0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan57 halaman

Penyakit Diare pada Balita di Sulawesi

1. Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia termasuk di Provinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Muna. 2. Beberapa faktor penyebab diare pada balita antara lain pengetahuan dan perilaku ibu, sanitasi lingkungan, status gizi dan imunisasi balita. 3. Upaya pencegahan diare meliputi peningkatan cakupan imunisasi, sanitasi lingkungan, dan pengetahuan masyarakat tentang

Diunggah oleh

Iri Wa ode
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan57 halaman

Penyakit Diare pada Balita di Sulawesi

1. Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia termasuk di Provinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Muna. 2. Beberapa faktor penyebab diare pada balita antara lain pengetahuan dan perilaku ibu, sanitasi lingkungan, status gizi dan imunisasi balita. 3. Upaya pencegahan diare meliputi peningkatan cakupan imunisasi, sanitasi lingkungan, dan pengetahuan masyarakat tentang

Diunggah oleh

Iri Wa ode
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Secara global, ada hampir 1,7 miliar kasus penyakit diare pada anak

setiap tahun. Penyakit diare merupakan penyebab utama kematian anak dan

morbiditas di dunia, dan sebagian besar disebabkan oleh makanan dan

sumber air yang terkontaminasi. Di seluruh dunia, 780 juta orang kekurangan

akses terhadap air minum yang lebih baik dan 2,5 miliar kekurangan sanitasi

yang membaik. Diare akibat infeksi tersebar luas di seluruh negara

berkembang (WHO, 2017). Hasil laporan prevalensi diare anak usia di bawah

lima tahun di beberapa negara berkembang pada tahun 2015 yaitu di Filipina

14,6 %, Timor Leste 15,2%, Kamboja 14,6%, Peru 16 %, dan Kolombia 14,6

% ( Pinzón-Rondón, 2015)

Penyakit diare sampai kini masih menjadi masalah kesehatan

masyarakat, walaupun secara umum angka kesakitan masih berfluktuasi, dan

kematian diare yang dilaporkan oleh sarana pelayanan dan kader kesehatan

mengalami penurunan namun penyakit diare ini masih sering menimbulkan

KLB yang cukup banyak bahkan menimbulkan kematian. Jumlah penderita

KLB Diare pada tahun 2017 dari 12 Provinsi di Indonesia terdapat 21

kejadian serta jumlah kasus sebanyak 1.725 kasus dan kematian mencapai 34

kasus, CFR kejadian tahun 2017 sebesar 1,97 %. Insiden diare semua umur

secara nasional adalah 270/1.000 penduduk (Rapid Survey Diare tahun 2015)

(Kemenkes, 2018).

1
2

Target cakupan pelayanan penderita Diare semua umur (SU) yang

datang ke sarana kesehatan adalah 10% dari perkiraan jumlah penderita Diare

SU (Insidens Diare SU dikali jumlah penduduk di satu wilayah kerja dalam

waktu satu tahun). Tahun 2016 jumlah penderita diare SU yang dilayani di

sarana kesehatan sebanyak 3.176.079 penderita dan terjadi peningkatan pada

tahun 2017 yaitu menjadi 4.274.790 penderita atau 60,4% dari perkiraan

diare di sarana kesehatan (Kemenkes, 2018).

Penyakit diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga

merupakan potensial KLB yang sering mengakibatkan kematian, tidak

terkecuali di Provinsi Sulawesi tenggara. Jumlah kasus diare yang ditangani

pada tahun 2017 sebanyak 39.913 kasus atau sebanyak 53,72% dari perkiraan

kasus, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2016 sebanyak 35.864 kasus.

Pada tahun 2017 Insiden diare yang di diagnosis untuk balita di Provinsi

Sulawesi Tenggara cukup besar adalah 5,9 % (Dinkes Sultra, 2017).

Pada tahun 2017 Dinas Kesehatan Kabupaten Muna, Puskesmas

berjumlah 27, jumlah penduduk berjumlah 215.443 terdiri dari 103.663 laki-

laki dan 111.780 perempuan. Jumlah target penemuan kasus penyakit diare

sebesar 5.817 terdiri dari 2.799 laki-laki dan 3.018 perempuan. Jumlah kasus

diare yang ditangani 4.260 (73,23%) melebihi angka kasus penemuan

Provinsi yang terdiri dari 2.059 (73,56%) laki-laki dan 2.201 (72,93%)

perempuan (Dinas Kesehatan Kabupaten Muna, 2017). Jumlah kasus Diare

pada balita di wilayah kerja Puskesmas Lohia cenderung mengalami

penurunan dan peningkatan setiap bulannya. Jumlah kasus selama tahun 2018
3

sebanyak 179 kasus di wilayah kerja Puskesmas Lohia (Puskesmas Lohia,

2018).

Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya diare

pada balita yaitu : 1). kesadaran dan pengetahuan ibu, 2). ketersedian sumber

air bersih dan ketersediaan jamban keluarga, 3). Faktor hygine, lingkungan,

kesadaran orang tua balita untuk berperilaku hidup bersih dan sehat serta

pemberian ASI menjadi faktor yang penting dalam menurunkan angka

kesakitan diare pada balita (Kemenkes RI, 2011). Hal ini juga dikemukanan

oleh Suharyono (2008) bahwa kejadian diare dipengaruhi oleh Faktor gizi,

faktor makanan, faktor sosial ekonomi, dan faktor lingkungan. Kebersihan

makanan ditentukan dari kemampuan (perilaku) ibu dalam menerapkan

(PHBS) terhadap makanan dari proses persiapan, memasak hingga

menghidangkan makanan tersebut artinya bahwa PHBS disini adalah

bagaimana perilaku ibu mampu menerapkan hygine menyiapkan makanan.

Sanitasi berhubungan dengan kesehatan lingkungan yang

mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Buruknya kondisi sanitasi akan

berdampak negatif di banyak aspek kehidupan, mulai dari turunnya kualitas

lingkungan hidup masyarakat, tercemarnya sumber air minum bagi

masyarakat, meningkatnya jumlah kejadian diare dan munculnya beberapa

penyakit (Kemenkes, 2018). Berdasarkan profil puskesmas Lohia dan survei

awal yang telah dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Lohia, untuk sumber

Akses Air Minum yang diperiksa adalah sebanyak 1.630 KK, Ledeng

sebanyak 754 KK dan PAH sebanyak 770 KK.


4

Untuk faktor penyebab dilakukan berbagai upaya agar

mikroorganisme penyebab diare dihilangkan. Peningkatan air bersih dan

sanitasi lingkungan, perbaikan lingkungan biologis dilakukan untuk

memodifikasi pejamu maka dapat dilakukan peningkatan status gizi dan

pemberian imunisasi (Lestari, 2016).

Untuk kasus diare pada balita, perilaku orang dewasa yang menangani

makanan merupakan salah satu faktor penting. Beberapa faktor yang dapat

mempengaruhi terjadinya diare terutama pada bayi adalah faktor infeksi

(enteral, parenteral), faktor malabsorbsi, faktor makanan, faktor sosial

ekonomi, dan faktor lingkungan, jika hal ini terjadi di masyarakat maka akan

meningkatkan terjadinya diare pada balita (Purdiyanto, 2016).

Ibu merupakan orang yang paling dekat dengan anak dan mempunyai

peran penting dalam menjaga dan memelihara kesehatan anak. Kemampuan

ibu sangat menentukan keselamatan anak yang mengalami diare mulai dari

mengenali apa itu diare, tanda gejala diare, penyebab, dampak / komplikasi

yang muncul akibat diare, serta upaya melakukan pertolongan pertama untuk

mencegah terjadinya dehidrasi serta perawatan sebelum mendapat

pengobatan lanjutan dari tenaga kesehatan. Kemampuan ibu dinilai pada

aspek pengetahuan dan perilaku ibu dalam penanganan terhadap penyakit

diare (Maidartati, 2017).

Status gizi pada anak sangat berpengaruh terhadap kejadian diare.

Pada anak yang menderita kurang gizi dan gizi buruk mengakibatkan episode

diare akutnya menjadi lebih berat dan 3 mengakibatkan diare yang lebih lama
5

dan sering. Hubungan diare dan malnutrisi, adalah dua arah. Infeksi

mengubah status nutrisi melalui penurunan asupan makanan dan absorpsi

usus, peningkatan katabolisme, dan sekuestrasi nutrisi yang diperlukan untuk

sintesa jaringan dan pertumbuhan. Status gizi anak yang baik dapat

menghindarkan anak dari penyakit infeksi seperti diare (Yunadi, F, D. Tri,

2016).

Status Imunisasi dapat menurunkan kejadian penyakit diare. Tujuan

diberikan imunisasi adalah untuk membentuk kekebalan tubuh anak agar

mampu melawan berbagai gangguan bakteri dan virus yang ada di sekeliling

tempat hidupnya. Jadi dengan imunisasi, tubuh anak akan bereaksi dan anti

bodinya meningkat untuk melawan antigen yang masuk termasuk kuman

penyebab diare (Kurniawati & Martini, 2016).

Di Puskesmas Lohia selama periode 2018 yang mendapatkan

imunisasi dasar lengkap belum mencapai target sebesar 100% dengan

cakupan imunisasi sebagai berikut: Cakupan Imunisasi dari sasaran 132 balita

yang mendapat cakupan imunisasi BCG sebanyak 121 (95%), DPT/HB-Hib

(3) sebanyak 103 (82%), Polio IV sebanyak 98 (76%), dan Imunisasi Campak

sebanyak 93 (76%) (Puskesmas Lohia, 2018).

Diare sering timbul menyertai campak sehingga pemberian imunisasi

juga dapat mencegah diare. Untuk itu anak harus segera diberi imunisasi

lengkap ketika berumur 9 bulan sampai anak berusia 1 tahun. Berdasarkan

penelitian Azizah (2015) bahwa Anak yang mendapatkan imunisasi lengkap

beresiko lebih kecil terkena diare dibandingkan dengan anak yang tidak
6

mendapatkan imunisasi lengkap (OR=0,732) yang artinya bayi yang tidak

mendapatkan imunisasi lengkap berpeluang menderita diare 4 kali lebih besar

dibandingkan yang mendapatkan imunisasi tidak lengkap (Azizah, 2015).

Berdasarkan survey pendahuluan di puskesmas Lohia bahwa kondisi

pelayanan kesehatan di wilayah kerja puskesmas lohia masih mengandalkan

pengalaman orang tua terdahulu dalam menangani kondisi kesehatan yang

terjadi pada balita. Masih banyak ibu balita yang tidak melengkapi status

imunisasi pada balita karena adanya kecemasan dari efek samping setelah

diimunisasi, maka dari itu ibu dari balita khawatir apabila dilanjutkan

imunisasi. Pengetahuan dan perilaku ibu balita masih mengandalkan dengan

konsultasi dukun beranak dan pengalaman orang tua yang telah lampau (adat

istiadat) sehingga ketika balita mengalami penyakit atau diare

penanganannya masih mendapatkan pelayanan secara tradisional tanpa

mengandalkan pelayanan kesehatan dari pihak puskesmas setempat.

Sehingga ibu balita masih sangat awam dengan kondisi penyakit yang terjadi

pada balita, karena kurangnya pendidikan dan pelayanan promosi kesehatan

masyarakat.

Di wilayah kerja puskesmas lohia masih banyak yang menggunakan

air hujan sebagai pemenuhan kebutuhan air bersih sehari harinya, sehingga

tidak memenuhi syarat standar air bersih. Penggunaan Air PDAM di wilayah

kecamatan Lohia tidak memadai sehingga penyaluran air bersih dari PDAM

tidak lancar bahkan sering macet alirannya dalam seminggu, ini yang

menyebabkan maysarakat wilayah kecamatan Lohia masih banyak


7

menggunakan Penampungan Air Hujan untuk pemenuhan kebutuhan air

bersih

Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk melihat

Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare Pada Balita Umur 12 – 59

Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia Kabupaten Muna Tahun 2019.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah penelitian ini

“Faktor Apa Saja Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare Pada Balita

Umur 12 – 59 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia Kabupaten Muna

Tahun 2019 ?”

1.3 TujuanPenelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare

Pada Balita Umur 12 – 59 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia

Kabupaten Muna Tahun 2019

2. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :

a. Untuk mengetahui hubungan sumber air bersih dengan kejadian diare

pada balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia

Kabupaten Muna Tahun 2019

b. Untuk mengetahui hubungan perilaku ibu dengan kejadian diare pada

balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia

Kabupaten Muna Tahun 2019


8

c. Untuk mengetahui hubungan status gizi balita dengan kejadian diare pada

balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia

Kabupaten Muna Tahun 2019

d. Untuk mengetahui hubungan status imunisasi pada balita dengan

kejadian diare pada balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja

Puskesmas Lohia Kabupaten Muna Tahun 2019

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

a. Sebagai tambahan pengalaman, wawasan serta pengetahuan penulis

tentang Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare Pada Balita

Umur 12 – 59 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia Kabupaten

Muna Tahun 2019

b. Penelitian ini bermanfaat sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh

gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Halu Oleo

2. Bagi Mahasiswa

Manambahakan informasi sehingga meningkatkan pengetahuan serta

pemahaman kepada masyarakat khususnya ibu-ibu balita agar lebih

mengerti dan memperhatikan kecukupan gizi balita agar selalu dalam

kondisi gizi baik dan terjaga kesehatannya.

3. Bagi Institusi Kesehatan

Sebagai informasi dan masukan bagi institusi kesehatan yang terkait

dengan pengambilan keputusan, penetapan kebijakan dan perencanaan


9

program kesehatan serta penanggulangan gizi kurang dan meningkatkan

status gizi baik pada balita.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian / Batasan Penelitian

Ruang Lingkup dalam penelitian ini adalah Faktor Yang Berhubungan

Dengan Kejadian Diare Pada Balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja

Puskesmas Lohia Kabupaten Muna Tahun 2019. Penelitian ini dilakukan di

Wilayah Kerja Puskesmas Lohia Kabupaten Muna. Variabel Bebas adalah

sumber air bersih, perilaku ibu, status gizi balita, status imunisasi Campak

dan variabel terikat adalah Kejadian Penyakit Diare Pada Balita. Ruang

lingkup lokasi penelitian hanya terbatas pada balita yang berumur 12-59

bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia Kabupaten Muna Tahun 2019 yang

memenuhi kriteria sebagai sampel penelitian.

1.6 Daftar Istilah / Glosarium

1. Mortalitas Ukuran jumlah kematian (umumnya, atau


karena akibat yang spesifik) pada suatu
populasi, skala besar suatu populasi, per dikali
satuan.
2. Morbiditas Angka kesakitan dari penyakit
3. SKD-KLB Sistem Kewaspadaan Dini-Kejadian Luar Biasa

4. STBM Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

5 PAH Penampungan Air Hujan

6. KMS Kartu Menuju Sehat

1.7 Organisasi/Sistematika
10

Penelitian ini berjudul Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare

Pada Balita Umur 12 – 59 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia

Kabupaten Muna Tahun 2019 yang dibimbing oleh pembimbing I Ibu Dr.

Asnia Zainuddin, [Link] dan pembimbing II Hilda Harum, [Link]., [Link].


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Tentang Diare

1. Pengertian Diare

Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang

terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk

tinja yang encer atau cair. Diare dikatakan sebagai keluarnya tinja berbentuk

cair sebanyak tiga kali atau lebih dalam dua puluh jam pertama, dengan

temperatur rectal diatas 38o C dan muntah. Sedangkan menurut Widoyono

(2008), diare adalah berak-berak yang lebih sering dari biasanya (3 x atau

lebih dalam sehari) dan berbentuk encer, bahkan dapat berupa seperti air saja,

kadang-kadang juga disertai dengan muntah, panas dan lain-lain (Suriadi,dan

Rita Yuliani,2010).

2. Klasifikasi Diare

Jenis diare dibagi menjadi empat yaitu : (Depkes RI,2010).

a. Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya

kurang dari 7 hari). Akibat diare akut adalah dehidrasi, sedangkan

dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare.

b. Disentri, yatu diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat disentri

adalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat, kemungkinan

terjadinya komplikasi pada mukosa.

11
12

c. Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara

terus menerus. Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan

gangguan metabolisme.

d. Diare dengan masalah lain, yaitu anak yang menderta diare (diare akut dan

diare persisten), mungkin juga disertai dengan penyakit lain, seperti

emam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.

Menurut Ellis dan Mitchell dalam Suharyono (2008), membagi diare

berdasarkan lamanya diare atas:

a. Diare akut atau diare karena infeksi usus yang bersifat mendadak. Diare

karena infeksi usus dapat terjadi pada setiap umur.

b. Diare kronik yang umumnya bersifat menahun; diantara diare akut dan

kronik disebut diare subakut.

3. Penyebab Diare

Penyebab diare diantaranya adalah:

a. Faktor infeksi

1. Infeksi eksternal adalah infeksi saluran pencernaan makanan yaitu :

infeksi bakteri ([Link], Vibrio, Salmonella), infeksi virus (Rotavirus,

Adenovirus, Norwalk) dan infeksi parasit (protozoa, cacing, jamur).

2. Infeksi parenteral adalah infeksi di luar alat pencernaan makanan yaitu :

Bronkopnemonia, Tonsilitis, dan Ensefalitis.

b. Faktor malabsorpsi

1. Malabsorpsi karbohidrat yaitu terganggunya sistem pencernaan yang

berpengaruh pada penyerapan karbohidrat dalam tubuh.


13

2. Malabsorpsi lemak yaitu terganggunya penyerapan lemak dalam tubuh.

3. Malabsorpsi protein yaitu terganggunya penyerapan protein dalam

tubuh.

c. Faktor makanan

1. Makanan basi, misalnya sisa makanan yang telah menjamur.

2. Makanan beracun yaitu terkontaminasi dengan makanan lain.

3. Alergi terhadap makanan, misalnya tidak tahan dengan jenis makanan

tertentu.

d. Faktor psikologis

Rasa takut dan cemas (jarang terjadi pada anak yang lebih besar).

(Suharyono,2008).

4. Gejala Diare

Gejala diare pada balita yaitu: Frekuensi buang air besar 4x atau lebih

dalam sehari ; Tinja encer, berlendir ata berdarah; Tinja berawana kehijau-

hijauan; Muntah; Lesu; Suhu badan meninggi atau demam; Tidak nafsu

makan; Sakit dan kejang perut; Dehidrasi (Indriasari,2009).

5. Epidemiologi Diare

Penyakit diare lebih banyak menyerang balita dan anak pada daerah

endemis, sedangkan pada waktu terjadinya kejadian luar biasa (KLB) dapat

menyerang semua golongan umur. Dari keseluruhan kejadian diare di

Kabupaten Karanganyar sebagian besar penderitanya adalah anak usia 5-15

tahun sebesar 43,64 % (Winanti, 2016).


14

Penyebaran diare di suatu tempat dangan tempat lainnya berbeda.

Perbedaan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yang dapat

mempengaruhi kejadian diare seperti keadaan geografis, aktifitas penduduk,

kepadatan penduduk, dan pelayanan kesehatan. Frekuensi kejadian dan

penyebaran diare memiliki pola waktu tertentu, variasi kejadian diare

tersebut berbeda antara daerah satu dengan yang lainnya tergantung kondisi

cuaca. Menurut Kementrian Kesehatan RI (2011) Peningkatan kunjungan ke

rumah sakit dan puskesmas karena kasus diare di Indonesia terjadi pada

musim hujan, yaitu September- Januari.

6. Penularan Penyakit Diare

Penyakit diare sebagian besar disebabkan oleh kuman seperti virus dan

bakteri. Penularan penyakit diare melalui fecal oral terjadi sebagai berikut:

1. Melalui air yang merupakan media penularan utama Diare dapat terjadi

apabila seseorang menggunakan air minum yang sudah tercemar, baik

tercemar dari sumbernya, tercemar selama perjalanan sampai kerumah-

rumah atau tercemar pada saat tersimpan dirumah. Pencemaran di rumah

terjadi apabila tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan yang

tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat

penyimpanan.

Tinja yang sudah terinfeksi mengandung virus atau bakteri dalam

jumlah besar. Bila tinja tersebut dihinggapi oleh binatang dan kemudian

binatang tersebut hinggap ke makanan, maka makanan itu dapat

menularkan diare ke orang yang memakannya. (Widoyono, 2008).


15

7. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Diare

1. Status Gizi

Keberadaan status gizi sangat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh

manusia. Orang yang menderita gizi buruk atau gizi kurang akan lebih

muda terjangkit penyakit menular atau penyakit infeksi. Apabila gizi

kurang, zat gizi yang dibutuhkan tidak akan mencukupi, sehingga tubuh

akan mudah sakit. Selain itu, kurang gizi berpengaruh terhadap diare.

Semakin buruk gizi seseorang, semakin banyak episode diare yang

dialami.

2. Kondisi Lingkungan

Kondisi lingkungan yag buruk berpengaruh terhadap kejadian diare.

Peranan lingkungan, enterobakteri, parasit usus, virus, jamur dan beberapa

zat kimia telah secara klasik dibuktikan pada berbagai penyelidikan

epidemiologis sebagai penyebab penyakit diare.

3. Perilaku

Pada kasus penyakit diare biasanya selalu dihubungkan dengan aspek

personal hygiene. Karena penyakit diare merupakan penyakit saluran

pencernaan, yang penyebarannya lebih sering akibat konsumsi makanan

maupun minuman yang terkontaminasi, sehingga masyarakat dengan

kondisi personal hygiene yang buruk akan berpotensi terkena penyakit

diare.
16

4. Sosial Ekonomi

Faktor sosial ekonomi juga berpengaruh terhadap faktor-faktor penyebab

diare. Kebanyakan penderita diare berasal dari keluarga yang besar dengan

daya beli yang rendah, kondisi rumah yang buruk, tidak punya penyediaan

air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan, pendidikan orang tuanya

yang rendah dan sikap serta kebiasaan yang tidak menguntungkan. Karena

itu, edukasi dan perbaikan ekonomi sangat berperanan dalam pencegahan

dan penanggulangan diare.

8. Pencegahan Diare

Pencegahan diare yang benar dan efektif, antara lain:

a. Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai 2 tahun.

b. Memberikan makanan pendamping ASI sesuai umur.

c. Penggunaan air bersih yang cukup.

d. Kebiasaan cuci tangan dengan air sabun sebelum makan dan sesudah

buang air besar.

e. Penggunaan jamban yang benar.

f. Pembuangan kotoran yang tepat termasuk tinja anak-anak dan bayi yang

benar.

Memberikan imunisasi campak (Kemenkes RI, 2011).

9. Penyebaran kuman penyebab diare

Kuman penyebab diare menyebar melalui mulut (orofekal),

diantaranya melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh feses

dan/atau kontak langsung dengan feses penderita. Beberapa perilaku khusus


17

menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya

diare, yaitu:

1) Tidak memberi ASI eksklusif selama 4-6 bulan pertama kehidupan. Risiko

menderita diare berat beberapa kali lebih besar pada bayi yang tidak

mendapat ASI dibandingkan bayi yang mendapat ASI eksklusif. Risiko

kematian karena diare juga lebih besar.

2) Menggunakan botol susu yang tidak bersih Sewaktu susu dimasukan

kedalam botol yang tidak bersih, terjadi kontaminasi kuman dan bila tidak

segera diminum, kuman dapat berkembang baik di dalamnya.

3) Menyimpan makanan matang pada suhu kamar. Jika makanan disimpan

beberapa jam pada suhu kamar, kuman dapat berkembang biak di

dalamnya.

4) Menggunakan air minum tercemar bakteri yang berasal dari feses. Air

mungkin terpajan pada sumbernya atau pada saat disimpan dirumah.

5) Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar, sesudah membuang feses,

atau sebelum memasak makanan.

Membuang feses (termasuk feses bayi) dengan tidak benar (Sodikin,

2012).

2.2 Tinjauan Umum Tentang Balita

1. Definisi Balita

Balita merupakan anak yang berusia diatas satu tahun atau biasa juga

disebut dengan bayi di bawah lima tahun. Peraturan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia (2014) seorang anak dikatakan balita apabila anak berusia
18

12 bulan sampai dengan 59 bulan. Price dan Gwin (2014) mengatakan bahwa

seorang anak dari usia 1 sampai 3 tahun disebut batita atau toddler dan anak

usia 3 sampai 5 tahun disebut dengan usia pra sekolah atau preschool child.

Usia balita merupakan sebuah periode penting dalam proses pertumbuhan dan

perkembangan seorang anak.

Balita merupakan usia dimana anak mengalami pertumbuhan dan

perkembangan yang pesat. Proses pertumbuhan dan perkembangan setiap

individu berbeda-beda, bisa cepat maupun lambat tergantung dari beberapa

faktor diantaranya herediter, lingkungan, budaya dalam lingkungan, sosial

ekonomi, iklim atau cuaca, nutrisi dan lain-lain (Kemenkes RI,2011).

2. Karakteristik Balita

Karakteristik balita dibagi menjadi dua yaitu:

1) Anak usia 1-3 tahun

Usia 1-3 tahun merupakan konsumen pasif artinya anak menerima

makanan yang disediakan orang tuanya. Laju pertumbuhan usia balita

lebih besar dari usia prasekolah, sehingga diperlukan jumlah makanan

yang relatif besar. Perut yang lebih kecil menyebabkan jumlah makanan

yang mampu diterimanya dalam sekali makan lebih kecil bila

dibandingkan dengan anak yang usianya lebih besar oleh sebab itu, pola

makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan frekuensi sering.

2) Anak usia prasekolah (3-5 tahun)

Usia 3-5 tahun anak menjadi konsumen aktif. Anak sudah mulai

memilih makanan yang disukainya. Pada usia ini berat badan anak cenderung
19

mengalami penurunan, disebabkan karena anak beraktivitas lebih banyak dan

mulai memilih maupun menolak makanan yang disediakan orang tuanya

(Septiari, 2012).

3. Risiko Masalah Kesehatan Pada Balita

Kesehatan anak sangat penting untuk masa pertumbuhan, sehingga

orang tua harus memperhatikan makanan, lingkungan dan kesehatan anak

dari lahir hingga anak dapat mengontrol dirinya sendiri. Balita sangat rentan

terhadap berbagai penyakit mulai dari lahir hingga usia 4 tahun, penyakit

yang sering terjadi pada anak yaitu Hyperbilirubinemia, Tetanus

Neonatorum, Asma, Anemia, Kejang Demam, Konjungtivitis, MEP

(Malnutrisi Energi Protein), Diare, Hirschsprung, Anus Imperforate,

Hepatitis, Leukemia, Tuberkulosis, Bronkopnemonia, Bronkitis, Meningitis,

HIV/AIDS, Sindrom Nefrotik, Morbili, Dhf, Typhus Abdominalis Dan

Penyakit Alergi (Hidayat, 2008).

2.3 Tinjauan Umum Tentang Variabel Penelitian

1. Sumber Air Bersih

Air merupakan hal yang pentinga bagi manusia. Kebutuhan manusia

akan air sangat komplek antara lain untuk minum, masak, mencuci, mandi

dan sebagainya. Diantara kegunaan-kegunaan air tersebut, yang sangat

penting adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan

minum (termasuk untuk memasak) selalu tersedia dalam jumlah yang

cukup dan memenuhi syarat kesehatan, baik syarat fisik, kimiawi, dan
20

bakteriologi agar tidak menimbulkan penyakit bagi manusia termasuk

diare.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyediaan air bersih adalah:

1) Mengambil air dari sumber air yang bersih.

2) Mengambil dan menyimpan air dalam tempat yang bersih dan

tertutup, serta menggunakan gayung khusus untuk mengambil air.

3) Memelihara atau menjaga sumber air dari pencemaran oleh binatang,

anak anak, dan sumber pengotoran. Jarak antara sumber air minum

dengan sumber pengotoran (tangki septik), tempat pembuangan

sampah dan air limbah harus lebih dari 10 meter.

4) Menggunakan air yang direbus.

Mencuci semua peralatan masak dan makan dengan air yang bersih

dan cukup (Depkes RI, 2010).

Masyarakat membutuhkan air untuk keperluan sehari-hari,

maka masyarakat menggunakan berbagai macam sumber air bersih

menjadi air [Link] air antara lain: (Notoatmodjo, 2010).

Air hujan

Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum. Tetapi air

hujan ini tidak mengandung kalsium. Oleh karena itu, agar dapat

dijadikan air minum yang sehat perlu ditambahkan kalsium didalamnya.

a. Air permukaaan tanah

Yang termasuk air permukaan tanah adalah air sungai dan danau.

Menurut asalnya sebagian dari air sungai dan air danau ini juga dari air
21

hujan yang megalir melaui saluran-saluran ke dalam sungai atau danau

ini. Oleh karena air sungai dan danau ini sudah terkontaminasi atau

tercemar oleh berbagai macam kotoran, maka bila akan dijadikan air

minum harus diolah terlebih dahulu.

b. Air tanah

Yang termasuk air tanah adalah mata air, air sumur dangkal dan air

sumur dalam. Air yang keluar dari mata air ini biasanya berasal dari air

tanah yang muncul secara alamiah. Oleh karena itu, air dari mata air ini,

bila belum tercemar oleh kotoran sudah dapat dijadikan air minum

langsung. Tetapi alangkah baiknya air tersebut direbus dahulu sebelum

diminum. Air sumur dangkal berasal dari lapisan air didalam tanah

yang dangkal. Biasanya berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter dari

permukaan tanah.

Air sumur pompa dangkal ini belum begitu sehat, karena

kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih ada. Sehingga perlu

direbus dahulu sebelum diminum. Air sumur dalam berasal dari lapisan

air kedua di dalam tanah. Dalamnya dari permukaan tanah biasanya di

atas 15 meter. Oleh karena itu, sebagian air sumur dalam ini sudah

cukup sehat untuk dijadikan air minum langsung (tanpa melalui proses

pengolahan). Air bersih terutama yang digunakan sebagai air minum

harus memenuhi syarat-syarat tertentu sebagai berikut: (Sri Wnarsih,

2009).
22

a. Syarat fisik, yaitu tidak berwarna, tidak mempunyai rasa, tidak

berbau, jernih, dengan suhu dibawah suhu udara sehingga terasa

nyaman.

b. Syarat kimia, yaitu memiliki PH netral, kandungan mineral-

mineralnya terbatas, dan tidak mengandung zat kimia atau mineral

berbahaya misalnya CO2, H2S, NH4, dan sebagainya.

c. Syarat bakteriologis, yaitu tidak mengandung bakteri penyebab

penyakit (patogen) yang melampaui batas yang diijinkan. Bakteri

patogen misalnya bakteri [Link] yang dapat menyebabkan diare dan

Salmonella sp. Yang mengakibatkan tifus. Kedua bakteri tersebut

biasanya terdapat dalam kotoran manusia. Dalam kondisi normal, air

tidak mengandung kedua bakteri tersebut. Jika ternyata mengandung

bakteri tersebut, berarti air telah tercemar kotoran manusia.

2. Perilaku Ibu

a. Pengertian

Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk

hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis

semua makhluk hidup mulai tumbuh-tumbuhan, binatang sampai dengan

manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktifitas masing-

masing (Notoatmodjo, 2010).

Perilaku kesehatan merupakan respon seseorang terhadap stimulus

yang berhubungan dengan sistem pelayanan kesehatan, sakit, penyakit,

makanan, minuman, serta lingkungan. Hasil dari beberapa pengalaman


23

dan hasil observasi yang terjadi di lapangan (masyarakat) bahwa perilaku

seseorang termasuk terjadinya perilaku kesehatan, diawali dengan

pengalaman- pengalaman seseorang serta adanya faktor eksternal

(lingkungan fisik dan non fisik). Pengalaman dan lingkungan tersebut

kemudian diketahui, dipersepsikan atau diyakini seseorang sehingga

menimbulkan motivasi untuk bertindak yang akhirnya diwujudkan

dengan perilaku, termasuk perilaku sehat. (Notoatmodjo, 2010).

b. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Manusia

Perilaku dipengaruhi oleh tiga faktor utama,yaitu;

1) Faktor-faktor predisposisi (Predisposing factors)

Faktor-faktor ini mencangkup : pengetahuan dan sikap masyarakat

terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal

yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat,

tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan sebagainya.

2) Faktor-faktor pemungkin (Enabling factors)

Faktor-faktor ini mencangkup ketersedian sarana dan prasarana atau

fasilitas kesehatan bagi masyarakat, misalnya: air bersih, tempat

pembuangan sampah, tempat pembuangan tinja, ketersediaan makanan

yang bergizi, dan sebagainya. Termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan

seperti puskesmas, rumah sakit, poliklinik, Posyandu,polindes, pos obat

desa, dokter atau bidan praktek swasta, dan sebagainya.

3) Faktor-faktor penguat (Reinforcing factors)


24

Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat

(toma), tokoh agama (toga), sikap dan perilaku para petugas termasuk

petugas kesehatan. Selain ketiga faktor tersebut yang mempengaruhi

terbentuknya perilaku terdapat juga faktor lain, yakni faktor inter dan

[Link] intern, mencangkup: pengetahuan, kecerdasan, persepsi,

emosi, motivasi dan sebagainya yang berfungsi untuk mengolah

rangsangan dari [Link] faktor ekstern meliputi lingkungan

sekitar,baik fisik maupun non fisik seperti: iklim, manusia, sosial-

ekonomi, kebudayaan dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010).

c. Pengukuran Perilaku

Pengukuran atau cara mengamati perilaku dapat dilakukan melalui

dua cara yaitu:

a. Secara langsung (observasi)

Yaitu mengamati tindakan dari subyek dalam rangka memelihara

kesehatannya.

b. Secara tidak langsung

Yaitu menggunakan metode mengingat kembali (recall), metode ini

dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan terhadap subyek tentang apa

yang telah dilakukan berhubungan dengan obyek tertentu

(Notoatmodjo, 2010).
25

3. Status Gizi Anak

1. Pengertian status gizi

Gizi merupakan suatu proses organisme dalam menggunakan

bahan makanan yang dikonsumsi melalui proses digesti, absorbsi,

transportasi, penyimpanan metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak

digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi

dari organ-organ, serta menghasilkan energi (Supariasa, 2016).

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan

dan penggunaan zat zat gizi, dibedakan antara status gizi buruk, kurang,

baik dan lebih. Disamping untuk kesehatan, gizi dikaitkan dengan potensi

ekonomi seseorang, karena gizi sangat berpengaruh terhadap

perkembangan otak, kemampuan belajar dan produktivitas kerja Status

gizi dibagi menjadi tiga kategori, yaitu status gizi kurang, status gizi

normal, dan status gizi lebih (Almatsier, 2010).

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi

Faktor yang mempengaruhi status gizi adalah kemiskinan, tingkat

pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan, tingkat

pengetahuan, sosial budaya dan bencana alam.

a) Tingkat pendapatan keluarga

Salah satu penyebab malnutrisi (kurang gizi) adalah factor ekonomi dan

sosial budaya yang secara nyata telah memberikan gambaran

menyeluruh mengenai masalah gizi di daerah yang mayoritas

masyarakatnya [Link] pendapatan dan status gizi dalam


26

keluarga didorong oleh pengaruh yang menguntungkan dari

peningkatan pendapatan untuk perbaikan kesehatan dan gizi.

Sebaliknya, jika pendapatan seseorang rendah maka daya belinya

berkurang sehingga kemungkinan kebiasaan makan dan cara-cara lain

yang menghalangi perbaikan gizi akan kurang efektif untuk anak-anak,

b) Tingkat pengetahuan

Pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh seseorang tentang suatu

hal baik secara formal maupun non formal. Pengetahuan merupakan

hasil tahu, ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan

terhadap sesuatu melalui panca indra. Pengetahuan yang dimiliki sangat

penting untuk terbentuk sikap dan tindakan

c) Tingkat pendidikan

Pendidikan gizi adalah pengetahuan yang memungkinkan seseorang

dan mempertahankan pola makan berdasarkan prinsip prinsip ilmu

untuk mempraktekkan atau pelaksanaan dengan pengertian makanan

yang bergizi, baik bahan makanan, pengolahan, sikap dan emosi pada

seseorang yang berkaitan dengan makanan

Ibu yang berpendidikan lebih baik kemungkinannya dalam

menggunakan perawatan kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan

yang ada dari ibu yang tidak memiliki pendidikan.

d) Jumlah anggota keluarga

Jumlah anggota keluarga dan banyaknya anak dalam keluarga akan

berpengaruh terhadap tingkat konsumsi pangan, jumlah anggota


27

keluarga yang besar dibarengi dengan distribusi pangan yang tidak

merata sehingga menyebabkan anak dalam keluarga mengalami

kekurangan gizi.

Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa semakin

sedikit jumlah anggota keluarga, semakin sedikit pula jumlah pangan

yang harus tersedia atau dapat dikatakan bahwa semakin banyak anggota

keluarga, maka semakin banyak tanggungan keluarga untuk mencukupi

kebutuhan pangan yang harus tersedia (Supariasa, 2016).

3. Metode penilaian status gizi

Pengukuran status gizi dapat dilakukan secara klinis, biokimia,

antropometrik dan [Link] menentukan status gizi dari masyarakat

atau bagian dari suatu masyarakat, maka perlu untuk menerapkan teknik

tersebut ke semua anggotanya, atau kepada sampel yang mewakili suatu

populasi.

Penilaian status gizi dapat dilakukan dengan metode, yaitu:

1) Antropometri adalah ukuran tubuh manusia. Jika dilihat dari sudut

pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai

macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai

tingkat umur dan tingkat gizi. Kegunaannya untuk melihat

ketidakseimbangan asupan protein dan energy. Ketidakseimbangan ini

dapat dilihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh

seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.


28

2) Klinis adalah metode yang penting untuk menilai status gizi

masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang

terjadi dan dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Metode ini

digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan

melakukan pemeriksaan yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau

riwayat penyakit.

3) Biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratorium

yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Metode ini

dilakukan untuk mengetahui keadaan malnutrisi seseorang.

Biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat

kemampuan fungsi dan melihat perubahan struktur jaringan. Umumnya

metode ini dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta

senja epidemik (epidemic of night blindness). Cara yang digunakan adalah

tes adaptasi gelap (Supariasa, 2016).

Menurut Kemenkes (2010), kategori dan ambang batas status gizi

anak adalah sebagai mana terdapat pada tabel di bawah ini:


29

Tabel 1. Klasifikasi status gizi menurut Kemenkes (2010).

Ambang Batas
Indeks Kategori Status Gizi
(Z-score)
Gizi Buruk < -3 SD
-3 SD sampai dengan
Berat Badan menurut Gizi Kurang
< -2 SD
Umur (BB/U Anak
-2 SD sampai dengan
Umur 0-60 Bulan Gizi Baik
2 SD
Gizi Lebih > 2 SD
Sangat Pendek < -3 SD
Panjang Badan -3 SD sampai dengan
Pendek
menurut Umur (TB/U < -2 SD
Anak Umur 0-60 -2 SD sampai dengan
Normal
Bulan 2 SD
Tinggi > 2 SD
Berat Badan menurut Sangat Kurus < -3 SD
Panjang Badan -3 SD sampai dengan
Kurus
(BB/PB) atau Berat < -2 SD
Badan Menurut -2 SD sampai dengan
Tinggi Badan Normal
2 SD
(BB/TB) Anak Umur
Gemuk > 2 SD
0-60 Bulan
Sangat Kurus < -3 SD
Indek Massa Tubuh -3 SD sampai dengan
Kurus
menurut Umur < -2 SD
(IMT/U) Anak Umur -2 SD sampai dengan
Normal
0-60 Bulan 2 SD
Gemuk > 2 SD
Sangat Kurus < -3 SD
-3 SD sampai dengan
Kurus
Indek Massa Tubuh < -2 SD
menurut Umur -2 SD sampai dengan
Normal
(IMT/U) Anak Umur 1 SD
5-18 Tahun > 1 SD sampai dengan
Gemuk
2 SD
Obesitas > 2 SD
30

4. Tinjauan Umum Tentang Status Imunisasi

1. Pengertian Imunisasi

Imunisasi adalah proses menginduksi imunitas secara buatan baik

dengan vaksinasi (imunisasi aktif) maupun dengan pemberian antibodi

(imunisasi pasif). Imunisasi aktif menstimulasi sistem imun untuk

membentuk antibodi dan respon imun seluler yang melawan agen

penginfeksi, sedangkan imunisasi pasif menyediakan proteksi sementara

melalui pemberian antibodi yang diproduksi secara eksogen maupun

transmisi transplasenta dari ibu ke janin. Vaksinasi, yang merupakan

imunisasi aktif, ialah suatu tindakan yang dengan sengaja memberikan

paparan antigen dari suatu patogen yang akan menstimulasi sistem imun

dan menimbulkan kekebalan sehingga nantinya anak yang telah

mendapatkan vaksinasi tidak akan sakit jika terpajan oleh antigen serupa.

Antigen yang diberikan dalam vaksinasi dibuat sedemikian rupa sehingga

tidak menimbulkan sakit, namun dapat memproduksi limfosit yang peka,

antibodi, maupun sel memori. (Hidayat, 2009).

2. Imunisasi Campak

Campak merupakan penyakit menular dan bersifat akut yang

disebabkan oleh virus campak. Penyakit ini menular lewat udara melalui

sistem pernafasan dan biasanya virus tersebut akan berkembang biak pada

sel-sel di bagian belakang kerongkongan maupun pada sel di paru-paru

dan menyebabkan gejala-gejala seperti demam, malaise, kemerahan pada

mata, radang saluran nafas bagian atas serta timbul bintik kemerahan yang
31

dimulai dari batas rambut di belakang telinga, kemudian berangsur-angsur

menyebar di daerah wajah, leher, tangan dan seluruh badan. Cara

penularan penyakit ini dapat melalui droplet penderita campak pada

stadium awal yang mengandung paramyxovirus dan kontak langsung

dengan penderita maupun benda-benda yang terkontaminasi

paramyxovirus.

Untuk mencegah tertularnya penyakit campak maka seseorang perlu

diberikan vaksin campak, yang sebenarnya adalah strain dari virus campak

yang telah dilemahkan. Vaksin campak mulai digunakan pada tahun 1963

dan dikembangkan lagi pada tahun 1968. Kombinasi vaksin campak-

gondongan-rubella (MMR) dimulai diterapkan pada tahun 1971 dan pada

tahun 2005 telah dikembangkan lagi kombinasi vaksin campak-

gondongan-rubella-varicella (MMRV).

Pemberian vaksin campak dianjurkan 2 kali untuk mengurangi

kemungkinan terkena campak, pemberian pertama memberikan 95-98%

imunitas terhadap campak dan diberikan pada umur 12-15 bulan.

Pemberian kedua memberikan 99% imunitas terhadap campak dan dapat

diberikan kapan saja asalkan berjarak lebih dari 4 minggu dari pemberian

pertama, pada anak-anak biasanya diberikan saat anak berumur 4-6 tahun.

Imunisasi campak dilakukan dengan menggunakan alat suntik sekali pakai

untuk menghindari penularan penyakit seperti HIV/AIDS dan Hepatitis B,

dengan cara disuntikkan secara subkutan maupun intramuskular.

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang dapat terjadi setelah


32

pemberian vaksin campak antara lain demam > 39,5oC, ruam, emsefalitis,

dan ensefalopati pasca imunisasi. Reaksi KIPI ini telah menurun sejak

digunakannya vaksin campak yang dilemahkan.

Vaksin campak tidak boleh diberikan pada orang yang sedang

mengalami demam tinggi, dalam pengobatan imunosupresi, hamil,

memiliki riwayat alergi, sedang dalam pengobatan dengan imunoglobulin

atau bahan-bahan komponen darah.

Campak merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan

imunisasi (PD3I). Imunisasi campak merupakan imunisasi dasar wajib

yang diberikan saat bayi berusia 9 bulan. Imunisasi campak merupakan

jenis vaksinasi yang berhubungan dengan diare. Pemberian imunisasi

campak pada bayi sangat penting untuk mencegah bayi tidak terkena

penyakit campak. Anak yang menderita campak sering disertai dengan

diare, sehingga pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare.

Pencegahan anak agar tidak terkena penyakit campak dapat menurunkan

angka malnutrisi dan kekurangan vitamin A yang berhubungan dengan

diare (Kemenkes RI, 2014).

Diperkirakan imunisasi campak dapat mencegah 44,64% jumlah

kasus campak, 0,6-3,8% jumlah kejadian diare, dan 6-26% jumlah

kematian karena diare pada balita (Mutia, 2012). Imunisasi campak

merupakan langkah penting untuk melindungi dari episode diare dan

kematian akibat diare (Kemenkes RI, 2014). Penelitian ini menunjukan

balita yang tidak diberi imunisasi campak memiliki risiko 2,09 kali untuk
33

terkena diare dibandingkan dengan balita yang mendapatkan imunisas

campak. Namun, berdasarkan penelitian Rini (2011) tidak terdapat

hubungan yang signifikan anatara pemberian imunisasi campak dengan

kejadian diare pada anak 1-4 tahun dengan nilai p=0,140.

3. Pedoman Pemberian Imunisasi

Umur yang tepat untuk mendapatkan imunisasi adalah sebelum bayi

mendapat infeksi dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,

berilah imunisasi sedini mungkin segera setelah bayi lahir dan usahakan

melengkapi imunisasi sebelum bayi berumur 1 tahun. Khusus untuk

campak, dimulai segera setelah anak berumur 9 bulan. Pada umur kurang

dari 9 bulan, kemungkinan besar pembentukan zat kekebalan tubuh anak

dihambat karena masih adanya zat kekebalan yang berasal dari darah ibu

(Satgas IDAI, 2008).

Urutan pemberian jenis imunisasi, berapa kali harus diberikan serta

jumlah dosis yang dipakai juga sudah ditentukan sesuai dengan kebutuhan

tubuh bayi. Untuk jenis imunisasi yang harus diberikan lebih dari sekali

juga harus diperhatikan rentang waktu antara satu pemberian dengan

pemberian berikutnya.
34

Tabel 2. Jadwal Pemberian Pada Bayi dengan menggunakan Vaksin


DPT dan HB dalam Bentuk terpisah, menurut Frekuensi
dan Selang Waktu dan Umur Pemberian
Selang
Pemberian
Vaksin Waktu Umur Keterangan
Imunisasi
Pemberian
0-11
BCG 1x -
BLN Untuk bayi
2-11 yang lahir di
DPT 3x 4 Minggu
BLN rumah
4 x (DPT 0-11 sakit/puskesmas
POLIO 4 Minggu
1,2,3) BLN HEP-B, BCG
9-11 dan Polio dapat
CAMPAK 1x -
BLN segera
3 x (HEP-B 0-11 diberikan
HEP-B 4 Minggu
1,2,3) BLN
Sumber : Petunjuk Pelaksanaan Program Imunisasi, 2008

Dari tabel diatas, bahwa pemberian imunisasi pada bayi usia 0-11

bulan diberikan dengan selang waktu pemberian 4 minggu denga variasi

pemberian vaksin yang disesuaikan dengan kebutuhan bayi dan tentunya

sesuai dengan tingkat usia yang akan diberikan imunisasi.

Tabel 3. Sasaran Imunisasi Pada Bayi


Jenis Imunisasi Usia Pemberian Jenis Pemberian Umur
Hepatitis B 0-7 hari 1 -
BCG 1 bulan 1 -
POLIO/IPV 1,2,3,4 bulan 4 4 minggu
DPT-HB-Hib 2,3,4 bulan 3 4 minggu
Campak 9 bulan 1 -
Sumber : Dirjen PP dan PL Depkes RI, 2013

2.4 Tinjauan Umum Tentang Puskesmas

1. Definisi Puskesmas

Puskesmas adalah organisasi kesehatan terdepan yang mempunyai

misi sebagai pusat pengembangan pelayanan kesehatan secara menyeluruh

dan terpadu untuk masyarakat yang tinggal diwilayah kerja tertentu. Dalam
35

pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat,

Puskesmas mempunyai program berupa usaha-usaha pokok. Secara rinci,

Puskesmas sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan.

Puskesmas pada umumnya terdapat hanya ada satu buah disetiap kecamatan.

Jenis Puskesmas menurut pelayanan kesehatan medis dibagi menjadi dua

macam yaitu Puskesmas perawatan (pelayanan kesehatan rawat jalan dan

rawat inap) dan Puskesmas non perawatan (pelayanan kesehatan rawat jalan)

(Munijaya, 2004).

Pusat kesehatan masyarakat atau yang biasa disebut Puskesmas

merupakan salah satu pelaksana tekhnis dinas kesehatan kabupaten/kota.

Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan tingkat pertama dan terdepan

dalam sistem pelayanan kesehatan, harus melakukan upaya kesehatan wajib

dan beberapa upaya kesehatan pilihan yang disesuaikan dengan kondisi,

kebutuhan, tuntutan, kemampuan dan inovasi serta kebijakan pemerintah

daerah setempat (Depkes, 2010).

2. Asas dan Fungsi Puskesmas

Menurut Azwar (1997) secara sarana pelayanan kesehatan tingkat

pertama di Indonesia, pengelolaan program kerja Puskesmas berpedoman

pada 4 (empat) azas pokok yakni:

1) Asas pertanggung jawaban wilayah, yaitu melaksanakan pelayanan

kesehatan sesuai dengan batasan diwilayah kerjanya.

2) Asas peran serta masyarakat, yaitu mengupayakan pemberdayaan

masyarakat.
36

3) Asas keterpaduan,yaitu melakukan kerjasama program Puskesmas secara

terpadu.

4) Asas rujukan, yaitu memberikan rujukan terhadap kasus penyakit tingkat

lanjutan.

Menurut Kepmenkes No. 128 tahun 2004 Puskesmas memiliki fungsi:

1) Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan.

Puskesmas selalu berupaya menggerakkan dan memantau

penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat

dan dunia usaha di wilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta

mendukung pembangunan kesehatan. Di samping itu Puskesmas aktif

memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap

program pembangunan di wilayah kerjanya. Khusus untuk pembangunan

kesehatan, upaya yang dilakukan Puskesmas adalah mengutamakan

pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan

penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.

2) Pusat pemberdayaan masyarakat.

Puskesmas selalu berupaya agar perorangan terutama pemuka

masyarakat, keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki

kesadaran, kemauan, dan kemampuan melayani diri sendiri dan

masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam memperjuangkan

kepentingan kesehatan termasuk pembiayaannya, serta ikut menetapkan,

menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan.

Pemberdayaan perorangan, keluarga dan masyarakat ini diselenggarakan


37

dengan memperhatikan kondisi dan situasi, khususnya sosial budaya

masyarakat setempat.

3) Pusat pelayanan kesehatan strata pertama.

Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan

kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan

berkesinambungan. Pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menjadi

tanggung jawab Puskesmas meliputi:

a) Pelayanan kesehatan perorangan

Pelayanan kesehatan perorangan adalah pelayanan yang bersifat

pribadi (private goods) dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit

dan pemulihan kesehatan perorangan, tanpa mengabaikan pemeliharaan

kesehatan dan pencegahan penyakit. Pelayanan perorangan tersebut

adalah rawat jalan dan untuk Puskesmas tertentu ditambah dengan rawat

inap.

b) Pelayanan kesehatan masyarakat

Pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan yang bersifat

publik (public goods) dengan tujuan utama memelihara dan

meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan

penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pelayanan kesehatan

masyarakat tersebut antara lain promosi kesehatan, pemberantasan

penyakit, penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan

keluarga, keluarga berencana, kesehatan jiwa serta berbagai program

kesehatan masyarakat lainnya.


38

2.5 Tinjauan Umum Tentang Penelitian Sebelumnya

1. Purdiyanto (2016)

Penelitian ini berjudul Hubungan Status Gizi, pengetahuan orang tua dan

perilaku hygiene dengan kejadian diare pada balita di RSUD H. Hanafie

muara bungo. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan

menggunakan metode cross sectional yaitu penelitian potong silang yang

bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen

(kejadian diare) dengan variabel dependen (pengetahuan orangtua, status

gizi, dan perilaku hygiene) pada waktu bersamaan. Hasil penelitian

dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik chi-

square. Dari 81 responden sebagian (51,9%) responden mengalami diare,

sebagian (54,3%) status gizi responden masih kurang, sebagian (48,1%)

pengetahuan orang tua yang rendah tentang diare, dan sebagian (60,5%)

responden mempunyai perilaku hygiene kurang baik. Ada hubungan yang

bermakna (p < 0,05) antara status gizi ( p-value = 0,036), pengetahuan (p-

value = 0,001), dan perilaku hygiene (0,000) dengan kejadian diare.

2. Meri Lidiawati (2016)

Penelitian ini berjudul Hubungan Sanitasi Lingkungan Dengan Angka

Kejadian Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Meuraxa Tahun

2016. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan

antara sanitasi lingkungan dengan angka kejadian diare pada Balita di

Wilayah kerja Puskesmas Meuraxa. Jenis penelitian ini adalah penelitian

deskriptif analitik dengan pendekatan case control, Populasi dalam


39

penelitian ini adalah seluruh balita yang menderita diare yang bertempat

tinggal di wilayah kerja Puskesmas Meuraxa yaitu sebanyak 142 balita.

Sampel diambil secara Simple Random Sampling sebanyak 59 balita.

Untuk melihat hubungan menggunakan uji chi [Link] penelitian

diketahui bahwa ada hubungan yang bermakna antara penyediaan air

bersih, penggunaan jamban, dan pembungan sampah dengan angka

kejadian diare pada balita (p value < 0,005). Di sarankan bagi Puskesmas

Meuraxa agar meningkatkan penyuluhan tentang bahaya dan cara

pencegahan penyakit diare dan bagi peneliti lain dapat melakukan

penelitian lanjutkan dengan menambah faktor-faktor lain di luar penelitian

ini seperti faktor sosial ekonomi, faktor perilaku dan status gizi.

3. Frisca Dewi Yunadi, Tri Budiarti (2017)

Penelitian ini berjudul Hubungan Usia Dan Status Gizi Dengan Derajat

Dehidrasi Diare Pada Balita. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui

hubungan antara usia dan status gizi dengan derajat dehidrasi diare pada

balita di RSUD Cilacap tahun 2016. Metode penelitian ini adalah

observasional analitik dengan menggunakan metode cross sectional.

Subyek penelitian ini adalah 88 balita diare yang berumur 1-5 tahun

RSUD Cilacap. Instrumen penelitian ini menggunakan ceklist dari rekam

medis di RSUD Cilacap. Berdasarkan hasil uji statistik chi square

menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna usia dengan derajat

dehidrasi diare pada balita di RSUD Cilacap tahun 2016 (p = 0,341 < α =

0,05). Selain itu penelitian ini juga tidak ada hubungan yang bermakna
40

antara status gizi dengan derajat dehidrasi diare pada balita di RSUD

Cilacap tahun 2016 (p = 0,409 < α = 0,05).

4. Sri Kurniawati, Santi Martini (2016)

Penelitian ini berjudul Status Gizi Dan Status Imunisasi Campak

Berhubungan Dengan Diare Akut. Tujuan: Menganalisis hubungan berat

lahir, status gizi, status imunisasi campak, pola menyusui, pengetahuan

ibu, dan kebiasaan ibu mencuci tangan dengan kejadian diare akut pada

balita di Puskesmas Pacar Keling Surabaya. Metode: Desain penelitian

case control study dengan menggunakan 152 sampel (76 kasus: 76

kontrol). Teknik sampling menggunakan simple random sampling.

Analisis data bivariat dengan regresi logistik. Hasil: Kejadian diare

berhubungan dengan status gizi berdasarkan BB/U p=<0.000 (OR=4,304,

CI95%:1.917-9,663), status gizi berdasarkan PB/U p=<0.001 (OR=4,093,

CI95%: 1.904-8,800), status imunisasi campak =0.016 (OR=12,692,

CI95%:1.595-100.97), pola menyusui p=<0.001 (OR=3.909,

CI95%:1.962-7.789), pengetahuan ibu p=<0.001 (OR=5.675,

CI95%:2.825-11.400). Simpulan dan saran: Faktor yang mempengaruhi

kejadian diare adalah status gizi (BB/U dan PB/U), status imunisasi, pola

menyusui, dan pengetahuan ibu. Perlunya penelitian lanjutan

menggunakan sampel berdasarkan population based.

5. Sitti Nurbaya (2018)

Penelitian ini berjudul Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Diare Pada

Balita Umur 3-5 Tahun Di Rumah Sakit TK II Pelamonia Makassar.


41

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status gizi

dengan kejadian diare pada balita umur 3-5 tahun di Rumah Sakit TK II

Pelamonia Makassar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian

survey analitik dengan pendekatan cross sectional study yang dilaksanakan

di Rumah Sakit TK II Pelamonia Makassar pada tanggal 5 Februari sampai

13 Februari 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah semua anak yang

dirawat di Rumah Sakit TK II Pelamonia Makassar sebanyak 30 anak.

Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling dengan

jumlah sampel sebanyak 30 balita. Hasil penelitian ini menunjukkan

hubungan status gizi (p=0,008) dengan kejadian diare pada balita umur 3-5

tahun. Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan status gizi dengan

kejadian diare pada balita umur 3-5 tahun di Rumah Sakit TK II Pelamonia

Makassar. Diharapkan kepada instansi setempat agar memberikan

penyuluhan kesehatan pada ibu dan keluarga untuk meningkatkan asupan

gizi sejak periode prenatal sampai 2 tahun kehidupan anak agar status gizi

tidak lagi menjadi masalah yang dapat menyebabkan diare.

6. Herlina (2014)

Penelitian ini berjudul Faktor-Faktor yang berhubungan dengan kejadian

diare pada Balita di Puskesmas Jatidatar Kec. Bandar Mataram Kab.

Lampung Tengah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor

yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas

Jatidatar Kecamatan Bandar Mataram Kabupaten Lampung Tengah. Jenis

penelitian analitik dengan rancangan croos sectional. Populasi penelitian


42

adalah seluruh balita yang melakukan kunjungan ke puskesmas Jatidatar

sebanyak 634 dan sampel sebanyak 105 responden dengan menggunakan

tehnik kuota sampling. Hasil uji statistik ada hubungan antara usia (p

value: 0,000), pemberian ASI Eksklusif (p value: 0,001), status gizi (p

value: 0,000), pemberian Vitamin A (p value: 0,001) dengan kejadian

diare pada balita. Kesimpulan penelitian bahwa terdapat hubungan antara

usia, ASI eksklsuif, status gizi dan vitamin A dengan kejadian diare pada

balita. Perlu upaya peningkatan cakupan ASI Eksklusif, serta

meningkatkan penyuluhan mengenai dampak dari penyakit diare.

7. Minanda Oktariza, Suhartono, Dharminto (2018)

Penelitian ini berjudul Gambaran Kondisi Sanitasi Lingkungan Rumah

Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Buayan

Kabupaten Kebumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

Hubungan Kondisi Sanitasi Lingkungan Rumah dengan Kejadian Diare

pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Buayan Kabupaten Kebumen.

Hasil Penelitian ini adalah Ada hubungan antara penyediaan air bersih

dengan kejadian diare pada balita (p value = 0,037), ada hubungan antara

kondisi jamban dengan kejadian diare pada balita (p value =0,015), dan

ada hubungan antara kondisi SPAL dengan kejadian diare pada balita (p

value =0,012). Tidak ada hubungan antara sumber air minum dengan

kejadian diare pada balita (p value = 0,919), dan tidak ada hubungan antara

kondisi tempat pembuangan sampah dengan kejadian diare (p value =

0,060) di wilayah kerja Puskesmas Buayan Kabupaten Kebumen.


43

2.6 Kerangka Teori

Berdasarkan Tinjauan Pustaka diatas maka dapat dilihat pada

gambar dibawah ini mengenai kerangka teori penelitian :


Umur
Jenis Kelamin
Pekerjaan

Perilaku Ibu

Tingkat
Pengetahuan Kejadian
Tingkat Kontaminasi Infeksi Virus,
Bakteri dan Diare Pada
Pendidikan Makanan Balita
Pendapatan Parasit
Keluarga

Sanitasi Lingkungan
Sumber Air Bersih Status Gizi
Kondisi Jamban Status Imunisasi
Kondisi Tempat Sampah ASI Ekslusif
Kondisi Saluran
Pembuangan Air Limbah

Gambar 2.6.1 Kerangka teori

Sumber : Modifikasi Widoyono (2008), Suharyono 2008), Kemenkes RI (2014),

Dewi (2014)
44

2.7 Kerangka Konsep

Sumber Air Bersih

Perilaku Ibu
Kejadian Penyakit
Diare
Status Gizi Balita

Status Imunisasi

Gambar 2.7.1 Kerangka Konsep

Keterangan :

= Variabel Independent

= Variabel Independent
45

2.8 Hipotesis Penelitian

1. H0 : Tidak ada hubungan sumber air bersih dengan Kejadian Penyakit

Diare pada balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas

Lohia Kabupaten Muna Tahun 2019.

Ha : Ada hubungan sumber air bersih dengan Kejadian Penyakit Diare

pada balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia

Kabupaten Muna Tahun 2019.

2. H0 : Tidak ada hubungan Perilaku Ibu dengan Kejadian Penyakit Diare

pada balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia

Kabupaten Muna Tahun 2019.

Ha : Ada hubungan Perilaku Ibu dengan Kejadian Penyakit Diare pada

balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia

Kabupaten Muna Tahun 2019.

3. H0 : Tidak ada hubungan status gizi balita dengan Kejadian Penyakit

Diare pada balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas

Lohia Kabupaten Muna Tahun 2019.

Ha : Ada hubungan status gizi balita dengan Kejadian Penyakit Diare

pada balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lohia

Kabupaten Muna Tahun 2019.

4. H0 : Tidak ada hubungan status imunisasi campak dengan Kejadian

Penyakit Diare pada balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja

Puskesmas Lohia Kabupaten Muna Tahun 2019.


46

Ha : Ada hubungan status imunisasi campak dengan Kejadian Penyakit

Diare pada balita Umur 12 – 59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas

Lohia Kabupaten Muna Tahun 2019.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan waktu

pengambilan data secara cross sectional. Faktor yang berhubungan kejadian

diare pada balita yang meliputi: sumber air bersih, perilaku ibu, status gizi

balita,imunisasi campak,dan kejadian diare pada balita di wilayah kerja

Puskesmas Lohia Kabupaten Muna (Notoatmodjo, 2012).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi

Penelitian ini akan dilaksanakan di Wilayah Kerja PuskesmasLohia

Kabupaten Muna.

2. Waktu

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan April Tahun 2019

3.3 Populasi dan Sampul

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua balita berusia 12-59 bulan

yang tercatat pada buku register di Puskesmas Lohia pada tahun 2018.

Responden dalam penelitian ini adalah ibu balita. Jumlah populasi dalam

penelitian ini adalah 874 serta populasi.

2. Sampel

Sampel adalah adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan cara

tertentu hingga dianggap dapat mewakili populasi tersebut. Untuk

47
48

menentukan jumlah sampel pekerja yang diperlukan untuk penelitian ini

dapat ditentukan berdasarkan rumus sebagai berikut:

N Z 21−α / 2 P(1−P)
n=
( N −1 ) d 2+ Z 2 α P(1−P)
1−
2

Keterangan:

n : besar sampel minimum

N : besar populasi (N=874)

Z1-α/2 : nilai sebaran normal baku, Jika Tingkat Kepercayaan 90 %

(1,64)

P : proporsi pada populasi (0,5)

d : besar penyimpangan (absolut) yang bisa diterima (0,1)

874 x 1 ,64 2 x 0,5(1−0,5)


n=
( 874−1 ) x 0,12+1 , 64 2 x 0,5(1−0,5)

874 x 2,6896 x 0,5 x 0,5


n=
873 x 0,01+2,6896 x 0,5 x 0,5
587,67
n=
9 , 40

=62,5

= 63 orang (pembulatan).

Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Simple

Random Sampling yaitu responden yang dijadikan sampel telah

dipertimbangkan oleh peneliti sendiri yang ada atau tersedia sesuai dengan

konteks penelitian (Notoatmodjo2012).


49

3.4 Kriteria Sampel

1. Kriteria Inklusi

a. Balita berusia 12-59 bulan.

b. Balita yang memenuhi persyaratan yaitu KMS balita ada, tidak dalam

kondisi sakit, dan responden sedang berada dalam rumah.

c. Responden yaitu ibu balita bersedia dilibatkan dalam penelitian dengan

mendatangi informed consent.

2. Kriteria Ekslusi

a. Tidak Bersedia untuk dijadikan Sampel Penelitian

3.5 Variabel penelitian

1. Variabel Bebas (Independent variable)

Variabel bebas (independent) merupakan variabel yang

mempengaruhi variabel lain atau menghasilkan akibat pada variabel lain.

Variabel independent dalam penelitian ini adalah sumber air bersih, perilaku

ibu, status gizi balita, dan status imunisasi campak.

2. Variabel terikat (dependent variable)

Variabel terikat (dependent) merupakan variabel yang diakibatkan

atau dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel dependent dalam penelitian

ini adalah kejadian penyakit Diare pada Balita.


50

3.6 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

1. Kejadian Penyakit Diare

a. Definisi Operasional

Kejadian Penyakit Diare adalah Penyakit yang terjadi pada balita yang

ditandai dengan buang air besar dengan frekuensi yang lebih sering dari

biasanya (biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari) dengan konsistensi tinja

lembek/cair bahkan dapat berupa air saja selama 3 bulan terakhir. (Kemenkes

RI, 2014).

b. Kriteria objektif :

Menderita : Jika Balita mengalami Gejala buang air besar 3 kali

atau lebih dalam sehari selama 3 bulan terakhir

Tidak Menderita : Jika Balita tidak mengalami Gejala buangair besar 3

kali atau lebih dalam sehari selama 3 bulan terakhir

2. Sumber Air Bersih

a. Definisi Operasional

Sumber Air Bersih adalah Sumber air yang digunakan oleh keluarga

dalam memenuhi kehidupan keluarga seperti air minum, mandi, memasak,

mencuci dan sebagainya serta memenuhi syarat.

b. Kriteria objektif :

Tidak memenuhi syarat : Jika menggunakan air sungai, sumur atau

mata air yang tidak terlindung, serta air

hujan.(jarak < 10 m dengan sumber


51

pencemaran, disimpan dalam wadah

terbuka, tidak jernih, berasa).

Memenuhi syarat : Jikamenggunakan air PDAM,air kemasan,

air sumur ataumata air yang

terlindung(jarak > 10 m dengan sumber

pencemaran, disimpan dalam wadah

tertutup, jernih, dan tanpa rasa).

3. Perilaku Ibu

a. Definisi Operasional

Perilaku ibu adalah Kebiasaan ibu dalam pencegahan diare termasuk

kebiasaan mencuci tangan dengan menggunakan air dan sabun, serta

perilaku membersihkan peralatan makan dan minum. Dalam hal ini

perilaku yang dimaksud dalam penelitian ini mencakup :

1) Pengetahuan

Pengetahuan adalah Segala sesuatu yang diketahui ibu tentang

pengertian diare, penyebab, tanda dan gejala, komplikasi diare serta

cara penanggulangan dan pencegahan terjadinya diare.

2) Sikap

Sikap ibu adalah kumpulan perasaan, keyakinan dan kecenderungan

perilaku ibu untuk mencegah terjadinya diare pada balitanya

3) Perilaku Pencegahan Diare

Perilaku Pencegahan adalah aksi yang dilakukan seorang ibu dalam

pencegahan penyakit diare pada balitanya.


52

b. Kriteria Objektif

Kriteria objektif didasarkan atas jumlah pertanyaan yang diberi skor

yang mengacu pada skala Guttman, bila jawaban Ya diberi nilai 1, dan bila

jawaban tidak diberi nilai 0, sehingga diperoleh skor nilai :

Skor tertinggi : 18 x 1 = 18 (100%)

Skor terendah : 0 x 18 = 0 (0%)

Diukur dengan menggunakan rumus Sugiyono (2006)

R
I=
K

I = Interval Kelas

R = Range (Kisaran yaitu nilai tertinggi – nilai terendah)

= (100% - 0% = 100%)

K = Jumlah Kategori = 2

R 100 %
Jadi, I = = =¿ 50%
K 2

Baik : Jika total skor responden ≥ 50%

Tidak Baik : Jika total skor respoden < 50%

4. Status Gizi Balita

a. Definisi Operasional

Status Gizi Balita umur 12 – 59 bulan adalah keadaan yang

dihasilkan dari keseimbangan intake dan output yang diperoleh dari berat

badan dibagi umur sesuai dengan KMS berdasarkan standar WHO-NCHS.

b. Kriteria objektif :

Gizi Kurang : Nilai Z-score berdasarkanBB/U< -2,0 SD


53

Gizi Baik : Nilai Z-score berdasarkanBB/U> -2,0 SD

5. Status Imunisasi Dasar

a. Definisi Operasional

Status Imunisasi adalah proses menginduksi imunitas secara buatan

baik dengan vaksinasi (imunisasi aktif) maupun dengan pemberian

antibodi (imunisasi pasif). Status Imunisasi Dasar Lengkap adalah Suatu

usaha pemberian kekebalan pada bayi dan anak usia 0 – 9 bulan sehingga

bayi dan anak dapat tumbuh sehat

b. Kriteria objektif

Imunisasi Campak : Bila mendapat imunisasi campak waktu

berumur 9 – 11 bulan berdasarkan buku

KMS

Tidak Imunisasi Campak : Bila tidak mendapat imunisasi campak

waktu berumur 9 – 11 bulan berdasarkan

buku KMS(Buku Ajar Imunisasi, 2015)

3.7 Prosedur Pengumpulan Data

1. Data primer

Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data

kepada pengumpul. Data primer berupa Data yang diperoleh melalui

metode kuesioner pada ibu yang memiliki balita di wilayah kerja

Puskesmas Lohia Kabupaten Muna

2. Data sekunder
54

Data sekunder adalah data yang dikumpulkan oleh peneliti yang

didapat dari orang lain atau data yang diperoleh secara tidak langsung

(Notoatmojo, 2012). Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari data

Profil Kesehatan Puskesmas Lohia Kabupaten Muna

3.8 Pengolahan, Analisis dan Penyajian Data

1. Pengolahan Data

Pengolahan data merupakan salah satu bagian rangkaian penelitian

setelah kegiatan pengumpulan [Link] yang diperoleh dari hasil

pengamatan langsung di lapangan dengan menggunakan kuisioner, diolah

dengan menggunakan kalkulator dan computer kemudian disajikan dalam

bentuk table disertai penjelasan agar memudahkan dalam analisis. Ada

empat tahapan dalam pengelolaan data yang harus dilalui, yaitu :

a. Editing

Merupakan Kegiatan untuk melakukan pengecekan isian formulir

atau kuesioner apakah jawaban yang ada dikuesioner sudah :

1) Lengkap : Semua pertanyaan sudah terisi jawabannya.

2) Jelas : Jawaban pertanyaan apakah tulisannya cukup jelas

terbaca.

3) Relevan : Jawaban yang tertulis apakah relevan dengan

pertanyaan.

4) Konsisten : Apakah antara beberapa pertanyaan yang berkaitan

isi jawabannya konsisten.

b. Coding
55

Merupakan kegiatan mengubah data berbentuk huruf menjadi

data berbentuk angka/[Link] dari coding adalah untuk

mempermudah pada saat analisis data dan juga mempercepat pada saat

entri atau memasukkan data.

c. Processing

Setelah semua isian kuesioner terisi penuh dan benar, dan juga

sudah melewati pengkodean, maka langkah selanjutnya adalah

memproses data agar dapat dianalisis. Pemrosesan data dilakukan

dengan cara memasukkan data dari kuesioner ke paket program

komputer.

d. Cleaning

Merupakan kegiatan pengecekkan kembali data yang sudah di

masukkan apakah ada kesalahan data atau tidak (pembersihan

data).Kesalahan tersebut dimungkinkan terjadi pada saat kita

memasukkan data ke komputer.

2. Analisis Data

Analisa data dilakukan secara Analisis Univariat dan Analisis

Bivariat.

a. Data yang telah diolah dan dianalisis, disajikan dalam bentuk table

distribusi frekuensi disertai dengan penjelasan.


56

b. Analisi data untuk uji hipotesis menggunakan uji Chi-square dengan

tingkat signifikan (α =0,05). Uji ini digunakan untuk menguji hipotesis

kompratif dua sampel bebas bila data berbentuk ordinal.

Dengan menggunakan rumus :

2 (Oij−Eij)2
X =∑
Eij

Keterangan :

xX2 = nilai chi-kuadrat

N = jumlah sampel

Oij = nilai hasil observasi

Eij = nilai harapan

Dasar pengambilan keputusan penelitian hipotesis:

1. Ho diterima jika Zhitung ≤ Ztabel atau ρ value ≥ α= 0,05

2. Ho ditolak jika Zhitung > Ztabel atau ρ value < α= 0,05

Jika H0 (tidak ada hubungan ) ditolak menggunakan uji Chi Square

maka dilanjutkan uji keeratan hubungan.

0,76 - 1,00 : hubungan sangat kuat

0,51 - 0,75 : hubungan kuat

0,26 - 0,50 : hubungan sedang

0,01 - 0,25 : hubungan lemah


57

3. Penyajian Data

Data yang diolah kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi

dan di interpretasikan dalam bentuk narasi.

3.9 Jadwal Penelitian

TAHUN 2019
KEGIATA Januari Februari Maret April
No.
N I I
I III IV I II III IV I II III IV I III IV
I I
Studi
1
kepustakaan
Penyusunan
2
kepustakaan
Konsultasi
3
proposal
Seminar
4
proposal
Perbaikan
5
proposal
Pelaksanaan
6
penelitian
7 Analisis data
Konsultasi
8
hasil
Seminar
9
hasil
Perbaikan
10
hasil
11 Ujian skripsi
Perbaikan
12
skripsi

Anda mungkin juga menyukai