0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan29 halaman

Oklusi dan Maloklusi dalam Ortodonti

Skenario 1 membahas tentang oklusi dan maloklusi. Topik utama yang dibahas adalah definisi oklusi, karakteristik oklusi normal, perkembangan oklusi pada masa pertumbuhan, dan jenis-jenis maloklusi beserta gambarannya secara klinis.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan29 halaman

Oklusi dan Maloklusi dalam Ortodonti

Skenario 1 membahas tentang oklusi dan maloklusi. Topik utama yang dibahas adalah definisi oklusi, karakteristik oklusi normal, perkembangan oklusi pada masa pertumbuhan, dan jenis-jenis maloklusi beserta gambarannya secara klinis.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Skenario 1

Dharmapadmi Pradnya Kasilani


195160100111028
DK 3/C
Learning Issues
1. Oklusi
a. Definisi
b. Karakteristik oklusi normal (Andrew’s six key of occlusion)
c. Perkembangan oklusi pada masa pertumbuhan meliputi mulai lahir
sampai fase decidui, pergantian, dan permanen
d. Gambaran klinis
2. Maloklusi
a. Definisi
b. Klasifikasi (angle, dewey, simon, lischer, bennet, ackerman profit)
c. Gambaran klinis
d. Rencana perawatan
3. Etiologi maloklusi serta mekanisme terjadinya maloklusi
Oklusi
A. Definisi
 Oklusi dalam pengertian yang sederhana adalah penutupan rahang beserta
gigi atas dan bawah. Pada kenyataannya oklusi merupakan suatu proses
yang komplekskarena melibatkan gigi (termasuk morfologi dan
angulasinya), otot, rahang, sendi temporomandibular, dan gerakan
fungsional rahang. Oklusi juga melibatkan relasi gigi pada oklusi sentrik,
relasi sentrik dan selama berfungi. (Pambudi Rahardjo, 2012)
 Kamus Kedokteran Ricketts Dorlands mendefinisikan oklusi sebagai,
'tindakan penutupan atau proses penutupan.'
 Dalam kedokteran gigi, oklusi, mengacu pada "hubungan gigi rahang atas
dan rahang bawah ketika mereka berada dalam kontak fungsional selama
aktivitas mandibula." (Singh)
 Shaw mendefinisikan oklusi gigi, “sebagai posisi statis, posisi kontak
tertutup dari gigi atas ke gigi bawah”.
 Oklusi normal secara ortodontik, adalah oklusi Kelas I Angle. Gigi kunci
untuk klasifikasi ini adalah gigi geraham pertama permanen. (Singh)

B. Karakteristik oklusi normal (Andrew’s six key of


occlusion) (Singh)
 KEY I: Molar relationship
 Hubungan molar harus sedemikian rupa sehingga permukaan distal
pada distal marginal ridge dari molar permanen pertama atas kontak
dan menutup dengan permukaan mesial ada marginal ridge mesial
molar kedua bawah.
 Kedua, mesiobuccal cusp molar pertama permanen atas berada dalam
groove antara mesial dan middle cusps molar pertama permanen
bawah.
 Juga, mesiolingual cusp dari molar pertama atas terletak pada fossa
sentral dari gigi molar satu bawah.

(Martyn)
 KEY II: Crown angulation or mesio-distal tip
Semua mahkota gigi condong ke mesial atau mesioklinasi. Bagian gingiva
dari sumbu panjang “long axis” (garis yang membagi dua mahkota klinis
secara mesiodistal atau garis yang melewati bagian paling menonjol dari
permukaan labial atau bukal gigi) dari setiap mahkota distal ke bagian
oklusal dari gigi tersebut. Derajat ujung gigi berbeda-beda untuk tiap jenis
gigi

(Martyn)
 KEY III:Crown inclination of labio-lingual/bucco-lingual
torque
 Inklinasi mahkota adalah sudut antara garis 90 derajat ke bidang
oklusal, dan garis yang bersinggungan dengan permukaan tengah
labial atau bukal mahkota klinis.
 Insisal rahang atas ditempatkan sedemikian rupa sehingga bagian
insisal permukaan labial berada di labial bagian gingiva mahkota
klinis. Pada semua gigi juga
 Kemiringan mahkota, torsi labiolingual atau bukolingual mahkota,
bagian oklusal dari permukaan labial atau bukal adalah lingual ke
bagian gingiva. Pada gigi molar rahang atas, kemiringan mahkota
lingual sedikit lebih jelas dibandingkan dengan cuspids dan bicuspids.
Pada gigi posterior rahang bawah, kemiringan lingual semakin
meningkat.
 Bagian gingival gigi insisiv atas terletak lebih lingual daripada bagain
insisal. Untuk gigi selain insisisv atas bagian gingival terletak lebih
labial atau bukal daripada bagain insisal atau oklusal. Keadaan ini
disebut labiolingual torque
(Martyn)
 KEY IV: Absence rotations
 Gigi harus bebas dari rotasi yang tidak diinginkan.
 Jika terdapat rotasi, molar atau bicuspid menempati lebih banyak
ruang daripada biasanya. Gigi insisiv yang rotasi dapat menempati
lebih sedikit ruang dari biasanya.

