0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
322 tayangan6 halaman

Memahami Teks Editorial Media Massa

Teks editorial ini membahas tentang teks editorial sebagai artikel yang menyampaikan pendapat redaksi media massa mengenai suatu peristiwa atau isu. Teks editorial memiliki fungsi menjelaskan fakta, memberikan latar belakang isu, memberikan pandangan redaksi, memberikan penilaian moral, dan mengajak pembaca berpikir. Teks editorial umumnya tidak mencantumkan nama penulis dan berisi analisis, persepsi, konklusi redaksi terhadap suatu permasal

Diunggah oleh

Weny Juniarty
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
322 tayangan6 halaman

Memahami Teks Editorial Media Massa

Teks editorial ini membahas tentang teks editorial sebagai artikel yang menyampaikan pendapat redaksi media massa mengenai suatu peristiwa atau isu. Teks editorial memiliki fungsi menjelaskan fakta, memberikan latar belakang isu, memberikan pandangan redaksi, memberikan penilaian moral, dan mengajak pembaca berpikir. Teks editorial umumnya tidak mencantumkan nama penulis dan berisi analisis, persepsi, konklusi redaksi terhadap suatu permasal

Diunggah oleh

Weny Juniarty
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TEKS EDITORIAL

1. Pengertian Teks Editorial


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), editorial memiliki dua
arti. Pertama, editorial memiliki arti ‘mengenai atau berhubungan dengan
editor atau pengeditan.’ Kedua, editorial berarti ‘artikel dalam surat kabar atau
majalah yang mengungkapkan pendirian editor atau pimpinan surat kabar
(majalah) tersebut mengenai beberapa pokok masalah; tajuk rencana.’
Dari pengertian editorial berdasarkan KBBI itu, ada konsep yang bisa
ditarik sebagai dasar pemahaman teks editorial, yakni sebuah artikel yang
mengungkapkan pendirian editor atau pimpinan media terhadap suatu
peristiwa atau masalah dari berbagai macam hal. Mulai dari masalah politik,
ekonomi, peristiwa fenomenal, klarifikasi media, hingga kejadian kontroversial.
Pandangan itu tentunya berlandaskan sisi subjektivitas dari pendirian
tim redaksi dalam media tersebut. Artinya, sebuah teks editorial mewakili
pandangan atau suara dari kebijakan redaksi yang diterapkan dalam sebuah
media massa. Dengan kata lain, editorial itu bersifat subjektif dan isi atau
konten dalam artikelnya berupa opini dari redaksi.

Dari penjelasan itu, maka dapat disimpulkan bahwa teks editorial merupakan
artikel yang berisikan pandangan atau opini redaksi media massa terhadap
suatu peristiwa, isu, atau masalah (besar) yang sedang hangat
diperbincangkan.

2. Fungsi Teks Editorial


 Menjelaskan fakta atau peristiwa dan akibatnya kepada masyarakat.
 Mengisi latar belakang dari isu dengan kenyataan sosial dan faktor yang
memengaruhinya.
 Memberikan pandangan kepada pembaca terhadap isu yang sedang
berkembang.
 Memberikan penilaian (moral) tentang isu tersebut.
 Mengajak pembaca untuk ikut berpikir terhadap peristiwa yang sedang
hangat terjadi.

3. Ciri- ciri Teks Editorial


a. Ciri-ciri secara Umum
 Dalam teks editorial terdapat pendirian redaksi terhadap masalah yang
aktual di berbagai bidang, seperti bidang politik, ekonomi, sosial, dan
budaya, dan pandangan redaksi yang berkaitan dengan nilai moral.
 Di dalam teks editorial tidak dicantumkan nama penulisnya. Hal itu
dikarenakan, editorial merupakan pandangan redaksi bukan pandangan
penulis secara individu terhadap isu-isu yang diangkatnya. Atas hal itu,
dalam teks editorial tidak ada kata “saya” sebagai kata ganti orang
pertama untuk penulisnya.
 Isi dari teks editorial berupa analisis, persepsi, dan konklusi dari redaksi
terhadap permasalahan yang sedang terjadi, pentingnya masalah, opini
redaksi terhadap masalah, kritik dan saran atas permasalahan, dan
harapan redaksi atas peran serta pembaca.
 Ada bagian yang menguraikan fakta dan ada pula bagian yang
merupakan opini. Baik fakta dan opini di dalam teks redaksional
disusun secara sistematis, logis, dan menarik serta bertujuan
membentuk opini publik.
 Opini yang ditulis dalam teks editorial diasumsikan mewakili redaksi
sekaligus mencerminkan pendapat dan sikap resmi media yang
bersangkutan.
 Terkadang, dalam teks editorial atau tajuk rencana terdapat ramalan
atau prediksi atau analisis kondisi yang berfungsi mempersiapkan
masyarakat akan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi serta
meneruskan penilaian moral mengenai berita tersebut.

