FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
JURUSAN TEKNIK KELAUTAN
Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111
Telp. (031) 5928105, 5994251-55 Ext. 1105
Fax. : (031) 5928105
E-mail: kajur_tkelautan@[Link]
Metode Elemen Hingga
Konsep dasar metode elemen hingga adalah pendekatan menggunakan
informasi-informasi pada titik simpul (node). Dalam proses penentuan titik simpul
yang di sebut dengan pendeskritan (discretization), suatu sistem di bagi menjadi
bagian-bagian yang lebih kecil, kemudian penyelesaian masalah dilakukan pada
bagian-bagian tersebut dan selanjutnya digabung kembali sehingga diperoleh
solusi secara menyeluruh. Usaha pendiskritan ini dilakukan agar memudahkan
dalam analisa karena adanya keterbatasan dalam analisa secara global.
Metode elemen hingga ini dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai
masalah. Struktur yang dianalisa dapat berbentuk sembarang, beban dan kondisi
batas semabarang sesuai analisa yang dilakukan. Untuk memudahkan penerapan
konsep metode elemen hingga dapat dilakukan pemodelan dengan software seperti
ABAQUS, ANSYS, SAAP, dan CATIA.
Metode elemen hingga ini banyak digunakan karena hasil analisa sangat dekat
atau hampir sama dengan struktur sebenarnya. Namun hasil dari metode elemen
hingga ini bersifat numerik, bukan merupakan persamaan yang dapat diaplikasikan
untuk berbagai kasus. Selain itu data-data yang dimasukkan cenderung banyak
sehingga data output yang dijalankan oleh software pun lebih banyak.
Dalam tugas akhir ini, sambungan tubular tipe T akan dimodelkan
menggunakan ANSYS. Dalam software ANSYS dapat dilakukan pemodelan 2D
ataupun 3D dengan elemen titik, elemen garis, elemen area, dan elemen solid.
Semua jenis elemen ini dapat digabungkan untuk membentuk struktur yang akan
dianalisa.
Dalam perumusan meode elemen hingga, terdapat tujuh tahap yang secara
umum sering digunakan, yaitu :
1. Pendiskritan dan Pemilihan Jenis Elemen
Pemilihan jenis elemen merupaka tahap yang sangat penting karena dapat
menentukan keakuratan hasil analisa. Jenis elemen harus dipilih sesuai analisa
1
FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
JURUSAN TEKNIK KELAUTAN
Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111
Telp. (031) 5928105, 5994251-55 Ext. 1105
Fax. : (031) 5928105
E-mail: kajur_tkelautan@[Link]
agar dapat menghasilkan hasil analisa yang mendekati keadaan sebenarnya.
Hasil analisa yang mendekati keadaan sebenarnya juga tergantung dari
pendiskritan yang mana dalam pemodelan disebut dengan proses meshing.
Ukuran yang dipilih ketika proses meshing harus mewakili keadaan struktur
sebenarnya. Semakin kecil ukuran meshing akan membutuhkan kapasitas
hardisk dan memori yang cukup besar. Hal ini karena input data software
semakin banyak sehingga untuk proses akan lebih berat.
Meshing untuk ukuran elemen kecil biasanya digunakan untuk analisa dengan
kondisi yang mengalami perubahan drastis. Sedangkan untuk meshing ukuran
elemen besar digunakan untuk analisa yamg perubahannya cenderung konstan.
Gambar 3.9 Contoh pendiskritan plat berlubang
Jenis elemen yang digunakan pada analisa termal adalah SOLID70. Elemen
SOLID 70 memiliki delapan node dengan masing-masing node memiliki satu
derajat kebebasan dan temperatur. Elemen ini memiliki kemampuan
menghantarkan panas sehingga dapat digunakan untuk analisa termal transient
dan steady-state. Elemen SOLID70 dapat membentuk elemen dengan bentuk
elemen prisma, tetrahedral, dan juga piramida. Elemen ini didefinisikan dengan
delapan node dan ortotropik material propertis. Untuk analisa steady-state
spesific heat dan massa jenis dapat diabaikan. Elemen yang memiliki
kemampuan menghantarkan panas ini otomatis dapat juga digunakan untuk
analisa struktural. Ketika proses analisa termal menggunakan SOLID70 sudah
2
FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
JURUSAN TEKNIK KELAUTAN
Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111
Telp. (031) 5928105, 5994251-55 Ext. 1105
Fax. : (031) 5928105
E-mail: kajur_tkelautan@[Link]
selesai dilakukan, otomatis pada proses analisa struktural jenis elemen akan
berubah menjadi SOLID45.
Gambar 3.10 Geometri Elemen SOLID70
Gambar 3.11 Bentuk elemen yang dapat dibentuk SOLID70
Jenis elemen yang digunakan pada analisa struktural adalah SOLID45. Elemen
SOLID 45 memiliki delapan node dengan masing-masing node memiliki tiga
derajat kebebasan. Elemen ini dapat bertranslasi ke arah sumbu x dan y.
Elemen ini memiliki kemampuan berdefleksi dan meregang secara besar karena
memiliki sifat plastis. Elemen SOLID70 dapat membentuk elemen dengan
bentuk elemen prisma dan tetrahedral. Elemen ini didefinisikan dengan delapan
3
FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
JURUSAN TEKNIK KELAUTAN
Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111
Telp. (031) 5928105, 5994251-55 Ext. 1105
Fax. : (031) 5928105
E-mail: kajur_tkelautan@[Link]
node dan ortotropik material propertis. Pada permukaan elemen dapat diberikan
beban tekan.
Gambar 3.12 Bentuk elemen yang dapat dibentuk SOLID 45
2. Pemilihan fungsi displasmen
Menentukan fungsi displasmen yang didefinisikan pada tiap elemen dengan
menggunakan nilai parameter di tiap node elemen. Fungsi yang digunakan
adalah fungsi polinomial, linear kuadratik, kubik, atau deret trigonometri.
{ w }=[ N ] {u } (3.11)
3. Definisi hubungan regangan-displasmen dan tegangan-regangan
Dapat ditentukan hubungan regangan akibat displasmen yang sudah ditentukan
pada tahap sebelumnya. Hubungan tegangan-regangan nanti akan digunakan
dalam proses penurunan persamaan untuk masing-masing elemen.
σ =D ε el (3.12)
dan
ε =ε el +ε th (3.13)
dimana:
ε : regangan total
ε el : regangan elastis
ε th : regangan termal
D : kekakuan material
4
FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
JURUSAN TEKNIK KELAUTAN
Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111
Telp. (031) 5928105, 5994251-55 Ext. 1105
Fax. : (031) 5928105
E-mail: kajur_tkelautan@[Link]
Vector thermal strain untuk isotropik medium dengan suhu yang tergantung
pada koefisien ekspansi termal, dengan rumus:
ε th=∆ Tα (T ) (3.14)
∆ T adalah perbedaan antara reference temperature dengan actual temperature.
4. Penentuan matriks kekakuan elemen dan persamaan elemen
Untuk menentukan matriks kekakuan dan persamaan elemen dapat digunakan
metode keseimbangan langsung dan metode energi dengan menggunakan
prinsip energi potensial minimum.
δU =δP (3.15)
Dimana:
U : internal strain energy (internal work)
P : external work, seperti efek inersia
δ : virtual operator
Virtual strain energy dapat ditulis:
T
δ =∫ [ δε ] { σ } d {V } (3.16)
Dimana:
ε : vektor regangan
σ : vektor tegangan
V : volumen elemen
Substitusi persamaan (3.12) dan (3.13) untuk memperoleh δU
T T th
δU =∫ ( { δε } [ D ] { ε } −{ δε } [ D ] { ε } ) dV (3.17)
Strain yang dikaitkan dengan nodal displasmen:
{ ε }=[ B ] { u } (3.18)
Untuk displasmen konstan , energi regangan virtual adalah :
T
δU = { δε } ∫ [ B ] T [ D ][ B ] dV { u }− { δu }T ∫ [ B ] T [ D ] { εth} dV (3.19)
External work karena gaya inersia diformulasikan sebagai:
T
δP=−∫ { δw } {F a } dV (3.20)
Dimana:
w : vektor displasmen dari general point
5
FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
JURUSAN TEKNIK KELAUTAN
Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111
Telp. (031) 5928105, 5994251-55 Ext. 1105
Fax. : (031) 5928105
E-mail: kajur_tkelautan@[Link]
{ Fa} : vektor acceleration force
Berdasarkan hukum gerak Newton II:
2
{ F a }= ρ ∂ 2 { w } (3.21)
∂τ
Jika displasmen dengan elemen dihubungkan pada nodal displasmen:
{ w }=[ N ] {u } (3.22)
Persamaan (3.20) dapat ditulis kembali menjadi:
T ∂2 { }
δP=− { δu } ρ∫ { N } [ N ] dV u (3.23)
∂ τ2
Lalu substitusi persamaan (3.19) dengan persamaan (3.23) , menjadi:
2
[ D ] { ε th } dV =− { δu } ρ ∫ { N } [ N ] dV ∂ 2 {u }
T T T T T
{ δε } ∫ [B] [ D ] [ B ] dV {u }−{ δu } ∫[B ] ∂τ
(3.24)
T
{ δu } vektor adalah sebuah displasmen umum yang sebenernya , sebuah kondisi
diperlukan untuk memenuhi persamaan displasmen konstan dikurangi sampai:
[ K c ]− { Fthc }=[ M c ] { ü } (3.25)
Dimana,
T
[ K c ]=∫ [ B ] [ D ] [ B ] dV Matriks kekakuan elemen (3.26)
{ F thc }=∫ [ B ] T [ D ] [ εth ] dV Vektor beban termal elemen (3.27)
T
{ M c }= ρ∫ [ N ] [ N ] dV (3.28)
5. Penggabungan persamaan elemen dengan penentuan kondisi batas
Pada tahap ini akan didapatkan matriks kekakuan global yang bersifat singular.
Kondisi batas digunakan untuk menghilangkan singularitasnya. Matriks
kekakuan global didapatkan dari menggabungkan persamaan elemen pada
tahap empat menggunakan metode kekakuan langsung.
6
FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
JURUSAN TEKNIK KELAUTAN
Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111
Telp. (031) 5928105, 5994251-55 Ext. 1105
Fax. : (031) 5928105
E-mail: kajur_tkelautan@[Link]
6. Penyelesaian derajat kebebasan yang belum diketahui
Mendapatkan hasil besaran yang diperlukan tetapi tidak didapat secara
langsung dari tahap sebelumnya. Dapat dicari dengan metode eleminasi
(misalkan metode gauss) dan iterasi (misalkan metode gauss-siedel).
7. Penentuan regangan dan tegangan elemen
Perhitungan regangan dan tegangan yang terjadi pada elemen berdasarkan hasil
dari tahap enam.
8. Penampilan hasil
Hasil yang diperoleh ditampilkan dalam bentuk grafis sehingga akan
memepermudah pembacaan hasil.