0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
82 tayangan17 halaman

Asuhan Keperawatan Pasien Risiko Bunuh Diri

Laporan ini membahas asuhan keperawatan pasien dengan resiko bunuh diri di rumah sakit jiwa. Terdapat penjelasan mengenai konsep resiko bunuh diri, etiologi, tanda dan gejala, serta respon protektif diri. Laporan ini bertujuan untuk memberikan panduan asuhan keperawatan yang tepat bagi perawat dalam merawat pasien dengan resiko bunuh diri.

Diunggah oleh

Devrinda Ayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
82 tayangan17 halaman

Asuhan Keperawatan Pasien Risiko Bunuh Diri

Laporan ini membahas asuhan keperawatan pasien dengan resiko bunuh diri di rumah sakit jiwa. Terdapat penjelasan mengenai konsep resiko bunuh diri, etiologi, tanda dan gejala, serta respon protektif diri. Laporan ini bertujuan untuk memberikan panduan asuhan keperawatan yang tepat bagi perawat dalam merawat pasien dengan resiko bunuh diri.

Diunggah oleh

Devrinda Ayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DENGAN PASIEN


RESIKO BUNUH DIRI DI RUMAH SAKIT JIWA MENUR SURABAYA

ANIK FATIMATUR RUSDIYAH


1120021012

PRODI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
2021
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan ini dibuat dan disusun sebagai bukti
bahwa mahasiswa di bawah ini telah mengikuti Praktikum Profesi Ners :
Nama Mahasiswa :
NPM :
Kompetensi :
Waktu Pelaksanaan :
Tempat :
Ruang :

Surabaya,

NPM.

Mengetahui,

Kepala Ruangan Pembimbing Klinik

NPP. NPP.

Pembimbing Akademik

NPP.
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Konsep Resiko Bunuh Diri


1. Definisi
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat membantah
[Link] diri mungkin merupakan keputusan terkahir dari individu untuk
memecahkan masalah yang [Link] membunuh diri dapat diartikan sebagai risiko
individu untuk terlukaidiri sendiri, mencederai diri, serta mengancam jiwa. (Nanda, 2012)

Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena pasien berada dalam keadaan stres
yang tinggi dan menggunakan koping yang [Link] gawat pada bunuh diri adalah
saat ide bunuh diri timbul secara berulang tanpa rencana yang spesifik atau percobaan bunuh
diri atau rencana yang spesifik untuk bunuh [Link] karena itu, diperlukan pengetahuan dan
keterampilan perawat yang tinggi dalam merawat pasien dengan tingkah laku bunuh diri, agar
pasien tidak melakukan tindakan bunuh diri. (Yusuf, 2015)

Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri
[Link] bunuh diri yang tampak pada seseorang disebabkan karena stres yang
tinggi dan kegagalan mekanisme koping yang digunakan dalam mengatasi masalah.
(Damaiyanti,2012)

Percobaan bunuh diri adalah upaya tindakan mandiriyang diambil oleh seseorang
yang akan menyebabkan kematian jika tidak dihentikan. Semua ancaman dan upaya bunuh
diri harus dianggap serius, kewaspadaan di perlukan ketika seseorang berencana atau
mencoba metode yang sangat mematikan, seperti tembakan, menggantung, atau
[Link] yang kurang mematikan diantaranya adalah overdosis karbon monoksida
dan obat, yang memberikan waktu untuk diselamatkan setelah aksi bunuh diri dimulai.
(Stuart, 2016)

2. Etiologi
Berdasarkan 3 sebab dibutuhkan sebagai berikut:

1. Genetika dan teori biologi


Faktor genetik yang dapat mempengaruhi hasil langsung sesuai dengan
kebutuhannya. Disamping itu adalah penurunan serotonin yang dapat
menyebabkan depresi yangberkontribusi pada risiko bunuh diri.
2. Teori sosiologi
Emile Durkheim membagi bunuh diri dalam 3 kategori yaitu: Egoistik (orang
yang tidak terintegrasi pada kelompok sosial), atruistik (melakukan bunuh diri
untuk kesejahteraan masyarakat) dan anomik (bunuh diri terkait dengan orang
lain dan beradaptası dengan stressor)
3. Teori psikologi
Sigmund Freud dan Karl Menninger meyakini apa yang menyebabkan diri
merupakan hasil dari kemarahan yang diarahkan pada dirisendiri.
Penyebab masing-masing golongan usia:
1. Pada anak
a. Pelarian dari penganiayaan atau pemerkosaan,
b. situasi keluarga yang terganggu
c. Perasaan tidak disayang atau selaia dikritik
d. Gagal sekolah
e. Takut atau dihina di sekolah
f. Kehilangan crang yang dicintai
g. Di hukum orang lain
2. Pada remaja
a. Hubungan interpersonal yang tidak bermakna.
b. Sulit mempertahankan hubungan interpersonal.
c. Pelarian dari penganiayaan fisik atau pemerkosaan
d. Perasaan tidak di mengerti orang lain.
e. Kehilangan orang yang dicintai.
f. Keadaan fisik.
g. Masalah dengan orang tua.
h. Masalah seksual.
3. Pada dewasa
a. Selt-ideal terlalu tinggi.
b. Cemas akan tugas akademik yang banyak.
c. Kegagalan akademik
d. Kehilangan penghargaan dan kasih saying orang tua.
e. Kompetisi untuk sukses.
4. Pada usia lanjut
a. Perubahan status dari mandiri ketergantungan.
b. Penyakit yang murunkan kemampuan berfungsi.
c. Perasaan yang tidak berarti di masyarakat.
d. Kesepian dan isolasi social.
e. Kehilangan ganda (seperti kesahatan, pekerjaan, pasangan.)
f. Sumber hidup berkurang.
Berdasarkan proses terjadinya sebagai berikut :
1) Faktor Predisposisi
a. Diagnosis Psikiatri
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan cara
bunuh diri mempunyai riwayat gangguan [Link] gangguan jiwa yang
dapat membuat individu berisiko untuk melakukan tindakan bunuh diri
adalah gangguan efektif, penyalagunaan zat, dan skizofreni.
b. Sifat kepribadian
Tiga tipe keperibadian yang erat hubungannya dengan besarnya resiko
bunuh diri adalah antipati, impulsif, dan depresi.
c. Lingkungan psikososial
Pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan sosial, kejadian-
kejadian negatif dalam hidup, penyakit kronis, perpisahan dan bahkan
[Link] dukungan sosial sangat penting dalam menciptakan
intervensi yang terapiutik, dengan terlebih dahulu mengetahui penyebab
maslah, respon seorang dalam menghadapi masalah tersebut, dan lain-
lain.
d. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor
penting yang dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuh
diri.
e. Faktor Biokimia
Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko bunuh diri terjadi
peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak seperti serotonim,
adrenalin, dan dopamine. Peningkatan zat tersebut dapat dilihat melalui
rekaman gelombang otak Electro enchepalo graph (EEG).
2) Faktor presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stres yang berlebihan
yang dialami oleh [Link] sering kali berupa kejadian hidup
yang memalukan. Faktur lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat
atau membaca melalui medaia mengenai orang yang melakukan bunuh diri
ataupun percobaan bunu diri. Bagi individu yang emosinya labil, hal
tersebut menjadi sangat rentan.
a. Perilaku koping
Klien dengan penyakit kronik atau penyakit yang mengancam
kehidupan dapat melakukan perilaku bunuh diri dan sering kali orang ini
secara sadar memilih untuk melakukan tindakan bunuh [Link]
bunuh diri berhubungan dengan banyak faktor, baik faktor sosial maupun
[Link] yang aktif dalam kegiatan masyarakat lebih mampu
menoleransi stres dan menurunkan angka bunuh diri.
b. Mekanisme koping
Seorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme koping
yang berhubungan dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial,
rasionalization, regression dan megical thinking. Mekanisme pertahanan
diri yang ada seharusnya tidak ditentang tanpa memberikan koping
alternatif.

3. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala dari resiko bunuh diri adalah :

a. Mempunyai ide untuk bunuh diri.

b. Mengungkapkan keinginan untuk mati.

c. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.

d. Inpulsif.

e. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh).

f. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri.

g. Verbal terselubung ( berbicara tentang kematian, menayakan tentang obat dosis


mematikan)

h. Status emosional ( harapan, penolakan, cemas meningkat, panik, marah dan


mengasingkan diri).

i. Kesehatan mental( secara klinis, klien terlihat sebagai orang depresi, psikosis dan
menyalagunakan narkoba).

j. Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronik atau terminal).

k. Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau mengalami kegagalan


dalam karier).

l. Umur 15-19 tahun atau diatas 45 tahun.

m. Status perkawinan (mengalami kegagalan dalam perkawinan).

n. Pekerjaan.

o. Konflik interpersonal.

p. Latar belakang keluarga.

q. Orientasi seksual.

r. Sumber-sumber personal.

(Muhajir, 2016)
4. Rentang Respon Protektif Diri
Respon adaptif respon maladaptif

Peningkatan Pengambilan Perilaku destruktif pencederaan bunuh diri resiko yang


meningkatkan langsung pertumbuhan

Keterangan :

a) Peningkatan diri
Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara wajar terhadap
situasional yang membutuhkan pertahanan [Link] contoh seseorang
mempertahankan diri dari pendapatnya yang berbeda mengenai loyalitas terhadap
pimpinan ditempat kerjanya.
b) Berisiko destruktif
Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami perilaku destruktif atau
menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya dapat mempertahankan
diri,seperti seseorang merasa patah semangat bekerja ketika dirinya dianggap tidak
loyal terhadap pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan secara optimal.
c) Destruktif diri tidak langsung
Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat terhadap situasi yang
membutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri. Misalnya, karena pandangan
pimpinan terhadap kerjanya yang tidak loyal, maka seorang karyawan menjadi tidak
masuk kantor atau bekerja seenaknya dan tidak optimal.
d) Pencederaan diri
Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri akibat hilangnya
harapan terhadap situasi yang ada (putus asa)
e) Bunuh diri
Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan nyawanya hilang.
f) Respons adaptif
Merupakan respon atau masalah yang masih dapat ditoleransi atau masih dapat di
selesaikan oleh kita sendiri dalam batas yang normal.

g) Respons maladatif
Merupakan respon yang diberikan individu dalam menyelesaikan masalahnya
menyimpang dari norma-norma dan kebudayaan suatu tempat atau dengan kata lain diluar
batas individu tersebut.

5. Tahapan Resiko Bunuh Diri


a. Suicide Ideation
Pada tahap ini merupakan proses contemplasi dari suicide, atau sebuah metode
yang digunakan tanpa melakukan aksi/tindakan, bahkan klien pada tahap ini tidak
akan mengungkapkan idenya apabila tidak ditekan. Walaupun demikian, perawat
perlu menyadari bahwa pasien pada tahap ini memiliki pikir:n tentang keinginan
untuk mati
b. Suicide intent
Pada tahap ini klien mulai berpikir dan sudah melakukan perencanaan yang
konkrit untuk melakukan bunuh diri 3.
c. Suicide threat
Pada tahap ini klien mengekspresikan adanya keirginan dan hasrat yang
dalam, bahkan ancaman untuk mengakiniri hidupnya.
d. Suicide gesture
Pada tahap ini klien menunjukkan perilaku destruktif yang diarahkan pada diri
sendiri yang bertujuan tidak hanya mengancam kehidupannya tetapi sudah pada
percobaan untuk melakukan bunuh [Link] yang dilakukan pada fase ini
pada umumnya karena individu memahami ambivalen antara mati dan hidup dan
tidak berencana untuk [Link] ini masih memiliki kemauan untuk hidup,
ingin di selamatkan, dan individu ini sedang mengalami konflik [Link] ini
sering di namakan. "Crying for help" sebab individu ini sedang berjuang dengan
stress yang tidak mampu di selesaikan.
e. Suicide attempt
Pada tahap ini perilaku destruktif klien yang mempunyai indikasi individu
ingin mati dan tidak mau diselamatkan misalnya minum obat yang mematikan
.walaupun demikian banyak individu masih mengalami ambivalen akan
kehidupannya.

f. Suicide
Tindakan yang bermaksud membunuh diri sendiri .hal ini telah didahului oleh
beberapa percobaan bunuh diri sebelumnya.30% orang yang berhasil melakukan
bunuhdiri adalah orang yang pernah melakukan percobaan bunuh diri sebelumnya.

6. Klasifikasi Resiko Bunuh Diri


a. Jenis Bunuh Diri
1) Bunuh diri egoistik
Akibat seseorang yang mempunyai hubungan sosial yang buruk.
2) Bunuh diri altruistic
Akibat kepatuhan pada adat dan kebiasaan.
3) Bunuh diri anomik
Akibat lingkungan tidak dapat memberikan kenyamanan bagi individu.
b. Pengelompokan Bunuh Diri
1) Isyarat bunuh diri
Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan berperilaku secara tidak langsung
ingin bunuh diri, misalnya dengan mengatakan “Tolong jaga anak-anak karena
saya akan pergi jauh!” atau “Segala sesuatu akan lebih baik tanpa saya.”Pada
kondisi ini pasien mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri hidupnya,
tetapi tidak disertai dengan ancaman dan percobaan bunuh [Link]
umumnya mengungkapkan perasaan seperti rasabersalah/sedih/marah/putus
asa/tidak berdaya. Pasien juga mengungkapkan hal-hal negatif tentang diri
sendiri yang menggambarkan harga diri rendah.
2) Ancaman bunuh diri
Ancaman bunuh diri umumnya diucapkan oleh pasien, yang berisi
keinginan untuk mati disertai dengan rencana untuk mengakhiri kehidupan
dan persiapan alat untuk melaksanakan rencana [Link] aktif pasien
telah memikirkan rencana bunuh diri, tetapi tidak disertai dengan percobaan
bunuh [Link] dalam kondisi ini pasien belum pernah mencoba bunuh
diri, pengawasan ketat harus [Link] sedikit saja dapat
dimanfaatkan pasien untuk melaksanakan rencana bunuh dirinya.
3) Percobaan bunuh diri
Percobaan bunuh diri adalah tindakan pasien mencederai atau melukai
diri untuk mengakhiri kehidupannya. Pada kondisi ini, pasien aktif mencoba
bunuh diri dengan cara gantung diri, minum racun, memotong urat nadi, atau
menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi.

7. Pohon Masalah

Bunuh diri

Risiko mencederai diri sendiri, orang lain


dan lingkungan

Resiko bunuh diri

Harga diri rendah kronis


B. Asuhan Keperawatan Secara Teori
1. Pengkajian
a. Identitas klien
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, diagnosa medis, Pendidikan dan
pekerjaan.
b. Keluhan utama dan alasan masuk
Apa yang menyebabkan klien dan keluarga dating atau dirawat di rumah sakit,
biasanya berupa sikap percobaan bunuh diri, komunikasi dengan keluarga
kurang, tidak mampu berkonsentrasi, merasa gagal, merasa tidak berguna dan
merasa tidak yakin melangsungkan hidup.
c. Faktor predisposisi
Menanyakan apakah keluarga mengalami gangguan jiwa, bagaimana hasil
pengobatan sebelumnya, apakah pernah melakukan atau mengalami
penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam
keluarga dan tindakan [Link] kepada klien dan keluarga
apakah ada yang mengalami gangguan jiwa, menanyakan kepada klien tentang
pengalaman yang tidak menyenangkan.
d. Aspek fisik atau biologis
Memeriksa tanda-tanda vital, tinggi badan, berat badan, dan tanyakan apakah
ada keluhan fisik yang dirasakan klien .apakah ada bekas percobaan bunuh diri
pada leher, pergelangan tangan maupun dibagian tubuh lainnya. Pasien
biasanya mengeluh sakit pada dirinya, pusing ataupun tidak dapat melakukan
aktifitas seperti [Link] mengeluh bahwa dirinya sudah tidak mampu
beraktivitas.
e. Aspek psikososial
1. Genogram
a) Menggambarkan klien dengan keluarga, dilihat dari pola komunikasi,
pengambilan keputusan dan pola asuh.
b) Konsep diri
c) Gambaran diri
Pasien merasa tidak ada yang ia sukai agi dari dirinya, ada bagian
tubuh pasien yang mengalami penurunan fungsi sehingga pasien tidak
bisa menerima keadaan tubuhnya.
d) Identitas diri
Pasien berstatus sudah menikah ataupun belum, merasa tidak puas
dengan status ataupun pekerjaannya sedang dapat mempengaruhi
hibungan social dengan orang lain.
2. Peran diri
Klien dengan resiko bunuh diri merasa tidak mampu melaksanakan tugas
atau peranannya baik dalam keluarga, pekerjaan atau dalam kelompok
masyarakat.
3. Ideal diri
Pasien merasakan kesedihan dan keputusasaan yang sangat mendalam
tidak ada harapan lagi dengan masalah yang menimpanya.
4. Harga diri
Pasien mengatakan hal yang negative tentang dirinya yang menunjukan
harga diri yang rendah, selalu berfikiran negative kepada orang lain bahwa
dirinya tidak lagi dihargai dan dianggap.
f. Hubungan sosial
Pasien dengan resiko bunuh diri cenderung ada gangguan dalam berhubungan
dengan prang lain, mereka tidak dapat berhubungan dengan orang lain, tidak
dapat berperan dikelompok masyarakat sering mengeluh atau curhat ke orang
lain yang dipercayai bahwa ia ingin mengakhiri hidupnya.
g. Status mental
Penampilan pasien tidak rapi, acak-acakan, malas untuk membersikan tubuh,
rambut, kuku.
h. Pembicaraan nya lesu dan topik yang dibicarakan tentang kematian dan
penyesalan hidup.
i. Aktivitas motoric klien lebih mengarah untuk mengakhiri hidupnya missal
membenturkan kepalanya, melukai badannya.
j. Efek dan emosi : perasaan sedih, rasa tidak berguna, gagal, kehilangan,merasa
berdosa, putus asa.
k. Interaksi selama wawancara: kontak kurang, tidak mau menatap lawan bicara.
Pasien tidak kooperatif, tidak mau mendengarkan pendapat atau saran.
l. Persepsi sensori : adanya halusinasi pendengaran yang menyeluruhnya
mengakhiri hidupnya.
m. Tingkat kesadaran : bingung, seseorang yang ingin melakukan bunuh diri
merasa dirinya bingung karena adanya kejadian-kejadian negative dalam
hidupnya.
n. Memori: ingatan yang keliru dan dimanifestasikan dengan pembicaraan tidak
sesuai dengan kenyataan dengan memasukkan cerita yang tidak benar untuk
menutupi daya ingatannya. Perilaku bunuh diri biasanya bercerita yang tidak
sesuai dengan kenyataan.
o. Tingkat konsentrasi dan berhitung
 Mudah berahli : perhatian perilaku bunuh diri mudah berganti dari satu
objek ke objek lain
 Tidak mampu berkonsentrasi : perilaku bunuh diri tidak mampu untuk
berkonsentrasi dengan baik. Selalu meminta agar pertanyaan diulang
atau tidak dapat menjelaskan kembali pembicaraan.
 Tidak mampu berhitung: perilaku bunuh diri tidak dapat melakukan
penambahan atau pengurangan pada benda-benda.
p. Kemampuan penilaian
 Gangguan kemampuan penilaian ringan : dapat mengambil keputusan
yang sederhana dengan bantuan orang lain.
 Gangguan kemampuan penilaian bermakna : tidak mampu mengambil
keputusan ealaupun dibantu orang lain.
q. Kebutuhan persiapan pulang
r. Mekanisme koping
s. Masalah psikososial dan lingkungan
Pasien mendapat perilaku yang tidak wajar dari lingkungan seperti pasien diajak
dan direndahkan karena pasien menderita gangguan jiwa.
t. Pengetahuan
Kurang pengetahuan dalam hal mencari bantuan,factor predisposisi, koping
mekanisme dan system pendukung dan system pendukung dan obat-obatan
sehingga penyakit semakin berat.
u. Aspek medic
2. Diagnosa keperawatan
a. Risiko bunuh diri
b. Harga diri rendah kronis
3. Intervensi
Fokus pertama dari rencana asuhan keperawatan untuk orang dengan perilaku
mencederai diri sendiri harus fokus ada melindungi klien dari [Link] itu,
rencana tersebut harus mengatasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap perilaku
klien yang [Link] selanjutnya dapat berfokus pada pengembangan
penghayatan pada perilaku bunuh diri dan mengganti mekanisme koping yang
[Link] bunuh diri dapat ditritmen pada berbagai [Link] tentang
tatanan yang paling sesuai untuk klien diberikan berdasarkan pada pengkajian risiko.
(Struat, 2016).

Walaupun kesadaran akan bunuh diri sangat besar, namun keberhasilan upaya
pencegahan, dan efektivitas tindakan, dalam mentritmen perilaku bunuh diri masih
terbatas. Individu yang datang ke unit gawat darurat setelah percobaan bunuh diri
sangat sulit untuk patuh terhadap untuk ditritmen, mencapai 50% menolak rawat
jalan, dan 60% putus obat setelah satu kali kunjungan (Struat, 2016).

Keterlibatan dalam tritmen sangat penting, tetapi sering [Link]


motivasi dapat meningkatkan keterlibatan klien yang mencoba bunuh [Link]
singkat dapat digunakan di unit gawat [Link] lanjutan adalah aspek yang
diabaikan dalam perawatan yang dapat membantu mengurangi perilaku bunuh diri.
Faktor lain yang penting dalam menentukan tritmen adalah penilaian klien. Apa pun
penilaian klien dan pengambilan keputusan rasional klien akan meningkatkan risiko
percobaan bunuh diri dan merupakan indikasi yang baik untuk rawat inap. Masalah
terakhir adalah ketersediaan anggota keluarga yang bertanggung jawab atau teman
dekat yang bersedia untuk tinggal dengan klien selama fase krisis sampai keinginan
bunuh diri [Link] - kadang hal ini memerlukan beberapa anggota keluarga
bergantian menemani dan mengobservasi klien setiap [Link] analisis akhir,
keselamatan klien adalah prioritas utama. (Struat, 2016)

DIAGNOSA
PERENCANAAN
KEPERAWA TUJUAN KRITERIA INTERVENSI RASIONAL
TAN (TUK/TUM EVALUASI
)
Dx 1 : TUM : Pasien 1.1 BHBS dengan Kepercayaan dari
Resiko Pasien menunjukkan pasien merupakan
mengemukakan
bunuh diri : tidak tanda-tanda hal yang akan
Ancaman / mencederai percaya prinsip mempermudah
percobaan dirinya kepada perawat dalam
komunikasi
bunuh diri. sendiri/tida perawat,mela melakukan
k lui : terapeutik : pendekatan
melakukan a) Ekspresi keperawatan/inter
bunuh diri. a) Mengucap vensi selanjutnya
wajah
terhadap pasien.
TUK 1 : cerah, kan salam
Pasien terapeutik.
tersenyu
dapat
membina m. Sapa
hubungan pasien
saling b) Mau
percaya. dengan
berkenala
ramah,baik
n.
verbal
maupun
c) Ada non verbal.
kontak
b) Berjabat
mata.
tangan
d) Bersedia dengan
mencerita pasien.
kan
c) Memperke
perasaany
nalkan diri
a.
dengan
e) Bersedia sopan.
mengung
d) Tanyakan
kapkan
nama
masalah.
lengkap
pasien dan
nama
panggilan
yang
disukai
pasien.

e) Jelaskan
tujuan
pertemuan.

a. Membantu
kontrak
topic,waktu,dan
tempat setiap kali
bertemu pasien.

b. Tunjukkan sikap
empati dan
menerima pasien
apa adanya.
c. Beri perhatian
kepada pasien
dan perhatian
kebutuhan dasar
pasien.

TUK 2 : Pasien tetap 2.1 Menemani pasien Pasien tidak


Pasien tetap aman,terlindu terus menerus melakukan
aman dan ngi dan sampai dia dapat tindakan
terlindungi. selamat. dipindahkan ke percobaan bunuh
tempat yang aman. diri.
2.2 Menjauhkan
benda-benda yang
berbahaya atau
yang berpotensi
membahayakan
pasien (missal :
pisau, silet, kaca,
gelas, ikat
pinggang).

2.3 Mendapatkan
orang yang dapat
dengan segera
membawa pasien
ke rumah sakit
untuk pengkajian
lebih lanjut dan
kemungkinan
dirawat.

2.2 Memeriksa apakah


pasien benar-benar
meminum
obatnya, jika
pasien
mendapatkan obat.

2.3 Dengan lembut


menjelaskan
kepada pasien
bahwa anda
(perawat) akan
melindungi pasien
sampai tidak ada
keinginan bunuh
diri.

4. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan
perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi ke status
kesehatan yang lebih baik menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan. (Potter &
Perry, 2011)

5. Evaluasi
Evaluasi merupakan proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari
tindakan keperawatan pada pasien. Evaluasi ada dua macam, yaitu evaluasi proses
atau evaluasi formatif, yang dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan, dan
evaluasi hasil atau sumatif, yang dilakukan dengan membandingkan respons pasien
pada tujuan khusus dan umum yang telah ditetapkan.
Evaluasi dilakukan dengan pendekatan SOAP, yaitu sebagai berikut.
S : respons subjektif pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
O : respons objektif pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
A : analisis terhadap data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah masalah
masih tetap ada, muncul masalah baru, atau ada data yang kontradiksi terhadap
masalah yang ada.
P : tindak lanjut berdasarkan hasil analisis respons pasien.
Rencana tindak lanjut dapat berupa hal sebagai berikut.
1. Rencana dilanjutkan (jika masalah tidak berubah).
2. Rencana dimodifikasi (jika masalah tetap, sudah dilaksanakan semua tindakan
tetapi hasil belum memuaskan).
3. Rencana dibatalkan (jika ditemukan masalah baru dan bertolak belakang dengan
masalah yang ada).
Rencana selesai jika tujuan sudah tercapai dan perlu mempertahankan keadaan baru.
DAFTAR PUSTAKA

Aulia, Nur, 2019. Analisis Hubungan Faktor Risiko Bunuh Diri dengan Ide Bunuh Diri pada
Remaja. Jurnal Keparawatan 11(4)

Azizah, Lilik Ma’rifatul, Dkk. [Link] Ajar Keperawatan Kesehatan [Link] :


Inomeedia Pustaka

Damayanti, M & Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta : Salemba Medika

Iyus, Yosep. 2011. Keperawatan jiwa, Edisi 4. Jakarta : Refika Aditama

Keliat, Budi Anna & Akemat. 2010. Model Praktik Keperawatan Profesional [Link] :
Buku Kedokteran : EGC

Nanda, [Link] Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : Buku


Kedokteran : EGC

Stuart. Gail. W, [Link] Kesehatan Jiwa. Indonesia : Elsever

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosia Keperawatan Indonesia
Edisi 1. Jakarta:PPNI

Yusuf, AH Dkk. [Link] Ajar Keperawatan Kesehatan [Link] : Salemba Medika

Anda mungkin juga menyukai