Analisis EOQ dan Klasifikasi Obat di Apotek
Analisis EOQ dan Klasifikasi Obat di Apotek
Inayah; Dr. M. Benny Alexandri, SE. MBA; Dr. Ir. Meita Pragiwani, MM
Magister Manajemen
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia
Jakarta, Indonesia
malikiinayah@[Link]; bennyalexandri@[Link] meita_pragiwani@[Link]
I. PENDAHULUAN
Persediaan obat merupakan faktor yang berpengaruh terhadap setiap aktivitas pelayanan. Semakin
bertambahnya pesanan obat akan meningkatkan kebutuhan sebuah sistem pemesanan yang mampu
mengatasi kesulitan untuk mendapatkan informasi persediaan obat dengan cepat dan akurat (Anief, M.
2014).
Pelayanan kefarmasian di apotek salah satunya adalah pengadaan yaitu kegiatan yang dimaksudkan
untuk perencanaan kebutuhan. Pengadaan yang efektif harus menjamin ketersediaan, jumlah dan waktu
yang tepat dengan harga yang terjangkau dan sesuai dengan standar mutu. Pengadaan merupakan kegiatan
yang berkesinambungan mulai dari pemilihan, penentuan jumlah yang dibutuhkan juga penyesuaian antara
kebutuhan dan dana (Anief, M. 2014
Secara umum ada beberapa permasalahan di Klinik Apotek Dharma yang terkait dengan manajemen
pengadaan persediaan obat. Perencanaan pengadaan sediaan farmasi di Klinik Apotek Dharma belum
menggunakan analisis yang detail dan terstruktur. tetapi hanya berdasarkan perkiraan konsumsi. Frekuensi
pemesanan yang tidak terencana menyebabkan biaya yang dikeluarkan untuk pemesanan tidak dapat
diprediksi. Akibatnya sering terjadi kekurangan atau kekosongan obat (stock out) ataupun kelebihan stok
yang mengakibatkan beberapa obat menjadi kadaluarsa dan rusak.
Oleh karena itu dibutuhkan suatu motode pengendalian persediaan yang bertujuan mencapai
keseimbangan antara persediaan dan permintaan dibutuhkan di Klinik Apotek Dharma. Dengan
menerapkan perumusan persediaan obat ini diharapkan mampu mengatasi permasalahan yang sering timbul
dan dapat mempermudah kegiatan pengadaan persediaan obat agar menjadi lebih efektif dan efisien di
Klinik Apotek Dharma.
Tujuan Penelitian
Pengertian persediaan memiliki arti yang berbeda untuk setiap perusahaan. Pengertian ini tergantung
pada usaha dan aktivitas perusahaan. Persediaan adalah salah satu asset termahal dari banyak perusahaan,
mencerminkan sekitar 50% dari total modal yang diinvestsikan. Manajer operasi di seluruh dunia telah lama
menyadari bahwa manajemen persediaan yang baik adalah penting. Di satu sisi, sebuah perusahaan dapat
mengurangi biaya dengan mengurangi persediaan. Di sisi lain, produksi dapat berhenti dan pelanggan
merasa tidak puas ketika suatu barang tidak tersedia. Tujuan manajemen persediaan adalah menentukan
keseimbangan antara investasi persediaan dan pelayanan pelanggan. Perusahaan tidak aka pernah mencapai
strategi biaya rendah tanpa menajemen persediaan yang baik (Heizer dan Render, 2016: 553).
Manajemen persediaan obat bertujuan untuk membentuk suatu sistem yang merespon kebutuhan actual
pasien. Economic Order Quantity (EOQ) adalah pemodelan matematika yang paling banyak digunakan
untuk manajemen persediaan obat. Model EOQ digunakan untuk menghitung pemesanan dengan biaya
optimum dan seimbang antara biaya persediaan dan biaya tambahan. Pendekatan matematika lainnya
adalah peramalan permintaan dan waktu pemesanan kembali Re-Order Point (ROP) untuk memperkirakan
Safety Stock (SS) atau jumlah persediaan yang memadai (Quick, et al, 2012).
