LAPORAN PENDAHULUAN
PADA PASIEN DENGAN MASALAH GANGGUAN JIWA HARGA
DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT JIWA DR. RADJIMAN
WEDIODININGRAT LAWANG MALANG
Untuk memenuhi tugas
Praktik Klinik Keperawatan Jiwa
Oleh :
NAMA : Maulidyah Izha Arrohma
NIM : P17230194107
KEMENTRIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN BLITAR
LAPORAN PENDAHULUAN
PADA PASIEN DENGAN MASALAH GANGGUAN JIWA HARGA DIRI RENDAH DI
RUMAH SAKIT JIWA DR. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG MALANG
1. Keluhan / Masalah Utama
Harga Diri Rendah
2. Proses Terjadinya Masalah
A. Pengertian
Menurut Keliat, 1998, harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga,
tidak berarti dan rendah hati yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif
terhadap diri sendiri atau kemampuan diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan
diri, merasa gagal karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri (Iyus
Yosep, 2016).
Harga diri rendah adalah semua pemikiran, kepercayaan dan keyakinan
yang merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan mempengaruhi
hubungannya dengan orang lain. Harga diri terbentuk waktu lahir tetapi dipelajari
sebagai hasil pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang
terdekat dan dengan realitas dunia (Dylan, 2017).
Dapat disimpulkan bahwa harga diri rendah adalah kurangnya rasa
percaya diri sendiri yang dapat mengakibatkan pada perasaan negatif pada diri
sendiri, kemampuan diri dan orang lain. Yang mengakibatkan kurangnya
komunikasi pada orang lain.
B. Penyebab / Etiologi
Harga diri rendah disebabkan karena adanya ketidakefektifan koping
individu akibat kurangnya umpan balik yang positif. Penyebab harga diri rendah
juga dapat terjadi pada masa kecil sering disalahkan, jarang diberi pujian atas
keberhasilannya. Saat individu mencapai masa remaja keberadaannya kurang
dihargai, tidak diberi kesempatan dan tidak diterima. Menjelang dewasa awal
sering gagal disekolah, pekerjaan atau pergaulan.
Faktor yang mempengaruhi harga diri rendah meliputi faktor predisposisi
dan faktor presipitasi yaitu :
a. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi yang menimbulkan harga diri rendah antara lain :
1) Biologis
Faktor herediter (keturunan) seperti adanya riwayat anggota
keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Selain itu, adanya
riwayat penyakit kronis atau trauma kepala merupakan salah satu
faktor penyebab gangguan jiwa.
2) Psikologis
Masalah psikologis yang dapat menyebabkan timbulnya
harga diri rendah adalah pengalaman masa lalu yang tidak
menyenangkan, penolakan dari lingkungan dan orang terdekat
serta harapan yang tidak realistis. Kegagalan berulang, kurang
mempunyai tanggung jawab personal, dan memiliki
ketergantungan yang tinggi pada orang lain merupakan faktor lain
yang menyebabkan gangguan jiwa. Selain itu, klien dengan harga
diri rendah memiliki penilaian yang negatif terhadap gambaran
dirinya, mengalami krisis identitas, peran yang terganggu, ideal
diri yang tidak realistis.
3) Faktor Sosial Budaya
Pengaruh sosial budaya yang dapat menimbulkan harga diri
rendah adalah adanya penilaian negatif dari lingkungan terhadap
klien, sosial ekonomi rendah, pendidikan yang rendah serta adanya
riwayat penolakan lingkungan pada tahap tumbuh kembang anak.
b. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi yang menimbulkan harga diri rendah antara lain:
1) Riwayat Trauma
Riwayat trauma seperti adanya penganiayaan seksual dan
pengalaman psikologis yang tidak menyenangkan, menyaksikan
peristiwa yang mengancam kehidupan, menjadi pelaku, korban
maupun saksi dari perilaku kekerasan.
2) Ketegangan Peran
Ketegangan peran dapat disebabkan karena :
a) Transisi peran perkembangan :
Perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan
seperti transisi dari masa kanak-kanak ke remaja.
b) Transisi peran situasi :
Terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota
keluarga melalui kelahiran atau kematian.
c) Transisi peran sehat-sakit :
Merupakan akibat pergeseran dari kondisi sehat-sakit.
Transisi ini dapat dicetuskan antara lain karena kehilangan
sebagian anggota tubuh, perubahan ukuran, bentuk,
penampilan atau fungsi tubuh. Atau perubahan fisik yang
berhubungan dengan tumbuh kembang normal, prosedur
medis dan keperawatan. (Ns. Nurhalimah, [Link]., 2016)
C. Tanda dan Gejala Harga Diri Rendah
Gangguan diri atau harga diri rendah dapat terjadi secara :
1. Situasional
Terjadi trauma yang tiba-tiba. Misalnya harus di operasi, kecelakaan, di
ciderai, putus sekolah, perasaan malu karena sesuatu (korban perkosaan,
dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba, dll). Pada klien yang dirawat dapat terjadi
harga diri rendah karena :
a) Privacy yang kurang diperhatikan, misalnya : pemeriksaan fisik yang
sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan (pencukuran rambut
pubis, pemasangan kateter, pemeriksaan perineal).
b) Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai
karena dirawat/sakit/penyakit.
c) Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai, misalnya berbagai
pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, berbagai tindakan dilakukan
tanpa persetujuan.
Tanda dan gejala harga diri rendah situasional (SDKI,2016):
Subjektif
a) Menilai diri negatif (mis. tidak berguna, tidak tertolong)
b) Merasa malu/bersalah
c) Melebih-lebihkan penilaian negatif tentang diri sendiri
d) Sulit berkonsentrasi
Objektif
a) Berbicara pelan dan lirih
b) Menolak berinteraksi dengan orang lain
c) Berjalan menunduk
d) Postur tubuh menunduk
e) Kontak mata kurang
f) Lesu dan tidak bergairah
g) Pasif
h) Tidak mampu membuat keputusan
2. Kronis
Perasaan negative terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum
sakit atau dirawat. Klien ini mempunyai cara berfikir yang negative. Kejadian
sakit dan dirawat akan menambah persepsi negative terhadap dirinya. Kondisi
ini dapat ditemukan pada klien gangguan fisik yang kronis atau pada klien
gangguan jiwa. Dalam tinjauan Life Spain History klien, penyebab HDR
adalah kegagalan tumbuh kembang, misalnya sering disalahkan, kurang
dihargai, tidak diberi kesempatan dan tidak diterima dalam kelompok (Yosep,
2007).
Tanda dan gejala harga diri rendah kronis (SDKI,2016):
Subjektif
a) Menilai diri negatif (mis. tidak berguna, tidak tertolong)
b) Merasa malu/bersalah
c) Merasa tidak mampu melakukan apapun
d) Meremehkan kemampuan mengatasi masalah
e) Merasa tidak memiliki kelebihan atau kemampuan positif
f) Melebih-lebihkan penilaian negatif tentang diri sendiri
g) Menolak penilaian positif tentang diri sendiri
h) Merasa sulit konsentrasi
i) Sulit tidur
j) Mengungkapkan keputusasaan
Objektif
a) Enggan mencoba hal baru
b) Bejalan menunduk
c) Postur tubuh menunduk
d) Kontak mata kurang
e) Lesu dan tidak bergairah
f) Berbicara pelan dan lirih
g) Pasif
h) Perilaku tidak asertif
i) Mencari penguatan secara berlebihan
j) Bergantung pada pendapat orang lain
k) Sulit membuat keputusan
D. Rentang Respon
Adapun tentang respon konsep diri dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Respon Adaptif Respon Maladaptif
Aktualisasi Konsep Harga Diri Keracunan Depersonalisasi
Diri Diri Rendah Identitas
Positif
Respon Adaptif terhadap konsep diri meliputi :
a. Aktualisasi Diri
Pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan latar belakang
pengalaman nyata yang sukses dan dapat diterima, individu dapat
mengapresiasikan kemampuan yang dimilikinya.
b. Konsep Diri Positif
Apabila individu mempunyai pengalaman positif dalam beraktualisasi diri
dan menyadari hal-hal positif maupun yang negatif dari dirinya. Individu
dapat mengidentifikasi kemampuan dan kelemahannya secara jujur dalam
menilai suatu masalah individu berfikir secara positif dan realistis.
Respon Maladaptif dari konsep diri meliputi :
a. Harga Diri Rendah
Individu cenderung untuk menilai dirinya negatif dan merasa lebih rendah
dari orang lain.
b. Kekacauan Identitas
Suatu kegagalan individu mengintegrasikan berbagai identifikasi masa
kanak-kanak kendala kepribadian psikososial dewasa yang harmonis.
c. Depersonalisasi
Perasaan yang tidak realitas dan asing terhadap diri sendiri yang
berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat membedakan
dirinya dengan orang lain.
E. Akibat
Harga diri rendah dapat membuat klien menjadi tidak mau maupun tidak
mampu bergaul dengan orang lain yang mengakibatkan terjadinya isolasi social:
menarik diri. Isolasi social (menarik diri) adalah gangguan kepribadian yang tidak
fleksibel pada tingkah laku yang maladaptive, mengganggu fungsi seseorang
dalam hubungan social (Depkes RI, 1998). Tanda dan gejala :
a. Data subjektif
1. Mengungkapkan untuk memulai hubungan atau pembicaraan.
2. Mengungkapkan perasaan malu untuk berhubungan dengan orang lain.
3. Mengungkapkan kekhawatiran terhadap penolakan oleh orang lain.
b. Data objektif
1. Kurang spontan ketika diajak bicara.
2. Apatis, ekspresi wajah kosong.
3. Bicara dengan suara pelan dan tidak ada kontak mata saat bicara.
F. Mekanisme Koping
Seseorang dengan harga diri rendah memiliki mekanisme koping jangka
pendek dan jangka panjang. Jika mekanisme koping jangka pendek tidak
memberikan hasil yang telah diharapkan individu, maka individu dapat
mengembangkan mekanis koping jangka panjang (Direja, 2011). Mekanisme
tersebut mencangkup sebagai berikut :
1. Jangka Pendek
a) Aktivitas yang dilakukan untuk pelarian sementara yaitu :
pemakaian obat-obatan, kerja keras, nonton tv secara terus
menerus.
b) Aktivitas yang memberikan penggantian identitas bersifat
sementara, misalnya ikut kelompok sosial, agama, dan politik.
c) Aktivitas yang memberikan dukungan bersifat sementara misalnya
perlombaan.
2. Jangka Panjang
a) Penutupan identitas
Terlalu terburu-buru mengadopsi identitas yang disukai dari orang-
orang yang berarti tanpa memperhatikan keinginan atau potensi
diri sendiri.
b) Identitas Negatif
Asumsi identitas yang bertentngan dengan nilai-nilai dan harapan
masyarakat.
3. Pohon Masalah
Proses Terjadinya Harga Diri Rendah (Febrina, 2018)
Faktor Predisposisi Faktor Presipitasi
Ketegangan Peran :
1. Transisi peran
Faktor Biologis : perkembangan
1. Faktor herediter 2. Transisi peran situasi
2. Riwayat penyakit atau 3. Transisi peran sehat-
trauma kepala sakit
4. Masalah Keperawatan
Masalah yang ditemukan adalah harga diri rendah kronis dan harga diri rendah
situasional.
Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
Data yang perlu dikaji :
a. Data subjektif : klien menilai diri negatif, merasa malu/bersalah, merasa tidak
mampu melakukan apapun, merasa sulit konsentrasi, sulit tidur, mengungkapkan
keputusasaan.
b. Data objektif : klien terlihat enggan mencoba hal baru, kontak mata kurang, lesu dan
tidak bergairah, berbicara pelan dan lirih, dan pasif.
5. Diagnosa Keperawatan
Harga diri rendah kronis berhubungan dengan kurangnya pengakuan dari orang
lain ditandai dengan menilai diri negatif, merasa malu/bersalah, merasa tidak mampu
melakukan apapun, merasa sulit konsentrasi, sulit tidur, mengungkapkan keputusasaan,
enggan mencoba hal baru, kontak mata kurang, lesu dan tidak bergairah, berbicara pelan
dan lirih, dan pasif.
6. Perencanaan Tindakan Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi
Keperawatan Hasil
D.008 Harga diri rendah Setelah dilakukan Manajemen Perilaku
6
kronis berhubungan intervensi 6x24 jam harga (1.12463)
dengan kurangnya diri meningkat dengan Observasi:
pengakuan dari kriteria hasil: (L.09069) 1. Identifikasi harapan
orang lain ditandai 1. Penilaian diri positif untuk
dengan menilai diri meningkat mengendalikan
negatif, merasa 2. Perasaan memiliki perilaku
malu/bersalah, kelebihan atau Terapeutik
merasa tidak kemampuan positif 1. Diskusikan
mampu melakukan meningkat tanggung jawab
apapun, merasa 3. Penerimaan penilaian terhadap perilaku
sulit konsentrasi, positif terhadap diri 2. Jadwalkan kegiatan
sulit tidur, sendiri meningkat terstruktur
mengungkapkan 4. Berjalan 3. Ciptakan dan
keputusasaan, menampakkan wajah pertahankan
enggan mencoba meningkat lingkungan dan
hal baru, kontak 5. Konsentrasi kegiatan perawatan
mata kurang, lesu meningkat konsisten setiap
dan tidak bergairah, 6. Tidur meningkat dinas
berbicara pelan dan 7. Kontak mata 4. Tingkatkan aktivitas
lirih, dan pasif. meningkat fisik sesuai
8. Aktif meningkat kemampuan
9. Perasaan malu 5. Batasi jumlah
menurun pengunjung
10. Perasaan bersalah 6. Bicara dengan nada
menurun rendah dan tenang
11. Perasaan tidak 7. Lakukan kegiatan
mampu melakukan pengalihan terhadap
apapun menurun sumber agitasi
8. Cegah perilaku pasif
dan agresif
9. Beri penguatan
positif terhadap
keberhasilan
mengendalikan
perilaku
10. Lakukan
pengekangan fisik
sesuai indikasi
11. Hindari bersikap
menyudutkan dan
menghentikan
pembicaraan
12. Hindari sikap
mengancam dan
berdebat
13. Hindari berdebat
atau menawar batas
perilaku yang telah
ditetapkan
Edukasi
1. Informasikan
keluarga bahwa
keluarga sebagai
dasar pembentukan
kognitif.
DAFTAR PUSTAKA
Dylan (2017) ‘Keperawatan harga diri rendah’, Journal of Chemical Information and Modeling,
110(9), pp. 1689–1699.
Febrina, R. (2018) ‘Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Keluarga Dengan Harga Diri Rendah Kronis
di Wilayah Kerja Puskesmas Nanggalo Padang’, Karya Tulis Ilmiah. Program Studi D III
Keperawatan Padang. Politeknik Kemenkes Padang.
Ns. Nurhalimah, [Link]., S. K. . (2016) PRAKTIKUM KEPERAWATAN JIWA.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
(1st ed.). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (n.d.). Standar Intervansi Keperawatan Indonesia (1st
ed.). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (1st
ed.). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI.