0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan11 halaman

Pengelolaan Berkelanjutan Ikan Julung-Julung

Penelitian ini mengkaji status keberlanjutan perikanan tangkap ikan julung-julung di Kabupaten Boalemo berdasarkan lima dimensi, yaitu ekologi, ekonomi, sosial, teknologi, dan etika. Hasilnya menunjukkan status berkelanjutan pada dimensi ekologi dan sosial, sedangkan ekonomi, teknologi, dan etika masih kurang berkelanjutan. Secara keseluruhan, perikanan tangkap ikan julung

Diunggah oleh

wendy tanod
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan11 halaman

Pengelolaan Berkelanjutan Ikan Julung-Julung

Penelitian ini mengkaji status keberlanjutan perikanan tangkap ikan julung-julung di Kabupaten Boalemo berdasarkan lima dimensi, yaitu ekologi, ekonomi, sosial, teknologi, dan etika. Hasilnya menunjukkan status berkelanjutan pada dimensi ekologi dan sosial, sedangkan ekonomi, teknologi, dan etika masih kurang berkelanjutan. Secara keseluruhan, perikanan tangkap ikan julung

Diunggah oleh

wendy tanod
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nikè:Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan.

Volume 5, Nomor 2, Juni 2017

Pengelolaan Perikanan Tangkap Ikan Julung-Julung/Roa (Hemiramphus robustus)


Secara Berkelanjutan di Kabupaten Boalemo
2Atep Ginanjar, 1.3Abd. Hafidz Olii, 3Syamsuddin
1hafidzolii@[Link]
2Program Studi Magister Ilmu Kelautan dan Perikanan, Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo
3Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,

Universitas Negeri Gorontalo

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status keberlanjutan perikanan tangkap ikan julung-julung di Kabupaten
Boalemo berdasarkan kelima aspek yaitu dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan etika, dan memberikan
rekomendasi strategi untuk mendukung keberlanjutannya. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Boalemo
pada bulan Maret sampai Agustus 2016. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey.
Sedangkan untuk analisis status keberlanjutannya menggunakan Rappid Appraisal for Fisheries (RAPFISH), dan
untuk menyusun prioritas strategi menggunakan analisis SWOT (Strenght, Weaknesess, Opportunities, and
Threath). Hasil penelitian menunjukan bahwa status keberlanjutan perikanan tangkap ikan julung-julung dimensi
ekologi 80,63 (berkelanjutan), ekonomi 35,80 (kurang berkelanjutan), sosial 73,85 (cukup berkelanjutan),
teknologi 55,51 (cukup berkelanjutan), dan etika 52,56 (cukup berkelanjutan). Apabila dilihat secara
multidimensi, kegiatan perikanan tangkap ikan julung-julung di Kabupaten Boalemo dalam kondisi cukup
berkelanjutan dengan nilai IKP (Indeks keberlanjutan perikanan) 59,67. Strategi yang perlu dilakukan dalam
pengelolaan perikanan tangkap julung-julung adalah 1) Pengaturan upaya penangkapan ikan julung-julung, 2)
Pengaturan musim tangkapan, 3) Perlindungan tempat untuk bertelur ikan julung-julung, 4)
Penetapan zona penangkapan ikan, 5) Menjalin kemitraan terkait permodalan, pemanfaatan teknologi, dan
pendampingan manajemen, 6) Sosialisasi perikanan tangkap ramah lingkungan, 7) Peningkatan akses nelayan
terhadap pendidikan, 8) Pengelolaan perikanan secara terpadu, 9) Peningkatan peran serta nelayan dalam
perumusan kebijakan perikanan, 10) Peningkatan keterampilan nelayan, dan 11) Membentuk kelompok
pengawas sumberdaya perikanan mandiri (POKWASMAN).

Kata kunci: Julung-Julung, berkelanjutan, RAPFISH, SWOT, Boalemo

I. Pendahuluan tersebut maka pengembangan perikanan tangkap


pada hakekatnya mengarah pada pemanfaatan
Indonesia sebagai negara maritim terbesar di
sumberdaya ikan secara optimal dan rasional bagi
dunia, memiliki kekayaan alam sangat besar dan
kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan
beragam. Potensi lestari sumberdaya ikan laut
nelayan khususnya, tanpa menimbulkan kerusakan
Indonesia diperkirakan sebesar 7,3 juta ton per tahun
sumberdaya ikan itu sendiri maupun lingkungan. UU
yang tersebar di perairan wilayah Indonesia dan
Nomor. 45/2009 tentang perikanan juga
perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).
mengamanatkan bahwa pengelolaan perikanan,
Dari seluruh potensi sumberdaya ikan tersebut,
termasuk kegiatan perikanan tangkap harus
jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar
dilakukan berdasarkan asas manfaat, keadilan,
5,8 juta ton per tahun atau sekitar 80 persen dari
kemitraan, pemerataan, keterpaduan, keterbukaan,
potensi lestari, dan baru dimanfaatkan sebesar 5,4
efisiensi, dan kelestarian yang berkelanjutan.
juta ton pada tahun 2013 atau baru 93% dari JTB,
sementara total produksi perikanan tangkap (di laut Kabupaten Boalemo merupakan salah satu
dan danau) adalah 5,863 juta ton (Kementerian kabupaten di Provinsi Gorontalo yang berhadapan
Kelautan dan Perikanan, 2015). Fakta ini memberikan langsung dengan teluk tomini. Sebagai wilayah yang
gambaran bahwa potensi perikanan Indonesia sangat berada pada teluk tomini, memiliki kesamaan potensi
besar, sehingga bila dikelola dengan baik dan kelautan dengan kabupaten lain yang berada pada
bertanggung jawab agar kegiatannya dapat garis pantai tersebut. Salah satu potensi yang dimiliki
berkelanjutan, maka dapat menjadi salah satu adalah sumberdaya ikan julung-julung. Ikan julung-
sumber modal utama pembangunan di masa kini dan julung ditangkap dengan menggunakan alat tangkap
masa yang akan datang. Berkaitan dengan hal purse seine dalam bahasa lokal disebut pukat roa

