100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
134 tayangan43 halaman

Uji Keamanan dan Stabilitas Kosmetik

1. Uji keamanan kosmetik meliputi uji bioavailability, sensitivitas, mikrobiologi, dan efek produk terhadap kulit. 2. Reaksi negatif yang mungkin terjadi meliputi dermatitis kontak, fotodermatitis, dan aknegenisitas. 3. Stabilitas formula perlu dievaluasi dengan menguji perubahan pH, viskositas, ukuran partikel, dan mikrobiologi.

Diunggah oleh

fishabil
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
134 tayangan43 halaman

Uji Keamanan dan Stabilitas Kosmetik

1. Uji keamanan kosmetik meliputi uji bioavailability, sensitivitas, mikrobiologi, dan efek produk terhadap kulit. 2. Reaksi negatif yang mungkin terjadi meliputi dermatitis kontak, fotodermatitis, dan aknegenisitas. 3. Stabilitas formula perlu dievaluasi dengan menguji perubahan pH, viskositas, ukuran partikel, dan mikrobiologi.

Diunggah oleh

fishabil
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

UJI KEAMANAN KOSMETIK

KOSMETOLOGI (FA 3022)

apt. Gayatri Simanullang, [Link].


POKOK BAHASAN

• Uji Bioavailability dan skin bioefficacy


• Uji sensitivitas sediaan kosmetik
• Uji mikrobiologi
Uji Efikasi Kosmetik Perawatan Kulit
• Tergantung pada tujuan penggunaan kosmetik
• Contoh:
1. Kosmetik pembersih → bahan pembersih harus selektif
2. Kosmetik untuk pemijatan terhadap tubuh → efeknya perbaikan
sirkulasi darah dapat dievaluasi dengan mengukur aliran darah
menggunakan Thermocouple tissue blood flow meter (SHINCORDER
CT, E-301)
3. Kosmetik perawatan tangan → pengukuran dan pengamatan kadar
air kulit, sebum, warna kulit, metabolism stratum korneum,
morfologi dan dinamika sel stratum korneum
Reaksi Negatif Akibat Kosmetik

[Link]
Photoirritation/Phototox
Contact Dermatitis icity
• Reakasi Iritasi non
• Reaksi Inflamasi akibat
imunologis yang diinduksi
paparan iritan Allergic Contact secara kimiawi dan
• Iritan : agent fisika/kimia Dermatitis (Irritation) membutuhkan cahaya
yang dapat menyebabkan
• Reaksi Hipersensitivitas • Contoh : Sunscreen yan
kerusakan sel
akibat alergen mengandung PABA, make-
• Contoh : deodoran, krim up
pemutih • Alergen : senyawa dg BM
kecil, dapat penetrasi
kedalam kulit dan
berikatan dengan protein
→ antigen → respon
alergi
• Contoh : cat rambut,
lipstik, parfum, dll
[Link]
[Link]
Reaksi Negatif Akibat Kosmetik

Acnegenicity
Sensitive Skin
• Reaksi disebabkan bahan kimia yang
menyebabkan jerawat atau memperburuk
keadaan jerawat • Intoleransi bahan kimia pada
• Comedogenicity : reaksi hiperkeratin pada kosmetik
sebaceous follicle/ pembentukan
mikrokomedo • Pada umunya muncul sebagai
• Pustulogenicity: reaksi inflamasi→ papula reaksi iritasi
& pustula
• Contoh : Moistiurizer berbahan minyak
Bahan Penyebab Reaksi Iritasi

Balsam of Peru, cinnamal, fragrance mix (ingredients:


eugenol, isoeugenol, oak moss absolute, geraniol, amyl
cinnamic aldehyde, hydroxycitronellal, cinnamic
alcohol, and α-cinnamal)

→ Fragrance mix detects about 86% of positive


reactions.
→ Balsam of Peru raised this percentage to 96.
Syarat dalam Pembuatan Produk
Kosmetik yang Aman
✓Eliminasi alergen dan iritan, atau alergen dan
iritan dengan konsentrasi minimal
✓Pemilihan Bahan baku murni, bebas
kontaminan
✓Pemilihan Pelarut, surfaktan, zat pengawet
yang memiliki potensi sensitisasi minimal
How to make sure your
Product is safe?

Quality Testing
Profil
Farmakokinetik

Uji
Praklinik

Keamanan Profil
(safety) Farmakodinamik
Uji Stabilitas ✓Untuk memastikan
komponen produk sesuai
dengan guideline
Evaluasi produk ✓Untuk mengukur
perubahan kondisi produk
terhadap waktu pada
kondisi lingkungan
Formulasi Optimal berbeda →”Acceptable
Changing”
✓Evaluate storage
conditions and the
Look, Feel, Smell maintain product shelf life.
the same each time
consumer uses them.
Stabilitas Formula
• Perubahan Fisik Kontrol SUHU & CAHAYA
Perubahan Kimia
Berpengaruh
• Warna terhadap :
1. Solubility → penampilan
• Perubahan warna → semakin
gelap/terang
2. Bau
3. Warna
• Bau
• Unpleasant Odor → determine what Storage Conditions in Industry :
is causing the odor ? → removed 54°C
fragrance or 50°C, 45°C, 37°C or 35°C, room
• Penampilan temperature (25°C), 4°C,
• Emulsi pecah → packaging ? freeze/thaw, and exposure
to fluorescent and natural light.
Stabilitas Formula
Perubahan Fisik Perubahan Kimia

Warna Instrumental Evaluation


How much
Perubahan warna → semakin
gelap/terang
pH Sediaan (pH meter)
Perubahan pH → terjadi reaksi
Bau change is kimia → aman ??
Viskositas (Viscometer)

what acceptable ?
Unpleasant Odor → determine Terlalu kental → test perubahan
is causing the odor ? → suhu
removed fragarance
Ukuran Partikel (Microscopic
Penampilan Evaluation )
Emulsi pecah → packaging ? Electrical Conductivity (NMR,
Kromatografi, titrasi,
spektroskopi)
Uji pH Pada Sediaan Kosmetik

Unpublished Data
Uji Viskositas Pada Sediaan Kosmetik

Unpublished Data
Packaging Issues

Formulasi
Probabilitas
Konstan
masalah ??
Manufacturing
Processes
Perbedaan Karakteristik kemasan → Uji stabilitas

Berat Berkurang
Interaksi Formula + kemasan Perubahan warna kemasan
Perubahan bau kemasan

Package-dependent
Stability Control
Uji Mikrobiologi
Sumber Kontaminasi mikroba :
First
1. Bahan Baku
reported
2. Manufacturing Process
3. Bahan Galenik (ekstrak nabati dan hewani)

Klebsiella, Enterobacter, Serratia,Pseudomonas


Fecal Bacteria

Each cosmetic contains different


microorganisms that can be harmful
to consumers during its use
UJI MIKROBIOLOGI
• Digunakan untuk menilai kinerja pengawet dalam produk merupakan
bagian integral dari pengembangan formulasi
• Prosedur untuk uji tantangan dapat dilihat pada berbagai publikasi (yang
dikeluarkan oleh CTFA (Cosmetic Tolietry & Fragrance Association)
• Dilakukan pada sampel misalnya sampel diekspose pada suhu 45⁰C selama
1 bulan, disamping sampel yang disimpan dalam kemasan akhir.
• Jika dilakukan pengujian panel lebih baik dilakukan analisis perhitungan
plat (plat count analysis) pada sampel yang dikembalikan dari uji
pengguna, dilakukan dari bets skala pilot-skala besar yang dapat
mempengaruhi pengawet
Uji Mikrobiologi
- Bahan Baku -
- Manufacturing Process -

UV Lamps,
Bacterial - Galenical -
Filtration

Pseudomonas
✓ Suhu
✓ Formulasi
aw < 70%
Uji Mikrobiologi
10% larutan homogen/suspensi produk + sterille
Sample Preparation neutralizing solution / sterile buffered peptone
saline pH 7

Mencegah “negatif palsu”


Validasi Inaktivasi Bahan 1 mL pengawet + 9 mL Neutralizing solution
Pengawet + 0,1 mL suspensi bakteri → amati
Seharusnya tidak ada perbedaan hasil pada sampel

Bacterial and Fungal


1 mL sampel → sterile petri dish (plat count agar)
Counts
→ inkubasi 30 – 35o C selama 5 hari
u/ yeast 20 - 25o C selama 5-7 hari

Europian Pharmacopeia, Method for


microbiological analysis of non sterile
pharmaceutical
Microbial limit
Produk Jadi 1000 organisme/gram atau mL
Staphylococcus aureus, Candida albicans,
enterobacteria, and Pseudomonas aeruginosa → tidak
boleh ada
Produk Jadi untuk 100 organisme/gram atau mL
Bayi Staphylococcus aureus, Candida albicans,
enterobacteria, and Pseudomonas aeruginosa → tidak
boleh ada

Bahan Baku 100 organisme/gram atau mL


Staphylococcus aureus, Candida albicans,
enterobacteria, and Pseudomonas aeruginosa → tidak
boleh ada
Air sbg bahan baku 100 organisme/gram atau mL
Coliform tidak boleh ada
Barel, Andre O., Paye Marc, Maibach, Howard I., 2009, Handbook of Cosmetic Science and Technology 3rd
Edition, Infroma Healthcare USA, Inc., USA
Uji Toksikologi
to determine if any substances of the
product and their mixtures present a risk
when used by customers.

Uji iritasi
In Vitro & InVivo
Uji korosi

Uji penetrasi & sensitisasi (Patch testing)


In Vitro Skin Irritation
Skin Irritation Testing
• Cell cultures
terdiri dari multilayer epidermis dan multilayer stratum
corneum dalam filter permeabel
• MTT Viability Assay
Metode Kolorimetri → aktivitas metabolisme sel
• Enzyme-Release Assay
deteksi terjadinya sitotoksisitas (berhubungan dgn sel T),
menggunakan enzim lactate dehydrogenase (LDH)
Murah, mudah dilakukan, presisi.
• Interleukin Assay
deteksi hipersentifitas → immune system (Metode ELISA)
Source : Thermo Scientific

[Link]
Robinson MK, Perkins MA, Osborne R. Comparative studies on cultured human skin models
for irritation testing. In: van Zutphen LFM, Balls M, eds. Animal Alternatives, Welfare and
Ethics. Amsterdam: Elsevier, 1997:1123–1134.
In Vitro Skin Irritation
Iritasi → korosi (more severe, irreversible)

Skin Corrosion Testing


Metode Transcutaneous Electrical Resistance (TER)

Menguji efek paparan bahan kimia pada sistem barier


kulit → resistensi kulit → electrical charge
In Vivo Skin Irritation
Animal Testing
TUJUAN ANIMAL TESTING
• Memastikan keamanan bahan baku yang digunakan dalam 1 produk
• Memastikan bahwa senyawa yang digunakan tidak memiliki efek
fisiologis yang negative thd jaringan tubuh manusia
• Memastikan keamanan produk kosmetik yang dihasilkan
• Mengetahui fototoksisitas, potensi iritasi, komedogenitas
Draize Rabbit Models
Jenis hewan uji: kelinci albino
Waktu pemantauan : setelah 24, 48, 96 jam
Hasil: gejala yang timbul pada mata → edema, kekeruhan
kornea, reaksi terhadap cahaya, pelebaran vaskuler,
kemerahan
Uji iritasi primer:
Dilakukan pada kulit punggung
Hewan uji: kelinci albino
Evaluasi: setelah 24, 48, 96 jam
Skor keparahan secara numerik
The procedure adopted in the U.S. Federal Hazardous
Substance Act (FHSA)
Tests of comedogenicity
Tempat aplikasi : Beberapa minggu Biopsi pada permukaan kulit
- Telinga Kelinci menggunakan perekat
- Punggung/Panggul Manusia cynoacrylate

• timbulnya komedo dilihat dg mikroskop,


diukur berdasarkan jumlah dan ukuran
• Nigam PK. Adverse reactions to cosmetics and methods of
testing. Indian J Dermatol Venereol Leprol 2009;75:10-19.

Source : [Link]
Tests of comedogenicity (Animal Testing)
• 0,5 ml bahan diaplikasikan ke satu telinga setiap kelinci, telinga lain
sebagai control
• Tes dilakukan 5 hari dalam seminggu selama 2 minggu berturut-turut
• Observasi timbulnya pembesaran pori-pori dan hyperkeratosis dari
folikel minyak dan dibandingkan dengan control
• Hasil dinilai dengan angka 0 = negative s/d 5 = hebat
Tests of comedogenicity (Human Testing)
• Langsung pada wajah
• Dipilih remaja yang menderita jerawat / mudah jerawat
• Sebelum tes dilakukan, jerawat yang ada dihitung, bahan
diaplikasikan selama 4-8 minggu, lalu dinilai kembali
• kekurangan : Penilaian hasil tes ini kurang objektif
Tests of comedogenicity (Human Testing)
• Patch test pada bagian belakang tubuh
• Dipilih 4-6 pria mudah timbul jerawat pada tubuh bagian belakang
dilakukan diarea cukup luas selama 30 hari dengan beberapa
penggantian
• Pada awal dan akhir tes dilakukan biopsy pada folikel didaerah tes dan
lapisan keratinnya yang paling atas telah hilang
• Hasil tes menunjukkan penyumbatan keratin menunjukkan
peningkatan serbuk keratin pada pemeriksaan mikroskopis
• Tingkat reaksi positif tergantung dari derajat sumbatannya
In Vivo Skin Irritation
Human Testing

1. Patch tests
2. Chamber scarification tests
3. Repeated open application test/provocative use
test (ROAT)
4. Soap chamber tests for detergents
Patch Test
Menentukan iritasi kulit pada reaksi hipersensitivitas akibat
paparan alergen
Patch Test

Johansen JD et al. European Society of Contact Dermatitis guideline for diagnostic patch testing —
recommendations on best practice. Contact Dermat 2015 Oct; 73:195. ([Link]
Patch Test

Johansen JD et al. European Society of Contact Dermatitis guideline for diagnostic patch testing —
recommendations on best practice. Contact Dermat 2015 Oct; 73:195. ([Link]
Chamber scarification tests
Menguji potensial iritan pada produk yang digunakan pada kulit
yang rusak/luka
➢ Six to eight 1 mm sites on the volar forearm
were scratched eight times with a 30-gauge
How ? needle without causing bleeding.
➢ Four scratches were parallel and the other
four are perpendicular to these.
➢ Duhring chambers, containing 0.1 g / 0.1 mL
of test material (ointments,creams, or
powders), were then placed over the test
sites.
➢ Chambers containing fresh materials are
reapplied daily for 3 days. the sites are
evaluated by visual scoring 30 minutes after
removal of the final set of chambers.
Tugas Individu
• Review Jurnal
- Metode
- Langkah kerja uji

• Ditulis tangan dikertas HVS A4


• Scan format .pdf maksimal ukuran
500kb (dapat terbaca)
Nim_Nama_Tugas Kosmetika
• Deadline Next week (GCR)
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai