BAB IITINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Aromaterapi
a. Definisi
Terapi komplementer (complementary therapies) adalah semua
terapi yang digunakan sebagai tambahan untuk terapi konvensional yang
direkomendasikan oleh penyelenggaraan pelayanan kesehatan individu
(Perry, Potter, 2009). Hasil penelitian terapi komplementer yang dilakukan
belum banyak. Beberapa yang berhasil dibuktikan secara ilmiah misalnya
terapi sentuhan untuk meningkatkan relaksasi, menurunkan nyeri,
mengurangi kecemasan, mempercepat penyembuhan luka, dan memberi
kontribusi positif pada perubahan psikoimunologik (Hitchcock et al dalam
Widyatuti, 2008). Terapi pijat (massage) pada bayi yang lahir kurang
bulan dapat meningkatkan berat badan, meningkatkan pola makan,
meningkatkan citra tubuh, dan menurunkan kecemasan pada anak susah
makan (Stanhope dalam Widyatuti, 2008). Terapi kiropraksi terbukti dapat
menurunkan nyeri haid dan level plasma prostaglandin selama haid
(Fontaine dalam Widyatuti, 2008). Hasil lainnya yang dilaporkan misalnya
penggunaan aromaterapi. Salah satu aromaterapi berupa penggunaan
minyak esensial berkhasiat untuk mengatasi kecemasan (Buckle dalam
Widyatuti, 2008).
12
13
Aromaterapi adalah terapi atau pengobatan dengan menggunakan
bau-bauan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, bunga, pohon yang berbau
harum dan enak. Minyak atsiri digunakan untuk mempertahankan dan
meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan sering digabungkan untuk
menenangkan sentuhan penyembuhan dengan sifat teurapetik dari minyak
atsiri (Craig Hospital, 2013).
Aromaterapi adalah salah satu terapi yang menggunakan esensial
oil atau sari minyak murni sebagai media untuk membantu memperbaiki
atau menjaga kesehatan, membangkitkan semangat, menyegarkan, dan
membangkitkan jiwa dan raga. Essential oil yang digunakan berupa cairan
hasil sulingan dari berbagai jenis bunga, akar, pohon, biji, getah, daun, dan
rempah-rempah yang berfungsi untuk mengobati (Dewi, 2013).
Aromaterapi merupakan salah satu teknik penyembuhan alternatif
yang sebenarnya berasal dari sistem pengetahuan kuno. Aromaterapi
merupakan metode pengobatan yang menggunakan minyak esensial dalam
penyembuhan holistik untuk memperbaiki kesehatan dan kenyamanan
emosional serta mengembalikan keseimbangan badan. Beberapa jenis
minyak bersifat antivirus, anti peradangan, meredakan rasa sakit,
antidepresan, merangsang, membuat rileks, mengencerkan dahak,
membantu pencernaan dan juga mempunyai sifat diuretik. Beberapa
minyak esensial umum digunakan diantaranya: kayu putih (Eucalyptus
Globulus) sebagai antiseptik, expektoran dan bersifat anti inflamasi,
rosemary (Rosemarinus Officinalis) sebagai analgesik, antiseptik dan
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
14
bersifat diuretik, mawar (Rose Centifoda) sebagai antidepresan dan sedatif,
cendana (Santalum Album) sebagai antidepresan, antiseptik, diuretik dan
sedatif, kenanga (Cananga Odorata) sebagai antidepresan dan bersifat
hipotensif (Sharma, 2009).
Salah satu tumbuhan yang memiliki fungsi sebagai aromaterapi
adalah bunga mawar. Beberapa bahan kimia yang terkandung dalam
minyak atsiri bunga mawar diantaranya sitral, sitronelol, geraniol, linalol,
nerol, eugenol, feniletil, alhohol, farnesol, nonil, dan aldehida
(Rubkahwati, Purnobasuki, Isnaeni, dan Utami, 2013).
b. Aromaterapi dalam persalinan
Aromaterapi sebagai salah satu metode pengobatan alternatif
menggunakan minyak wangi untuk merangsang sistem penciuman dan
menginduksi relaksasi termasuk dalam persalinan (Steflitsch W, 2008).
Aromaterapi tidak boleh diberikan kepada ibu hamil pada usia tiga bulan
pertama, hal ini bertujuan untuk menghindari resiko pada janin. Setelah
usia kehamilan lebih dari 20 minggu baru diperbolehkan memakai minyak
esensial tertentu. Itupun hanya beberapa jenis minyak esensial seperti
lavender, melati, mawar, camomile dan kenanga (Jaelani, 2009).
Penggunaan minyak esensial yang benar dalam persalinan dapat
mengurangi kebutuhan seorang ibu akan obat-obatan. Aromaterapi juga
bisa digunakan untuk mengatasi rasa sakit selama dan setelah melahirkan
(Lamadah S, 2016). Selain untuk kecemasan aromaterapi mawar salah satu
minyak esensial untuk induksi paling efektif, namun dalam penelitian
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
15
bahwa minyak esensial mawar dapat mempercepat kontraksi dan
mengurangi lamanya persalinan untuk ibu hamil. Minyak aromaterapi
untuk persalinan dan kelahiran sangat membantu untuk merangsang dan
mempercepat kontraksi dan juga dapat meningkatkan pereda nyeri dan
pereda kecemasan selama persalinan karena kualitas analgesik dan
menenangkan (Hur MH, 2003).
c. Komposisi Minyak Mawar
Minyak mawar esensial umumnya warna kuning muda dan sangat
pedas. Komponen utama minyak mawar yang penting adalah sitronelol.
