ, serta menghasilkan energi (Supariasa, 2016).
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan
dan penggunaan zat zat gizi, dibedakan antara status gizi buruk, kurang,
baik dan lebih. Disamping untuk kesehatan, gizi dikaitkan dengan potensi
ekonomi seseorang, karena gizi sangat berpengaruh terhadap
perkembangan otak, kemampuan belajar dan produktivitas kerja Status
gizi dibagi menjadi tiga kategori, yaitu status gizi kurang, status gizi
normal, dan status gizi lebih (Almatsier, 2010).
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi
Faktor yang mempengaruhi status gizi adalah kemiskinan, tingkat
pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan, tingkat
pengetahuan, sosial budaya dan bencana alam.
a) Tingkat pendapatan keluarga
Salah satu penyebab malnutrisi (kurang gizi) adalah factor ekonomi dan
sosial budaya yang secara nyata telah memberikan gambaran
menyeluruh mengenai masalah gizi di daerah yang mayoritas
masyarakatnya [Link] pendapatan dan status gizi dalam
26
keluarga didorong oleh pengaruh yang menguntungkan dari
peningkatan pendapatan untuk perbaikan kesehatan dan gizi.
Sebaliknya, jika pendapatan seseorang rendah maka daya belinya
berkurang sehingga kemungkinan kebiasaan makan dan cara-cara lain
yang menghalangi perbaikan gizi akan kurang efektif untuk anak-anak,
b) Tingkat pengetahuan
Pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh seseorang tentang suatu
hal baik secara formal maupun non formal. Pengetahuan merupakan
hasil tahu, ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan
terhadap sesuatu melalui panca indra. Pengetahuan yang dimiliki sangat
penting untuk terbentuk sikap dan tindakan
c) Tingkat pendidikan
Pendidikan gizi adalah pengetahuan yang memungkinkan seseorang
dan mempertahankan pola makan berdasarkan prinsip prinsip ilmu
untuk mempraktekkan atau pelaksanaan dengan pengertian makanan
yang bergizi, baik bahan makanan, pengolahan, sikap dan emosi pada
seseorang yang berkaitan dengan makanan
Ibu yang berpendidikan lebih baik kemungkinannya dalam
menggunakan perawatan kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan
yang ada dari ibu yang tidak memiliki pendidikan.
d) Jumlah anggota keluarga
Jumlah anggota keluarga dan banyaknya anak dalam keluarga akan
berpengaruh terhadap tingkat konsumsi pangan, jumlah anggota
27
keluarga yang besar dibarengi dengan distribusi pangan yang tidak
merata sehingga menyebabkan anak dalam keluarga mengalami
kekurangan gizi.
Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa semakin
sedikit jumlah anggota keluarga, semakin sedikit pula jumlah pangan
yang harus tersedia atau dapat dikatakan bahwa semakin banyak anggota
keluarga, maka semakin banyak tanggungan keluarga untuk mencukupi
kebutuhan pangan yang harus tersedia (Supariasa, 2016).
3. Metode penilaian status gizi
Pengukuran status gizi dapat dilakukan secara klinis, biokimia,
antropometrik dan [Link] menentukan status gizi dari masyarakat
atau bagian dari suatu masyarakat, maka perlu untuk menerapkan teknik
tersebut ke semua anggotanya, atau kepada sampel yang mewakili suatu
populasi.
Penilaian status gizi dapat dilakukan dengan metode, yaitu:
1) Antropometri adalah ukuran tubuh manusia. Jika dilihat dari sudut
pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai
macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai
tingkat umur dan tingkat gizi. Kegunaannya untuk melihat
ketidakseimbangan asupan protein dan energy. Ketidakseimbangan ini
dapat dilihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh
seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
28
2) Klinis adalah metode yang penting untuk menilai status gizi
masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang
terjadi dan dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Metode ini
digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan
melakukan pemeriksaan yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau
riwayat penyakit.
3) Biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratorium
yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Metode ini
dilakukan untuk mengetahui keadaan malnutrisi seseorang.
Biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat
kemampuan fungsi dan melihat perubahan struktur jaringan. Umumnya
metode ini dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta
senja epidemik (epidemic of night blindness). Cara yang digunakan adalah
tes adaptasi gelap (Supariasa, 2016).
Menurut Kemenkes (2010), kategori dan ambang batas status gizi
anak adalah sebagai mana terdapat pada tabel di bawah ini:
29
Tabel 1. Klasifikasi status gizi menurut Kemenkes (2010).
