0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
57 tayangan2 halaman

Struktur Carina Sterni pada Burung

Tulang burung memiliki struktur ringan dan berongga yang memungkinkan terbang. Struktur ini mencakup sternum yang lebar untuk pelekatan otot dan tulang bersilang. Bulu burung memiliki struktur yang kuat dengan hamulus dan sulcus untuk menahan tekanan udara saat terbang. Otot pektoralis dan suprakorakoideus berperan dalam mengangkat dan menurunkan sayap untuk terbang.

Diunggah oleh

zukniindarwani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
57 tayangan2 halaman

Struktur Carina Sterni pada Burung

Tulang burung memiliki struktur ringan dan berongga yang memungkinkan terbang. Struktur ini mencakup sternum yang lebar untuk pelekatan otot dan tulang bersilang. Bulu burung memiliki struktur yang kuat dengan hamulus dan sulcus untuk menahan tekanan udara saat terbang. Otot pektoralis dan suprakorakoideus berperan dalam mengangkat dan menurunkan sayap untuk terbang.

Diunggah oleh

zukniindarwani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

skleton

Struktur rangka Burung memiliki struktur tulang yang telah beradaptasi untuk terbang.
Contohnya Burung memiliki sternum (tulang dada) yang pipih dan luas dimana berguna
sebagai tempat pelekatan otot. Selain itu Tulang-tulang burung berongga dan ringan dan kuat
tentunya karena memiliki struktur bersilang. Hal ini memungkinkan burung untuk terbang.
Selain itu Burung memiliki struktur skeleton yang ringan karena berongga serta didukung
oleh adanya carina sterni. Carina sterni merupakan modifikasi dari sternum dan merupakan
tempat perlekatan otot pectoralis yang mendukung untuk terbang. Carina sterni memperluas
melekatnya otot-otot yang mendukung untuk kemampuan terbang. Bentuk dan ukuran carina
sterni baik panjang, lebar maupun tinggi bervariasi pada setiap jenis. Semakin besar ukuran
carina sterni semakin banyak pula otot pectoralis yang dapat melekat.

Secara umum bulu terdiri dari struktur berikut:


 calamus - batang berongga dari bulu yang menempel pada kulit burung
 rachis - batang tengah bulu tempat baling-baling dipasang
 vane - bagian rata dari bulu yang menempel di kedua sisi rachis (setiap bulu memiliki
dua vane)
 barbs - banyak cabang dari rachis yang membentuk baling-baling
 barbules - ekstensi kecil dari barbs yang disatukan oleh barbicels
 barbicels - kait kecil yang saling terkait untuk menahan barbula
.

Gambar 3.  Struktur dalam vane di mana terdapat mekanisme kait (sumber: Ornithology

Bulu pada sayap merupakan bulu sempurna. Bulu ini memilki bagian-bagian yakni calamus,
rachis, barbae dan barbulae. Barbulae terdapat sulcus yang terletak pada bagian proximal dan
bagian distalnya terdapat hamulus. Hamulus akan mengait pada sulcus sehingga barbulae-
barbulae ini dapat membentuk vexilum (bendera bulu) sehingga bulu dapat kuat dalam
menahan tekanan udara.

Pengamatan ini menggunakan empat jenis bulu yaitu burung merpati (Columba livia),
burung nuri maluku (Eos bornea), bebek (Anas sp) dan ayam (Gallus gallus domesticus).
Struktur pembentukan bulu memiliki kesamaan tetapi berbeda pada kerapatannya.
Pengamatan struktur bulu diketahui kelengkungan Hamulus  merpati (Columba livia), ayam
(Gallus gallus), bebek (Anas sp), burung nuri maluku (Eos bornea). Semakin melengkung
hamulus, maka semakin kuat ikatan dengan sulcus, dengan kata lain bulu tersebut memiliki
kerapatan yang lebih tinggi. Kerapatan bebek (Anas sp) lebih renggang dibandingkan ayam
(Gallus gallus domesticus), sedangkan ayam (Gallus gallus domesticus) tingkat kerapatannya
lebih renggang dari pada merpati (Columba livia). Tingkat kerapatan Barbulae dapat
mempengaruhi kemampuan terbang aves. Barbulae disusun oleh sulcus dan hamulus.

Aves dapat terbang karena mempunyai sayap dan berat badanya relatif ringan. Otot-otot yang
berperan dalam proses terbang, adalah otot-otot pektoral (musculli pectoralis). Otot-otot
pektoral terdiri dari 2 otot, yaitu otot pectoral mayor dan otot supracoracoideus atau lebih
dikenal dengan otot pectoral minor (Young, 1962).

Kedua ujung otot pektoral terikat di carina atau sterni, sedang ujung lain terikat pada kepala
humerus dari sayap di sebelah ventro lateral (Jasin, 1992). Warna otot pektoral ayam berbeda
dengan otot pectoral merpati. Otot pektoral ayam berwarna putih, sedangkan otot pektoral
merpati berwarna merah. Warna merah merupakan warna mioglobin. Semakin banyak
mioglobin pada otot, maka semakin merah warna otot. Fungsi mioglobin sama dengan fungsi
hemoglobin pada darah, yaitu sebagai pengikat oksigen
Otot pektoralis mayor merupakan otot depressor dan berkaitan dengan gerakan menurunkan
sayap saat terbang. Otot pektoralis mayor ini menyusun 1/5 total berat tubuh burung. Otot
pektoralis minor berperan dalam mengangkat sayap pada saat burung sedang terbang (Sukiya,
2005).

Otot pektoral menjadi bagian utama untuk gerakan depresor pada sayap. Kontraksi otot-otot
pektoralis berperan menarik sayap kebawah dan kedepan yang memberikan daya angkat bagi
tubuh burung. Otot suprakorakoid merupakan otot yang berkaitan dengan gerakan sayap
keatas, juga terletak pada sternum arah proksimal dari pectoralis mayor dan masuk pada sisi
atas humerus
Otot suprakorakoid digunakan terutama saat akan terbang dan tidak dibutuhkan saat sedang
terbang, berperan mengangkat sayap untuk terbang dengan tetap menjaga keseimbangan
massa tubuh. Pada burung Merpati pengangkatan sayap terutama disebabkan oleh kontraksi
otot suprakorakoideus, yang bermula pada sisi ventral dari sternum.

Anda mungkin juga menyukai