Terapi Komplementer dan Alternatif
Terapi Komplementer dan Alternatif
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut WHO (World Health Organization), pengobatan komplementer
adalah pengobatan non-konvensional yang bukan berasal dari negara yang
bersangkutan. Jadi untuk Indonesia, jamu misalnya, bukan termasuk pengobatan
komplementer tetapi merupakan pengobatan [Link] tradisional
yang dimaksud adalah pengobatan yang sudah dari zaman dahulu digunakan dan
diturunkan secara turun – temurun pada suatu negara. Tapi di Philipina misalnya,
jamu Indonesia bisa dikategorikan sebagai pengobatan komplementer.
Terapi komplementer adalah cara Penanggulangan Penyakit yang
dilakukan sebagai pendukung kepada Pengobatan Medis Konvensional atau
sebagai Pengobatan Pilihan lain diluar Pengobatan Medis yang [Link]
satu terapi komplementer yang kini populer dimasyarakat adalah terapi
[Link] akupresur adalah perkembangan terapi pijat yang berlangsung
seiring dengan perkembangan ilmu akupuntur karena tekhnik pijat akupresur
adalah turunan dari ilmu akupuntur. Tekhnik dalam terapi ini menggunakan jari
tangan sebagai pengganti jarum tetapi dilakukan pada titik-titik yang sama seperti
yang digunakan pada terapi akupuntur. Ada beberapa jenis klasifikasi, cara,
indikasi serta kontraindikasi dari terapi akupresur yang akan dijabarkan lebih jelas
didalam makalah.
Berdasarkan data yang bersumber dari Badan Kesehatan Dunia pada tahun
2005, terdapat 75 – 80% dari seluruh penduduk dunia pernah menjalani pengobatan
non-konvensional. Di Indonesia sendiri, kepopuleran pengobatan non-
konvensional, termasuk pengobatan komplementer ini, bisa diperkirakan dari mulai
menjamurnya iklan – iklan terapi non – konvensional di berbagai media.
Berdasarkan persentasi minat masyarakat terhadap terapi non-konvensional penulis
tertarik untuk lebih mengenalkan terapi akupresur kepada seluruh masyarakat, oleh
sebab itu kami menyusun materi terkait akupresur kedalam sebuah makalah.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian konsep komplementer?
2. Apa saja . Tipe Terapi Alternatif dan Komplementer?
3. Apa Saja Jenis-jenis Terapi yang Dapat Diakses Keperawatan?
4. Apa saja Terapi Latihan Spesifik?
5. Bagaimana Peran Keperawatan dalam Terapi Alternatif dan Latihan?
6. Bagaimana Persyaratan Dalam Terapi Komplementer?
7. Apa saja penyakit yang dapat disembuhkan dengan terapi komplementer?
1
C. Tujuan
1. Untuk mengetahu pengertian konsep komplementer
2. Untuk mengetahui tipe terapi alternative dan komplementer.
3. Untuk mengetahui jenis-jenis terapi komplementer
4. Untuk mengetahui terapi latihan spesifik
5. Untuk mengetahui peran perawat dalam terapi alternative
6. Untuk mengetahui persyaratan dalam terapi komplementer
7. Untuk mengetahui penyakit yang dapat disembuhkan dengan terapi
komplementer
D. Manfaaat
Untuk mengetahui konsep mengenai konsep komplementer dan penyakit yang dapat
diatasi dengan tehnik komplementer.
E. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini kami menggunakan metode deskriptif, yang diperoleh
dari literature dari berbagai media baik buku maupun elektronik yang disajikan dalam
bentuk makalah.
2
BAB II
PEMBAHASAN
2. Terapi secara Biologis-Menggunakan Substansi dari Alam, seperti Herbal, Makanan,
dan Vitamin
a. Zona : program diet yang memerlukan makanan berprotein, karbohidrat, dan lemak
dalam perbandingan 30:40:30% kalori dari protein, 40% dari karbohidrat, dan 30% dari
lemak. Digunakan untuk menyeimbangkan insulin dan hormon lain untuki kesehatan
yang optimal.
b. Diet Makribiotik : diutamakan diet vegetarian (tidak ada produk hewan kecuali ikan ).
Awalnya digunakan dalam manajemen berbagai kanker. Penekanan pada semua biji-
bijian padi, sayur-sayuran, dan makanan yang tidak diawetkan.
4
c. Pengobatan ortomelekular (megavitamin) : meningkatkan masukan nutrisi seperti
vitamin C dan beta karoten. Diet mengobati kanker, skizofrenia, penyakit autis, dan
penyakit kronis tertentu seperti hiperkolesterolemia dan penyakit arteri koroner.
d. European phytomedicines : produk yang dikembangkan di bawah kontrol kualitas
yang ketat pada pabrik farmasi yang berpengalaman, dibungkus secara profesional dalam
tablet atau kapsul. Contoh obat-obatan herbal yang telah diteliti dengan baik adalah
gingko biloba, susu dari tanaman liar, dan bilberry.
e. Obat-obatan tradisional herbal China : lebih dari 50.000 jenis tabaman obat, banyak
yang telah diteliti secara luas. Herbal dipertimbangkan sebagai tulang belakang
pengobatan.
f. Herbal Ayuveda : sistem herbal tradisional Hindu yang telah digunakan lebih dari
2000 tahun.
3. Manipulasi dan Metode Didasari Tubuh-Didasari pada Manipulasi dan/ atau
Pergerakan dari Satu atau lebih Bagian Tubuh
a. Akupresur : teknik terapeitik mempergunakanj tekanan digital dalam cara
tertentu pada titik yang dibuat pada tubuh untuk mengurangi rasa nyeri,
menghasilkan analgesia, atau mengatur fungsi tubuh.
b. Pengobatan kiropraktik : sistem terapi yang melibatkan manipulasi kolumna
spinalis dan memasukan fisioterapi dan terapi diet.
c. Metode Feldenkrais : terapi alternatif yang didasarkan pada citra tubuh yang
baik melalui perbaikan pergerakan tubuh. Teknik ini mengintegrasikan
pemahaman fisika tentang pola pergerakan tubuh dengan kewaspadaan seseorang
dalam mempelajari gerak, sikap, dan interaksi.
d. Tai Chi : teknik yang menggabungkan pernapasan, gerakan, dan meditasi
untuk membersihkan, memperkuat, dan sirkulasi energi dan darah kehidupan
yang penting. Terapi merangsang sistem imun dan mempertahankan
keseimbangan internal dan eksternal.
e. Terapi pijat : manipulasi jaringan ikat melalui pukulan, gosokan, atau
meremes untuik meningkatkan sirkulasi, memperbaiki sifat otot, dan relaksasi.
f. Sentuhan ringan : sentuhan pada klien dengan cara yang tepat dan halus untuk
membuat hubungan, menunjukan penerimaan, dan memberikan penghargaan.
