VARIASI DOSIS ANESTESI LOKAL LIDOKAIN 2% DENGAN
ADRENALIN 1:100.000 YANG DIBERIKAN PADA PASIEN
ODONTEKTOMI GIGI MOLAR 3 BAWAH DI
RUMAH SAKIT USU PERIODE
FEBRUARI – APRIL 2017
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat
memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi
Oleh:
EDINA RAISHA
NIM: 130600014
Dosen Pembimbing:
Rahmi Syaflida, drg., [Link]
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Fakultas Kedokteran Gigi
Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial
Tahun 2017
Edina Raisha
Variasi dosis anestesi lokal lidokain 2% dengan adrenalin 1:100.000 yang diberikan
pada pasien odontektomi gigi molar 3 bawah di Rumah Sakit USU periode Februari -
April 2017.
x + 41 halaman
Odontektomi gigi molar 3 bawah merupakan termasuk kasus pengambilan
gigi yang tingkat kesulitannya sedang, sehingga dapat memicu komplikasi lokal
maupun sistemik dan berhubungan dengan pemberian anestesi lokal, maka diperlukan
pertimbangan anestesi lokal, yaitu dalam pemberian dosis. Dalam pemberian dosis,
ada kemungkinan besar dosis setiap pasien dapat bervariasi dikarenakan respon tubuh
setiap pasien yang berbeda dan dipengaruhi juga oleh faktor berat badan, bahan
anestesi, pengonsumsian alkohol, morfologi saraf dan kecemasan. Penelitian ini
memiliki tujuan utama untuk mengetahui variasi dosis anestesi lokal lidokain 2%
dengan adrenalin 1:100.000 yang diberikan pada pasien odontektomi gigi molar 3
bawah di Rumah Sakit USU dan tujuan khususnya untuk mengetahui jumlah dosis
anestesi lokal yang diberikan pada pasien odontektomi gigi molar 3 bawah,
mengetahui nilai variasi jumlah dosis anestesi lokal yang diberikan pada pasien
odontektomi gigi molar 3 bawah dan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi
variasi dosis tersebut.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Teknik pengambilan sampel
dilakukan dengan teknik total sampling. Jumlah sampelnya seluruh pasien
odontektomi molar 3 bawah yang datang pada bulan Februari - April 2017 dan
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan mengisi
kuesioner yang diisi langsung oleh peneliti berdasarkan observasi yang dilakukan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis anestesi lokal yang diberikan pada pasien
odontektomi molar 3 bawah di Rumah Sakit USU tersebut sekitar 50-100 mg, dimana
nilai variasi jumlah dosis anestesi lokal yang tertinggi pada berat badan 70-79 kg,
yaitu 238 dan nilai variasi jumlah dosis yang terendah pada berat badan 40-49 kg,
yaitu 83,8 dan faktor yang mempengaruhi variasi dosis anestesi lokal pada penelitian
ini adalah berat badan dan kecemasan.
Daftar Rujukan : 30 (2006-2016)
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PERNYATAAN PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan
di hadapan tim penguji skripsi
Medan, 22 Mei 2017
Pembimbing: Tanda tangan
Rahmi Syaflida, drg., [Link] ……………………………
NIP. 198407242008012006
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
TIM PENGUJI SKRIPSI
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji
pada tanggal 22 Mei 2017
TIM PENGUJI
KETUA : Isnandar, drg., [Link]
ANGGOTA : 1. Rahmi Syaflida, drg., [Link]
2. Ahyar Riza, drg., [Link]
3. Abdullah Oes, drg.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi
dengan judul “Variasi Dosis Anestesi Lokal Lidokain 2% dengan Adrenalin
1:100.000 yang Diberikan pada Pasien Odontektomi Gigi Molar 3 Bawah di Rumah
Sakit USU Periode Februari - April 2017” yang merupakan salah satu syarat untuk
mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi.
Dalam skripsi ini, penulis telah banyak mendapatkan bimbingan, bantuan,
saran-saran, motivasi, serta doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan segala
kerendahan hati, serta penghargaan yang tulus, penulis menyampaikan rasa terima
kasih kepada:
1. Eddy A. Ketaren, drg., [Link] selaku Ketua Departemen Bedah Mulut dan
Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
2. Rahmi Syaflida, drg., [Link] selaku dosen pembimbing yang telah bersedia
meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, pengarahan, serta membantu
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Erna Sulistyawati, drg., [Link](K) selaku dosen pembimbing akademis
yang telah membimbing dan mengarahkan penulis selama menjalankan pendidikan di
Fakultas Kedokteran Gigi USU.
4. Sake Juli Martina, dr., [Link]. selaku direktur diklat, penelitian dan
kerjasama di Rumah Sakit USU, yang telah memberikan izin penelitian di Rumah
Sakit USU.
5. Rasa hormat dan terima kasih yang tidak terhingga, penulis persembahkan
kepada ayahanda tercinta Drs. Ermansyah, M. Hum. dan ibunda Rusana Yanti, S.E.
serta adik-adikku tersayang Aisha Anindita, Naomi Laksita Laras, dan Ryan Athaya
Syauqi atas perhatian, kasih sayang, doa, serta dukungan baik moril maupun materil
yang selama ini diberikan kepada penulis.
6. Teman seperjuangan dari awal kuliah sampai sekarang Daniel, Pratiwi,
Yosanna, Allya, Tami, dan Wulan serta seluruh teman-teman kelas A Stambuk 2013
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
v
dan teman-teman seperjuangan skripsi di Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial
yang telah membantu dan memberikan semangat untuk penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini.
7. Dan terima kasih juga kepada abangda Maulidi Al Kahfi, S.T. yang telah
memberikan bantuan, semangat dan motivasi kepada penulis selama masa
perkuliahan, pembuatan skripsi, dan hingga saat ini.
Akhirnya penulis mengharapkan semoga hasil karya atau skripsi ini dapat
memberikan manfaat dan sumbangan pikiran yang berguna bagi fakultas,
pengembangan ilmu dan masyarakat.
Medan, 22 Mei 2017
Penulis,
(Edina Raisha)
NIM : 130600014
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
vi
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL....................................................................................
HALAMAN PERSETUJUAN.....................................................................
HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI.......................................................
KATA PENGANTAR................................................................................. iv
DAFTAR ISI................................................................................................ vi
DAFTAR TABEL........................................................................................ viii
DAFTAR GAMBAR................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................ x
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................... 3
1.3 Tujuan Penelitian..................................................................... 3
1.3.1 Tujuan Umum........................................................................ 3
1.3.2 Tujuan Khusus....................................................................... 4
1.4 Manfaat Penelitian................................................................... 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Odontektomi Gigi Molar 3 Bawah.......................................... 5
2.2 Definisi Anestesi Lokal........................................................... 7
2.3 Fisiologi Konduksi Saraf......................................................... 8
2.4 Mekanisme Kerja Anestesi Lokal............................................ 9
2.5 Anatomi Persarafan pada Mandibula....................................... 10
2.6 Klasifikasi Bahan Anestesi Lokal............................................ 11
2.7 Penambahan Vasokonstriktor.................................................. 12
2.8 Lidokain................................................................................... 13
2.8.1 Metabolisme Lidokain.......................................................... 14
2.8.2 Ekskresi................................................................................. 15
2.8.3 Dosis Maksimum Lidokain................................................... 15
2.9 Lidokain 2% dengan Adrenalin 1:100.000.............................. 15
2.10 Faktor yang Mempengaruhi Variasi Dosis Anestesi Lokal... 16
2.11 Anestesi Lokal Blok Mandibula............................................ 19
2.11.1 Anestesi Lokal Blok Mandibula Metode Fischer............... 21
2.11.2 Teknik Anestesi Lokal Blok Mandibula Metode Fischer... 22
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
vii
2.12 Kerangka Teori...................................................................... 25
2.13 Kerangka Konsep.................................................................. 26
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian........................................................................ 27
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian................................................... 27
3.3 Populasi dan Sampel................................................................ 27
3.3.1 Populasi................................................................................. 27
3.3.2 Sampel................................................................................... 27
3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi.................................................... 28
3.4.1 Kriteria Inklusi...................................................................... 28
3.4.2 Kriteria Eksklusi.................................................................... 28
3.5 Variabel dan Definisi Operasional........................................... 28
3.6 Metode Pengumpulan Data...................................................... 28
3.7 Pengolahan dan Analisis Data.................................................. 29
3.7.1 Pengolahan Data................................................................... 29
3.7.2 Analisis Data......................................................................... 29
BAB 4 HASIL PENELITIAN
4.1 Distribusi Pasien Odontektomi Molar 3 Bawah ………….…. 30
4.2 Distribusi Dosis Anestesi Lokal……………….........……….. 31
4.3 Faktor yang Mempengaruhi Variasi Dosis………....………… 34
BAB 5 PEMBAHASAN............................................................................... 35
BAB 6 KESIMPULAN
6.1 Kesimpulan…………………………………………………… 38
6.2 Saran………………………………………………………….. 38
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 39
LAMPIRAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
viii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1 Rekomendasi dosis maksimum Lidokain 2% dengan Adrenalin
1:100.000...................................................................................... 16
2 Rekomendasi dosis bahan anestesi lokal berdasarkan Maximum
Recommended Dosages (MRDs).................................................. 16
3 Rekomendasi batas dosis yang maksimum berdasarkan berat
badan…………………………………………………………… 18
4 Variabel dan definisi operasional……………………………… 28
5 Distribusi data pasien odontektomi molar 3 bawah di Rumah
Sakit Universitas Sumatera Utara berdasarkan jenis
kelamin........................................................................................ 30
6 Distribusi data pasien odontektomi molar 3 bawah di Rumah
Sakit Universitas Sumatera Utara berdasarkan berat
badan............................................................................................ 31
7 Distribusi data pasien odontektomi molar 3 bawah di Rumah
Sakit Universitas Sumatera Utara berdasarkan umur................... 31
8 Distribusi dosis anestesi lokal berdasarkan berat badan.............. 33
9 Distribusi jumlah pasien berdasarkan faktor yang
mempengaruhi.............................................................................. 34
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1 Saraf mandibula........................................................................... 11
2 Ilustrasi mentale nerve block....................................................... 20
3 Daerah yang dianestesi pada anestesi lokal blok mandibula
metode Fischer............................................................................. 22
