0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
155 tayangan42 halaman

Hubungan CBR Laboratorium dan Lapangan

Proposal penelitian ini membahas hubungan antara nilai CBR laboratorium dan lapangan dengan pengujian penetrasi konus dinamis pada tanah eksisting di lapangan untuk konstruksi gardu induk. Penelitian ini akan menganalisis karakteristik tanah dan melakukan pengujian CBR serta penetrasi konus dinamis untuk mengetahui daya dukung tanah lapangan.

Diunggah oleh

zarazobell
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
155 tayangan42 halaman

Hubungan CBR Laboratorium dan Lapangan

Proposal penelitian ini membahas hubungan antara nilai CBR laboratorium dan lapangan dengan pengujian penetrasi konus dinamis pada tanah eksisting di lapangan untuk konstruksi gardu induk. Penelitian ini akan menganalisis karakteristik tanah dan melakukan pengujian CBR serta penetrasi konus dinamis untuk mengetahui daya dukung tanah lapangan.

Diunggah oleh

zarazobell
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN NILAI CBR LABORATORIUM DAN CBR LAPANGAN

DENGAN PENGUJIAN PENETRASI KONUS DINAMIS (DYNAMIC


CONE PENETROMETER) PADA KONDISI EKSISTING DI LAPANGAN

(Proposal Penelitian)

Oleh:
MUHAMMAD KAFI
1415011103

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2020
DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI......................................................................................................ii

DAFTAR TABEL...............................................................................................iv

DAFTAR GAMBAR.........................................................................................v

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang......................................................................................1

B. Rumusan Masalah.................................................................................3

C. Batasan Masalah...................................................................................3

D. Tujuan Penelitian..................................................................................4

E. Manfaat Penelitian...............................................................................4

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanah....................................................................................................5
1. Definisi Tanah...............................................................................5
2. Tanah Timbunan...........................................................................6

B. Pemadatan Tanah.................................................................................8
1. Definisi pemadatan tanah...............................................................8
2. Dasar-Dasar Teori Pemadatan........................................................9

C. Daya Dukung Tanah..........................................................................13

D. California Bearing Ratio…................................................................14

E. Dyinamic cone penetrometer..............................................................18

F. Studi Literatur......................................................................................19
iii

III. METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian.................................................................................28

B. Metode Pengambilan Sampel..............................................................29

C. Pelaksanaan Pengujian........................................................................29

D. Bagan Alir Penelitian..........................................................................33

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Komposisi Tanah............................................................................................5

2. Alat Uji Pemadatan Tanah Standard Proctor...............................................11

3. Kurva Hubungan Kadar Air dengan Berat Volume Kering..........................13

4. Mold dan hammer Uji CBR Laboratorium...................................................15

5. Alat Uji Penetrasi CBR laboratorium..........................................................16

6. Grafik Hubungan CBR Laboratorium dan CBR Lapangan pada Ruas


jalan Wori-Likupang....................................................................................21

7. Hubungan Berat Volume kering dengan nilai CBR tanpa Rendaman


Metode Tumbukan........................................................................................23
.
8. Hubungan Berat Volume kering dengan nilai CBR Rendaman
MetodeTumbukan.........................................................................................24

9. Hubungan Nilai Berat Volume kering dan nilai CBR Rendaman


Metode Tekanan...........................................................................................25

10. Hubungan Tekanan dan Nilai CBR Rendaman dan tanpa Rendaman
Tiga Titik Metode Tekanan..........................................................................25

11. Hubungan Tekanan dan Nilai CBR Rendaman dan Tanpa Rendaman
Sembilan Titik Metode Tekanan..................................................................26

12. Hubungan Tekanan dan Nilai Berat Volume Kering dan Uji CBR

Rendaman dan Tanpa Rendaman Metode Tekanan....................................27

13. Lokasi Sampel Tanah...................................................................................28

14. Diagram Alir................................................................................................33


DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Beban Penetrasi Bahan Standar....................................................................18

2. Hasil Perhitungan Lapangan…......................................................................20

3. Perbandingan Nilai CBR Lapangan dan CBR Laboratorium.........................20

4. Hasil Perhitungan Pengujian CBR tanpa Rendaman Metode Tumbukan.......22

5. Hasil Perhitungan Pengujian CBR Rendaman Metode Tumbukan...............23


1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kemajuan pembangunan baik di bidang fisik maupun non fisik tidak terlepas

dari peran serta segenap lapisan masyarakat. Seiring dengan kemajuan ini

maka dituntut pula peningkatan kualitas dari sarana dan prasarana pendukung

pembangunan. Salah satu bentuk peningkatan kualitas tersebut ada pada

konstruksi gardu induk listrik yang terletak di Provinsi Lampung. Pemakaian

konsumsi listrik di Provinsi Lampung yang cukup besar membuat pemerintah

berencana menambah gardu induk guna memenuhi kebutuhan masyarakat

dimana pembangunan gardu induk tersebut memerlukan kekuatan struktur

yang tepat agar bangunannya memiliki konstruksi yang kuat.

Menurut T. William Lambert dan Robert V. Whitman (1969), Hampir semua

struktur Teknik sipil seperti bangunan, jembatan, jalan, terowongan, dinding

penahan tanah, tower, kanal atau bendungan di bangun di atas atau di dalam

permukaan tanah bumi. Menurut Dr. B.C. Punmia dkk. (2005), pondasi

adalah elemen penting dalam semua struktur teknik sipil, semua struktur

dibangun diatas atau didalam permukaan bumi. Maka diperlukan penanganan

tanah yang baik agar pondasi tanah dan struktur yang berada di atas tanah

dapat berdiri dengan kuat. Menurut Kazuto Nakazawa dkk. (2000), pada

suatu lokasi
2

pekerjaan konstruksi, tanah selalu mempunyai peranan yang penting karena

tanah adalah pondasi pendukung suatu bangunan atau bahan konstruksi dari

bangunan itu sendiri. Oleh karena itu, kekuatan struktur suatu konstruksi

sangat bergantung pada kondisi tanah. Biasanya kestabilan struktur suatu

konstruksi bangunan bergantung dengan pondasi dan daya dukung tanah yang

ada. Jika suatu konstruksi tidak memiliki kekuatan yang cukup maka

konstruksi tersebut akan mengalami kerusakan. Oleh karena itu untuk

mengetahui daya dukung tanah dapat dilakukan menggunakan beberapa

pengujian seperti, pengujian CBR (Carlifornia Bearing Ratio) dan Penetrasi

Konus Dinamis/DCP (Dynamic Cone Penetrometer) dilapangan.

Menurut Kodikara (2018), Pengujian CBR menggunakan pemadatan tanah di

dalam mold silinder untuk melakukan uji pemuatan tanah menggunakan

pendorong. Pengujian CBR bertujuan untuk mencari daya dukung tanah dari

suatu tanah. Sedangkan untuk penetrasi konus dinamis/DCP (Dynamic Cone

Penetrometer) adalah pengujian untuk mengukur daya dukung tanah dasar

langsung ditempat menggunakan alat DCP. Prosedur pengujian ini

merupakan prosedur yang cepat untuk melaksanakan evaluasi kekuatan tanah

dasar dan lapis pondasi dengan biaya yang murah.

Meskipun begitu, Untuk mengantisipasi kekurangan dalam pengujian DCP,

perlu dikoreksi dengan suatu hasil pengujian CBR Laboratorium yang

berguna untuk mengetahui lebih lanjut daya dukung tanah. Oleh sebab itu

dirasa perlu dilakukannya penelitian tentang hubungan nilai CBR

laboratorium dan CBR


Lapangan dengan pengujian Penetrasi Konus Dinamis terhadap Tanah

eksisting di lapangan.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana mengetahui kelayakan tingkat daya dukung tanah i?

2. Bagaimana mengetahui hubungan antara nilai CBR Laboratorium dan

CBR Lapangan dengan menggunakan alat DCP?

C. Batasan Masalah

Adapun batasan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Tanah yang diteliti berasal dari tanah Konstruksi Gardu Induk

Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung.

b. Pengujian pemadatan tanah menggunakan standard proctor method.

c. Adapun pengujian karakteristik tanah yang akan dilakukan di

laboratorium yaitu :

1. Pengujian Kadar Air

2. Penguian Berat Volume dan Pengujian Berat Jenis

3. Pengujian Batas Atterberg

a. Uji batas cair

b. Uji batas plastis

4. Pengujian analisis saringan dan analisis Hidrometer.

d. Pengujian CBR Laboratorium dengan metode tumbukan.

e. Pengujian yang dilakukan di lapangan adalah uji DCP.


D. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui sifat-sifat fisik dan mekanis tanah yang berasal dari daerah

Teluk Ratai Kecamatan Pesawaran Provinsi Lampung.

2. Mengetahui tingkat kelayakan daya dukung tanah untuk suatu kekuatan

struktur lapis pondasi

3. Mengetahui pengaruh hubungan antara DCP lapangan dan nilai CBR

Laboratorium.

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui seberapa besar hubungan

antara CBR laboratorium dan CBR lapangan dengan menggunakan alat DCP

agar dapat bermanfaat bagi dinas pekerjaan umum, kontraktor dan untuk

perkembangan ilmu pengetahuan sehingga menambah wawasan khususnya

mengenai daya dukung tanah pada suatu konstruksi.


6

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanah

1. Definisi Tanah

Pengertian tanah sudah sangat umum dan luas, dalam ilmu Teknik sipil

dapat diartikan bahwa tanah merupakan material yang terdiri dari

beberapa zat alam yang terbentuk dari pelapukan. Tanah didefinisikan

sebagai material yang terdiri dari agregat (butiran), mineral-mineral padat

yang tidak tersementasi (terikat secara kimia) satu sama lain dan dari

bahan- bahan organik yang telah melapuk (yang berpartikel padat) disertai

dengan zat cair dan gas yang mengisi ruang-ruang kosong diantara

partikel- partikel padat tersebut (Das, 1995).

Uda
ra Volume rongga
A
ir
Partikel
Padat Volume Solid

Gambar 1. Komposisi Tanah.

Tanah adalah kumpulan dari bagian-bagian yang padat dan tidak terikat

antara satu dengan yang lain (diantaranya mungkin material organik)

rongga-rongga diantara material tersebut berisi udara dan air


6

(Verhoef,1994). Ikatan antara butiran yang relatif lemah dapat disebabkan

oleh karbonat, zat organik, atau oksida-oksida yang mengendap diantara

partikel-partikel. Ruang diantara partikel-partikel dapat berisi air, udara,

ataupun keduanya (Hardiyatmo, 2002).

Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa tanah

merupakan kumpulan dari berbagai material yang tidak terikat satu sama

lain yang dihasilkan dari pelapukan batuan.

2. Tanah Timbunan

a. Tanah Timbunan Pilihan

Timbunan atau urugan yang digunakan untuk pencapaian elevasi akhir

subgrade yang disyaratkan dalam gambar suatu perencanaan.

Timbunan hanya boleh diklasifikasikan sebagai timbunan pilihan bila

digunakan pada lokasi atau untuk maksud dimana bahan-bahan ini

telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Timbunan yang diklasifikasikan

sebagai timbunan pilihan harus terdiri dari bahan tanah dan batu yang

memenuhi semua ketentuan timbunan biasa dan memiliki sifat-sifat

tertentu tergantung dari maksud penggunaanya. Dalam segala hal,

seluruh timbunan pilihan harus memiliki nilai CBR paling sedikit 10%

setelah 4 hari perendaman bila dipadatkan sampai 100% (Spesifikasi

Bina Marga, 2010).

b. Tanah Timbunan Biasa

Timbunan atau urugan yang digunakan untuk pencapaian elevasi akhir

subgrade yang disyaratkan dalam gambar perencanaan tanpa maksud

khusus lainnya. Timbunan biasa ini juga digunakan untuk penggantian


material existing subgrade yang tidak memenuhi syarat (Spesifikasi

Bina Marga, 2010).

Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan biasa harus terdiri

dari tanah yang disetujui oleh pengawas yang memenuhi syarat untuk

digunakan dalam pekerjaan permanen. Bahan yang dipilih tidak

termasuk tanah yang plastisitasnya tinggi. Adapun bahan untuk

timbunan biasa memiliki sifat sebagai berikut :

1) Tanah yang tidak mengandung organik seperti jenis tanah OL, OH,

dan Pt dalam sistem klasifikasi USCS.

2) Tidak termasuk tanah yang berplastisitas tinggi, yang diklasifikasikan

sebagai A-7-6 menurut menurut SNI 03 6797:2002 atau sebagai CH

menurut sistem klasifikasi USCS.

3) Harus memiliki nilai CBR tidak kurang dari karakteristik daya

dukung tanah yaitu tidak kurang dari 6%.

c. Timbunan pilihan berbutir

Timbunan pilihan berbutir digunakan sebagai lapisan penopang pada

tanah lunak yang mempunyai CBR lapangan kurang 2 % tidak dapat

ditingkatkan dengan stabilisai diatas tanah rawa. Timbunan pilihan

berbutir di atas tanah rawa adalah bahan timbunan untuk keadaan

penghamparan dalam kondisi jenuh atau banjir tidak dapat

dihindarkan haruslah batu, pasir atau kerikil atau bahan berbutir

bersih lainnya dengan index plastisitas maksimum 6% (Spesifikasi

Bina Marga, 2010).


B. Pemadatan Tanah

1. Definisi Pemadatan Tanah

Proses naiknya kerapatan tanah dengan memperkecil jarak antar partikel

sehingga terjadi reduksi volume udara. Tingkat pemadatan diukur dari

berat volume kering yang dipadatkan. Bila air ditambahkan pada suatu

tanah yang sedang dipadatkan, air tersebut akan berfungsi sebagai unsur

pembasah atau pelumas pada partikel-partikel tanah. Karena adanya air,

partikel-partikel tersebut akan lebih mudah bergerak dan bergeseran satu

sama lain dengan membentuk kedudukan yang lebih rapat atau padat.

Untuk usaha pemadatan yang sama, berat volume kering dari tanah akan

naik bila kadar air dalam tanah (pada saat dipadatkan) meningkat

(Prihatono, 2011).

Pada pembuatan timbunan tanah untuk jalan raya, dam tanah, dan banyak

struktur teknik lainnya, tanah yang lepas (renggang) haruslah dipadatkan

untuk meningkatkan berat volumenya. Pemadatan tersebut berfungsi

untuk meningkatkan kekuatan tanah, sehingga dengan demikian

meningkatkan daya dukung pondasi di atasnya. Pemadatan juga dapat

mengurangi besarnya penurunan tanah yang tidak diinginkan dan

meningkatkan kemantapan lereng timbunan.

Penggilas besi berpermukaan halus (smooth-wheel rollers), dan penggilas

getar (vibratory rollers) adalah alat-alat yang umum digunakan di

lapangan untuk pemadatan tanah. Mesin getar dalam (vibroflot) juga


banyak digunakan untuk memadatkan tanah berbutir (granular soils)

sampai kedalaman yang cukup besar dari permukaan tanah.

2. Dasar-dasar Teori Pemadatan Tanah

a. Prinsip Pemadatan Tanah

Pada awal proses pemadatan, berat volume tanah kering (γd)

bertambah seiring dengan ditambahnya kadar air. Pada kadar air nol

(w=0), berat volume tanah basah (γb) sama dengan berat volume tanah

kering (γd). Ketika kadar air ditambah secara bertahap (dengan usaha

pemadatan yang sama), berat butiran tanah padat per volume satuan

(γd) juga bertambah. Pada kadar air lebih besar dari kadar air

optimum (OMC), kenaikan kadar air justru mengurangi berat volume

keringnya. Hal ini karena, air mengisi rongga pori yang sebelumnya

diisi oleh butiran padat. Kadar air pada saat berat volume kering

mencapai maksimum (γdmax) disebut kadar air optimum (Hardiyatmo,

2004).

1) Optimum moisture content (OMC)

Optimum moisture content (OMC) adalah kadar air di mana berat

volume kering maksimum dapat dicapai setelah upaya pemadatan

dilakukan. Optimum moisture content (OMC) biasanya dinyatakan

dalam persen (%). Pengujian pemadatan standar adalah metode

laboratorium yang secara eksperimental menentukan kadar air

optimum di mana jenis tanah tertentu akan menjadi paling padat

dan mencapai kepadatan kering maksimum.


b. Pengujian Pemadatan Standar

Untuk mengevaluasi tanah agar memenuhi persyaratan pemadatan,

maka umumnya dilakukan pengujian pemadatan. Proctor (1933)

dalam Hardiyatmo (1992), telah mengamati bahwa ada hubungan

yang pasti antara kadar air dan berat volume kering yang padat. Untuk

berbagai jenis tanah pada umumnya salah satu nilai kadar air optimum

(OMC) tertentu untuk mencapai berat volume kering maksimumnya

(γdmax).

Hubungan berat volume kering (γd) dengan berat volume basah (γb)

dan kadar air (w), dinyatakan dalam persamaan :

γd =  b......................................
1 (1)

Berat volume kering setelah pemadatan bergantung pada jenis tanah,

kadar air, dan usaha yang diberikan oleh alat penumbuknya.

Karakteristik kepadatan tanah dapat dinilai dari pengujian pemadatan

standar laboratorium. Prinsip pengujiannya diterangkan dibawah ini.

Tanah di dalam cetakan silinder (mold) yang mempunyai diameter

10,2 cm dan tinggi 11,6 cm dipadatkan menggunakan penumbuk

(hammer) yang beratnya 2,5 kg dengan tinggi jatuh 30,5 cm. Tanah

dipadatkan dalam 3 (tiga) lapisan dengan tiap lapisan ditumbuk

sebanyak 25 kali pukulan. Berikut merupakan alat pemadatan tanah

standard proctor pada gambar 2.


Hammer

Extension Collar

Mold

Keping

Gambar 2. Alat Uji Pemadatan Standar.

Setiap elemen pada alat uji pemadatan standar memiliki fungsi yang

berbeda, berikut penjelasan fungsinya:

1) Hammer berfungsi sebagai alat penumbuk untuk memadatkan tanah

didalam cetakan silinder (mold).