4. Intervensi Tubuh dan Pikiran-Menggunakan Berbagai Teknik yang Dibuat untuk
Meningkatkan Kapasitas Pikiran untuk Memengaruhi Tubuh
a. Terapi Seni : penggunaan seni untuk mendamaikan konflik emosional, meningkatkan
kewaspadaan diri, dan mengungkapkan masalah yang tidak dikatakan dan disadari klien
tentang penyakit mereka.
b. Umpan balik biologis : suatu proses yang memberikan individu dengan informasi
visual dan suara tentang fungsi fisiologis otonom tubuh, seperti tegangan otot, suhun
tubuh, dan aktivitas gelombang otak, melalui penggunaan alat-alat.
5
5. Intervensi Tubuh-Pikiran-Menggunakan Berbagai Teknik yang Dibuat untuk
Meningkatkan Kapasitas Pikiran guna Memengaruhi Fungsi dan Gejala Tubuh
a. Terapi dansa : sarana memperdalam dan memperkuat terapi karena merupakan
ekspresi langsung dari pikiran dan tubuh. Terapi ini mampu mengobati individu
dengan masalah sosial, emosional, kognitif, atau fisik.
b. Terapi pernapasan : menggunakan segala jenis pola pernapasan untuk
merelaksasi, memperkuat, atau membuka jalur emosional.
c. Imajinasi terbimbing : teknik terapeutik untuk mengobati kondisi patologis
dengan berkonsentrasi pada imajinasi atau serangkaian gambar.
d. Meditasi : praktik yang ditujukan pada diri untuk merelaksasi tubuh dan
menenangkan pikiran menggunakan ritme pernapasan yang berfokus.
[Link] musik : menggunakan musik untuk menunjukan kebutuhan fisik,
psikologis, kognitif, dan sosial individu yang menderita cacat dan penyakit.
Terapi memperbaiki gerakan dan atau komunikasi fisik, mengembangkan ekspresi
emosional, memperbaiki ingatan, dan mengalihkan rasa nyeri.
f. Usaha pemulihan (doa) : berbagai teknik yang digunakan dalam budaya
menggabungkan pelayanan, kesabaran, cinta, atau empati dengan target doa.
g. Psikoterapi : pengobatan kelainan mental dan emosional dengan teknik
psikologi.
h. Yoga : teknik yang berfokus pada susunan otot, postur, mekanisme
pernapasan, dan kesadaran tubuh. Tujuan yoga adalah memperoleh kesejahteraan
mental dan fisik melalui pencapaian kesempurnaan tubuh dengan olahraga,
mempertahankan postur tubuh, pernapasan yang benar, dan meditasi.
6. Terapi Energi-Melibatkan Penggunaan Medan Energi
a. Terapi Reiki : terapi yang berasal dari praktik Buddha kuno di mana praktisi
menempatkan tangannya pada atau di atas bagian tubuh dan memindahkan
“energi kehidupan semesta” kepada klien. Energi ini memberikan kekuatan.
b. Sentuhan terapeutik : pengobatan melibatkan pedoman keseimbangan energi
praktisi dalam suatu cara yang disengaja terhadap semua klien. Termasuk
peletakan tangan praktisi pada atau dekat tubuh klien (Perry, Potter, 2009).
7
Meskipun meditasi telah menunjukan perbaikan dalam bebragai penyakit psikologis,
meditasi merupakan kontraindikasi bagi beberapa individu. Sebagai contoh, individu
yang memiliki ketakutan akan kehilangan kontrol dapat menerima meditasi sebagai
bentuk pengontrolan pikiran dan mungkin menolak untuk mempelajari teknik tersebut.
c. Imajinasi
Imajinasi atau teknik visualisasi yang menggunakan kesadaran pikiran untuk
menciptakan gambaran mental agar menstimulasi perubahan fisik dalam tubuh,
memperbaiki kesejahteraan, dan meningkatkan kesadaran diri. Biasanya imajinasi
dikombinasi dengan beberapa bentuk latihan relaksasi yang memfasilitasi efek dari teknik
relaksasi. Imajinasi bersifat ditujukan pada diri, di mana individu menciptakan gambaran
mental dirinya sendiri, atau bersifat terbimbing, dimana selama seorang praktisi
memimpin individu melalui skenario tertentu.
Imajinasikan sering menimbulkan respons psikofisiologis yang kuat seperti perubahan
dalam fungsi imun (Fontaine, 2005). Banyak teknik imajinasi melibatkan imajinasi
visual, tapi mereka juga melibatkan indera pendengaran, proprioseptif, pengecap, dan
penciuman. Visualisasi kreatif adalah satu bentuk imajinasi yang ditujukan pada diri yang
didasari pada prinsip hubungan tubuh-pikiran. Imajinasi memiliki aplikasi pada sejumlah
populasi klien. Imajinasi telah digunakan untuk visualisasi sel kanker yang telah
dihancurkan oleh sel sistem imun, untuk mengontrol atau mengurangi rasa nyeri, dan
untuk mencapai ketenangan dan ketentraman. Imajinasi juga membantu dalam
pengobatan kondisi kronis seperti asma, hipertensi, gangguan fungsi berkemih, sindrom
prementasi dan menstruasi, gangguan gastrointestinal ulceratif colotis, dan rheumatoid
arthritis.
8
Umpan balik biologis merupakan penambahan yang efektif pada program relaksasi
karena dapat menunjuk dengan cepat kepada klien kemampuan mereka untuk mengontrol
beberapa respons fisiologis. Berbagai bentuk umpan balik fisiologis diaplikasikan dalam
berbagai situasi. Umpan balik biologis telah berhasil mengobati migraine headache, rasa
nyeri lainnya, stroke, dan berbagai kelainan gastrointestinal dan traktus urinarius.
Meskipun umpan balik biologis atelah menunjukan efektifitas pada sejumlah populasi
klien, ada beberapa tindakan pencegahan. Selama relaksasi atau latihan umpan balik
biologis, emosi atau perasaan yang ditekan terkadang memperlihatkan bahwa klien tidak
dapat beradaptasi dengan dirinya sendiri. Karena alasan ini, praktisi yang menawarkan
umpan balik biologis harus melatih metode psikologis atau memiliki profesional yang
berkualitas yang berguna untuk rujukan (Potter, Perry. 2009).
2. Sentuhan Terapeutik
Sentuhan terapeutik (therapeutik touch) adalah terapi latihan spesifik yang
dikembangkan oleh perawat. Meskipun asumsi keagamaan dan filosofi terhadap sentuhan
terapeutik berbeda dari teknik penyembuhan Eropa, tetapi sentuhan terapeutik juga
melibatkan profesional pelayanan kesehatan terlatih yang berusaha untuk menunjukan
keseimbangan diri mereka sendiri dalam cara yang bermotivasi atau disengaja terhadap
semua klien.
Sentuhan terapeutik merupakan suatu potensi alami manusia yang terdiri dari meletakkan
tangan praktisi pada atau dekat dengan tubuh seseorang. Proses sentuhan terapeutik
melibatkan dimana praktisi melihat tubuh secara sekilas dan mendiagnosis daerah tempat
terakumulasinya tegangan. Praktisi kemudian mencoba mengarahkan energi tersebut
untuk membawa individu kembali masuk ke dalam keseimbangan energi yang sama
dengan praktisi. Sentuhan terpeutik terdiri dari lima fase, yaitu : pemusatan, pengkajian,
penenangan, pengobatan, dan evaluasi.
Beberapa penelitian klasik terdahulu mendapatkan bahwa sentuhan terapeutik
meningkatkan kadar hemoglobin (Hb) pada beberapa klien. Penelitian lain menemukan
bahwa sentuhan terapeutik mampu mengurangi tingkat kecemasan pada klien yang
dirawat yang dirawat di rumah sakit dengan penyakit kardiovaskuler, menurunkan rasa
nyeri sakit kepala, dan memperbaiki suasana hati pada individu dewasa yang berduka
cita. Meskipun beberapa penelitian telah menunjukan hasil yang positif dari sentuhan
terapeutik, beberapa yang lainnya tidak. Alasan untuk kurangnya respons ini adalah
hilangnya kontak mata dan wajah selama sesi terapeutik dan sesi yang terlalu singkat.
3. Terapi Kiropraktik
Terapi Kiropraktik merupakan suatu seni penyembuhan manual, dikembangkan pada
tahun 1895 di Lowa. Praktisi kiropraktik lulus dari program persipan yang didirikan
sederajat dengan sekolah kedokteran. Terapi kiropraktik merupakan terapi holistik yang
biasanya tidak menggunakan obat-obatan atau operasi. Terapi kiropraktik
mempromosikan diet alami dan olahraga yang teratur sebagai komponen penting agar
tubuh dapat berfungsi dengan baik (Fontaine, 2005).
9
Tujuan dasar terapi kiropraktik berfokus pada perbaikan struktur dan keseimbangan
fungsional. Salah satu gangguan struktur mayor yang diobati oleh praktisi kiropraktik
adalah subluksasio vertebra, di mana gerakan sendi menurun disebabkan oleh sedikit
perubahan pada posisi persambungan tulang dan gejala subjektif seperti rasa nyeri.
Beberapa penyakit atau kelainan sendi tidak harus diobati dengan manipulasi.
Kontraindikasi terapi kiropraktik adalah mielopati akut, patah tulang (fraktur), dislokasi,
arthritis rheumatoid, dan osteoporosis.
4. Pengobatan Tradisional China
Pengobatan tradisional china (Traditional Chinese Medicina) terdiri dari beberapa
modalitas, termasuk herbal, akupuntur, moxibustion, diet, olahraga, dan meditasi. TCM
sudah berusia ribuan tahun dan berakar dari Taoisme. Ada beberapa konsep utama yang
merupakan pengobatan China. Konsep yang paling adalah Yin-Yang yang
menggambarkajn fenomena berlawanan yang saling melengkapi dan berada dalam
keseimbangan yang dinamis. Qi (di baca Chi) didefinisikan sebagai energi vital dari
tubuh manusia. Penyakit diklasifikasikan dalam tiga kategori utama, yaitu : penyebab
eksternal, penyebab internal, dan bukan penyebab internal maupun eksternal (Perry,
Potter, 2009 ).
elemen, yaitu terdiri atas : bumi, logam, air, kayu, dan api. Berbagai fenomena kesehatan
disususn menurutfase tersebut dan saling berhubungan satu sama lain. Berikut jenis-jenis
pengobatan tradisional China, yaitu :
a. Akupuntur : akupuntur merupakan metode stimulasi titik tertentu (akupoin) pada
tubuh dengan memasukan jarum khusus untuk memodifikasi persepsi rasa nyeri.
Menormalkan fungsi fisiologis, serta mengobati atau mencegah penyakit. Akupuntur
mengatur atau meluruskan kembali aliran qi. Menurut pengobatan tradisional China,
jarum akupuntur melepskan obstruksi energi dan membangun kembali aliran qi melalui
meridian, selanjutnya menstimulasi dan mengaktifkan mekanisme penyembuhan diri oleh
tubuh. Penggunaan arus listrik lemah dan kuat meningkatkan efek dari jarum tersebut
(Fontaine, 2005).
Akupuntur merupakan modalitas pengobatan primer yang digunakan oleh praktisi
pengobatan China. Masalah terbanyak yang dapat diobati dengan akupuntur meliputi
nyeri punggung bagian bawah, nyeri pada otot wajah, sakit kepala ringan dan migrain,
linu panggul, nyeri bahu, osteoarthritis, salah urat pada leher, dan keseleo
musculoskeletal (Rakel dan Faass, 2006).
Akupuntur merupakan terapi yang aman jika praktisi telah menjalani pelatihan yang
sesuai dan menggunakan jarum yang steril. Meskipun telah ditemukan komplikasi, tetapi
masih jarang terjadi jika praktisi melakukan langkah-langkah yang benar untuk
menjamin keamanan alat dan klien komplikasi meliputi infeksi karena sterilisasi jarum
yang tidak adekuat atau jarum yang ditinggalkan dalam tempat untuk waktu yang lama,
jarum yang patah, kebocoran organ internal, perdarahan, pingsan, kejang, keguguran, dan
perasaan mengantuk pascapengobatan (Fontaine, 2005).
10
b. Terapi Herbal : peneliti memperkirakan sekitar 25.000 jenis tumbuhan digunakan
secara medis di seluruh dunia. Ini merupakan bentuk pengobatan lama yang diketahui
untuk manusia, dan bukti arkeologi mengatakan bahw a Belanda menggunakan obat
herbal sejak 60.000 tahun yang lalu (Fontaine, 2005).
The Federal Food, Drug, and Cosmetic Art mengharuskan semua obat dibuktikan
keamanan dan efektifitasnya sebelum dijual ke masyarakat. Karena pengobatan herbal
tidak menjalani penelitian dengan teliti yang sama secara farmasi, mayoritas tidak
menerima persetujuan untuk menggunakannya sebagai obat dan tidak diatur oleh The
Food and Drug Admistration (FDA). Substansi herbal pengobatan China berasal dari
tanaman, hewan, atau mineral. Sedangkan pengobatan Barat menggunakan herbal yang
dipersiapkan secara primer dari materi tanaman. Sejumlah herbal aman dan efektif untuk
berbagai kondisi, sebagai contoh : susu dari tanaman liar efektif untuk mengobati
sejumlah gangguan hati dan kendung kemih (Perry, Potter, 2009).
Meskipun pengobatan herbal memberikan efek yang berguna bagi berbagai kondisi,
sejumlah masalah timbul. Ketika pengobatan herbal dikembangkan, konsentrasi bahan-
bahan aktif beragam bentuknya. Kontaminasi dengan herbal atau bahan kimia lain,
termasuk pestisida dan logam berat juga terjadi. Beberapa herbal juga mengandung
produk yang sangat toksik dan dapat menyebabkan kanker (Fontaine, 2005).