4. Posisi operator untuk mandibula kiri dan kanan.......................... 22
5. Posisi jarum di foramen mandibula ............................................. 23
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
x
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Daftar Riwayat Hidup
2. Rincian Biaya Penelitian
3. Tabel Pelaksanaan Skripsi
4. Ethical Clearence
5. Surat Izin Penelitian dari Rumah Sakit USU
6. Lembar penjelasan kepada calon subjek penelitian.
7. Lembar Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent).
8. Kuesioner Variasi Dosis Anestesi Lokal Lidokain 2% dengan Adrenalin
1:100.000 yang Diberikan Pada Pasien Odontektomi Gigi Molar 3 Bawah
Pada Periode Februari – April 2017.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pencabutan gigi merupakan suatu proses pengeluaran gigi dari alveolus, dimana
gigi tersebut sudah tidak dapat dilakukan perawatan lagi. 1 Pada pencabutan molar tiga
bawah, biasanya dilakukan karena gigi tersebut impaksi. Gigi impaksi adalah gigi yang
tidak dapat erupsi seluruhnya atau sebagian karena tertutup oleh tulang atau jaringan
lunak atau keduanya.2 Gigi molar ketiga rahang bawah impaksi dapat mengganggu
fungsi pengunyahan yang sering menyebabkan berbagai komplikasi, seperti resorpsi
patologis gigi yang berdekatan, terbentuknya kista folikular, perikoronitis, bahaya
fraktur rahang akibat lemahnya rahang dan gigi anterior yang berdesakan akibat tekanan
gigi impaksi ke anterior. Adanya komplikasi tersebut yang diakibatkan gigi impaksi
maka perlu dilakukan tindakan pencabutan. Upaya mengeluarkan gigi impaksi terutama
pada molar ketiga rahang bawah dilakukan dengan tindakan pembedahan yang disebut
odontektomi.3
Sebelum melakukan odontektomi, terlebih dahulu melakukan anestesi lokal
saraf yang mempersarafi gigi tersebut.4 Anestesi lokal biasa digunakan pada praktik
kedokteran gigi. Ini biasa digunakan pada prosedur perawatan gigi untuk
menghilangkan nyeri pada pencabutan gigi.5 Rasa sakit dapat diredakan melalui
terputusnya perjalanan neural pada berbagai tingkatan dan melalui cara-cara yang dapat
memberikan hasil permanen atau sementara. Anestesi lokal adalah tindakan untuk
melumpuhkan saraf sensibel setempat, dimana kesadaran pasien masih ada.6
Odontektomi gigi molar 3 bawah merupakan termasuk kasus pengambilan gigi yang
tingkat kesulitannya sedang sehingga dapat memicu komplikasi lokal maupun sistemik
dan berhubungan dengan pemberian anestesi lokal. Komplikasi lokal merupakan
komplikasi yang terjadi pada sekitar area injeksi. Komplikasi lokal menurut Malamed
termasuk parestesia, paralisis wajah, trismus, rasa sakit, infeksi dan edema. Komplikasi
sistemik merupakan komplikasi yang melibatkan respon sistemik tubuh terhadap
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2
pemberian anestesi lokal. Komplikasi sistemik pada penggunaan anestesi lokal termasuk
overdosis (reaksi toksik) dan alergi, maka perlunya pertimbangan dalam pemberian
anestesi lokal, yaitu dalam pemberian dosis dan pemilihan bahan anestesi lokal, serta
tingkat kehati-hatian operator sehingga dapat meminimalkan komplikasi yang mungkin
terjadi.7,8
Dalam pemberian dosis, ada kemungkinan besar dosis setiap pasien dapat
bervariasi dikarenakan respon tubuh setiap pasien yang dapat berbeda-beda. Variasi
dosis juga dapat dilihat dari berdasarkan Maximum Recommended Dosages (MRDs)
bahan anestesi lokal, dosis pada setiap bahan anestesi lokal berbeda-beda, dimana
tergantung pada persentase konsentrasi setiap bahan anestesi lokal tersebut.9 Malamed
juga mengatakan bahwa dosis maksimum anestesi lokal dihitung berdasarkan miligram
per unit berat badan, yaitu miligram per kilogram (mg/kg) atau miligram per pon
(mg/lb), dimana batas dosis yang maksimum anestesi lokal pada setiap berat badan
berbeda maka ada kemungkinan dosis anestesi yang diberikan berbeda pula. Dosis yang
direkomendasikan adalah dosis maksimum untuk orang yang sehat, dosis harus
dikurangi untuk pasien yang lemah atau orang tua. 9
Dalam pemberian dosis anestesi lokal juga dapat berbeda karena dipengaruhi
oleh pengonsumsian alkohol. Berdasarkan penelitian Utomo, Wowor dan Hutagalung
mengenai gambaran pemberian anestesi lokal blok mandibula dengan teknik Gow Gates
pada peminum alkohol di RSGM Manado tahun 2014, dimana hasil pada penelitian
tersebut mengatakan bahwa pada pasien peminum alkohol rata-rata dosis anestesi lokal
yang diperlukan lebih tinggi dan onset of action semakin lambat sesuai dengan besarnya
jumlah alkohol yang dikonsumsi.10
Dalam pertimbangan pemilihan bahan anestesi lokal, lidokain merupakan salah
satu bahan anestesi lokal yang paling banyak digunakan.1 Pada penelitian yang
dilakukan oleh Ikhsan dkk, pada dokter gigi di kota Manado mengenai bahan anestesi
lokal yang digunakan pada tahun 2013, menemukan bahwa lidokain 2% merupakan
bahan anestesi yang paling banyak digunakan oleh dokter gigi dalam pencabutan gigi
tetap di kota Manado dengan persentasi 74,19% atau sebanyak 23 orang dokter gigi dari
31 orang responden.11 Lidokain menyebabkan pati rasa lokal lebih cepat, lebih kuat,
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3
lebih lama masa kerjanya dan lebih luas daerah anestesinya daripada prokain dengan
konsentrasi yang sama.5
Lidokain 2% juga dapat diberikan dengan penambahan bahan vasokonstriktor
untuk mengurangi efek samping pada sirkulasi lokal di tempat bahan anestesi diberikan.
Adrenalin (epinefrin) adalah salah satu vasokonstriktor yang biasa diberikan bersama
lidokain, dengan konsentrasi 1:80.000 (0,0125 mg/ml), 1:100.000 (0,01 mg/ml),
1:200.000 (0,005 mg/ml). Pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Hans dan Gaffen di
Ontario pada tahun 2007, yaitu penggunaan lidokain dengan epinefrin 1:100.000
merupakan bahan paling umum yang digunakan dengan persentase 37,31%. 11
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui variasi dosis
anestesi lokal lidokain 2% dengan adrenalin 1:100.000 yang diberikan pada pasien
odontektomi gigi molar 3 bawah di Rumah Sakit USU sehingga dapat mengurangi
kemungkinan terjadinya komplikasi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka dapat
dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana variasi dosis anestesi lokal lidokain 2% dengan adrenalin 1:100.000
yang diberikan pada pasien odontektomi gigi molar 3 bawah di Rumah Sakit USU?
2. Apa saja faktor yang mempengaruhi variasi dosis?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum pada penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi dosis anestesi
lokal lidokain 2% dengan adrenalin 1:100.000 yang diberikan pada pasien odontektomi
gigi molar 3 bawah di Rumah Sakit USU.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui jumlah dosis anestesi lokal yang diberikan pada pasien
odontektomi gigi molar 3 bawah.
2. Untuk mengetahui nilai variasi jumlah dosis anestesi lokal yang diberikan pada
pasien odontektomi gigi molar 3 bawah.
3. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi variasi dosis.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini, antara lain:
1. Memberikan informasi dan evaluasi mengenai aplikasi anestesi lokal di Rumah
Sakit USU dari segi dosis yang diberikan pada odontektomi molar 3 bawah.
2. Dapat mencegah terjadinya komplikasi karena pemberian anestesi lokal.
3. Sebagai sarana proses pendidikan bagi peneliti, untuk melatih cara berpikir,
menambah pengetahuan dan pengalaman serta penerapan metode penelitian ilmiah
di bidang kedokteran gigi.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
5
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Odontektomi Gigi Molar 3 Bawah
Perkembangan dan pertumbuhan gigi geligi sering mengalami gangguan
erupsi, baik pada gigi anterior maupun posterior. Frekuensi gangguan erupsi
terbanyak pada gigi molar ketiga baik di rahang atas maupun di rahang bawah diikuti
gigi kaninus rahang atas. Gigi dengan gangguan letak salah benih akan menyebabkan
kelainan pada erupsinya, baik berupa erupsi di luar lengkung yang benar atau bahkan
terjadi impaksi.3 Gigi impaksi adalah gigi yang tidak dapat erupsi seluruhnya atau
sebagian karena tertutup oleh tulang atau jaringan lunak atau keduanya. 2
Klasifikasi impaksi gigi molar ketiga menurut Pell & Gregory, yaitu:12
A. Berdasarkan ruang antara ramus dan sisi distal molar dua.
- Klas I : Ada cukup ruangan antara ramus dan batas distal molar dua untuk lebar
mesio distal molar tiga.
- Klas II : Ruangan antara distal molar dua dan ramus lebih kecil daripada lebar
mesio distal molar tiga.
- Klas III : Sebagian besar atau seluruh molar tiga terletak di dalam ramus.
B. Kedalaman gigi molar tiga terpendam di tulang rahang.
- Posisi A : Bagian tertinggi gigi terpendam terletak setinggi atau lebih tinggi
daripada dataran oklusal gigi yang normal.
- Posisi B : Bagian tertinggi daripada gigi berada di bawah dataran oklusal tapi
lebih tinggi daripada servikal gigi molar dua (gigi tetangga).
- Posisi C : Bagian tertinggi dari gigi terpendam berada di bawah garis servikal
gigi molar dua.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
6
Klasifikasi menurut Winter, berdasarkan inklinasi gigi impaksi molar 3 bawah
terhadap panjang aksis gigi molar 2.12
- Vertikal
- Horizontal
- Mesioangular
- Distoangular
- Bukoangular
- Linguoangular.
Gigi molar ketiga rahang bawah impaksi dapat mengganggu fungsi
pengunyahan dan sering menyebabkan berbagai komplikasi, seperti resorpsi patologis
gigi yang berdekatan, terbentuknya kista folikular, perikoronitis, bahaya fraktur
rahang akibat lemahnya rahang dan gigi anterior yang berdesakan akibat tekanan gigi
impaksi ke anterior. Adanya komplikasi tersebut yang diakibatkan gigi impaksi dan
letak gigi impaksi maka perlu dilakukan tindakan pencabutan sebagai tindakan
pencegahan komplikasi.3
Pencabutan dianjurkan jika ditemukan akibat yang merusak atau
kemungkinan terjadinya kerusakan pada struktur sekitarnya dan jika gigi benar-benar
tidak berfungsi. Upaya mengeluarkan gigi impaksi terutama pada molar ketiga rahang
bawah dilakukan dengan tindakan pembedahan yang disebut sebagai odontektomi.
Odontektomi sebaiknya dilakukan pada saat pasien masih muda, yaitu pada usia 25-
26 tahun sebagai tindakan profilaksis atau pencegahan terhadap terjadinya patologi.3
Indikasi odontektomi molar 3 bawah:13
- Posisi gigi yang abnormal
- Sebagai tindakan pencegahan dari terjadinya perikoronitis.
- Pencegahan penyakit periodontal.
- Pencegahan resorpsi akar.
- Gigi impaksi terlihat mendesak gigi molar 2.
- Menyebabkan karies pada molar 2.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
7
Kontraindikasi odontektomi molar 3 bawah, yaitu pasien kompromis medis.
Pasien-pasien dengan kompromis medis juga menjadi hal penting yang perlu
diperhatikan sebelum odontektomi karena apabila pasien memiliki riwayat medis,
seperti gangguan fungsi kardiovaskular, gangguan pernapasan, gangguan pertahanan
tubuh, atau memiliki kongenital koagulopati, maka operator sebaiknya
mempertimbangkan untuk tidak melakukan tindakan pencabutan atau odontektomi
gigi impaksi. Jadi, jika gigi impaksi tersebut bermasalah maka sebelum tindakan
operator harus konsultasi medis terlebih dahulu kepada dokter yang merawatnya.13,14
Sebelum melakukan odontektomi terlebih dahulu melakukan anestesi lokal
saraf yang mempersarafi gigi tersebut.4 Hal ini diperlukan dalam setiap pencabutan
gigi permanen ataupun gigi susu agar pasien tidak merasakan sakit. 6 Gigi geligi dapat
dicabut di bawah anestesi lokal dan seorang dokter gigi (operator) harus dapat
menilai indikasi dan kontraindikasi, jenis bahan anestesinya, teknik anestesi, serta
dosisnya.