Ambang Batas
Indeks Kategori Status Gizi
(Z-score)
Gizi Buruk < -3 SD
-3 SD sampai dengan
Berat Badan menurut Gizi Kurang
< -2 SD
Umur (BB/U Anak
-2 SD sampai dengan
Umur 0-60 Bulan Gizi Baik
2 SD
Gizi Lebih > 2 SD
Sangat Pendek < -3 SD
Panjang Badan -3 SD sampai dengan
Pendek
menurut Umur (TB/U < -2 SD
Anak Umur 0-60 -2 SD sampai dengan
Normal
Bulan 2 SD
Tinggi > 2 SD
Berat Badan menurut Sangat Kurus < -3 SD
Panjang Badan -3 SD sampai dengan
Kurus
(BB/PB) atau Berat < -2 SD
Badan Menurut -2 SD sampai dengan
Tinggi Badan Normal
2 SD
(BB/TB) Anak Umur
Gemuk > 2 SD
0-60 Bulan
Sangat Kurus < -3 SD
Indek Massa Tubuh -3 SD sampai dengan
Kurus
menurut Umur < -2 SD
(IMT/U) Anak Umur -2 SD sampai dengan
Normal
0-60 Bulan 2 SD
Gemuk > 2 SD
Sangat Kurus < -3 SD
-3 SD sampai dengan
Kurus
Indek Massa Tubuh < -2 SD
menurut Umur -2 SD sampai dengan
Normal
(IMT/U) Anak Umur 1 SD
5-18 Tahun > 1 SD sampai dengan
Gemuk
2 SD
Obesitas > 2 SD
30
4. Tinjauan Umum Tentang Status Imunisasi
1. Pengertian Imunisasi
Imunisasi adalah proses menginduksi imunitas secara buatan baik
dengan vaksinasi (imunisasi aktif) maupun dengan pemberian antibodi
(imunisasi pasif). Imunisasi aktif menstimulasi sistem imun untuk
membentuk antibodi dan respon imun seluler yang melawan agen
penginfeksi, sedangkan imunisasi pasif menyediakan proteksi sementara
melalui pemberian antibodi yang diproduksi secara eksogen maupun
transmisi transplasenta dari ibu ke janin. Vaksinasi, yang merupakan
imunisasi aktif, ialah suatu tindakan yang dengan sengaja memberikan
paparan antigen dari suatu patogen yang akan menstimulasi sistem imun
dan menimbulkan kekebalan sehingga nantinya anak yang telah
mendapatkan vaksinasi tidak akan sakit jika terpajan oleh antigen serupa.
Antigen yang diberikan dalam vaksinasi dibuat sedemikian rupa sehingga
tidak menimbulkan sakit, namun dapat memproduksi limfosit yang peka,
antibodi, maupun sel memori. (Hidayat, 2009).
2. Imunisasi Campak
Campak merupakan penyakit menular dan bersifat akut yang
disebabkan oleh virus campak. Penyakit ini menular lewat udara melalui
sistem pernafasan dan biasanya virus tersebut akan berkembang biak pada
sel-sel di bagian belakang kerongkongan maupun pada sel di paru-paru
dan menyebabkan gejala-gejala seperti demam, malaise, kemerahan pada
mata, radang saluran nafas bagian atas serta timbul bintik kemerahan yang
31
dimulai dari batas rambut di belakang telinga, kemudian berangsur-angsur
menyebar di daerah wajah, leher, tangan dan seluruh badan. Cara
penularan penyakit ini dapat melalui droplet penderita campak pada
stadium awal yang mengandung paramyxovirus dan kontak langsung
dengan penderita maupun benda-benda yang terkontaminasi
paramyxovirus.
Untuk mencegah tertularnya penyakit campak maka seseorang perlu
diberikan vaksin campak, yang sebenarnya adalah strain dari virus campak
yang telah dilemahkan. Vaksin campak mulai digunakan pada tahun 1963
dan dikembangkan lagi pada tahun 1968. Kombinasi vaksin campak-
gondongan-rubella (MMR) dimulai diterapkan pada tahun 1971 dan pada
tahun 2005 telah dikembangkan lagi kombinasi vaksin campak-
gondongan-rubella-varicella (MMRV).
Pemberian vaksin campak dianjurkan 2 kali untuk mengurangi
kemungkinan terkena campak, pemberian pertama memberikan 95-98%
imunitas terhadap campak dan diberikan pada umur 12-15 bulan.
Pemberian kedua memberikan 99% imunitas terhadap campak dan dapat
diberikan kapan saja asalkan berjarak lebih dari 4 minggu dari pemberian
pertama, pada anak-anak biasanya diberikan saat anak berumur 4-6 tahun.
Imunisasi campak dilakukan dengan menggunakan alat suntik sekali pakai
untuk menghindari penularan penyakit seperti HIV/AIDS dan Hepatitis B,
dengan cara disuntikkan secara subkutan maupun intramuskular.
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang dapat terjadi setelah
32
pemberian vaksin campak antara lain demam > 39,5oC, ruam, emsefalitis,
dan ensefalopati pasca imunisasi. Reaksi KIPI ini telah menurun sejak
digunakannya vaksin campak yang dilemahkan.
Vaksin campak tidak boleh diberikan pada orang yang sedang
mengalami demam tinggi, dalam pengobatan imunosupresi, hamil,
memiliki riwayat alergi, sedang dalam pengobatan dengan imunoglobulin
atau bahan-bahan komponen darah.
Campak merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi (PD3I). Imunisasi campak merupakan imunisasi dasar wajib
yang diberikan saat bayi berusia 9 bulan. Imunisasi campak merupakan
jenis vaksinasi yang berhubungan dengan diare. Pemberian imunisasi
campak pada bayi sangat penting untuk mencegah bayi tidak terkena
penyakit campak. Anak yang menderita campak sering disertai dengan
diare, sehingga pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare.
