MAKALAH FARMASI RUMAH SAKIT
“Central Sterile Supply Department (CSSD) “
Dosen Pengampu : Dra. Aziza Nuraini P, MM.,Apt
Disusun oleh kelompok 6:
Maulidia Gustianananda 21340129
Shofwan Anggatra 21340130
Qodri Zaimuri 21340131
Lotinoris Cardo 21340132
Vio Alga Reta 21340133
PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2021
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Swt yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah-Nya kepada kami. Sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas makalah tentang “Central Sterile Supply Department
(CSSD)” ini.
Makalah ini kami susun dengan sebaik-baiknya. Terlepas dari semua itu,
kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan
kalimat atau tata bahasa. Oleh karena itu, kami menerima saran dan kritik dari
pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini. Kami harap makalah tentang
“Central Sterile Supply Department (CSSD” ini dapat memberikan manfaat
maupun inspirasi bagi pembaca.
Jakarta, Oktober 2021
Penulis
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang...........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................2
1.3 Tujuan.........................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................3
2.1 Definisi Central Sterile Supply Department (CSSD)..............................3
2.1.1 Tujuan Pusat Sterilisasi.........................................................................4
2.1.2 Fungsi Pusat Sterilisasi..........................................................................4
2.1.3 Tugas Instalasi Pusat Sterilisasi............................................................5
2.1.4 Alur Proses CCSD..................................................................................6
2.1.5 Prinsip Dasar Tata letak CSSD di Rumah Sakit.................................6
2.2 Organisasi Instalasi Pusat Sterilisasi........................................................7
2.2.1 Kepala Instalasi Pusat Sterilisasi..........................................................7
2.2.2 Kepala Sub Instalasi...............................................................................8
2.2.3 Penanggung Jawab Administrasi.........................................................9
2.2.4 Staf di Pusat Sterilisasi........................................................................10
2.3 Sarana dan Prasarana Pusat Sterilisasi.................................................11
2.3.1 Bangunan Instalasi Pusat Sterilisasi...................................................11
2.3.2 Lokasi Instalasi Pusat Sterilisasi.........................................................12
2.3.3 Pembangunan dan Persyaratan Ruang Sterilisasi............................12
2.3.4 Kebutuhan Peralatan Sterilisasi dan Pemeliharaannya...................15
2.3.5 Kalibrasi alat........................................................................................16
2.3.6 Pendokumentasian...............................................................................17
2.3.7 Alat Pelindung Diri..............................................................................17
2.4 Pelayanan Instalasi Pusat Sterilisasi.......................................................18
2.4.1 Tatalaksana pelayanan penyediaan barang steril..........................18
2.4.2 Alur kerja...........................................................................................18
2.5 Monitoring dan Evaluasi Proses Sterilisasi............................................20
2.5.1 Kontrol kualitas sterilisasi................................................................20
2.5.2 Data mesin sterilisasi.........................................................................21
2.5.3 Waktu kadalursa................................................................................21
2.5.4 Jenis-jenis indikator sterilisasi..........................................................21
2.6 Pelaksanaan K3 dalam Central Sterile Supply Department (CSSD). .22
2.6.1 Tujuan K3 Pada Central Sterile Supply Department (CSSD)......22
2.6.2 Potensial Bahaya................................................................................23
BAB III KESIMPULAN......................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................26
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu indikator keberhasilan dalam pelayanan rumah sakit adalah
rendahnya angka infeksi nosocomial di rumah sakit. Infeksi ini menyebabkan
1,4 juta kematian setiap hari diseluruh dunia. Infeksi ini terus meningkat dari
1% di beberapa negara Eropa dan Amerika, sampai lebih dari 40% di Asia,
Amerika Latin dan Afrika. Risiko infeksi dapat diturunkan dengan proses
proses pembersihan, desinfeksi, dan sterilisasi yang benar. Pusat sterilisasi
salah satu mata rantai yang penting untuk pengendalian infeksi dan berperan
dalam upaya menekan kejadian infeksi bagi pasien dan pegawai rumah sakit
(Yustiana, 2017).
Sterilisasi merupakan proses penghilangan semua jenis organisme
hidup, dalam hal ini adalah mikroorganisme (protozoa, fungi, bakteri,
mycoplasma, dan virus) yang terdapat dalam suatu benda. Proses ini
melibatkan aplikasi biocidal agent atau proses fisik untuk membunuh atau
menghilangkan mikroorganisme. Agen kimia untuk sterilisasi disebut
sterilant (Taufiq, 2017).
Central Sterile Supply Department (CSSD) atau Instalasi Pusat
Sterilisasi merupakan salah satu mata rantai yang penting untuk pengendalian
infeksi dan berperan dalam upaya menekan kejadian infeksi. Untuk
melaksanakan tugas dan fungsi sterilisasi, Pusat Sterilisasi sangat bergantung
pada unit penunjang lain seperti unsur pelayanan medik, unsur penunjang
medik maupun instalasi antara lain perlengkapan, rumah tangga,
pemeliharaan sarana rumah sakit, sanitasi dan lain-lain. Apabila terjadi
hambatan pada salah satu sub unit diatas maka pada akhirnya akan
mengganggu proses dan hasil sterilisasi (DepKes, 2009).
Jika dilihat berdasarkan volume alat dan bahan medis yang harus
disterilisasikan di rumah sakit demikian besar, maka rumah sakit dianjurkan
untuk memiliki suatu instalasi pusat sterilisasi tersendiri dan mandiri, yang
merupakan salah satu instalasi yang berada dibawah dan tanggung jawab
1
langsung kepada direktur atau wakil direktur rumah sakit. Instalasi pusat
sterilisasi ini bertugas untuk memberikan pelayanan terhadap semua
kebutuhan kondisi steril atau bebas dari semua mikroorganisme (termasuk
endospora) secara tepat dan cepat, untuk melaksanakan tugas sterilisasi alat
atau bahan medis secara profesional, diperlukan pengetahuan atau
keterampilan tertentu oleh perawat, apoteker ataupun tenaga non medik yang
berpengalaman di bidang sterilisasi (DepKes, 2009).