2.2 Definisi Anestesi Lokal
Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada
tahun 1846. Anestesi adalah pembiusan yang berasal dari bahasa Yunani, an = “tidak
atau tanpa” dan aestheos = “persepsi, kemampuan untuk merasa”, secara umum
berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan
berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh.15
Anestesi lokal adalah sebagai obat penghilang nyeri yang berbeda dengan
obat penghilang nyeri yang lainnya. Perbedaannya adalah jika obat lain harus
memasuki pembuluh darah dan mencapai kadar yang cukup guna memberikan efek
terapi (mencapai efek terapeutik), sedangkan anestesi lokal, jika sampai memasuki
pembuluh darah maka akan terabsorpsi ke dalam pembuluh darah sehingga efek
terapeutiknya justru akan hilang dan berpotensi menimbulkan keracunan.16
Anestesi lokal ialah obat yang menghambat hantaran saraf bila dikenakan
secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup. Obat ini bekerja pada tiap
bagian susunan saraf. Pemberian anestesi lokal pada batang saraf menyebabkan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
8
paralisis sensorik dan motorik di daerah yang dipersarafinya. Paralisis saraf oleh
anestesi lokal bersifat reversibel tanpa merusak serabut atau sel saraf. 17,18
2.3 Fisiologi Konduksi Saraf
Pada proses konduksi saraf menurut teori elektrofisiologi, sel saraf berada
pada cairan tubuh dan sebagian besar pada kation ekstraseluler adalah natrium.
Sebagian kation pada intraseluler adalah kalium. Pada saat istirahat, rasio ion kalium
di dalam sel saraf dibandingkan di luar sel saraf sekitar 30:1. Berdasarkan rasio ini,
potensi pada membran sel saraf adalah -50 sampai -70 milivolt. Ini disebut sebagai
membran potensial istirahat (resting level). Sebagai hasil dari distribusi ion, bagian
luar membran sel saraf memiliki muatan positif dan pada bagian dalam membran sel
saraf bermuatan negatif.9
Membran sel saraf memiliki struktur berpori dengan ion kalium berperan
sebagai gerbang dalam pori-pori tersebut. Pada membran potensial istirahat gerbang
ditutup, ion natrium dan kalium tidak dapat melewati gerbang tersebut. Ketika terjadi
eksitasi saraf dan potensial ambang tercapai, ion kalium akan digantikan dari pori-
pori ini, gerbang akan terbuka dan ion natrium segera masuk ke dalam sel saraf
mengubah potensial transmembran. Bagian dalam membran sel saraf akan menjadi
relatif positif perubahan polaritas mencapai firing threshold (antara -50 sampai -60
mV). Perubahan polaritas ini disebut sebagai depolarisasi dan peningkatan aksi
potensial terbentuk yang disebarkan di sepanjang membran sel saraf.9
Saat depolarisasi maksimum terjadi, maka permeabilitas ion natrium akan
menurun, ion kalium kembali ke pori-pori di membran sel saraf dan gerbang
menutup, serta proses repolarisasi terjadi. Repolarisasi membawa potensial
transmembran dan membran potensial kembali ke tingkat istirahat. Hal tersebut
karena repolarisasi menyebabkan penurunan gerakan ion natrium ke dalam sel saraf
dan peningkatan permeabilitas ion kalium dengan difusi resultan dari ion kalium ke
luar sehingga peristiwa ionik akan mengembalikan potensial transmembran ke tingkat
istirahat pada -70 milivolt. Akhirnya, natrium secara aktif dibawa keluar dari sel
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
9
saraf dan kalium secara aktif ditransportasi ke dalam sel untuk mengembalikan
konsentrasi ion.9
Pasien dianggap mempunyai ambang batas rasa sakit yang tinggi bila ia hanya
memberikan sedikit atau tidak bereaksi terhadap stimulus sakit, sedangkan pasien
dianggap mempunyai ambang batas rasa sakit rendah bila ia cenderung memberi
reaksi berlebihan terhadap stimulus yang sama atau yang lebih kecil. 19
2.4 Mekanisme Kerja Anestesi Lokal
Anestesi lokal mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf. Tempat
kerjanya terutama di membran sel, efeknya pada aksoplasma hanya sedikit saja.17
Peredaan nyeri oleh anestesi lokal adalah berkat kemampuannya mencegah proses
transduksi dan transmisi impuls saraf. Ini dicapai dengan jalan menghambat proses
depolarisasi membran, mengenai bagaimana suatu anestesi lokal dapat menghambat
depolarisasi membran dan konduksi saraf terdapat beberapa teori. Salah satu teori,
yaitu teori spesifik reseptor mengemukakan bahwa semua anestesi lokal yang
digunakan secara klinik bekerja menghambat konduksi saraf dengan jalan
menghambat masuknya ion Na+ (ion sodium) ke dalam kanal natrium yang berada di
dalam membran sel.16
Potensial aksi saraf terjadi karena adanya peningkatan sesaat permeabilitas
membran terhadap ion Na+ akibat depolarisasi ringan pada membran. Proses inilah
yang dihambat anestesi lokal, hal ini terjadi akibat adanya interaksi langsung antara
zat anestesi lokal dengan kanal Na+ yang peka terhadap adanya perubahan voltase
muatan listrik. Bahan anestesi lokal melekat pada reseptor yang ada di dekat gerbang
sodium pada membran sel, lalu mengurangi permeabilitas ion sodium sehingga dapat
menghambat konduksi impuls. Ion sodium yang seharusnya berikatan dengan
reseptor pada membran sel untuk meningkatkan permeabilitas dan membuka gerbang
sodium akan berkompetisi dengan bahan anestesi lokal untuk berikatan dengan
reseptor pada membran sel. Setelah bahan anestesi lokal berikatan dengan reseptor,
terjadi penurunan permeabilitas membran sel sehingga menghasilkan blokade
gerbang sodium. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan konduksi sodium dan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
10
rasio depolarisasi sehingga terjadi kegagalan dalam mencapai potensial ambang batas
(threshold) dan mengakibatkan kegagalan dalam potensial aksi. Keadaan ini
mengakibatkan terhambatnya pengiriman impuls sehingga sensasi seperti rasa sakit
dapat dihilangkan atau terjadi pati rasa.17
Anestesi lokal juga mengurangi permeabilitas membran bagi K+ dan Na+
dalam keadaan istirahat sehingga hambatan hantaran tidak disertai banyak perubahan
pada potensial istirahat. Potensi berbagai zat anestesi lokal sejajar dengan
kemampuannya untuk meninggikan tegangan permukaan selaput lipid
monomolekular. Anestesi lokal meninggikan tegangan permukaan lapisan lipid pada
membran sel saraf, dengan demikian dapat menutup pori dalam membran sehingga
menghambat gerak ion melalui membran. Hal ini menyebabkan penurunan
permeabilitas membran dalam keadaan istirahat sehingga akan membatasi
peningkatan permeabilitas Na+. Dapat dikatakan bahwa cara kerja utama obat anestesi
lokal ialah bergabung dengan reseptor spesifik yang terdapat pada kanal Na+,
sehingga mengakibatkan terjadinya blokade pada kanal tersebut dan hal ini akan
mengakibatkan hambatan gerakan ion melalui membran.9,17,20
2.5 Anatomi Persarafan pada Mandibula
Bahan anestesi lokal bekerja dengan menghambat pengiriman impuls ke saraf.
Di bidang kedokteran gigi dikenal beberapa saraf yang penting, salah satunya adalah
saraf trigeminus. Saraf trigeminus merupakan salah satu saraf yang memiliki serat
sensorik dan juga serat motorik. Saraf trigeminus terbagi atas tiga divisi, yaitu saraf
oftalmikus, saraf maksilaris dan saraf mandibularis.21,22
Saraf mandibularis terdiri dari serat sensorik dan motorik. Saraf mandibularis
terbagi menjadi dua cabang utama, yaitu bagian anterior dan posterior. Pada cabang
bagian anterior terdapat beberapa saraf motorik yang berhubungan dengan otot-otot
seperti maseter, deep temporal dan pterigoideus lateralis. Pada bagian anterior juga
terdapat saraf sensorik, yaitu saraf bukalis yang mempersarafi kulit dan mukosa
bagian dagu serta bagian bukal gingiva dari prosesus alveolaris mandibula di bagian
molar dan premolar. Pada bagian posterior terdapat saraf aurikulotemporalis
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
11
(sensorik), saraf alveolaris inferior (campuran sensorik dan motorik) dan saraf
lingualis (sensorik). Saraf aurikulotemporalis mempersarafi kulit temporalis, sendi
temporomandibula, bagian anterior dari meatus auditorius eksterna serta membran
timpani dan bagian atas aurikulus. Saraf lingualis merupakan saraf sensorik yang
menginervasi gingival bagian lingual dan bagian 2/3 anterior lidah, termasuk persepsi
terhadap sensasi maupun sensasi terhadap pengecapan. Saraf alveolaris inferior
merupakan cabang terbesar dari divisi saraf mandibula. Saraf ini mempunyai cabang-
cabang kecil seperti nervus milohioid serta pada bagian ujungnya adalah nervus
insisivus dan nervus mentalis.16,21,22,23
Gambar 1. Saraf mandibula16
2.6 Klasifikasi Bahan Anestesi Lokal
Anestesi lokal secara garis besar tersusun atas tiga gugus, yaitu gugus
lipofilik, gugus hidrofilik, dan gugus perangkai atau gugus antara, yakni gugus yang
menyambungkan gugus lipofilik dan hidrofilik. Gugus lipofilik biasanya suatu gugus
aromatik sedangkan gugus lipofilik biasanya suatu gugus amino. Gugus perangkai
bisa berupa gugus ester atau gugus amida. Berdasarkan jenis perangkainya ini,
dikenal pembagian anestesi lokal menjadi golongan ester dan golongan amida. Ada
pula yang membaginya menjadi golongan amida, golongan ester dan golongan
amida-ester (misalnya artikain).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
12
Malamed mengklasifikasikan anestesi lokal ini atas golongan quinolin, ester,
dan amida. Anestesi golongan quinolin, yaitu Sentribukridin. Anestesi golongan
ester, terbagi 2, yaitu:9
A. Ester Benzoic acid
1. Butakain
2. Kokain
3. Tetrakain
4. Benzokain
5. Heksilkain
B. Ester para-aminobenzoic acid
1. Prokain
2. Propoksikain
3. Kloroprokain.
Anestesi golongan amida, terdiri dari:9
1. Lidokain
2. Mepivakain
3. Prilokain
4. Bupivakain
5. Etidokain
6. Ropivakain
7. Artikain.
2.7 Penambahan Vasokonstriktor
Semua obat anestesi lokal bersifat vasodilator, kecuali kokain. Berdilatasinya
pembuluh darah ini akan menyebabkan meningkatnya absorpsi obat ke dalam
pembuluh darah sehingga anestesi akan cepat menghilang dari tempat anestesi dan
akibatnya efek anestesi akan cepat menghilang.16
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
13
Vasokonstriktor sangat penting ditambahkan ke larutan anestesi lokal karena
berfungsi sebagai berikut:9
a. Dengan menyempitkan pembuluh darah, vasokonstriktor menurunkan perfusi
darah ke daerah kerja.
b. Absorpsi anestesi lokal ke sistem kardiovaskular berjalan lambat sehingga kadar
anestesi lokal dalam aliran darah menurun.
c. Karena kadar anestesi lokal dalam aliran darah menurun, mengakibatkan
terjadinya penurunan resiko toksisitas dari anestesi lokal.
d. Semakin panjang durasi kerja yang didapatkan dan mengurangi pendarahan.