2) Cetakan silinder (mold) berfungsi sebagai wadah sampel tanah

yang akan diuji.

3) Keping alas berfungsi untuk menahan posisi cetakan silinder (mold)

agar tidak bergoyang pada saat dilakukan pemadatan.

Menurut SNI 1742:2008, peralatan yang digunakan berupa cetakan

silinder berkapasitas 943 cm3 ± 8 cm3 dengan diameter dalam 101,60

mm ± 0,41 mm dan tinggi 116,43 mm ± 0,13 mm. Saringan dengan

diameter lubang 50 mm, 19 mm, dan 4,75 mm sesuai SNI 6866:2002.


Alat pengeluar benda uji (extruder) yang terdiri dari sebuah dongkrak,

pengungkit dan rangka. Tiga buah timbangan (ketelitian 1 gram, 0,1

gram dan 0,01 gram). Oven pengering, pisau perata, cawan serta alat

pencampur yang terdiri dari baki, sendok pengaduk, sekop, spatula dan

alat bantu lainnya.

Tanah dalam cetakan dipadatkan dengan alat penumbuk, terdapat dua

alat penumbuk yaitu :

1) Alat penumbuk tangan (manual)

Permukaan tumbuk berbentuk bundar dan rata dengan diameter

50,80 mm ± 0,25 mm serta mempunyai massa 2,495 kg ± 0,009 kg.

Penumbuk manual harus dilengkapi dengan selubung yang dapat

mengatur jatuh bebas setinggi 305 mm ± 2 mm di atas permukaan

tanah yang akan dipadatkan.

2) Alat penumbuk mekanis

Permukaan tumbuk berbentuk bundar dan rata dengan diameter

50,80 mm ± 0,25 mm serta mempunyai massa 2,495 kg ± 0,009 kg.

Penumbuk mekanis dilengkapi alat pengontrol tinggi jatuh bebas

305 mm ± 2 mm di atas permukaan tanah yang akan dipadatkan dan

dapat menyebarkan tumbukan secara merata di atas permukaan. Alat

penumbuk mekanis harus dikalibrasi terhadap beberapa macam jenis

tanah dan massa penumbuk disesuaikan agar mendapatkan

hubungan kadar air dengan kepadatan kering yang sama apabila

dipadatkan dengan alat penumbuk manual (ASTM D 2168). Adapun

grafik
hubungan kadar air optimum (OMC) dan berat volume kering

maksimum, diperlihatkan pada gambar berikut :

Gambar 3. Kurva Hubungan Kadar Air dengan Berat Volume


Kering (Hardiyatmo, 2002).

C. Daya Dukung Tanah

Dalam perencanaan suatu konstruksi , daya dukung tanah dasar sangat

mempengaruhi sebuah lapisan pondasi, semakin tinggi daya dukung tanah,

maka semakin kuat untuk menahan beban . Daya dukung tanah dasar

(subgrade) dipengaruhi oleh jenis tanah, tingkat kepadatan, kadar air, dll

(Hendarsin, 2000). Ada beberapa metode untuk menentukan daya dukung

tanah seperti CBR (California Bearing Ratio), k (Modulus Reaksi Tanah

Dasar), Mr (Resilient Modulus), Skala Penetrasi Konus Dinamis/DCP

(Dynamic Cone Penetrometer) dan HCP (Hand Cone Penetrometer). Nilai

CBR diperoleh dari hasil pengujian sampel tanah yang telah disiapkan di

laboratorium atau langsung di lapangan.


Dalam penelitian ini yang digunakan untuk menentukan nilai daya dukung

tanah adalah pengujian CBR laboratorium metode tumbukan dan uji DCP pada

lapangan. Pengujian daya dukung tanah ini dilakukan untuk mendapatkan

perbandingan nilai CBR laboratorium metode tumbukan dengan CBR

lapangan menggunakan Skala Penetrasi Konus Dinamis/DCP (Dynamic Cone

Penetrometer).

D. California Bearing Ratio (CBR)

Menurut SNI 1744:2012 dan ASTM D-1883, California Bearing Ratio adalah

perbandingan antara beban penetrasi suatu beban terhadap beban standar

dengan kedalaman dan kecepatan penetrasi yang sama. Nilai CBR akan

digunakan untuk menentukan tebal lapisan perkerasan. Harga CBR itu sendiri

adalah nilai yang menyatakan kualitas tanah dasar dibandingkan dengan

bahan standar berupa batu pecah yang mempunyai nilai CBR sebesar 100%

dalam memikul beban. Menurut Soedarmo dan Purnomo (1993), berdasarkan

cara mendapatkan tanah, CBR dapat dibagi atas :

1. CBR lapangan (CBR inplace atau field CBR)

Pemeriksaan CBR dilakukan dalam kondisi kadar air tanah tinggi (musim

penghujan) atau dalam kondisi terburuk yang mungkin terjadi. Umum

digunakan untuk perencanaan tebal lapisan tanah dasarnya sudah tidak

akan dipadatkan lagi.

2. CBR laboratorium (laboratory CBR)

CBR laboratorium adalah nilai CBR yang diperoleh dari contoh tanah

yang dibuat dan mewakili keadaan tanah tersebut setelah dipadatkan.


Pengujian CBR laboratorium dilakukan menggunakan alat yang

mempunyai piston dengan luas 3 inci 2 dan kecepatan gerak vertikal ke

bawah 0,05 inci/menit serta proving ring yang digunakan untuk mengukur

beban yang dibutuhkan pada penetrasi tertentu yang diukur dengan arloji

pengukur (dial). Berikut merupakan alat uji CBR laboratorium metode

tumbukan pada gambar 4 dan 5.

Extension Collar

Hammer

Mold
Keping Alas

Gambar 4. Mold dan Hammer Uji CBR Laboratorium.


Arloji Beban Proving Ring

Arloji Penetrasi
Piston Penetrasi

Pelat Dasar

Engkol Pemutar

Gambar 5. Alat Uji Penetrasi CBR Laboratorium.

Setiap elemen pada alat uji penetrasi CBR laboratorium memiliki fungsi

yang berbeda, berikut penjelasan fungsinya:

a. Proving ring berfungsi untuk mengukur beban yang dibutuhkan pada

penetrasi tertentu.

b. Arloji penetrasi berfungsi untuk mengetahui besarnya penetrasi yang

diberikan pada sampel tanah.

c. Arloji beban berfungsi untuk mengetahui besar beban yang diterima oleh

sampel tanah saat dilakukan penterasi.

d. Piston penetrasi berfungsi sebagai jarum penetrasi yang akan menekan

tanah masuk kedalam.

e. Engkol pemutar berfungsi sebagai alat untuk menggerakan plat dasar

naik turun.

f. Pelat dasar berfungsi sebagai alas dudukan cetakan silinder (mold).


Menurut SNI 1744:2012, peralatan yang digunakan berupa cetakan silinder

dengan diameter bagian dalam 152,40 mm ± 0,66 mm dan tinggi 177,80 mm

± 0,46 mm. Cetakan harus dilengkapi leher sambung (extension collar)

dengan tinggi ± 50 mm dan keping alas yang berlubang banyak yang dapat

dipasang pas (tidak bergerak) pada kedua ujung cetakan. Keping pemisah

berpenampang bundar (lingkaran) dengan diameter 150,80 mm ± 0,80 mm

dan tinggi 61,37 mm ± 0,25 mm. Alat penumbuk yang digunakan sesuai SNI

1742:2008 atau SNI 1743:2008.

Peralatan pengukur pengembangan yang terdiri dari keping pengembangan

berdiameter 149,20 mm ± 1,60 mm dengan tangkai/batang yang dapat diatur

dan sebuah kaki tiga (tripot) untuk dudukan arloji ukur pengembangan.

Arloji ukur, masing-masing berkapasitas 25 mm dengan ketelitian

pembacaan sampai 0,02 mm. Keping beban berpenampang bundar

(lingkaran) berdiameter 149,20 mm ± 1,60 mm dengan lubang berdiameter ±

54,00 mm di tengah-tengahnya dan setiap keping memiliki massa 2,27 kg ±

0,04 kg. Piston penetrasi berpenampang bundar (lingkaran) dengan diameter

49,63 mm ± 0,13 mm dan panjang tidak kurang dari 102 mm. Penentuan

nilai CBR yang biasa digunakan untuk menghitung tebal lapisan tanah

(subgrade) adalah penetrasi 0,1” dan penetrasi 0,2” dengan rumus sebagai

berikut :

Nilai CBR pada penetrasi 0,1” = P1 x 100%.................................(2)


1000

Nilai CBR pada penetrasi 0,2” = P2 x 100%.................................(3)


1500
Dimana :

P1 = pembacaan dial pada saat penetrasi

0,1” P2 = pembacaan dial pada saat

penetrasi 0,2”

Nilai CBR yang didapat adalah nilai yang terkecil diantara hasil perhitungan

kedua nilai CBR. Berikut ini adalah tabel beban yang digunakan untuk

melakukan penetrasi bahan standar.

Tabel 1. Beban Penetrasi Bahan Standar, (Sukirman,1999).

Penetrasi Beban Standar Beban


(inci) (lbs) Standar
(lbs/inci)
0,1 30 10
0,2 00 00
0,3 45 15
0,4 00 00
0,5 57 19
00 00
69 23
00 00
78 60
00 00

E. Dynamic Cone Penetrometer (DCP)

Dynamic cone penetrometer (DCP) adalah suatu perangkat yang sederhana,

dapat dipakai pada permukaan yang tidak rata ,ekonomis, dan memberikan

indeks kekuatan struktur tanah in-situ secara cepat. DCP dipakai untuk

mengukur ketahanan material (tanah) atau resistansi terhadap penetrasi ketika

konus dari alat ini dipancangkan kedalam sampel material tanah. Jumlah

pukulan (blows) saat pengujian dicatat terhadap kedalaman penetrasi.

Perangkat yang sederhana , dapat dipakai pada permukaan yang tidak rata

,eknomis dan memberikan indeks kekuatan struktur tanah in situ secara cepat

garis kemiringan atau slope yang menghubungkan antara jumlah pukulan dan
kedalaman peneterasi (dalam milimeter per pukulan) secara linear pada

segmen kedalaman yang dicatat ,sebagai indeks penetrasi DCP, dimana dapat
di korelasikan dengan California bearing ration atau CBR (sawangsuriya et

al.,2008).

DCP merupakan perangkat yang terdiri dari konus pada bagian ujung bawah

dari batang vertikal. Untuk penetrasi sebuah palu diangkat hingga ketinggian

tertentu untuk dijatuhkan hingga memukul anvil perangkai dan menekan

konus , secara berulang untuk mendapatkan pukulan (blows) terhadap sampel

tanah. Skala vertikal dipakai sebagai pengukur kedalaman penetrasi dari

konus. Pada Pencatatan ditemui perubahan dalam nilai penetrasi yang

menggambarkan perubahan kekuatan material. Semakin sulit konus

berpenetrasi maka semakin kuat material struktur tanahnya, sebalikya

semakin mudah konus berpenetrasi maka struktur material tanah kurang kuat.

F. Studi Literatur

Beberapa penelitian yang menjadi bahan pertimbangan dan acuan penelitian

ini dikarenakan adanya beberapa kesamaan metode akan tetapi dengan

perlakuan yang berbeda pada sampel tanah yang digunakan, antara lain :

1. Lengkong, Pricilla (2013), dengan penelitian berjudul Hubungan Nilai

CBR Laboratorium dan DCP Pada Tanah yang Dipadatkan pada Ruas

Jalan Wori

- Likupang Kabupaten Minahasa Utara. Sampel tanah yang digunakan

berasal dari ruas jalan Wori – Likupang, Kabupaten Minahasa. Penelitian

ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara nilai CBR laboratorium

dengan DCP di lapangan. Adapun hasil perhitungan di lapangan pada

penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.


Tabel 2. Hasil Perhitungan Lapangan.(Sumber : Lengkong, 2013)

Lokasi DCP CBR


(mm/tumbukan)
lapangan
(%)
STA 38 4.11
28+200
STA 60 2.30
28+300
STA 70 1.89
28+400
STA 48.33 3.03
28+500
STA 23.33 7.63
28+600
STA 20 9.28
28+700
STA 30 5.55
28+800
STA 45 3.31
29+000

Berdasarkan hasil klasifikasi tanah dengan menggunakan sistem AASHTO,

maka tanah dasar Ruas Jalan Wori-Likupang termasuk dalam kelompok tanah

kerikil berlanau atau lempung dan pasir dengan simbol A-2-7. Adapun

perbandingan antara nilai CBR Lapangan dan CBR Laboratorium dapat dilihat

pada Tabel 3.

Tabel 3. Perbandingan Nilai CBR Lapangan dan CBR Laboratorium,

( lengkong, 2013).

Lokasi CBR lapangan (%) CBR laboratorium


(%)
STA 28+200 4.11 4.19
STA 28+300 2.30 2.29
STA 28+400 1.89 1.52
STA 28+500 3.03 2.48
STA 28+600 7.63 -
STA 28+700 9.28 -
STA 28+800 5.55 -
STA 29+000 3.31 3.05
Adapun nilai CBR lapangan dan CBR laboratorium tersebut kemudian

dimasukkan kedalam sebuah grafik yang dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Grafik Hubungan CBR Laboratorium dan CBR Lapangan pada Ruas
Jalan Wori-Likupang. (Lengkong ,2013)

Berdasarkan Gambar 5. menjelaskan bahwa hasil perhitungan CBR yang

diperoleh di laboratorium dengan dilapangan di Ruas Jalan Wori-Likupang

terdapat 4 titik penelitian atau sekitar 80% yang memiliki nilai yang hampir

sama yaitu pada STA 28+200, STA 28+300, STA 28+400 dan STA

29+000, sehingga penggunaan alat DCP untuk penentuan CBR tanah di

lapangan dapat dipakai untuk suatu data perencanaan konstruksi jalan tanpa

harus melakukan pengujian CBR lebih lanjut di laboratorium.

2. Utami, Widyastuti (2019), dengan penelitian Korelasi Uji Pemadatan

Standart Proctor Method Terhadap Pengujian Cbr Laboratorium

Berdasarkan Alat Uji Tekan Modifikasi Di Laboratorium Untuk Pemadatan

Tanah Di Lapangan . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui


korelasi antara kepadatan tanah dengan nilai CBR. Pengambilan sampel

tanah dilakukan dengan cara pengambilan langsung sampel tanah yang

berasal dari daerah Tirtayasa Kec. Sukabumi, Bandar Lampung. Tanah

yang diambil adalah sampel tanah terganggu (disturbed sample) dan

sampel tanah tak terganggu (undisturbed sample). Pengujian CBR

tumbukan dilakukan menggunakan alat yang mempunyai piston dengan

luas 3 inci2 dan kecepatan gerak vertikal ke bawah 0,05 inci/menit serta

proving ring yang digunakan untuk mengukur beban yang dibutuhkan pada

penetrasi tertentu yang diukur dengan arloji pengukur (dial). Pengujian ini

dibagi menjadi dua, yaitu uji cbr rendaman dan uji tanpa rendaman.

a. CBR Tanpa Rendaman

Tabel 4. Hasil Perhitungan Pengujian CBR Tanpa Rendaman Metode

Tumbukan, (Utami, 2019).

Tumbuka Berat Volume Berat Kad Berat Ni


n Tanah Volume ar Volu lai
(gr) (cm3) (gr/cm3 Air me C
) (%) Kerin B
g R
(gr/c (
m3) %
()
10 5398 2993 1,803 19,33 1,511 1,9
9 11
25 5805 2938 1,975 18,62 1,665 2,9
7 78
55 5759 2666 2,160 19,54 1,806 6,2
3 67

Adapun [Link] perhitungan pengujian tersebut dapat digambarkan

melalui grafik yang dapat dilihat pada Gambar 7.


Gambar 7. Hubungan Berat Volume Kering dengan Nilai CBR Tanpa
Rendaman Metode Tumbukan. (Utami,2019).

b. CBR Rendaman

Tabel 5. Hasil Perhitungan Pengujian CBR Rendaman Metode Tumbukan,

(Utami, 2019).

Tumbuka Bera Volume Berat Kad Berat Ni


n t Volume ar lai
Tan (cm3) (gr/cm3 Air Volume C
ah ) (%) Kering B
(gr) (gr/cm3) R
(
%
()
10 3928 2104 1,867 31,437 1,420 1,13
3
25 4413 2132 2,070 27,700 1,621 2,06
7
55 4624 2160 2,141 23,464 1,734 2,40
0

Adapun penggambaran grafik dari hasil pengujian CBR rendaman metode

tumbukan dapat dilihat pada Gambar 8.


Gambar 8. Hubungan Berat Volume Kering dengan Nilai CBR Rendaman
Metode Tumbukan.(Utami,2019).

Pada Gambar 7 dan 8 menunjukkan bahwa nilai CBR tanpa rendaman

metode tumbukan sebesar 2,45% lebih tinggi dibandingkan nilai CBR

rendaman metode tumbukan, yaitu 2%. Hal ini disebabkan pada uji CBR

tanpa rendaman metode tumbukan, rongga antar butiran tanah yang

seharusnya berisi air dan udara telah digantikan oleh butiran padat.

Sedangkan pada uji CBR rendaman metode tumbukan, air dan udara dapat

masuk kembali mengisi rongga antar butiran tanah selama proses

perendaman. Pada CBR Metode Tekanan, sampel tanah dipadatkan

menggunakan alat uji tekan modifikasi. Pada pegujian ini dilakukan

sebanyak tiga tekanan yaitu 5 MPa, 10 MPa, dan 15 MPa. Adapun grafik

hubungan nilai berat volume kering (γd) dan nilai CBR rendaman dan

tanpa rendaman metode tekanan dapat dilihat pada Gambar 8.


Gambar 9. Hubungan Nilai Berat Volume Kering (γ d) dan Nilai CBR
Rendaman dan Tanpa Rendaman Metode Tekanan.
(Utami,2019).

Kemudian dapat dilihat pada grafik hubungan tekanan dan nilai CBR

rendaman dan tanpa rendaman tiga titik metode tekanan dan sembilan titik

metode tekanan metode tekanan pada Gambar 9 dan Gambar 10.

Gambar 10. Hubungan Tekanan dan Nilai CBR Rendaman dan Tanpa
Rendaman Tiga Titik Metode Tekanan.(Utami,2019).
Gambar 11. Hubungan Tekanan dan Nilai CBR Rendaman dan Tanpa
Rendaman Sembilan Titik Metode Tekanan.(Utami,2019).

Pada Gambar 9, 10, dan 11 menunjukkan bahwa nilai CBR tanpa

rendaman metode tekanan lebih tinggi dibandingkan nilai CBR rendaman

metode tekanan. Hal ini membuktikan bahwa pemadatan metode tekanan

menggunakan alat uji tekan modifikasi sama baiknya dengan pemadatan

metode tumbukan menggunakan hammer.

Adapun grafik hubungan tekanan dan nilai berat volume kering (γ d) uji

CBR rendaman dan tanpa rendaman metode tekanan dapat dilihat pada

Gambar 12.
Gambar 12. Hubungan Tekanan dan Nilai Berat Volume Kering (γ d) Uji
CBR Rendaman dan Tanpa Rendaman Metode Tekanan.
(Utami,2019).

Pada Gambar 12 menunjukkan bahwa nilai berat volume kering (γ d) uji

CBR rendaman metode tekanan mendekati nilai berat volume kering (γ d)

uji CBR tanpa rendaman metode tekanan. Hal ini disebabkan kadar air

sampel tanah sudah turun drastis.


28

III. METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian

Pada penelitian ini sampel tanah berlokasi di provinsi Lampung kabupaten

[Link] di daerah Teluk Ratai yang diambil pada kondsi eksisting

digunakan untuk bahan inti Gardu induk listrik. Sehingga diperkirakan harus

memiliki daya dukung tanah yang [Link] konstruksi bangunan tersebut

memiliki kekuatan struktur tanah yang kuat.

Gambar 13. Lokasi Sampel Tanah


29

B. Metode Pengambilan Sampel

Sampel tanah diambil dengan cara pengambilan langsung yang berasal dari

daerah Teluk Ratai kabupaten Pesawaran Tanah yang diambil adalah sampel

tanah terganggu (disturbed sample) dan sampel tanah tak terganggu

(undisturbed sample). Pengambilan sampel tanah dilakukan di tiga titik yang

berbeda. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara digali terlebih dahulu

sedalam ± 1 meter, lalu tanah diambil secukupnya menggunakan karung dan

tabung.

Undisturbed sample diambil menggunakan tabung digunakan untuk

pengujian kadar air, berat volume, dan berat jenis. Disturbed sample diambil

menggunakan cangkul kemudian dimasukkan ke dalam karung digunakan

untuk pengujian batas Atterberg, analisis saringan, analisis hidrometer,

pemadatan Standart proctor method, dan pemadatan menggunakan alat uji

tekan pemadat standar. Setelah dilakukan uji fisik dan pemadatan tanah, maka

dapat diakukan uji CBR laboratorium

C. Pelaksanaan Pengujian

Pelaksanaan pengujian dilakukan di Laboratorium Mekanika Tanah Fakultas

Teknik Universitas Lampung. Sampel tanah terganggu (disturbed) yang

berada dalam karung yang telah diambil dari lapangan dihamparkan dan

dijemur hingga kering. Untuk tanah undisturbed, sampel yang berada dalam

tabung dapat langsung dilakukan pengujian kadar air, berat volume, dan berat

jenis. Adapun pelaksanaan pengujian di laboratorium sebagai berikut :


1. Pengujian Sifat Fisik Tanah (Untuk Tanah Undisturbed Sample)

Pengujian pada tanah asli ini dilakukan untuk mengetahui sifat fisik tanah

yang digunakan sebagai bahan sampel. Kemudian hasil dari pengujian

akan dianalisis sesuai dengan perbandingan metode yang digunakan.

Adapun pengujian sifat fisik tanah yang dilakukan adalah sebagai

berikut:

a. Pengujian Kadar Air

Pengujian kadar air bertujuan untuk mengetahui kadar air tanah pada

sampel tanah, yaitu perbandingan antara berat air yang terkandung

dalam butiran tanah dengan butiran tanah kering yang dinyatakan

dalam persen. Cara pengujian berdasarkan ASTM D 2216-98 dan SNI

1965- 2008.

b. Pengujian Berat Volume

Pengujian berat volume bertujuan untuk menentukan berat volume

tanah dengan keadaan asli (undisturbed sample), yaitu perbandingan

berat tanah dengan volume tanah. Pengujian berdasarkan ASTM D

2167 dan SNI 1973-2008.

c. Pengujian Berat Jenis

Pengujian berat jenis bertujuan untuk menentukan berat jenis tanah.

Sampel tanah yang digunakan yang lolos saringan ¾ in dengan

menggunakan picnometer. Pengujian berdasarkan ASTM D 854-02

dan SNI 1964-2008.

d. Pengujian Batas Atterberg

Pada pengujian batas atterberg bertujuan untuk menentukan kadar air

suatu jenis tanah pada batasan antara keadaan plastis dan keadaan cair,
sesuai ketentuan yang ditentukan oleh atterberg. Pengujian dilakukan

dalam dua tahap, yaitu pengujian batas cair (liquid limit test) dan

pengujian batas plastis (plastic limit test). Pengujian berdasarkan

ASTM D 4318-00 dan SNI 1967-2008.

e. Pengujian Analisa Saringan

Analisa Saringan adalah penentuan persentase berat butiran pada satu

unit saringan, dengan ukuran diameter lubang tertentu (Hardiyatmo,

1992). Pengujian analisa saringan berdasarkan ASTM D 422 dan SNI

1968-1990.

f. Pengujian Analisis Hidrometer (Hydrometry Analysis Test)

Pengujian analisis hidrometer bertujuan untuk menentukan distribusi

ukuran butir-butir tanah untuk tanah yang tidak mengandung butir

tertahan saringan no. 200. Pengujian berdasarkan ASTM D 1140 dan

SNI 3423 2008. Dari hasil uji diatas didapatkan nilai volume kering

maksimum (γdmax) dan kadar air optimum (wopt).

2. Pengujian Sifat Mekanis Tanah (Untuk Tanah disturbed Sample)

Sifat mekanis merupakan sifat perilaku dari struktur massa tanah pada

dikenai suatu gaya atau tekanan yang dijelaskan secara teknis mekanis.

Sampel tanah yang digunakan berupa tanah disturbed yang berada dalam

tabung dan sudah dikelola seperti dijelaskan di poin C (Pelaksanaan

Pengujian). Adapun pengujian sifat mekanis tanah yang dilakukan yaitu

berupa pengujian pemadatan tanah Standard Proctor Method bertujuan

untuk menentukan kepadatan maksimum suatu jenis tanah melalui cara

tumbukan. Dari hasil uji didapatkan nilai berat volume kering maksimum
(γdmax) dan kadar air optimum (wopt). Pengujian berdasarkan ASTM D-

698 dan SNI 1742:2008.

3. Pengujian California Bring Ratio (CBR) laboratorium.

Pengujian california Bring Ratio dilakukan di laboratorium teknik sipil

Universitas Lampung. Dalam pengujian ini digunakan metode tumbukan

dengan menggunakan hammer dengan ukuran piston 1,935 mm2 dan

gerak vertikal ke bawah 1,27 mm/menit serta proving ring yang

digunakan untuk mengukur beban yang dibutuhkan pada penetrasi

tertentu yang diukur dengan arloji pengukur (dial.) Tujuan pengujian ini

untuk menentukan nilai CBR material tanah yang dipadatkan

menggunakan hammer pada kadar air optimum (Wopt). Pengujian ini

dilakukan berdasarkan ASTM D 1883 dan SNI 1744 2012.

4. Pengujian Dinamic cone penetrometer (DCP) di lapangan.

Pengujian DCP di lapangan bertujuan untuk mengetahui kuat hambatan

tanah terhadap penetrasi dilapangan secara dinamis, khusus untuk tanah

permukaan atau tanah dasar (subgrade), sampai kedalaman maksimum

sehingga didapat grafik, di tentukan dalam hasil CBR lapangan %. Cara

pengujian berdasarkan ASTM D 6951.


D. Bagan Alir Penelitian

Tahapan studi penelitian yang dilakukan akan disajikan dalam bentuk bagan

alir sebagai berikut :

MULAI

PENGAMBILAN SAMPEL TANAH

SAMPEL TANAH TERGANGGU (DISTURBED) SAMPEL TANAH TERGANGGU (UNDISTURBED)

PENGUJIAN SIFAT-SIFAT FISIK TANAH PENGUJIAN SIFAT-SIFAT FISIK TANAH

TIDAK
CEK SYARAT TANAH

YA

DATA PENGUJIAN DYNAMIC CONE UJI PEMADATAN DENGAN ALAT


PENETROMTER DI LAPANGAN STANDARD PROCTOR

GRAFIK DATA DCP DARI PENGUJIAN CBR DI


HASIL PENGUJIAN DI
LABORATORIUM
LAPANGAN DENGAN
METODE TUMBUKAN
GRAFIK DATA CBR DARI HASIL
PENGUJIAN DI LABORATORIUM

GRAFIK HUBUNGAN NILAI DCP LAPANGAN DAN CBR LABORATORIUM

KESIMPULAN

SELESAI

Gambar 14. Diagram Alir


DAFTAR PUSTAKA

Bina Marga, Direktorat Jendral. “Spesifikasi Umum 2010”. Departemen Pekerjaan


Umum. Jakarta.

Bowles, E.J. 1991. “Sifat-sifat Fisis dan Geoteknis Tanah (Mekanika Tanah)”.PT.
Erlangga. Jakarta.

Craig, B.M. 1991. ”Mekanika Tanah”. Erlangga. Jakarta.

Das, B. M. 1995. “Mekanika Tanah (Prinsip-Prinsip Rekayasa Geoteknis) Jilid I”


PT. Erlangga. Jakarta.

Hardiyatmo, H.C. 2002. “Mekanika Tanah 1”. PT. Gramedia Pustaka [Link].

Kodikara, J., Islam, T., Sounthararajah, A., 2018, Review of Soil Compaction :
History and Recent Developments, Elsevier, pp,. 24-34.

Laboratorium Mekanika Tanah. 2014. Buku Petunjuk Praktikum Mekanika Tanah


I dan Mekanika Tanah II. Laboratorium Mekanika Tanah Jurusan
Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Lambe, T.W., Whitman R.V, 1969, Soil Mechanics, 1969, john wiley & sons, New
York.

Punmia, B.C., Jain, Ashok K., Jain, Arun K., 2005, Soil Mechanics and Foundation
16th edition, Laxmi Publicaton (P) LTD, New Delhi

Lengkong, Prisila., Sarte,Moninja., Sompie,O.B.A., Sumampouw,J.E.R., 2013,


Jurnal Sipil Statik Vol.1 No.5, April 2013, Jurusan Teknik Sipil Universitas
Sam [Link].

Nakazawa, K., Sosrodarsono, S., 2000, Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi, PT.
Pradnya Paramita, Jakarta.

Sawangsuriya., Auckpath., 2008, Innovative Tools for Highway Construction Quality


Control, Bureau of road reserch and development Bangkok,Thailand.
Sukirman, Silvia. 1992. ”Perkerasan Lentur Jalan Raya”. Nova. Bandung.

Utami,, W. 2019, Korelasi Pengujian Pemadatan Tanah Metode Standard


Proctor Method terhadap pengujian cbr laboratorium Berdasarkan Alat
Uji tekan modifikasi dilaboratorium untuk pemadatan tanah dilapangan,
Skripsi, Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Universitas Lampung. 2018. “Format Penulisan Karya Ilmiah Universitas


Lampung”. UPT Percetakan Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Verhoef, P.N.W. 1994. “Geologi Untuk Teknik Sipil”. PT. Erlangga. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai