Model Cournot: Konsep, Asumsi, Solusi dan Kritik
Model Cournot adalah model ekonomi untuk menjelaskan pasar oligopoly. Model ini
mengasumsikan bahwa perusahaan memutuskan secara independen tingkat produksi yang
memaksimalkan laba. Maksudnya, mereka tidak tergantung berapa banyak yang pesaing produksi.
Nama istilah ini diambil dari pencetusnya, Augustin Cournot, seorang ahli matematika Prancis.
Asumsi dasar model Cournot
Dalam model ini, perusahaan menghasilkan produk yang homogen. Mereka berupaya untuk
memaksimalkan keuntungan dengan memilih berapa banyak yang akan diproduksi.
Oleh karena itu, dalam struktur pasar ini, basis persaingan adalah jumlah output yang dihasilkan.
Semua perusahaan memilih output secara bersamaan dan mengambil sesuai dengan jumlah
pesaing-pesaingnya. Mereka mengasumsikan output pesaing tidak berubah.
Asumsi lainnya adalah perusahaan tidak dapat berkolusi atau membentuk kartel. Mereka juga
memiliki pandangan yang sama tentang permintaan pasar, dan terbiasa dengan biaya operasi
pesaing.
Solusi duopoli cournot
Model Cournot menghasilkan hasil yang logis. Dalam jangka panjang, harga dan output stabil, dalam
arti, tidak ada kemungkinan perubahan output atau harga yang akan membuat perusahaan lebih
baik.
Dalam struktur pasar duopoly , solusi Cournot berada di antara keseimbangan kompetitif dan
monopoli. Persaingan sempurna menghasilkan harga terendah dan output tertinggi.
Sedangkan, monopoli membebankan harga tertinggi dan menghasilkan output terendah.
Selanjutnya, ketika jumlah perusahaan dalam industri meningkat, keseimbangan industri mendekati
keseimbangan kompetitif.
Untuk menjawab kenapa solusi Cournot berada di antara pasar persaingan sempurna dan monopoli,
mari kita ambil sebuah contoh sederhana.
Katakanlah, permintaan pasar adalah: Qd = 200 – P, di mana P adalah harga pasar.
Pasar hanya terdiri dari dua perusahaan. Kurva penawaran untuk masing-masing perusahaan
diwakili oleh biaya marginal (MC), yang mana konstan pada Rp20.
Mari kita selesaikan kasus tersebut.
Karena hanya ada dua, kuantitas penawaran pasar (Qs) sama dengan penjumlahan kuantitas output
dari perusahaan pertama (Qs1) dan kuantitas output dari perusahaan kedua (Qs2).
Qs = Qs1 + Qs2
Ingat, ekuilibrium pasar terjadi ketika permintaan pasar sama dengan penawaran pasar (Qd = Qs).
Jadi kita dapat mengkonversi persamaan permintaan pasar di atas menjadi:
Qd = Qs <—> 200 – P = Qs1 + Qs2
Dari persamaan tersebut, kita memperoleh persamaan untuk harga pasar, yakni sebagai berikut:
P = 200 – Qs1 – Qs2
Selanjutnya, kita akan mencari pendapatan untuk masing-masing perusahaan menggunakan
persamaan harga pasar di atas. Pendapatan adalah harga pasar dikali dengan kuantitas output.
Total pendapatan perusahaan ke-1 (TR1) = P x Qs1 = (200 – Qs1 – Qs2) x Qs1= 200Qs1 – (Qs1 x
Qs1) – (Qs2 x Qs1) = 200Qs1 – Qs12 – (Qs2 x Qs1)
Total pendapatan perusahaan ke-2 (TR2) = P x Qs2 = (200 – Qs1 – Qs2) x Qs2= 200Qs2 – (Qs2 x
Qs1) – (Qs2 x Qs2) = 200Qs2 – (Qs2 x Qs1 )– Qs22
Dalam jangka panjang, perusahaan berproduksi pada tingkat output yang memaksimalkan laba. Itu
terjadi ketika pendapatan marginal (MR) sama dengan biaya marginal (MC). Karena kita telah tahu
nilai MC (Rp20), tugas berikutnya adalah mencari pendapatan marginal.
Pendapatan marginal sama dengan turunan pertama dari total pendapatan sehubungan dengan
kuantitas yang diproduksi masing-masing perusahaan. Untuk perusahaan ke-1, kita menurunkan
persamaan TR1 terhadap Qs1. Sedangkan, untuk perusahaan ke-2, kita menurunkan persamaan TR2
terhadap Qs2. Hasilnya:
Pendapatan marginal perusahaan ke-1 (MR1) = 200 – 2Qs1 – Qs2
Pendapatan marginal perusahaan ke-2 (MR2) = 200 – 2Qs2 – Qs1
Karena kedua perusahaan memiliki biaya marginal yang sama, yakni Rp20, kita pada akhirnya dapat
menghitung Qs2 dan Qs1.
Untuk memaksimalkan keuntungan, perusahaan akan beroperasi pada tingkat di mana MR = MC.
Jadi, untuk kedua perusahaan kita mendapatkan persamaan sebagai berikut:
Perusahaan ke-1: MR1 = MC <—> 200 – 2Qs1 – Qs2 = 20
Perusahaan ke-2: MR2 = MC <—> 200 – 2Qs2 – Qs1 = 20
Pertama, mari kita selesaikan untuk perusahaan ke-1 dan mendapatkan persamaan untuk Qs2.
200 – 2Qs1 – Qs2 = 20 <—> Qs2 = (200-20) – 2Qs1 <—> Qs2 = 180 – 2Qs1
Sekarang, kita mensubstitusikan persamaan Qs2 ke perusahaan ke-2. Tujuannya adalah untuk
mendapatkan nilai Qs1.
200 – 2Qs2 – Qs1 = 20 <—> 200 – 2(180 – 2Qs1) – Qs1 = 20 <—> 200 – 360 + 4Qs1 – Qs1 = 20 <—> -160 +
3Qs1 = 20
Jadi, nilai Qs1 = (20+160)/3 = 60.
Setelah mendapatkan nilai Qs1, tugas selanjutnya adalah mendapatkan nilai Qs2.
Qs2 = 180 – 2Qs1 = 180 – (2 x 60) = 60
Jadi, dalam penetapan harga strategis Cournot, harga dan kuantitas ekuilibrium akan sama dengan:
P = 200 – Qs1 – Qs2 = 200 – 60 – 60 = 80
Qd = 200 – P = 200 – 80 = 120
Mari kita bandingkan hasilnya dengan pasar persaingan sempurna dan monopoli.
Di bawah pasar persaingan sempurna, pemaksimuman laba akan terjadi ketika harga sama dengan
biaya marginal dan sama dengan pendapatan marginal: P = MR = MC = Rp20. Dan untuk kuantitas:
Qd = 200 – P = 200 – 20 = 180.
Di bawah monopoli, keseimbangan terjadi ketika pendapatan marginal sama dengan biaya marginal
(MR = MC). Karena hanya ada satu perusahaan, maka total pendapatan akan sama dengan: TR = P
× Qd = (200 – Qd ) Qd = 200Qd – Qd2.
Dalam hal ini, pendapatan marginal (turunan pertama terhadap Qd ) adalah: 200 – 2Qd.
Karena MR = MC, kita mendapatkan harga dan kuantitas di pasar monopoli sebagai berikut:
MR = MC <—> 200 – 2Qd = 20 <—> Qd= 90
P = 200 – Qd = 200 – 90 = 110
Secara ringkas, saya menyajikan kuantitas dan harga di tiga pasar tersebut dalam tabel di bawah ini.
Item Persaingan sempurna Cournot Monopoli
Harga 20 80 90
Kuantitas 180 120 110
Kritik terhadap model Cournot
Beberapa asumsi model Cournot mungkin tidak realistis di dunia nyata.
Dalam model duopoli klasik Cournot, kedua pemain menetapkan kuantitas mereka secara
independen. Ini tidak realistis. Jika hanya ada dua pemain, maka masing-masing akan cenderung
sangat responsif terhadap strategi yang diambil oleh pesaing.
Kuantitas bukan satu-satunya basis persaingan. Dalam industri oligopoli, persaingan tidak hanya
berbasis harga, tetapi melalui diferensiasi.
Diferensiasi memungkinkan perusahaan untuk memaksimalkan keuntungan tanpa harus terlibat
dalam persaingan harga. Jadi, ketika kuantitas naik, harga belum tentu jatuh jika produk sangat unik
dan sulit untuk menemukan pengganti sempurnanya.