0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
965 tayangan27 halaman

Transaksi Khusus dan Laba Ditahan

Modul ini membahas tentang pengertian ekuitas, pengakuan dan pengukuran ekuitas, penyajian ekuitas, dan teori-teori terkait ekuitas seperti teori proprietary, teori entity, dan teori stakeholder. Modul ini juga menjelaskan pengertian ekuitas, pembedaan antara modal setoran dan laba ditahan, serta konsep modal yuridis.

Diunggah oleh

Fitri Chan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
965 tayangan27 halaman

Transaksi Khusus dan Laba Ditahan

Modul ini membahas tentang pengertian ekuitas, pengakuan dan pengukuran ekuitas, penyajian ekuitas, dan teori-teori terkait ekuitas seperti teori proprietary, teori entity, dan teori stakeholder. Modul ini juga menjelaskan pengertian ekuitas, pembedaan antara modal setoran dan laba ditahan, serta konsep modal yuridis.

Diunggah oleh

Fitri Chan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

MODUL PERKULIAHAN

W322100016 -
Teori Akuntansi
EKUITAS

Abstrak Sub-CPMK

Dalam Bab Ini Dibahas Agar mahasiswa dapat memahami


Tentang Pengertian pengertian ekuitas, pengkuan dan
Liabilitas, Pengakuan Dan pengukuran ekuitas, penyajian ekuitas,
Pengukuran Liabilitas, teori proprietary, teori entity, teori
Penyajian Liabilitas, Liabilitas stakeholder, dan PSAK terkait ekuitas .
Provisi And Kontijensi PSAK
57.

Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh

Shinta Melzatia, S.E., [Link]


FEB [Link]
07
Pengertian Ekuitas
Untuk perusahaan perseorangan, ekuitas sering disebut modal. Untuk perseroan,
istilah ekuitas (ekuitas pemegang saham atau stockholders' equity) lebih merefleksi
makna yang ingin dikandungnya. Istilah modal sering digunakan pula sebagai padan kata
equity walaupun modal lebih dekat maknanya dengan istilah capital. Istilah ekuitas dan
modal sering digunakan secara bergantian.

Karena ekuitas mengandung unsur pemilikan (ouwnership), untuk organisasi


nonprofit ekuitas disebut dengan aset bersih (net assets) untuk menghindari kesan
adanya pemilikan. Karena konsep kesatuan usaha yang memisahkan antara manajemen
dan pemilikan, informasi tentang ekuitas pemegang saham menjadi sangat penting
karena hal tersebut menunjukkan hubungan antara perusahaan (perseroan) dengan
pemegang saham. Dari sudut pemegang saham, ekuitas pemegang saham merupakan
hak atas kekayaan atau nilai yang tertanam dalam perseroan. Kalau dipandang dari sudut
kesatuan usaha, ekuitas pemegang saham merupakan "utang" perseroan kepada para
pemegang saham. Oleh karena itu, ekuitas pemegang saham dapat juga dipandang
sebagai gambaran hubungan yuridis antara perseroan dan pemegang saham. Dengan
kedudukannya yang demikian persoalannya adalah bagaimana melaporkan atau
menyajikan informasi elemen ini agar hubungan dan tanggung jawab yuridis dapat
dipertahankan.

Karena konsep kesatuan usaha menuntut artikulasi antar statemen keuangan,


tidak terdapat masalah semantik atau definisional dalam pembahasan ekuitas seperti
halnya elemen pendapatan, , dan laba. Teori ekuitas yang bersifat semantik adalah teori
sudut pandang atau teori entitas. Karena teori ini sangat erat kaitannya dengan laba.
Ekuitas pemegang saham itu sendiri terdiri atas dua komponen penting yaitu modal
setoran (paid-in atau contributed capital) dan laba ditahan (retained earnings). Sebagai
pasangan modal setoran, laba ditahan dapat disebut sebagai modal bentukan atau
ciptaan (earned capital).

Karena artikulasi harus dipertahankan, ekuitas tidak didefinisi secara semanuk


tetapi secara sintaktik. Artinya, ekuitas didefinisi secara mekanik atau prosedural dalam
kaitannya dengan elemen-elemen statemen keuangan yang lain. Lebih tegasnya, ekuitas
tidak dapat didefinisi secara independen terhadap aset dan kewajiban. Dalam kerangka

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


2 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
dasar Standar Akuntanai Keuangan (2002), misalnva Ikatan Akuntan Indonesin (LAI)
mendefinisi ekuitas sebagai berikut (pasal 49):
Ekuitas adalah hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua
kewajiban.

Definisi di atas tidak berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh FASB dalam
SFAC No. 6 sebagai berikut:
Equity or net asset is the residual interest in the assets of an entity that remins
after deducting its liabilities.

Berbagai sumber yang lain mendefinisi ekuitas yang tidak berbeda dengan definisi
di atas. Ekuitas didefinisi sebagai hak residual untuk menunjukkan bahwa ekuitas bukan
kewajiban. Ini berarti ekuitas bukan pengorbanan sumber ekonomik masa datang. Karena
didefinisi atas dasar aset dan kewajiban, nilai ekuitas juga bergantung pada bagaimana
aset dan kewajiban diukur. Godfrey, Hodgson, dan Holmes (1997) membedakan ekuitas
dan kewajiban atas dasar kriteria berikut (hlm. 421-423):
a. Hak-hak masing-masing pihak atas penyelesaian klaim.
b. Hak penggunaan aset dalam operasi.
c. Substansi ekonomik perjanjian.

Atas dasar konsep kesatuan usaha, kreditor dan pemegang saham sama samu
mempunyai klaim atau hak untuk dilunasi atas dana yang ditanamkan dalam perusahaan.
Akan tetapi, terdapat dua karakteristik yang melekat pada hak kreditor yaitu :
a) Penyelesaian klaim mereka pada tanggal tertentu melalui transfer aset
b) Prioritas di atas pemilik dalam penyelesaian klaim mereka dalam hal likuidasi,

Jadi, klaim kreditor terbatas jumlahnya dan harus diselesaikan pada tanggal
tertentu sementara klaim pemegang saham merupakan jumlah residual dan tidak harus
diselesaikan atau dilunasi pada tanggal tertentu. Hak kreditor dan pemilik (pemegang
saham) juga berbeda dalam hal penggunaan aset. Kreditor pada umumnya tidak
mempunyai akses dan kendali dalam penggunaan aset perusahaan. Mereka juga tidak
mempunyai hak dalam pengambilan keputusan operasi perusahaan secara langgung. Di
lain pihak, pemilik (khususnya dalam perusuhaan perseorangan) mempunyai akses, hak,
dan autoritas untuk menjalankan perusahaan dan menggunakan atau mengendalikan
asset.

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


3 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Perjanjian menimbulkan hak dan kewajiban. Substansi ekonomik perjanjian antara
kreditor dengan perusahaan berbeda dengan antara pemegang saham dan perusahaan
dalam hal risiko terhadap rugi. Karena kreditor diprioritaskan, risiko mereka lebih kecil
dibanding pemegang saham. Pemegang saham menanggung segala risiko yang
berkaitan dengan operasi perusahaan. Oleh karena itu hak kreditor sebenarnya berbeda
dengan hak pemegang saham; kreditor berhak atas pelunasan sedangkan pemegang
saham berhak atas pembagian laba (residual). Jadi, secara substansi ekonomik, kreditor
menanggung risiko lebih kecil dan dengan demikian mendapat imbalan tetap berupa
bunga dan pokok pinjaman sedangkan pemegang saham menanggung risiko lebih besar
sehingga berhak atas kembalian (rate of return) yang bervariasi melalui pembagian laba
(participation in profits).

Pembedaan Modal Setoran dan Laba Ditahan


Klasifikasi ekuitas pemegang saham mejadi modal setoran dan laba ditahan
sebenarnya merefleksikan pembedaan atas dasar sumber. Penyajian ekuitas pemegang
saham atas dasar sumber sebenarnya bersifat tradisi karena anggapan bahwa penyajian
seperti ini akan member informasi tentang riwayat modal sejak berdirinya perseroan.
Memang awalnya perseroan berdiri dari perusahaan kecil yang mendanai opersinya dari
sumber pemilik-manajer. Makin besarnya perusahaan menjadikan ekuitas pemegang
saham berubahh tidak hanya dalam jumlahnya tetapi juga dalam komposisi atau
sumbernya. Ditinjau dari sumber, ada beberapa komponen yang membentuk ekuitas
pemegang saham yaitu :
1) Jumlah rupiah yang disetorkan oleh pemegang sham
2) Laba ditahan yang merupakan sisa laba setelah pembagian deviden
3) Jumlah rupiah yag timbul akibat apresiasi/relevansi asset fisis tertentu
4) Jumlah rupiah donasi dari pihak non pemegang saham
5) Sumber lain

Laba ditahan pada dasarnya adalah terbentuk dari akumulasi laba yang
dipindahkan dari akun Iktisar Laba-Rugi (Income Summary). Begitu saldo laba ditutup ke
laba ditahan, sebenarnya saldo laba tersebut telah lebur menjadi elemen modal
pemegang saham yang sah. Seperti jug modal setoran, laba ditahan menunjukkan
sejumlah hak atas seluruh jumlah rupiah asset bukan hak atas jenis asset tertentu.

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


4 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Dengan demikian untuk mengukur seluruh hak pemegang saham atas asset, laba ditahan
harus digabungkan (ditambahkan) dengan modal setoran.
Pembedaan antara dua bagian elemen ekuitas pemegang sangat penting. Dari
segi administrasi keuangan, laba ditahan merupakan indikator daya melaba (earning
power) sehingga laba ditahan harus selalu dipisahkan dengan modal setoran meskipun
jumlah akhirnya ditotal untuk membentuk ekuitas pemegang saham. Pembedaan ini juga
penting secara yuridis karena modal setoran merupakan dana dasar (basic fund) yang
harus tetap dipertahankan untuk menunjukkan perlindungan bagi pihak lain. Sementara
itu, laba ditahan adalah jumlah rupiah yang secara yuridis dapat digunakan untuk
pembagian dividen.

Segala perubahan asset akibat penggunaan asset untuk tujuan produktif (for
productive effect) harus dibedakan dengan perubahan asset dalam rangka perolehan
dana (for financial effect). Untuk selanjutnya, peubahan yang pertama disebut perubahan
karen transaksi operasi sedangkan yang kedua transaksi modal. Pembedaan ini menjadi
landasan utama penyajian statemen laba-rugi komprehensif.

Modal Yuridis
Sebagai pasangan laba ditahan, modal setoran dibedakan menjadi modal yuridis
dan modal setoran lain (agio/premium modal saham). Modal yuridis tímbul karena
ketentuan hukum yang mengharuskan bahwa harus ada sejumlah rupiah yang harus
dipertahankan dalam rangka perlindungan terhadap pihak lain. Bentuk ketentuan hukum
ini adalah bahwa saham harus mempunyai nilai nominal atau nilai minimum yang
dinyatakan untuk menunjukkan hak yuridis. Modal yuridis merupakan jumlah rupiah
"minimal" yang harus disetor oleh investor sehingga membentuk modal yuridis (legal
capital).

Ada juga aturan yang menetapkan bahwa saham tidak dapat dijual di bawah nilai
tertentu yang menjadi batas nilai yuridis sehingga tidak dikenal adanya diskon modal
saham. Tujuan penyajian modal yuridis ini adalah untuk memberi informasi kepada para
pemegang ekuitas lainnya tentang batas perlindungan investasinya. Jadi, walaupun
secara akuntansi yang menganut konsep kesatuan usaha, pemisahan ini tidak
mempunyai makna ekonomik yang cukup berarti, secara yuridis pemisahan ini dianggap
cukup penting dan harus diungkapkan dalam pelaporan keuangan.

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


5 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Akuntansi menganggap pengungkapan modal yuridis tersebut tidak penting
karena akuntansi lebih menekankan pada jumlah rupiah yang benar-benar disetor
pemegang saham sebagai jumlah rupiah kontrak antara perseroan dengan pemegang
saham. Dalam hal perusahaan berjalan terus, pengungkapan modal yuridis kemudian
akan berfungsi semata-mata untuk menunjukkan batas jumlah aset yang dapat
didistribusi kepada pemegang saham baik dalam bentuk dividen maupun likuidasi modal
dan dianggap hal ini memberi informasi terhadap batas perlindungan bagi kreditor.

Modal Setoran Lain


Nominal saham sering diangggap bukan merupakan harga efektif saham sehingga
secara akuntansi penentuan nilai nominal saham sebenarnya tidak bermakna ekonomik.
Dalam hal tertentu, nilai nominal saham lebih merupakan alat untuk pemerataan distribusi
pemilikan daripada untuk menunjukkan nilai saham itu sendiri. Karena tidak bermakna
ekonomik, saham dapat diterbitkan tanpa nilai nominal (no par stock). Ada dua alasan
penerbitan saham tanpa nilai nominal yaitu :
1) Untuk menghindari utang bersyarat dalam hal saham terjual di bawah harga nominal
2) Tidak ada hubungan antara nilai nominal dengan harga pasar saham.

Namun demikian, penerbitan saham tanpa nilai nominal ini dapat menimbulkan
persoalan khususnya dalam hal perusahaan dilikuidasi karena akan sulit untuk
menentukan dasar pembagian kekayaan perusahaan. Di samping itu, perlindungan bagi
kreditor menjadi tidak jelas karena seakan-akan tidak ada batas jumlah rupiah yang dapat
dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen dan likuidasi modal. Yang lebih
tidak menguntungkan lagi bagi kreditor dan pihak berkepentingan lainnya adalah bahwa
saham tanpa nilai nominal dijual dengan harga yang sangat rendah semata-mata untuk
tujuan penggeseran pemilikan atau mempengaruhi harga saham. Oleh karena itu,
beberapa negara (juga beberapa negara bagian di AS) memberlakukan ketentuan bahwa
perseroan (dewan direksi), menyatakan nilai saham minimum yang disebut nilai nyataan
(stated value). Saham tidak dapat diterbitkan kalau dijual dengan harga di bawah nilai
nyataan ini. Nilai nyataan akan berfungsi sebagai modal yuridis.

Walaupun praktik akuntansi dalam kenyataannya memecah modal seloran


menjadi modal saham dan modal setoran lain, modal saham sebenarnya tidak harus

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


6 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
menunjukkan modal yuridis karena modal saham dapat berbeda jumlahnya dengan modal
yuridis. Berapapun besarnya modal yuridis, modal ini harus di pisahkan dengan yang lain.
Pemisahan semacam ini semata-mata merupakan tradisi dan dipengaruhi oleh konsep
yang disebut dengan trust-fund theory yang pada prinsipnya menyatakan bahwa harus
ada batas jumlah rupiah maksimum yang dapat didistribusi secara yuridis kepada
pemegang saham dalam kondisi perusahaan berjalan normal kecuali dalam hal
perusahaan dilikuidasi. Jumlah maksimum ini tidak harus sama dengan modal saham.

Paton dan Littleton (1970) menyatakan bahwa modal saham dan modal setoran
lain merupakan komponen yang harus dianggap sebagai satu kesatuan dan jumlah
rupiahnya harus ditotal untuk menunjukkan modal setoran total. Akan tetapi, harus
dibedakan dengan tegas antara modal setoran dengan laba ditahan. Selanjutnya
ditegaskan bahwa secara ekonomik bukanlah modal yuridis yang menjadi batas
perlindungan tetapi justru laba ditahanlah yang merupakan penyangga umum (general
purpose buffer) untuk segala kemungkinan rugi dan hal hal bersyarat lainnya.

Pasal 42 Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 menetapkan bahwa saham tanpa


nilai nominal tidak dapat diterbitkan. Ketentuan ini sebenarnya dimaksudkan untuk
menentukan modal yuridis. Nilai nominal merupakan jumlah rupiah minimal yang harus
disetor investor sehingga membentuk modal yuridis. Kalau saham terjual dengan harga di
atan nominal, dapatkah selisihnya diperlakukan sebagni laba ditahan karena modal
yuridis telah terpenuhi?

Dalam hal ini, Paton dan Littleton (1970) menegaskan bahwa perseroan
merupakan kesatuan usaha maupun kesatuan hukum. Sifat ganda ini menjadikan
akuntansi mempunyai fungsi ganda pula yaitu menyajikan data ekonomik sekaligus
mencerminkan aspek yuridis yang sebenarnya. Fungsi ganda ini menimbulkan masalah
pelaporan ekuitas pemegang saham karena konsep kesatuan usaha dan konsep hukum
sangat berbeda. Dari segi hukum ada tendensi untuk memandang ekuitas pemegang
saham sebagai jumlah rupiah tertentu yang menjadi batas penarikan kembali dana yang
ditanamkan oleh pemegang saham tanpa memperperhatikan daripada bentuk,
memandang ekuitas pemegang saham adalah seluruh jumlan yang secara ekonomik
tertanam di perusahaan termasuk laba ditahan.

Selanjutnya Paton dan Littleton berargumen bahwa penggunaan laporan


perseroan, untuk kepentingan pengelolaan dan keuangan adalah lebih sering

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


7 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
dibandingkan untuk kepentingan yuridis dan bahwa penggunaan yang lebih sering harus
lebih menentukan bentuk penyajian daripada penggunaan yang hanya kadang-kadang
(insidental). Akan tetapi, hal ini tidak berarti mengurangi arti penting laporan dari sudut
pandang yuridis. Dengan demikian, modal saham yuridis (legal capital) dapat saja
disajikan sebagai suatu rincian dibawah judul “modal setoran total”. Oleh karena itu,
neraca akan menjadi kurang informative kalau komponen komponen modal setoran
dipisahkan tetapi tidak ditunjukkan totalnya.

Dengan dasar pikiran diatas, transfer dari modal setoran ke laba ditahan tanpa
alasan yang kuat adalah penyimpangan dari penalaran yang valid. Ini berarti bahwa
modal tidak dapat digunakan sebagai sumber laba ditahan. Demikian juga, tidak
sebagianpun dari jumlah rupiah laba ditahan dapat dimasukkan sebagai modal setoran
kecuali jumlah rupiah tersebut telah diubah menjadi modal dengan proses kapitalisasi
yuidis atau telah berubah.

Perubahan Laba Ditahan


Jika pemisahan antara transaksi modal dan transaksi operasi harus tetap
dipertahankan, hanya terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi besarnya laba
ditahan yaitu laba atau rugi periodik dan pembagian dividen. Laba yang dipindahkan dari
akun Laba-Rugi (Income Summary) adalah laba yang merupakan selisih seluruh elemen
transaksi operasi dalarm arti luas yang disebut laba komprehensif. Transaksi lain yang
dapat mempengaruhi laba ditahan adalah transaksi yang tergolong dalam transaksi modal
sepert :
a. Pemesanan saham (stock subscriptions)
b. Obligasi terkonversi atau berhak-tukar (convertible bonds)
c. Saham istimewa terkonversi atau berhak-tukar (convertible stocks)
d. Dividen saham (stock divedends)
e. Hak beli saham, opsi, dan waran (stock, right, options, and warrant)
f. Saham treasuri (treasury stocks)

Pengaruh beberapa transaksi di atas langsung dimasukkan dalam laba ditahan


dan tidak melalui statemen laba-rugi perioda terjadinya transaksi tersebut, karena
transaksi tersebut merupakan transaksi modal. Sebagai ketentuan umum, selain karena
pos-pos transaksi modal di atas, laba ditahan dalam suatu perioda hanya berubah karena

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


8 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
laha atau rugi operasi (dalam arti luas) dan pembagian dividen. Namun demikian,
terdapat beberapa hal lain yang dapat menyebabkan laba ditahan dalam suatu perioda
berubah selain karena transaksi modal tetapi karena transaksi khusus yaitu:
1) Penyesuaiun perioda-lalu (prior-period adjustments).
2) Koreksi kesalahan dalam laporan keuangan sebelumnya.
3) Pengaruh perubahan akuntansi (accounting changes).
4) Kuasi-reorganisasi (quasi-reorganization).

Masalah teoretis dalam setiap pembahasan hal-hal di atas menjadi penting bila
dihubungkan dengan pelaporan hal-hal tersebut dalam statemen laba-rugi. Inilah yang
masih menjadi masalah perekayasaan penyajian statemen laba-rugi dan laba ditahan.

Penyajian Modal Pemegang Saham


Urutan penyajian kewajiban dan modal pemegang saham dalam neraca
sebenarnya menggambarkan urutan perlindungan dalam kondisi perusahaan mengalami
defisit dan dalam kondisi perusahaan dilikuidasi. Dalam terjadi defisit, urutan penyajian
menggambarkan urutan penyerapan rugi (sequence of charges) sedangkan dalam kondisi
likuidasi urutan penyajian menggambarkan urutan perlindungan yuridis (legal sequence of
protection) bagi para penyedia dana dalam hal terjadi likuidasi.

Urutan Penyerapan Rugi


Secara umum kos yang telah dikorbankan (expired) menjadi akan diserap melalui
aliran pendapatan kotor. Hal ini berkaitan pada umumnya dengan pengakuan atas dasar
konsumsi manfaat (consumption of benefit) dalam kondisi operasi normal. Dalam hal
terjadi pengorbanan kos akibat hilangnya manfaat menjadi rugi. Rugi tersebut akan
diserap dahulu melalui laba bersih dan hanya dalam keadaan yang sangat khusus maka
kos tersebut dapat diserapkan oleh kelompok modal pemegang saham. Jadi, urutan
penyerapan , rugi, dan rugi luar biasa (sequence of charges) dapat digambarkan sebagai
berikut:
1. Pendapatan kotor. Pos ini menyerap semua dan rugi dan debit/ beban (charges)
yang berasal dari transaksi nonpemilik.
2. Laba bersih. Hal ini akan terjadi pendapatan kotor tidak cukup untuk menutup semua
kos terhabiskan (expired cost) baik yang berasal dari konsumsi manfaat maupun

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


9 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
hilangnya manfaat (misalnya rugi luar biasa). Bila digunakan pendekatan laba
komprehensif, laba bersih akan menjadi laba komprehensif.
3. Laba ditahan. Hal ini hanya dapat dilakukan apabila laba bersih perioda berjalan
tidak cukup untuk menyerap suatu rugi tertentu atau rugi luar biasa.
4. Premium modal saham. Bagian modal ini baru dapat menyerap rugi kalau laba
ditahan dan laba ditahan telah habis untuk menyangga suatu rugi. Dengan kata lain,
modal saham harus tetap dijaga keutuhannya sampai premium modal saham benar-
benar telah habis.
5. Modal saham. Bila keutuhan modal yuridis telah terpengaruh secara substansial,
kebijakan untuk melakukan kuasi-reorganisasi atau bahkan likuidasi perusahaan
mungkin diperlukan.

Urutan penyerapan rugi seperti di atas sebenarnya merupakan asumsi atau tradisi
semata-mata walaupun hal tersebut dapat dikuatkan dalam bentuk standar akuntansi. Hal
ini didasarkan pada pikiran bahwa berbagai dana yang ditanamkan menjadi aset
perusahaan akan lebur menjadi begitu lumatnya menjadi satu kesatuan aset. Jika
demikian, rugi timbul akibat keseluruhan kegiatan yang didanai dari berbagai sumber.
Oleh karena itu, sebenarnya tidak mungkin lagi menyatakan bahwa rugi berkaitan dengan
sumber dana tertentu (laba bersih, laba ditahan, atau modal).

Walaupun demikian, atas dasar sifat pendanaan (financing) dan operasi


perusahaan serta penekanan konsep kontinuitas, cukup valid untuk menganggap bahwa
dalam kelompok modal pemegang saham, modal saham atau yuridis adalah bagian
terakhir (residual) dalam kaitannya dengan penyerapan rugi.

Urutan Menerima Distribusi Aset


Urutan perlindungan menunjukkan siapa yang harus didahulukan dalam menerima
distribusi aset atau siapa yang menanggung segala akibat dalam kasus perusahaan
dilikuidasi. Urutan ini menjadi basis penyajian untuk kewajiban dan ekuitas pemegang
saham. Ditinjau dari segi ini, urutan perlindungan dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Karyawan dan pemerintah. Pihak ini dapat dipandang sebagai kreditor yang
diprioritaskan yaitu karyawan dengan hak atas gaji dan pemerintah dengan hak atas
pajak terhutang.
2. Kreditor berjaminan (guaranteed creditors). Pihak ini adalah pemegang obligasi
atau kreditor lain yang haknya dijamin dengan hak sita (liens) atas aset tertentu.

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


10 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
3. Kreditor takberjaminan (unguaranteed creditors). Pihak ini terdiri atas para
kreditor yang tidak dijamin yang terrefleksi dalam utang usaha atau utang wesel baik
jangka pendek maupun jangka panjang.
4. Pemegang saham prioritas. Pihak ini dilindungi oleh laba ditahan sebagai
penyangga modal saham atau yuridis.
5. Pemegang saham biasa. Pihak ini merupakan pemegang hak atas sisa kekayaan
(residual interest) yang berarti bahwa pemegang saham biasa harus menanggung
lebih dahulu rugi atau defisit.

Dengan urutan perlindungan seperti di atas, pemegang modal saham biasa adalah
yang paling akhir dilindungi alias tidak ada perlindungan sama sekall. Modal saham biasa
ini merupakan hak atas kekayaan yang terbuka terhadap risiko dan paling terpengaruh
terhadap hasil kegiatan perusahaan, baik hasil yang menguntungkan maupun yang
merugikan. Meskipun demikian, dalam perusahaan yang besar yang pemegang saham
biasanya berkedudukan seperti kreditor yaitu menyediakan dana tanpa mengurus
langsung penggunaan dana tersebut, tentu saja cukup beralasan untuk menganggap
bahwa ada semacam "perlindungan" berupa prospek perusahaan yang cerah di samping
tanggung jawab yang terbatas pada modal yang disetor.

Tanpa harapan atau "perlindungan" ini tentunya akan sedikit yang bersedia
menjadi pemegang saham biasa. Perlindungan di atas secara umum juga menjadi basis
penyajian kewajiban dan ekuitas dalam neraca. Jadi, cukup beralasan kalau kewajiban
disajikan lebih dahulu baru kemudian ekuitas pemegang saham.

Penyajian Laba Komprehensif


Jika terjadi perubahan akibat transaksi operasi atau transksi nonpemilik harus
dibedakan dan dipisahkan secara tegas dengan perubahan akibat transaksi pemilik,
semua perubahan akibat transaksi operasi harus dilaporkan melalui statemen laba rugi.
Pos-pos operasi dalam arti luas sebagai lawan pos-pos transaksi nonpemilik meliputi pos-
pos operasi utama, pos-pos tambahan, dan pos-pos yang sifatnya khusus atau luar biasa
tetapi berasal dari transaksi nonpemilik. Masalah teoritis dalam hal ini adalah pos-pos
mana saja yang disajikan melalui statement laba rugi dan pos-pos mana saja yang
dilaporkan melalui statemen laba ditahan. Dalam hal ini, ada dua pendekatan yang dapat

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


11 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
dianut yaitu kinerja sekarang atau normal (current atau normal performance approach)
dan semua-termasuk atau surplus bersih (all-inclusive atau clean surplus approach).

Dengan dianutnya pendekatan laba semua-termasuk atau laba komprehensif,


masalahnya adalah bagaimana menyajikan komponen-komponen pembentuk laba
komprehensif dan bagaimana meretia disajikan dalam statemen laba-rugi. Sebagai basis
pembahasan penyajian laba. Adapun komponen-komponen pembentuk statemen laba-
rugi, yaitu :
1) Seksi operasi utama (major operating activities section)
2) Seksi operasi tambahan (secondary or auxiliary activities section)
3) Pajak penghasilan (income taxes)
4) Operasi hentian/tak lanjut (discontinued operations)
5) Pos-pos luar biasa/ekstraordiner (extraordiner items)
6) Pengaruh kumulatif perubahan prinsip akuntansi (cumulative effects of changes in
accounting principles)
7) Pengaruh kumulatif perubahan estimat/taksiran (cumulative effects of changes in
accounting estimates)
8) Perubahan ekuitas nonpemilik lainnya (other nonowner changes in equlty) termasuk
pos-pos menerobos

Dengan pendekatan semua-termasuk, FASB mempeluas cakupan laba yang


meliputi pula apa yang sebelumnya disebut dengan pos-pos penerobos (bypassing
items). Pos-pos penerobos adalah pos-pos yang dilaporkan langsung dalam statemen
laba ditahan tanpa melalui statemen laba-rugi. Contoh pos-pos ini antara lain adalah laba
menahan/penahan atau laba fluktuasi harga belum terrealisasi (unrealized holding gains)
dan penyesuaian penjabaran mata uang asing (foreign currency transaction adjustments).
Selain kedua pos ini, FASB juga mengantisipasi adanya pos-pos lain yang
merepresentasi perubahan ekuitas nonpemilik yang harus dilaporkan melalui statemen
laba-rugi. Komponen (6) dan (7) juga dikategori sebagai komponen perubahan ekuitas
nonpemilik dan keduanya disebut pengaruh kumulatif perubahan akuntansi atau
penyesuaian kumulatif akuntansi (cumulative accounting adjustments) sehingga pos-pos
selain yang masuk dalam kategori ini disebut dengan perubahan ekuitas nonpemilik
lainnya (other nonowner changes in equity).

Karena komponen (1) sampai (8) semuanya masuk dalam statemen laba-rugi,
angka bersih yang diperoleh disebut oleh FASB dengan laba komprehensif

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


12 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
(comprehensive income). Tujuan dimasukkannya komponen (8) dalam statemen laba-rugi
adalah untuk mencegah penyembunyian atau penghilangan (omissions) secara
diskresioner pos-pos laba atau rugi tertentu dari statemen laba-rugi. Dengan kata lain,
tujuannya adalah mencegah penyalahgunaan (abuse). Sebelum SFAC No. 6 diterbitkan,
komponen yang masuk dalam statemen laba-rugi semua-termasuk hanyalah komponen
(1) sampai (7) dan angka bersihnya disebut laba bersih (net income).
Dalam SFAC No. 6, komponen (6) dan (7) dikeluarkan dari laba bersih dan
dilaporkan sebagai perubahan ekuitas nonpemilik dan angka bersih yang diperoleh dari
komponen (1) sampai (5) disebut dengan laba perioda (earnings) dan laba perioda
setelah komponen (6) dan (7) disebut laba perioda bersih (net earnings) atau tetap laba
bersih. Bila terjadi rugi, laba komprehensif menjadi rugi komprehensif. Laba komprehensif
dapat disebut pula perubahan ekuitas nonpemilik total (total nonowner changes in equity).

Terdapat dua pendekatan penyusunan statemen laba-rugi untuk menyajikan


komponen (1) sampai (8). Pendekatan satu-statemen (one-statement approach)
menyajikan kedelapan komponen tersebut dalam satu stetemen yang diberi judul
statemen laba-rugi dan laba-rugi komprehensif (statement of income and comprehensive
income). Pendekatan dua-statemen memisahkan pelaporan komponen (1) sampai (7)
dalam statemen laba-rugi (statement of income) dan menyajikan pengaruh komponen (8)
terhadap laba perioda bersih dalam statemen laba-rugi komprehensif (statement of
comprehensive income). bunga (interest expenses) dimasukkan dalam komponen lainnya
dan rugi. Angka bersih setelah lainnya dan rugi serta pajak penghasilan disebut laba dari
operasi berlanjut (income from continuing operations)."

Jadi, komponen (1) sampai (3) disebut komponen operasi (dalam arti luas) dan
membentuk laba dari operasi berlanjut. Hal ini berarti bahwa pos-pos dalam komponen
pendapatan lainnya dan untung atau lainnya dan rugi tidak dipandang sebagai sebagai
pos-pos nonoperasi. Oleh karena itu, pos-pos dalam komponen (4) dan (8) sering disebut
pos-pos takreguler atau takterukur (irregular items). Pegertian takreguler menjadi masalah
bila dikaitkan dengan makna takumum atau takbiasa (unusual) dan luar biasa atau
ekstraordiner (extraordiner). Persoalannya adalah kapan suatu pos harus dikategorikan
sebagai komponen (2), komponen (5)

Berkaitan dengan, APBO No. 30 (prg. 20-24) mendeskripsi kriteria untuk


mengkasifikasi suatu kejadian atau transaksi yang membentuk pos-pos luar biasa yaitu :
a) Keterbiasaan (unusual nature)

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


13 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
b) Ketakseringan keterjadian (infrequency of occurrence)
c) Materialitas (materiality)

Untuk mengkategori suatu kejadian atau transaksi ke dalam pos luas biasa ketiga
karakteristik tersebut harus dipenuhi. Ketakbiasaan berarti bahwa kejadian atau transaksi
yang melandasi suatu pos mempunyai tingkat keabnormalan yang tinggi dan harus jelas-
jelas merupakan jenis yang sama-sekali tidak berkaitan atau hanya berkaitan secara
insidental dengan kegiatan perusahaan dalam konteks lingkungan beroperasinya
perusahaan. Ketakseringan keterjadian/terjadinya berarti bahwa kejadian atau transaksi
yang melandasi suatu pos merupakan jenis yang bukan harapan umum atau yang tidak
diantisipasi akan terjadi di masa datang dalam konteks lingkungan beroperasinya
perusahaan.

Materialitas berarti bahwa kejadian atau transaksi yang melandasi suatu pos harus
diklasifikasi secara terpisah sebagai pos luar biasa hanya kalau jumlah yang terlibat
material dalam kaitannya dengan atau relatif terhadap angka laba sebelum pos luar biasa,
kecenderungan (trend) laba perioda sebelum pos luar biasa, atau ukuran materialitas
yang lain. Bila suatu pos material tetapi hanya memenuhi kriteria (a) atau (b), tia tidak
dapat diklasifikasi sebagai pos luar biasa. Hal ini dinyatakan dalam APBO No. 30 paragraf
23 sebagai berikut:
Certain gains and losses should not be reported as extraordinary items because
they are usual in nature or may be expected to recur as a consequence of
customary and continuing business activities.

Contoh pos-pos yang dapat dimasukkan dalam kategori ini misalnya adalah
penghapusan piutang, serta kos riset dan pengembangan; untung atau rugi penjabaran
valuta asing termasuk akibat devaluasi atau revaluasi; untung atau rugi pelepasan
segmen bisnis; untung atau rugi penjualan aset fisis; efek pemogokan; dan penyesuaian
akrual atas kontrak jangka panjang. Intinya, pos-pos material yang takbiasa atau
taksering, tetapi tidak keduanya, masuk dalam kategori ini. Meretia dilaporkan dalam
seksi atau komponen terpisah di atas pos ekstraordiner. Dapat juga material dilaporkan
dalam seksi operasi tambahan jika jumlahnya tak material.

Dalam PSAK No. 1, Dewan Standar Akuntansi menetapkan bahwa statemen laba-
rugi harus disajikan sedemikian sehingga mengungkapkan berbagai unsur kinerja

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


14 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
keuangan yang bermanfaat bagi pemakainya. Oleh karena itu, statemen laba rugi
minimal harus menyajikan dan menonjolkan hal-hal berikut (pasal 56):
a) Pendapatan
b) Laba atau rugi usaha
c) pinjaman
d) Bagian dari laba atau rugi perusahaan terafiliasi dan terasosiasi yang diperlakukan
dengan metoda ekuitas
e) Pajak penghasilan
f) Laba atau rugi dari aktivitas normal perusahaan
g) Pos luar biasa
h) Hak minoritas
i) Laba atau rugi bersih perioda berjalan

Proprietary Theory
Ide dasar dari proprietary theory adalah usaha atau perusahaan merupakan
perpanjangan tangan dari pemilik. Dalam konsep ini, aktiva merepresentasikan sesuatu
yang dimiliki oleh pemilik dan kewajiban merupakan utang yang harus ditanggung oleh
pemilik. Lebih lanjut Isgiyarta (2009, p.89) menjelaskan bahwa dalam proprietary theory,
perusahaan merupakan milik pemegang saham sehingga posisi utang akan mengurangi
kekayaan perusahaan dan bunga diperlakukan sebagai beban usaha. Dalam persamaan
akuntansi, proprietary theory digambarkan sebagai berikut:

Ekuitas = Aktiva - Utang

Dari persamaan akuntansi di atas terlihat bahwa utang merupakan pengurang


aktiva dan antara utang dengan ekuitas mempunyai posisi yang berbeda terhadap aktiva.
Dalam akuntansi konvensional, hal terpenting pada proprietary theory adalah aktiva
bersih (aktiva – utang) yang berarti pemilik lebih menekankan pada komponen laba rugi.
Hal ini sejalan dengan salah satu prinsip dasar dari aliran kapitalisme, yaitu self-interest
(kepentingan pribadi). Dalam hal ini pemilik memusatkan perhatian pada upaya untuk
memaksimalkan laba atau keuntungan usaha yang pada akhirnya akan meningkatkan
kekayaan pemilik. Di samping itu, konsep laba rugi pada akuntansi konvensional hanya
mencakup pada aspek keuangan atau materi dan konsep ini memperkuat persepsi
manusia bahwa kebahagiaan itu adalah berkaitan dengan perolehan materi.

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


15 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Entity Theory
Menurut Kam (dikutip oleh Triyuwono, 2003), ide utama dari entity theory ini
adalah memahami perusahaan sebagai entitas yang terpisah dari pemiliknya. Teori ini
muncul dengan maksud mengurangi kelemahan - kelemahan yang ada dalam proprietary
theory dimana pemilik menjadi pusat perhatian. Namun demikian, entity theory pada
dasarnya tidak berbeda jauh dengan teori pendahulunya, proprietary theory. Dalam
konteks teori ini, terdapat dua pandangan yang berbeda walaupun keduanya mengarah
kepada konklusi yang sama, yaitu stewardship atau pertanggungjawaban (accountability).

Versi pertama adalah versi tradisional yang memandang bahwa perusahaan


beroperasi untuk keuntungan pemegang saham, yaitu orang-orang yang menanamkan
dananya dalam perusahaan. Dalam hal ini, entitas bisnis memperlakukan akuntansi
sebagai laporan kepada pemegang saham tentang status dan konsekuensi dari investasi
mereka. Sementara itu versi kedua, yaitu pandangan yang lebih baru terhadap entity
theory, menganggap bahwa sebuah entitas adalah bisnis untuk dirinya sendiri yang
berkepentingan terhadap kelangsungan hidup dan perkembangannya. Meskipun kedua
versi tersebut menempatkan entitas sebagai unit independen, namun terdapat sedikit
perbedaan konsep di antara keduanya. Pandangan tradisional masih memposisikan
pemegang saham sebagai “partisipan” (associates), sementara sudut pandang baru lebih
memposisikan mereka sebagai pihak luar (outsiders). Namun demikian, hal ini tidak
mempengaruhi muatan informasi dari laporan akuntansi yang disajikan oleh entitas
tersebut.

Meskipun konsep entity theory merupakan pengembangan dari konsep proprietary


theory, namun bila diinterpretasikan secara kritis (khususnya dalam konteks konsep
kepemilikan), sebagian besar muatannya tetap berbasiskan pada aspek-aspek ideologis
yang sama dengan konsep proprietary theory. Secara gamblang, Isgiyarta (2009, p.68)
menjelaskan bahwa dalam entity theory, seharusnya utang mempunyai posisi yang sama
sebagai sumber dana untuk memperoleh aktiva. Hal ini ditunjukkan dengan persamaan
akuntansi sebagai berikut:

Aktiva = Utang + Ekuitas

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


16 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Turunan utang, yaitu bunga utang, seharusnya mempunyai posisi yang sama
dengan posisi dividen. Namun dalam praktik akuntansi konvensional, posisi bunga utang
pada laporan laba rugi ditempatkan dalam kelompok beban usaha. Posisi bunga yang
ditempatkan sebagai bagian dari kelompok beban usaha merupakan konsep dari
proprietary theory. Posisi utang dengan posisi ekuitas mempunyai posisi yang berlainan,
yaitu utang merupakan pengurang aktiva. Dengan demikian maka turunan utang yaitu
bunga utang mempunyai posisi yang tidak sama dengan dividen.

Stakeholder Theory
Semua stakeholder memiliki hak untuk memperoleh informasi mengenai aktivitas
perusahaan yang mempengaruhi mereka. Pada awalnya, pemegang saham sebagai
satu-satunya stakeholder perusahaan. Pandangan ini didasarkan pada argumen yang
disampaikan Friedman (1962) yang mengatakan bahwa tujuan utama perusahaan adalah
untuk memaksimumkan kemakmuran pemiliknya. Namun demikian, Freeman (1983) tidak
setuju dengan pandangan ini dan memperluas definisi stakeholder dengan memasukkan
konstituen yang lebih banyak, termasuk kelompok yang tidak menguntungkan (adversarial
group) seperti pihak yeng memiliki kepentingan tertentu dan regulator (Ghozali dan
Chariri, 2007:409)

Menurut Ghazali dan Chariri (2007:409), Teori Stakeholder merupakan teori yang
menyatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk
kepentingan sendiri, namun harus memberikan manfaat kepada seluruh stakeholdernya
(pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis, dan
pihak lain). Kelompok stakeholder inilah yang menjadi bahan pertimbangan bagi
manajemen perusahaan dalam mengungkap atau tidak suatu informasi di dalam laporan
perusahaan tersebut. Tujuan utama dari teori stakeholder adalah untuk membantu
manajemen perusahaan dalam meningkatkan penciptaan nilai sebagai dampak dari
aktivitas-aktivitas yang dilakukan dan meminimalkan kerugian yang mungkin muncul bagi
stakeholder.

Meskipun stakeholder theory mampu memperluas perspektif pengelolaan


perusahaan dan menjelaskan dengan jelas hubungan antara perusahaan dengan
stakeholder, teori ini memiliki kelemahan. Gray et al (1997) mengatakan bahwa
kelemahan dari stakeholder theory terletak pada fokus teori tersebut yang hanya tertuju

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


17 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
pada cara-cara yang digunakan perusahaan dalam mengatur stakeholder-nya.
Perusahaan hanya diarahkan untuk mengidentifikasi stakeholder yang dianggap penting
dan berpengaruh dan perhatian perusahaan akan diarahkan pada stakeholder yang
dianggap bermanfaat bagi perusahaan. Mereka yakin bahwa stakeholder theory
mengabaikan pengaruh masyarakat luas (society as a whole) terhadap penyediaan
informasi dalam pelaporan keuangan (Ghozali dan Chariri, 2007:411).

PSAK 21
Tujuan
Ekuitas sebagai hak pemiik dalam perusahaan harus dilaporkan sedemikian rupa
sehingga memberikan informasi mengenai sumbernya secara jelas dan disajikan sesuai
dengan peraturan perundangan dan akta pendirian yang berlaku.

Ruang Lingkup
a. BUMN/D
b. Perusahaan swasta
c. Koperasi sesuai dengan undang-undang RI

Definisi
Ekuitas merupakan bagian hak pemilik dalam perusahaan yaitu selisih antara
asset dan kewajiban yang ada, dan dengan demikian tidak merupakan ukuran nilai jual
perusahaan tersebut.

AKUNTANSI EKUITAS UNTUK BADAN USAHA BUKAN PT


Akuntansi untuk ekuitas Badan Usaha bukan PT harus dilaporkan sesuai dengan
peraturan perundangan untuk badan usaha tersebut dan standar akuntansi keuangan
berlaku khusus untuk industri yang bersangkutan, misalnya koperasi.

AKUNTANSI EKUITAS UNTUK BADAN USAHA BERBENTUK PT


Modal saham meliputi saham preferen, saham biasa, dan akun Tambahan Modal
di setor pos modal lainnya sepert modal yang berasal dari sumbangan dapat disajikan
sebagai bagian dari tambahan modal disetor.

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


18 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
UNSUR PENAMBAHAN MODAL DISETOR PT
Akun tambahan modal disetor terdiri atas berbagai macam unsur penambahan
modal, seperti agio saham, tambahan modal dari perolehan kembali saham dengan harga
lebih rendah daripada jumlah yang diterima pada saat pengeluaran, tambahan modal dari
penjualan saham yang diperoleh kembali dengan harga diatas jumlah yang dibayarkan
pada saat perolehannya, tambahan modal dari perbedaan kurs modal disetor, dan lain
sebagainya. Akun tambahan modal disetor tidak boleh didebet atau di kredit dengan pos
L/R usaha maupun L/R luar biasa.

Pencatatan Penambahan Modal Disetor PT


Penambahan modal disetor dicatat berdasarkan :
a. Jumlah uang yang diterima
b. Setoran saham dalam bentuk uang, sesuai transaksi nyata. Untuk jenis saham yang
diatur dalam bentuk rupiah dalam akta pendirian, setoran saham tunai, dalam bentuk
mata uang asing dinilai dengan kurs berlaku tanggal setoran. Untuk jenis saham yang
diatur dalam mata uang asing dalam akta pendiriannya, setoran tunai baik rupiah
atau mata uang asing lain harus dikonversi ke mata uang asing dalam akta
ppendirian sesuai kurs resmi yang berlaku pada tanggal setoran, kecuali akta
pendirian atau keputusan pemerintah menentukan kurs tetap. Selisih kurs mata uang
asing yang timbul sehubungan dengan transaksi modal, harus dibukukan sebagai
bagian dari modal dalam akun selisih kurs atas modal disetor dan bukan merupakan
unsur Laporan Laba Rugi.
c. Besarnya tagihan yang timbul atau utang yang dikonversi menjadi modal.
d. Setoran saham dalam deviden saham dilakukan dengan harga wajar saham, yaitu
harga pasar tanggal transaksi untuk PT. yang sahamnya terdaftar di bursa efek, atau
nilai wajar yang disepakati RUPS untuk saham yang tidak ada harga pasarnya.
e. Nilai wajar asset bukan kas yang diterima
f. Setoran saham dalam bentuk barang (inbreng), menggunakan nilai wajar asset
nonkas yang diserahkan, yaitu nilai appraisal tanggal transaksi yang disetujui Dewan
Komisaris untuk PT yang sahamnya terdaftar di bursa efek , atau nilai kesepakatan
Dewan Komisaris dan penyetor bentuk barang.

PENCATATAN PENGURANGAN MODAL DISETOR PT


Pengurang modal disetor lazimnya dicatat berdasarkan : 1. Jumlah uang yang
dibayarkan atau 2. Besarnya utang yang timbul atau 3. Nilai wajar asset buku kas yang
diserahkan.

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


19 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Pengeluaran saham dicatat sebesar nilai nominal yang bersagkutan. Bila jumlah
yang diterima dari pengeluaran saham tersebut lebih besar daripada nilai nominalnya,
selisih yang terjadi dibukukan pada akun agio saham.

Bila ketentuan hukum yang ada memungkinkan penarikan saham biasayang telah
dikeluarkan, maka pencatatan transaksi ini dilakukan dengan mendebit akun modal
saham dan mengkredit Modal saham yang diperoleh kembali sebesar jumlah yang
dibukukan pada saat perolehan kembali saham yang bersangkutan.
Saham yang dikeluarkan sehubungan penyertaan modal dalam bentuk
penyerahan asset bukan kas atau pemberian jasa umumnya dinilai sebesar nilai wajar
asset/jasa tersebut atau nilai wajar saham yang bersangkutan, tergantung mana yang
lebih jelas.

PENEBUSAN / PENARIKAN KEMBALI MODAL SAHAM PT


Perolehan kembali saham beredar dengan Cost Method
Jika perusahaan memperoleh kembali saham yang telah dikeluarkan selisih antara
jumlah yang dibayarkan pada saat prolehan kembali dengan jumlah yang diterima pada
saat pengeluaran saham tidak diakui sebagai Laba atau rugi perusahaan. Perolehan
kembali saham yang telah dikeluarkan dapat dicatat menggunakan metode (cost method)
atau metode nilai nominal (per value method). Dengan metode , saham yang diperoleh
kembali dicatat sebesar harga perolehan kembali dan disajikan sebagai pengurang atas
jumlah modal.

Saham yang dibeli kembali dicatat sesuai dengan harga perolehan kembali,
disajikan sebagai pengurang akun modal saham, untuk saham sejenis, disajikan dalam
jumlah lembar dan nilai nominal. Kemudian, selisih harga perolehan kembali dengan nilai
nominal disajikan sebgai pengurang atau penambah akun agio saham, disajikan per jenis
saham dan rupiah, dengan judul tambahan (pengurang) agio modal dari perolehan
kembali saham. Apabila agio saham menjadi deficit (disagio) karena transaksi perolehan
kembali, deficit tersebut dibebankan pada saldo laba.

Perolehan kembali saham beredar dengan per value method.


Metode ini nominal lazimnya digunakan dalam hal saham yang diperoleh kembali
tersebut akan dikeluarkan lagi dikemudian hari. Dengan metode nilai nominal, saham
yang diperoleh kembali dicatat sebesar nilai nominal sham yang bersangkutan dan

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


20 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
disajikan sebagai pengurang akn modal saham. Apabila saham yang diperoleh kembali
tersebut semua dikeluarkan dengan harga diatas nilai nominal, akun agio saham akan
didebet dengan agio saham yang bersangkutan.

Dalam jumlah yang dibayarkan lebih besar daripada jumlah yang diterima pada
saat pengeluarannya, selisih tersebut dibukukan dengan mendebit akun saldo laba.
Sebaliknya bila jumlah yang dibayarkan lebih kecil, selisihnya dianggap sebagai unsur
penambah modal dan dibukukan dengan mengkredit akun tambahan modal dari
perolehan kembali saham. Metode ini lazimnya digunakan bila perolehan kembali
dilakukan dalam rangka penarikan saham.

Perolehan kembali saham sumbangan


Saham yang kembali dari sumbangan lazimnya dicatat sebesar jumlah yang
diterima pada saat pengeluarannya dengan mendebit akun modal saham yang diperoleh
kembali dengan mengkredit akun modal yang berasal dari sumbangan. Pada saat saham
tersebut dijual kembali, selisih antara jumlah yang tercatat dengan harga jualnya
ditambahkan pada akun modal yang berasal dari sumbangan.

DEVIDEN PT
Bentuk pembagian deviden
Kewajiban perusahaan untuk membagi dividen timbul pada saat deklarasi dividen,
dan dengan demikian pada saat tersebut saldo laba akan dibebani dengan jumlah
deviden termaksud. Kewajiban yang timbul lazimnya disajikan dalam kelompok kewajiban
lancar. Bila dividen dibagikan dalam bentuk asset bukan kas, maka saldo laba akan
dikredit sebesar nilai wajar asset yang diserahkan. Dasar pencatatan untuk pembagian
dividen dalam bentuk asset bukan kas dan saham harus diungkapkan delam catatan kas
atas Laporan Keuangan.

Deviden Saham
Pembagian dividen termasuk dividen saham berasal dari saldo laba. Pembagian
dividen saham adalah pembagian saldo laba kepada pemegang saham. Yang
diinvstasikan kembali oleh mereka dalam bentuk modal disetor. Pembagian dividen
saham dicatat berdasarkan nilai wajar saham. Termasuk dalam pengertian nilai wajar
adalah harga psar saham PT yang sebelumnya terdaftar di bursa efek, dengan syarat
telah disetujui RUPS serta tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang
berlaku.

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


21 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Konversi Agio Menjadi saham
Konversi agio menjadi saham digolongkan sebagai modal disetor sebesar ilai
nominal. Konversi agio menjadi saham tidak boleh digolongkan sebagai pembagian
dividen.

PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN


Penyajian modal saham dalam neraca harus dilakukan sesuai dengan ketentuan
pada akta pendirian perusahaan dan peraturan yang berlaku serta menggambarkan
hubungan keangan yang ada.

Modal dasar, modal yang ditempatkan dan modal yang disetor, nilai nominal dan
banyaknya saham untuk setiap jenis saham harus dinyatakan dalam neraca. Bila terdapat
lebih dari stau jenis saham, hak preferen dari suatu golongan saham atas dividend an
pelunasanmodal pada saat likuidasi harus dicantumkan dalam Laporan Keuangan.

Dalam hal terdapat tunggakan dividen atas saham preferen dengan hak dividen
komulatif , jumlah tunggakan tiap saham dan keseluruhan dividen peiode sebelumnya
harus diungkapkan dalam catatan atas Laporan Keuangan. Perubahan atas modal yang
ditanam dalam tahun berjalan harus diungkapkan dalam catatan atas Laporan Keuangan.

Modal disajikan dalam neraca setelah kewajiban. Bentuk penyajiannya sesuai akta
pendirian Badan Usaha tersebut, misalnya saham adalah penyertaan modal dalam
kepemilikan PT.

Pada perusahaan yang terdaftar di bursa efek saham dapat ditempatkan dengan
dasar pesanan. Dengan dasar ini, saham hanya akan dikeluarkan jika pemesan telah
mebayar penuh harga saham yang bersangkutan. Pesanan saham dicatat dengan
mendebit akun piutang kepda pemesan saham dan mnegkredit akun modal saham yang
dipesan. Akun modal saham yang dipesan disajikan dlaam kelompok modal dibawah
akun modal saham.

Akun piutang kepada pemesan saham sebesar sisa harga saham yang belum
dilunasi dalam transaksi semacam ini lazimnya disajikan dalam kelompok asset lancar.
Apabila piutang ini tidak dimasukkan untuk ditagih dalam waktu dekat, akun ini dapat
disajikan dalam kelompok mengurangi akun modal saham yang dipesan.

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


22 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Pada saat harga saham sudah dibayar penuh, akun modal saham yang dipesan
akan didebet dan akun modal saham dikredit. Dalam hal pemesan gagal melunasi sisa
pembayarannya maka bergantung pada kebijakan perusahaan dan dilandaskan pada
peraturan hukum yang berlaku, perusahaan dapat mengambil salah satu tindakan
dibawah ini :
a. Mengembalikan jumlah pembayaran yang telah dilakukan;
b. Mengembalikan jumlah pembayaran yang telah dilakukan dikurangi dengan jumlah
tertentu;
c. Jumlah pembayaran yang telah dilakukan diakui sebagai unsure oenambha modal
dan disajikan sebagai tambahan modal dari pembatalan penjualan saham;
d. Mengeluarkan saham yang sebanding dengan pembayaran yang telah dilakukan.

PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN SALDO LABA


Saldo laba menunjukkan akumulasi hasil usaha perodik setelah memperhitungkan
pembagian dividend an koreksi L/R periode lalu. Akun ini harus dinyatakan terpisah dari
akun modal saham. Seluruh saldo laba dianggap bebas untuk dibagikan sebagai dividen,
kecuali jika diberikan indikasi mengenai pembatasan terhadap saldo laba, misalnya
dicadangkan untuk perluasan pabrik atau untuk memenuhi ketentuan undang-undang
meupun ikatan tertentu.

Saldo laba tidak tersedia dibagikan dividen karena pembatasan-pembatasan


tersebut, dilaporkan akun tersendiri yang menggambarkan tujuan pencadangkan
termaksud; pembatasan-pembatasan yang ada harus diungkapkan dalam catatan atas
Laporan Keuangan.

Saldo laba tidak boleh dibebani atau dikredit dengan pos-pos yang seharusnya
diperhitungkan pada laporan laba rugi tahun berjalan. Pengungkapan laba tersebut
meliputi :
a. Pengungkapan penjatahan (apropriasi) dan pemisahan saldo laba, menjelaskan jenis
penjatahan dan pemisahan, tujuan penjatahan dan pemisahan saldo laba, serta
jumlahnya. Perubahan akun-akun penjatahan atau pemsahan saldo laba harus pula
diungkapkan.
b. Peraturan, perikatan, batasan, dan jumlah batasan disekitar saldo laba, harus
dingkapkan. Misalnya selama perjalanan kredit berlangsung , perusahaan tidak
diizinkan membagi saldo laba tanpa seizin kreditur.

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


23 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
c. Perubahan saldo laba karena penggabungan usaha degan metode penyatuan
kepemilikan (pooling of investasi).
d. Koreksi masa lalu, baik bruto maupun neto setalah pajak.
e. pengungkapan jumlah dividend an deviden per lembar saham, pengunglapan
keterbatasan saldo laba tersedia bagi dividen.
f. Tunggakan dividen
g. Pengungkapan deklarasi dividen setelah tanggal neraca, sebelum tanggal penerbitan
Laporan Keuangan
h. Pengungkapan dividen saham dan pemecahan saham (stock split), pengungkapan
jumlah yang dikapitalisasi, dan saji ulang laba per saham (EPS) agar laporan
keuangan berdaya banding.

Pengungkapan per jenis saham


Informasi tiap jenis saham harus diungkapkan secara terpisah dalam catatan atas
Laporan Keuangan yaitu :
a. Modal dasar;
b. Modal ditempatkan atau dipesan belum disetor
c. Moda disetor
d. Harga nominal per lembar
e. Perubahan lembar saham tiap jenis saham dan saldo nilai rupiah per jenis saham
selama periode akuntansi;
f. Hak istimewa atau hak mendahului
g. Batasan khusus
h. Penjelasan bila dapat dikonversi, tariff konversi.

PENGUNGKAPAN KERUGIAN PT 50% DARI MODAL


Apabila perseroan menderita kerugian sebesar 50% dari modalnya, kewajiban
untuk diumumkan dalam Register Kepaniteraan Pengadilan Negeri dan dalam Berita
Negara. Diungkapkan dalam caatatan atas LK selama UU yang terkait masih berlaku.

Bila persyaratan modal minimum yang ditentukan oleh peraturan perundangan


yang berlaku atau akta pendirian tidak atau belum dipenuhi , maka harus diungkapkan.

Pengungkapan dividen
1. Jumlah dividen
2. Dividen /lb saham

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


24 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
3. Bentuk dividen
4. Batasan saldo laba minimum dalam kaitan ketersediaan dividen;
5. Utang dividen
6. Pengumuman pembagian dividen setelah tanggal neraca sebelum tanggal pendapat
Akuntan Independen
7. Jumlah kapialisasi dividen saham dan pemecahan saham, per lembar dan jumlah
keseluruhan;
8. Laba per saham perlu disaji ulang (restated) berdasarkan jumlah saham yang setara
setelah pemecahan saham agar dapat diperbandingkan.

Pengungkapan saham beredar yang diperoleh kembali


1. Saham beredar yang diperoleh kembali, metode, disajikan sebagai pengurang jumlah
modal. Lembar saham yang diperoleh kembali dan dipegang perusahaan harus
diungkapkan.
2. Saham beredar yang diperoleh kembali, metode nilai nominal, sebagai pengurang
saham beredar (modal disetor) sejenis. Selisih nilai perolehan kembali dan nilai
nominal dijumlahkan atau dikurangkan pada Agio saham sejenis. Lbr saham yang
diperoleh kembali dan dipegang perusahaan harus diungkapkan.

Pengungkapan Bagian Lain Ekuitas


Seperti saldo laba, agio, selisih penilaian kembali asset tetap, dan cadangan harus
dilakukan secara terpisah, meliputi :
1. Perubahan selama periode akuntansi;
2. Batasan distribusi.

REORGANISASI
Kuasi reorganisasi adalah merupakan prosedur penataan kembali ekuitas yang
dilakukan dalam hal perusahaan menderita kerugian terus menerus dan terdapat defisit
dalam jumlah sangat material. tindakan ini harus didasarkan atas keputusan formal para
pemegang saham. Dengan kuasi reorganisasi, perusahaan menyelenggarakan dasar
pembukuan baru yang membukukan asset tertentu sebesar nilai wajar yang lebih rendah
dari nilai bukunya dengan mendebit akun deficit dan menurunkan nilai nominal saham.
Penyesuaian ekuitas berkenaan dengan tindakan termaksud harus diungkapkan dalam
catatan atas LK.

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


25 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Selisih penilaian kembali
Sesuai PSAK 16 tentang Aktiva tetap dan aktiva lain-lain, penilaian atau revaluasi
asset tetap pada umumnya tidak diperkenankan karena standar akuntansi keuangan
mengatur penilaian berdasarkan harga perolehan. Selisih antara nilai revaluasi dengan
nilai buku (nilai tercatat) asset tetap dibukukan dalam kelompok modal di antara modal
disetor dan saldo laba dengan nama akun selisih penilaian kembali asset tetap.

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


26 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Daftar Pustaka

1 Schooeder, R.G., M.W. Clark, Jack M. Cathay. (2016). Financial Accounting


Theory and Analysis. 12th edition.
2 Scott, William R. (2019). Financial Accounting Theory. 8th edition.
3 Godfrey, J., A. Hodgson, A. Tarca. (2010). Accounting Theory. 7th edition. John
Wiley.
4 Belkaoui, Ahmed Riahi. (2011). Accounting Theory. 6th edition. Salemba Empat.
Jakarta
5 Soewardjono. (2016). Teori Akuntansi. Edisi 3. YKPN.
6 Standar Akuntansi Keuangan. 2019. Ikatan Akuntan Indonesia

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


27 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]

Anda mungkin juga menyukai