LAPORAN INDIVIDU
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN DENGAN POST PARTUM
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Laporan Individu Praktik Keperawatan
Departemen Keperawatan Maternitas
Di Ruang Matahari
RSUD Karsa Husada Batu
Oleh:
Nama : Khilda Habsyiyyah
NIM : P17220192024
PRODI PROFESI KEPERAWATAN MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
TAHUN AJARAN 2021/2022
LAPORAN PENDAHULUAN
1. KONSEP DASAR
A. Definisi Post Partum
Persalinan merupakan suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari
dalam uterus melalui vagina ke dunia luar(Syaiful & Fatmawati, 2020). Setelah itu
mengalami masa post partum yaitu masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk
pulihnya kembali alat-alat kandungnya membutuhkan waktu sekitar 6 minggu (Putri &
Hastina, 2020).
Masa postpartum atau puerperium merupakan masa setelah melahirkan hingga
berlangsung sampai 6 minggu yang dimana selama proses kehamilan dan melahirkan adanya
perubahan fisiologis dan psikologis membuat ibu untuk menyesuaikan diri sebagai peran
baru sementara tubuhnya pulih kembali (Hatfield, 2013)
Post partum merupakan masa 6 minggu sejak bayi lahir hingga organ reproduksi ibu
kembali nomal seperti keadaan sebelum hamil (Wahyuningsih, 2019). Masa nifas adalah
periode 6 hingga 8 minggu setelah periode melahirkan dimana saluran reproduksi, serta
bagian tubuh lainnya kembali ke keadaan sebelum hamil. Beberapa perubahan akan kembali
normal dalam waktu 1 sampai 2 minggu pascapartum.
Berdasarkan definisi di atas, yang dimaksud dengan post partum adalah masa setelah
kelahiran bayi dan masa si ibu untuk memulihkan kondisi fisiknya meliputi alat-alat kandungan
dan saluran reproduksi kembali pada keadaan sebelum hamil yang berlangsung selama enam
minggu
B. Pembagian Masa Post Partum
[Link] post partum
Masa segera setelah plasenta lahir hingga waktu 24 jam, adapun masalah
yang sering terjadi adalah perdarahan karena atonia uteri. Ketidakmampuan untuk
berkemih sehingga menyebabkan distensi kandung kemih yang dapat menggantikan
uterus bisa mengakibatkan atonia uteri. Urine yang sedikit mungkin mengindikasikan
perdarahan.
[Link] post partum
Masa selama 24 jam sampai satu minggu setelah persalinan, harus dipastikan
involusi uteri normal, tidak ada perdarahan, lokia tidak berbau busuk, tidak demam,
ibu cukup mendapat makanan dan cairan serta ibu dapat menyusui dengan baik.
[Link] post partum
Masa akhir yang berlangsung selama 1 minggu hingga 6 minggu, ibu dianjurkan
untuk tetap melakukan perawatan dan pemeriksaan sehari-hari serta
konseling/pendidikan kesehatan keluarga berencana (KB).
C. Patofisiologi
Pada kasus Post Partum spontan akan terjadi perubahan fisiologis dan psikologis, pada
perubahan fisiologis terjadi proses involusi menyebabkan terjadi peningkatan kadar ocytosis,
peningkatan kontraks uterus sehingga muncul masalah keperawatan nyeri akut, danperubahan
pada vagina dan pirenium terjadi ruptur jaringan terjadi trauma mekanis, personal hygine yang
kurang baik, pembuluh darah rusak, menyebabkan genetalia menjadi kotor dan terjadi juga
perdarahan sehingga muncul masalah keperawatan resiko infeksi. Perubahan laktasi akan muncul
struktur dan karakter payudara.
Laktasi dipengaruhi oleh hormon esterogen dan peningkatan prolaktin, sehingga terjadi
pembentukan ASI, tetapi terkadang terjadi juga aliran darah di payudara berurai dari uterus
(involusi) dan refensi darah di pembuluh payudara maka akan terjadi bengkak dan penyempitan
padapada duktus intiverus sehingga asi tidak keluar dan muncul masalah keperawatan menyusui
tidak efektif. Pada perubahan psikologis akan muncultaking in (ketergantungan), taking
hold(ketergantungan kemandirian), letting go (kemandirian). Pada perubahan taking in pasien
akan membutuhkan perlindungan dan pelayanan, ibu akan cenderung berfokus pada diri sendiri
dan lemas, sehingga muncul masalah keperawatan gangguan pola tidur, taking hold pasien akan
belajar mengenai perawatan diri dan bayi, akan cenderung informasi karena mengalami masalah
keperawatan kurang pengetahuan.
D. Adaptasi Fisiologis pada Ibu Post Partum
1. Tanda Vital : 24 Jam awal sedikit naik (38⁰ C) dan hari ketiga naik lagi selama 2 hari
2. Sistem Kardiovaskuler :
a. Tekanan darah tidak berubah namun bila naik sistole:30/diastole:15 disertai sakit
kepala, perubahan penglihatan maka harus curiga adanya pre-eklamsia post partum)
b. Nadi biasanya lebih cepat misalnya 100x/menit, disebabkan adanya kelelahan,
perdarahan, dan lain-lain
c. Berkeringat dan menggigil : Instabilitas vasomotor dalam upaya mengeluarkan
jumlah air dan mengeluarkan sisa-sisa pembakaran
3. Sistem Perkemihan : Selama proses melahirkan kandung kemih mendpatakan trauma
ketika lahiran, mengakibatkan
a. Edema, Tekanan isi kandung kemih kehilangan sensitivitas berlebihan terhadap
cairan, Pengosongan kandung kemih tidak sempurna.
b. Biasanya mengalami tidak mampu BAK kurang lebih 2 hari, hematuria, dan infeksi
kandung kemih
c. Diuresis mulai 12 jam post partum
4. Pencernaan : biasanya terjadi Obstipasi yang terjadi kurang lebih selama 2-3 hari, dan
pemulihan terjadi dalam satu minggu
5. Afterpains yang umumnya terjadi pada multipura atau uterus yang sangat diregangkan
seperti pada kehamilan kembar
6. Sistem muskuloskeletal : Kekenyalan otot-otot abdomen menurun menjadi lembek dan
kendor (bekas teregangnya otot dinding perut selama kehamilan), akan kembali kurang
lebih 6 minggu post partum
7. Sistem Endokrin :
a. Hormon Esterogen dan Progesterone menurun dengan cepat
b. Hormon Prolaktin meningkat terutama pada hari 2-3 post partum
c. Hormon Esterogen akan meningkat secara bertahap pada ibu tidak menyusui 3
minggu
8. Laboratorium : Leukosit 20.000-25.000 mm3 (normal) karena proses penyembuhan
9. Perubahan Mamae : Colostrum : -mamae tegang, Hyperpigmentasi (Aerola hitam)
10. Sistem Reproduksi :
a. Uterus ditandai dengan kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil
b. Siklus menstruasi akan mengalami perubahan saat ibu mulai menyusui
c. Serviks akan mengalami edema, bentauk ditensi untuk beberapa hari, struktur interna
akan kembali setalah 2 minggu
d. Vagina nampak berugae kembali pada 3 minggu
e. Payudara akan membesar karena vaskuralisasi dan engorgemen (bengkang karena
peningkatan prilaktin)
f. Pirenium : akan terjaidi robekan jika dilakukan episiotomi yang akan terjadi masa
penyembuhan selama 2 minggu
E. Adaptasi Psikologis pada Ibu Post Partum
Proses adaptasi psikologis pada seorang ibu telah dimulai sejak ibu hamil. Perubahan
mood seperti sering marah, menangis, dan sering sedih atau cepat berubah perasaan menjadi
senang merupakan manifestasi dari emosi yang labil (Manuaba, 2013).
Menurut Maartaadisoebrata (2013),pada masa post partum seorang ibu akan melalui
tiga periode adaptasi psikologis yang disebut “Rubin Maternal Phases”,yaitu sebagai berikut:
a. Periode Taking In Fase ini disebut juga fase ketergantungan. Dimulai setelah
persalinan, pada ibu masih berfokus dengan dirinya sendiri, bersikap pasif dan masih
sangat tergantung pada orang lain di sekitarnya.
b. Periode Taking Hold Fase ini disebut juga fase transisi antara ketergantungan dan
kemandirian. Terjadi antara hari kedua dan ketiga post partum, ibu mulai menunjukkan
perhatian pada bayinya dan berminat untuk belajar memenuhi kebutuhan bayinya. Dalam
tenaga ibu pulih kembali secara bertahap, ibu merasa lebih nyaman, fokus perhatian
mulai beralih pada bayi, ibu sangat antusias dalam merawat bayinya, ibu mulai mandiri
dalam perawatan diri dan terbuka pada pengajaran perawatan. Saat ini merupakan saat
yang tepat untuk memberi informasi tentang perawatan bayi dan diri sendiri. Pada fase ini
juga terdapat kemungkinan terjadinya post partum blues.
c. Periode Letting Go Fase ini disebut juga fase mandiri. Pada fase ini berlangsung antara
dua sampai empat minggu setelah persalinan ketika ibu mulai menerima peran barunya.
Ibu melepas bayangan persalinan dengan harapan yang tidak terpenuhi serta mampu
menerima kenyataan. Pada fase ini tidak semua ibu post partum mampu beradaptasi
secara psikologis sehingga muncul gangguan mood yang berkepanjangan ditandai dengan
adanya perasaan sedih, murung, cemas, panik, mudah marah, kelelahan, disertai gejala
depresi seperti gangguan tidur dan selera makan, sulit berkonsentrasi, perasan tidak
berharga, menyalahkan diri dan tidak mempunyai harapan untuk masa depan. Hal ini juga
merupakan pencetus berbagai reaksi psikologis, mulai dari reaksi emosional ringan,
hingga ketingkat gangguan jiwa yang berat.
F. Tata Laksana dan Konseling
1. Ibu perlu istirahat yang cukup 8-12 jam/hari
2. Banyak minum 1500cc/ hari, makanan tambahan mencapai 2100 kkal/hari untuk
memenuhi kebutuhan selama menyusui
3. Mobilisasi dilakukan pada hari pertama setelah melahirkan. Dapat mengurangi
masalah miksi dan defekasi
4. Pemeriksaan tinggi fundus, kondisi umum, tanda-tanda vital, dan keluhan lain
5. Pemberian tablet besi karena 50% ibu hamil dan menyusui di Indonesia mengalami
anemia.
6. Rujuk bila ada komplikasi saat nifas
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Darah lengkap : Hb, Ht, leukosit, trombosit
2. Urine lengkap : Makroskopik (glukosa, prtein, bilirubin, urobilinogen, keasaman,
keton)
H. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
1. Pengumpulan data
- Identitas
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, pekerjaan, pendidikan,
suku bangsa, status perkawinan, tanggal dan jam MRS, diagnosa medis
- Keluhan utama
Biasanya klien mengeluh nyeri / ketidaknyamanan pada daerah kemaluannya
setelah melahirkan.
- Riwayat penyakit sekarang
1. Riwayat kesehatan lalu
Perlu ditanyakan mengenai kondisi penyakit sebelumnya seperti
hipertensi, DM, Jantung atau keluhan yang lainnya.
2. Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya klien mengeluh nyeri pada bagian kemaluannya disaat klien
bergerak dan berkurang apabila beristirahat.
3. Riwayat kesehatan keluarga
Yang perlu ditanyakan adalah penyakit yang sifatnya menurun (hipertensi,
DM, Jantung) dan penyakit menular serta mempunyai riwayat persalinan
kembar.
4. Riwayat kesehatan psikososial
Biasanya pasien dengan masa nifas mengalami kecemasan tentang
keadaan bayinya serta nyeri pada daerah perineum.
- Pola-pola Fungsi Kesehatan
1. Pola persepsi dan tata laksana kesehatan
Karena kecemasannya terhadap jahitan perineum biasanya klien BAK atau
BABnya menjadi sulit dan takut karena jahitannya dapat robek. Oleh
karena itu perlu dilakukan perawatan dan pengetahuan tentang cara vulva
hygiene setiap BAK atau BAB agar dapat terjadi infeksi dan jahitannya
dapat kering.
2. Pola nutrisi dan metabolisme
Biasanya klien pada masa nifas mengalami peningkatan nafsu makan dan
penurunan nafsu makan.
3. Pola eliminasi
Pada penderita post partum sering terjadi adanya perasaan sering atau
susah untuk BAK yang ditimbulkan oleh terjadinya odem dari trigono,
yang menimbulkan obstruksi dari uretra sehingga sering terjadi konstipasi.
Selain itu klien takut BAB atau BAK karena jahitannya robek atau
nyerinya bertambah.
4. Pola istirahat dan tidur
Pada klien nifas terjadi perubahan pada pola istirahat dan tidur karena
merasakan nyeri pada perineum.
5. Pola aktivitas dan latihan
Biasanya klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan terbatas,
misalnya makan, minum, duduk dan biasanya klien dengan nyeri
perineum terjadi keterbatasan aktivitas.
6. Pola sensori dan kognitif
Pada pola sensori klien mengalami nyeri pada perineum akibat luka
jahitan dan nyeri perut akibat involusi uteri. Pada pola kognitif terjadi
pada ibu primipara yang mengalami kecemasan atas nyeri yang
dialaminya.
7. Pola persepsi dan kensep diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan kehailannya lebih
menjelang persalinan. Dampak psikologisnya adalah terjadinya perubahan
konsep diri yaitu Body Image dan ideal diri.
8. Pola reproduksi dan sexual
Terjadi perubahan sexsual atau disfungsi sexual yaitu perubahan dalam
hubungan sexual yang tidak adekuat karena adanya proses persalinan dan
nifas.
9. Pola hubungan dan peran
Dalam hubungan peran biasanya mengalami sedikit gangguan karena
masa nifas adalah masa dimana ibu harus istirahat dan melakukan aktivitas
terbatas.
10. Pola tata nilai dan kepercayaan
Klien dengan masa nifas tidak dapat melakukan ibadah, tetapi klien hanya
bisa berdoa karena klien masih dalam keadaan bedrest dan belum bersih
- Pemeriksaan fisik
1. Kepala
Pada klien dengan nyeri perineum biasanya tidak terdapat kelainan pada
kepala
2. Lochea
Lochea rubra warna merah kehitaman
3. Vulva
Vulva bersih dan biasanya tidak ada masalah
4. Vagina
Dari vagina dapat dilihat ada tidaknya perdarahan, jumlah perdarahan dan
ada / tidaknya fluor albus
5. Uterus
Biasanya uterus lama kelamaan akan mengecil dan biasanya apabila ibu
baru post partum tinggi uterus adalah 1 jari bawah pusat
6. Perineum
Terdapat perobekan alami atau akibat episiotomi sehingga ini dapat
menyebabkan nyeri
7. Cervix
Biasanya ibu nifas, keadaan cervixnya menganga seperti corong berwarna
merah kehitaman, konsistensi lunak dan biasanya ada perobekan
8. Payudara
Biasanya ibu nifas, payudaranya tegang dan membesar, puting susu
menonjol, dan ini sebelumnya harus mendapatkan perawatan payudara
agar tidak terjadi infeksi, lecet dan bendungan ASI (Anon t.t.)
b. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang sering muncul menurut Standar Diagnosis
Keperawatan Indonesia (2016), yaitu:
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik
2. Menyusui tidak efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan suplai ASI,
hambatan pada neonatus, anomali payudara ibu, ketidakadekuatan refleks
oksitosin, ketidakadekuatan refleks menghisap bayi, payudara bengkak, riwayat
operasi payudara, kelahiran kembar, tidak rawat gabung, kurang terpapar
informasi tentang pentingnya menyusui dan/atau metode menyusui, kurang
dukungan keluarga, faktor budaya
3. Konstipasi berhubungan dengan kelemahan otot abdomen
4. Defisit pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang laktasi berhubungan dengan
keterbatasan kognitif, gangguan fungsi kognitif, kekeliruan mengikuti anjuran,
kurang terpapar informasi, kurang minat dalam belajar, kurang mampu
mengingat, ketidaktahuan menemukan sumber informasi
5. Risiko infeksi berhubungan dengan efek prosedur invasif, peningkatan paparan
organisme patogen lingkungan, malnutrisi, ketidakadekuatan pertahanan tubuh
primer, ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder
c. Intervensi keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama.........rasa nyeri teratasi
Kriteria hasil : Mengidentifikasi dan mengunakan intervensi untuk mengatasi
ketidaknyamanan dengan tepat, mengungkapkan berkurangnya ketidaknyamanan.
Intervensi keperawatan:
1. Lakukan pengkajian nyeri yang komperhensif meliputi lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi, kualitas, intesitas atau beratnya nyeri dan faktor pencetus
2. Gali bersama pasien faktor-faktor yang dapat menurunkan atau memperberat
nyeri
3. Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien
terhadap ketidaknyamanan
4. Kurangi atau eliminasi faktor-faktor yang dapat mencetuskan atau
meningkatkan nyeri
5. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri
6. Dukung istirahat/tidur yang adekuat untuk membantu penurunan nyeri
2. Menyusui tidak efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan suplai ASI,
hambatan pada neonatus, anomali payudara ibu, ketidakadekuatan refleks
oksitosin, ketidakadekuatan refleks menghisap bayi, payudara bengkak, riwayat
operasi payudara, kelahiran kembar, tidak rawat gabung, kurang terpapar
informasi tentang pentingnya menyusui dan/atau metode menyusui, kurang
dukungan keluarga, faktor budaya
Tujuan: Setelah dilakukan demostrasi tentang teknik menyusui selama ......
diharapkan tingkat pengetahuan ibu bertambah.
Kriteria hasil: Mengungkapkan pemahaman tentang proses menyusui,
menunjukan kepuasan regimen menyusui satu sama lain, dengan bayi dipuaskan
setelah menyusui, ASI keluar dengan lancar.
Intervensi :
1. Dorong ibu untuk menyusui, dengan tepat
2. Sediakan pendidikan menyusui yang cukup dan dukungan
3. Instruksikan orangtua mengenal tanda bayi merasa lapar
4. Instruksikan orangtua mengenai pentingnya memberikan makan sebagai
aktivitas yang memelihara, yang menyediakan kesempatan untuk terjadinya
kontak mata dan kedekatan secara fisik
5. Dukung kedekatan secara fisik yang sering dan terus menerus antara bayi dan
orangtua
3. Konstipasi berhubungan dengan kelemahan otot abdomen
Tujuan: setelah dilakukan asuhan keperawatan selama.......diharap pola eliminasi
fekal ibu membaik
Kriteria hasil: kontrol pengeluaran fesesmeningkat, keluhan defekasi lama dan
sulit meningkat, mengejan saat defekasi menurun, distensi abdomen menurun,
teraba massa pada rektal menurun, konsistensi feses membaik, frekuensi defekasi
membaik, peristaltik usus membaik
Intervensi:
1. Anjurkan diet tinggi serat
2. Anjurkan peningkatan asupan cairan
3. Latih buang air besar secara teratur
4. Ajarkan cara mengatasi konstipasi
5. Kolaborasi penggunaan obat pencahar
4. Defisit pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang laktasi berhubungan dengan
keterbatasan kognitif, gangguan fungsi kognitif, kekeliruan mengikuti anjuran,
kurang terpapar informasi, kurang minat dalam belajar, kurang mampu
mengingat, ketidaktahuan menemukan sumber informasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama......kebutuhan belajar
terpenuhi Kriteria hasil: Ibu menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi,
prognosis dan program pengobatan. Ibu dapat mendemonstrasikan tehnik efektif
dari menyusui. Ibu dapat melaksanakan prosedur yang dijelaskan dengan benar.
Ibu dapat menjelaskan kembali apa yang telah dijelaskan oleh perawat/tim
kesehatan.
Intervensi :
1. Berikan informasi mengenai manfaat menyusui baik fisiologis maupun
psikologis
2. Tentukan keinginan dan motivasi ibu untuk menyusui dan juga persepsi
mengenai menyusui 3)
3. Berikan materi pendidikan sesuai kebutuhan
4. Bantu menjamin adanya kelekatan bayi ke dada dengan cara yang tepat
(misalnya memonitor posisi tubuh bayi dengan cara yang tepat, bayi
memegang dada ibu serta adanya kompresi dan terdengar suara menelan)
5. Informasikan mengenai perbedaan antara hisapan yang memberikan nutrisi
dan yang tidak memberikan nutrisi
6. Instruksikan pada ibu untuk membiarkan bayi menyelesaikan proses menyusui
yang pertama sebelum proses menyusui yang kedua
7. Instruksikan pada ibu mengenai bagaimana memutuskan hisapan pada saat ibu
menyusui bayi, jika diperlukan
8. Instruksikan ibu untuk melakukan perawatan puting susu
9. Diskusikan teknik untuk menghindari atau meminimalkan pembesaran dan
rasa tidak nyaman pada payudara (misalnya sering memberikan air susu, pijat
payudara, kompres hangat dan mengeluarkan air susu)
10. Diskusikan kebutuhan untuk istirahat yang cukup, hidrasi dan diet yang
seimbang
11. Diskusikan strategi yang bertujuan untuk mengoptimalkan suplai air susu
5. Risiko infeksi berhubungan dengan efek prosedur invasif, peningkatan paparan
organisme patogen lingkungan, malnutrisi, ketidakadekuatan pertahanan tubuh
primer, ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ....... diharapkan infeksi
tidak terjadi.
Kriteria hasil: Mendemonstrasikan tehnik-tehnik untuk menurunkan risiko/
meningkatkan penyembuhan, menunjukan luka yang bebas dari drainase purulen
dan bebas dari infeksi, tidak febris, dan mempunyai aliran lokhea dan karakter
normal.
Intervensi :
1. Bersihkan lingkkungan dengan baik setelah digunakan untuk setiap pasien
2. Ganti perawatan per pasien sesuai protokol institusi
3. Batasi jumlah pengunjung
4. Ajarkan pasien teknik mencuci tangan dengan tepat
5. Anjurkan pengunjung untuk mencuci tangan pada saat memasuki dan
meninggalkan ruangan pasien
6. Gunakan sabun antimikroba untuk cuci tangan yang sesuai
7. Cuci tangan sebelum dan sesudah kegiatan perawatan pasien
8. Lakukan tindakan-tindakan pencegahan yang bersifat universal
9. Pakai sarung tangan sebagaimana dianjurkan oleh kebijakan pencehagan
universal
10. Pakai pakaian ganti atau jubah saat menangani bahan-bahan yang infeksius
11. Pakai sarung tangan steril dengan tepat
12. Pastikan teknik perawatan luka yang tepat
13. Tingkatkan intake nutrisi yang tepat
14. Dorong untuk beristirahat
15. Berikan terapi antibiotik yang sesuai
16. Anjurkan pasien untuk meminum antibiotik seperti yang diresepkan
17. Ajarkan pasien dan keluarga mengenai tanda dan gejala infeksi
DAFTAR PUSTAKA
AYU I, I. R. M. A. W. A. T. I. (2020). ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny S DENGAN
POST PARTUM NORMAL DI PUSKESMASTANJUNG KARANG (Doctoral dissertation,
Universitas_Muhammadiyah_Mataram).
Rini, S., & Kumala, F. (2017). Panduan Asuhan Nifas dan Evidence Based Practice.
Deepublish.
Mansyur, Nurliana. "Buku ajar: Asuhan kebidanan masa nifas." (2014).
Sukarni, I. (2014). Patologi: kehamilan, persalinan, nifas, dan neonatus resiko tinggi.