(Martyn)
 KEY V: Tight contacts
Jika tidak terdapat kelainan sperti ukuran gigi, titik kontak harus rapat

(Martyn)
 KEY VI: Flat curve of spee
 Bidang oklusal datar adalah suatu keharusan untuk stabilitas oklusi.
 Diukur dari titik puncak gigi molar dua rahang bawah yang paling
menonjol ke gigi insisiv tengah bawah, tidak ada kurva yang lebih
dalam dari 1,5 mm yang dapat diterima dari sudut pandang stabilitas.
(Martyn)

C. Perkembangan oklusi pada masa pertumbuhan


 Dari Lahir sampai Fase Geligi Sulung  0-6 bulan (Pambudi
dan Singh)
 Gum Pads
o Gum pad adalah lengkungan alveolar padabayi saat lahir.
Terdapat membrane mucous yang menebal pada gusi, akan
tersegmentasi, setiap segmen tempat untuk gigi
o Pads dibagi menjadi labio/bukal dan lingual
o Groove antara caninus dan molar pertama disebut sulkus
lateral. Membantu menilai hubungan antar lengkung
 Gum pad maksila membentuk tapal kuda, palatum dangkal
 Gingival groove  memisahkan gusi dan palatal
 Dental groove  dari papilla insisiv ke belakang
hingga gingival grove canine, ke lateral berakhir di
region molar
 Sulkus lateral
 Gum pad mandibular berbentuk U dan persegi panjang
 Gingival groove  perpanjangan gum pad secara
lingual
 Dental groove  bergabung gingival groove canine
 Lateral sulcus
 Hubungan gum pads
o Saat istirahat, anterior gigitan terbuka, kontak hanya di region
molar. Lidah menjulur ke anterior. Penutupan ruang
intermaxillary terjadi dengan erupsi gigi sulung
o Overjet lengkap
o Pola kelas II, gum pad maxilla lebih menonjol
o Sulkus lateral mandibula posterior ke sulkus lateral rahang
atas.
o Gerakan fungsional mandibula terutama vertikal dan sedikit
anteroposterior. Gerakan lateral tidak ada.
o Pada saat lahir gum pad tidak cukup besar untuk menampung
benih gigi insisiv yang sedang berkembang sehingga benih gigi
dalam gum pad berdesakan dna rotasi

 Hubungan rahang neonatal


Hubungan yang tepat belum dapat terlihat sehingga tidak dapat
diguankan sebagai kriteria diagnostik
 Erupsi gigi primary sebelum waktunya
Kadang bayi lahir sudah memiliki gigi yang erupsi, disebut natal
tooth, sedangkan gigi sulung yang erupsi selama bulan pertama
adalah neonatal tooth. Gigi ini kebanyakan gigi insisiv mandibulaa,
sering menunjukkan enamel hipopalsia. Gigi ini bukan merupakan
indikasi pencabutan kecuali menyebabkan rasa kurang nyaman
pada ibu menyusui, goyang, atau supernumerary.
Pada tahun pertama pascalahir gum pad tumbuh secara ceat terutama ke
arah lateral. Keadaan ini memungkinkan insisiv tumbuh dalam letak yang
baik. Peningkatan ukuran rahang memberikan ruang yang cukup untuk
pengaturan gigi sulung yang harmonis.
Erupsi gigi sulung dimulai sekitar usia 6 bulan. Oklusi mulai berkembang
di posterior ketika molar pertama sulung mencapai kontak.
 Fase Geligi Sulung
 Fase ini dimulai dari erupsi gigi sulung pertama (urutan: I1 bawah,
I2 bawah, I1 atas, I2 atas, M1 atas bawah, M2 bawah, dan M2 atas).
Dimulai pada usia sekitar 6 bulan (bervariasi namun jika 6 bulan
lebih lambat perlu diperiksakan). Pada usia 2½ tahun biasanya
lengkap dan berfungsi penuh. Pembentukan akar selesai pada usia 3
tahun.

 Tanda Gigi Primary Normal:


o Anterior berjarak
Jarak anatr gigi sulung untuk mengakomodasi gigi permanen
yang lebih besar pada rahang. Diastema tersebut adalah fisiologi
karena perkembangan rahang. Adanya diastema tidak menjamin
gigi permanen tidak berdesakan. Sebaliknya jika tidak terdapat
diastema hampir bisa dipastikan gigi permanen akan
berdesakan.
o Ruang primate/simian/anthropoid  mesial kaninus RA dan
distal kaninus RB

o Overjet dan overbite dangkal

o Kemiringan anterior hampir vertical


o Lengkung oval dan tidak bervariasi
o Hubungan straight/flush terminal plane  molar sulung
 Flush termal plane  M2 RA dan RB sulung dalam bidang
vertical yang sama
 Mesial step  distal M2 RB sulung lebih mesial dari distal
M2 RA sulung
 Distal step  distal M2 RB sulung lebih distal dari distal
M2 RA sulung
 Terdapat overbite  jarak vertical incisal RA RB
Jika incisal RA RB pada ketinggian yang sama  edge to edge/
tumpang gigitnya nol
Jika tidak ada overlapping  gigitan terbuka
 Overjet  jarak horizontal incisal RA RB. Normal: 0-4 mm
Bertambah krn kebiasaan spt menghisap jari
Bila insisiv RA lebih lingual  underjet/jarak gigi yang negatif
 Fase Geligi Pergantian/Campuran(Pambudi dan Sighn)
 Merupakan peralihan (transitional dentition) atau pergantian dari
masa geligi sulung ke masa geligi permanen. Kadang disebut masa
geligi campuran (mixed dentition) karena dalam rongga mulut
terdapat gigi sulung dan permanen. Dari usia 6-12 tahun
 Gigi pengganti (succession teeth, sccedaneus teeth)  gigi permanen
yang menggantikan sulung (I1, I2, C, P1, P2)
Gigi tambahan (accessional teeth, additional teeth)  tumbuh di
distal lengkung geligi sulung (M1, M2, M3)
 Tahap ini dapat dibagi menjadi dua periode transisi — pertama dan
kedua.
o Periode Transisi Pertama
 Erupsi M1 Permanen
 Sekitar umur 5-6 tahun
 Erupsi gigi sesuai dengan pertumbuhan ramus
mandibular ke vertikal
 2 proses untuk erupsi:
 Resorpsi tulang alveolar dan akar sulung sbg
jalan erupsi
 Mekanisme erupsi itu sendiri
 Posisi anteroposterior dipengaruhi oleh:
 Hubungan terminal plane
 Flush terminal plane  relasi molar kelas I
 Distal step  Kelas II
 Mesial step  kelas I
 Early mesial shift pada lengkung dengan jarak
fisiologis  Pada lengkung dengan diastema,
erupsi molar permanen menyebabkan penutupan
primate space shg memungkinkan molar ke
mesial

Late mesial shift  pasien tidak berdiastema dan


relasi M2 sulung straight terminal plane, pada
saat M1 permanen erupsi terletak pada relasi
gigitan tonjol (cusp to cusp) krn tidak ada
diastema shg M1 permanen tidak dapat bergeser
ke mesial. M1 permanen geser ke mesial saat M2
sulung tanggal, leeway space dipakai M1
permanen
 Differential growth maksila dan mandibular
Leeway space  perbedaan jumlah lebar C, M1, M2
sulung dengan C, P1, P2 permanen
0,9mm RA dan 1,8mm RB (Bishara, 2001)
1,5mm RA dan 2,5mm RB (Proffit dkk., 2007)
 Erupsi gigi anterior/incisor
 Benih gigi insisiv permanen atas dan bawah terletak
lingual dan apical terhadap insisiv sulung sehingga
ada kecenderungan insisiv permanen bawah erupsi
agak lingual dan agak tidak teratur pada anak yg tdk
diastema
 Karena ukuran insisiv dan kaninus permannen lebih
besar dari sulungnya, maka diastema (developmental
space) pada fase gigi sulung sangat penting untuk
mendapat sususnan gigi permanan yang normal.
 Jumlah total lebar mesiodistal gigi anterior permanen
lebih besar dari pada gigi anterior primer sebesar 7,6.
mm di rahang atas dan 6 mm di rahang bawah.
 Ruang yang wajib disediakan:
 Jarak fisilogis interdental di region insisiv sulung
(4mm RA 3mm RB)
 Peningkatan lebar lengkung antar kaninus (saat
permanen erupsi)  pada saat insisiv erupsi,
kaninus tidak hanya bergeser sedikit ke bukal
akan tetapi juga ke distal menempati primate
space
 Peningkatan panjang lengkung gigi anterior pada
region kaninus  karena ada pertumbuhan ke
lateral sebanyak kurang lebih 2mm sehingga
terdapat cukup temat untuk insisiv bawah
berdesakan
 Perubahan inklinasi gigi seri permanen  sulung
tegak, permanan miring ke labial 
meningkatkan lengkung
 I1 permanen bawah tumbuh lebih dahulu disusul I1
permanan atas.
