TUGAS TERSTRUKTUR DOSEN PENGAMPU
Pengantar Filsafat ALI AKBAR M. PD
“FILSAFAT ISLAM (AL-KINDI & AL-RAZI)”
Oleh:
Bahrul Ilmi (200101010693)
Murniawati (200101010704)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ANTASARI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BANJARMASIN
2020
Kata Pengantar
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah Filsafat Ilmu tentang Pemikiran Tokoh Islam.
Adapun makalah Filsafat Ilmu tentang Pemikiran Tokoh Islam ini telah
kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai
pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak
lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadar sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena
itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar – lebarnya bagi
pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat
memperbaiki makalah Pemikiran Tokoh Islam.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah Filsafat Ilmu
tentang Pemikiran Tokoh Islam ini dapat di ambil hikmah dan manfaatnya
sehingga dapat memberikan Pelajaran Hidup terhadap pembaca.
Banjarmasin, 31 Oktober 2020
Penulis
2
3
Daftar Isi
Kata Pengantar...................................................................................................................2
Daftar Isi............................................................................................................................3
PENDAHULUAN.............................................................................................................4
A. Latar Belakang.......................................................................................................4
B. Rumusan Masalah..................................................................................................5
PEMBAHASAN................................................................................................................6
A. Pengertian Filsafat..................................................................................................6
B. Pengertian Filsafat Islam........................................................................................7
C. Objek dalam Filsafat..............................................................................................7
D. Hubungan Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani...................................................8
E. Hubungan Filsafat Islam dengan Ilmu-Ilmu Islam.................................................8
1. Filsafat dengan Ilmu-Ilmu Kalam.......................................................................9
2. Filsafat dan Tassawuf.........................................................................................9
3. Filsafat dan Fiqh...............................................................................................10
F. Pemikiran Tokoh Islam........................................................................................11
1. Al-Kindi...........................................................................................................11
2. Al-Razi.............................................................................................................12
PENUTUP.......................................................................................................................23
A. Kesimpulan..........................................................................................................23
B. Saran....................................................................................................................23
Daftar Pustaka..................................................................................................................24
4
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagai orang muslim kita telah mengenal berbagai tokoh-tokoh
islam. Dari tokoh-tokoh islam ada beberapa yang menjadi tokoh filsafat
islam. Dalam sejarah dunia filsafat, Yunani merupakan tempat awal mula
munculnya filsafat. Pemikiran filosuf masuk ke dalam dunia islam
melalui ahli-ahli filsafat Yunani Islam di Suria, Mesopotamia, Persia dan
Mesir. Budaya dan Filsafat Yunani masuk ke negeri-negeri tersebut
dengan adanya ekspansi Iskandar Zulkarnain. Pada zaman Bani
Ummayah, perhatian lebih dipusatkan terhadap kebudayaan Arab, maka
pengaruh kebudayaan Yunani dalam Islam belum kelihatan jelas. Baru
setelah pemerintahan Bani Abbasiyah pengaruh kebudayaan Yunani lebih
jelas karena pada pemerintahan waktu itu bukan lagi hanya orang-orang
Arab, tetapi juga orang-orang Persia yang banyak berkecimpung di
pemerintahan pusat. Khalifah-khalifah Bani Abbasiyah pada mulanya
hanya tertarik pada ilmu kedokteran Yunani dengan cara pengobatannya.
Kemudian mereka juga tertarik pada ilmu-ilmu pengetahuan lainnya
termasuk filsafat. Golongan yang banyak tertarik pada Filsafat Yunani
adalah kaum Mu’tazilah karena pembahasan mereka dalam bidang Teologi
banyak diwarnai pemikiran filosufi. Billa dilihat dari sejarah peradaban
umat islam ini merupakan gejala dari perkembangan keilmuan dalam
masyarakat Islam sejak timbulnya agama Islam. Agama Islam sejak dini
telah memberikan jawaban-jawaban yang tegas dan ringkas mengenai
beberapa persoalan metafisika, Tuhan, jiwa dan manusia. Pengetahuan
tersebut pada mulanya diterima beitu saja namun kemudian diperluas dan
dikembangkan dengan memadukan kebenaran wahyu dan akal rasio. Maka
kemudian muncullah para filosuf Islam Arab khususnya dari Islam pada
umumnya seperti Al-Kindi, Al-Razi, Al-Faraby, Ibnu Sina, Al-Ghazali,
dan lain-lain.
5
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat disusun rumusan masalah
sebgai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Filsafat Islam ?
2. Bagaimana Hubungan Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani?
3. Bagaimana Hubungan Filsafat Islam dengan Ilmu-Ilmu Islam?
4. Siapa saja tokoh-tokoh Filsafat Islam ?
5. Bagaimana pemikiran-pemikiran tokoh tersebut ?
C. Tujuan
Berdsarkan tujuan di atas dapat disusun tujuan sebagai berikut:
1. Menjelaskan pengertian Filsafat Islam.
2. Menjelaskan Hubungan Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani
3. Menjelaskan Hubungan Filsafat Islam dengan Ilmu-Ilmu Islam
4. Menjelaskan tokoh-tokoh Filsafat Islam.
5. Menjelaskan pemikiran-pemikiran tokoh Filsafat Islam.
6
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Filsafat
Filsafat adalah kata majemuk yang berasal dari bahasa Yunani,
yakni philosophia dan philosophos.1 Philo yang berarti cinta (love),
sedang sophie, berarti pengetahuan atau kebijaksanaan (wisdom) atau bisa
dikatakan cinta pada kebijaksanaaan atau pengetahuan. Cinta yang
memiliki arti luas yaitu perasaan ingin yang membawanya pada
pendalaman dan pencapaian pada sesuatu. Cinta pengetahuan berarti ingin
mengetahui secara mendalam hingga dasar atau sampai akar-akarnya,
dalam bahasa Arab phlosophia menjadi kata filsafah. Hal ini berasal dari
susunan kata-kata Arab yang berpola fa’lala, fa’lalah dan fi’lal.2 Dalam
bahasa Indonesia kata ini menjadi filsafat. Dalam buku-buku atau referensi
ditemukan berbagai definisi dari filsafat. Ini menunjukan begitu banyak
keragaman definisi filsafat. Namun, secara prinsip keberagaman itu
memiliki tujuan yang sama. Jadi, bisa dikatakan filsafat adalah hasil proses
berpikir rasional dalam mencari hakekat sesuatu secara sistematis,
universal, dan radikal.
Dapat dilihat dari definisi diatas, filsafat memiliki ciri-ciri :
1. Rasional yang mengandung arti bahwa bagian-bagian pemikiran
tersebut berhubungan antara satu dengan yang lainnya secara logis.
2. Sistematis, kegiatan kefilsafatan bukanlah berpikir secara kebetulan
belaka akan tetapi harus berdasarkan fakta-fakta yang ada dan
mengikuti aturan-aturan penalaran atau logika, yang kemudian disusun
menjadi kesatuan yang tersetruktur.
3. Universal atau menyeluruh, dalam berpikir filsafat tidak boleh ada satu
sisipun yang terlewat ataupun tertinggal tetapi harus tercakup dalam
keseluruhan.
1
K Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1984), Cet. IV,
hlm.13.
2
Harun Nasuion, Falsafah Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, Jakarta, 1973), Cet.I, hlm. 7.
7
4. Radikal atau mendalam, pemikiran filsafat akan terus menggali lebih
jauh hingga mendalam.
B. Pengertian Filsafat Islam
Menurut Mustofa Abdur Razik pemakaian kata filsafat di kalangan
umat islam adalah hikmah. Sehingga kata hakim ditempatkan pada kata
filusuf atau hukum Al-islam (hakim-hakim islam) sama dengan falasifatul
islam (failasuf-failasuf islam). Hal ini dikuatkan ole DR. Fuad Al-
Ahwani, bahwa kebanyakan pengarang-pengarang Arab menempatkan
kalimat hikmah di tempat failusuf atau sebaliknya. Namun, mereka
mengatakan bahwa sebenarnya hikmah itu berada di atas kata fiilsafat.
Hikmah yang di identikkan dengan dengan filsafat adalah ilmu yang
membahas tentang hakikat sesuatu, baik yang bersifat teoristis atau
bersifat praktis yakni pengetahuan yang harus diwujudkan dengan amal
baik.
Sehingga dapat disimpulkan oleh Mustofa Abdur Razik filsafat
islam adalah filsafat yang tumbuh di negeri islam dan di bawah naungan
negara islam, tanpa memandang agama dan bahasa-bahasa pemiliknya,
pendapat ini diperkuat oleh Prof. Tata chand, bahwa orang-orang Nasrani
dan Yahudi telah menulis kitab-kitab filsafat yang bersifat kritis atau
terpengaruh oleh islam sebaiknya dimasukkan kedalam filsafat islam.
C. Objek dalam Filsafat
Adapun objek dalam filsafat terbagi menjadi 3 bahasan pokok Al-
Wujud atau ontologi, pembahasanya mencakup hakikat segala yang ada.
Dalam filsafat “yang mungkin ada” termasuk dalam pengertian “yang
ada”. Pada umumnya bahasan “yang ada” terbagi menjadi dua yaitu fisika
dan metafisika. Fisika mencakup alam semesta, manusia, dan segala
sesuatu yag terkandug didalamnya, sedangkan pada cakupan metafisika
adalah ketuhanan dan masalah imateri. Al-Ma’rifat atau epistemologi,
yang pembahasanya mengenai hakikat pengetahan dan bagaimana cara
dan sarana untuk mendapatkanya. Ada dua teori dalam hakikat
pengetahuan. Teori pertama disebut realisme berpandangan bahwa
pengetahuan adalah gambar atau kopi yang sebenarnya ada dalam alam
8
nyata. Sedankan teori kedua, yang disebut idealisme berpendapat bhwa
pengetahuan aadalah gambaran menurut pendapat atau penglihatan orang
yang mengetahui. Al-Qayyim atau aksiologi, pembahasanya besangkutan
dengan hakikat nilai. Dalam menentukan ukuran baik dan buruk dibahas
dalam etika atau ahlak. Dalam menentukan atau ukuran benar dan salah
dibhas dlam filsafat logika atau mantiq. Dalam menentukan hakikat atau
ukuran indah dan tidaknya dibahas dalam ilsafat estetika.
D. Hubungan Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani
Proses sejarah masa lalu, tidak dapat dielakkan begitu saja bahwa
pemikiran filsafat islam terpengaruh oleh filsafat Yunani. Para filsuf Islam
banyak mengambil pemikiran Aristoteles dan mereka banyak tertarik
terhadap pikiran-pikiran Platinus. Sehingga banyak teori-teori filsuf
Yunani diambil oleh filsuf Islam. Misalnya Ibnu Sina yang meskipun
menjadi murid yang setia dari Arisototeles, ia mempunyai pemikiran yang
berbeda.
Para filsuf islam pada umumnya hidup dalam lingkungan dan
suasana yang berbeda dari apa yang dialami oleh filsuf-filsuf [Link]
pengaruh lingkungan terhadap jalan pikiran mereka tidak bisa dilupakan.
Pada akhirnya, tidaklah dapat dipungkiri bahwa dunia islam berhasil
membentuk filsafat yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan keadaan
masyarakat islam itu sendiri.
E. Hubungan Filsafat Islam dengan Ilmu-Ilmu Islam
Keungulan khusus bagi filsafat islam dalam masalah
pembagiancabang-cabangya adalah mencakup ilmu kedokteran, biologi,
kimia, musik atapun ilmu falak yang semuanya menjadi cabang filsaafat
islam. Dengan demikian filsafat islam secara khusus memisahkan diri
sebagai ilmu yang mandiri. Walaupun hasil juga ditemukan keidentikan
dengan pemandangan orang Yunani dalam masalah teori tentang
pembagian filsafat olrh filosuf-filosuf islam.