Dalam menganalisis pola konsumsi perbekalan farmasi yang biasa digunakan adalah Analisis
Klasifikasi ABC atau Pareto. Sementara analisis VEN (Vital, Esential, Non-Esensial) adalah suatu sistem
untuk menentukan seleksi, pengadaan dan penggunaan perbekalan farmasi. Untuk menghindari stock out
atau kekosongan dan memperbesar manfaat dana yang tersedia dapat dikontrol dengan analisis VEN.
Dengan demikian kombinasi analisis klasifikasi ABC dan VEN dapat digunakan untuk mengevaluasi pola
pengadaan dengan dasar prioritas (Bachrun, E.2017).
Analisis ABC Indeks Kritis merupakan analisis yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi
penggunaan dana dengan menggelompokkan obat atau perbekalan farmasi, terutama obat-obatan yang
digunakan berdasarkan dampaknya terhadap kesehatan. Analisis ABC Indeks Kritis merupakan kombinasi
dari analisis nilai pakai, nilai investasi dan nilai kritis obat (Febriawati, H. 2013: 92).
III. METODOLOGI
Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitaif untuk mengetahui keberadaan vaiabel mandiri baik
satu atau lebih tanpa membuat perbandingan atau mencari hubungan variable satu sama lain dengan
memaparkan bagaimana pengendalian persediaan obat yang diterapkan di Klinik Apotek Dharma
Tangerang. Lewat data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan metode economic order quantity
(EOQ), metode analisis klasifikasi ABC dan analisis vital, esensial dan non esensial (VEN).
Penelitian ini menggunakan unit analisis. Unit analisis pada penelitian ini berupa data persediaan obat
dan data biaya-biaya persediaan obat, serta pengambilan keputusan oleh Apoteker Penggelola Apotek dan
Pemilik Sarana Apotek sejak bulan Januari 2019 sampai bulan Desember 2019 .
Pengolahan data dalam penelitian ini adalah data yang berhubungan dengan pengadaan sediaan obat
yaitu data kuantitatif dan diolah menggunakan software microsoft excel, QM For Windows dan Pentabelan
Analisis Indeks Kritis ABC-VEN yang bertujuan mempermudah perhitungan dari data-data yang terkumpul
KLASIFIKASI VEN )
Mengelompokkan obat berdasarkan
dampak terhadap kesehatan (V,E dan N)
KLASIFIKASI ABC
Nilai investasi obat
Nilai pakai obat
Nilai kritis obat
Penyajian data pada penelitian ini menggunakan software QM .V dan tabel excel untuk mempermudah
pemahaman.
1. Analisis VEN
Analisis Data Metode Vital, Esensial dan Non esensial (VEN). Langkah awal dalam analisis metode
VEN dilakukan dengan mencari informasi dan dokumentasi kepada Apoteker Pengelola Apotek dan
Pemilik Sarana yang berwenang dalam mengeluarkan dokumen di Klinik Apotek Dharma dengan maksud
menetapkan obat-obat yang masuk dalam kategori vital, obat esensial dan obat non esensial, menyediakan
data pola penyakit dan standar pengobatan selama tahun 2019 (Febrawati, 2013 : 92).
Klasifikasi vital, esensial dan non esensial sebagai berikut (Kementerian Kesehatan RI, 2019):
Kelompok V (vital) adalah kelompok obat-obatan yang bersifat life saving atau sangat penting untuk
disediakan.
Kelompok E (esensial) adalah kelompok obat-obatan yang efektif dan signifikan bekerja pada penyakit.
Kelompok N (non-esensial) adalah kelompok obat-obatan untuk mengatasi sebagian kecil penyakit atau
penyakit yang dapat diatasi sendiri
2. Analisis ABC
a. Menentukan nilai investasi obat.
Menghitung nilai investasi obat dengan mengalikan harga obat dengan jumlah pemakaian dalam
periode Januari - Desember 2019.
Mengurutkan hasil dari jumlah investasi besar hingga terkecil
Mengelompokkan total investasi obat dalam kelompok ABC berdasarkan kriteria:
Kelompok A dengan nilai investasi obat 70%-80% dari keseluruhan investasi obat.
Kelompok B dengan nilai investasi obat 15%-20% dari keseluruhan investasi obat.
/Kelompok C dengan nilai investasi obat 5%-10% dari keseluruhan investasi obat.