Berdasarkan latar belakang diatas, maka kelompok kami bermaksud
membahas masalah tersebut dalam sebuah makalah yang berjudul “Central
Sterile Supply Department (CSSD)”.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa definisi dari CSSD?
2. Bagaimana organisasi instalasi pusat sterilisasi?
3. Bagaimana tahapan sterilisasi?
4. Apa saja yang termasuk sarana fisik dan peralatan di pusat sterilisasi?
5. Apa saja jenis – jenis Indicator Sterilisasi?
6. Bagaimana pelaksanaan K3 dalam Central Sterile Supply Department
(CSSD)?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui definisi CSSD.
2. Untuk mengetahui organisasi instalasi pusat sterilisasi.
3. Untuk mengetahui tahapan sterilisasi.
4. Untuk mengetahui sarana dan peralatan di pusat sterilisasi.
5. Untuk mengetahui jenis – jenis Indicator Sterilisasi
6. Untuk mengetahui pelaksanaan K3 dalam Central Sterile Supply
Department (CSSD).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Central Sterile Supply Department (CSSD)
Sterilisasi merupakan proses penghilangan semua jenis organisme
hidup, dalam hal ini adalah mikroorganisme (protozoa, fungi, bakteri,
mycoplasma, dan virus) yang terdapat dalam suatu benda. Proses ini
melibatkan aplikasi biocidal agent atau proses fisik untuk membunuh atau
menghilangkan mikroorganisme. Agen kimia untuk sterilisasi disebut
sterilant (Taufiq, 2017).
Sterilisasi sangat penting dilakukan terutama untuk alat-alat bedah,
terlebih lagi saat ini semakin berkembangnya prosedur operasi maupun
kompleksitas peralatan medik, maka diperlukan proses sterilisasi yang
tersentralisasi sehingga keseluruhan proses menjadi lebih efesien,ekonomis
dan keamanan pasien semakin terjamin. Disamping itu, rumah sakit sebagai
institusi penyedia pelayanan kesehatan berupaya untuk mencegah terjadinya
resiko infeksi bagi pasien dan petugas rumah sakit. Salah satu indikator
keberhasilan dalam pelayanan rumah sakit adalah rendahnya angka infeksi
nosokomial di rumah sakit. Untuk mencapai keberhasilan tersebut, maka
perlu dilakukan pengendalian infeksi di rumah sakit (DepKes, 2009).
Istilah untuk pusat sterilisasi bervariasi, mulai dari Central Sterile
Supply Department (CSSD), Central Service (CS),
Central Supply (CS), Central Processing Department (CPD) dan lain lain,
namun kesemuanya mempunyai fungsi utama yang sama yaitu menyiapkan
alat-alat steril dan bersih untuk keperluan perawatan pasien.
Secara terperinci, fungsi dari pusat sterilisasi adalah menerima,
memproses, memproduksi, mensterilkan, menyimpan serta mendistribusikan
peralatan medis ke berbagai ruangan di rumah sakit untuk kepentingan
perawatan pasien (DepKes, 2009).
Central Sterile Supply Department (CSSD) adalah instalasi yang
melayani pelayanan sterilisasi dengan fasilitas untuk menerima,
mendesinfeksi, memberikan, mengemas, mensteril, menyimpan dan
mendistribusikan alal-alat (baik yang dapat dipakai berulang-ulang kali dan
alat sekali pakai) (Daud, 2020).
Secara umum fungsi utama pusat sterilisasi adalah menyiapkan alat-
alat bersih dan steril untuk keperluan perawatan pasien di rumah sakit. Secara
lebih rinci fungsi dari pusat sterilisasi adalah menerima, memproses,
meproduksi, mensterilkan, menyimpan serta mendistribusikan peralatan
medis ke berbagai ruangan di rumah sakit untuk kepentingan perawatan
medis (DepKes, 2009).
2.1.1 Tujuan Pusat Sterilisasi
Tujuan pusat sterilisasi adalah sebagai berikut (Depkes, 2009):
a. Membantu unit lain di rumah sakit yang membutuhkan kondisis steril,
untuk mencegah terjadinya infeksi.
b. Menurunkan angka kejadian infeksi dan membantu mencegah serta
menanggulangi infeksi nosokomial.
c. Efisiensi tenaga medis dan para medis yang berkeahlian sterilisasi
instrumen serta peralatan sterilisasi
d. Menyediakan dan menjamin kualitas hasil sterilisasi terhadap produk
yang dihasilkan.
2.1.2 Fungsi Pusat Sterilisasi
Beberapa fungsi pusat sterilisasi antara lain:
a. Memberikan suplai barang dan instrumen ke area yang
membutuhkan
b. Meningkatkan pelayanan kesehatan dengan servis yang akurat
c. Memberikan suplai barang steril meliputi linen, instrumen dan barang-
barang steril lainnya
d. Melakukan pencatatan yang akurat terhadap kegiatan dekontaminasi,
pencucian, sterilisasi dan pengiriman barang steril
e. Melakukan pengetatan keseragaman dan kemudahan dalam rak
instrumen dan set operasi di seluruh lingkungan rumah sakit
f. Mempertahankan jumlah inventaris barang dan instrument
g. Melakukan monitoring dan kontrol terhadap tindakan pengendalian
infeksi sesuai dengan arahan komite pengendalian infeksi
h. Membuat dan mempertahankan standart sterilisasi dan distribusinya
i. Beroperasi secara efisien dalam rangka pengurangan biaya operasional
j. Melakukan pengembangan sesuai dengan metode yang terbaru dan
peraturan yang berlaku
k. Melakukan evaluasi berkala untuk meningkatkan kualitas pelayanan
l. Memberikan pelayanan konsultasi kepada bagian lain yang
membutuhkan pemrosesan dan sterilisasi instrumen. Meliputi penjelasan
peraturan dan prosedur yang digunakan dan implementasi metode baru
2.1.3 Tugas Instalasi Pusat Sterilisasi
Tanggung jawab Pusat Sterilisasi bervariasi tergantung dari besar kecilnya
rumah sakit, struktur organisasi, dan proses sterilisasi. Tugas utama pusat sterilisasi
di rumah sakit adalah (DepKes, 2009):
a. Menyiapkan peralatan medis untuk perawatan pasien
b. Melakukan proses sterilisasi alat/bahan
c. Mendistribusikan alat-alat yang dibutuhkan oleh ruang perawatan, kamar
operasi, dan ruang lain yang membutuhkan
d. Berpartisipasi dalam pemilihan peralatan dan bahan medis yang aman,
efektif dan bermutu
e. Mempertahankan stok inventory yang memadai untuk keperluan perawatan
f. Mempertahankan standar yang ditetapkan
g. Mendokumentasikan setiap aktivitas pembersihan, desinfeksi,
maupun
h. Sterilisasi sebagai bagian dari program upaya pengendalian mutu
i. Melakukan penelitian terhadap hasil sterilisasi dalam rangka pencegahan
dan pengendalian infeksi bersama dengan panitia pengendalian infeksi
nasokomial
j. Memberikan penyuluhan tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah
sterilisasi
k. Menyelenggarakan pendidikan dan pengembangan staf instalasi CSSD
baik yang bersifat intern dan ekstern
l. Mengevaluasi hasil sterilisasi.