Durasi anestesi lokal tanpa vasokonstriktor berbeda dengan anestesi lokal
yang diberi vasokonstriktor. Hemostatik selama tindakan biasanya sangat bermanfaat
saat melakukan tindakan bedah di dalam rongga mulut. Infiltrasi anestesi lokal yang
mengandung epinefrin (adrenalin) dapat mengurangi kehilangan darah selama
tindakan bedah. Jenis bahan vasokonstriktor terdiri atas epinefrin (adrenalin),
norepinefrin, levonordefrin, fenilefrin, felipressin.9,16,22,24
Besaran vasokonstriktor di dalam anestesi lokal biasanya dituliskan sebagai
suatu rasio, misalnya 1:1000. Rasio 1:1000 berarti terdapat 1 gram (atau 1000 mg)
vasokonstriktor di dalam 1000 ml larutan, dengan demikian suatu pengenceran
1:1000 mengandung 1000 mg di dalam 1000 ml larutan atau 1,0 mg/ml. Biasanya
yang digunakan di kedokteran gigi adalah 1:80.000 (0,0125 mg/ml), 1:100.000 (0,01
mg/ml), 1:200.000 (0,005 mg/ml). Pengenceran 1:100.000 misalnya dijumpai pada
artikain, prilokain, lidokain, etidokain dan bupivakain. Epinefrin (adrenalin) adalah
vasokonstriktor yang paling poten dan paling banyak digunakan dalam kedokteran
gigi.16
2.8 Lidokain
Lidokain merupakan salah satu bahan anestesi lokal yang paling banyak
digunakan pada pencabutan gigi. Lidokain atau lignokain adalah bahan anestesi lokal
golongan amida derivat xylidine, dengan formula kimia 2-diethylamino-2’, 6-
acetoxylidide hydrochloride. Obat ini dipasarkan dengan nama dagang Xylocaine
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
14
atau Octacaine. Mulai diperkenalkan oleh Nels Lofgren di tahun 1943 dan disetujui
pemakaiannya oleh Food and Drug Administration (FDA), yaitu suatu badan
pengawas obat dan makanan di Amerika Serikat. Lidokain dengan cepat menjadi
bahan anestesi standar yang merupakan pembanding bagi anestesi lokal lain.
Lidokain ini tergolong cepat (2-3 menit), karena cenderung menyebar dengan baik ke
seluruh jaringan.16
Lidokain adalah anestesi lokal kuat yang digunakan secara luas dengan
pemberian topikal dan suntikan. Anestesi terjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih lama,
dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan prokain pada konsentrasi yang
sebanding.17 Lidokain digunakan untuk anestesi topikal, infiltrasi, blok, spinal,
epidural dan kaudal. Lidokain juga digunakan secara intravena untuk mengobati
aritmia jantung selama pembedahan. Dalam kedokteran gigi, lidokain 2% digunakan
untuk anestesi infiltrasi dan blok.16
2.8.1 Metabolisme Lidokain
Metabolisme obat anestesi lokal tidak sama, bergantung pada golongan
kimianya, ester atau amida. Lidokain merupakan golongan amida. Anestesi lokal
golongan amida dimetabolisme terutama di dalam hepar, yakni oleh sitokrom P450
dari sitokrom hati. Pada pasien dengan penyakit hepar yang parah, obat ini akan
terakumulasi dan beresiko menimbulkan toksisitas sistemik.16
Fungsi dan perfusi hati berperan penting dalam kecepatan metabolisme.
Lidokain, mepivakain dan bupivakain memiliki kecepatan metabolisme yang hampir
sama.16 Dalam hati, lidokain mengalami dealkilasi oleh enzim oksidase fungsi ganda
(mixed-function oxidases) membentuk monoetilglisin xilidid dan glisin xilidid yang
kemudian dapat dimetabolisme lebih lanjut menjadi monoetilglisin xilidid dan
xilidid.17
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
15
2.8.2 Ekskresi
Metabolit dan sisa yang tidak termetabolisme, baik dari golongan amida
maupun ester akan diekskresikan terutama oleh ginjal. Sebagian kecil bahan anestesi
diekskresikan dalam keadaan tidak mengalami perubahan. 15 Lidokain pada manusia,
75% dari xilidid akan diekskresi bersama urin dalam bentuk metabolit akhir, 4
hidroksi-2-6 dimetil-anilin.17
2.8.3 Dosis Maksimum Lidokain
Dosis maksimum anestesi lokal dihitung berdasarkan miligram per unit berat
badan yaitu miligram per kilogram (mg/kg) atau miligram per pon (mg/lb). Besaran
anestetik lokal dalam suatu larutan (katrid) biasanya dinyatakan dalam persen dan
nominalnya dalam miligram (mg) per mililiter (ml). Lidokain 2% berarti terdapat 2 gr
lidokain di dalam 100 ml larutan atau 20 mg/ml. Jadi, di dalam katrid 2 ml lidokain
2% terdapat 40 mg lidokain.4,9 Dosis dewasa maksimum lidokain adalah 3 mg/kg,
ekuivalen dengan sekitar 200 mg pada pasien dengan berat 70 kg. 25,26 Menurut
Malamed, dosis maksimum lidokain yang disarankan oleh FDA dengan atau tanpa
epinefrin adalah 3,2 mg/lb atau 7,0 mg/kg berat badan untuk pasien dewasa, tidak
melebihi dosis maksimum absolut yaitu 500 mg.9
2.9 Lidokain 2% dengan Adrenalin 1:100.000
Lidokain 2% dengan adrenalin 1:100.000 merupakan salah satu bahan
anestesi lokal yang paling banyak digunakan, termasuk pada anestesi lokal pada gigi-
gigi mandibula. Konsentrasi 2% lidokain dengan adrenalin 1:100.000 mampu
menurunkan aliran darah ke daerah injeksi. Durasi kerja meningkat sekitar 60 menit
pada anestesi pulpa dan 3-5 jam pada anestesi jaringan lunak. Pengenceran adrenalin
yaitu 10 µg/mL atau 18 µg per ampul. Dosis maksimum lidokain 2% dengan
adrenalin 1:100.000 adalah 7 mg/kg, ekuivalen dengan sekitar 500 mg.9
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
16
Tabel 1. Rekomendasi dosis maksimum Lidokain 2% dengan Adrenalin 1:100.000.9
Konsentrasi 2% Ampul berisi: 36 mg
MRD : 7,0 mg/kg MRD:3,2 mg/lb
Berat(kg) mg Ampul Berat(lb) mg Ampul
10 70 2,0 20 72 2,0
20 140 4,0 40 144 4,0
30 210 6,0 60 216 6,0
40 280 7,5 80 288 8,0
50 350 9,5 100 360 10,0
60 420 11,06 120 432 11,06
70 490 11,06 140 500 11,06
80 500 11,06 160 500 11,06
90 500 11,06 180 500 11,06
100 500 11,06 200 500 11,06
2.10 Faktor yang Mempengaruhi Variasi Dosis Anestesi Lokal
a. Bahan anestesi lokal yang digunakan
Dosis pada setiap bahan anestesi lokal berbeda-beda, dimana tergantung pada
persentase konsentrasi setiap bahan anestesi lokal tersebut. 9
Tabel 2. Rekomendasi dosis bahan anestesi lokal berdasarkan Maximum Recommended
Dosages (MRDs).10
Perhitungan Miligram Anestesi Lokal Per Ampul (1,8
Anestesi ml/Ampul)
Lokal Persentase konsentrasi mg/mL x 1,8 mL= mg/ Ampul
Artikain 4 40 72
Bupivakain 0,5 5 9
Lidokain 2 20 36
Mepivakain 2 20 36
Prilokain 4 40 72
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
17
b. Berat badan
Berat badan adalah parameter untuk menentukan status kesehatan manusia,
khususnya yang berhubungan dengan status gizi yang diukur secara numerik dalam
satuan kilogram. Besarnya dosis bergantung kepada berat badan.6
Dosis maksimum anestesi lokal dihitung berdasarkan miligram per unit berat
badan, yaitu miligram per kilogram (mg/kg) atau miligram per pon (mg/lb). Batas
dosis yang maksimum setiap berat badan berbeda-beda, maka ada kemungkinan dosis
yang diberikan dapat bervariasi pula. Dosis yang paling rendah harus diberikan untuk
mendapatkan anestesi yang efektif. Dokter gigi bisa menambah dosis jika diperlukan
tergantung toleransi tubuh pasien, tetapi tidak melebihi batas dosis yang maksimum
berdasarkan berat badan pasien masing-masing.9 Jadi, besar penambahan dosis tetap
tergantung pada toleransi tubuh pasien, tetapi total dosis anestesi lokal setiap pasien
tergantung berdasarkan batas dosis yang maksimum dan tidak melebihi batas dosis
yang maksimum pada berat badan masing-masing.
Untuk mencari besar dosis anestesi lokal dapat digunakan rumus kalkulasi
perhitungan, sebagai berikut:27
Dosis (mg) = Konsentrasi (mg/ml) x volume (ml)
Volume (ml) = Dosis (mg)
Konsentrasi (mg/ml)
Total dosis anestesi lokal yang diberikan dikatakan dapat bervariasi, dapat dilihat dari
besar dosis yang maksimum pada setiap berat badan yang bervariasi pula seperti yang
tertera pada tabel rekomendasi batas dosis yang maksimum pada setiap berat badan
berdasarkan data dari Nottingham University Hospitals, sebagai berikut:
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
18
Tabel 3. Rekomendasi batas dosis bahan anestesi lokal berdasarkan berat badan.26
Bahan Konsent Dosis Volume Maksimum (ml)
Anestesi Lokal rasi Maksi 35 40 45 50 60 70 80 90 100
(mg/ml) mum (kg) (kg) (kg) (kg) (kg) (kg) (kg) (kg) (kg)
Lidokain 20 7
2%+adrenalin mg/ml mg/kg 12,25 14 15,75 17,5 21 24,5 25 ml (500 mg)
1:100.000
Prilokain 1% 10 6
21 24 27 30 36 40 ml (400 mg)
mg/ml mg/kg
Bupivakain 2,5 2
28 32 36 40 48 56 60 ml (150 mg)
0,25% mg/ml mg/kg
Bupivakain 5 mg/ml 2
14 16 18 20 24 28 30 ml (150 mg)
0,5% mg/kg
Bupivakain 7,5 2
9,3 10,6 12 13 16 18 20 ml (150 mg)
0,75% mg/ml mg/kg
Ropivakain 2 mg/ml 3
52,5 60 67,5 75 90 105 120 135 150
0,2% mg/kg
Ropivakain 7,5 3
14 16 18 20 24 28 32 36 40
0,75% mg/ml mg/kg
Ropivakain 10 3
10,5 12 13,5 15 18 21 24 27 30
1% mg/ml mg/kg
c. Konsumsi Alkohol
Dosis yang diterima oleh pasien peminum alkohol semakin meningkat seiring
dengan kategori perilaku dalam mengonsumsi alkohol. Semakin berat perilaku
mengonsumsi alkohol maka semakin tinggi dosis yang diperlukan oleh pasien. Hal ini
dapat terjadi karena semakin tinggi jumlah alkohol yang dikonsumsi oleh pasien
maka semakin toleran mereka terhadap efek dari anestesi, karena anestesi memiliki
efek yang sama dengan alkohol, yaitu dapat menghambat penyebaran impuls atau
rangsangan.10
d. Morfologi saraf
Morfologi saraf pasien beragam jenis, ada pasien yang memiliki saraf yang
tipis dan ada juga pasien yang memiliki saraf yang lebih tebal. Pain fibres yang relatif
tipis pada umumnya lebih mudah teranestesi. Pain fibres yang tipis memiliki sifat
yang lebih lambat dalam menghantarkan sinyal dan kurang rentan/peka terhadap
stimulus listrik. Saraf yang menghantarkan rangsangan dengan meningkatkan potensi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
19
listrik membran. Peningkatan potensi listrik ini membuat impuls menyebar di
sepanjang saraf. Pain fibres yang tipis lebih mudah untuk dianestesi karena tanpa
dianestesi sifat saraf ini sudah kurang peka terhadap stimulus listrik dan lebih lambat
dalam menghantarkan rangsangan. Jadi, seseorang yang memiliki pain fibres yang
tipis membutuhkan dosis anestesi yang lebih sedikit dibandingkan seseorang yang
memiliki pain fibres yang tebal. Pain fibres yang tebal lebih peka terhadap stimulus
listrik dan lebih cepat menghantarkan rangsangan sehingga membutuhkan dosis
anestesi yang lebih banyak untuk menghambat penghantaran rangsangan yang terjadi
di jaringan tubuhnya.10
e. Kecemasan
Kecemasan berhubungan dengan persepsi. Persepsi merupakan proses seleksi,
organisasi, interpretasi dan mendefinisikan sensasi yang diterima organ sensoris
sesuai dengan kecemasan atau ketakutannya. Pasien yang cemas akan
mendefinisikan sensasi yang diterima organ sensorisnya sesuai dengan kecemasan
atau ketakutannya. Jadi, dosis anestesi lokal akan bertambah akibat pasien tidak dapat
membedakan rasa sakit berdenyut dengan rasa sakit yang timbul akibat
kecemasannya.10
2.11 Anestesi Lokal Blok Mandibula
Berdasarkan basis anatominya, anestesi lokal dapat dibedakan menjadi tiga
yaitu anestesi topikal, anestesi infiltrasi dan anestesi regional atau sering disebut
dengan anestesi blok. Anestesi blok juga dapat dibedakan menjadi anestesi blok pada
maksila dan anestesi blok mandibula.9,21,23
Secara garis besar, terdapat beberapa jenis anestesi lokal yang sering
digunakan di mandibula, yaitu blok nervus lingualis, blok nervus insisivus, blok
nervus mentalis, long buccal nerve block dan blok nervus alveolaris inferior. Nervus
lingualis biasanya diblokade di ruang pterigomandibular yang terletak pada
anteromedial saraf alveolaris inferior mandibula sekitar 1 cm dari permukaan
mukosa. Anestesi blok saraf lingualis bisa dilakukan sebelum atau sesudah anestesi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
20
blok alveolaris inferior mandibula dilakukan. Blok nervus insisivus merupakan salah
satu pilihan pada anestesi lokal mandibula yang terbatas pada gigi anterior. Anestesi
blok saraf insisivus memberikan anestesi pulpa pada sekitar gigi anterior, seperti
insisivus dan kaninus sampai foramen mentalis.
Blok nervus mentalis bertujuan untuk menganestesi saraf mentalis dan ujung
dari cabang saraf alveolaris inferior mandibula. Saraf mentalis terletak pada foramen
mental yang berada di antara apikal premolar satu dan premolar dua. Daerah yang
dianestesi oleh teknik ini adalah mukosa bukal bagian anterior, daerah foramen
mental sekitar gigi premolar dua, midline dan kulit dari bibir bawah.9,21,23
Gambar 2. Ilustrasi mentale nerve block28
Long buccal nerve block atau sering disebut blok nervus bukalis dan
buccinators nerve block menganestesi saraf bukalis yang merupakan cabang dari
saraf mandibula bagian anterior. Daerah yang dianestesi adalah jaringan lunak dan
periosteum bagian bukal sampai gigi molar mandibula. Anestesi ini sering digunakan
pada perawatan yang melibatkan daerah gigi molar. Keuntungan dari teknik long
buccal nerve block adalah mudah dilakukan dan tingkat keberhasilannya tinggi. 9,21,23
Pada anestesi blok saraf alveolaris inferior terdapat tiga teknik yang sering
digunakan, yaitu blok nervus alveolaris inferior metode Fischer, teknik Gow-Gates
dan Akinosi Closed-Mouth Mandibular Block.29,30
Menurut hasil penelitian Neeta Mohanty dan Susan Mohanty, tingkat
keberhasilan anestesi blok mandibula paling tinggi yang dilakukan kepada 120 orang
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
21
berusia 16-50 tahun adalah teknik Gow-Gates sebesar 92,5%, sedangkan tingkat
keberhasilan Akinosi Closed-Mouth Mandibular Block dan Classical IANB atau
metode Fischer adalah 90% dan 72,5%. Dari hasil penelitian ini juga didapatkan
bahwa metode Classical IANB paling banyak menimbulkan rasa sakit selama
penyuntikan sebesar 60%, sedangkan Akinosi Closed-Mouth Mandibular Block
paling sedikit sebesar 25%. Onset of action yang paling singkat adalah Classical
IANB metode Fischer yaitu 2,15 menit, sedangkan untuk duration of action yang
paling lama adalah teknik Gow-Gates selama 69,3 menit.29
2.11.1 Anestesi Lokal Blok Mandibula Metode Fischer
Blok nervus alveolaris inferior atau yang sering juga disebut dengan blok
mandibula merupakan teknik anestesi lokal blok mandibula yang sering digunakan di
kedokteran gigi. Metode blok nervus alveolaris inferior dibagi menjadi dua metode
yaitu direct dan indirect. Metode indirect sering juga disebut dengan metode Fischer
atau fissure 1-2-3 technique dengan penambahan anestesi saraf bukal.19,29,30
Metode ini menganestesi saraf alveolaris inferior, saraf insisivus, saraf
mentalis, dan saraf lingualis. Nervus bukalis juga bisa ditambahkan dalam beberapa
prosedur yang melibatkan jaringan lunak di daerah posterior bukal. Daerah yang
dianestesi dengan metode ini adalah gigi mandibula sampai ke midline, body of
mandible, bagian inferior dari ramus, mukoperiosteum bukal, membran mukosa
anterior sampai daerah gigi molar satu mandibula, 2/3 anterior lidah dan dasar dari
kavitas oral, jaringan lunak bagian lingual dan periosteum, external oblique ridge dan
internal oblique ridge.19,28-30
Indikasi blok nervus alveolaris inferior adalah untuk prosedur pencabutan
beberapa gigi mandibula dalam satu kuadran, prosedur pembedahan yang melibatkan
jaringan lunak bagian bukal anterior sampai molar satu serta jaringan lunak bagian
lingual. Kontraindikasinya adalah pasien yang mengalami infeksi atau inflamasi akut
pada daerah penyuntikan serta pasien dengan gangguan kontrol motorik menggigit
bibir atau lidah secara tiba-tiba.9
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
22
Gambar 3. Daerah yang dianestesi pada anestesi lokal blok mandibula metode Fischer9
2.11.2 Teknik Anestesi Lokal Blok Mandibula Metode Fischer
Prosedur dalam melakukan teknik anestesi lokal ini, sebagai berikut:9
1. Pasien didudukkan dengan posisi semisupine atau setengah telentang.
2. Intruksikan pasien untuk membuka mulut selebar mungkin agar mendapatkan
akses yang jelas ke mulut pasien. Posisi diatur sedemikian rupa agar ketika
membuka mulut, oklusal dari mandibula pasien sejajar dengan lantai.
3. Posisi operator berada pada arah jam 8 dan menghadap pasien untuk rahang kanan
mandibula, sedangkan untuk rahang kiri mandibula posisi operator berada pada
arah jam 10 dan menghadap ke pasien.
Gambar 4. Posisi operator untuk mandibula kiri dan kanan9
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
23
4. Gunakan jarum dengan panjang 25 gauge.
5. Aplikasikan antiseptik di daerah trigonum retromolar.
6. Pertama dilakukan palpasi dengan jari telunjuk pada mukosa bukal gigi molar 3
kemudian palpasi margo anterior ramus asendens, kemudian jari telunjuk digeser
ke arah lebih ke posterior untuk mendapatkan krista buksinatoris.
7. Jarum diinsersikan di atas kuku dan di belakang krista dari sisi rahang yang tidak
dianestesi tepatnya dari gigi premolar dan jarum dengan bevel mengarah ke tulang
sampai jarum kontak dengan tulang (Posisi I). Arah jarum hampir tegak lurus
dengan tulang. Setelah kontak dengan tulang, maka berhenti kemudian spuit
digeser ke arah mesial, teruskan ke belakang sehingga terasa longgar (di atas
sulkus mandibula / coronoid notch)
8. Aspirasi dan bila negatif keluarkan cairan anestesi sebanyak 1 ml untuk
menganestesi nervus alveolaris inferior.
9. Kemudian tarik spuit kira-kira 5 mm, sejajar dengan bidang oklusal, lakukan
aspirasi bila negatif keluarkan cairan anestesi sebanyak 0,5 ml untuk menganestesi
nervus lingualis (Posisi II).
Gambar 5. Posisi jarum di foramen mandibula9
Metode Fischer sering juga dimodifikasi dengan penambahan anestesi untuk
saraf bukal, pada waktu menarik kembali spuit sebelum jarum lepas dari mukosa
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
24
tepat setelah melewati linea oblique interna, jarum digeser ke lateral ke daerah
trigonum retromolar, aspirasi dan bila negatif keluarkan cairan anestesi sebanyak 0,5
ml untuk menganestesi saraf bukal dan kemudian spuit ditarik keluar.9
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
25
2.12 Kerangka Teori
Odontektomi Gigi Molar 3 Bawah
Anestesi Lokal
Mekanisme Kerja Persyarafan Bahan Anestesi Teknik Anestesi
Anestesi Lokal Gigi Lokal Lokal
Mandibula
Blok Mandibula
Ester Quinolin Amida
e
Prokain Mepivakain
Centbucridine
Kokain Bupivakain
Prilokain
Tetrakain
Tanpa
Etidokain
Benzokain Vasokonstriktor
Artikain
Kloroprokain
Dengan Adrenalin
Lidokain 1:100.000
Dosis Metabolisme Ekskresi
Morfologi Saraf Berat Badan Bahan anestesi Konsumsi Alkohol Kecemasan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
26
2.13 Kerangka Konsep
1. Jumlah dosis anestesi lokal yang diberikan pada
Anestesi Lokal Lidokain 2% dengan
pasien
Adrenalin 1:100.000 pada
2. Nilai variasi jumlah dosis anestesi lokal yang
Odontektomi Gigi Molar 3 Bawah
diberikan pada pasien
3. Faktor yang mempengaruhi variasi dosis
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
27
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei deskriptif yaitu
suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk mengetahui variasi
dosis anestesi lokal lidokain 2% dengan adrenalin 1:100.000 yang diberikan pada pasien
odontektomi gigi molar 3 bawah di Rumah Sakit USU dan tujuan khususnya untuk
untuk mengetahui jumlah dosis anestesi lokal yang diberikan pada pasien odontektomi
gigi molar 3 bawah, untuk mengetahui nilai variasi jumlah dosis anestesi lokal yang
diberikan pada pasien odontektomi gigi molar 3 bawah dan untuk mengetahui faktor
yang mempengaruhi variasi dosis yang dimulai dari 1 Februari 2017 sampai dengan 1
April 2017.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (USU).