Sitronelol membentuk 30-35% (dengan volume) minyak atsiri bunga
mawar. Dua senyawa lain yang berlimpah dalam minyak mawar geraniol
(15-25%) dan nonadecane (10-25%). Banyak molekul tambahan yang
hadir dalam konsentrasi yang lebih rendah termasuk alkohol phenylethyl,
heptadecane, geranyl asetat, eugenol, alpha-pinene dan nerol. Banyak dari
bau yang menyenangkan bunga mawar berasal dari sekelompok molekul
yang disebut damascenones, yang sering membuat kurang minyak mawar
berkadar essential oil (Loghmani-Khouzani, 2007).
d. Mekanisme kerja aromaterapi rose essential oil
Mekanisme kerja perawatan aromaterapi dalam tubuh manusia
berlangsung melalui dua sistem fisiologis, yaitu sirkulasi tubuh dan sistem
penciuman. Wewangian dapat mempengaruhi kondisi psikis, daya ingat,
dan emosi seseorang. Rose essential oil merupakan jenis aromaterapi yang
dapat digunakan untuk membantu meringankan depresi, frigiditas,
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
16
ketegangan syaraf, sakit kepala dan insomnia (Sharma, 2009). Zat yang
terkandung dalam rose essential oil salah satunya adalah linalool yang
berguna untuk menstabilkan sistem saraf sehingga dapat menimbulkan
efek tenang bagi siapapun yang menghirupnya (Wong, 2010). Bunga
mawar bersifat anti depresan sehingga dapat membuat jiwa menjadi
tenang. Caranya bubuhkan 5-6 tetes minyak atsiri bunga mawar diatas
kassa atau tisu lembut lalu letakkan didada, kemudian hirup wanginya 2-3
kali tarikan nafas dalam secara teratur selama 5 menit (Koensoemardiyah,
2009). Daya kerja aromaterapi ini bekerja antara 20 menit – 2 jam setelah
menghirupnya (Hutasoit, 2002).
Butje & Shattel (2008) menyebutkan bahwa inhalasi
terhadap minyak essensial dapat meningkatkan kesadaran dan
menurunkan kecemasan. Efek positif pada sistem saraf pusat
diberikan oleh molekul-molekul bau yang terkandung dalam minyak
essensial, efek positif tersebut menghambat pengeluaran Adreno
Corticotriphic Hormone (ACTH) dimana hormon ini adalah hormon
yang mengakibatkan terjadinya kecemasan pada individu. Dampak
positif aromaterapi terhadap penurunan tingkat kecemasan
disebabkan karena aromaterapi diberikan secara langsung (inhalasi).
Mekanisme melalui penciuman jauh lebih cepat dibanding rute yang
lain dalam penanggulangan masalah emosional seperti stress atau
kecemasan termasuk sakit kepala, karena hidung atau penciuman
mempunyai kontak langsung dengan bagian-bagian otak yang bertugas
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
17
merangsang terbentuknya efek yang ditimbulkan oleh aromaterapi.
Hidung sendiri bukanlah organ untuk membau, tetapi hanya
memodifikasi suhu dan kelembaban udara yang masuk. Saraf otak
(cranial) pertama betanggung jawab terhadap indera pembau dan
menyampaikan pada sel-sel reseptor. Ketika aromaterapi dihirup,
molekul yang mudah menguap dari minyak tersebut dibawa oleh udara ke
“atap” hidung dimana silia-silia yang lembut muncul dari sel-sel
reseptor. Ketika molekul-molekul itu menempel pada rambut-rambut
tersebut, suatu pesan elektro kimia akan ditransmisikan melalui
olfaktori ke dalam sistem limbik. Hal ini akan merangsang memori
dan respons emosional. Hipotalamus berperan sebagai relay dan
regulator, memunculkan pesan-pesan ke bagian otak serta bagian
tubuh yang lain. Pesan yang diterima kemudian diubah menjadi
tindakan yang berupa pelepasan senyawa elektrokimia yang
menyebabkan euporia, relaks atau sedatif. Sistem limbik ini terutama
digunakan untuk sistem ekspresi emosi (Koensoemardiyah, 2009).
e. Cara penggunaan aromaterapi
1) Inhalasi
Merupakan salah satu cara yang diperkenalkan dalam penggunaan
metode aromaterapi yang paling sederhana dan cepat. Inhalasi juga
merupakan metode yang paling tua. Aromaterapi masuk dari luar
tubuh ke dalam tubuh dengan satu tahap yang mudah, yaitu
lewat paru – paru di alirkan ke pembuluh darah melalui alveoli.
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
18
Inhalasi sama dengan metode penciuman bau, di mana dapat dengan
mudah merangsang olfaktori pada setiap kali bernafas dan tidak
akan mengganggu pernafasan normal apabila mencium bau
yang berbeda dari minyak essensial. Aroma bau wangi yang
tercium akan memberikan efek terhadap fisik dan psikologis
konsumen. Cara ini biasanya terbagi menjadi inhalasi langsung
dan inhalasi tidak langsung. Inhalasi langsung diperlakukan secara
individual, sedangkan inhalasi tidak langsung dilakukan secara
bersama – sama dalam satu ruangan. Aromaterapi inhalasi dapat
dilakukan dengan menggunakan elektrik, baterai, atau lilin
diffuser,atau meletakkan aromaterapi dalam jumlah yang sedikit pada
selembar kain atau kapas. Hal ini berguna untuk minyak esensial
relaksasi dan penenang (Walls, 2009).
