Analisis Time Series Laporan Keuangan
Analisis Time Series Laporan Keuangan
LAPORAN KEUANGAN
ANALISIS TIME SERIES
Disusun Oleh :
Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi
Universitas Jambi
2016
1
KATA PENGANTAR
Puji dan puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas
makalah Analisis Laporan Keuangan ini sesuai dengan batas waktu yang telah
ditentukan. Tak lupa pula, penulis kirimkan salam dan salawat kepada junjungan
kita semua, Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, dan seluruh sahabatnya.
Penulis
2
DAFTAR ISI
Bab I Pendahuluan...................................................................................................................4
Bab II Pembahasan...................................................................................................................6
3.1. Kesimpulan..............................................................................................................24
3.2. Saran..........................................................................................................................24
Daftar Pustaka.........................................................................................................................25
BAB I
PENDAHULUAN
Salah satu tujuan dari analisa Laporan Keuangan suatu perusahaan adalah
untuk membuat estimasi/penelitian tentang laba, hasil penjaualan perusahaan di
masa mendatang dan lain-lain aspek finansial perusahaan atau secara umum dapat
dikatakan sebagai usaha untuk memproyeksikan ratio-ratio finansialnya yang
bertujuan untuk melihat keadaan suatu perusahaan yang berguna dalam
pengambilan keputusan. Berbagai alat analisa telah dikembangan dalam kaitannya
dengan tujuan tersebut dan untuk mempermudah proses dalam menganalisa.
4
1.2. Rumusan Masalah
Makalah ini dibuat dengan tujuan agar menambah ilmu dan wawasan bagi
para pembaca serta penulis sendiri mengenai Analisis Time Series dan diharapkan
dapat bermanfaat dikemudian hari.
BAB II
5
PEMBAHASAN
ROA
Tahun Perusahaan ROA Industri
1981 20,2% 16,0%
1982 21,1% 18,5%
1983 23,5% 21,1%
1984 24,5% 22,0%
1985 22,4% 25,0%
1986 23,6% 21,5%
1987 24,4% 23,1%
1988 25,1% 24,7%
1989 25,0% 24,8%
Data-data tersebut kemudian bisa diplot ke dalam suatu grafik sebagai berikut ini:
6
Dari grafik di atas nampak bahwa tren ROA perusahaan mengalami
kenaikan dari tahun ke tahun. Demikian juga halnya dengan ROA industri. Dari
analisis tren di atas nampak juga bahwa kenaikan ROA industri lebih cepat
dibandingkan dengan kenaikan ROA perusahaan. Meskipun pada tahun 1989
ROA perusahaan masih lebih tinggi dibandingkan dengan ROA industri, tetapi
pada masa mendatang ROA perusahaan kemungkinan besar akan di bawah ROA
industri. Tentunya tren semacam ini bukan merupakan tren yang menguntungkan
buat perusahaan. Kejadian semacam itu bisa terjadi apabila indurstri tumbuh
pesat, tetapi perusahaan mengalami penurunan market share. Barangkali karena
industri tersebut sedang tumbuh, banyak pesaing-pesaing baru masuk dan
mengurangi pangsa pasar yang dipunyai perusahaan. Manajemen tentunya harus
melakukan perubahan-perubahan yang perlu untuk mengatasi permasalahan
tersebut. Analisis tren semacar itu bisa dilakukan untuk setiap rasio atau angka
keuangan dan dibandingkan dengan tren dalam industri.
7
Jika ada perubahan semacam itu, seorang analis mempunyai beberapa
alternatif analisis. Misalkan analis menganalisis industri perbankan dan ia tahu
ada deregulasi perbankan sekitar tahun 1988, analis bisa membagi periode analisis
ke dalam dua periode yaitu periode sebelum dan sesudah deregulasi. Kemudian
analisis menggunakan data-data sesudah tahun 1988 untuk memproyeksikan
kondisi keuangan pada masa mendatang. Sebaliknya, misalkan analis
mengasumsikan bahwa deregulasi semacam itu merupakan hal yang biasa dalam
bisnis perbankan, seorang analis bisa menggunakan data-data untuk semua
periode (periode sebelum dan sesudah deregulasi) untuk memproyeksikan kondisi
keuangan perusahaan pada masa mendatang. Tetapi kalau deregulasi semacam di
atas merupakan kebijakan yang jarang dan merupakan kejadian yang luar biasa,
pembagian periode analisis ke dalam dua periode, yaitu sebelum dan sesudah
deregulasi, merupakan cara yang realistis.
Penjualan
Tahun Gabungan
PT ABC PT B
1971 1.000 500 1.500
1972 1.500 750 2.250
1973 1.600 770 2.370
1974 1.750 750 2.500
1975 2.000 800 2.800
1976 2.100 850 2.950
1977 3.200 - 3.200
1978 3.300 - 3.300
1979 3.350 - 3.350
1980 3.400 - 3.400
1981 3.500 - 3.500
8
1977 penjualan PT ABC mengalami peningkatan yang tajam dari 2.100 menjadi
3.200. Ada beberapa alternative analisis yang bisa dipakai:
1. Analis bisa menggunakan data penjualan gabungan (kolom ketiga) untuk
menganalisis prospek perusahaan pada masa mendatang. Penggunaan analisis
semacam ini mempunyai asusmsi implisit bahwa perusahaan gabungan
merupakan fungsi penambahan perusahaan individualnya. Kemungkinan
munculnya sinergi tidak diperhitungkan dalam hal ini.
2. Analis bisa membagi periode analisis ke dalam dua periode, sebelum dan
sesudah akuisisi, dan kemudian memakai data sesudah akuisisi untuk analisis
selanjutnya. Analisis semacam ini mengasumsikan bahwa ada perbedaan
struktural antara kedua periode tersebut, sehingga kedua periode tersebut harus
dipisahkan. Misalkan diduga ada efek sinergi yang cukup signifikan sesudah
akuisisi, penggunaan cara semacam ini lebih realistis dilakukan.
3. Analis bisa memfokuskan hanya pada data penjualan perusahaan ABC. Cara
ini bisa dilakukan apabila besarnya perusahaan yang diakuisisi (XYZ) tidak
terlalu signifikan dibandingkan besarnya perusahaan ABC. Apabila besarnya
perusahaan yang diakuisisi cukup signifikan, cara semacam ini tidak bisa
dilakukan. Dari data di atas nampak bahwa besarnya perusahaan XYZ cukup
signifikan karena mencapai sekitar 50% dari besarnya perusahaan ABC. Cara
semacam ini barangkali tidak bisa dilakukan untuk data-data di atas.
Persoalan lain yang bisa timbul adalah perlakuan untuk data-data yang luar
biasa (outlier). Misalkan pada tahun 1981 PT ABC mengalami kerugian sebesar
1.000, setelah sebelumnya selalu untung di atas 3.000. Kerugian tersebut bisa
dianalisis penyebabnya. Apabila penyebabnya adalah bencana alam (misalkan
gempa bumi), dan kejadian tersebut merupakan hal yang luar biasa, di luar
kendali manajemen, dan kemungkinan munculnya lagi bencana tersebut sangat
kecil, maka lebih baik angka negatif tersebut dihilangkan dari analisis. Kejadian
semacam itu merupakan peristiwa yang sementara sifatnya. Tetapi apabila
kerugian tersebut diakibatkan oleh peristiwa restrukturisasi perusahaan,
barangkali kejadian semacam itu menjadi permulaan munculnya perubahan
struktural. Diperlukan pertimbangan khusus untuk memasukan kerugian semacam
itu ke dalam analisis. Barangkali diperlukan penyesuaian-penyesuaian tertentu
kalau analisis akan memasukan angka kerugian tersebut ke dalam analisis.
9
Dalam analisis time series, ada tiga macam pendekatan yang bisa dilakukan:
a. Pendekatan Ekonomi
b. Pendekatan Statistik
c. Pendekatan Visual
11
dipergunakan untuk menganalisa laporan keuangan yang meliputi minimal 3
periode atau lebih. Analisa ini dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan
perusahaan melalui rentang perjalanan waktu yang sudah lalu dan memproyeksi
situasi masa itu ke masa yang berikutnya. Berdasarkan data historis itu, dicoba
melihat kecenderungan yang mungkin akan muncul di masa yang akan datang.
Analisa trend ini bermanfaat untuk menilai situasi “trend” perusahaan yang telah
lalu serta dapat memprediksi “trend” perusahaan di masa yang akan datang
berdasarkan garis trend yang sudah terjadi itu.
Untuk melakukan analisa trend series berindeks (untuk hal-hal tertentu bisa
dipakai dalam teknis trend) ini maka dapat melakukannya melalui:
1. Metode statistik dengan cara menghitung garis trend dari laporan keuangan
beberapa periode.
2. Menggunakan angka indeks.
Dalam analisis time series, perhatian terhadap data historis (ex-post) sering
digunakan untuk melihat pola-pola yang sitematik terhadap data tersebut. Dalam
konteks analisis historis semacam itu, analis mempunyai pilihan yang banyak
terhadap faktor-faktor yang diperkirakan akan mempengaruhi suatu variable.
Dalam konteks analisis masa mendatang (ex-ante), seperti forecasting.
12
Pilihan seorang analis menjadi serba terbatas. Seorang analis tidak tahu pasti
berapa nilai faktor-faktor di atas, dia harus memperkirakan nilai tersebut sebelum
memperkirakan nilai variable yang diteliti tersebut. Analis tersebut terpaksa harus
memfokuskan pada beberapa variabel saja yang lebih sedikit dan bisa
diperkirakan lebih pasti. Analisis time series klasik biasanya memfokuskan pada
analisis musiman. Perhatikan data time series berikut ini.
13
Musiman merupakan fluktuasi yang terjadi dalam lingkup satu tahun.
Ada beberapa penyebab timbulnya fluktuasi seperti:
a. Karena peristiwa tertentu, misal karena peristiwa lebaran atau tahun baru.
b. Karena cuaca, misal musim hujan dan musim kemarau
4. Ketidakteraturan(Irregularities)
Fluktuasi semacam ini disebabkan karena faktor-faktor yang munculnya
tidak teratur, dalam jangka waktu pendek. Misalnya gudang perusahaan terbakar,
akibatnya keuntungan perusahaan pada periode itu terpengaruh.
14
tidak bisa dipakai untuk analisis time series. Dalam analisis regresi
diasumsikan bahwa korelasi antara residual pada periode t dengan residual
pada periode t-1 sama dengan 0. Dalam analisis time series untuk penjualan
sebagai contoh, tentunya asumsi semacam itu tidak masuk akal. Penjualan pada
periode t akan berkolerasi dengan penjualan pada t-1. Meskipun demikian
metodeleast square dipakai karena penggunaannya yang sederhana. Model
time series bisa dirumuskan sebagai berikut:
Yt = a + b X
a = ∑(Y) – b ∑(X)
Perhitungan trend:
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Penjualan Y/Yt * 100
Tahun X (Y) XY X² Tren (%Tren)
1972 1 224 224 1 217 103,2
1973 2 233 466 4 234 99,5
1974 3 248 744 9 251 98,7
1975 4 258 1.032 16 268 96,2
1976 5 270 1.350 25 285 94,6
1977 6 288 1.728 36 303 95,2
1978 7 315 2.205 49 320 98,6
1979 8 344 2.752 64 337 102,2
1980 9 369 3.321 81 354 104,3
1981 10 393 3.930 100 371 106,0
1982 11 406 4.466 121 388 104,6
1983 12 416 4.992 144 405 102,7
1984 13 425 5.525 169 422 100,7
1985 14 437 6.118 196 439 99,5
1986 15 450 6.750 225 456 98,6
1987 16 462 7.392 256 474 97,6
1988 17 476 8.092 289 491 97,0
153 6.014 61.087 1.785
15
b= 61.087−17 (9)(353,8)
(1.785)−17(9)² = 17,1
16
Pada Skala Aritmatik persamaan tren yang lebih sesuai adalah persamaan
parabola seperti berikut ini.
Y = a + bX + cX2
log Y = a + b log X
3. Analisis Siklus
% Trend = Y / Yt × 100
17
Di mana Y merupakan data tahunan yang sesungguhnya, dan Yt
merupakan data tren yang dihitung berdasarkan persamaan tren. Kolom (7) pada
Tabel 7.3. di atas memperlihatkan hasil perhitungan di atas. Plot angka-angka
dalam kolom ke (7) akan terlihat seperti berikut ini
4. Analisis Musiman
18
Triwulan III : 0,90
Triwulan IV : 1,10
3. METODE-METODE PERAMALAN
Univariate Multivariate
Mekanis Model Rata-rata Bergerak Model Regresi
Model Box-Jenkins Univariate Model Fungsi Transfer Box-Jenkins
Non-mekanis Pendekatan Visual Pendekatan analis sekuritas
19
lebih obyektif seperti statistik, dan cara tersebut menggunakan model yang sama
untuk setiap forecast. Salah satu contoh cara mekanis teresebut adalah model
regresi. Dengan cara non-mekanis, teknik yang digunakan relatif lebih bebas.
Tidak terdapat hubungan yang pasti dan tetap antara data yang dianalisis dengan
peramalan yang dibuat. Sebagai contoh, seorang analis bisa menggabungkan
banyak pertimbangan untuk menentukan garis trend yang dibuat dengan tangan.
Faktor-faktor yang dipertimbangkan bisa diambil dari faktor industri, pasar,
kondisi ekonomi dan lainnya.
Rumus:
Ft = w At - 1 + (1 – w) Ft – 1
Ft = forecast untuk periode t
At - 1 = data sesungguhnya pada periode t – 1
Ft - 1 = forecast pada periode t – 1
w = konstanta dengan nilai antara 0 – 1
20
Forecast baru = w (data sesungguhnya saat ini) + (1 – w) (forecast saat ini)
Atau
Ft = At - 1 + (1 - w) (Ft - 1 – At - 1)
F 2009 = W A 2008 + (1 – W) F 2008
Forecasting Kelebihan:
Kelemahan:
a. Biaya yang cukup tinggi untuk persiapan dan pelaksanaan, untuk
monitoring beberapa variabel, dan biaya-biaya lainnya
b. Ketergantungan yang tinggi terhadap kemampuan individu analisnya
c. Analis barangkali mempunyai insentif untuk tidak menampilkan forecast
yang tidak bias (misal, karena tekanan agar sesuai dengan konsensus
forecast)
d. Analis barangkali bisa dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan tertentu
untuk kepentingan perusahaan tersebut
Forecasting Kelebihan:
21
Kelemahan:
a. Jumlah observasi yang terbatas pada situasi tertentu, misal pada
perusahaan yang baru berdiri
b. Laporan keuangan barangkali tidak memenuhi asumsi-asumsi yang
diperlukan dalam analisis statistik
c. Sulit mengkomunikasikan hasil analisis kepada luar, terutama dalam hal
metodologinya
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
22
historis). Forecasting digunakan untuk memproyeksikan kondisi keuangan pada
masa mendatang.
2. SARAN
DAFTAR PUSTAKA
23
24