Waktu penelitian ini adalah dari bulan Februari 2017 sampai bulan April 2017.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah pasien yang berobat ke Rumah Sakit USU
yang memiliki indikasi odontektomi gigi.
3.3.2 Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah pasien yang berobat ke Rumah Sakit USU
yang memiliki indikasi odontektomi gigi molar 3 bawah dari 1 Februari 2017 – 1 April
2017. Sampel di atas diambil dengan menggunakan teknik total sampling, dimana
subjek yang dipilih tetap berdasarkan kriteria inklusi yang ditentukan oleh peneliti.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
28
3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi
3.4.1 Kriteria Inklusi
1. Pasien odontektomi gigi molar 3 bawah di Rumah Sakit USU dari 1 Februari – 1
April 2017 .
2. Bersedia ikut serta dalam penelitian (kooperatif).
3. Pasien sehat
3.4.2 Kriteria Eksklusi :
- Mempunyai penyakit sistemik.
3.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Tabel 4. Variabel dan definisi operasional
No Variabel Definisi Operasional
1. Anestesi Lokal Obat yang menghasilkan blokade konduksi
sementara terhadap transmisi rangsang sepanjang
saraf, jika digunakan pada saraf sentral atau perifer,
tanpa menekan kesadaran.
2. Lidokain 2% dengan Anestesi lokal golongan amida derivate xylidine,
adrenalin 1:100.000 dengan formula kimia 2-diethylamino 2’, 6-
acetoxylidide hydrochloride dengan penambahan
vasokonstriktor, yaitu adrenalin 1:100.000.
3. Jumlah dosis (mg) Konsentrasi (mg/ml) x volume (ml)
3.6 Metode Pengumpulan Data
Data didapatkan melalui kuesioner yang diisi oleh peneliti dengan cara terlebih
dahulu memberikan penjelasan mengenai prosedur penelitian pada pasien, serta surat
persetujuan untuk menjadi sampel penelitian. Selanjutnya, peneliti menimbang dan
mencatat berat badan pasien. Lalu, peneliti menanyakan keterangan kebiasaan pasien
tentang kebiasaan mengonsumsi alkohol. Setelah itu peneliti mengamati dokter gigi
(operator) melakukan anestesi lokal blok mandibula metode Fischer dan mengamati
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
29
apakah pasien terlihat cemas atau tidak. Setelah dokter gigi (operator) selesai
melakukan penyuntikan, peneliti mencatat dosis yang diberikan oleh dokter gigi
(operator) pada pasien tersebut.
3.7 Pengolahan dan Analisis Data
3.7.1 Pengolahan Data
Data yang didapat dari hasil pengisian kuesioner diolah secara sederhana
berdasarkan jumlah dosis anestesi lokal yang diberikan berdasarkan berat badan dan
faktor yang mempengaruhi berdasarkan jumlah pasiennya. Data tersebut disajikan
dalam bentuk tabel distribusi frekuensi sederhana dan pengolahan data dari hasil
penelitian dilakukan secara komputerisasi menggunakan Microsoft Excel.
3.7.2 Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan melihat variasi dosis anestesi lokal dari nilai
variasi jumlah dosis anestesi lokal yang diberikan oleh dokter gigi pada pasien
odontektomi gigi molar 3 bawah yang dilakukan di Rumah Sakit USU dan melihat
faktor yang mempengaruhi variasi dosis berdasarkan jumlah pasiennya.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
30
BAB 4
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian mengenai variasi dosis anestesi lokal lidokain 2% dengan
adrenalin 1:100.000 yang diberikan pada pasien odontektomi gigi molar 3 bawah di
Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (USU) periode Februari – April 2017 yang
dimulai dari tanggal 1 Februari 2017 sampai dengan 1 April 2017 diperoleh sampel
sebanyak 60 pasien yang mendapatkan perawatan odontektomi gigi molar 3 pada
rahang bawah dengan menggunakan bahan anestesi lokal lidokain 2% dengan
adrenalin 1:100.000 yang dilakukan oleh dokter gigi spesialis bedah mulut.
4.1 Distribusi Pasien Odontektomi Molar 3 Bawah
Data pasien odontektomi molar 3 bawah berdasarkan jenis kelamin terdapat sebanyak
37 orang pasien berjenis kelamin perempuan (61,7%) dan 23 orang pasien berjenis
kelamin laki-laki (38,3%).
Tabel 5. Distribusi data pasien odontektomi molar 3 bawah di Rumah Sakit Universitas
Sumatera Utara berdasarkan jenis kelamin
Jumlah
Jenis Kelamin
n %
Perempuan 37 61.7
Laki-laki 23 38.3
Total 60 100
Selanjutnya, data pasien jika dilihat berdasarkan berat badan pasien diperoleh pasien
kelompok berat badan 40-49 kg, 50-59 kg, 60-69 kg dan 70-79 kg memiliki jumlah
pasien yang sama, yaitu sebanyak 15 orang (25%) setiap kategorinya.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
31
Tabel 6. Distribusi data pasien odontektomi molar 3 bawah di Rumah Sakit Universitas
Sumatera Utara berdasarkan berat badan pasien
Jumlah
Berat Badan (kg)
n %
40-49 15 25
50-59 15 25
60-69 15 25
70-79 15 25
Total 60 100
Berdasarkan umur pasien, diperoleh pasien dengan kelompok umur 16-25
tahun sebanyak 27 orang (45%), kelompok umur 26-35 tahun sebanyak 20 orang
(33.3%), kelompok umur 36-45 tahun sebanyak 10 orang (16,7%), kelompok umur
46-55 tahun sebanyak 3 orang (6,6%). Dari hasil tersebut, maka pasien paling banyak
adalah dari kelompok umur 16-25 tahun sebesar 45% dan pasien paling sedikit adalah
dari kelompok umur 46-55 tahun hanya sebesar 5%.
Tabel 7. Distribusi pasien odontektomi molar 3 bawah di Rumah Sakit Universitas Sumatera
Utara berdasarkan umur pasien
Jumlah
Umur
n %
16-25 27 45
26-35 20 33.3
36-45 10 16.7
46-55 3 5
Total 60 100
4.2 Distribusi Dosis Anestesi Lokal
Secara teori, dosis anestesi lokal lidokain 2% dengan adrenalin 1:100.000
yang diberikan dengan menggunakan teknik anestesi lokal blok mandibula metode
Fischer ditambah dengan anestesi SMIA pada bagian bukal adalah sebesar 40 mg
(volume dosisnya = 2 ml). Pada penelitian ini, distribusi dosis anestesi lokal lidokain
2% dengan adrenalin 1:100.000 yang diberikan oleh dokter gigi pada pasien
odontektomi di Rumah Sakit USU dikelompokkan berdasarkan berat badan pasien
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
32
yaitu 40-49 kg, 50-59 kg, 60-69 kg dan 70-79 kg, dimana setiap kelompoknya terdiri
dari 15 orang. Hasil observasi yang diperoleh pada penelitian ini adalah pada pasien
yang memiliki berat badan 40-49 kg, dapat dilihat bahwa pasien pertama sampai
pasien ke-6 diberikan dosis dengan total 50 mg (volume dosis = 2,5 ml), selanjutnya
pasien ke-7 sampai pasien ke-12 diberikan dosis dengan total 60 mg (volume dosis =
3 ml), pasien ke-13 sampai pasien ke 14 diberikan dosis dengan total 70 mg (volume
dosis = 3,5 ml) dan pasien ke-15 diberikan dosis dengan total 80 mg (volume dosis =
4 ml), maka diperoleh rata-rata dosis sebesar 58,7 mg dan rata-rata volume dosis
sebesar 2,93 ml.
Hasil observasi pada pasien yang memiliki berat badan 50-59 kg, dapat dilihat
bahwa pasien pertama diberikan dosis dengan total 50 mg (volume dosis = 2,5 ml),
kemudian, pasien ke-2 dan ke-3 diberikan dosis dengan total 60 mg (volume dosis =
3 ml), pasien ke-4 sampai pasien ke-6 diberikan dosis dengan total 70 mg (volume
dosis = 3,5 ml), pasien ke-7 sampai pasien ke-14 diberikan dosis dengan total 80 mg
(volume dosis = 4 ml) dan pasien ke-15 diberikan dosis dengan total 100 mg (volume
dosis = 5 ml), maka diperoleh rata-rata dosis sebesar 74,7 mg dan rata-rata volume
dosis sebesar 3,73 ml.
Hasil observasi pada pasien yang memiliki berat badan 60-69 kg, dapat dilihat
bahwa pasien pertama diberikan dosis dengan total 50 mg (volume dosis = 2,5 ml),
kemudian, pasien ke-2 sampai pasien ke-5 diberikan dosis dengan total 80 mg
(volume dosis = 4 ml), pasien ke-6 sampai pasien ke-12 diberikan dosis dengan total
90 mg (volume dosis = 4,5 ml) dan pasien ke-13 sampai pasien ke-15 diberikan dosis
dengan total 100 mg (volume dosis = 5 ml), maka diperoleh rata-rata dosis sebesar
86,7 mg dan rata-rata volume dosis sebesar 4,33 ml.
Hasil observasi pada pasien yang memiliki berat badan 70-79 kg, dapat dilihat
bahwa pasien pertama diberikan dosis dengan total 50 mg (volume dosis = 2,5 ml),
kemudian, pasien ke-2 diberikan dosis dengan total 60 mg (volume dosis = 3 ml),
pasien ke-3 sampai pasien ke-6 diberikan dosis dengan total 80 mg (volume dosis =
4 ml), pasien ke-7 sampai pasien ke-9 diberikan dosis dengan total 90 mg (volume
dosis = 4,5 ml) dan pasien ke-10 sampai pasien ke-15 diberikan dosis dengan total
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
33
100 mg (volume dosis = 5 ml), maka diperoleh rata-rata yang sama dengan kelompok
berat badan 60-69 kg yaitu rata-rata dosis sebesar 86,7 mg dan rata-rata volume dosis
sebesar 4,33 ml.
Dari seluruh hasil data observasi tersebut, dosis-dosis tersebut bervariasi
dimana diperoleh nilai variasi dosis anestesi lokal dari setiap berat badan, yaitu untuk
berat badan 40-49 kg nilai variasi dosis sebesar 83,8. Kelompok berat badan 50-59 kg
nilai variasi dosisnya sebesar 141. Kelompok berat badan 60-69 kg nilai variasi
dosisnya sebesar 152. Kelompok berat badan 70-79 kg nilai variasi dosisnya sebesar
238.
Tabel 8. Distribusi Dosis Anestesi Lokal Berdasarkan Berat Badan
Berat badan
40-49 kg 50-59 kg 60-69 kg 70-79 kg
No V. Dosis V. Dosis V. Dosis V. Dosis
Dosis (mg) Dosis (mg) Dosis (mg) Dosis (mg)
(ml) (ml) (ml) (ml)
1 2.5 50 2.5 50 2.5 50 2.5 50
2 2.5 50 3 60 4 80 3 60
3 2.5 50 3 60 4 80 4 80
4 2.5 50 3.5 70 4 80 4 80
5 2.5 50 3.5 70 4 80 4 80
6 2.5 50 3.5 70 4.5 90 4 80
7 3 60 4 80 4.5 90 4.5 90
8 3 60 4 80 4.5 90 4.5 90
9 3 60 4 80 4.5 90 4.5 90
10 3 60 4 80 4.5 90 5 100
11 3 60 4 80 4.5 90 5 100
12 3 60 4 80 4.5 90 5 100
13 3.5 70 4 80 5 100 5 100
14 3.5 70 4 80 5 100 5 100
15 4 80 5 100 5 100 5 100
Rata- 2.933 58.7 3.73 74.7 4.33 86.7 4.33 86.7
rata
Std. dev. 0.458 9.15 0.59 11.9 0.62 12.3 0.77 15.4
Variasi 0.21 83.8 0.35 141 0.38 152 0.6 238
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
34
4.3 Faktor yang Mempengaruhi Variasi Dosis
Secara teori, variasi dosis dipengaruhi oleh berat badan, bahan anestesi lokal
morfologi saraf, mengonsumsi alkohol, dan kecemasan. Pada data distribusi dosis di
atas, variasi dosis dipengaruhi oleh berat badan, dimana terlihat pada hasil semakin
besar berat badan, semakin tinggi pula nilai variasinya. Rasa cemas juga termasuk
faktor yang mempengaruhi variasi dosis pada data penelitian ini, dimana terlihat pada
hasil, pasien yang merasa cemas ada sebanyak 27 orang (45%). Selanjutnya, untuk
kebiasaan mengonsumsi alkohol pada penelitian ini tidak ada pasien yang memiliki
kebiasaan mengonsumsi alkohol. Lalu, ada sebanyak 33 orang (55%) yang tidak
memiliki keterangan faktor karena tidak memiliki kebiasaan mengonsumsi alkohol
dan tidak merasakan kecemasan. Pada penelitian ini, bahan anestesi lokal tidak
termasuk faktor yang mempengaruhi karena pada penelitian ini semua pasien
menggunakan bahan anestesi lokal yang sama, yaitu lidokain 2% dengan adrenalin
1:100.000.
Tabel 9. Distribusi jumlah pasien berdasarkan faktor yang mempengaruhi
Faktor Jumlah Pasien
n %
Kecemasan 27 45
Kebiasaan Mengonsumsi Alkohol 0 0
Tidak ada keterangan faktor 33 55
Total 60 100
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
35
BAB 5
PEMBAHASAN
Penelitian mengenai variasi dosis anestesi lokal lidokain 2% dengan adrenalin
1:100.000 yang diberikan pada pasien odontektomi gigi molar 3 bawah di Rumah
Sakit Universitas Sumatera Utara (USU) periode Februari – April 2017 ini
memperoleh jumlah dosis anestesi lokal yang diberikan oleh dokter gigi spesialis
pada sampel sekitar 50 mg – 100 mg, dimana rata-rata dosisnya pada kelompok berat
badan 40-49 kg sebesar 58,7 mg, pada kelompok berat badan 50-59 kg sebesar 74,7
mg, pada kelompok berat badan 60-69 kg sebesar 86,7 mg, pada kelompok berat
badan 70-79 kg sebesar 86,7 mg. Penelitian ini dikelompokkan berdasarkan berat
badan pasien, hal ini karena total dosis bergantung pada berat badan dan jumlah
sampel yang didapat setiap kelompoknya seimbang atau sama, yaitu sebanyak 15
orang sehingga dapat dibandingkan nilai variasinya. Nilai variasi tersebut dapat
dilihat dari seberapa besar keragaman data dosis pada setiap kelompok. Hasil data
observasi penelitian ini menunjukkan bahwa setiap kelompok berat badan memiliki
dosis anestesi lokal yang berbeda-beda dan semakin tinggi kelompok berat badan
maka semakin tinggi pula nilai variasi dosisnya, dimana kelompok berat badan 70-79
kg mendapatkan nilai variasi dosis yang paling tinggi yaitu sebesar 238, hal ini
karena memiliki keragaman data yang besar dimana pasien – pasien pada kelompok
berat badan tersebut mendapatkan dosis 50,60,80,90,100 mg (hampir setiap dosis
ada) dan banyak pasien yang mendapat dosis anestesi lokal 100 mg, sedangkan
kelompok berat badan 40-49 kg mendapatkan nilai variasi yang rendah yaitu sebesar
83,8.
Menurut Malamed, berat badan menentukan batas dosis yang maksimum
(tertinggi) sehingga batas dosis yang maksimum setiap berat badan berbeda, maka
kemungkinan dosis anestesi lokal yang diberikan dapat berbeda pula. Dosis minimum
harus diberikan untuk mendapatkan anestesi yang efektif, namun dokter gigi dapat
menambah dosis jika diperlukan sampai batas dosis yang maksimum sesuai berat
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
36
badannya dan tidak boleh melebihi batas dosis maksimum.9 Hal ini yang dapat
membuat dosis anestesi lokal terlihat bervariasi.
Selanjutnya, rasa cemas juga dapat mempengaruhi hasil penelitian. Pada
penelitian ini ada sebanyak 27 orang pasien yang memiliki rasa cemas. Penelitian
Masaru Kudo tahun 2006, menemukan bahwa ada korelasi signifikan antara
kecemasan dan rasa sakit terhadap anestesi lokal. Pasien yang cemas akan
mendefinisikan sensasi yang diterima organ sensorisnya sesuai dengan kecemasan
atau ketakutannya. Jadi, dosis anestesi lokal akan bertambah akibat pasien tidak dapat
membedakan rasa sakit berdenyut dengan rasa sakit yang timbul akibat
kecemasannya.10
Lalu, faktor yang dapat mempengaruhi adalah respon tubuh pasien yang
berbeda karena morfologi saraf pasien yang beragam jenis, ada pasien yang memiliki
saraf tipis dan ada pasien yang memiliki saraf tebal, namun faktor ini tidak dapat
diketahui secara langsung pada observasi ini. Pasien yang memiliki pain fibres yang
tipis membutuhkan dosis yang lebih sedikit dibandingkan pasien yang memiliki pain
fibres yang tebal. Pain fibres yang tipis lebih mudah untuk dianestesi karena tanpa
dianestesi sifat saraf ini sudah kurang peka terhadap stimulus listrik dan lebih lambat
menghantarkan rangsangan, sedangkan pain fibres yang tebal lebih peka terhadap
stimulus listrik dan lebih cepat menghantarkan rangsangan sehingga membutuhkan
dosis anestesi yang lebih banyak untuk menghambat penghantaran rangsangan yang
terjadi di jaringan tubuhnya. 10
Dosis anestesi lokal juga dapat bervariasi karena mengonsumsi alkohol. Hasil
penelitian Utomo, Wowor dan Hutagalung diperoleh dosis anestesi lokal yang
berbeda dapat dilihat dari rata-rata volume dosis dimana rata-rata dosis peminum
ringan 2,66 ml, peminum sedang 3,8 ml dan peminum berat 4,6 ml, hal ini dapat
menyatakan bahwa dosis anestesi lokal bervariasi dan akan semakin meningkat
seiring dengan jumlah alkohol yang dikonsumsi, namun pada penelitian observasi ini,
tidak terdapat pasien yang mengonsumsi alkohol.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
37
Pada penelitian ini, penulis menyadari keterbatasan karena perbandingan
penelitian mengenai variasi dosis anestesi lokal lidokain 2% dengan adrenalin
1:100.000 yang diberikan pada pasien odontektomi gigi molar 3 bawah sangat
terbatas, sehingga tidak banyak dapat membandingkan hasil penelitian ini dengan
penelitian yang lainnya.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
38
BAB 6
KESIMPULAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Penelitian mengenai variasi dosis anestesi lokal lidokain 2% dengan
adrenalin 1:100.000 yang diberikan pada pasien odontektomi gigi molar 3 bawah di
Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (USU) periode Februari – April 2017 ini
memperoleh jumlah dosis anestesi yang diberikan dokter gigi pada sampel sekitar
50-100 mg, dimana nilai variasi jumlah dosis anestesi lokal yang tertinggi pada berat
badan 70-79 kg yaitu 238 dan nilai variasi jumlah dosis anestesi lokal yang terendah
pada berat badan 40-49 kg yaitu 83,8.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi variasi dosis anestesi lokal pada
penelitian ini adalah berat badan dan kecemasan.
6.2 Saran
Peneliti mengharapkan adanya penelitian lebih lanjut mengenai perbandingan
variasi dosis anestesi lokal Lidokain 2% dengan Adrenalin 1:100.000 pada
odontektomi gigi Molar 3 Bawah dengan Molar 3 Atas.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
39
DAFTAR PUSTAKA
1. Chandha MH. Buku petunjuk praktis pencabutan gigi. Jakarta: CV Sagung
Seto, 2014: 1.
2. Firmansyah D, Iman T. Fraktur patologis mandibula akibat komplikasi
odontektomi gigi molar 3 bawah. Indonesian Dent J 2008; 15(3): 192-5.
3. Dwipayanti A, Adriatmoko W, Rochim A. Komplikasi post odontektomi gigi
molar ketiga rahang bawah impaksi. PDGI J 2009; 58(2): 20-4.
4. Kholifa M. Studi perbandingan dua kelompok umur terhadap mula kerja dan
masa kerja anestesi lokal pada kasus pencabutan gigi molar 1 atau molar 2
atas. Biomedika J 2011; 3(2): 16-7.
5. Ping B, Kiattavorncharoen S, Saengsirinavin C, Im P, Durward C,
Wongsirichat N. Effect of high concentration lidocaine for mandibular teeth
anesthesia: Review Literature. M Dent J 2014; 34: 365.
6. Wiyatmi H. Anestesi lokal dalam pencabutan gigi di Rumah Sakit Jiwa
GRHASIA Propinsi DIY. Laporan Jabatan Fungsional. Yogyakarta: Klinik
Gigi dan Mulut RSJ GRHASIA Propinsi DIY, 2014: 1.
7. Malamed SF. Reversing local anesthesia. J Inside Dent 2008: 1-3.
8. Weinberg GL. Treatment of local anesthetic systemic toxity (last). Reg
Anesth Pain Med 2010; 35(2): 189-93.
9. Malamed SF. Handbook of local anaesthesia. 6th ed. Missouri: Elsevier
Mosby, 2013: 16-34; 59-69; 89-102; 119-39; 480-503; 623.
10. Utomo DA, Wowor VNS, Hutagalung BSP. Gambaran efek pemberian
anestesi lokal dengan teknik gow-gates pada peminum alkohol. e-Gigi J 2014;
2(1): 1-7.
11. Ikhsan M, Mariati NW, Mintjelugan C. Gambaran penggunaan bahan anestesi
lokal untuk pencabutan gigi tetap oleh dokter gigi di kota Manado. e-Gigi J
2013; 1(2): 105-10.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
40
12. Latt MM, Chewpreecha P, Wongsirichat N. Prediction of difficulty in
impacted lower third molars extraction: review literature. M Dent J 2015;
35(3): 283-4.
13. Hupp JR. Principle of management of impacted teeth. In: Hupp JR, Ellis E,
Tucker MR. eds. Contemporary oral and maxillofacial surgery. 6th ed.
Missouri: Elsevier Mosby, 2014: 144-50.
14. Mehra P, Baran S. Surgical management of impacted third molar teeth. In:
Koerner KR. eds. Manual of minor oral surgery for the general dentist.
Oxford: Blackwell, 2006: 49-56.
15. Gugule AS, Posangi J, Mariati NW. Gambaran efek pemberian anestesi lokal
dengan teknik blok mandibula Fischer pada peminum alkohol. e-Gigi J 2013;
1(1): 9.
16. Sumawinata N. Anesthesia lokal dalam perawatan konservasi gigi. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2013: 8-102.
17. Departemen Farmokologi dan Teraupetik FK UI. Farmakologi dan terapi. Ed
5. Jakarta: Badan Penerbit FK UI, 2012: 259-72.
18. Moore UJ, eds. Principles of oral and maxillofacial surgery. 6th ed. USA:
Wiley-Blackwell Publishing, 2011:67.
19. Rozzye. Respon rasa sakit. <[Link]
[Link]>. (20 Desember 2016).
20. Meechan JG. Local anaesthesia. In: Andersson L, Kahnberg KE, Pogrel MA,
eds. Oral and maxillofacial surgery. Oxford: Wiley-Blackwell, 2010: 51-60.
21. Eijden van TMGJ, Langenbach GEJ. Anatomy of the trigeminal nerve. In:
Baart JA, Brand HS. eds. Local anaesthesia in dentistry. Oxford: Wiley-
Blackwell, 2009: 15-29.
22. Frankhuijzen AL. Pharmacology of local anaesthetics. In: Baart JA, Brand
HS. eds. Local anaesthesia in dentistry. Oxford: Wiley-Blackwell, 2009: 31-
40.
23. Balaji SM. Textbook of oral and maxillofacial surgery. 2th ed. New Delhi:
Elsevier, 2013: 171-8; 185-8.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
41
24. Drasner K. Local anesthetics. In: Katzung BG, Masters SB, Trevor AJ. Basic
and clinical pharmacology. 12th ed. New York: McGraw-Hill Companies.
2012: 449-62.
25. Abdullah WA, Khalil H, Sheta S. Articain (4%) buccal infiltration versus
lidocaine (2%) inferior alveolar nerve block for mandibular teeth extraction in
patients on warfarin treatment. J Anesth Clin Res 2014; 5: 1.
26. Notthingham University Hospital (NHS). Maximum recommended local
anaesthetic doses for adult 2015. [Link] (20 November
2016).
27. Williams DJ, Walker JD. A nomogram for calculating the maximum dose of
local anaesthetic. The Associaton of Anaesthetist of Great Britain and Ireland
2014; 69: 848-52.
28. Norton NS. Netter’s head and neck anatomy for dentistry. 2th ed. Philadelphia:
Elsevier, 2012: 535-45.
29. Mohanty N, Mohanty S. Mandibular local anaesthesia: a clinical comparison
of three technique. IMEJ 2013; 2(1): 74-83.
30. Palti DG, Almeida CM, Rodrigues ADC, Andreo JC, Lima JEO. Anaesthetic
technique for inferior alveolar nerve block. J Appl Oral Sci 2011; 19(1): 11-5.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LAMPIRAN 1
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama Lengkap : Edina Raisha
Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 10 Agustus 1995
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : BTN Suka Maju Indah Blok EE/7, Sunggal, Deli
Serdang
Orangtua
Ayah : Drs. Ermansyah, [Link].
Ibu : Rusana Yanti, S.E.
Riwayat Pendidikan
1. 2000 – 2001 : TK Panca Budi, Medan
2. 2001− 2007 : SD Free Methodist 2, Medan
3. 2007 – 2010 : SMP Negeri 1 Medan
4. 2010 – 2013 : SMA Negeri 1 Medan
5. 2013 − 2017 : S1- Fakultas Kedokteran Gigi USU, Medan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LAMPIRAN 2
RINCIAN BIAYA PENELITIAN
Besar biaya yang diperlukan untuk melakukan penelitian ini sebesar Rp. 1.805.000,-
dengan rincian berikut:
1. Biaya pembuatan proposal : Rp 80.000
2. Biaya print dan fotokopi : Rp 350.000
3. Biaya transportasi : Rp 600.000
4. Biaya bahan habis pakai : Rp 175.000
5. Biaya penjilidan dan penggandaan : Rp 100.000
6. Biaya Seminar proposal : Rp 250.000
7. Biaya Lain-lain : Rp 250.000
+ _____________
Rp 1.805.000
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LAMPIRAN 3
KEGIATAN BULAN
September Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Persiapan
dan
Pembuatan
Proposal
Seminar
Proposal
Perbaikan
Proposal
Penelitian
Pengolahan
data
Pembuatan
Laporan dan
Hasil
Penelitian
Seminar
Hasil
Sidang
Skripsi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Lampiran 4
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Lampiran 5
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LAMPIRAN 6
LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN
Salam hormat,
Saya yang bernama Edina Raisha, mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi USU,
ingin melakukan penelitian tentang “VARIASI DOSIS ANESTESI LOKAL
LIDOKAIN 2% DENGAN ADRENALIN 1:100.000 YANG DIBERIKAN PADA
PASIEN ODONTEKTOMI GIGI MOLAR 3 BAWAH DI RUMAH SAKIT USU
PERIODE FEBRUARI – APRIL 2017”. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk
mengetahui jumlah dosis anestesi lokal yang diberikan pada pasien odontektomi gigi
molar 3 bawah di Rumah Sakit USU, untuk mengetahui nilai variasi jumlah dosis
anestesi lokal yang diberikan pada pasien odontektomi gigi molar 3 bawah, dan untuk
mengetahui faktor yang mempengaruhi variasi dosis tersebut. Manfaat penelitian ini
adalah untuk memberikan informasi dan evaluasi mengenai aplikasi anestesi lokal di
Rumah Sakit USU dari segi dosis yang diberikan pada odontektomi molar 3 bawah, dapat
mencegah terjadinya komplikasi karena pemberian anestesi lokal, sebagai sarana proses
pendidikan bagi peneliti, untuk melatih cara berpikir, menambah pengetahuan dan
pengalaman serta penerapan metode penelitian ilmiah di bidang kedokteran gigi.
Odontektomi gigi molar 3 bawah merupakan termasuk kasus pencabutan gigi
yang tingkat kesulitannya sedang sampai tinggi, sehingga dapat memicu komplikasi lokal
maupun sistemik dan berhubungan pada pemberian anestesi lokal (obat bius),.
Komplikasi lokal merupakan komplikasi yang terjadi pada sekitar daerah penyuntikan.
Komplikasi lokal menurut Malamed termasuk rasa sakit, rasa terbakar, infeksi,
pembengkakan. Komplikasi sistemik merupakan komplikasi yang melibatkan respon
sistemik tubuh terhadap pemberian anestesi lokal. Komplikasi sistemik pada penggunaan
anestesi lokal termasuk overdosis (reaksi toksik), alergi, serta reaksi psikogenik. Maka,
diperlukan pertimbangan anestesi lokal dalam pemberian dosis anestesi lokal (obat bius)
serta tingkat kehati-hatian operator sehingga dapat meminimalkan komplikasi yang
mungkin terjadi. Dalam pemberian dosis, ada kemungkinan besar dosis setiap pasien
dapat bervariasi dikarenakan respon tubuh setiap pasien yang dapat berbeda-beda. Oleh
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
karena itu, disini saya akan melihat seberapa besar dosis anestesi lokal (obat bius) yang
diberikan oleh dokter gigi dan seberapa besar variasi dosisnya.
Proses penelitian memerlukan kerjasama yang baik dari Bapak/Ibu untuk
meluangkan sedikit waktunya. Saya akan memberikan surat persetujuan yang
menyatakan Bapak/Ibu bersedia ikut serta dalam penelitian. Kemudian setelah Bapak/Ibu
menyetujuinya, saya akan menimbang dan mencatat berat badan Bapak/Ibu dan mengisi
data pribadi dan kebiasaan Bapak/Ibu seperti apakah Bapak/Ibu mengonsumsi alkohol,
dan mengamati apakah Bapak/Ibu terlihat cemas dalam perawatan. Dan saya akan
mencatat dosis obat bius tersebut. Ini hanya membutuhkan waktu kira-kira 10 menit
mulai dari penjelasan mengenai penelitian sampai dengan penimbangan berat badan.
Penelitian ini tidak akan membahayakan atau tidak ada efek samping untuk Bapak/Ibu.
Jika Bapak/Ibu membutuhkan penjelasan, maka dapat menghubungi saya dengan nomor
telepon 081263206598.
Jika Bapak/Ibu bersedia, Lembar Persetujuan menjadi Subjek Penelitian terlampir
harap ditandatangani dan dikembalikan. Perlu diketahui bahwa surat ketersediaan
tersebut tidak mengikat dan Bapak/Ibu dapat mengundurkan diri dari penelitian ini
selama penelitian berlangsung.
Demikian penjelasan dari saya, atas partisipasi dan ketersediaan waktu Bapak/Ibu,
saya ucapkan terima kasih.
Peneliti,
Edina Raisha
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LAMPIRAN 7
LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN
(INFORMED CONSENT)
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : ………………………………
Jenis Kelamin : L / P
Usia : ……………………………….
Setelah membaca dan mendapatkan penjelasan serta memahami sepenuhnya
apa yang akan dilakukan dan didapatkan pada penelitian yang berjudul Variasi Dosis
Anestesi Lokal Lidokain 2% dengan Adrenalin 1:100.000 yang Diberikan Pada
Pasien Odontektomi Gigi Molar 3 Bawah Di Rumah Sakit USU Periode
Februari – April 2017 . Maka saya menyatakan bersedia ikut berpartisipasi menjadi
salah satu subyek penelitian ini yang diketahui oleh Edina Raisha sebagai mahasiswa
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara secara sadar dan tanpa paksaan
dan tidak akan menyatakan keberatan maupun tuntutan di kemudian hari.
Demikian pernyataan ini saya berikan dalam keadaan sehat / sadar dan tanpa
paksaan apapun dari pihak manapun juga.
Medan, ……………………………
Pembuat Pernyataan
( ……………………………… )
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LAMPIRAN 8
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
DEPARTEMEN BEDAH MULUT DAN MAKSILOFASIAL
KUESIONER PENELITIAN OBSERVASI
VARIASI DOSIS ANESTESI LOKAL LIDOKAIN 2% DENGAN
ADRENALIN 1:100.000 YANG DIBERIKAN PADA PASIEN
ODONTEKTOMI GIGI MOLAR 3 BAWAH DI RUMAH SAKIT USU
PERIODE FEBRUARI – APRIL 2017
No. Kartu :
Tanggal :
Operator :
Nama :
Jenis Kelamin : a. Laki-laki b. Perempuan
Berat Badan :
KETERANGAN KEBIASAAN PASIEN:
1. Apakah pasien sering mengonsumsi alkohol?
a. Ya b. Tidak
HASIL OBSERVASI / PEMERIKSAAN:
2. Bahan Anestesi yang digunakan:
3. Jumlah dosis yang diberikan :
Volume (ml) = …………………………………….
Dosis (mg) = Konsentrasi (mg/ml) x volume (ml)
= ……………………………………….
= ………………………………………..
4. Apakah pasien terlihat cemas saat dilakukan perawatan ?
a. Ya b. Tidak
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA