0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
79 tayangan83 halaman

Arsitektur Perilaku untuk Pusat Autisme

Dokumen tersebut membahas tentang Arsitektur Perilaku sebagai tema perencanaan Pusat Rehabilitasi Autisme. Arsitektur Perilaku adalah pendekatan yang mempertimbangkan faktor kenyamanan dan kebutuhan pengguna utama (anak autis) dalam perancangan lingkungan binaannya untuk mendukung proses terapi. Dokumen tersebut menjelaskan pengertian Arsitektur Perilaku serta aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam p

Diunggah oleh

UCHANARS17
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
79 tayangan83 halaman

Arsitektur Perilaku untuk Pusat Autisme

Dokumen tersebut membahas tentang Arsitektur Perilaku sebagai tema perencanaan Pusat Rehabilitasi Autisme. Arsitektur Perilaku adalah pendekatan yang mempertimbangkan faktor kenyamanan dan kebutuhan pengguna utama (anak autis) dalam perancangan lingkungan binaannya untuk mendukung proses terapi. Dokumen tersebut menjelaskan pengertian Arsitektur Perilaku serta aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam p

Diunggah oleh

UCHANARS17
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

AUTISM CARE CENTER

ARSITEKTUR PERILAKU

Bab III
ELABORASI TEMA

III.1. Latar Belakang Pemilihan Tema


Perencanaan dan perancangan bangunan dengan memperhatikan kenyamanan dan
kebutuhan anak-anak penyandang autisme dalam upaya mewujudkan wadah untuk anak-anak
tersebut memerlukan suatu pendekatan dalam arsitektural yang baik dan tepat. Pendekatan
arsitektural yang menggunakan faktor kenyamanan dan kebutuhan anak-anak penyandang
autisme dalam mengembangkan perencanaan serta perancangan fasilitas pusat rehabilitasi ini
adalah pendekatan arsitektur perilaku.

Pendekatan arsitektur perilaku ini bertujuan untuk membantu proses terapi, dimana
anak-anak menjadi lebih cepat berkembang. Dengan pendekatan ini juga, anak-anak sebagai
pengguna utama, tidak akan merasa canggung. Kebanyakan nilai-nilai kemanusiaan tidak
diindahkan hanya untuk mencapai dan memaksimalkan efisiensi operasi. Hal ini
menyebabkan nilai estetika yang rendah dan mengganggu lingkungan sekitarnya.

Arsitek sebagai koordinator dari banyak disiplin yang terlibat dalam proses konstruksi
saat sekarang ini adalah kunci dari keberhasilan dalam penerapan arsitektur perilaku.
Perancangan yang baik akan dapat member keuntungan dalam jangka panjang bagi pengguna
dan lingkungan sekitarnya.

III.2. Pengertian Tema


Proyek Autism Care Center menggunakan tema Arsitektur Perilaku. Arsitektur
Perilaku merupakan gabungan dari dua kata yaitu Arsitektur dan Perilaku, kedua kata ini
memiliki makna yang berbeda, namun ketika digabungkan menghasilkan arti yang baru.

Arsitektur berasal dari bahasa yunani, yaitu “arche” artinya bangunan dan “tecton”
artinya orang yang membangun. Pengertian Arsitektur adalah :
1. Seni dan ilmu merancang serta membuat konstruksi bangunan, metode, dan gaya
rancangan suatu konstruksi1.
2. Utilitas, Vermitas, dan Venusitas2.

1
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1990

66 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

3. Seni bangunan, gaya bangunan lingkungan binaan, atau suatu lingkungan binaan yang
dibuat oleh manusia, dan menjadi tempat manusia melakukan kegiatannya3.
4. Lingkungan (enclosure) dimana orang-orang hidup dan tinggal4.
5. Hubungan perilaku dengan lingkungan, proses perancangan, dan hubungan kebudayaan
dengan bentuk5.
6. Merupakan suatu disiplin ilmu yang berasal dari penggabungan teknik (engineering), ilmu
social, dan seni. Ada tanggapan bahwa tujuan utama arsitektur bersifat kemasyaraktan. Ini
merupakan latar belakang dan system penunjang untuk meningkatkan harkat kehidupan
yang sedang berlangsung.
7. Menurut Amos Rapoport, arsitektur sebagai lingkungan buatan (built environment) yang
mempunyai bermacam-macam kegunaan yaitu melindungi manusia, kegiatan-kegiatannya
serta hak miliknya dari elemen-elemen alam (iklim, cuaca), dari musuh (manusia, hewan,
kekuatan supra naturaral) dengan membuat tempat, menciptakan suatu kawasan aman
yang berpenduduk dalam dunia fana dan menekankan sosial serta menunjukkan status.
8. Ilmu dan seni merancang bangunan, kumpulan bangunan, struktur-struktur lain yang
fungsional, terkonstruksi dengan baik, memiliki nilai ekonomis serta nilai estetika.
9. Hasil upaya manusia menciptakan lingkungan yang utuh untuk menampung kebutuhan
tempat tinggal, berusaha atau bersosial budaya.

Pengertian dari Perilaku adalah:


1. Tanggapan atau reaksi individu yang terwujud dalam gerakan (sikap), tidak saja badan
atau ucapan.
2. Hasil interaksi antara desakan dan keinginan yang ada di dalam diri individu atau
kelompok dengan situasi/kondisi settingnya (lingkungannya)6.
3. Perasaan atau tindakan individu/kelompok yang menggambarkan rasa senang, gembira,
nyaman, tertekan, sedih, sumpek, stress7.
4. Berupa tingkah laku, perbuatan menurut kebiasaan8.

2
Vitruvius
3
Pengantar Arsitektur, James [Link], Anthony [Link]
4
[Link], James and Anthony, [Link], Pengantar Arsitektur, 1978
5
Clovis Heisath, Arsitektur dari Segi Perilaku, AIA, Intermatra, 1995
6
Makalah Seminar Arsitektur Perilaku sebagai Pendekatan Solusi Desain Arsitektur dalam Pemecahan Masalah
Pemukiman Kumuh Perkotaan
7
Makalah Seminar Arsitektur Perilaku sebagai Pendekatan Solusi Desain Arsitektur dalam Pemecahan Masalah
Pemukiman Kumuh Perkotaan
8
WJS Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1985, halaman 214

67 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

5. Keadaan jiwa (pendapat, pikiran, sikap, dsb) untuk memberikan reaksi terhadap situasi
yang ada di luar subjek.
6. Mekanisme yang menghubungkan karakteristik dari individu/kelompok manusia dengan
situasi/kondisi settingnya.

Sebagai obyek empiris, perilaku mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:


a. Perilaku itu sendiri kasat mata, tetapi penyebab terjadinya perilaku secara langsung
mungkin tidak dapat diamati.
b. Perilaku mengenal berbagai tingkatan, yaitu perilaku sederhana dan stereotip, seperti
perilaku binatang bersel satu; perilaku kompleks seperti perilaku sosial manusia; perilaku
sederhana, seperti reflex, tetapi ada juga yang melibatkan proses mental biologis yang
lebih tinggi.
c. Perilaku bervariasi dengan klasifikasi: kognitif, afektif, dan psikomotorik, yang menunjuk
pada sifat rasional, emosional, dan gerakan fisik dalam berperilaku.
d. Perilaku bisa disadari dan bisa juga tidak disadari.

Jadi secara keseluruhan Arsitektur Perilaku dapat diartikan sebagai suatu


lingkungan binaan yang diciptakan oleh manusia sebagai tempat untuk melakukan
aktivitasnya dengan mempertimbangkan segala aspek dari tanggapan atau reaksi dari
manusia itu sendiri menurut pola pikir, karakteristik, ataupun persepsi manusia selaku
pemakai.

Sehubungan dengan pengertian di atas, maka Arsitektur Perilaku tersebut membahas


tentang hubungan antara tingkah laku manusia dengan lingkungannya. Hal ini tentunya tidak
terlepas dari pembahasan psikologi yang secara umum didefinisikan sebagai ilmu
pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dengan lingkungannya. Menurut
Garden Murphy, psikologi adalah ilmu yang mempelajari respons yang diberikan oleh
makhluk hidup terhadap lingkungannya.

III.3. Kajian Arsitektur Perilaku


Dalam menciptakan suatu lingkungan binaan yang berlandasan Arsitektur Perilaku,
maka dilakukan pendekatan terhadap perilaku manusia. Perilaku manusia ini berasal dari
dorongan yang ada di dalam diri manusia. Dorongan ini merupakan usaha manusia untuk
memenuhi kebutuhannya. Karakteristik dari perilaku ada dua, yaitu:

68 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

 Perilaku yang terbuka


Perilaku yang dapat diamati orang lain tanpa alat bantuan.
 Perilaku yang tertutup
Perilaku yang hanya dapat dimengerti dengan menggunakan metode/alat bantu.

Adapun 4 hal yang saling berhubungan dengan Arsitektur Perilaku, antara lain :
a. Perilaku Sebagai Suatu Pendekatan
Pendekatan perilaku dalam perancangan menekankan keterkaitan antara ruang yang
disediakan bagi manusia yang memanfaatkannya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa perlu
adanya pemahaman mengenai perilaku manusia atau masyarakat yang berbeda-beda dari segi
norma, adat, budaya, serta psikologi masyarakat.

b. Psikologi Lingkungan
Psikologi Lingkungan adalah bidang psikologi yang meneliti khusus hubungan antara
lingkungan fisik dan tingkah laku serta pengalaman manusia. Faktor yang sangat kuat
mempengaruhi manusia adalah lingkungan. Menurut UU No.4 Tahun1982, lingkungan hidup
adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk
manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan
manusia serta makhluk hidup lainnya.

Tujuan dari pembahasan mengenai psikologi lingkungan pada kajian arsitektur


perilaku adalah untuk menganalisa, menjelaskan, meramalkan, dan jika perlu mempengaruhi
atau merekayasa hubungan antara tingkah laku manusia dengan lingkungannya. Untuk itu
perlu diadakan pendekatan-pendekatan konsep ruang yang diharapkan sesuai dengan perilaku
manusia/pemakai ruang. Masalah-masalah yang dihadapi manusia dalam hubungannya
dengan lingkungan alamnya adalah :
1. Lingkungan yang terbatas
2. Polusi (pencemaran)
3. Penggunaan dan penyalahgunaan tanah yang menyebabkan erosi, banjir, dan lain
sebagainya.
4. Masalah kependudukan
5. Energi dan ekonomi yang terbatas

69 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Selain itu, masalah yang juga mendapat perhatian dalam psikologi lingkungan adalah
bagaimana orang menilai keindahan lingkungan (estetika lingkungan).

Menurut Berlyne, seorang pakar psikologi, faktor-faktor yang harus dipertimbangkan


dalam mengatasi masalah ini adalah:
a. Kompleksitas yaitu berapa banyak ragam komponen yang membentuk suatu lingkungan.
b. Novelty atau keunikan yaitu seberapa jauh lingkungan tersebut mengandung komponen-
komponen yang unik.
c. Incongruity atau ketidaksenadaan yaitu seberapa jauh suatu faktor tidak cocok dengan
konteks lingkungannya.
d. Kejutan yaitu seberapa jauh kenyataan yang ada tidak sesuai dengan harapan.

c. Psikologi Manusia
Sebagai ilmu yang mempelajari hal yang mengenai tingkah laku dan proses-proses
yang terjadi tentang tingkah laku tersebut, maka psikologi selalu berbicara tentang
kepribadian.

Dalam perjalanan perkembangan ilmu perilaku-lingkungan ini banyak dilakukan


penelitian dan pengembangan teori. Akan tetapi, tidak ada satupun teori yang dianggap dapat
menjawab semua permasalahan dalam psikologi lingkungan. Berbagai model ditawarkan
untuk menggambarkan kompleksitas hubungan manusia dengan lingkungannya. Berikut ini
merupakan salah satunya:

Setting Perilaku Perilaku

Sasaran,
Keputusan, Kognisi Kognisi dan
Manusia
Maksud dan Emosi Emosi

Sosio Budaya Tubuh Tubuh


Manusia Manusia

Gambar 2.16 Hubungan integratif manusia dengan lingkungannya


Sumber : Gifford, 1987

70 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Proses individual mengacu pada skematik pendekatan perilaku yang menggambarkan


hubungan antara lingkungan dan proses perilaku individu:

MEMANFAATKAN LINGKUNGAN

Persepsi Kognisi dan Afeksi Perilaku Spasial

Respon Emosional Persepsi Terhadap Hasil


Perilaku

Skema

Motivasi

Gambar 2.17 Proses fundamental perilaku manusia


Sumber : Marcella Laurens, Joyce; Arsitektur dan Perilaku Manusia, Penerbit Gramedia, 2004

BUDAYA PANDANGAN NILAI YANG CARA SISTEM SISTEM


HIDUP DIANUT HIDUP AKTIVITAS SETTING

Latar Keinginan Pilihan atau Pilihan peran, Organisasi Organisasi


belakang atau pilihan prioritas perilaku, kegiatan wadah
pandanga ideal berbagai unsur serta alokasi kegiatan
n hidup, yang dianggap sumber manusia (tata
nilai-nilai penting kehidupan ruang)
dan
kebiasaan
hidup
tertentu

Gambar 2.18 Hubungan antara budaya, perilaku, sistem aktivitas, dan sistem setting
Sumber : Setiawan, Haryadi B.; Arsitektur Lingkungan dan Perilaku, PPLH UGM, Jogjakarta, 1996

d. Arsitektur Untuk Manusia


Arsitektur untuk manusia membahas tentang bangunan yang berguna untuk manusia
dan dirancang untuk manusia individual. Untuk mewujudkannya kita harus menghargai
arsitektur sebagai seni yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Tinjauan ruang secara
psikologis dapat dijabarkan melalui pembentukan jarak-jarak pada manusia, yaitu jarak
publik, jarak sosial, jarak pribadi, dan jarak intim.

71 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Arsitektur untuk manusia atau arsitektur yang manusiawi membahas bangunan yang
berguna untuk manusia dan dirancang untuk manusia. Hal ini berhubungan dengan :
1. Kebutuhan akan ruang
Ruang yang digunakan untuk berbagai kegiatan dan dikelompokkan dengan ruang-
ruang lain dan disesuaikan dengan aturan-aturan yang memenuhi kebutuhan, nilai, dan
keinginan suatu kelompok.
2. Waktu
Pada raung yang sama secara temporal terjadi beberapa kegiatan yang berbeda sesuai
dengan kebutuhan karena manusia pengguna ruang memiliki ritme kegiatan yang berbeda.
Hal ini sangat penting karena menyangkut optimalisasi penggunaan ruang serta berkaitan
dengan kepadatan yang akan terjadi pada space/ruang tempat kegiatan.
3. Arti
Makna biasanya diwujudkan dalam bentuk warna, detail, tanda-tanda, dekoratif, dan
bentuk yang disebut sebagai aspek eikonic dari lingkungan binaan. Unsur-unsur ini bisa saja
menjadi satu dengan organisasi ruang atau terpisah.
4. Komunikasi
Mempunyai makna-makna tertentu yang dimaksudkan sebagai media komunikasi
antar penghuni ruang ataupun yang bukan penghuni ruang tersebut.

Menurut Rapoport bahwa perancangan arsitektur pada dasarnya menyangkut


pengorganisasian dari ruang (space), waktu (time), arti (meaning), serta komunikasi,
aplikasinya ke dalam arsitektur perilaku adalah:
1. Pengorganisasian ruang merupakan susunan ruang yang ditujukan untuk mendapatkan
kualitas lingkungan yang baik, dimana proses interaksi antara ruang dan penggunanya
dapat dilakukan secara optimal.
2. Waktu, dalam pengorgnisasian tempo atau waktu akan menyangkut aspek optimalisasi
penggunaan ruang serta berkaitan dengan kemungkinan crowding. Waktu juga
mempengaruhi kecenderungan pelaku untuk mengunjungi suatu tempat. Waktu
bergantung jarak, makin besar jarak makin besar waktu yang diperlukan sampai ke
tujuan. Sedangkana jarak akan dirasakan semakin kecil bila ada sequence yang menarik,
pemandangan indah dan jalan yang nyaman (teduh) ke tempat yang dituju.
3. Makna atau kesan, manusia bereaksi terhadap lingkungan melalui makna lingkungan
tersebut baginya. Makna biasanya diwujudkan dalam skala, warna, tekstur, detail, tanda-
tanda, dekoratif.

72 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

4. Warna
Penerapan warna dalam kasus desain adalah untuk memberikan pengaruh psikologis
terhadap manusia. Pada ruang, pengaruh warna tidak hanya menimbulkan suasana panas
dan dingin tetapi juga mempengaruhi kualitas ruang tersebut, seperti warna terang akan
menjadikan ruang seolah-olah lebih luas dan sebaliknya.9

Fungsi dasar dari warna adalah untuk menarik perhatian, warna yang terang dapat
menarik perhatian. Tetapi kekuatan warna sendiri yang dominan adalah dapat
mempengaruhi emosi, persepsi, mood dan tindakan dari seseorang. Dalam sebuah
presentasi warna mempunyai 3 fungsi yaitu untuk identifikasi, kontras dan highlighting.

Tabel 3.1 Warna yang Disukai Orangtua dan Anak-anak


Warna-warna yang paling disukai Anak-anak
Orang Tua
Biru Kuning
Merah Putih
Hijau Dadu
Putih Merah
Dadu Oranye
Ungu Biru
Oranye Hijau
Kuning Ungu
Sumber : Sapurto, W. Adi, skripsi untuk mencapai derjat sarjana S1, Rancangan Komunikasi Visual
dalam Terapi Multimedia Interaktif untuk Anak Autis, FSRD. Unv. Tarumanagara : Jakarta. 2002

Asosiasi Emosional
Warna memiliki pengaruh tertentu terhadap individu secara positif dan negatif. Secara
umum pengaruh dari warna-warna ini akan disajikan didalam tabel berikut.

9
Setiawan, Haryadi B; Arsitektur dan Perilaku Manusia, PPLH UGM, Jogjakarta, 1996

73 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Tabel 3.2 Asosiasi Negatif dan postif dalam warna


Warna Positif Negatif
Merah Hangat, hidup, keceriaan, Luka, sakit, tumpahan
kebahagiaan, semangat, darah, darah, terbakar, kematian,
kebebasan, patriotisme. perang, anarki, setan,
bahaya.
Oranye Kehangaran, api dan nyala api, Kengerian, Setan.
pernikahan, keramahtamahan,
pengasih, harga diri.
Kuning Matahari, cahaya, iluminasi, Penghianat, kepicikan,
intuisi, intelek, kebijaksaan korupsi, kengerian, cinta
tertinggi, nilai yang tinggi yang tidak murni, sakit.
Hijau Alam, kesuburan, simpati, Kematian, dengki, iri,
kemakmuran, harapan, hidup, memalukan, degradasi
keabadian, muda moral, kegilaan.
Biru Langit, hari, air tenang, relijius, Malam, keraguan, dingin,
loyalitas, kepolosan, kesedihan.
kebenaran, keadilan.
Ungu Kekuatan, spritual, royalti, Sublimasi, kesedihan,
kecintaan pada kebenaran, penyesalan, kemunduran.
loyanti, kekaisaran,
kesabaran, rendah hati,
nostalgia
Coklat Bumi, tanah, kesuburan, Kemiskinan, kering.
alamiah.
Emas Matahari, mulia, kekayaan, Penyembahan, rakus,
kejujuran, kebijaksanaan, komersialisme
kehormatan, tempat pertama.
Perak Kemurnian, uji kebenaran, Tidak ada yang tercatat
bulan, platinum
Putih Siang hari, kepolosan, Hantu, dingin, kosong,
kemurnian, kesempurnaan, batal, musim salju.
kebenaran, kebijakan.

74 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Warna Positif Negatif


Abu-abu Kedewasaan, kehati-hatian, Netral, egois, tekanan, tidak
pemaaf, retrospeksi aktif, tidak bertanggung
jawab, tidak bahagia, kuno,
Hitam Kuat, bangsawan, canggih, Ketiadaan, malam, setan,
kesuburan, malam, kesucian. dosa, sakit, negasi
Sumber : Sapurto, W. Adi, skripsi untuk mencapai derjat sarjana S1, Rancangan Komunikasi Visual
dalam Terapi Multimedia Interaktif untuk Anak Autis, FSRD. Unv. Tarumanagara : Jakarta. 2002

5. Skala
a. Dalam arsitektur menunjukkan perbandingan antara elemen bangunan atau ruang
dengan suatu elemen tertentu.
b. Untuk menciptakan suasana yang akrab maka skala yang digunakan adalah skala
intim dan skala perkotaan.
c. Skala intim dapat memberikan suasana akrab dan dekat dengan sesame manusia
maupun lingkungannya. Sedangkan skala perkotaan membuat manusia merasa
memiliki atau kerasan pada lingkungan tersebut.
d. Jika D = jarak, dan H = tinggi, maka :
- Skala intim : 1 < D/H < 2
- Skala perkotaan : D/H = 1-2

Desain sebuah ruangan yang menerapkan skala intim akan memberi kesan nyaman
terhadap pengguna, dapat menguasai ruang atau merasa menjadi sesuatu yang penting
dalam ruangan tersebut.

6. Tekstur
a. Tekstur adalah titik kasar atau halus, titik-titik halus atau kasar yang tidak teratur pada
suatu permukaan. Titik-titik ini dapat berbeda dalam ukuran, warna, bentuk, atau sifat
dan karakternya.
b. Fungsi tekstur dapat memberi kesan pada persepsi manusia melalui penglihatan visual
dapat menghilangkan kesan monoton.

75 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

7. Bentuk
Bentuk adalah jalan untuk mengatur dan mengartikulasikan material di dalam
ruangan, sama halnya dengan tata bahasa menyusun kata-kata ke dalam suatu bahasa.
Bentuk juga adalah konsep disain, sedangkan material membentuk ekspresi dari
bentukan tersebut. Pemikiran bentuk di balik disain adalah pemodelan mental yang
menjelaskan pemikiran-pemikiran lain untuk memahami penyusunannya. Dari
penampilannya bentuk dapat dibagi dalam :
a. Bentuk yang teratur yaitu bentuk geometris, kotak, kubus, kerucut, piramida dsb.
b. Bentuk yang lengkung, umumnya bentuk-bentuk alam.
c. Bentuk yang tidak teratur.

Jenis bentuk yang dapat diterapkan dalam rancangan, sebagai berikut :


a. Segitiga, bentuk yang dapat menunjukkan stabilitas. Apabila terletak pada salah satu
sisinya, segitiga merupakan bentuk yang sangat stabil. Jika diletakkkan berdiri pada
salah satu sudutnya, dapat menjadi seimbang bila terletak dalam posisi yang tepat
pada suatu keseimbangan, atau menjadi tidak stabil dan cenderung jatuh ke salah satu
sisinya.
b. Bujur sangkar, bentuk yang menunjukkan sesuatu yang murni dan rasional. Bentuk ini
merupakan bentuk yang statis dan netral serta tidak memiliki arah tertentu. Bentuk-
bentuk segi empat lainnya dapat dianggap sebagai variasi dari bentuk bujur sangkar.
Seperti segitiga, bujur sangkar bila berdiri pada salah satu sisinya tampak stabil dan
dinamis bila berdiri pada salah satu sudutnya.
c. Lingkaran, bentuk yang terpusat. Berarah ke dalam dan pada umumnya bersifat stabil
dan dengan sendirinya menjadi pusat dari lingkungannya. Penempatan sebuah
lingkaran pada suatu bidang akan memperkuat sifat dasarnya sebagai poros.
Menempatkan garis lurus atau bentuk-bentuk bersudut lainnya atau unsur menurut
arah kelilingnya, dapat menimbulkan perasaan gerak putar yang kuat.

Kriteria tampilan bentuk bangunan sebagai berikut :


a. Landmark, menciptakan tampilan baru dalam lingkungan tapak.
b. Filosofi, massa yang mewakili simbol-simbol musik .
c. Tema, simbolis yang bersifat metafora campuran.
d. Wujud karakter yang mengundang, mendidik, sederhana, jujur, dan kuat.

76 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Tabel 3.3 perbandingan bentuk dasar bangunan

Kriteria Bentuk Dasar Bangunan

Kesesuaian Bentk Site Baik Baik Kurang Baik

Orientasi Bangunan Baik, Orientasi Baik, Orientasi ke Tidak Jelas


Jelas Segala Arah

Efisiensi Ruang Efisien Kurang Efisien Tidak Efisien

Efisiensi Struktur dan Lebih Mudah Cukup Sulit Mudah


Konstruksi Bangunan

Kesan yang Ingin Baik Baik Kurang Baik


Dicapai

Ekonomi Bangunan Lebih Hemat Hemat Tidak Ekonomis

Sumber : Analisis Pribadi

e. Tata Ruang
Ruang sebagai salah satu komponen arsitektur merupakan elemen yang penting dalam
pembahasan arsitektur perilaku. Dalam hal ini perilaku dioperasionalisasikan sebagai
kegiatan manusia yang membutuhkan setting atau wadah kegiatan berupa ruang.

Ruang dirancang untuk memenuhi suatu fungsi dan tujuan tertentu. Selain itu, ruang
juga dirancang untuk memenuhi fungsi yang lebih fleksibel. Masing-masing perancangan
fisik ruang tersebut mempunyai variable independen yang berpengaruh terhadap perilaku
pemakainya11. Ruang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia baik secara psikologis
maupun emosional, dan menyangkut dimensi yang berhubungan dengan tubuh manusia,
secara dimensional menyangkut kebutuhan ruang untuk kegiatan manusia.

Menurut Immanuel Kant, ruang bukanlah sesuatu yang obyektif sebagai hasil pikiran
dan perasaan manusia12. Sedangkan menurut lato, ruang adalah suatu kerangka atau wadah
dimana obyek dan kejadian tertentu berada.

77 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Beberapa konsep penting dalam pengkajian arsitektur perilaku13 :


a. Behavior setting (setting perilaku), yang menjadi penekanan dalam kajian ini adalah
bagaimana kita dapat mengidentifikasi perilaku-perilaku yang ada secara konstan atau
berkala pemunculannya.
b. Environmental Perception (persepsi tentang lingkungan), yaitu interpretasi tentang suatu
setting oleh individu didasari latar belakang budaya, nalar, dan pengalaman individu
tersebut.
c. Perceived Environment (lingkungan yang terpersepsikan), merupakan produk atau bentuk
dari persepsi lingkungan seseorang atau sekelompok orang.
d. Environment Cognition, Image, and Schemata (kognisi lingkungan, citra, dan skema),
yaitu proses memahami dan memberi arti terhadap lingkungan.
e. Environment Learning (pemahaman lingkungan) meliputi proses pemahaman yang
menyeluruh, menerus tentang suatu lingkungan oleh seseorang.
f. Environment Quality (kualitas lingkungan), yaitu suatu lingkungan yang memenuhi
preferensi imajinasi ideal seseorang atau sekelompok orang.
g. Territory (teritori), yaitu batas dimana organisme hidup menentukan tuntutannya,
menandai, serta mempertahankannya.
h. Personal Space and Crowding (ruang personal dan kesumpekannya), batas yang tidak
tampak di sekitar seseorang.
i. Environmental Pressures and Stress (tekanan lingkungan, stress, dan strategi
penanggulangannya), merupakan faktor fisik yang menimbulkan rasa tidak enak, tidak
nyaman, dan lainnya yang menyebabkan stress.

f. Persepsi Anak Antara Ruang dan Lingkungan


Persepsi adalah kesan yang timbul pada saat oang menengar atau melihat sesuatu.
Persepsi penting bagi anak adalah penglihatan, pendengaran, dan perasaan, yang mana
semuanya harus mencakup kedinamisan agar anak dapat mencerna melalui inderanya.
a. Persepsi penglihatan
Untuk penglihatan biasanya anak sering melihat symbol-simbol dan membuat
persepsi, selain itu anak akan mempersepsikan sesuatu jika ada:
i ada suatu gerakan
ii Melihat suatu yang kontras
iii Melihat sesuatu yang lebih terang dari yang lain
iv Ada suatu yang berbeda

78 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

b. Persepsi pendengaran
Anak akan membuat persepsi dari apa yang didengarnya, misalnya suatu yang
jatuh, sehingga anak akan terkejut dan takut. Suara air akan memberi efek sejuk.
c. Persepsi perasaan
Persepsi ini didapat melalui indra peraba anak, misalnya dengan meraba muka
orangtuanya, anak akan tahu yang mana orang tuanya dan yang bukan (untuk anak
yang belum sempurna penglihatannya).

Unsur-unsur arsitektur yang menarik perhatian anak adalah:


a. Bentuk, yaitu :
i Bentuk yang beraturan, adalah bentuk yang hubungannya antara bagian
yang satu dengan yang lain tersusun dan konsisten, pada umumnya bentuk-
bentuk yang bersifat stabil.
ii Bentuk yang tidak beraturan, adalah bentuk yang bagian-bagiannya tidak
serupa dan hubungan antar bagian tidak konsisten.
b. Warna, memberi pengaruh psikologis sebagaimana yang telah diuraikan diatas.
c. Bahan bangunan dan material
Penggunaan perabot dan material pada bangunan memiliki sifat dan kesan yang
ditimbulkan berbeda-beda. Material bangunan dan perabot harus bersifat kokoh
dan halus, dimana pengguna utama adalah anak-anak.

III.4. Interpretasi Tema terhadap Judul


Berdasarkan analisa terhadap psikologi anak penyandang autism, berikut beberapa ciri
perilaku anak penyandang autis, antara lain:

Gambar 3.1 Perilaku Autisme


Sumber : Analisis Pribadi

79 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Dari pola pikir dan perilaku para penyandang autisme ini, berikut interpretasi tema
terhadap proyek antara lain :
Tabel 3.4 Interpretasi Tema

Sumber : Analisis Pribadi

[Link] Banding Tema Sejenis


1. Fawood Children’s Centre London, UK

Gbr 3.2 Eksterior Bangunan Gbr 3.3 Eksterior Bangunan


Sumber : www. [Link] Sumber :www. [Link]
Sumber : [Link] Sumber : [Link]

Gbr 3.4 Eksterior Bangunan Gbr 3.5 Interior Bangunan


Sumber : www. [Link] Sumber : www. [Link]

80 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Total area pada Fawood Children’s Centre ini 1.220m2. Eksterior bangunan ini
menggunakan warna-warna yang berani dan terang yang mencerminkan semangat anak-anak.
Fasilitas yang diberikan adalah kamar untuk anak-anak berkebutuhan khusus dan autis yang
berumur 3 – 5 tahun. Struktur primer bangunan ini adalah atap trapesium segi empat yang
menggunakan struktur baja.

2. Toyama Children Center

Gambar 3.6 Eksterior Bangunan


Sumber : www. [Link]

Toyama Children Center Sumber


adalah : [Link]
suatu bangunan yang berfungsi sebagai tempat
bermain bagi anak-anak yang berusia 5-12 tahun, dimana anak-anak tersebut masih
didampingi oleh orang tua/pengasuh. Di dalamnya anak-anak dapat melakukan kegiatan-
kegiatan seperti bermain aktif dan pasif, baik di dalam maupun di luar ruangan, membuat
ketrampilan, berlatih kesenian, belajar, dan membaca. Fasilitas yang tersedia di dalamnya
adalah hall bermain, relaxion area, workshop hall, galeri mainan, perpustakaan, galeri
boneka, ruang belajar, dll.

Toyama Children Center ini dikhususkan untuk anak-anak berumur 5-12 tahun.
Bentuk massa berupa gabungan dari dua buah lingkaran yang menampilkan keceriaan,
imajinatif dan kreativitas. Ruang yang berada di bagian lengkung digabung dengan elemen
lurus sehingga menciptakan ruang yang lebih dinamis. Pencahayaan alami dan penghawaan
alami diterapkan pada bangunan ini. Interiornya didominasi oleh bentuk segienam dan
lingkaran, sedangkan untuk warna yang digunakan merupakan perpaduan antara warna alami
dan menyolok. Sistem sirkulasi yang linear bercabang dan berkelok-kelok memberi kesan
mengalir dan tidak monoton. Hal-hal yang dapat dipelajari dari kasus ini adalah:

81 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

a. Bentuk massa bangunan dengan penggabungan bidang lengkung dengan bidang lurus
untuk menimbulkan kesan dinamis.
b. Penampilan bangunan yang kreatif dan imajinatif, dengan warna-warna
kontras/menyolok, bertujuan untuk merangsang daya tarik anak-anak.
c. Pemanfaatan pencahayaan dan penghawaan alami.

3. Taman Kanak-Kanak Carrousel


TK Carrousel ini berlokasi di Citra Grand City Cikupa, Tangerang. Arsiteknya adalah
Yori Antar , dibangun pada tahun 1995. TK Carrousel ini disebut juga dengan TK Komidi
Putar, karena diinsipirasi oleh bentuk bundar komidi putar, yang selain sangat familiar juga
merangsang imajinasi/daya kreativitas anak-anak.

Site dari TK ini berbentuk trapesium. Dilihat dari perletakannya pada site, maka
bentuk bundar adalah bentuk netral yang mempunyai orientasi ke luar (ke segala arah) dan
orientasi ke dalam (ke pusat). Sang perancang bangunan memiliki gagasan untuk membuat
sekolah yang memberikan rasa aman dan akrab bagi anak-anak; antara lain melalui
pemberian orientasi yang jelas.

Dari segi arsitektural, bentuk komidi putar baik bagi anak untuk belajar berorientasi,
bentuk selasar yang melingkar dibedakan dengan bentuk kelas yang kotak-kotak. Disini,
anak-anak juga bisa belajar berbagai bentuk; mulai dari lingkaran, kotak, sampai garis lurus.
Penggunaan warna jendela yang beraneka ragam juga dimaksudkan untuk belajar
berorientasi. Sebagai benang merah, digunakan warna-warna senada pada selasar dan dinding
luar bangunan. Pola lantai dibuat bergaris-garis agar anak-anak bisa belajar berbaris dengan
mudah. Ruang terbuka di tengah bangunan (inner court) dibuat multi-fungsi; selain sebagai
tempat bermain, diharapkan juga bisa menjadi tempat mendongeng para guru kepada murid-
muridnya.

Dari segi fungsional, bentuk komidi putar ini sangat baik dalam hal pengawasan.
Disini cukup dibuat satu pintu utama sehingga para guru dapat mengawasi anak didiknya
dengan mudah. Hal ini berbeda dengan sekolah-sekolah yang memiliki bentuk cenderung
persegi, sehingga memerlukan titik pengawasan. Denah yang berbentuk lingkaran,
dikombinasikan dengan ruang-ruang yang berbentuk segi empat, merupakan perpaduan
antara lingkaran yang sempurna dengan fungsi. Bentuk atap yang utuh dan melingkar, terbagi

82 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

atas 8 segmen merupakan statement yang jelas dan sederhana dari arsitektur TK yang
berdenah lingkaran ini. Hal-hal yang dapat dipelajari :
a. Bentuk massa bangunan yang akrab bagi anak merangsang imajinasi/daya kreativitas
anak-anak.
b. Bentuk bangunan yang bundar memberikan orientasi yang jelas, baik ke dalam maupun
ke luar.
c. Penggunaan warna yang beraneka ragam sehingga anak dapat belajar mengenal warna.
d. Penggunaan bentuk kotak, lingkaran, dan garis lurus membuat anak dapat belajar
mengenal bentuk.

