0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan22 halaman

Makna Mantra Pekasi di Soppeng

Penelitian ini membahas cenningrara, salah satu jenis mantra tradisional suku Bugis di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Tujuannya adalah mendeskripsikan makna mantra cenningrara dan mengetahui persepsi masyarakat terhadapnya. Data diperoleh melalui wawancara dengan 3 informan dan angket terhadap 15 responden. Analisis data menggunakan pendekatan semiotik Rifaterre untuk mengungkap makna melalui ket

Diunggah oleh

Indra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan22 halaman

Makna Mantra Pekasi di Soppeng

Penelitian ini membahas cenningrara, salah satu jenis mantra tradisional suku Bugis di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Tujuannya adalah mendeskripsikan makna mantra cenningrara dan mengetahui persepsi masyarakat terhadapnya. Data diperoleh melalui wawancara dengan 3 informan dan angket terhadap 15 responden. Analisis data menggunakan pendekatan semiotik Rifaterre untuk mengungkap makna melalui ket

Diunggah oleh

Indra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

CENNINGRARA ‘MANTRA PEKASI’ DI KABUPATEN SOPPENG

(KAJIAN SEMIOTIK RIFATERRE)

Nurul Rabianti
Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar
E-mail: Nurulrabianti1996@[Link]

ABSTRAK

NURUL RABIANTI. 2018. “Cenningrara ‘Mantra Pekasi’ di Kabupaten


Soppeng (Kajian Semiotik Rifaterre)”. Program Studi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Daerah, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan
Sastra, Universitas Negeri Makassar. (dibimbing oleh Johar Amir dan
Syamsudduha).
Penelitian cenningrara ‘mantra pekasi’ di Kabupaten Soppeng bertujuan untuk
mendeskripsikan makna mantra cenningrara dan mengetahui persepsi
masyarakat tentang mantra cenningrara. Informan dalam penelitian ini adalah
masyarakat Kabupaten Soppeng yang keseluruhannya berjumlah 3 orang untuk
wawancara dan Responden berjumlah 15 orang untuk angket. Desain penelitian
yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain deskriptif kualitatif
sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
teknik wawancara, pencatatan dan teknik angket. Teknik angket digunakan
dengan tujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap mantra
cenningrara. Jenis teknik angket yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis
angket terbuka dan tertutup. Angket tertutup adalah pertanyaan-pertanyaan yang
sudah disiapkan alternative jawabannya, sedangkan angket terbuka adalah
pilihan alternative bagi responden (narasumber) untuk membuat jawabannya
sendiri untuk mengemukakan pendapatnya. Teknik analisis data dalam penelitian
ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini
mengungkap tentang makna mantra cenningrara yang dikaji melalui
ketidaklangsungan ekspresi yang disebabkan oleh tiga hal, yaitu penggantian arti
(displacing of meaning), penyimpangan arti (distoring of meaning) dan
penciptaan arti (creating of meaning). Dari hasil penelitian ini, maka diharapkan
kepada generasi muda, agar lebih mencintai dan menggemari sastra daerah.
Mantra sebagai salah satu sastra lisan perlu digali lebih dalam lagi guna
melestarikan dan pengembangan budaya daerah sebagai aspek budaya bangsa.
PENDAHULUAN Sastra lisan adalah
Sastra merupakan suatu bentuk kesusastaraan yang mencakup ekspresi
budaya yang universal. Sastra kesusastaraan warga suatu kebudayaan
merupakan produk karya seni kreatif yang disebarkan dan diturun-
yang objeknya adalah manusia dengan temurunkan secara lisan dari mulut ke
segala permasalahannya dan mulut (Hutomo, 1991:1). Sastra lisan
disampaikan atau diwadahi oleh tersebar melalui tuturan yang
bahasa yang khas dan mengandung disampaikan secara lisan dan tidak
nilai estetik. Sastra tidak pernah sama menutup kemungkinan bahwa pada
antara satu tempat di dunia ini dengan pewarisannya pun terjadi pengurangan
tempat lain, tidak pernah sama antara dan penambahan yang disebabkan oleh
waktu dengan waktu yang lain. Selain adanya perbedaan tempat, situasi dan
itu, karya sastra merupakan suatu kondisi. Orang-orang yang dianggap
tiruan alam, mimesis, tetapi juga memenuhi syaratlah yang dianggap
merupakan suatu produk imajinasi dan mewarisi sastra lisan dan terus
produk kreativitas (Semi, 1990: 53). mengamalkannya dari generasi ke
Sastra menjadi cerminan dari generasi, sehingga membentuk satu
berbagai aspek kehidupan, serta tradisi.
tatanan antarmanusia. Maka dari itu, Setiap kelompok masyarakat
sastra merupakan bagian dari tentu memiliki tradisi dan sastra lisan.
kebudayaan masyarakat. Menurut Demikian pula dengan kelompok
Robson (1994: 9-7), kebudayaan masyarakat suku Bugis di Sulawesi
adalah kumpulan adat kebiasaan, Selatan. Suku Bugis yang berdiam di
pikiran, kepercayaan, dan nilai-nilai Sulawesi Selatan mempunyai cukup
yang turun-temurun serta dipakai oleh banyak sastra lisan seperti elong, pau-
masyarakat pada waktu tertentu untuk pau, pappaseng, mantra dan lain-lain.
menghadapi dan menyesuaikan diri Namun, salah satu sastra lisan yang
terhadap segala situasi yang sewaktu- akan penulis paparkan adalah mantra
waktu timbul, baik dalam kehidupan yaitu cenningrara. Istilah cenningrara
individu maupun dalam hidup merupakan objek kajian dalam
masyarakat secara keseluruhan. penelitian ini. Objek ini merupakan
Membicarakan tentang kebudayaan salah satu bentuk sastra lama atau
tentu tidak akan terlepas dari sastra sastra tradisional yang masih ada di
lisan. Indonesia. Walaupun cenningrara
merupakan hasil sastra lama, namun jenis mantra itu sendiri. Misalnya saja
cenningrara masih bertahan bahkan cenningrara yang dipakai ketika
masih banyak yang menggunakannya memakai bedak. Hal ini dimaksudkan
dalam masyarakat Bugis. agar yang bersangkutan setelah
Cenningrara adalah salah satu memakai bedak akan tampak lain,
jenis mantra yang muncul karena lebih cantik, bercahaya, dan tampak
adanya keyakinan masyarakat bahwa lebih menarik jika dibandingkan ketika
dunia ini sebenarnya memiliki sebelum memakai bedak. Demikian
kekuatan gaib (Abu,1980:49). Melalui juga dengan mantra lainnya.
cenningrara, manusia berusaha Cenningrara itu dapat digunakan oleh
membujuk dan menundukkan kekuatan laki-laki maupun perempuan.
gaib tersebut dalam rangka memenuhi Penggunaan cenningrara tidak dibatasi
keinginan-keinginan mereka yang oleh umur tertentu. Hanya saja anak-
bersifat rasional ataupun tidak rasional. anak yang tidak bisa menimbang
Cenningrara merupakan salah terhadap apa yang diperbuatnya belum
satu bentuk kesusastraan lama bisa diberikan. Ini dilakukan untuk
sekaligus sebagai warisan kebudayaan mencegah hal-hal yang merusak apa
lama. Sampai saat ini cenningrara yang menjadi konsekuensi atau akibat
masih tetap bertahan di tengah-tengah dari mantra itu.
kecepatan laju teknologi yang serba Cenningrara dan masyarakat
canggih. Cenningrara masih mampu Bugis mempunyai hubungan yang erat.
mempertahankan dan menempatkan Artinya, mantra ada karena ada
diri dalam masyarakat modern. Hal ini masyarakat pewarisnya. Masyarakat
disebabkan keyakinan dan Bugis sangat meyakini bahwa
kepercayaan masyarakat itu sendiri pembacaan cenningrara merupakan
untuk tetap menggunakannya. wujud dari usaha untuk mencapai
Masyarakat pada umumnya, khususnya keinginannya. Menurut kepercayaan
masyarakat Bugis, sebagian masih mereka, cenningrara dapat membuat
sangat percaya bahwa di balik orang terlihat lebih cantik, dapat
cenningrara itu ada sesuatu yang menarik perhatian, dan dapat membuat
dianggap mendatangkan kekuatan awet muda. Cenningrara memiliki
gaib. peranan yang cukup penting dalam
Menurut keyakinan orang kehidupan masyarakat suku Bugis.
Bugis, tujuan mantra bergantung pada Kepercayaan tentang adanya suatu
kekuatan gaib yang mendorong mereka di Kabupaten Soppeng belum pernah
untuk merealisasikan kekuatan tersebut diteliti secara mendalam. Di samping
ke dalam wujud nyata untuk itu, Melalui penelitian ini, juga
memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu, diharapkan masyarakat khususnya
cenningrara menarik untuk dipahami suku Bugis, juga terdorong untuk
lebih jelas melalui suatu kajian yang melestarikan warisan nenek moyang
lebih terfokus. Dalam penelitian ini, sebagai bagian budaya dan
penulis akan mengkaji bentuk memperkenalkan kepada masyarakat
cenningrara disertai dengan cara lain, khususnya generasi muda.
penggunaan dan pemaknaannya. Penelitian mengenai mantra
Penulis memfokuskan pemaknaannya pernah diteliti oleh Rahmiati Warap Sari
menggunakan kajian semiotik yang meneliti tentang makna mantra
Rifaterre. dengan judul “Makna Mantra Pekasi
Melalui bukunya Semiotics of pada Masyarakat Ballocci Kabupaten
Poetry (1978), Riffaterre Pangkep (Tinjauan Semiotik Rifaterre)
mengungkapkan metode pemaknaan (2012:10). Penelitian yang pernah
puisi secara semiotik dengan tuntas. diteliti oleh Rahmiati Warap Sari hampir
Berdasarkan hal itu, penulis merasa sama dengan judul penelitian ini, namun
tepat untuk menerapkannya pada yang membedakannya adalah dari segi
pemaknaan terhadap mantra bentuk dan cara penggunaan mantranya.
Cenningrara, sebagai salah satu jenis Pada penelitian ini juga, peneliti
puisi, yang akan dilakukan pada memaparkan cenningrara ke dalam
penelitian ini. Langkah-langkah beberapa jenis yaitu mantra
pemaknaan terhadap sebuah puisi yang mempercantik diri, mantra menarik
dikemukakan oleh Riffaterre sangat perhatian, dan mantra awet muda,
memberikan ruang untuk dapat penulis juga memaparkan bagaimana
mengungkap makna yang terdapat persepsi masyarakat terhadap
dalam mantra Cenningrara secara cenningrara. Namun, Pada penelitian
total. sebelumnya, penulis tidak memaparkan
Penulis tertarik mengkaji cenningrara ke dalam beberapa jenis,
cenningrara sebagai objek penelitian penulis hanya memaparkan cenningrara
dengan berbagai pertimbangan, antara secara umum dan tidak memaparkan
lain makna mantra pekasi khususnya bagaimana persepsi masyarakat terhadap
cenningrara dalam masyarakat Bugis cenningrara.
Oleh karena itu, Penelitian ini Adapun manfaat dalam penelitian
akan memaparkan dan mengkaji ini adalah:
cenningrara secara lebih jelas dan lebih Manfaat Teoretis
rinci dibandingkan penelitian
Manfaatnya adalah untuk
sebelumnya.
mengembangkan pengetahuan tentang
Berdasarkan uraian yang kebudayaan di Kabupaten Soppeng.
dikemukakan pada pembahasan di atas, Dengan adanya kebudayaan seperti ini
dapat dirumuskan masalah penelitian ini, masyarakat dapat mengetahui bahwa di
yaitu: Kabupaten Soppeng terdapat mantra
cenningrara.
Bagaimanakah bentuk mantra
Manfaat Praktis
cenningrara di Kabupaten Soppeng?
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
Makna apakah yang terkandung dalam
memberikan manfaat sebagai berikut.
mantra cenningrara di Kabupaten
Soppeng? Bagi pembaca dan penikmat, dapat
menimbulkan suatu motivasi kepada
Bagaimanakah tanggapan masyarakat di
pembaca untuk lebih mengenal mantra
Kabupaten Soppeng terhadap mantra
cenningrara yang ada di Kabupaten
cenningrara?
Soppeng.
Berdasarkan rumusan masalah yang Bagi Mahasiswa, mantra cenningrara ini
dikemukakan sebelumnya, maka tujuan dapat dijadikan bahan acuan dan
penelitian ini adalah: perbandingan yang ingin melakukan
penelitian yang relevan dengan
Untuk mendeskripsikan bentuk mantra
penelitian ini.
cenningrara di Kabupaten Soppeng.
TINJAUAN PUSTAKA
Untuk mendeskripsikan makna mantra 1. Sastra
cenningrara yang ada di Kabupaten Sastra adalalah seni yang
Soppeng. berhubungan dengan penciptaan dan
ungkapan pribadi (ekspresi) (Sumardjo,
Untuk mendeskripsikan tanggapan
1984: 15). Sastra merupakan suatu
masyarakat di Kabupaten Soppeng
bentuk budaya yang universal. Sastra
terhadap mantra cenningrara.
merupakan produk karya seni kreatif
yang objeknya adalah manusia dengan
segala permasalahannya dan Masyarakat Sulawesi Selatan,
disampaikan atau diwadahi oleh bahasa mempunyai banyak sekali sastra lisan,
yang khas dan mengandung nilai estetik. khususnya sastra lisan Bugis. Suku
Sastra tidak pernah sama antara satu Bugis memilki beraneka ragam sastra
tempat di dunia ini dengan tempat lain, lisan berdasarkan perkembangannya.
tidak pernah sama antara waktu dengan Fachruddin Ambo Enre, (1999:88)
waktu yang lain. Selain itu, karya sastra perkembangan sastra Bugis dapat dibagi
merupakan suatu tiruan alam, mimesis, menjadi tiga zaman, masing-masing
tetapi juga merupakan suatu produk disebut masa awal, masa pertengahan,
imajinasi dan produk kreativitas (Semi, dan masa baru “masa awal tidak
1990: 53). diketahui secara pasti titik mulanya dan
2. Sastra Lisan diperkirakan berakhir pada saat semua
Sastra lisan merupakan bagian kerajaan di Sulawesi-selatan menganut
suatu kebudayaan yang tumbuh dan agama islam sebagai agama resmi bagi
berkembang di tengah-tengah raja dan rakyatnya (1605); masa
masyarakat dan diwariskan turun- tengahan diperkirakan berakhir pada
temurun secara lisan sebagai milik saat semua kerajaan di Sulawesi-selatan
bersama. Ragam sastra yang demikian takluk di bawah kekuasaan Belanda
tidak hanya berfungsi sebagai alat (1905); dan masa baru berakhir pada
hiburan, pengisi waktu senggang, serta masa pendudukan jepang.
penyalur perasaan bagi penutur dan Fachruddin Ambo Enre,
pendengarannya, tetapi juga sebagai (1999;86) dari segi indikasi luar,
pencerminan sikap pandangan dan penamaan galigo dengan sureq telah
angan-angan kelompok, alat pendidikan menunjukkan penyifatan sebagai sastra,
anak-anak, alat pengesahan pranata dan berbeda dengan pustaka yang dinamai
lembaga kebudayaan serta pemeliharaan lontaraq. Perbedaan antara kedua karya
norma masyarakat. Fachruddin A.E. sastra tersebut juga dapat diketahui pada
(dalam Sikki, 1996:1). cara pembacaannya. Sureq dibaca
Sastra lisan atau folklore adalah sambil berlagu, sedangkan lontaraq
sastra yang disampaikan secara turun tidak dibaca sambil berlagu. Dari segi
temurun, sesuatu yang telah menjadi indikasi dalam, memiliki perbedaan
tradisi (Kosasih, 2007: 343). Sastra lisan ialah sureq berisikan cerita, sedangkan
merupakan sebuah kebudayaan. lontaraq menurut Cense ( dalam
3. Sastra Lisan Bugis Fachruddin Ambo Enre., 1999:86)
“adalah naskah tulis tangan yang biasa laoang ganra (cara orang ganra
berisi silsilah, catatan harian atau melagukan).
kumpulan catatan terutama yang Fachruddin Ambo Enre,
menyangkut sejarah”. (1999:86) berdasarkan isinya, sureq
Berdasarkan penjelasan dapat dibedakan atas empat macam
tersebut bahwa dalam karya sastra Bugis yaitu:
ysng berupa cerita, secara umum terbagi 1) Galigo yang menceritakan
dalam dua jenis yaitu Sureq dan kehidupan dinasti bataraguru yang
Lontaraq yang masing-masing memiliki dikisahkan banyak episode.
bentuk karya sastra tersendiri dilihat dari 2) Pau-pau yang berarti ceritera.
segi cara pembacaan dan dari segi isi, Termasuk ke dalam jenis sureq ini,
seperti sureq yang dibaca dengan cara ialah sureq baweng (hikayat bayan
berlagu dan berisi tentang cerita budiman), sureq bekku, sureqna
sedangkan lontaraq tidak dibaca dengan imase-mase makkelluqna nabbitta.
berlagu dan berisi catatan harian 3) Toloq, jenis sureq baru yang timbul
maupun silsilah suatu keturunan. sebagai akibat semakin meluasnya
Fachruddin Ambo Enre., kekuasaan Belanda di Sulawesi
(1999:86) berdasarkan indikasi dalam, Selatan. Misalnya Toloqna petta
dalam hal ini yang dimaksud ialah Malampe’E Gemmeqna yang
satuan irama, pustaka yang termasuk mengisahkan kegagahperkasaan
sureq dapat dibedakan atas dua Arung Palakka dalam perang
golongan, jenis yang pertama ialah tersebut.
galigo dan toloq yang memiliki satuan 4) Pau-pau baru, karya yang
irama bersifat tetap yaitu masing-masing materinya merupakan hasil ramuan
terdiri atas lima dan delapan suku kata. sendiri, bukan lagi terjemahan
Toloq yang bersifat sanjungan terhadap seperti misalnya, Pau-paunna I
kepahlawanan seseorang, sedangkan Bungatonjang. Karya ini
galigo tidak semua ceritanya yang diperkirakan mulai ada pada awal
menceritakan tentang kepahlawanan. abad ke-17 dan berakhir pada saat
Sureq adalah bentuk prosa yang dibaca menjelang perang dunia kedua.
sambil berlagu, memilki irama Fachruddin Ambo Enre, (1999:88)
didasarkan atas kebiasaan irama daerah “bentuk sastra yang lain lagi ialah
tertentu sehingga dikenallah misalnya pau-pau rikadong dengan isi yang
bermacam-macam. Fungsi dari
jenis sastra ini antara lain sebagai dengan sikap religius manusia yang
pelalai orang berjaga-jaga dan mempercayai bahwa setiap benda yang
penghibur orang yang merindu ada di dunia ini mengandung kekuatan
(Passaleweq tau temmatinro, gaib. Hal ini menguatkan kepercayaan
paqdaga-daga tau maruqdani).” manusia untuk menundukkan kekuatan
Terdapat pula bentuk sastra gaib tersebut. Hal tersebut sejalan
lisan lain yang disebut elong, elong tidak dengan pendapat Mulyana (1993:15)
termasuk sureq, sebab tidak berbentuk bahwa mantra merupakan rangkaian
ceritera, meskipun satuan iramanya kata yang mengandung rima dan irama
tertentu juga jumlahnya. Isinya ada yang yang dianggap mengandung kekuatan
merupakan ungkapan percintaan, petuah, gaib. Mantra biasanya diucapkan oleh
pengasung semangat dan ada pula yang seorang dukun atau pawang untuk
khusus untuk melengah anak. melawan atau menandingi kekuatan gaib
a. Mantra lainnya. Namun hakikat mantra itu
Mantra merupakan kekuatan adalah doa yang diucapkan oleh seorang
magik yang dicapai dengan permainan pawang.
bahasa, rayuan, atau perintah yang harus b. Pengertian Mantra Cenningrara
dituruti oleh dewa, Junus (Rosidi, Dalam masyarakat Bugis
1995:278). khususnya di Kabupaten Soppeng,
Definisi mantra yaitu cenningrara merupakan mantra yang
perkataan atau ucapan yang dapat mempunyai kekuatan gaib yang dapat
mendatangkan daya gaib (misalnya: mempengaruhi orang lain atau diri
dapat menyembuhkan, dapat sendiri. Mantra ini merupakan karya
mendatangkan celaka, dan sebagainya). sastra orang Bugis yang sudah dimiliki
Susunan katanya berunsur puisi seperti oleh orang berilmu yang disebut To
rima, irama yang dianggap mengandung Manrapi.
kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh Poerwadarminta (1996:632)
dukun atau pawang untuk menandingi mengemukakan bahwa mantra pekasi
kekuatan gaib lain (Depdikbud, atau Cenningrara mengandung
1994:629). pengertian perkataan atau kalimat yang
Dari uraian tersebut diatas, dapat mendatangkan daya gaib, jampi-
mantra dapat diartikan sebagai jampi dan pesona.
permohonan menggunakan bahasa yang Cenningrara menurut Said
berkekuatan magik dan berhubungan (1997:163) jika dilihat dari struktur
katanya dibangun oleh dua buah kata, dengan mantra-mantra tertentu
yaitu dari kata “cenning” dan kata dengan harapan agar orang yang
“rara”. Kata “cenning” mempunyai arti membaca mantra tersebut kelihatan
manis, sedangkan kata “rara” cantik atau tampan.
mempunyai arti menadah. Dalam b. Mantra untuk mempercepat jodoh
perkembangan selanjutnya, kedua kata Mantra yang diucapkan baik oleh
tersebut dipadukan menjadi laki-laki maupun perempuan juga
“cenningrara” yang berarti bacaan- ada untuk mempercepat jodoh.
bacaan yang dibaca supaya kelihatan Mantra ini diucapkan khususnya
cantik dan disukai orang. oleh orang-orang yang ingin
Dari pengertian tersebut di atas memperoleh jodoh cepat atau orang
dapat diambil kesimpulan bahwa yang mempunyai pacar dan
cenningrara merupakan jampi-jampi menginginkan agar pacarnya cepat
berupa bacaan-bacaan yang diucapkan melamar. Hal ini juga dapat
dan dapat mempengaruhi orang lain, diucapkan oleh orang-orang yang
misalnya saja menarik simpatik orang telah cukup umur namun belum
lain, menimbulkan rasa cinta kasih menikah, ataupun orang yang sudah
orang lain dan sebagainya. menikah kemudian cerai dan ingin
c. Jenis Mantra Cenningrara menikah kembali.
Menurut keyakinan Masyarakat c. Mantra untuk menarik perhatian
Bugis, jenis mantra pekasi dapat Mantra juga dapat digunakan agar
digolongkan menjadi beberapa jenis dapat menarik perhatian yang
yaitu: memungkinkan orang yang
a. Mantra untuk mempercantik diri membaca suatu mantra dapat
Mantra untuk mempercantik diri kelihatan berwibawa di mata orang
biasanya digunakan oleh kaum lain. Bahkan mantra yang
muda mudi agar kelihatan cantik diucapkan menjadikan orang lain
atau tampan oleh orang lain merasa senang jika berbicara
terutama oleh lawan jenisnya. dengannya.
Mantra yang diucapkan untuk d. Mantra untuk awet muda
mempercantik diri ini biasanya Mantra juga ada yang digunakan
digunakan saat menghias diri di agar dapat awet muda atau
depan cermin. Mantra untuk kelihatan lebih muda dari umur
mempercantik diri diucapkan yang sebenarnya. Mantra awet
muda umumnya lebih sering ilmu pengetahuan. Mereka membuat
digunakan oleh orang-orang yang prediksi tentang, tanda sebagian dari
telah berumur namun pola beradaptasi. Secara umum, teori-
menginginkan dirinya kelihatan teori semiotik mengambil tanda-tanda
masih muda di mata orang lain. atau sistem sebagai objek studi mereka.
Dari empat jenis mantra Komunikasi informasi dalam
cenningrara di atas, hanya 3 jenis yang organanisme hidup tercakup dalam
akan dikaji oleh penulis yaitu mantra biosemiotik atau zoosemiosis (Anwar,
mempercantik diri, menarik perhatian, 2008:3).
dan mantra cenningrara awet muda. Menurut Rifaterre penelitian
a. Semiotika Rifaterre semiotik perlu memperhatikan tiga hal
Semiotika adalah studi tentang juga, yaitu: (1) displeacing of meaning
tanda dan segala yang berhubungan (penggantian arti) (2) distortingof
dengannya, cara berfungsinya, meaning (penyimpangan arti) (3)
hubungannya dengan tanda-tanda lain, Creating of meaning (penciptaan arti).
pengirimannya, dan cara penerimaannya Analisis struktural semiotik
oleh mereka yang mempergunakannya. dapat mengikuti tahap-tahap tertentu,
Apabila studi tentang tanda ini berpusat khususnya analisis mantra, menurut
pada penggolongannya, pada Rifaterre (1978:5-6) dapat mengikuti
hubungannya dengan tanda-tanda lain, langka pembacaan: (1). Heuristis dan (2)
pada caranya bekerja sama dalam hermeneutik. Pembacaan heuristik
menjalankan fungsinya, itu adalah kerja adalah pembacaan sastra berdasarkan
dalam sintaks semiotik. Apabila studi ini struktur kebahasaan. Secara semiotik,
menonjolkan hubungan tanda-tanda pembacaan semacam ini baru baru
dengan acuannya dan dengan semiotik tingkat pertama. Yang
interpretasi yang dihasilkannya, itu dilakukan dalam heuristik, antara lain
adalah kerja semantik semiotik. menerjemahkan atau memperjelas arti
Semiotika adalah studi ilmiah kata-kata dan sinonim-sinonim.
tentang tanda dan cara tanda-tanda Pemaknaan dilakukan secara semantik,
membangun dan merekontruksi makna lalu dihubungkan antara baris dan bait.
disiplin ini sering di anggap sebagai Pembacaan hermeneutik adalah
memiliki penting dalam ilmu-ilmu pembacaan karya sastra berdasarkan
kemanusiaan. Namun, beberapa ahli sistem semiotik tingkat kedua atau
semiotik fokus pada dimensi logis dari mendasarkan konvensi sastra.
Ketidaklangsungan ekspresi itu puisi atau mantra, dapat sampai pada
menurut Rifaterre disebabkan oleh tiga titik, tempat sajak merupakan suatu
hal: bentuk yang sama sekali kosong dari
(1) Penggantian arti (Displeacing of pesan dalam arti yang biasa, yakni
meaning) tanpa isi emosi, moral atau filsafat.
Menurut Rifaterre, penggantian arti Rifaterre berkesimpulan bahwa
disebabkan oleh penggunaan bersajak adalah bermain-main
metafora dan metonini dalam karya dengan kata belaka, seperti dalam
sastra. Metapora dan metonini ini kecantikan, sedangkan hal yang
dalam arti luasnya untuk menyebut dikatakan di dalam sajak adalah
bahasa kiasan pada umumnya, tidak kosong dari isi atau pesan.
terbatas pada bahasa kiasan yang Kerangka Pikir
sangat penting hingga untuk Penelitian ini adalah penelitian
mengganti bahasa kiasan lainnya. sastra lama. Dalam sastra lama, mantra
(2) Penyimpangan arti (distoring of termasuk jenis puisi tertua di Indonesia.
meaning) Demikian pula dalam sastra Bugis juga
Rifaterre mengemukakan bahwa dikenal adanya mantra yang dalam
penyimpangan arti itu disebabkan bahasa bugis disebut “baca-baca”.
oleh tiga hal yaitu: Mantra dalam bahasa Bugis terdiri dari
a. Ambiguitas beberapa jenis, salah satu diantaranya
b. Nonsense. adalah cenningrara.
(3) Penciptaan arti (creating of Cenningrara terdiri dari empat jenis,
meaning) yaitu: mantra mempercepat jodoh,
Penciptaan arti ini merupakan mantra awet muda, mantra menarik
konvensi kepuitisan yang berupa perhatian, dan mantra mempercantik
bentuk visual yang secara linguistik diri. Cenningrara menggunakan bahasa
dan mempunyai arti, menimbulkan Bugis yang sulit dipahami maknanya
makna dalam sajak atau karya oleh orang awam meskipun orang yang
sastra. Jadi, penciptaan arti ini membacanya adalah orang Bugis. Hanya
merupakan organisasi teks di luar orang tertentu yang dapat memahami
linguistik. Pertentangan yang maknanya.
mendasar, yang menjadi wadah dari Penelitian ini mengkaji semiotik
kesusastraan sekurang-kurangnya yang terdapat pada beberapa
sepanjang kesusastraan itu berwujud cenningrara dari Kabupaten Soppeng,
untuk memahami makna yang ada dalam maka variabel penelitian ini
mantra tersebut. Bentuk kajian semiotik dioperasionalkan sebagai berikut:
dalam penelitian tersebut mengarah pada a. Cenningrara yang dimaksud dalam
kajian Semiotik Rifaterre berupa kajian ini adalah mantra yang
ketidaklangsungan ekspresi yang menggunakan bahasa Bugis yang
disebabkan oleh tiga hal, yaitu menurut sebagian orang
penggantian arti (displacing of mengandung kekuatan gaib dalam
meaning), penyimpangan arti (distoring mempercantik diri, menarik
of meaning) dan penciptaan arti perhatian, mempercepat jodoh,
(creating of meaning). membuat awet muda dan juga
METODE PENELITIAN berfungsi menolak kejahatan dan
A. Variabel dan Desain Penelitian mengendalikan situasi dan keadaan
1. Variabel Penelitian yang dilakukan dengan cara
Berdasarkan judul penelitian ini, membaca mantra tertentu sesuai
maka variabel dalam penelitian adalah dengan keinginan yang dikehendaki
makna cenningrara. Bentuk variabelnya seseorang dengan maksud
adalah variabel tunggal. Maksudnya cenningrara yang diucapkan.
adalah peneliti hanya mengamati satu b. Kajian semiotik Rifaterre adalah
variabel yaitu makna cenningrara. sebuah pengertian puisi yang tidak
2. Desain Penelitian sekedar membawa nuansa baru,
Desain yang digunakan dalam namun juga membuatnya lekat
penelitian ini adalah desain deskriptif dengan semiotika, yaitu sebuah
kualitatif, yakni desain yang puisi mengatakan sesuatu yang
menggambarkan atau melukiskan makna berbeda dari makna yang di
cenningrara pada masyarakat Bugis. kandungnya. Kajian Semiotik
Oleh karena itu, dalam penyusunan Rifaterre berupa ketaklangsungan
desainnya dirancang berdasarkan prinsip ekspresi yang disebabkan oleh tiga
metode deskriptif kualitatif, yaitu: hal, yaitu penggantian arti
mengumpulkan, menganalisis, dan (displacing of meaning),
menyajikan data secara objektif. penyimpangan arti (distoring of
B. Definisi Istilah meaning) dan penciptaan arti
Guna memperoleh gambaran (creating of meaning).
yang jelas tentang variabel yang diteliti,
C. Data dan Sumber Data dalam penelitian ini adalah sebagai
a. Data berikut:
Data penelitian ini adalah data a. Teknik Wawancara
lisan yang diperoleh dari informan Dalam wawancara penulis
berupa cenningrara ‘mantra pekasi’ di melakukan percakapan langsung dan
Kabupaten Soppeng yang lengkap. tatap muka dengan informan. Dalam hal
b. Sumber Data ini, penulis menggunakan wawancara
Sumber data dalam penelitian bebas, artinya penulis tidak
ini adalah mantra-mantra di Kabupaten menyediakan daftar pertanyaan kepada
Soppeng diperoleh dari informan yang informan. Penulis hanya menentukan
memiliki pengetahuan tentang topik disertai dengan rincian cakupan
cenningrara ‘mantra pekasi’. penelitian. Dari topik ini peneliti bebas
Adapun informan penelitian ditetapkan bertanya kepada informan hal-hal yang
berdasarkan syarat-syarat informan berhubungan dengan cenningrara di
yaitu: Kabupaten Soppeng khususnya.
1) Berusia di atas 30 tahun; b. Teknik Pencatatan
2) Mempunyai alat-alat bicara yang Dalam pencatatan, penulis
normal; mencatat semua hal yang berhubungan
3) Penutur asli bahasa dan dialek yang dengan cenningrara, baik yang
akan diteliti; diperoleh dari informan maupun yang
4) Mengetahui secara luas kebudayaan diperoleh dari buku-buku, ke dalam
Bugis tentang cenningrara. buku catatan yang dipersiapkan. Apabila
(Samarin, 1988:55-62) masih ada hal-hal yang meragukan atau
Sehubungan dengan hal di atas, belum lengkap maka hal ini dapat
maka ditetapkan informan dalam diperbaiki dengan cara menanyakan
penelitian ini sebanyak 3 orang yang kembali kepada informan sebelum
memberikan data dan informasi meninggalkan lokasi penelitian.
berkaitan dengan cenningrara dalam c. Teknik Angket
sastra Bugis di Kabupaten Soppeng. Teknik angket adalah metode
D. Teknik Pengumpulan Data yang menggunakan sejumlah daftar
Teknik pengumpulan data yang pertanyaan tertulis yang harus di isi oleh
dianggap paling cocok dan sesuai responden. Angket yang digunakan
dengan jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah angket
terbuka dan angket tertutup. Angket
tertutup adalah pertanyaan-pertanyaan pemaparan atau pernyataan-
yang sudah disiapkan alternatif pernyataan.
jawabannya, sedangkan angket terbuka F. Teknik Pemeriksaan Keabsahan
adalah pilihan alternatif bagi responden Data
(narasumber) untuk membuat Teknik yang penulis lakukan
jawabannya sendiri untuk untuk menghilangkan keraguan terhadap
mengemukakan pendapatnya apa bila data yang telah diperoleh adalah teknik
didalam pilihan jawaban yang keabsahan data. Teknik ini dilakukan
disediakan oleh pembuat angket tersebut dengan cara mengecek kembali data
tidak terdapat jawaban seperti yang yang telah diperoleh dari informan dan
responden inginkan. Adapun yang dari buku-buku sesuai dengan
menjadi responden adalah masyarakat pengetahuan keabsahan yang dimiliki
Kabupaten Soppeng sekitar 15 orang penulis. Data yang salah dibetulkan
dengan batas usia yang berbeda-beda,. dengan tujuan untuk mempermudah
Angket ini digunakan untuk mencari analisis data.
data tentang persepsi masyarakat HASIL PENELITIAN DAN
Kabupaten Soppeng terhadap PEMBAHASAN
cenningrara.
Hasil Penelitian
E. Teknik Analisis Data
Teknik yang digunakan dalam 1. Bentuk Mantra Cenningrara di

menganalisis data penelitian ini adalah Kabupaten Soppeng

teknik analisis deskriptif kualitatif. Menurut keyakinan masyarakat

Adapun langkah-langkah yang ditempuh Bugis khususnya masyarakat Kabupaten

dalam menganalisis data sebagai berikut Soppeng, bentuk mantra cenningrara

ini: dapat digolongkan menjadi 4 bentuk

a. Mengidentifikasi dan yaitu mantra cenningrara mempercantik

mengumpulkan data cenningrara diri, menarik perhatian, mempercepat

yang digunakan dalam masyarakat jodoh dan membuat awet muda, namun,

Bugis, Kabupaten Soppeng. karena adanya hambatan dan masalah

b. Menafsirkan makna cenningrara yang didapatkan oleh penulis dalam

ke dalam bahasa Indonesia. mengumpulkan data, penulis hanya akan

c. Mengklasifikasikan makna mengkaji ke dalam 3 bentuk mantra

cenningrara kemudian cenningrara yaitu sebagai berikut:

mendeskripsikannya dalam bentuk a. Mantra untuk mempercantik diri


b. Mantra untuk menarik perhatian satu kali dalam satu hari saja, saat mandi
c. Mantra untuk awet muda pada pagi hari.
2. Makna Mantra Cenningrara di b. Cenningrara Menarik Perhatian
(memakai bedak)
Kabupaten Soppeng
Ashadu Alla ilahaillalah Waashadu
a. Cenningrara Mempercantik Diri
Anna Muhammadan Rasulullah…
Ashadu Alla ilahaillalah Waashadu Audzubillah himinasyaitonirrajim…..
Anna Muhammadan Rasulullah… Bismillahi rahmanirahim….
Audzubillah himinasyaitonirrajim….. Esso tompo ri aroku
Bismillahi rahmanirahim…. Uleng tepu rupakku
Mata Sulona Allataala mancaji esso Intang mabborongeng rupakku
Manninna Allataala mancaji uleng Galengekka tomatanna tomakkitae
Uwae matanna Allataala mancaji uwae Barakka duang, kun fayakun
Nabielereq asenna nabinna uwaie Cara Penggunaan
Paccahayangekka rupakku Mantra ini dipakai ketika ingin
Pacinnongenga sippada uwae memakai bedak. Cara penggunaannya
Barakka duang kun fayakun yaitu dengan mengambil bedak yang
Cara Penggunaan akan anda pakai, kemudian baca
Mantra ini dibaca ketika ingin mantranya. Seperti pada mantra
mandi. Cara penggunaannya yaitu ambil sebelumnya, setelah mengucapkan
satu timba air, setelah itu baca Barakka duang kun fayakun kepala
mantranya. Setelah mengucapkan digerakkan ke kanan kemudian ke kiri
Barakka duang kun fayakun kepala seperti gerakan saat shalat pada salam
digerakkan ke kanan kemudian ke kiri setelah tahiyat akhir. Setelah itu tiup
seperti gerakan saat shalat pada salam bedak tersebut tiga kali secara perlahan.
setelah tahiyat akhir. Setelah itu tiup air Bagian wajah yang dipolesi pertama kali
tersebut tiga kali secara perlahan. yaitu bagian jidat, kemudian ke pipi
Setelah ditiup, basuhi muka sebanyak 3 bagian kanan, setelah itu, dagu,
kali, kemudian dilanjutkan dengan kemudian pipi kiri, terakhir bagian
menyiram kepala sampai semua bagian hidung. Bacalah mantra dan lakukan
tubuh terkena air. Selanjutnya lanjutkan ritualnya dengan sepenuh hati. Mantra
mandi seperti biasanya. Pembacaan ini akan bereaksi pada orang yang
mantra cenningrara mandi ini dilakukan percaya. Namun, jika tidak atau ragu-
ragu, mantra ini tidak akan bereaksi d. Cenningrara Menarik Perhatian
pada pengguna mantra. Bismillahi rahmanirahim….
c. Cenningrara menarik perhatian Duppa mata iruk mata
(memakai sisir) Iruk makduppang mata
Ashadu Alla ilahaillalah Waashadu Palettukenga mata atinna I Anu
Anna Muhammadan Rasulullah… Iyapa namanyameng nyawana
Audzubillah himinasyaitonirrajim….. Narekko iyyaq naita
Bismillahi rahmanirahim…. Naperinawa-nawa ri Atinna
Bulu kusaula, wellu-wellungku Naperinawa-nawa matteruk
kusengkeru Barakka duang, kun fayakun
Upasingkeru tomatanna tomakkitae Cara Penggunaan
Dellaeng makessing naita padakku rupa Mantra menarik perhatian ini
tau saliwekku dipakai ketika bertemu dengan sesorang
Barakka duang. Kun fayakun yang ingin ditarik perhatiannya. Caranya
Cara Penggunaan yaitu dengan menatap seseorang tersebut
Mantra ini merupakan mantra secara diam-diam, kemudian baca
yang dipakai ketika ingin bersisir. Cara mantranya dalam hati. Setelah larik
penggunaannya yaitu ambil sisir yang terakhir dibaca, kedipkan mata satu kali.
akan anda pakai, dekatkan sisir tersebut Usahakan seseorang tersebut dapat
ke dekat mulut, baca mantranya. Seperti melihat matamu juga ketika membaca
pada mantra sebelumnya, setelah mantranya.
mengucapkan Barakka duang kun e. Cenningrara Awet muda
fayakun kepala digerakkan ke kanan Bismillahi rahmanirahim….
kemudian ke kiri seperti gerakan saat Waelereng pessinna Allataala
shalat pada salam setelah tahiyat akhir. Makkalu riwatakkaleku
Setelah itu tiup sisir tersebut tiga kali Sanrekka temmate temmatoa
secara perlahan. Setelah itu menyisirlah Umalolo fulana
seperti menyisir pada umumnya. Barakka Lailahaillallah
Bacalah mantra dan lakukan ritualnya Cara Penggunaan
dengan sepenuh hati. Mantra ini akan Mantra awet muda ini dipakai
bereaksi pada orang yang percaya. sebelum dan sesudah mandi. Caranya
Namun, jika tidak atau ragu-ragu, yaitu Ambil satu timba air, kemudian
mantra ini tidak akan bereaksi pada dekatkan air tersebut ke mulut, setelah
pengguna mantra. itu baca mantranya. Setelah itu tiup air
tersebut tiga kali. Setelah ditiup, basuhi penyimpangan arti (distoring of
muka sebanyak 3 kali, Selanjutnya meaning) setelah ditinjau dari larik
lanjutkan mandi seperti biasanya. pertama sampai terakhir, sedangkan
Setelah mandi, ambil lagi satu timba air ketiga mantra lainnya tidak ada yang
terakhir, kemudian baca mantranya dan mengandung makna penggantian arti
basuhi wajah 3 kali menggunakan air (displacing of meaning), penyimpangan
terakhir tersebut. Pembacaan mantra arti (distoring of meaning) dan
cenningrara mandi ini dilakukan satu penciptaan arti (creating of meaning).
kali dalam satu hari saja, saat mandi f. Persepsi Masyarakat Kabupaten
pada pagi hari. Soppeng terhadap mantra
Berdasarkan Hasil analisis cenningrara
pemaknaan berdasarkan teori Rifaterre
Berdasarkan hasil wawancara
yaitu berupa ketidaklangsungan ekspresi
terhadap informan dan responden,
yang disebabkan oleh tiga hal, yaitu
pengguna mantra pada zaman modern
penggantian arti (displacing of
ini adalah orang tua yang sudah berusia
meaning), penyimpangan arti (distoring
70 ke atas. Menurut responden, orang
of meaning) dan penciptaan arti
yang sudah berusia 70 ke atas adalah
(creating of meaning) menunjukkan
orang yang masih sangat percaya
bahwa dari data lima mantra
terhadap mantra, karena menurutnya,
cenningrara tidak ada mantra yang
mantra adalah warisan nenek moyang
mengandung makna ketiganya yaitu
zaman dahulu kala dan diwarisi ke anak
penggantian arti (displacing of
cucunya, itulah sebabnya hal-hal gaib
meaning), penyimpangan arti (distoring
seperti mantra masih ada sampai
of meaning) dan penciptaan arti
sekarang, karna masih ada masyarakat
(creating of meaning), namun, ada dua
pewarisnya, namun, anak-anak zaman
mantra yang mengandung makna
sekarang yang memiliki keturunan
penggantian arti (displacing of meaning)
mempunyai mantra dari neneknya,
dan penyimpangan arti (distoring of
jarang bahkan banyak yang sudah tidak
meaning) yaitu mantra cenningrara
mau mewarisinya karena menurutnya
mempercantik diri dan mantra
mantra atau hal gaib hanya dipakai pada
cenningrara menarik perhatian
zaman dahulu kala, mantra atau hal gaib
(memakai bedak). Kedua mantra ini
mengandung makna penggantian arti
(displacing of meaning) dan
yang seperti itu sudah tidak dipakai pada mengandung makna ketiganya yaitu
penggantian arti (displacing of
N
zaman modern ini. meaning), penyimpangan arti (distoring
SN
of meaning) dan penciptaan arti
Pembahasan Hasil Penelitian
(creating of meaning), namun, ada dua
Berdasarkan hasil pengumpulan
mantra yang mengandung makna
data yang diperoleh oleh penulis
penggantian arti (displacing of meaning)
menunjukkan bahwa ada 3 bentuk
dan penyimpangan arti (distoring of
mantra cenningrara yang dikaji dalam
meaning) yaitu mantra cenningrara
penulisan ini yaitu mantra cenningrara
mempercantik diri dan mantra
mempercantik diri, menarik perhatian
cenningrara menarik perhatian
dan mantra cenningrara awet muda.
(memakai bedak). Kedua mantra ini
Menurut keyakinan masyarakat Bugis
mengandung makna penggantian arti
khususnya masyarakat Kabupaten
(displacing of meaning) dan
Soppeng, sebenarnya bentuk mantra
penyimpangan arti (distoring of
cenningrara dapat digolongkan menjadi
meaning) setelah ditinjau dari larik
4 bentuk yaitu mantra cenningrara
pertama sampai terakhir, sedangkan
mempercantik diri, menarik perhatian,
ketiga mantra lainnya tidak ada yang
mempercepat jodoh dan membuat awet
mengandung makna penggantian arti
muda, namun, karena adanya hambatan
(displacing of meaning), penyimpangan
dan masalah yang didapatkan oleh
arti (distoring of meaning) dan
penulis dalam mengumpulkan data,
penciptaan arti (creating of meaning).
penulis hanya mengkaji ke dalam 3
Hasil analisis data angket
bentuk mantra cenningrara.
menunjukkan bahwa masyarakat
Hasil analisis pemaknaan
Kabupaten Soppeng masih banyak yang
berdasarkan teori Rifaterre yaitu berupa
percaya terhadap mantra. namun,
ketidaklangsungan ekspresi yang
menurut responden, mantra yang sering
disebabkan oleh tiga hal, yaitu
dipakai adalah mantra untuk syukuran
penggantian arti (displacing of
dan keselamatan sedangkan penggunaan
meaning), penyimpangan arti (distoring
mantra cenningrara pada zaman modern
of meaning) dan penciptaan arti
ini, sudah banyak yang tidak memakai
(creating of meaning) menunjukkan
bahkan jarang yang menggunakannya.
bahwa dari data lima mantra
Hal ini disebabkan karena pengaruh
cenningrara tidak ada mantra yang
adanya alternatif dan alat alat kosmetik
yang bisa menyulap wajah buruk rupa mempunyai mantra dari neneknya,
menjadi bidadari. Bahkan banyak alat jarang bahkan banyak yang sudah tidak
kosmetik yang bisa menyulap wanita mau mewarisinya karena menurutnya
berkulit hitam menjadi putih. Banyak mantra atau hal gaib hanya dipakai pada
sekali alternatif lain yang dapat zaman dahulu kala, mantra atau hal gaib
dilakukan selain memakai mantra yang seperti itu sudah tidak dipakai pada
cenningrara yang tidak menjamin zaman modern ini.
khasiatnya. Masyarakat berpendapat Hasil yang diperoleh tersebut
bahwa mantra cenningrara, tidak apabila dikaitkan dengan penelitian
menjamin kecantikan seseorang saat ini, sebelumnya maupun teori-teori yang
berbeda dengan zaman dahulu yang mendasarinya, pada dasarnya hasil
belum ada kosmetik atau alat kecantikan penelitian ini hampir sama dengan
lain seperti sekarang. Mantra penelitian sebelumnya, namun yang
cenningrara jika dipakai oleh seseorang membedakannya adalah dari segi bentuk
belum tentu bereaksi pada pengguna dan cara penggunaan mantranya. Pada
mantra sedangkan alat alat kosmetik penelitian ini juga, peneliti memaparkan
menjamin kecantikan seseorang karena cenningrara ke dalam beberapa bentuk
barangnya dapat dilihat dan terjamin yaitu mantra mempercantik diri, mantra
khasiatnya. menarik perhatian, dan mantra awet
Berdasarkan hasil wawancara muda dan memaparkan bagaimana
terhadap informan dan responden, persepsi masyarakat terhadap
pengguna mantra pada zaman modern cenningrara. Namun, Pada penelitian
ini adalah orang tua yang sudah berusia sebelumnya, penulis tidak memaparkan
70 ke atas. Menurut responden, orang cenningrara ke dalam beberapa bentuk,
yang sudah berusia 70 ke atas adalah penulis hanya memaparkan cenningrara
orang yang masih sangat percaya secara umum dan tidak memaparkan
terhadap mantra, karena menurutnya, bagaimana persepsi masyarakat terhadap
mantra adalah warisan nenek moyang cenningrara.
zaman dahulu kala dan diwarisi ke anak KESIMPULAN DAN SARAN
cucunya, itulah sebabnya hal-hal gaib Kesimpulan
seperti mantra masih ada sampai Berdasarkan hasil penelitian
sekarang, karna masih ada masyarakat dan pembahasannya, maka dapat
pewarisnya, namun, anak-anak zaman diambil suatu simpulan sebagai berikut:
sekarang yang memiliki keturunan
1. Berdasarkan hasil pengumpulan untuk melestarikan warisan nenek
data, dapat disimpulkan bahwa moyang sebagai bagian budaya dan
Bentuk mantra cenningrara di memperkenalkan kepada
Kabupaten Soppeng ada 3 yaitu masyarakat lain tentang sastra lisan
mantra cenningrara mempercantik Bugis dan kebudayaan suku Bugis.
diri, menarik perhatian dan mantra 2. Kepada masyarakat Suku Bugis,
cenningrara awet muda. khususnya masyarakat Kabupaten
2. Berdasarkan hasil analisis data, Soppeng agar senantiasa menjaga,
dapat disimpulkan bahwa makna memelihara, sekaligus melestarikan
mantra dari data lima mantra mantra sebagai aspek budaya.
cenningrara yang diperoleh tidak 3. Bagi peneliti lain yang hendak
ada mantra yang mengandung mengadakan penelitian sejenis,
makna ketiganya yaitu penggantian hendaknya menjadikan hasil
arti (displacing of meaning), penelitian ini sebagai bahan referesi
penyimpangan arti (distoring of agar diperoleh hasil atau
meaning) dan penciptaan arti pemaknaan yang lebih optimal.
(creating of meaning). DAFTAR PUSTAKA
3. Berdasarkan hasil wawancara dan
Abu, Zainuddin. 1980. Sistem
informasi yang diperoleh melalui
Pengetahuan (Paddissengeng)
angket, dapat dismpulkan bahwa
Orang Bugis di Sulawesi Selatan.
masyarakat masih percaya terhadap
Ujung Pandang: Departemen
mantra cenningrara. Namun, pada
Pendidikan dan Kebudayaan
zaman modern ini sudah jarang
orang yang menggunakannya. Hal Ambo Enre, Fachruddin. 1999.
ini disebabkan karena, masyarakat Rintumpanna WelenrenngE:
pada zaman modern ini, sudah Sebuah Episode Sastra Klasik
terlena dengan barang-barang Galigo. Jakarta: Yayasan Obor
kosmetik yang dapat mempercantik Indonesia
wajahnya tanpa memakai mantra
Alwi, Hasan. 2003. Tata Bahasa Baku
cenningrara.
Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta:
Saran
Balai Pustaka.
1. Kepada generasi muda, khususnya
yang berlatar belakang suku Bugis, Amir, A. [Link] lisan Indonesia.
agar lebih mencintai dan terdorong Yogyakarta: Penerbit Andi.
Anwar, Ahyar. 2008. Semiotika Sastra. Academic Publishing Service
FBS Makassar: Universitas (CAPS).
Negeri Makassar.
Halliday, M.A.K. 1994. Bahasa,
Takbir, [Link]. 2016. Konteks, dan Teks: Asfek asfek
Kemampuan Membaca Nyaring Bahasa dalam Pandangan
Teks Pau-Pau Aksara Lontara Semiotik Sosial. Yogyakarta:
Bugis Siswa Kelas VII SMP Gajah Mada University Press.
Negeri 5 Lilirilau Kabupaten
Hooykas, C. 1952. Penjedar Sastra
Soppeng. Skripsi Makassar: UNM
(Terjemahan Ramoel Amar Gelar
Chaer, Abdul.2002. Pengantar Semantik Datuk Besar). Jakarta: J. B.
Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Wolters.
Jakarta: Rineka Cipta
Hutomo, Saripan Sadi. 1991. Mutiara
Depdikbud. 1986. Struktur Sastra Lisan Yang Terlupakan:Penganntar
Tolaki. Pusat Pembinaan dan Studi Lisan. Jatim:Hiski
Pengembangan Bahasa. Jakarta:
Jabrohim, Ari Wulandari. 2001.
Depdikbud.
Metodologi Penelitian Sastra.
Dananjaya, James. 1991. Folklor Yogyakarta: Hanindita Graha
Indonesia. Jakarta: Pustaka Widia.
Utama Grpiti.
Maryaeni. 2005. Metodologi Penelitian
Danandjaya, James. 2002. Folklor Kebudayaan. Jakarta: Bumi
Indonesia ilmu gosip dongeng Aksara.
dan lain-lain. Jakarta: Pustaka
Moleong, J. Lexy. 2005. Metode
Utama Garafiti
Penelitian Kualitatif. Bandung:
Djajasudarma, Fatimah. 1993. Semantik Remaja Rosda Karya Bandung.
Pengantar ke Arah Ilmu Makna.
Mulyana, dkk. 1993. Sanggar Sastra.
Eresco Bandung.
Depdikbud. Bagian Proyek
Endraswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penataran Guru SLTPO Setara D
Penelitian Sastra (edisi revisi); III.
Epistemologi, Model, Teori dan
Pradopo, Rachmat, Djoko, dkk. 2001.
Aplikasi. Yogyakarta: Center For
Metodologi Penelitian Sastra.
Yogyakarta: Hamdita Graha Departemen Pembinaan dan
Widya. Pengembangan Bahasa
Departemen Pendidikan dan
Pateda. 1993. Linguistik (Sebuah
Kebudayaan.
Pengantar). Bandung: Angkasa.
Semi, MA. 1985. Kritik Sastra.
Poerwadarminta, W.J.S. 1996. Kamus
Bandung: Angkasa
Umum Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka. Semi, MA. 1988. Anatomi Sastra.
Padang: Angkasa Raya
Ratna, Nyoman Khuta. 2007. Penelitian
Sastra Teori Metode dan Teknik Sumardjo, J. 1984. Memahami
Penelitian Sastra. Yogyakarta: Kesusastraan. Bandung: Alumni
Pustaka Pelajar.
Teeuw, A. 1982. Sastra dan Ilmu Sastra.
Rahmiati Warap Sari. 2012. Makna Jakarta: Pustaka Jaya.
Mantra Pekasi pada Masyarakat
Waluyo. J. Herman. 1987. Teori dan
Ballocci Kabupaten Pangkep
Apresiasi Puisi. Jakarta: Penerbit
(Tinjauan Semiotik Rifaterre).
Erlangga.
Skripsi Makassar: UNM.
Zaimar, Okke. K.S. 2008. Semiotik dan
Rosidi. 1995. Sastra dan Budaya
Penerapannya dalam Karya
Kedaerahan dan Ke Indonesiaan.
Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa
Jakarta: Balai Pustaka
Departemen Pendidikan Nasional.
Robson. 1994. Prinsip-Prinsip Filologi
Zoest. Aart Van, 1992. Semiotika, Terj.
Indonesia. Jakarta: RUL
Soekawati. Jakarta: Yayasan
Rifaterre, Michael. 1998. Semiotics of Sumber Agung.
Poetry. Indiana University Press:
Zoest Van dan Panuti Sudjiman. 1992.
Bloomington and London.
Serba- serbi Semiotika. Jakarta:
Santoso, Puji, 1993, Ancaman Semiotika Gramedia
dan Pengkajian Susastra.
Bandung Angkasa Bandung.

Said, Ide. M. 1997. Kamus Bahasa


Bugis-Indonesia. Jakarta:

Anda mungkin juga menyukai