0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
177 tayangan12 halaman

Tradisi Perkawinan Adat Jawa Tengah

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang perbedaan tradisi perkawinan di berbagai budaya, termasuk di Indonesia. Tradisi perkawinan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti lingkungan, agama, dan pengetahuan yang dimiliki masyarakat. Di Indonesia, perkawinan diatur oleh hukum dan tradisi yang berbeda di setiap daerah. Salah satu tradisi perkawinan yang dijelaskan adalah Upacara Mulo Cucu

Diunggah oleh

Zalima Sadiah Fitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
177 tayangan12 halaman

Tradisi Perkawinan Adat Jawa Tengah

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang perbedaan tradisi perkawinan di berbagai budaya, termasuk di Indonesia. Tradisi perkawinan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti lingkungan, agama, dan pengetahuan yang dimiliki masyarakat. Di Indonesia, perkawinan diatur oleh hukum dan tradisi yang berbeda di setiap daerah. Salah satu tradisi perkawinan yang dijelaskan adalah Upacara Mulo Cucu

Diunggah oleh

Zalima Sadiah Fitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan manusia kebudayaan memgang peranan penting, dengan kebudayaan

manusia merasakan adannya ketenangan batin yang tidak didapatkan dari manapun. Karena

dengan adanaya kebudayaan maka manusia dapat bersosialisasi dengan makhluk yang lain.

Budaya satu daerah dengan daerah yang lainnya memiliki berbagai bentuk dan ciri tersendiri,

perbedaan kebudayaan tersebut disebabkan factor lingkungan, factor alam, dan factor

manusia itu sendiri serta berbagai factor lainnya yang menimbulkan keberagaman budaya

tersebut.

Manusia memiliki kaitan yang erat dengan keberadaan suatu budaya. Manusia lahir dan

hidup bersama dengan budaya yang berkembang dalam masyarakat dimana manusia tersebut

dilahirkan. Menurut Taylor (dalam Wahyu, 2013) budaya adalah suatu keseluruhan yang

kompleks meliputi dari pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, adat istiadat, hukum,

serta kebiasaan lainnya yang dipelajari dalam anggota masyarakat.

Menurut Duvall (dalam Natalia & Iriani, 2002) kebudayaan yang berbeda melahirkan

masyarakat yang berbeda diberbagai aspek kehidupan, termasuk juga dalam mengatur

hubungan perkawinan. Menurut Asmidar (2015) perkawinan merupakan ikatan lahir dan

batin antara seorang laki-laki dengan seorang wanita dalam suatu hubungan suami istri yang

diberikan kekuatan pada sanksi sosial. Sedangkan menurut Walgito (2004) perkawinan

adalah suatu penyatuan jiwa dan raga dua orang yang berlawanan jenis kelamin dalam suatu

ikatan yang suci, mulia dibawah lindungan hukum dan Tuhan Yang Maha Esa. Menurut

Kamal (2014) perkawinan merupakan suatu hak dan kewajiban masing-masing individu,

1
dalam menyangkut masalah kehidupan kekeluargaan baik hak dan kewajiban seperti status,

hak waris dan kependudukan di masyarakat.

Menurut Duvall (dalam Natalia & Iriani, 2002) perkawinan merupakan salah satu contoh

yang dapat dilihat secara adat istiadat, suku yang diterima serta diakui secara universal seperti

tradisi dalam perkawinan. Menurut Asmidar (2015) tradisi dalam perkawinan merupakan

kebiasaan secara turun-temurun yang diwariskan oleh leluhur untuk dilakukan pada saat

acara perkawinan. Sama halnya menurut Henslin (2007) yang menjelaskan bahwa pernikahan

dilihat sebagai suatu yang mengatur hubungan antar lawan jenis yang disetujui oleh

sekelompok orang, hal ini biasanya di tandai oleh suatu ritual tertentu (upacara pernikahan).

Seperti negara India, negara India melaksanakan perkawinan seperti festival seperti

banyaknya pernak-pernik dan tarian. Pelaksanaan hari perkawinan dilakukan upacara var

mala. Upacara var mala adalah upacara pengalungan bunga pada pasangan sebagai simbol

mempelai perempuan menerima mempelai laki-laki sebagai suami ([Link], 2017).

Begitu juga di negara Jerman, dalam perkawinan negara Jerman dilakukan upacara

pengantin memotong kayu. Pada hari perkawinan pengantin akan diminta untuk memotong

sebuah kayu dihadapan para tamu undangan. Acara ini dimaknai sebagai pembuktian

kekompakan pasangan pengantin yang baru menikah tersebut, agar nanti mereka bisa melalui

tantangan dalam menjalani kehidupan rumah tangga ([Link], 2017).

Bukan hanya di negara-negara lain, Indonesia juga memiliki tradisi yang berbeda dalam

perkawinan. Di Indonesia tidak hanya budaya yang mengatur tentang perkawinan tetapi juga

undang-undang. Undang-Undang yang mengatur tentang perkawinan yaitu pasal 1 nomor 1

tahun 1974 yang berbunyi “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan

seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang

2
bahagia dan kekal berdasarkan keTuhanan Yang Maha Esa”. Oleh karena itu perkawinan di

Indonesia diatur oleh undang-undang dan adat istiadat.

Peristiwa perkawinan adalah peristiwa yang sangat bermakna dalam kehidupan. Banyak

masyarakat yang menikah di lengkapi dengan tradisi adat atau berlandaskan adat. Hakikat

perkawinan sebagai sesuatu yang sakral, unik dan menyenangkan, sebaiknya dilakukan

dengan hati yang bahagia penuh cinta dan sayang, dimana seperangkat pengetahuan tentang

aturan dan tata cara membangun rumah tangga yang bahagia. Tujuan utama perkawinan

yakni terciptanya keluarga yang sakinah. Keluarga sakinah dapat di pandangan sebagai

keluarga yang damai, rukun, harmonis, bahagia lahir batin, yang dicapai secara bersama-

sama untuk saling memahami kebutuhan dan kekurangan antara pasangan serta saling

memenuhi hak dan kewajibannya.

Tradisi perkawinan dan aturannya dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, nilai, dan

kepercayaan yang dianut masyarakat tersebut, Seperti penelitian yang lakukan oleh Kamal

(2014) pada tradisi perkawinan adat jawa dimana hasil penelitian ini menjelaskan bahwa nilai

sosial pada tradisi perkawinan adat Jawa dipercaya akan mendatangkan suatu pengaruh yang

kuat berkenaan dengan kehidupan sosial budaya. Dimana nilai-nilai tersebut pada tradisi

perkawinan adat Jawa adalah untuk lebih meningkatkan ibadah dan pengucapan rasa syukur

kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah diberikan berkah, rahmat, serta pertolongan di

masa sekarang dan dimasa yang akan datang.

Begitu juga dengan tradisi perkawinan adat budaya Minangkabau, seperti penelitian yang

dilakukan oleh Hastuti & Oswari (2016) tentang budaya perkawinan masyarakat Minang

rantau di Jakarta yang menghasilkan akan pandangan masyarakat terhadap perkawinan adat

minang yang merupakan sarana untuk mempererat hubungan kekerabatan. Penelitian ini juga

menghasilkan akan nilai-nilai moral yaitu nilai berkaitan dengan ke Tuhanan Yang Maha

3
Esa. Nilai sosial terlihat dari menghormati orang lain, gotongroyong, mempererat hubungan

kekeluargaan, kerukunan, wujud pelestarian adat istiadat dan kehormatan, sedangkan nilai

moral individu dilihat dari tanggung jawab, permohonan restu kemandirian, rela berkorban.

Sama halnya dengan tradisi upacara mulo cucu ayae yang merupakan upacara perkawinan

masyarakat dusun Sungai Liuk Kerinci Jambi. Peneliti melakukan wawancara kepada salah

satu tokoh adat pada tanggal 17 Juli 2021, hasil wawancara tersebut ditemukan bahwa

masyarakat dusun Sungai Liuk Kerinci Jambi bersuku Minang dan Melayu “Melayuminang”,

yang menganut sistem adat Bersandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, yang berarti sunah

Rasul sebagai dasar pegangan hidup bermasyarakat (komunikasi personal, 17 Juli 2021).

Menurut Rio, Basri & Karisaid (2003) yang menjelaskan pada upacara mulo cucu ayae

kedua mempelai meminta do’a restu dari pemangku adat, pemerintahan, dan alim ulama,

serta meminta do’a keberakatan dan keselamatan hidup kepada Tuhan supaya mempelai bisa

berkembang dan mendapatkan keturunan. Upacara mulo cucu ayae terdapat simbol-simbol

diantaranya simbol benda dan simbol pelaksanaan yang memiliki nilai dan makna untuk

menjalani kehidupan bahtera rumah tangga.

Hasil wawancara dengan tokoh adat pada tanggal 17 Juli 20121 juga menjelaskan maksud

dalam mengikuti upacara mulo cucu ayae merupakan pemberian nasehat (multi nasehat)

untuk pengantin baru, agar pengantin baru tahu akan tujuan perkawinan sehingga kedua

mempelai tahu bagaimana cara berperilaku, bersikap dalam rumah tangga agar rumah tangga

dapat bertahan lama, bahagia dan harmonis. Tujuan upacara ini adalah memberikan nasehat

kepada pengantin baru yang merupakan awal dalam menjalani kehidupan berumah tangga

dan mendoa’akan yang terbaik untuk pengantin baru. Selesainya upacara kedua mempelai

akan diminta untuk sumpah sembah yang bermaksud kedua mempelai siap menjalankan

4
tugas-tugasnya dan membangun rumah tangga yang bahagia (komunikasi personal, 17 Juli

2021).

Berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh adat pada tanggal 22 Juli 2021, upacara ini

dilaksanakan sesudah ijab kabul, jika upacara ini tidak diadakan maka keluarga tersebut

dianggap melanggar aturan adat, sehingga keluarga tersebut akan diberikan konsekuensi

dengan membayar denda yang disepakati oleh lembaga adat. Denda tersebut dibayar kepada

lembaga adat untuk pembangunan, masjid, rumah adat, bantuan sosial dan lain-lainnya.

Bukan hanya sanksi jika tidak mengikuti upacara tersebut tetapi saat pelaksanaan upacara ini

terjadi kesalahan seperti kedua mempelai salah dalam posisi duduk, perlengkapan upacara

tidak lengkap atau salah maka kedua mempelai akan diberikan sanksi. Sanksi tersebut akan

diangkat menjadi sebuah acara penerimaan salah yang dinamakna “Nimu Saloah”. Hasil

wawancara kepada tokoh adat juga didapatkan bahwa tidak ada yang tidak melakukan tradisi

tersebut, akan tetapi kesalahan dalam pelaksanaan upacara tersebut sering terjadi namun

hanya diberi hukuman seperti tidak lengkap dalam persyaratan upacara maka diminta untuk

melengkapinya, jika tidak maka upacara tersebut belum dimulai (komunikasi personal, 22

Juli 2021). Dusun Sungai Liuk dibagi menjadi empat desa yaitu desa Sungai Liuk, desa

Sumur Gedang, desa Seberang dan desa Koto Dua. Namun masyarakat dusun Sungai Liuk

Kerinci Jambi menyimpulkan empat desa tersebut dengan dusun Sungai Liuk.

Upacara mulo cucu ayae yang dilaksakan oleh masyarakat dusun Sungai Liuk Kerinci

Jambi hanya untuk anak perempuan pertama dan anak perempuan satu-satunya. Hasil

wawancara yang dilakukan pada tanggal 17 Juli 2021 dengan tokoh adat, yang menjelaskan

bahwa upacara mulo cucu ayae adalah peresmian perkawinan anak perempuan yang pertama

atau menantu pertama di keluarga (nimu nantau partao), upacara mulo cucu ayae ini

dilakukan pada sepuluh kalbu atau kesatuan yaitu Depati Mudo, Depati Awal, Depati

5
Janggut, Depati Punjung, Depati Yudo, Depati Mentangung, Rio Balang, Rio Sko Dano

Datuk Najo, dan Ngabi Cinto Rio (komunikasi personal, 17 Juli 2021).

Hasil dari wawancara dengan tokoh adat pada tanggal 22 Juli 2021 juga menjelaskan

bahwa masyarakat dusun Sungai Liuk Kerinci Jambi memegang garis keturunan ibu sehingga

perempuan di dusun Sungai Liuk Kerinci Jambi dianggap istimewa karena semua warisan

didapatkan oleh perempuan, maka anak perempuan masyarakat dusun Sungai Liuk Kerinci

Jambi diharapkan untuk dapat meneruskan kalbu keturunan mereka dan mengurus keluarga,

oleh karena itu masyarakat Sungai Liuk Kerinci Jambi menganut sistem matrilinial. Menurut

Febianti (2013) mengatakan bahwa matrilinial diartikan sebagai suatu struktur masyarakat

yang diatur menurut garis keturunan ibu.

Perempuan di dusun Sungai Liuk Kerinci Jambi memiliki jenjang yang tinggi dalam

pembagian warisan atau hak waris seperti harta pusaka (harta pusako), harta warisan turun

temurun, dan harta pencarian. Keistimewaan perempuan di dusun Sungai Liuk Kerinci Jambi

juga memegang peran penting dalam kehidupan terutama dalam hidup berkeluarga yaitu

memegang hak suara istimewa dalam musyawarah. Matrilinial juga didasari oleh kalbu,

dimana kesatuan keturunan yang berasal dari nenek moyang, nenek, ibu, anak perempuan,

seta cucu perempuan dari anak perempuan. Matrilinial juga membuat seorang anak laki-laki

telah menikah akan bertempat tinggal di rumah istri atau di lingkungan kerabat istri.

Kekerabatan masyarakat dusun Sungai Liuk Kerinci Jambi dijelaskan dalam bentuk

istilah, istilah kekerabaran tersebut mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari mereka

Adapaun istilah kekerabatan yang digunakan dapat dilihat pada tabel berikut :

6
Tabel 1. Istilah kekerabatan

Istilah Kekerabatan di Indonesia Istilah Kekerabatan di Sungai Liuk


Nenek Tinu

Kakek Nanggum

Ibu Mak, moak

Ayah Abak

Saudara laki-laki dari ibu Mamak, tatuwu, tunik

Saudara perempuan dari ibu Mak uwo, mak ngah, itek

Saudara laki-laki dari ayah Pak tuwo, pak ngah, pak etek

Saudara perempuan dari ayah Datung, tanuwu, tetngah, tembi, tensau

Kakak laki-laki Abang, uda

Kakak perempuan Kakak, uni

Adik Adoek

Anak perempuan Batinao

Anak laki-laki Jantea

Suami Uwo, uda, ngah, abang

Hasil wawancara pada tanggal 22 Juli 2021 dengan tokoh adat juga menjelaskan

bahwa upacara mulo cucu ayae hanya dilakukan untuk anak perempuan pertama dan anak

perempuan satu-satunya karena anak perempuan pertama merupakan tulang punggung

keluarga, anak yang mandiri, anak yang mau berbagi. Anak pertama juga mengetahui

kehidupan orang tuanya, menjadi harapan bagi orang tua, anak pertama juga menjadi contoh

untuk adik-adiknya. Sehingga upacara mulo cucu ayae dijadikan sebagai hadiah yang berupa

keistimewaan dalam melepas status lajangnya (komunikasi personal, 22 Juli 2021 ).

Sesuai dengan teori Hurlock (1997) anak pertama (anak sulung) merupakan harapan

besar orang tua dan masyarakat dari pada anak-anak lainnya, karena anak sulung lebih

7
dewasa dan bertanggung jawab, memiliki rasa ingin tahu, dan memiliki sifat mengalah. Anak

pertama merupakan pewaris kebudayaan, kekuasaan, dan kekayaan keluarga. Anak pertama

diharapkan dapat menjadi contoh bagi adik-adiknya. Menurut Adler (dalam Alwisol, 2004)

anak pertama atau anak sulung memiliki kepribadian yang bertanggung jawab, memiliki sifat

sebagai pelindung, dan memiliki perhatian pada orang lain. Menurut Schustack (2006)

menjelsakan bahwa pada awalnya anak pertama menjadi anak terfavorit karena anak pertama

adalah anak satu-satunya bagi orang tuanya, akan tetapi anak pertama akan menghadapi

kenyataan bahwa mereka bukan lagi menjadi fokus utama karena orang tua akan membagi

perhatian dengan saudaranya. Sehingga anak pertama akan menjadi mandiri dan menjadi

orang tua semu karena akan merawat saudara-saudaranya, oleh karena itu upacara mulo cucu

ayae ini dilakukan oleh anak perempuan pertama.

Upacara mulo cucu ayae dalam perkawinan memiliki tujuan yang sama dalam

undang-undang yaitu “membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal

berdasarkan keTuhanan Yang Maha Esa”. Pada dasarnya tujuan orang dalam menikah

umumnya sebagai ibadah yang diatur dalam agama. Menurut Ghozali (2003) perkawinan

memiliki hukum yang diatur oleh agama islam yaitu wajib, sunnat, haram, makruh dan

mubah. Sehingga perkawinan hakikatnya merupakan suatu pelaksanaan suatu ajaran agama

yang berupa ibadah, oleh karena itu tujuan perkawinan adalah untuk memenuhi petunjuk

agama dalam rangka mendirikan keluarga yang harmonis, sejahtera, dan bahagia.

Sebagaimana wawancara yang dilakukan peneliti pada tanggal 24 Juli 2021 kepada

seorang perempuan yang menikah mengikuti upacara mulo cucu ayae yang berinisial S

menjelaskan bahwa perkawinan yang S lakukan merupakan peristiwa perkawinan yang

sangat bermakna dalam kehidupan, karena peristiwa itu merupakan peristiwa penting dalam

hidupnya. Apalagi pernikahan yang subjek lakukan dilengkapi dengan tradisi adat yang

sangat sakral dan memiliki makna-makna yang terkandung didalamnya. Subjek bangga pada

8
dirinya karena subjek menikah dilengkapi dengan tradisi upacara mulo cucu ayae dan tidak

semua perempuan yang bisa melaksanakan tardisi tersebut, sehingga hal itu menjadi pedoman

untuk mencapai keluarga yang bahagia dan sesuai dengan tujuan perkawinannya. Dalam

mencapai tujuan dan keiginan yang subjek inginkan, maka subjek harus berusaha untuk

mendapatkannya dengan cara mengelola rumah tangganya dengan baik seperti saling

memahami satu sama lain (komunikasi personal, 24 Juli 2021).

Bastaman (2007) menjelaskan bahwa setiap hidup yang bermakna merupakan

motivasi yang utama pada setiap manusia. Memaknai hidup dianggap penting dan berharga

yang memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan tujuan dalam

kehidupannyan. Tujuan dalam hidup ini yang menjadi suatu dorongan atau motivasi setiap

orang untuk melakukan berbagai kegiatan yang berupa karya atau pekerjaan sehingga

hidupnya dirasakan berharga dan berarti. Keinginan untuk hidup bermakna bukan merupakan

suatu fenomena yang diada-adakan, akan tetapi memang benar suatu fenomena dalam jiwa

yang nyata dan dirasakan dalam kehidupan seseorang, hasrat untuk hidup bermakna

merupakan keinginan dari diri kita untuk menjadi seseorang pribadi yang berharga dan berarti

(being some body) dalam kehidupannya dengan melakukan kegiatan yang bermakna.

Ketika individu mengetahui apa tujuan hidup atau untuk apa dia hidup, maka dia

sanggup untuk menghadapi semua kesulitan yang terjadi pada dirinya (Koeswara, 1992).

Menurut Bastaman (2007) makna hidup ada dalam kehidupan itu sendiri dan dapat ditemukan

pada setiap keadaan yang menyenangkan atau menderita. Karena pada umumnya manusia

mendambakan dan mencari kehidupan yang bermakna.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Setriyanti & Atamimi (2011) menyatakan bahwa

ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang dalam memaknai hidup salah satunya

adalah rasa syukur yang telah di anugrahkan oleh sang pencipta.

9
Perkawinan dengan adanya upacara mulo cucu ayae diaggap sakral oleh masyarakat

dusun Sungai Liuk Kerinci Jambi, dengan harapan pasangan yang menikah dilengkapi

dengan upacara tersebut dapat menjalani bahtera rumah tanggan yang bahagia dan harmonis,

karena adanya rasa syukur kepada tuhan yang telah memberikan anugerah untuk dapat

menjalani upacara yang sangat sakral tersebut. Apalagi tidak semua orang yang dapat

mengikuti upacara tersebut, sehingga perempuan yang lakukan tradisi perkawinan upacara

mulo cucu ayae menjadi motivasi utama dalam keberhasilan berumah tangga. Oleh karena

itu, setelah mengikuti upacara tersebut dapat membuat seseorang dapat memaknai hidupnya.

Berdasarkan dari uraian diatas mengenai perempuan yang mengikuti tradisi upacara

mulo cucu ayae adat dusun Sungai Liuk Kerinci Jambi, serta fenomena yang terjadi di

masyarakat dusun Sungai Liuk Kerinci Jambi. Maka dari itu peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul “ Gambaran Makna Hidup Perempuan yang

Mengikuti Tradisi Perkawinan Upacara Mulo cucu ayae”.

B. Fokus Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka fokus masalah

dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran makna hidup perempuan yang mengikuti

tradisi perkawinan upacara mulo cucu ayae.

C. Perumusan Masalah

Berdasarkan fokus masalah yang telah diuraikan dari latar belakang, maka peneliti

merumuskan pertanyaan pada penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu:

1. Bagaimana gambaran makna hidup perempuan yang mengikuti tradisi perkawinan

upacara mulo cucu ayae?

2. Bagaimana kehidupan subjek untuk menghayati kehidupan bermakna?

D. Tujuan Penelitian

10
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui gambaran mengenai makna hidup

perempuan yang mengikuti tradisi perkawinan upacara mulo cucu ayae.

E. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara teoritis maupun praktis

yaitu :

1. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi

perkembangan ilmu hukum keluarga Islam dan ilmu pengetahuan lainnya. Penelitian

ini juga memperkaya hasil penelitian yang telah ada.

2. Manfaat praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran

bagi :

a. Bagi subjek, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai motivasi bagi subjek

yang mengikuti tradisi tersebut dalam kehidupan berumah tangga dan mengetahui

proses dalam memaknai hidup setelah mengikuti upacara mulo cucu ayae.

b. Bagi masyarakat, hasil penelitian ini diharapkan menjadi informasi sebagai

dukungan atau motivasi pada seseorang yang melaksanakan dan yang mengikuti

upacara mulo cucu ayae dalam memaknai hidup agar memiliki kehidupan lebih

baik.

11
12

Anda mungkin juga menyukai