2) Penguapan
Alat yang digunakan untuk menyebarkan aromaterapi dengan cara
penguapan biasanya terbuat dari keramik atau tanah liat. Alat ini
mempunyai rongga seperti gua untuk meletakkan lilin kecil atau lampu
minyak dan bagian atas terdapat cekungan seperti cangkir biasanya
terbuat dari kuningan untuk meletakkan sedikit air dan beberapa tetes
minyak esensial (Sharma, 2009).
3) Pijat
Pijat merupakan tehnik yang paling umum. Melalui pemijatan,
daya penyembuhan yang terkandung dalam minyak essensial bisa
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
19
menembus melalui kulit dan dibawa ke dalam tubuh, kemudian
akan mempengaruhi jaringan internal dan organ –organ tubuh.
Minyak essesnsial berbahaya jika dipergunakan langsung ke kulit,
maka dalam penggunaanya harus dilarutkan dulu dengan minyak
dasar seperti minyak zaitun, minyak kedelai, dan minyak tertentu
lainnya.
4) Berendam
Mandi yang mengandung minyak essensial dan berlangsung
selama 10-20 menit yang direkomendasikan untuk masalah kulit dan
menenangkan saraf (Craig hospital, 2013).
2. Kecemasan
a. Definisi
Cemas menggambarkan keadaan khawatir, kegelisahan atau reaksi
perasaan tidak tentram yang terkadang di sertai berbagai keluhan fisik.
Kecemasan merupakan stresor yang dapat menyebabkan pelepasan
epinefrin dari adrenal sehingga terjadi hiperaktivitas saraf otonom dan
menyebabkan gejala fisik berupa takikardi, nyeri kepala, diare dan
palpitasi (Kaplan & Sadock, 2010).
Sedangkan menurut (Riyadi & Purwanto,2010) kecemasan adalah
suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan
yang sering disertai gejala fisiologis, sedangkan pada gangguan kecemasan
terkandung unsur penderitaan yang bermakna dan gangguan fungsi yang
disebabkan oleh kecemasan tersebut. Kecemasan merupakan suatu
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
20
perasaan subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan
sebagai reaksi umum dari ketidak mampuan mengatasi suatu masalah atau
tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menentu tersebut pada
umumnya tidak menyenangkan yang nantinya akan menimbulkan atau
disertai perubahan fisiologis dan psikologis.
b. Klasifikasi kecemasan
Menururt Stuart (2009), tingkat kecemasan sebagai berikut :
1) Kecemasan ringan
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari.
Kekecewaan ini menyebabkan individu menjadi waspada dan
meningkatkan lapang persepsinya. Kecemasan ini dapat memotivasi
belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta kreatifitas.
2) Kecemasan sedang
Memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan
mengesampingkan yang lain. Kecemasan ini mempersempit lapang
persepsi individu dengan demikian individu tidak mengalami perhatian
yang selektif namun dapat berfokus pada lebih banyak area jika
diarahkan untuk melakukannya.
3) Kecemasan berat
Sangat mempengaruhi lapang persepsi individu. Individu
cenderung berfokus pada suatu yang rinci dan spesifik serta tidak
berfikir pada hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
21
ketegangan. Individu tersebut memerlukan banyak arahan untuk
berfokus pada area lain.
4) Tingkat panik
Ketakutan yang berhubungan dengan terperangah, takut, dan teror.
Hal yang rinci terhadap proposinya karena mengalami hilang kendali,
individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu
walaupun dengan arahan. Panik merupakan disorganisasi dan
menimbulkan peningkatan aktifitas motorik, menurunnya kemampuan
untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpan dan
kehilangan pemikiran yang rasional, tingkat kecemasan ini tidak
sejalan dengan kehidupan, jika berlangsung terus dalam waktu yang
lama, dapat terjadi kelelahan dan kematian.
c. Rentang respon
Rentang respon kecemasan berfluktuasi antara respon adaptif dan
maladaptif (Stuart, 2009).
Respon Adaptif Respon Maladaptif
Antisipasi Ringan Ringan Sedang Berat Panik
Gambar 1. Rentang Respon Kecemasan
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
22
Tingkat Ringan Sedang Berat Panik
Kecemasan
Fisiologis
Tekanan TD Tidak TD meningkat TD Meningkat TD meningkat
Darah (TD) ada kemudian
perubahan menurun
Nadi Nadi tidak Nadi cepat Nadi cepat Nadi cepat
berubah kemudian lambat
Pernafasan Pernafasan Pernafasan Pernafasan Pernafasan cepat
tidak ada meningkat meningkat dan dangkal
perubahan
Ketegangan Rileks Wajah tampak Rahang Wajah
Otot tegang menegang, menyeringai,
menggertakkan mulut ternganga
gigi
Pola makan Masih ada Meningkat/me Kehilangan Mual dan
nafsu makan nurun nafsu makan muntah
Pola tidur Pola tidur Sulit Sering terjaga Insomnia
teratur mengawali
tidur
Pola Teratur Frekuensi Frekuensi Retensi urin,
eliminasi BAB dan BAB dan BAK konstipasi
BAK meningkat
meningkat
Kulit Tidak ada Mulai Keringat Keringat
keluhan berkeringat, berlebihan berlebihan
akral dingin Kulit teraba
dan pucat panas dingin
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
23
Kognitif
Fokus Cepat Fokus pada Fokus pada Fokus perhatian
perhatian berespon hal yang sesuatu yang terpecah
terhadap penting rinci dan
stimulasi spesifik
Proses Motivasi Perlu arahan Perlu banyak Tidak bisa
belajar belajar tinggi arahan berfikir
Orientasi Baik Ingatan pelupa Disorientasi
menurun waktu, orang dan
tempat
Perilaku
Motorik Rileks Gerakan Agitasi Aktivitas motorik
mulai tidak kasar dan
terarah meningkat
Komunikasi Koheren Koheren Bicara cepat Inkoheren
Produktivitas Kreatif Menurun Bicara cepat Tidak produktif
Interaksi Memerlukan Memerlukan Interaksi Menarik diri
sosial orang lain orang lain kurang
Tabel 1. Tingkat respon kecemasan (Stuart, 2009)
d. Gejala klinis
Keluhan dan gejala umum yang berkaitan dengan kecemasan dapat dibagi
menjadi gejala somatik dan psikologis
1) Gejala somatik
a) Keringat berlebih.
b) Ketegangan pada otot skelet: sakit kepala, kontraksi pada bagian
belakang leher atau dada, suara bergetar, nyeri punggung.
c) Sindrom hiperventilasi: sesak nafas, pusing, parestesi.
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
24
d) Gangguan fungsi gastrointestinal: nyeri abdomen, tidak nafsu
makan, mual, diare, konstipasi.
e) Iritabilitas kardiovaskuler: hipertensi, takikardi.
f) Disfungsi genitourinaria: sering buang air kecil, sakit saat
berkemih, impoten, sakit pelvis pada wanita, kehilangan nafsu
seksual (Conley, 2006).
2) Gejala psikologis
a) Gangguan mood: sensitif sekali, cepat marah, mudah sedih.
b) Kesulitan tidur : insomnia, mimpi buruk, mimpi yang berulang-
ulang.
c) Kelelahan, mudah capek.
d) Kehilangan motivasi dan minat.
e) Perasaan-perasaan yang tidak nyata.
f) Sangat sensitif terhadap suara: merasa tak tahan terhadap suara-
suara yang sebelumnya biasa saja.
g) Berpikiran kosong, tidak mampu berkonsentrasi, mudah lupa.
h) Kikuk, canggung, koordinasi buruk.
i) Tidak bisa membuat keputusan: tidak bisa menentukan pilihan
bahkan untuk hal-hal kecil.
j) Gelisah, resah, tidak bisa diam.
k) Kehilangan kepercayaan diri.
l) Kecenderungan untuk melakukan segala sesuatu berulangulang.
m) Keraguan dan ketakutan yang mengganggu.
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
25
n) Terus menerus memeriksa segala sesuatu yang telah dilakukan
(Conley, 2006).
e. Faktor yang mempengaruhi kecemasan
1) Tingkat pendidikan
Pendidikan merupakan sebuah proses dengan metode tertentu
sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman dan cara
bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan sebagian
orang mengaitkan pendidkan dengan pengajaran atau proses belajar
mengajar. Pendidikan dengan pengajaran secara formal maupun non
formal. Dalam Dictionary of Psychology pendidikan berarti tahapan
kegiatan yang bersifat kelembagaan (sekolah) yang dapat
dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam
menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap dan sebagainya. Dengan
demikian proses pendidikan akan berpengaruh terhadap pengetahuan
sikap dan tingkah laku seseorang (Syah, 2010).
WHO (World Health Organization) dalam penelitiannya
menyatakan bahwa tingkat pendidikan menengah kebawah cenderung
mengalami kecemasan dari pada tingkat pendidikan menengah keatas,
hal ini dikarenakan responden yang berpendidikan menengah keatas
berpikir lebih objektif dan berwawasan luas, serta lebih mampu
memikirkan penyelesaian terhadap masalahnya.
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
26
2) Faktor usia
Syarifudin (2010) menspesifikasikan umur ke dalam tiga kategori,
yaitu kurang dari 20 tahun (tergolong muda), umur 20-30 tahun
(tergolong menengah) dan lebih dari 30 tahun (tergolong tua). Dalam
kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan
persalinan adalah usia 20-30 tahun, atau mengandung resiko yang
rendah. Usia ikut menentukan kecemasan. Kecemasan cenderung
terjadi di usia muda.
3) Faktor proses persalinan
Kehamilan dan persalinan merupakan suatu masa kestabilan dan
ketegangan emosional, serta suatu masa yang membahagiakan. Hal
utama yang mereka takutkan menjelanh persalinan adalah rasa sakit
saat melahirkan, berapa lama berlangsungnya, komplikasi penyulit,
operasi seksio saesarea, perdarahan, bayi cacat dan kematian.
4) Faktor penolong dan tempat persalinan
Perasaan yang sering dialami pasien adalah kecurigaan terhadap
tenaga kesehatan. Mereka dipercaya sekaligus dicurigai. Apakah
mereka baik, bijaksana, membantu dan mau mengerti, atau apakah
mereka kurang peduli atau kurang pengetahuan. Karena persalinan ini
berlangsung di rumah sakit, maka ada kecemasan dengan berada diluar
rumah. Dalam suatu tempat yang asing dan dalam tangan-tangan orang
asing, karena rumah sakit adalah suatu tempat yang asing dan
membingungkan bagi orang yang belum biasa.
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
27
5) Pandangan interpersonal
Salah satu faktor yang memepengaruhi kecemasan adalah
pandangan interpersonal yang beranggapan adanya ancaman terhadap
integritas fisik meliputi disabilitas fisiologi yang akan terjadiatau
penurunan kemampuan untu melakukan aktivitas kehidupan sehari-
hari (Stuart, 2009).
6) Kurangnya informasi tentang prosedur tindakan
Kurangnya informasi yang diberikan oleh tenaga medis pada saat
sebelum operasi tentang kenapa harus dilakukan operasi seksio,
mengapa harus dilakukan persiapan fisik dan lain-lain dapat
menambah kecemasan pasien dalam menjalani operasi.
