HUBUNGAN NILAI CBR LABORATORIUM DAN CBR LAPANGAN
DENGAN PENGUJIAN PENETRASI KONUS DINAMIS (DYNAMIC
CONE PENETROMETER) PADA KONDISI EKSISTING DI LAPANGAN
(Proposal Penelitian)
Oleh:
MUHAMMAD KAFI
1415011103
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2020
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI......................................................................................................ii
DAFTAR TABEL...............................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR.........................................................................................v
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................3
C. Batasan Masalah...................................................................................3
D. Tujuan Penelitian..................................................................................4
E. Manfaat Penelitian...............................................................................4
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tanah....................................................................................................5
1. Definisi Tanah...............................................................................5
2. Tanah Timbunan...........................................................................6
B. Pemadatan Tanah.................................................................................8
1. Definisi pemadatan tanah...............................................................8
2. Dasar-Dasar Teori Pemadatan........................................................9
C. Daya Dukung Tanah..........................................................................13
D. California Bearing Ratio…................................................................14
E. Dyinamic cone penetrometer..............................................................18
F. Studi Literatur......................................................................................19
iii
III. METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian.................................................................................28
B. Metode Pengambilan Sampel..............................................................29
C. Pelaksanaan Pengujian........................................................................29
D. Bagan Alir Penelitian..........................................................................33
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Komposisi Tanah............................................................................................5
2. Alat Uji Pemadatan Tanah Standard Proctor...............................................11
3. Kurva Hubungan Kadar Air dengan Berat Volume Kering..........................13
4. Mold dan hammer Uji CBR Laboratorium...................................................15
5. Alat Uji Penetrasi CBR laboratorium..........................................................16
6. Grafik Hubungan CBR Laboratorium dan CBR Lapangan pada Ruas
jalan Wori-Likupang....................................................................................21
7. Hubungan Berat Volume kering dengan nilai CBR tanpa Rendaman
Metode Tumbukan........................................................................................23
.
8. Hubungan Berat Volume kering dengan nilai CBR Rendaman
MetodeTumbukan.........................................................................................24
9. Hubungan Nilai Berat Volume kering dan nilai CBR Rendaman
Metode Tekanan...........................................................................................25
10. Hubungan Tekanan dan Nilai CBR Rendaman dan tanpa Rendaman
Tiga Titik Metode Tekanan..........................................................................25
11. Hubungan Tekanan dan Nilai CBR Rendaman dan Tanpa Rendaman
Sembilan Titik Metode Tekanan..................................................................26
12. Hubungan Tekanan dan Nilai Berat Volume Kering dan Uji CBR
Rendaman dan Tanpa Rendaman Metode Tekanan....................................27
13. Lokasi Sampel Tanah...................................................................................28
14. Diagram Alir................................................................................................33
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Beban Penetrasi Bahan Standar....................................................................18
2. Hasil Perhitungan Lapangan…......................................................................20
3. Perbandingan Nilai CBR Lapangan dan CBR Laboratorium.........................20
4. Hasil Perhitungan Pengujian CBR tanpa Rendaman Metode Tumbukan.......22
5. Hasil Perhitungan Pengujian CBR Rendaman Metode Tumbukan...............23
1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemajuan pembangunan baik di bidang fisik maupun non fisik tidak terlepas
dari peran serta segenap lapisan masyarakat. Seiring dengan kemajuan ini
maka dituntut pula peningkatan kualitas dari sarana dan prasarana pendukung
pembangunan. Salah satu bentuk peningkatan kualitas tersebut ada pada
konstruksi gardu induk listrik yang terletak di Provinsi Lampung. Pemakaian
konsumsi listrik di Provinsi Lampung yang cukup besar membuat pemerintah
berencana menambah gardu induk guna memenuhi kebutuhan masyarakat
dimana pembangunan gardu induk tersebut memerlukan kekuatan struktur
yang tepat agar bangunannya memiliki konstruksi yang kuat.
Menurut T. William Lambert dan Robert V. Whitman (1969), Hampir semua
struktur Teknik sipil seperti bangunan, jembatan, jalan, terowongan, dinding
penahan tanah, tower, kanal atau bendungan di bangun di atas atau di dalam
permukaan tanah bumi. Menurut Dr. B.C. Punmia dkk. (2005), pondasi
adalah elemen penting dalam semua struktur teknik sipil, semua struktur
dibangun diatas atau didalam permukaan bumi. Maka diperlukan penanganan
tanah yang baik agar pondasi tanah dan struktur yang berada di atas tanah
dapat berdiri dengan kuat. Menurut Kazuto Nakazawa dkk. (2000), pada
suatu lokasi
2
pekerjaan konstruksi, tanah selalu mempunyai peranan yang penting karena
tanah adalah pondasi pendukung suatu bangunan atau bahan konstruksi dari
bangunan itu sendiri. Oleh karena itu, kekuatan struktur suatu konstruksi
sangat bergantung pada kondisi tanah. Biasanya kestabilan struktur suatu
konstruksi bangunan bergantung dengan pondasi dan daya dukung tanah yang
ada. Jika suatu konstruksi tidak memiliki kekuatan yang cukup maka
konstruksi tersebut akan mengalami kerusakan. Oleh karena itu untuk
mengetahui daya dukung tanah dapat dilakukan menggunakan beberapa
pengujian seperti, pengujian CBR (Carlifornia Bearing Ratio) dan Penetrasi
Konus Dinamis/DCP (Dynamic Cone Penetrometer) dilapangan.
Menurut Kodikara (2018), Pengujian CBR menggunakan pemadatan tanah di
dalam mold silinder untuk melakukan uji pemuatan tanah menggunakan
pendorong. Pengujian CBR bertujuan untuk mencari daya dukung tanah dari
suatu tanah. Sedangkan untuk penetrasi konus dinamis/DCP (Dynamic Cone
Penetrometer) adalah pengujian untuk mengukur daya dukung tanah dasar
langsung ditempat menggunakan alat DCP. Prosedur pengujian ini
merupakan prosedur yang cepat untuk melaksanakan evaluasi kekuatan tanah
dasar dan lapis pondasi dengan biaya yang murah.
