MAKALAH
STUDI KASUS PENYUSUNAN AUDIT
PROGRAM
Disusun Oleh :
FAZIL RIFANI
1862201006
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI
LHOKSEUMAWE
2021
DAFTAR ISI
Daftar Isi....................................................................................................................................i
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah...................................................................................................................1
1.2 Perumusan Masalah.........................................................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan..............................................................................................................................2
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Audit Program..................................................................................................................................3
2.1.1 Definisi Audit Program Dalam setiap penugasan audit........................................................3
2.1.2 Tujuan Audit Program .........................................................................................................4
2.1.3 Manfaat Audit Program........................................................................................................5
2.2 Penyusunan Audit Program ..............................................................................................................6
2.2.1 Prosedur Penyusunan Audit Program.....................................................................................6
2.2.2 Resiko Audit.........................................................................................................................10
2.2.3 Penggujian Audit Dalam mengembangkan rencana audit keseluruhan................................11
B III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.....................................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................................ii
i
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Salah satu tahap ialah perencanaan (audit planning). Tujuan audit planning ialah
untuk menentukan pada are mana, bagaimana, kapan serta oleh siapa anggota tim yang
mana) audit akan dilakukan. Langkah penting dalam audit planning mengidentifikasi
faktor resiko. Auditor harus menilai faktor resiko inheren, misalnya sistem online,
network, database dan teknologi canggih lainnya yang memiliki resiko lebih besar
daripada batch processing system (apalagi dibandingkan sistem manual). Auditor harus
meneliti resiko potensial dengan melakukan review awal general controls, menilai
kelemahan pengendalian dan mengevaluasi apakah pengendalian tersebut dijalankan.
Tujuan analisis resiko ini untuk membantu auditor agar lebih fokus audit pada area yang
faktor resikonya besar.
Untuk itu auditor menyiapkan rencana kerja audit (audit program) mengenai batas,
jadwal, dan prosedur untuk mencapai sasaran audit. Setelah audit program disusun dan
tim auditor telah dibentuk, selanjutnya para anggota tim harus melakukan pengenalan
terhadap sistem yang akan diaudit. Penyusunan program audit untuk penyelesaian
pekerjaan lapangan yang lebih mendalam merupakan tahap penting agar pemeriksaan
manajemen dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Tahap penyusunan program
audit dilaksanakan setelah tahap persiapan pendahuluan dan penelitian mendalam.
2
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan sebelumnya maka dapatlah dirumuskan
masalah dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
1. Menjelaskan apa pengertian Audit Program ?
2. Bagaimana contoh penyusunan Program Pemeriksaan (Audit Program) untuk setiap
penugasan?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan Penulisan Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan diatas maka
Tujuan untuk penulisan ini yaitu sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui tentang pengertian Audit Program.
2. Untuk mengetahui tentang Penyusunan Program Pemeriksaan (Audit Program) untuk
setiap penugasan.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Audit Program
2.1.1 Definisi Audit Program Dalam setiap penugasan audit
Auditor harus menyusun rencana audit. Rencana audit dimaksudkan untuk
menjamin bahwa tujuan audit tercapai secara berkualitas, ekonomis, efisien dan efektif.
Dalam merencanakan auditnya, auditor menetapkan sasaran, ruang lingkup, metodologi,
dan alokasi sumber daya. Salah satu dokumen perencanaan audit adalah program kerja
audit. Audit Program adalah kumpulan prosedur audit yang akan dijalankan oleh auditor
dengan tujuan supaya meningkatkan koordinasi dan integrasi semua bagian bagian
pemeriksaan. Adapun kegunaan dari audit program yaitu untuk memperoleh gambaran
menyeluruh atas proses audit yang telah dijalankan. Pemeriksaan harus dijalankan
dengan sebaik-baiknya dan jika digunakan tenaga pembantu, mereka harus dipimpin dan
diawasi dengan baik.
Audit program yang digunakan oleh auditor biasanya disesuaikan oleh bisnis klien.
Audit program berisi langkah-langkah yang ditetapkan oleh Kantor Akuntan Publik
tergantung dari ruang lingkup pemeriksaannya yang harus diikuti auditor atau staff
lainnya dalam melaksanakan audit. Audit program yang baik harus mencantumkan
beberapa hal, yaitu sebagai berikut :
1) Ruang lingkup audit Merupakan batasan dari suatu audit yang memberikan
batasan bidang atau kegiatan yang akan diaudit, periode waktu yang audit, lokasi
4
yang akan dikunjungi, jenis kajian yang akan dilakukan untuk mendukung
simpulan dan jenis investigasi yang akan dilakukan. Ruang lingkup pemeriksaan
ini bertujuan menetapkan luasnya pemeriksaan yang jawab auditor dan
menyerahkan.
2) menjadi tanggung hasil pemeriksaan yang dikehendaki. Tujuan audit Tujuan audit
ialah untuk melaksanakan verifikasi bahwa subjek dari audit telah diselesaikan
atau berjalan sesuai dengan standar, regulasi, dan praktik yang telah disetujui dan
diterima oleh sebuah organisasi.
3) Prosedur audit yang dilaksanakan Prosedur audit adalah metode atau teknik yang
digunakan oleh para auditor untuk mengumpulkan dan mengevaluasi bahan bukti
yang mencukupi dan kompeten. Prosedur ini dapat digunakan untuk mendukung
pendekatan audit top-down ataupun pendekatan audit bottom-up. Auditor akan
mempertimbangkan bagaimana setiap prosedur ini akan digunakan ketika
merencanakan audit dan mengembangkan program audit.
4) Kesimpulan pemeriksaan Kesimpulan audit merupakan suatu pernyataan yang
mengandung makna dari pembicaraan. Kesimpulan diperoleh dari untaian fakta-
fakta yang terjadi. Sehingga, kesimpulan dapat berupa kalimat yang bersifat
pendapat yang menggeneralkan fakta-fakta yang didapat selama melaksanakan
audit.
2.1.2 Tujuan Audit Program
Audit program yang telah disusun pasti mempunyai tujuan, berikut ini ada
beberapa tujuan dari audit program yaitu :
5
a) Sebagai alat untuk mengontrol dan mencatat pelaksanaan yang tepat dari
pekerjaan audit, dan unruk meninjau pekerjaan audit.
b) Sebagai bukti yang mendukung pendapat auditor.
c) Sebagai acuan pengumpulan data dan proses evaluasi pelaksanaan tugas audit.
d) Sebagai pedoman yang spesifik dan langkah – langkah yang harus diikuti dalam
pengumpulan bukti audit.
e) Sebagai sarana perbandingan data yang dikumpulkan dari tahun sebelumnya.
2.1.3 Manfaat Audit Program
Manfaat dari penyusunan program kerja audit, antara lain:
a. Merupakan suatu rencana yang sistematis tentang setiap tahap kegiatan yang bisa
dikomunikasikan kepada semua tim audit.
b. Merupakan landasan yang sistematis dalam memberikan tugas kepada para
auditor dan supervisornya.
c. Sebagai dasar untuk membandingkan pelaksanaan kegiatan dengan rencana yang
telah disetujui dan dengan standar serta persyaratan yang telah ditetapkan.
d. Dapat membantu auditor yang belum berpengalaman dan membiasakan mereka
dengan ruang lingkup, tujuan, serta langkahlangkah kegiatan audit.
e. Dapat membantu auditor untuk mengenali sifat pekerjaan yang telah dikerjakan
sebelumnya.
f. Dapat mengurangi kegiatan pengawasan langsung oleh supervisor.
6
2.2 Penyusunan Audit Program
2.2.1 Prosedur Penyusunan Audit Program
1. Identifikasi Kegiatan/program Yang Akan Diaudit Kegiatan/program yang akan
diaudit merupakan adalah bagian nyata dari objek audit sesuai jenis auditnya dan
biasanya terurai di dokumen anggaran (DIPA/DPA). Sebagai contoh: Audit
Kinerja atas Pengujian Substantif Utang Usaha dan Audit Kinerja atas Kepatuhan
Pembelian.
2. Identifikasi Tujuan Audit Tujuan audit yang akan diidentifikasi harus sesuai
dengan jenis auditnya. Sesuai contoh yang digunakan adalah Audit Kinerja atas
Pengujian Substantif Utang Usaha dan Audit Kinerja atas Kepatuhan Pembelian.
Pengertian audit kinerja menurut Standar Audit Intern Instansi Pemerintah
(SAIPI), adalah audit atas pelaksanaan tugas dan fungsi instansi pemerintah yang
terdiri atas audit aspek ekonomi, efisiensi, dan audit aspek efektivitas, serta
ketaatan pada peraturan. Adapun tujuan utama audit kinerja adalah untuk menilai
aspek ekonomis, efisiensi dan efektifitas pelaksanaan tugas pemerintahan. Aspek
ekonomis adalah aspek kinerja yang berkaitan dengan sumber daya (input), baik
dari sisi pengadaannya maupun pemanfaatannya. Aspek efisiensi adalah aspek
kinerja yang berkaitan dengan hasil yang diperoleh (output). Aspek efisiensi
berkaitan dengan aspek ekonomis karena untuk menilai kinerja aspek efisiensi
tidak cukup jika melihat output-nya saja, tetapi harus dikaitkan dengan sumber
daya (input) yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut. Efektifitas
adalah aspek kinerja yang berkaitan dengan tingkat pemanfaatan output dalam
mencapai tujuan/sasaran yang ditetapkan.
7
3. Identifikasi Langkah Kerja Audit
Identifkasi Bukti Audit yang akan dikumpulkan dari auditi dan atau disusun oleh
auditor. Dengan contoh tersebut, auditor dapat mulai menyusun langkah kerja
audit dengan tujuan pemenuhan aspek ekonomi.
a. Bukti dikumpulkan dari auditi
b. Bukti yang disusun oleh auditor
Identifikasi pihak yang akan dihubungi untuk memperoleh Bukti Auditor
4. Identifikasi Teknik Audit
yang akan digunakan Teknik Audit yang akan digunakan untuk memperoleh dan
atau menyusun bukti audit tersebut adalah :
a. Pembandingan
b. Analisis
c. Permintaan Keterangan
5. Gabung dan susun yang ada di langkah 1, 2, dan 3 dalam kalimat perintah.
Contoh : Penyusunan Audit Program
KANTOR AKUNTAN PUBLIK ELSZA AND FRIENDS
[Link] :123456789
[Link] : 987654321
Nama Auditi : PT DAMAR SINERGI
Tahun yang diaudit. : 2015
8
PROGRAM KERJA AUDIT
Audit Kinerja atas Pengujian Substantif Utang Usaha
A. Ruang Lingkup
Audit Kinerja ini berfokus pada pengujian substantive atau substantive test pengujian
terhadap kewajaran saldo-saldo utang usaha dalam perkiraan pada laporan keuangan
(neraca dan laba rugi) tahun 2015.
B. Tujuan Audit
Hutang dagang dalam daftar hutang dagang secara benar di golongkan
(classification).
Transaksi-transaksi dalam siklus akuisisi dan pembayaran dicatat pada periode yang
tepat (cut off).
Perusahaan mempunyai kewajiban untuk membayar hutang yang termasuk dalam
daftar hutang dagang (obligation).
Hutang dagang dalam siklus akuisisi dan pembayaran disajikan dan diungkapkan
(presentation and disclosure).
C. Langkah Kerja Audit
WP REF Paraf Tang
gal
1 Buat Top Scheldule Utang, Yang antara
lain mencangkup utang dagang per 31-
12-2015
2 Menjumlahkan Kembali Atau
menggunakan komputer untuk
melakukan perjumlahan daftar hutang
dagang.
3 Mnta ricician Utang dagang per 31-12-
2015
a. Chek Footingnya.
b. Cocokan jumlah dengan buku
besar utang.
c. Cocockan dengan saldo-saldo
dalam rician tersebut dengan sub
buku besar utang.
4 Untuk Saldo utang dalam matauang
asing, paksa apakah saldo tersebut sudah
dikonversikan kedalam rupiah dalam
menggunakan kuis tengah BI per tanggal
neraca.
5 Menelusuri dari daftar hutang dagang
kefaktur pembelian dan surat pernyataan
(statement) pemasok
9
6 Pertimbangkan untuk mengirim
konfirmasi untuk utang dagang yang
saldonya besar dan tidak biasa
7 Periksa pembayaran sesudah tanggal
neraca (subsequent payment)
8 Menelusuri faktur pemasok individual
kemaster file untuk meneliti nama dan
jumlahnya
9 Jika ada saldo debit yang cukup material
dalam rincian utang dagang, periksa bukti
pendukungnya dan reklasifikasi sebagai
piutang
10 Melakukan konfirmasi hutang
dagang,menekankan jumlah yang besar
11 Melakukan out-of-periodliability test atau
“search for unrecorded accounts payable”
12 Menelaah daftar dan master file untuk
pihak-pihak yang mempunyai hubungan
istimewa, wesel atau hutang lain yang
dibebani bunga, hutang jangka panjang
dan saldo-saldo debet.
13 Melakukan pengujian detil sebagai
bagian dari observasi fisik persediaa:
Menguji persediaan dalam transit
14 Menguji pernyataan pemasok (vendor’
sst atement)
15 Buat Kesimpulan hasil pemeriksaan
Disusun Oleh Direview Oleh Client: Periode : Akunde:
KKP:
Ketua Tim Pengendali Teknis Schedule:Audit 31-12- 01234567
Damar Sasi E Yordan Al B Program Utang 2015
8
NIP: NIP: Usaha
3622126504960003 5721126805050007
Tanggal :10 Tanggal :11Januari
Januari2016 2016
10
2.2.2 Resiko Audit
Dari rumusan model risiko audit ada 4 (empat) jenis risiko audit. Masing-masing jenis
risiko audit tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Planned Detection Risk (Risiko Penemuan yang Direncanakan) Adalah risiko bahwa
bukti yang dikumpulkan dalam segmen gagal menemukan kekeliruan yang melampaui
jumlah yang dapat ditolerir. Jika kekeliruan semacam itu timbul. Ada dua hal penting
yang harus diperhatikan:
a) PDR tergantung pada tiga unsur risiko lainnya dalam model. Jadi risikopenemuan
yang direncanakan hanya akan berubah jika auditor mengubah salah satu unsur
lainnya.
b) PDR menentukan besarnya bukti yang akan dikumpulkan. Hubungan antara PDR
dengan bukti berbanding terbalik. Jika nilai risiko penemuan yang direncanakan
diperkecil, berarti jumlah bukti yang harus dikumpulkan auditor dalam audit lebih
banyak.
2. Acceptable Audit Risk (Risiko Audit yang dapat diterima) Adalah ukuran ketersediaan
auditor untuk menerima bahwa laporan keuangn mengandung salah saji material tanpa
pengecualian telah diberikan. Risiko ini ditetapkan secara subyektif bahwa auditor
bersedia menerima laporan keuangan tidak disajikan secara wajar setelah audit selesai
dan pendapat wajar tanpa pengecualian telah diberikan. Kalau auditor menetapkan
tingkat risiko audit yang dapat diterima rendah, berarti ia ingin lebih memastikan bahwa
tidak ada kekeliruan yang material dalam laporan keuangan. Tingkat risiko nol berarti
kepastian penuh bahwa laporan keuangan tidak mengandung kekeliruan yang materia
dan tingkat risiko ini 100% berarti auditor sangat tidak yakin kalau laporan keuangan
tidak mengandung salah saji atau kekeliruan yang material.
3. Inherent Risk (Risiko Bawaan atau Risiko Melekat) Adalah penetapan auditor akan
kemungkinan adanya kekeliruan (salah saji) dalam segmen audit yang melampaui batas
11
toleransi, sebelum memperhitungkan faktor efektivitas pengendalian intern. Risiko
bawaan menunjukkan faktor kerentanan laporan keuangan terhadap kekeliruan yang
material dengan asumsi tidak ada pengendalian intern. Bila auditor berkesimpulan bahwa
akan banyak kemungkinan terjadi kekeliruan tanpa pengendalian intern, berarti risiko
bawaannya tinggi. Faktor pengendalian intern tidak diperhitungkan dalam menetapkan
inherent risk (risiko bawaan) karena dalam model risiko audit hal itu akan diperhitungkan
tersendiri sebagai risiko pengendalian. Hubungan antara risiko bawaan (inherent risk)
dengan risiko penemuan (planned detection risk) serta rencana pengumpulan bukti adalah
bahwa inherent risk sifatnya berbanding terbalik dengan planned detection risk rendah,
maka planned detection risk tinggi dan bukti yang harus dikumpulkan pun sedikit.
4. Control Risk (Risiko Pengendalian) Adalah ukuran penetapan auditor akan kemungkinan
adanya kekeliruan (salah saji) dalam segmen audit yang melampaui batas toleransi yang
tidak terdeteksi atau tercegah oleh struktur pengendalian intern klien. Risiko
pengendalian (control risk) mengandung unsur:
a) Apakah struktur pengendalian intern klien cukup efektif untuk mendeteksi atau
mencegah kekeliruan.
b) Keinginan auditor untuk membuat penetapan tersebut di bawah nilai maksimum (100%)
dalam rencana audit. Misalnya: auditor menyimpulkan bahwa struktur pengendalian
intern yang ada sama sekali tidak efektif dalam mencegah atau mendeteksi kekeliruan.
2.2.3 Penggujian Audit
Dalam mengembangkan rencana audit keseluruhan auditor menggunakan lima jenis
pengujian untuk menentukan apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar. Pengujian
pengendalian dilakukan untuk mendukung pengurangan pengukuran risiko pengendalian,
sementara auditor menggunakan prosedur analitis dan pengujian terperinci saldo untuk
memenuhi risiko deteksi. Pengujian substantif transaksi memengaruhi risiko pengendalian
12
maupun risiko deteksi yang direncanakan, karena mereka menguji efektivitas pengendalian
internal serta jumlah nominal transaksi.
1) Prosedur Pengukuran Risiko Prosedur pengukuran risiko dilakukan untuk menilai risiko
salah saji material dalam laporan keuangan. Auditor melakukan pengujian pengendalian,
pengujian substantif transaksi, prosedur analitis, serta pengujian atas perincian saldo
dalam melakuan penilaian terhadap salah saji material sebagaimana diharuskan dalam
PSA 26 (SA 350). Gabungan dari keempat jenis prosedur audit lanjutan ini akan
memberikan dasar bagi opini auditor. Bagian terbesar dari prosedur pengukuran risiko
dilakukan untuk mendapatkan suatu pemahaman atas pengendalian internal, serta
digunakan untuk mengukur risiko pengendalian untuk setiap tujuan audit terkait
transaksi.
2) Pengujian Pengendalian Pemahaman auditor terhadap pengendalian internal digunakan
untuk mengukur risiko pengendalian untuk setiap tujuan audit transaksi. Untuk
mendapatkan bukti yang tepat dan mencukupi untuk mendukung pengukuran tersebut,
auditor melakukan pengujian pengendalian. Pengujian pengendalian, baik secara manual
dan otomatis, dapat mencakup jenis bukti berikut ini :
Melakukan tanya jawab yang memadai dengan personel klien.
Memeriksa dokumen, catatan dan laporan.
Mengamati aktivitas terkait pengendalian.
Mengerjakan ulang prosedur-prosedur klien.
3) Auditor melakukan penelusuran system sebagai bagian dari prosedur untuk mendapatkan
pemahaman sebagai upaya membantunya dal menentukan apakah pengendalian sudah
diterapkan. Penelusuran biasanya diterapkan pada satu atau beberapa transaksi dan
mengikuti transaksi tersebut disepanjang pemrosesannya. Pengujian pengendalian juga
digunakan untuk menentukan apakah penggunaaan pengendalian tersebut telah efektif
dan biasanya digunakan untuk menguji sebuah sampel transaksi. Prosedur yang
13
dilakukan untuk mendapakan pemahaman atas pengendalian internal biasanya tidak
memberikan bukti tepat yang memadai untuk mendukung bahwa pengendalian telah
berjalann efektif. Jumlah bukti tambahan yang diharuskan untuk menguji pengendalian
bergantung pada dua hal berikut :
Keluasan bukti yang didapatkan dalam memperoleh pemahaman atas pengendalian
internal.
Pengurangan risiko pengendalian yang direncanakan. Salah satu cara dimana auditor
dapat membuktikan pencatatan transaksi adalah dengan melakukan pengujian
pengendalian
14
BAB III
PENUTUP
2.1 Kesimpulan
Program kerja audit dibutuhkan agar audit manajemen lebih terarah dan menjadi
lebih efektif serta efisien. Program kerja audit harus disusun dengan baik agar
dapat digunakan dan dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh auditor. Tanpa
adanya program kerja audit atau jika program kerja audit tidak disusun dengan
baik, maka akan dibutuhkan biaya dan waktu yang relative lebih lama untuk
menyelesaikan sebuah pekerjaan audit. Setelah tahap persiapan audit, penelitian
lapangan, dan penyusunan program kerja audit selesai dilaksanakan, maka
dilanjutkan dengan tahap audit mendalam. Pada tahapan ini auditor pada
dasarnya memusatkan tugasnya pada proses perolehan dan pengukuran bukti.
Bukti yang diperoleh diukur, dianalisis, dan diringkas dalam kertas kerja audit
Seorang auditor tentu juga harus memiliki prosedur yang tepat untuk mencapai
tujuan. Mengikuti mekanisme Program yang dapat mencakup estimasi waktu.
Dapat menyelasaikan pekerjaan dalam waktu yang wajar. Memahami pedoman-
pedoman yang ada, memahami kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam
audit dan mengetahui kriteria-kriteria Program Audit.
DAFTAR PUSTAKA
Ratliff, Richard L, et al 1996. Internal Auditing, Principles, and Techniques, 2nd
Editional. Almonte Springs, Florida. The Institute of Internal Auditor.
[Link]
PenyusunanPedoman-Audit-Kinerja
[Link]
[Link] [Link]
audit/
ii