b. Ciri-ciri Teks Editorial Kelas Atas


 Hati-hati
 Normatif
 Cenderung konservatif
 Menghindari pendekatan kritis yang tajam
 Pertimbangan aspek politis lebih besar daripada aspek sosiologis

c. Ciri-ciri Teks Editorial Kelas Bawah


 Berani
 Atraktif
 Progresif
 Memilih pendekatan kritis yang bersifat tajam
 Lebih memilih pendekatan sosiologis daripada pendekatan politis

4. Sifat Teks Editorial


 Bersifat krusial
 Isinya menyikapi situasi yang berkembang dalam masyarakat
 Memiliki karakter yang konsisten
 Terkait dengan kebijakan media yang bersangkutan

5. Jenis-jenis Teks Editorial


Teks editorial memiliki tiga jenis, yakni: teks editorial interpretatif, kontroversi,
penjelasan.
a. Teks Editorial Interpretatif

Teks editorial interpretatif merupakan teks editorial yang


berusaha menjelaskan makna atau signifikasi dari situasi yang terjadi
atau peristiwa yang tengah diangkat oleh media massa tersebut.
Teks tersebut dibuat dengan memberikan fakta-fakta dan figur
untuk memberikan pengetahuan kepada pembaca. Dengan begitu,
pembaca media massa tersebut dapat memahami kondisi atau peristiwa
yang tengah terjadi melalui perspektif media tersebut.

b. Teks Editorial Kontroversi

Teks editorial kontorversi atau controversial editorial merupakan editorial


yang dibuat untuk meyakinkan pembaca pada keinginan atau
kepercayaan pada suatu isu. Biasanya, editorial tersebut akan
menggambarkan pendapat yang berlawanan akan digambarkan lebih
buruk dari pendapat di dalam teks editorial itu sendiri.

c. Teks Editorial Penjelasan

Teks editorial penjelasan atau explanatory editorial adalah editorial yang


menyajikan masalah untuk dinilai oleh para pembacanya. Tujuan
penulisan editorial tersebut ialah untuk mengidentifikasi masalah dan
membuka mata masyarakat untuk lebih memperhatikan suatu isu
tertentu.

6. Esensi Teks Editorial

Dari berbagai pembahasan tentang teks editorial tersebut, ada beberapa esensi
yang bisa diambil tentang teks tersebut.
 Pertama, teks editorial merupakan pendirian redaktur atau suatu
redaksi media massa terhadap masalah yang aktual di berbagai bidang,
seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, dsb.
 Kedua, teks editorial merupakan pandangan redaktur atau redaksi yang
berkaitan dengan nilai moral.
 Ketiga, editorial bertujuan untuk memberikan penjelasan berita paling
penting dalam suatu terbitan media massa.
 Keempat, editorial merupakan prediksi redaktur atau redaksi suatu
media massa atas peristiwa yang akan terjadi.

Dari keempat esensi tentang teks editorial itu, maka dapat dikatakan
bahwa untuk menuliskannya tidak bisa sembarangan. Untuk menulisnya,
ada formula tersendiri. Formula yang lumrah digunakan untuk menuliskan
teks editorial ialah formula SPEC atau State the situation, position, evidence,
conclude, dan solution. Berikut penjelasan singkat dari formula tersebut:
 State the situation: menentukan sejak awal isu/masalah yang ingin
ditampilkan.
 Position: menentukan posisi redaksi terhadap masalah itu.
 Evidence: jika telah menentukan posisi diperkuat dengan bukti yang
jelas.
 Conclude: menyimpulkan.
 Solution: memberikan jalan keluar atas isu yang ditulis.

7. Struktur Teks Editorial


Struktur teks editorial terdiri atas tiga struktur, yaitu sebagai berikut.
a. Pengenalan isu (tesis)
Bagian ini berisi pendahuluan pada teks editorial yang mengemukakan
topik permasalahan.

b. Penyampaian pendapat (rangkaian argumen)


Bagian ini berisi pembahasan atau tanggapan redaksi terhadap isu yang
sudah diperkenalkan pada bagian tesis.

c. Penegasan ulang (simpulan)


Bagian ini berisi simpulan, saran, atau rekomendasi, dan harapan
redaksi kepada pihak terkait agar mengatasi permasalahn yang terjadi
dalam isu tersebut.

8. Kaidah Kebahasaan Teks Editorial


Adapun kaidah kebahasaan yang terdapat dalam teks editorial adalah sebagai
berikut.
a. Adverbia (keterangan)
Dalam teks editorial, biasanya yang sering muncul adalah adverbia
frekuentatif, yakni kata keterangan yang menggambarkan makna
berhubungan dengan tingkat kekerapan terjadinya sesuatu. Contoh kata-
kata yang dimaksud adalah: selalu, biasanya, sering, kadang-kadang,
jarangi dsb.

b. Konjungsi (kata penghubung)


Konjungsi merupakan kata penghubung. Konjungsi dibagi menjadi lima
jenis:
- Konjungsi antarkata
- Konjungsi antarfrasa
- Konjungsi antarklausa
- Konjungsi antar kalimat
- Konjungsi antarparagraf
Dalam teks editorial, biasanya banyak ditemukan konjungsi antarkalimat,
seperti: bahkan, malahan, sesungguhnya, sebenarnya, sedangkan, tetapi,
melainkan, dsb.