11
Fokus Terapi Komplementer
1. Pasien dengan penyakit jantung.
2. Pasien dengan autis dan hiperaktif
3. Pasien kanker
Akupuntur
Akupunktur medik yang dilakukan oleh dokter umum berdasarkan
kompetensinya. Metode yang berasal dari Cina ini diperkirakan sangat
bermanfaat dalam mengatasi berbagai kondisi kesehatan tertentu dan juga
sebagai analgesi (pereda nyeri). Cara kerjanya adalah dengan
mengaktivasi berbagai molekul signal yang berperan sebagai komunikasi
antar sel. Salah satu pelepasan molekul tersebut adalah pelepasan
endorphin yang banyak berperan pada sistem tubuh.
Terapi hiperbarik,
Terapi heperbarik yaitu suatu metode terapi dimana pasien dimasukkan ke
dalam sebuah ruangan yang memiliki tekanan udara 2 – 3 kali lebih besar
daripada tekanan udara atmosfer normal (1 atmosfer), lalu diberi
pernapasan oksigen murni (100%). Selama terapi, pasien boleh membaca,
minum, atau makan untuk menghindari trauma pada telinga akibat
tingginya tekanan udara
Terapi herbal medik,
Terapi herbal medic yaitu terapi dengan menggunakan obat bahan alam,
baik berupa herbal terstandar dalam kegiatan pelayanan penelitian maupun
berupa fitofarmaka. Herbal terstandar yaitu herbal yang telah melalui uji
preklinik pada cell line atau hewan coba, baik terhadap keamanan maupun
efektivitasnya. Terapi dengan menggunakan herbal ini akan diatur lebih
lanjut oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Dari 3 jenis teknik pengobatan komplementer yang ada, daya
efektivitasnya untuk mengatasi berbagai jenis gangguan penyakit tidak
bisa dibandingkan satu dengan lainnya karena masing – masing
mempunyai teknik serta fungsinya sendiri – sendiri. Terapi hiperbarik
misalnya, umumnya digunakan untuk pasien – pasien dengan gangren
supaya tidak perlu dilakukan pengamputasian bagian tubuh. Terapi herbal,
berfungsi dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Sementara, terapi
akupunktur berfungsi memperbaiki keadaan umum, meningkatkan sistem
12
imun tubuh, mengatasi konstipasi atau diare, meningkatkan nafsu makan
serta menghilangkan atau mengurangi efek samping yang timbul akibat
dari pengobatan kanker itu sendiri, seperti mual dan muntah, fatigue
(kelelahan) dan neuropati.
Latihan pernapasan bisa meningkatkan kualitas hidup Anda, mengurangi gejala asma
serta mengurangi jumlah obat-obatan yang diperlukan untuk mengontrol asma. Berikut
merupakan 2 latihan pernapasan yang yang telah diteliti:
13
pengurangan stres, penggunaan obat, nutrisi dan kesehatan secara umum.
Yoga
Jenis latihan ini sudah dilakukan selama ribuan tahun. Ada beberapa jenis yoga tetapi
semuanya mengajarkan seri proses peregangan. yoga juga memadukan teknik-teknik
pernapasan, yang bisa membantu mengurangi gejala-gejala asma. Walaupun masih
diperlukan lebih banyak lagi penelitian untuk menentukan efektifitas yoga dalam
mengatasi asma, melakukan yoga bisa meredakan stres dan meningkatkan kebugaran
tubuh secara umum.
Olahraga
Anda bisa dan sebaiknya tetap aktif secara fisik jika menderita asma. Tetap aktif akan
membantu mengontrol gejal-gejala asma dan menjaga Anda tetap sehat. Olahraga secara
teratur akan menguatkan paru-paru sehingga paru-paru tidak perlu bekerja terlalu keras
saat bernapas. Berusahalah untuk melakukan aktivitas fisik 30 menit setiap hari.
Jika selama ini Anda tidak aktif, mulailah secara perlahan-lahan dan tingkatkan aktivitas
fisik Anda secara perlahan-lahan. Anda tidak perlu melakukan semua aktivitas fisik Anda
secara bersamaan. Melakukan sesuatu yang bisa memompa darah dan membuat Anda
bernapas lebih keras untuk jangka waktu yang tidak terlalu lama, misalnya 10 atau 15
menit, akan bisa membantu.
Ingatlah, kalau berolahraga di cuaca dingin akan memicu munculnya gejala. Jika Anda
berolahraga di suhu dingin, pakailah topeng wajah untuk menghangatkan udara yang
Anda hirup. Dan jangan berolahraga di bawah suhu 0 derajat. Aktivitas seperti golf, jalan
dan berenang tidak akan memicu gejala tetapi berkonsultasilah dulu dengan dokter untuk
menentukan jenis olahraga yang aman untuk dilakukan.
Walaupun sejumlah orang telah mencoba, belum ada bukti yang jelas apakah pengobatan
berikut efektif untuk mengatasi asma.
Akupuntur
14
Akupuntur termasuk menusukkan jarum ke berbagai titik tertentu di bagian tubuh.
Walaupun beberapa bukti menunjukkan kalau gejala-gejala asma makin membaik dengan
pengobatan akupuntur, tetapi belum ada bukti yang cukup solid untuk membuktikannya.
relaksasi
Teknik terapi relaksasi meliputi meditasi, biofeedback, hipnotis dan relaksasi otot.
Walaupun teknik-teknik ini bisa mengurangi stres dan membuat tubuh lebih bugar, tetapi
masih belum jelas efektifitas teknik terapi relaksasi terhadap penyakit asma. Penelitian
menunjukkan kalau teknik-teknik relaksasi otot bisa memperbaiki fungsi paru-paru.
Homeopati
Homeopati bertujuan untuk menstimulus respon penyembuhan pribadi dari tubuh dengan
menggunakan sedikit substansi yang bisa menimbulkan gejala. Dalam penyembuhan
asma, penyembuhan homeopati dibuat dari substansi yang biasanya memicu reaksi asma,
Latihan
Teknik ini membantu menguatkan otot paru-paru dengan melakukan satu seri latihan
pernapasan dengan menggunakan alat pernapasan khusus. Latihan paru-paru jenis ini
seringkali digunakan untuk mengatasi penyakit paru-paru lainnya seperti penyakit
pernapasan kronis, dan juga untuk menguatkan paru-paru setelah melakukan operasi
tertentu. Belum ada data yang cukup untuk membuktikan efektifitas teknik ini dalam
menanganiasma.
Penyembuhan herbal termasuk ekstrak ginko dan tumbuhan merambat telah dicoba
digunakan untuk membantu mengatasi gejala asma. Tetapi, studi-studi belum jelas
mengenai keuntungan pengobatan herbal ini terhadap asma. Obat-obat herbal bisa
menimbulkan efek samping dan berinteraksi dengan obat-obatan dari dokter, dan obat
herbal ini mungkin tidak mempunyai dosis yang konsisten dan mungkin juga
mengandung substansi yang berbahaya. Jadi, berkonsultasilah dengan dokter sebelum
herbal.
Pada sebagian besar kasus, diperlukan studi-studi yang lebih banyak untuk membuktikan
efektifitas terapi dalam mengatasi asma. Tetapi, ingatlah kalau kurangnya bukti yang
solid tidak berarti kalau pengobatan tersebut tidak efektif. Tidak ada salahnya mencoba,
apalagi pengobatan ini terbukti aman dipadukan dengan pengobatan asma selain obat-
obatan herbal, yang mungkin berbahaya bagi beberapa orang.
15
Jika Anda berniat untuk mencoba pengobatan alternatif atau pengobatan pelembab
tersebut, pastikan berkonsultasi dulu dengan dokter, dan teruskan pengobatan reguler
Anda. Walaupun pengobatan alternatif ini membantu, tetapi kalau untuk mengontrol
asma, pengobatan alternatif tidak akan bisa menggantikan obat-obatan medis dan saran-
saran dari dokter.
Terapi berikutnya yang dibahas yaitu terapi medikasi. Terapi medikasi ideal adalah yang
memenuhi syarat: cepat mengurangi gejala (quick relief) dan mampu mengontrol supaya
asma tidak cepat kambuh (long-term control).
Tipe Quick Relief -- Termasuk di dalamnya golongan Beta Agonsi yang digunakan
secara inhalasi. Terapi ini efektif karena langsung bekerja pada dinding saluran nafas
sehingga mampu mengurangi obstruksi (sumbatan) jalan nafas dan mengurangi gejala
asma tetapi durasi kerjanya amat singkat. Bentuk sediaan di pasaran berupa inhaler.
Contoh, Salbutamol, Levalbuterol, dan Pirbuterol. Tipe Long-term Control (LTC) --
Termasuk di dalamnya golongan kortikosteroid bentuk inhalasi, golongan Beta agonis
durasi kerja panjang bentuk inhalasi (Inhaled Long-Acting á-Agonist Broncholdilators),
Leukotriene Modifiers, dan terapi Anti-Ige.
Inhalasi kortikosteroid -- Merupakan obat lini pertama yang terapi pasien asma yang
persisten termasuk bagi anak-anak dari segala tingkatan usia. Berfungsi untuk
mengurangi radang saluran nafas. Kemampuan antiradangnya sangat multipel. Mampu
meregulasi transkripsi berbagai gen sehingga mampu mengurangi abnormalitas struktur
jaringan saluran nafas akibat asma. Pemakaian obat ini harus sesuai anjuran dokter
karena efek samping yang timbul berupa nyeri tenggorok, batuk saat inhalasi, suara serak
dan candidiasis mulut. Contoh: fluticasone dan beclomethasone.
Leukotriene Modifters -- Berfungsi memblok kerja leukotrin C4, D4, dan E4 pada the
type 1 cysteinyl leukotriene receptor. Merupakan terapi alternatif pada kasus asma tipe
ringan yang persisten (mild persistent asthma). Sedangkan bagi pasien asma berat,
penambahan a leukotriene-receptor antagonist dengan dosis rendah inhalasi
kortikosteroid mampu memperbaiki kontol asma, akan tetapi terapi model ini masih
kurang efektif dibandingkan kombinasi terapi kortikosteroid inhlasi dengan long-acting
áagonist. Contoh Montelukast, Zafirlukast, dan Pranlukast. Bentuk sediaan: tablet
(Zafirlukast), tablet kunyah dan oral granules (Montelukast).
16
Terapi Anti-IgE -- Antibodi monoklonal Anti-IgE (Omalizumab) merupakan agen
imunoregulator biologik pertama yang dapat digunakan untuk terapi asma. Cara kerjanya
dengan mengikat IgE yang mengenali reseptornya yang afinitasnya amat tinggi pada
permukaan sel mast dan basofil. Terapi ini diindikasikan bagi kasus moderate asthma dan
severe persistent asthma yang tidak mampu lagi diterapi dengan terapi lainnya diatas.
TerapiTerakhir
Terapi terakhir yang dibahas adalah terapi alternatif menggunakan obat herbal. Salah satu
tanaman yang berkhasiat mengurangi asma adalah bawang putih (Allium Sativum L).
Dosis anjuran menurut WHO bagi orang dewasa dan usia 18 tahun ke atas adalah 2-5
gram bawah putih segar, 0,4-1,2 gram sediaan tepung kering, 2-5 miligram bentuk
minyak, 300- 1.000 miligram ekstrak atau formulasi lain asalkan setra dengan 2-5
miligram allicin (zat khasiat dalam bawang putih) setiap harinya.
17
b) Menjaga Kebugaran Jasmani
Kebugaran jasmani adalah suatu aspek fisik dari kebugaran
menyeluruh. Kebugaran jasmani pada lansia adalah kebugaran yang
berhubungan dengan kesehatan yaitu kebugaran jantung-paru dan
peredaran darah serta kekuatan otot dan kelenturan sendi.
c) Mengangkat dan Mengangkut
Melihat berbagai perubahan karena penuaan, cara mengangkat dang
mengakut yang efektif, efisien, dan aman merupakan kebutuhan bagi
lansia. Untuk menunjang prinsip kinetic dalam mengangkat dan
mengangkut dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:
1) Pegangan harus tepat, kerja statis local dihindari
2) Pegangan/tangan berada sedekat mungkin dengan tubuh
3) Punggung harus lurus
4) Dagu (kepala) diusahakan segera ke posisi tegak
5) Kaki diusahakan sedemikian rupa sehingga keseimbangannya kuat
6) Menfaatkan berat badan sebagai gaya tarik/dorong
7) Beban berada sedekat mungkin dengan garis vertical yang melalui
pusat gravitasi tubuh.
d) Perlindungan sendi
Usaha perlindungan sendi dapat dilakukan dengan menghindari
pemakaian sendi secara berlebihan, menghindari trauma, mengurangi
pembebanan, berusaha menggunakan sendi yang lebih kuat atau lebih
besar, dan istirahat sejenak disela-sela aktivitas.
e) Konservasi Energi
Konservasi energy adalah suatu cara melakukan aktivitas dengan
energy yang relative minimal, namun dapat memperoleh hasil aktivitas
yang baik. Teknik konservasi energy dapat dicapai apabila dalam setiap
aktivitas memperhatikan hal-hal berikut :
1) Rencanakan aktivitas yang akan dilakukan sehingga tidak ada gerakan
kejut yang akan meningkatkan strees fisik atau emosional.
2) Atur lingkungan aktivitas sedemikian rupa sehingga pada waktu
melaksanakan aktivitas, energy dapat digunakan secra efisien
3) Jika mungkin, aktivitas dilakukan dalam posisi duduk
4) Jangan menjinjing atau mengangkat barang jika dapat didorong atau
digeser.
5) Gunakan alat aktivitas yang relatife ringan
6) Lakukan aktivitas dengan cara yang sama karena akan membuat lebih
efisien.
7) Dalam setiap aktivitas, harus sering diselingi istirahat. Salah satu
pedoman adalah sepuluh menit istirahat untuk setiap satu jam bekerja.
18
8) Bagi aktivitas menjadi beberapa bagian kemudian kerjakan pada waktu
yang berbeda.
f) Peningkatan Kekuatan Otot
Peningkatan kekuatan otot pada lansia lebih ditujukan agar mampu
melakukan gerak fungsional tanpa adanya hambatan. Dalam latihan ini,
jenis latihan yang dianjurkan adalah latihan isotonic, dengan
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1) Tentukan kemampuan otot maksimal
2) Latihan pada 60%-80% kemampuan otot maksimal
3) Ukur ulang setiap minggu
4) 3X seri latihan, tiap seri 8-10 ulangan
5) Istirahat 1-2 menit diantara seri
6) Lakukan 3X seminggu, min selama 8 minggu
19
Terapi ini menggunakan minyak esensial yang tepat untuk pijat,
berendam, dihirup, kumur, kompres, dan dioleskan. Pemijatan dilakukan
agar minyak esensial tersebut dapat menembus kulit dan menuju jaringan
tubuh yang memerlukan, serta memengaruhi kinerja organ dalam tubuh.
Terapi ini juga bisa membantu meredakan stres pada orang yang terkena
stroke.
e) Hidroterapi
Terapi stroke dengan air panas ini dapat digunakan untuk
mengurangi rasa pegal dan kaku pada otot. Uap panas bermanfaat untuk
melebarkan pembuluh darah, merangsang keluarnya keringat, dan
membuka pori-pori. Gunakan air dingin dalam terapi penyakit stroke
untuk mengurangi memar dan pembengkakan. Air dingin juga bisa
memberikan efek menyegarkan dan meningkatkan gairah.
f) Terapi nutrisi
Beberapa makanan bisa berfungsi sebagai alat terapi untuk
menurunkan kadar kolesterol sehingga berguna untuk menurunkan kadar
kolesterol sehingga berguna untuk menurunkan potensi seseorang terkena
stroke . contohnya, bayam, wortel, daun selada, polong-polongan, dan
nanas. Suplai makanan yang disarankan bagi penderita stroke adalah
vitamin C, vitamin E, vitamin b6, asam folat, bioflavonoids, dan lechitin.
Penderita stroke juga sebaiknya mengonsumsi asam lemak esensial yang
terdapat pada minyak ikan, evening prime rose, danflaxseed oil.
Sedangkan makanan yang harus dihindari adalah protein tinggi lemak,
produk susu (seperti mentega dan keju, gula, garam, dan goreng-
gorengan.
22
c) Membuat narasi pada masing-masing kehidupan yang pernah
dijalan lansia. Saat membuat narasi dapat didampingi oleh yang
disayangi agar lebih mudah dikomunikasikan
7. Hipertensi
Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan di
seluruh dunia karena prevalensinya tinggi (Lidya, 2009). Hipertensi disebut sebagai The
Silent Killer, karena tidak menampakkan gejala yang khas. WHO memperkirakan sekitar
30% penduduk dunia tidak menyadari adanya hipertensi (Susilo & Wulandari, 2011).
Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis, yakni
mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia (Kemenkes, 2010).
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Nasional (2007), prevalensi hipertensi di
Indonesia (31,7%), lebih tinggi jika dibandingkan dengan Singapura (27,3%), Thailand
(22,7 %) dan Malaysia (20%) (Hartono, 2011). Analisis prevalensi yang dilakukan oleh
Puslitbang dan Kebijakan Kesehatan (2008), menunjukkan bahwa 34,9% penduduk
Indonesia menderita hipertensi (Palmer, 2007).
Hipertensi dapat menyebabkan komplikasi yang berbahaya jika tidak ditangani
dengan baik (Tierney, 2002). Hipertensi dapat menimbulkan komplikasi penyakit berupa
gangguan pada otak, sistem kardiovaskuler, ginjal dan mata. Hipertensi yang terjadi
dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan stroke, serangan jantung, gagal jantung
dan merupakan penyebab utama gagal ginjal kronik (Purnomo, 2009).
Menurut WHO, dari 50% penderita hipertensi yang diketahui, 25% mendapat
pengobatan dan hanya 12,5% yang diobati dengan baik. Pengobatan penderita hipertensi
belum efektif karena sering terjadi kekambuhan serta menimbulkan efek samping
berbahaya dalam jangka waktu yang panjang (Dicky, 2011). Hal ini yang mendorong
para ilmuwan untuk mengembangkan terapi non farmakologis.
Terapi non farmakologis dapat digunakan sebagai pelengkap untuk mendapatkan
efek pengobatan farmakologis (obat anti hipertensi) yang lebih baik (Dalimartha, 2008).
Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa penatalaksanaan nonfarmakologis
merupakan intervensi yang baik dilakukan pada setiap pengobatan hipertensi (Brunner &
Suddarth, 2002).
METODE PELAKSANAAN
Metode pelaksanaan :
a. Mengumpulkan khalayak sasaran yaitu penderita hipertensi dan anggota keluarga
penderita hipertensi
b. Pre test dengan menanyakan secara langsung beberapa pertanyaan kepada sasaran.
c. Mengukur Tekanan Darah penderita Hipertensi dengan spegnomanometer.
d. Penyuluhan tentang masalah hipertensi dan komplikasi hipertensi
26
e. Peragaan : Simulasi secara langsung penatalaksanaan nonfarmakologi terapi
komplementer berupa teknik relaksasi massase dan intervensi bekam oleh tim
pelaksana kegiatan.
f. Diskusi dan tanya jawab.
g. Pendampingan khalayak sasaran dalam melakukan masase kaki.
h. Post test dengan diskusi dan tanya jawab setelah penyuluhan.
Terapi relaksasi ditujukan untuk menangani faktor psikologis dan stress yang
dapat emnyebabkan hipertensi. Hormon epineprin dan kortisol yang dilepaskan saat
stress menyebabkan peningkatan tekanan darah dengan menyempitkan pembuluh darah
dan meningkatkan denyut jantung. Besarnya peningkatan tekanan darah tergantung pada
beratnya stress dan sejauh mana kita dapat mengatasinya. Penanganan stress yang
adekuat dapat berpengaruh baik terhadap penurunan tekanan darah.
Relaksasi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan teknik pernapasan yang ritmis
dan alami. Di dalam relaksasi harus melakukan pernapasan yang ritmis agar dapat
mencapai
B. Teknik Massase
Menurut ([Link], 2010), teknik masase yang digunakan yaitu:
a. Effleurage (Menggosok)
Pelaksanaanya adalah jari-jari tangan rapat mencakup otot, gosokan menuju arah
jantung dan dilakukan secara berirama dan kontinyu. Teknik masase ini digunakan
sebagai manipulasi pembuka dan penutup.
b. Petrissage (Memijat)
dengan gerakan bergelombang, berirama, tidak terputus-putus. Petrissage dapat
dilakukan dengan satu tangan atau kedua tangan
c. Vibration (Menggetarkan)
Caranya dengan sikap membengkok siku, jari-jari ditekankan pada tempat yang
dikehendaki, kemudian kejangkan seluruh lengan tersebut. Kontraindikasi masase
kaki adalah masase tidak dapat dilakukan pada seseorang yang mengalami phlebitis,
trombosis, reaksi imflamasi, selulitis, gangguan perdarahan serta yang memiliki
luka terbuka atau kerusakan pada kaki (Turner & Merriman, 2005 dikutip
Ramadhani, 2011). Getaran ini dapat diberikan melalui ujung jari, dua jari atau tiga
jari yang dirapatkan.
C. Intervensi Bekam
Berbekam adalah menghisap darah dan mengeluarkannya dari permukaan kulit
dengan jarum, kemudian ditampung dalam gelas bekam, sehingga menyebabkan
27
pemusatan dan penarikan darah (Yasin, 2007). Bekam adalah pengeluaran darah dengan
cara pengekopan dibagian tertentu pada tubuh (Mustaqim, 2010).
Prosedur pelaksanaan terapi bekam
Adapun cara melakukan bekam menurut Widada (2011), yaitu :
a. Siapkan gelas ukuran sedang yang telah dipasang alat pemantiknya, dalam keadaan
steril yang sebelumnya dapat direndam dalam alkohol kemudian dikeringkan dan
dibersihkan dengan kassa/tissu.
b. Bersihkan daerah yang di bekam dengan kapas/kassa yang telah diberi alkohol. Lalu
oleskan minyak habatussauda.
c. Kokang secukupnya 2-3 kali, tidak terlalu kuat atau lemah, kemudian geserkan
gelas bekam ke bagian titik yang dibekam, tanpa melepas penyedotnya. Jika terlalu
lemah sedotannya maka gelas bekam akan lepas, sedot lagi secukupnya. Cara ini
disebut "Bekam Luncur", untuk mendapatkan kelenturan kulit dan daging sebelum
bekam kering, serta memberikan efek nyaman pada klien.
d. Kokang atau sedot secukupnya 4-5 kali sehingga gelas menempel berada di daerah
yang dibekam, kemudian tunggu 5-7 menit.
e. Bukalah penutup gelas bagian atas agar udara dapat masuk, sehingga gelas bekam
mudah diambil.
f. Ambil lancet pen lalu tusukkan ke daerah yang di bekam secukupnya (jangan terlalu
dalam dan banyak sayatan) dan arah sayatan harus searah dematom kulit (jangan
berlawanan karena saraf dan pembuluh darah bisa terputus).
g. Ambil gelas dan pemantiknya, arahkan ke tempat semula, lalu kokang secukupnya.
Kemudian tunggu sampai darah keluar 5-7 menit.
h. Ambil tissu dan letakkan di bawah gelas dengan tangan kiri, lalu perlahan buka
penutup udara bagian atas gelas dan segera buka, ditekan lalu arahkan agar darah
masuk semua ke dalam gelas bekam dengan tangan kanan. Tahan tissu dengan
tangan kiri sampai sisa darah habis dan bersihkan dengan tissu tersebut sampai
bersih.
i. Bersihkan gelas bekam yang berisi darah dengan tissu.
j. Tutup luka sayatan/tusukan dengan membersihkan sisa darah dan mengoleskan
betadine. Luka akan tertutup dan sembuh dalam waktu 3 hari.
Othematoma
Pada beberapa kasus kelainan pada telinga terjadi kelainan yang disebut othematoma
atau popular dengan sebutan ‘telinga bunga kol’, suatu kondisi dimana terjadi gangguan p
ada tulang rawan telinga yang dibarengi dengan pendarahan internal serta pertumbuhan ja
ringan telinga yang berlebihan (sehingga telinga tampak berumbai laksana bunga kol). Ke
lainan ini diakibatkan oleh hilangnya aurikel dan kanal auditori sejak lahir. (encharta ensi
klopedi).
28
Penyumbatan
Kotoran telinga (serumen) bisa menyumbat saluran telinga dan menyebabkan gatal-
gatal, nyeri serta tuli yang bersifat sementara. ). Tetapi jika dari telinga keluar nanah, terj
adi perforasi gendang telinga atau terdapat infeksi telinga yang berulang, maka tidak dila
kukan irigasi. Jika terdapat perforasi gendang telinga, air bisa masuk ke telinga tengah da
n kemungkinan akan memperburuk infeksi.
Pada keadaan ini, serumen dibuang dengan menggunakan alat yang tumpul atau deng
an alat penghisap. Biasanya tidak digunakan pelarut serumen karena bisa menimbulkan ir
itasi atau reaksi alergi pada kulit saluran telinga, dan tidak mampu melarutkan serumen se
cara adekuat.
Perikondritis
Perikondritis adalah suatu infeksi tulang rawan kartilago (Telinga Luar). Perikondritis
dapat terjadi akibat :
1. Cedera.
2. Gigitan serangga.
3. Pemecahan bisul dengan sengaja.
Nanah akan terkumpul diantara kartilago dan lapisan jaringan ikat di sekitarnya (perik
ondrium). Kadang nanah menyebabkan terputusnya aliran darah ke kartilago, menyebabk
an kerusakan pada kartilago dan pada akhirnya menyebabkan kelainan bentuk telinga. Me
skipun bersifat merusak dan menahun, tetapi perikondritis cenderung hanya menyebabka
n gejala-gejala yang ringan. Untuk membuang nanahnya, dibuat sayatan sehingga darah b
isa kembali mengalir ke kartilago.
Untuk infeksi yang lebih ringan diberikan antibiotik per-oral, sedangkan untuk infeksi
yang lebih berat diberikan dalam bentuk suntikan. Pemilihan antibiotik berdasarkan berat
nya infeksi dan bakteri penyebabnya. (medicastore). Ada banyak lagi gangguan yang terj
adi pada alat pendengaran kita ini, misalnya tumor, cedera, eksim, otitis dan lain-lain.
Tahap persiapan
A. Persiapan klien:
Memperkenalkan diri
Meminta pengunjung/keluarga menunggu di luar kamar
Menjelaskan tujuan
Menjelaskan langkah – langkah yang akan dilakukan
B. Persiapan lingkungan
Menutup pintu atau memasang sampiran
C. Persipan alat
Troli
Baskom dan alas
Bengkok (nierbekken)
Kapas
Minyak kelapa
29
Pangkal korek kuping, yang pipih
Ujung pulpen dan pentol korek api
Ujung pemeriksa yang terbuat dari karet, alat ini hanya sebagai pendukung untuk
menekan titik – titik reaksi positif
Baskom dengan air hangat, waslap, handuk
Sabun cuci tangan
Lap handuk
II. Tahap Pelaksanaan
1. Cuci tangan
2. Atur peralatan disamping tempat tidur klien
3. Tutup gorden atau pintu ruangan
4. Identifikasi klien secara tepat
5. Posisikan klien dengan tepat dan nyaman,
6. Lakukan pemeriksaan di tempat terang atau dibantu dengan lampu senter
7. Inspeksi kondisi telinga klien dari telinga luar hingga bagian dalam dan lakukan
palpasi/meraba telinga klien untuk mengetahui kondisi klien
8. Catat bila ada kelainan seperti, benjolan, kulit terkelupas atau tersa seperti pasir
9. Bila ada reaksi positif, tahan telunjuk pada bagian tersebut. Lalu gunakan ibu jari untuk
menekan bagian itu sehingga reaksi positif semakin jelas
10. Ambil kesimpulan dari reaksi positif yang kita temui
11. Setelah itu, lakukan pijatan seperti, tekan-angkat-tekan, Tekan-putar-tekan, lakukan
berulang-ulang dan Tekan sambil dijalankan perlahan,
12. Lakukan pemijatan pada masing-masing titik terapi selama 30 detik- 1 menit.
13. Rapikan kembali peralatan yang masih dipakai, buang peralatan yang sudah tidak
digunakan pada tempat yang sesuai.
14. Cuci tangan
[Link] Depresi
Depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang
mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang,
muncul perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan¸yang disertai perasaan sedih,
kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi yang menuju kepada
meningkatnya keadaan mudah lelah yang sangat nyata dan berkurangnya aktivitas.
Adapun Teknik terapi komplementer yang dapat dilakukan untuk penyakit ini yaitu:
b) Terapi rekreasi
Terapi rekreasi adalah kegiatan penyegaran kembali tubuh dan pikiran dan kegiatan yang
menggembirakan hati seperti hiburan atau piknik. Rekreasi dapat meningkatkan daya
kreasi manusia dalam mencapai kesinambungan antara bekerja dan beristirahat.
30
Terapi rekreasi pada lansia adalah aktivitas yang dilakukan pada waktu senggang
bertujuan untuk membentuk serta meningkatkan kembali kesegaran fisik, mental, pikiran
dan daya rekreasi (individual maupun kelompok) yang hilang akibat aktivitas rutin sehari
– hari dengan cara mencari kesenangan, hiburan, dan kesibukan yang berbeda. Rekreasi
dapat memberikan kepuasan serta kegembiraan yang ditujukan bagi kepuasan lahir dan
batin lansia.
Teknik terapi rekreasi yaitu:
[Link]
Persiapan alat:
1. Tidak membutuhkna alat khusus untuk jenis rekreasi yang tujuannya jalan –
jalan.
2. Untuk rekreasi yang bersifat olahraga dibutuhkan alat olahraga yang akan
dilakukan, misalnya peralatan golf jika olahraga yang dilakukan adalah golf.
3. Untuk rekreasi yang bersifat permainan, perlu dipersiapkan alat permainan
seperti permainan catur.
4. Bagi lansia yang aktivitas setiap harinya membutuhkan kacamata, tongkat,
kursi roda, maupun alat bantu jalan yang lain, keluarga perlu mempersiapkan.
Persiapan lingkungan:
1. Tidak ada persiapan khusus untuk lingkungan, hanya tergantung dari tingkat
rekreasi mana yang akan dikunjungi.
2. Hindari lokasi yang akan menimbulkan resiko cidera bagi lansia seperti
tangga,gunung atau tempat yang tinggi-jangan meninggalkan lansia sendirian
di tepi tangga,kolam renang atau laut.
3. Hindari tempat yang terlalu ramai karena akan membuat pusing lansia.
4. Hindari tempat yang panas,ajak ke tempat yang suasananya sejuk. Terutama
pada lansia yang memiliki ganguuan pernafasan.
Persiapan klien:
1. Pastikan klien dalam kondisi yang sehat
2. Jangan mengajak lansia pergi rekreasi dengan paksaan sebab dapat
mempengaruhi fungsi dari rekreasi dan lansia tidak akan menikmati piknik.
3. Pastikan alat yang biasa di gunakan lansia selalu dibawa.
[Link]
1. Memilih jenis rekreasi yang di inginkan lansia.
2. Memilih tujuan rekreasi yang akan dikunjungi.
3. Mempersiapakan kebutuhan yang akan diperlukan lansia.
4. Jangan lupa melihat kondisi lansia sebelum, selama perjalanan, saat di tempat
tujuan, dan setelah rekreasi.
[Link] evaluasi
31
1. Tanyakan apakah lansia merasa senang dan puas dengan rekreasi yang
dilakukan.
2. Pastikan bahwa lansia tidak merasa cemas, stress, maupun depresi setelah
perjalan rekreasi tersebut.
3. Pantau kondisi lansia seperti kondisi fisik seperti lemah.
4. Pastikan lansia tidak lupa untuk menkonsumsi obat – obatan apabila sedang
sakit.
5. Evaluasi apakah tempat rekreasi yang dikinjungi tadi bisa dijadikan tempat
berkunjung rutin atau justru tidak cocok dikunjungi lagi.
33
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Terapi Komplementer merupakan metode penyembuhan yang caranya berbeda
dari pengobatan konvensional di dunia kedokteran, yang mengandalkan obat kimia dan
operasi, yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan. Banyak terapi modalitas yang
digunakan pada terapi komplementer mirip dengan tindakan keperawatan seperti teknik
sentuhan, masase dan manajemen stress. Terapi komplementer merupakan terapi
tambahan bersamaan dengan terapi utama dan berfungsi sebagai terapi suportif untuk
mengontrol gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan berkontribusi terhadap
penatalaksanaan pasien secara keseluruhan.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan definisi pengobatan komplementer
tradisional – alternatif adalah pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi upaya promotif, preventif, kuratif
dan rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan
dan efektifitas yang tinggi berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik tapi belum diterima
dalam kedokteran konvensional. Dalam penyelenggaraannya harus sinergi dan
terintegrasi dengan pelayanan pengobatan konvensional dengan tenaga pelaksananya
dokter, dokter gigi dan tenaga kesehatan lainnya yang memiliki pendidikan dalam bidang
pengobatan komplementer tradisional – alternatif. . .
Jadi, Keperawatan komplementer adalah cabang ilmu keperawaratan yang menerapkan
pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang berfungsi
sebagai terapi suportif untuk mengontrol gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan
berkontribusi terhadap penatalaksanaan pasien secara keseluruhan, diperoleh melalui
pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan dan efektifitas yang tinggberlandaskan
ilmu pengetahuan biomedik
B. Saran
Sebagai tenaga kesehatan untuk memberika pelayanan kesehatan kepada masyrakat
pada zaman globalisasi ini kita perlu mengenal dan mengetahui mengenai keperawatan
komplementer sehingga dapat memberikan pelayanan yang baika.
34
DAFTAR PUSTAKA
Kusumanto, R., Iskandar, Y., 1981. Depresi, Suatu problema Diagnosa dan Terapi pada
praktek umum. Jakarta: Yayasan Dharma Graha
Kartono, Kartini. 2002. Patologi Sosial 3, Gangguan-gangguan Kejiwaan. Jakarta:
Rajawali Pers.
Martono, Hadi dan Kris Pranarka. 2010. Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri (Ilmu
Kesehatan Usia Lanjut).Edisi IV. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
Mubarak, Wahid Iqbal. 2009. Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep dan Aplikasi.J akarta
: Salemba Medika
Maryam, [Link]. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta : Salemba
Medika
Maslim, Rusdi. 2001. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Jakarta:
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya
35