Pada setiap contoh kasus tema sejenis menggunakan tema arsitektur perilaku dalam
percangan bangunannya. Perilaku dari pengguna ditinjau, dianalisa, dan berdasarkan dari
pola pikir serta perilaku mereka, diterapkan dalam perancangan.
Tabel 3.5 Kesimpulan Studi Banding Tema Sejenis
No. Proyek Analisa Perilaku Penerapan Dalam Perancangan
1. 4. Fawood anak-anak Bentuk Menerapkan bentuk geometri yaitu
Children’s berkebutuhan massa persegi.
Centre khusus dan autis Fasade Penampilan bangunan dengan
London, UK penggunaan semacam lempengan
untuk meransang daya tarik anak-
anak.
Warna Penggunaan warna-warna yang
kontras dan menyolok pada
eksterior ruang, karena perilaku
anak-anak yang senang dengan
warna, sehingga bisa meningkatkan
daya rangsangan terhadap otak.
Struktur atap trapesium segi empat yang
menggunakan struktur baja.
Cahaya Pemanfaatan pencahayaan berupa
pencahayaan pada bagian fasade dan
penghawaan alami.

83 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

No. Proyek Analisa Perilaku Penerapan Dalam Perancangan


2. Tayoma Anak-anak Bentuk Menerapkan penggabungan bidang
Children kreatif, imajinati, massa lurus.
Centre suka bermain, Fasade Penampilan bangunan yang kreatif
aktif. dan imajinatif untuk meransang
daya tarik anak-anak.
Warna Penggunaan warna-warna yang
kontras dan menyolok pada interior
ruang, karena perilaku anak-anak
yang senang dengan warna,
sehingga lebih bisa meningkatkan
daya ingatnya terhadap warna dan
semangatnya.
Sirkulasi Linear bercabang dan berkelok-
kelok untuk memberi kesan
mengalir mengingat perilaku anak-
anak yang senang mengeksplore
ruang.
Cahaya Pemanfaatan pencahayaan dan
penghawaan alami.
2. Taman Anak-anak Bentuk Memberi rasa aman pada anak
kanak-kanak kreatif, imajinati, massa dengan bentuk bundar (berorintasi
Carousel suka bermain, ke luar).
aktif. Bentuk seperti komedi putar untuk
menarik daya tarik anak- anak.
Warna Penggunaan warna-warna yang
kontras dan menyolok pada interior
ruang, karena perilaku anak-anak
yang senang dengan warna,
sehingga lebih bisa meningkatkan
daya ingatnya terhadap warna dan
semangatnya.

84 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

No. Proyek Analisa Perilaku Penerapan Dalam Perancangan


Pola Pola lantai bergaris agar anak
lantai belajar lurus.
Denah Denah lingkaran dengan maksud
lebih mudah mengawasi anak-anak.
Kesimpulan akhir :
Dalam penerapan arsitektur perilaku, terlebih dahulu mempelajari perilaku dan
karakteristik dari pengguna. Dengan demikian konsep ruang dan bangunan yang sesuai
dapat tercapai. Penggunaan warna, material, pencahayaan, bukaan, view yang alami
hendaknya menjadi hal-hal yang harus dipikirkan dengan seksama. Karena secara tidak
sengaja, ruang yang terbentuk dan isi dari ruang dapat turut mempengaruhi keadaan jiwa
dari seseorang. Apakah itu membuat orang semakin baik atau tidak.
Sumber : Analisis Pribadi

85 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Bab IV
ANALISIS PERANCANGAN

Dalam merancang, bangunan yang akan dirancang haruslah memperhatikan tapak, lingkungan, dan juga manusia. Dalam hal tapak
khususnya, analisis yang baik akan memberikan konsep dasar sebuah perancangan arsitektur.

IV.1. Analisis Tapak dan Lingkungan


IV.1.1. Analisa Lokasi
Lokasi Proyek berada di Medan, Sumatera Utara, tepatnya di Jl. Tengku Amir Hamzah,Kecamatan Helvetia, Medan, Sumatera Utara ,
Indonesia . Dengan data-data fisik sebagai berikut :
 Luas lahan : ± 2,5 ha
 Sifat proyek : Fiktif
 Kontur : Relatif Datar
 Kondisi Eksisting : Merupakan lahan kosong
 KDB : 73%

Gambar 4.1 Lokasi Tapak

86 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

IV.1.2. Lokasi Tapak dalam Lingkungan Kawasan


Usulan
 Site ini cocok untuk
Kondisi
pembangunan proyek ini,
 Lokasi tapak sesuai dengan
karena keadaan sekitar yang
arah pengembangan WPP
tenang.
E.
 Lokasi tapak dekat dengan
Potensi
permukiman.
 Dengan adanya
 Permukiman di bagian
pembangunan proyek ini,
utara site tidak beraturan.
akan dapat meningkatkan
pengetahuan masyarakat
mengenai autism.
Gbr 4.2 Lokasi Tapak dalam Lingkungan Kawasan
Sumber : Peta Medan 2010

IV.1.3. Ukuran Tapak dan Batas-Batas

 Luas Tapak Proyek : 2.5Ha


 KDB : 73%
 Batas Sebelah Utara : Tanah kosong & Perumahan
 Batas Sebelah Timur : [Link]
 Batas Sebelah Selatan : [Link] Hamzah
 Batas Sebelah Barat : Perumahan penduduk

Gbr 4.3 Ukuran Tapak dan Batas-batas


Sumber : Peta Medan 2010

87 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

IV.1.4. Eksisting Zoning dan Tata Guna Lahan

Kondisi
 Pemukiman penduduk yang
mendominasi pada tata
guna lahan.
 Juga adanya tanah kosong
yang cukup luas.

Gbr 4.4 Tata Guna


Sumber : Peta Medan 2010

88 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

IV.1.5. View ke dalam Tapak

Kondisi
 Lokasi tapak memiliki view yang
tidak teratur karena semak
belukar yang tumbuh
sembarangan.

Usulan
 View lokasi tapak diolah dengan
baik agar memiliki citra sebuah
pusat rehabilitasi autism.

Potensi
 Lokasi tapak dengan skala besar
dapat menjadi view yang baik jika
diolah dengan menarik (dari arah
Gbr 4.5 View ke dalam Tapak [Link] Hamzah
Sumber : Peta Medan 2010

Gbr 4.6 Foto View ke dalam Tapak


Sumber : Data Pribadi
89 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

IV.1.6. View ke luar Tapak

G
H

A B

F C

E C D
D B A

Gbr 4.7 View ke luar Tapak


Sumber : Peta Medan 2010
E F
Kondisi Usulan Potensi
 Lokasi tapak  Bagian view  Bagian massa
memiliki view yang kurang bangunan yang
keluar ke arah menarik dapat berhadapan dengan
Selatan cukup dimanfaatkan view yang baik akan
rapi, sedangkan sebagai area melayani G H
ke arah Utara, parkiran dan pengembangan fungsi Gbr 4.8 Foto View ke luar Tapak
Timur, Barat tidak area servis. publik dan semi publik. Sumber : Data Pribadi
beraturan.

90 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

IV.1.7. Suasana View dari Berbagai Sisi

Usulan
Kondisi
 View terbaik akan
 Bagian view terbaik dimanfaatkan sebaik
memiliki posisi ke arah Jl. mungkin.
TA Hamzah, sedangkan
view yang kurang tertata
Potensi
memiliki posisi ke arah
 Penempatan view terbaik
utara,timur, dan barat
akan ditempatkan ruang
tapak.
publik dan semi publik .

Gbr 4.9 Suasana View


Sumber : Peta Medan 2010

IV.1.8. Garis Langit


Kondisi
 Ketinggian bangunan rata-rata satu
dan dua lantai.
Usulan
 Menciptakan bentukan massa yang
kontras untuk memberikan landmark
lingkungan atau kawasan.
Potensi
 Bentukan massa proyek dapat
Gbr 4.10 Garis Langit
didesain sedemikian rupa.
Sumber : Peta Medan 2010
91 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

IV.1.9. Analisa Sirkulasi

Jl. Pembangunan Gang Mulia


 Jalan lingkungan 2  Jalan lingkungan 2
arah. arah.
 Lebar 6.5meter.  Lebar 3.5meter.
 Dilewati  Dilewati
mobil,motor,becak mobil,motor,becak
 Kepadatan rendah.  Kepadatan rendah.