c. Verba material
Verba material merupakan kata kerja yang menunjukkan perbuatan fisik
manusia. Dalam teks editorial, biasanya ditemukan kata: membaca,
menulis, memukul, menendang, dsb.

d. Verba relasional
Verba relasional merupakan kata kerja yang menunjukkan hubungan
intensitas dan kepemilkan yang fungsinya menghubungkan subjek dengan
pelengkap. Verba yang dimaksud adalah: merupakan, adalah, memiliki,
menyebabkan, disebabkan, mengakibatkan, dsb.

e. Verba mental
Verba mental merupakan kata kerja yang menerapkan persepsi, afeksi, dan
kognisi.
- Persepsi (tanggapan), prosesnya berhubungan dengan
pancaindra. Contoh: melihat, mendengar, menghirup
- Afeksi (perasaan), berhubungan dengan perasaan manusia.
Contoh: merasa
- Kognisi (pemikiran), hasil pemerolehan pengetahuan. Contoh:
memikirkan, menganalisis, mengerti, memahami

9. Contoh Teks Editorial

Pendidikan vs Kapitalisme

Ribut-ribut seputar dunia pendidikan tak sekadar dihiasi mahalnya ongkos


untuk jadi orang pintar, tapi juga diwarnai oleh pertarungan idealisme melawan arus
[Link] saja soal Bogor Agribusiness Center di Kampus Institut Pertanian
Bogor (IPB).Tukar guling SLTP 56 di “daerah emas” Melawai Jakarta Selatan. Dan,
niat sebuah yayasan menjual sekolah miliknya di Kota Bandung.
Suka atau tak suka, disadari atau tidak, arus kapitalisme telah merasuk ke
dalam urat nadi kehidupan manusia Indonesia. Jadi, tak usah heran jika geliat hal
yang sama masuk ke berbagai aspek, termasuk menyentuh kegiatan pendidikan.
Mulai dari kewajiban murid membeli buku yang diwajibkan, jalur khusus penerimaan
mahasiswa lewat uang pangkal yang besar, hingga Malang Town Square di area
kampus Universitas Brawijaya Malang.
Inti dasar paham kapitalisme adalah pergerakan modal. Kapitalisme
mengajarkan pada kita perihal nilai berlebih, yang harus dihasilkan oleh suatu
jumlah kapital tertentu dalam rentang waktu secepat mungkin. Kapital hanya bicara
soal untung dan uang yang berkuasa atas segalanya. Nilai-nilai lain, terkadang harus
menyisih. Tapi, harus diakui kapitalisme adalah sistem yang sudah mendunia.
Lalu, di mana idealisme pendidikan?Apa arti pendidikan adalah hak semua
warga negara (baik yang punya akses terhadap kapital maupun tidak)? Jeritannya
sepi, senyap seolah tertelan kedalaman laut. Seperti lingkungan yang tak bisa
menahan kuatnya cengkeraman kapital, maka dunia pendidikan juga harus mulai
siap-siap [Link] ada yang peduli lagi terhadap teriakan soal filosofi
pendidikan.
Apa mau dikata, pendidikan sendiri kini sudah merupakan bagian dari dunia
kapital sendiri. Sifat ingin memperoleh nilai berlebih sudah tertanam. Semakin
seseorang siap berinvestasi dengan kapital yang dimilikinya, maka dipastikan dirinya
akan menciptakan nilai berlebih dari dunia pendidikan di masa yang akan datang.
Bagi yang enggan menanam kapital, jangan bermimpi mendapat nilai berlebih.
Fenomena semacam ini yang akan terus mewarnai dunia pendidikan di sini.
Perlu perjuangan ekstra keras untuk melawan arus besar ini. Bahkan pemerintah,
dengan UU di pundaknya, seakan tak mampu mencegah. Sebaliknya dengan dalih
keterbatasan dana, seolah-olah melakukan pembenaran terhadap arus modal yang
tak peduli sisi lain, kecuali demi kepentingan modal itu sendiri. Bahkan, mungkin
juga ikut menikmati iklim kapitalisme yang merambah dunia pendidikan.
Pertanyaannya adalah bagaimana menyikapi kondisi yang ada, yang sudah
menjalar ke segala sisi kehidupan? Kompromi, mungkin itulah salah satu cara untuk
saat ini. Mencoba berdamai dengan kapitalisme, karena kapitalisme adalah
kenyataan objektif sekarang ini. Menentang gelombang yang superkuat itu perlu
persiapan dan langkah antisipatif yang pas.
Namun, berkompromi bukan berarti melupakan nilai-nilai lain yang lebih
dalam, dari sekadar bicara modal: moral, etika atau lainnya, yang sering terlibas oleh
kekuatan kapital. Keterpakuan terhadap kapital, selama ini menjadi penyebab
keterlenaan yang panjang dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya. Ini yang
harus jadi perhatian kita semua. (Sumber: Pikiran Rakyat)

Anda mungkin juga menyukai