F.
Studi Kasus: Penerapan Pro-Poor Budgeting Untuk Mengurangi Kemiskinan di Bone,
Provinsi Sulawesi Selatan
Realisasi pendapatan daerah di Bone, Sulawesi Selatan selama periode 2013-
2015 mengalami peningkatan dari Rp 1.392,7 miliar menjadi Rp 1.870,1 miliar.
Pendapatan tersebut bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), dana perimbangan,
dan lain-lain pendapatan daerah yang sah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) diperoleh dari
pendapatan pajak, retribusi, pendapatan BUMD dan PAD yang sah lainnya.
Meningkatnya PAD hingga 2015 menunjukkan bahwa peran PAD sebagai sumber
penghasilan daerah mengalami perbaikan. Rincian pendapatan Kabupaten n Universitas
Bone dapat dilihat pada tabel 9.2 berikut.
Tabel 9.2 Tren Pendapatan Daerah di Kabupaten Bone (miliar rupiah)
Deskripsi 2013 2014 2015
Pendapatan Daerah 1392,7 1534, 1870,1
6
Pad 85,9 155,4 159,8
Pajak Daerah 14,6 36,3 35,1
Retribusi Daerah 14,1 15,4 15,2
Pendapatan BUMD 2,0 2,3 3,0
Lain-Lain Pad Yang Sah 55,3 101,4 106,5
Dana Perimbangan 1022,6 1083, 1242,6
6
Dana Bagi Hasil Pajak 63,8 42,2 29,5
Dana Bagi Hasil Non Pajak 2,7 4,7 5,4
Dana Lokasi Umum (DAU) 867,8 950,4 977,8
Dana Alokasi Khusus (DAK) 88,2 86,3 229,9
Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah 284,3 295,6 467,8
Hibah - - -
Dana Darurat - - -
Dana Bagi Hasil Pajak Dari Provinsi Dan Pemda Lainnya 35,5 50,8 53,9
Dana Penyesuaian Dan Otonomi Khusus 209,3 217,8 358,5
Bantuan Keuangan Dari Provinsi Atau Pemda Lainnya - - -
Lain - Lain 39,4 27,1 28,4
Sumber: BPS Kabupaten Bone
Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan mengalami
penurunan dalam enam tahun terakhir. Penurunan yang paling signifikan terjadi pada
tahun 2014 sebesar 7.240 jiwa. Penurunan kemiskinan tersebut berdampak pada
pertumbuhan tingkat ekonomi yang cukup tinggi pada saat itu sebesar 9,53%.
Peningkatan tersebut menjadi capaian tertinggi dalam enam tahun ke belakang.
Berdasarkan kejadian terebut dapat disimpulkan bahwa untuk mengurangi tingkat
kemiskinan di Kabupaten Bone, pertumbuhan ekonomi harus dipertahankan untuk
tetap berada dalam kisaran 9,0-10,0% per tahun.
Selanjutnya pada tahun 2016, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bone
mencapai 75.090 orang Kabupaten Bone merupakan daerah dengan jumlah penduduk
miskin terbesar di Provinsi Sulawesi Selatan. Sekitar 9,30% dari seluruh penduduk miskin
di Provinsi Sulawesi Selatan tinggal di Kabupaten Bone. Kabupaten Bone menempati
posisi ke 10 dari 24 kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan dalam hal persentase
penduduk miskin.
Berdasarkan penerimaan dana perimbangan yang diterima oleh pemerintah
lokal di Kabupaten Bone, proporsi rata-rata Dana Alokasi Umum (DAU) terhadap
keseluruhan dana keseimbangan adalah sebesar 82,86% Sedangkan untuk proporsi
Dana Alokasi Khusus (DAK) hanya sebesar 11,17% dan DBH hanya sekitar 5,97%. Adanya
proporsi DAU yang lebih besar merupakan peluang yang besar bagi pemerintah daerah
untuk dapat lebih mengalokasikan berbagai program dan kegiatan yang pro poor.
Namun, berdasarkan analisis jenis belanja pemerintah daerah di Kabupaten Bone,
ditemukan bahwa proporsi pengeluaran terbesar justru pada belanja pegawalyang lebih
dari 50% dari total belanja pemerintah daerah setiap tahun. Hal ini berarti dana yang
dialokasikan untuk pengeluaran lain termasuk untuk program yang mengatasi
kemiskinan hanya kurang dari setengahnya Total belanja pegawal rata-rata sebesar
Rp753 miliar untuk setiap tahun, sementara dana saldo rata-rata adalah Rp 947,8 miliar.
Jika semua belanja pegawai didanai oleh DAU, maka selisihnya dapat dialokasikan untuk
pengentasan kemiskinan (Gambar 9.1).
Upaya pengentasan kemiskinan tercermin dalam perumusan kebijakan,
program, dan kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh pemerintah, baik
pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Program dan kegiatan yang terkait
dengan pengentasan kemiskinan dapat dibagi menjadi beberapa kelompok. Salah
satunya adalah tim nasional percepatan pengurangan kemiskinan yang disebut TNP2K
yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
(i) kelompok pemberantasan kemiskinan berbasis keluarga,
(ii) kelompok pemberdayaan masyarakat, dan
(iii) kelompok pemberdayaan ekonomi skala mikro dan kecil. Kelompok pemberantasan
kemiskinan berbasis keluarga seperti Asuransi Kesehatan Masyarakat, Program Keluarga
Harapan, Beras untuk Orang Miskin, dan Bantuan Siswa Miskin. Kelompok
pemberdayaan masyarakat seperti Program Nasional melaluiPemberdayaan
Masyarakat-PNPM.
Sedangkan kelompok pemberdayaan ekonomi skala mikro dan kecil seperti program
kredit usaha masyarakat-KUR. Ketiga kluster atau kelompok tersebut dibentuk oleh
pemerintah pusat diikuti oleh pemerintah setempat. Sumber pendanaan berasal dari
pemerintah pusat melalui APBN atau berasal dari pemerintah daerah melalui anggaran
lokal.
Pemerintah Daerah Kabupaten Bone mengidentifikasi program pengentasan
kemiskinan pada tahun 2015 yang dibagi menjadi tiga kelompok (Bappeda, 2016):
1. Kelompok program perlindungan dan bantuan sosial sebanyak 28 program,
2. Kelompok program pemberdayaan masyarakat sebanya 33 program, serta
3. Pemberdayaan bisnis mikro dan kecil sebanyak 6 program.
Dengan demikian keseluruhan program pada tahun 2015 sebanyak 67 program. Dari
ketiga kelompok program pengentasan kemiskinan, kelompok pemberdayaan
masyarakat mendominasi semua program. Namun, perlu dicatat bahwa identifikasi
program-program ini tidak semuanya ditujukan untuk orang miskin secara langsung,
sehingga anggaran yang dialokasikan untuk program tidak semuanya dinikmati oleh
orang miskin.
Terdapat sembilan indikator kemiskinan berbasis lokal yang ada di Kabupaten
Bone, yaitu pendekatan kebutuhan pangan, kebutuhan sandang, kebutuhan
perumahan, kesehatan, pendidikan, kreasi lapangan kerja, modal, pendekatan nilai,
jarak dan transportasi. Kesembilan indikator tersebut ditetapkan oleh pemangku
kepentingan pembangunan di Kabupaten Bone dan menjadi referensi wajib bagi
pemerintah daerah ketika merancang program dan kegiatan yang secara langsung
menangani kebutuhan khusus orang miskin. Harapannya orang miskin tersebut dapat
langsung menikmati layanan publik yang disediakan oleh pemerintah.
Salah satu ukuran pelaksanaan kebijakan anggaran pro miskin adalah
peningkatan proporsi alokasi anggaran/realisasi anggaran untuk masyarakat miskin.
Dengan demikian, pemerintah daerah dapat menambahkan kegiatan untuk orang
miskin yang relevan dengan tiga kelompok program. Misalnya, kelompok ditambahkan
kegiatan yang benar-benar ditujukan untuk orang miskin. Alternatif lain adalah dengan
meningkatkan program program pemberdayaan masyarakat, dapat ditambahkan
kegiatan yang benar–benar ditujukan untuk orang miskin. Altenatif lain adalah dengan
meningkatkan program