Jl. T.A. Hamzah Kondisi


 Jalan arteri 2 arah.  Dilewati
 Lebar 20meter. mobil,motor,becak,
 Dilewati angkutan umum.
mobil,motor,becak,  Kepadatan rendah.
angkutan umum.  Jarang terjadi
 Kepadatan kemacetan.
menengah Gbr 4.11 Analisa Sirkulasi
Sumber : Peta Medan 2010

Jl. TA Hamzah Jl. TA Hamzah Gg. Mulia Jl. Pembangunan


Gbr 4.12 Foto Suasana Sirkulasi
Sumber : Data Pribadi
92 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

IV.1.10. Analisa Matahari


Usulan
Kondisi
 Orientasi bangunan
 Pembayangan yang
yang memanjang
terjadi cukup teduh,
diorientasikan pada
akibat banyaknya
arah utara-selatan.
vegetasi pada area Jl.
 Untuk bagian yang
Pembangunan.
menerima radiasi
matahari, ditempatkan
Potensi
sebagai ruang servis.
 Refleksi radiasi matahari
 Pemanfaatan vegetasi
dari ground cover dan
sebagai elemen
permukaan bangunan
pembayangan terhadap
Gbr 4.13 Analisa Matahari dapat dikurangi.
Sumber : Peta Medan 2010 panas matahari.

IV.1.11. Analisa Angin

Kondisi
Usulan
 Angin pada bulan April-September
 Membiarkan angin masuk
bergerak dari arah Barat Laut ke
ke dalam bangunan dan
Tenggara.
terjadi pertukaran udara di
 Angin pada bulan Oktober-Maret
dalam bangunan.
bergerak dari arah Tenggara ke Barat
Laut.

Gbr 4.14 Analisa Angin


Sumber : Peta Medan 2010

93 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

IV.1.12. Analisa Kebisingan

Kondisi
 Sumber kebisingan
berasal dari [Link] Usulan
Hamzah,  Menggunakan vegetasi,
[Link]. dan pertamanan sebagai
 Namun tingkat penyangga atau buffer.
kebisingan tidak terlalu
tinggi.

Gbr 4.15 Analisa Kebisingan


Sumber : Peta Medan 2010

IV.1.13. Analisa Utilitas

Kondisi
 Terdapat instalasi utilitas air
bersih, listrik, dan telepon.
 Untuk limbah seluruhnya
bermuara ke saluran
drainase kota.

KETERANGAN :
S=Sewer ; W=Water
P=Power ; T=Telephone
Gbr 4.16 Analisa Utilitas
Sumber : Peta Medan 2010
94 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

IV.1.14. Analisa Potensi Tapak


Keterangan gambar :
1. RS. Islam Malayati : Jl. Kejaksaan
2. RSU. Dr. Pringadi : Jl. Perintis Kemerdekaan
3. RS. Mitra Medika : Jl. Yos Sudarso
4. RS. Putri Hijau / Bukit Barisan : Jl. Putri Hijau
5. RSU. Herna : Jl. Dr. TD. Pardede
6. RSU. Permata Bunda : Jl. Sisingamangaraja
7. RSU. Tembakau Deli : Jl. Putri Hijau
8. RS. Methodist : Jl. MH. Thamrin
9. RSU. Deli : Jl. Merbabu
10. RSU. Vina Estetica : Jl. Iskandar Muda
11. RSU. Imelda : Jl. Bilal
12. RS. Harapan Ibu : Jl. Gereja
13. RS. Bersalin Sejahtera : Jl. Karya
14. RSU. Helvetia : Jl. Kapten Sumarsono
15. RSU. Prof. Dr. Boloni : Jl. Robert Wolter Monginsidi
16. RSU. Siti Hajar : Jl. Letjen Jamin Ginting
17. RSU. Advent : Jl. Jenderal Gatot Subroto
18. RS. Martha Friska : Jl. Yos Sudarso
19. RSU. Bina Sejahtera : Jl. Titi Pahlawan
20. RS. Islam Ummah : Jl. Ismaliyah
Gbr 4.17 Analisa Potensi Tapak
Sumber : Peta Medan 2010
95 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

21. RSU. Methodist Sussana Weshey : Jl. Harmonika


22. RSU. Mitra Persada : Jl. Letnan Jamin Ginting
23. RSU. Delima : Jl. Yos Sudarso
24. RSU. Ellyas : Jl. HM. Joni
25. RS. Widya Husada : Jl. Mustapa
26. RSU. Hirasma : Jl. Jend. Gatot Subroto
27. RSUP. [Link] Malik : Jl. Bunga Lau
28. Modern Holistic Centre : Jl. Sei Kera
29. RSU. Sari Mutiara : Jl. Kapten Muslim

Kesimpulan:
 terdapat delapan rumah sakit di dekat site.

96 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

IV.2. Analisis Fungsional


Berikut ini adalah analisis fungsional yang menunjukkan program ruang dalam, luar, dan hubungan antar ruang.
IV.2.1. Program Ruang
Tabel 4.1 Program Ruang
STANDAR KAPASITAS JUMLAH BESARAN
NO RUANG SUMBER
(m2/org) (orang) (ruang) (m2)
I Bagian Terapi
1. R. Terapi Individu 1.5 2 200 600 PAP
2. Hidioterapi
• R. Staff 4 4 1 16 DA
• R. Tunggu 2 50 1 100 DA
• Whirpool 9 30 2 540 TSS
• R. Bilas A
- Pria 2.25 33 1 74.25
- Wanita 2.25 17 1 38.25 KETERANGAN:
• R. Ganti TSS
- Pria 2.25 33 1 74.25 PAP : Perawatan Autisme
- Wanita 2.25 17 1 38.25 pada Anak
• Loker TSS
- Pria 0.8 33 1 26.4 DA : Data Arsitek
- Wanita 0.8 17 1 13.6
• Toilet STUI TSS : Timesaver Standard
- Pria UB
Kloset 1.2 40 1 1.2 STUI: Standar Toilet
Urinoir 0.64 40 2 1.28 Umum Indonesia
Wastafel 0.4 40 1 0.4
UB: Utilitas Bangunan
- Wanita
A : Asumsi
Kloset 1.2 10 1 1.2

97 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

STANDAR KAPASITAS JUMLAH BESARAN


NO RUANG SUMBER
(m2/org) (orang) (ruang) (m2)
Wastafel 0.4 10 1 0.4
4. R. Musik 1.5 47 2 72 TSS
5. R. Lukis 1.5 47 2 72 TSS
6. R. Bermain Indoor 4.5 100 2 900 TSS
7. Toilet STUI
- Pria UB
Kloset 1.2 320 4 4.8
Urinoir 0.64 320 10 6.4
Wastafel 0.4 320 6 2.4

- Wanita
Kloset 1.2 110 3 2.4
Wastafel 0.4 110 3 0.8

8. Janitor 0.95 1 4 3.8 A


KETERANGAN:
9. Kamar Mandi Anak DA
- Pria 1.4 2 40 112 PAP : Perawatan Autisme
- Wanita 1.4 2 10 28 pada Anak
10. Gudang Penyimpanan Alat
1 10 4 40 DA
Terapi DA : Data Arsitek
11. R. Tunggu 2 30 1 60 DA
12. TSS : Timesaver Standard
R. Kesehatan
- R. Dokter 3 4 1 12 TSS
STUI: Standar Toilet
- R. Psikiater 3 4 1 12 TSS
3 5 1 15 TSS Umum Indonesia
- R. Perawat
- [Link] 1.5 4 1 6 PAP
UB: Utilitas Bangunan
- [Link] Perawat 2.5 5 1 12.5 DA
- Klinik 2 tt 5 1 26 DA A : Asumsi

98 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

STANDAR KAPASITAS JUMLAH BESARAN


NO RUANG SUMBER
(m2/org) (orang) (ruang) (m2)
1.5
- R. Arsip 2 1 1.5 NAD
(1000arsip)
13. R. Terapis 2 100 2 400 A
Jumlah 3311.28
Sirkulasi 20% 662.256
Total 3973.536
Sumber : Olahan Pribadi

STANDAR KAPASITAS JUMLAH BESARAN


NO RUANG SUMBER
(m2/org) (orang) (ruang) (m2)
II Bagian Hunian
1. Asrama A
• R. Tidur
- Pria 4 4 (1kmr) 26 416
- Wanita 4 4 (1kmr) 26 416
KETERANGAN:
2
• R. Makan 4 m /meja 167 1 168 DA
(1mj = 4 org) PAP : Perawatan Autisme
= 42mj pada Anak
• R. Tamu 2 16 1 32 DA DA : Data Arsitek
• R. Bersama 0.8 220 1 176 DA
• Toilet STUI TSS : Timesaver Standard
- Pria UB
STUI: Standar Toilet
Kloset 1.2 144 14 16.8
Urinoir 0.64 144 6 3.84 Umum Indonesia
Wastafel 0.4 144 12 4.8
UB: Utilitas Bangunan
- Wanita
A : Asumsi

99 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

STANDAR KAPASITAS JUMLAH BESARAN


NO RUANG SUMBER
(m2/org) (orang) (ruang) (m2)
Kloset 1.2 73 9 10.8
Wastafel 0.4 73 6 2.4
2. Kamar Mandi A
- Pria 4 144 18 72
- Wanita 4 73 10 40
3. Dapur 1.5 5 1 7.5 DA
Gudang Penyimpanan 6 - 1 6 A
4.
Makanan
5. R. Laundry A
- Washer 25 - 1 25
- Dryer 25 - 1 25
6. Janitor 0.95 1 2 1.9 A
Jumlah 1504.04
Sirkulasi 20% 308.008
Total 1812.048 KETERANGAN:
Sumber : Olahan Pribadi
PAP : Perawatan Autisme
STANDAR KAPASITAS JUMLAH BESARAN pada Anak
NO RUANG SUMBER
(m2/org) (orang) (ruang) (m2)
III Bagian Umum DA : Data Arsitek
1. Resepsionis 2 3 1 6 DA
TSS : Timesaver Standard
2. Aula/Hall 1.85 100 1 185 DA
3. R. Administrasi Umum TSS STUI: Standar Toilet
- Bagian Program 4 2 1 8 Umum Indonesia
- Bagian Personalia 4 2 1 8
- Bagian Keuangan 4 2 1 8 UB: Utilitas Bangunan
- Bagian Hunian 4 2 1 8
- R. Arsip 1.5 2 1 1.5 NAD A : Asumsi

100 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

STANDAR KAPASITAS JUMLAH BESARAN


NO RUANG SUMBER
(m2/org) (orang) (ruang) (m2)
(1000arsip)
4. R. Administrasi Terapi
- Bagian Terapi 4 4 1 16 TSS
- R. Arsip 1.5 2 1 1.5 NAD
(1000arsip)
5. R. Ketua Yayasan 16 1 1 16 A
6. R. Wakil Ketua Yayasan 16 1 1 16 A
7. R. Rapat 2 30 2 120 DA
8. Pantry - - 1 4 A
9. Dapur 1.5 5 1 7.5 DA
490
10. Kantin 4 m2/meja (1mj=4org 1 490 DA
=123mj)
11. Perpustakaan DA
- Rak buku 1 20 1 20 KETERANGAN:
- R. Baca 0.8 100 1 80
PAP : Perawatan Autisme
- R. Penitipan 0.14 10 1 1.4
- R. Pengaman Buku 4 2 1 8 pada Anak
- R. Staff 1.6 4 1 6.4
DA : Data Arsitek
12. R. Serba guna 0.8 300 1 240 DA
13. Toilet STUI TSS : Timesaver Standard
- Pria UB
Kloset 1.2 362 8 9.6 STUI: Standar Toilet
Urinoir 0.64 362 4 2.56 Umum Indonesia
Wastafel 0.4 362 10 4
UB: Utilitas Bangunan
- Wanita
Kloset 1.2 140 6 7.2 A : Asumsi

101 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

STANDAR KAPASITAS JUMLAH BESARAN


NO RUANG SUMBER
(m2/org) (orang) (ruang) (m2)
Wastafel 0.4 140 6 2.4
14. Janitor 0.95 1 2 1.9 A
15. Gudang 6 1 1 6 A
Jumlah 3043.41
Sirkulasi 20% 608.682
Total 3652.092
Sumber : Olahan Pribadi

STANDAR KAPASITAS JUMLAH BESARAN


NO RUANG SUMBER
(m2/org) (orang) (ruang) (m2)
IV Bagian Servis
1. Gudang 9 1 1 9 A
2. R. Genset 16 - 1 16 A
3. R. Pompa 16 - 1 16 A KETERANGAN:
4. R. AHU 16 - 1 16 A
PAP : Perawatan Autisme
5. R. Kontrol 16 - 1 16 A pada Anak
6. R. PABX 16 - 1 16 A
7. R. CCTV 12 - 1 12 DA DA : Data Arsitek
Jumlah 101
TSS : Timesaver Standard
Sirkulasi 20% 20.2
Total 121.2 STUI: Standar Toilet
Sumber : Olahan Pribadi Umum Indonesia

UB: Utilitas Bangunan

A : Asumsi

102 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

IV.3. Kesimpulan Analisa


Tabel 4.2 Kesimpulan Analisa
No. Jenis Analisa Persoalan Potensi Prospek
1. Lokasi Tapak Lahan merupakan lahan kosong, Lokasi berada di daerah Bangunan eksisting diasumsi dibeli dan
namun terdapat beberapa pemukiman yang cukup tenang. kemudian dibangun menjadi bagian dari
bangunan eksisting proyek.
2. View ke dalam Lokasi tapak memiliki view Lokasi tapak dengan skala besar Fasad utama menhadap utara selatan, kearah
yang tidak teratur karena semak dapat menjadi view yang baik jika jalan utama yaitu Jl. TA Hamzah.
belukar yang tumbuh diolah dengan menarik (dari arah
sembarangan. [Link] Hamzah

3. View ke luar Lokasi tapak memiliki view Bagian massa bangunan yang Fasad bangunan akan berorientasi kearah
keluar ke arah Selatan cukup berhadapan dengan view yang utara-selatan. Pada batas site sebelah utara,
rapi, sedangkan ke arah Utara, baik akan melayani
timur dan barat akan diberi pembatas
Timur, Barat tidak beraturan. pengembangan fungsi publik dan
semi publik pandangan berupa vegetasi.
4. Skyline Ketinggian bangunan rata-rata Menciptakan bentukan massa Ketinggian maksimal bangunan adalah tiga
satu dan dua lantai. yang kontras untuk memberikan lantai, dengan bentukan atap melengkung
landmark lingkungan atau
sehingga memberi kesan yang kontras dari
kawasan.
perumahan sekitar.
5. Sirkulasi Jalan utama dilewati oleh mobil, Lebar jalan utama cukup lebar, Entrance utama direncanakan sedemikian rupa
kendaraan sepeda motor, becak dan dengan intensitas kepadatan agar tidak menimbulkan kemcetan dan alur
angkutan umum kendaraan yang cukup rendah,
dari in-drop off-parkir-jemput diatur
sehingga hampir tidsk pernah

103 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

No. Jenis Analisa Persoalan Potensi Prospek


terjadi kemacetan sedemikian rupa.
6. Kebisingan Sumber kebisingan berasal dari Namun tingkat kebisingan tidak Menggunakan buffer berupa vegetasi.
[Link] Hamzah, [Link]. terlalu tinggi.

7. Matahari Pembayangan yang terjadi Refleksi radiasi matahari dari  Orientasi bangunan yang memanjang
cukup teduh, akibat banyaknya ground cover dan permukaan diorientasikan pada arah utara-selatan.
vegetasi pada area Jl. bangunan dapat dikurangi.  Untuk bagian yang menerima radiasi
Pembangunan. matahari, ditempatkan sebagai ruang
servis.
 Pemanfaatan vegetasi sebagai elemen
pembayangan terhadap panas matahari.

Sumber : Analisis Pribadi

104 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Bab V
KONSEP PERANCANGAN

V.1. Konsep perancangan diuraikan sebagai berikut:


Tabel 5.1 Konsep Perancangan
N
Konsep Penerapan
o.
1. Zoning Zoning dalam site terbagi menjadi 4, yaitu:

 Berdasarkan analisa view, maka zona publik diletakkan dekat


dengan Jl. TA Hamzah.
 Berdasarkan analisa kebisingan, maka zona privat yang paling
berpotensial diletakkan di daerah dengan kebisingan rendah dan
privacy yang tinggi.

105 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

N
Konsep Penerapan
o.
2. Organisasi
ruang

Pengelompokan organisasi ruang di dalam site :

dimana :
 Bangunan utama : hall, pengelola, perpustakaan, ruang seminar
dan kantin.
 Bangunan kesehatan : ruang dokter, ruang psikiater, ruang
observasi, klinik,dan ruang perawat.
 Bangunan terapi : ruang terapis ([Link]), terapi individual, terapi air
dan terapi bermain.

106 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

N
Konsep Penerapan
o.
 Bangunan hunian : asrama putra, asrama putri, ruang makan dan
ruang kumpul.
 Bangunan servis : gudang, ruang genset, ruang tangki air.
3. Pencapaian
, Entrance
dan
Sirkulasi

 Pencapaian utama dari Jl. TA Hamzah.


 Pencapaian untuk umum dan anak yang diantar-jemput melalui
entrance utama.
 Pencapaian untuk orang tua yang hendak menjenguk anaknya yang
diasramakan melalui entrance dari samping site.
 Sirkulasi di dalam site, sirkulasi antar bangunan menggunakan
konsep spines

4. Vegetasi
dan
Lansekap

107 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

N
Konsep Penerapan
o.

Vegetasi yang digunakan


 memiliki tekstur kasar, lembut, misalnya perdu dan rumput.
 ada nya perpaduan warna-warna, misalnya bunga krisan dan
gerbera.
 Penggunaan pohon betajuk bulat ,pohon bertajuk runcing.
Lansekap :
 Adanya kontur buatan pada area play ground , sehingga dapat
menjadi salah satu terapi yang melatih gerakan motorik anak.
 Adanya low grass hill, yang memberi suasana perbedaan level.

Jenis vegetasi yang digunakan:

Nama spesies : Wodyetia bifurcata


Nama lain : palem ekor tupai
Famili : Arecaceae
Ketinggian :3-6m
Daya Tarik : Daun

108 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

N
Konsep Penerapan
o.

Nama spesies : Axonopus compressus „ Dwarf „


Nama lain : rumput paetan , wide-leaved , carpet grass
Famili : Poaceae
Ketinggian : 10 cm

Nama spesies : Draceana Fragans Massangeana


Jenis tanaman anti-polutan menyerap zat formaldehida,
dimana zat formaldehida dapat mengakibatkan iritasi
mata, alergi kulit, gangguan pernapasan serta gangguan
penglihatan.

Nama spesies : Aglaonema Aglaonema


Nama lain : Sri rejeki
Merupaka tanaman anti polutan yang mampu menyerap
benzena 14,500 µg per 24 jam, juga mampu menyerap
formaldehida 4,382 µg.

Nama spesies : Chrysanthemum Morfolium


Nama lain : Bunga Krisan
Merupakan salah satu tanaman anti-polutan yang dapat
menyerap gas-gas polutan seperti formaldehida,
benzena, ammonia.

Nama spesies : Gerbera Jamesonii


Nama lain : Bunga Gerbera
Tanaman ini dapat menyerap zat formaldehida.

Sumber : National Aeronautics & Space Administration (NASA) dan Associated


Landscape Contractors of America (ACLA).

109 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

N
Konsep Penerapan
o.
5. Bentukan
massa

1. Massa bangunan utama


 Permainan dari bentuk persegi.

- Untuk menyeimbangkan sudut-sudut yang ditonjolkan, maka


diterapkan atap lengkung, sehingga lebih terkesan dinamis.

110 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

2. Massa bangunan terapi


 Adanya perbedaan elevasi antara taman dengan entrance
bangunan terapi, yang mana dirancang agar menjadi salah
satu sarana terapi.

3. Massa bangunan hunian


Menggunakan bentuk seperti huruf “L” sehingga tercipta ruang di
antara bangunan, yang mana menjadi ruang yang bersifat privat
pula.

111 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

N
Konsep Penerapan
o.
6. Konsep Menurut penelitian F.S. Breeds dan SE, Kats, kombinasi warna yang
Warna cenderung disukai ada tiga, yaitu 1. Warna kontras
2. Warna analog
3. Warna monokrom
Namun berdasarkan perilaku anak-anak, warna yang dapat menarik
perhatian anak-anak adalah jenis warna-warna kontras. Dimana warna
kontras terdapat tiga macam warna, yaitu :
 warna merah, menurut buku Marian [Link] (1987:135),
artinya cinta, kekuatan, berani, primitive,menarik.
 Warna biru, menurut buku Marian [Link] (1987:135),
artinya damai, lembut, setia, konservatif.
 Warna kuning, menurut buku Marian [Link] (1987:135),
artinya cerah, bijaksana, terang , bahagia, hangat.

Bangunan utama

Bangunan Kelas
Terapi

Bangunan Terapi
Air dan Bermain

112 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

N
Konsep Penerapan
o.
7. Konsep Pada fasade bangunan A, C, D, E digunakan material aluminium
Material composite panel. Adapun lapisan-lapisan dari ACP tersebut dapat dilihat
Façade pada gambar berikut.

Beberapa data mengenai ACP , yaitu :

113 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

N
Konsep Penerapan
o.
Berikut data teknis dari ACP

114 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

N
Konsep Penerapan
o.

115 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

N
Konsep Penerapan
o.
8. Konsep Berdasarkan sifat anak-anak yang cenderung dinamis, maka sifat dinamis
Skyline ini diterapkan pada bentukan skyline dalam site.

Sumber : Olahan dan Analisis Pribadi

V.2. Konsep Utilitas


Konsep Utilitas meliputi sistem elektrikal, sanitasi dan pengkondisian udara. Konsep
Utilitas diuraikan sebagai berikut.

V.2.1. Konsep Sistem Elektrikal


Sumber arus listrik pada bangunan berasal dari arus PLN dan Generator listrik (tenaga
cadangan).

Gambar 5.1 Sistem elektrikal


Sumber : Olahan Pribadi

V.2.2. Konsep Sistem Sanitasi


Konsep sistem sanitasi terdiri dari air bersih, air kotor, air limbah, air hujan dan air
kolam.
 Air Bersih
Air bersih berasal dari PDAM.

116 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gbr 5.2 Sistem air bersih


Sumber : Olahan Pribadi

 Air Limbah

Gbr 5.3 Sistem air limbah


Sumber : Olahan Pribadi

 Air kotor

Gbr 5.4 Sistem air kotor


Sumber : Olahan Pribadi

 Air kolam

Gambar 5.5 Sistem air kolam


Sumber : Olahan Pribadi

117 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

 Air hujan

Gambar 5.6 Sistem air hujan


Sumber : Olahan Pribadi

V.2.3. Konsep Sistem Pengkondisian Udara


Pada ruangan publik (bangunan A) menggunakan sistem pengkondisian udara sentral
sedangkan untuk ruangan semi-publik (bangunan B, C, D, E) dan bangunan privat (bangunan
G, H) menggunakan AC Split.

Gambar 5.7 Sistem Pengkondisian Udara


Sumber : Olahan Pribadi

118 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Bab VI
GAMBAR PERANCANGAN

Gambar 6.1. Site Plan


Sumber : Olahan Pribadi

119 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.2 Ground Plan


Sumber : Olahan Pribadi
120 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.3. Tampak Site dan Potongan Site


Sumber : Olahan Pribadi
121 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.4. Denah dan Tampak Bangunan A


Sumber : Olahan Pribadi
122 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.5. Tampak Bangunan A dan Potongan Bangunan A


Sumber : Olahan Pribadi
123 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.6. Potongan Bangunan A


Denah Tampak Pototngan Bangunan B
Denah Bangunan C Sumber : Olahan Pribadi

124 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.7. Denah Bangunan C


Tampak Bangunan C
Potongan Bangunan C Sumber : Olahan Pribadi

125 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.8. Denah Bangunan D


Tampak Bangunan D Sumber : Olahan Pribadi

126 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.9. Potongan Bangunan D


Denah Tampak Potongan Bangunan F
Denah Bangunan G Sumber : Olahan Pribadi

127 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.10. Denah Bangunan H


Tampak Potongan Bangunan G-H Sumber : Olahan Pribadi

128 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.11 Rencana Pondasi


Sumber : Olahan Pribadi

129 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.12. Rencana Pondasi


Detail Pondasi Sumber : Olahan Pribadi

130 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.13 Rencana Pembalokan


Sumber : Olahan Pribadi

131 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.14 Rencana Pembalokan


Sumber : Olahan Pribadi
132 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.15 Rencana Pembalokan


Rencana Atap Sumber : Olahan Pribadi

133 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.16 Rencana Atap


Detail Atap Sumber : Olahan Pribadi

134 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.17 Detail Atap


Sumber : Olahan Pribadi
135 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.18 Detail


Sumber : Olahan Pribadi
136 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.19. Trafe Tampak


Sumber : Olahan Pribadi
137 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.20 Rencana Elektrikal


Sumber : Olahan Pribadi
138 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.21 Rencana Elektrikal


Sumber : Olahan Pribadi
139 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.22 Rencana Elektrikal


Rencana Pengkondisian Sumber : Olahan Pribadi
Udara
140 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.23 Rencana Plumbing


Sumber : Olahan Pribadi
141 JESSICA 070406034
Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.24. Rencana Plumbing


Sumber : Olahan Pribadi

142 JESSICA 070406034


Universitas Sumatera Utara
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

VI.2. Gambar Poster dan Maket

Gambar 6.25. Poster (1)


Sumber : Data Pribadi
143 Universitas Sumatera Utara
JESSICA 070406034
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.26. Poster (2)


Sumber : Data Pribadi
144 Universitas Sumatera Utara
JESSICA 070406034
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.27. Poster (3)


Sumber : Data Pribadi
145 Universitas Sumatera Utara
JESSICA 070406034
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.28. Poster (4)


Sumber : Data Pribadi
146 Universitas Sumatera Utara
JESSICA 070406034
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.29 Maket (1) Gambar 6.30 Maket (2)


Sumber : Data Pribadi Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.31 Maket (3) Gambar 6.32 Maket (4)


Sumber : Data Pribadi Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.33 Maket (5) Gambar 6.34 Maket (6)


Sumber : Data Pribadi Sumber : Data Pribadi

147 Universitas Sumatera Utara


JESSICA 070406034
AUTISM CARE CENTER
ARSITEKTUR PERILAKU

Gambar 6.35 Maket (7)


Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.37 Maket (9)


Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.36 Maket (8)


Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.38 Maket (10)


Sumber : Data Pribadi

148 Universitas Sumatera Utara


JESSICA 070406034

Anda mungkin juga menyukai