52
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan – Universitas Negeri Gorontalo

atau pukat tambai. Ikan julung-julung di Kabupaten Data yang akan dikumpulkan dalam penelitian
Boalemo menjadi komoditas penting, sebagian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer
masyarakat secara khusus turun temurun melakukan dikumpulkan secara intensif dengan menggunakan
usaha penangkapan dan pengolahan pengasapan wawancara terstruktur terhadap nelayan pukat roa,
roa oleh masyarakat lokal disebut ikan sagela, staf Dinas Kelautan dan Perikanan Kabuaten
sebagai mata pencaharian utama sehingga Boalemo, pakar yang terkait dengan perikanan
penghidupannya sangat tergantung dari komoditas tangkap, dan dokumentasi di lokasi terpilih. Data
ikan tersebut. sekunder diperoleh dengan melakukan studi literatur.
Data tersebut dapat diperoleh dari dinas, lembaga
Ikan roa asap sangat diminati oleh pasar karena
atau instasi terkait dalam pengelolaan perikanan
rasanya yang khas dan gurih, sehingga harganya
tangkap seperti Kementerian Kelautan dan
tetap stabil dan cenderung naik. Hal ini yang
Perikanan, Dinas Perikanan dan Kelautan, Tempat
mendorong nelayan untuk terus menggantungkan
Pelelangan Ikan (TPI), dan Badan Pusat Statistik.
penghidupan dari pemanfaatan ikan julung-julung
sehingga dalam penangkapannya selalu berusaha Dalam penelitian ini subjeknya adalah seluruh
mendapatkan hasil tangkapan maksimal, meskipun nelayan pukat roa yang ada di pesisir Kabupaten
sering mengabaikan aspek biologi dan potensi lestari Boalemo. Teknik penentuan sampel yang digunakan
dari ikan julung-julung tersebut. Wuaten dkk (2011) adalah purposive sampling, dimana penelitian ini
menyebutkan, kehadiran ikan julung-julung diperairan tidak dilakukan pada seluruh populasi, tapi terfokus
pantai untuk melakukan pemijahan maka pada sampel dengan pertimbangan terntentu
penangkapan menggunakan pukat roa memberikan (Sugiono, 2014),
dampak yang sangat serius terhadap ketersediaan
Data yang diperoleh dari observasi dan
ikan julung-julung di alam. Melihat keadaan itu perlu
wawancara dengan responden selanjutnya diolah
adanya upaya pengelolaan penangkapan ikan julung-
dengan software microsoft exel, dan aplikasi
julung secara berkelanjutan yang tepat dan bijaksana
RAPFISH dalam templete excel. Hasil olahan data
sehingga diharapkan sumberdaya tersebut tetap
tersebut ditampilkan dalam bentuk tabel, grafik dan
lestari tanpa mengurangi nilai ekonominya bagi
diagram untuk kemudian dianalisis secara deskriptif.
masyarakat saat ini maupun dimasa mendatang.
Analisis Rapfish dalam hal ini menggunakan
algoritma ALSCAL (Fauzi dan Anna, 2002) yang pada
II. Metode Penelitian perinsipnya membuat nilai error terkecil pada proses
iterasi. Proses iterasi merupakan pengulangan
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Boalemo,
penghitungan untuk melihat pengaruh kesalahan
fishing base penelitian di pesisir Kecamatan
pembuatan skor pada setiap atribut. Secara detail
Paguyaman Pantai dan Kecamatan Tilamuta.
prosedur analisis dengan teknik Rapfish ini akan
Penelitian dilaksanakan selama 5 bulan sejak bulan
melalui beberapa tahap sebagai berikut:
April sampai bulan Agustus 2016.
1. Pengumpulan data perikanan lokasi studi
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
melalui data statistik.
adalah metode survei dengan alat analisis teknik
2. Analisis data pengamatan lapangan dengan
Rapfish yang didukung oleh analisis SWOT untuk
studi literatur.
merumuskan strategi dan prioritas kebijakan. Teknik
3. Menentukan atribut dan skoring
Rapfish (Rapid Appraissal for Fisheries)
4. Melakukan skoring aspek keberlanjutan
dikembangkan oleh University of British Columbia
perikanan dengan wawancara terstruktur
Canada, yang merupakan analisis untuk
(pengisian kuisioner) terhadap responden.
mengevaluasi sustainability dari perikanan secara
5. Melakukan analisis Multi-Dimensional Scaling
multidisipliner. Rapfish didasarkan pada teknik
(MDS) dengan template excel untuk
ordinasi yaitu menempatkan sesuatu nilai (skor) pada
menentukan ordinasi dan algoritma ALSCAL
atribut yang terukur dengan menggunakan Multi-
untuk menentukan nilai stress.
Dimensional Scaling (MDS). Aspek dalam Rapfish
6. Melakukan sensitivity analysis (Leverage
menyangkut aspek dari ekologi, ekonomi, teknologi,
analysis) dan Monte Carlo analysis untuk
sosial dan hukum-kelembagaan. Penentuan
memperhitungkan aspek ketidakpastian.
rekomendasi strategi dan kebijakan pegelolan
perikanan dilakukan dengan analisis SWOT
Untuk menentukan strategi dan rekomendasi
(Rangkuti, 2015).
kebijakan pengelolaan perikanan tangkap ikan julung-
julung secara berkelanjutan di Kabupaten Boalemo

53
Nikè:Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Volume 5, Nomor 2, Juni 2017

dilakukan dengan analisis SWOT. Analisis ini 15 cm, sedangkan jarak antara cincin 2,5 m. Produksi
didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan tangkapan ikan julung-julung selama 5 tahun terakhir,
kekuatan (strengths) dan peluang (opportunites), adalah tahun 2011 jumlahnya 126 ton, tahun 2012
namun secara bersamaan dapat meminimalkan sebanyak 121 ton, tahun 2013 sebanyak 116 ton,
kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). tahun 2014 sebanyak 132 ton dan tahun 2015
sebanyak 127,8 ton. Musim penangkapan terbanyak
Seluruh atribut yang diperoleh dari hasil
ikan julung-julung adalah bulan November sampai
penelitian ini dianalisis secara multidimensi. Titik yang
bulan April, setiap kapal biasanya melakukan upaya
menjadi acuan tersebut adalah baik (good) dan buruk
penangkapan sebanyak 12 trip perbulan, sedangkan
(bad), dimana titik ekstrim good (100) dan titik ekstrim
pada bulan Mei sampai Oktober rata-rata upaya
bad (0). Kemudian dibagi menjadi empat selang
penangkapannya adalah 7 trip perbulan. Berdasarkan
kategori atau status. Selang indek keberlanjutan
keterangan dari nelayan, musim terbanyak ikan
tersebut yaitu kisaran 0-25 dalam status tidak
julung-julung bertelur adalah pada bulan Desember
berkelanjutan, selang >26-=50 dalam status kurang
sampai bulan Januari atau selama dua bulan. Hal ini
berkelanjutan, selang >50-=75 dalam status cukup
diindikasikan oleh banyaknya ikan julung-julung yang
berkelanjutan dan selang >75-100 dalam status
tertangkap sedang bertelur. Berdasarkan
berkelanjutan (Hamdan, 2007).
pengamatan di lokasi penelitian, kondisi perikanan
tangkap ikan julung-julung saat ini mengalami
III. Hasil dan Pembahasan penurunan hasil tangkapan dan bahkan nelayan
Komunitas nelayan pukat roa di Kabupaten cenderung sering tidak mendapatkan hasil tangkapan
Boalemo hanya terdapat di pesisir kecamatan pada setiap upaya penangkapannya.
Paguyaman Pantai dan kecamatan Tilamuta. Jenis Untuk menentukan status keberlanjutan
alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan perikanan tangkap ikan julung-julung di Kabupaten
julung-julung adalah pukat cincin mini, nelayan Boalemo, dilakukan dengan teknik analisis RAPFISH
setempat biasa menyebut pukat roa atau pukat terhadap lima dimensi keberlanjutan yaitu dimensi
tambai. Secara keseluruhan alat tangkap pukat roa ekologi, teknologi, ekonomi, sosial, dan etika. Tahap
sama dengan dengan pukat cincin mini hanya awal dari analisis RAPFISH adalah menentukan
ukurannya lebih kecil. Spesifikasi pukat roa di atribut pada setiap dimensi yang sesuai dengan unit
Kabupaten Boalemo umumnya adalah sebagai analisis. Dalam penelitian ini menggunakan lima
berikut : panjang ris atas 160 m, panjang ris bawah aspek (dimensi) keberlanjutan yaitu dimensi ekologi,
200 m, tinggi/dalam jaring 22 m, ukuran mata jaring ekonomi, sosial, teknologi dan etika (Tabel 1).
selvedge 1,25 inci, mata jaring sayap 1,5 inchi, mata Dimensi dan atribut yang digunakan mengacu kepada
jaring badan 1,25 inchi, dan mata jaring bagian T.J. Pitcher dan D. Preikshot (2001) dan dimodifikasi
kantong 1 inchi. Jarak antara pelampung di bagian sesuai wilayah analisis.
sayap 40 cm, jarak antara pelampung dibagian badan

Tabel 1 Dimensi dan Atribut RAPFISH beserta acuan skor


Skoring Baik Buruk Keterangan
Dimensi Ekologi
Status eksploitasi
0; 1; 2; 3 0 3 Mengacu pada FAO: rendah (0); penuh (1); berat (2); over-
eksploitasi (3)
Perubahan thropic level 0; 1; 2 0 2 Penurunan thropic level di wilayah analisis: tidak (0); lambat
(1); cepat (2)
Jangkauan daerah penangkapan 0; 1; 2 0 2 Jarak daerah penangkapan dari garis pantai: <3 mil laut (0);
3-6 mil laut (1); >4 mil laut (2)
Penurunan spesies pada wilayah 0; 1; 2 0 2 Penurunan spesies tangkapan pada wilayah yang sama:
sama tidak ada (0); sedikit (1); banyak/cepat (2)
Ukuran ikan yang tertangkap 0; 1; 2 0 2 Perubahan ukuran ikan selama 5 tahun terakhir: tidak ada
(0); ada, bertahap (1); ada, cepat (2)
Ikan yang tertangkap saat matang 0; 1; 2 0 2 Persentase ikan yang tertangkap matang gonad: <20% (0);
gonad (TKG4) <50% (1); >50% (2)
Tangkapan samping yang terbuang 0; 1; 2 0 2 Jumlah tangkapan samping yang terbuang: 0-10% (0);
10-10-40% (1); >40% (2)
Spesies yang tertangkap 0; 1; 2 0 2 Jumlah spesise yang tertangkap termasuk hasil tangkapan
samping: 1-10 (0); 10-100 (1); >100 (2)
Dimensi Ekonomi Keuntungan hasil melaut: sangat untung (0); untung (1);
Keuntungan 0; 1; 2; 3; 4 0 4 kembali modal/BEP (2); sedikit rugi (3); rugi banyak (4)
Konstribusi terhadap PDRB 0; 1; 2 2 0 Kontribusi perikanan julung-julung terhadap pendapatan

54
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan – Universitas Negeri Gorontalo

daerah: rendah (0); sedang (1); tinggi (2)


Pendapatan rata-rata nelayan 0; 1; 2; 3; 4 4 0 Pendapatan rata-rata nelayan dibandingkan UMP wilayah
analisis: lebih rendah (0); sedikit lebi rendah (1); sama (2);
lebih tinggi (3); jauh lebih tinggi (4)
Batasan upaya penangkapan 0; 1; 2; 3; 4 4 0 Batasan upaya penangkapan di wilayah analisis: open access
(0); hampir tidak ada (1); ada sedikit (2); beberapa (3); bnyak
(4)
Hak kepemilikan sumberdaya 0; 1; 2 2 0 Aturan kepemilikan sumberdaya perikanan : tidak ada-kuota (0);
ada sebagian (1); seluruh sumberdaya berdasarkan ITQ dn
property right (2)
Pendapatan lain diluar nelayan 0; 1; 2; 3 0 3 Mata pencaharian lain : penuh (0); musiman (1); paruh waktu
(2); tidak tetap (3)
Jumlah nelayan formal 0; 1; 2 0 2 Jumlah nelayan formal : <10% (0); 10-20% (1); >20% (2)
Pihak ynag paling diuntungkan 0; 1; 2 0 2 Pihak yang paing diuntungkan dari pemanfataan SDI : lokal (0);
seimbang antara lokal dan luar (1); pihak luar (2)
Pemasaran 0; 1; 2 0 2 Tujuan pasar produksi perikanan : lokal (0); regional (1); ekspor
(2)
Subsidi 0; 1; 2 0 2 Apakah ada subsidi baik langsung maupun tidak langsung:
tidak ada (0); sedikit (1); besar (2)
Dimensi Sosial Status nelayan ditempat pekerjaan: sebagai pekerja (0);
0; 1; 2 2 0
Sosialisasi penangkapan kerjasama satu keluarga (1); kerjasama kelompok (2)
Pertumbuhan julmlah nelayan 0 2 Pertumbuhan jumlah nelayan dalam 5 tahun terakhir: <10% (0);
0; 1; 2
10-20% (1); >20% (2)
Peranan sektor perikanan 0 2 Bagaimana sektor perikanan dalam menyerap tenaga kerja
0; 1; 2
dalam komunitas: <1/3 (0); 1/3-2/3 (1); >2/3 (2)
Pengetahuan nelayan terhadap 0; 1; 2 0 2 Pengetahuan nelayan akan isu-isu lingkungan setempat : sedikit
lingkungan yang tahu (0); sebanding (1); banyak yang tahu (2)
Tingkat pendidikan 0; 1; 2 2 0 Perbandingan rata-rata pendidikan nelayan dengn penduduk
lainnya : dibawah (0); sama rata (1); lebih tinggi (2)
Status konflik 0; 1; 2 0 2 Kondisi konflik yang terjadi : tidak ada (0); sedikit (1);
sering (2)
Pengaruh nelayan 0; 1; 2 2 0 Keterlibatan nelayan dalam pengambilan kebijakan perikanan :
tidak sam sekali (0); seimbang (1); banyak (2)
Pendapatan dari melaut 0; 1; 2 2 0 Persentase kontribusi pendapatan terhadap pendapatan total
keluarga : <50% (0); 50-80% (1); > 80% (2)
Partisipasi keluarga 0; 1 1 0 Tingkat partisipasi angka keluarga (AK) dalam pengolahan
maupun pemasaran : tidak ada (0); ada (1);
Dimensi Teknologi Lama waktu yang digunakan untuk melaut : harian (0); 2-6 hari
Lama melaut 0; 1; 2; 3; 4 0 4 ((1); 6-10 hari (2); 10-15 hari (3); 15-20 hari (4)
Tempat pendaratan ikan 0; 1; 2 0 2 Tersebar (0); agak tersebar (1); terpusat (2)
Pengolahan ikan sebelum dijual 0; 1; 2 2 0 Tidak ada (0); beberapa (1); banyak (2)
Penanganan ikan di atas kapal 0; 1; 1,5; 2 2 0 Tidak ada (0); beberapa menggunakan es (1); Menggunakan
es(1,5); freezer (2)
Alat tangkap 0; 1; 2; 3; 4 0 4 Berdasarkan Monintja (2000), alat tangkap : tidak menerapkan
criteria ramah lingkungan (0); menerapkan 1-3 kriteria ramah
lingkungan (1); menerapkan 4-6 kriteria ramah lingkungan (2);
menerapkan 7-9 kriteria alat tangkap ramah lingkungan (3);
menerapkan 9 kriteria alat tangkap ramah lingkungan (4)
Selektifitas alat tangkap 0; 1; 2; 3 3 0 Berdasarkan FAO (1995) : Kurang selektif, alat menangkap
lebih dari tiga spesies dengan ukuran yang berbeda jauh (0);
agak selektif, alat menangkap paling banyak tiga spesies
dengan ukuran berbeda jauh (1); selektif, alat menangkap
kurang dari tiga jenis spesies dengan ukuran yang kurang lebih
sama (2); sangat selektif, alat menangkap satu spesies saja
dengan ukuran yang kurang lebih sama (3)
Ukuran perahu 0; 1; 2 0 2 Rata-rata panjang perahu: >8 m (0), 8-17 m (1); >17 m (2)
Kemampuan meningkatkan 0; 1; 2 0 2 Jumlah nelayan yang mampu meningkatkan armada dan alat
kapasitas penangkapan tangkap setelah 5 tahun : tidak ada (0); beberapa (1);
banyak (2)
Efek samping alat tangkap 0; 1; 2 0 2 Penggunaan alat tangkap merusak lingkungan seperti sianida,
berbahaya dinamit, trawl : tidak ada (0); beberapa (1); banyak (2)
Dimensi Etika Kedekatan dari aspek geografis maupun wilayah : tidak dekat
3 0
Kedekatan dengan sumberdaya 0; 1; 2; 3 (0); kurang dekat (1); dekat (2); sangat dekat (3)
Alternativ pekerjaan 0; 1; 2 2 0 Alternatif pekerjaan dalam komunitas selain perikanan: tidak
ada (0); sedikit (1); banyak (2)
Aturan kearifan lokal 0; 1; 2 2 0 Keadillan pemanfaatan sumberdaya ikan berdasarkan aturan
kerifan lokal nelayan : tidak ada (0); ada, kurang efektif (1); ada,
sangat efektif (2)
Aturan pengelolaan 0; 1; 2; 3; 4 4 0 Aturan pengelolaan nelayan: tidak ada (0); konsultasi (1); ko-
manajemen peran pemerintah lebih besar (2); peran nelayan
lebih besar (3); ko-manajemen ideal (4)
Pengaruh formasi etika 0; 1; 2; 3; 4 4 0 Secara struktural, implikasi nilai-nilai kultural: sangat negatif (0);
beberapa negatif (1); netral (2); beberapa ada yang positif (3);
sangat positif (4)
Mitigasi kehancuran habitat 0; 1; 2; 3; 4 4 0 Kerusakan mitigasi habitat untuk ikan : sangat hancur (0);

55
Nikè:Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Volume 5, Nomor 2, Juni 2017

beberapa ada yang rusak (1); tidak ada yang rusak maupun
mitigasi (2); ada beberapa mitigasi (3); banyak mitigasi (4)
Mitigasi kehancuran ekosistem 0; 1; 2; 3; 4 4 0 Mitigasi perikanan termasuk ekosistem: sangat hancur (0);
beberapa ada yang rusak (1); tidak ada yang rusak maupun
mitigasi (2); ada beberapa mitigasi (3); banyak mitigasi (4)
Pencatatan hasil tangkapan 0; 1; 2 0 2 Pencatatan hasil tangkapan ikan: Seluruhnya (0);
sebagian (1); tidak ada (2)
Pemborosan secara percuma 0; 1; 2 0 2 Hasil tangkapan yang terbuang dan sedikit pemborosan : tidak
ada (0); sedikit (1); banyak (2)
Sumber: T.J. Pitcher dan D. Preikshot, 2001 dimodifikasi sesuai wilayah analisis

Hasil analisis Rapfish kelima dimensi dapat 13,30% Hal ini menurut prosedur
dilihat pada Gambar 1 sampai dengan 5, Multidimensional Scaling (MDS) sudah
sedangkan atribut sensitif setiap dimensi dapat memenuhi goodness of fit karena nilai stress
dilihat pada Gambar 1a sampai dengan 5a. Nilai yang diperoleh kurang dari 25% dan selang
stress dan r-squared (squared correlation) dari kepercayaan yang diberikan sudah cukup tinggi
masing-masing dimensi. Persyaratan nilai stress yakni 95,21%.
secara statisik harus kurang dari 25% sedangkan
r-squared mendekati 100%. Dimensi Ekologi
Tabel 2 Persentase Nilai Stress dan r-squared Gambar 1 menunjukan nilai indeks
dimensi sosial adalah 73,85 nilai tersebut berada
NNo Dimensi Stress(%) r-squared(%) pada kisaran >50-=75, kondisi demikian
1 Ekologi 13, 30 95,21 menggambarkan bahwa status ekologi perikanan
2 Ekonomi 13,38 95,20 tangkap ikan julung-julung di Kabupaten
3 Sosial 13,06 94,91 Boalemo berada pada kategori cukup
4 Teknologi 13,88 94,88 berkelanjutan.
5 Etika 13,30 95,20

Sebagai contoh nilai stress yang diperoleh


dari penelitian pada dimensi ekologi sebesar

Gambar 1. (a) Hasil Ordinasi RAPFISH Dimensi Ekologi (b) Analisis Leverage Dimensi Ekologi

Analisis leverage (Gambar 1a) dicegah karena bisa saja ikan-ikan yang
memperlihatkan bahwa atribut perubahan ukuran tertangkap merupakan ikan-ikan yang belum
ikan dan ikan yang tertangkap dalam keadaan sempat memijah sehingga proses penambahan
matang gonad, merupakan atribut yang sangat stok melalui pemijahan terhenti. Berdasarkan hal
berpengaruh terhadap keberlanjutan perikanan tersebut diperlukan upaya pengaturan
tangkap ikan julung-julung. Hal ini sangat pembatasan upaya penangkapan, pengaturan
mendasar mengingat penurunan ukuran ikan musim penangkapan dan zonasi wilayah daerah
salah satu indikasi penting bahwa telah terjadi penangkapan ikan, agar keberadaan ikan julung-
penurunan stok ikan. Apabila hal ini dibiarkan julung di alam bisa dipertahankan sehingga
maka kerusakan sumberdaya tidak akan dapat manfaat ekonominya tidak berkurang untuk

56
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan – Universitas Negeri Gorontalo

masyarakat saat ini maupun dimasa yang akan berada pada kisaran >25- =50, kondisi demikian
datang. menggambarkan bahwa status ekonomi
perikanan tangkap ikan julung-julung di
Dimensi Ekonomi Kabupaten Boalemo berada pada kategori
Gambar 2 menunjukan nilai indeks kurang berkelanjutan.
dimensi ekonomi adalah 35,80 nilai tersebut

Gambar 2. (a) Hasil Ordinasi RAPFISH Dimensi Ekonomi (b) Analisis Leverage Dimensi Ekonomi

Analisis leverage attributs (Gambar 2b) belum menerapkan upaya pembatasan hasil
menunjukan tiga atribut sensitif terhadap tangkapan, hal ini di khawatirkan akan
keberlanjutan dimensi ekonomi yakni; 1) Hak berpengaruh terhadap keberlanjutan usaha
kepemilikan sumberdaya , kegiatan perikanan tangkap ikan julung-julung akibat
penangkapan ikan julung-julung dengan pukat penangkapan ikan berlebih (over fishing). Upaya
roa di perairan Kabupaten Boalemo dilakukan pembatasan hasil tangkapan dilakukan dengan
dengan sifat common property, dimana setiap mengestimasi tangkapan optimum serta faktor-
nelayan berhak melakukan penangkapan faktor yang mempengaruhi kelastarian
maksimal sehingga menyebabkan terjadinya sumberdaya ikan julung-julung dapat dilakukan
penangkapan tak terbatas dan akhirnya akan dengan menerapkan beberapa upaya
menguras sumberdaya tersebut. Kegiatan pembatasan, yakni; pembatasan upaya
penangkapan secara open acces akan penangkapan ikan julung-julung, pembatasan
menyebabkan tidak adanya pihak yang musim tangkapan, dan pembatasan daerah
bertanggung jawab dalam memelihara tangkapan.
kelestarian sumberdaya ikan. 2) Pendapatan lain
diluar nelayan, alternatif pekerjaan nelayan pukat Dimensi Sosial
roa selain melaut sangat terbatas. Nelayan Hasil ordinasi RAPFISH dimensi sosial
biasanya menambah pendapatan dengan bertani adalah 73,85 (Gambar 3) nilai tersebut berada
jagung, namun lahan untuk pertanian jumlahnya pada selang >50- =75, kondisi demikian
terbatas karena lokasinya lebih banyak tanah menggambarkan bahwa status sosial perikanan
berbatu kapur dan tandus, sehingga nelayan tangkap ikan julung-julung di Kabupaten
lebih banyak meggantungkan penghidupannya Boalemo berada pada kategori cukup
dari melaut. Alternatif pekerjaan lain diluar berkelanjutan.
nelayan sangat dibutuhkan, sebagai upaya
mengurangi tekanan terhadap sumberdaya ikan
julung-julung 3) Batasan penangkapan ikan,
pengelolaan perikanan tangkap ikan julung-
julung di Kabupaten Boalemo hingga saat ini
57
Nikè:Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Volume 5, Nomor 2, Juni 2017

Gambar 3. Hasil Ordinasi RAPFISH Dimensi Sosial Gambar 3a. Analisis Leverage Dimensi Sosial

Analisis leverage attributes (Gambar 3a) pendidikan nelayan secara umum lebih rendah
menunjukan dua atribut sensitif terhadap bila dibandingkan dengan masyarakat lainnya.
keberlanjutan dimensi sosial yakni; 1) Pengaruh Rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan
nelayan dalam perumusan kebijakan perikanan, kurangnya pengetahuan nelayan terhadap
pemerintah dalam hal ini selaku p pemanfaatan potensi perikanan yang
Perikanan tangkap di Kabupaten Boalemo berkelanjutan.
dalam membuat kebijakan belum melibatkan
nelayan. Keterlibatan nelayan dalam Dimensi Teknologi
pengembangan perikanan tangkap secara Hasil analsis RAPFISH dimensi teknologi,
berkelanjutan sangat diperlukan, nelayan didapatkan nilai indeks yaitu 55,51 nilai tersebut
sebagai sumber informasi akurat akan berada pada kisaran >50- =75 (Gambar 4).
menggambarkan kondisi perikanan terkini baik Kondisi demikian menggambarkan bahwa status
dari segi sosial, teknologi dan sumberdaya ikan, keberlanjutan dimensi teknologi perikanan
sehingga kebijakan yang diambil akan lebih tepat tangkap ikan julung-julung berada pada kategori
sasaran, 2) Tingkat pendidikan, tingkat cukup berkelanjutan.

Gambar 4. Hasil Ordinasi RAPFISH Dimensi Teknologi Gambar 4a. Analisis Leverage Dimensi Teknologi

58
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan – Universitas Negeri Gorontalo

Analisis leverage attributes (Gambar 4a) roa. Berdasarkan pengamatan terhadap hasil
menunjukan atribut yang paling sensitif terhadap tangkapan pukat roa, rata-rata ikan yang
terhadap keberlanjutan dimensi teknologi adalah tertangkap lebih dari satu spesies dengan ukuran
selektivitas alat tangkap. Alat tangkap pukat roa yang berbeda, sehingga pukat roa termasuk
merupakan alat tangkap dengan target spesies kedalam kategori alat tangkap agak selektif.
ikan julung-julung (Hemiramphus robustus)
namun dengan spesifikasi alat pukat roa yang Dimensi Etika
terdiri dari tiga ukuran mata jaring yang berbeda Hasil analisis dengan perangkat lunak
dengan besaran mata jaring pada bagian sayap RAPFISH menunjukan bahwa indeks dimensi
1,5 inchi, bagian badan 1,25 inchi dan bagian etika sebesar 52,56. Nilai tersebut berada pada
tengah (kantong) 1 inchi. Ukuran mata jaring kisaran >50- =75, kondisi demikian menjelaskan
pukat roa tersebut memiliki potensi bahwa status keberlanjutan perikanan tangkap
tertangkapnya spesies lain selain ikan julung- ikan julung-julung berada pada kategori cukup
julung/roa (Hemiramphus robustus). Hal tersebut berkelanjutan.
dapat dilihat dari hasil tangkapan nelayan pukat

Gambar 5. Hasil Ordinasi RAPFISH Dimensi Etika Gambar 4a. Analisis Leverage Dimensi Etika

Analisis leverage attributes (Gambar 5a) Simulasi Monte Carlo


menunjukan dua atribut sensitif terhadap Simulasi Monte Carlo dalam RAPFISH
keberlanjutan dimensi sosial yakni; 1) Aturan diperlukan untuk mengatasi aspek
kearifan lokal. Pengelolaan perikanan yang ketidakpastian. Menurut Fauzi dan Anna (2005),
berdasarkan tradisi atau kearifan lokal menjadi ketidakpastian ini disebabkan oleh beberapa
sangat esensial untuk dilakukan dalam upaya faktor antara lain dampak kesalahan skoring
pengelolaan perikanan tangkap berkelanjutan akibat minimnya informasi, dampak dari
dimasa yang akan datang. Pengembangan etika keragaman dalam skoring akibat perbedaan
masyarakat pesisir dalam pemanfaatan penilaian, kesalahan dalam data entry dan
sumberdaya lokal yang didasarkan pada tradisi tingginya nilai stress yang diperoleh. Hasil
atau kearifan lokal akan lebih meningkatkan simulasi Monte Carlo dengan 25 kali ulangan
partisipasi masyarakat dalam pengawasan pada setiap dimensi dapat dilihat pada Gambar
terhadap pemanfaatan potensi sumberdayanya. 6a,6b,6c,6d dan 6e. Hasil simulasi Monte Carlo
2) Alternatif pekerjaan. Terbatasnya pekerjaan ini menunjukkan bahwa indeks keberlanjutan
menjadi masalah tersendiri yang akan perikanan tangkap ikan julung-julung di
menyebabkan tekanan terhadap sumberdaya Kabupaten Boalemo berkumpul di satu titik,
ikan julung-julung semakin meningkat. artinya dengan 25 kali pengulangan, beberapa
faktor ketidakpastian hasil analisis Rapfish di
atas masih dapat digunakan dalam penentuan

59
Nikè:Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Volume 5, Nomor 2, Juni 2017

status keberlanjutan sesuai dengan kaidah MDS


(multidimentional scaling).

Status Kerberlanjutan Perikanan Multidimensi =75. Nilai atau indeks semakin keluar (mendekati
angka 100) menunjukkan status keberlanjutan
Perbedaan nilai status keberlanjutan dari yang semakin bagus, sebaliknya jika semakin ke
kelima dimensi di wilayah penelitian diperlihatkan dalam (mendekati titik 0) menunjukkan status
pada gambar diagram layang di bawah ini. keberlanjutan yang semakin buruk. Analisis
Rapfish pada setiap dimensi memperlihatkan
bahwa di antara kelima dimensi dalam penelitian
ini ternyata dimensi ekonomi merupakan dimensi
yang paling buruk status keberlanjutannya,
dengan IKP < 50 yaitu 35,80 (kurang
berkelanjutan).

Analisis SWOT Untuk Rekomendasi Strategi


dan Kebijakan
Hasil analisis RAPFISH menjelaskan status
keberlanjutan setiap dimensi beserta atribut
Gambar 7. Diagram layang pengungkit yang berpengaruh terhadap
keberlanjutan perikanan tangkap ikan julung-
Analisis Rapfish pada lima dimensi julung. Atribut tersebut menjadi salah satu
menunjukkan indek keberlanjutan perikanan pertimbangan didalam merumuskan alternatif-
tangkap ikan julung-julung di Kabupaten alternatif strategi yang dapat memperbaiki
Boalemo cukup berkelanjutan, dengan nilai rata- pengelolaan perikanan tangkap ikan julung-
rata IKP 59,67 atau berada pada selang >50-
60
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan – Universitas Negeri Gorontalo

julung di Kabupaten Boalemo. Perumusan Masyarakat nelayan pukat sudah mulai


strategi kebijakan dibuat menggunakan analisis sadar terhadap pengetahuan lingkungan,
SWOT, dan didapatkan 11 rekomendasi strategi baik pentingnya menjaga lingkungan
kebijakan dengan prioritas sebagai berikut : pesisir, maupun penangkapan ramah
1) Pengaturan upaya penangkapan ikan lingkungan. Strategi ini diperlukan untuk
julung-julung. lebih mengingkatkan kesadaran nelayan
Pengaturan upaya penangkapan terhadap perikanan ramah lingkungan.
merupakan langkah utama yang harus 7) Peningkatan akses nelayan terhadap
segera dilakukan untuk menjaga daya pendidikan.
pulih sumberdaya ikan julung-julung untuk Masyarakat nelayan mulai menyadari
menghindari terjadinya kondisi tangkap pentingnya pendidikan. Sasaran strategi
berlebih (over fishing). kebijakan ini adalah anak-anak nelayan
2) Pengaturan musim tangkapan. untuk lebih mudah mengakses pendidikan
Strategi ini perlu dilakukan karena terutama terhadap pendidikan menengah
karateristik ikan julung-julung beruaya kejuruan perikanan maupun perguruan
menuju daerah pantai untuk melakukan tinggi.
pemijahan. Berdasarkan keterangan 8) Pengelolaan perikanan secara terpadu.
nelayan bahwa jumlah terbanyak ikan Strategi ini diperlukan untuk mendukung
tertangkap dalam kondisi sedang bertelur kerangka pengelolaan keberlanjutan
(TKG4) adalah pada bulan Desember usaha perikanan tangkap ikan julung-
sampai Januari, sehingga pada bulan julung di Kabupaten Boalemo.
tersebut perlu dilakukan penutupan musim 9) Peningkatan peran serta nelayan dalam
penangkapan untuk memberikan perumusan kebijakan perikanan.
kesempatan kepada ikan julung-julung Strategi ini diharapkan akan mendukung
untuk memijah dan berkembang. ide, gagasan dari seluruh strategi
3) Perlindungan tempat memijah ikan julung- pengelolaan perikanan tangkap ikan
julung. julung-julung secara berkelanjutan di
Dengan melakukan strategi ini diharapkan Kabupaten Baolemo agar formulasi dari
habitat pemijahan ikan julung-julung di kebijkan tersebut bisa terlaksana dengan
perairan Boalemo dapat terlindungi baik.
sehingga memberikan kesempatan 10) Peningkatan keterampilan nelayan di
sumberdaya ikan julung-julung untuk bidang lainnya.
memijah. Strategi ini mendukung strategi
4) Penetapan zona penangkapan ikan. pengaturan musim tangkapan ikan, yaitu
Strategi ini diperlukan untuk memudahkan pada saat penutupan musim tangkapan
nelayan dalam melakukan penangkapan ikan julung-julung, nelayan masih bisa
ikan sehingga manfaat ekonominya menangkap komoditas ikan lainnya.
semakin meningkat namun kelestariannya 11) Membentuk kelompok pengawas
tetap terjaga. sumberdaya perikanan mandiri
5) Menjalin kemitraan terkait permodalan. (POKWASMAN). Strategi pembentukan
Strategi ini diperlukan untuk mendukung POKWASMAN yang direncanakan secara
upaya pengelolaan perikanan tangkap baik dan teroganisir serta mendapatkan
ikan julung-julung yang berkelanjutan, pengakuan dari pemerintah merupakan
berdasarkan kondisi di wilayah penelitian upaya penguatan kelembagaan mandiri
strategi ini sudah pernah dilakukan namun nelayan dalam mengawasi dan
perlu dilakukan peningkatan mengelolaa pemanfataan sumberdaya
pelaksanaannya sehingga strategi ini ikan secara lestari.
menempati prioritas kelima.
6) Sosialisasi perikanan tangkap ramah
lingkungan.

61
Nikè:Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Volume 5, Nomor 2, Juni 2017

IV. Kesimpulan dan Saran Saran


1. Diperlukan keseriusan dalam penerapan
Kesimpulan pengaturan penangkapan ikan julung-julung
1. Kondisi terkini perikanan tangkap ikan sebagai upaya mempertahankan dan
julung-julung mengalami penurunan meningkatkan hasil tangkapan nelayan.
produksi hasil tangkapan dari tahun 2. Diperlukan upaya perbaikan secara
ketahun. menyeluruh terhadap atribut pada setiap
2. Status keberlanjutan perikanan tangkap ikan dimensi, terutama pada dimensi ekonomi
julung-julung secara multidimensi dalam agar perikanan tangkap ikan julung-julung
kategori cukup berkelanjutan. Status tetap menguntungkan.
keberlanjutan untuk setiap dimensi adalah 3. Meningkatkan komunikasi dengan berbagai
dimensi ekologi berada pada kategori pihak ; nelayan, akademisi, tokoh agama,
berkelanjutan, dimensi sosial, teknologi, dan tokoh adat, dan tokoh masyarakat, untuk
etika berada pada kategori cukup mensosialisasikan rekomendasi strategi
berkelanjutan, sedangkan dimensi ekonomi pengelolaan perikanan tangkap ikan julung-
berada pada kategori kurang berkelanjutan. julung secara berkelanjutan yang telah
3. Strategi pengelolaan perikanan tangkap dirumuskan agar implikasinya bisa
ikan julung-julung merekomendasikan dirasakan masyarakat.
sebelas kebijakan, dengan prioritas utama
pengaturan penangkapan ikan julung-julung.

Daftar Pustaka

Collette, Bruce B., 1974. The garfishes (Hemiramphidae) of Australia and New Zealand. Records of the
Australian Museum. Australian Museum. Sydney.
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Boalemo, 2015. Profil kelautan dan perikanan Boalemo.
Pemerintah Kabupaten Boalemo. Boalemo.
Hamdan,. 2007. Analisis kebijakan pengelolaan perikanan tangkap berkelanjutan di Kabupaten
Indramayu. Desertasi. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Kawibang, E., I.J., Paransa, dan M.E., Kayadoe. 2012. Pendugaan stok dan musim penangkapan ikan
julung-julung dengan soma roa di perairan talugadang, kabupaten kepulauan siau
talugadang biaro. Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Tangkap 1 (1) : 10-17 Juni.
Universitas Sam Ratulangi. Manado
Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2015. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik
Indonesia Nomor 25/Permen-KP/2015. tentang Rencana Strategis Kementrian Kelautan dan
Perikanan Tahun 2015-2019. Jakarta.
Pitcher, T.J., dan D., Preikshot. 2000. RAPFISH : A rapid appraisal tekchique fisheries to evaluate
sustainability status of fisheries. Fisheries Research 49 (2001). Fisheries Centre, University
of British Columbia.
Wuaten, J. F., Julius, Reppie E., Labaro, I.L., 2011. Kajian perikanan tangkap ikan julung-julung
(hyporhamphus affinis) di perairan kabupaten kepulauan sangihe. Jurnal Perikanan dan
Kelautan Tropis Vol. VII-2, Agustus. Universitas Sam Ratulangi. Manado.

62

Anda mungkin juga menyukai