Filsafat memasuki lapangan-lapangan ilmu keislaman dan
mempengaruhi pembatasan-pembatasannya penyelidikan terhadap
keilmuan meliputi kegiatan filsafat dalam dunia islam. Dan menjadi
9
perluasan ilmu dengan tidak membatas di dari hasil-hasil karya filosuf
islam saja, tetapi dengan memperluas pembahasannya. Hal ini meliputi
ilmu kalam, tassawuf, ushul fiqih dan tarikh tasyri’.
Para ulama islam memikirkan sesuatu dengan jalan filsafat ada
yang lebih berani dan lebih bebas daripada pemikiran-pemikiran mereka
yang biasa dikenal dengan nama filosuf-filosuf islam. Di mana perlu
diketahui bahwa pembahasan ilmu kalam dan tasawuf banyak terdapat
pikiran dan teori-teori yang tidak kalah teliti daripada filosuf-filosuf
islam.
Pemikiran islam mempunyai ciri khas tersendiri dibandig dengan
filsafat Aristoteles, seperti halnya pemikiran islam pada ilmu kalam dan
tasawuf. Demikian pula pada pokok-pokok hukum islam (tasyri’) dan
ushul Fiqh juga terdapat beberapa uraian yang logis dan sistematis dan
mengandung segi-segi kefilsafatan. Syekh Mustofa Abdur Raziq adalah
orag pertama mengusukan ilmu Fiqh menjadi bagian dari filsafat. Berikut
ini ada beberapa hubungan filsafat islam dengan Ilmu tasawuf, Ilmu Fiqh.
1. Filsafat dengan Ilmu-Ilmu Kalam
Menurut prof. Tara Cana istiah filsafat islam adalah untuk arti
dari ilmu kalam. Ia lebih lanjut menyatakan bahwa filsafat itu telah
lahir dari kebutuhan islam dan perdebatan keagamaan dan pada
dasarnya mementingkan landasan aqidah atau mencarikan dasar
filosofisnya, ataupun untuk membangun pemikiran-pemikiran theologi
keagamaan.
Prof. Fuad Al-Ahwani juga mengemukakan pendapatnya,
bahwa filsafat telah bercampur dengan ilmu kalam, sampai yang
terakhir ini telah menelan filsafat sedemikian rupa dan
memasukkannya di kitab-kitabnya. Sehingga kitab-kitab Tauhid yang
membahas ilmu kalam didahului dengan pendahuluan mengenai logika
Aristoteles dengan mengikuti cara para filosuf.
2. Filsafat dan Tassawuf
Filsafat dan tassawuf mempunyai perbedaan yang sangat besar.
Keduanya dalam hal pembahasan, berbeda pada metoda dan objeknya.
10
Apabila berbicara filsafat berarti dalam memandang harus dengan
akal, dan menggunakan metoda argumentasi dan logika. Akan tetapi
tassawuf dengan jalan mujahadah (pengekangan hawa nafsu) serta
musyahadah (pandangan batin).
Di samping itu tassawuf dalam berbicara memakai bahasa
intuisi dan pengalaman batin. Dan menurut Dr. Fuad Al-Ahwani,
bahwa para filosuf sebagai pemilik-pemilik argumentasi, sedangkan
tassawuf adalah pemilik intuisi dan perasaan batin. Demikanlah
perbedaan prinsip dari keduanya.
Al-Jurjani dalam kitabnya AT-Tarifat yang diuraikan oleh Dr.
Fuad mengatakan bahwa tassawuf adalah pembersihan hati dari
mengikuti kehendak manusia, melepaskan akhlak alamiah dengan
memadukan sifat-sifat manusiawi menjauhi panggilan-panggilan hawa
nafsu, menempati sifat-sifat kerohanian, terpaut dengan ilmu-ilmu
hakikat, selama-lamanya memakai sifat-sifat keutamaan, memberi
nasihat bagi semua umat, setia kepada Allah. Secara hakiki dan
mengikuti Rasullulah dalam syariat.
Gejala timbul pada abad sekarang, bahwa ada percampuran
antara tassawuf dengan filsafat. Sebagaimana pada ajaran tassawuf
yang menguraikan tentang ittihad (persatuan dengan Tuhan). Hulul
(inkarnasi Tuhan) dan Wahdatul wujud (Phanteisme). Namun hal ini
hanya sebagai suatu hal kemiripan proses seperti apa yang terjadi pada
ilmu tassawuf ketika memasuki aliran-aliran filsafat.
3. Filsafat dan Fiqh
Fiqh sebagai ilmu yang spesifik di dalam ilmu-ilmu lama.
Sebagaimana juga tassawuf atau ilmu kalam, sehingga dasar fiqh
adalah ajaran agama. Sehingga fiqh sebagai kajian ilmu berbeda
dengann filsuf. Namun Imam Syafi’i dalam kitabnya Ar-Risalah
menjelaskan bahwa antara fiqh dan ushul fiqh adalah lain
permasalahan. Di mana uashul fiqh menurut kitab ini adalah kitab
yang ilmiah dengan pembahasan yang sistematis susunannya dalam
disiplin ilmu.
11
Juga terlihat adanya pemikiran filosofi dalam islam yang
dicerminkan adanya perhatian dalam mengukur suatu hal yang
mendetail dan partial meurut kaidah-kaidah umum dengan tidak
mengabaikan aspek fiqqhnya yakni menarik hukum-hukum syariat
secara mendetail dengan alasan-alasan yang terperinci. Disamping itu
Ar-Risalah telah memunculkan pikiran fiosofis dengan kecenderungan
mengikuti ilmu mantiq dengan memberian definisi-definisi terlebih
dahulu.
Dipandang dari sudut terminologis antara fiqh atau ushul fiqh
berbeda dengan filsafat. Walaupun perkembangan beritanya, ushul
fiqh juga terpengaruh oleh logika Aristoteles. Hal ini dapat dilihat
dalam melakukan istimbat hukum dengan cara qiyas atau silogisme,
sebagai salah satu metoda berfilsafat. Secara global dapat diketahui
sekarang, bahwa antara tassawuf, ilmu kalam dan fiqh dapat di
identikkan dengan filsafat oleh sebgaian orang. Walaupun juga tidak
dapat disangkal lagi bahwa fisafat dengan ketiganya jelas berbeda
dalam permasalahan objek pembahasannya. Juga dapat diketahui
secara implisit bisa diketahui akan keidentikan ilmu-ilmu tersebut
dengan filsafat.
F. Pemikiran Tokoh Islam
1. Al-Kindi
a. Biografi
Nama lengkapnya Al-Kindi adalah Abu Yusuf Ya’qub bn
Ishaq Ash-Shabba bin ‘Imran. Ia dilahirkan di Kuffah tahun 185H
(801 M). Ayahnya ishaq Ash-Shabbah adalah gubernur Kuffah
pada masa pemerintahan Al-Mahdi dan Harun Al-Rasuyid dari
Bani Abbas. Ayahnya meninggal beberapa tahun setelah Al-Kindir
Lahir. Dengan Demikian Al-Kindi berdasarkan dalam keadaan
yatim.3
Dari karangan-karangannya Al-kindi adalah penganut
aliran Eklektisime, yakni aliran yang tidak mempergunakan atau
3
Aboebakar, of cit dalam Drs. H Mustofa, filsafat islam hlm 99
12
mengikuti metoda apaun yang ada, melainkan mengambil apa yang
paling baik dari metoda-metoda filsafat.4
Dalam metafisika dan kosmologi ia mengambil pendapat
Aristoteles, dalam psikologi ia mengambil pendapat Plato, dalam
bidang Etika ia mengambil pendapat Socrates dan Plato. Meskipun
demikian, kepribadian Kindi sebagai filsuf muslim tetap bertahan.
b. Karya dan pemikirannya
Karya ilmiah Al-Kindi kebanyakan hanya berupa
makalah-makalah, tetapi jumlahya amat banyak,Ibnu Nadim dalam
kitabnya menyebutkan lebih dari 230 buah5. Karangan-karangan
Al-kindi mengenai filsafat menunjukan ketelitian dan kecermatan
dalam memberantas batasan-batasan makna istilah yang
dipergunakan dalam terminlogi ilu filsafat. Masalah-masalah
filsafat yang ia bahas mencakup epistiologi, metafisika, etika dan
sebagainya. Sebagaimana halnya para penganut aliran Phytagoras,
Al-kindi juga menyebutkan bahwa dengan matematka orang tidak
bisa berfilsafat dengan baik.
Al Kindi ada filsuf islam yang mula-mula secara sadar
berupaya mempertemukan ajaran-ajaran islam dengan filsafat
Yunani, sebagai seorang filsuf, Al Kindi amat percaya kepada
kemampuannya akal untuk memperoleh pengetahuan yang benar
tentang realitas. Tetapi, dalam waktu yang sama diakuinya pula
keterbatasan akal untuk mencapai pengetahuan metafisis. Oleh
karenanya menurut Al-Kindi diperlukannya adanya Nabi yang
mengajarkan halhal diluar jangkauan akal manusia yag diperoleh
dari wahyu Tuhan. Dengan demikian Al-kindi tidak sependapat
dengan para filosuf Yunani dalam hal-hal yang dirasakan
bertentangan dengan ajaran agama islam yang diyakininiya.
Misalnya mengenai kejadian alam yang berasal dari ciptaan Tuhan
yang semula tiada, berbeda dengan pendapat Aristoteles yang
mengatakan bahwa alam tidak diciptakan dan bersifat abadi. Oleh
4
A. Mustofa, filsafat islam, Bandung 1997, hlm 100
5
Ibnu Nadi dalam a. Mustofa hlm.101
13
karenannya Al-Kindi tidak termasuk filosuf yang dikritik Al-
Ghazzli dalam kitabya Tahafut Al-Falasifah.
2. Al-Razi
a. Biografi
Nama lain adalah Abu Bakar Muhamad Ibn Zakaria Ibn
Yahya Al-Razi. Ia lahir di Rayy pada tanggal 1 sya’ban 251 H.
Pada masa mudanya, ia menjadi tukang intan dan suka pada usik.
Ia cukup tertarik dengan ilmu kimia dan hal ini yang menyebabkan
matanya buta. Ia juga belajar ilmu kedokteran dengan tekun pada
seorang dokter dan seorang filsuf yang bernama Ali Ib Roban Al
Thabari. Kemungkinan guru ini pula yag menumbuhkan minat Al-
Razi untuk bergelut di dunia filsafat agama.
Sebagai seorang yang terkenal, ia mempunyai banyak
murid yang belajar kepadanya. Metoda yang digunakan adalah
bersistem pengembangan daya intelektual. Apabila seorang murid
bertanya maka ia tidak langsung menjawabnya, melainkan
dilempar kembali kepada murid-muridnya, jika tidak ada yang
paham maka Al-Razi sendiri yang akan menjawabnya.
Al-Razi meninggal dunia pada tanggal 5 Sya’ban 313 H/7
Oktoer 925 M. Sampai meningalnya ia belum dapat disembuhkan
kebutaan matanya.
b. Karya-karya dan pemikirannya
Al-razi memiliki banyak karya, buku-buku yang
ditulisnya mencakup tentang ilmu kedokteran, logika,astronomi,
filsafat dan sebagainya. Menurut Abu Ai Usaibah, buku Ar-Razi
berjumlah 36 karya, tetapi ada beberapa yang tidak jelas
pengaragnya. Dr. Mahmud al Najmabdi dalam bukunya Syarh
Muhammad Ibn Zakaria menyebutkan ada 250 judul. Kemudian
ada pula yang berpendapat , buku yang diproduksi berjumlah 118
buku, 19 surat, satu akalah dan 4 buku sehingga berjumlah 148
buah. Adapun buku-buku itu diantaranya : Al- Tibb al Ruhani, Al
14
Shirath a-Fasafiyah, kitab al Laddzah, kitab al ib al ilahi, Al
Syukur ‘ala Proclas.
Al_Razi sebenarya filosuf yang hidup pada masa
pendewaan akal secara berlebihan, hal ini sebagaimana Mu’tazillah
yang merupakan aliran Theologi dalam islam. Apabila ia seorang
muslim, maka ia muslim yang tidak sempurna (tidak kaffah) ,
karena tidak mempercayai adaya wahyu dan kenabian. Pemikiran
filsafatnya tidak sistematis dan tak teratur. Namun pada masanya
ia dipandang sebagai pemikir ulung yang tegar dan liberal dalam
islam. Bahkan dalam sejarah dialah satu-satunya pemikir rasional
murni sangat mempercayai kekuatan akal, bebas dari segala
prasangka dan terlalu berani dalam mengemukakan gagasan-
gagasan filsofinya.
Ia seorang yang bertuhan dan mengaku Tuhan maha Bijak,
tetapi ia tidak mengakui wahyu-Nya/ajaran-Nya. Sebalikya
mempercayai kemajuan dan pemikiran manusia. Kami mengakui
tentang keberanian dalam penggunan akal sebagai ukuran untuk
menilai baik buruk, benar jahat, yang berguna atau tidak berguna.
Sehubugan dengan penolakan terhadap wahyu dan keniasan serta
tidak mengakui adanya semua agama, maka dipandang dari segi
teogi islam adalah belum muslim karena keimanan yang
dipeluknya tidak kosekuen dalam pengertian tidak utuh.
Selebihnya wallahu’ala bis shawab.
15
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan materi tersebut, dapat disimpulkan bahwa:
1. Filsafat Islam adalah filsafat yang tumbuh di negeri islam dan di
bawah naungan negara islam, tanpa memandang agama dan bahasa-
bahasa pemiliknya, pendapat ini diperkuat oleh Prof. Tata chand,
bahwa orang-orang Nasrani dan Yahudi telah menulis kitab-kitab
filsafat yang bersifat kritis atau terpengaruh oleh islam sebaiknya
dimasukkan kedalam filsafat islam.
2. Secara global dapat diketahui, bahwa antara tassawuf, ilmu kalam dan
fiqh dapat di identikkan degan filsafat oleh sebgaian orang. Walaupin
juga tidak dapat disangkal lagi bahwa fisafat dengan ketiganya jelas
berbeda dalam permasalahan objek pembahasannya. Juga dapat
diketahui secara implisit bisa diketahui akan keidentikan ilmu-ilmu
tersebut dengan filsafat.
3. Pada tokoh-tokoh Islam diatas, dapat diketahui bahwa mereka
mempunyai pemikiran yang berbeda-beda didalam bidang mereka
masing-masing. Karya-karya mereka juga bervariasi dalam berbagai
bidang.
B. Saran
Diharapkan ilmu di zaman modern sekarang ini tidak luput dari
ajaran-ajaran agama seperti yang telah dikemukakan oleh tokoh-tokoh
Islam diatas. Karena dengan semakin berkembangnya ilmu dan teknologi
kita harus semakin waspada demi kesejahteraan hidup. Kami selaku
penulis memohon kritik dan saran para pembaca dan juga mohon maaf
atas kekurangannya.
16
Daftar Pustaka
Bertens. 1984. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Yayasan Kanisius,
Nasution, Harun. 1973. Falsafah Agama. Jakarta: Bulan Bintang
Zar, Sirajuddin, 2004. Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Iqbal, Muhammad. 2002. Rekronstruksi Pemikiran Agama dalam Islam.
Yogyakarta: jalasutra
Mustofa, A. 1997. Filsafat Islam. Bandung: CV. Pustaka Islam
17