Pencegahan anak agar tidak terkena penyakit campak dapat menurunkan
angka malnutrisi dan kekurangan vitamin A yang berhubungan dengan
diare (Kemenkes RI, 2014).
Diperkirakan imunisasi campak dapat mencegah 44,64% jumlah
kasus campak, 0,6-3,8% jumlah kejadian diare, dan 6-26% jumlah
kematian karena diare pada balita (Mutia, 2012). Imunisasi campak
merupakan langkah penting untuk melindungi dari episode diare dan
kematian akibat diare (Kemenkes RI, 2014). Penelitian ini menunjukan
balita yang tidak diberi imunisasi campak memiliki risiko 2,09 kali untuk
33
terkena diare dibandingkan dengan balita yang mendapatkan imunisas
campak. Namun, berdasarkan penelitian Rini (2011) tidak terdapat
hubungan yang signifikan anatara pemberian imunisasi campak dengan
kejadian diare pada anak 1-4 tahun dengan nilai p=0,140.
3. Pedoman Pemberian Imunisasi
Umur yang tepat untuk mendapatkan imunisasi adalah sebelum bayi
mendapat infeksi dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,
berilah imunisasi sedini mungkin segera setelah bayi lahir dan usahakan
melengkapi imunisasi sebelum bayi berumur 1 tahun. Khusus untuk
campak, dimulai segera setelah anak berumur 9 bulan. Pada umur kurang
dari 9 bulan, kemungkinan besar pembentukan zat kekebalan tubuh anak
dihambat karena masih adanya zat kekebalan yang berasal dari darah ibu
(Satgas IDAI, 2008).
Urutan pemberian jenis imunisasi, berapa kali harus diberikan serta
jumlah dosis yang dipakai juga sudah ditentukan sesuai dengan kebutuhan
tubuh bayi. Untuk jenis imunisasi yang harus diberikan lebih dari sekali
juga harus diperhatikan rentang waktu antara satu pemberian dengan
pemberian berikutnya.
34
Tabel 2. Jadwal Pemberian Pada Bayi dengan menggunakan Vaksin
DPT dan HB dalam Bentuk terpisah, menurut Frekuensi
dan Selang Waktu dan Umur Pemberian
Selang
Pemberian
Vaksin Waktu Umur Keterangan
Imunisasi
Pemberian
0-11
BCG 1x -
BLN Untuk bayi
2-11 yang lahir di
DPT 3x 4 Minggu
BLN rumah
4 x (DPT 0-11 sakit/puskesmas
POLIO 4 Minggu
1,2,3) BLN HEP-B, BCG
9-11 dan Polio dapat
CAMPAK 1x -
BLN segera
3 x (HEP-B 0-11 diberikan
HEP-B 4 Minggu
1,2,3) BLN
Sumber : Petunjuk Pelaksanaan Program Imunisasi, 2008
Dari tabel diatas, bahwa pemberian imunisasi pada bayi usia 0-11
bulan diberikan dengan selang waktu pemberian 4 minggu denga variasi
pemberian vaksin yang disesuaikan dengan kebutuhan bayi dan tentunya
sesuai dengan tingkat usia yang akan diberikan imunisasi.
Tabel 3. Sasaran Imunisasi Pada Bayi
Jenis Imunisasi Usia Pemberian Jenis Pemberian Umur
Hepatitis B 0-7 hari 1 -
BCG 1 bulan 1 -
POLIO/IPV 1,2,3,4 bulan 4 4 minggu
DPT-HB-Hib 2,3,4 bulan 3 4 minggu
Campak 9 bulan 1 -
Sumber : Dirjen PP dan PL Depkes RI, 2013
2.4 Tinjauan Umum Tentang Puskesmas
1. Definisi Puskesmas
Puskesmas adalah organisasi kesehatan terdepan yang mempunyai
misi sebagai pusat pengembangan pelayanan kesehatan secara menyeluruh
dan terpadu untuk masyarakat yang tinggal diwilayah kerja tertentu. Dalam
35
pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat,
Puskesmas mempunyai program berupa usaha-usaha pokok. Secara rinci,
Puskesmas sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan.
Puskesmas pada umumnya terdapat hanya ada satu buah disetiap kecamatan.
Jenis Puskesmas menurut pelayanan kesehatan medis dibagi menjadi dua
macam yaitu Puskesmas perawatan (pelayanan kesehatan rawat jalan dan
rawat inap) dan Puskesmas non perawatan (pelayanan kesehatan rawat jalan)
(Munijaya, 2004).
Pusat kesehatan masyarakat atau yang biasa disebut Puskesmas
merupakan salah satu pelaksana tekhnis dinas kesehatan kabupaten/kota.
Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan tingkat pertama dan terdepan
dalam sistem pelayanan kesehatan, harus melakukan upaya kesehatan wajib
dan beberapa upaya kesehatan pilihan yang disesuaikan dengan kondisi,
kebutuhan, tuntutan, kemampuan dan inovasi serta kebijakan pemerintah
daerah setempat (Depkes, 2010).
2. Asas dan Fungsi Puskesmas
Menurut Azwar (1997) secara sarana pelayanan kesehatan tingkat
pertama di Indonesia, pengelolaan program kerja Puskesmas berpedoman
pada 4 (empat) azas pokok yakni:
1) Asas pertanggung jawaban wilayah, yaitu melaksanakan pelayanan
kesehatan sesuai dengan batasan diwilayah kerjanya.
2) Asas peran serta masyarakat, yaitu mengupayakan pemberdayaan
masyarakat.
36
3) Asas keterpaduan,yaitu melakukan kerjasama program Puskesmas secara
terpadu.
4) Asas rujukan, yaitu memberikan rujukan terhadap kasus penyakit tingkat
lanjutan.
Menurut Kepmenkes No. 128 tahun 2004 Puskesmas memiliki fungsi:
1) Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan.
Puskesmas selalu berupaya menggerakkan dan memantau
penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat
dan dunia usaha di wilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta
mendukung pembangunan kesehatan. Di samping itu Puskesmas aktif
memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap
program pembangunan di wilayah kerjanya. Khusus untuk pembangunan
kesehatan, upaya yang dilakukan Puskesmas adalah mengutamakan
pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan
penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.
2) Pusat pemberdayaan masyarakat.
Puskesmas selalu berupaya agar perorangan terutama pemuka
masyarakat, keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki
kesadaran, kemauan, dan kemampuan melayani diri sendiri dan
masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam memperjuangkan
kepentingan kesehatan termasuk pembiayaannya, serta ikut menetapkan,
menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan.
Pemberdayaan perorangan, keluarga dan masyarakat ini diselenggarakan
37
dengan memperhatikan kondisi dan situasi, khususnya sosial budaya
masyarakat setempat.
3) Pusat pelayanan kesehatan strata pertama.
Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan
kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan
berkesinambungan. Pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menjadi
tanggung jawab Puskesmas meliputi:
a) Pelayanan kesehatan perorangan
Pelayanan kesehatan perorangan adalah pelayanan yang bersifat
pribadi (private goods) dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit
dan pemulihan kesehatan perorangan, tanpa mengabaikan pemeliharaan
kesehatan dan pencegahan penyakit. Pelayanan perorangan tersebut
adalah rawat jalan dan untuk Puskesmas tertentu ditambah dengan rawat
inap.
b) Pelayanan kesehatan masyarakat
Pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan yang bersifat
publik (public goods) dengan tujuan utama memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan
penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pelayanan kesehatan
masyarakat tersebut antara lain promosi kesehatan, pemberantasan
penyakit, penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan
keluarga, keluarga berencana, kesehatan jiwa serta berbagai program
kesehatan masyarakat lainnya.
38
2.5 Tinjauan Umum Tentang Penelitian Sebelumnya
1. Purdiyanto (2016)
Penelitian ini berjudul Hubungan Status Gizi, pengetahuan orang tua dan
perilaku hygiene dengan kejadian diare pada balita di RSUD H. Hanafie
muara bungo. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan
menggunakan metode cross sectional yaitu penelitian potong silang yang
bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen
(kejadian diare) dengan variabel dependen (pengetahuan orangtua, status
gizi, dan perilaku hygiene) pada waktu bersamaan. Hasil penelitian
dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik chi-
square. Dari 81 responden sebagian (51,9%) responden mengalami diare,
sebagian (54,3%) status gizi responden masih kurang, sebagian (48,1%)
pengetahuan orang tua yang rendah tentang diare, dan sebagian (60,5%)
responden mempunyai perilaku hygiene kurang baik. Ada hubungan yang
bermakna (p < 0,05) antara status gizi ( p-value = 0,036), pengetahuan (p-
value = 0,001), dan perilaku hygiene (0,000) dengan kejadian diare.
2. Meri Lidiawati (2016)
Penelitian ini berjudul Hubungan Sanitasi Lingkungan Dengan Angka
Kejadian Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Meuraxa Tahun
2016. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan
antara sanitasi lingkungan dengan angka kejadian diare pada Balita di
Wilayah kerja Puskesmas Meuraxa. Jenis penelitian ini adalah penelitian
deskriptif analitik dengan pendekatan case control, Populasi dalam
39
penelitian ini adalah seluruh balita yang menderita diare yang bertempat
tinggal di wilayah kerja Puskesmas Meuraxa yaitu sebanyak 142 balita.
Sampel diambil secara Simple Random Sampling sebanyak 59 balita.
Untuk melihat hubungan menggunakan uji chi [Link] penelitian
diketahui bahwa ada hubungan yang bermakna antara penyediaan air
bersih, penggunaan jamban, dan pembungan sampah dengan angka
kejadian diare pada balita (p value < 0,005). Di sarankan bagi Puskesmas
Meuraxa agar meningkatkan penyuluhan tentang bahaya dan cara
pencegahan penyakit diare dan bagi peneliti lain dapat melakukan
penelitian lanjutkan dengan menambah faktor-faktor lain di luar penelitian
ini seperti faktor sosial ekonomi, faktor perilaku dan status gizi.
3. Frisca Dewi Yunadi, Tri Budiarti (2017)
Penelitian ini berjudul Hubungan Usia Dan Status Gizi Dengan Derajat
Dehidrasi Diare Pada Balita. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
hubungan antara usia dan status gizi dengan derajat dehidrasi diare pada
balita di RSUD Cilacap tahun 2016. Metode penelitian ini adalah
observasional analitik dengan menggunakan metode cross sectional.
Subyek penelitian ini adalah 88 balita diare yang berumur 1-5 tahun
RSUD Cilacap. Instrumen penelitian ini menggunakan ceklist dari rekam
medis di RSUD Cilacap. Berdasarkan hasil uji statistik chi square
menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna usia dengan derajat
dehidrasi diare pada balita di RSUD Cilacap tahun 2016 (p = 0,341 < α =
0,05). Selain itu penelitian ini juga tidak ada hubungan yang bermakna
40
antara status gizi dengan derajat dehidrasi diare pada balita di RSUD
Cilacap tahun 2016 (p = 0,409 < α = 0,05).
4. Sri Kurniawati, Santi Martini (2016)
Penelitian ini berjudul Status Gizi Dan Status Imunisasi Campak
Berhubungan Dengan Diare Akut. Tujuan: Menganalisis hubungan berat
lahir, status gizi, status imunisasi campak, pola menyusui, pengetahuan
ibu, dan kebiasaan ibu mencuci tangan dengan kejadian diare akut pada
balita di Puskesmas Pacar Keling Surabaya. Metode: Desain penelitian
case control study dengan menggunakan 152 sampel (76 kasus: 76
kontrol). Teknik sampling menggunakan simple random sampling.
Analisis data bivariat dengan regresi logistik. Hasil: Kejadian diare
berhubungan dengan status gizi berdasarkan BB/U p=<0.000 (OR=4,304,
CI95%:1.917-9,663), status gizi berdasarkan PB/U p=<0.001 (OR=4,093,
CI95%: 1.904-8,800), status imunisasi campak =0.016 (OR=12,692,
CI95%:1.595-100.97), pola menyusui p=<0.001 (OR=3.909,
CI95%:1.962-7.789), pengetahuan ibu p=<0.001 (OR=5.675,
CI95%:2.825-11.400). Simpulan dan saran: Faktor yang mempengaruhi
kejadian diare adalah status gizi (BB/U dan PB/U), status imunisasi, pola
menyusui, dan pengetahuan ibu. Perlunya penelitian lanjutan
menggunakan sampel berdasarkan population based.
5. Sitti Nurbaya (2018)
Penelitian ini berjudul Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Diare Pada
Balita Umur 3-5 Tahun Di Rumah Sakit TK II Pelamonia Makassar.
41
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status gizi
dengan kejadian diare pada balita umur 3-5 tahun di Rumah Sakit TK II
Pelamonia Makassar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian
survey analitik dengan pendekatan cross sectional study yang dilaksanakan
di Rumah Sakit TK II Pelamonia Makassar pada tanggal 5 Februari sampai
13 Februari 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah semua anak yang
dirawat di Rumah Sakit TK II Pelamonia Makassar sebanyak 30 anak.
Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling dengan
jumlah sampel sebanyak 30 balita. Hasil penelitian ini menunjukkan
hubungan status gizi (p=0,008) dengan kejadian diare pada balita umur 3-5
tahun. Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan status gizi dengan
kejadian diare pada balita umur 3-5 tahun di Rumah Sakit TK II Pelamonia
Makassar. Diharapkan kepada instansi setempat agar memberikan
penyuluhan kesehatan pada ibu dan keluarga untuk meningkatkan asupan
gizi sejak periode prenatal sampai 2 tahun kehidupan anak agar status gizi
tidak lagi menjadi masalah yang dapat menyebabkan diare.
6. Herlina (2014)
Penelitian ini berjudul Faktor-Faktor yang berhubungan dengan kejadian
diare pada Balita di Puskesmas Jatidatar Kec. Bandar Mataram Kab.
Lampung Tengah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor
yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas
Jatidatar Kecamatan Bandar Mataram Kabupaten Lampung Tengah. Jenis
penelitian analitik dengan rancangan croos sectional. Populasi penelitian
42
adalah seluruh balita yang melakukan kunjungan ke puskesmas Jatidatar
sebanyak 634 dan sampel sebanyak 105 responden dengan menggunakan
tehnik kuota sampling. Hasil uji statistik ada hubungan antara usia (p
value: 0,000), pemberian ASI Eksklusif (p value: 0,001), status gizi (p
value: 0,000), pemberian Vitamin A (p value: 0,001) dengan kejadian
diare pada balita. Kesimpulan penelitian bahwa terdapat hubungan antara
usia, ASI eksklsuif, status gizi dan vitamin A dengan kejadian diare pada
balita. Perlu upaya peningkatan cakupan ASI Eksklusif, serta
meningkatkan penyuluhan mengenai dampak dari penyakit diare.
7. Minanda Oktariza, Suhartono, Dharminto (2018)
Penelitian ini berjudul Gambaran Kondisi Sanitasi Lingkungan Rumah
Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Buayan
Kabupaten Kebumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
Hubungan Kondisi Sanitasi Lingkungan Rumah dengan Kejadian Diare
pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Buayan Kabupaten Kebumen.
Hasil Penelitian ini adalah Ada hubungan antara penyediaan air bersih
dengan kejadian diare pada balita (p value = 0,037), ada hubungan antara
kondisi jamban dengan kejadian diare pada balita (p value =0,015), dan
ada hubungan antara kondisi SPAL dengan kejadian diare pada balita (p
value =0,012). Tidak ada hubungan antara sumber air minum dengan
kejadian diare pada balita (p value = 0,919), dan tidak ada hubungan antara
kondisi tempat pembuangan sampah dengan kejadian diare (p value =
0,060) di wilayah kerja Puskesmas Buayan Kabupaten Kebumen.
43
2.6 Kerangka Teori
Berdasarkan Tinjauan Pustaka diatas maka dapat dilihat pada
gambar dibawah ini mengenai kerangka teori penelitian :
Umur
Jenis Kelamin
Pekerjaan
Perilaku Ibu
Tingkat
Pengetahuan Kejadian
Tingkat Kontaminasi Infeksi Virus,
Bakteri dan Diare Pada
Pendidikan Makanan Balita
Pendapatan Parasit
Keluarga
Sanitasi Lingkungan
Sumber Air Bersih Status Gizi
Kondisi Jamban Status Imunisasi
Kondisi Tempat Sampah ASI Ekslusif
Kondisi Saluran
Pembuangan Air Limbah
Gambar 2.6.1 Kerangka teori
Sumber : Modifikasi Widoyono (2008), Suharyono 2008), Kemenkes RI (2014),
Dewi (2014)
44
2.7 Kerangka Konsep
Sumber Air Bersih
Perilaku Ibu
Kejadian Penyakit
Diare
Status Gizi Balita
Status Imunisasi
Gambar 2.7.1 Kerangka Konsep
Keterangan :
= Variabel Independent
= Variabel Independent
45
2.8 Hipotesis Penelitian
1. H0 : Tidak ada hubungan sumber air bersih dengan Kejadian Penyakit
Diare pada balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas
Lohia Kabupaten Muna Tahun 2019.
Ha : Ada hubungan sumber air bersih dengan Kejadian Penyakit Diare
pada balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia
Kabupaten Muna Tahun 2019.
2. H0 : Tidak ada hubungan Perilaku Ibu dengan Kejadian Penyakit Diare
pada balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia
Kabupaten Muna Tahun 2019.
Ha : Ada hubungan Perilaku Ibu dengan Kejadian Penyakit Diare pada
balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia
Kabupaten Muna Tahun 2019.
3. H0 : Tidak ada hubungan status gizi balita dengan Kejadian Penyakit
Diare pada balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas
Lohia Kabupaten Muna Tahun 2019.
Ha : Ada hubungan status gizi balita dengan Kejadian Penyakit Diare
pada balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia
Kabupaten Muna Tahun 2019.
4. H0 : Tidak ada hubungan status imunisasi campak dengan Kejadian
Penyakit Diare pada balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja
Puskesmas Lohia Kabupaten Muna Tahun 2019.
46
Ha : Ada hubungan status imunisasi campak dengan Kejadian Penyakit
Diare pada balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas
Lohia Kabupaten Muna Tahun 2019.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan waktu
pengambilan data secara cross sectional. Faktor yang berhubungan kejadian
diare pada balita yang meliputi: sumber air bersih, perilaku ibu, status gizi
balita,imunisasi campak,dan kejadian diare pada balita di wilayah kerja
Puskesmas Lohia Kabupaten Muna (Notoatmodjo, 2012).
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi
Penelitian ini akan dilaksanakan di Wilayah Kerja PuskesmasLohia
Kabupaten Muna.
2. Waktu
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan April Tahun 2019
3.3 Populasi dan Sampul
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua balita berusia 12-59 bulan
yang tercatat pada buku register di Puskesmas Lohia pada tahun 2018.
Responden dalam penelitian ini adalah ibu balita. Jumlah populasi dalam
penelitian ini adalah 874 serta populasi.
2. Sampel
Sampel adalah adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan cara
tertentu hingga dianggap dapat mewakili populasi tersebut. Untuk
47
48
menentukan jumlah sampel pekerja yang diperlukan untuk penelitian ini
dapat ditentukan berdasarkan rumus sebagai berikut:
N Z 21−α / 2 P(1−P)
n=
( N −1 ) d 2+ Z 2 α P(1−P)
1−
2
Keterangan:
n : besar sampel minimum
N : besar populasi (N=874)
Z1-α/2 : nilai sebaran normal baku, Jika Tingkat Kepercayaan 90 %
(1,64)
P : proporsi pada populasi (0,5)
d : besar penyimpangan (absolut) yang bisa diterima (0,1)
874 x 1 ,64 2 x 0,5(1−0,5)
n=
( 874−1 ) x 0,12+1 , 64 2 x 0,5(1−0,5)
874 x 2,6896 x 0,5 x 0,5
n=
873 x 0,01+2,6896 x 0,5 x 0,5
587,67
n=
9 , 40
=62,5
= 63 orang (pembulatan).
Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Simple
Random Sampling yaitu responden yang dijadikan sampel telah
dipertimbangkan oleh peneliti sendiri yang ada atau tersedia sesuai dengan
konteks penelitian (Notoatmodjo2012).
49
3.4 Kriteria Sampel
1. Kriteria Inklusi
a. Balita berusia 12-59 bulan.
b. Balita yang memenuhi persyaratan yaitu KMS balita ada, tidak dalam
kondisi sakit, dan responden sedang berada dalam rumah.
c. Responden yaitu ibu balita bersedia dilibatkan dalam penelitian dengan
mendatangi informed consent.
2. Kriteria Ekslusi
a. Tidak Bersedia untuk dijadikan Sampel Penelitian
3.5 Variabel penelitian
1. Variabel Bebas (Independent variable)
Variabel bebas (independent) merupakan variabel yang
mempengaruhi variabel lain atau menghasilkan akibat pada variabel lain.
Variabel independent dalam penelitian ini adalah sumber air bersih, perilaku
ibu, status gizi balita, dan status imunisasi campak.
2. Variabel terikat (dependent variable)
Variabel terikat (dependent) merupakan variabel yang diakibatkan
atau dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel dependent dalam penelitian
ini adalah kejadian penyakit Diare pada Balita.
50
3.6 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
1. Kejadian Penyakit Diare
a. Definisi Operasional
Kejadian Penyakit Diare adalah Penyakit yang terjadi pada balita yang
ditandai dengan buang air besar dengan frekuensi yang lebih sering dari
biasanya (biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari) dengan konsistensi tinja
lembek/cair bahkan dapat berupa air saja selama 3 bulan terakhir. (Kemenkes
RI, 2014).
b. Kriteria objektif :
Menderita : Jika Balita mengalami Gejala buang air besar 3 kali
atau lebih dalam sehari selama 3 bulan terakhir
Tidak Menderita : Jika Balita tidak mengalami Gejala buangair besar 3
kali atau lebih dalam sehari selama 3 bulan terakhir
2. Sumber Air Bersih
a. Definisi Operasional
Sumber Air Bersih adalah Sumber air yang digunakan oleh keluarga
dalam memenuhi kehidupan keluarga seperti air minum, mandi, memasak,
mencuci dan sebagainya serta memenuhi syarat.
b. Kriteria objektif :
Tidak memenuhi syarat : Jika menggunakan air sungai, sumur atau
mata air yang tidak terlindung, serta air
hujan.(jarak < 10 m dengan sumber
51
pencemaran, disimpan dalam wadah
terbuka, tidak jernih, berasa).
Memenuhi syarat : Jikamenggunakan air PDAM,air kemasan,
air sumur ataumata air yang
terlindung(jarak > 10 m dengan sumber
pencemaran, disimpan dalam wadah
tertutup, jernih, dan tanpa rasa).
3. Perilaku Ibu
a. Definisi Operasional
Perilaku ibu adalah Kebiasaan ibu dalam pencegahan diare termasuk
kebiasaan mencuci tangan dengan menggunakan air dan sabun, serta
perilaku membersihkan peralatan makan dan minum. Dalam hal ini
perilaku yang dimaksud dalam penelitian ini mencakup :
1) Pengetahuan
Pengetahuan adalah Segala sesuatu yang diketahui ibu tentang
pengertian diare, penyebab, tanda dan gejala, komplikasi diare serta
cara penanggulangan dan pencegahan terjadinya diare.
2) Sikap
Sikap ibu adalah kumpulan perasaan, keyakinan dan kecenderungan
perilaku ibu untuk mencegah terjadinya diare pada balitanya
3) Perilaku Pencegahan Diare
Perilaku Pencegahan adalah aksi yang dilakukan seorang ibu dalam
pencegahan penyakit diare pada balitanya.
52
b. Kriteria Objektif
Kriteria objektif didasarkan atas jumlah pertanyaan yang diberi skor
yang mengacu pada skala Guttman, bila jawaban Ya diberi nilai 1, dan bila
jawaban tidak diberi nilai 0, sehingga diperoleh skor nilai :
Skor tertinggi : 18 x 1 = 18 (100%)
Skor terendah : 0 x 18 = 0 (0%)
Diukur dengan menggunakan rumus Sugiyono (2006)
R
I=
K
I = Interval Kelas
R = Range (Kisaran yaitu nilai tertinggi – nilai terendah)
= (100% - 0% = 100%)
K = Jumlah Kategori = 2
R 100 %
Jadi, I = = =¿ 50%
K 2
Baik : Jika total skor responden ≥ 50%
Tidak Baik : Jika total skor respoden < 50%
4. Status Gizi Balita
a. Definisi Operasional
Status Gizi Balita umur 12 – 59 bulan adalah keadaan yang
dihasilkan dari keseimbangan intake dan output yang diperoleh dari berat
badan dibagi umur sesuai dengan KMS berdasarkan standar WHO-NCHS.
b. Kriteria objektif :
Gizi Kurang : Nilai Z-score berdasarkanBB/U< -2,0 SD
53
Gizi Baik : Nilai Z-score berdasarkanBB/U> -2,0 SD
5. Status Imunisasi Dasar
a. Definisi Operasional
Status Imunisasi adalah proses menginduksi imunitas secara buatan
baik dengan vaksinasi (imunisasi aktif) maupun dengan pemberian
antibodi (imunisasi pasif). Status Imunisasi Dasar Lengkap adalah Suatu
usaha pemberian kekebalan pada bayi dan anak usia 0 – 9 bulan sehingga
bayi dan anak dapat tumbuh sehat
b. Kriteria objektif
Imunisasi Campak : Bila mendapat imunisasi campak waktu
berumur 9 – 11 bulan berdasarkan buku
KMS
Tidak Imunisasi Campak : Bila tidak mendapat imunisasi campak
waktu berumur 9 – 11 bulan berdasarkan
buku KMS(Buku Ajar Imunisasi, 2015)
3.7 Prosedur Pengumpulan Data
1. Data primer
Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data
kepada pengumpul. Data primer berupa Data yang diperoleh melalui
metode kuesioner pada ibu yang memiliki balita di wilayah kerja
Puskesmas Lohia Kabupaten Muna
2. Data sekunder
54
Data sekunder adalah data yang dikumpulkan oleh peneliti yang
didapat dari orang lain atau data yang diperoleh secara tidak langsung
(Notoatmojo, 2012). Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari data
Profil Kesehatan Puskesmas Lohia Kabupaten Muna
3.8 Pengolahan, Analisis dan Penyajian Data
1. Pengolahan Data
Pengolahan data merupakan salah satu bagian rangkaian penelitian
setelah kegiatan pengumpulan [Link] yang diperoleh dari hasil
pengamatan langsung di lapangan dengan menggunakan kuisioner, diolah
dengan menggunakan kalkulator dan computer kemudian disajikan dalam
bentuk table disertai penjelasan agar memudahkan dalam analisis. Ada
empat tahapan dalam pengelolaan data yang harus dilalui, yaitu :
a. Editing
Merupakan Kegiatan untuk melakukan pengecekan isian formulir
atau kuesioner apakah jawaban yang ada dikuesioner sudah :
1) Lengkap : Semua pertanyaan sudah terisi jawabannya.
2) Jelas : Jawaban pertanyaan apakah tulisannya cukup jelas
terbaca.
3) Relevan : Jawaban yang tertulis apakah relevan dengan
pertanyaan.
4) Konsisten : Apakah antara beberapa pertanyaan yang berkaitan
isi jawabannya konsisten.
b. Coding
55
Merupakan kegiatan mengubah data berbentuk huruf menjadi
data berbentuk angka/[Link] dari coding adalah untuk
mempermudah pada saat analisis data dan juga mempercepat pada saat
entri atau memasukkan data.
c. Processing
Setelah semua isian kuesioner terisi penuh dan benar, dan juga
sudah melewati pengkodean, maka langkah selanjutnya adalah
memproses data agar dapat dianalisis. Pemrosesan data dilakukan
dengan cara memasukkan data dari kuesioner ke paket program
komputer.
d. Cleaning
Merupakan kegiatan pengecekkan kembali data yang sudah di
masukkan apakah ada kesalahan data atau tidak (pembersihan
data).Kesalahan tersebut dimungkinkan terjadi pada saat kita
memasukkan data ke komputer.
2. Analisis Data
Analisa data dilakukan secara Analisis Univariat dan Analisis
Bivariat.
a. Data yang telah diolah dan dianalisis, disajikan dalam bentuk table
distribusi frekuensi disertai dengan penjelasan.
56
b. Analisi data untuk uji hipotesis menggunakan uji Chi-square dengan
tingkat signifikan (α =0,05). Uji ini digunakan untuk menguji hipotesis
kompratif dua sampel bebas bila data berbentuk ordinal.
Dengan menggunakan rumus :
2 (Oij−Eij)2
X =∑
Eij
Keterangan :
xX2 = nilai chi-kuadrat
N = jumlah sampel
Oij = nilai hasil observasi
Eij = nilai harapan
Dasar pengambilan keputusan penelitian hipotesis:
1. Ho diterima jika Zhitung ≤ Ztabel atau ρ value ≥ α= 0,05
2. Ho ditolak jika Zhitung > Ztabel atau ρ value < α= 0,05
Jika H0 (tidak ada hubungan ) ditolak menggunakan uji Chi Square
maka dilanjutkan uji keeratan hubungan.
0,76 - 1,00 : hubungan sangat kuat
0,51 - 0,75 : hubungan kuat
0,26 - 0,50 : hubungan sedang
0,01 - 0,25 : hubungan lemah
57
3. Penyajian Data
Data yang diolah kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi
dan di interpretasikan dalam bentuk narasi.
3.9 Jadwal Penelitian
TAHUN 2019
KEGIATA Januari Februari Maret April
No.
N I I
I III IV I II III IV I II III IV I III IV
I I
Studi
1
kepustakaan
Penyusunan
2
kepustakaan
Konsultasi
3
proposal
Seminar
4
proposal
Perbaikan
5
proposal
Pelaksanaan
6
penelitian
7 Analisis data
Konsultasi
8
hasil
Seminar
9
hasil
Perbaikan
10
hasil
11 Ujian skripsi
Perbaikan
12
skripsi