Meskipun begitu, Untuk mengantisipasi kekurangan dalam pengujian DCP,
perlu dikoreksi dengan suatu hasil pengujian CBR Laboratorium yang
berguna untuk mengetahui lebih lanjut daya dukung tanah. Oleh sebab itu
dirasa perlu dilakukannya penelitian tentang hubungan nilai CBR
laboratorium dan CBR
Lapangan dengan pengujian Penetrasi Konus Dinamis terhadap Tanah
eksisting di lapangan.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana mengetahui kelayakan tingkat daya dukung tanah i?
2. Bagaimana mengetahui hubungan antara nilai CBR Laboratorium dan
CBR Lapangan dengan menggunakan alat DCP?
C. Batasan Masalah
Adapun batasan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Tanah yang diteliti berasal dari tanah Konstruksi Gardu Induk
Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung.
b. Pengujian pemadatan tanah menggunakan standard proctor method.
c. Adapun pengujian karakteristik tanah yang akan dilakukan di
laboratorium yaitu :
1. Pengujian Kadar Air
2. Penguian Berat Volume dan Pengujian Berat Jenis
3. Pengujian Batas Atterberg
a. Uji batas cair
b. Uji batas plastis
4. Pengujian analisis saringan dan analisis Hidrometer.
d. Pengujian CBR Laboratorium dengan metode tumbukan.
e. Pengujian yang dilakukan di lapangan adalah uji DCP.
D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui sifat-sifat fisik dan mekanis tanah yang berasal dari daerah
Teluk Ratai Kecamatan Pesawaran Provinsi Lampung.
2. Mengetahui tingkat kelayakan daya dukung tanah untuk suatu kekuatan
struktur lapis pondasi
3. Mengetahui pengaruh hubungan antara DCP lapangan dan nilai CBR
Laboratorium.
E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui seberapa besar hubungan
antara CBR laboratorium dan CBR lapangan dengan menggunakan alat DCP
agar dapat bermanfaat bagi dinas pekerjaan umum, kontraktor dan untuk
perkembangan ilmu pengetahuan sehingga menambah wawasan khususnya
mengenai daya dukung tanah pada suatu konstruksi.
6
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tanah
1. Definisi Tanah
Pengertian tanah sudah sangat umum dan luas, dalam ilmu Teknik sipil
dapat diartikan bahwa tanah merupakan material yang terdiri dari
beberapa zat alam yang terbentuk dari pelapukan. Tanah didefinisikan
sebagai material yang terdiri dari agregat (butiran), mineral-mineral padat
yang tidak tersementasi (terikat secara kimia) satu sama lain dan dari
bahan- bahan organik yang telah melapuk (yang berpartikel padat) disertai
dengan zat cair dan gas yang mengisi ruang-ruang kosong diantara
partikel- partikel padat tersebut (Das, 1995).
Uda
ra Volume rongga
A
ir
Partikel
Padat Volume Solid
Gambar 1. Komposisi Tanah.
Tanah adalah kumpulan dari bagian-bagian yang padat dan tidak terikat
antara satu dengan yang lain (diantaranya mungkin material organik)
rongga-rongga diantara material tersebut berisi udara dan air
6
(Verhoef,1994). Ikatan antara butiran yang relatif lemah dapat disebabkan
oleh karbonat, zat organik, atau oksida-oksida yang mengendap diantara
partikel-partikel. Ruang diantara partikel-partikel dapat berisi air, udara,
ataupun keduanya (Hardiyatmo, 2002).
Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa tanah
merupakan kumpulan dari berbagai material yang tidak terikat satu sama
lain yang dihasilkan dari pelapukan batuan.
2. Tanah Timbunan
a. Tanah Timbunan Pilihan
Timbunan atau urugan yang digunakan untuk pencapaian elevasi akhir
subgrade yang disyaratkan dalam gambar suatu perencanaan.
Timbunan hanya boleh diklasifikasikan sebagai timbunan pilihan bila
digunakan pada lokasi atau untuk maksud dimana bahan-bahan ini
telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Timbunan yang diklasifikasikan
sebagai timbunan pilihan harus terdiri dari bahan tanah dan batu yang
memenuhi semua ketentuan timbunan biasa dan memiliki sifat-sifat
tertentu tergantung dari maksud penggunaanya. Dalam segala hal,
seluruh timbunan pilihan harus memiliki nilai CBR paling sedikit 10%
setelah 4 hari perendaman bila dipadatkan sampai 100% (Spesifikasi
Bina Marga, 2010).
b. Tanah Timbunan Biasa
Timbunan atau urugan yang digunakan untuk pencapaian elevasi akhir
subgrade yang disyaratkan dalam gambar perencanaan tanpa maksud
khusus lainnya. Timbunan biasa ini juga digunakan untuk penggantian
material existing subgrade yang tidak memenuhi syarat (Spesifikasi
Bina Marga, 2010).
Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan biasa harus terdiri
dari tanah yang disetujui oleh pengawas yang memenuhi syarat untuk
digunakan dalam pekerjaan permanen. Bahan yang dipilih tidak
termasuk tanah yang plastisitasnya tinggi. Adapun bahan untuk
timbunan biasa memiliki sifat sebagai berikut :
1) Tanah yang tidak mengandung organik seperti jenis tanah OL, OH,
dan Pt dalam sistem klasifikasi USCS.
2) Tidak termasuk tanah yang berplastisitas tinggi, yang diklasifikasikan
sebagai A-7-6 menurut menurut SNI 03 6797:2002 atau sebagai CH
menurut sistem klasifikasi USCS.
3) Harus memiliki nilai CBR tidak kurang dari karakteristik daya
dukung tanah yaitu tidak kurang dari 6%.
c. Timbunan pilihan berbutir
Timbunan pilihan berbutir digunakan sebagai lapisan penopang pada
tanah lunak yang mempunyai CBR lapangan kurang 2 % tidak dapat
ditingkatkan dengan stabilisai diatas tanah rawa. Timbunan pilihan
berbutir di atas tanah rawa adalah bahan timbunan untuk keadaan
penghamparan dalam kondisi jenuh atau banjir tidak dapat
dihindarkan haruslah batu, pasir atau kerikil atau bahan berbutir
bersih lainnya dengan index plastisitas maksimum 6% (Spesifikasi
Bina Marga, 2010).
B. Pemadatan Tanah
1. Definisi Pemadatan Tanah
Proses naiknya kerapatan tanah dengan memperkecil jarak antar partikel
sehingga terjadi reduksi volume udara. Tingkat pemadatan diukur dari
berat volume kering yang dipadatkan. Bila air ditambahkan pada suatu
tanah yang sedang dipadatkan, air tersebut akan berfungsi sebagai unsur
pembasah atau pelumas pada partikel-partikel tanah. Karena adanya air,
partikel-partikel tersebut akan lebih mudah bergerak dan bergeseran satu
sama lain dengan membentuk kedudukan yang lebih rapat atau padat.
Untuk usaha pemadatan yang sama, berat volume kering dari tanah akan
naik bila kadar air dalam tanah (pada saat dipadatkan) meningkat
(Prihatono, 2011).
Pada pembuatan timbunan tanah untuk jalan raya, dam tanah, dan banyak
struktur teknik lainnya, tanah yang lepas (renggang) haruslah dipadatkan
untuk meningkatkan berat volumenya. Pemadatan tersebut berfungsi
untuk meningkatkan kekuatan tanah, sehingga dengan demikian
meningkatkan daya dukung pondasi di atasnya. Pemadatan juga dapat
mengurangi besarnya penurunan tanah yang tidak diinginkan dan
meningkatkan kemantapan lereng timbunan.
Penggilas besi berpermukaan halus (smooth-wheel rollers), dan penggilas
getar (vibratory rollers) adalah alat-alat yang umum digunakan di
lapangan untuk pemadatan tanah. Mesin getar dalam (vibroflot) juga
banyak digunakan untuk memadatkan tanah berbutir (granular soils)
sampai kedalaman yang cukup besar dari permukaan tanah.
2. Dasar-dasar Teori Pemadatan Tanah
a. Prinsip Pemadatan Tanah
Pada awal proses pemadatan, berat volume tanah kering (γd)
bertambah seiring dengan ditambahnya kadar air. Pada kadar air nol
(w=0), berat volume tanah basah (γb) sama dengan berat volume tanah
kering (γd). Ketika kadar air ditambah secara bertahap (dengan usaha
pemadatan yang sama), berat butiran tanah padat per volume satuan
(γd) juga bertambah. Pada kadar air lebih besar dari kadar air
optimum (OMC), kenaikan kadar air justru mengurangi berat volume
keringnya. Hal ini karena, air mengisi rongga pori yang sebelumnya
diisi oleh butiran padat. Kadar air pada saat berat volume kering
mencapai maksimum (γdmax) disebut kadar air optimum (Hardiyatmo,
2004).
1) Optimum moisture content (OMC)
Optimum moisture content (OMC) adalah kadar air di mana berat
volume kering maksimum dapat dicapai setelah upaya pemadatan
dilakukan. Optimum moisture content (OMC) biasanya dinyatakan
dalam persen (%). Pengujian pemadatan standar adalah metode
laboratorium yang secara eksperimental menentukan kadar air
optimum di mana jenis tanah tertentu akan menjadi paling padat
dan mencapai kepadatan kering maksimum.
b. Pengujian Pemadatan Standar
Untuk mengevaluasi tanah agar memenuhi persyaratan pemadatan,
maka umumnya dilakukan pengujian pemadatan. Proctor (1933)
dalam Hardiyatmo (1992), telah mengamati bahwa ada hubungan
yang pasti antara kadar air dan berat volume kering yang padat. Untuk
berbagai jenis tanah pada umumnya salah satu nilai kadar air optimum
(OMC) tertentu untuk mencapai berat volume kering maksimumnya
(γdmax).
Hubungan berat volume kering (γd) dengan berat volume basah (γb)
dan kadar air (w), dinyatakan dalam persamaan :
γd = b......................................
1 (1)
Berat volume kering setelah pemadatan bergantung pada jenis tanah,
kadar air, dan usaha yang diberikan oleh alat penumbuknya.
Karakteristik kepadatan tanah dapat dinilai dari pengujian pemadatan
standar laboratorium. Prinsip pengujiannya diterangkan dibawah ini.
Tanah di dalam cetakan silinder (mold) yang mempunyai diameter
10,2 cm dan tinggi 11,6 cm dipadatkan menggunakan penumbuk
(hammer) yang beratnya 2,5 kg dengan tinggi jatuh 30,5 cm. Tanah
dipadatkan dalam 3 (tiga) lapisan dengan tiap lapisan ditumbuk
sebanyak 25 kali pukulan. Berikut merupakan alat pemadatan tanah
standard proctor pada gambar 2.
Hammer
Extension Collar
Mold
Keping
Gambar 2. Alat Uji Pemadatan Standar.
Setiap elemen pada alat uji pemadatan standar memiliki fungsi yang
berbeda, berikut penjelasan fungsinya:
1) Hammer berfungsi sebagai alat penumbuk untuk memadatkan tanah
didalam cetakan silinder (mold).
2) Cetakan silinder (mold) berfungsi sebagai wadah sampel tanah
yang akan diuji.
3) Keping alas berfungsi untuk menahan posisi cetakan silinder (mold)
agar tidak bergoyang pada saat dilakukan pemadatan.
Menurut SNI 1742:2008, peralatan yang digunakan berupa cetakan
silinder berkapasitas 943 cm3 ± 8 cm3 dengan diameter dalam 101,60
mm ± 0,41 mm dan tinggi 116,43 mm ± 0,13 mm. Saringan dengan
diameter lubang 50 mm, 19 mm, dan 4,75 mm sesuai SNI 6866:2002.
Alat pengeluar benda uji (extruder) yang terdiri dari sebuah dongkrak,
pengungkit dan rangka. Tiga buah timbangan (ketelitian 1 gram, 0,1
gram dan 0,01 gram). Oven pengering, pisau perata, cawan serta alat
pencampur yang terdiri dari baki, sendok pengaduk, sekop, spatula dan
alat bantu lainnya.
Tanah dalam cetakan dipadatkan dengan alat penumbuk, terdapat dua
alat penumbuk yaitu :
1) Alat penumbuk tangan (manual)
Permukaan tumbuk berbentuk bundar dan rata dengan diameter
50,80 mm ± 0,25 mm serta mempunyai massa 2,495 kg ± 0,009 kg.
Penumbuk manual harus dilengkapi dengan selubung yang dapat
mengatur jatuh bebas setinggi 305 mm ± 2 mm di atas permukaan
tanah yang akan dipadatkan.
2) Alat penumbuk mekanis
Permukaan tumbuk berbentuk bundar dan rata dengan diameter
50,80 mm ± 0,25 mm serta mempunyai massa 2,495 kg ± 0,009 kg.
Penumbuk mekanis dilengkapi alat pengontrol tinggi jatuh bebas
305 mm ± 2 mm di atas permukaan tanah yang akan dipadatkan dan
dapat menyebarkan tumbukan secara merata di atas permukaan. Alat
penumbuk mekanis harus dikalibrasi terhadap beberapa macam jenis
tanah dan massa penumbuk disesuaikan agar mendapatkan
hubungan kadar air dengan kepadatan kering yang sama apabila
dipadatkan dengan alat penumbuk manual (ASTM D 2168). Adapun
grafik
hubungan kadar air optimum (OMC) dan berat volume kering
maksimum, diperlihatkan pada gambar berikut :
Gambar 3. Kurva Hubungan Kadar Air dengan Berat Volume
Kering (Hardiyatmo, 2002).
C. Daya Dukung Tanah
Dalam perencanaan suatu konstruksi , daya dukung tanah dasar sangat
mempengaruhi sebuah lapisan pondasi, semakin tinggi daya dukung tanah,
maka semakin kuat untuk menahan beban . Daya dukung tanah dasar
(subgrade) dipengaruhi oleh jenis tanah, tingkat kepadatan, kadar air, dll
(Hendarsin, 2000). Ada beberapa metode untuk menentukan daya dukung
tanah seperti CBR (California Bearing Ratio), k (Modulus Reaksi Tanah
Dasar), Mr (Resilient Modulus), Skala Penetrasi Konus Dinamis/DCP
(Dynamic Cone Penetrometer) dan HCP (Hand Cone Penetrometer). Nilai
CBR diperoleh dari hasil pengujian sampel tanah yang telah disiapkan di
laboratorium atau langsung di lapangan.
Dalam penelitian ini yang digunakan untuk menentukan nilai daya dukung
tanah adalah pengujian CBR laboratorium metode tumbukan dan uji DCP pada
lapangan. Pengujian daya dukung tanah ini dilakukan untuk mendapatkan
perbandingan nilai CBR laboratorium metode tumbukan dengan CBR
lapangan menggunakan Skala Penetrasi Konus Dinamis/DCP (Dynamic Cone
Penetrometer).
D. California Bearing Ratio (CBR)
Menurut SNI 1744:2012 dan ASTM D-1883, California Bearing Ratio adalah
perbandingan antara beban penetrasi suatu beban terhadap beban standar
dengan kedalaman dan kecepatan penetrasi yang sama. Nilai CBR akan
digunakan untuk menentukan tebal lapisan perkerasan. Harga CBR itu sendiri
adalah nilai yang menyatakan kualitas tanah dasar dibandingkan dengan
bahan standar berupa batu pecah yang mempunyai nilai CBR sebesar 100%
dalam memikul beban. Menurut Soedarmo dan Purnomo (1993), berdasarkan
cara mendapatkan tanah, CBR dapat dibagi atas :
1. CBR lapangan (CBR inplace atau field CBR)
Pemeriksaan CBR dilakukan dalam kondisi kadar air tanah tinggi (musim
penghujan) atau dalam kondisi terburuk yang mungkin terjadi. Umum
digunakan untuk perencanaan tebal lapisan tanah dasarnya sudah tidak
akan dipadatkan lagi.
2. CBR laboratorium (laboratory CBR)
CBR laboratorium adalah nilai CBR yang diperoleh dari contoh tanah
yang dibuat dan mewakili keadaan tanah tersebut setelah dipadatkan.
Pengujian CBR laboratorium dilakukan menggunakan alat yang
mempunyai piston dengan luas 3 inci 2 dan kecepatan gerak vertikal ke
bawah 0,05 inci/menit serta proving ring yang digunakan untuk mengukur
beban yang dibutuhkan pada penetrasi tertentu yang diukur dengan arloji
pengukur (dial). Berikut merupakan alat uji CBR laboratorium metode
tumbukan pada gambar 4 dan 5.
Extension Collar
Hammer
Mold
Keping Alas
Gambar 4. Mold dan Hammer Uji CBR Laboratorium.
Arloji Beban Proving Ring
Arloji Penetrasi
Piston Penetrasi
Pelat Dasar
Engkol Pemutar
Gambar 5. Alat Uji Penetrasi CBR Laboratorium.
Setiap elemen pada alat uji penetrasi CBR laboratorium memiliki fungsi
yang berbeda, berikut penjelasan fungsinya:
a. Proving ring berfungsi untuk mengukur beban yang dibutuhkan pada
penetrasi tertentu.
b. Arloji penetrasi berfungsi untuk mengetahui besarnya penetrasi yang
diberikan pada sampel tanah.
c. Arloji beban berfungsi untuk mengetahui besar beban yang diterima oleh
sampel tanah saat dilakukan penterasi.
d. Piston penetrasi berfungsi sebagai jarum penetrasi yang akan menekan
tanah masuk kedalam.
e. Engkol pemutar berfungsi sebagai alat untuk menggerakan plat dasar
naik turun.
f. Pelat dasar berfungsi sebagai alas dudukan cetakan silinder (mold).
Menurut SNI 1744:2012, peralatan yang digunakan berupa cetakan silinder
dengan diameter bagian dalam 152,40 mm ± 0,66 mm dan tinggi 177,80 mm
± 0,46 mm. Cetakan harus dilengkapi leher sambung (extension collar)
dengan tinggi ± 50 mm dan keping alas yang berlubang banyak yang dapat
dipasang pas (tidak bergerak) pada kedua ujung cetakan. Keping pemisah
berpenampang bundar (lingkaran) dengan diameter 150,80 mm ± 0,80 mm
dan tinggi 61,37 mm ± 0,25 mm. Alat penumbuk yang digunakan sesuai SNI
1742:2008 atau SNI 1743:2008.
Peralatan pengukur pengembangan yang terdiri dari keping pengembangan
berdiameter 149,20 mm ± 1,60 mm dengan tangkai/batang yang dapat diatur
dan sebuah kaki tiga (tripot) untuk dudukan arloji ukur pengembangan.
Arloji ukur, masing-masing berkapasitas 25 mm dengan ketelitian
pembacaan sampai 0,02 mm. Keping beban berpenampang bundar
(lingkaran) berdiameter 149,20 mm ± 1,60 mm dengan lubang berdiameter ±
54,00 mm di tengah-tengahnya dan setiap keping memiliki massa 2,27 kg ±
0,04 kg. Piston penetrasi berpenampang bundar (lingkaran) dengan diameter
49,63 mm ± 0,13 mm dan panjang tidak kurang dari 102 mm. Penentuan
nilai CBR yang biasa digunakan untuk menghitung tebal lapisan tanah
(subgrade) adalah penetrasi 0,1” dan penetrasi 0,2” dengan rumus sebagai
berikut :
Nilai CBR pada penetrasi 0,1” = P1 x 100%.................................(2)
1000
Nilai CBR pada penetrasi 0,2” = P2 x 100%.................................(3)
1500
Dimana :
P1 = pembacaan dial pada saat penetrasi
0,1” P2 = pembacaan dial pada saat
penetrasi 0,2”
Nilai CBR yang didapat adalah nilai yang terkecil diantara hasil perhitungan
kedua nilai CBR. Berikut ini adalah tabel beban yang digunakan untuk
melakukan penetrasi bahan standar.
Tabel 1. Beban Penetrasi Bahan Standar, (Sukirman,1999).
Penetrasi Beban Standar Beban
(inci) (lbs) Standar
(lbs/inci)
0,1 30 10
0,2 00 00
0,3 45 15
0,4 00 00
0,5 57 19
00 00
69 23
00 00
78 60
00 00
E. Dynamic Cone Penetrometer (DCP)
Dynamic cone penetrometer (DCP) adalah suatu perangkat yang sederhana,
dapat dipakai pada permukaan yang tidak rata ,ekonomis, dan memberikan
indeks kekuatan struktur tanah in-situ secara cepat. DCP dipakai untuk
mengukur ketahanan material (tanah) atau resistansi terhadap penetrasi ketika
konus dari alat ini dipancangkan kedalam sampel material tanah. Jumlah
pukulan (blows) saat pengujian dicatat terhadap kedalaman penetrasi.
Perangkat yang sederhana , dapat dipakai pada permukaan yang tidak rata
,eknomis dan memberikan indeks kekuatan struktur tanah in situ secara cepat
garis kemiringan atau slope yang menghubungkan antara jumlah pukulan dan
kedalaman peneterasi (dalam milimeter per pukulan) secara linear pada
segmen kedalaman yang dicatat ,sebagai indeks penetrasi DCP, dimana dapat
di korelasikan dengan California bearing ration atau CBR (sawangsuriya et
al.,2008).
DCP merupakan perangkat yang terdiri dari konus pada bagian ujung bawah
dari batang vertikal. Untuk penetrasi sebuah palu diangkat hingga ketinggian
tertentu untuk dijatuhkan hingga memukul anvil perangkai dan menekan
konus , secara berulang untuk mendapatkan pukulan (blows) terhadap sampel
tanah. Skala vertikal dipakai sebagai pengukur kedalaman penetrasi dari
konus. Pada Pencatatan ditemui perubahan dalam nilai penetrasi yang
menggambarkan perubahan kekuatan material. Semakin sulit konus
berpenetrasi maka semakin kuat material struktur tanahnya, sebalikya
semakin mudah konus berpenetrasi maka struktur material tanah kurang kuat.
F. Studi Literatur
Beberapa penelitian yang menjadi bahan pertimbangan dan acuan penelitian
ini dikarenakan adanya beberapa kesamaan metode akan tetapi dengan
perlakuan yang berbeda pada sampel tanah yang digunakan, antara lain :
1. Lengkong, Pricilla (2013), dengan penelitian berjudul Hubungan Nilai
CBR Laboratorium dan DCP Pada Tanah yang Dipadatkan pada Ruas
Jalan Wori
- Likupang Kabupaten Minahasa Utara. Sampel tanah yang digunakan
berasal dari ruas jalan Wori – Likupang, Kabupaten Minahasa. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara nilai CBR laboratorium
dengan DCP di lapangan. Adapun hasil perhitungan di lapangan pada
penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Perhitungan Lapangan.(Sumber : Lengkong, 2013)
Lokasi DCP CBR
(mm/tumbukan)
lapangan
(%)
STA 38 4.11
28+200
STA 60 2.30
28+300
STA 70 1.89
28+400
STA 48.33 3.03
28+500
STA 23.33 7.63
28+600
STA 20 9.28
28+700
STA 30 5.55
28+800
STA 45 3.31
29+000
Berdasarkan hasil klasifikasi tanah dengan menggunakan sistem AASHTO,
maka tanah dasar Ruas Jalan Wori-Likupang termasuk dalam kelompok tanah
kerikil berlanau atau lempung dan pasir dengan simbol A-2-7. Adapun
perbandingan antara nilai CBR Lapangan dan CBR Laboratorium dapat dilihat
pada Tabel 3.
Tabel 3. Perbandingan Nilai CBR Lapangan dan CBR Laboratorium,
( lengkong, 2013).
Lokasi CBR lapangan (%) CBR laboratorium
(%)
STA 28+200 4.11 4.19
STA 28+300 2.30 2.29
STA 28+400 1.89 1.52
STA 28+500 3.03 2.48
STA 28+600 7.63 -
STA 28+700 9.28 -
STA 28+800 5.55 -
STA 29+000 3.31 3.05
Adapun nilai CBR lapangan dan CBR laboratorium tersebut kemudian
dimasukkan kedalam sebuah grafik yang dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Grafik Hubungan CBR Laboratorium dan CBR Lapangan pada Ruas
Jalan Wori-Likupang. (Lengkong ,2013)
Berdasarkan Gambar 5. menjelaskan bahwa hasil perhitungan CBR yang
diperoleh di laboratorium dengan dilapangan di Ruas Jalan Wori-Likupang
terdapat 4 titik penelitian atau sekitar 80% yang memiliki nilai yang hampir
sama yaitu pada STA 28+200, STA 28+300, STA 28+400 dan STA
29+000, sehingga penggunaan alat DCP untuk penentuan CBR tanah di
lapangan dapat dipakai untuk suatu data perencanaan konstruksi jalan tanpa
harus melakukan pengujian CBR lebih lanjut di laboratorium.
2. Utami, Widyastuti (2019), dengan penelitian Korelasi Uji Pemadatan
Standart Proctor Method Terhadap Pengujian Cbr Laboratorium
Berdasarkan Alat Uji Tekan Modifikasi Di Laboratorium Untuk Pemadatan
Tanah Di Lapangan . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
korelasi antara kepadatan tanah dengan nilai CBR. Pengambilan sampel
tanah dilakukan dengan cara pengambilan langsung sampel tanah yang
berasal dari daerah Tirtayasa Kec. Sukabumi, Bandar Lampung. Tanah
yang diambil adalah sampel tanah terganggu (disturbed sample) dan
sampel tanah tak terganggu (undisturbed sample). Pengujian CBR
tumbukan dilakukan menggunakan alat yang mempunyai piston dengan
luas 3 inci2 dan kecepatan gerak vertikal ke bawah 0,05 inci/menit serta
proving ring yang digunakan untuk mengukur beban yang dibutuhkan pada
penetrasi tertentu yang diukur dengan arloji pengukur (dial). Pengujian ini
dibagi menjadi dua, yaitu uji cbr rendaman dan uji tanpa rendaman.
a. CBR Tanpa Rendaman
Tabel 4. Hasil Perhitungan Pengujian CBR Tanpa Rendaman Metode
Tumbukan, (Utami, 2019).
Tumbuka Berat Volume Berat Kad Berat Ni
n Tanah Volume ar Volu lai
(gr) (cm3) (gr/cm3 Air me C
) (%) Kerin B
g R
(gr/c (
m3) %
()
10 5398 2993 1,803 19,33 1,511 1,9
9 11
25 5805 2938 1,975 18,62 1,665 2,9
7 78
55 5759 2666 2,160 19,54 1,806 6,2
3 67
Adapun [Link] perhitungan pengujian tersebut dapat digambarkan
melalui grafik yang dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Hubungan Berat Volume Kering dengan Nilai CBR Tanpa
Rendaman Metode Tumbukan. (Utami,2019).
b. CBR Rendaman
Tabel 5. Hasil Perhitungan Pengujian CBR Rendaman Metode Tumbukan,
(Utami, 2019).
Tumbuka Bera Volume Berat Kad Berat Ni
n t Volume ar lai
Tan (cm3) (gr/cm3 Air Volume C
ah ) (%) Kering B
(gr) (gr/cm3) R
(
%
()
10 3928 2104 1,867 31,437 1,420 1,13
3
25 4413 2132 2,070 27,700 1,621 2,06
7
55 4624 2160 2,141 23,464 1,734 2,40
0
Adapun penggambaran grafik dari hasil pengujian CBR rendaman metode
tumbukan dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Hubungan Berat Volume Kering dengan Nilai CBR Rendaman
Metode Tumbukan.(Utami,2019).
Pada Gambar 7 dan 8 menunjukkan bahwa nilai CBR tanpa rendaman
metode tumbukan sebesar 2,45% lebih tinggi dibandingkan nilai CBR
rendaman metode tumbukan, yaitu 2%. Hal ini disebabkan pada uji CBR
tanpa rendaman metode tumbukan, rongga antar butiran tanah yang
seharusnya berisi air dan udara telah digantikan oleh butiran padat.
Sedangkan pada uji CBR rendaman metode tumbukan, air dan udara dapat
masuk kembali mengisi rongga antar butiran tanah selama proses
perendaman. Pada CBR Metode Tekanan, sampel tanah dipadatkan
menggunakan alat uji tekan modifikasi. Pada pegujian ini dilakukan
sebanyak tiga tekanan yaitu 5 MPa, 10 MPa, dan 15 MPa. Adapun grafik
hubungan nilai berat volume kering (γd) dan nilai CBR rendaman dan
tanpa rendaman metode tekanan dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 9. Hubungan Nilai Berat Volume Kering (γ d) dan Nilai CBR
Rendaman dan Tanpa Rendaman Metode Tekanan.
(Utami,2019).
Kemudian dapat dilihat pada grafik hubungan tekanan dan nilai CBR
rendaman dan tanpa rendaman tiga titik metode tekanan dan sembilan titik
metode tekanan metode tekanan pada Gambar 9 dan Gambar 10.
Gambar 10. Hubungan Tekanan dan Nilai CBR Rendaman dan Tanpa
Rendaman Tiga Titik Metode Tekanan.(Utami,2019).
Gambar 11. Hubungan Tekanan dan Nilai CBR Rendaman dan Tanpa
Rendaman Sembilan Titik Metode Tekanan.(Utami,2019).
Pada Gambar 9, 10, dan 11 menunjukkan bahwa nilai CBR tanpa
rendaman metode tekanan lebih tinggi dibandingkan nilai CBR rendaman
metode tekanan. Hal ini membuktikan bahwa pemadatan metode tekanan
menggunakan alat uji tekan modifikasi sama baiknya dengan pemadatan
metode tumbukan menggunakan hammer.
Adapun grafik hubungan tekanan dan nilai berat volume kering (γ d) uji
CBR rendaman dan tanpa rendaman metode tekanan dapat dilihat pada
Gambar 12.
Gambar 12. Hubungan Tekanan dan Nilai Berat Volume Kering (γ d) Uji
CBR Rendaman dan Tanpa Rendaman Metode Tekanan.
(Utami,2019).
Pada Gambar 12 menunjukkan bahwa nilai berat volume kering (γ d) uji
CBR rendaman metode tekanan mendekati nilai berat volume kering (γ d)
uji CBR tanpa rendaman metode tekanan. Hal ini disebabkan kadar air
sampel tanah sudah turun drastis.
28
III. METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Pada penelitian ini sampel tanah berlokasi di provinsi Lampung kabupaten
[Link] di daerah Teluk Ratai yang diambil pada kondsi eksisting
digunakan untuk bahan inti Gardu induk listrik. Sehingga diperkirakan harus
memiliki daya dukung tanah yang [Link] konstruksi bangunan tersebut
memiliki kekuatan struktur tanah yang kuat.
Gambar 13. Lokasi Sampel Tanah
29
B. Metode Pengambilan Sampel
Sampel tanah diambil dengan cara pengambilan langsung yang berasal dari
daerah Teluk Ratai kabupaten Pesawaran Tanah yang diambil adalah sampel
tanah terganggu (disturbed sample) dan sampel tanah tak terganggu
(undisturbed sample). Pengambilan sampel tanah dilakukan di tiga titik yang
berbeda. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara digali terlebih dahulu
sedalam ± 1 meter, lalu tanah diambil secukupnya menggunakan karung dan
tabung.
Undisturbed sample diambil menggunakan tabung digunakan untuk
pengujian kadar air, berat volume, dan berat jenis. Disturbed sample diambil
menggunakan cangkul kemudian dimasukkan ke dalam karung digunakan
untuk pengujian batas Atterberg, analisis saringan, analisis hidrometer,
pemadatan Standart proctor method, dan pemadatan menggunakan alat uji
tekan pemadat standar. Setelah dilakukan uji fisik dan pemadatan tanah, maka
dapat diakukan uji CBR laboratorium
C. Pelaksanaan Pengujian
Pelaksanaan pengujian dilakukan di Laboratorium Mekanika Tanah Fakultas
Teknik Universitas Lampung. Sampel tanah terganggu (disturbed) yang
berada dalam karung yang telah diambil dari lapangan dihamparkan dan
dijemur hingga kering. Untuk tanah undisturbed, sampel yang berada dalam
tabung dapat langsung dilakukan pengujian kadar air, berat volume, dan berat
jenis. Adapun pelaksanaan pengujian di laboratorium sebagai berikut :
1. Pengujian Sifat Fisik Tanah (Untuk Tanah Undisturbed Sample)
Pengujian pada tanah asli ini dilakukan untuk mengetahui sifat fisik tanah
yang digunakan sebagai bahan sampel. Kemudian hasil dari pengujian
akan dianalisis sesuai dengan perbandingan metode yang digunakan.
Adapun pengujian sifat fisik tanah yang dilakukan adalah sebagai
berikut:
a. Pengujian Kadar Air
Pengujian kadar air bertujuan untuk mengetahui kadar air tanah pada
sampel tanah, yaitu perbandingan antara berat air yang terkandung
dalam butiran tanah dengan butiran tanah kering yang dinyatakan
dalam persen. Cara pengujian berdasarkan ASTM D 2216-98 dan SNI
1965- 2008.
b. Pengujian Berat Volume
Pengujian berat volume bertujuan untuk menentukan berat volume
tanah dengan keadaan asli (undisturbed sample), yaitu perbandingan
berat tanah dengan volume tanah. Pengujian berdasarkan ASTM D
2167 dan SNI 1973-2008.
c. Pengujian Berat Jenis
Pengujian berat jenis bertujuan untuk menentukan berat jenis tanah.
Sampel tanah yang digunakan yang lolos saringan ¾ in dengan
menggunakan picnometer. Pengujian berdasarkan ASTM D 854-02
dan SNI 1964-2008.
d. Pengujian Batas Atterberg
Pada pengujian batas atterberg bertujuan untuk menentukan kadar air
suatu jenis tanah pada batasan antara keadaan plastis dan keadaan cair,
sesuai ketentuan yang ditentukan oleh atterberg. Pengujian dilakukan
dalam dua tahap, yaitu pengujian batas cair (liquid limit test) dan
pengujian batas plastis (plastic limit test). Pengujian berdasarkan
ASTM D 4318-00 dan SNI 1967-2008.
e. Pengujian Analisa Saringan
Analisa Saringan adalah penentuan persentase berat butiran pada satu
unit saringan, dengan ukuran diameter lubang tertentu (Hardiyatmo,
1992). Pengujian analisa saringan berdasarkan ASTM D 422 dan SNI
1968-1990.
f. Pengujian Analisis Hidrometer (Hydrometry Analysis Test)
Pengujian analisis hidrometer bertujuan untuk menentukan distribusi
ukuran butir-butir tanah untuk tanah yang tidak mengandung butir
tertahan saringan no. 200. Pengujian berdasarkan ASTM D 1140 dan
SNI 3423 2008. Dari hasil uji diatas didapatkan nilai volume kering
maksimum (γdmax) dan kadar air optimum (wopt).
2. Pengujian Sifat Mekanis Tanah (Untuk Tanah disturbed Sample)
Sifat mekanis merupakan sifat perilaku dari struktur massa tanah pada
dikenai suatu gaya atau tekanan yang dijelaskan secara teknis mekanis.
Sampel tanah yang digunakan berupa tanah disturbed yang berada dalam
tabung dan sudah dikelola seperti dijelaskan di poin C (Pelaksanaan
Pengujian). Adapun pengujian sifat mekanis tanah yang dilakukan yaitu
berupa pengujian pemadatan tanah Standard Proctor Method bertujuan
untuk menentukan kepadatan maksimum suatu jenis tanah melalui cara
tumbukan. Dari hasil uji didapatkan nilai berat volume kering maksimum
(γdmax) dan kadar air optimum (wopt). Pengujian berdasarkan ASTM D-
698 dan SNI 1742:2008.
3. Pengujian California Bring Ratio (CBR) laboratorium.
Pengujian california Bring Ratio dilakukan di laboratorium teknik sipil
Universitas Lampung. Dalam pengujian ini digunakan metode tumbukan
dengan menggunakan hammer dengan ukuran piston 1,935 mm2 dan
gerak vertikal ke bawah 1,27 mm/menit serta proving ring yang
digunakan untuk mengukur beban yang dibutuhkan pada penetrasi
tertentu yang diukur dengan arloji pengukur (dial.) Tujuan pengujian ini
untuk menentukan nilai CBR material tanah yang dipadatkan
menggunakan hammer pada kadar air optimum (Wopt). Pengujian ini
dilakukan berdasarkan ASTM D 1883 dan SNI 1744 2012.
4. Pengujian Dinamic cone penetrometer (DCP) di lapangan.
Pengujian DCP di lapangan bertujuan untuk mengetahui kuat hambatan
tanah terhadap penetrasi dilapangan secara dinamis, khusus untuk tanah
permukaan atau tanah dasar (subgrade), sampai kedalaman maksimum
sehingga didapat grafik, di tentukan dalam hasil CBR lapangan %. Cara
pengujian berdasarkan ASTM D 6951.
D. Bagan Alir Penelitian
Tahapan studi penelitian yang dilakukan akan disajikan dalam bentuk bagan
alir sebagai berikut :
MULAI
PENGAMBILAN SAMPEL TANAH
SAMPEL TANAH TERGANGGU (DISTURBED) SAMPEL TANAH TERGANGGU (UNDISTURBED)
PENGUJIAN SIFAT-SIFAT FISIK TANAH PENGUJIAN SIFAT-SIFAT FISIK TANAH
TIDAK
CEK SYARAT TANAH
YA
DATA PENGUJIAN DYNAMIC CONE UJI PEMADATAN DENGAN ALAT
PENETROMTER DI LAPANGAN STANDARD PROCTOR
GRAFIK DATA DCP DARI PENGUJIAN CBR DI
HASIL PENGUJIAN DI
LABORATORIUM
LAPANGAN DENGAN
METODE TUMBUKAN
GRAFIK DATA CBR DARI HASIL
PENGUJIAN DI LABORATORIUM
GRAFIK HUBUNGAN NILAI DCP LAPANGAN DAN CBR LABORATORIUM
KESIMPULAN
SELESAI
Gambar 14. Diagram Alir
DAFTAR PUSTAKA
Bina Marga, Direktorat Jendral. “Spesifikasi Umum 2010”. Departemen Pekerjaan
Umum. Jakarta.
Bowles, E.J. 1991. “Sifat-sifat Fisis dan Geoteknis Tanah (Mekanika Tanah)”.PT.
Erlangga. Jakarta.
Craig, B.M. 1991. ”Mekanika Tanah”. Erlangga. Jakarta.
Das, B. M. 1995. “Mekanika Tanah (Prinsip-Prinsip Rekayasa Geoteknis) Jilid I”
PT. Erlangga. Jakarta.
Hardiyatmo, H.C. 2002. “Mekanika Tanah 1”. PT. Gramedia Pustaka [Link].
Kodikara, J., Islam, T., Sounthararajah, A., 2018, Review of Soil Compaction :
History and Recent Developments, Elsevier, pp,. 24-34.
Laboratorium Mekanika Tanah. 2014. Buku Petunjuk Praktikum Mekanika Tanah
I dan Mekanika Tanah II. Laboratorium Mekanika Tanah Jurusan
Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Lambe, T.W., Whitman R.V, 1969, Soil Mechanics, 1969, john wiley & sons, New
York.
Punmia, B.C., Jain, Ashok K., Jain, Arun K., 2005, Soil Mechanics and Foundation
16th edition, Laxmi Publicaton (P) LTD, New Delhi
Lengkong, Prisila., Sarte,Moninja., Sompie,O.B.A., Sumampouw,J.E.R., 2013,
Jurnal Sipil Statik Vol.1 No.5, April 2013, Jurusan Teknik Sipil Universitas
Sam [Link].
Nakazawa, K., Sosrodarsono, S., 2000, Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi, PT.
Pradnya Paramita, Jakarta.
Sawangsuriya., Auckpath., 2008, Innovative Tools for Highway Construction Quality
Control, Bureau of road reserch and development Bangkok,Thailand.
Sukirman, Silvia. 1992. ”Perkerasan Lentur Jalan Raya”. Nova. Bandung.
Utami,, W. 2019, Korelasi Pengujian Pemadatan Tanah Metode Standard
Proctor Method terhadap pengujian cbr laboratorium Berdasarkan Alat
Uji tekan modifikasi dilaboratorium untuk pemadatan tanah dilapangan,
Skripsi, Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Universitas Lampung. 2018. “Format Penulisan Karya Ilmiah Universitas
Lampung”. UPT Percetakan Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Verhoef, P.N.W. 1994. “Geologi Untuk Teknik Sipil”. PT. Erlangga. Jakarta.