7) Pekerjaan / status ekonomi
Dalam memenuhi kebutuhan pokok (primer) maupun kebutuhan
sekunder, keluarga dengan status ekonomi baik akan lebih mudah
tercukupi dibandingkan keluarga dengan status ekonomi rendah. Hal
ini akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan sekunder. Jadi dapat
disimpulkan bahwa ekonomi dapat mempengaruhi pengetahuan
seseorang tentang berbagai hal.
8) Pengalaman
Pengalaman seorang individu tentang berbagai hal biasa diperoleh
dari lingkungan kehidupan dalam proses perkembangannya, misalnya
sering mengikuti kegiatan. Kegiatan yang mendidik misalnya seminar
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
28
organisasi dapat memperluas jangkauan pengalamannya,karena dari
berbagai kegiatan tersebut informasi tentang suatu hal dapat diperoleh.
f. Alat ukur kecemasan
Cheung dan Sim (2014) menyatakan bahwa tes kecemasan telah
dikonseptualisasikan dalam berbagai cara sepanjang tahun. Beberapa
peneliti merujuk pada gangguan kognitif yang terlibat dan orang lain untuk
reaksi emosional. Ada kesepakatan bahwa kecemasan dapat
diklasifikasikan menjadi dua komponen, keadaan dan ciri kecemasan.
Hawari (2011) mempopulerkan alat ukur kecemasan yaitu
Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A). HRS-A merupakan
pengukuran kecemasan yang didasarkan pada munculnya symptom pada
individu yang mengalami kecemasan dan telah menjadi standar dalam
pengukuran kecemasan terutama pada penelitian trial clinic. Alat ukur ini
terdiri dari 14 kelompok gejala yang masing-masing kelompok dirinci lagi
dengan gejala-gejala yang lebih spesifik. Masing-masing kelompok gejala
diberi penilaian angka antara 0-4, yang artinya adalah nilai 0 tidak ada
gejala (keluhan), nilai 1 gejala ringan, nilai 2 gejala sedang, nilai 3 gejala
berat, dan nilai 4 gejala berat sekali. Kemudian masing-masing nilai angka
dari 14 kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan
tersebut dapat diketahui derajat kecemasan seseorang, yaitu total nilai
kurang dari 14 tidak ada kecemasan, 14-20 kecemasan ringan, 21-27
kecemasan sedang, nilai 28-41 kecemasan berat dan nilai 42-56
kecemasan berat sekali.
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
29
Counsulting Psychologis Press (1980) dalam Zlomke (2007),
menyatakan alat ukur kecemasan yang lain yaitu The Test Anxiety
Inventory (TAI). TAI terdiri dari 20 item pertanyaan yang ditujukan
kepada responden untuk dijawab berdasarkan perasaan yang mereka alami
sesuai dengan pilihan yang telah ada pada instrumen tersebut dalam waktu
8-10 menit. TAI digunakan untuk mengukur skala psychometric individu.
Tes ini spesifik digunakan pada respon takut terhadap situasi yang
mengikuti saat di evaluasi. Individu yang mendapatkan skor tertinggi
merupakan individu yang terancam mengalami kecemasan.
Instrument Zung Self Rating Scale (ZSAS) yang dikembangkan
oleh William W. K Zung 1971, dimana terdapat 20 pertanyaan mengenai
perasaan dan pengalaman yang dialami seseorang menjelang ujian dengan
penilaian berdasarkan gejala kecemasan dalam diagnostic and static
mental disorders, dimana setiap pertanyaan di nilai 1-4 ( 1: tidak pernah;
2: kadang-kadang; 3: sebagian waktu; 4: hampir setiap waktu ). Terdapat
15 pertanyaan mengarah ke peningkatan kecemasan dan 5 pertanyaan ke
arah penurunan kecemasan. Dengan rentang penilaian 20-80 untuk skor
20-44: kecemasan ringan, skor 45-59: kecemasan sedang; skor 60-74:
kecemasan berat dan skor 75-80 panik (Mc dowell, 2006).
The Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale
(APAIS) merupakan salah satu instrumen yang digunakan untuk
mengukur kecemasan pre operatif yang telah di validasi, diterima dan
diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. APAIS bertujuan untuk
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
30
menskrining secara pre operatif kecemasan dan kebutuhan informasi
pasien, sehingga dapat diindentifikasi pasien-pasien yang membutuhkan
dukungan (Moerman N dalam Fikry F, 2014). APAIS adalah desain untuk
menilai sumber kecemasan pra operasi dan mengembangkan alat untuk
mengingatkan kalangan praktisi untuk menilai resiko kecemasan individu
(Woodhead, 2012).
Kuesioner APAIS adalah sebagai berikut :
a. Mengenal anestesi
1) Saya takut dengan tindakan anestesi (1, 2, 3, 4, 5)
2) Saya terus-menerus memikirkan tentang anestesi (1, 2, 3, 4, 5)
3) Saya ingin tahu sebanyak mungkin tentang anestesi (1, 2, 3, 4, 5)
b. Mengenai operasi
1) Saya takut dengan operasi (1, 2, 3, 4, 5)
2) Saya terus-menerus memikirkan tentang operasi (1, 2, 3, 4, 5)
3) Saya ingin tahu sebanyak mungkin tentang operasi (1, 2, 3, 4, 5)
Setiap item mempunyai nilai 1-5, dari setiap jawaban 1 = sama
sekali tidak, 2 = tidak terlalu, 3 = sedikit, 4 = agak, 5 = sangat.
3. Sectio caesarea
a. Definisi
Sectio caesarea merupakan suatu tindakan pembedahan dengan
cara membuka dinding abdomen dan dinding rahim untuk melahirkan
janin dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500
gram dan usia janin > 28 minggu (Saifuddin, 2009).
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
31
Sectio caesarea adalah kelahiran janin melalui insisi pada dinding
abdomen dan dinding uterus (Cunningham, 2012). Sectio caesarea
didefinisikan sebagai lahirnya janin melalui insisi pada dinding abdomen
(laparatomi) dan dinding uterus (histerektomi) (Rasjidi, 2009).
b. Indikasi dan kontra indiksi sectio caesarea (Rasjidi, 2009)
1) Indikasi sectio caesarea
a) Indikasi mutlak
Indikasi ibu
i. Panggul sempit absolut
ii. Kegagalan melahirkan secara normal karena kurang
adekuatnya stimulasi
iii. Tumor-tumor jalan lahir yang menyebabkan obstruksi
iv. Stenosis previa
v. Disproporsi sefalopelvik
vi. Rupture uteri membaik
Indikasi janin
i. Kelainan letak
ii. Gawat janin
iii. Prolapses placenta
iv. Perkembangan bayi yang terhambat
v. Mencegah hipoksia janin, misal preeklamsia
b) Indikasi relatif
i. Riwayat sectio caesarea sebelumnya
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
32
ii. Presentasi bokong
iii. Distosia
iv. Fetal distress
v. Preeklamsia berat, penyakit kardiovaskuler dan diabetes
militus
vi. Ibu dengan HIV positif sebelum inpartum
c) Indikasi social
i. Wanita yang takut melahirkan berdasarkan pengalaman
sebelumnya.
ii. Wanita yang ingin sectio caesarea elektif karena takut
bayinya mengalami cedera atau asfiksia selama persalinan
atau mengarungi resiko keruskan dasar panggul.
iii. Wanita yang takut terjadinya perubahan pada tubuhnya atau
sexuality image setelah melahirkan.
2) Kontra indikasi
a) Janin mati
b) Syok
c) Anemia berat
d) Kelainan kongenital berat
e) Infeksi piogenik pada dinding abdomen
f) Minimnya fasilitas operasi sectio caesarea
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
33
c. Jenis sectio caesarea (Wiknjosastro, 2007)
1) Sectio Caesarea Transperitonealis Profunda
Merupakan jenis pembedahan yang paling banyak dilakukan
dengan cara menginsisi di segmen bagian bawah uterus. Beberapa
keuntungan menggunakan jenis pembedahan ini, yaitu perdarahan luka
insisi yang tidak banyak, bahaya peritonitis yang tidak besar, parut
pada uterus umumnya kuat sehingga bahaya rupture uteri dikemudian
hari tidak besar karena dalam masa nifas ibu pada segmen bagian
bawah uterus tidak banyak mengalami kontraksi seperti korpus uteri
sehingga luka dapat sembuh lebih sempurna.
2) Sectio Caesarea Klasik atau Sectio Caesarea Corporal
Merupakan tindakan pembedahan dengan pembuatan insisi pada
bagian tengah dari korpus uteri sepanjang 10-12 cm dengan ujung
bawah di atas batas plika vesio uterine. Tujuan insisi ini dibuat hanya
jika ada halangan untuk melakukan proses Sectio Caesarea
Transperitonealis Profunda, misal karena uterus melekat dengan kuat
pada dinding perut karena riwayat persalinan Sectio Caesarea
sebelumnya, insisi di segmen bawah uterus mengandung bahaya dari
perdarahan banyak yang berhubungan dengan letaknya plasenta pada
kondisi plasenta previa. Kerugian dari jenis pembedahan ini adalah
lebih besarnya risiko peritonitis dan 4 kali lebih bahaya rupture uteri
pada kehamilan selanjutnya. Setelah dilakukan tindakan Sectio
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
34
Caesarea klasik sebaiknya dilakukan sterilisasi atau histerektomi
untuk menghindari risiko yang ada.
3) Sectio Caesarea Ekstraperitoneal
Insisi pada dinding dan fasia abdomen dan musculus rectus
dipisahkan secara tumpul. Vesika urinaria diretraksi ke bawah
sedangkan lipatan peritoneum dipotong ke arah kepala untuk
memaparkan segmen bawah uterus. Jenis pembedahan ini dilakukan
untuk mengurangi bahaya dari infeksi puerperal, namun dengan
adanya kemajuan pengobatan terhadap infeksi, pembedahan Sectio
Caesarea ini tidak banyak lagi dilakukan karena sulit dalam
melakukan pembedahannya.
d. Komplikasi
Komplikasi - komplikasi yang bisa timbul pada pasien sectio caesarea
antara lain (Wiknjosastro, 2007) :
1) Infeksi puerperal (infeksi masa nifas) setelah operasi terjadi apabila
sebelum pembedahan sudah ada gejala-gejala infeksi intrapartum atau
ada faktor-faktor yang merupakan predisposisi terhadap kelainan itu
(partus lama terutama setelah ketuban pecah dan tindakan vaginal
sebelumnya). Bahaya infeksi sangat diperkecil dengan pemberian
antibiotika, akan tetapi tidak dapat dihilangkan sama sekali.
2) Perdarahan, disebabkan karena banyaknya pembuluh darah yang
terputus dan terbuka serta atonia uteri.
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
35
3) Komplikasi-komplikasi lain seperti luka kandung kemih dan emboli
paru yang sangat jarang terjadi.
4) Kurang kuatnya jaringan parut sehingga pada kehamilan selanjutnya
terjadi ruptura uteri.
4. Pre Operatif
a. Definisi
Operasi yang akan dilakukan membutuhkan persiapan mental dan
bergantung pada keperawatan pre operatif yang merupakan tahapan awal
dari keperawatan perioperatif. Kesuksesan tindakan operasi secara
keseluruhan sangat bergantung pada fase ini. Hal ini disebabkan fase ini
merupakan landasan awal untuk kesuksesan tahapan-tahapan berikutnya.
Pengkajian secara integral fungsional pasien meliputi fungsi fisik,
biologis, dan psikologis sangat diperlukan untuk keberhasilan dan
kesuksesan suatu operasi (Puryanto, 2009).
b. Persiapan Pre operasi
1) Persiapan Fisik
Persiapan fisik pre operasi yang dialami pasien dibagi dalam 2
tahapan, yaitu persipan di unit perawatan dan perawatan di ruang operasi.
Berbagai persiapan fisik yang harus dilakukan terhadap pasien sebelum
dilakukan tindakan operasi menurut Majid (2011), yaitu:
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
36
a) Pemasangan infus, puasa, pencukuran daerah operasi, pemasangan
kateter, anestesi, latihan nafas, penyuntikan, pemberian obat-
obatan dan latihan batuk post operasi.
b) Status kesehatan fisik secara umum
Sebelum dilakukan pembedahan, penting dilakukan pemeriksaan
status kesehatahan secara umum, meliputi identitas klien penyakit
seperti kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan keluarga,
pemeriksaan fisik lengkap, antara lain status hemodinamika, status
kardiovaskuler, status pernafasan, fungsi ginjal dan hepatik, fungsi
endokrin, fungsi imunologi dan lain-lain.
c) Status nutrisi
Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan
berat badan, lipat kulit trisep, lingkar lengan atas, kadar protei
darah (albumin dan globulin) dan keseimbangan nitrogen. Segala
bentuk defisiensi nutrisi harus dikoreksi sebelum pembedahan
untuk memeberikan protein yang cukup untuk perbaikan jaringan.
Kondisi gizi buruk dapat mengakibatkan pasien mengalami
berbagai komplikasi pasca operasi dan mengakibatkan pasien
menjadi lebih lama dirawat di rumah sakit. Komplikasi lain yang
sering terjadi adalah infeksi pasca operasi, dehisiensi (terlepasnya
jahitan sehingga luka tidak bisa menyatu), demam dan
penyembuhan luka operasi yang lama. Pada kondisi yang serius
pasien dapat mengalami sepsis yang bisa mengakibatkan kematian
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
37
2) Persiapan Psikis
Peranan perawat dalam mempersiapkan mental pasien pre
operasi menurut Taylor (2010), adalah dengan cara:
a. Membantu pasien mengetahui tentang prosedur tindakan yang akan
di alami pasien sebelum operasi, memberikan informasi pasien
tentang waktu operasi, hal-hal yang akan dialami pasien selama
proses operasi, menunjukkan kepada pasien kamar operasi dan
lain-lain.
b. Dengan mengetahui berbagai informasi selama operasi maka
diharapkan pasien menjadi lebih siap menghadapi operasi,
meskipun demikian ada keluarga yang tidak menghendaki pasien
mengetahui tentang berbagai hal yang terkait dengan operasi yang
akan dialami pasien.
c. Memberikan penjelasan terlebih dahulu prosedur tindakan setiap
sebelum tindakan persiapan pre operasi. Gunakan bahasa yang
sederhana dan jelas. Hal ini diharapkan dengan pemberian
penjelasan prosedur yang lengkap dapat menurunkan kecemasan
pasien sebelum operasi dilakukan.
d. Memberikan kesempatan kepada pasien dan keluarga untuk
menanyakan tentang segala prosedur yang ada.
e. Dan memberi kesempatan pada pasien dan keluarga untuk berdoa
bersama-sama sebelum pasien di antar ke kamar operasi. Keluarga
juga diberikan kesempatan untuk mengantar pasien sampai kebatas
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
38
kamar operasi dan menunggu di ruang tunggu yang terletak di
depan ruang operasi.
5. Spinal Anestesi
a. Definisi
Spinal anestesi atau blok subarakhnoid adalah salah satu teknik
regional anestesi dengan cara menyuntikkan obat anestesi lokal secara
langsung kedalam cairan serebrospinalis, tepatnya di dalam ruang
subarakhnoid pada regio lumbal dibawah lumbal dua dan pada regio
sakralis diatas vetrebra sakralis satu. Tujuannya adalah untuk
menghilangkan sensasi dan menimbulkan blok motorik. Spinal anestesi
pertama kali dikenalkan oleh Corning pada tahun 1885. Pada tahun 1989,
spinal anestesi dipraktekkan dalam pengelolaan anestesi untuk operasi
pada manusia oleh Bier Pitkin (1928) dan Cosgrove (1937) merupakan
pelopor lain yang berperan dalam perkembangan spinal anestesi.
Kemudian spinal anestesi dipakai secara luas pada operasi ekstemitas
bawah dan abdomen oleh karena lebih aman, simpel, ekonomis serta onset
anestesi yang cepat (Morgan, 2011).
b. Lokasi penyuntikan
Secara anatomis dipilih segmen L2 ke bawah pada penusukan oleh
karena ujung bawah daripada medulla spinalis setinggi L2 dan ruang
intersegmental lumbal ini relatif lebih lebar dan datar dibandingkan
dengan segmen-segmen lainnya. Lokasi interspace ini dicari dengan cara
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
39
menghubungkan crista iliaca kiri dan kanan, maka titik pertemuan dengan
segmen lumbal merupakan processus spinosusu L4 atau interspace L4-L5
(Latief, 2010).
c. Indikasi dan kontra indikasi spinal anestesi (Latief, 2010)
1) Indikasi spinal anestesi yaitu, bedah ekstremitas bawah, bedah
panggul, tindakan sekitar rectum perineum, bedah obstetric ginekologi,
bedah urologi, bedah abdomen bawah
2) Kontra indikasi spinal anestesi
a) Kontra indikasi absolut : Pasien menolak, infeksi tempat suntikan,
hipovolemik berat, syok, gangguan pembekuan darah, mendapat
terapi antikoagulan, tekanan intracranial yang meninggi, hipotensi,
blok simpatik menghilangkan mekanisme kompensasi, fasilitas
resusitasi minimal atau tidak memadai.
b) Kontra indikasi relatif : Infeksi sistemik (sepsis atau bakterimia),
kelainan neurologis, kelainan psikis, pembedahan dengan waktu
lama, penyakit jantung, nyeri punggung, anak-anak karena kurang
kooperatif dan takut rasa baal.
d. Obat spinal anestesi
Obat untuk spinal anestesi disebut juga obat anestesi lokal dalam
pelaksanaannya disiapkan lidokain 5% atau bupivakain 0,5%. Sifat
bupivakain yang hipobarik lebih ringan dibandingkan cairan serebrospinal
menyebabkan penyebarannya menjadi tidak dapat diperkirakan, Dalam
dosis 3-4 ml durasinya mencapai 2-3 jam. Sedangkan bupivakain 0,5%
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
40
hiperbarik pada penggunaan daerah di bawah umbilikus lebih dapat
diperkirakan penyebarannya sampai ke thorakal 5 pada posisi supine. Pada
dosis 2-3 ml obat bupivakain mempunyai onset kerja yang cepat yaitu
sekitar 30 detik dan durasi kerja mencapai 2-3 jam. Dalam semua larutan
obat hyperbaric hipotensi lebih sering terjadi karena mempunyai efek blok
level yang lebih tinggi, tetapi respon tubuh kadang-kadang bersifat
individual (Aitkenhead & Smith, 2007).
e. Efek samping anestesi spinal
Jika anestesi mencapai thoraks bagian atas dan medula spinalis
dalam konsentrasi yang tinggi, dapat terjadi paralisis respiratori. Mual,
muntah, dan nyeri dapat terjadi selama pembedahan ketika digunakan
anestesi spinal. Sebagai aturan, reaksi ini terjadi akibat traksi berbagai
struktur, terutama sekali pada struktur di dalam rongga abdomen (Keat
Sally, 2013).
f. Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi pada pasien yang menjalani
operasi dengan anestesi spinal (Keat Sally, 2013) :
1) Sakit kepala terjadi sebagai komplikasi anestesi, beberapa faktor
yang terlibat dalam insiden sakit kepala antara lain ukuran jarum
spinal yang digunakan, kebocoran cairan dari spasium
subarakhnoid melalui letak pungsi dan status hidrasi pasien.
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
41
2) Jika anestesi spinal naik hingga ke dada, mungkin terjadi distres
pernapasan.
3) Mual dan muntah dapat terjadi akibat traksi di dalam rongga
abdomen.
4) Penurunan tekanan darah dapat terjadi dengan cepat karena terjadi
akibat blok anestesi pada saraf motorik simpatis dan serat syaraf
nyeri motorik menimbulkan vasodilatasi yang luas.
5) Menurunnya motilitas gastrointestinal dapat menimbulkan ileus
paralitik yang mengakibatkan akumulasi gas dan distensi abdomen.
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
42
B. Kerangka Teori
Pasien pre operasi
Faktor yang sectio caesarea dengan
mempengaruhi spinal anestesi.
kecemasan :
1. Tingkat pendidikan
2. Faktor usia
3. Faktor proses
persalinan Kecemasan
4. Faktor penolong Aromaterapi Rose
dan tempat Essential Oil
persalinan
5. Pandangan Senyawa geraniol &
linalool secara inhalasi
interpersonal
masuk melalui pernafasan
6. Kurangnya
informasi tentang
prosedur tindakan
7. Pekerjaan/status
Reseptor di hidung
ekonomi
8. Pengalaman
Suatu pesan elektrokimia
Hipotalamus Olfaktori
Pengatur system Sistem limbik
internal tubuh
Kecemasan
Relaks menurun
Gambar 2. Kerangka teori
Sumber : Koensoemardiyah (2009), Butje & Shattel (2008) , Sharma (2009),
Wong (2010).
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
43
C. Kerangka Konsep Penelitian
Variable bebas Variabel terikat
Aromaterapi Rose Kecemasan pasien
Essential Oil pre operasi sectio
caesarea dengan
spinal anestesi
Faktor yang mempengaruhi
Keterangan :
kecemasan :
1. Tingkat pendidikan
2. Faktor usia
: Diteliti 3. Faktor proses persalinan
4. Faktor penolong dan
tempat persalinan
5. Pandangan interpersonal
: Tidak diteliti 6. Kurangnya informasi
tentang prosedur
tindakan
7. Pekerjaan/status
ekonomi
8. Pengalaman
Gambar 3 : Kerangka konsep penelitian
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
44
D. Hipotesis Penelitian
Ada pengaruh pemberian aromaterapi rose essential oil terhadap
penurunan kecemasan pada pasien pre operasi sectio caesarea dengan spinal
anestesi di RSKIA Sadewa Yogyakarta.
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA