Nomor 01 Volume 01
April 2019
Journal Homepage: [Link]
Islam dan Egalitarianisme:
Ruang Terbuka Kesetaraan Gender
Itmam Aulia Rakhman
Institut Agama Islam Bakti Negara Tegal
Email: [Link]@[Link]
Abstract: Islam is a religion that inherently carries the spirit of egalitarianism.
The facts about the variants of Islam that are central, formal and pure
are egalitarian and scientific - while the hierarchy and existence are
developing peripheral forms - help them adjust to the modern world.
As a religion that carries an egalitarian spirit, Islam should put its
people in various social issues - and of course religion - equally,
without distinguishing between rich and poor, old and young, male
and female. Because the "difference" between them is only the level of
piety. In the sense of Egalitas doctrine maintains that in essence all
human beings are the same in a fundamental value or moral status.
Islam views all human beings as equal to God, there is no difference
between one tribe and another. There is also no difference in human
values between men and women because everything is created from a
man and a woman.
Keywords: Islam, egalitarianism, equality, gender.
Pendahuluan
Islam adalah agama yang secara inheren mengusung semangat egalitarianisme.
Mengutip Gellner, Nurcholish Madjid mengatakan bahwa fakta tentang varian-varian
Islam yang sentral, formal dan murni adalah egalitarian dan ilmiah—sementara hirarki
dan eksistensi adalah bentuk-bentuk pinggiran yang berkembang—membantunya
untuk menyesuaikan diri kepada dunia modern.1 Sebagai agama yang mengusung
semangat egaliter, Islam seharusnya mendudukkan umatnya dalam berbagai persoalan
sosial –dan agama tentunya– secara setara, tanpa membedakan antara yang kaya dan
miskin, tua dan muda, laki-laki dan juga perempuan. Karena ―pembeda‖ di antara
mereka hanyalah kadar ketakwaannya.
Secara historis, telah terjadi perlakuan yang tidak seimbang, yang
menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Kaum
laki-laki mendominasi semua peran di masyarakat sepanjang sejarah, kecuali dalam
masyarakat yang matriarkal yang jumlahnya sangat sedikit. Dari sini muncullah doktrik
ketidaksetaraan antara laki-laki dengan perempuan (ketidaksetaraan gender).
Perempuan tidak cocok memegang kekuasaan ataupun memiliki kemampuan yang
1
Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, (Bandung: Mizan, 1989), hal. 72.
At-Ta’wil: Jurnal Pengkajian al-Qur’an dan at-Turats 62
Nomor 01 Volume 01
April 2019
Journal Homepage: [Link]
dimiliki laki-laki dan karenanya perempuan tidak setara dengan laki-laki. Laki-laki
harus memiliki dan mendominasi perempuan.2
Kekuasaan laki-laki atas perempuan dijadikan alasan masyarakat patriarkhi
untuk memarginalkan peran perempuan dan memetakan gerakan mereka hanya dalam
sektor domestik. Sistem patriarkhi sangat mempengaruhi pemahaman masyarakat
terhadap peran masing-masing suami istri, khususnya dalam kaitannya dengan hak dan
kewajiban mereka dalam rumah tangga. Islam sebagai agama pamungkas dan
penyempurna meletakan asas keadilan dan mu‘asyarah bil ma‘ruf dalam hubungan
suami istri, hubungan untuk saling melindungi satu terhadap lainnya. Hubungan ideal
tersebut dalam realitasnya tidak seideal apa yang digariskan wahyu. Peran perempuan
sudah terlanjur seringkali dipakai untuk menjustifikasi peran domestik perempuan
tersebut, salah satu yang sering dikutip adalah QS. An-Nisa:13
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-Mu yang telah menciptakan kamu dari
diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah
memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang
dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan
silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
Kata nafs (diri) dalam ayat di atas banyak dipahami pakar tafsir sebagai ―Adam‖,
seperti Jalaluddin As Suyuti, Al-Baidawi, Ibnu Katsir, dan Al-Kutub.4 Tafsir atas ayat
tersebut meyebutkan bahwa perempuan diciptakan dari jenis laki-laki. Penafsiran ini
dijadikan pegangan oleh mayoritas ulama yang tafsirnya berakar kuat dan dipegang
teguh sepanjang sejarah peradaban Islam. Ayat lain yang sering dijadikan paham
mufassir terdahulu sebagai dalil yang memetakan perempuan dalam sektor domestik
dan tak mempunyai hak berkecimpung dalam sektor publik adalah Q.S An-Nisa: 34
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan
sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) dank karena mereka (laki-laki)
telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…”.
2
Marzuki dan Suharno, Keterlibatan Perempuan dalam Bidang Politik pada Masa Nabi Muhammad
SAW. dan Masa Khulafaur Rasyidin (suatu Kajian Historis), dalam Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 13,
No. 1, April 2008: hal. 80.
3
Asliah Zainal, Egalitarian Laki-laki dan Perempuan dalam Keluarga Islam; Antara Idealitas dan Realitas,
dalam Shautut Tarbiyah, Jurnal Studi Ilmu-ilmu Sosial dan Keislaman Ed. Ke-29 Th. XIX, 3-4, 2013. hal. 3.
4
Masdar F. Mas‘udi, Islam dan Hak-hak Reproduksi Perempuan; Dialog Fiqih Pemberdayaan, (Bandung: Mizan.
1997), hal. 46.
At-Ta’wil: Jurnal Pengkajian al-Qur’an dan at-Turats 63
Nomor 01 Volume 01
April 2019
Journal Homepage: [Link]
Banyak ulama memahami ayat tersebut bahwa kekuasaan laki-laki atas
perempuan tidak saja dalam rumah tangga, tetapi juga dalam segala sektor kerja. Umat
Islam meyakini bahwa Al-Qur‘an diturunkan dengan tidak membawa keraguan sedikit
pun. Ayat-ayat yang ada dalam kitab suci tidak boleh menimbulkan keragu-raguan.
Yang menjadi persoalan adalah sistem penafsiran dan makna ayat akibat penafsiran
tersebutlah yang agaknya perlu dikaji ulang untuk meneliti lebih lanjut kebenaran akan
tafsir-tafsir yang dimaksud. Penafsiran akan ayat-ayat dalam Al-Qur‘an harus dilihat
dengan pertimbangan beberapa segi, seperti adat istiadat, latar belakang turunnya ayat
(asbabul nuzul), dan konteks kehidupan kekinian. Engineer mengemukakan bahwa
dalam memahami ayat tersebut hendaknya dipahami sebagai deskriptif keadaan
struktur dan norma sosial masyarakat pada saat itu, dan bukan suatu norma ajaran.5
Al-Quran menghendaki kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Pernyataan
al-Quran yang memberikan hak-hak yang seimbang antara laki-laki dan perempuan
membuktikan kebenaran pernyataan tersebut. Masalahnya, tidak gampang membuat
konsep kesetaraan laki-laki dan perempuan dapat diterima oleh semua orang, bahkan
di zaman kita sekarang ini. Berbagai ketidaksetaraan baik yang samar maupun yang
nyata tetap ada, bahkan dalam masyarakat kapitalis dan sosialis yang sudah maju. Di
kalangan umat Islam yang juga memegangi ayat-ayat al-Quran masih banyak yang
berpandangan bahwa laki-laki berada pada posisi yang setingkat di atas perempuan.
Mereka lebih banyak mendasarkan pada penafsiran para ulama tradisional yang hampir
semuanya menempatkan perempuan pada posisi yang subordinatif.6
Semua manusia ―sama‖ di mata hukum. ―Kesetaraan‖ gender perlu
diarusutamakan. Setiap warga negara memiliki hak yang ‖sama‖ untuk mendapat
perlakuan yang adil. ‖Kesamaan‖ hak bagi perempuan harus ditegakkan. Setiap warga
negara berhak atas ‖kesamaan‖ kesempatan kerja. Dan sebagainya; dan lain-lainnya.
Kesetaraan, kesamaan, persamaan atau kata-kata lain sebagai padanan untuk ―equality‖
adalah konsep yang mempesona tetapi juga melenakan. Makna sejatinya tidak jelas.
Secara samar-samar, makna-makna tersebut tentu serupa, tetapi juga tentunya tidak
sama. Sebelum memiliki kesamaan-pandangan dan pemahaman yang akurat
terhadapnya, kita tidak bisa menggunakannya secara bermakna; bahkan mungkin
sebaiknya kita lupakan saja.7
Dari sedikit ulasan di atas memberikan sebuah pemahaman bahwa pentingnya
memahami egaliter yang diusung oleh Islam, agar tidak ada kesalahpahaman dalam
menjastifikasi Islam yang rahmatan lil „alamin, yang memberikan peluang serupa kepada
umatnya untuk menjadi yang paling bertakwa, tanpa membedakan antara laki-laki dan
perempuan.
5
Asliah Zainal, Egalitarian Laki-laki dan Perempuan,... hal. 4
6
Marzuki dan Suharno, Keterlibatan Perempuan dalam Bidang Politik,... hal. 82.
7
Sukasih Syahdan, Tentang Kesetaraan, akal dan kehendak, dalam Akal dan Kehendak Vol. I Edisi No. 5,
2007, hal. 1.
At-Ta’wil: Jurnal Pengkajian al-Qur’an dan at-Turats 64
Nomor 01 Volume 01
April 2019
Journal Homepage: [Link]
Makna Egalitarianisme
Egalitarianisme (berasal dari bahasa Perancis égal yang berarti "sama"), adalah
kecenderungan cara berpikir bahwa penikmatan atas kesetaraan dari beberapa macam
premis umum, misalkan bahwa seseorang harus diperlakukan dan mendapatkan
perlakuan yang sama pada dimensi seperti agama, politik, ekonomi, sosial, atau budaya.
Dalam pengertian doktrin Egalitas ini mempertahankan bahwa pada hakikatnya semua
manusia adalah sama dalam status nilai atau moral secara fundamental. Sebagian besar,
pengertian ini merupakan respon terhadap pelanggaran pembangunan statis dan
memiliki dua definisi yang berbeda; dalam bahasa Inggris modern, dapat didefinisikan
secara baik sebagai doktrin politik yang menyatakan bahwa semua orang harus
diperlakukan secara setara dan memiliki hak-hak politik, ekonomi, sosial, dan sipil
yang sama, atau dalam pengertian filsafat sosial penganjur penghapusan kesenjangan
ekonomi antara orang-orang atau adanya semacam redistribusi/desentralisasi
kekuasaan.8
Teori egalitarianisme didasarkan atas prinsip pertama. Mereka berpendapat
bahwa kita baru membagi dengan adil, bila semua orang mendapat bagian yang sama
(equal). Membagi dengan adil berarti membagi rata ―sama rata, sama rasa‖ merupakan
sebuah semboyan egalitarian yang khas. Jika karena alasan apa saja tidak semua orang
mendapat bagian yang sama, menurut egalitarianisme pembagian itu tidak adil betul.
Egalitarianisme ini pantas menimbulkan simpati kita. Semua manusia memang sama.
Pemikiran ini memang merupakan keyakinan umum sejak zaman modern, artinya sejak
revolusi Prancis menumbangkan monarki absolut dan feodalisme. Dalam artikel
pertama dari ―Deklarasi hak manusia dan warga negara‖ (1789) yang dikeluarkan waktu
revolusi Prancis dapat dibaca: ‖Manusia dilahirkan bebas serta sama haknya, dan
mereka tetap tinggal begitu‖. Beberapa tahun sebelumnya di Amerika Serikat dalam The
Declaration of independence (1776) sudah ditegaskan: ―All man are created equal”. Dan Amerika
Serikat dari semula melarang struktural-struktural feodal, sampai-sampai gelar
bangsawan pun yang dibawa oleh emigran dari Eropa dilarang pemakaiannya.9
Jika kita mengatakan bahwa semua manusia sama, yang terutama dimaksudkan
adalah martabatnya. Satu manusia tidak pernah lebih manusia daripada manusia lain.
Kenyataan ini mempunyai konsekuensi besar di beberapa bidang, misalnya, hukum.
Supaya adil, di hadapan hukum semua warga negara harus diperlakukan dengan cara
yang sama: orang kaya atau miskin, pejabat tinggi atau orang biasa, kaum ningrat atau
rakyat jelata. Mengapa begitu? Karena hukum hanya memandang warga negara sebagai
manusia dan martabat manusia selalu sama, terlepas dari ciri-ciri yang tidak relevan,
seperti kedudukan sosial, ras, jenis kelamin, agama dan lain-lain. Di sini pembagian
egalitarian memang satu-satunya cara yang adil. Namun demikian, walaupun martabat
manusia selalu sama, dalam banyak hal manusia tidak sama. Inteligensi dan
ketrampilannya, misalnya, sering tidak sama. Kemampuannya untuk menghasilkan
8
[Link] di unduh pada tanggal 15 Mei 2018.
9
K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis; Seri Filsafat Atmajaya: 21, (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hal. 97-98.
At-Ta’wil: Jurnal Pengkajian al-Qur’an dan at-Turats 65
Nomor 01 Volume 01
April 2019
Journal Homepage: [Link]
nilai ekonomis acap kali berbeda. Dan justru hal terakhir inilah penting dalam konteks
ekonomi dan bisnis. Karena itu sulit untuk menerapkan egalitarianisme dibidang
penggajian, umpamanya.10
Dengan cepat dapat diperlihatkan bahwa persamaan secara ekonomi dan sosial
hanya dapat diraih dengan mengorbankan kesetaraan politis, sebab manusia berbeda
dalam hal kemampuan, intelejensia, dan atribut-atribut lainnya. Dalam alam kebebasan,
pencapaian, status, penghasilan dan kekayaan orang akan berbeda-beda. Seorang
penyanyi berbakat akan mampu menarik penghasilan yang lebih besar dari seorang
penggali kubur dan lain sebagainya. Manusia bebas tidak setara secara ekonomi;
manusia yang setara secara ekonomi, bukanlah manusia bebas. Kesetaraan ekonomi
dan sosial hanya dapat dilakukan melalui interferensi koersif (yang bersifat
memaksa)—di sini disebut sebagai egalitarianisme koersif.11
Islam dan Egalitarianisme
Dalam kehidupan sosial yang semakin kompleks dan dinamis kerap terjadi
perubahan nilai-nilai kehidupan. Hal ini akan selalu berimbas pada problem perubahan
tatanan baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dari berbagai aspek, baik
sosial, ekonomi, pendidikan, hukum, budaya, politik, dan sebagainya. Transformasi
seperti ini disadari atau tidak, merupakan persoalan lama sejak abad-abad awal Islam
yang kemunculannya bisa disebut bersamaan dengan lahirnya tokoh-tokoh Islam
terkemuka, misalnya para Imam mazhab.12
Egalitarianisme Islam ini dalam pengertian yang luas berkaitan dengan keadilan,
eksistensi, demokrasi dan persamaan, prinsip-prinsip musyawarah [demokrasi
partisipatif], kebijaksanaan dan perwakilan. Ia juga terkait dengan kesadaran hukum,
termasuk dalil bahwa tidak seorang pun dapat dibenarkan bertindak di luar hukum.
Egalitarianisme dan kesadaran hukum ini telah dipraktekkan oleh Nabi dalam misi
kepemimpinannya untuk mengembangkan komunitas negara yang konstitusional.
Piagam Madinah, seperti konstitusi-konstitusi lainnya, adalah hasil kontrak sosial dan
pengakuan semua anggota masyarakat tanpa memandang latar belakang sosial
mereka.13
Lebih jauh, dalam analisis Watt, inisiatif Nabi Muhammad SAW yang berusaha
mempersatukan penduduk Madinah menjadi satu umat merupakan politik tipe baru.
Ia menulis ―the people of Madinah were now regard as constituting a political unit a new type, an
ummah or community‖.14
Hasil tatanan politik yang dibangun oleh Nabi Muhammad Saw. di Madinah
adalah suatu tatanan politik yang sangat modern, bahkan terlalu modern untuk zaman
dan tempatnya. Lebih lanjut Bellah mengatakan: ―Segi-segi modernitas Madinah itu
10
K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis... hal. 97-98.
11 11
Sukasih Syahdan, Tentang Kesetaraan, akal... hal. 1.
12
Moh. Asra Maksum, Egalitarianisme Fiqh Mu‘amalah dalam Sistem Ekonomi Islam, dalam Islamica Vol.
7 No. 1. 2012, hal. 241-242.
13
Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, (Bandung: Mizan, 1989), hal. 73-74.
14
W. Montgomery Watt, Islamic Political Thought, (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1968), hal. 94.
At-Ta’wil: Jurnal Pengkajian al-Qur’an dan at-Turats 66
Nomor 01 Volume 01
April 2019
Journal Homepage: [Link]
ialah tingkat yang tinggi dalam komitmen, keterlibatan dan partisipasi yang
diharapkan dari seluruh jajaran anggota masyarakat, dan keterbukaan posisi
kepemimpinannya terhadap ukuran kecakapan pribadi yang dinilai atas dasar
pertimbangan yang bersifat universal dan dilambangkan dalam percobaan untuk
melembagakan puncak kepemimpinan yang tidak bersifat keturunan. Karena itulah,
Madinah merupakan suatu model untuk bangunan masyarakat nasional modern yang
lebih baik‖.15
Setara dan Adil dalam Perspektif al-Qur’an
Istilah kesetaraan dalam kajian isu gender lebih sering digunakan dan disukai,
karena makna kesetaraan laki-laki dan perempuan lebih menunjukkan pada pembagian
tugas yang seimbang dan adil dari laki-laki dan perempuan. Untuk lebih memberikan
pemahaman akan makna kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, yang dalam hal ini
sering juga disebut dengan istilah kesetaraan gender, maka menurut Rianingsih
Djohani (1996:7) bahwa yang dimaksud dengan gender adalah: “pembagian peran,
kedudukan dalam tugas antara laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat
berdasarkan sifat perempuan dan laki-laki yang dianggap pantas menurut norma-norma, adat istiadat,
kepercayaan atau kebiasaan masyarakat”.16
Berdasarkan definisi di atas, maka yang dikategorikan dengan gender, misalnya
hal-hal berikut :
perempuan melakukan pekerjaan rumah tangga, sedangkan laki-laki dianggap
tidak pantas;
tugas utama laki-laki mengelola kebun, tugas perempuan ‗hanya membantu;
menjadi pemimpin masyarakat (lembaga adat, kepala desa, dsb) lebih pantas
oleh laki-laki;
kegiatan PKK dan program kesehatan keluarga, lebih pantas oleh perempuan.
Gender memiliki perbedaan bentuk antara satu masyarakat dengan masyarakat
lain karena norma-norma, adat istiadat, kepercayaan, dan kebiasaan masyarakat yang
berbeda-beda. Misalnya17
pekerjaan rumah tangga di hampir semua masyarakat manapun dilakukan oleh
perempuan; sedangkan di masyarakat perkotaan, mulai dianggap lumrah laki-
laki dan perempuan membagi tugas rumah tangga karena perempuan juga
bekerja mencari nafkah keluarga;
menjadi tukang batu dianggap tidak pantas dilakukan oleh perempuan, tetapi di
Bali perempuan biasa menjadi tukang batu;
di kebanyakan masyarakat petani, bekerja kebun adalah tugas laki-laki,
sedangkan di sejumlah masyarakat Irian, kerja kebun merupakan tugas utama
perempuan, karena berburu adalah tugas utama laki-laki.
15
Wahyuddin, dkk., Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Grasindo. Tth.), hal. 103.
16
Rahminawati, Nan, Isu Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan (Bias Gender), dalam Mimbar, No. 3 Th.
XVII, 2001, hal. 274.
17
Rahminawati, Nan, Isu Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan .... hal. 274.
At-Ta’wil: Jurnal Pengkajian al-Qur’an dan at-Turats 67
Nomor 01 Volume 01
April 2019
Journal Homepage: [Link]
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, keadilan sosial didefinisikan sebagai
sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak, berpihak kepada yang benar,
berpegang pada kebenaran.18
Kata adil (al-'adl) berasal dari bahasa Arab, dan dijumpai dalam al-Qur'an,
sebanyak 28 tempat yang secara etimologi bermakna pertengahan (Abd. Al-Baqiy, 1981:
448-449). Pengertian adil, dalam budaya Indonesia, berasal dari ajaran Islam. Kata ini
adalah serapan dari kata Arab ‗adl.19
Al-Qur‘an dalam banyak ayat memerintahkan pada kita untuk senantiasa
berbuat adil, di antaranya adalah;
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan...‖ (QS Al-Nahl [16]:
90).
Ihsan (kebajikan) dinilai sebagai sesuatu yang melebihi keadilan. Namun dalam
kehidupan bermasyarakat, keadilan lebih utama daripada kedermawanan atau ihsan.
Ihsan adalah memperlakukan pihak lain lebih baik dari perlakuannya, atau
memperlakukan yang bersalah dengan perlakuan yang baik. Ihsan dan kedermawanan
merupakan hal-hal yang baik pada tingkat antar individu, tetapi dapat berbahaya jika
dilakukan pada tingkat masyarakat. Imam Ali r.a. bersabda, "Adil adalah menempatkan
sesuatu pada tempatnya, sedangkan ihsan (kedermawanan) menempatkannya bukan
pada tempatnya." Jika hal ini menjadi sendi kehidupan bermasyarakat, maka
masyarakat tidak akan menjadi seimbang. Itulah sebabnya, mengapa Nabi Saw.
menolak memberikan maaf kepada seorang pencuri setelah diajukan ke pengadilan,
walau pemilik harta telah memaafkannya.20
Menurut Juhaya S. Praja, dalam Islam perintah berlaku adil ditujukan kepada
setiap orang tanpa pandang bulu. Perkataan yang benar harus disampaikan apa adanya
walaupun perkataan itu akan merugikan kerabat sendiri. Keharusan berlaku adil pun
harus dtegakkan dalam keluarga dan masyarakat muslim itu sendiri, bahkan kepada
orang kafir pun umat islam diperintahkan berlaku adil. Untuk keadilan sosial harus
ditegakkan tanpa membedakan karena kaya miskin, pejabat atau rakyat jelata, wanita
atau pria, mereka harus diperlakukan sama dan mendapat kesempatan yang sama. 21
Senada dengan itu, Sayyid Qutb menegaskan bahwa Islam tidak mengakui adanya
perbedaan-perbedaan yang digantungkan kepada tingkatan dan kedudukan.22
18
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hal. 8.
19
M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur‟an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci, (Jakarta
:Paramadina, 2002), hal. 369.
20
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur'an, (Bandung: Mizan, , 2003), hal. 124.
21
Juhaya S. Praja, Filsafat Hukum Islam, (Bandung: Pusat Penerbitan Universitas LPPM UNISBA, 1995), hal.
73.
22
Sayyid Qutb, Keadilan Sosial dalam Islam, dalam John J. Donohue dan John L. Esposito, Islam dan Pembaharuan,
Terj. Machnun Husein, Jakarta: CV Rajawali, 1984), hal. 224.
At-Ta’wil: Jurnal Pengkajian al-Qur’an dan at-Turats 68
Nomor 01 Volume 01
April 2019
Journal Homepage: [Link]
Salah satu sumbangan terbesar Islam kepada umat manusia adalah prinsip
keadilan sosial dan pelaksanaannya dalam setiap aspek kehidupan manusia. Islam
memberikan suatu aturan yang dapat dilaksanakan oleh semua orang yang beriman.
Setiap anggota masyarakat didorong untuk memperbaiki kehidupan material
masyarakat tanpa membedakan bentuk, keturunan dan jenis orangnya. Setiap orang
dipandang sama untuk diberi kesempatan dalam mengembangkan seluruh potensi
hidupnya.23
Ruang terbuka Bagi Kesetaraan Gender
Sebelum Islam datang atau pada masa jahiliyah, perempuan begitu tak berarti
dan selalu diberdayai oleh dominasi laki-laki dan selalu menjadi sasaran pelecehan dan
tindak kekerasan. Tetapi kondisi ini menjadi berbalik ketika Islam datang dan
menganggap perempuan adalah bagian penting dari suatu masyarakat yang beradab
dan berkemanusiaan yang ingin digapai oleh Islam itu sendiri. Bahkan Nabi ketika
ditanya oleh para shahabat tentang siapakah orang pertama yang wajib dihormati,
maka nabi menjawab: ‖ibumu, ibumu dan ibumu‖, sebanyak tiga kali, setelah itu baru
bapakmu. Bahkan ungkapan penghormatan nan indah dan mulia itu tidak hanya
berhenti sampai disitu, seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud,
bahwa surga berada dibawah telapak kaki ibu. Hal ini menunjukkan bahwa Islam ingin
mengangkat derajat dan posisi sosial mereka yang terabaikan pada masa jahiliyah.24
Di beberapa ayat al-Qur‘an, misalnya QS. Luqman, ketika Allah Swt.
menceritakan nasehat-nasehat Luqman terhadap putranya, belum selesai ayat ini
mengisahkan nasehat-nasehat tersebut, tiba-tiba Allah Swt. di ayat 14 mengangkat
tema penghormatan kepada ibu dengan sedikitnya tiga alasan mendasar, yakni karena
ibu yang mengandung, melahirkan dan menyusui/menyapih anak. Tema ini diangkat di
tengah Luqman memberikan nasehat-nasehat terhadap putranya, seolah hendak
menyampaikan pesan, bahwa penghormatan terhadap ibu juga menjadi hal yang paling
penting untuk ditanamkan terhadap setiap anak.
Dalam beberapa kasus yang terjadi pada masa jahiliyah, misalnya perempuan
tidak mendapatkan warisan, pada masa Islam, Nabi memberikan bagian warisan /tirkah
kepada perempuan, meskipun hanya diberi separo dari bagian laki-laki. Jika pada masa
jahiliyah perempuan juga tidak diperbolehkan menjadi saksi di depan pengadilan, maka
pada masa nabi kesaksian mereka diperbolehkan meskipun harus dengan dua orang,
dan masih banyak lagi permasalahan-permasalahan perempuan yang menjadi perhatian
Nabi Saw. Tetapi nampaknya dalam proses perjalanan umat Islam selanjutnya,
semangat dan kegigihan Nabi untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan di
atas mengalami stagnan, khususnya pada ranah penafsiran dan implimentasinya dalam
tatanan kehidupan dan apa yang dilakukan Nabi terhadap permasalahan perempuan
23
A. fzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam, jilid 1, Terj. Soeroyo, Nastangin, (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti
Wakaf, 1995), hal. 74.
24
Khoirun Anam, Perempuan Perspektif Tafsir Klasik dan Kontemporer, dalam De Jure, Jurnal Syariah dan
Hukum, Vol. 2 No. 2, 2010, hal. 138.
At-Ta’wil: Jurnal Pengkajian al-Qur’an dan at-Turats 69
Nomor 01 Volume 01
April 2019
Journal Homepage: [Link]
dianggap sudah final. Barangkali diantaranya inilah yang menjadi pemicu tindak
kekerasan dan kezaliman terhadap perempuan. Padahal dalam mewujudkan cita-cita
mulia yang ingin digapai oleh Islam harus mendapat dukungan dari semua aspek baik
dalam bentuk pemikiran, atau penafsiran yang sesuai dengan kehendak maqashid al-
syari‟ah termasuk perlindungan hukum dengan perangkat-perangkatnya dan perbaikan
yang terus menerus secara berkesinambungan dari semua pihak.25
Walaupun al-Qur‘an bukan kitab ilmiah -dalam pengertian umum- namun
kitab suci ini banyak sekali berbicara tentang masyarakat. Ini disebabkan karena fungsi
utama kitab suci ini adalah mendorong lahirnya perubahan-perubahan positif dalam
masyarakat, atau dalam istilah al-Qur‘an: litukhrija an-nas minadzulumati ilan nur
(mengeluarkan manusia dari gelap gulita menuju cahaya terang benderang). Dengan
alasan yang sama, dapat dipahami mengapa kitab suci umat Islam ini memperkenalkan
sekian banyak hukum-hukum yang berkaitan dengan bangun runtuhnya suatu
masyarakat. Bahkan tidak berlebih jika dikatakan bahwa al-Qur‘an merupakan buku
pertama yang memperkenalkan hukum-hukum kemasyarakatan.26 Berkaitan dengan
egalitarianisme, al-Qur‘an mengisyaratkan dalam ayat berikut;
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-
mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-
Hujuraat [49]: 13).
Ayat di atas sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan adalah pengantar untuk menegaskan bahwa semua manusia derajat
kemanusiaannya sama di sisi Allah, tidak ada perbedaan antara satu suku dengan yang
lain. Tidak ada juga perbedaan pada nilai kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan
karena semua diciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Pengantar
tersebut mengantar pada kesimpulan yang disebut oleh penggalan terakhir ayat ini
yakni ―sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa.‖
Karena itu berusahalah untuk meningkatkan ketaqwaan agar menjadi yang termulia di
sisi Allah. Diriwayatkan oleh Abu Daud bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abu
Hind yang pekerjaan sehari-harinya adalah pembekam. Nabi meminta kepada Bani
Bayadhah agar menikahkan salah seorang puteri mereka dengan Abu Hind, tetapi
mereka enggan dengan alasan tidak wajar mereka menikahkan puteri mereka
dengannya yang merupakan salah seorang bekas budak mereka. Sikap keliru ini
25
Khoirun Anam, Perempuan Perspektif Tafsir Klasik dan Kontemporer... hal. 138.
26
M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur‟an: Tafsir Maudhu‟i atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan,
1998), hal. 319.
At-Ta’wil: Jurnal Pengkajian al-Qur’an dan at-Turats 70
Nomor 01 Volume 01
April 2019
Journal Homepage: [Link]
dikecam oleh al-Qur‘an dengan menegaskan bahwa kemuliaan di sisi Allah bukan
karena keturunan atau garis kebangsawanan tetapi karena ketaqwaan. Ayat di atas
menegaskan kesatuan asal usul manusia dengan menunjukkan kesamaan derajat
kemanusiaan manusia. Tidak wajar seseorang berbangga dan merasa diri lebih tinggi
dari yang lain, bukan saja antar satu bangsa, suku, atau warna kulit dengan selainnya,
tetapi antar jenis kelamin mereka. Karena kalaulah seandainya ada yang berkata bahwa
Hawa yang perempuan itu bersumber dari tulang rusuk Adam, sedang Adam adalah
laki-laki, dan sumber sesuatu lebih tinggi derajatnya dari cabangnya, sekali lagi
seandainya ada yang berkata demikian maka itu hanya khusus terhadap Adam dan
Hawa, tidak terhadap semua manusia karena manusia selain mereka berdua -kecuali Isa
as.- lahir akibat percampuran laki-laki dan perempuan .27
Potensi dan kemampuan manusia berbeda-beda, bahkan potensi dan
kemampuan para rasul pun demikian (QS al-Baqarah [2]: 253). Perbedaan adalah sifat
masyarakat, namun hal itu tidak boleh mengakibatkan pertentangan. Sebaliknya,
perbedaan itu harus mengantarkan kepada kerja sama yang menguntungkan semua
pihak. Demikian kandungan makna firman-Nya pada surat Al-Hujurat (49): 13. Dalam
surat Az-Zukhruf (43): 32 tujuan perbedaan itu dinyatakan:
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara
mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka
atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang
lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
Setiap anggota masyarakat dituntut untuk fastabiqul khairat (berlomba-lombalah
di dalam kebajikan) (QS Al-Baqarah [2]: 148). Setiap perlombaan menjanjikan "hadiah".
Di sini hadiahnya adalah mendapatkan keistimewaan bagi yang berprestasi. Tentu akan
tidak adil jika peserta lomba dibedakan atau tidak diberi kesempatan yang sama.
Tetapi, tidak adil juga bila setelah berlomba dengan prestasi yang berbeda, hadiahnya
dipersamakan, sebab akal maupun agama menolak hal ini.
Islam secara tegas menempatkan perempuan setara dengan laki-laki, yakni
dalam posisi sebagai manusia, ciptaan sekaligus hamba Allah swt. Meskipun secara
biologis berbeda, bukan berarti menghalangi aktivitas perempuan untuk dapat
melakukan perbuatan baik dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt, karena al-
Quran menegaskan bahwa tingkat kemulian–baik laki-laki maupun perempuan–dilihat
dari sisi ketakwaannya, bukan dari perbedaan biologis. Dari kisah-kisah perempuan
yang terdapat dalam al-Quran terlihat bahwa perempuan pun, sebagaimana laki-laki,
mempunyai potensi untuk beriman dan ingkar terhadap Allah swt. Al-Quran sendiri
27
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur‟an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002),
hal. 260-261.
At-Ta’wil: Jurnal Pengkajian al-Qur’an dan at-Turats 71
Nomor 01 Volume 01
April 2019
Journal Homepage: [Link]
menegaskan beberapa perempuan yang menjadi ―contoh‖ di dalam surat al-Tahrîm ayat
10-12. Ada empat tokoh dalam perempuan dalam ayat-ayat itu, dua orang merupakan
contoh buruk (tentang perempuan yang tidak beriman; istri Nabi Nuh dan istri Nabi
Luth) dan dua orang lagi merupakan contoh yang baik (untuk orang-orang yang
beriman; Istri Firaun dan Maryam, Ibu Nabi Isa a.s.). Hal ini menurut Barbara F.
Stowasser dapat dikatakan sebagai gambaran dari apa yang terjadi di masa lalu dan
merupakan ―fakta sejarah‖.28
Kesimpulan
Islam adalah agama yang secara inheren mengusung semangat egalitarianisme.
Fakta tentang varian-varian Islam yang sentral, formal dan murni adalah egalitarian dan
ilmiah. Dalam pengertian doktrin Egalitas ini mempertahankan bahwa pada hakikatnya
semua manusia adalah sama dalam status nilai atau moral secara fundamental. Atau
dapat didefinisikan secara baik sebagai doktrin politik yang menyatakan bahwa semua
orang harus diperlakukan secara setara dan memiliki hak-hak politik, ekonomi, sosial,
dan sipil yang sama, atau dalam pengertian filsafat sosial penganjur penghapusan
kesenjangan ekonomi antara orang-orang atau adanya semacam
redistribusi/desentralisasi kekuasaan.
Islam secara tegas menempatkan perempuan setara dengan laki-laki, yakni
dalam posisi sebagai manusia, ciptaan sekaligus hamba Allah swt. Meskipun secara
biologis berbeda, bukan berarti menghalangi aktivitas perempuan untuk dapat
melakukan perbuatan baik dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt, karena al-
Quran menegaskan bahwa tingkat kemulian–baik laki-laki maupun perempuan–dilihat
dari sisi ketakwaannya, bukan dari perbedaan biologis. Dari kisah-kisah perempuan
yang terdapat dalam al-Quran terlihat bahwa perempuan pun, sebagaimana laki-laki,
mempunyai potensi untuk beriman dan ingkar terhadap Allah swt. Al-Quran sendiri
menegaskan beberapa perempuan yang menjadi ―contoh‖ di dalam surat al-Tahrîm ayat
10-12. Ada empat tokoh dalam perempuan dalam ayat-ayat itu, dua orang merupakan
contoh buruk (tentang perempuan yang tidak beriman; istri Nabi Nuh dan istri Nabi
Luth) dan dua orang lagi merupakan contoh yang baik (untuk orang-orang yang
beriman; Istri Firaun dan Maryam, Ibu Nabi Isa a.s.). Hal ini menurut Barbara F.
Stowasser dapat dikatakan sebagai gambaran dari apa yang terjadi di masa lalu dan
merupakan ―fakta sejarah‖.
28
Barbara Freyer Stowasser, Reinterpretasi Gender; Wanita Dalam al-Quran, Hadis Dan Tafsir, Alih bahasa: H.M.
Mochtar Zoerni (Jakarta: Pustaka Hidayah, 2001), hal. 555.
At-Ta’wil: Jurnal Pengkajian al-Qur’an dan at-Turats 72
Nomor 01 Volume 01
April 2019
Journal Homepage: [Link]
BIBLIOGRAFI
Abd al-Baqiy, Muhammad Fu'ad, 1981, Al-Mu'jam al-Mufahras li Alfaz Al-Qur'an al-Karim,
Beirut: Dar al-Fikr.
Anam, Khoirun, 2010, Perempuan Perspektif Tafsir Klasik dan Kontemporer, dalam De
Jure, Jurnal Syariah dan Hukum, Vol. 2 No. 2, 138.
Depdiknas, 2002, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
K. Bertens, 2000, Pengantar Etika Bisnis; Seri Filsafat Atmajaya: 21, Yogyakarta: Kanisius.
Madjid, Nurcholish, 1989, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, Bandung: Mizan.
Maksum, Moh. Asra, 2012, Egalitarianisme Fiqh Mu‘amalah dalam Sistem Ekonomi
Islam, dalam Islamica Vol. 7 No. 1. 241-242.
Mas‘udi, Masdar F., 1997, Islam dan Hak-hak Reproduksi Perempuan; Dialog Fiqih
Pemberdayaan, Bandung: Mizan.
Marzuki dan Suharno, Keterlibatan Perempuan dalam Bidang Politik pada Masa Nabi
Muhammad SAW. dan Masa Khulafaur Rasyidin (suatu Kajian Historis), dalam Jurnal
Penelitian Humaniora, Vol. 13, No. 1, April 2008: hal. 80.
Qutb, Sayyid, 1984, Keadilan Sosial dalam Islam, dalam John J. Donohue dan John L. Esposito,
Islam dan Pembaharuan, Terj. Machnun Husein, Jakarta: CV Rajawali.
Rahardjo, [Link], 2002, Ensiklopedi Al-Qur‟an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep
Kunci, Jakarta :Paramadina.
Rahman, A. fzalur, 1995, Doktrin Ekonomi Islam, jilid 1, Terj. Soeroyo, Nastangin,
Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf.
Rahminawati, Nan, Isu Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan (Bias Gender), dalam
Mimbar, No. 3 Th. XVII, 274.
S. Praja, Juhaya, 1995, Filsafat Hukum Islam, Bandung: Pusat Penerbitan Universitas
LPPM UNISBA.
Shihab, M. Quraish, 2002, Tafsir Al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur‟an, Jakarta:
Lentera Hati.
_____________, 1998, Wawasan al-Qur‟an: Tafsir Maudhu‟i atas Pelbagai Persoalan Umat,
Bandung: Mizan.
_____________, 2003, Wawasan Al-Qur'an, Bandung: Mizan.
Stowasser, Barbara Freyer, Reinterpretasi Gender; Wanita Dalam al-Quran, Hadis Dan
Tafsir, Alih bahasa: H.M. Mochtar Zoerni (Jakarta: Pustaka Hidayah, 2001)
Syahdan, Sukasih, 2007, Tentang Kesetaraan, akal dan kehendak, dalam Akal dan
Kehendak Vol. I Edisi No. 5, 1.
Watt, W. Montgomery, 1968, Islamic Political Thought, Edinburgh: Edinburgh University
Press.
Wahyuddin, dkk. Tth, Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Grasindo.
Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur‘an. 1986. Al-Qur‟an dan Terjemahnya.
Jakarta: Departemen Agama.
Zainal, Asliah, 2013, Egalitarian Laki-laki dan Perempuan dalam Keluarga Islam; Antara
Idealitas dan Realitas, dalam Shautut Tarbiyah, Jurnal Studi Ilmu-ilmu Sosial dan
Keislaman Ed. Ke-29 Th. XIX, 3-4.
At-Ta’wil: Jurnal Pengkajian al-Qur’an dan at-Turats 73