 I1 permanen bawah tumbuh di lingual I1 sulung,
ke labial krn dorngan lidah
 Benih I1 atas ke labial (vistibuler) diatas I1 atas
sulung
 I2 permanen bawah tumbuh di lingual, ke labial krn
arah pertumbuhan dna kekuatan fungsional
I2 permanen atas tumbuh di palatal dan distal I1 atas,
bergeser ke distal dan labial
 The Broadbent’s Phenomenon— Ugly Duckling Stage (7-14
tahun)
 Insisiv sentral atas sering erupsi dalam keadaan
condong ke distal sehingga terdapat diastema di antara
kedua insisiv sentral.
 Benih kaninus permananen dalam erupsinya ke arah
labial mempengaruhi akar insisiv lateral permanen
atas dan mendorong insisiv lateral ke mesial. Bila
kaninus permanen telah erupsi insisiv lateral dapat
menegakkan diri dan diastema akan tertutup. Makin
lebar diastema (lebih dari 2mm) makin kecil
kemungkinan menutup.
o Periode inter-transisi
 Fase stabil
 Gigi anterior permanen, M1, kaninus dan molar sulung
 Ciri:
 Asimetris  tinggi dan panjang mahkota antar gigi sisi
kanan dan kiri
 Keausan oklusal dan interproksimal gigi sulung
menyebabkan morfologi oklusal mendekati bidang.
 Ugly ducking stage
 Pembentukan akar gigi seri, gigi taring, dan molar
terus berlanjut, seiring dengan peningkatan tinggi
proses alveolar
 Resorpsi akar molar sulung. Mempersiapakan ke fase
transisi kedua
o Periode Transisi Kedua
 Eksfoliasi gigi molar dan kaninus sulung
Sekitar 10 tahun, biasanya kaninus mandibular, menandai
periode transisi kedua
 Erupsi kaninus dan premolar permanen
Erupsi setelah jeda 1-2 tahun dari erupsi gigi seri/incisor.
C, P1 RB (9-10tahun); P, C RA (11-12 tahun). Urutan yang
umum: 4-5-3 RA dan 3-4-5 RB
 Erupsi M2 permanen
Sebelum erupsi M2, gigi-gigi ini dibentuk secara palatum
dan diarahkan ke oklusi oleh mekanisme Cone Funnel.
Panjang lengkungan berkurang sebelum erupsi gigi molar
kedua oleh kekuatan erupsi mesial.
 Pembentukan oklusi
 Letak gigi, sebelum erupsi sampai oklusi ditentukan:
o Letak gigi dipengaruhi factor genetic
o Pada tahap intra alveolar, posisi gigi ditentukan:
 Ada tidaknya gigi sebelah2nya
 Kehialngan premature gigi sulung
 Keadaan patologi local
 Factor yang dapat mengubah pertumbuhan pross. alveolar
o Pada tahap intraoral (gigi telah menembus gusi)
Gigi dapat bergerak karena kekuatan bibir, lidah, benda asing
o Apabila gigi telah erupsi, terdapat kekuatan otot pengunyah
yang bekerja pada gigi
 Fase Geligi Permanen(Pambudi)
 Dimulai dengan tanggalnya gigi sulung terakhir sampai dengan
semua gigi permanen tumbuh (tidak termasuk M3).
 Keadaan gigi permanen:
o Saat oklusi, RA lebih labial dan bukal dari RB
o Insisiv lebih proklinasi dan gigi-gigi posterior bukoklinasi
o Semua gigi permanen mempunyai kontak dengan 2 ggi
antagonisnya, kecuali I1 bawah dan M2 atas
o Kurva anteroposterior di RB (curve spee) normal
o Tumpang tindih antara 10-50% dan jarak gigi berkisar 1-3mm
 Selain Andrew’s six keys, syarat gigi yang harmonis menurut Bolton,
1958. Untuk mengetahui relasi gigi geligi atas dan bawah (selaras
atau tidak seimbang), kaukasoid:
o Rasio keseluruhan (overall ratio)
jumlah lebar gigi dari molar kanan sampai kiri bawah x 100%
= 91,3%
jumlah lebar gigi molar pertama kanan sampai kiri atas
o Rasio anterior (anterior ratio)
jumlah lebar gigi dari kaninus kanan sampai kiri bawah x 100%
= 77,2%
jumlah lebar gigi kaninus pertama kanan sampai kiri atas
 Perubahan pada Geligi Permanen (Pambudi)
Gigi-gigi permanen mencapai oklusi maksimum pada usia 12-14 tahun,
tidak berarti tidak terjadi perubahan lagi. Perubahan yang terjadi adalah
berdesakan anterior terutama RB, berhubungan dengan rotasi
mandibular dan adanya adaptasi dentoalveolar. Ada juga pendapat
karena gerakan gigi posterior ke mesial, namun masih belum
meyakinkan.

D. Gambaran klinis
 Gigi kunci adalah gigi geraham pertama permanen.
 Cusp mesiobuccal molar satu rahang atas harus di dalam groove
mesiobuccal molar pertama permanen rahang bawah. (Singh)
 Oklusi ideal yaitu keadaan beroklusinya setiap gigi, kecuali insisivus
sentral bawah dan molar tiga atas, beroklusi dengan dua gigi di lengkung
antagonisnya dan didasarkan pada bentuk gigi yang tidak mengalami
keausan. Sedangkan oklusi normal yaitu oklusi yang memenuhi
persyaratan fungsi dan estetis walau disertai adanya ketidakteraturan
pada gigi secara individu. Terjadi jika gigi atas dan bawah tersusun
dengan baik dan tonjol gigi posterior pas kedudukannya dengan gigi
bawah antagonisnya (Harty, F.J, Ogston, R, 2012).
Maloklusi
A. Definisi
 Maloklusi adalah penyimpangan letak gigi dana tau malrelasi lengkung
geligi (rahang) di luar rentang kewajaran yang dapat diterima. Maloklusi
juga bisa merupakan variasi biologi. (Pambudi)

B. Klasifikasi (angle, dewey, simon, lischer, bennet,


ackerman profit) (Singh)
Maloklusi secara luas dapat dibagi menjadi 3 jenis:
 Malposisi gigi individual
 Malrelasi lengkung gigi atau segmen dentoalveolar
 Malrelasi tulang
Dapat muncul sendiri atau kombinasi
 Malposisi gigi individual
Disebut juga intra-arch karena sehubungan dengan gigi yang berdekatan
dalam lengkung yang sama
 Mesial inclination atau tipping  mahkota lebih mesial dari akar
 Distal inclination atau tipping  mahkota lebih distal dari akar
 Lingual inclination atau tipping  gigi ke lingual/palatal
 Labial/buccal inclination tipping  ke labial/bukal
 Infra-occlusion  berada di bawah oklusal disbanding gigi lainnya
di lengkungan
 Supra-occlusion  berada di atas oklusal disbanding gigi lainnya di
lengkungan
 Rotasi  pergerakan gigi di sumbu panjang gigi. 2 jenis:
o Mesiolingual/distolabial
o Distolingual/mesiolabial
Transposisi  jika 2 gigi bertukar tempat
 Malrelasi lengkung gigi
Hubungan abnormal antara gigi atau kelompok gigi dari satu lengkung
gigi dengan lengkung gigi lainnya.
 Sagital
o Pre-normal occlusion  mandibular lebih anterior
o Post-normal occlusion  mandibular lebih posterior
 Vertical
o Deep bite  tumpang tindih vertical melebihi normal
o Open bite  tidak ada tumpang tindih atau celah. Gigitan
terbuak bisa di anterior atau posterior
 Transversal  satu atau lebih gigi rahang atas ditempatkan palatal
/ lingual ke gigi rahang bawah
 Maloklusi skeletal
Disebabkan karena kerusakan pada struktur rangka (ukuran, posisi atau
hubungan antar tulang rahang).
 Angle’s classification of malocclusion
 Maloklusi Kelas I
Lengkungan RB berada dalam hubungan mesiodistal normal dengan
lengkung RA, dengan puncak mesiobuccal M1 RA yang menutup alur
bukal M1 RB dan puncak mesiolingual RA. M1 menutup dengan
fossa oklusal dari gigi M1 RB ketika rahang diam dan gigi mendekati
oklusi sentris.

 Maloklusi Kelas II
Lengkungan RB terletak di sebelah distal lengkung RA. Cusp
mesiobuccal M1 RA di ruang antara puncak mesiobuccal M1 RB dan
aspek distal dari P2 RB. Juga, puncak mesiolingual M1 RA menutup
mesial ke puncak mesiolingual M1 RB.
Berdasarkan angulasi labiolingual dari incisor RA:
o Kelas II Divisi 1  gigi insisivus RA di labioveris

o Kelas II Divisi 2  incisor RA mendekati normal di


anteroposterior atau sedikit dalam linguoversi sedangkan gigi
seri lateral rahang atas miring ke arah labial dan / atau mesial.

o Kelas II Subdivisi  pada satu sisi lengkung


 Maloklusi Kelas III
Lengkungan dan badan RB di mesial lengkung RA. Cusp mesiobuccal
M1 RA yang menutup di dalam ruang interdental antara aspek distal
cusp distal M1 RB dan aspek mesial cusp mesial gigi M2 RB.

o Pseudo Kelas III-Maloklusi


mandibula bergeser ke anterior di fosa glenoid karena kontak
gigi prematur atau beberapa alasan lain ketika rahang
disatukan dalam oklusi sentris

o Kelas III-Subdivision
Maloklusi sepihak
 Dewey’s modification
 Modifications of Angles Class Type I
o Tipe I  kelas I dgn anterior berdesakan

o Tipe II  dgn gigi seri/incisor RA labioversi

o Tipe III  dgn gigi insisivus RA labioversi ke insisivus RB

o Tipe IV  Geraham dan / atau gigi premolar berada di bucco


atau linguoversi, tetapi gigi seri dan gigi taring dalam posisi
normal
o Tipe V  molar berada di mesioversi krn early loss molar
sulung/P2

 Modifications of Angles Class Type I


o Tipe I  oklusi normal tapi anterior edge to edge

o Tipe II  Gigi seri rahang bawah berdesakan dan lingual ke gigi


seri rahang atas

o Tipe III  Lengkung RA tidak berkembang tapi lengkung RB


berkembang baik dan sejajar

 Lischer’s modification
 Neutro-occlusion  maloklusi kelas I Angle
 Disto-occlusion  maloklusi kelas II Angle
 Mesio-occlusion  maloklusi kelas III Angle
o Mesioversion  mesial ke posisi normal
o Distoversion  distal ke posisi normal
o Linguoversi  bahasa ke posisi normal
o Labioversion  labial ke posisi normal
o Infraversion  inferior atau jauh dari garis oklusi
o Supraversion  superior atau memanjang melewati garis oklusi
o Axiversion  inklinasi aksial salah; tip
o Torsiversion  diputar pada sumbu panjangnya/axis
o Transversi  dialihkan atau perubahan urutan posisi
 Bennette’s classification
 Kelas I  Lokasi abnormal dari satu atau lebih gigi disebabkan oleh
faktor lokal
 Kelas II  Abnormalitas embentukan sebagian atau keseluruhan
salah satu arkus yang abnormal akibat cacat perkembangan tulang.
 Kelas III  Hubungan abnormal antara lengkung atas dan bawah
serta antara lengkung dan kontur wajah, akibat defek perkembangan
tulang
 Simon’s classification
 Frankfort horizontal (vertically)
Bidang FH digunakan untuk mengklasifikasikan maloklusi pada
bidang vertikal. Deviasi vertikal terhadap bidang adalah:
o Atraksi  Jika lengkung gigi atau bagiannya lebih dekat ke
bidang horizontal Frankfort
o Abstraksi  Jika lengkung gigi atau bagiannya jauh dari bidang
horizontal Frankfort
 Orbital plane (anteroposteriorly)
Bidang ini tagak lurus FH. Pada lengkung normal, bidang orbital
melewati aspek aksial distal kaninus rahang atas. Maloklusi
digambarkan sebagai deviasi anterior-posterior berdasarkan jaraknya
dari bidang orbital.
o Protraksi Gigi  1/2 lengkung gigi, dan/atau rahang terlalu
jauh ke depan
o Retraksi Gigi  1/2 lengkung gigi dan/atau rahang terlalu jauh
ke belakang
 Raphe or median sagittal plane (transverse)
Bidang raphe atau median sagital ditentukan oleh titik sekitar 1,5 cm
pada median palatal raphe. Maloklusi diklasifikasikan menurut
deviasi transversal dari median sagital plane adalah:
o Kontraksi  Sebagian atau seluruh lengkung gigi berkontraksi
menuju median sagital plane.
o Distraksi  Sebagian atau seluruh lengkung gigi lebih lebar
atau ditempatkan pada jarak yang lebih jauh dari biasanya.
 Skeletal classification
 Skeletal Kelas I
gigi dengan tulang wajah dan rahang yang selaras satu sama lain.
Profil ortognatik
o Divisi 1  Mal-relasi lokal gigi seri, kaninus, dan premolar
o Divisi 2  RA protrusi
o Divisi 3  RA anterior linguoversi
o Divisi 4  bimaxillary protrusi
 Skeletal Kelas II
perkembangan mandibula distal subnormal dalam kaitannya dengan
rahang atas
o Divisi 1  Lengkungan RA lebih sempit dengan daerah berjejal
di regio kaninus, gigitan silang dan tinggi wajah vertikal
menurun. Gigi anterior rahang atas menonjol dan profilnya
retrognatis.
o Divisi 2  Gigi seri rahang atas miring ke arah lingual, gigi seri
lateral normal atau labioversi.
 Skeletal Kelas III
pertumbuhan RB berlebih dengan sudut bidang mandibula tumpul.
Profil prognatis pada mandibula
 Ackerman-Profitt system of classification
 Characteristic 1: Alignment
Lengkung diklasifikasikan ideal/crowded/spaced.
 Characteristic 2: Profile
Profil diklasifikasikan convex/straight/concave
 Characteristic 3: Transverse Relationships
Hubungan transversal skeletal dan gigi. Diklasifikasikan unilateral
dan bilateral
 Characteristic 4: Class
Hubungan sagittal. Diklasifikasikan berdasar sdut: Class I/Class
II/Class III
 Characteristic 1: Overbite
Maloklusi bidang vertical. Diklasifikasikan: anterior open
bite/posterior open bite/anterior deep bite/posterior collapsed bite.

Fig 13.26A  Masing2 mewakili karakteristik


Fig 13.26B  Masing-masing merupakan kombinasi dari karakteristik
tertentu. Kelompok kesembilan mewakili maloklusi paling kompleks
 Incisor classification
 Kelas I  incisal RB tepat di cingulum RA
 Kelas II  insisal RB di posterior cingulum RA
o Divisi 1  I1 RA bergeser dan peningkatan overjet
o Divisi 2  I1 RA retro-clined, overjet minimal tp dapat
ditingkatkan
 Kelas III  incisal RB di anterior cingulum I1 RA

C. Gambaran klinis
Dijelaskan lengkap pada klasifikasi

D. Rencana perawatan
 Tujuan:
 Kesehatan gigi dan mulut
 Estetik muka dan geligi
 Fungsi kunyah dan bicarayang baik
 Stabilitas hasil perawatan
 Hal yang perlu diperhatikan
 Keinginan pasien
 Susunan dan simetris gigi dalam rahang
 Relasi gigi dan rahang dalam sagittal
 Relasi gigi dan rahang dalam transversal
 Relasi gigi dan rahang dalam horizontal
 Prinsip Dasar
 Kesehatan mulut
o Karies, kalkulus, penyakit periodontal harus dirawat
o Jika terdapat sistemik, control dulu
 Perencanaan perawatan RB
Region insisiv RB dahulu, setelah itu RA
 Perencanaan perawatan RA
Penyesuaian RA terhadap RB untuk relasi kaninus kelas I. Yang
diperhatikan: banyak tempat dan banyak kaninus diretraksi
 Relasi gigi posterior
Diupayakan relasi M1 permanen kelas I
 Penjangkaran
Untuk mencegah kehilangan penjangkaran yang berlebih
 Masa retensi
Perlu perencanaan masa retansi untuk mencegah relaps
(kecenderunagn kembali ke posisi semula)
 Penyediaan Ruangan Dalam Ortodonti
Penyediaan letak untuk koreksi letak gigi diperoleh dari:
 Enamel Stripping
Pegurangan enamel pada distal/mesial sulung/[Link]
berfungsi membentuk gigi dan memperbaiki titik kontak.
 Ekspansi lengkung geligi
Ekspansi arah transversal dilakukan di RA terutama bila terdapat
gigitan silang posterior. Ekspansi arah sagittal dpt memperoleh
lengkung gigi
 Distalisasi molar
o Jika dilakukan pencabuatan akan kelebihan tempat, atau masih
kurang tempat
o M1 permanen geser ke mesial karena kehilangan premature M2
sulung
 Memproklinasikan insisivi
Hanya dilakukan juka insisiv retroklinasi dan profil muka cembung
 Mencabut gigi permanen
Dilakukan jika diskrepansi total menunjukkan kekurngan tempat
lebih dari 8mm
 Perencanaan perawatan pada kelainan relasi skeletal
 Modifikasi pertumbuhan
Pada pasien masa pertumbuhan untuk memperbaiki relasi rahang
 Kamuflase secar ortodonti
Kelainan skeletal diterima, gigi-gigi digerakkan jadi relasi kelas I
 Orthognathis surgery
Pada problematika skeletal yang parah atau kelainan dentoalveolar
yang parah, tidak bisa dirawat ortodonti saja
 Perawatan ortodonti pada orang dewasa
 Orang yang telah berhenti pertumbuhannya
 Merupakan perwatan komperhensif dan penunjang. Komperhensif 
hasil estetik dan fungsi paling baik. Penunjang  menunjang
perawatan di bidang lain
 Rencana perawatan berdasarkan kelas angle
 Maloklusi kelas I Angle
o Dimulai dari rahang bawah kemudian rahang atas
menyesuaikan RB
o Apabila dilakukan pencabutan gigi RB, maka dilakukan
pencabutan gigi yang sesuai di RA (bila terdapat pergeseran
garis median maka pencabutan asimetri dipertimbangkan)
o Maloklusi ringan tidak perlu dilakukan perawatan
1. Gigi berdesakan
 Diperlukan tempat yang bias didapat dari enamel stripping,
ekspansi lengkung geligi, memproklinasikan insisiv,
distalasi molar, dan pencabutan gigi
 Pencabutan serial / guidance of eruption / occlusal
guidance  pencabutan gigi yang terencana dan berurutan
untuk menghilangkan berdesakan dan mendapat hasil
yang memuaskan (pencabutan gigi sulung permanen
mekanoterapi)
 Merupakan terapi penunjang untuk terapi komprehensif.
2. Gigi sulung tanggal premature
Untuk mencegah ruangan tidak ditempati gigi yang berdekatan
perlu dipasang peranti space mantainer yang bersifat pasif
3. Koreksi garis median
Menggunakan peranti cekat : bila garis median bergeser ke sisi
kanan maka untuk mengoreksi kelainan itu gigi-gigi insisiv
harus digerakkan ke kiri sampai sisi mesial insisiv kanan
terletak di garis median
4. Agenesis gigi permanen
 Bila gigi sulung ada dan baik maka dibiarkan saja
 Bila gigi sulung dalam keadaan kurang baik maka dicabut
dan diastema ditutup dengan menggerakkan dengan
menggerakkan gigi-gigi dengan peranti cekat ortodonti atau
diisi dengan protesa
5. Gigi kelebihan
Misalnya mesiodens. Dikeluarkan secara dini (dicabut)
6. Gigitan terbuka anterior
 Pada masa geligi pergantian : menghilangkan kebiasaan
buruk anak seoerti mengisap jari, maka open bite anterior
akan terkoreksi secara spontan
 Pada dewasa diperlukan peranti cekat
7. Diastema sentral
Blanch test untuk melihat bahwa diastema terjadi karena
frenum labial yang terlalu tinggi  frenektomi  perawatan
ortodonti
8. Diastema multiple
Peranti cekat  gigi digerakkan hingga diastema habis atau
diastema dikumpulkan pada satu regio dan diisi peranti cekat
9. Gigi persistensi
Pencabutan gigi sulung yang belum erupsi
10. Gigi yang terletak ektopik
Dapat dilakukan pencabutan kaninus sulung (kaninus atas
yang paking sering ektopik), apabila tidak memungkinkan dapat
dilakukan odontektomi, apabila membahayakan dibiarkan saja
dengan observasi radiologi tiap tahun
11. Gigitan silang
 Apabila tidak disertai gigi berdesakan : peranti ortodonti
 Bila hanya satu atau dua gigi atas dalam posisi gigitan
silang dan insisiv bawah tidak berdesakan : inclined bite
plane yang disemen di RB
 Gigitan silang posterior jurusan transversal karena
diskrepansi skeletal : pelebaran maksila dengan Rapid
Maxillary Expansion (RME)
 Maloklusi kelas II divisi 1 Angle
o Perawatan RB terlebih dahulu
o Bila insisiv bawah retroklinasi maka dapat dimajukan telebih
dahulu hingga posisi normal
o Perawatan RA menyesuaikan dengan perawatan RB
o Bila dilakukan pencabutan gigi RB maka RA juga
o Penggunaan peranti cekat atas dan bawah
o Orthognathic surgery bila parah (pembedahan rahang untuk
mengoreksi relasi antar lengkung atas dan bawah)
 Maloklusi kelas II divisi 2 Angle
o Dapat dirawat dengan ataupun tanpa pencabutan gigi
o Dilakukan perpanjanngan lengkung geligi dengan tujuan
memperbaiki sudut antar insisiv
o Kasus ringan dan estetik muka dalam batas masih dapat
diterima tidak perlu dilakukan perawatan
o Penggunaan peranti cekat
o Orthognathic surgery bila parah
 Maloklusi kelas III Angle
o Pasien masih muda : tidak perlu perawatan, namun
pemantauan yang seksama adanya tendensi
pertumbuhkembangan sampai pertumbuhan selesai
o Pada kasus ringan, misalnya pseudo-kelas III : peranti lepasan
o Meloklusi kelas III menyangkut kelainan dentoalveolar yang
tidak terlalu parah : peranti cekat
o Pencabutan gigi tergantung pada derajat berdesakan gigi
o Orthognathic surgery untuk kasus sedang-parah dan dilakukan
apabila pertumbuhan telah selesai  pilihan yang banyak
dilakukan klinisi.
o Pertama, menempatkan gigi dalam posisi ideal sebelum
dilakukan orthognathic surgery.
Etiologi maloklusi serta mekanisme
terjadinya maloklusi
A. Etiologi Maloklusi menurut Moyer (Soeprapto)
 Herediter
 Disproporsisi ukurna gigi dan rahang  gigi berdesakan/diastema
 Disproporsisi ukuran, posisi, dan bentuk RA RB  relasi rahang
tidak harmonis
 Development defects of unknown orgin
Mungkin berasal dari kegagalan diferensiasi pada periode kritis dalam
perkembangan embrio. Contoh, tidak ada otot bawaan, mikrognati, dll
 Trauma
 Pre-natal
o Tekanan intrauterine dapat menyebabkan hypoplasia
mandibular
o Tekanan dari lutut atau kaki terhadap wajah menyebabkan
pertumbuhan wajah asimetri
 Post-natal
o Trauma terhadap TMJ (seperti akibat penggunaan forcep saat
melahirkan) menyebabkan ankilosis TMJ sehingga
pertumbuhan mandibular terhambat (hypoplasia mandibula)
o Fraktur kondilus akibat trauma, menyebabkan pertumbuhan
terhambat sehingga terjadi asimetri wajah
o Injuri saat melahirkan dapat menyebabkan cerebral palsy dan
penurunan koordinasi muscular sehingga terjadi maloklusi
o Fraktur pada rahang dan gigi
 Physical agent
 Premature extraction gigi sulung
 Nature food
o Makanan berserat  menyebabkan migrasi gig tetangga
o Makanan lunak  menurunkan stimulasi pertumbuhan rahang
 Habits
 Thumb sucking and finger sucking (menghisap jari)
o I RA protrusive, I RB retrusif, overjet meningkat, supraerupsi
gigi posterior, open bite anterior
o Bibir atas hipotonus, rekonstruksi lengkung RA berbentuk V
(peningkatn aktivitas m. buccinators dan m. mentalis)
 Tongue thrusting
Tekanan dapat merubah letak gigi
 Lip bitting dan lip sucking
o Bibir bawah berulang kali ditahan/digigit dibawah anterior RA
 labioversi, open bite, kadang labioversi I RB
o Proklinasi I RA dna retroklinasi I RB, hipertrofi bibir bawah,
cracking of lips
 Nail bitting
Menyebabkan minor local tooth irregularities (rotasi, keausan incisal)
dan minor crowding
 Posture
o Menyangga dagu dengan tangan  mandibular terhambat
o Tidur satu sisi/pada tangan  asimetris wajah
 Disease
 Sistemik
o Demam pada bayi dan anak usia dini  menggaggu
perkembangan
o Maloklusi adl akibat sekunder neuropati dan neuromuscular
 Kelainan endokrin
o Hipotiroid
 Penurunan kecepatan deposisi kalsium pada tulang dan
gigi
 Pembentukan benih gigi dan erupsi gigi terlambat
 Persistensi gigi sulung
 Kalsifikasi carpal dan epiphysical terlambat
o Hipertiroid
 Peningkatan metabolism dan maturase
 Erupsi premature gigi sulung dan permanen
 Osteoporosis (kontradiksi perawatan ortodontik
 Local
o Nasopharyngeal diseases and disturbed respiratory function
o Gingival and periodontal disease
o Tumors
o Caries
 Premature loss of deciduous teeth
 Disturbances in sequences of eruption of permanent teeth
 Early loss of permanent teeth
 Malnutrition
Menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan  maloklusi
B. Patomekanisme
Daftar Pustaka
 Rahardjo, Pambudi. Diagnosis Ortodonti. Airlangga University Press,
Surabaya.
 Gurkeerat Singh. 2007. Textbook of Orthodontics - [Link]. Jaypee
 Andrianto Soeprapto. 2017. Pedoman dan tatalaksana praktik kedokteran gigi.
Edited by E. Wijaya. Yogyakarta: STPI bina insan mulia
 Cobourne MT, DiBiase AT. Handbook of Orthodontics. Mosby. 2011
 Harty, F.J., dan Ogston, R., 2012, Kamus Kedokteran Gigi. Alih Bahasa:
Narlan Sumawinata dari “Concise Illustrated Dental Dictionary”. Jakarta: EGC.

Anda mungkin juga menyukai