2.1.4 Alur Proses CCSD
2.1.5 Prinsip Dasar Tata letak CSSD di Rumah Sakit
a. Pada prinsipnya, desain ruang pusat sterilisasi terdiri dari ruang bersih
dan ruang kotor yang dibuat sedemikian rupa sehingga mencegah
terjadinya kontaminasi silang dari area kotor ke area bersih. Petugas dari
ruang kotor tidak boleh masuk ke ruang bersih demikian pula sebaliknya.
b. Pembagian ruangan disesuaikan dengan alur proses di CSSD di mana alur
kerja harus kearah dari area kotor ke area bersih.
c. Harus ada area yang berubah bagi pekerja termasuk fasilitas toilet dan
loker yang berdekatan dengan area dekontaminasi.
d. Akses ke ruang cuci dan ke ruang bersih harus melalui ruang ganti
khusus yang dilengkapi dengan fasilitas kebersihan tangan.
e. Semua ruangan di departemen harus diberi ventilasi mekanis dan
dikendalikan untuk menyediakan lingkungan kerja yang nyaman,
(biasanya suhu harus dikendalikan Antara 18-22ºC dan kelembaban
relatif harus dikontrol dalam kisaran 35 - 60%).
f. Pergerakan staf antara area kotor dan bersih tidak boleh dilakukan tanpa
melewati area ganti pakaian dan cuci bersih.
g. Fasilitas penyimpanan untuk barang dalam jumlah besar harus disediakan
di luar ruang bersih dan ruang cuci
h. Ruang cuci, ruang bersih dan area bongkar sterilizer harus bebas dari
jendela terbuka, dan area yang tidak bersih
2.2 Organisasi Instalasi Pusat Sterilisasi
Instalasi pusat sterilisasi dipimpin oleh seorang Kepala Instalasi (dalam
jabatan fungsional) dan bertanggung jawab langsung kepada Wakil Direktur
Penunjang Medik. Untuk rumah sakit swasta, struktur organisasi dapat
mengacu pada struktur organisasi pemerintah. Hal-hal yang perlu
dilaksanakan agar instalasi pusat sterilisai dapat berjalan sebagai mana
mestinya adalah perlunya pembagian pekerjaan dalam jabatan fungsional.
Struktur organisai pusat sterilisasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan
beban kerja masing-masing rumah sakit.
Kualifikasi tenaga yang bekerja di Pusat Sterilisasi dapat dibedakan
sesuai dengan kapasitas tugas dan tanggung jawabnya, yang dibagi atas
tenaga manajer dan teknis pelayanan sterilisasi.
2.2.1 Kepala Instalasi Pusat Sterilisasi
Tugas Kepala Instalasi Pusat Sterilisasi dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Mengarahan semua aktivitas staf yang berkaitan dengan supply alat
medis yang steril bagi perawatan pasien di rumah sakit.
b. Mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, keterampilan dan
pengembangan diri atau personel lainnya.
c. Menentukan metoda yang lebih efektif bagi penyiapan dan penanganan
alat atau bahan medis yang steril.
d. Bertanggung jawab agar staf dapat mengerti akan prosedur dan
penggunaan mesin sterilisasi secara benar.
e. Memastikan bahwa teknik aseptik yang diterapkan pada saat penyiapan
dan penanganan alat steril baik yang hanya sekali pakai maupun alat yang
dapat dipakai ulang.
f. Kerjasama dengan unit lain di rumah sakit dan melakukan koordinasi
yang bersifat intern ataupun ekstern.
g. Melakukan seleksi untuk calon tenaga di pusat sterilisasi, menyiapkan
konsep dan rencana kerja serta melakukan evaluasi pada waktu yang
telah ditentukan.
h. Membuat perencanaan suatu program kerja.
i. Membuat laporan kinerja pusat sterilisasi.
Kualifikasi tenaga Kepala Instalasi Pusat Sterilisasi yaitu:
a. Pada Rumah Sakit Kelas A dan B, pendidikan terakhirnya harus minimal
S1 di bidang kesehatan, atau S1 umum dengan minimal masa kerja 5
tahun pada bidang sterilisasi.
b. Pada Rumah Sakit C, pendidikan terakhir yaitu harus minimal D3 di
bidang kesehatan, atau D3 umum dengan minimal masa kerja 5 tahun di
bidang sterilisasi.
c. Telah mendapatkan kursus tambahan tentang prosedur dan teknis
pelayanan sterilisasi.
d. Telah mendapatkan kursus tambahan tentang manajemen.
e. Mengetahui tentang psikologi personel
f. Pengalaman kerja di bagian kamar operasi atau sterilisasi.
g. Mempunyai kemampuan mengajar dan menulis tentang sterilisasi.
2.2.2 Kepala Sub Instalasi
Tugas Kepala Sub Instalasi dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Bertanggung jawab kepada kepala instalasi pusat sterilisasi.
b. Bertanggung jawab sebagai kepala instalasi pusat sterilisasi apabila kepala
instalasin sedang berhalangan untuk hadir di suatu pertemuan.
c. Membantu kepala instalasi dalam pengendalian dan penanganan alat,
supervisi langsung, mengajar atau merevisi prosedur baru, mengevaluasi
staf dan melaporkannya kepada kepala instalasi pusat sterilisasi.
d. Membuat program orientasi untuk tenaga baru.
e. Membuat rencana kebutuhan bahan medis dan alat sesuai dengan kebutuhan
masing-masing sub instalasi.
f. Membuat rencana perbaikan dan penggantian alat yang sudah rusak.
g. Membuat laporan hasil kerja dari masing-masing sub instalasi (Sub Instalasi
dekontaminasi, sterilisasi dan produksi, Sub Instalasi pengawasan mutu,
pemeliharaan sarana dan peralatan, K3 dan diklat, serta Sub Instalasi
distribusi) kepada kepala instalasi.
Kualifikasi tenaga Kepala Sub Instalasi yaitu:
a. Perpendidikan terakhir minimal D3 di bidang kesehatan dengan masa
kerja selama 3 tahun ddi bidang sterilisasi.
b. Pernah mengikuti kursus tambahan tentang pusat sterilisasi.
c. Mempunyai pengetahuan yang cukup tentang konsep aktivitas dari sub
instalasi yang dipimpinnya.
d. Dapat bekerja dengan baik dalam berbagai kondisi apapun.
e. Kondisi kesehatan yang baik.
2.2.3 Penanggung Jawab Administrasi
Tugas Penanggung Jawab Administrasi dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Mampu bertanggung jawab terhadap kepala instalasi.
b. Mampu membantu kepala instalasi dalam penyusunan suatu perencanaan
yang berdasarkan masukan dari kepala sub instalasi.
c. Mampu melakukan rekapitulasi laporan kegiatan dari masing-masing sub
instalasi.
d. Mampu menyiapkan keperluan administrasi.
Kualifikasi tenaga Penanggung jawab Administrasi :
a. Pendidikan terakhir minimal SMA/SMU/SMEA atau sekolah pendidikan
perawat atau yang setara dengan tambahan kursus administrasi.
b. Mampu melakukan pengetikan dan penggunaan komputer.
c. Mampu bekerja rapi dalam menyusun setiap dokumentasi
2.2.4 Staf di Pusat Sterilisasi
Tugas Staf di pusat Sterilisasi dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Mampu bertanggung jawab terhadap kepala sub instalasi.
b. Tidak memiliki rasa alergi terhadap bahan-bahan medis yang digunakan
di pusat sterilisasi.
c. Mampu mengerti dengan semua perintah dan menerapkannya menjadi
suatu aktivitas.
d. Mampu menerapkan apa yang sudah diajarkan dan yang diperoleh dari
pengalaman atasannya.
e. Mampu mengikuti prosedur kerja atau standar prosedur operasional yang
telah dibuat dan ditetapkan.
f. Mampu menjalankan pekerjaan dengan baik melalui perintah langsung
maupun tidak langsung seperti melalui telepon.
g. Mampu mengerjakan pekerjaan secara rutin atau berulang.
h. Mampu menerima tekanan kerja dan juga yang kadang-kadang lembur.
i. Senantiasa memakai alat pelindung diri seperti apron, masker, penutup
kepala, sandal yang khusus dan sarung tangan.
j. Mampu memelihara peralatan pusat sterilisasi, alat dan bahan medis yang
steril.
Kualifikasi tenaga staf:
a. Telah mengikuti pelatihan pusat sterilisasi yang sudah bersertifikasi.
b. Mampu belajar dengan cepat.
c. Memiliki keterampilan yang baik.
d. Memiliki “personal hygiene” yang baik.
e. Mampu disiplin dalam mengerjakan semua tugas kesehariannya.
2.3 Sarana dan Prasarana Pusat Sterilisasi
Pusat sterilisasi merupakan jantung rumah sakit dimana tugas pokok
pusat sterilisasi adalah menerima bahan medis dan alat medis dari semua unit-
unit di rumah sakit untuk kemudian diproses menjadi alat/bahan medis dalam
kondisi steril dan selanjutnya mendistribusikan kepada unit lain yang
membutuhkan kondisi steril, maka dalam menentukan lokasi pusat sterilisasi
perlu diperhatikan.
2.3.1 Bangunan Instalasi Pusat Sterilisasi
Pembangunan Instalasi Pusat Sterilisasi harus sesuai dengan
kebutuhan bangunan pada saat ini serta kemungkinan perluasan sarana
pelayanan di masa mendatang dan didesaun menurut tipe atau kapasitas
rumah sakit dengan ketentuan rumah sakit :
a. 200 TT, luas bangunan 130 m2
b. 400 TT, luas bangunan 200 m2
c. 600 TT, luas bangunan 350 m2
d. 800 TT, luas bangunan 400 m2
e. 1000 TT, luas bangunan 450 m2
ambar 1. Layout Umum CSSD (Gazatted, 2014).
Gambar 2. Prinsip layout (DepKes, 2007).
2.3.2 Lokasi Instalasi Pusat Sterilisasi
Lokasi instalasi pusat sterilisasi sebaiknya berdekatan dengan
ruangan pemakai alat atau bahan medis steril terbesar di rumah sakit.
Penetapan atau pemilihan lokasi yang tepat berdampak pada efisiensi
kerja dan meningkatkan pengendalian infeksi, yaitu dengan
meminimumkan resiko terjadinya kontaminasi silang serta mengurangi
lalu lintas transportasi alat steril. Untuk rumah sakit yang berukuran
kecil, lokasi pusat sterilisasi sebaiknya berada dekat/di wilayah kamar
operasi sesuai fungsinya dan diupayakan lokasinya dekat dengan
laundry.
2.3.3 Pembangunan dan Persyaratan Ruang Sterilisasi
Pada prinsipnya, desain ruang pusat sterilisasi terdiri dari ruang
bersih dan ruang kotor yang dibuat sedemikian rupa untuk menghindari
terjadinya kontaminasi silang dari ruang kotor ke ruang bersih. Selain itu,
pembagian ruangan disesuaikan dengan alur kerja.
Ruang pusat sterilisasi dibagi atas 5 ruang yaitu :
1. Ruang Dekontaminasi.
Pada ruang ini, terjadi proses penerimaan barang kotor,
dekontaminasi dan pembersihan. Ruang dekontaminasi harus
direncanakan, dipelihara dan dikontrol untuk mendukung efisiensi
proses dekontaminasi dan untuk melindungi pekerja dari benda-
benda yang dapat menyebabkan infeksi, racun dan hal-hal berbahaya
lainnya. Syarat-syarat ruang dekontaminasi antara lain
a. Ventilasi
Udara dan partikel-partikel debu dapat membaw mikroorganisme
dari satu tempat ketempt lnnya sehingga dapat meningkatkan
bioburden dan mengkontaminasi alat-alat kesehatan yang sudah
didekomentasi, lat-alat yang siap disterilkan, dan bahkan yang
sudah disterilkan, karenanya, system ventilasi harus didisain
sedemikian rupa sehingga udara di ruang dekontaminasi harus :
Dihisap keluar atau kesistem sirkulasi udara yang mempunyai
filter.
tekanan udara harus negative tidak kontaminasi udara ruangan
lainnya.
Pada ruang dekontaminasi tidak dianjurkan menggunakan
kipas angin
b. Suhu dan Kelembaban
Suhu 18-22°C
Kelembaban Antara 35-75%
c. Kebersihan
Debu, serangga, dan vermin adalah pembawa mikroorganisme,
sehingga kebersihan ruang dekontaminasi sangatlah penting. Alat-
alat pemberih harus sesuai dengan bahan-bahan pembersihnya.
Harus ada peraturan tertulis mengenai prosedur pengumpulan
sampah dan transportasinya, pembuangan limbah-limbah baik
yang dapat maupun yang tidak dapat menyebabkan infeksi dan
juga yang berbahaya. Secara umum, praktek kebersihan sebaiknya
mencakup:
Setidaknya sekali sehari dipel atau di vacuum basah
Setidaknya sekali sehari membersihkan dan mendisinfeksi
sink/tempat mencuci, meja kerja dan peralatan
Langsung membersihkan dan mendisinfeksi tumpahan darah
dengan disinfektan yang terdaftar menurut peraturan yang ada
Secara teratur membersihkan rak-rak penyimpanan, dinding,
langit-langit, ventilasi AC, dan fixture lainnya (lampu,
sprinkler, dueling, kipas exhaust, dan sebagainya)
Prosedur control terhadap binatang perusak (serangga, tikus,
dan sebaginya)
Setidaknya sekali sehari sampah dibuang, dan lain-lain kotor
diganti
Pemisahan sampah infectious dan non infectious
d. Lokasi ruang dekontaminasi harus
Terletak diluar lalu lintas utama rumah sakit
Dirancang sebagai area tertutup, secara fungsional terpisah
dari, area di sebelahnya, dengan ijin masuk terbatas
Dirancang secara fungsional terpisah dari area lainnya
sehingga benda-benda kotor langsung datang/ masuk ke ruang
dekontanminasi, benda-benda kotor tersebut kemudian
dibersihkan dan/ atau didisinfeksi sebelum dipindahkan ke
area yang bersih atau ke area proses sterilisasi.
Disediakan peralatan yang memadai dari segi disain, ukuran,
dan tipenya untuk pembersihan dan/atau disinfeksi alat-alat
kesehatan.
2. Ruang Pengemasan Alat.
Ruang pengemasan alat merupakan tempat pengemasan alat,
bongkar pasang alat, dan penyimpanan barang bersih.
3. Ruang Produksi dan prosesing
Di ruang ini dilakukan pemeriksaan, pelipatan dan pengemasan
linen yang akan disterilisasi. Di ruang ini juga terdapat tempat
tertutup untuk menyimpan barang. Selain itu di ruangan ini juga
dilakukan persiapan untuk bahan seperti kasa, kapas, dan cotton
swab.
4. Ruang Sterilisasi.
Di ruang ini dilakukan proses sterilisasi alat atau bahan. Untuk
sterilisasi etilen oksida, sebaiknya dibuatkan ruang tersendiri dan
dilengkapi dengan saluran pembuangan (exhaust).
5. Ruang Penyimpanan Barang Steril.
Syarat-syarat ruang penyimpanan barang steril antara lain :
Dekat dengan ruang sterilisasi
Suhu 18-22°C
Kelembaban 35-75%
Ventilasi menggunakan tekanan positif
Efisiensi partikulat 90-95% (untuk partikel berukuran 0,5 µm)
Jauh dari lalu lintas utama
Dinding terbuat dari bahan yang kuat, halus dan mudah
dibersihkan.
2.3.4 Kebutuhan Peralatan Sterilisasi dan Pemeliharaannya
Mesin sterilisasi harus diperiksa dan dibersihkan setiap hari. Yang
harus dibersihkan setiap hari seperti recording charts dan jarum penunjuk,
gasket pintu. Pembersihan lainnya sesuai dengan yang disarankan produsen
mesin.
Pengawasan secara periodik dan pembersihan secara rutin dapat
menurunkan kemungkinan tidak berfungsinya mesin sterilisasi. Kebersihan
juga menurunkan resiko kontaminasi terhadap barang steril. Hal yang harus
diperhatikan untuk pemeliharaan rutin terhadap alat:
a. Untuk perbaikan rutin terhadap komponen umum dapat dilakukan oleh
pihak rumah sakit setelah mendapatkan pelatihan dan suplier
b. Perbaikan terhadap komponen peralatan rutin hanya dilakukan oleh pihak
yang kompeten melakukannya.
c. Staf teknisi yang terlibat dalam pemeliharaan peralatan harus dilatih oleh
lembaga berwewenang atau pihak pembuat mesin sterilisasi tersebut.
Pemeliharaan ini harus dilakukan oleh orang yang berkualifikasi
karena tidak berfungsinya kompone-komponen kritis yang dapat menjadi
penyebab kegagalan proses sterilisasi atau kegagalan pembacaan parameter
proses sterilisasi. Hal yang harus diperhatikan sebagai upaya melakukan
pemeliharaan dan pencegahan kerusakan :
a. Garansi selama masa tertentu.
b. Suku cadang yang esensial harus tersedia .
c. Sebaiknya dilakukan kontrak servis baik dengan suplier dan pihak
lainnya yang kompeten .
d. Stabilizator voltage, berikut sakelar otomatis ke generator untuk
keperluan darurat .
e. Kondisi lingkungan suhu dang kelembaban yang memadai .
Bagian pemeliharaan harus memberikan semua informasi yang diperlukan bagi
semua prosedur yang direkomendasikan pada saat pengujian instalasi manapun
memeliharaan rutin dengan menyatakan frekuensi kegiatan. Karena pemeliharaan,
perbaikan dan kalibrasi mungkin dapat dilakukan oleh orang selain dari suplier I
nformasi yang mendalami tentang mesin strelisasi.
2.3.5 Kalibrasi alat
Kalibrasi secara periodik harus dilakukan sesuai dengan instruksi
manual dari produsen mesin. Beberapa contoh item yang harus dikalibrasi
adalah pengukuran suhu dan tekanan, timer, dan elemen pencatat lainnya.
Kalibrasi terhadap mesin steriliasasi sangat penting untuk menjamin bahwa
mesin sterilisasi sangat penting untuk menjamin bahwa mesin sterilisasi
bekerja dengan baik dan efektif serta dapat diandalkan.
2.3.6 Pendokumentasian
Setiap mesin sterilisasi yang ada harus mempunyai dokumentasi
riwayat perawatan mesin dan dokumentasi ini harus tersedia pada supervisor
mesin sterilisasi, teknis rumah sakitatau pihak yang telah melakukan
peraatan mesin. Beberapa informasi yang harus tersedia meliputi:
a. Tanggal permohonan servis mesin
b. Model dan nomor seri mesin sterilisasi
c. Nama pemohon dan pemberi izin servis
d. Alasan oermohonan servis
e. Deskripsi servis yang dilakukan (contoh: kalibrasi)
f. Jenis dan kuantitas suku cadang yang diganti
g. Nama orang yang melakukan servis
h. Tanggal perbaikan dilakukan.
2.3.7 Alat Pelindung Diri
Instalasi pusat sterilisasi harus dilengkapi dengan alat pelindung
diri seperti apron lengan panjang yang tahan terhadap cairan atau karet yang
tahan terhadap cairan kimiaa heavy-duty, penutup kepala, masker “high-
filtration” dan “tight fitting” goggle, khusus dipakai oleh staf saat melakukan
prosedur yang memungkinkan terjadinya peracikan atau kontaminasi dari
cairan yang mengandung darah atau cairan tubuh lainnya. Harus ada alas kaki
khusus untuk memasuki ruang dekontaminasi dan penutup sepatu tahan air
yang diperlukan untuk melindungi sepatu dan masker, dan goggle harus
dilepaskan untuk meninggalkan ruang dekontaminasi. Sarung tangan, gaun
pelindung, dan goggle harus dicuci setiap hari. Alat pelindung ynag dipakai
ulang harus dilaundry setekah setiap pemakaian. Jenis alat pelindung diri yang
dapat dipakai sekali saja disposinle tujuannya untuk mengurangi kontaminasi
2.4 Pelayanan Instalasi Pusat Sterilisasi
2.4.1 Tatalaksana pelayanan penyediaan barang steril
Tatalaksana pelayanan penyediaan barang steril terdiri dari:
a. Perencanaan dan penerimaan barang
b. Pencucian
c. Pengemasan dan pemberian tanda
d. Proses sterilisasi
e. Penyimpanan dan distribusi
f. Pemantauan kualitas sterilisasi yang meliputi:
Pemantauan hasil sterilisasi: indikator fisika, kimia dan biologi
Pemantauan hasil sterilisasi dengan tes mikrobiologi
g. Pencatatan dan pelaporan
2.4.2 Alur kerja
Alur kerja yaitu urutan-urutan dalam memproses alat atau bahan. Alur
kerja dibuat sedemikan rupa sehingga:
a. Pekerjaan dapet efektif dan efisien
b. Menghindari terjadinya kontaminasi silang sehingga daerah bersih dan
kotor hendaknya terpisah
c. Jarak yang ditempuh pekerja sependek mungkin dan tidak bolak-balik
d. Memudahkan dalam pemantauan.
Adapun alur kerja, sebagai berikut:
1. Metode Sterilisasi
a. Sterilisasi panas kering
Sterilisasi panas kering terjadi melalui mekanisme konduksi panas,
dimana panas akan diabsorpsi oleh permukaan luar dari alat yang disterilkan lalu
merambat dalam permukaan sampai akhirnya suhu sterilisasi tercapai. Sterilisasi
panas kering biasanya digunakan untuk alat alat atau bahan dimana steam tidak
dapat berpenetrasi secara mudah atau untuk peralatan yang terbuat dari kaca.
Keuntungan:
Dapat mensterilkan bebrapa jenis bahan yang tidak dapat ditembus
steam seperti serbuk kering dan bahan minyak
Tidak memeliki sifat korosif pada logam
Melalui mekanisme konduksi dapat mencapai seluruh permukaan
alat yang tidak dapat dibongkar pasang
Kelemahan:
Penetrasi terhadap material atau bahan berjalan sangat lambat dan
tidak merata
Diperlukan waktu pemaparan panas yang lama untuk mencapai
kondisi steril
Suhu tinggi dapat merusak bahan dari karet dan beberapa bahan
kain
Memasukan barang pada mesin sterilisasi panas-kering yaitu
sebelum dimasukan barang ke dalam chamber, chamber harus
dipanaskan terlebih dahulu sampai kurang lebih 160oC dan setiap item
barang tidak menyentuk dinding chamber mesin.
b. Sterilisasi Etilen Oksida (EtO)
Metode ini merupakan metode suhu rendah. Etilen oksida
membunuh mikroorganisme dengan cara bereaksi terhadap DNA
mikroorganisme melalui mekanisme alkilasi. Etilen oksida biasa
digunakan dalam bentuk wadah kecil dan konsentasi 100%. Etilen
oksida digunakan untuk sterilisasi alat yang tidak dapat disterilkan
dengan metode sterilisasi uap atau suhu tinggi.
c. Sterilisasi Uap
Sterilisasi uap merupakan salah satu metode yang efektif dan efisien
upaya dalam pencegahan infeksi nosokomial dirumah sakit. Uap dapat
membunuh mikroorganisme melalui denaturasi dan koagulasi sel protein secara
ireversibel. Untuk dapat menghasilkan barang yang steril maka perlakuan pre-
sterilisasi (dekontaminasi dan pembersihan yang baik, pengemasan yang baik)
dan pasca sterilisasi (penyimpanan) perlu diperhatikan. Jadi kesempurnaan
proses sterilisasi uap tergantung pada proses pengurangan jumlah
mikroorganisme sebelum sterilisasi melalui pembersihan yang baik dan
mencegah terjadinya rekontaminasi sebelum digunakan Sterilisasi uap dengan
suhu 121oC selama 15 menit.
d. Sterilisasi menggunakan plasma
Memasukan barang pada mesin sterilisasi plasma perlu diperhatikan
secara baik agar barang-barang yang akan disterilkan benar-benar dalam
keadaan kering dan tidak dapat digunakan pada bahan kertas atau selulosa
karena hidrogen peroksida akan terserap kuat. Jenis kemasan yang dapat
digunakan sangat terbatas yaitu bahan Tyvek. Isi atau kemasan yang akan
disterilkan tidak boleh mengenai dinding chamber. Metode sterilisasi plasma
dapat digunakan untuk mensterilkan alat dengan lumen berdiameter kurang dari
6 mm maupun untuk alat dengan panjang lebih dari 31 cm, tidak dapat
digunakan untuk mensterilkan lumen dengan ujung tak berlubang.
e. Sterilisasi Suhu Rendah Uap Formaldehide
Sifat bakterisidal gas formaldehid telah dikenal sejak lama, gas ini
bekerja membunuh mikroorganisme melalui mekanisme alkilasi. Formaldehid
telah lama digunakan untuk mendisinfeksi ruangan, lemari, maupun instrumen-
instrumen akan tetapi formaldehid dalam keadaan tunggal tidak dapat
digunakan untuk sterilisasi alat rentan panas, khususnya dengan lumen kecil
karena penetrasinya yang lemah serta aktivitas sporisidalnya sangat lemah.
Namun, apabila dikombinasikan dengan steam dibawah tekanan atmosfir, daya
penetrasinya meningkat sehingga sterilisasi dapat dicapai dengan lebih cepat.
2.5 Monitoring dan Evaluasi Proses Sterilisasi
2.5.1 Kontrol kualitas sterilisasi
Hal hal yang harus diperhatikan untuk kontrol kualitas adalah
a. Pemberian nomor lot pada setiap kemasan
Setiap item atau barang yang akan disterilkan harus mencantumkan identitas
berupa nomor lot yang mencakup nomor mesin sterilisasi, tanggal proses
sterilisasi dan keterngan siklus keberapa dari mersin steriliasasi
b. Alasan : pengidentifikasian ini akan memudahkan pada saat
diperlukannya melakukan penarikan kemasan yang sudah
terdistribusikan
2.5.2 Data mesin sterilisasi
Untuk setiap siklus sterilisasi yang dilakukan informasi berikut harus
didokumentasikan:
a. Nomor lot
b. Informasi umum kemasan (kemasan linen atau kemasan instrumen)
c. Waktu pemaparan dan suhu
d. Nama operator
e. Data hasil pengujian biologis
f. Data respon terhadap indikator kimiaa
g. Data hasil uji bowie-dick
Dokumentasi ini akan bermanfaat dalam proses dan memastikan
bahwa parameter pada setiap siklus proses sterilisasi telah tercapai dan
apabila barang yang harus ditarik ulang akan lebih mudah.
2.5.3 Waktu kadalursa
Setiap kemasan steril yang akan digunakan harus diberi label yang
mengindikasikan waktu kadaluarsa untuk memudahkan melakukan rotasi
stok.
2.5.4 Jenis-jenis indikator sterilisasi
a. Indikator mekanik
untuk memberi informasi segera megenai temperatur, tekanan, waktu
dan fungsi mekanik lainnya dari alat dan memberi indikasi adanya
masalah apabila alat rusak dan memerlukan perbaikan. Oleh karena itu
monitoring dengan mennggunakan indikator mekanik saja idak cukup
perlu indikator lainnya untuk memberikan jaminan bahwa proses
sterilisasi telah tercapai.
b. Indikator kimia
Indikator yang menandai terjadinya paparan sterilisasi misalnya uap
panas atau gas etilen oksida pada obyek yang disterilkan dengan
adanya perubahan warna. Indikator kimia dapat berbagai bentuk
seperti bentuk strip, tape (digunakan dibagian luar kemasan) kartu
atau vial.
Indikator kimia dibagi menjadi 6 kelas terpisah yaitu
- Kelas 1 (indikator ekternal dan indikator internal) contoh: comply
3M.
- Kelas 2 contoh indikator untuk tes Bowie-Dick
- Kelas 3 (indikator single parameter) contoh tabung temperatur
- Kelas 4 (indikator multi parameter) contoh sterilometer plus
- Kelas 5 contoh integrator
- Kelas 6 contoh emulgator
c. Indikator biologi
Prinsip dari indikator biologi adalah dengan mensterilkan spora hidup
mikroorganisme yang non patogenik dan sangat resisten dalam jumlah
tertentu, apabila selama proses sterilisasi spora-spora tersebut
terbunuh maka dapat diasumsikan bahwa mikroorganisme lainnya
juga ikut terbunuh dan benda yang kita sterilkan bisa disebut steril.
2.6 Pelaksanaan K3 dalam Central Sterile Supply Department (CSSD)
Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) merupakan upaya untuk
memberikan jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat kesehatan para
pekerja dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja,
pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan, pengobatan dan
rehabilitasi (Kepmenkes RI., 2007). Keselamatan kerja adalah keselamatan
yang berkaitan dengan alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, tempat
kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan [Link]
kerja adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap pekerja dapat bekerja secara sehat dengan
produktivitas yang optimal tanpa membahayakan diri, keluarga, masyarakat
dan lingkungan sekitarnya (Depkes RI., 2006).
2.6.1 Tujuan K3 Pada Central Sterile Supply Department (CSSD)
Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu bagian dari
perlindungan bagi tenaga kerja dan bertujuan untuk mencegah serta
mengurangi terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja dan di
dalamnya termasuk :
a. Menjamin para pekerja dan orang lain yang ada disekitar tempat
kerja selalu dalam keadaan sehat dan selamat.
b. Menjaga agar sumber-sumber produksi digunakan secara aman dan
efisien.
c. Menjamin kelancaran proses produksi yang merupakan faktor
penting dalam meningkatkan produktivitas.
Kesehatan kerja bertujuan pada pemeliharaan dan pencegahan serta
risiko gangguan kesehatan fisik, mental dan sosial pada semua pekerja
yang disebabkan oleh kondisi dan lingkungan kerja sehingga diharapkan
produktivitas pekerja dapat dipertahankan dan apabila si pekerja telah
memasuki usia pensiun maka yang bersangkutan dapat menikmati hari
tuanya tanpa mengalami gangguan penyakit akibat hubungan kerja
(Depkes RI., 2006).
2.6.2 Potensial Bahaya
Ancaman bahaya di rumah sakit terdiri atas :
a. Ancaman bahaya biologi
Ancaman bahaya biologi adalah penyakit atau gangguan
kesehatan yang diakibatkan oleh mikroorganisme hidup seperti
bakteri, virus, riketsia, parasit dan jamur.
b. Ancaman bahaya kimia
Adanya bahan-bahan kimia di rumah sakit dapat menimbulkan
bahaya bagi penderita maupun para pekerjanya. Kecelakaan akibat
bahanbahan kimia dapat menyebabkan keracunan kerja kronik.
c. Ancaman bahaya fisika
Faktor fisika merupakan beban tambahan bagi pekerja di
rumah sakit yang apabila tidak dilakukan upaya-upaya
penanggulangannya dapat menyebabkan penyakit akibat. Faktor
fisika di rumah sakit seperti bising, panas, getaran, radiasi, cahaya
dan listrik.
d. Ergonomi
Ergonomi merupakan ilmu yang mempelajari perilaku manusia
dalam kaitan dengan pekerjaan mereka. Tujuan ergonomi adalah
menyesuaikan pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia melalui
upaya: penyesuaian ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh,
pengaturan suhu, cahaya dan kelembaban yang sesuai dengan
kebutuhan tubuh manusia.
e. Ancaman bahaya psikososial
Ancaman Bahaya Psikososial Pekerjaan dapat merupakan
sumber kebahagiaan atau sumber kesengsaraan. Faktor psikososial
yang dapat menimbulkan kabahagiaan atau kesengsaraan di rumah
sakit antara lain: pekerjaan yang menghasilkan upah yang kurang
dari kebutuhan, yang tidak sesuai dengan minat, bakat dan yang
tidak sesuai dengan bekal pengetahuan akan lebih memungkinkan
terjadinya stress.
f. Keselamatan dan kecelakaan kerja di rumah sakit
Berkaitan dengan alat kerja, bahan dan proses pengolahannya,
tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan
pekerjaan. Kecelakaan adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak
diharapkan. Di rumah sakit kecelakaan kerja dapat disebabkan oleh
pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan (Depkes RI.,
2006)
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan makalah diatas maka dapat disimpulkan :
1. Central Sterile Supply Department (CSSD) adalah instalasi yang melayani
pelayanan sterilisasi dengan fasilitas untuk menerima, mendesinfeksi,
memberikan, mengemas, mensteril, menyimpan dan mendistribusikan
terhadap semua bahan yang digunakan dalam keadaan steril
2. Prinsip dasar operasional CSSD adalah : prinsip dasar tata letak serta alur
kerja CSSD, Setiap Rumah Sakit harus memiliki pusat sterilisasi mandiri,
memberikan pelayanan sterilisasi bahan dan alat medik untuk kebutuhan unit-
unit di RS selama 24 jam.
3. Prinsip layout / tata letak CSSD di Rumah Sakit adalah : Pada prinsipnya,
desain ruang pusat sterilisasi terdiri dari ruang bersih dan ruang kotor yang
dibuat sedemikian rupa untuk menghindari terjadinya kontaminasi silang dari
ruang kotor ke ruang bersih. Selain itu, pembagian ruangan disesuaikan
dengan alur kerja, Departemen harus dirancang untuk memfasilitasi arus
searah dari area kotor ke area bersih.
4. Pembangunan dan persyaratan ruang steril. Ruang pusat steril di bagi menjadi
5 ruang : ruang dekontaminasi, ruang pengemasan alat, ruang metode
sterilisasi, ruang pengujian alat sterilisasi, ruang penyimpanan barang steril.
5. Sarana dan prasarana dalam sterilisasi meliputi bangunan instalasi,
pembangunan dan persyaratan ruangan, kebutuhan peralatan sterilisasi dan
pemeliharaannya, kalibrasi alat, pendokumentasian, dan alat pelingung diri.
6. Jenis indikator yang digunakan meliputi indikator kimia internal dan indikator
kimia eksternal
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI. 2009. Pedoman Instalasi Pusat Sterilisasi (Central
Sterile Supply Department/CSSD) Di Rumah Sakit. Jakarta : DepKes RI.
Marino, FJ and F Benjamin. 1986. Industrial sterilization. In: Kenneth E. Avis,
Leon Lachman, and Herbert A (editors). Pharmaceutical Dossage Form:
Parenteral Medications. Vol 2. Marcel Dekker Inc. New York. p. 2-4.