2 ×𝐷 ×𝑆
EOQ (Q*) = √
𝐻
Dimana :
D = Permintaan
Q*= Kuantitas optimal (quantity optimal)
S = Biaya Pemesanan (cost of ordering)
H = Biaya penyimpanan (cost of holding)
𝑷𝒆𝒓𝒎𝒊𝒏𝒕𝒂𝒂𝒏 (𝑫)
𝑵=
𝑲𝒖𝒂𝒏𝒕𝒊𝒕𝒂𝒔 𝑷𝒆𝒔𝒂𝒏𝒂𝒏(𝑸)
𝐷 𝑄
TC = 𝑆 + 𝐻
𝑄 2
Dimana
Q = jumlah unit per pesanan
D = Permintaan tahunan dalam unit barang persediaan
S = Biaya pemesanan untuk setiap pesanan
H = Biaya penyimpanan atau membawa persediaan per unit per tahun
P = Harga barang perunit
d. Reorder Point (ROP) dan Safety Stock (Persediaan Pengaman). Rumus ROP (Heizer & Render,
2016:567)
Reorder point (ROP)
ROP = d x L
Dimana :
d: jumlah permintaan per hari
L: Lead time atau waktu tunggu yaitu waktu antara penempatan pesanan dan penerimaannya.
Apabila perusahaan mengambil kebijakan penggunaan safety stock maka ROP menjadi :
Keterangan :
SS = Persediaan pengaman (safety stock)
Σ = Standar deviasi
z = Faktor keamanan dibentuk atas dasar kemampuan perusahaan.
1. Analisis VEN
Dari sekitar 160 obat yang digunakan dalam pelayanan kefarmasian di Klinik Apotek Dharma
berdasarkan keputusan antara Apoteker Pengelola Apotek sebagai Penanggung Jawab Apotek dan Pemilik
Sarana Klinik Apotek Dharma yang juga merupakan seorang dokter yang berperan dalam pengadaan
sediaan obat maka dapat diklasifikasikan 66 jenis obat termasuk dalam golongan vital (V) yaitu 41,25%,
dimana yang termasuk golongan obat ini harus tersedia dalam waktu kurang dari 48 jam, 58 jenis obat
termasuk golongan esensial (E) yaitu 36,25 % dimana yang termasuk golongan obat ini bekerja pada
sumber penyakit dan kekosongannya dapat ditolerir dalam waktu sampai 48 jam dan 36 jenis obat termasuk
golongan Non Esensial (N) yaitu 22,5% dimana yang termasuk golongan ini adalah merupakan obat
penunjang yang kekosongannya dapat ditolerir lebih dari 48 jam. Berikut adalah hasil analisis klasifikasi
vital (V), esensial (E) dan non esensial (N).
2. Analisis ABC
2.1. Analisis ABC berdasarkan nilai investasi
Menurut Departemen Kesehatan RI tahun 2014 persediaan kelompok A adalah persediaan yang
jumlah nilai uang pertahunnya tinggi (60-90%) tetapi biasanya volumenya rendah. Kelompok B adalah
persediaan yang jumlah nilai uang pertahunnya sedang (20-30%) dan kelompok C adalah persediaan yang
nilai uang pertahunnya rendah (10-20%) tetapi biasanya volume nya besar.
Dalam penelitian analisis ABC ini dilakukan Analisis terhadap 160 unit obat yang tersedia di Klinik
Apotek Dharma dimana unit obat tersebut telah di klasifikasikan sesuai dengan Analisis vital (V), esensial
(E) dan Non esensial (N).
Kelompok A ada 57 unit (36%) dari obat golongan vital (V) dan esensial dengan Nilai Indek Kritis tinggi
yaitu 9-12. Obat-obat dalam kelompok A ini tidak boleh terjadi kekosoangan mengingat efek terapinya
terhadap pasien. Pemesanan dapat dilakukan dalam jumlah sedikt tetapi frekuensinya lebih sering dan
karena nilai investasinya cukup besar berpotensi memberikan keuntungan yang besar pula untuk Klinik
Apotek Dharma. Oleh karena itu kelompok A ini memerlukan pengawasan dan monitoring yang ketat,
pencatatan yang akurat dan lengkap serta pemantauan tetap oleh Apoteker Pengelola Apotek dan Pemilik
Sarana secara langsung.
Kelompok B ada 79 unit (49%) dari obat golongan vital, esensial dan non esensial dengan Nilai Indeks
Kritis sedang yaitu 6-8. Kekosongan obat kelompok B ini dapat ditoleransi tidak lebih dari 24 jam dengan
frekuensi pemesanan lebih jarang misalnya setiap dua minggu sekali, tetapi jumlah pemesanan boleh
relative lebih banyak. Pengawasan dan monitoring terhadap kelompok ini tidak terlalu ketat dibandingkan
kelompok A, misalnya dilakukan setiap tiga atau enam minggu sekali.
Kelompok C ada 24 unit (15%) dari obat golongan esensial (E) dan non esensial (N) dengan Nilai Indeks
Kritis rendah 4-6. Kekosongan obat kelompok C dapat lebih 24 jam, dengan frekuensi pemesanan lebih
jarang, disesuaikan dengan kebutuhan dan dana yang tersedia misalnya sebulan sekali. Pengawasan dan
monitoring terhadap kelompok ini dapat lebih longgar, misalnya dilakukan satu bulan sekali atau lebih.
Tabel 1.
Hasil Analisis Klasifikasi ABC Berdasarkan Nilai Investasi Klinik Apotek Dharma Tahun 2019
% %
JUMLAH jumlah Nilai nilai
GOLONGAN ABC OBAT obat Investasi investasi
NON
ESENSIAL A 6 16,67% Rp 136.295.616 72,65%
Tabel 2
% % NILAI
GOLONGAN ABC JUMLAH JUMLAH JUMLAH PAKAI
Tabel 3
Analisis klasifikasi golongan obat vital, esensial dan non esensial berdasarkan ABC Indeks Kritis
Klinik Apotek Dharma tahun 2019
NILAI
KLASIFIKASI GOLONGAN TOTAL INDEKS
V E N KRITIS
A 42 15 0 57 36% 9-12
B 24 43 12 79 49% 6-8
C 0 0 24 24 15% 4-5
Menurut Schoreder (2010) metode Economiq Order Quantity (EOQ) dapat membantu perusahaan
untuk menjaga agar proses produksi dapat berjalan dengan lancar sehingga perusahaan dapat menjaga
kesinambungan usahanya. Apabila berkesinambungan perusahaan terjaga, tentunya efektifitas produksi
dapat tercapai, mengingat salah satu tujuan produksi adalah menjaga kesinambungan usaha perusahaan.
Untuk kualitas produk, perusahaan harus memilih supplier yang menyediakan bahan baku yang baik dan
bisa menyediakan bahan baku tersebut tepat waktu karena selain menghambat proses produksi,
keterlambatan bahan baku juga berpengaruh terhadap kualitas produk.
Dari hasil perhitungan EOQ, Frekuensi Pemesanan dan Total Cost untuk unit obat di Klinik
Apotek Dharma bervariasi. Nilai EOQ tertinggi untuk golongan obat vital adalah 105 dengan frekuensi
pemesanan 11 kali dengan total cost Rp 481.602, 326 dan nilai EOQ terendah adalah 1 dengan frekuensi
pemesanan 1 kali dengan total cost Rp 54.399,632. Nilai EOQ tertinggi untuk obat golongan esensial adalah
41 dengan frekuensi pemesanan 9 kali dengan total cost Rp 9291,76 dan nilai EOQ terendah adalah 1
dengan frekuensi pemesanan 4 kali dengan total cost Rp 175.571. Nilai EOQ tertinggi untuk obat golongan
non esensial adalah 42 dengan frekuensi pemesanan 4 kali dengan total cost Rp 179543,42 dan nilai EOQ
terendah adalah 1 dengan frekuensi pemesanan adalah 2 dengan total cost Rp 104.715,97. Oleh karena itu
unit obat di Klinik Apotek Dharma dengan nilai EOQ tinggi harus lebih diperhatikan pengadaannya
terutama golongan obat vital dibandingkan dengan unit obat dengan nilai EOQ rendah.
Hasil Perhitungan EOQ, ROP dan SS untuk Wiaflox 500 mg dengan Software QM for Window V
Tabel 3.
4.1. Kesimpulan
Kelompok B dari golongan Vital (V), esensial (E) dan non esensial (N) merupakan persediaan
dengan nilai investasi sedang (15-20%) dari total nilai investasi. Dari golongan V yaitu 20,16%
dengan volume sediaan 18 unit (27,27%), golongan E yaitu 19,24% dengan volume sediaan 14
unit (24,14%) dan golongan N yaitu 19,44% dengan volume sediaan 7 unit (17,88 %).
Kelompok C dari golongan vital (V), esensial (E) dan non esensial (N) merupakan persediaan
dengan nilai investasi rendah (10-20%) dari total nilai investasinya. Dari golongan V yaitu 10,01%
dengan volume sediaan 31 unit (46,97%), golongan E yaitu 10,53% dengan volume sediaan 31
unit (53,44%) dan golongan N yaitu 9,48% dengan volume sediaan 23 unit (63,89%).
Klasifikasi ABC berdasarkan nilai pakai dari total pemakaian pertahun untuk masing-masing
golongan obat.
Kelompok A dari obat golongan V ada 17 unit ( 25,76% ) dengan jumlah pemakaian 5235 unit
(67,79%), golongan E 15 unit (25,86%) dengan jumlah pemakaian 1706 unit (69,12%), golongan
N ada 7 unit (19,44%) dengan jumlah pemakaian sebanyak 936 unit (70,86%). Obat yang
termasuk adalah obat dengan pemakaian tinggi (fast moving) dan juga volume yang tinggi.
Kelompok B dari obat golongan V ada 19 unit 28, 79%) dengan jumlah pemakaian 1559 unit
(20,78%), obat golongan esensial (E) ada 18 unit (31,03%) dengan jumlah pemakaian 529 unit
(21,43%), obat golongan non esensial (N) ada 10 unit (27,78%) dengan jumlah pemakaian 259
unit (19,53%). Obat kelompok B ini termasuk golongan moderate denagan volume dan nilai pakai
yang sedang.
Kelompok C dari obat golongan V ada 30 unit (45,45%) dengan jumlah pemakaian 707 unit
(9,43%) per tahun, obat golongan E ada 25 unit (43,10%) dengan jumlah pemakaian 233 (94,44%)
dan obat N ada 19 unit (52,78%) per tahun dengan jumlah pemakaian 127 unit (9,61%). Obat
kelompok C ini termasuk obat golongan slow moving dengan jumlah banyak tetapi tingkat
pemakaian nya rendah.
Klasifikasi ABC berdasarkan Indeks Kritis kelompok A ada 57 unit (36%) dari obat golongan
vital (V) dan esensial dengan Nilai Indek Kritis tinggi yaitu 9-12. Obat-obat dalam kelompok A
ini tidak boleh terjadi kekosoangan mengingat efek terapinya terhadap pasien. Kelompok B ada
79 unit (49%) dari obat golongan vital, esensial dan non esensial dengan Nilai Indeks Kritis sedang
yaitu 6-8. Kekosongan obat kelompok B ini dapat ditoleransi tidak lebih dari 24 jam dengan
frekuensi pemesanan lebih jarang. Kelompok C ada 24 unit (15%) dari obat golongan esensial (E)
dan non esensial (N) dengan Nilai Indeks Kritis rendah 4-6. Kekosongan obat kelompok C dapat
lebih 24 jam, dengan frekuensi pemesanan lebih jarang, disesuaikan dengan kebutuhan dan dana
yang tersedia.
3. Berdasarkan metode Economic Order Quantity (EOQ) jumlah pemesanan optimum untuk
golongan obat vital (V) 66 unit bervariasi dengan EOQ terendah 1 (2 unit) dan tertinggi 105 (1
unit), obat golongan esensial (E) bervariasi dengan EOQ terendah 1 (3 unit) dan tertinggi 41 (1
unit ), golongan obat non esensial (N) juga bervariasi EOQ terendah 1 (3 unit) dan tertinggi 58 (I
unit ). Berdasarkan perhitungan Reorder Point (ROP) dengan mempertimbangkan safety stock
diperoleh titik pemesanan kembali atau waktu pemesanan kembali dari 160 unit obat bervariasi.
Untuk golongan obat vital yaitu 0-10 unit, golongan obat esensial yaitu 0 -4 unit, golongan obat
non esensial 0 – 3 unit. Obat dengan nilai EOQ tinggi harus lebih diperhatikan pengadaannya
khususnya untuk golongan obat vital.
4. Pengadaan Obat di Klinik Apotek Dharma yang dilakukan di bagian pengadaan dan gudang
farmasi yaitu dengan stock opname, kartu stok dan buku defekta. Pengadaan persediaan farmasi
belum menggunakan metode khusus seperti analisis klasifikasi VEN untuk pengelompokkan
berdasarkan dampaknya terhadap kesehatan, analisis ABC untuk prioritas persediaan, Economic
Order Quantity (EOQ) untuk menentukan jumlah pemesanan optimum, Reorder Point (ROP) dan
Safety Stock (SS) untuk menentukan waktu pemesanan yang ideal.
4.2. Saran
1. Perlu adanya sistem informasi untuk dapat menghasilkan sistem informasi mengenai jumlah
pemakaian setiap obat, baik perbulan, triwulan atau tahunan agar memudahkan dalam menyusun
kebutuhan persediaan obat. Seperti penggunakan sistem informasi manajemen Apotek yang
terintegrasi ke setetiap pelayanan sehingga memeprmudah dalam pengawasan, pengadaan dan
pengendalian obat-obatan.
2. Perlu diterapkannya Analisis VEN untuk memberikan informasi yang akurat dalam pengendalian
obat-obat berdasarkan dampaknya terhadap kesehatan sehingga dalam pengadaan obat di Klinik
Apotek di perlukan formularium atau standar terapi yang dievaluasi setiap tahun.
3. Perlu diterapkannya metode Analisis ABC obat berdasarkan besarnya nilai investasi, sehingga
obat yang memakai anggaran investasi yang besar dapat lebih diperhatikan.
4. Perlu diterapkannya metode Analisis ABC berdasarkan besarnya nilai pakai, sehingga obat yang
nilai pakainya lebih tinggi lebih diperhatikan pengadaannnya.
5. Perlu diterapkannya metode Analisis ABC Indeks Kritis yang metupakan metode kombinasi
antara metode analisis ABC nilai investasi, ABC nilai pakai dan analisis vital (V), esensial (E) dan
non esensial (N) untuk memberikan prioritas yang berbeda terhadap setiap golongan obat karena
obat dengan nilai investasi, nilai pakai tinggi dan dampaknya terhadap kesehatan yang tinggi
memerlukan sistem pengendalian yang ketat dari pada obat yang memiliki nilai investasi dan nilai
pakai yang rendah.
6. Perlu diterapkanya metode EOQ untuk menghindari terjadinya kekosongan obat atau obat yang
berlebih (kadaluarsa) karena selama ini Klinik Apotek Dharma sering mengalami kekosongan
obat, obat berlebih yang berakibat obat menjadi rusak (kadaluarsa).
7. Perlu diterapkannya metode Reorder Point (ROP) dan Safety Stock (SS) sehingga titik pemesanan
ulang dan stok pengaman dari unit obat dapat dikendalikan.
DAFTAR REFERENSI
Anief, M. (2014). Manajemen Farmasi, Universitas Gajah Mada Press. Cetakan VI, 2014, 10-22.
Bachrun E.,(2017), Efektifitas Metode ABC (Activity Based Costing) Dalam Analisis Perencanaan Obat
JKN di Puskesmas Dagangan Kabupaten Madiun. Jurnal Kesehatan, Vol. No. 2, 250, E-ISSN 2548
5695, P-ISSN 2086 7751. Akreditasi Sinta 3.
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan. Laporan Tahunan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan
tahun 2019. Serang, Banten.
Citraningtyas, et. al. (2019). Analisis Perencanaan Pengadaan Obat Antibiotika Berdasarkan Analisis ABC
Indeks Kritis Di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Luwuk. Jurnal Farmasi–Unsrat. Vol
8. No.1 Februari 2019, GARUDA, ISSN 2303-2493 EISSN 27214923 DOI 10.35799.
Daft, R. L. 2012. Manajemen, Salemba Empat, ediisi IX hal 24
Departemen Kesehatan RI, 2010. Pedoman Teknis Pengadaan Obat Publik Dan Perbekalan Kesehatan
Untuk Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta.